Rahasia Dukuh Lemah Abang

Pada hari kedua selama tinggal di Kraton Surabaya, Abdul Jalil berkenalan dengan seorang syaikh asal Ferghana, suatu wilayah di Khanat Bukhara, Syaikh Jumad al-Kubra. Ia putera Syaikh Kasah al-Ferghani bin Syaikh Jamaluddin Husein. Jadi, masih kerabat Abdul Jalil karena kakek buyut mereka sama, yaitu Sayyid Amir Ahmad Syah Jalaluddin. Syaikh Kasah al-Ferghani adalah adik lain ibu Syaikh Ibrahim as-Samarkandy, ayahanda Raden Ali Rahmatullah. Menurut Syaikh Jumad al-Kubra, ibundanya lahir dari keluarga saudagar keturunan Bulgari-Kozhak asal Samara, kota di hulu Sungai Wolga yang bermuara ke Laut Kaspia.

Di negerinya, Syaikh Kasah al-Ferghani dikenal sebagai guru Tarekat Kubrawiyyah. Syaikh Kasah al-Ferghani mengambil baiat kepada Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi dan kemudian ditunjuk sebagai khalifahnya. Karena menginginkan puteranya menjadi guru tarekat yang lebih sempurna dan lebih masyhur dari dirinya, maka putera sulungnya sejak berusia sembilan tahun sudah diserahkan pengasuhannya kepada Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi. “Ayahanda asuh dan mursyidku, Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi-lah, yang menganugerahiku nama Jumad al-Kubra. Namaku sendiri yang asli adalah Taras,” papar Jumad al-Kubra.

Boleh jadi karena berdarah campuran dari bermacam-macam bangsa, bentuk fisik Syaikh Jumad al-Kubra sangat berbeda dengan orang-orang di Kraton Surabaya. Lantaran itu, dia menjadi pusat orang-orang di sekitarnya. Bentuk tubuhnya tentu lebih tinggi dan lebih besar dibanding orang-orang di sekitar. Kulitnya sangat putih hingga terkesan bule (albino). Hidungnya yang mancung dikesankan seperti hidung Petruk. Matanya yang bening kecoklatan dikesankan seperti mata kucing. Rambut dan cambangnya yang coklat kemerahan dikesankan seperti rambut singa. Sungguh, penampilan Syaikh Jumad al-Kubra menimbulkan keheranan orang-orang Surabaya. Itu sebabnya, para pelayan di Kraton Surabaya sering terlihat berkerumun memandanginya bagaikan melihat makhluk aneh. Bahkan, saat mendengar dia berbicara dalam bahasa Melayu dengan logat aneh, orang-orang menduganya sebagai makhluk berasal dari negeri Atas Angin, negeri asing di angkasa.

Di lingkungan keluarga Raden Ali Rahmatullah sendiri, Syaikh Jumad al-Kubra sangat dihormati. Menurut cerita, bentuk fisiknya mirip dengan kakek mereka, Syaikh Ibrahim as-Samarkandy. Bahkan, yang membuatnya makin disegani adalah kenyataan yang menunjuk bahwa dia adalah wakil (khalifah) Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi, seorang mursyid besar Tareka Kubrawiyyah. Lantaran itu, ketika dia memberikan khirqah (jubah sufi) kepada Raden Ahmad yang berkedudukan sebagai pengganti (khatib) ayahandanya, orang langsung menganggap hal itu sebagai pengukuhannya sebagai mursyid Tarekat Kubrawiyyah di Nusa Jawa.

Sementara itu, kepada Abdul Jalil, Syaikh Jumad al-Kubra mengungkapkan bahwa kehadirannya ke Nusa Jawa pada dasarnya untuk memenuhi amanat almarhum guru ruhaninya tercinta, Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi. “Kira-kira tiga puluh tahun silam, syaikh kami telah menyuruhku berkelana untuk mencari seorang mujaddid (pembaharu) yang melakukan tajdid (pembaharuan) di suatu negeri. Jika sudah bertemu, aku diperintahkan untuk menyerahkan taj (mahkota sufi) kepadanya. Aku juga diperintahkan untuk ikut serta mengambil bagian dalam gerakan pembaharuan tersebut. Demi kepatuhanku kepada guruku, aku berkelana berkeliling ke berbagai belahan dunia untuk mencari sang mujaddid tersebut. Tetapi mulai negeri Khanat Bukhara, Khanat Jaghatai, Kipchak, Mameluk, Khurasan, Baghdad, Hijaz, Yaman, hingga Gujarat tidak kutemukan adanya gema pembaharuan dalam tatanan kehidupan manusia. Aku tidak menemukan sang mujaddid tersebut sehingga aku mulai meragukan kebenaran wasiat syaikh kami.”

“Baru sekitar enam bulan silam, ketika aku datang ke Malaka menemui saudaraku lain ibu, Dara Putih, yang tinggal di kampung Pulau Upih, aku diberi tahu tentang terjadinya suatu pembaharuan dalam tatanan kehidupan di negeri Jawa yang dipelopori oleh seorang syaikh asal Malaka, yaitu Syaikh Lemah Abang. Karena itu, aku buru-buru datang ke Jawa untuk mencari tahu tentang sang pembaharu itu. Aku merasa sangat beruntung dapat bertemu dengan sang mujaddid, yang ternyata tiada lain adalah kerabatku sendiri, Tuan Syaikh Datuk Abdul Jalil, keturunan Sayyid Amir Ahmad Syah Jalaluddin,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan mata berbinar-binar.

“Orang sering kali terlalu melebih-lebihkan sesuatu secara kurang tepat,” kata Abdul Jalil datar dan merendah. “Apa yang sudah aku lakukan dalam perubahan di negeri ini sesunggunya bukanlah pembaharuan. Aku katakan bukan pembaharuan karena ibarat pohon-pohon di kebun, tatanan baru yang aku tegakkan itu sesungguhnya sudah ada lembaganya, namun merana dan terbengkalai akibat tidak diurus dan tidak dipelihara dengan baik. Jadi, upayaku selama ini hanya berusaha menyuburkan lembaga-lembaga itu agar tumbuh dan berkembang menjadi pohon-pohon yang berbuah lebat. Dalam upaya menyuburkan lembaga itu, aku hanya memangkas bagian-bagian tanaman yang sudah layu dan kemudian mencangkokkan bagian yang terpangkas itu dengan bagian-bagian dari pohon lain yang baik. Sekali lagi aku tegaskan, aku bukanlah mujaddid.”

Syaikh Jumad al-Kubra tertawa. Ia menangkap isyarat bahwa Abdul Jalil tidak suka dipuji. Ia bahkan menangkap kesan Abdul Jalil adalah seorang malamit, orang yang menyembunyikan kesempurnaan batiniahnya dengan penampilan yang hina dan tercela.

Didorong rasa ingin tahu yang kuat untuk mengetahui keberadaan Abdul Jalil sebagai mujaddid sejati sesuai amanat guru ruhaninya, Syaikh Jumad al-Kubra terus bertanya kepada Abdul Jalil, “Menurut kabar yang kami dengar, Tuan Syaikh dikenal orang dengan sebutan Syaikh Lemah Abang karena Tuan Syaikh mengawali perubahan tatanan kehidupan penduduk dari tempat-tempat bernama Lemah Abang. Apakah dukuh-dukuh Lemah Abang yang Tuan dirikan itu memang tanahnya berwarna merah? Ataukah Tuan Syaikh sesungguhnya telah menemukan kibrit ahmar (belerang merah) sehingga Tuan Syaikh menamai tempat-tempat itu dengan perlambang tanah merah?”

“Tanah Abang? Kibrit ahmar? Belerang merah? Kibrit ahmar yang bisa mengubah logam menjadi emas?” gumam Abdul Jalil dengan kening berkerut dan muka tidak senang, “Jika nama Lemah Abang Tuan tafsirkan terkait dengan kibrit ahmar , itu boleh saja. Tetapi, jika penafsiran Tuan itu aku benarkan maka Tuan dan orang-orang yang paham terhadap makna kibrit ahmar akan menganggap aku manusia sombong yang suka memamerkan diri sebagai pemilik kesadaran tertinggi dan pengetahuan yang langka. Jadi menurutku, sekali-kali tidak seperti itu makna di balik nama Lemah Abang. Sedikit pun nama Lemah Abang tidak terkait dengan kibrit ahmar, meski orang bisa menafsirkan bahwa lewat dukuh-dukuh Lemah Abang, ‘manusia-manusia logam’ bisa ditempa menjadi ‘manusia-manusia emas’.”

“Aku kira nama Lemah Abang sedikit pun tidak terkait dengan kibrit ahmar. Pertama-tama, aku sengaja memilih nama Lemah Abang karena terkait dengan pengetahuan rahasia yang disebut perundagian, yang salah satu tata caranya menggunakan sarana sejenis wafak yang menggunakan aksara AH dan ANG, yang melambangkan makna laki-laki dan perempuan. Itu terkait dengan pemujaan Dewi Bhumi, Prthiwi. Yang kedua, nama Lemah Abang aku maksudkan untuk menandai perubahan suatu rentangan zaman, di mana kesadaran manusia yang kacau telah diarahkan ke kesadaran Tauhid, ibarat penyucian diri manusia dari jiwa-jiwa rendah. Lemah Abang merupakan perlambang penyucian jiwa tanah dari kuasa nafsu-nafsu rendah bendawi. Lantaran itu, dengan jiwa tanah yang suci itu, aku berharap akan lahir adimanusia (insan kamil) yang lepas dari ikatan kuat jiwa bumi.”

“Apakah itu berarti nama Lemah Abang terkait dengan penyucian nafs al-Ammarrah yang berwarna merah?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra ganti mengerutkan kening heran.

Abdul Jalil mengangguk, “Ya. Sederhana sekali, ‘kan,?”

“Kenapa Tuan Syaikh memilih perlambang nafs al-Ammarrah?” Syaikh Jumad al-Kubra minta penjelasan. “Bukankah masih ada nafs lain yang juga harus disucikan?”

“Sesungguhnya, tempat-tempat yang akan aku buka untuk menyampaikan Kebenaran bukan hanya akan dinamai Lemah Abang. Aku sudah merencanakan untuk membuka tempat-tempat baru yang disebut Lemah Ireng (tanah hitam), Lemah Putih (tanah putih), dan Lemah Jenar (tanah kuning). Ketiga nama terakhir itu mengandung perlambang nafs al-Lawwammah (hitam), nafs al-Muthma’inah (putih), dan nafs as-Sufliyah (kuning),” ujar Abdul Jalil.

“Kenapa Tuan Syaikh harus menyucikan tanah? Adakah rahasia di balik itu? Bukankah menyucikan tanah itu tidak dikenal dalam ajaran Islam?”

“Sesungguhnya, aku hanya mengikuti tata cara yang sudah pernah dilakukan orang-orang di masa silam yang pernah hidup di Nusa Jawa. Mereka menyebut penyucian tanah dengan istilah bhumisoddhana.”

“Bhumisoddhana? Upacara apa itu?”

“Sejak masa purwakala, para orang tapa waskita yang datang dari berbagai negeri sudah melakukan penyucian tanah Nusa Jawa dalam upaya menentukan tempat yang hak untuk berpijak bagi manusia. Karena itu, tempat yang hak itu dibatasi oleh dharma (anusuk). Tetapi, apa yang aku lakukan bukan sekadar menyucikan tanah yang disebut bhumisoddhana, melainkan juga menyucikan anasir tanah yang membentuk tubuh manusia yang disebut bhuta-suddhi,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Berarti sebelum ini sudah ada orang yang melakukannya?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra.

“Yang aku ketahui, manusia yang untuk kali pertama melakukan penyucian terhadap tanah Nusa Jawa adalah Dang Hyang Semar, seorang nabi dari zaman purwakala. Setelah itu secara berturut-turut bhumisoddhana dilakukan oleh Rishi Agastya putera Varuna, Prabu Isaka putera Prabu Anggajali, Prabu Writhikandayun putera Rishi Kandiawan, Rishi Trenawindu putera Rishi Agasti, Aryya Bharad dari Lemah Citra, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, Sang Pranajaya dari Tumapel, dan Pu Gajah Mada Mahapatih Majapahit,” kata Abdul Jalil.

“Apakah para tapa itu juga menggunakan sarana-sarana sebagaimana yang Tuan lakukan?”

“Ya,” sahut Abdul Jalil. “Menurut ibunda asuhku, Nyi Indang Geulis, sarana yang digunakan oleh beliau-beliau itu untuk menyucikan tanah Nusa Jawa meliputi lambang-lambang yang terkait dengan empat macam warna (catur warna) yaitu hitam, kuning, merah, dan putih.”

“Apakah warna-warna itu harus dikaitkan dengan tanah?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra.

“Tidak selalu tanah,” jawab Abdul Jalil. “Ada yang melambangkan warna merah dengan api sehingga mereka melakukan upacara agni hotra di sejumlah tempat. Ada yang melambangkan warna merah dengan darah sehingga mereka melakukan upacara darah. Tetapi, sesuai petunjuk ibunda asuhku, cara yang aku lakukan untuk menyucikan jiwa Sang Bhumi yang kesuburannya dipuja manusia adalah dengan lambang-lambang yang terkait dengan wahana dari Sang Kesuburan, Bhattari Sri, yang dilambangkan dalam wujud empat jenis burung, yaitu kitiran (perkutut), puter, wuru-wuru spang (deruk merah), dan dara wulung (merpati hitam).”

“Menurut perlambang purwakala, dari burung kitiran memancar wija ‘Ong’ dari Hakini Shakti yang mengejawantah dalam perwujudan benih putih (beras). Dari burung puter memancar wija ‘Wang’ dari Waruna yang mengejawantah dalam perwujudan benih kuning (kunyit), Penguasa perairan yang bersemayam di atas makara putih. Dari burung wuru-wuru spang memancar wija ‘Rang’ dari Agni yang mengejawantah dalam perwujudan benih merah (jawawut). Dari burung dara wulung memancar wija ‘Lang’ dari Prthiwi yang mengejawantah dalam perwujudan benih hitam (ketan ireng). Keempat wahana Bhattari Sri itu, menurut ibundaku, adalah lambang Prthiwi (tanah), Apah (air), Agni (api), dan Bayu (angin). Jika keempat jiwa bumi yang menjadi wahana Bhattari Sri tersebut sudah tersingkap maka akan terbit Akasha, yaitu anasir kelima yang melambangkan hakikat sejati dari jiwa Sang Bhumi yang merupakan pengejawantahan Paramakhasa-rupi (Akasha Agung).”

“Jika Tuan bertanya kenapa aku melakukan penyucian bumi yang tidak lazim dilakukan orang Islam? Pertama-tama akan aku beritahukan kepada Tuan bahwa alasan utamaku melakukan penyucian tanah adalah demi keselamatan manusia-manusia penghuni negeri berpulau-pulau di tengah samudera ini. Sebab, menurut hadits Rasulullah Saw., sebelum Adam a.s., leluhur manusia dicipta dari tanah, dunia ini dihuni oleh Banu al-Jann yang dicipta dari api beracun. Mereka itu, menurut dalil-dalil Kitab Suci, suka berperang dan menumpahkan darah sesamanya. Saat Adam a.s. akan diturunkan ke dunia, Banu al-Jann diusir ke tempat-tempat di tengah samudera raya. Karena itu, Nusa Jawa dan pulau-pulau lain di tengah samudera pada akhirnya dihuni oleh Banu al-Jann. Sebagaimana Sang Iblis yang tidak senang dengan kehadiran makhluk baru yang disebut Adam a.s., demikianlah puak-puak Banu al-Jann sangat tidak senang dengan anak keturunan Adam a.s. ke tempat-tempat yang mereka huni. Tidak berbeda dengan Sang Iblis, Banu al-Jann menganggap Adam a.s. dan keturunannya sebagai makhluk yang lebih rendah derajatnya, sebagaimana manusia memandang binatang. Pada saat-saat tertentu mereka melakukan perburuan untuk memangsa manusia. Jadi, usahaku melakukan penyucian jiwa tanah, salah satu alasannya adalah bertujuan membentengi manusia dari pengaruh keganasan Banu al-Jann.”

“Alasan yang lain, Sang Bhumi adalah pengejawantahan aspek keibuan dari Brahman yang mencipta dan memberi makan dunia (Shri-mata). Sebagaimana hukum kehidupan, Sang Bhumi wajib memberi apa yang harus diberi dan sekaligus berhak meminta apa yang harus diminta. Karena itu, siapa di antara makhluk penghuni bumi yang paling banyak mengambil keuntungan dari bumi maka dia wajib mempersembahkan lebih banyak kepada Sang Bhumi. Dengan begitu, bagi manusia yang menjadi pemuja dan pendamba bumi, mereka akan menjadi hamba dari bumi. Mereka itulah yang harus memberi persembahan darah kepada Ibunda Prthiwi yang selalu haus darah dan madhu,” kata Abdul Jalil.

“Adakah keterkaitan makna rahasia di balik empat macam warna penyucian bumi?”

“Semua tergantung keyakinan. Jika orang menganggap tidak ada kaitan antara sarana-sarana yang aku tebarkan dengan tawarnya pengaruh jahat Banu al-Jann dan meredanya kehausan darah Sang Prthiwi, maka hal itu sah saja. Tetapi, bagi padanganku pribadi, apa yang aku lakukan dalam penyucian tanah itu dapat disandarkan pada peristiwa yang pernah dilakukan Rasulullah Saw. saat menempatkan bunga kurma di atas kuburan seseorang. Saat itu beliau bersabda, sebelum bunga itu kering maka ahli kubur yang ada di kuburan itu terhindar dari siksa malaikat. Bagi mereka yang belum terbuka, tidak mempercayai bahwa bunga kurma dapat menghentikan tindakan malaikat penyiksa di alam kubur. Mereka akan menganggap hadist itu palsu. Karena itu, bagiku, masalah itu hanya bisa dipandang dari sudut keyakinan dan mata batin. Orang boleh percaya dan boleh juga tidak. Demikian juga dengan apa yang aku lakukan dalam upaya membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat-tempat Sang Bhumi dipuja dengan menggunakan tu-mbal manusia, boleh dipercaya dan boleh pula tidak,” ujar Abdul Jalil menegaskan.

“Aku percaya dengan apa yang Tuan Syaikh lakukan,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

Samudera Pasifik (MV. Taho) 20 April 2007, 08:25LT