Mandala Lemah Putih

Setelah gagasan untuk membuat tawar pengaruh daya shakti ksetra-ksetra disepakati melalui pembukaan caturbhasa mandala, Abdul Jalil bersama Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, Ki Waruanggang, Raden Sulaiman, Raden Sahid, Liu Sung, dan para putera Raden Ali Rahmatullah membuka dukuh baru yang terletak antara Ksetra Nyu Denta (kelapa gading) dan Masjid Ampel Denta (bambu gading), yaitu tanah shima (perdikan) Kasyaiwan Batu Putih. Dipilihnya Batu Putih karena tempat itu dulunya adalah sebuah Syiwa prathista (candi) tempat Syiwa dipuja dalam lambang lingga putih dan sudah lebih dari tiga dasawarsa tidak digunakan lagi. Daerah Batu Putih sendiri dijadikan pekuburan keluarga raja Surabaya. Bahkan raja Surabaya pertama, Arya Lembusura, dimakamkan di situ. Satu-satunya hunian dekat dengan Batu Putih adalah Srenggakarana, tempat pelacuran yang terletak barang satu yojana di sebelah selatannya.

Pemilihan tanah shima Batu Putih sebagai dukuh memang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam mendirikan sebuah dukuh, ada larangan bagi para wiku untuk menempati bekas pertapaan, asrama, dukuh, atau tanah pekarangan yang sudah dihuni wiku lain (Imah wus kaprathista), kecuali jika tanah tersebut sudah dua puluh lima tahun ditinggalkan dan tak dihuni lagi. Dukuh-dukuh baru juga tidak diperkenankan berdiri di atas tanah yang sedang digarap petani. Sesuai ketentuan, tanah yang baik untuk mendirikan dukuh adalah tanah angker (Imah abeng), tanah kutukan (carik), lapangan dekat pertanian (patara tanya), tanah tertutup (kuluwuk), dan tanah dekat pembakaran mayat (Smasana). Sebagaimana Dukuh Lemah Abang, penetapan Batu Putih sebagai dukuh pun pada dasarnya sudah memenuhi syarat-syarat mendirikan sebuah dukuh.

Karena sudah dipilih sebagai dukuh, di Batu Putih rencananya akan dibangun sebuah tajug (mushala) dan asrama. Sesuai tugas, Raden Ahmad selaku mursyid Tarekat Kubrawiyyah ditunjuk sebagai penjaga dan pelindung Batu Putih. Karena dukuh Batu Putih bakal dibuka oleh Syaikh Jumad al-Kubra maka Abdul Jalil mengajarkan kepadanya tentang tata cara memasang tu-mbal sebagai bagian dari upaya penyucian jiwa tanah baik yang disebut prascita, bhumisoddhana, dan bhuta-suddhi. Untuk itu, selain mengupas hal-hal terkait dengan perlambang-perlambang tu-mbal dan seluk beluk kehidupan Banu al-Jann di Nusa Jawa, Abdul Jalil secara khusus mengajarkan kepada Syaikh Jumad al-Kubra pengetahuan rahasia tentang bagaimana upaya “membebaskan” jiwa-jiwa manusia yang dijadikan korban sembelihan di ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Prthiwi.

“Jika dengan cara-cara yang sudah aku ajarkan itu Tuan dapat membebaskan jiwa-jiwa mereka dari pengaruh alam dunia ke alam perbatasan (barzakh), maka dengan sendirinya kekuatan daya shakti ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi akan menjadi tawar. Kalaupun di situ masih ada sisa daya shakti, itu adalah kekuatan dari makhluk-makhluk purwakala, yaitu para bhuta dan kala dari antara Banu al-Jann yang merupakan kegandaan dari ablasa yang nirwujud. Untuk menghindarinya, Tuan bisa menggunakan doa-doa keselamatan penolak pengaruh jahat Banu al-Jann sesuai tuntunan Rasul Saw.. Berdasarkan pengalamanku membuka dukuh-dukuh Lemah Abang, kurun waktu yang dibutuhkan untuk menyucikan tanah lamanya sekitar 40 hari. Selalma 40 hari itulah kita akan tahu apakah tindakan yang kita lakukan itu berhasil atau gagal,” kata Abdul Jalil.

“Saya akan ingat-ingat semua petunjuk yang telah Tuan ajarkan,” kata Syaikh Jumad al-Kubra takzim.

“Satu hal lagi yang wajib Tuan ingat-ingat dari usaha penyucian ini.”

“Apakah itu?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra ingin tahu.

“Tuan harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk dari syarat-syarat yang akan diajukan penguasa tanah shima Batu Putih,” tegas Abdul Jalil.

“Syarat-syarat?” gumam Syaikh Jumad al-Kubra mengerutkan kening. “Syarat apa misalnya?”

“Aku belum tahu pasti. Menurut ibunda asuhku, Sang Akasha, pengejawantahan nafs al-Muthma’innah Sang Bhumi, biasanya meminta tebusan jiwa putih yang ikhlas. Maknanya, Tuan akan diminta menjalankan amukti palapa. Yang dimaksud amukti palapa, pertama-tama kita tidak boleh memakan makanan yang berasal dari pajak, upeti, bulu bekti, dan segala sesuatu yang diperoleh dari pemungutan atas hasil tanah. Kedua, kita tidak boleh memakan makanan dengan bumbu-bumbu. Ketiga, kita dan keluarga tidak boleh mengambil manfaat dari perikatan janji kita untuk pamrih duniawi.”

“Bagiku, semua itu bukan hal yang berat untuk dipenuhi oleh manusia tak beranak istri seperti aku.”

“Aku yakin Tuan akan bisa mengatasinya,” kata Abdul Jalil sambil tertawa. “Karena itu, aku ingin menambahkan nama kehormatan bagi Tuan: al-Qalandar, sehingga orang akan menyebut Tuan sebagai Syaikh Jumad al-Kubra al-Qalandar.”

“Aku tidak setuju dengan tambahan nama itu. Justru menurutku, yang sesuai menggunakan nama kehormatan al-Qalandar adalah Tuan, guru suci yang sudah termasyhur memiliki pengetahuan ruhani yang tinggi dan kecintaan yang teguh terhadap-Nya,” sahut Syaikh Jumad al-Kubra.

“Aku setuju dengan nama kehormatan al-Qalandar, namun dengan makna gelandangan tengik yang suka pamer keadaan ruhaninya dengan bertingkah menyimpang.”

“Tuan memang seorang malamit sejati yang pintar menyembunyikan kehebatan diri.”

Mendengar Syaikh Jumad al-Kubra mulai memuji-muji dirinya, Abdul Jalil tak menanggapi ucapannya. Sebaliknya, ia mengalihkan arah pembicaraan. “Karena Tuan baru sekali ini melakukan penyucian tanah, aku mohon Tuan berkenan didampingi sahabatku Ki Waruanggang. Dia seorang bekas pendeta Bhairawa dan sekaligus bekas pemimpin ksetra. Jadi, dalam hal membuka mandala dan membuat tawar daya shakti ksetra, dia lebih paham dan lebih berpengalaman terutama jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.”

“Sebenarnya, aku sudah bersyukur dapat ikut serta bahu-membahu dalam tugas suci dan mulia ini. Ini benar-benar pengalaman baru bagiku. Karena itu, aku tentu sangat bergembira didampingi oleh orang yang sudah berpengalaman,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan semangat berkobar-kobar.

Sebagaimana petunjuk Abdul Jalil, dengan bantuan sembilan belas orang jama’ah Masjid Ampel Denta, Syaikh Jumad al-Kubra mulai menjalankan penyucian tanah untuk membuka Dukuh Batu Putih dengan didampingi Ki Waruanggang.

Ketika penyucian tanah Batu Putih dilakukan oleh Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Jalil tinggal di Masjid Ampel Denta bersama-sama Abdul Malik Israil, Raden Mahdum Ibrahim, Ki Tameng, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung. Rupanya, ia belum sampai hati melepas sepenuhnya Syaikh Jumad al-Kubra dalam melakukan penyucian tanah Batu Putih, meski sudah didampingi Ki Waruanggang. Ia menganggap hal itu bukan saja disebabkan Syaikh Jumad al-Kubra baru pertama kali melakukan penyucian tanah, melainkan yang lebih mendasar upacara itu merupakan pembukaan mandala pertama dari Dukuh Lemah Putih. Ia merasa perlu memantau perkembangan penyucian tanah tersebut yang sangat mungkin akan diwarnai peristiwa-peristiwa aneh yang tidak diinginkan.

Sampai memasuki hari keenam tidak terjadi sesuatu yang berarti di Batu Putih. Semua orang berharap keadaan itu bisa berlangsung sampai hari keempat puluh. Tapi, harapan tinggal harapan. Memasuki hari ketujuh terjadi peristiwa tak terduga yang sangat mencekam.

Sejak sore awan-awan tebal berwarna kelabu kehitaman bergumpal-gumpal di langit bagaikan menaungi tanah Batu Putih. Angin yang biasanya berembus keras dari arah pantai tiba-tiba berhenti. Udara mendadak panas. Kabut tebal mangalir dari arah timur dan selatan, menutupi tanah dan sungai. Keadaan di Batu Putih itu terus meluas hingga seluruh kota seolah-olah berselimut kabut. Semakin sore, kabut semakin tebal dan bayang-bayang senjakala datang begitu cepat dan menghilang di balik kegelapan yang menyelimuti kesepian dan kelengangan. Bahkan ketika beduk maghrib di Masjid Ampel Denta ditabuh bertalu-talu, gemanya tidak terdengar jauh, seolah-olah gaungnya tertutupi oleh pekatnya gumpalan kabut yang makin menebal di tengah kegelapan. Suasana senjakala berubah sangat lengang dan mencekam.

Sadar sesuatu bakal terjadi, Abdul Jalil bergegas meninggalkan Masjid Ampel Denta menuju Batu Putih dengan diikuti Abdul Malik Israil, Raden Mahdum Ibrahim, Raden Sahid, Liu Sung, dan Raden Sulaiman. Tetapi, karena permukaan tanah serta sungai tertutup kabut dan perahu tambangan tidak terlihat, mereka terpaksa berjalan ke arah selatan, yaitu ke kawasan Sanbongan, tempat mereka dapat menyeberang ke timur sungai dengan melewati jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Dengan bantuan cahaya obor mereka berjalan tersuruk-suruk di tengah gumpalan kabut yang seolah melahap api di ujung obor tersebut. Mereka berusaha secepat mungkin bisa sampai di Batu Putih.

Sementara itu, ketika Syaikh Jumad al-Kubra sedang khusuk dalam doa, Ki Waruanggang yang mendampinginya menangkap sasmita kurang baik terhadap suasana yang sangat aneh dan mencekam itu. Sebagai bekas penguasa ksetra, ia paham suasana itu merupakan pertanda “kehadiran” kekuatan adi-duniawi dari para arwah yang langgeng. Sadar akan hal itu, ia buru-buru meminta Syaikh Jumad al-Kubra dan kesembilan belas jama’ah dari Masjid Ampel Denta untuk tetap berada di dalam “lingkaran” yang sebelumnya telah dibuat oleh Abdul Jalil. Ki Waruanggang sendiri setelah itu terdiam membisu, berusaha menyatukan kiblat hati dan pikiran kepada Kebenaran (al-Haqq) yang tersembunyi di relung-relung jiwanya. Ia melakukan pernapasan kumbhaka dan rechaka, berusaha menajamkan penglihatan mata batin. Saat itu ia benar-benar menangkap suasana aneh yang mencekam. Kesepian yang mencekam. Kesenyapan yang menggigit. Kelengangan yang mengiris. Dan kesunyian yang merajalela.

Tiba-tiba, di tengah kesunyian dan kelengangan yang makin mencekam, kesembilan belas orang jama’ah Masjid Ampel Denta yang sedang mengumandangkan doa di tengah “lingkaran” itu memekik terkejut dan kemudian membisu seperti batu. Mereka gemetar dan meringkuk dengan tangan merangkul kepala. Saat itu mereka melihat pemandangan mengerikan yang membuat darah tersirap.

Di atas angkasa, di tengah kumparan kabut hitam berasap yang bergumpal-gumpal, muncul perwujudan dahsyat yang sebelumnya tidak pernah mereka saksikan: gambaran perwujudan Sang Akasha yang dahsyat dan menggetarkan, mengenakan pakaian serba putih, duduk di atas punggung gajah putih, bertangan empat, yang satu memegang jerat (pasha), yang satu memegang pengait gajah (angkusha), yang lainnya dalam sikap samadhi (mudra). Sekejap kemudian citra Sang Akasha itu menghilang di tengah gumpalan kabut. Tetapi, sekejap pula muncul gambaran perwujudan yang tak kalah menggetarkan, sosok putih, berkepala lima, bermata tiga, berlengan sepuluh, dan di sampingnya berdiri sosok perempuan dahsyat, yang berpakaian kuning, berlengan empat, memegang busur, panah, pasha dan angkusha.

Gambaran perwujudan dahsyat itu terlihat sangat aneh dan menggetarkan. Sesekali citra perwujudan tersebut mendekat seolah-olah jaraknya hanya sejengkal, namun kemudian menjauh seolah melampaui cakrawala. Kadang-kadang diam. Terkadang berputar-putar mengerikan diiringi suara gemuruh bagaikan seribu bukit runtuh. Kesembilan belas jama’ah Masjid Ampel Denta yang melihat pemandangan mengerikan itu tak kuasa lagi menahan gelegak rasa takut dan tegang. Kain mereka basah. Bahkan, dalam hitungan detik mereka sudah berjatuhan. Pingsan. Sementara itu, Syaikh Jumad al-Kubra sendiri, meski sudah khusyuk dalam doa, sangat terkejut dan terguncang menyaksikan pemandangan mengerikan yang terpampang di hadapannya. Belum pernah dia menyaksikan pemandangan yang begitu menggetarkan.

Di tengah keterkejutan dan keterguncangan, Syaikh Jumad al-Kubra mendengarkan perwujudan dahsyat itu berkata dalam bahasa perlambang.

“Inilah aku, Sang Akasha. Akulah Kalachakra. Akulah penguasa keimanan (shraddha), ketenteraman jiwa (santhosa), kasih sayang (sneha), kemurnian (shuddhata), kebebasan (arati), rasa bersalah (aparadha), kemarahan (mana), kesedihan (shoka), kekacauan (sambhrama), kekecewaan (kheda), dan keinginan (urmmi). Siapa pun makhluk yang tidak bernaung di bawah kendali kekuasaanku akan menderita dan sengsara hidupnya. Siapa yang mengingkari akan Aku masukkan ke dalam golongan manusia tidak beriman, yaitu orang-orang yang jiwanya tidak tenteram, hidupnya tidak dilimpahi kasih sayang, penuh diliputi kepalsuan, terbelenggu kekecewaan dan keputusasaan, dan semua keinginannya tidak tercapai. Mereka yang mengabaikan Aku akan jauh dari kenikmatan surgawi.”

Syaikh Jumad al-Kubra terhenyak membisu, membeku bagai patung batu. Mulutnya terkunci. Lidahnya kelu. Tenggorokannya kering hingga dia tak mampu menelan ludah. Peluh sebesar butiran kacang berjatuhan dari keningnya. Dia seolah-olah dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup keras. Dia merasa berada di perbatasan antara hidup dan mati. Tidak bisa berbuat sesuatu, bahkan untuk berteriak atau melafazkan doa. Dia hanya berdiam diri dan memasrahkan hidup dan matinya kepada al-Khalik.

Pada saat Syaikh Jumad al-Kubra tidak berdaya dan pasrah itulah Ki Waruanggang tiba-tiba beringsut ke depan dengan sikap takzim. Berbeda dengan Syaikh Jumad al-Kubra yang tercengang tak berdaya, ia yang sudah pernah menyaksikan penampakan yang dahsyat itu saat melakukan upacara bhuta-suddhi – menyucikan unsur-unsur yang membentuk tubuhnya – meski terkejut, tidak terguncang. Malahan, dengan penglihatan mata batin ia tidak melihat perwujudan sosok apa pun, kecuali pancaran cahaya putih yang sangat cemerlang berpendar-pendar di angkasa jiwanya. Setelah terdiam sejenak ia berkata dengan bahasa perlambang.

“Sungguh, engkau adalah Sang Akasha. Engkau Kalachakra. Engkau penguasa shraddha, santhosa, sneha, shuddhana, dama, mana, aparadha, shoka, kheda, shuddhata, sambhrama, urmmi, dan arati. Aku mempersaksikan bahwa engkau adalah jiwa putih Sang Bhumi. Engkau tanmatra bunyi. Prthiwi, Waruna, Agni, dan Bayu adalah pancaran keberadaanmu. Dari pancaranmu jua kehidupan di bumi berasal. Engkaulah penguasa kemakmuran bumi yang menjadi tumpuan harapan bagi manusia-manusia yang mendamba apa yang ada di dalam genggaman kuasamu. Engkau menjadi harapan manusia-manusia pecinta bumi. Tetapi kami bukanlah mereka, manusia-manusia rakus yang dengan berlebihan merampas dan merampok apa yang engkau genggam. Kami bukanlah manusia-manusia sombong yang menepuk dada sebagai penguasa bumi, yaitu orang-orang yang merampas hak kuasamu. Kami bukanlah manusia-manusia buas yang dengan cakar-cakar beracun mencabik-cabik bumimu. Kami bukan perusak bumi.”

“Kami adalah manusia-manusia yang merasa bersyukur karena lahir dari rahim Ibunda Agung Bhumi, pancaran pengejawantahanmu, yang membentuk tubuh dan jiwa kami: Prthiwi, Apah, Agni, Bayu. Karena itu, o Sang Akasha, makanan dan minuman yang engkau limpahkan selalu kami gunakan secara hak sesuai kebutuhan tubuh dan jiwa kami. Bahkan, kami adalah orang-orang yang sudah melepas semua keinginan untuk menikmati apa yang engkau genggam dan engkau kuasai. Kami tidak mengharap apa-apa dari engkau selain sekadar memenuhi hak tubuh dan jiwa kami dengan perkenanmu sebagai jiwa putih Ibunda Agung Bhumi. Kami tidak terikat pamrih apa-apa denganmu. Kami hanya meminta kebebasan (arati), agar atman (ruh) kami yang berasal dari Paramatman (Rabb ar-Arbab) dapat kembali kepada-Nya dengan suci dan murni.”

Terdengar suara gemuruh yang diikuti pancaran cahaya agung menyilaukan. Ki Waruanggang terhenyak dalam ketakjuban. Ia seolah-olah menyaksikan sesuatu yang memesona dan mengisap kesadarannya. Tetapi, pada saat yang sama Syaikh Jumad al-Kubra justru mengalami keguncangan dan nyaris meninggalkan tempat. Pada saat itulah Abdul Jalil dan rombongan tiba di Batu Putih. Dengan buru-buru ia memerintahkan Abdul Malik Israil, Ki Tameng, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung untuk bergegas mengikutinya masuk ke dalam “lingkaran” yang dibuatnya. Setelah menenangkan diri sejenak, ia berkata-kata kepada pancaran cahaya agung di angkasa itu dengan al-‘ima, yang jika diungkap ke dalam bahasa manusia berbunyi: “

Aku bersaksi bahwa engkau adalah Sang Akasha, pengejawantahan Rabb Yang Maha Menjaga dan Maha Memelihara (al-Hafidz). Engkau adalah pemancar dari rasa sayang dan melindungi (sneha) dari Sang Pengasih (ar-Rahim). Engkau menjadi pelimpah dari ketenteraman dan kepuasan jiwa (santosha), yang memancar dari Sang Pemberi Kebahagiaan (al-Muhaimin). Kepada engkau semua makhluk di bumi terikat, karena engkau pengejawantahan Sang Pengikat (al-Muqtadir). Engkau senantiasa memberi kemurahan kepada semua makhluk di bumi dengan tubuh dan jiwamu, karena engkau pancaran keberadaan Sang Pemurah (ar-Rahman). Engkau senantiasa memberikan dirimu kepada orang yang memohon, karena engkau pancaran Sang Pengabul permohonan (al-Mujib). Karena itu, o Sang Akasha, kabulkan permintaanku. Melalui bhuta-suddhi yang aku lakukan untuk memuliakanmu, seraplah Sang Prthiwi, Sang Apah, Sang Agni, dan Sang Bayu yang haus darah ke dalam mahligaimu. Biarkanlah rasa sayangmu, pancaran dari Sang Pengasih memancar kepada makhluk penghuni bumi laksana cahaya matahari menerangi bumi sehingga terbentang cakrawala baru kehidupan di bumi yang penuh ketenteraman dan kedamaian.”

“Kami tahu dan sadar bahwa persembahan darah memang pantas dilakukan untuk manusia-manusia rakus perusak bumi. Kami tahu bahwa kegemaran Sang Prthiwi terhadap darah dan madhu tidaklah dapat diubah. Tetapi, kami memohon agar persembahan itu bukan darah orang-orang tak bersalah. Kami memohon agar darah yang tertumpah di permukaan bumi adalah darah para perusak bumi. Biarlah Sang Prthiwi membasahi bibir dan tenggorokannya dengan darah orang-orang rakus yang menebar bencana dan membuat kerusakan di permukaan bumi. Karena itu, o Sang Akasha, seraplah kekuatan shakti Sang Prthiwi dari tempat-tempat pemujaan. Dan kami selaku pemohon, tidak memiliki sesuatu yang bisa kami persembahkan kepadamu, kecuali tubuh dan jiwa kami yang berasal darimu. Cabutlah nyawa kami, jika itu membuatmu puas.”

Suasana tiba-tiba hening. Cahaya agung yang memancar mendadak lenyap. Abdul Jalil beringsut mendekati Syaikh Jumad al-Kubra dan menepuk bahunya sambil berkata, “Semua telah berakhir, Tuan Syaikh.”

“Apakah itu tadi, o Tuan Syaikh?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra dengan suara tergetar.

“Itulah perwujudan niscaya dari Sang Akasha, jiwa putih Ibunda Agung Bhumi, yang darinya jiwa dan tubuh kita terbentuk. Pancaran cahaya putih tadi adalah lambang perwujudan nafs al-Muthma’innah bumi. Apa yang Tuan saksikan tadi akan Tuan dapati juga di dalam diri Tuan karena tubuh dan jiwa Tuan berasal darinya,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Tapi, aku tidak melihat cahaya putih apa pun,” kata Syaikh Jumad al-Kubra, “yang aku saksikan justru perwujudan dahsyat yang sangat mengerikan.”

“Sesungguhnya, Rabb menjadi Sesuatu sesuai persangkaan (zhan) hamba-Nya. Demikian pula pancaran dari Rabb, yaitu Akasha, Bayu, Agni, Apah, dan Prthiwi akan menjadi sesuatu sesuai prasangka kita.”

“Astaghfirullah, aku baru ingat sekarang. Tadi siang aku sempat berbicara dengan Ki Waruanggang tentang tanah shima Batu Putih dengan makna-makna perlambangnya. Rupanya, gambaran yang dipaparkan Ki Waruanggang masih melekat di ingatanku sehingga aku tadi tidak menggunakan mata batin, tetapi malah terseret angan-angan kosong,” kata Syaikh Jumad al-Kubra berulang-ulang membaca istighfar.

“Pengalaman adalah guru terbaik, Tuan Syaikh.”

“Itu memang benar. Tetapi, apakah permohonan Tuan Syaikh dikabulkan?”

“Pasti dikabulkan,” kata Abdul Jalil. “Sebab, dia adalah pancaran dari Rabb Yang Maha Mengabulkan doa (al-Mujib), Rabb Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih (ar-Rahman ar-Rahim), Maha Pemberi (al-Wahhab), Maha Mendengar (as-Sami’), Maha Mencukupi (al-Muqit), Mahaluas (al-Wasi’).”

“Bagaimana Tuan bisa sangat yakin jika permohonan Tuan akan dikabulkan oleh Rabb ar-Arbab ?”

“Sebab, aku telah diberi sedikit pengetahuan oleh-Nya melalui Ruh al-Haqq bahwa Rabb ar-Arbab telah berkenan menyingsingkan Asma’, Shifat, dan Af’al-Nya dari cakrawala lama ke cakrawala baru,” kata Abdul Jalil.

“Apakah itu bermakna bahwa hukum kauniyah akan diubah oleh Rabb ar-Arbab?”

“Hukum kauniyah tidak pernah berubah. Hukum itu tetap dan langgeng, yang berubah hanya sudut pandang kita. Lantaran itu, aku menggunakan istilah cakrawala baru. Maksudku, kehausan Sang Prthiwi terhadap darah dan madhu tetap akan berlangsung sebagaimana adanya. Tetapi, Sang Prthiwi tidak lagi meminum darah dan madhu di tempat-tempat pemujaan, tetapi di medan tempur dan di tempat-tempat bencana. Karena itu, menurut hematku, perang antarmanusia dalam memperebutkan bumi di masa yang akan datang akan jauh lebih besar dan menelan jiwa manusia lebih banyak daripada perang di masa silam. Sebab, saat itulah Ibunda Agung Prthiwi beserta para bhuta dan kala, bala pengikutnya, akan berpesta pora membasahi bibir dan tenggorokan mereka dengan darah dan madhu,” papar Abdul Jalil menjelaskan.

Ketika upaya menyucikan Ksetra Nyu Denta melalui Dukuh Batu Putih dianggap selesai, Abdul Jalil pergi ke Bangsal Sri Manganti di Kraton Giri untuk memenuhi permintaan Prabu Satmata dan Pangeran Arya Pinatih yang ingin membuka Dukuh Lemah Putih di wilayah Giri Kedhaton, dengan tujuan agar daya shakti Ksetra Adhidewa, Mangare, Dara, dan Indrabhawana menjadi tawar. Dengan didampingi Syaikh Jumad al-Kubra, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung, Abdul Jalil pergi ke Kraton Giri melalui Sungai Brantas. Tetapi belum lama menghiliri Sungai Brantas, ketika melintasi penambangan Teda di Kadipaten Tedunan yang berbatasan dengan Wisaya Gesang, ia menyaksikan semacam gumpalan kabut putih diliputi cahaya merah, kuning keemasan, dan hitam yang bergumpal-gumpal di atas suatu tempat di barat sungai. Pemandangan itu, menurut Ruh al-Haqq di pedalaman kalbunya, adalah pertanda keberadaan sebuah ksetra atau pemujaan terhadap Sang Bhumi.

Ketika ia menunjuk arah kabut putih dan menanyakan kepada tukang perahu tentang nama tempat tersebut, tukang perahu mengungkapkan bahwa daerah di barat sungai yang ditunjuknya itu disebut orang dengan nama Kabrahon (Jawa Kuno: barahu : pancaran cahaya Sang Rahu) yang terkenal angker. Tukang perahu tidak tahu kenapa tempat itu disebut Kabrahon. Dia hanya tahu sejak zaman ayah dan kakeknya dulu tempat itu digunakan orang untuk berlatih ilmu kadigdayan yang menggunakan wadal manusia.

Mendengar penjelasan tukang perahu itu, Abdul Jalil hanya mengangguk-angguk. Bagi mereka yang mengetahui seluk-beluk ajaran Bhairawa-Tantra, nama Kabrahon jelas berkaitan dengan makna wilayah kekuasaan Sang Rahu, Sang Penggelap, citra Syiwa sebagai Pemangsa matahari (Suryya) dan rembulan (Chandra), yakni penguasa waktu (Mahakala). Itu berarti, Kabrahon adalah ksetra yang sudah sangat tua usianya dan mungkin sudah tidak digunakan lagi. Dengan demikian, kelirulah orang yang menduga Kabrahon sebagai tempat orang mencari ilmu kadigdayan dengan wadal.

Dugaan bahwa Kabrahon terkait dengan kekuasaan Sang Rahu terbukti ketika Abdul Jalil dan rombongan turun dari perahu di penambangan selatan Teda, yaitu di Bhogahangin. Nama Bhogahangin (Jawa Kuno: Santapan Busuk) jelas terkait dengan lambang Sang Putikeswara (Jawa Kuno: Penguasa Kebusukan) yaitu Syiwa, Sang Penyelamat, yang telah menelan racun Kalakutha, hingga tenggorokan-Nya menjadi biru: Sang Nilakantha. Sebagaimana kelaziman ksetra yang bagi para bhairawa-bhairawi adalah tempat yang menebarkan bau harum mewangi, tempat di dekat Bhogahangin itu dinamai Kemlaten (Jawa Kuno: tempat bunga melati). Bahkan, sebuah bukit berbentuk perahu terbalik di utara Kabrahon yang disebut orang Gunung Sari, mengingatkan Abdul Jalil pada Gunung Pulasari di Banten, yaitu tempat yang diyakini sebagai sthana Syiwa. Di kaki bukit Gunung Sari itu terdapat candi kecil bekas pemujaan purwa yang disebut Jagalaya (pengawal kematian), yakni Sang Yama (nama Syiwa).

Kawasan antara wilayah Tedunan dan Giri Kedhaton banyak ditebari lambang yang menunjuk Syiwa. Hal itu wajar karena lambang-lambang itu terkait erat dengan kekuasaan Prabu Satmata sebagai penguasa Giri. Dikatakan terkait sebab penduduk Majapahit di sekitar Giri Kedhaton dan di pedalaman meyakini Prabu Satmata adalah titisan Syiwa. Kedekatan hubungan Prabu Satmata dengan para penguasa Blambangan dan Bali setidaknya makin menguatkan anggapan bahwa Yang Dipertuan Giri Kedhaton memang titisan Sang Girinatha, Syiwa. Bahkan, keyakinan itu tidak goyah ketika para penguasa pesisir sepakat menunjuknya sebagai khalifah dengan gelar Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah. Saat itu para adipati di pedalaman yang masih menganut kepercayaan Syiwa-Budha tetap menunjukkan ketakziman dan sangat menghormatinya sebagai titisan Syiwa. Mereka malah menyambut gembira keputusan para adipati pesisir itu, dengan mengirim utusan untuk menghaturkan persembahan dan bulu bekti kepada Prabu Satmata.

Sore hari sesampai di Bangsal Sri Manganti, tanpa beristirahat Abdul Jalil dan Ki Waruanggang pergi ke Ksetra Mangare di timur kraton. Di gerbang ksetra Abdul Jalil disambut oleh seorang sthapaka (penguasa bangunan suci), bernama Dang Acaryya Laban. Berdasar petunjuk Dang Acaryya Laban, Abdul Jalil mengetahui seluk-beluk Bangsal Sri Manganti yang mandala-mandalanya benar-benar mencerminkan sthana Syiwa. Di timur Bangsal Sri Manganti terletak Ksetra Mangare yang diyakini orang-orang sekitar sebagai kediaman Syiwa-Bhairawa. Di utara ksetra terletak Pakalangan tempat batu suci (Sanghyang Susuk) disucikan, yaitu batu suci yang merupakan lingga lambang Syiwa. Di sebelah barat ksetra terdapat arca Syiwa dalam wujud mengerikan yang disebut Sang Randuwana (Syiwa yang bertaring sebesar buah randu hutan). Di sebelah selatan arca Sang Randuwana itu terdapat pendharmaan Sanghyang Pamunguwan (ruh pelindung) yang disebut Siddhawungu.

Selama berbincang-bincang dengan Abdul Jalil, Dang Acaryya Laban sangat heran dengan pengetahuan lawan bicaranya yang begitu mendalam tentang ajaran Syiwa-Budha dan bahkan Bhairawa-Tantra. Tetapi, keheranan Dang Acaryya Laban berubah menjadi keterkejutan ketika dia diberi tahu oleh Ki Waruanggang bahwa lawan bicaranya yang bernama Abdul Jalil itu merupakan guru suci yang termasyhur disebut orang dengan nama Syaikh Lemah Abang. Dang Acaryya Laban yang semula duduk bersila berhadap-hadapan dengan Abdul Jalil tiba-tiba bersujud menyembah dan berkata-kata dengan suara bergetar, “Sembah hamba kami haturkan kepada Paduka Syaikh Lemah Abang titisan Mahaguru. Padukalah guru suci yang hamba nanti-nantikan kedatangannya.”

“Tuan Acaryya,” kata Abdul Jalil sembari mengangkat bahu Dang Acaryya Laban, “bagaimana Tuan bisa menyatakan kami titisan Syiwa Mahaguru?”

“Kawan-kawan hamba yang berkata demikian, Paduka. Sungguh telah tersebar kabar bahwa Paduka adalah guru suci utusan Bhattara Guru untuk menyempurnakan ajaran lama yang ada. Sahabat hamba, Kyayi Menjangan Tumlaka, kepala Dukuh Dharma Lemah Abang di Pamotan, menceritakan kepada hamba bahwa dia telah menjalani madiksha (baiat) kepada Paduka. Dia menyatakan, Paduka dalam melakukan madiksha tidak menggunakan Wiku Nabe secara sakala (rabithah), tetapi menggunakan Nabe Niskala kepada Hyang Widhi, yaitu madiksha-widhi. Kyayi Menjangan Tumlaka juga menuturkan dia tertari dengan ajaran Paduka karena dia dapat bertemu dengan Syiwa dan bahkan Paramasyiwa. Karena itu, o Paduka Syaikh, hamba mohon agar Paduka berkenan membimbing hamba sebagai sisya (murid),” Dang Acaryya memohon sambil menyembah.

“Tuan Acaryya, tegakkanlah tubuh Tuan. Kami tidak suka dengan peraturan sembah-menyembah antarmanusia. Siapa saja di antara manusia yang ingin menjadi pengikut Syaikh Lemah Abang, wajib menolak kebiasaan menekuk lutut kepada sesama manusia. Jika Tuan Acaryya ingin mengikuti jalan kami, hendaknya Tuan memenuhi dulu kewajiban pertama tersebut,” kata Abdul Jalil tegas.

“Tapi Paduka Syaikh, bagaimana kami bisa bersikap tidak hormat kepada Dang Guru Suci, Susuhunan, yang akan membawa kami kepada dwijati (kelahiran kedua)?” gumam Dang Acaryya Laban.

“Hormat atau tidak hormat, tergantung dari sudut mana kita memandang sesuatu,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Maksudnya, jika Tuan menganggap bahwa bersikap hormat kepada Dang Guru Suci adalah dengan menyembahnya sebagai perwujudan Sang Mahaguru yang bersthana di Kailasa, yaitu Syiwa, maka hal itu benar dan sah menurut Tuan. Tetapi menurut kami, hal tersebut malah menista intisari ajaran kami. Sebab, dalam pandangan kami, nilai-nilai yang benar adalah nilai yang bersumber pada Adwaya (Tauhid), dengan berlandaskan penghormatan dan keseimbangan.”

“Penting untuk Tuan pahami bahwa nilai penghormatan yang kami maksud bukanlah menghormati Dang Guru Suci dengan cara menyembahnya sebagai perwujudan Tuhan, melainkan cukup menghormatinya sebagaimana hormat kita kepada ibu dan bapak. Lantaran itu, hal yang paling mendasar dari nilai penghormatan yang kami maksud, pertama-tama, menyatakan begini: kewajiban dasar manusia adalah menghormati keberadaan diri sendiri. Maknanya, seorang manusia yang menghormati diri sendiri tidak akan menista dan merendahkan martabat kemanusiaannya dengan berlutut dan bersujud kepada pohon, batu, kayu, binatang, bulan, bintang, matahari, manusia, dan sesama makhluk. Sebab, kita telah berikrar dengan segenap jiwa dan raga bahwa kita hanya berlindung, merajakan, dan menuhankan Rabb kita (QS. An-Nas: 1-3), yaitu Hyang Widhi. Itu sebabnya, dalam melakukan madiksha, kami selalu menggunakan cara madiksha-widhi.”

“Kami paham dan akan mematuhi titah Paduka Syaikh.”

“Tetapi, sebelumnya kami beri tahukan kepada Tuan Acaryya bahwa sebagaimana sisya kami yang lain, Tuan nanti akan menjalani madiksha-widhi dengan menggunakan Nabe Niskala. Itu berarti, Tuan nanti akan menemukan Kebenaran, Brahman, dengan melewati jalan Paramasyiwa. Jika dalam waktu tujuh hari setelah madiksha-widhi Tuan menemukan Kebenaran dalam perwujudan Syiwa yang masih mengambil perwujudan tertentu, maka Tuan harus menemui kami atau sisya kami, Kyayi Menjangan Tumlaka,” kata Abdul Jalil.

“Kami akan mematuhi semua titah Paduka Syaikh,” kata Dang Acaryya Laban takzim.

“Hal ini perlu kami sampaikan kepada Tuan terlebih dulu karena banyak di antara dikshita (salik) yang belum bisa membedakan tahapan-tahapan ruhani dari bhaktimarga (syari’at), karmamarga (thariqat), jnanamarga (haqiqat), dan yogamarga (ma’rifat) telah tergelincir ke jurang kesesatan, karena mereka tanpa sadar telah terpeleset oleh kekaburan batasan sakala (zahir), sakala-niskala (barzakh) dan niskala (al-Batin). Mereka dengan pongah merasa telah dianugerahi-Nya pengetahuan untuk mengenal-Nya. Padahal, mereka saat itu sedang berada di ambang pengetahuan. Mereka akan ditandai dengan kepintaran dalam berbicara tentang Adwaya (Tauhid) dengan seluk-beluknya. Sementara jika dilihat dengan mata batin, jiwa mereka telah tertutup pamrih pribadi. Jiwa mereka adalah jiwa serigala, musang, gagak, dan bahkan bayangan makhluk nirwujud.”

“Orang-orang yang seperti itu sungguh telah menyimpangkan ajaran Kebenaran dan bertentangan dengan jalan (thariq) yang kami ajarkan. Kami katakan menyimpang dari Kebenaran karena mereka tergelincir dari jalan kesadaran jati diri menjadi adimanusia (insan kamil). Mereka terperosok ke jurang angan-angan (al-wahm) menjadi al-Kamal. Sungguh, mereka telah sesat karena menuhankan keakuan pribadinya yang kerdil. Sungguh, mereka telah sesat karena terjerat angan-angan hingga menjadikan diri sendiri sebagai perwujudan Yang Mahasempurna (al-Kamal). Hal ini perlu kami sampaikan kepada Tuan, karena jalan menuju Kebenaran sejati sangat licin dan penuh jebakan yang gampang menggelincirkan seorang dikshita ke jurang kesesatan, terutama saat dikshita berada di tengah persimpangan sakala-niskala (barzakh) menuju niskala (al-bathin),” papar Abdul Jalil.

“Kami akan patuhi semua titah Paduka,” kata Dang Acaryya Laban sambil bersujud menyembah, seolah dia sudah lupa dengan ucapan Abdul Jalil yang baru saja melarangnya dengan bersujud kepada sesama.

Berbeda dengan pembukaan Dukuh Batu Putih yang lancar, rencana pembukaan Dukuh Lemah Putih di Giri Kedhaton diawali dengan perdebatan yang panas. Hal itu bermula dari keterlibatan Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, putera Prabu Satmata, dan Raden Muhammad Yusuf, putera Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu. Dalam perencanaan membuka Dukuh Lemah Putih, Pangeran Zainal Abidin mengusulkan kepada Abdul Jalil agar dukuh yang bakal dibuka di wilayah Giri Kedhaton itu letaknya agak berjauhan dari pusat ksetra. Ia beralasan, pembukaan Dukuh Lemah Putih harus berbeda dengan Batu Putih. Sebab, tanah shima Batu Putih sudah tidak digunakan barang tiga puluh tahun silam dan Ksetra Nyu Denta pun sudah tidak digunakan lagi barang tujuh tahun silam, sementara ksetra-ksetra di Giri Kedhaton masih digunakan. Bahkan, Ksetra Mangare di sebelah timur Bangsal Sri Manganti masih belum ditutup dan penduduk di sekitarnya masih banyak yang memuja Dewi Bhumi, Prthiwi, di situ. Selain itu, keberadaan Ksetra Mangare masih menjadi lambang kekuasaan lama yang menempatkan Prabu Satmata sebagai pengejawantahan Syiwa Sang Girinatha. Lantaran itu, untuk menghindari dampak yang tidak diharapkan dari perubahan mencolok akibat munculnya Dukuh Lemah Putih di dekat ksetra, yang bertujuan membuat tawar daya shakti ksetra, maka dukuh tersebut harus jauh dari pusat ksetra.

Berbeda dengan Pangeran Zainal Abidin, Raden Muhammad Yusuf yang jiwanya sedang dikobari semangat keagamaan menyala-nyala menginginkan Dukuh Lemah Putih dibuka dekat di dengan pusat ksetra. Ia beralasan, upaya membukan Dukuh Lemah Putih adalah upaya yang haqq untuk menghilangkan sesuatu yang batil. Upaya itu adalah jihad karena bertujuan menyelamatkan manusia dari pembunuhan-pembunuhan atas alasan agama. Lantaran berpandangan seperti itu, dengan suara berapi-api dan penuh keyakinan diri ia berkata, “Tuan Syaikh tidak perlu syak dan ragu-ragu dalam menghadapi kebatilan. Tuan Syaikh tidak perlu mempertimbangkan yang lain-lain dalam hal memerangi kebatilan. Sebab, Allah sudah menetapkan hukum bahwa setiap datang yang haqq, maka yang batil akan sirna (QS. Al-Isra’: 81).”

“Paman,” sergah Pangeran Zainal Abidin dengan suara ditekan dan wajah menampakkan rasa tidak senang. “Paman jangan menghiraukan omongan orang yang masih mentah pengetahuan agamanya. Paman jangan menghiraukan saran orang yang menempatkan dalil-dalil Al-Qur’an secara kurang semestinya. Sebab, menurut hemat kami, tidak ada dalil Al-Qur’an yang menyatakan ksetra sebagai tempat batil. Ksetra dalam kenyataan adalah tempat ibadah bagi umat bukan Islam. Jadi, ksetra pada dasarnya sama maknanya masjid bagi umat Islam, yaitu tempat suci yang digunakan oleh orang-orang bukan Islam dalam memuja Tuhan sesuai tata cara mereka. Kita tidak bisa menilai apa yang dilakukan para penganut ajaran Bhairawa-Tantra sebagai sesuatu yang batil dengan menggunakan dalil Al-Qur’an.”

“Tuan Syaikh, Tuan telah mendengar sendiri ucapan dari sahabat kami,” tukas Raden Muhammad Yusuf tak mau kalah. “Akankah Tuan Syaikh membenarkan orang yang menganggap sama tempat manusia-manusai disembelih dengan masjid yang suci tempat orang diselamatkan dari maut? Akankah Tuan Syaikh membenarkan orang yang menganggap sama tempat Kematian itu dengan masjid yang suci tempat Keselamatan?”

“Aku tidak menganggap ksetra sama dengan masjid,” kilah Pangeran Zainal Abidin dengan suara berapi-api. “Aku tadi menyatakan, ksetra bagi penganut ajaran Bhairawa-Tantra sama dengan masjid bagi umat Islam, yaitu tempat ibadah. Jika di ksetra-ksetra ada orang dibunuh sebagai korban suci, itu adalah aturan agama mereka. Kita tidak berhak menilainya sebagai sesuatu yang batil. Tidakkah engkau mengetahui jika di masa lampau, para dathu leluhur bangsa Arab juga mengorbankan putera sulung mereka kepada Tuhan? Tidakkah engkau tahu kisah Ibrahim a.s., Bapak Tauhid, yang pernah akan menyembelih putera sulungnya? Tidakkah engkau tahu bahwa akikah yang diajarkan di dalam Islam pada hakikatnya adalah kelanjutan kepercayaan purwa itu dalam bentuk penyembelihan hewan sebagai ganti jiwa manusia.?”

“Tapi, sejak masa Ibrahim a.s. kebiasaan korban manusia sudah diganti dengan domba?”

“Justru itu, tugas kita sekarang adalah memberitakan Kebenaran tentang perubahan dalam tata cara korban kepada mereka yang belum mengetahuinya. Kita harus menyampaikannya melalui cara-cara yang bijak. Kita tidak bisa mencaci maki dan mencela keyakinan orang menurut pandangan sepihak kita. Bukankah tugas kita hanya menyampaikan kabar Kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw.? Bukankah orang lain bebas menerima atau menolak kabar Kebenaran yang kita sampaikan? Bukankah tidak ada paksaan dalam keyakinan agama? Bukankah semua hidayah tergantung mutlak pada kehendak-Nya?” ujar Pangeran Zainal Abidin.

“Ya, aku paham, tapi ... “ sahut Raden Muhammad Yusuf mencibir.

Abdul Jalil yang menangkap gelagat perdebatan itu akan makin memanas buru-buru menukas, “Sudahlah, masalah seperti ini tidak bisa dijadikan bahan berdebat. Sebab, penguasa ksetra tidak bisa diajak berdebat. Jadi, kalau kita keliru dalam bertindak, taruhannya ribuan nyawa manusia. Untuk masalah ini aku berharap semua pihak tidak menggunakan ukuran haqq dan batil dalam hal keyakinan orang seorang. Sebab, segala sesuatu yang haqq bersumber dari al-Haqq, sedangkan segala sesuatu yang batil bersumber dari al-Mudhil. Baik al-Mudhil maupun al-Haqq bergantung dari sisi mana kita memandang. Maksudnya, kita bisa memandang orang lain sebagai kelompok yang batil karena memuja al-Mudhil. Sebaliknya, orang bisa juga memandang dari sudut lain dengan mengatakan justru kitalah sebagai kelompok batil pemuja al-Mudhil. Padahal, baik al-Haqq maupun al-Mudhil sejatinya adalah Asma’, Af’al, dan Shifat dari Zat dari Yang Maha Tunggal: Allah. Karena itu, barang siapa yang menganggap al-Mudhil dan al-Haqq adalah dua Zat yang berbeda maka dia musyrik,” kata Abdul Jalil tegas.

“Ya, Tuan Syaikh, kami paham,” kata Raden Muhammad Yusuf. “Jadi, bagaimana sekarang?”

“Aku beri tahukan kepada kalian, Ksetra Mangare terletak di pusat Kraton Prabu Satmata, yaitu Bangsal Sri Manganti. Maksudku, Ksetra Mangare letaknya bersebelahan dengan Bangsal Sri Manganti. Malahan, Bangsal Sri Manganti kedudukannya diapit oleh Ksetra Mangare dan asrama Rsigana Domas. Di utara Ksetra Mangare terletak Pakalangan, yakni tempat batu suci (Sanghyang Susuk) ditempatkan di lingkaran keramat. Di utara Pakalangan terletak kediaman Pangeran Indrasari Patih Giri Kedhaton.”

“Jadi, sebagaimana bentuk susunan kraton-kraton Jawa yang lain, ksetra merupakan bagian tak terpisahkan dari kraton. Kalau sampai ada perubahan susunan dengan munculnya asrama para wiku baru yang disebut Dukuh Lemah Putih di dekat ksetra dan Rsigana Domas, maka dipastikan akan menimbulkan kekacauan. Sebab, yang akan melakukan perlawanan bukan hanya para penguasa ksetra, melainkan pendeta dan penduduk juga akan marah dan menentang. Karena itu, menurut hematku, letak Dukuh Lemah Putih sebaiknya memang agak jauh dari pusat ksetra,” papar Abdul Jalil.

“Aku kira, soal letak Dukuh Lemah Putih di Giri Kedhaton sepatutnya memang kita serahkan sepenuhnya kepada Paman Syaikh Lemah Abang. Sebab, yang sudah berpengalaman dalam pembukaan dukuh-dukuh baru di Nusa Jawa adalah beliau,” kata Pangeran Zainal Abidin.

Abdul Jalil yang melihat selisih pendapat antara Pangeran Zainal Abidin dan Raden Muhammad Yusuf hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia paham, perbedaan mereka dalam memandang sesuatu berasal dari perbedaan dari nilai-nilai yang mereka anut. Pangeran Zainal Abidin lahir di kalangan bangsawan Giri Kedhaton yang memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa-penguasa di Majapahit, Blambangan, dan Bali. Sementara Raden Muhammad Yusuf merupakan cucu Raden Ali Murtadho, Raja Pandita Gresik dari istri ketiga asal Lawe, Barunadwipa, yaitu dari keluarga Orob. Sedangkan ibu Raden Muhammad Yusuf berasal dari Malaka.

Sejak kecil Raden Muhammad Yusuf diasuh di lingkungan Islam fanatik yang sulit menerima keberbedaan agama. Apalagi saat memasuki kedewasaan dia sering diajak berdagang ke Malaka dan berkenalan dengan sejumlah ulama Malaka yang fanatik. Ayahandanya sendiri, Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, putera bungsu Raden Ali Murtadho, dikenal penduduk Giri Kedhaton sebagai orang Islam fanatik dan suka mencela praktik-praktik tasawuf yang dianggap menyimpang dari syarak. Padahal, dibanding tiga kakaknya lain ibu, yaitu Raden Zainal Abidin Adipati Gresik, Raden Usman Kepala Negeri Tengah-Tengah di Kailolo, Raden Ali Fada’ guru suci di Bima, Raden Yusuf Siddhiq bukanlah apa-apa jika diukur dari sisi pengetahuan agama. Ketiga putera Raja Pandhita itu, kakak Raden Yusuf Siddhiq, sejak muda dikenal oleh penduduk Giri Kedhaton sebagai orang-orang yang saleh, rendah hati, dan dermawan. Sementara Raden Yusuf Siddhiq dikenal sebagai pemuda congkak, tidak mau kalah, dan suka merendahkan orang lain, apalagi setelah usahanya berniaga berkembang pesat dan menjadikannya sebagai adipati kaya raya.

Raden Yusuf Siddhiq dengan segala kecongkakannya sering terlihat datang ke Giri Kedhaton untuk mengajak berdebat Prabu Satmata dalam masalah agama. Tetapi, tidak sekali pun penduduk Giri Kedhaton mendapatinya pernah memenangkan perdebatan. Karena tidak pernah jera berdebat, meski telah berulang-ulang kalah, maka di kalangan penduduk Giri Kedhaton muncul ejekan-ejekan tersembunyi yang dialamatkan kepada sang adipati. Salah satu di antara ejekan-ejekan itu adalah gelar masyhur yang diberikan oleh penduduk Giri Kedhaton, yaitu Ki Dipati Adam (Jawa Kuno: raja yang belum matang). Tampaknya, kebiasaan mendebat sang adipati itu dilanjutkan oleh puteranya, Raden Muhammad Yusuf.

Dengan dikawal sekitar tiga puluh prajurit Giri, Abdul Jalil dan rombongan dengan berjalan kaki meninggalkan Bangsal Sri Manganti menuju arah selatan. Setelah melewati padang alang-alang dan tanah berawa-rawa, sampailah mereka di Wisaya Damyan. Sesudah singgah sebentar di kediaman Ki Ageng Damyan, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan dengan melewati bukit-bukit berbatu kapur terjal. Di beberapa tempat di perbukitan itu Abdul Jalil menemukan sejumlah lemah larangan yang layak dijadikan dukuh, yaitu mala ning lemah seperti cerukan bukit (sodong), batu padas bergantung (cadas gantung), tiga onggokan batu melingkari suatu tanah (mungkal pategang), ngarai (lebak), tanah tandus yang curam (lmah laki). Tapi, ia masih belum menemukan yang benar-benar sesuai dengan hasrat hatinya.

Setelah semalam tidur di perbukitan, pada suatu siang ia menemukan suatu hamparan lemah larangan yang dinilainya sesuai untuk dukuh. Tanah itu terletak di timur laut Wisaya Sumengka, tepat pada lekukan Sungai Brantas. Lantaran itu, tanah tersebut digenangi air dan sebagian ada yang terlihat padat di permukaannya, namun berlumpur di bawahnya. Di beberapa sudutnya terlihat bukit-bukit tanah kecil tempat sarang anai-anai.

Setelah mengamati keadaan sekeliling tanah, ia berkata kepada Syaikh Jumad al-Kubra, “Menurut ibundaku, tanah di depan kita itu memenuhi tiga syarat lemah larangan. Pertama, tanah di pinggir barat dan selatan sungai itu termasuk jenis tanah dangdang warian, yaitu tanah yang berceruk bagian tengahnya dan digenangi air. Kedua, tanah di bagian tengah termasuk jenis tanah garenggengan, yaitu tanah kering pada bagian permukaan, namun berlumpur di bagian bawahnya. Ketiga, tanah paling utara termasuk tanah hunyur, yaitu tanah dengan bukit-bukit kecil tempat sarang anai-anai.”

“Baiklah, kita akan membuka tanah ini untuk dijadikan Dukuh Lemah Putih,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

“Tetapi, kita hendaknya memberi tahu dulu kepala Wisaya Sumengka bahwa atas perkenan Prabu Satmata, di tanah ini akan dibuka dukuh baru yang dinamai Lemah Putih.” Abdul Jalil lantas meminta kepada pengawal Giri untuk menyampaikan surat penetapan shima dari Juru i Ayam Teas (pejabat berwenang dalam urusan tanah perdikan) Giri Kedhaton. “Seandainya nanti penguasa Wisaya Sumengka bertanya kenapa dinamai Lemah Putih, Tuan katakan saja bahwa yang bisa menjelaskannya adalah Prabu Satmata.”

“Kami siap melaksanakan perintah, Kangjeng Syaikh,” kata kepala pengawal sambil memerintahkan anak buahnya untuk memulai pekerjaan membabat alang-alang dan semak belukar, menguruk tanah berair, membuat pematang melingkar sebagai tanggul kecil, dan memotong batang pohon untuk bahan bangunan. Sebagaimana pembukaan desa-desa Lemah Abang, Abdul Jalil menebarkan sarana tu-mbal. Tetapi, sedikit berbeda dengan di Lemah Abang, di tempat yang akan dinamai Lemah Putih itu selain menggunakan tanah, ia juga menambahkan garam dan beras.

Pekerjaan membabat alang-alang dan semak belukar serta membuat pematang ternyata tidak memakan waktu lama. Sebab, dari Sumengka dikirim sekitar lima puluh orang penduduk untuk membantu pekerjaan itu. Menjelang senja semua alang-alang dan semak belukar telah dibersihkan. Dan sepetak lahan dengan lima pondok beratap ilalang telah tegak sebagai hunian sementara. Ketika penduduk Sumengka telah kembali, Abdul Jalil meminta para pengawal Giri Kedhaton untuk mengamalkan rangkaian doa penolak godaan setan dan permohonan keselamatan, sebagaimana dilakukannya saat membuka dukuh-dukuh.

Tatkala senjakala merambat ke peraduan malam dan para pengawal Giri Kedhaton sedang khusyuk melafazkan doa-doa, kegelapan tiba-tiba menggantung di angkasa. Kabut tebal bergerak dari arah utara dan makin lama makin tebal memenuhi permukaan bumi, merayap ke lembah dan aliran sungai Brantas. Suasana mendadak berubah sangat senyap. Lengang. Seram. Mencekam. Lima pondok yang baru selesai didirikan sudah tidak terlihat karena diselimuti kabut tebal.

Di tengah suasana senyap dan mencekam itu para pengawal Giri Kedhaton mulai terlihat gelisah. Sambil melafazkan doa-doa, mereka merangkul senjata masing-masing dan saling berdesakan. Liu Sung yang sejak sore tak pernah jauh dari Raden Sahid dan Raden Sulaiman terlihat menggeser duduknya ke dekat Abdul Jalil. Beberapa kali dia menengok ke luar gubuk dengan perasaan gelisah. Dia seolah menangkap isyarat di luar sana sedang mengintai ancaman bahaya yang menggantung di angkasa bersama gumpalan awan dan kabut. Pengalaman menggetarkan di Batu Putih tiba-tiba berkelebatan memasuki relung-relung ingatannya.

Abdul Jalil sendiri terlihat tenang. Ia duduk bersila di belakang Syaikh Jumad al-Kubra sambil mengetuk-ketukkan tongkatnya ke tanah dengan mulut terkatup rapat. Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung yang melihat gerak-gerik Abdul Jalil dan suasana mencekam yang melingkupi hanya berdiam diri, meski tanda tanya menggumpal di benak mereka. Tetapi, saat kabut tebal makin bergumpal-gumpal serta menerobos ke dalam gubuk dan sayup-sayup mereka mendengar denting senjata dan hiruk-pikuk peperangan di luar pondok, mereka tak tahan lagi untuk tidak bertanya. Dengan suara tergetar Raden Sulaiman bertanya, “Paman, kami merasakan ada sesuatu yang bukan berasal dari alam kita sedang berkeliaran di sekitar kita. Kami merasa mereka seolah-olah menginginkan nyawa kita. Apakah sesungguhnya yang terjadi di tempat ini, o Paman?”

Abdul Jalil diam tak menjawab. Ia memandang ke luar pondok yang gelap gulita. Sesaat kemudian ia berkata dengan suara yang lain, “Kalian semua yang membaca doa-doa, berkumpullah ke sini!”

Bagaikan anak ayam mengerumuni induknya, para pengawal Giri Kedhaton berebut mengerumuni Abdul Jalil. Mereka tampak gentar dan ketakutan dengan wajah pucat. Wajah mereka semakin pucat manakala di tengah suara denting senjata dan hiruk pikuk peperangan itu, secara samar-samar mereka melihat kelebatan bayangan-bayangan aneka bentuk makhluk yang mengerikan di luar gubuk.

Seperti ttidak peduli dengan keadaan sekitar, Abdul Jalil membisikkan sesuatu kepada Abdul Malik Israil yang bersila di sampingnya. Setelah itu, ia berkata dengan suara lirih, “Aku beri tahukan kepada kalian bahwa apa pun yang kalian dengar dan kalian saksikan, pada hakikatnya itu adalah bayangan maya dari ablasa yang nirwujud. Jika kalian mengesankannya dengan prasangka-prasangka yang berlebih-lebihan maka mereka akan mewujud sebagaimana prasangkamu. Jangan sekali-kali kalian ikuti rasa takut yang mengeram di dalam jiwamu secara berlebihan karena itu akan menyeret khayalanmu ke arah perwujudan bayangan maya ablasa itu.”

“Apa yang harus kita lakukan, o Kangjeng Syaikh?” tanya kepala pengawal Giri Kedhaton gemetar.

“Tenangkan jiwamu! Arahkan kiblat hati dan pikiranmu hanya kepada al-Haqq yang tersembunyi di dalam relung-relung hatimu (qalb). Sesungguhnya, tidak ada Yang Wujud kecuali Dia. Allah. Sesungguhnya, mereka yang menjadi hijab antara makhluk dan al-Khaliq adalah bayangan ablasa yang nirwujud.”

Ketika para pengawal Giri Kedhaton berusaha mengarahkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada al-Haqq, Abdul Jalil membisikkan sesuatu kepada Syaikh Jumad al-Kubra. Setelah itu ia bangkit dan bergegas keluar dari gubuk. Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung buru-buru melompat mengikuti di belakangnya. Tetapi, saat mereka berada di luar pintu gubuk, mereka terhenyak kaget. Dalam jarak sekitar lima tombak di depan mereka terlihat dua sosok makhluk hitam setinggi pohon kelapa berdiri menyeringai dengan taring berkilat-kilat. Makhluk yang satu adalah laki-laki dengan rambut disanggul terikat tiga. Makhluk yang satunya lagi perempuan dengan rambut terurai hingga ke tanah. Di depan dua makhluk menyeramkan itu terlihat Ki Waruanggang dan Ki Tameng berdiri tegak seolah-olah sedang berbicara dengan mereka. Sementara di belakang dua makhluk mengerikan itu berbaris bayangan-bayangan hitam dalam jumlah beribu-ribu, seolah-olah suatu bala tentara yang ganas sedang bersiaga menyerang musuh.

Sementara itu, Abdul Jalil yang bagai tak peduli dengan keadaan sekitar yang mencekam, mengangkat tongkatnya ke atas sambil berseru, “O Prabu Yaksha dan Nyi Wuragil, penguasa bumi Tandhes dan Giripura, salam sejahtera untuk kalian berdua dan kawula kalian. Aku minta kalian berdua tidak mengganggu pekerjaan Syaikh Jumad al-Kubra, saudara kami yang membuka dukuh baru di tempat ini. Kalian berdua adalah penghuni perut bumi. Kami penghuni permukaan bumi. Kami tidak mengganggu wilayah kekuasaan kalian maka kalian pun aku minta tidak mengganggu kami.”

Dua makhluk setinggi pohon kelapa yang menyeramkan itu celingukan dan saling pandang. Setelah itu, mereka berlutut dan menyembah kepada Abdul Jalil dan berkata serentak, “Mohon ampun Padukan Syaikh, kami kemari hanya ingin melihat wilayah kami. Sebabm kami melihat kilatan cahaya petir dan kegaduhan di tempat ini. Kami tidak tahu Paduka Syaikh ada di antara orang-orang itu.”

Abdul Jalil tertawa dan berkata-kata kurang jelas sambil menggerak-gerakkan tongkatnya, seolah-olah memberi isyarat agar kedua makhluk mengerikan itu beserta bala tentaranya pergi meninggalkan tempat itu. Suasana pun mendadak hening. Sekejap kemudian terdengar suara seruling mengumandang diikuti suara gemerincing genta-genta kecil dan lengkingan-lengkingan terompet yang sahut menyahut dan sambung menyambung. Setelah itu, dua makhluk mengerikan itu lenyap dari penglihatan. Lalu terlihat kelebatan bayangan hitam berpusar-pusar mengitari tanah yang baru dibabat. Pusaran bayangan hitam itu makin lama makin cepat dan menimbulkan suara semacam gedoran pintu yang memekakkan telinga dengan diikuti oleh embusan angin. Di tengah pusaran bayangan hitam dan embusan angin itu terdengar bunyi derap kaki kuda yang mula-mula keras, makin lama makin lemah dan menjauh. Kemudian suasana menjadi hening. Sunyi. Lengang. Tak ada angin. Tak ada suara.

Ketika keadaan yang menegangkan telah berakhir, Abdul Jalil masuk ke dalam pondok, berbicara kepada Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil. Beberapa jenak kemudian ia pergi ke arah utara menuju Bangsal Sri Manganti dengan disertai Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung. Setelah melintasi bukit-bukit kapur yang terjal, menjelang dini hari mereka sudah sampai ke tempat pemujaan Sanghyang Pamunguwan, ruh pelindung Bangsal Sri Manganti, yang terletak di antara Bangsal Sri Manganti dan Ksetra Mangare. Tempat itu dikenal penduduk dengan nama pendharmaan Siddhawungu. Tanpa peduli dengan kegelapan yang melingkupi, ia masuk ke pendharmaan dan membalik letak batu lambang Sanghyang Pamunguwan sambil melafazkan doa-doa. Sebagaimana saat menutup Kabhumian di Caruban, ia berharap pendharmaan Siddhawungu akan secepatnya tersilap dari ingatan penduduk.

Setelah dari pemujaan Sanghyang Pamunguwan, tanpa istirahat sedikit pun ia dengan diikuti Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung menuju pendharmaan Siddhajangkung yang terletak di belakang Bangsal Sri Manganti. Sebagaimana di pendharmaan Siddhawungu, di situ ia membalik letak batu perlambang Sanghyang Jangkung sambil melafazkan doa-doa. Menjelang subuh ia menganggap kerjanya telah selesai. Ia meninggalkan pendharmaan Siddhajangkung menuju kediaman Pangeran Arya Pinatih yang terletak di depan Bangsal Sri Manganti. Di sana ia menjumpai sang pangeran baru saja turun dari sembahyang malam. Melihat Abdul Jalil, Pangeran Arya Pinatih sangat senang. Dia menanyakan ini dan itu tentang pembukaan Dukuh Lemah Putih. Mereka pun berbincang sampai subuh.

Ketika hari sudah siang datanglah Syaikh Jumad al-Kubra, Ki Tameng, Abdul Malik Israil, dan Ki Waruanggang menyusul. Saat itu juga Abdul Jalil meminta Ki Waruanggang secepatnya kembali ke Batu Putih. “Aku berharap Tuan bisa istiqamah menjalankan upaya membuat tawar daya shakti Ksetra Nyu Denta dan Dharma Palemahan, paling tidak selama empat puluh hari,” kata Abdul Jalil.

“Bagaimana dengan Dukuh Lemah Putih yang baru kita buka?” tanya Ki Waruanggang.

“Biarkan saudara kita, Ki Tameng, yang tinggal di situ selama empat puluh hari,” kata Abdul Jalil.

“Tetapi, bagaimana dengan asrama Rsigana Domas?” bisik Pangeran Arya Pinatih ke telinga Abdul Jalil. “Bukankah kekuatan mereka itu tidak bisa ditawarkan?” bagaimana jika mereka tetap melakukan upacara korban?”

Abdul Jalil tercenung sesaat. Setelah itu, ia berkata setengah berbisik, “Biarlah putera Tuan, Pangeran Pringgabhaya, tinggal sementara di pendharmaan Siddhajangkung sebagai sthapaka. Kami melihat pancaran kekuatan batin tersembunyi di kedalaman jiwanya. Dan sebagai putera Tuan, dia akan lebih mudah diterima oleh anggota Rsigana Domas. Selain itu, kami kira Dang Acaryya Laban yang sudah berbaiat kepada kami pun bisa membantunya. Mudah-mudahan para anggota Rsigana Domas bisa tersadarkan.”

“Dang Acaryya Laban sudah berbaiat kepada Tuan?” seru Pangeran Arya Pinatih seperti tak percaya.

“Beberapa waktu setelah kami hadir di sini, ia minta baiat kepada kami.”

“Alhamdulillah, berarti Ksetra Mangare sudah tidak punya penjaga lagi. Berarti aku tidak akan melihat lagi ibu-ibu yang menjadi gila akibat kehilangan anak-anaknya,” kata Pangeran Arya Pinatih dengan mata berkaca-kaca.

Laut China Selatan (MV. Taho), 28 April 2007, 18:15LT