Sang tuhan

Ketika Vasco da Gama sang ksatria tuhan sibuk mengatur barisan prajurit-prajurit tuhan untuk melakukan aksi balas dendam terhadap penduduk muslim India, nun jauh di sebelah barat daya India, tepatnya di negeri Persia, tepatnya lagi di Shiraz, muncul seorang guru suci (mursyid) Tarekat Safawiyyah bernama Isma’il bin Haydar, yang menobatkan diri sebagai syah (raja) Persia dengan gelar Syah Ismail. Tidak cukup mengangkat diri sebagai raja Persia, Syah Ismail membangun pula sebuah sistem kekuasaan berbentuk negara totaliter dengan menempatkan diri sebagai maharaja absolut perwujudan tuhan di dunia.

Syah Ismail adalah putera ketiga Syaikh Haydar keturunan Syaikh Safiuddin Ishaq. Sedangkan Syaikh Safiuddin Ishaq adalah pendiri Tarekat Safawiyyah di Ardabil, Azerbaijan, pada akhir abad ke-13M. Syaikh Safiuddin Ishaq dikenal sebagai seorang ulama Sunni yang berkepribadian menarik dan memiliki banyak pengikut dari suku-suku pengembara di Azerbaijan dan Anatolia timur. Tidak berbeda dengan Syaikh Safiuddin Ishaq, para mursyid Tarekat Safawiyyah di Azerbaijan berpaham Sunni. Baru pada pertengahan abad ke-15M, terutama pada masa Syaikh Junayd dan Syaikh Haydar, Tarekat Safawiyyah dengan terang-terangan mendukung paham Syi’ah. Sejak itulah Tarekat Safawiyyah mulai membangun pengikut-pengikut yang fanatik dan bahkan diam-diam menyusun kekuatan bersenjata yang militan. Tarekat Safawiyyah yang awalnya terkenal damai dan mengajarkan cinta kasih kepada manusia di dalam meniti jalan (thariq) menuju Kebenaran (al-Haqq), tiba-tiba saja menjadi gerakan ghazi yang sangat fanatik.

Sudah diketahui oleh hampir seluruh penduduk Azerbaijan bahwa melalui pernikahan antar keluarga terjadi hubungan kekeluargaan antara keluarga Safawi dan keluarga Aq-Qoyunlu (Domba Putih), dinasti penguasa Turkmenia yang berpusat di Tabriz, yakni penguasa wilayah Persia Barat. Lewat perkawinan-perkawinan itu, keturunan keluarga Safawi merasa memiliki hak untuk mendapat bagian kekuasaan. Lantaran itu, Syaikh Junayd dan kemudian Syaikh Haydar membangun militansi pengikut-pengikutnya dalam upaya merebut kekuasaan dari tangan dinasti Aq-Qoyunlu. Konflik bersenjata antara keluarga Safawi dan keluarga Aq-Qoyunlu mulai pecah dan melibatkan banyak pihak yang mendukung masing-masing kekuatan.

Pada tahun 1488 M, Syaikh Haydar tewas dalam pertempuran dengan bala tentara Uzun Hasan Aq-Qoyunlu. Ia meninggalkan tujuh orang putera dan puteri. Untuk mematahkan gerakan keluarga safawi, Uzun Hasan Aq-Qoyunlu memenjarakan putera sulung Syaikh Haydar, Ali Mirza, dan dua orang adiknya, Ibrahim dan Ismail, di tempat yang jauh dari pengikut-pengikutnya. Pada tahun 1493, di tengah perselisihan para pangeran Aq-Qoyunlu berebut takhta, Ali Mirza dan kedua orang adiknya berhasil lolos dari penjara. Ali Mirza kemudian diangkat menjadi mursyid Tarekat Safawiyyah, menggantikan ayahandanya, namun tak lama kemudian ia terbunuh oleh pengikut Uzun Hasan Aq-Qoyunlu. Akhirnya, Ismail menggantikan kedudukannya sebagai mursyid Tarekat Safawiyyah menggantikan Ali Mirza.

Dengan kedudukan sebagai mursyid tarekat, Ismail menjadi lebih leluasa menanamkan fanatisme kepada para pengikutnya yang selalu menyebutnya secara ganti-berganti antara Mahdi dan Tuhan. Dengan mengutip teks-teks Al-Qur’an yang disampaikannya dalam bahasa Arab dan Persia, ia telah menempatkan diri sebagai imam badal yang mewakili dua belas imam Syi’ah di dunia. Ia mendudukkan diri sebagai manusia ilahi, yang hidup menyatu dengan tuhan dan merupakan satu-satunya “jalan” menuju keselamatan ilahi. Tahun 1499, dengan dukungan pengikut fanatik yang menganggapnya Mahdi dan sekaligus tuhan, ia berhasil menguasai Anatolia. Tahun 1501, setelah berhasil menghancurkan kekuatan Uzun Hasan Aq-Qoyunlu di Shurul, ia merebut Azerbaijan dan menobatkan diri sebagai syah di Shiraz. Demikianlah, para pengikut Safawiyyah yang fanatik itu terpenuhi hasratnya untuk memuja Syah Ismail sebagai raja absolut dan sekaligus guru suci reinkarnasi tuhan di dunia.

Entah kebetulan entah tidak, munculnya tuhan di Persia dewasa itu berurutan waktu dengan munculnya ksatria tuhan dan prajurit-prajurit tuhan di Portugis. Yang lebih menakjubkan, perwujudan fisik Vasco da Gama dan Syah Ismail hampir sama baik bentuk kepala, raut wajah, kening, mata, alis, hidung, mulut, tulang pipi, dan dagu. Bahkan, sepak terjang kekejaman mereka terhadap orang-orang yang membangkang nyaris tak berbeda. Ibarat dua saudara kembar yang memiliki kemiripan dalam segala hal, pandangan Syah Ismail terhadap tatanan kehidupan di dunia ini tidak jauh berbeda dengan Vasco da Gama: serba hitam-putih. Jika Vasco da Gama cenderung membagi agama di dunia hanya dua, yakni Kristen dan Islam, maka Syah Ismail tidak lebih dari itu, yakni menganggap agama di dunia hanya dua: Sunni dan Syi’ah.

Dengan pandangan yang nyaris sama itu, wajar jika kemunculan mereka menjadi tengara bagi lahirnya sebuah babak baru dari sebuah cerita kehidupan yang dirancang Sang Sutradara, yang mengubah tatanan panggung sandiwara kehidupan umat manusia di muka bumi, baik alur cerita, panggung, musik pengiring, dan pemain-pemainnya. Sebagaimana rahasia di balik cerita-cerita sandiwara kehidupan manusia yang sudah digelar pada pertunjukan-pertunjukan sebelumnya, kemunculan ksatria tuhan, prajurit-prajurit tuhan, dan tuhan di atas panggung sandiwara saat itu senantiasa diwarnai genangan darah dan air mata derita. Artinya, meski babak baru dari cerita kehidupan itu ditandai munculnya alur baru cerita, wajah-wajah baru dari pemain-pemain, model pakaian yang berbeda, latar panggung yang lebih rumit, senjata-senjata perang baru, dan musik pengiring yang juga baru, namun adegan-adegan lama berupa seringai kebengisan dan keganasan di tengah kelebatan pedang, lecutan cambuk, tendangan kaki, dan tikaman tombak tetap juga menjadi bagian sakral cerita lama yang diulang-ulang.

Akhir tahun 1501 dan awal 1502 M, tatkala Vasco da Gama sang ksatria tuhan sedang sibuk menata barisan prajurit tuhan untuk menghukum penduduk Muslim Kozhikode di India, Syah Ismail sang tuhan justru telah menumpahkan darah orang-orang muslim tak bersalah di negeri Persia. Berdasar catatan-catatan para pelarian yang tercecer, tersusun kabar bahwa segera setelah Syah Ismail naik takhta, ia terbang ke angkasa angan-angan kebesaran diri dan membayangkan dirinya tuhan, zat yang mahaberkuasa dan mahaberkehendak yang berhak menata kehidupan manusia dalam segala hal, termasuk dalam tata cara menyembah Allah. Dan tentu saja, selaku sang tuhan, ia merasa berkewajiban menata seluruh tatanan kehidupan manusia yang berada di wilayah kekuasaannya untuk mengarahkan kiblat pada keberadaan dirinya selaku reinkarnasi tuhan.

Dengan kemahakuasaan dan kehendaknya, Syah Ismail yang terbang di angkasa angan-angan tentang keagungan dan kemuliaan diri itu, dengan suara menggelegar bagai guntur mengeluarkan sabda suci sambil menudingkan telunjuk ke permukaan bumi.

“Inilah firman tuhan yang wajib dipatuhi oleh seluruh hamba tuhan. Pertama-tama, hendaknya umat manusia mengarahkan kiblat hati dan pikiran ke satu arah, yaitu al-Haqq (Kebenaran). Karena kiblat Kebenaran bagi manusia hanya satu maka jalan (thariq) yang dilewati pun wajib satu. Itu sebabnya, keragaman jalan-jalan (tarekat) wajib dihapuskan! Seragamkanlah keragaman tarekat-tarekat di bawah satu bendera: Safawiyyah! Maklumkan kepada manusia-manusia sesat yang mengaku sebagai mursyid penunjuk jalan kebenaran dan pengikut-pengikut tololnya, bahwa setiap makhluk yang hidup di permukaan bumi Persia wajib bernaung di bawah bendera Safawiyyah!”

“Sesungguhnya, semua kebohongan keji manusia-manusia rendah yang mengaku mursyid sudah harus diakhiri. Kebohongan mereka yang mengaku memiliki garis nasab dengan Nabi Muhammad Saw. harus diakhiri. Mereka semua adalah manusia-manusia penipu. Karena itu, sejak saat ini, dimulai di negeri ini, Persia, keragaman silsilah golongan Alawiyyin (keturunan Imam Ali bin Abi Thalib r.a.), yang dijadikan sandaran oleh para guru suci pendusta itu wajib dihapuskan! Maklumkan kepada dunia bahwa galur nasab Alawiyyin yang sah adalah galur yang diakui oleh keluarga Safawi!”

“Demi tegaknya tauhid dan kemurnian ajaran Islam akibat kepalsuan ajaran para mursyid pengajar tarekat-tarekat, maka demikianlah firmanku. Singkirkan para mursyid tarekat palsu yang dianggap wali Allah oleh para pengikut dan penduduk di sekitarnya. Aku maklumkan kepada dunia bahwa sesungguhnya kedudukan wali-wali Allah yang disandang para mursyid tarekat itu adalah bohong semata. Sebab, seluruh derajat kewalian sudah terserap dalam diri dua belas imam, yaitu pemuka golongan Alawiyyin. Dan yang paling penting untuk diketahui oleh seluruh umat Islam di dunia bahwa aku, Syah Ismail, adalah imam badal yang mewakili dua belas imam suci! Selaku imam badal, aku sama dengan imam yang dua belas, yakni maksum (suci dan bebas dari kesalahan). Itu berarti, Syah Ismail saat sekarang ini adalah satu-satunya wali Allah di dunia. Mereka yang tidak menerima ketentuan ini: binasakan!”

Firman Syah Ismail, sang tuhan, yang maha berkuasa dan maha berkehendak itu meledak bagaikan halilintar menyambar permukaan bumi. Langit Persia yang terang dengan cahaya matahari bersinar cemerlang tiba-tiba gelap diselimuti awan hitam yang bergumpal-gumpal. Beberapa kejap kemudian, secara tiba-tiba seluruh permukaan bumi Persia berubah menjadi gelap berkabut. Burung-burung tidak berani terbang ke angkasa. Margasatwa tidak berani keluar sarang. Ikan-ikan berhenti berenang. Manusia tergulung di dalam selimut. Angin tidak berani bertiup kencang. Air sungai berhenti mengalir. Pendek kata, seluruh kehidupan makhluk mendadak seperti berhenti. Roda waktu seperti mandek. Seiring firman tuhan itu, bumi Persia mendadak berubah menjadi sebuah hamparan negeri asing yang lengang dan menakutkan. Seluruh jiwa makhluk tercekam oleh rasa takut yang mengambang laksana kabut tebal di permukaan tanah.

Di tengah suasana mencekam di bumi Persia, bangkitlah manusia-manusia bayangan yang memaklumkan diri sebagai pahlawan-pahlawan tuhan dan bala tentara tuhan yang bersumpah setia akan menjalankan firman Syah Ismail, sang tuhan. Manusia-manusia bayangan itu adalah manusia-manusia yang alam pikirannya diikat oleh dalil-dalil yang sudah ditafsirkan sepihak oleh Syah Ismail. Mereka adalah manusia-manusia yang memiliki sudut pandang, kerangka pikir, gagasan, angan-angan, nilai-nilai, dan bahkan khayalan yang sama dengan apa yang dikehendaki Syah Ismail.

Manusia-manusia bayangan hasil ciptaan Syah Ismail itu laksana kawanan siluman berkeliaran ke berbagai sudut kehidupan makhluk untuk mengintai gerak-gerik, ucapan, pikiran, perasaan, dan suara hati manusia terutama para sufi yang tinggal di lingkungan khanaqah dan bahkan zawiyyah. Kemunculan manusia-manusia bayangan, bala tentara tuhan itu, dengan cepat menyulut ketegangan hingga ke relung-relung terdalam jiwa manusia. Saat bala tentara tuhan itu menemukan ada makhluk yang berbeda dengan mereka, tak ayal lagi, dengan keganasan dan kebrutalan tak terbayangkan, sosok berbeda itu akan mereka buru dan mereka cabik-cabik. Darah pun tumpah. Nyawa-nyawa beterbangan. Mayat-mayat bergelimpangan.

Kawanan manusia bayangan kaki tangan Syah Ismail itu melanda wilayah Fars laksana awan hitam dan badai, memporak-porandakan keberadaan para pengikut Kaziruni. Tidak kurang dari empat ribu orang terbunuh dalam amukan badai itu. Tarekat Naqsyabandiyyah yang tegak menjulang dengan kukuh di Persia Barat dan Tengah tiba-tiba ambruk dan berantakan tanpa sisa terlanda badai. Tarekat Ni’matullah yang berakar kuat di Syiraz dengan guru-guru termasyhur seperti Rukhnuddin Syirazi, Samsuddin Makki, Jalaluddin Khwarazmi, dan Qadiuddin Iji terangkat dari permukaan tanah dan tersapu badai tanpa sisa.

Sementara itu, sesuai firman Syah Ismail, untuk menegakkan kemurnian tauhid, kawanan manusia bayangan itu menempatkan para mursyid tarekat dan pengikut-pengikutnya yang dianggap melawan, menentang, berseberangan, berbeda, atau tidak sejalan dengan titah sang tuhan sebagai musuh. Malahan, tidak cukup memburu dan membinasakan manusia-manusia yang mereka anggap merusak tauhid itu dengan keberingasan tak terbayangkan kawanan makhluk buas yang tak kenal ampun itu, beriap-riap menuju sejumlah kuburan para mursyid dari tarekat-tarekat yang ramai diziarahi penduduk negeri. Dengan suara hiruk pikuk dan meraung-raung, mereka menyalak dan menyatakan bahwa perbuatan penduduk menyembah kubur-kubur mursyid adalah musyrik. Karena itu, kuburan-kuburan itu mereka bongkar dan ratakan dengan tanah.

Penduduk yang ketakutan tidak berani berbuat apa-apa. Mereka hanya berdiri menggigil ketika menyaksikan kuburan para mursyid yang mereka ziarahi dibongkar. Mereka tidak berani berkata apa-apa, meski mereka melihat keanehan yang dilakukan para tentara tuhan itu. Mereka membongkar kubur para mursyid tarekat dengan mengutuknya sebagai tempat-tempat kemusyrikan, namun pada saat yang sama mereka justru menuhankan Syah Ismail dan menziarahi kubur imam-imam dan mullah-mullah mereka. Menurut kabar yang sempat menerobos ke perbatasan bumi Persia, di tengah intaian Kematian yang mencekam akibat berkeliarannya manusia-manusia bayangan pembela utama Syah Ismail, para mursyid tarekat yang waskita, dengan kearifan manusia yang sudah tercerahkan kesadarannya, membawa keluarga dan pengikutnya berhijrah meninggalkan tanah airnya tercinta, Persia.

Kepergian para mursyid tarekat-tarekat dari bumi Persia pada dasarnya merupakan bagian lain dari lahirnya kembali cerita lama terkait keyakinan kuno bangsa Arya tentang manusia Ilahi, hamkar, yang menurut ajaran Zarathustra adalah manusia yang menyatu dengan tuhan (hamemthwa hakhma), atau avatar yang menurut ajaran Bhagavatam merupakan manusia ilahi jelmaan tuhan. Tidak berbeda dengan keyakinan para dhatu leluhur bangsa Arya yang memuja Ahura Mazda, Indra, dan Dyanayana (Wisynu) yang meyakini manusia-manusia ilahi, reinkarnasi tuhan di dunia, demikianlah para pengikut Syah Ismail telah menyatukan keberadaan mursyid dan syah kepada satu pribadi reinkarnasi tuhan: Syah Ismail. Mereka telah mengarahkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada Syah Ismail, mursyid sempurna (mursyid-i-kamil) perwujudan ar-Rasyad dan al-Kamal yang menjadi penunjuk jalan lurus (huda), yaitu al-Mahdi penjelmaan al-Hadi.

Agar doktrin yang mengajarkan tentang manusia-manusia ilahi itu tidak tersanggah dan untuk mengukuhkan kedudukan diri sebagai hamkar atau avatar, perwujudan yang ilahi di dunia maka Syah Ismail mewajibkan taqlid kepada seluruh penduduk Persia dan seluruh penganut Syi’ah di mana pun mereka berada. Untuk membumikan kewajiban taqlid itu agar berjalan sesuai yang dikehendaki, Syah Ismail selaku syah dan juga mursyid tarekat menetapkan firman, “Hanya mullah yang ditunjuk Syah Ismail, sang imam badal, yang memiliki wewenang mengajarkan dan menafsirkan Al-Qur’an kepada manusia. Para mullah itulah yang disebut marjak-taqlid (rujukan untuk taqlid). Mullah yang tidak mendapat perkenan Syah Ismail, sang badal imam, sang tuhan, terlarang menafsirkan Al-Qur’an apalagi mengajarkan kepada manusia. Mullah yang mengajar dan menafsir Al-Qur’an tanpa perkenan Syah Ismail akan mendapat hukuman berat, yaitu diusir dari bumi Persia atau dibinasakan.”

Menurut kabar yang dibawa para mursyid tarekat yang terusir dari negerinya, sejak Syah Ismail berkuasa semua kegiatan mengkaji Al-Qur’an telah terpenjara oleh terali-terali ketakutan yang dibangun sang tuhan. Penduduk negeri hanya berani membaca Al-Qur’an tanpa tahu maknanya sebab para mullah yang mengajar tafsir Al-Qur’an sudah diawasi dari segenap penjuru. Jika terdapat seorang mullah menafsir satu ayat Al-Qur’an yang berbeda dengan yang dikehendaki penguasa maka terali penjara telah menunggunya. Dan Al-Qur’an yang selama hampir seribu tahun menjadi bacaan dan kajian sehari-hari bangsa Persia, tiba-tiba telah menjadi kitab yang sangat disucikan hingga tak gampang ditafsirkan maknanya, kecuali oleh manusia-manusia ilahi yang bergelar ayatullah yang direstui Syah Ismail. Para ayatullah yang tidak direstui Syah Ismail, tentu akan tersingkir dan bahkan binasa jika tidak meninggalkan bumi Persia.

Yang paling terpuruk dalam tatanan baru kehidupan manusia yang mengerikan ciptaan Syah Ismail itu adalah pengajaran tasawuf. Bagaikan permukaan bumi di musim dingin tertutup tumpukan salju, demikianlah bunga-bunga pengajaran tasawuf terbenam di bawahnya. Para mursyid dan para salik yang dikenal sebagai para penabur wangi bunga-bunga Qur’ani, dengan tafsirnya yang aneka warna menekuni kebun ruhani, tiba-tiba meniarap di bawah selimut salju. Tetapi, meski bunga-bunga pengajaran tasawuf tak lagi tampak di permukaan, gerak pencarian Keindahan (al-Kamal) lewat bunga-bunga yang beragam bau dan warnanya tidak musnah. Para mursyid tetap mengajarkan kepada para penempuh tentang cara-cara mencari Keindahan lewat keharuman dan keanekaan bunga-bunga di kebun ruhani, meski di bawah tanah yang dingin membeku. Dan ternyata, Syah Ismail bukanlah tuhan yang mahatahu. Selama ia berkuasa, tarekat-tarekat masih belum terhapus dari negeri Persia, meski terpuruk di bawah rerumputan dan batu-batu. Para mursyid tarekat dengan bijak menilai, betapa keadaan yang mencekam di bumi Persia itu adalah bagian dari kehendak Ilahi: Allah Yang Mahakuasa, Sumber Kebenaran Azali, telah menyingsingkan Asma’, Shifat, dan Af’al-Nya sebagai azh-Zhahir untuk digantikan dengan al-Bathin.

Sejarah pada akhirnya mencatat, bumi Persia yang termasyhur sebagai taman terindah bagi para pencari Kebenaran, tempat persinggahan yang memesona bagi mereka yang kehausan mereguk Air Kehidupan (Abb al-Hayat) di telaga ruhani yang dijaga Sang Hidup (al-Hayy), telah berubah wujud menjadi hamparan gurun ganas yang mengerikan dan sekejap kemudian secara ajaib menjadi hamparan tanah dingin membeku diselimuti salju. Persia telah menjadi hamparan gurun atau salju yang sunyi, sepi, lengang, dan mencekam bagi taman ruhani. Tidak satu pun musyafir pencari Keindahan yang terlihat di sana. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah manusia-manusia bayangan yang akal pikirannya sudah terikat oleh simpul-simpul kefanatikan. Manusia-manusia bayangan yang dengan mata menyala laksana serigala mengintai Kematian setiap sosok yang berbeda dengannya.

Di tengah keadaan yang mencekam itu, di tengah kelengangan dan kesunyian jiwa, dalam desau angin kering yang berembus dari bumi Persia, terdengar ratapan pedih para salik yang bertebaran laksana kumbang-kumbang kehilangan sayap mencari kesegaran madu di taman ruhani yang merana. Mereka meratapi hilangnya bunga-bunga dari taman indah yang memesona: taman indah tempat kesadaran burung para salik beterbangan menuju angkasa ruhani menghadap hadirat Sang Keindahan (al-Kamal). Taman indah tempat para burung berkicau di dahan-dahan khanaqah menyanyikan lagu rindu terhadap Simurgh (Raja Burung) yang mengejawantahkan al-Waly. Taman indah tempat ikan-ikan berenang di telaga Kehidupan yang sejuk menyegarkan. Ya, mereka meratapi hilangnya taman indah itu. Bunga-bunga harum aneka warna yang mengejawantahkan Keindahan yang beragam seperti bunga Kubrawiyyah, Naqsyabandiyyah, Khalwatiyyah, Maulawiyyah, dan Suhrawardiyyah yang terhampar di bumi Persia telah tertutup oleh salju dan debu gurun kefanatikan atas titah sang tuhan: Syah Ismail.

Syah Ismail yang telah meletakkan mahkota suci (taj) di atas kepalanya dan duduk di atas singgasana ketidakbersalahan sebagai raja sekaligus tuhan, memang berhak mengakui kewenangan dirinya untuk menutupi bunga-bunga yang beragam di taman ruhani yang telah dikuasainya. Ia juga berhak mengakui kewenangan dirinya dalam menetapkan titah bahwa satu-satunya bunga yang indah dan harum menyimpan madu adalah bunga Safawiyyah. Tetapi, di balik semua pengakuan sepihak atas wewenang yang dipegangnya itu, sesungguhnya ia telah mewujudkan keberadaan dirinya sebagai raja absolut dan sekaligus tuhan di muka bumi, yang pernah muncul dan berkuasa di negeri Mesir: Sang Fir’aun. Bahkan tanpa ia sadari, sebagaimana telah dilakukan Fir’aun, sesungguhnya ia telah berusaha menandingi Allah, Tuhan, al-Mutakabbir, dengan cara menempatkan diri sebagai makhluk paling takabur (ablasa) yang memproklamasikan keberadaan diri sebagai yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di atas semua makhluk yang disebut manusia (QS. Shad: 74-76).

Suao Taiwan (MV. Taho), 29 April 2007, 19:30LT