Tu-lah Sang Naga Shesha

Ketika Abdul Jalil dan Syaikh Bentong baru saja melepas pengikut-pengikutnya yang ditugaskan menjadi pamancangah menmen, tanpa terduga-duga datanglah tiga orang pengikutnya secara hampir bersamaan. Yang pertama, Kyayi Tapak Menjangan, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal. Kedua, Ki Wujil Kunting, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Samarang. Ketiga, Ki Saridin, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Japara. Mereka datang berurutan dengan membawa kabar yang sama: di sejumlah desa baru di Kadipaten Kendal, Wirasari, Pengging, dan Lasem telah terjadi peristiwa aneh dan menggemparkan penduduk. “

Jika waktu candikala (senja) datang, bayi-bayi menangis sepanjang malam hingga pagi. Banyak di antara bayi-bayi itu kemudian jatuh sakit dan mati. Gadis-gadis yang belum baligh (dewasa) secara berbarengan tidak sadarkan diri. Mereka menjerit-jerit dan kejang-kejang. Setelah sadar, mereka menuturkan bahwa tubuhnya telah dimasuki ruh kakek atau neneknya. Sedangkan yang tidak pernah sadar, menjadi hilang ingatan. Gila. Ibu-ibu muda banyak membunuhi bayinya tanpa sebab yang jelas. Anak-anak lelaki pun menunjukkan perilaku aneh. Tanpa sebab jelas mereka mengomel, marah-marah, mengamuk, merusak barang-barang, dan bahkan menyerang orang-orang yang berada di dekatnya. Tidak peduli bapak, ibu, adik, dan kakek, semua diserang. Bahkan, sejumlah laki-laki dewasa tanpa sebab yang jelas pula tiba-tiba menganiaya istri dan anak-anaknya sampai mati. Pendek kata, semua orang ketakutan karena penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di dalam keluarga itu bisa mengenai siapa saja,” kata Kyayi Tapak Menjangan.

Ki Saridin membenarkan penuturan Kyayi Tapak Menjangan dan menambahkan, “Malahan yang sedang marak di Wirasari adalah tawur antar desa. Rumah-rumah dibakar. Lumbung-lumbung dibakar. Pedati, gerobak, wluku, lesung, dan barang apa saja yang ditemui dibakar. Bahkan, sawah-sawah pun dibakar. Penduduk tak bersalah, tak peduli orang tua, perempuan, dan anak-anak diburu-buru, dianiaya, dan dibunuh. Pendek kata, semua orang di sana tidakannya seperti orang kesurupan setan,” kata Ki Saridin.

Abdul Jalil menarik napas berat. Ia merasa perasaan aneh yang dialaminya belakangan ini, yang membuatnya seolah-olah harus pergi meninggalkan gubuknya, ternyata memang isyarat gaib yang diterimanya dalam kaitan dengan peristiwa bersifat adiduniawi sebagaimana dikabarkan ketiga pengikutnya tersebut. Dan ia makin yakin ketika tak lama berbincang-bincang dengan pengikut-pengikut setianya itu, datang pula ke gubuknya dua pengikutnya yang lain, Ki Babat Penjalin, kepala dukuh Lemah Abang di Pamotan, dan Kyayi Menjangan Tumlaka, kepala dukuh Lemah Abang di Giri Kedhaton. Mereka berdua menyampaikan kabar yang sama, yaitu tentang peristiwa aneh yang terjadi pula di Japan, Terung, dan Wirasabha.

Di antara kabar tentang peristiwa aneh dari para pengikutnya itu, yang paling mengejutkannya adalah berita yang disampaikan Kyayi Menjangan Tumlaka tentang amuk yang dilakukan Yang Dipertuan Terung Raden Kusen. Menurut kabar yang didengarnya, penguasa Terung yang dikenal gagah berani dan jago perang itu suatu malam mengamuk seperti orang keranjingan setan. Ia menghunus keris pusakanya dan menikam puterinya sendiri hingga tewas. Para dayang dan prajurit yang menjaga kaputren dibunuh semua. Belum puas dengan apa yang dilakukannya, putera Ario Damar itu membakar Kraton Katerungan dan semua bangunan di sekitarnya sampai rata dengan tanah. Bahkan, dengan amarah yang masih berkobar-kobar Raden Kusen memerintahkan prajuritnya untuk membuat tambak (bendungan) yang menutup aliran Bengawan Terung. Setelah itu, ia dan keluarga pindah ke Bubat. “Menurut kabar yang kami dengar, amuk yang dilakukan oleh Yang Dipertuan Terung itu terjadi akibat kekecewaan mendalam yang dialaminya setelah mengetahui puterinya yang bernama Mas Ayu Tunjung, yang belum menikah dan dijaga ketat di kaputren telah hamil,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka.

Abdul Jalil merasakan dadanya sesak. Ia cepat menangkap kebenaran cerita bahwa peristiwa yang dialami Raden Kusen itu sejatinya tidak memiliki kaitan dengan peristiwa-peristiwa aneh yang baru saja dikabarkan oleh para pengikutnya. Ia sangat yakin tindakan amuk Raden Kusesn adalah tindakan wajar bagi seorang penguasa Majapahit yang masih memegang kuat nilai-nilai lama saat mengalami kekecewaan dan dibakar api amarah. Celakanya, peristiwa itu terjadi bertepatan waktu dengan maraknya kabar tentang peristiwa-peristiwa aneh di berbagai tempat. Lantaran itu, orang cenderung mengaitkannya satu sama lain. Untuk mengingatkan para pengikutnya agar tidak terjebak pada cara berpikir otak-atik mathuk, Abdul Jalil bertanya kepada Kyayi Tapak Menjangan, “Andaikata engkau, o Saudaraku, belum mengikuti ajaranku dan mengalami peristiwa seperti yang dialami oleh Adipati Terung, apakah yang akan engkau lakukan?”

Kyayi Tapak Menjangan, bangsawan asal Pajang yang menjadi kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal, dengan ucapan tegas berkata, “Tentu kami akan melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan Yang Mulia Adipati Terung. Anak gadis kami yang memalukan itu tentu akan kami bunuh. Bahkan, lelaki yang telah menistanya akan kami bunuh bersama seluruh keluarganya.”

“Itu berarti, peristiwa yang dialami Pamanda Adipati Terung itu tidak ada kaitan dengan peristiwa aneh yang marak belakangan ini. Jadi, jangan dikait-kaitkan,” kata Abdul Jalil.

“Kami rasa, apa yang Kangjeng Syaikh ucapkan memang benar adanya,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka. “Kami pun berpikiran seperti itu. Tetapi, peristiwa aneh dan kejadian menyedihkan di Terung itu telah menjadi bahan pembicaraan seru di kalangan penduduk. Orang-orang begitu ramai menggunjing keadaan mengerikan itu. Mereka bilang, semua kekisruhan itu akibat kutukan. Para janggan dan dukun menyatakan bahwa penduduk yang mendapat tanah bagian dari para adipati itu telah mendirikan bangunan-bangunan tanpa mengikuti ketentuan yang berlaku di kalangan perundagian sehingga mereka terkena tu-lah Sang Naga Shesha.”

“Tu-lah Sang Naga Shesha?” gumam Abdul Jalil.

“Ya,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka. “Naga Shesha yang disebut juga dengan nama Naga Basuki atau Naga Karkotaka. Kami kira Kangjeng Syaikh sudah paham soal itu.”

Abdul Jalil menekur sambil memegangi dagunya. Ia menangkap suatu tengara kerumitan yang bakal memerangkap penduduk ke lingkaran jalan buntu, karena terjebak dengan keyakinan-keyakinan purwa yang sudah menebarkan jaring-jaringnya yang mengikat akal budi. Sang Naga Shesha, menurut keyakinan penduduk, adalah raja ular yang sesekali menampakkan wujud sebagai ular berkepala seribu dan kadang-kadang berupa badai merah yang merusak. Dia bersemayam di dalam bumi dan selalu menyemburkan api yang membakar pada senja hari.

Naga Shesha di dalam khazanah cerita Jawa adalah nama naga jelmaan Wisynu, Sang Basuki, yang bermakna penyelamat. Seiring berkembangnya ilmu perundagian (arsitektur), yang menempatkan kepercayaan terhadap Sang Naga Shesha sebagai bagian dari ilmu tata letak tanah, maka penduduk Nusa Jawa meyakini keberadaan ular tersebut dalam kaitan dengan perundagian. Ketika peradaban Majapahit merosot, sistem pengetahuan itu berkembang menjadi sistem yang lebih luas dan mencakup pula pengetahuan tentang hari baik dan hari buruk, yang intisarinya kira-kira seperti ini: “Jika seseorang ingin selamat (basuki), hendaknya jangan berhadapan muka dengan Naga Basuki yang menyemburkan api membakar tiap senjakala.” Bertolak dari keyakinan itu, agar manusia bisa mencapai keselamatan hidup, maka mereka harus mengetahui keberadaan Sang Naga Shesha, terutama arahnya menghadap.

Kepercayaan terhadap Naga Shesha pada masa kejayaan Majapahit memang berbeda dengan yang berkembang kemudian. Jika kaum cerdik cendikia pada masa kejayaan Majapahit, terutama para undagi, mengetahui tentang sistem pengetahuan tersebut dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh para guru suci berdasar rontal Hasta Bhumi dan Wiswakarma, maka di tengah kemerosotan Majapahit, ilmu perundagian ikut merosot, membaur dengan kepercayaan takhayul Campa sehingga menjadi sistem pengetahuan yang dikenal dengan sebutan petungan nagadina, yaitu sistem pengetahuan yang jauh lebih luas dan lebih njlimet dibanding ilmu perundagian. Bahkan, yang menyedihkan, bagian terbesar dari sistem petungan nagadina itu hanya didasari pada kerangka berpikir otak-atik mathuk.

Kabar peristiwa-peristiwa aneh yang disampaikan para kepala dukuh Lemah Abang itu ternyata tidak berhenti pada pengaitan tu-lah Sang Naga Shesha, tetapi lebih berbahaya adalah tersebarnya kasak-kusuk yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan hukuman para dewa, karena orang-orang telah meninggalkan ajaran leluhur untuk mengikuti ajaran baru dari negeri asing. Yang tak kalah berbahaya, kasak-kusuk itu mengaitkan peristiwa aneh tersebut dengan pembukaan dukuh-dukuh Lemah Abang yang tidak sesuai dengan tatanan umum yang berlaku. Dukuh-dukuh Lemah Abang yang dibuka, yang katanya diperuntukkan bagi para wiku, ternyata dijadikan hunian penduduk dari berbagai kalangan. “Hal itulah yang menurut desas-desus telah menimbulkan tu-lah Sang Naga Shesha dan sekaligus amarah para dewa. Lantaran itu, kata mereka, selama menunggu giliran Dukuh Lemah Abang tertimpa bencana, desa-desa di sekitarnya dulu yang menanggung akibat buruk itu,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka.

Abdul Jalil menunduk memegangi keningnya. Di benaknya tiba-tiba berkelebat gambaran menyedihkan tentang dukuh-dukuh Lemah Abang yang dikucilkan orang. Tidak cukup di situ, berkelebatan pula gambaran tentang dukuh-dukuh Lemah Abang ramai-ramai diserang penduduk dan dibakar. Di tengah gambaran kobaran api itu berkelebat pula wajah para janggan dan dukun yang menghasut penduduk untuk membenci dan memusuhi warga Dukuh Lemah Abang. Tetapi, kelebatan-kelebatan bayangan itu tidak lama memasuki benaknya. Ia menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam. Ia memasrahkan semua urusan kepada Allah. “Ya Allah, semua kejadian baik dan kejadian buruk mutlak berasal dari kehendak-Mu. Karena itu, kami pasrahkan semua kepada-Mu,” katanya dalam hati.

Setelah berdiam beberapa jenak, ia berkata dengan suara tegar, “Sekarang kembalilah kalian semua ke dukuh masing-masing. Pasrahkan semua kepada Allah. Tetap teguhlah kalian pada prinsip Ngalah. Yakinlah bahwa para janggan, dukun, dan pedagang jimat yang menunggu musibah besar atas Lemah Abang itu akan kecewa karena fitnah yang mereka sebarkan tidak pernah terbukti.”

Sadar peristiwa aneh yang tak terduga itu bakal menjadi petaka besar bagi perubahan yang sedang dirintisnya, Abdul Jalil buru-buru pergi ke Caruban untuk menemui Sri Mangana dan ibunda asuhnya. Ia ingin meminta petunjuk mereka tentang apa yang harus dilakukannya tentang peristiwa-peristiwa aneh yang dialami penduduk Wirasari, Lasem, Pengging, Japan, Terung, dan Wirasabha. Secara kebetulan, saat Abdul Jalil datang, Sri Mangana dan permaisuri sedang memperbincangkan masalah tersebut dengan Raden Sepat, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana. Raden Sepat adalah undagi (arsitek) termasyhur dari Majapahit yang dikirim Adipati Terung untuk membantu perluasan Tajug Agung Caruban. Dari Raden Sepatlah kabar tentang peristiwa aneh di Japan, Terung, dan Wirasabha itu sampai ke Caruban.

“Jadi peristiwa serupa juga terjadi di Wirasari, Pengging, dan Lasem?” kata Sri Mangana menoleh ke arah permaisurinya dan kemudian berkata kepada Abdul Jalil, “Kami semua sebenarnya sedang membicarakan masalah itu dan berkeinginan memanggilmu. Ternyata engkau sudah datang sendiri. Jadi, biarlah ibundamu yang akan menjelaskannya karena dia tahu banyak tentang masalah itu.”

“Sesungguhnya, apa yang terjadi dengan peristiwa aneh itu, o Ibunda Ratu?”

“Kalau melihat gelagatnya dan penjelasan dari Yang Mulia Raden Sepat, penduduk yang tinggal di pemukiman baru itu terkena tu-lah Sang Naga Shesha, Sang Kalaraja, dan Sang Kala Greha. Sebab, mereka telah melanggar tempat-tempat terlarang,” kata Nyi Indang Geulis.

“Melanggar tempat-tempat terlarang?” gumam Abdul Jalil. “Apakah yang ibunda maksud peristiwa itu berkaitan dengan tempat-tempat khusus seperti Bale Panca Rsi, Bale Panangkilan, Bale Cakrawarti, dan Bale Kapeningan di suatu tempat?”

“Tepat seperti itu. Orang-orang Islam baru (mu’alaf) yang tidak paham tentang Wiswakarmatmaja Tattwa dengan semau-maunya membuka pemukiman baru, bahkan membangun rumah di atas lambang (bangunan lain) secara sembarangan tanpa melakukan upacara prascita (penyucian). Akhirnya, mereka menjadi watang akreb dan berada dalam keadaan yang berbahaya. Kalau sudah begitu, yang disalah-salahkan adalah agama Islam dan terutama ajaranmu yang membuat orang-orang menjadi liar dan tidak tahu aturan,” kata Nyi Indang Geulis.

“Ananda siap menerima curahan segala kesalahan, o Ibunda,” kata Abdul Jalil tenang. “Tetapi, apa yang ananda lakukan, menurut hemat ananda, tidak mungkin menimbulkan keanehan-keanehan seperti itu. Sebab, sebelum ananda membuka dukuh-dukuh Lemah Abang, ananda sudah bertemu dengan para penghuni purwa Nusa Jawa, yaitu para bhuta dan kala dari antara Banu al-Jann. Kami sudah mengadakan kesepakatan dengan mereka. Dan sepengetahuan ananda, mereka tidak mungkin cedera janji seperti manusia. Sementara soal tata cara penyucian tanah, ananda sudah mengikuti semua petunjuk Ibunda Ratu. Jadi, ananda berpikir, pasti ada sebab-sebab lain yang menimbulkan keadaan aneh tersebut.”

“Apakah engkau benar-benar melakukan penyucian tanah dengan upacara pracista seperti yang aku ajarkan?” tanya Nyi Indang Geulis.

“Ananda sudah melakukan semua petunjuk Ibunda Ratu. Karena itu, dukuh-dukuh Lemah Abang yang diniatkan sebagai Jajar Lemah (tanah yang boleh ditempati semua kalangan) tetap terhindar selamat dari peristiwa aneh tersebut. Bahkan, sesuai keinginan Ibunda untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Prthiwi, ananda telah pula melakukan penyucian tanah yang disebut bhumisoddhana dan bhuta-suddhi, dan tentu saja ditambah usaha batin ananda agar apa yang Ibunda Ratu inginkan itu dapat ananda penuhi.”

“Mohon maaf, Tuan Syaikh,” Raden Sepat menyela. “Apakah dalam penyucian tanah itu, Tuan menggunakan sarana jimat yang dirajah aksara AH dan ANG yang dipadukan menjadi satu? Sebab, sesuai petunjuk Wismatattwa, semua bangunan yang berdasarkan widhi widana harus memakai sarana jimat lambang perempuan dan laki-laki yang disatukan dan ditanam di bawah hulu bangunan.”

Abdul Jalil tersentak kaget mendengar pertanyaan Raden Sepat. Cakrawala jiwanya yang semula tertutup kabut tiba-tiba bersinar cemerlang bagai ditimpa matahari. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Kami sudah melakukan itu semua, Yang Mulia. Tapi, kami jadi sadar bahwa justru di situlah letak masalah yang sesungguhnya hingga timbul berbagai masalah aneh sekarang ini.”

“Apakah Tuan Syaikh menggunakan sarana jimat atau batu merah, emas, perak, atau tembaga?”

“Ketika kami menutup Kabhumian di Caruban, yang kami tanam sebagai lambang aksaran AH dan ANG adalah lingga dari puncak Gunung Pulasari dan yoni yang dipuja di Kabhumian. Bahkan, karena perlambang aksara AH dan ANG itulah kami kemudian menamai dukuh-dukuh baru yang kami buka itu dengan Lemah Abang, yang bermakna persatuan lambang laki-laki dan perempuan. Lemah Abang adalah perlambang AH dan ANG, manusia perempuan dan laki-laki, keturunan Adam a.s. dan Hawa a.s.. Lemah Abang adalah perlambang Prthiwi (tanah) yang membentuk tubuh dan jiwa (nafs) manusia, sekaligus perlambang Wisynu (Sang Pemelihara, Rabb) yang memancarkan Ruh Kebenaran (Ruh al-Haqq) dari Paramasyiwa (Rabb ar-Arbab),” papar Abdul Jalil.

“Kami paham itu, Tuan Syaikh. Tetapi, maksud kami, sarana jimat apakah yang Tuan gunakan untuk ditanam di bawah hulu bangunan? Sebab, hal itu sangat menentukan dalam suatu upacara penyucian tanah,” tanya Raden Sepat.

“Kami tidak mengikuti aturan yang lazim, Yang Mulia,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Sebab, yang kami sucikan bukan sepetak atau dua petak tanah, melainkan tanah se-Nusa Jawa. Tanah Majapahit dan Pasundan. Bahkan di balik itu, kami ingin menutup ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Sang Bhumi yang meminta korban manusia dengan cara membuat tawar daya shakti dari tempat-tempat tersebut. Kami sudah mengikat suatu perjanjian dengan Ibunda Prthiwi, Sang Bhumi. Itu sebabnya, kami tidak menggunakan sarana jimat yang lazim.”

“Jika boleh tahu, sarana apakah itu?” tanya Raden Sepat makin penasaran.

“Darah dan keakuan kami.”

“Maksudnya?”

“Pertama-tama, di setiap Dukuh Lemah Abang yang kami buka, kami harus menumpahkan darah sebagai ganti bagi korban-korban yang selama ini dijadikan persembahan di situ. Karena itu, sesuai jumlah dukuh Lemah Abang yang kami buka, seperti itulah jumlah luka bekas sayatan yang ada pada tubuh kami,” kata Abdul Jalil sambil menyingsingkan lengan jubahnya dan menunjukkan bekas luka sayatan yang menghiasi lengannya bagai ukiran.

Semua mata memandang lengan Abdul Jalil sambil menggelengkan kepala. Nyi Indang Geulis sendiri merasakan jantungnya berhenti dan keteguhan hatinya runtuh. Meski ia berusaha menahan rasa iba yang menguasai jiwanya, tak urung ia menitikkan air mata. Dengan suara tersendat bercampur isak pedih ia bertanya lirih, “Kenapa engkau tidak pernah bercerita kepada kami tentang perjanjianmu dengan Ibunda Prthiwi?”

“Ananda kira itu tidak perlu, Ibunda Ratu,” kata Abdul Jalil menutup kembali lengan jubahnya. “Ananda paham, apa yang dilakukan Ibunda Bhumi itu hanyalah suatu ujian. Ujian untuk menguji putera-puteranya, manusia-manusia yang rela berkorban sebagaimana pengorbanan Ibunda Bhumi yang merelakan tubuhnya diinjak-injak dan dilukai oleh putera-puteranya. Dan ananda, selaku putera Ibunda Bhumi, ingin membuktikan bahwa di antara putera-putera Sang Bhumi itu ada yang rela berkorban tanpa meminta imbalan apa-apa. Itu berarti, ananda ingin menunjukkan pada Ibunda Bhumi bahwa ada puteranya yang melebihinya dalam berkorban. Sebab, dengan cara melebihi keikhlasan Ibunda Bhumi saja kekuatan ‘haus darah’ dari Sang Prthiwi itu dapat ditawarkan.”

“Apakah cukup dengan menumpahkan darahmu di dukuh-dukuh Lemah Abang?”

“Tentu saja tidak, o Ibunda Ratu. Sebab, yang lebih mendasar dari perjanjian kami dengan Ibunda Bhumi adalah jati diri kami yang dijadikan jimat di bawah hulu bangunan. Maksud ananda, sebagaimana jimat yang ditanam di bawah hulu bangunan, demikianlah jati diri kami wajib diinjak-injak dan direndahkan oleh setiap manusia yang menghuni permukaan bumi. Itu berarti, setiap manusia harus merendahkan dan menista ananda sebagaimana mereka memperlakukan bumi,” kata Abdul Jalil tegas.

“Kenapa engkau mau mengikat perjanjian seperti itu?” tanya Nyi Indang Geulis dengan air mata bercucuran. “Sungguh aku tak pernah mengira jika permintaanku itu akan berakibat menyengsarakanmu, o Puteraku.”

“Sesungguhnya, ananda sudah menawarkan nyawa ananda kepada Ibunda Bhumi sebagai tebusan bagi upacara korban persembahan manusia. Tetapi, Ibunda Bhumi tidak berkenan. Penebusan seperti itu, menurut Ibunda Bhumi, bisa dilakukan oleh banyak orang. Ibunda Bhumi ingin yang lebih dari itu, yaitu ingin melihat pengorbanan orang-orang yang ikhlas keakuannya diinjak-injak dan dinista sepanjang zaman. Bahkan, dalam perjanjian itu telah ditetapkan pula bahwa jika suatu saat keberadaan ananda diangkat melebihi letak kedudukan tanah, maka saat itulah Ibunda Bhumi akan meminum kembali darah dari manusia-manusia melalui caranya sendiri.”

“Apakah peristiwa-peristiwa aneh itu engkau anggap terkait dengan perjanjianmu?”
“Ananda kira demikian, o Ibunda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Sebab, di berbagai tempat ananda mendengar bahwa nama ananda dipuja-puja sebagai dewa penolong dan dipuji setinggi langit oleh kalangan kawula. Dengan demikian, melalui peristiwa aneh itu Sang Bhumi telah mengingatkan kembali kepada ananda akan perjanjian itu dengan caranya. Itu berarti, sekaranglah saatnya orang-orang harus memulai penistaan terhadap ananda. Dan bagi ananda, apa yang dikehendaki Ibunda Bhumi itu sebagai suatu yang wajar dan tidak berlebihan. Sebab, dari Ibunda Bhumilah jasad ananda ini terbentuk. Dari Ibunda Bhumi juga makanan yang memelihara keutuhan jasad ananda ini berasal. Karena itu, jika Ibunda Bhumi menghendaki darah ananda maka ananda akan selalu siap menyediakannya demi kepuasannya. Ananda akan menunjukkan kepada Ibunda Bhumi bahwa tidak semua putera Bhumi adalah makhluk perusak dan penghancur ibunya. Ananda ingin menunjukkan bahwa tidak semua putera-putera Bhumi adalah manusia tak tahu budi. Ananda akan menunjukkan bahwa ananda adalah putera Ibunda Bhumi yang tahu berterima kasih karena ananda telah memakan sesuatu dari Ibunda Bhumi secara haqq dan tidak berlebihan. Ananda ingin menunjukkan bahwa ananda adalah putera Bhumi yang lebih ikhlas dan lebih tanpa pamrih dalam berkorban dibanding Sang Bhumi sendiri.”

Tanpa kembali ke gubuknya di Lemah Abang, Abdul Jalil meninggalkan Caruban dengan disertai Abdul Malik Israil, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Raden Sulaiman, Raden Sahid, dan Liu Sung. Ketika bertemu dengan Adipati Bojong Pangeran Danareja, Abdul Jalil diberi tahu di Kadipaten Bojong secara berangsur-angsur sudah diberlakukan tatanan yang sama dengan yang berlaku di Caruban. Jabatan Buyut sebagai kepala wisaya telah diganti dengan jabatan Ki Gede. Jabatan Rama sebagai kepala desa telah diganti, namun bukan Ki Kuwu, melainkan Ki Lurah. “Perubahan itu terutama kami berlakukan di wilayah pesisir. Nanti jika tepat waktunya, daerah pedalaman pun akan menyusul,” kata Pangeran Danareja.

“Wisaya mana sajakah yang sudah diubah?” tanya Abdul Jalil.

“Wilayah pesisir, terutama yang dipimpin oleh pengikut-pengikut Kangjeng Syaikh, yaitu Wanasari, Talang, Pangkah, Suradadi, dan Patarukan.”

Setelah berbincang-bincang lama tentang makna Tauhid di balik perubahan jabatan-jabatan pemerintahan, Abdul Jalil dan rombongan meninggalkan Kadipaten Bojong. Mereka mengunjungi Dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal, Abdul Jalil memberi tahu tentang perikatan janjinya dengan Sang Bhumi. Kyayi Tapak Menjangan terkejut mendengarnya dan tak dapat mengucapkan kata-kata, kecuali mengungkapkan tanda tanya seseorang yang kebingungan, “Bagaimana mungkin kami bisa ikut-ikutan menista dan merendahkan Kangjeng Syaikh? Bagaimana cara kami melakukannya?”

“Sekarang ini diam adalah yang utama,” kata Abdul Jalil tegas. “Katakan kepada seluruh warga Lemah Abang untuk tidak sekali-kali memuji aku. Maksudku, jika kalian tidak bisa menista dan merendahkan aku maka sebaiknya kalian diam dan tidak memuji aku sekecil apa pun. Diam. Diam. Seribu kali diam.”

Setelah dari Lemah Abang, Abdul Jalil dan rombongan menghadap Pangeran Gandakusuma, adipati Kendal. Sebagaimana di Bojong, usai berbincang tentang peristiwa aneh di pedalaman, sang adipati memberi tahu Abdul Jalil bahwa di wilayah kekuasaannya pun sedang berlangsung pergantian istilah jabatan kepala wisaya dan Buyut menjadi Ki Gede dan jabatan kepala desa dari Rama menjadi Ki Lurah. Tak berbeda dengan Bojong, di Kendal pun perubahan itu dimulai di wilayah pesisir, yaitu di Wisaya Pakalongan, Kedungwuni, Jalasakti, Banyuputih, dan Kaliwungu. Dalam upaya memacu semangat perubahan sang adipati, Abdul Jalil memaparkan makna di balik perubahan-perubahan jabatan itu.

“Sesungguhnya, perubahan istilah itu bukan sekadar mengganti nama, Yang Mulia. Tetapi, ada penegakan Tauhid di dalamnya. Karena itu, pahala Allah yang tak terhingga tercurah kepada mereka yang berjuang menegakkan Tauhid di bumi Allah,” kata Abdul Jalil. Sebagaimana Pangeran Danareja Adipati Bojong, Pangeran Gandakusuma pun berjanji kepada Abdul Jalil akan secepatnya melakukan perubahan serentak di seluruh wilayah kekuasaannya.

Ketika singgah di pelabuhan Samarang, Abdul Jalil mendapati kenyataan yang sama dengan di Bojong dan Kendal, yaitu terjadinya penggantian istilah jabatan pemerintahan. Sementara itu, selain mendapati orang-orang ramai membicarakan peristiwa aneh di Wirasari, Pengging, Kendal, dan Lasem, ia juga beroleh kabar dari para pelaut bahwa di Japara saat itu sedang dibangun pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar (Jawa Kuno: meriam) yang dikerjakan oleh orang-orang Cina ahli senjata asal Palembang, Terung, dan Lawe, ditambah orang-orang asal Kerala di pantai Malabar. Yang disebut bedil besar adalah sejenis gurnita, namun bahan yang digunakan dari besi atau perunggu. Sebutan bedil sendiri berasal dari kata “wedhil”, yaitu istilah yang digunakan oleh orang-orang Kerala.

Senjata bedil dan bedil besar sudah digunakan barang seratus tahun silam oleh orang-orang Majapahit yang membelinya dari pedagang-pedagang India. Sebelumnya, pedagang-pedagang India membeli senjata-senjata api tersebut dari saudagar-saudagar Turki. Kira-kira lima puluh tahun silam, usaha membuat sendiri bedil besar dilakukan untuk kali pertama oleh Ario Damar Adipati Palembang, dengan dibantu ahli-ahli mesiu Cina Palembang dan orang-orang Kerala. Usaha membuat bedil besar, memang dimungkinkan karena tekniknya jauh lebih sederhana dibanding bedil yang rumit. Meski begitu, sejumlah bedil besar hasil pengecoran di Palembang itu meledak saat dicoba dan menelan korban jiwa. Meski bedil besar buatan Palembang belum sempurna, Ario Damar berhasil membangun pabrik mesiu besar di sana.

Ketika Raden Sahun, putera Ario Damar, menjadi adipati Samarang, dibangunlah pabrik pengecoran logam di situ dengan bantuan orang-orang Persia dan Turki yang bermukim di Kerala. Di Samarang itulah bedil besar berhasil disempurnakan dengan pasokan mesiu dari Palembang. Sejak itu bedil besar buatan Samarang diperdagangkan ke berbagai negeri seperti Pasai, Kedah, Malaka, Aceh, Tamiang, bahkan Siam dan Pegu. Tetapi, demi alasan kekuasaan keturunannya, Ario Damar melarang penjualan bedil besar dan mesiu kepada orang-orang Majapahit dan Sunda. Itu sebabnya, orang-orang Majapahit tetap membeli bedil besar dari saudagar-saudagar India dengan harga yang sangat mahal. Bahkan di tengah kemelut perebutan takhta, raja-raja Majapahit tidak mampu lagi membeli bedil besar.

Lantaran kebijakan Ario Damar seperti itu, keberadaan bedil besar banyak didapati orang di Kadipaten Samarang, Demak, Madura, dan Terung, tempat putera-puteranya menjadi penguasa di situ. Malahan, di tengah kekacauan yang berlangsung tak kunjung berhenti di ibu kota Majapahit, hampir seluruh bedil besar milik kerajaan dikuasai oleh Raden Kusen Adipati Terung. Itu sebabnya, di antara penguasa-penguasa Majapahit, kekuatan tempur yang dimiliki Kadipaten Terunglah yang paling kuat karena selain memiliki pasukan gurnita, juga memiliki pasukan bedil besar dan bedil. Di berbagai medan tempur, termasuk dalam peperangan dengan Patih Mahodara, selalu saja pihak Terung beroleh kemenangan.

Seiring perputaran waktu, seiring mangkatnya Ario Damar, pabrik mesiu di Palembang dan pengecoran logam di Samarang mengalami kemunduran dan kemudian ditutup. Pasukan Demak, Samarang, dan Madura tidak lagi menggunakan bedil besar. Satu-satunya putera Ario Damar yang masih menggunakan bedil besar adalah Raden Kusen, Yang Dipertuan Terung. Dan kini, ketika keberadaan bedil besar sudah dilupakan orang, tiba-tiba saja terdengar kabar bahwa di Japara sedang dibangun pabrik mesiu baru, sekaligus dengan pengecoran logam untuk membuat bedil besar. Penggunaan senjata gurnita dalam pertempuran Caruban-Rajagaluh oleh pasukan Terung, rupanya sangat memukau Pangeran Sabrang Lor, anak menantu Raden Patah Adipati Demak, yang ikut terlibat pertempuran membela Caruban. Lantaran itu, tak lama setelah kembali dari Caruban, ia memerintahkan untuk membangun pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar di Japara dengan bantuan para ahli dari Palembang, Terung, Lawe, dan Kerala.

Kabar pembangunan pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar di Japara, bagi Abdul Jalil merupakan tengara yang mengisyaratkan pertumpahan darah antarmanusia di masa depan bakal lebih dahsyat dibanding masa-masa sebelumnya. Penggunaan senjata gurnita untuk menembaki kutaraja Rajagaluh sehingga bangunan-bangunan, pagar kuta, pohon-pohon, manusia, dan margasatwa habis terbakar, paling tidak adalah sebuah gambaran kebinasaan yang sempat mencengangkan Abdul Jalil. Padahal, kerusakan yang diakibatkan bedil besar tentu jauh lebih dahsyat dibanding gurnita, apalagi dibanding senjata-senjata jenis manjanik (pelontar api). Kini, senjata yang dahsyat itu, bedil besar, malah dibuat secara besar-besaran di Japara. Itu berarti, zaman kerusakan akibat datangnya pasukan Dajjal, yang disebut Ya’juj wa Ma’juj, sang perusak yang membawa senjata-senjata penyembur api, telah dekat. Zaman Ya’juj wa Ma’juj dengan bala tentaranya yang berkeliaran merusak bumi telah dekat, dekat, katanya dalam hati.

Ketika membayangkan kedatangan bala tentara Ya’juj wa Ma’juj yang ganas, yang melengkapi diri dengan senjata-senjata penyembur api, tiba-tiba Abdul Jalil tercekat kaget. Di benaknya tiba-tiba membayang bangunan-bangunan peracikan mesiu dan pengecoran bedil besar di bumi Japara. Jika orang-orang Japara membuat bedil besar, katanya dalam hati, apakah itu tidak mengandung makna bahwa mereka pun pada hakikatnya ikut andil dalam upaya merusak bumi. Sebab, penanda utama dari keberadaan Ya’juj wa Ma’juj adalah kawanan manusia yang menggunakan senjata penyembur api untuk menghancurkan bumi dan merampas kehidupan umat manusia.

Dengan pemikiran bahwa senjata-senjata yang disebut bedil besar adalah senjata penghancur yang digunakan Ya’juj wa Ma’juj, Abdul Jalil merasa dadanya sesak dan tenggorokannya kering. Ada semacam rasa sedih menggelayuti jiwanya saat mengingat prajurit-prajurit Japara yang gagah perkasa di medan tempur. Ia sangat menyayangkan bakal hilangnya jiwa ksatria dari pejuang-pejuang itu jika sudah menggunakan senjata bedil besar. Tanpa sadar ia menengadah dan mengangkat tangan ke atas sambil berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau golongkan putera-putera kami ke dalam kawanan Ya’juj wa Ma’juj perusak bumi. Jangan pula Engkau jadikan putera-putera kami sebagai kawanan pembawa senjata penyembur api. Jangan Engkau berikan putera-putera kami kemenangan jika mereka menggunakan senjata-senjata penyembur api. Jadikanlah mereka sebagai umat yang membawa rahmat bagi alam semesta.”

Lantaran tidak ingin terkena pengaruh daya setani senjata penyembur api, yaitu senjata yang digunakan Ya’juj wa Ma’juj untuk merusak Kehidupan di muka bumi, usai berdoa Abdul Jalil meminta tukang perahu cepat-cepat meninggalkan Kadipaten Samarang tanpa singgah ke Demak maupun Japara. Ia meminta tukang perahu langsung ke pelabuhan Gresik. Kepada salah seorang warga Lemah Abang, ia mengirim pesan kepada Ki Saridin, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Japara, agar mengingatkan semua warganya untuk tidak dekat-dekat dengan orang-orang yang terlibat dalam pembuatan pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar tersebut.

Selat Taiwan (MV. Taho), 15 April 2007, 21.30LT