Keanehan-Keanehan

Ketika gemuruh perubahan melanda Bumi Pasundan bagaikan bah membanjiri aliran sungai kehidupan, membobol kemandekan di Rajagaluh dan Dermayu, Abdul Jalil yang sedang berkeliling ke berbagai tempat di Rajagaluh untuk menyampaikan ajaran Sasyahidan tiba-tiba memutuskan kembali ke gubuknya di Lemah Abang. Ia menarik diri dari hiruk pikuk semangat perubahan manusia yang meluap-luap dan menyambar-nyambar dengan ganas itu. Ia menghindar dari gelegak semangat perubahan yang membuat orang-orang berkeliaran, berdesak-desakan, berhimpitan, jungkir balik, tumbang, bangkit kembali, dan kemudian berpacu menyongsong cakrawala baru yang penuh harapan. Ia ingin menjauh dari semua itu. Di dalam gubuknya yang selalu penuh sesak oleh murid-murid, ia sering terlihat duduk merenung menapaki jejak-jejak yang telah dilewatinya.

Di tengah perenungannya menapaki jejak-jejak perubahan yang berliku itu, Abdul Jalil menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat hatinya lega, namun sekaligus khawatir. Lega karena sebuah bentangan cakrawala baru yang gemilang dengan manusia-hewan dan manusia saling berpacu untuk mewujudkan diri menjadi adimanusia. Tetapi, ia juga khawatir karena di tengah gelombang perubahan itu ia melihat terbuka celah-celah bagi sebuah kemungkinan buruk, di mana manusia-manusia yang menjelma menjadi makhluk bayangan nirwujud dan adimanusia-adimanusia yang bakal menduduki puncak-puncak kekuasaan duniawi akan rawan terperosok ke jurang nista pemberhalaan diri sebagai fir’aun-fir’aun.

Di tengah perenungan menilai kembali liku-liku perubahan itu, tiba-tiba muncul Angga, wali nagari Kuningan, di gubuk Abdul Jalil. Kemenakan Sri Mangana itu dengan bingung mengungkapkan kerumitan hidupnya yang nyaris tak bisa diatasinya. Dia mengaku seperti orang yang dibelit ular raksasa gaib. Dia merasa seolah-olah terkungkung oleh kekuatan dahsyat tak kasatmata sehingga untuk bernapas pun sulit. “Semua seperti buntu. Ke mana pun aku hendak melangkah, yang aku temukan adalah bentangan tembok besar. Bahkan yang aku rasakan sekarang, aku seperti berada di dalam kuburan. Tubuhku seperti dihimpit bumi. Aku benar-benar tersiksa, o Saudaraku. Tolonglah aku. Aku tidak mau mati dalam keadaan tidak tahu arah seperti ini,” keluh Angga sambil memegangi kepalanya.

“Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, o Saudaraku terkasih?” tanya Abdul Jalil.

“Aku ingin engkau membaiat aku. Bimbinglah aku ke jalanmu. Aku sangat yakin engkaulah yang bisa menolongku dari kesempitan yang kualami ini,” kata Angga sambil memegangi tangan Abdul Jalil.

“Apa yang engkau alami ini, menurut hematku, karena engkau telah banyak melupakan-Nya. Karena itu, kembalilah kepada-Nya. Ingatlah Dia sebanyak mungkin, niscaya engkau akan lepas dari penderitaanmu.”

“Aku sudah mengingat-Nya terus dengan bersembahyang. Malahan aku terus memanjatkan doa kepada-Nya. Tetapi, semua bagaikan buntu. Allah yang kusembah tidak menjawab doa-doaku. Padahal, menurut kakek, nenek, ibunda, ayahanda, dan guru agamaku, Allah itu Maha Pemurah. Maha Pengasih. Maha Mengabulkan doa. Kenyataannya, apa yang aku inginkan tidak ada yang terpenuhi sehingga aku jadi ragu dengan semua pelajaran agama yang telah kuperoleh sejak kecil,” kata Angga.

“Jika demikian, kenapa engkau mau minta bimbinganku? Bukankah yang akan aku sampaikan kepadamu tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah disampaikan keluarga dan gurumu?” Abdul Jalil balik bertanya.

“Tidak. Aku yakin yang akan engkau ajarkan tidak sama dengan mereka. Di tengah kesempitan yang menyesakkan ini aku justru melihat bayanganmu berkelebat memasuki ingatanku seperti cahaya matahari menerangi malam yang gelap gulita. Aku yakin isyarat yang aku terima itu benar, meski selama ini yang kuingat tentangmu adalah kecemburuan dan kebencian. Aku yakin hanya engkaulah yang bisa menunjukkan jalan Kebenaran sehingga aku terlepas dari himpitan kehidupan yang menyiksa ini,” kata Angga tiba-tiba merangkul lutut Abdul Jalil.

“Tegaklah dengan gagah menghadapi tantangan hidup, O Saudaraku,” kata Abdul Jalil menegakkan badan Angga. “Aku tidak keberatan membimbingmu ke jalan Kebenaran, asalkan engkau mau menerima syarat utamanya.”

“Apakah syarat itu, o Saudaraku?” tanya Angga ingin tahu.

“Pertama-tama, engkau harus keluar dari dirimu. Maksudku, engkau harus bersedia meninggalkan segala sesuatu yang engkau miliki di dunia ini, terutama keakuanmu yang kerdil. Sebab, keakuanmu yang kerdil itulah yang selama ini telah membuatmu keliru dalam memahami keberadaan-Nya.”

“Apa pun yang engkau tunjukkan akan aku jalankan, apa pun tantangannya.”

Sebagaimana prinsip Abdul Jalil bahwa masalah baiat adalah masalah kesadaran pribadi akibat tergugahnya hati nurani, ia pun membaiat Angga dan mengajarkan jalan lurus (sabil huda) sesuai ajaran Tarekat Akmaliyyah. Abdul Jalil berharap, dengan setia menekuni jalan yang diajarkannya, sang burung gagak akan menjelma sebagai rajawali, rajadiraja burung, pecinta angkasa kesunyian yang perkasa. Tetapi, keterbukaan Abdul Jalil dalam menerima Angga sebagai pengikut ruhani ternyata dianggap sebagai sesuatu yang kurang tepat sehingga menimbulkan ketidaksukaan pengikutnya yang lain. Beberapa murid terang-terangan menyatakan ketidakpahaman mereka terhadap kehadiran Angga di Lemah Abang, terutama dengan baiatnya sebagai pengamal Tarekat Akmaliyyah. Bahkan Liu Sung, pemuka suku Tungsiang Caruban yang selama perang dengan Rajagaluh ditugaskan menjaga Kuta Caruban, tiba-tiba datang ke Lemah Abang dan menyatakan keheranannya atas kesudian Abdul Jalil menerima Angga sebagai pengikut. “Kami khawatir dia akan melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji dengan membawa-bawa nama Tuan Syaikh. Itu akan merugikan semua orang, terutama Tuan Syaikh sendiri. Bukankah selama ini dia sudah sering mempermalukan Sri Mangana dengan tingkahnya yang tidak terpuji?” kata Liu Sung.

“Sesungguhnya, Angga hanyalah manusia sengsara yang menjadi korban dari lingkungan yang membentuknya. Sejak kecil dia hanya menjadi alat orang-orang sekitarnya untuk melampiaskan dendam sehingga dia kebingungan saat menerima akibat dari tindakan-tindakan yang tidak disadarinya,” Abdul Jalil menjelaskan.

“Apakah itu bukan akibat dia selalu dimanja oleh keluarganya?” tanya Liu Sung.

“Paduka Khalifah telah bercerita banyak kepadaku tentang Angga,” kata Abdul Jalil dengan suara perlahan. “Betapa sejak kecil Angga dan saudara-saudaranya sudah dicekoki oleh dendam dan kebencian terhadap kakeknya, Prabu Guru Dewata Prana, dan terutama kepada para pendeta kerajaan. Itu sebabnya, dalam setiap perbedaan sekecil apa pun dengan pihak kerajaan Sunda selalu ditanggapinya secara berlebihan, seolah-olah maharaja Sunda dan semua kekuatan pendukungnya adalah musuh utama yang harus dibinasakan.”

“Kenapa bisa begitu, Tuan Syaikh? Bukankah Prabu Guru Dewata Prana itu kakeknya? Kenapa pula dia sangat membenci pendeta-pendeta kerajaan?”

“Ini sebenarnya rahasia keluarga. Tetapi, kalau kita mengetahuinya maka kita akan paham kenapa Angga dan saudara-saudaranya begitu membenci kakek dan kerabatnya, terutama pendeta-pendeta kerajaan.”

“Bolehkah saya sedikit mengetahuinya?” tanya Liu Sung penasaran.

“Cerita kebencian keluarga Angga itu bermula dari kisah lama tentang nenek Angga yang bernama Jata Mernam, yaitu selir Prabu Guru Dewata Prana, yang oleh orang-orang Caruban dipanggil dengan nama Aci Putih. Sebutan Aci Putih itu sesungguhnya bukan tanpa alasan. Beberapa waktu sebelum kelahiran puterinya yang kelak diberi nama Dewi Siliwangi, Prabu Guru Dewata Prana bermimpi buruk bahwa dari dalam kratonnya tiba-tiba muncul mata air yang berbual-bual, yang makin lama airnya makin menggenangi seluruh kraton. Bahkan akhirnya air itu berubah menjadi bah yang melanda seluruh wilayah kerajaan. Maharaja dan keluarga beserta seluruh kawula hanyut tersapu bah. Mimpi buruk itu oleh para pendeta yang menjadi penasihat ruhaninya ditafsirkan sebagai suatu tengara buruk bagi kerajaan Sunda akibat tersiarnya agama baru. Mereka menganggap bah itu adalah agama baru, yaitu Islam. Dan, mata air itu adalah keluarga maharaja sendiri, yaitu selir bernama Jata Mernam, satu-satunya keluarga maharaja yang beragama Islam.”

Para pendeta menyatakan jika hal itu dibiarkan maka keturunan Jata Mernam akan menimbulkan kerusakan dan kebinasaan bagi kerajaan Sunda. Sebab, yang akan menentang agama baru itu bukan hanya para nayakapraja kerajaan, tetapi juga para bhuta yang tidak suka dengan agama baru tersebut. Lantaran itu, agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan, harus diadakan upacara kurban persembahan kepada para bhuta (bhutayajna). Dan sebagai korban persembahan (aci) untuk para bhuta, yang paling tepat adalah selir Prabu Guru Dewata Prana: Puteri Jata Mernam. Dengan demikian, tidak saja para bhuta akan bisa diredam kemarahannya, tetapi mata air itu dengan sendirinya tidak akan lagi mengalirkan sumbernya.

Dengan alasan demi keselamatan kerajaan dan seluruh kawula, Prabu Guru Dewata Prana akhirnya merelakan selirnya, Puteri Jata Mernam, dijadikan aci. Tetapi, dengan alasan Puteri Jata Mernam masih hamil maka pelaksanaan korban itu menunggu hingga ia dilahirkan. Demikianlah, setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang dinamai Dewi Siliwangi, Puteri Jata Mernam dijadikan korban untuk para bhuta. Bayi Dewi Siliwangi dijauhkan dari kraton dengan cara dikembalikan kepada kakek dan neneknya, Haji Ma Huang dan Nyi Rara Rudra yang tinggal di Caruban.

Peristiwa mengorbankan Puteri Jata Mernam ini sangat memukul jiwa keluarga Haji Ma Huang dan Nyi Rara Rudra, bahkan penduduk Caruban yang beragama Islam. Lantaran itu, untuk menandai peristiwa tersebut penduduk Caruban sepakat menyebut Puteri Jata Mernam dengan nama Nyi Aci Putih, yang bermakna puteri suci yang menjadi korban persembahan bhutakala. Prabu Guru Dewata Prana sendiri oleh penduduk Caruban disebut dengan gelar Prabu Siliwangi, yaitu sebutan menurut nama puterinya yang lahir dari Puteri Jata Mernam. Hal itu dimaksudkan agar sang prabu selalu teringat kepada keberadaan puterinya, Siliwangi, sekaligus selalu mengingat peristiwa keji itu.

Dewi Siliwangi, ibunda Angga, dibesarkan oleh lingkungan orang-orang yang kecewa dan sakit hari dengan peristiwa itu. Lantaran itu, saat dewasa ia diam-diam menaruh dendam kepada ayahandanya yang sampai hati menjadikan ibundanya sebagai korban persembahan. Ketika ia menikah dan berketurunan, semua puteranya sejak kecil sudah diwarisi bibit kebencian kepada kakeknya, Prabu Guru Dewata Prana, yang dianggapnya sebagai pembunuh ibundanya. “Nah, dari cerita rahasia keluarga ini kita akan memahami kenapa Angga dan saudara-saudaranya begitu membenci kakeknya dan para pendeta kerajaan,” kata Abdul Jalil.

Liu Sung menarik napas berat. Sejenak setelah itu ia menggumam lirih, “Pantas saja Sri Mangana selama ini membiarkan Angga dan saudara-saudaranya bersikap memusuhi sanak kerabatnya sendiri sehingga terkesan ia memanjakan mereka. Rupanya, Sri Mangana bisa memahami hal itu dan memanfaatkannya untuk kepentingan mempertahankan kekuasaannya.”

“Sri Mangana memanfaatkannya untuk kepentingan kekuasaan?” Apa maksudmu?” tanya Abdul Jalil.

“Kami kira, penempatan ayahanda Angga sebagai gedeng di Kemuning dan pengangkatan Angga sebagai penguasa di Kuningan bukan tanpa maksud apa-apa. Tetapi, bukanlah hal itu bisa ditafsirkan bahwa dengan kebijakan itu Sri Mangana dengan cerdik dapat menjaga perbatasan Caruban dengan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh?”

“Kalau itu, benar sekali. Bahkan karena alasan itu, perbatasan Caruban di selatan ditetapkan di Cigugur, yang mengandung makna suara gemuruh guruh (Sunda: gugur: guruh, gugur), lambang Rudra (Yang Berteriak), perwujudan Syiwa yang dahsyat dan akan menggugurkan semua kekuatan semua makhluk yang akan melintasinya. Sri Mangana seolah memberi peringatan kepada ayahanda dan para saudaranya agar mereka tidak melewati Cigugur. Sebab, Cigugur tidak saja mengandung perlambang nama Rudra, tetapi juga menyembunyikan lambang penderitaan dan rasa sakit hati ibunda Puteri Jata Mernam, Nyi Rara Rudra,” kata Abdul Jalil.

“Seperti itukah makna rahasia di balik nama Cigugur?” gumam Liu Sung terkagum-kagum. “Makanya, selama ini pasukan Galuh dan Talaga seperti tabu melintasi Cigugur. Bahkan kami dengar cerita, Angga dan pengawalnya yang lari ke Kuningan tidak diburu lagi oleh musuhnya ketika memasuki Cigugur. Sungguh mengagumkan kecerdikan Sri Mangana dalam menggunakan perlambang untuk menggetarkan nyali musuh-musuhnya.”

“Tahukah engkau tentang hikmah di balik peristiwa itu?”

“Tentu saja Tuan Syaikh yang lebih tahu.”

“Pertama-tama, tafsiran para pendeta atas mimpi Prabu Guru Dewata Prana itu benar, namun sedikit meleset. Sebab, mata air yang berbual-bual di dalam kraton yang bakal menjadi bah itu bukanlah Puteri Jata Mernam, melainkan putera Prabu Guru Dewata Prana yang lain, yaitu Pangeran Walangsungsang. Para pendeta keliru dalam menafsirkan mata air dengan perempuan dan pancuran dengan laki-laki sehingga Pangeran Walangsungsang luput dari bidikan tafsir mimpi mereka. Sekarang mimpi itu mewujud menjadi kenyataan. Mata air yang berbual-bual dari dalam kraton itu kini telah menjadi bah. Rajagaluh sudah diempaskan. Dermayu tergulung. Bahkan aku mengira, pada gilirannya nanti seluruh Bumi Pasundan, termasuk kraton Pakuan Pajajaran, akan tenggelam dilanda bah Islam yang disebarkan Pangeran Walangsungsang,” kata Abdul Jalil.

“Apakah itu berarti bahwa usaha apa pun yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya tidak dapat menolak takdir Ilahi, begitukah Tuan Syaikh?” tanya Liu Sung.

“Itulah makna hakiki dari peristiwa itu,” tegas Abdul Jalil. “Pada dasarnya manusia tidak memiliki kehendak apa pun kecuali apa yang dikehendaki Allah (QS. at-Takwir: 29). Lantaran itu, sekeras apa pun perjuangan orang seorang dalam berusaha, menurut para arif billah, tidak akan menembus tirai takdir (sawabiq al-himami la takhriqu aswar al-aqdar).”

“Jika demikian, sungguh kasihan Angga dan keluarganya yang masih belum dibebaskan-Nya dari terkaman dendam yang merusak jiwa,” kata Liu Sung.

“Lantaran itu, aku menerima kehadirannya dengan rasa syukur dan kemudian memenuhi keinginannya untuk dibaiat. Aku yakin, kehadirannya ke sini bukanlah atas kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak-Nya jua. Aku yakin Allah akan mengakhiri semua dendam yang menguasai jiwanya dengan lantaran amaliah yang kuajarkan. Mudah-mudahan semua kotoran jiwa Angga akan bisa disucikan sehingga dia secepatnya sadar jika dendam kesumat itu hanya membuat rusaknya jiwa,” kata Abdul Jalil.

“Kami juga berharap demikian, Tuan Syaikh.”

Hari-hari selama di Lemah Abang, meski diliputi suasana tenang dan tenteram dengan gelak tawa dan canda ria orang-orang yang patuh dan selalu setia melayaninya, ternyata tidak mampu meredam gejolak jiwa Abdul Jalil yang laksana samudera diaduk badai. Di tengah panah waktu yang melesat, ia merasakan jiwanya seperti kapal yang terombang-ambing dipermainkan gelombang lautan ganas. Bahkan, jauh di kedalaman palung jiwanya ia merasakan tarikan dan sentakan yang menggerus pantai kesadarannya, seolah-olah terkaman kekuatan gaib yang akan melemparkannya dari gubuknya. Ia seolah-olah diseret oleh suatu kekuatan adiduniawi untuk pergi meninggalkan gubuknya tanpa alasan yang jelas. Apa yang dirasakannya sebagai sesuatu yang aneh ditangkapnya sebagai tengara bakal terjadi sesuatu yang akan membuatnya meninggalkan gubuknya, meski ia tidak tahu kapan hal itu akan terjadi.

Ketika ia mengaitkan antara gelegak jiwanya dan liku-liku perjalanan hidupnya di tengah arus perubahan yang telah dilaluinya, ia mendadak terkejut sendiri. Sebab, di hadapannya terpampang dengan jelas sebuah kenyataan yang mengejutkan dan membuatnya makin sadar diri akan kekurangannya. Ia menyaksikan kenyataan betapa tugas yang dijalankannya sebagai penyulut api perubahan belumlah tuntas. Pekerjaan besar untuk menata nilai-nilai kehidupan sebuah bangsa yang ambruk masih belum selesai. Kenyataan itu membuatnya sadar, sekalipun setiap usai memimpin sembahyang isya ia selalu mengajarkan kepada murid-muridnya tentang jalan lurus (sabil huda) bagi manusia di dalam menuju Kebenaran, yaitu jalan lurus yang membebaskan manusia dari rasa takut atas segala sesuatu selain Yang Mahabenar, yang membebaskan manusia dari keputusasaan, yang membebaskan manusia dari perangkap penderitaan dan kesengsaraan, yang membebaskan manusia dari kejahilan, yang membebaskan manusia dari khayalan sesat tentang Kematian maupun Kehidupan, yang menuntun manusia pada Kebenaran hakiki; pada kenyataannya ia tetap merasakan betapa semua itu masih belum cukup. Ya, ia merasa masih belum cukup memberi kepada manusia. Ia merasa selama ini masih belum cukup menyampaikan Kebenaran hakiki kepada manusia. Ia merasa betapa masih cukup banyak tugas yang diembannya dalam membentangkan cakrawala baru itu yang belum terselesaikan dan bahkan terbengkalai.

Sadar bahwa tugas belum selesai dan sesuatu yang tak menyenangkan bakal terjadi, Abdul Jalil buru-buru mengumpulkan mereka yang selama ini telah menunaikan tugas untuk mencatat dan menyusun cerita-cerita, dongeng-dongeng, adab, dan ajaran hidup yang berdasar Tauhid. Karya mereka itulah yang bakal digunakan untuk memperkuat nilai-nilai baru yang telah ditebarnya, yaitu nilai-nilai baru berdasar penghormatan dan keseimbangan yang bakal menggantikan nilai-nilai lama yang sudah tidak sesuai tuntutan perubahan. Di antara mereka itu adalah Raden Sahid, Raden Sulaiman, Ki Gedeng Pasambangan, Syaikh Abdul Malik Israil, Syaikh Bentong, Ki Sarajaya, dan Ki Luwung Seta. Ia merasa senang saat mengetahui mereka ternyata telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, meski belum sempurna.

Raden Sulaiman yang mendampingi Syaikh Bayanullah di Gunung Gundul telah mencatat cerita-cerita dan dongeng keislaman, Persia, dan Melayu. Raden Sulaiman menjelaskan, selama tinggal bersama Syaikh Bayanullah ia telah menyusun sejumlah naskah yang berkaitan dengan tarikh dan keteladanan Nabi Muhammad Saw. yang diberinya judul Babad Makah, Kitab Bayanullah, Hikayat Sayyid Abdullah, Nurbuat, Babar Nabi, Hikayat Nabi Muhammad, Carita Paras Nabi, dan Carita Nabi Nikah. Semua naskah masih ditulis dalam bentuk prosa dengan catatan-catatan. Raden Sahid yang selama beberapa waktu mendampingi Raden Qasim untuk mencatat cerita dan dongeng yang dituturkan Syaikh Bayanullah, mengaku pula bahwa ia telah menyusun sejumlah naskah yang berkaitan dengan kisah kepahlawanan dan pelajaran tasawuf. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Kitab Martabat Alam Tujuh, Tapel Adam, Kitab Nur Muhammad, Serat Menak, Suluk Rumeksa Ing Wengi, dan saduran Nawa Ruci.

Ki Gedeng Pasambangan mengaku telah mencatat cerita dan dongeng yang terkait dengan adab keluarga muslim. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Kitab Fatimah, Ilmu Adab, Kitab Piwulang Istri, Smaragama, Carita Panganten Tujuh, Doa dan Mantra Kaluwarga, Doa Istifal, Doa Gua Hira. Syaikh Abdul Malik Israil mengaku telah menyusun cerita dan dongeng serta tuntunan amaliah yang terkait dengan Bani Israil. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Carita Nabi Yusuf, Sajarah Para Anbiya, Tujuh Asma’ Suryaniyyah, Asma’ Qamar, Asma’ Asha Musa, Doa Nabi Sulaiman, Doa Nabi Daniyyal, dan saduran Kitab Jaljalut. Sementara Syaikh Bentong menyusun naskah yang terkait dengan pranata mangsa dan dongeng Campa. Ia mengaku telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Primbon Palintangan, Primbon Mujarobat, Doa Dzulfaqor, Mantra Tulak Bala, Kitab Ayat Lima Belas, Kitab Ayat Pitu, dan Pantun Sang Kodok.

Abdul Jalil gembira mengetahui naskah-naskah yang dibutuhkannya sebagai salah satu sandaran perubahan nilai-nilai itu telah tersusun, meski masih dalam bentuk prosa dan sebagian masih belum selesai. Dengan suara berkobar-kobar penuh semangat ia berkata, “Ibarat orang maju ke medan perang, semua naskah itu adalah senjata ampuh yang akan menjadi salah satu penentu kemenangan. Lantaran itu, yang kita butuhkan sekarang adalah para prajurit yang unggul dan pandai dalam menggunakan senjata tersebut.”

“Tapi, bagaimana caranya? Apakah naskah itu ditulis dalam jumlah banyak dan kemudian disebarkan ke berbagai tempat?” tanya Abdul Malik Israil.

“Tentu saja tidak mungkin melakukan cara itu,” kata Abdul Jalil. “Sebab, penduduk di Pasundan dan Majapahit yang bisa baca dan tulis hanya kalangan kraton. Padahal, kita ingin menyebarkan ini ke seluruh penduduk. Menurutku, semua naskah harus disebarkan dari mulut ke mulut hingga dipahami semua orang.”

“Aku belum paham maksudmu, o Saudaraku,” kata Abdul Malik Israil.

“Pertama-tama, kita harus mengubah sebagian naskah itu ke dalam bentuk sastra yang mudah dipahami kalangan bawah. Untuk itu, aku akan minta kepada dua orang kepercayaanku, Ki Sarajaya dan Ki Luwung Seta, untuk menuangkan naskah-naskah itu ke dalam bentuk tembang sederhana seperti smaradhana, sinom, lambang, durma, pangkur, pucung, gambuh, kinanthi, dandang gendis, dan megatruh. Setelah itu, kita akan memperbanyak pamancangah menmen, yaitu tukang dongeng keliling yang bertugas menjajakan cerita dan dongeng dari naskah-naskah tersebut kepada penduduk,” kata Abdul Jalil.

“Aku sangat setuju dengan cara itu. Aku sendiri sudah menyiapkan sejumlah muridku untuk tugas itu,” tukas Syaikh Bentong. “Tapi, bagaimana dengan bekal kehidupan mereka selama menjalankan tugas?”

“Tentu saja dari kita,” kata Abdul Jalil. “Selama ini aku sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayai Raden Sahid dan kawan-kawannya yang berkeliling di pedalaman sebagai pamancangah menmen. Jika ada yang bertanya dari mana aku beroleh uang dan perhiasan? Aku katakan, sebagian aku dapat utang dari Li Han Siang dan sampai sekarang belum lunas.”

Syaikh Abdul Malik Israil yang mendengar ucapan Abdul Jalil tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan menahan geli dia berkata, “Kehendak Allah memang aneh dan sering tak bisa dipahami. Orang-orang yang memiliki iktikad baik untuk berkhidmat kepada masyarakat justru diberi kesempitan dalam kebutuhan duniawi sehingga berutang kesana-kemari. Sementara orang yang berkhidmat kepada diri pribadi justru dilimpahi perbendaharaan duniawi hingga jiwanya terkubur di bawah benda-benda. Aneh sekali. Aneh.”

Selat Taiwan (MV. Taho), 15 April 2007, 21:05LT