Perubahan Demi Perubahan

Ketika sampai di pelabuhan Gresik, Abdul Jalil dan rombongan bersembahyang di tajug agung Gresik yang terletak di depan kediaman syahbandar. Tetapi, saat beristirahat ia terkejut ketika mengetahui penduduk di sekitar tajug agung berbicara dalam bahasa sehari-hari dengan menggunakan kata ganti diri ingsun. Hal itu mengagetkan karena barang setahun lalu ketika ia menghadap Prabu Satmata di Puri Giri Kedhaton, penduduk yang tinggal di sekitar pelabuhan Gresik masih menggunakan kata ganti diri nghulun atau kawula. Ketika ia menanyakan hal itu kepada Syaikh Garigis, yang bernama asli Mathori, imam tajug agung Gresik, ia beroleh jawaban bahwa perubahan yang terjadi di Kadipaten Gresik dan Giri Kedhaton memang baru berlangsung barang lima bulan silam. “

Atas titah Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah Prabu Satmata, seluruh penduduk di tlatah Giri Kedhaton diwajibkan menggunakan kata ganti diri ingsun. Titah itu kemudian diikuti adipati Gresik dan Siddhayu. Malahan, jabatan kepala wisaya dan kepala desa di Giri Kedhaton pun telah dirubah. Jabatan Buyut diganti Ki Ageng. Jabatan Rama diganti Ki Lurah. Para pemimpin wisaya di Giri Kedhaton sekarang ini semuanya menggunakan gelar Ki Ageng seperti di Wanjang, Siwalan, Sumengka, Cangkir, dan Damyan. Kalau tidak salah, pekan depan ini Kadipaten Gresik dan Siddhayu akan ikut juga,” ujar Syaikh Garigis.

Abdul Jalil senang mendengar perubahan itu. Karena itu, ia dan rombongan pergi ke puri Giri Kedhaton untuk menemui Prabu Satmata. Tetapi, di Puri Giri Kedhaton ia ditemui oleh Pangeran Arya Pinatih, paman angkat Prabu Satmata, yang usianya sudah tujuh puluh tiga tahun. Pangeran Arya Pinatih memberi tahu Abdul Jalil jika Prabu Satmata dan putera ketiganya, Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, barang sehari lalu telah pergi ke Surabaya. “Katanya hendak bertemu dengan Raden Kusen Adipati Terung sekalian berziarah ke Ampel Denta,” kata Pangeran Arya Pinatih.

Pangeran Arya Pinatih adalah paman angkat Prabu Satmata. Dia adik kandung Nyai Pinatih, ibu angkat Prabu Satmata. Meski lahir dari keluarga bangsawan Pinatih dari ksatria Manggis, sejak kecil dia diasuh di Gresik secara Islam oleh kakak kandungnya. Dia sangat dihormati sebagai mursyid Tarekat Kubrawiyyah, yaitu tarekat yang dinisbatkan kepada Syaikh Najamuddin Kubra al-Khwarazm. Dia mengambil baiat kepada Raden Ali Murtadho, Raja Pandita Susuhunan Gresik, kakak Raden Ali Rahmatullah. Oleh Raden Ali Murtadho, ia ditunjuk sebagai wakilnya (khalifah). Lantaran selama bertahun-tahun mengajarkan Tarekat Kubrawiyyah di Tajug Agung Giri Kedhaton yang terletak di depan Bangsal Sri Manganti, yaitu kraton Prabu Satmata yang terletak di selatan Puri Giri Kedhaton, maka dia dikenal orang dengan sebutan Syaikh Manganti.

Kemapanan sebagai seorang pangeran kaya raya dan sekaligus khalifah tarekat yang dimuliakan manusia ternyata tidak menjadikan Pangeran Arya Pinatih berpuas diri menikmatinya. Di usianya yang makin senja itu dia sering meninggalkan kediamannya untuk mendakwahkan Kebenaran Islam di pedalaman. Melalui salah seorang kepala wisaya di Tumapel yang menjadi muridnya, yaitu Kyayi Gribik, dia menyebarkan pengaruh Islam di pedalaman hingga ke daerah Sengguruh dan Lumajang di selatan. Hanya pada saat-saat tertentu saja dia kembali ke padepokannya di selatan atau ke purinya yang terletak di Kedhanyang di selatan Puri Giri Kedhaton. Dia dikaruniai dua putera, Pangeran Pringgabhaya dan Pangeran Kedhanyang.

Kedatangan Abdul Jalil dan rombongan yang tak terduga ternyata dengan cepat didengar oleh keluarga Prabu Satmata. Rupanya, selama ini orang-orang sudah banyak membicarakan pandangan-pandangannya yang aneh dan tidak lazim. Itu sebabnya, belum lama Abdul Jalil berbincang-bincang dengan Pangeran Arya Pinatih, putera-putera Prabu Satmata disertai Pangeran Pringgabhaya dan Pangeran Kedhanyang bermunculan dan saling memperkenalkan diri. Para putera Prabu Satmata itu adalah Pangeran Tegal Wangi Dalem Lor, Pangeran Ardi Pandan Dalem Kidul, Pangeran Kembangan Dalem Kulon, dan Pangeran Waruju. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka memohon kepada Pangeran Arya Pinatih agar diperkenankan ikut berbincang-bincang dengan Abdul Jalil.

Selama berbincang-bincang dengan Pangeran Arya Pinatih dan para putera Prabu Satmata, Abdul Jalil menangkap keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan para pangeran tersebut. Tetapi, ia sangat terkejut ketika Pangeran Arya Pinatih menyinggung-nyinggung nama Hasan Ali, orang asal Caruban yang mengaku murid Syaikh Lemah Abang yang bernama asli San Ali Anshar. “Aku curiga dengan pengakuannya. Karena yang kuketahui, nama asli Syaikh Lemah Abang adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil,” kata Pangeran Arya Pinatih.

Abdul Jalil tercenung. Ia tiba-tiba teringat pada Syaikh Datuk Kahfi, guru terkasih sekaligus ayahanda asuhnya, yang pernah menuturkan perihal Raden Anggaraksa, putera Rsi Bungsu yang setelah memeluk Islam diberi nama Hasan Ali. Sesaat ia menangkap sasmita tidak baik tentang Hasan Ali yang mengaku muridnya itu, apalagi dengan menyebutnya dengan nama San Ali Anshar. Ingatan Abdul Jalil pun melesat pada dua orang adik iparnya, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady, yang pernah menuturkan pengkhianatan Ali Anshar. Jangan-jangan, pikir Abdul Jalil, Ali Anshar yang sudah berada di Jawa itu melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan dengan mengatasnamakan dirinya.

Menangkap gelagat tidak baik itu, Abdul Jalil buru-buru menolak pengakuan sepihak Hasan Ali itu dengan pernyataan tegas, “Sesungguhnya, Hasan Ali itu putera Rsi Bungsu, adik dari ibunda asuhku. Dia cucu Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan. Namanya yang asli Raden Anggaraksa. Dia dinamai Hasan Ali oleh ibunda asuhku setelah memeluk agama Islam. Tetapi, kami tidak pernah saling bertemu muka. Karena itu, kalau dia mengaku murid Syaikh Lemah Abang, San Ali Anshar, mungkin itu benar. Tetapi, pasti bukan kami yang dimaksud. Kami sendiri memiliki nama kecil San Ali, namun kami bukan San Ali Anshar. Kami curiga nama itu digunakan seorang pengkhianat bernama Ali Anshar asal negeri Persia yang pernah kukenal di Baghdad. Kepadaku, dia mengaku berasal dari Tabriz dan menggunakan Ali Anshar at-Tabrizi. Belakangan aku diberi tahu jika dia berasal dari Isfahan.”

“Sejak awal aku memang sudah curiga,” kata Pangera Arya Pinatih, “Sebab, di hadapanku ia mengaku bernama Hasan Ali, murid dari Syaikh Lemah Abang, San Ali Anshar. Sedangkan di hadapan Prabu Satmata ia mengaku bernama Bango Samparan, putera Rsi Bungsu dari Pajajaran. Kepada aku, ia mengaku ingin belajar tentang ilmu Kebenaran dari Tareka Kubrawiyyah, namun kepada Prabu Satmata ia mengaku ingin belajar ilmu terawangan dari Tarekat Ni’matullah. Aku makin curiga ketika murid-muridku melaporkan Hasan Ali itu panda mempertunjukkan ilmu sihir.”

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia benar-benar melihat gelagat tidak baik dari keberadaan Hasan Ali yang mengaku muridnya itu, terutama dalam kaitan dengan San Ali Anshar. Sejenak setelah itu tiba-tiba Ruh al-Haqq di kedalaman kalbunya memberi tahu bahwa justru lewat Hasan Ali dan San Ali Anshar itulah jalan penistaan dan penghinaan yang harus dilaluinya akan terwujud menjadi kenyataan. Ya, lewat Hasan Ali dan Ali Anshar itulah ikatan perjanjianmu dengan Sang Bhumi akan tergenapi, kata Ruh al-Haqq.

Beberapa jenak Abdul Jalil terdiam. Ia segera sadar bahwa jalan kenistaan yang dilaluinya rupanya harus melewati sosok Hasan Ali dan Ali Anshar al-Isfahani. Lantaran itu, ia kemudian menjelaskan dengan jujur masalah perikatan janjinya dengan Sang Bhumi kepada Pangeran Arya Pinatih. Meski awalnya terkejut, pangeran asal Bali yang sudah merasakan pahit getirnya kehidupan itu menyatakan dukungan penuh kepada Abdul Jalil untuk menunaikan tugas mulia itu. Kedua orang putera sang pangeran dan para putera Prabu Satmata pun menyatakan dukungan. Bahkan, Pangeran Arya Pinatih dengan tegas meminta Abdul Jalil untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra di Giri Kedhaton. “Terus terang, aku sudah tidak tahan setiap waktu mendengar ibu-ibu meratap dan hilang ingatan karena anaknya dijadikan korban persembahan di ksetra. Upacara-upacara itu harus diakhiri. Aku dan kemenakanku, Prabu Satmata, sudah berkali-kali mencari jalan terbaik untuk menutup ksetra-ksetra itu. Tapi, belum juga bertemu caranya. Lantaran itu, aku yakin dia akan sepaham denganku, mendukung sepenuhnya usahamu menutup tempat-tempat kebusukan (putikeswara) itu dengan cara membuat tawar daya shaktinya,” kata Pangeran Arya Pinatih.

“Ada berapakah jumlah ksetra di Giri Kedhaton?” tanya Abdul Jalil.

“Ada empat, yaitu Ksetra Adhidewa, Mangare, Dara, dan Indrabhawana.”

Peristiwa amuk yang dilakukan Raden Kusen Adipati Terung ternyata sangat menggemparkan dan menjadi pembicaraan ramai penduduk dari pedalaman hingga pesisir. Hal itu diketahui Abdul Jalil tak lama setelah ia menginjakkan kaki si Surabaya. Sejak turun di panambangan ia sudah mendapati orang-orang sudah membicarakan peristiwa aneh di Japan, Wirasabha, dan Terung. Ketika di Kraton Surabaya ia mendapati hampir semua putera, kerabat dekat, dan siswa Raden Ali Rahmatullah berkumpul di situ. Mereka tampaknya ingin memecahkan masalah rumit, terutama yang sedang membelit penguasa Terung. Di antara mereka itu terlihat Raden Ahmad, Raden Mahdum Ibrahim, Raden Mahmud, Raden Hamzah, Ibrahim al-Gujarati, Raden Kusen, Prabu Satmata, Raden Zainal Abidin Adipati Gresik, Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, Khalifah Husein, Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, dan Arya Bijaya Orob Adipati Tedunan.

Saat beramah-tamah dan saling mengabarkan keselamatan masing-masing, banyak yang bertanya kepada Abdul Jalil tentang perkembangan Caruban setelah memenangkan peperangan melawan Rajagaluh. Abdul Jalil yang sangat prihatin atas “perang” lanjutan setelah kemenangan itu dengan kurang bersemangat menjelaskan, “Apa yang disabdakan Rasulullah Saw. tentang perang yang lebih besar dari Perang Badar telah terjadi di Rajagaluh sekarang ini. Masing-masing orang berperang melawan nafs mereka masing-masing. Karena itu, aku cepat-cepat meninggalkan mereka yang sedang berlomba mengumbar nafsu berkuasa itu. Sekarang ini Sri Mangana beserta para gede sedang sibuk menata pemerintahan baru di Rajagaluh.”

“Kenapa Paman justru meninggalkan Caruban pada saat-saat seperti itu?” tanya Raden Ahmad heran. “Bukankah sekarang ini Paman lebih dibutuhkan di sana?”

“Kalau aku tidak meninggalkan Caruban, fitnah akan bertebaran lebih dahsyat. Orang-orang yang sudah mabuk kekuasaan itu akan memfitnahku dengan tuduhan macam-macam, pada ujungnya yang terkena akibat buruk adalah Sri Mangana. Dengan kepergianku dari Caruban, Sri Mangana dan para gede akan bisa bertindak lebih leluasa menata pemerintahan baru di Rajagaluh,” jawab Abdul Jalil.

“Siapa kira-kira yang jadi penguasa Rajagaluh?”

“Kalau tidak keliru, para gedeng sepakat mengajukan Ki Sukawiyana dari Gunung Ciangkup sebagai calon penguasa Rajagaluh. Aku kira itu pilihan yang tepat. Sebab, Ki Sukawiyana adalah putera Sanghyang Nago yang sangat ditakuti dan disegani. Dia bekas penguasa ksetra. Dengan begitu, orang-orang Rajagaluh pasti tidak ada yang berani menentangnya,” kata Abdul Jalil.

“Yang memilih adipati para gedeng?” sergah Raden Ahmad bagai tak percaya. “Berarti, gagasan wilayah al-Ummah benar-benar dijalankan di Caruban?”

“Tentu saja. Lantaran itu, penduduk Caruban menyebut negerinya Garage, Nagara Gede. Maksudnya, negara yang dipimpin dan diatur oleh para gede. Sedangkan negeri lain masih dikuasai oleh raja,” kata Abdul Jalil.

Setelah membicarakan keadaan di Rajagaluh dan Caruban, terutama pelaksanaan gagasan wilayah al-Ummah, para putera Raden Ali Rahmatullah memberi tahu Abdul Jalil bahwa gagasan wilayah al-Ummah yang pernah ditawarkannya itu sebagian sudah dijalankan di Surabaya, Terung, dan Bubat atas permintaan ayahanda mereka. “Ayahanda kami sebelum wafat telah meminta kepada saudara kami, Raden Kusen, untuk membuat ketetapan mengganti gelar Buyut bagi kepala wisaya dengan gelar Ki Ageng, dan mengganti pula gelar Rama bagi para kepala desa dengan gelar Ki Lurah,” kata Raden Hamzah memaparkan.

“Aku juga sudah melihat perubahan itu di pesisir sejak berangkat dari Caruban. Tapi, benarkah daerah pedalaman yang masuk wilayah Terung dan Bubat juga diubah?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Ya, Paman. Semua wisaya dan desa di Kadipaten Surabaya, Terung, dan Bubat telah diubah serentak,” Raden Hamzah menjelaskan. “Wisaya Bukul dipimpin oleh Ki Ageng Bukul, Syaikh Mahmudin, putera Ki Buyut Bukul. Wisaya Sumber Urip dipimpin Ki Ageng Banyu Urip, Ki Wiryo Saroyo, putera Ki Bang Kuning. Wisaya Sapanjang dipimpin oleh Ki Ageng Sapanjang, yaitu adik kami sendiri, Raden Mahmud. Pendek kata, semua wisaya di tlatah Terung dan Bubat seperti Wringin Sapta, Lemah Tulis, Pagedangan, Pagerwaja, Sukadana, Talsewu, Hanyiru, Awang-Awang, Penggiring, Terung, Kapulungan, Kejapanan, Gerongan, Gunung Gangsir, Pandakan, dan Tunggul Wulung semuanya sudah dipimpin oleh para Ki Ageng.”

“Berarti perubahan yang dilakukan para adipati di pesisir itu sesungguhnya mengikuti Surabaya,” kata Abdul Jalil. “Sebab di Bojong, Kendal, Samarang, dan Giri Kedhaton aku mendapati perubahan yang sama di sana.”

“Itu memang benar, Paman. Ayahanda kami juga mengirim utusan ke Giri Kedhaton, Tuban, Demak, Lasem, Japara, Kendal, dan Bojong untuk melakukan perubahan tersebut. Kira-kira tiga bulan lalu, saudara kami Adipati Tedunan Arya Bijaya Orob dan Adipati Siddhayu Yusuf Siddhiq juga mulai melaksanakan perubahan tersebut di wilayahnya,” kata Raden Ahmad.

“Mudah-mudahan dengan memandang kebesaran ayahandamu, perubahan besar bagi tatanan kehidupan di Majapahit akan segera terwujud,” kata Abdul Jalil berharap.

“Tapi, Paman, terus terang saja sampai saat ini kami belum paham dengan makna yang sebenarnya di balik perubahan gelar-gelar jabatan tersebut. Sungguh, ketetapan itu dibuat saudara kami semata-mata karena kepatuhan dan penghormatannya kepada ayahanda kami. Karena kami semua mengetahui jika gagasan itu asalnya dari Paman maka kami mohon penjelasan langsung dari Paman, kenapa gelar-gelar jabatan Buyut dan Rama harus diubah. Kenapa gelar Buyut harus diubah menjadi Ki Ageng dan gelar Rama diubah menjadi Ki Lurah? Kenapa pula para kawula diharuskan menggunakan kata ganti diri ingsun?” tanya Raden Qasim.

“Semua itu tentu terkait dengan tatanan kehidupan lama ke baru. Maksudku, perubahan nilai-nilai lama ke nilai-nilai baru, perubahan dari Tauhid lama ke Tauhid baru yang murni.”

“Tapi kami tidak melihat makna apa-apa di balik perubahan itu, Paman,” Raden Ahmad menyela. “Sebab yang diganti itu, menurut hemat kami, hanya istilah-istilah gelar belaka, yaitu dari Buyut menjadi Ki Ageng, dari Rama menjadi Ki Lurah. Bukankah keberadaan Buyut dan Ki Ageng sesungguhnya tetap sama, yaitu kepala wisaya? Bukankah keberadaan Rama dan Lurah juga sama, yaitu kepala desa?”

“Dilihat dari sisi tata pemerintahan memang tidak ada yang berubah. Sebab, baik gelar Buyut dan Ki Ageng pada dasarnya tetap merupakan gelar bagi mereka yang berkedudukan sebagai kepala wisaya. Demikian juga gelar Rama dan Lurah tetap merupakan gelar bagi kepala desa. Tetapi, jika kita memandang perubahan itu dari sudut pandangan Tauhid maka kita akan segera melihat perbedaan yang mencolok di antara perubahan gelar-gelar tersebut, bagaikan perbedaan malam dengan siang,” tegas Abdul Jalil.

“Kami belum paham, Paman.”

“Sepengetahuanmu, jika seorang Buyut meninggal, apa yang dilakukan oleh kawula di wisaya yang dipimpinnya? Begitu pun jika seorang Rama meninggal, apa yang dilakukan oleh kawula di desa yang dipimpinnya?” tanya Abdul Jalil memancing. “

Penduduk akan memuja batu tanda kematian sang Buyut dan sang Rama sebagai Kabuyutan dan punden Karaman, Paman,” tukas Raden Qasim mulai menangkap makna ucapan Abdul Jalil.

“Dapatkah engkau menghitung jumlah kabuyutan dan punden karaman di wilayah Majapahit atau bahkan yang ada di Kadipaten Surabaya dan Terung saja?”

“Tentu tidak bisa, Paman. Jumlahnya beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu.”

“Nah, dengan diubahnya istilah Buyut menjadi Ki Ageng dan istilah Rama menjadi Ki Lurah, apakah menurutmu arwah mereka akan dipuja oleh penduduk setelah mereka meninggal dunia?” tanya Abdul Jalil.

“Tentu saja tidak, Paman,” Raden Qasim mengangguk-angguk paham.

“Karena itu, dalam upaya menegakkan Tauhid, ketika ayahandamu akan wafat, beliau ‘menemuiku’ dan menyatakan tidak ingin kematiannya diketahui penduduk. Beliau ingin dikuburkan oleh putera-putera dan kerabat secara diam-diam. Beliau tidak ingin makamnya dipuja seperti pendharmaan raja-raja,” kata Abdul Jalil.

“Kami paham, Paman,” kata Raden Ahmad. “Tapi kenapa gelar Sri, Prabu, Adipati, dan Ratu tidak ikut diubah? Bukankah raja-raja itu jika mangkat arwahnya dipuja di candi-candi?”

“Belum waktunya. Kalau kita terburu-buru melakukan perubahan sebelum waktunya, yang akan terjadi adalah kekacauan yang mungkin berujung pada kegagalan. Itu sebabnya, kita harus sabar.”

“Kami paham, Paman. Tapi, mohon Paman jelaskan kepada kami kenapa kita harus merubah tata cara berbahasa dan terutama mengubah kata ganti diri dari nghulun dan kawula menjadi ingsun?” tanya Raden Ahmad.

“Perubahan itu tentu terkait dengan Tauhid, Raden. Ajaran luhur Islam tentang Tauhid, terutama gagasan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh), tidak akan bisa terwujud di dalam kenyataan jika masing-masing manusia masih menekuk lutut dan merendahkan diri sendiri sebagai budak bagi sesama. Aku kira engkau telah paham bahwa saat Islam pertama kali didakwahkan, masalah pembebasan budak-budak menjadi garapan utama dari perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat. Hal itu terjadi bukan karena Islam agama pembebas budak, melainkan lebih karena Islam adalah ajaran Tauhid sejati yang membawa manusia kepada pemujaan satu Ilah: al-Ahad.”

“Jika engkau bertanya kenapa aku memiliki gagasan untuk mengubah kata ganti nghulun dan kawula menjadi ingsun atau aku, maka dasar utama alasanku adalah semata-mata karena Tauhid itu sendiri. Maksudku, keberadaan penduduk Arab dan Majapahit harus dipahami sebagai dua hal yang berbeda. Jika pada zaman Nabi Muhammad Saw. para sahabat berusaha menebus budak-budak Muslim dengan membayar uang tebusan, hal itu tidak akan mungkin bisa dilakukan di Majapahit. Kenapa? Sebab, di Majapahit setiap manusia adalah budak bagi raja dan keluarganya. Itu berarti, bukan uang tebusan budak yang dibutuhkan di negeri seperti Majapahit, melainkan perubahan tatanan nilai-nilai dan kepercayaan baru yang menolak hegemoni pemikiran yang merendahkan manusia. Ya, yang dibutuhkan di Majapahit adalah perubahan cara pikir dan cara pandang yang bertolak dari nilai-nilai luhur penegakan Tauhid. Dengan penjelasanku ini, mudah-mudahan engkau dapat memahami semua gagasan yang aku sampaikan mulai perubahan gelar jabatan, kata ganti diri, sampai gagasan wilayah al-Ummah. Semua itu tujuan utamanya adalah sama, yaitu penegakan Tauhid,” tegas Abdul Jalil.

Selat Taiwan, Timur Pulau Kinmen (MV. Taho), 19 April 2007, 11:10LT