Caturbhasa Mandala

Semakin sering berbincang-bincang, semakin besar rasa ingin tahu Syaikh Jumad al-Kubra untuk mengetahui pandangan-pandangan dan gagasan Abdul Jalil dalam melakukan perubahan. Pada pertemuan berikut, tanpa basa-basi dia langsung bertanya tentang hal-hal yang terkait penyucian bumi. “Jika boleh tahu, kenapa Tuan Syaikh mendahulukan penyucian nafs al-Ammarrah dari tanah?” “

Sebab, Banu al-Jann tinggal di dalam perut bumi. Asal Tuan tahu, perut bumi ini sebagian berupa air dan sebagia lagi berupa api yang berwarna merah menyala. Almarhum Ario Damar Adipati Palembang pernah mengajakku masuk ke perut bumi mengunjungi puak-puak dari Banu al-Jann. Mereka tinggal di bagian api yang merah menyala. Karena itu, jika mereka keluar ke permukaan bumi maka lazimnya melalui kawah gunung berapi, gua-gua, atau setiap lubang yang terhubung dengan perut bumi. Sebagaimana lahar gunung berapi yang berbahaya, nafs al-Ammarrah perlambang api dari Sang Bumi harus disucikan terlebih dulu. Di Nusa Jawa, para tapa yang waskita sudah mengetahui sejak lama bahwa anasir api dari Sang Bhumi telah menjadi penyebab utama dari tumpahnya darah manusia-manusia. Lantaran itu, jika anasir api sebagai perlambang nafs al-Ammarah dari Sang Bhumi tidak didahulukan penyuciannya, aku khawatir manusia-manusia penghuni Nusa Jawa akan segera habis dimangsa Banu al-Jann yang merupakan salah satu aspek pengejawantahan Sang Maut,” jelas Abdul Jalil.

“Tapi Tuan Syaikh, bukankah perlambang-perlambang nafs itu sejatinya hanya menyangkut pencerahan jiwa manusia?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra belum paham dengan penjelasan Abdul Jalil. “Kenapa Tuan Syaikh menggunakannya untuk bumi, yaitu tempat tinggal manusia? Apakah menurut Tuan Syaikh, bumi itu makhluk hidup yang memiliki jiwa sehingga perlu disucikan jiwanya?”

“Bagiku, semua makhluk memiliki jiwa, apakah mereka bisa bergerak atau tidak. Gumpalan batu, besi, dan makhluk-makhluk tak terbayangkan yang merupakan benda-benda tak bergerak sesungguhnya bukanlah benda mati yang tidak memiliki jiwa. Mereka sesungguhnya hidup dan memiliki jiwa. Sebagian besar di antara mereka malah berasal dari makhluk seperti kita (QS. al-Isra: 49-51), meski benda-benda itu dalam penglihatan mata indriawi kita tidak dapat bergerak dan tidak dapat menyelamatkan diri sendiri (QS. al-Furqan: 3). Tidakkah Tuan Syaikh mengetahui jika gunung-gunung yang tidak bergerak itu sejatinya bertasbih kepada Allah, sebagaimana burung-burung bertasbih kepada Allah (QS. al-Anbiya’: 79; Shad: 18)?”

“Di dalam pandanganku, meski benda-benda tak bergerak itu tidak dapat mengusahakan keselamatan diri sendiri, mereka dapat mempengaruhi jiwa manusia. Kekuatan jiwa yang memancar dari benda-benda itu dapat mempengaruhi kesadaran manusia sehingga manusia terikat untuk mencintai dan memuliakan mereka secara berlebihan. Tidak kurang di antara manusia harus saling bunuh akibat kecintaan berlebih terhadap benda-benda tak bergerak tersebut. Bahkan, tidak kurang manusia yang keblinger kiblat imannya karena mempertuhankan mereka,” kata Abdul Jalil.

“Tentang dalil-dalil yang Tuan Syaikh kemukakan, aku sudah tahu. Tentang pengaruh benda-benda mati terhadap jiwa manusia pun aku sudah tahu. Tapi dalam kenyataan, aku belum beroleh pencerahan ruhani untuk bisa mempersaksikan Kebenaran Sejati di balik dalil-dalil tersebut dengan mata batin. Aku mohon petunjuk dan bimbingan dati Tuan Syaikh agar aku dapat mencapai maqam itu. Aku yakin Tuan Syaikh pasti sudah mencapai maqam tersebut. Sebab, guru kami, almarhum Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi, tidak akan memerintahkan aku untuk menyampaikan taj kepada Tuan Syaikh jika maqam ruhani Tuan Syaikh lebih rendah dari beliau,” kata Syaikh Jumad al-Kubra merendah.

Mendengat kata-kata Syaikh Jumad al-Kubra yang bernada memuji dan meninggikan dirinya, Abdul Jalil mengalihkan pembicaraan seolah-olah tak mendengarnya, “Jika Tuan pernah membaca kisah perjalanan Isra’ wa Mi’raj yang dilakukan Nabi Muhammad Saw, Tuan Syaikh akan mendapati satu kisah perjumpaan beliau dengan Sang Bhumi (ad-dunya’) yang digambarkan sebagai seorang perempuan tua bangka tak berdaya. Kenapa dalam kisah itu Nabi Muhammad Saw. menyaksikan Sang Bhumi sebagai perempuan tua bangka tak berdaya? Menurut hematku, penglihatan beliau adalah penglihatan seorang Rasulullah, yang tidak pernah tertarik dengan gemerlap duniawi. Itu adalah penglihatan ruhaniah seorang manusia agung yang tercerahkan kesadarannya dan menyaksikan segala sesuatu di sekitarnya dengan mata batin yang cemerlang. Sehingga, keberadaan dunia dipandangnya seperti sosok perempuan tua bangka tak berdaya.” “

Sebaliknya, bagi para petani, para pemuja kesuburan, dan para pecinta kehidupan duniawi yang hidupnya bergantung pada kekayaan dan kesuburan bumi, Sang Bhumi dilihatnya sebagai Ibunda Agung, gudang keindahan yang tiada tara, pinggangnya ramping, payudaranya ranum, pinggul dan pahanya mekar, merangsang harapan keibuan yang tak terbatas (Lalitasahasranama sargha 79), bumi yang subur tempat bagi manusia bersandar hidup, baik di kala lahir maupun mati. Asal dari ibu bumi akan kembali ke ibu bumi. Itulah keyakinan mereka yang diwariskan dari keturunan satu ke keturunan yang lain. Keberadaan Sang Bhumi, pemilik kesuburan itu, digambarkan oleh pemujanya seperti ini: Dia, Ibunda Prthiwi, melulurteguhkan yang membangkitkan semangat, sekali lagi dan sekali lagi, dia tertawa dengan mata merah padam berkilat dan mengucapkan bahasa ruh yang tak terpahami dengan bibir berlepotan darah dan madhu yang diminumnya (Markandeyapurana sargha 83). Itulah gambaran Sang Bhumi, Ibunda Prthiwi, sang peminum darah dan madhu yang sejak zaman purwakala sudah disembah oleh penduduk Nusa Jawa.”

“Sungguh luar biasa kedahsyatan Dewi Bhumi yang disembah penduduk negeri ini. Sungguh aku takjub dengan kehebatan Tuan Syaikh yang ingin menutup tempat-tempat pemujaan Sang Bhumi melalui dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Lemah Jenar,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

“Perlu Tuan ketahui, aku tidak punya hak untuk menutup tempat pemujaan apa pun. Aku hanya berupaya untuk membuat tawar pengaruh darah dan mayat pada tempat-tempat Sang Bhumi dipuja baik melalui bhumisoddhana maupun bhutasuddhi. Tempat-tempat yang disebut Kabhumian (Kebumen), Patanahan, Palemahan, Dara, dan ksetra-ksetra adalah tempat-tempat para perawan (dara) dipersembahkan sebagai korban sembelihan. Hatiku tidak cukup kuat untuk menyaksikan upacara semacam itu dilakukan orang di sekitarku. Jiwaku tidak bisa berdiam diri membiarkan pembunuhan-pembunuhan atas nama kepercayaan terhadap Sang Bhumi. Selain itu, ibunda asuhku, Nyi Indang Geulis, memang memintaku untuk berjuang keras mengakhiri upacara korban manusia itu. Dan, yang paling penting, Syiwa sendiri telah berkehendak untuk menyingsingkan wajah-Nya yang menakutkan (Bhairawa) untuk digantikan dengan wajah-Nya yang memancar penuh kasih sayang (Shankara). Syiwa telah menetapkan bahwa untuk bertemu dengan-Nya, para pemuja-Nya dapat menjumpai-Nya di mana saja karena Dia berada di dalam diri manusia yang memahami Kulatattwa.”

“Karena itu, tugas utamaku sebagai ulama pewaris Nabi Saw. di tengah perubahan ini, selain menyampaikan kepada penduduk Nusa Jawa kabar Kebenaran Tauhid Islam, mengubah nilai-nilai lama yang sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai baru seiring tuntutan zaman, aku juga berkewajiban mengakhiri secara bijaksana pembunuhan-pembunuhan manusia untuk upacara keagamaan. Salah satu upaya yang mampu kulakukan adalah mengusahakan suatu ikhtiar dengan membuat tawar daya shakti yang memancar dari ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Sang Bhumi yang mengerikan itu. Jadi, yang aku lakukan hanya membuat tawar daya shakti. Sekali-kali tidak menutup. Munculnya dukuh-dukuh Lemah Abang sesungguhnya baru pada perintisan belaka dari usahaku tersebut. Aku masih butuh waktu lama dan dukungan dari semua pihak untuk menjalankan tugas berat itu, sampai terbentuknya Dukuh Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Lemah Jenar,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Subhanallah,” gumam Syaikh Jumad al-Kubra takjub. “Rupanya guru kami Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi sudah mengetahui tugas rahasia Tuan Syaikh yang begitu berat. Rupanya beliau tahu tajdid yang Tuan jalankan itu lebih dari sekadar mengubah tatanan kehidupan manusia. Itu sebabnya, beliau memerintahkan kami untuk menyampaikan taj dan ikut serta terlibat dalam perubahan yang Tuan lakukan. Terimalah taj ini sebagai penghormatan dari guru suci kami Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi.”

“Guru ruhani Tuan, Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi, memang seorang arif yang waskita,” sahut Abdul Jalil menerima taj dari tangan Syaikh Jumad al-Kubra. “Tetapi, tentang pembicaraan kita tadi hendaknya tetap Tuan rahasiakan kepada yang tidak berhak mengetahui. Tentang taj pemberian guru suci Tuan, hendaknya Tuan rahasiakan juga.”

“Itu sudah pasti, Tuan Syaikh,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan mata berbinar menyiratkan kegembiraan. “Sejak di Malaka, ya, sejak di Malaka, aku sudah mendengar tentang Nusa Jawa yang masih dihuni oleh pemuja berhala yang suka minum darah dan mengorbankan manusia untuk santapan bhairawa-bhairawi sesembahannya. Aku sendiri sangat tertarik mendengar cerita itu. Karena itu, salah satu kehadiranku di Nusa Jawa ini selain mencari sang mujaddid untuk menyampaikan taj, juga untuk menyebarkan ajaran Kebenaran Islam kepada penduduk. Ternyata, atas kehendak Allah kita dipertemukan. Karena itu, sesuai amanat almarhum guru kami dan dorongan jiwaku, aku berharap Tuan memperkenankan aku untuk berjuang bahu-membahu bersama dalam menata kehidupan baru umat manusia di Nusa Jawa ini.”

“Sungguh aku sangat bergembira jika Tuan Syaikh hendak bergabung dengan kami. Tetapi, perlu aku beri tahukan kepada Tuan Syaikh bahwa dalam hal Tauhid orang-orang di Nusa Jawa sudah sangat paham secara mendalam. Sebab, sejak zaman purwakala mereka sudah menganut ajaran Tauhid, baik yang mereka sebut Kapitayan maupun ilmu Tauhid yang mereka istilahkan Adwayashastra. Mereka juga bukan kawanan orang bodoh yang puas dan percaya begitu saja dengan penjelasan dalil-dalil naqli yang beku. Bahkan, sejumlah pendeta Syiwa-Budha yang menjadi pengikutku dengan mudah dapat mengikuti sistem bepikir yang kuajarkan. Padahal, sistem berpikir yang kuajarkan itu hanya lazim digunakan di kalangan cendikiawan Baghdad,” ujar Abdul Jalil menegaskan.

“Aku akan selalu ingat-ingat petunjuk Tuan,” kata Syaikh Jumad al-Kubra. “Tapi, ada satu hal yang ingin aku peroleh dan perkenan Tuan Syaikh.”

“Apa itu?”

“Karena pembukaan dukuh-dukuh seperti Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Lemah Jenar masih butuh waktu lama sampai selesainya pembukaan dukuh-dukuh Lemah Abang, bagaimana jika Tuan mengijinkan aku untuk mengambil bagian dalam pembukaan dukuh-dukuh tersebut. Aku siap mengorbankan jiwa dan raga untuk menyelesaikan tugas mulia tersebut,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

“Jika demikian, aku sarankan sebaiknya Tuan membuka tempat-tempat bernama Lemah Putih. Aku akan menemui Prabu Satmata untuk membicarakan hal itu.”

“Prabu Satmata? Siapakah dia?”

“Prabu Satmata adalah khallifah Giri Kedhaton. Dia putera saudara sepupu Tuan, Syaikh Maulana Ishak. Dia keturunan Sayyid Amir Ahmad Khan Jalaluddin seperti kita. Dia seorang pengamal Tarekat Ni’matullah. Almarhum ayahandanya, Syaikh Maulana Ishak, adalah mursyid Tarekat Ni’matullah yang tinggal di Pasai. Sekarang ini yang menggantikan Syaikh Maulana Ishak sebagai mursyid di Nusa Jawa adalah Prabu Satmata,” kata Abdul Jalil.

Keinginan Syaikh Jumad al-Kubra untuk bahu membahu dengan Abdul Jalil dalam upaya membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi, ternyata berkaitan dengan rencana Raden Kusen sang penguasa tiga kadipaten (Terung-Bubat-Surabaya) untuk menutup ksetra-ksetra di wilayah kekuasaannya. Rupanya, berbeda pandang dengan orang-orang yang mengaitkan peristiwa-peristiwa aneh di pedalaman dan amuk yang dilakukannya dengan tulah Sang Naga Shesa, Raden Kusen justru memandang hal tersebut berasal dari kelalaiannya dalam menjalankan amanat guru yang dimuliakannya, Raden Ali Rahmatullah Susuhunan Ampel Denta.

Beberapa hari sebelum wafat Raden Ali Rahmatullah telah menyampaikan wasiat agar para putera, dan muridnya berusaha secara bijak mengakhiri upacara pengorbanan manusia di wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Ternyata, sampai setahun wafatnya Raden Ali Rahmatullah, amanat itu belum juga dijalankan. Lantaran itu, terjadinya peristiwa buruk itu oleh Raden Kusen dianggap sebagai peringatan dari gurunya. Dengan pandangan seperti itu, Raden Kusen bertekad menjalankan amanat tersebut. Di depan para putera Raden Ali Rahmatullah, Prabu Satmata, Khalifah Husein, Yusuf Siddhiq, dan Arya Bijaya Orob, dia dengan tegas akan membuat ketetapan untuk menutup ksetra-ksetra di wilayah kekuasannya. Ksetra yang pertama-tama ditutup adalah Ksetra Nyu Denta (Jawa Kuno: Kelapa Gading) yang terletak sekitar lima yojana di sebelah timur Masjid Ampel Denta.

Abdul Jalil yang menangkap tengara tidak baik sebagai akibat penutupan ksetra itu tidak bisa berdiam diri dan berusaha keras mencegah pelaksanaan rencana tersebut. Tanpa menunda waktu, di depan para peserta pertemuan, Abdul Jalil mengemukakan pandangan bahwa kebijakan menutup Ksetra Nyu Denta tidak bisa dilakukan oleh seorang penguasa kadipaten karena akan menimbulkan akibat buruk yang tidak diinginkan.

Dengan suara direndahkan tetapi tegas, ia berkata, “Kami yakin, kebijakan mengakhiri upacara korban manusia itu adalah mulia. Kami juga yakin amanat almarhum saudara kami Raden Ali Rahmatullah bukanlah tindakan menutup ksetra-ksetra secara langsung berdasar ketetapan penguasa kadipaten. Sebab, sepengetahuan kami, Paduka Susuhunan sangat tidak menyukai hal-hal yang bersifat kekerasan. Kami sangat yakin di alam kuburnya dia akan kecewa jika ada keluarga atau murid yang menutup ksetra berdasar wewenang seorang adipati.”

“Kenapa kami katakan dia kecewa dengan cara itu? Sebab kalau ia memilih cara langsung seperti itu, tentunya sebagai raja Surabaya ia sudah melakukannya sejak lama. Kenyataannya, ia membiarkan Ksetra Nyu Denta seperti adanya. Jadi, menurut kami, yang ia inginkan adalah mengakhiri upacara korban manusia, sekali-kali bukan sekadar menutup ksetra. Sebab, upacara-upacara korban manusia tidak selalu dilakukan di ksetra. Di tempat pemujaan Sang Bhumi, di bangunan-bangunan besar yang butuh wadal, di tempat-tempat orang mencari pesugihan, bahkan saat orang mengamalkan ilmu kadigdayan pun korban manusia bisa dilakukan. Karena itu, kami kurang sepakat jika Yang Mulia Adipati Bubat akan membuat ketetapan menutup ksetra-ksetra di wilayah kekuasaannya. Hal itu tidak saja akan menyulut kekisruhan besar akibat perlawanan para pendeta, penduduk sekitar, dan ‘penguasa ksetra’, tetapi yang terpenting, ketetapan itu tidak mengakhiri kebiasaan korban manusia.”

Raden Kusen menarik napas berat dan mengangguk-angguk. Dia bisa menerima pandangan Abdul Jalil, namun dia tidak memiliki pilihan lain untuk menjalankan amanat gurunya tercinta itu. Akhirnya, setelah termenung lama dia bertanya kepada Abdul Jalil, “Aku memang sudah memikirkan tentang kemungkinan itu. Tetapi, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi wasiat guruku? Adakah engkau memiliki jalan keluar agar kami dapat memenuhi wasiat terakhirnya?”

“Beberapa hari lalu kami telah memperbincangkan usaha-usaha membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi dengan Yang Mulia Pangeran Arya Pinatih di Giri Kedhaton. Malahan, sore tadi kami juga memperbincangkan masalah yang sama dengan saudara kami, Syaikh Jumad al-Kubra. Ternyata, sekarang ini Paman akan melaksanakan penutupan ksetra-ksetra sesuai amanat almarhum saudara kami. Itu berarti, Allah telah mengatur semuanya. Maksud kami, amanat menutup ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi itu tetap akan kita jalankan, namun tidak melalui cara menutup berdasar titah adipati, sebaliknya dengan cara membuat tawar daya shaktinya. Kami yakin, jika ksetra-ksetra sudah kehilangan daya shakti maka ia akan ditinggalkan orang. Dengan begitu, tanpa ditutup pun ksetra itu akan dilupakan orang. Cara ini memang butuh waktu, namun bisa menghindari kemungkinan kisruh,” kata Abdul Jalil.

“Apakah engkau akan membuat tempat seperti Lemah Abang di dekat Ksetra Nyu Denta?”

“Bukan hanya Lemah Abang, Paman. Kami juga berencana membuka tempat-tempat bernama Lemah Putih, Lemah Ireng, dan Lemah Jenar,” kata Abdul Jalil.

“Lemah Abang, Lemah Putih, Lemah Ireng, dan Lemah Jenar?” gumam Raden Kusen dengan kening berkerut. Dia diam beberapa jenak. Sejurus kemudian dia berkata, “Apakah itu bermakna engkau akan mendirikan caturbhasa mandala? Apakah itu berarti engkau akan mendirikan empat wilayah lemah larangan (tanah terlarang)?”

“Tepatnya memang demikian, Paman,” Abdul Jalil terhenyak karena kerangka pikirannya telah ditebak oleh Raden Kusen. Setelah termangu sejenak ia menjelaskan, “Tetapi, tempat-tempat yang kami dirikan bukan hanya di empat tempat sebagaimana caturbhasa mandala yang didirikan Bhattara Parameswara di Sagara, Sukayajna, Kukub, dan Kasturi. Caturbhasa mandala yang kami dirikan itu akan kami pilih letaknya di sejumlah ‘titik rawan’ di Nusa Jawa. Dan melalui tempat-tempat itu, insya Allah, daya shakti ksetra-ksetra akan tawar sehingga pada akhirnya tidak akan ada lagi pembunuhan terhadap manusia sebagai upacara persembahan kepada bhuta dan kala.”

“Tapi, kalau engkau mau membuat caturbhasa mandala dan lemah larangan di banyak tempat, siapa yang akan menjadi penjaganya? Siapakah yang akan menjadi Nawadewata? Siapa yang akan engkau tunjuk sebagai lambang Wisynu, Sambhu, Iswara, Rudra, Brahma, Maheswara, Mahadewa, Sangkhara, dan Paramasyiwa?”

“Kami belum bisa menentukan siapa saja mereka itu. Tetapi, kami sudah membicarakan masalah tersebut dengan almarhum saudara kami, Raden Ali Rahmatullah, dan Prabu Satmata serta Adipati Demak tentang perlunya dibentuk suatu Majelis Guru Suci (Syura al-Masyayikh) untuk mempersatukan dan sekaligus menjadi naungan ruhani bagi kadipaten-kadipaten di Nusa Jawa. Maksudnya, melalui Majelis Guru Suci yang merupakan lambang Nawadewata itulah kita dapat menyatukan semua kekuasaan yang terpecah-pecah,” jawab Abdul Jalil.

Raden Kusen tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya terguncang-guncang. Dia merasa geli mendengar gagasan Abdul Jalil. Setelah rasa gelinya berkurang, dia berkata sambil tersenyum, “Majelis Guru Suci? Majelis Susuhunan, maksudmu? Apakah itu bukan perbuatan musyrik, menempatkan manusia sebagai jelmaan Tuhan?”

“Justru dengan gagasan caturbhasa mandala, lemah larangan, dan Majelis Guru Suci sebagai lambang Nawadewata itu, kami ingin mengubah gagasan lama ke gagasan baru yang berdasar Tauhid,” kata Abdul Jalil.

“Maksudmu?”

“Lambang Nawadewata sebagai penjaga caturbhasa mandala dan lemah larangan akan kami ubah menjadi Majelis Guru Suci yang sembilan, yang disebut Wali Songo, yaitu sembilan sahabat Tuhan. Itu berarti, dari sisi Tauhid para guru suci yang tergabung di dalam Wali Songo bukan lagi berkedudukan sebagai jelmaan Guru Suci yang bersthana di Kailasa, yaitu Syiwa, melainkan hanya sebagai sembilan orang sahabat Tuhan. Lantaran itu, di saat para guru suci yang menjadi anggota Wali Songo itu wafat, kuburnya tidak akan dipuja dan disembah orang. Sementara dari sisi kekuasaan duniawi, para raja yang selama ini dianggap sebagai dewaraja (tuhan) akan berubah kedudukannya karena secara ruhani mereka berada di bawah Majelis Wali Songo,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Ah, aku paham sekarang,” kata Raden Kusen manggut-manggut. “Gagasan tentang Majelis Guru Suci yang disebut Wali Songo, kalau tidak salah, adalah kelanjutan dari gagasanmu yang mengubah gelar Buyut menjadi Ki Ageng dan gelar Rama menjadi Ki Lurah. Kalau itu, aku setuju. Sebab, bagiku, yang penting di atas perubahan adalah alasan-alasan yang berdasar Tauhid. Tapi, siapa kira-kira yang engkau anggap pantas menempati kedudukan pemimpin Wali Songo yang dalam gagasan Nawadewata itu berkedudukan sama dengan Paramasyiwa?”

“Prabu Satmata, Ratu Giri Kedhaton yang sudah dikenal penduduk sebagai titisan Sang Girinatha.”

“Itu bagus sekali. Aku setuju. Aku berharap dengan gagasan itu, perubahan besar akan cepat terjadi di tengah jungkir baliknya tatanan kehidupan di negeri ini. Tetapi, ada satu hal yang perlu engkau jelaskan tentang mandala-mandala yang bakal engkau dirikan itu. Bagaimana caramu meyakinkan penduduk bahwa mandala-mandala tersebut memang sebuah mandala dan bukan hunian biasa?” tanya Raden Kusen ingin tahu.

“Kami akan menandai tiap mandala yang kami dirikan dengan aturan ketat yang wajib dipatuhi oleh penghuninya. Maksud kami, kami akan mendirikan dukuh-dukuh yang semua penduduknya menjalankan syari’at Islam secara ketat, terutama dalam hal berpakaian, berpantang makanan dan minuman, berpantang dalam bertindak asusila, bersikap hidup luhur, dan sebagainya,” kata Abdul Jalil.

“Menjalankan syari’at Islam secara ketat sebagai tanda mandala-mandala? Aku belum paham maksudmu. Ini membingungkan.”

“Maaf, Paman. Paman pasti telah paham bahwa sudah ditetapkan peraturan di dalam Satyabrata dan Yamabrata Silakrama tentang peraturan hidup para wiku yang ketat. Sepanjang yang kami ketahui, peraturan-peraturan untuk para wiku tersebut sangat mirip dengan syari’at Islam,” jelas Abdul Jalil.

“Mirip bagaimana?” sergah Raden Kusen. “Aku tidak pernah membandingkan peraturan hidup para wiku dengan syari’at Islam. Jadi, jelaskan kepada kami supaya kami paham.”

“Dalam hal berpakaian, para penghuni caturbhasa mandala yang kami dirikan akan kami perintahkan untuk mengikuti peraturan yang berlaku bagi para wiku, yaitu berkepala gundul (amundi), menutupi kepala dengan destar (adestar), memakai surban (abebed sirah), berkopiah tarbus besar (aketu agung). Tapi, agak sedikit berbeda dengan para wiku, dalam hal berpakaian (bhusana), para penghuni mandala kami hanya menggunakan kain penutup bagian tubuh atas (dodot), sekali-kali mereka tidak menggunakan hiasan-hiasan dari emas dan perak, kecuali memakai aksamala, yaitu kalung dari untaian buah genitri sebagai biji tasbih. Kami kira, dalam hal tata cara berpakaian, peraturan yang diikuti oleh para wiku sama sekali tidak bertentangan dengan hukum Islam. Sedangkan yang sangat membedakan antara para wiku dan para penghuni mandala yang kami dirikan terletak pada penyebaran tata cara berpakaian. Jika para wiku mengenakan pakaian itu untuk kalangan mereka maka bagi pengikut kami pakaian itu akan dijadikan pakaian resmi penduduk sekitar mandala tanpa memandang apakah mereka itu wiku atau sekadar orang dari kalangan sudra papa.”

“Sementara itu, dalam hal menjalankan pantangan-pantangan terhadap makanan dan minuman, para penghuni mandala akan kami wajibkan menjalani keberpantangan makanan dan minuman sebagai seorang wiku berpantang, yaitu pantang memakan babi peliharaan (celengwanwa), anjing (sona), kucing (kuwuk), tikus, ular (ula), harimau (macan), kukur (ruti), kalajengking (teledu), hewan merayap (galing), musang (rase), kera (wre), kera hitam (lutung), tupai (wut), katak besar (wiyung), kadal (dingdang kadal), burung buas (krurapaksi), burung bulu hitam (nila paksi), kakaktua (atat), beo (siyung), jalak, hewan berjari lima, hewan yang hidup di dalam tanah (bhuhkrim), ulat tanah (kutisa), hewan dan cacing kecil-kecil menjijikkan (pramikimi), lalat (laler), nyamuk (namuk), pijat-pijat (tinggi), kutu (tuma), dan kutu anjing (limpit). Mereka juga kami tekankan untuk menjauhi minuman keras (apaya-paya) dan makanan najis (camah) sebagaimana laku seorang wiku.”

“Dalam kehidupan sehari-hari, para penghuni mandala juga kami wajibkan mengikuti sikap hidup para wiku yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu yang bersifat pengendalian diri untuk menyucikan hati (snanawidhi), seperti tidak suka marah (akrodha), tidak rakus (alobha), tidak suka bertengkar (tan awawida), tidak gampang bingung (sammoha), tidak berutang-piutang dengan bunga (rna-rni), tidak mencuri atau mengambil paksa hak orang lain (angalap), tidak memberi makan pencuri (aweh pangan maling), tidak menyuruh mencuri (akon maling), tidak bersahabat dengan pencuri (tan amitra maling), menghindari tindakan tidak mengembalikan barang pinjaman keluarga (anelang drewyaning sanak tan pangulihaken), tidak mengambil hak orang lain secara diam-diam (angutil), tidak merampok (ambegal), tidak singgah di tempat perjudian meski kehujanan dan kepanasan, menjalankan semua pantangan dan larangan (heyepadeva), dan yang terpenting adalah mengendalikan diri dari desakan-desakan ikatan kehidupan duniawi (wyawahara).”

“Sebaliknya, para penghuni mandala harus meniru sikap hidup para wiku, yang menghiasi diri dengan perilaku luhur dan mulia, seperti suka mengampuni (ksama), punya rasa malu (lajja), jujur (satya), tidak menyakiti (ahimsa), murah hati (daya), lurus hati (arjawa), kuat mengendalikan pikiran (dama), tulus lahir dan batin (cauca), suka bersedekah (dana), kuat mengendalikan panca indera (indriya samyana), selalu berpegang pada akhlak (susila) dan kebijaksanaan (jnana), selalu mandi setiap hari untuk membersihkan diri (madyus acuddha sarira), memakai bedak wewangian (bhasma), menyucikan diri dengan air pembasuh (syiwambha), melakukan sembahyang (puja parikrama) tiga kali sehari (trisandya) yaitu pada subuh, tengah hari, dan malam bertasbih memuja Tuhan (mamuja), berdoa (majapa), dan melatih diri menyemayamkan Tuhan di dalam hati (maglar sanghyang anusthana). Bukankah segala apa yang menjadi tatanan hidup para wiku itu jika kita bandingkan dengan ketentuan-ketentuan di dalam syari’at Islam pada dasarnya tidak jauh berbeda?”

“Jadi, Paman, dengan menjalankan hidup sehari-hari berdasar syari’at Islam yang ketat, terutama dalam hal berpakaian, berpantang makanan, menjauhi minuman keras, dan berperilaku luhur dalam hidup sehari-hari, akan memberi kesan kepada penduduk Nusa Jawa bahwa orang-orang yang tinggal di Dukuh Lemah Abang, Lemah Jenar, Lemah Ireng, dan Lemah Putih adalah para wiku yang wajib dimuliakan. Jika di antara penduduk di keempat mandala itu terbukti ada yang melanggar peraturan karena rakus dan sombong, ia akan terkena hukuman seperti hukuman yang dikenakan pada seorang wiku, yaitu dianggap panten. Ia akan dikucilkan (tan wenang tinghalana) dan tidak boleh diajak bicara (sabhasanen). Bahkan, jika tidak mau bertobat juga maka pelanggar itu akan dicambuk dan diusir dari mandala. Sebab, orang semacam itu tidak pantas tinggal di caturbhasa mandala.”

“Selain semua ketentuan di atas, para penghuni caturbhasa mandala juga dibiasakan untuk berpuasa setiap hari Soma (Senin) dan Wrehaspati (Kamis). Dengan begitu, penduduk sekitar akan menganggap mereka sebagai para wiku yang suka berpuasa, pengikut sang purohita para dewa, yaitu wiku suci di swarga: Bhagawan Wrehaspati. Dan yang tak kalah penting, mereka wajib mengabdikan diri pada kehidupan ruhani dan harus bertindak melayani kebutuhan penduduk sekitar sebagaimana yang dilakukan para wiku. Perlu Paman ketahui, peraturan yang sudah kami terapkan di sejumlah Dukuh Lemah Abang selama ini telah menunjukkan hasil menggembirakan. Penduduk di sekitar Lemah Abang mulai meninggalkan praktik-praktik lama yang berhubungan dengan upacara mengorbankan manusia. Mereka mulai menerapkan nilai-nilai keislaman tanpa sadar karena mereka menganggapnya sebagai amaliah dari ajaran para wiku Syiwa-Budha,” ujar Abdul Jalil.

“Jika demikian, apa yang membedakan penduduk dukuh-dukuh yang engkau buka dengan para wiku?”

“Pertama-tama dalam hal mencari nafkah, Paman. Jika para wiku tidak boleh berjual beli (tan adol awlya) maka penghuni dukuh boleh berjual beli. Kedua, semua penduduk dukuh yang berkhitan, sementara para wiku tidak. Ketiga, tata cara bersembahyang Islam yang dilakukan dengan berdiri, rukuk, sujud, dan duduk tasyahud. Keempat, arah kiblat ke Baitullah.”

“Jika memang demikian, aku setuju dengan gagasanmu. Tapi, bagaimana jika nanti ada yang menanyakan tentang nama ajaran yang engkau sampaikan lewat caturbhasa mandala itu? Apakah akan disebut Islam atau madzhab baru Syiwa-Budha?”

“Kami tetap menyebut ajaran Islam, yang bermakna Jalan Keselamatan bagi manusia. Tetapi, sejak semula kami sudah menyampaikan kepada para penghuni dukuh untuk menyatakan bahwa Islam adalah penyempurna Syiwa-Budha. Lantaran itu, jika ada penganut Syiwa-Budha yang menganggap bahwa apa yang kami ajarkan itu adalah suatu madzhab baru dari agama mereka, kami tidak punya hak untuk melarangnya. Sebab yang paling penting bagi kami bukanlah nama dan bentuk rupa suatu ajaran agama, melainkan hakikat Tauhid yang tersembunyi di balik kebenaran agama itulah yang utama,” kata Abdul Jalil tegas.

Laut China Selatan (MV. Taho), 28 April 2007, 17:15LT