Mandala Siti Jenar

Dengan diikuti Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung, Abdul Jalil menumpang perahu ke Wirashabha. Ketika sampai di penambangan Citrasabha, di dekat Terung, ia beserta rombongan turun dan singgah ke Pangawasen (pertapaan) Madhuratna yang dipimpin Wiku Citragati, sisya Ki Waruanggang saat masih menjadi guru suci di Surabhawana negeri Daha. Dalam pertemuan dengan Wiku Citragati, Abdul Jalil memberi tahu bahwa sang guru suci Wiku Suta Lokeswara telah memeluk Islam dan berganti nama menjadi Ki Waruanggang. Wiku Citragati yang sejak awal sudah menduga guru sucinya itu bakal mengikuti ajaran yang disampaikan Abdul Jalil, tidak terkejut dengan penjelasan itu. Sebaliknya, Abdul Jalil terkejut ketika diberi tahu oleh Wiku Citragati bahwa amuk yang dilakukan Raden Kusen itu sebenarnya terkait dengan perebutan takhta Majapahit.

Hampir setiap nayaka Kadipaten Terung menduga, aib yang ditimpakan kepada Paduka Yang Mulia Adipati Terung itu sengaja dilakukan untuk meruntuhkan kewibawaannya sebagai ratu Majapahit. Sebab, kenyataan menunjuk bahwa penduduk Terung, Japan, dan Wirasabha menyembahnya sebagai ratu penerus takhta Majapahit. Kata-kata sang adipati menjadi sabda dan perintahnya menjadi titah. Setiap tahun para kepala wisaya di tlatah Terung, Japan, dan Wirasabha datang ke Bale Citrasabha membawa upeti, pajak, dan bulubekti untuk dipersembahkan kepada sang ratu,” kata Wiku Citragati.

“Tapi, siapa kira-kira yang melakukannya? Apakah Ratu Stri Maskumambang atau Stri Surawiryawangsaja?”

“Itu yang masih belum jelas,” kata Wiku Citragati. “Tetapi, menurut kabar yang berkembang di kalangan prajurit, maling aguna yang telah masuk ke dalam kaputren itu disebut sebagai seorang pemuda tampan bernama Gendam Smaradahana asal Daha. Anehnya, semua telik sandhi dari Terung yang ditempatkan di Daha tidak satu pun menemukan hubungan antara Gendam Smaradahana dan Gusti Patih Mahodara. Itu sebabnya, Yang Mulia Adipati Terung sampai sekarang masih kebingungan karena hanya bisa menduga-duga siapa dalang di balik peristiwa itu.”

Abdul Jalil termangu-mangu mendengar penjelasan Wiku Citragati. Sejak awal sebenarnya ia sudah menangkap ketidaklaziman tatanan di Kadipaten Terung, terutama nama-nama bangunan yang mirip tatanan kraton. Bale Witana dan Bale Panca Rangkang yang luar biasa besar dan megah itu, menurut hematnya, bukan sesuatu yang lazim untuk ukuran sebuah kadipaten. Yang lebih tidak lazim lagi, semua bale tempat kerja sang adipati disebut dengan nama Kraton Katerungan. Puri kediaman pribadi sang adipati yang terletak di belakang kraton disebut dengan nama yang tidak lazim pula, Puri Kamerakan. Bahkan, keberadaan kraton dan puri itu dilingkari oleh baluwarti (dinding benteng dari tanah) yang dijaga oleh pasukan khusus jagasatru. Semua tatanan itu, sepengetahuan Abdul Jalil, jelas-jelas menunjuk pada kediaman seorang ratu. Sebab, belum pernah ada cerita bahwa seorang adipati memiliki kraton, puri, baluwarti, dan kesatuan jagasatru.

Tetapi, semua keagungan dan kebesaran Kadipaten Terung yang mirip kraton itu dalam sekejap telah terhapus dari permukaan bumi akibat amuk sang adipati. Seluruh bangunan kraton dan puri rata dengan tanah. Menurut Wiku Citragati, dalam satu hari saja, atas titah sang adipati, seluruh bangunan di Kraton Katerungan, Puri Kamerakan, Bale Citrasabha, Jagasatru, Karang Puri, Pager Humbug, arena pacuan kuda Jimbaran, Bhuwana Kalang, Sagadgada, dan bangunan lain binasa. Hanya tiga bangunan yang tersisa di Kadipaten Terung, yaitu tajug agung, Pangawasen Madhuratna, dan Candinegara.

“Jika tempat-tempat ibadah tidak dirusak, berarti ia tidak melakukan amuk. Sebab, ia masih sadar mana bangunan yang boleh dirusak dan mana yang tidak boleh dirusak,” kata Abdul Jalil menyimpulkan.

“Kami juga menduga begitu,” Wiku Citragati membenarkan. “Setelah menghancurkan kadipaten, Yang Mulia Adipati Terung malah memindahkan kratonnya ke Wirasabha. Bukankah tindakan itu sama maknanya dengan membelah secara tegas Daha dan Japan? Bukankah itu sama artinya dengan menantang dua kekuatan?”

“Ia mendirikan kraton di Wirasabha? Bukankah menurut kabar ia pindah ke Bubat?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Kami tidak tahu kabar mana yang paling benar. Sepengetahuan kami, kratonnya yang baru memang di Wirasabha. Sementara di Bubat adalah tempat pasukan bedil besar dan gurnita,” tegas Wiku Citragati.

“Jangan-jangan semua itu siasat?”

“Siasat yang bagaimana?” gumam Wiku Citragati.

“Bukankah dengan menyatakan pindah dari Terung ke Bubat, ia telah menantang perang terbuka kepada siapa saja sebagaimana para ksatria Majapahit bertarung di sana? Sementara dengan kenyataan yang menunjuk ia tinggal di Wirasabha adalah penegasan bahwa ia merupakan panglima perang tak terkalahkan tempat para ksatria berdatang sembah untuk mengabdi?” kata Abdul Jalil.

“Ia memang pantas menjadi ratu dan sekaligus senapati di Wirasabha. Sebab, setahu kami, hampir seluruh petani yang menggarap tanahnya telah dilatih olah keprajuritan dan mereka itu selalu siap dikirim ke medan tempur untuk membantu prajurit Terung,” kata Wiku Citragati.

“Itu berarti, kabar yang menyatakan bahwa di antara semua penguasa di Nusa Jawa ini, hanya adipati Terung yang memiliki pasukan paling besar dan paling lengkap persenjataannya adalah benar,” Abdul Jalil menyimpulkan.

“Kami kira itu memang tak terbantah.”

Setelah merasa cukup beroleh penjelasan dari Wiku Citragati, Abdul Jalil dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Wirasabha. Sewaktu melewati bekas Kadipaten Terung, dari arah sungai ia melihat reruntuhan bangunan teronggok merana bagaikan sebuah daerah bekas terkena gempa. Tikungan Sungai Brantas yang terhubung dengan Bengawan Terung tempat kapal-kapal harus berbelok dan membayar cukai, sudah dibendung dengan gundukan bukit tanah. Kayu-kayu besar bekas tiang saka Puri Kamerakan terlihat berserakan dan sebagian mencuat di antara gundukan tanah seolah-olah deretan tangan menunjuk ke langit. Suasana sangat lengang seolah-olah di sekitar tempat itu tidak pernah ada kehidupan.

Kebinasaan yang terjadi atas Kadipaten Terung ternyata sangat mempengaruhi lalu lintas perniagaan di sepanjang Sungai Brantas. Penambangan-penambangan yang terdapat di sepanjang sungai seperti Jruklegi, Wringinsapta, Bogem, Singkal, dan Canggu menjadi sepi. Satu dua perahu terlihat melintas dengan membawa barang dagangan kebutuhan dapur seperti gula, garam, gerabah, dan peralatan. Padahal, barang satu setengah tahun silam, saat melintasi kawasan itu Abdul Jalil melihatnya sebagai pusat perdagangan yang paling ramai di pedalaman, meski saat itu sedang terjadi perang antara Terung dan Daha.

Di dermaga Canggu, Abdul Jalil dan rombongan turun. Mereka berjalan ke selatan, namun tidak melewati Kraton Japan. Setelah melintasi kawasan Citrawulan (Trowulan), Ksetralaya (Tralaya), hutan Kumeter (yang menggetarkan), reruntuhan kuil Dyanayana (kuil pemujaan Wisynu), dan rimba raya Bahuwarna, mereka mengikuti jalan setapak ke Wanasalam dan kemudian melintasi bukit-bukit terjal serta tebing-tebing curam yang tak pernah dilewati manusia. Mereka menuju Pusung Semar untuk menempatkan tu-mbal, yang diharapkan dapat membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra di sekitar pusat kekuasaan Majapahit. Pusung Semar sendiri diyakini sebagai tempat bersejarah, saat Dang Hyang Semar memperolok-olok dan mengalahkan Bhattari Durga, penguasa Ksetra Gandamayu, sebagaimana tersirat pada kidung Sudamala yang dibaca pada tiap-tiap upacara lukatan (ruwatan).

Majahapit. Kraton yang dibangun Raden Kusen di pedalaman itu menyimpan banyak perlambang. Kata “maja” dapat dimaknai “wilwa” yang menunjuk pada Wilwatikta, yaitu Majapahit. Sedangkan kata “hapit”, selain menunjuk perubahan bunyi dari pahit ke hapit, juga dimaknai “yang berada di antara dua kekuatan”, yang lazimnya merujuk pada istilah hapit lemah dan hapit kayu, yakni sebutan untuk bulan dari kalender Saka: Jyestha. Jika nama Kraton Majahapit dialihbahasakan ke Sansekerta akan menjadi Wihwajyestha yang mengandung sejumlah makna: keturunan yang paling utama, bintang di antara para putera utama, yang menggenggam dua kekuasaan, dan penerus takhta Wilwatikta kesebelas. Makna yang terakhir, penerus takhta Wilwatikta kesebelas, tampaknya bukan main-main karena menurut urut-urutan maharaja Majapahit dari trah Warddhanawangsa, Raden Kusen memang menduduki urutan kesebelas sesudah Prabu Stri Tribhuwanatunggadewi, Rajasanegara, Wikramawardhana, Suhita, Kertawijaya, Rajasawarddhana, Hyang Purwawisesa, Adi-Suraprabhawa Singhawikramawarddhana, Krtabhumi, dan Girindrawarddhana. Dengan begitu, Kraton Majahapit adalah pernyataan dan sekaligus pengingkaran Raden Kusen terhadap kekuasaan Sri Surawiryawangsaja maupun Stri Maskumambang sebagai pelanjut takhta Wilwatikta kesebelas.

Tidak berbeda dengan susunan kraton-kraton sebelumnya, Kraton Majahapit selain berpusat pada bangsal kraton juga dilengkapi puri kediaman pribadi sang ratu yang terletak di belakang kraton. Puri itu disebut dengan nama Bale Kepuh dan Bale Kambang. Bale Kepuh (Jawa Kuno: Kepuh: pohon randu hutan) menunjuk lambang Syiwa yang disebut Sang Randuwana (Jawa Kuno: yang bertaring sebesar buah randu hutan), sedangkan Bale Kambang adalah taman dengan kolam besar lengkap dengan pulau dan pesanggrahan di bagian tengahnya. Di Puri Bale Kambang itulah sang adipati tinggal bersama selir-selirnya. Sementara permaisuri dan putera-puterinya ditempatkan di Puri Surabayan yang terletak di Surabaya.

Di depan Kraton Majahapit, tepatnya di seberang alun-alun, terletak Kepatihan, tempat kerja sekaligus kediaman patih. Yang diangkat menjadi patih adalah Arya Timbul, putera Arya Menak Sunaya, adipati Pamadegan, Madura. Arya Menak Sunaya adalah putera Ario Damar dengan Dewi Wahita, janda dari Bhre Daha, asal Pamadegan. Jadi sang patih adalah kemenakan Raden Kusen. Di sebelah selatan Kepatihan terletak Kepanjen, tempat para panji (pejabat kraton bawahan sang pameget) yang menjalankan tugas sebagai nayaka di bidang peradilan. Di sebelah utara alun-alun terletak mandala Dapur Kajambon, yaitu madhyadesa, lambang Jambhudwipa (satu dari tujuh benua yang mengitari Gunung Meru) yang dijaga oleh para dapur (penduduk desa dari kasta rendah). Sementara tepat di tengah-tengah alun-alun berdiri Bale Bang yang di dalamnya tersimpan payung khutlima berwarna merah yang disebut Jongbang (Jawa Kuno: payung merah).

Abdul Jalil dan rombongan yang memahami makna-makna di balik lambang-lambang Kraton Majahapit itu hanya menggeleng-geleng kepala. Sebab, dari lambang-lambang yang terpampang di sekitar kraton tersebut, mereka menangkap tengara betapa Raden Kusen sudah benar-benar nekad untuk menggelar perang terbuka terhadap siapa saja. Dengan payung khutlima warna merah, lambang kekuasaan ratu Majapahit trah Warddhanawangsa itu, Raden Kusen seolah-olah menantang siapa saja yang berkepentingan merebut takhta Majapahit. Raden Kusen seolah-olah menyatakan tidak mengakui kekuasaan Sri Surawiryawangsaja di Daha maupun Ratu Stri Maskumambang di Japan. Anehnya, meski lambang-lambang yang ditampilkan menunjukkan citra kekuasaan seorang ratu, Raden Kusen justru menolak disebut ratu apalagi maharaja. Dia tetap ingin disebut dengan gelar adipati, sesuai wasiat yang ditinggalkan gurunya, Raden Ali Rahmatullah, susuhunan yang disemayamkan di Ampel Denta. Boleh jadi karena sikapnya yang mendua itu, penguasa Japan dan Daha tidak menanggapi sikap berlebihan dari Raden Kusen yang dianggap semata-mata ingin melampiaskan kegemarannya berperang.

Selama tinggal di Kraton Majahapit dalam rangka membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra, Abdul Jalil mendapati medan tempur yang jauh lebih berat dibanding tempat-tempat yang pernah ia singgahi. Sebab, daerah Wirasabha merupakan daerah yang dijadikan lintasan dari sejumlah pusat kekuasaan sejak zaman purwakala. Lantaran itu, jumlah ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi di kawasan itu jauh lebih banyak dibanding tempat lain. Di sekitar Wanasalam saja terdapat tiga ksetra, yaitu Wanasalam, Pulasari, dan Lung. Di sebelah timur Kraton Majahapit terdapat pemujaan Dewi Bhumi yang disebut Palemahan. Di barat laut kraton terdapat bekas pemujaan Rahu di Temu Wulan (gerhana) dan Kala Sumanding (gerhana). Sementara di sebelah selatan kraton purwa Watu Galuh yang didirikan Pu Sindok, tersebar pemujaan Syiwa di Kali Wungu (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Nilakantha), di Diwaka (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Diwakara), di Gajah (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Ganapati), di Gudha (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Niskala Mahamaya), dan sebagainya.

Sadar bahwa di pedalaman seperti Wirasabha dan Daha masih cukup banyak orang yang memahami tatanan lama, sebagaimana Raden Kusen yang dengan mudah menerka jalan pikirannya yang ingin mewujudkan Caturbhasa mandala, maka Abdul Jalil memutuskan untuk tidak menggunakan nama-nama yang mencolok dari mandala yang bakal dibukanya di Wirasabha. Ia tidak ingin menimbulkan konflik dengan munculnya dukuh-dukuh baru berciri mandala yang empat (caturbhasa). Lantaran itu, ia memutuskan untuk tidak membuka dukuh dan sebaliknya hanya menanam tu-mbal untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra.

Beratnya medan di Wirasabha akhirnya menghadapkan Abdul Jalil pada keputusan untuk membuka sekaligus empat mandala (caturbhasa mandala) di situ. Demikianlah, ia mula-mula menanam tu-mbal mandala kuning di belakang kraton Majahapit. Ia menandai tu-mbal itu dengan menanam pohon kemuning, lalu meminta Liu Sung untuk menunggui tempat itu selama empat puluh hari.

Liu Sung yang mendapat tugas menjaga tu-mbal di bawah pohon kemuning itu heran dan bertanya, “Kenapa tempat itu tidak dinamai Dukuh Lemah Jenar, o Tuan Syaikh?”

“Bukankah sudah ada pohon kemuning dan Kraton Majahapit?” sahut Abdul Jalil singkat.

“Kami belum paham, Tuan Syaikh.”

“Syarat tu-mbal tidak harus dikaitkan dengan tanah, terutama yang berkaitan dengan lambang air dari nafs as-Sufliyyah. Pohon kemuning yang bermakna kuning atau jenar dapat juga dijadikan lambang.”

“Bagaimana dengan Majahapit? Apa kaitan Majahapit dengan mandala kuning?”

“Tahukah engkau makna kata Apit atau Apita dalam bahasa Sansekerta?”

“Tidak, Tuan Syaikh.”

“Artinya, warna kuning.”

“Kuning? Kenapa Yang Mulia Raden Kusen memilih nama Majahapit untuk kratonnya? Bukankah di depat kraton, di Bale Bang, ia menempatkan payung khutlima warna merah (jongbang)?” tanya Liu Sung belum paham.

“Warna merah yang tercermin dari payung khutlima adalah lambang khusus kekuasaan Warddhanawangsa, sedangkan warna putih payung khutlima adalah lambang kekuasaan Rajasawangsa. Jadi, dengan payung khutlima warna merah itu ia ingin menunjukkan diri kepada semua orang bahwa ia adalah trah Warddhanawangsa. Sementara nama kratonnya, Majahapit yang dihubungkan dengan warna kuning, menunjukkan keberadaannya sebagai keturunan puteri kuning bernama Ratna Subanci. Karena alasan itu, o Liu Sung, aku menunjukmu untuk menjalankan tugas itu di situ,” kata Abdul Jalil tertawa.

Liu Sung mengangguk-angguk memahami penjelasan Abdul Jalil. Tetapi, sejenak setelah itu bertanya lagi, “Jika demikian, Tuan Syaikh tidak perlu susah-susah membuka Dukuh Lemah Abang di tempat lain. Sebab, sarana tu-mbal itu bisa dipasang di Bale Bang tempat payung khutlima jongbang itu diletakkan.”

“Itu memang benar. Dan aku akan menunjuk Raden Sulaiman untuk menjaganya.”

“Bagaimana dengan mandala putih? Apakah juga tidak perlu membuka Dukuh Lemah Putih?”

“Ya,” jawab Abdul Jalil singkat. “Sahabat kita Syaikh Jumad al-Kubra sekarang sedang menulis wafak di atas lempengan perak untuk ditanam di suatu tempat. Dan, sesuai tu-mbal, maka tempat itu akan dinamai Dukuh Salaka atau Perak.”

“Untuk mandala hitam?”

“Aku sudah memilih tempat di Watu Galuh, yaitu di tempat yang terdapat batu hitam yang disebut Watu Gilang, tempat Pu Sindok dulu dinobatkan sebagai raja. Di situlah sarana tu-mbal yang kubuat akan kutanam sebagai lambang mandala hitam. Dan sahabat kita Raden Sahid sekarang ini sedang menulis wafak pada karas tanah untuk ditanam di sana,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

Raden Sahid duduk termangu di sisi Abdul Jalil yang terbujur lemah di atas lembar-lembar daun jati. Malam itu, di tengah rintik gerimis yang membasahi bumi, dia menunggui Abdul Jalil yang sakit di dalam naungan gubuk kecil beratap alang-alang. Suasana sekitar yang gelap gulita diselimuti kabut terasa hening. Sepi. Lengang. Angin tak sedikitpun berembus. Hanya tetes-tetes air hujan yang jatuh dari atap gubuk ke bebatuan didengar Raden Sahid seperti suara gamelan yang ditabuh makhluk penghuni kegelapan. Di tengah kesendirian itu dia mencoba merangkai kembali gambaran-gambaran peristiwa yang dialaminya selama mengikuti Syaikh Lemah Abang melakukan perjalanan di pedalaman Nusa Jawa.

Setelah usai memasang tu-mbal di Wirasabha, dia mengikuti Syaikh Lemah Abang ke wilayah Daha. Raden Sulaiman dan Liu Sung tidak ikut sebab mereka berdua dinikahkan oleh Raden Kusen dengan dua puteri patih Wirasabha, Arya Timbul. Mereka berdua diminta tinggal di Wirasabha. Sementara itu, setelah Syaikh Lemah Abang dan rombongan sampai di tlatah Daha, mereka menghadap Patih Mahodara, yang kelihatan senang sekali bertemu dengan Syaikh Lemah Abang. Mereka berbincang-bincang dan bertukar pikiran sampai jauh malam.

Tidak berbeda dengan di Wirasabha, Syaikh Lemah Abang menempatkan tu-mbal di tempat-tempat yang tidak jauh dengan ksetra atau tempat pemujaan Sang Bhumi. Mula-mula, menanam tu-mbal di bekas Kraton Keling sebagai perlambang penyucian nafs al-Lawwammah Bhumi. Ini perlambang mandala Lemah Ireng. Setelah itu, menanam tu-mbal di tempat yang terletak di tepi Sungai Brantas. Tempat itu dinamai Putih sebagai perlambang nafs al-Muthma’inah Bhumi. Itu perlambang mandala Lemah Putih. Yang ketiga, menanam tu-mbal di bekas Ksetra Abobang (Jawa Kuno: kebusukan darah; Putikeswara merah) di kaki Gunung Hijo (Wilis). Yang terakhir, atas perkenan Patih Mahodara, Syaikh Lemah Abang membuka dukuh di kutaraja, tepatnya di tepi timur Sungai Brantas. Dukuh itu dinamai Kajenar (Kamuning).

Setelah empat puluh hari tinggal di Daha, menunggu Syaikh Lemah Abang menanam tu-mbal dan membuka mandala-mandala di sekitar Gunung Kamput (Kelud) dan Gunung Kawi, mereka melanjutkan perjalanan. Yang ditunjuk menjadi kepala Dukuh Kajenar di Daha adalah Kyayi Pocanan, bekas Poco (tokoh agama Syiwa-Budha), yang bersama-sama dengan empat puluh orang siswanya mengambil madiksha kepada Syaikh Lemah Abang. Sepanjang perjalanan menembus pedalaman Nusa Jawa itu, Raden Sahid berkali-kali mendapati Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil terheran-heran dengan kebiasaan hidup penduduk di pedalaman. Mereka heran dengan penduduk yang umumnya hanya mengenakan cawat dan para perempuan belum mengenal penutup dada. Mereka hanya menggeleng-geleng kepala ketika mengetahui kebiasaan penduduk yang jarang mandi dan suka sekali memakan makanan najis, seperti botok cindil (pepes anak tikus), botok ulat, trancam cacing, dendeng kucing, ular bakar, pindang anjing, lawar-lawaran (daging mentah), bahkan lalawar (darah mentah dengan parutan kelapa). Bahkan, mereka hanya bisa mendecakkan mulut ketika mendapati penduduk yang mengaku beragama Budo (Syiwa-Budha) itu ternyata para penyembah ruh-ruh penunggu hutan, mata air, air terjun, pohon besar, batu, kabuyutan, punden karaman, arwah leluhur, dan nyaris tak mengenal dewa-dewa Hindu.

Setelah berkeliling ke berbagai tempat untuk memasang tu-mbal atau membuka dukuh-dukuh, pada awal bulan kedua puluh tiga dari perjalanan tersebut sampailah mereka di kaki utara Gunung Mahendra (Lawu) yang membentang hingga aliran Bengawan Sori (Sungai Wisynu, sekarang Bengawan Solo). Saat itu hari sudah senja dan hujan turun dengan deras disertai embusan angin yang cukup keras. Masih segar dalam ingatan Raden Sahid bagaimana ia berlindung di balik pohon-pohon jati untuk menghindar dari serangan air hujan. Titik-titik hujan yang diembus angin itu dia rasakan bagaikan ribuan serangga menyengati wajahnya. Di tengah guyuran hujan yang makin lebat itu dia sempat menyaksikan suatu kenyataan yang mengherankan: di tengah amukan hujan dan angin dia melihat betapa surban, wajah, dan pakaian yang dikenakan Syaikh Lemah Abang tidak sedikit pun basah. Semuanya kering seolah-olah sang syaikh sedang tidak berada di tengah hujan. Tetapi, saat dia menanyakan keanehan tersebut, dalam sekejap semuanya mendadak berubah. Surban, wajah, dan pakaian yang dikenakan Syaikh Lemah Abang tiba-tiba basah kuyup dan tubuhnya terlihat menggigil kedinginan.

Sadar apa yang baru saja dilakukannya adalah sebuah kesalahan, Raden Sahid diam dan merasa menyesal dalam hati. Dia sadar segala sesuatu keanehan yang menyangkut keramat (karamah) seorang kekasih Allah merupakan rahasia kekuasaan Ilahi yang tidak boleh diukur dengan akal pikiran. Dia berjanji tidak akan pernah lagi bertanya tentang ini dan itu yang terkait dengan keanehan-keanehan yang dia saksikan pada diri Syaikh Lemah Abang maupun kedua orang sahabatnya.

Setelah hujan mereda dan mereka beristirahat di pinggir Bengawan Sori, dengan beratap langit dan pakaian basah, Raden Sahid melihat Syaikh Lemah Abang berdiri tegak dengan wajah menghadap ke selatan. Beberapa kali dia melihat mata sang syaikh dikecilkan seolah ingin menembus kegelapan yang menyembunyikan lengkungan-lengkungan garis bukit yang menghitam di kaki Gunung Mahendra yang tegak laksana raksasa duduk. Setelah cukup lama berdiri, dia melihat Syaikh Lemah Abang membalikkan badan ke arah utara sambil berkata-kata seolah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Di sinilah mandala yang empat (caturbhasa mandala) itu akan ditegakkan sebagai garis pembatas bagi kekuatan-kekuatan adiduniawi yang berkuasa di timur dan barat Nusa Jawa. Di sinilah mandala Siti Jenar (Sansekerta: Ksiti: tanah) akan ditegakkan. Di sinilah keakuan anak manusia bernama Abdul Jalil akan dianugerahi nama Abiseka Ksitiputra (Putera Sang Bhumi) dan akan dijadikan korban untuk santapan Mahasitisuta (Sansekerta: Putera Teragung Sang Bhumi), Sang Narakasura.”

Syaikh Jumad al-Kubra yang duduk di samping Raden Sahid terlihat gelisah mendengar kata-kata sahabatnya itu. Berkali-kali dia menarik napas panjang. Setelah suasana terasa hening, tiba-tiba dia berdiri mendekati Syaikh Lemah Abang. Kemudian dengan wajah diliputi kepedihan dia berkata penuh perasaan.

“Aku tidak paham dengan apa yang baru saja engkau ucapkan, o Saudaraku. Tetapi, dengan tindakan yang telah engkau lakukan selama ini: melukai tubuh dan menumpahkan darah di setiap mandala Lemah Abang, adalah sesuatu yang sebelumnya tak pernah terlintas di dalam pikiranku. Bahkan, ikatan perjanjian dengan Sang Bhumi yang sudah engkau lakukan di mandala-mandala kuning, bahwa engkau dan seluruh keturunanmu tidak akan menikmati kemakmuran bumi dan akan mengingkari kemasyhuran, adalah hal yang sulit dipahami. Bagaimana mungkin ada seorang manusia rela berkorban untuk kepentingan orang lain dengan memangkas seluruh pamrih pribadi hingga ke seluruh garis keturunannya? Padahal, yang banyak aku jumpai adalah manusia-manusia yang rela berkorban demi kejayaan keturunannya mendatang. Ini sungguh aneh dan tak terpahami, o Saudaraku.”

“Kini, di tengah keletihan tubuh yang melemahkan jiwa kita, setelah berkali-kali engkau menumpahkan darahmu di mandala-mandala Lemah Abang, tiba-tiba saja engkau mengatakan akan mempersembahkan keakuanmu untuk dijadikan santapan Mahasitisuta, Sang Narakasura. Aku tidak paham maksudmu, o Saudaraku terkasih. Apakah maksud ucapanmu itu? Siapakah yang engkau maksud dengan Mahasitisuta, Sang Narakasura itu?”

“Mahasitisuta, Sang Narakasura, adalah nama neraka,” sahut Syaikh Lemah Abang dingin.

“Nama neraka? Kami belum paham maksudmu, o Saudaraku.”

“Di dalam perikatan janjiku dengan Sang Bhumi, dalam kaitan dengan penyucian nafs al-Ammarah Bhumi, anasir api, yang haus darah dan madhu, keakuanku memang akan dibenamkan di bawah permukaan bumi sebagai Ksitisuta (putera bumi). Tetapi untuk penyucian nafs al-Lawwammah, Sufliyyah, dan Muthma’innah Bhumi, anasir tanah, air, dan angin, maka keakukanku akan dibenamkan terus hingga mencapai ke dasar neraka tempat persemayaman Sang Narakasura, yakni Sang Bhoma, putera Prthiwi. Keakuanku akan luluh dan tak berbentuk. Dengan begitu, siapa pun nanti tidak akan mengenal lagi keberadaanku. Itu berarti, jika tiba saatnya nanti, setiap orang wajib menghujatku sebagai manusia paling bejat, busuk, tengik, sesat, menyesatkan, dan tidak pantas menghuni tempat mana pun di jagat raya ini kecuali di neraka paling bawah,” kata Abdul Jalil tegas.

“Kenapa engkau menerima ikatan perjanjian itu?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra heran. “Bukankah engkau dianugerahi karamah yang memancar dari al-Karim? Bukankah engkau bisa menggunakan karamah yang tercurah pada dirimu itu untuk menekuk kekuatan Sang Bhumi? Kenapa engkau memilih jalan penistaan seperti ini?”

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, o Saudaraku terkasih. Aku juga tidak tahu kenapa aku memilih cara yang rumit dan berbelit-belit ini. Tapi, satu hal yang bisa kujelaskan kepadamu, bahwa zaman di mana kita hidup adalah zaman terjadinya perubahan besar-besaran dalam tatanan kehidupan di bumi. Suatu zaman di mana Sang Bhumi tidak lagi dihormati dan dimuliakan sebagai anasir pembentuk jasad manusia. Sang Bhumi tidak lagi dianggap sebagai sebagai Ibunda Suci. Sang Bhumi akan dianggap sebagai gudan perbendaharaan yang bisa diserbu, dikuasai, dirampok, dijarah, dan diperkosa untuk melampiaskan nafsu hewani manusia yang rendah.”

Sebagaimana hukum kauniyah yang berlangsung tetap atas tiap-tiap Sunnah Allah, Sang Bhumi akan meronta dan melawan terhadap siapa saja yang akan membinasakan dirinya. Itu berarti, hukum kauniyah yang menetapkan keseimbangan timbal balik atas sesuatu, memberi hak bagi Sang Bhumi untuk meminta imbalan kepada mereka yang menyerbu, merampok, menjarah, dan memperkosanya. Jika ada di antara manusia yang sudah paham dengan rahasia di balik hukum kauniyah itu kemudian dengan suatu kekuatan adikodrati akan melelikung kekuatan Sang Bhumi untuk membela diri, maka manusia itu telah berbuat zalim, meski ia seorang kekasih Allah.”

“Dalam beberapa kali perjumpaan ruhaniku dengan Sang Bhumi, aku melihatnya dalam keadaan sangat marah dan seolah-olah ingin menumpahkan amarahnya kepada manusia-manusia yang dianggapnya tidak tahu membalas budi. Aku menangkap sasmita, jika Sang Bhumi meledakkan amarahnya maka ia akan melakukannya secara berlebihan sehingga akan menimbulkan korban sangat besar yang akan mengenai pula manusia-manusia tak bersalah. Karena itu, o Saudaraku terkasih, apa yang aku lakukan dengan cara berliku-liku dan berbelit-belit ini tidak lain dan tidak bukan adalah suatu upaya anak manusia, putera Sang Bhumi, yang ingin menunjukkan bukti kepada Ibunda Bhumi, bahwa di antara segala makhluk ciptaan Allah pada dasarnya tidak ada yang melebihi kemuliaan manusia yang ditunjuk Allah sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Aku ingin menunjukkan kepada Sang Bhumi bahwa sebesar apa pun pengorbanan yang telah diberikannya dalam berkhidmat kepada makhluk yang lahir darinya, terutama terhadap putera-puteranya, manusia, tidakklah bisa melebihi pengorbanan putera-puteranya yang sudah sadar akan keberadaan diri sebagai khalifah Allah,” kata Abdul Jalil.

“Apakah tindakanmu itu bisa meredakan amarah Sang Bhumi?”

“Ya, aku yakin,” sahut Syaikh Lemah Abang tegas. “Allah telah menetapkan sebab-sebab untuk menjaga keseimbangan hukum kauniyah yang ditetapkan-Nya. Apa yang aku lakukan sesungguhnya hanya sebagian kecil sekali dari unsur-unsur yang menjadi penyebab terciptanya keseimbangan itu, termasuk meredanya amarah Sang Bhumi yang bisa menimbulkan keguncangan.”

“Sungguh, hanya seorang malamit sejati yang bisa melakukan tindakan sepertimu, o Saudaraku. Karena itu, sungguh tidak salah ketika guru suci kami Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi menganugerahi engkau dengan taj. Sungguh, aku akan bersaksi bahwa engkau seorang malamit sejati. Aku akan selalu berdoa kepada Allah supaya aku tidak diberi umur panjang sehingga aku tidak akan menyaksikan saudaraku terkasih didera hujatan dan caci maki manusia. Sungguh, aku tidak mampu menyaksikan peristiwa itu,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan mata berkaca-kaca.

Saat itu Raden Sahid melihat Syaikh Lemah Abang diam seolah-olah tidak mendengar ucapan Syaikh Jumad al-Kubra. Tetapi, sejenak setelah itu, dengan tatapan mata diarahkan ke gugusan bukit di lereng Gunung Mahendra yang membentang di selatan, dia melihat Syaikh Lemah Abang berkata, “Mandala Siti Jenar yang akan kita tegakkan ini belumlah akhir dari perjalanan. Bhumi Mataram (Sansekerta: Ibu Prthiwi) dan Kabhumian (Jawa Kuno: wilayah khusus Sang Bhumi) masih menunggu kita di sebelah barat. Artinya, kita masih harus mengucurkan darah kita dengan ikhlas dan tanpa pamrih supaya Ibunda kita itu malu.”

Syaikh Jumad al-Kubra tidak berkata-kata. Dia diam dan tidak tidur hingga pagi. Seiring terbitnya sang bagaskara di ufuk timur, Raden Sahid menyaksikan Syaikh Lemah Abang memulai pekerjaan membuka Dukuh Lemah Abang di antara kaki Gunung Mahendra dan Bengawan Sori. Tampaknya pekerjaan memasang tu-mbal di bakal Dukuh Lemah Abang kali ini sangat berat dibanding sebelumnya. Hal itu mulai terlihat gelagatnya ketika usai “mengucurkan darah” di atas sebongkah batu hitam, sebagaimana diisyaratkan Sang Bhumi, Raden Sahid melihat Syaikh Lemah Abang berjalan gontai tak tentu arah sambil menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Dia menduga saat itu sang syaikh sedang membaca doa-doa.

Ketika cahaya matahari sudah condong ke barat dan langit dipadati gumpalan awan hitam yang diselingi sambaran petir di angkasa, Raden Sahid mulai gelisah karena tidak melihat Syaikh Lemah Abang. Dengann hati diliputi kecemasan dia buru-buru menemui Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil yang sedang memasang tu-mbal di tepi Bengawan Sori, yaitu di tempat yang dinamai Siti Cemeng (Jawa Kuno: tanah hitam), yang diapit dua ksetra tempat pemujaan Dewi Prthiwi, Ksetra Bhumiaji dan Ksetra Malale. Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil terkejut mendengar laporan Raden Sahid. Mereka kemudian bergegas mencari Syaikh Lemah Abang ke mana-mana, namun tak juga ketemu. Menjelang tengah malam mereka baru menemukan tubuh Syaikh Lemah Abang tersungkur tak berdaya di pinggir sungai kecil tak jauh dari bakal Dukuh Lemah Abang. Tubuhnya menggigil panas dan bekas luka di tangannya terlihat merah membengkak.

Raden Sahid menarik napas panjang dan menyeka peluh yang membasahi kening Syaikh Lemah Abang. Ingatannya tentang peristiwa sakitnya Syaikh Lemah Abang dirasakannya sebagai bagian dari rasa bersalahnya terhadap sang syaikh. Andaikata malam itu dia tidak bertanya tentang pakaiannya yang tidak basah tertimpa hujan, tentunya sang syaikh tidak akan jatuh sakit. Bayangan Syaikh Lemah Abang yang menggigil kedinginan malam itu terus dirasakannya laksana hantu yang memburu ketenangannya. Bahkan, saat dia meyakini daun-daun dan akar-akar obat yang diborehkannya ke lengan Syaikh Lemah Abang itu mujarab untuk menyembuhkan luka, hatinya tetap diliputi kekhawatiran.

Perjalanan selama dua puluh tiga bulan di pedalaman Nusa Jawa memang telah menumbuhkan ikatan kuat di hati Raden Sahid terhadap Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jumad al-Kubra, dan Abdul Malik Israil. Dia merasakan ketiga orang itu, terutama Syaikh Lemah Abang, seolah-olah bagian dari hidupnya. Dia seperti sadar bahwa ketiga orang itulah yang diam-diam telah mengukir jiwanya dan menyingkapkan kesadarannya atas hakikat hidup manusia. Itu sebabnya, dia sangat khawatir dan bahkan takut jika salah satu di antara mereka akan meninggalkannya. Dan salah satu hal yang paling dikhawatirkannya saat ini adalah rencana Syaikh Lemah Abang untuk membuka Dukuh Siti Jenar baru di seberang Bengawan Sori. Dia khawatir jika salah satu syarat untuk membuka dukuh itu sama dengan syarat membuka Dukuh Lemah Abang, yaitu mengucurkan darah di atas batu hitam. Bukankah syarat itu jika dipenuhi akan mengancam keselamatan sang syaikh yang sedang sakit dan lukanya belum sembuh?

Ketika hari tergelap jatuh pada Anggara Kliwon, di suatu tempat angker bernama Ksetra Gandamayu yang terletak di pantai Laut Selatan di muara Sungai Opak, di tengah kepulan asap dupa dan wangi bunga, dalam selimut kabut tebal, tubuh Abdul Jalil yang dibungkus kain putih terlihat terbujur di atas altar persembahan dengan alas daun kemuning. Di sekitar tubuhnya terlihat beberapa jenis korban (bebanten) berupa ayam brumbun, ayam wiring, ayam putih, itik bulu sikep, angsa, kambing, gudel merah, kerbau, tuak, tumpeng, beras, dan bunga-bunga. Malam itu Ki Belawwalu, pemimpin Ksetra Gandamayu, mengadakan upacara bhuta yadna dengan menjadikan tubuh Abdul Jalil sebagai korban suguhan bagi para bhutakala. Di dalam upacara bhuta yadna itu, Abdul Jalil selain dijadikan sebagai pengganti anjing Bang Bungkem untuk santapan bhutakala di bawah Rudra, ia juga dijadikan babi kucit hitam untuk santapan bhutakala di bawah Bhattari Durga yang berkuasa di sebelah selatan yang disebut Susuhunan Ratu Kidul.

Selama menjalankan upacara bhuta yadna yang disebut juga caru palemahan atau bhumi-suddha itu, Ki Belawwalu didampingi kawan setianya, Ki Gagangaking, seorang bujangga Waishnawa. Dengan penuh khidmat kedua orang itu melakukan upacara yang mereka anggap dapat menyelamatkan kehidupan umat manusia dari gangguan para bhutakala. Sementara Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, dan Raden Sahid dengan wajah diliputi ketegangan duduk bersila di belakang Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking. Mereka tidak tahu apa yang bakal dialami oleh Abdul Jalil yang meminta dirinya dijadikan bebanten bagi bhutakala.

Raden Sahid yang duduk paling belakang, di tengah selimut kegelapan mengamati tubuh Abdul Jalil dari balik bahu Syaikh Jumad al-Kubra. Dia tidak bisa melihat apa pun di sekitarnya, kecuali tubuh Abdul Jalil yang remang-remang tergeletak di atas altar. Dia merasa seperti berada di alam mimpi. Benaknya penuh diliputi kelebatan tanda tanya. Hatinya tercekam kegelisahan. Jantungnya berdegup keras. Tenggorokannya terasa kering. Apakah sesungguhnya yang akan terjadi dengan Syaikh Lemah Abang yang menyerahkan diri sebagai bebanten, katanya dalam hati.

Ketika malam makin menyusup di bawah selimut kabut tebal, Raden Sahid merasakan betapa suasana makin lama makin mencekam. Dalam hening yang mencekam dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Dan dia merasakan jantungnya nyaris berhenti ketika telinganya mendengar suara lengkingan dahsyat membelah keheningan diikuti suara gemuruh sahut-menyahut, diiringi munculnya seberkas cahaya merah yang membalut api kuning dari tengah lautan. Sambil menggosok-gosok mata, dia membaca doa-doa dengan hati diliputi ketegangan.

Cahaya merah yang membalut api kuning itu terlihat makin mendekat ke arah altar. Ketika jaraknya bertambah dekat, terlihatlah ternyata cahaya merah itu dilingkari kabut hitam bergumpal-gumpal. Suasana makin mencekam ketika dari arah utara terdengar suara gemuruh yang diikuti munculnya cahaya kuning membalut api merah. Raden Sahid paham, munculnya cahaya dari arah selatan dan utara itu merupakan pertanda kemunculan makhluk-makhluk halus sebagaimana dijelaskan Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking beberapa waktu lalu. Dia paham bahwa cahaya yang membalut api itu adalah tengara dari kemunculan makhluk-makhluk yang disebut pisaca-pisaci, rakshasa-rakshasi, kalika-kaliki, yaksa-yaksi, bragala-bragali, kamala-kamali, bhutakala-bhutakali, magunda-magundi, tonyo, dan pemuka-pemukanya seperti Bhuta Dengen, Bhuta Kapiraga, Bhuta Janggit, Bhuta Langkir, Bhuta Taruna, Bhuta Tiga Shakti, Kala Sweta, serta Lembu Kere, juga para bhuta beserta kala pengikut Durga dan Kala Rudra.

Beberapa saat suasana terasa sunyi. Hening. Mencekam. Cahaya yang membalut api itu terlihat melayang-layang di dalam gumpalan kabut hitam yang tebal mendekati tubuh Abdul Jalil. Semua mata terarah ke tubuhnya. Dua cahaya dari arah berlawanan itu makin lama makin dekat. Tatkala jarak keduanya makin dekat, terlihatlah pemandangan menggetarkan, dua berkas cahaya yang membalut api itu ternyata menampakkan gambaran perwujudan makhluk-makhluk halus yang mengerikan. Sambil berteriak-teriak dan menjerit-jerit dengan suara hingar-bingar, perwujudan makhluk-makhluk mengerikan itu mengerumuni tubuh Abdul Jalil. Dalam sekejap tubuhnya sudah diselimuti gumpalan kabut hitam tebal yang berpendar menutupi cahaya. Tetapi, tanpa terduga-duga terjadi peristiwa aneh. Seberkas cahaya biru terang laksana pancaran kristal tiba-tiba memancar dari dada Abdul Jalil. Secara ajaib, gumpalan kabut hitam tebal yang menyelimuti tubuh itu menyemburat ke berbagai arah dengan suara hiruk pikuk bagaikan jeritan berjuta-juta setan di tengah bukit yang runtuh.

Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking yang sedang tenggelam dalam mantra-mantra terkejut bukan alang-kepalang ketika menyaksikan pemandangan menakjubkan itu. Mereka makin terkejut ketika merasakan tubuhnya seperti terangkat dari permukaan tanah. Dan serentak menjerit bersama ketika menyadari tubuhnya terlempar ke belakang dengan keras. Kemudian jatuh terguling-guling di atas tanah pasir berbatu. Dengan merangkak-rangkak, mereka berusaha kembali ke altar persembahan untuk melanjutkan upacara. Tetapi, saat itu dari arah samudera terdengar suara gemuruh ombak. Pancaran cahaya merah membalut api kuning yang dilingkari kabut hitam bergerak ke arah altar. Pada saat bersamaan terdengar pula suara gemuruh diikuti munculnya cahaya kuning membalut api merah yang dilingkari gumpalan awan hitam melesat ke arah altar. Raden Sahid yang bersembunyi di balik jubah Syaikh Jumad al-Kubra menyaksikan Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking menyembah sambil menyebut nama Ratu Susuhunan Kidul dan Sang Kala Rudra.

Melihat penampakan aneh itu, Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil menangkap sasmita tidak baik. Tanpa diperintah, mereka serentak bangkit sebab mengkhawatirkan keselamatan sahabat mereka, Abdul Jalil. Sambil membaca doa-doa penolak kekuatan jahat jin dan setan, mereka melangkah ke arah altar persembahan. Ketika jarak mereka tinggal sejangkauan, Syaikh Jumad al-Kubra menerkam tengkuk Ki Belawwalu yang bersila di kaki altar, sementara Abdul Malik Israil menjambak rambut Ki Gagangaking yang sedang bersujud.

Ki Belawwalu yang bertubuh pendek dan Ki Gagangaking yang bertubuh kurus itu tak berdaya dicengkeram tangan dua orang bertubuh lebih tinggi dan berkekuatan lebih dari mereka. Mereka hanya meronta sesaat, lalu diam seperti pasrah. Dengan wajah pucat mereka menunggu apa yang bakal mereka alami selanjutnya. Sementara itu, saat melihat keduanya berdiam diri, Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil secara hampir bersamaan melempar tubuh keduanya menjauhi altar seperti orang melempar barang jinjingan. Kemudian bagaikan berebut dengan waktu, mereka melompat ke arah altar untuk meraih tubuh Abdul Jalil yang terbujur dibungkus kain putih. Tetapi, sebelum mereka mencapai sisi altar, terjadi peristiwa aneh, tubuh mereka terpental dengan keras ke belakang. Terbanting dan bergulingan di dekat tubuh Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking yang telah lebih dulu terkapar di tanah berpasir.

Tak percaya dengan kenyataan, Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil serentak bangkit dan menerjang ke arah altar sambil meneriakkan takbir. Untuk kali kedua, tubuh mereka terlempar dengan sangat keras hingga terbanting dalam jarak sekitar sepuluh tombak dari altar. Tetapi, tanpa kenal jera mereka berdua bangkit kembali dan berusaha meraih tubuh Abdul Jalil. Dan seperti peristiwa semula, tubuh mereka selalu terlempar dengan keras ke arah belakang.

Ketika sadar usaha itu gagal, mereka pun menggunakan cara lain. Mereka menangkap tubuh Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking. Kemudian dengan langkah lebar mereka berlari ke arah altar dan melemparkan tubuh keduanya ke sisi altar. Terjadi peristiwa aneh yang menakjubkan, tubuh Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking yang terlempar keras itu membentur sisi altar dan jatuh terguling dengan kepala berdarah. Tetapi, secara bersamaan tubuh Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil tiba-tiba terpental lagi dan bergulingan di atas tanah. Saat mereka berusaha bangkit, kobaran api terbalut cahaya dan gumpalan awan hitam yang melesat dari arah selatan dan utara itu meluncur makin dekat ke altar.

Melihat bahaya mengancam Abdul Jalil, Raden Sahid yang dicekam kegentaran tiba-tiba panik. Tanpa berpikir akan keselamatan diri, dengan meneriakkan takbir sekeras-kerasnya dia melompat ke arah altar. Dia berpikir akan meraih dan menarik tubuh Abdul Jalil dari atas altar. Tapi, seperti nasib yang dialamui Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil, tubuh Raden Sahid terlempar keras ke belakang. Terguling-guling di atas tanah pasir berbatu. Sementara kobaran api terbalut cahaya dan gumpalan awan hitam itu bertambah dekat ke altar.

Ketika ketiganya dengan susah payah berusaha bangkit, tiba-tiba terlihat pemandangan tak terduga. Tubuh Abdul Jalil yang terbungkus kain putih dan membujur di atas altar bangkit dan duduk bersila dengan tetap berselimut kain putih. Suarah gemuruh bagai bukit runtuh dan halilintar yang bersahutan terdengar sambung menyambung seiring mendekatnya cahaya yang membalut nyala api itu ke arahnya. Di tengah suara gemuruh itu terdengar kata-kata lantang dari balik selimutnya.

“Dengan penuh keikhlasan aku persembahkan tubuhku kepada Dhari Durga, Ratu Susuhunan Kidul, penguasa arah mata angin selatan, sebagaimana telah aku persembahkan tubuhku kepada Sri Durga, penguasa timur, Raji Durga, penguasa utara, Suksmi Durga, penguasa barat, dan Dewi Durga, penguasa tengah. Dengan penuh keikhlasan aku persembahkan pula jiwaku kepada Sang Kala Rudra. Tetapi, ruhku yang suci aku pasrahkan kepada Hyang Tunggal, Tuhan sarwa sekalian alam, yang telah meniupkannya ke dalam tubuh-jiwaku. Bersatulah, o Dhari Durga dan Kala Rudra! Mangsalah aku! Semoga dengan pengorbananku ini akan lahir Sang Kala, zaman baru (amurwakala), zaman keselamatan (Islam) bagi umat manusia sebagai pengejawantahan keagungan Sang Pencipta (khalifah al-Khaliq) yang menata kehidupan di jagad raya dengan akhlaq yang mulia (al-Khuluq al-karim).”

Gumpalan kabut hitam yang membalut cahaya dari arah samudera dengan suara gemuruh menyerbu ke arah Abdul Jalil dan berpusar-pusar melingkarinya. Pada saat yang sama gumpalan awan hitam bersalut cahaya yang berpendar dari arah utara melesat ke arahnya pula. Terdengar suara dentuman menggelegar ketika kabut dan awan itu bertemu dan berpusar mengitari Abdul Jalil dengan cahaya berpendar-pendar. Putaran itu makin lama makin kencang. Setelah berlangsung beberapa jenak, terdengar ledakan dahsyat diiringi benderang cahaya dan menyemburatnya kabut dan awan hitam itu ke berbagai penjuru. Setelah itu, suasana sangat sepi. Sunyi. Lengang. Hening. Dan Abdul Jalil dengan wajah pucat pasi terlihat duduk termangu-mangu di atas altar seperti orang kebingungan.

Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, dan Raden Sahid yang melihat peristiwa aneh itu buru-buru mendekat dan bertanya dengan penuh rasa khawatir, “Bagaimana, Saudaraku, apakah engkau tidak apa-apa? Apa yang baru saja terjadi?”

Abdul Jalil menarik napas berat sambil melepas kain putih yang menutupi tubuhnya. Setelah diam sejenak, ia menoleh dan berkata, “Alhamdulillah, zaman baru bagi timbulnya matahari keselamatan (Islam) di Nusa Jawa sudah terbit. Tugas kita membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra sudah selesai. Berarti, munculnya Islam sebagai penyempurna Syiwa-Budha akan menjadi keniscayaan. Tetapi, sebagaimana hukum alam (Sunnah Allah) yang ditetapkan-Nya, para pelaku kejahatan moral, pelanggar kepantasan adab, dan pemuja benda-benda duniawi (thaghut) pada saat-saat tertentu akan tetap menjadi santapan kesukaan Durga, Kali, Prthiwi, para bhuta dan kala dalam pesta darah, meski mereka sudah mengaku Muslim.”

“Kenapa Dhari Durga dan Kala Rudra tidak memangsamu yang menyediakan diri sebagai korban?”

“Itu yang aku tidak mengerti,” kata Abdul Jalil. “Padahal, aku sudah benar-benar pasrah menyerahkan hidupku untuk mereka jadikan mangsa.”

Ketika Syaikh Jumad al-Kubra akan bertanya lebih dalam tentang peristiwa aneh yang baru dilihatnya itu, tiba-tiba Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking bangkit menghambur dan menyembah kepada Abdul Jalil. Dengan suara mengiba mereka bersujud dan memohon, “Perkenankanlah kami menjadi siswa Paduka Syaikh. Kami telah menyaksikan terbitnya zaman baru dengan keberhasilan Paduka Syaikh membuat tawar daya shakti Ratu Susuhunan Kidul dan Hyang Kala Rudra. Kami tahu Paduka Syaikh adalah pertanda zaman baru yang harus kami ikuti sebagai panutan. Terimalah kami sebagai siswa Paduka Syaikh.”

Abdul Jalil tersenyum dan berkata tenang, “Berdirilah kalian berdua. Syarat utama dari mereka yang menjadi siswaku adalah tidak bersujud kepada sesama makhluk, meski itu guru ruhani. Dan aku beri tahukan kepada kalian berdua bahwa sesungguhnya aku ini hanyalah alat saja dari Dia, Yang Mahakuasa, Yang Maha Berkehendak dalam mengubah tatanan alam semesta. Karena itu, jika kalian berdua telah menyaksikan sendiri lahirnya Sang Kala, yang menyinari jagad di Nusa Jawa ini dengan wajah-Nya yang baru, maka hendaknya kalian berdua mengikuti tatanan baru yang kubawa. Maksudku, kalian berdua hendaknya mengubah Ksetra Gandamayu ini menjadi tempat ibadah Keselamatan (as-Salam) bagi umat manusia. Kalian berdua harus tetap tinggal di sini dengan tugas utama mengajar kepada manusia ajaran Jawa, yaitu Tauhid. Ajarkan kepada semua orang agar mereka hanya menyembah kepada Hyang Tunggal.”

“Kami akan melaksanakan apa pun petunjuk dari Paduka Syaikh,” sembah Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking.

“Karena kalian akan mengajarkan Kejawan (Ketauhidan) kepada manusia maka kalian akan disebut orang dengan nama Syaikh Belawwalu dan Syaikh Gagangaking. Syaikh berarti guru ruhani. Dan setinggi-tinggi ajaran ruhani adalah ajaran Tauhid. Mengesakan Tuhan,” ujar Abdul Jalil.

Samudera Pacific (MV. Taho), 29 April 2007, 08:40LT