Ksatria dan Prajurit tuhan

Vasco da Gama, anak ketiga Estevao da Gama, penguasa kota Sines, adalah gantungan harapan raja Portugis, Manuel, untuk mewujudkan impian besarnya: menemukan jalur laut ke India.

Vasco da Gama sendiri adalah perwira muda angkatan laut Portugis berpangkat kapten mayor yang dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai manusia kejam, telengas, tak kenal ampun, dingin, suka menghina orang, dan ahli dalam menyiksa tawanan. Gambaran tentang Vasco da Gama sendiri bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sebab, bagi mereka yang paham perwatakan manusia berdasar bentuk wajah, tentu akan mengamini gambaran itu. Mata Vasco da Gama yang cekung ke dalam dan tersembunyi di bawah alis tebal bentuk pedang melengkung mencerminkan kerakusan dan keganasan serigala yang memendam hasrat tak terpuaskan dan penuh diliputi kebencian. Hidungnya yang bengkok paruh rajawali menyembunyikan kelicikan dan jiwa pendendam seekor ular yang bercabang lidahnya dan setiap ucapannya berbalut pamrih beracun. Tulang pipinya yang menonjol pada wajahnya yang tirus membiaskan keculasan dan kepura-puraan musang yang selalu mengintai kelengahan lawan. Bibirnya yang selalu terkatup sinis mengungkapkan kesombongan dan kekejaman buaya yang tak kenal ampun.

Sebagai anak seorang penguasa kota, Vasco da Gama dididik di lingkungan bangsawan yang penuh pujian dan sanjungan. Dalam usia muda ia sudah bekerja di Pengadilan Raja Joao II. Lantaran pekerjaannya itu, ia banyak mengenal para pelaku kriminal dan sampah masyarakat yang berurusan dengan pengadilan. Ia dikenal sangat kejam dan tak kenal ampun. Karena perangainya itu, Raja Joao II mengirimnya ke pantai barat Afrika untuk memperkuat benteng pertahanan di Benteng Setubal, Algarvia, dan koloni Portugis di pantai barat Afrika dalam upaya menghadapi serbuan armada Perancis yang akan menghancurkan jalur perniagaan Portugis di lautan. Selama menjalankan tugas di angkatan laut Portugis itulah reputasinya sebagai manusia kejam yang berdarah dingin makin termasyhur.

Impian menemukan negeri India sendiri adalah impian raja-raja Portugis terdahulu yang diwariskan begitu saja kepada Manuel. Henry, kakeknya, dan Joao II, ayahnya, sangat mempercayai kebenaran sebuah dongeng tentang keberadaan kerajaan Kristen bernama India yang letaknya di sebelah timur dunia Islam. Kerajaan itu dipimpin oleh Prestor Joao, seorang Kristen yang saleh. Entah dari mana dongeng tentang India itu berasal, kenyataan kemudian menunjuk bahwa dongeng itu telah menjadi sebuah impian dan bahkan menjadi pengharapan yang terus memburu mereka siang dan malam. India. Ya, India: kerajaan Kristen di negeri timur yang dilimpahi emas, permata, mutiara, sutra, rempah-rempah, susu, madu, dan gandum.

Sesungguhnya, bukan hanya raja-raja Portugis yang bermimpi bisa menemukan negeri Kristen yang bernama India itu. Raja Spanyol, Inggris, Italia, Belanda, Perancis, dan bahkan raja-raja kecil dari kekuasaan-kekuasaan gurem di Eropa beramai-ramai bermimpi bisa mencapai India. Sebab, telah terikat di dalam alam pikiran Eropa saat itu bahwa siapa saja di antara raja-raja yang bisa menguasai jalur perdagangan langsung dengan India, pasti akan menuai keuntungan berlimpah. Sebab, menjalin perniagaan langsung dengan India berarti akan memperoleh harga-harga barang yang murah dan sekaligus akan memotong jalur perniagaan di Laut Tengah yang selama itu dikuasai pedagang-pedagang Muslim. Dan yang lebih penting dari itu, mereka akan dengan mudah akan bisa mengajak raja India yang beragama Kristen itu untuk bersekutu melawan dunia Islam.

Impian tentang India sendiri nyaris menjadi kenyataan ketika Bartholomew Diaz dan Pedro Corvilhao yang dikirim Joao II berhasil mencapai Tanjung Harapan (Cabo Agulhas) dan menelusuri pantai timur Afrika. Tetapi, impian itu tinggal tergantung di awang-awang akibat Bartholomew Diaz tidak mampu mengatasi pemberontakan awak kapalnya yang menolak melanjutkan pelayaran ke India. Dengan kecewa Joao II menunjuk Estevao da Gama untuk memimpin armada Portugis ke India. Ternyata Estevao da Gama meninggal sebelum menjalankan tugasnya. Joao II lalu menominasikan Vasco da Gama, anak Estevao da Gama, untuk melanjutkan tugas ayahnya.

Ketika Manuel naik tahta menggantikan Joao II pada 1495, ia memutuskan untuk memilih orang yang telah dinominasikan oleh ayahnya: Vasco da Gama. Dalam sebuah audisi di Monte Moro-o-Novo, Manuel mendapati betapa Vasco da Gama adalah perwira muda yang jauh lebih kuat, lebih telangas, lebih dingin, dan lebih fanatik dibanding Bartholomew Diaz. Vasco da Gama lahir di Sines, Provinsi Alemtejo, Portugis, pada tahun 1469. darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah keluarga bangsawan da Gama, yaitu keluarga ksatria dari ordo St. James. Estevao da Gama, ayah Vasco, adalah ksatria ordo yang dianugerahi gelar Alcaide-Moor.

Keluarga da Gama bangga dengan kedudukannya sebagai ksatria perkasa pembela tuhan. Tak beda dengan keluarganya, Vasco da Gama juga menganggap dirinya adalah ksatria perkasa pembela tuhan. Ia sangat tercekam oleh gelar ayahandanya, Alcaide-Moor. Itu sebabnya, saat menghadapi armada Perancis di Setubal, Algarve, dan Guinea ia menganggap semua prajurit Perancis yang menjadi musuhnya sebagai musuh tuhan. Lalu termasyhurlah Vasco da Gama sebagai perwira paling kejam dan tak kenal ampun dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Ada suatu hal aneh yang terselip pada citra diri ksatria tuhan ini. Pertama-tama, meski mengaku keberadaan dirinya sebagai ksatria tuhan, ia tidak memiliki cukup pengetahuan yang mendalam tentang Tuhan dan jalan Tuhan. Bahkan, hari demi hari dilewatinya dengan ingatan kuat yang terarah pada kelimpahan benda-benda, jabatan, dan kemasyhuran nama pribadi. Tidak sedikit pun citra Kristus yang penuh kasih tercermin pada sikap hidup dan tindakan-tindakannya yang kejam dan tak kenal ampun itu. Sikap dan perilaku anehnya itu semakin tampak ke permukaan ketika Manuel menunjuknya sebagai pemimpin armada Portugis ke India.

Sebagai ksatria tuhan, ternyata ia tidak sedikit pun tertarik untuk didampingi oleh orang-orang yang saleh di antara bangsanya. Sebaliknya, sebagai ksatria tuhan, ia memilih pendamping para penjahat yang kejam, busuk, dan tengik. Di antara nama-nama ke-171 orang awak kapal yang mengikutinya, hampir seluruhnya narapidana atau sampah masyarakat yang terbuang dari lingkungannya akibat bertindak jahat dan kejam. Sepuluh orang di antara mereka itu justru para narapidana kelas berat yang sedang menjalani hukuman mati akibat merampok dan membunuh. Bahkan tangan kanan yang paling dipercayainya, Aires Correia, adalah pembunuh berdarah dingin yang termasyhur kekejamannya.

Pada 8 Juli 1497 Vasco da Gama membawa empat buah kapal ke India, yaitu Sao Gabriel, Sao Rafael, Berrio, dan sebuah kapal perbekalan dilepas oleh Raja Manuel dengan upacara kebesaran. Para penduduk dan keluarga awak kapal berdesak-desak memenuhi jalan-jalan kota dan pelabuhan. Mereka mengelu-elukan Vasco da Gama dan armadanya bagaikan pahlawan-pahlawan yang berangkat ke medan perang. Vasco da Gama sendiri dengan membusungkan dada berdiri di anjungan kapal Sao Gabriel yang dinakhodai oleh Goncalo Alvares. Di belakangnya bergerak kapal Sao Rafael yang dinakhodai saudaranya, Paulo da Gama. Kapal Berrio yang dinakhodai Nicolau Coelho berada di urutan ketiga dan yang paling belakang kapal perbekalan dinakhodai Goncalo Nunes.

Karena terlanjur mengagungkan diri sebagai ksatria tuhan, Vasco da Gama tanpa sadar telah terjerat oleh angan-angan kosong kebesaran diri (al-wahm) untuk menempatkan diri sebagai orang nomor satu yang menduduki tempat terdepan dan paling utama di antara manusia. Lantaran itu, dalam pelayaran mencari jalan laut ke India ia tidak mau disebut sebagai pelaut yang mengekor kemasyhuran Bartholomew Diaz. Saat berlayar ia memilih mengikuti angin ke arah barat laut, menyimpang dari jalur selatan dan tenggara yang dilalui Bartholomew Diaz. Akibatnya, seluruh awak kapalnya mengalami penderitaan yang nyaris membuat mereka putus asa karena harus menghadapi badai samudera Atlantik dan terseret hingga ke Cabo Verde, kepulauan Canary dan St. Helena. Setelah lebih empat bulan dihajar gelombang dan badai, barulah armada Vasco da Gama mencapai Tanjung Harapan pada 22 Desember 1497. Sungguh sebuah harga yang mahal untuk sebuah kesombongan mencari pengakuan diri. Sang ksatria tuhan telah menukar waktu tempuh pelayaran yang semestinya hanya dua minggu menjadi empat bulan lebih.

Sadar waktu telah dibuangnya dengan percuma, tanpa peduli saat itu menjelang Natal, Vasco da Gama memerintahkan awak kapalnya untuk melanjutkan pelayaran ke pantai timur Afrika dengan harapan dapat mencapai India tepat di hari Natal. Ternyata, pada saat Natal tiba armada yang dipimpinnya baru mencapai daerah di pantai timur Afrika yang kemudian ia namai Natal. Sebulan kemudian Vasco da Gama dan armadanya baru mencapai Sungai Quelimane di utara Natal. Ia kemudian menamai sungai itu Rio Dos Bons Sinais (sungai pertanda baik). Disitu Vasco da Gama beristirahat sekitar sebulan. Setelah itu ia melanjutkan pelayaran hingga mencapai Mozambique pada 2 Maret 1498.

Di Mozambique, para awak kapal Portugis merasa sangat terpukul ketika mendapati pedagang-pedagang Mozambique kebanyakan Muslim dan mereka menjual barang-barang mahal dan mewah seperti keranjang mutiara, lonjoran gading, balok-balok kayu hutan kualitas utama, dan emas batangan. Dengan congkaknya para pedagang Mozambique menyatakan bahwa mereka hanya mau menukar barang dagangannya dengan rempah-rempah asal India, porselen Cina, permata Persia, dan bahan kain yang bagus. Sementara barang-barang dagangan yang dibawa kapal-kapal Portugis yang berupa kerudung dari bahan katun, kain bergaris, genta timah, gelang tembaga, waskom pencuci tangan, dan manik-manik dari bahan beling ditertawakan oleh pedagang-pedagang Mozambique sebagai barang murahan dan sedikit pun tidak dihargai. Sadar bahwa barang dagangan yang dibawanya memang murahan, akhirnya dengan sangat terpaksa, awak kapal Portugis menukar barang dagangannya dengan buah-buahan, sayur mayur, dan burung dara. Dan saat menyantap makanan tersebut, mereka menghibur diri dengan menganggap makanan itu sebagai “angin segar” Afrika.

Vasco da Gama sendiri selaku kuasa dagang Portugis yang mengaku wakil raja Portugis, Manuel, disambut dan dijamu oleh Sultan Mozambique dengan sangat ramah. Sultan menduga Vasco da Gama pastilah saudagar kaya raya yang ditunjuk raja Portugis untuk membuka hubungan dagang dengan Mozambique. Sultan Mozambique yang berkulit hitam, tampan, dan bertubuh tegap itu menyambut Vasco da Gama dengan tata cara kebangsawanan. Dalam menyambut Vasco da Gama, dia mengenakan pakaian kebesaran seorang sultan: memakai celana putih hingga menutupi mata kaki. Mengenakan mantel biru bersulam kembang dan benang emas yang panjangnya hingga ke lutut. Ikat pinggangnya dari sutra bersulam benang emas, disitu terselip pisau dan pedang bergagang perak. Mahkotanya dari sutra aneka warna yang dibiasi sulaman benang emas.

Vasco da Gama paham, segala kemewahan pakaian bangsawan yang dikenakan oleh Sultan Mozambique adalah hadiah dari para saudagar yang datang ke negeri itu. Ia sadar, armada yang dipimpinnya tidak memiliki cukup barang-barang mewah untuk diberikan sebagai hadiah kepada sultan, kecuali dagangan yang mau dijualnya ke India. Selain itu, ia tidak menganggap perlu memberi hadiah berlebih kepada penguasa kulit hitam yang seharusnya menjadi budak itu. Demikianlah, dengan kepongahan seorang ksatria tuhan yang agung, Vasco da Gama memberikan hadiah kepada Sultan Mozambique seolah-olah memberi sedekah seorang gelandangan: selembar kain kerudung merah, genta timah, dan gelang tembaga.

Vasco da Gama memang bukan saudagar. Ia adalah perwira angkatan laut Portugis yang terkenal kejam, sombong, dan suka merendahkan orang. Ia adalah manusia yang tercekam oleh angan-angan kosong sebagai ksatria tuhan yang berkedudukan paling tinggi di antara manusia. Lantaran itu, ia tidak mengira jika Sultan Mozambique berkulit hitam itu merasa tersinggung ketika diberinya hadiah barang murahan yang dibangga-banggakan bangsanya itu. Bahkan, ia merasa heran ketika dalam tempo yang sangat singkat tersebar kabar di antara pedagang-pedagang Mozambique yang menyatakan bahwa orang-orang Portugis yang datang itu bukanlah saudagar-saudagar kaya utusan raja Portugis yang ingin berniaga, melainkan bajak laut yang berniat merampok. Sultan yang tidak ingin kerusuhan pecah di wilayahnya akibat kehadiran armada Portugis yang dicurigai penduduk sebagai kawanan bajak laut itu, meminta Vasco da Gama untuk secepatnya meninggalkan negerinya.

Dengan api amarah yang mengobari jiwanya akibat diusir secara halus oleh orang-orang kulit hitam, Vasco da Gama bergegas meninggalkan Mozambique. Tetapi saat kapal-kapalnya sudah berada di pantai, ia memberi peringatan kepada sultan dengan menembakkan meriam ke arah kota. Setelah itu ia melanjutkan pelayaran ke utara. Sepanjang pelayaran ke utara itu, Vasco da Gama melampiaskan amarah dengan menyerang setiap kapal dagang yang ditemui dan kemudian merampas muatannya. Kapal-kapal dagang di kawasan pantai timur Afrika yang tidak dilengkapi persenjataan itu dengan mudah dilumpuhkan dan dirampas muatannya oleh armada Portugis. Tetapi, dengan tindakan itu, dalam waktu singkat telah tersebar kabar di antara pedagang-pedagang Arab dan Afrika tentang serangan kawanan bajak laut kulit putih di samudera. Demikianlah, kabar itu terus menyebar dari mulut ke mulut sehingga saat Vasco da Gama sampai ke Mombasa, sultan dan para pedagang serta penduduk kota tersebut menunjukkan sikap curiga dan tidak bersahabat. Vasco da Gama pun buru-buru meninggalkan Mombasa karena ia tahu tidak akan bisa menjalin perdagangan yang baik dengan penguasa negeri itu.

Pada 14 April 1498 Vasco da Gama sampai ke Malindi. Ternyata, tidak berbeda dengan Mozambique dan Mombasa, penduduk Malindi pun kebanyakan Muslim dan perniagaan besar dikuasai orang-orang Arab. Tetapi, agak beda denga di Mozambique dan Mombasa, Vasco da Gama disambut baik oleh penguasa Malindi, yang merasa terancam oleh serangan penguasa Mozambique dan Mombasa. Penguasa Malindi menyambut baik persekutuan dengan Portugis dan kemudian memberikan seorang nakhoda Muslim yang handal yang telah berkali-kali berlayar ke India, Ahmad Ibnu Majid. Vasco da Gama dan awak kapalnya tentu sangat bergembira sebab mereka akan dipandu oleh seorang nakhoda yang sudah sering berkunjung ke India. Itu berarti, mereka sudah pasti menjadi pelaut Eropa pertama yang menemukan India.

Selama tinggal di Malindi, Vasco da Gama bertemu dengan saudagar-saudagar Majapahit yang mereka kira orang-orang India. Awak kapal Vasco da Gama mencatat, selama di Malindi mereka bertemu dengan orang-orang berpenampilan aneh yang membawa empat kapal niaga yang aneh bentuknya. Belum pernah ia melihat kapal-kapal seperti itu. Para pemilik kapal aneh itu rambutnya panjang digelung dan tubuhnya tidak ditutupi pakaian kecuali kain penutup sebatas pinggang. Karena menyangka orang-orang aneh itu adalah penduduk India beragama Kristen, Vasco da Gama berusaha menjalin persahabatan dengan mereka. Dengan dikawal beberapa awak kapalnya, Vasco da Gama mendatangi kapal-kapal aneh itu. Ternyata, di dalam kapal ia melihat patung-patung dewi yang dipuja para saudagar tersebut. Ia mengira itulah patung Bunda Maria. Tetapi, ia heran ketika diberi tahu para pedagang itu tidak makan daging. Di kapal itu Vasco da Gama ditawari dagangan cengkeh dan pala yang katanya banyak tumbuh di negeri mereka.

Dengan bantuan Ahmad Ibnu Majid, nakhoda Arab asal Malindi, Vasco da Gama dalam tempo hanya dua puluh tiga hari sudah sampai ke pantai Malabar tepatnya di lepas pantai Kozhikode (Calicut). Saat itu tepat tanggal 18 Mei 1498. ke empat kapal Portugis itu tidak buru-buru menuju pelabuhan Kozhikode, tetapi melempar sauh beberapa mil dari kota perniagaan itu. Matahari yang bersinar terang menebarkan jutaan cahaya perak di permukaan gelombang. Tiang-tiang kapal di seputar pelabuhan Kozhikode terlihat berjajar bagaikan pagar tombak yang bergoyang-goyang melingkari kota dari arah laut.

Dari arah dermaga tiba-tiba meluncur sebuah perahu kecil pemandu yang datang mendekat. Vasco da Gama yang tercekam oleh pengalaman selama pelayaran menuju India diam-diam menaruh curiga terhadap perahu itu. Lantaran itu, ia tidak buru-buru mengikuti isyarat dari perahu pemandu untuk merapatkan kapal-kapalnya ke dermaga. Sebaliknya, ia mengirim salah seorang awak kapalnya, Joao Nunes, untuk mendarat dan menyelidiki keadaan di kota Kozhikode. Joao Nunes adalah salah seorang dari sepuluh penjahat besar yang dijatuhi hukuman berat, namun dia diajak Vasco da Gama berlayar ke India untuk menjalankan tugas-tugas berbahaya.

Setelah dua hari berada di kota Kozhikode, menjelang senja Joao Nunes naik ke atas kapal. Vasco da Gama menyambutnya dengan bertolak pinggang sambil bertanya acuh tak acuh, “Bagaimana hasilmu selam di daratan?”

“Saya bertemu dua orang Moor yang bisa berbahasa Spanyol dan Italia, Tuan,” kata Joao Nunes melapor. “Mereka bercerita banyak tentang negeri Kozhikode, Tuan.”

“Mereka cerita tentang apa saja?”

“Mula-mula mereka tanya saya, kenapa saya bisa ada di Kozhikode. Lalu saya jawab bahwa saya di India mencari orang-orang Kristen dan rempah-rempah. Mereka bilang, di India tidak ada orang Kristen. Orang Islam pun di Kozhikode sangat kecil jumlahnya, namun mereka menguasai perniagaan.”

“Tunggu!” sergah Vasco da Gama. “Mereka bilang orang Islam di sini sedikit jumlahnya?”

“Benar tuan.”

“Setelah itu, mereka bilang apa lagi?”

“Saya disuruh bersyukur kepada Tuhan karena bisa datang ke negeri yang makmur dan kaya raya penuh dilimpahi permata dan rempah-rempah ini.”

“Apalagi mereka bilang?”

“Portugis akan susah bersaing di India, Tuan.”

“Alasannya?”

“Saudagar-saudagar yang berniaga di India adalah saudagar-saudagar kaya yang memiliki barang-barang perniagaan mahal dan bermutu. Sedangkan Portugis, menurut mereka, saudagar-saudagarnya melarat dan barang-barang dagangannya murahan, Tuan,” ujar Joao Nunes.

“Kurang ajar. Mereka menghina kita.”

“Ya, Tuan. Mereka kurang ajar, Tuan. Sungguh kurang ajar mereka itu, Tuan.”

“Apakah engkau sudah menemui penguasa Kozhikode?” tanya Vasco da Gama.

“Sudah, Tuan.”

“Apakah dia seorang Kristen?”

“Kelihatannya Kristen, Tuan,” kata Joao Nunes. “Tetapi dia agak bodoh.”

“Agak bodoh bagaimana?”

“Dia membiarkan pedagang-pedagang Muslim menguasai jalur perniagaan di negerinya.”

“Begitukah?” gumam Vasco da Gama. “Apakah dia raja yang kaya raya?”

“Tentu saja, Tuan,” kata Joao Nunes menjelaskan. “Tampilannya mirip dengan pedagang cengkeh dan merica yang kita temui di Malindi. Tapi, kulitnya lebih hitam. Dia duduk di atas takhta. Tubuh bagian atasnya tidak ditutupi kain, tetapi penuh dengan perhiasan. Rambutnya digelung dengan ikatan tali untaian mutiara. Saya heran, Tuan, karena mutiara yang dipakainya sebesar biji kemiri. Seluruh jarinya penuh dengan cincin emas bermata mirah, zamrud, dan intan. Kalung yang melingkar di lehernya diganduli permata mirah delima dan zamrud ukuran besar. Dia terus menerus mengunyah sirih dan meludahkannya pada cerana emas yang dihias permata. Orang menyebutnya Zamorin.”

Vasco da Gama diam. Bayangan kegagalannya menjalin hubungan baik dengan sultan Mozambique, akibat ia terlalu melarat untuk memberi hadiah yang pantas, tiba-tiba berkelebat memasuki benaknya. Ia sadar, barang dagangan yang dibawanya adalah barang-barang murahan dibanding barang dagangan di Mozambique dan India. Ia sadar negerinya terlalu melarat dibandingkan Mozambique, apalagi India. Lantaran tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan Sultan Mozambique, ia memutuskan untuk memberi hadiah yang lebih banyak kepada Zamorin, sang penguasa Kozhikode.

Joao Nunes, bajingan dekil yang dipungut Vasco da Gama dari penjara karena dihukum berat akibat merampok dan membunuh, adalah pembual tengik yang tak berbeda dengan bajingan Portugis lain. Dia suka mengarang cerita tentang kehebatan diri dan keluarganya. Kebiasaan membual itu terbawa saat ia sedang menjalankan tugas berat mewakili Vasco da Gama menemui penguasa Kozhikode, Raja Samaritu. Di depan raja yang dianggapnya bodoh itu dia membual melebihi batas. Dia mengarang cerita-cerita bohong tentang keluarganya yang kaya dan terhormat. Dia membual tentang kekayaan rajanya, Manuel, yang tidak ada tara dan bandingnya di dunia. Dia membual tentang kekayaan negerinya, Portugis, yang dilimpahi emas, perak, mutiara, permata, gandum, susu, minyak zaitun, dan madu. Dia membual pula tentang kehebatan pemimpinnya, Vasco da Gama, ksatria tuhan, Alcaide Moor, yang membawa misi suci mencari Raja India beragama Kristen. Bahkan lebih konyol lagi, dia membual tentang barang-barang berharga yang dibawa armadanya.

Samaritu, penguasa Kozhikode, ternyata sangat mempercayai bualan Joao Nunes. Sepanjang Hidup, para utusan dagang dari berbagai negeri yang datang untuk berniaga di Kozhikode berasal dari negeri-negeri kaya yang membawa dagangan-dagangan bermutu tinggi. Dan akibat mempercayai bualan Joao Nunes, Samaritu menyambut kedatangan Vasco da Gama, duta Raja Portugis, dengan upacara kebesaran. Begitu turun dari kapal, Vasco da Gama yang diiringi tiga belas awak kapal disambut oleh sekitar dua ratus prajurit India yang membawa musket (senapan) dan pedang terhunus. Vasco da Gama kemudian dinaikkan ke atas tandu dan dipikul keliling kota dengan tembakan kehormatan ke udara. Awak kapal Portugis yang menyaksikan upacara penyambutan itu dengan terheran-heran menggumam, “Mereka lebih menghormati kita daripada raja-raja kita.”

Sebagai ksatria tuhan yang otaknya sudah diikat dengan keyakinan membuta bahwa penduduk India beragama Kristen, Vasco da Gama sangat yakin bahwa orang-orang India adalah penganut Kristen. Itu sebabnya, ia menganggap wajar penyambutan besar itu dilakukan untuknya sebagai wakil kerajaan Kristen di Barat. Bahkan saat ia diturunkan dari atas tandu untuk mengunjungi sebuah kuil yang besar dengan pilar-pilar tegak menjulang, ia menduga kuil itu sebuah katedral. Patung-patung dewi yang ada di kuil itu dianggapnya sebagai patung Bunda Maria. Telinganya seolah-olah mendengar seruan Maria! Maria! didengungkan orang dari dalam kuil. Sementara itu, gambar dewa-dewi yang menghiasi dinding kuil ia kira gambar para santo, karena di dalam dongeng-dongeng yang pernah didengarnya, beberapa santo memang memiliki lengan empat atau lima sebagaimana gambar dewa-dewi di kuil itu.

Tidak jauh berbeda dengan Joao Nunes, anak buahnya, Vasco da Gama, sang ksatria tuhan itu, dihadapan Samaritu juga membual tentang keagungan, kemuliaan, kekuatan, kekayaan, dan kejayaan rajanya, Manuel. Karena sebelumnya sudah mendengar cerita Joao Nunes, Samaritu makin meyakini bualan Vasco da Gama tentang kehebatan Raja Portugis Manuel. Dengan suka cita Samaritu berkata, “Kami menyambut baik persahabatan dengan raja Anda. Kami secepatnya akan mengirimkan seorang duta ke Portugis.”

Sekembalinya dari menghadap Samaritu, Vasco da Gama dan anak buahnya merayakan keberhasilan misinya. Mereka menganggap tugas mereka sukses. Semalaman mereka berpesta-pora menenggak anggur di atas kapal hingga mabuk. Kegembiraan mereka mendadak pupus manakala keesokan harinya secara tiba-tiba Samaritu berubah sikap, tidak mempercayai Vasco da Gama dan bahkan mencurigainya sebagai pemimpin kawanan bajak laut yang menyamar sebagai utusan raja. Awal ketidakpercayaan penguasa Kozhikode terhadap Vasco da Gama berlangsung sehari setelah upacara penyambutan yang megah itu. Dalam pertemuan itu, Vasco da Gama mempersembahkan hadiah yang dinilainya lebih banyak dan lebih pantas daripada yang pernah diberikannya kepada Sultan Mozambique. Kepada raja Kozhikode itu, ia persembahkan hadiah dua belas lembar kain bergaris, empat lembar kerudung merah, enam topi, empat gelang kerang, enam baskom pencuci tangan, dua tong kecil minyak zaitun, dan madu.

Samaritu, raja Kozhikode, yang sebelumnya sudah tercekam oleh bualan Joao Nunes dan Vasco da Gama tentang kehebatan Raja Manuel sangat terkejut melihat persembahan hadiah yang diterimanya. Sungguh, ia tidak menduga jika utusan dagang kerajaan Portugis yang katanya terkaya di dunia itu hanya memberi hadiah senilai sampah. Ia merasa telah dibohongi oleh orang-orang Portugis dekil yang membualkan kehebatan dan kekayaan rajanya. Padahal, sebagai utusan raja, mereka telah menunjukkan kenyataan memalukan: sangat dekil dan melarat. Sepanjang hidupnya, belum pernah Samaritu menemui utusan raja yang begitu dekil dan tengik seperti Vasco da Gama dan Joao Nunes, yang mempersembahkan tumpukan sampah kepadanya. Bahkan, syahbandar Kozhikode yang peranakan Arab menertawakan hadiah itu dengan berkata sinis kepada Vasco da Gama, “Pedagang Arab dari Makah yang paling miskin atau pedagang paling miskin dari negeri lain selalu memberi hadiah lebih banyak daripada yang Anda persembahkan ini. Jika mau berniaga di sini, persembahkan hadiah emas kepada Raja.”

Sejak Samaritu tidak mempercayai Vasco da Gama dan seluruh awak kapalnya, hampir semua pedagang di Kozhikode menolak untuk berdagang dengan mereka. Vasco da Gama yang sudah jauh dari negerinya tidak bisa membeli rempah-rempah kecuali segenggam lada dan cengkeh. Para pedagang seperti bersepakat menyatakan bahwa barang dagangan awak Portugis tidak cukup pantas untuk ditukar dengan barang-barang mahal India. Vasco da Gama mendengar barang dagangannya dinista. Ia makin marah ketika mendapat laporan bahwa pedagang-pedagang Muslim telah mempengaruhi pedagang-pedagang Kozhikode untuk tidak melakukan jual-beli dengan mereka. Dengan gigi gemeletuk menahan amarah, ia berjanji akan membasmi kekuatan Muslim di seluruh India.

Bagi orang-orang yang alam pikirannya sudah terjerat angan-angan kosong kebesaran diri (al-wahm) seperti Vasco da Gama, pandangannya terhadap kehidupan di dunia menjadi sangat terbatas karena tertutup oleh keakuan yang sempit menyesakkan. Lantaran itu, Vasco da Gama cenderung melihat tatanan kehidupan dunia sebagai rana yang sempit. Cakrawala pandangannya hanya terbagi atas dua bagian besar: hitam dan putih, atas dan bawah, benar dan salah, baik dan buruk, lurus dan sesat, patuh dan membangkang, saleh dan murtad, menang dan kalah, surga dan neraka. Di atas itu semua, ia akan menempatkan diri pada kedudukan yang paling atas.

Dengan pandangannya yang terpilah hitam-putih itu, menjadi wajarlah jika seorang Vasco da Gama menganggap kehidupan di dunia ini hanya diwarnai oleh dua kekuatan besar yang saling bertarung: Islam dan Kristen. Ia tidak tahu jika di dunia ini ada Hindu, Budha, Syiwa-Budha, Konghucu, Sinto, dan beratus-ratus kepercayaan yang dianut manusia. Dengan kepicikan pandangannya, ia menyimpulkan bahwa boikot perdagangan yang dilakukan pedagang-pedagang Kozhikode pada dasarnya disebabkan oleh kebencian orang-orang Islam terhadap Kristen. Vasco da Gama tidak mengetahui jika bagian terbesar pedagang Muslim di Kozhikode adalah abdi maharaja Wijayanagara yang beragama Hindu. Pedagang-pedagang Muslim yang disebut orang-orang Mappila itu, meski beragama Islam, dari generasi ke generasi telah mengabdi kepada penguasa Wijayanagara. Karena itu, ketika Samaritu yang merupakan bawahan maharaja Wijayanagara memerintahkan pedagang Muslim Mappila untuk tidak berniaga dengan Portugis, tentu perintah itu akan mereka laksanakan dengan patuh.

Ketidakpahaman Vasco da Gama, sang ksatria tuhan, terhadap tatanan kehidupan di India yang menghormati dan menghargai keragaman agama ternyata menjadi awal lahirnya kebencian penduduk terhadap mereka. Selama berabad-abad hampir setiap orang yang tinggal di India, termasuk orang-orang yang beragama Islam dari berbagai negeri yang dikenal sebagai penyiar agama paling militan, memiliki anggapan bahwa masalah agama adalah masalah kebebasan pribadi. Masalah petunjuk Ilahi (hidayah) untuk beroleh kebenaran adalah urusan Tuhan. Tidak boleh ada paksaan dalam agama. Yang mereka temukan dalam perselisihan agama di India justru pertikaian di dalam masalah madzhab agama-agama, seperti antara Sunni dan Syi’ah, Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Ismailiyyah, Hindu pemuja Wisynu dan Hindu pemuja Syiwa, Budha Mahayana dan Hinayana.

Kenyataan tentang tidak dimasalahkannya hal agama yang berbeda-beda di India memang sudah disaksikan sendiri oleh awak kapal Portugis. Mereka sempat terheran-heran dengan keakraban para saudagar dari berbagai jenis bangsa yang berbeda-beda agama itu. Mereka sempat heran menyaksikan saudagar-saudagar Muslim asal Sokotra, Malindi, Mozambique, Mombasa, Yaman, Hijaz, Basrah, Baghdad, Mesir, Maroko, Habsyi, Hamadan, Hormuz, Ahwaz, Isfahan, Gujarat, Bengali, Wijayanagara, Pasai, Malaka, Aceh, Jawa, dan Cina berniaga dengan saudagar-saudagar bukan Muslim asal Pegu, Siam, Cina, Jawa, Sunda, Bugis, Luzon, dan Ryu-kyu di bandar-bandar perniagaan seperti Calicut, Cochin, dan Goa. Mereka juga heran karena umumnya para saudagar yang berasal dari beragam bangsa itu menggunakan pengantar bahasa Melayu dan Arab dalam berniaga, di samping menggunakan pengantar bahasa Hindi. Sayangnya, apapun kenyataan yang mereka saksikan, akibat otak mereka sudah diikat kefanatikan buta, mereka tetap menganggap orang-orang yang bukan Muslim itu adalah Kristen.

Vasco da Gama sering terlihat menggeleng-gelengkan kepala, menyesali ketololan raja-raja India, terutama ketika ia diberi tahu oleh awak kapalnya bahwa maharaja Wijayanagara yang beragama “Kristen” itu memiliki pasukan pengawal khusus yang tangguh dan terkenal kesetiaannya, yaitu pasukan yang anggota-anggotanya adalah orang-orang Muslim dari suku Mappila. Tidak tanggung-tanggung, jumlah pasukan khusus itu sekitar 2.000 orang. Sedangkan pada pasukan reguler Wijayanagara terdapat sekitar 10.000 orang prajurit Muslim. Pasukan-pasukan Muslim itu sudah dibentuk sejak era Maharaja Dewaraya I (1397 – 1426 M). Bahkan, Vasco da Gama sempat tak percaya ketika diberi tahu bahwa salah seorang menantu Maharaja Dewaraya I yang bernama Firuz Khan adalah raja dari kerajaan Islam dinasti Bahmanidi Deccan.

Selain terheran-heran dengan keragaman agama di India, Vasco da Gama dan awak kapalnya nyaris tidak percaya ketika mengetauhi keberadaan ibu kota Wijayanagara, Hampi, yang menurut mereka jauh lebih luas dan lebih tertata rapi serta lebih megah dibanding kota-kota di Eropa. Ya, sebuah kota raya yang dikelilingi tujuh benteng megah dan kuat. Di dalamnya terdapat empat pasar besar tempat para pedagang menjual berbagai jenis buah, seperti jeruk, nenas, anggur, sayur-mayur, ayam, babi, minyak, bunga, berbagai jenis kain, perhiasan emas, permata, mutiara, intan, bermacam jenis rempah-rempah seperti lada, cengkeh, kapulaga, pala, bahkan di situ dijual pula budak-budak. Penduduk yang tinggal di situ anggota tubuhnya penuh dengan perhiasan emas dan permata yang jumlahnya sangat berlebihan menurut ukuran Eropa. Sungguh suatu kemakmuran luar biasa yang tak pernah mereka saksikan di negeri Eropa mana pun yang pernah mereka kunjungi.

Keterpesonaan Vasco da Gama dan awak kapalnya terhadap kemegahan dan kemakmuran kota-kota di India, terutama ibu kota Wijayanagara, ternyata tidak berlangsung lama. Saat mereka mendapati kenyataan betapapedagang Muslim di situ sangat dihormati penduduk, rasa iri dan sakit hati pun membara dan membakar jiwa mereka. Mereka sangat menyesali kebodohan raja-raja India yang beragama “Kristen” itu dalam memberi tempat yang begitu terhormat kepada pedagang-pedagang Muslim. Rasa sesal mereka terhadap raja India itu berubah menjadi kemarahan ketika pejabat syahbandar Kozhikode, yang keturunan Arab, atas perintah Samaritu, mempermasalahkan biaya sandar kapal-kapal mereka. “Sebagai jaminan untuk membayar biaya sandar, kapal-kapal tuan akan kami tahan,” begitu petugas syahbandar itu berkata.

Vasco da Gama marah. Ia adalah ksatria tuhan. Ia putera Alcaide-Moor. Ia tidak pernah direndahkan orang seperti itu, apalagi oleh orang Arab. Lantaran itu, ia membalas tindakan syahbandar Kozhikode dengan memerintahkan awak kapalnya untuk menyandera puluhan penduduk Kozhikode beragama “Kristen”. Tindakan Vasco da Gama itu tentu saja mekin meningkatkan kebencian penduduk terhadap Portugis, meski perundingan berhasil dicapai. Setelah dilakukan kesepakatan, kemudian saling melepas sandera, Vasco da Gama dan kapal-kapalnya tidak mungkin legi bisa berniaga di Kozhikode.

Setelah tinggal di Kozhikode sekitar tiga bulan, pada Agustus 1498, setelah disarankan oleh Aires Correia, pembunuh berdarah dingin kepercayaannya, Vasco da Gama dengan kemarahan dan kekecewaan berat meninggalkan Kozhikode, “Kerajaan Kristen” yang telah ditemukannya itu. Ia merasa dirinya sebagai orang yang gagal. Ia marah. Tetapi, ia tidak tahu harus marah kepada siapa. Walau begitu, ia cukup berbesar hati karena selama tinggal di Kozhikode, diam-diam ia telah singgah di pulau Anjidiv, dekat Goa, dan membeli sejumlah rempah-rempah dari pedagang Muslim di sana. Hanya saja, karena kecurigaannya yang berlebihan bahwa Goa yang merupakan bandar perniagaan di wilayah kerajaan Muslim Bahmani akan bertindak serupa dengan Kozhikode, maka ia memutuskan untuk menjauhi Goa.

Setelah berputar-putar di sejumlah bandar di pantai Malabar, Vasco da Gama melanjutkan pelayaran ke selatan. Pada 8 Januari 1499 ia sampai ke Malindi. Di sana ia disambut meriah oleh Sultan Malindi. Mereka berpesta-pora. Vasco da Gama, dengan alasan berkurangnya jumlah awak kapal yang meninggal dan demi efisiensi, memerintahkan membakar kapal Sao Rafael yang dianggap sudah tidak berguna. Setelah itu, ia melanjutkan pelayaran. Pada pertengahan Pebruari 1499 armada Vasco da Gama sudah mencapai Mozambique.

Vasco da Gama, sang ksatria tuhan, yang sudah kehilangan semangat itu ternyata telah menimbulkan derita panjang bagi awak kapalnya. Satu demi satu, di tengah gempuran badai, kekurangan pangan, kelangkaan obat-obatan, dan terkaman penyakit, mereka bertumbangan di geladak kapal kehilangan nyawa. Bangkai mereka dilempar ke laut menjadi mangsa ikan. Kapal Sao Gabriel dan Berrio, sebagai armada yang tersisa, berhasil mencapai sungai Tagus pada 20 Maret 1499. Tetapi, Vasco da Gama tidak langsung ke Lisbon. Ia memerintahkan awak kapalnya untuk menjelajah kawasan Kepulauan Terceira di Azores. Di kepulauan itulah Paulo da Gama, saudaranya, dan puluhan awak kapal yang sudah lemah itu terserang penyakit dan mati dalam penderitaan.

Pada 20 September 1499 barulah Vasco da Gama, sang ksatria tuhan, kembali ke Lisbon untuk menghadap raja dengan sisa awak kapalnya yang hanya 54 orang ditambah sedikit sekali rempah-rempah. Meski tidak sesuai harapan, Vasco da Gama disambut dengan upacara kebesaran oleh Manuel. Kerajaan Portugis mengumumkan kepada dunia bahwa Vasco da Gama adalah penemu pertama kerajaan Kristen India. Manuel menganugerahinya gelar kebangsawanan: Dom. Sebagai peringatan, Manuel membangun sebuah katedral untuk Vasco da Gama. Mata uang khusus dicetak untuk mengabadikan pelayaran legendaris itu. Dan, Vasco da Gama sendiri diberi uang pensiun 1.000 cruzados setahun.

Percaya dengan bualan Vasco da Gama dan awak kapalnya yang telah menemukan kerajaan Kristen India, Manuel memerintahkan sang ksatria tuhan untuk beristirahat dan kemudian membentuk tim ekspedisi dagang kedua yang akan membuka hubungan dagang dengan India. Ia menunjuk Pedro Alvares Cabral sebagai pemimpin. Cabral sendiri tidak memperoleh laporan rinci dari hasil pelayaran Vasco da Gama, terutama tentang kegagalannya menjalin hubungan dagang di Mozambique, Mombasa, dan Kozhikode. Dengan sangat percaya diri, Cabral berangkat membawa tiga belas kapal ke India pada 15 Maret 1500.

Tercekam oleh keberhasilan Vasco da Gama, Cabral tidak mau mengikuti rute Bartholomew Diaz, da sebaliknya mengikuti rute Vasco da Gama yang menjauhi pantai barat Afrika. Akibatnya, armada Cabral melenceng jauh hingga ke Brazilia. Cabral memerintahkan beberapa kapalnya kembali ke Lisbon untuk memberi tahu kepada raja Manuel bahwa armadanya telah menemukan Brazilia. Sementara itu, setelah berbulan-bulan berlayar barulah armada Portugis mencapai Tanjung Harapan dan terus ke India. Dengan membawa enam kapal, dia berlabuh di Kozhikode.

Bayangan keberhasilan berniaga dengan India ternyata buyar menjadi kepingan kekecewaan dan kepedihan ketika Cabral mendapati sikap bermusuhan penduduk Kozhikode. Padahal, sesuai petunjuk Vasco da Gama, Cabral sudah membawa emas dan barang dagangan yang sesuai dengan kebutuhan perniagaan di India. Cabral kemudian memutuskan untuk menjalin perniagaan dengan penguasa Cochin, tanpa tahu bahwa penguasa Cochin bermusuhan dengan penguasa Kozhikode. Sementara itu, akibat pandangan yang kurang benar tentang penduduk India, yang dikiranya “orang Kristen bodoh” karena membiarkan pedagang-pedagang Muslim menguasai jalur perniagaan, Cabral mendesak bahkan memaksa pedagang India agar mau membeli dagangannya dan bersedia menjual rempah-rempah kepadanya. Akibatnya, pedagang-pedagang India menjadi marah karena mereka belum pernah mendapati cara-cara berdagang dengan paksaan. Lalu timbullah perselisihan yang memuncak menjadi kerusuhan. Sejumlah kapal Cabral dirusak dan awak kapalnya tewas dibunuh.

Cabral sendiri baru memahami latar kebencian penduduk Kozhikode terhadap Portugis setelah diberi tahu bekas awak kapal Vasco da Gama. Dia paham bahwa kebencian itu bermula dari kekecewaan Raja Kozhikode akibat merasa tertipu oleh Vasco da Gama. Kemarahan penguasa Kozhikode itu ternyata semakin membara ketika Cabral menjalin hubungan dagang dengan musuh lamanya, Raja Cochin. Sadar bahwa keadaan akan semakin parah jika armadanya tetap berada di Kozhikode, Cabral buru-buru memerintahkan awak kapal untuk meninggalkan Kozhikode, karena tidak ingin cap penipu itu melekat pada dirinya. Tetapi, pandangan keliru yang disampaikan Vasco da Gama bahwa raja India dan rakyatnya adalah Kristen, telah menyebabkan Cabral mengira penduduk yang menyerang armadanya semuanya adalah warga Muslim. Ia yakin penduduk India yang beragama Kristen tidak akan mungkin menyerang saudaranya seiman.

Pandangan Cabral dan seumumnya orang Portugis yang mengira penduduk India beragama Kristen ternyata sangat kuat mengikat alam pikiran mereka dengan simpul-simpul keyakinan membuta. Akhirnya, dengan denam kesumat berkobar-kobar terhadap penduduk Muslim Kozhikode, pada 23 Juni 1500 Cabral memutuskan untuk meninggalkan India dengan hanya empat buah kapal yang tersisa. Meski tersisa empat kapal, keempat-empatnya penuh memuat rempah-rempah yang mereka beli dari pedagang Muslim India.

Manuel menyambut gembira keberhasilan Cabral membawa rempah-rempah begitu banyak. Tetapi, Manuel juga melihat sisi lain dari keberhasilan Cabral yang tak mampu mempertahankan kapal-kapal dan awaknya. Itu sebabnya, Manuel kemudian tidak mengirim kembali Cabral ke India. Sebaliknya, ia menjagokan Vasco da Gama untuk memimpin ekspedisi dagang ke India yang ketiga.

Mendapat kepercayaan dari Manuel untuk memimpin kembali armada dagang ke India, Vasco da Gama sadar ia akan sulit mengajak awak kapal yang baru ke India. Sebab, bekas awak kapalnya telah bercerita kepada keluarga masing-masing tentang bagaimana sengsaranya mereka saat mengikuti pelayaran di bawah kepemimpinannya. Mereka yang pernah merasakan bagaimana pedihnya hukuman yang mereka dapatkan dari ksatria tuhan yang mereka sebut “binatang buas” itu, pasti tidak ingin mengalami mimpi buruk kedua.

Sadar ia harus menggunakan cara lain untuk memilih awak kapalnya, Vasco da Gama mengumumkan sebuah pendaftaran bagi “prajurit-prajurit tuhan” yang akan melakukan aksi balas dendam terhadap panduduk Muslim Kozhikode yang telah menyerang armada Portugis di bawah pimpinan Pedro Alvares Cabral beberapa waktu lalu. Darah yang mengalir dari tubuh pejuang tuhan harus ditebus. Dalam sekejap, pengumuman itu disambut hangat oleh para pemuda dan pelaut Portugis. Bahkan, sebagian bekas awak kapal Vasco da Gama yang pernah ikut ke India terlihat berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit-prajurit tuhan. Mereka siap meninggalkan negerinya demi menjalankan perang suci, menghukum musuh-musuh tuhan.

Suao Taiwan (MV. Taho), 29 April 2007, 19:10LT