Perlawanan para Hamba Tuhan

Ketika gemuruh perburuan dan pembinasaan para mursyid penunjuk jalan menuju Kebenaran dilakukan oleh bala tentara tuhan, hamba-hamba Syah Ismail yang fanatik, di tengah kobaran api yang membakar khanaqah-khanaqah dan zawiyyah-zawiyyah, di antara genangan darah para salik tak bersalah yang tersungkur di muka bumi, di tengah kelebatan beliung-beliung tajam yang membongkar makam-makam para wali Allah di bumi Persia, muncullah di tengah samudera raya iring-iringan kapal berisi makhluk-makhluk bayangan yang tak kalah mengerikan dibanding bala tentara Syah Ismail. Mereka adalah armada kerajaan Portugis yang terdiri atas dua puluh kapal perang bersenjata berat. Armada itu memuat para prajurit tuhan di bawah pimpinan ksatria tuhan tak terkalahkan: Vasco da Gama. Bagaikan monster lautan ganas, armada berisi prajurit-prajurit tuhan yang dicekam dendam kesumat itu tiba-tiba berhenti di laut Arab. Bagaikan sekawanan hiu mengintai mangsa, armada mendekam dengan sikap siaga di tengah alunan gelombang. Armada itu menunggu lewatnya kapal-kapal India yang kembali dari berniaga di negeri-negeri Arab.

Ibarat pepatah pucuk dicinta ulam tiba, tidak lama armada Portugis itu menunggu, lewatlah sebuah kapal penumpang India yang memuat jama’ah muslim Kozhikode (Calicut/India). Kapal berpenumpang 380 orang itu baru kembali dari Makah mengantar pulang jama’ah haji ke Kozhikode. Tanpa curiga sedikit pun kapal itu melenggang di atas debur gelombang lautan. Nakhoda kapal yang sudah beratus kali melintasi kawasan itu tidak menduga bahwa kebinasaan sedang mengintainya.

Munculnya kapal niaga berbendera India itu menyulut kegembiraan para prajurit dan ksatria tuhan. Dengan tertawa terbahak-bahak bagaikan setan, Vasco da Gama memerintahkan awak kapalnya untuk menangkap kapal tak bersalah itu. Vasco da Gama memerintahkan para awak kapalnya untuk merampas semua perbekalan yang ada di kapal tersebut. Kemudian sang ksatria tuhan memerintahkan para prajurit tuhan yang dipimpinnya untuk menawan dan mengunci seluruh penumpang di bawah geladak. Lalu, diiringi sorak-sorai gembira para prajurit tuhan, sang ksatria tuhan memerintahkan agar kapal tersebut dibakar. Setelah terbakar selama tiga hari tiga malam, di tengah jeritan sahut-menyahut manusia-manusia yang hangus terbakar dan gelak tawa para prajurit, tenggelamlah kapal malang itu beserta seluruh penumpangnya yang berjumlah 380 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Dengan kepongahan seorang ksatria tuhan yang bangga karena telah membinasakan kaum sesat, musuh tuhan, Vasco da Gama mengirim utusan kepada penguasa Kozhikode, Samaritu. Ia menawarkan dua pilihan yang sama-sama berat kepada Samaritu. Pertama, Vasco da Gama meminta agar Samaritu membunuh semua penduduk Muslim di seluruh Kozhikode. Kedua, jika Samaritu menolak maka ia akan menghadapi pembalasan dari Portugis.

Samaritu, penguasa Kozhikode (Calicut) yang tak menginginkan perang, buru-buru mengirimkan utusan untuk melakukan perundingan. Tetapi, pada saat itu Vasco da Gama memperoleh laporan bahwa yang membakar kapal Pedro Alvares Cabral bukan hanya penduduk Muslim Kozhikode, melainkan penduduk “Kristen” India juga banyak terlibat. Dengan dada dikobari amarah, Vasco da Gama kemudian menitahkan para prajurit tuhan untuk menghukum mereka. Para prajurit tuhan pun dengan garang menangkapi nelayan Kozhikode beragama “Kristen” yang berkeliaran di pantai. Sekitar 38 orang nelayan Kozhikode yang sesungguhnya beragama Hindu itu berhasil ditangkap. Setelah perahu-perahu mereka ditenggelamkan, mereka dibinasakan dengan cara: kepala dipenggal. Kaki dan tangan mereka dipotong-potong. Kemudian di tengah gelak tawa kegirangan bagaikan setan, para prajurit tuhan menyerakkan potong-potongan tubuh para nelayan tak bersalah itu di laut. Potongan-potongan tubuh malang itu terapung-apung di pantai dan dijadikan tontonan penduduk kota. Untuk mengabadikan “hukum tuhan” agar yang lain takut melawan ksatria dan prajurit tuhan, Vasco da Gama, memerintahkan prajurit-prajurit tuhan yang dipimpinnya untuk menembaki kota dengan meriam. Lalu tewaslah puluhan penduduk kota tak bersalah.

Tindakan teror yang dilakukan Vasco da Gama dengan memamerkan kekejaman dan kehebatan meriam-meriam Portugis terbukti telah membuat gentar para saudagar Arab dan saudagar Muslim di Kozhikode. Tetapi, aksi teror itu ternyata tidak membuat Samaritu memenuhi ancaman sang ksatria tuhan. Diam-diam Samaritu meminta para saudagar Muslim Kozhikode yang sebagian besar merupakan orang-orang Mappila, abdi maharaja Wijayanagara, untuk pergi dari kota perniagaan tersebut. Sementara sejumlah mursyid tarekat asal Persia yang baru beberapa jenak mengecap ketenangan di Kozhikode tidak punya pilihan, kecuali mengangkat kaki lagi untuk mencari tempat hinggap yang baru. Akibat ancaman Vasco da Gama, para ulama Kozhikode pun beramai-ramai meninggalkan negeri kelahiran mereka. Demikianlah, di bawah intaian Sang Maut yang mengembangkan sayap-Nya di atas kapal-kapal Portugis, saudagar-saudagar Muslim, para ulama dan keluarganya, serta para mursyid asal Persia berbondong-bondong meninggalkan bumi Kerala menuju samudera selatan untuk membangun sarang baru yang jauh dari ancaman ksatria dan prajurit-prajurit tuhan yang ganas. Tetapi, sebagaimana lazimnya hukum alam, mereka yang terusir oleh kekerasan dan kefanatikan itu membangun “benteng-benteng” perlawanan di tempatnya yang baru terhadap kemungkinan serbuan dari musuh utama mereka: orang-orang Portugis, dinasti Safawi, pengikut Tarekat Safawiyyah, dan bahkan semua pengikut Syi’ah.

Kabar naik takhtanya Syah Ismail yang diikuti kebijaksanaan memburu, mengusir, menganiaya, dan membunuh para mursyid tarekat serta para salik berlangsung susul-menyusul dan sambung-menyambung dengan kabar kedatangan ksatria tuhan dan prajurit tuhan asal Portugis di Kozhikode. Sifat sombong dan suka merendahkan mereka dengan cepat menyebar ke berbagai tempat yang memiliki hubungan dengan Persia dan India. Dari mulut ke mulut, kisah kekejaman Syah Ismail dan Vasco da Gama beserta prajurit-prajuritnya dalam waktu singkat sudah terdengar di berbagai bandar perniagaan di negeri-negeri Timur.

Kisah kesombongan dan kekejaman Syah Ismail dan Vasco da Gama disebar pula secara lebih luas oleh para mursyid dan saudagar dari negeri lain. Salah satu di antara para penyebar berita kelam itu adalah para ulama dan saudagar Maghrib (Maroko – Aljazair) yang sejak lama sudah memiliki hubungan dengan para sufi di Baghdad, Istambul, dan Persia. Segera setelah para mursyid tarekat meninggalkan Persia, berlindung di negeri yang dikuasai dinasti Timuriyyah di Baghdad dan dinasti Usmaniyyah di Istambul, para ulama sufi Maghrib yang berada di kedua tempat tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai negeri di timur dengan menumpang kapal saudagar-saudagar Maghrib yang berniaga ke Mesir, Yaman, Persia, India, Pasai, dan Malaka. Bagaikan dua pasukan yang berjuang bahu-membahu dalam sebuah pertempuran, ulama Maghrib menyebarkan kabar buruk tentang lahirnya fir’aun baru bernama Syah Ismail yang menghalalkan darah umat Islam sedunia, sementara para saudagar Maghrib menyebarkan kabar buruk tentang datangnya bajak laut Portugis yang akan merampok barang perniagaan maupun gudang kekayaan milik saudagar-saudagar Muslim di seluruh dunia.

Keterlibatan para ulama sufi dan saudagar-saudagar Maghrib untuk ikut mengambil peran dalam menyebarluaskan kabar berkuasanya telah menjadi gelombang yang susul-menyusul dan sambung-menyambung yang membuat terkejut para pemuka dan terutama saudagar-saudagar Muslim di negeri-negeri Timur. Sebab, tak lama setelah berita itu disampaikan oleh para ulama sufi dan saudagar asal Kerala dan Persia, datanglah berita dari para ulama dan saudagar Maghrib. Para ulama dan saudagar asal Maghrib itu mengaku berasal dari kabilah Bani Mathar, Bani Millal, Bani Ounif, dan Bani Slimane yang dipimpin oleh dua orang kakak beradik asal kota Kaar el-Kabir, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. Mereka bertolak dari bandar-bandar perniagaan di Yaman dan Malabar menuju selatan dengan tujuan utama membangkitkan perlawanan kaum Muslimin di berbagai negeri terhadap musuh besar mereka: para penganut paham Syi’ah dan bajak laut Portugis.

Kedatangan orang-orang Maghrib dalam jumlah ratusan di pelabuhan-pelabuhan Nusantara sempat menimbulkan tanda tanya penduduk setempat yang terheran-heran melihat mereka. Sebab, perwujudan fisik mereka memang berbeda-beda. Ada yang berkulit gelap, namun berambut perang dan bermata biru. Ada yang berkulit putih dengan rambut hitam dan mata coklat. Ada yang berkulit putih dengan mata biru, namun berambut gelap keriting. Bahkan ada yang mirip dengan orang-orang Arab, namun kulitnya sehitam jelaga. Yang lebih mengherankan, meski lelaki, mereka sangat suka bersolek dan memakai perhiasan berlebihan.

Keanehan bentuk fisik orang-orang Maghrib berasal dari kenyataan bahwa mereka adalah bangsa yang lahir dari bermacam-macam bangsa seperti Neger, Berber, Tuareg, Moor, Kabil, Arab, Vandal, Romawi, Spanyol, dan Yahudi. Mereka lahir dari bangsa-bangsa pengembara dan bangsa penakluk. Itu sebabnya, mereka dikenal sebagai orang-orang yang suka meninggalkan kampung halaman untuk berniaga ke berbagai negeri. Mereka terkenal ramah dan gampang bergaul, namun jauh di pedalaman jiwa mereka tersembunyi naluri gemar perang, warisan sejarah masa silam dari leluhur mereka yang silih berganti menguasai negeri Maghrib. Lantaran itu, saat bertemu dengan musuh lama mereka, Portugis, mereka langsung membayangkan sebuah pertarungan sengit sehingga mereka pun dengan terang-terangan berusaha membuat medan tempur lebih luas, melalui cara membangkitkan semangat perlawanan kaum Muslimin terhadap Portugis. Dengan kepiawaian berkata-kata, mereka berhasil memanas-manasi para syahbandar dan penguasa di berbagai pelabuhan Nusantara seperti Dermayu, Muara Jati, Samarang, Demak, Tuban, Surabaya, Gresik, dan tentu saja setelah lebih dulu memanasi penguasa Aceh, Pasai, Patani, Kedah, Malaka, Aru, Kampar, dan Palembang.

Sekalipun para syahbandar dan penguasa pesisir telah cukup lama mendengar ramalan Abdul Jalil tentang bakal datangnya kawanan Ya’juj wa Ma’juj, pembawa senjata penyembur api, yang dipimpin Sang Kere putera To-gog, dan akan menjarah kekayaan penduduk, ternyata mereka masih terkejut dengan kabar kedatangan orang-orang Portugis yang disampaikan saudagar-saudagar Maghribi tersebut. Sebuah pertemuan rahasia di antara penguasa-penguasa pesisir dan pemuka warga trah Prabu Kertawijaya buru-buru diadakan di Giri Kedhaton. Mereka yang hadir adalah Raden Patah Adipati Demak didampingi Imam Masjid Demak Raden Mahdum Ibrahim, Khalifah Husein Imam Madura, Raden Ahmad (putera almarhum Raden Ali Rahmatullah) Susuhunan Khatib Ampel Denta, Raden Yusuf Shiddiq Adipati Siddhayu, Raden Zainal Abidin Adipati Gresik, Arya Bijaya Orob Adipati Tedunan, Raden Sahun (Pangeran Pandanarang) Adipati Samarang, Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Pangeran Danareja Adipati Bojong, Raden Sulaiman Leba Wirasabha, Syaikh Bentong, Syarif Hidayatullah mewakili Raja Caruban Sri Mangana, Raden Kusen Adipati Terung, dan Pangeran Arya Pinatih.

Mendapat kabar tentang diadakannya pertemuan rahasia tersebut, Abdul Jalil yang didampingi Abdul Malik Israil, Syaikh Jumad al-Kubra, dan Raden Sahid yang saat itu masih berada di Trigosthi (Salatiga), setelah selama dua puluh tiga bulan lebih membuka dukuh-dukuh hunian baru di pedalaman Nusa Jawa, buru-buru beranjak meninggalkan Trigosthi menuju ke Giri Kedhaton. Sepanjang perjalanan, Abdul Jalil mendapati orang-orang di sekitar pelabuhan ramai membicarakan orang-orang Syi’ah yang membunuhi para ulama dan santri, juga bajak laut Portugis yang bakal menyerang Nusa Jawa. Sebagaimana lazimnya kebiasaan penduduk Nusa Jawa yang alam pikirannya cenderung oleh bunyi dan suara tertentu, nama Syah Ismail, raja orang Syi’ah, dikesankan sebagai siluman tupai (Jawa Kuno: Sah : menyingkir; Semal: tupai) yang memisahkan diri dari kawanannya, yang menjelma menjadi manusia kejam dan haus darah. Bahkan kesan siluman tupai itu kemudian berkembang menjadi salah satu jenis tupai, yaitu bajing. Demikianlah, penduduk di sekitar pelabuhan mengesankan Syah Ismail sebagai siluman tupai yang menjadi raja para penjahat: Prabu Semal ratu ning bajingan.

Tuduhan siluman dan bajingan di Nusa Jawa adalah tuduhan yang tidak bisa diabaikan, apalagi dianggap lelucon. Sebab, siapa pun di antara makhluk yang menyandang sebutan siluman atau bajingan wajib disingkirkan dari lingkaran kehidupan penduduk Nusa Jawa. Tuduhan sebagai makhluk siluman dan bajingan yang dialamatkan kepada para penganut Syi’ah pun mengakibatkan mimpi buruk yang mengerikan. Entah benar entah tidak, kumpulan-kumpulan penduduk muslim yang dituduh sebagai penganut Syi’ah tiba-tiba diburu dan dikepung penduduk. Mereka dituduh jelmaan siluman tupai atau kawanan penjahat berbahaya. Darah pun tumpah. Mayat pun bergelimpangan. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba tersebar fatwa dari mulut ke mulut yang menegaskan bahwa Syi’ah adalah paham sesat yang diajarkan ratu siluman yang menghalalkan darah penduduk Nusa Jawa untuk ditumpahkan.

Sementara itu, tidak berbeda dengan kesan tentang Syah Ismail dan kaum Syi’ah, penduduk Jawa yang mengucapkan kata Portugis dengan lafal Peranggi (Jawa Kuno: Prang-pranggi: menyerang secara membabi-buta), cenderung mengesankan keberadaan Portugis bukan sebagai bangsa manusia, melainkan kawanan siluman kerbau putih bermata kucing (kebo bule mata kucing) yang mengamuk dan memangsa manusia. Mereka juga mengesankan pemimpin bangsa Peranggi itu, Vasco da Gama, sebagai raja siluman bernama Kala Srenggi: siluman babi hutan bertaring besar. Bahkan yang berkembang kemudian adalah kesan kuat bahwa bangsa Peranggi, kebo bule mata kucing, merupakan kawanan makhluk penjarah asal Nusa Pranggi (Jawa Kuno: negeri kacau) yang dipimpin Sang Kere putera Sang To-gog. Mereka datang ke Nusa Jawa membawa bala tentara kelaparan karena negeri mereka termasyhur kemiskinannya. Sang Kere dan bala tentaranya itu dengan kerakusan tiada tara akan menjarah kemakmuran Nusa Jawa dan memperbudak penduduknya.

Sebagai orang yang sejak awal telah mengetahui bakal terjadi perubahan besar bagi tatanan kehidupan negeri-negeri Timur, Abdul Jalil tidak menganggap kemunculan Syah Ismail dan bangsa Portugis sebagai sesuatu yang mengagetkan. Ia malahan sangat yakin, apa yang diperjuangkannya untuk melahirkan manusia-manusia baru, adimanusia-adimanusia, yang memegang kuat nilai-nilai berlandaskan Tauhid adalah benteng pertahanan yang tak bakal bisa ditembus oleh para pecinta tubuh dan pemuja dunia berkedok agama seperti Syah Ismail dan bangsa Portugis. Ia sangat yakin bahwa para adimanusia yang lahir dari nilai-nilai Tauhid akan dapat mempertahankan diri dari tindak kekerasan yang dilakukan para pecinta tubuh dan pemuja dunia itu. Bahkan, andaikata nanti bangsa Portugis dapat menaklukkan para penguasa negeri dan meletakkan Nusa Jawa di bawah telapak kakinya, mereka akan menghadapi kesulitan besar untuk mengubah nilai-nilai Tauhid yang sudah dianut penduduk Nusa Jawa. Itu sebabnya, ketika ia bertemu dengan Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry di pelabuhan Samarang, ia tegas-tegas menolak ajakan untuk mengusir para penganut Syi’ah dan menghalau bangsa Portugis dengan senjata di mana pun mereka berada.

“Bumi ini milik Allah, Tuan Syaikh,” kata Abdul Jalil. “Karena itu, tidak ada hak satu bangsa melarang bangsa lain untuk menginjakkan kaki di bumi Allah kecuali jika bangsa pendatang itu telah terbukti berbuat zalim terhadap penduduk setempat. Sepengetahuan kami, tidak ada dalil-dalil maupun teladan dari Rasulullah Saw. bahwa kita mengusir saudara seagama atau menyambut orang-orang yang mau berniaga dengan senjata. Jika Syah Ismail berbuat kejam di Persia maka hendaknya hal itu diselesaikan di sana. Janganlah penganut Syi’ah yang tidak tahu apa-apa di negeri ini disangkut pautkan dengan tindakan bodoh anak bangsa Azeri yang mengaku keturunan Nabi Saw. itu. Bahkan, jika Tuan memiliki rasa bermusuhan dengan suatu kaum, janganlah Tuan melibatkan orang lain dalam permusuhan itu. Sebab, hal itu akan menunjukkan bukti bahwa Tuan kurang yakin diri dalam menghadapi musuh Tuan.”

Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry terkejut dengan penolakan Abdul Jalil yang dirasakannya bagaikan anak panah menembus jantung. Dengan mata berkilat dan dada naik turun menahan amarah, dia berkata dengan suara ditekan tinggi, “Tuan tahu apa tentang orang-orang Syi’ah yang sesat itu. Mereka telah mengangkat Syah Ismail sebagai fir’aun, penjelmaan tuhan di dunia. Mereka membumihanguskan khanaqah-khanaqah dan zawiyyah-zawiyyah. Mereka memburu-buru dan menyiksa bahkan membunuh para guru suci tarekat. Apakah kita akan berdiam diri melihat kesesatan mereka?”

“Tuan Syaikh, demi Allah, kami sangat setuju memerangi Syah Ismail yang telah menuhankan dirinya. Kami juga tidak percaya sedikit pun jika dia keturunan Nabi Muhammad Saw. karena dia dan leluhurnya berkebangsaan Azeri yang lahir di Azerbaijan. Syah Ismail adalah pendusta berpikiran picik dan dungu. Dia hanya berpikir tentang kekuasaan pribadi yang bakal didudukinya di wilayah terbatas, yaitu negeri Persia. Dia sedikit pun tidak berpikir bahwa akibat tindakannya itu para penganut Syi’ah di berbagai negeri terancam jiwanya.”

“Karena itu, o Tuan Syaikh, kami sangat tidak setuju jika kita ikut-ikutan berpikir picik seperti Syah Ismail untuk membunuh setiap penganut Syi’ah hanya gara-gara tindakan sepihak makhluk pendusta yang mabuk kekuasaan duniawi. Sebab, menurut hemat kami, tidak semua penganut Syi’ah sepaham dengan Syah Ismail. Dan tentang penganut Syi’ah di Nusa Jawa ini, hendaknya tidak kita ganggu karena mereka tidak memiliki kaitan dengan gerakan Syah Ismail di Persia,” kata Abdul Jalil.

“Bagaimana Tuan bisa yakin jika orang-orang Syi’ah tidak berhubungan dengan Syah Ismail? Bukankah mereka itu satu napas dan satu jiwa?” tanya Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry.

“Siapa bilang Syi’ah itu satu napas dan satu jiwa? Siapa pula yang bilang jika Sunni itu satu napas dan satu jiwa? Bukankah Tuan Syaikh sudah paham bahwa hukum kauniyah yang ditetapkan Allah itu tidak akan berubah oleh tindakan orang-seorang? Maksudnya, jika hukum kauniyah tentang keragaman itu menjadi keniscayaan bagi tatanan kehidupan di alam semesta, tentulah mustahil jika keragaman itu bisa diseragamkan oleh seorang manusia, apalagi pembohong tengik seperti Syah Ismail,” kata Abdul Jalil.

“Bukankah Syah Ismail didukung oleh orang-orang Syi’ah asal Baghdad, Mesir, dan Turki? Bukankah sesungguhnya kaum Syi’ah itu bersatu dalam kesesatan?”

“Ketahuilah, o Tuan Syaikh, bahwa mertua kami, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, adalah seorang ulama Syi’ah. Tetapi, dia bukan pengikut Tareka Safawiyyah. Dia juga bukan pendukung Syah Ismail. Bahkan kabar yang kami terima terakhir, dia yang selama tiga tahun terakhir tinggal di Shiraz dibunuh oleh kaki tangan Syah Ismail karena dianggap melindungi kawan-kawannya, para ulama tarekat yang tidak patuh terhadap kekuasaan Syah Ismail,” kata Abdul Jalil tegas.

“Apakah Tuan Syaikh sendiri penganut Syi’ah?” tanya Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry curiga.

“Kami adalah guru ruhani yang mengajarkan Tarekat Akmaliyyah yang dinisbatkan kepada hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Tetapi, kami tidak peduli apakah dituduh Syi’ah atau penyembah setan sekalipun, karena tugas utama kami adalah menjaga keseimbangan tatanan kehidupan manusia di dunia ini. Itu sebabnya, ketika para pengikut ayahanda mertua kami yang datang ke Caruban memburu-buru Syaikh Duyuskhani dan pengikutnya untuk dibunuh, kami cegah sekuat kuasa kami. Sebab, kami tahu pasti bahwa Syaikh Duyuskhani sekalipun orang Persia dan penganut Syi’ah, ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan gerakan Syah Ismail. Dengan begitu, menurut hemat kami, sungguh tidak pantas jika Syaikh Duyuskhani dan pengikutnya yang tidak tahu-menahu tentang perbuatan Syah Ismail di Persia itu harus ikut menanggung akibat hanya karena kebetulan pahamnya sama.”

“Apakah Tuan Syaikh akan melindungi semua orang Syi’ah di Nusa Jawa?”

“Bukan hanya orang Syi’ah. Siapa pun di antara manusia tak bersalah yang teraniaya akan kami lindungi sekuat kuasa kami.”

“Tuan akan menuai bahaya akibat tindakan itu.”

“Kami sudah terbiasa menanggung akibat berbahaya dari tindakan yang kami lakukan.”

“Sungguh, Tuan Syaikh sedang melindungi kawanan ular berbisa.”

“Sesungguhnya, racun yang paling dahsyat bukanlah bisa ular, melainkan racun kebencian yang terletak di taring ular jiwa yang bersarang di dalam relung-relung hati kita. Sebab, dengan racun kebencian itu manusia sering menjadikan dirinya sebagai ular raksasa yang berbahaya bagi kehidupan sesamanya.”

Tidak berbeda dalam prinsip saat berdebat dengan Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, Abdul Jalil tetap berpegang teguh pada prinsipnya saat berbincang-bincang dengan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tentang bangsa Portugis. Abdul Jalil tetap berkukuh menolak ajakan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry untuk menyongsong kehadiran bangsa Portugis di Nusa Jawa dengan senjata. Sebab, menurut hematnya, kehadiran bangsa Portugis yang memamerkan kekejaman itu pada hakikatnya adalah bagian dari cerita kehidupan anak manusia yang mengandung rahasia pengukuhan Tauhid bagi manusia di negeri-negeri Timur agar lebih sempurna. “Kehadiran bangsa-bangsa perusak, Ya’juj wa Ma’juj, sepanjang sejarahnya tidaklah dapat dilawan dengan senjata. Kekuatan mereka hanya bisa ditawarkan dengan ajaran Tauhid yang kuat,” ujar Abdul Jalil.

Sidi Abdul Qadir el-Kabiry yang tidak sukan dengan pandangan Abdul Jalil tampak marah, meski berusaha meredamnya. Setelah terdiam sesaat dia berkata dengan suara lantang, “Apakah Tuan Syaikh belum tahu jika bangsa Portugis adalah kaum kafir? Apakah Tuan Syaikh belum pernah bertemu dan belum pula pernah mengenal mereka? Apakah Tuan Syaikh tetap yakin jika mereka itu bukan bangsa yang berbahaya bagi agama kita? Jika Tuan menilai Portugis bukan bangsa yang berbahaya bagi agama kita, itu karena Tuan selama ini tinggal di negeri yang jauh dari keramaian dunia. Jika Tuan Syaikh tinggal di negeri Maghrib yang berdekatan dengan negeri bangsa Portugis seperti kami, Tuan akan tahu bagaimana busuk dan tengiknya mereka. Mereka suka mabuk, gemar berzina, rakus harta, haus kekuasaan, suka berperang, menjarah, merampok, memperkosa, dan yang paling berbahaya, mereka memiliki kebencian yang berlebihan terhadap agama kita. Bagaimana pendapat Tuan terhadap orang-orang seperti itu?”

Abdul Jalil tertawa mendengar penjelasan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. Setelah diam beberapa jenak ia berkata dengan suara lain, “Jika apa yang Tuan sampaikan tentang bangsa Portugis itu benar maka kami akan menyatakan keheranan atas sifat Allah yang Maharahman dan Maharahim dan Mahaadil. Maksud kami, sungguh tidak adil dan sangat aneh jika Allah SWT. mencipta suatu kaum sebagai bangsa yang busuk dan tengik tanpa kebaikan sedikit pun. Bagi kami, jika memang ada bangsa yang busuk seluruhnya maka itu menunjukkan kemustahilan dari hukum alam yang ditetapkan Allah.”

“Kami belum paham dengan kata-kata yang Tuan sampaikan,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Terus terang, kami tidak percaya dengan pandangan Tuan yang menilai bangsa Portugis itu busuk dan tengik semua. Menurut kami, hukum alam telah menetapkan bahwa di antara bangsa-bangsa manusia itu wajib ada yang baik dan wajib pula ada yang tidak baik. Lantaran itu, kami beranggapan kebaikan dan keburukan tidak bersangkut paut dengan kebangsaan, warna kulit, bahasa, dan keturunan orang seorang. Apakah menurut Tuan semua orang Maghrib itu baik semua? Apakah orang-orang Maghrib semuanya bersifat seperti malaikat yang tidak mempunyai nafsu, tidak rakus harta, tidak suka perempuan, dan tidak gila kekuasaan duniawi?” tanya Abdul Jalil.

“Kami kira tiap bangsa memang ada yang baik dan ada pula yang buruk. Tetapi, bagaimana dengan kebencian mereka yang berlebihan terhadap agama kita? Apakah kita akan mendiamkan mereka? Apakah kita akan membiarkan agama kita mereka hancurkan?”

“Islam adalah agama Kebenaran (ad-din al-haqq) yang akan dijaga oleh Yang Mahabenar (al-Haqq). Itu berarti, kita tidak perlu ragu apalagi khawatir bahwa Islam akan musnah dari muka bumi, apalagi oleh kefanatikan suatu bangsa. Kami tetap yakin pada hukum alam bahwa kehidupan di dunia ini wajib beragam. Itu berarti, jika ada suatu bangsa ingin menyeragamkan kehidupan manusia dengan alasan agama, keyakinan, budaya, bahasa, atau kekuasaan, maka sesungguhnya bangsa itu sedang membangun bagian kecil dari keragaman karena sangat mustahil ia bisa mengubah hukum alam. Demikian pun dengan bangsa Portugis, jika mereka ingin menguasai dunia dan mengubah agama penduduk dunia agar seperti agama mereka maka mereka sejatinya sedang memecah-belah agamanya. Sebab, hukum alam telah menggariskan bahwa keragaman agama adalah fitrah bagi kehidupan makhluk di jagat raya ini. Lihat dan tunggulah, agama yang dianut bangsa Portugis itu pada gilirannya nanti akan terpecah-pecah tak terhitung jumlahnya,” kata Abdul Jalil.

“Sebagai seorang guru agama Islam, sungguh aneh sekali pandangan Tuan,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry dengan nada heran. “Tuan seolah-olah tidak punya ghirah terhadap agama Tuan.”

“Itu karena Tuan Syaikh memiliki sudut pandang yang berbeda dengan kami dalam memandang sesuatu sehingga penilaian Tuan pun menjadi berbeda dengan kami,” kata Abdul Jalil datar.

“Kami belum paham dengan penjelasan Tuan,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Begini Tuan Syaikh,” kata Abdul Jalil tenang. “Jika Tuan datang ke pedalaman Nusa Jawa, kemudian Tuan menemukan suatu kaum yang tinggal di suatu tempat memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu Esa, Tuhan tidak bisa disetarakan dengan sesuatu, yakin akan datang hari kehancuran jagat raya, yakin jika surga dan neraka itu bertingkat-tingkat, mereka berpuasa, bersembahyang, tidak makan babi, tidak makan anjing, tidak makan sesuatu yang najis, tidak meminum minuman keras, tidak berjudi, tidak mencuri, tidak menyakiti, beristri paling banyak empat, dan berusaha menjalani kehidupan yang suci. Menurut Tuan, siapakan mereka itu?”

“Tentu mereka itu orang-orang Muslim.”

“Tuan telah keliru menilai,” kata Abdul Jalil menukas, “sebab kaum yang kami sebutkan itu adalah para pendeta Syiwa-Budha.”

“Benarkah itu?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry terheran-heran.

“Tuan boleh mengikuti kami ke pedalaman Nusa Jawa untuk membuktikan ucapan kami.”

“Itu yang kami belum tahu.”

“Kami kira, masalah permusuhan bangsa Tuan dengan orang-orang Portugis terjadi karena tidak ada saling pengertian. Masing-masing pihak merasa benar sendiri. Pihak satu tidak mau memahami pihak lain.”

“Kami kira, Tuan keliru dalam menilai orang-orang Portugis. Mereka beda dengan penduduk Nusa Jawa. Kalau saja Tuan pernah dekat dengan mereka, kami yakin Tuan akan memiliki penilaian yang sama dengan kami. Tuan akan melihat betapa berbahayanya meraka itu jika dibiarkan.”

“Kami memang kaum agamawan. Tetapi, kami bukannya orang picik yang tidak mengenal bangsa-bangsa lain. Saat kami tinggal di Baghdad, kami banyak bergaul dengan berbagai bangsa berikut berbagai keyakinan dan adat budayanya. Bahkan saudara kami ini, Abdul Malik Israil al-Gharnata, adalah seorang pemuka keluarga Jethro dari antara Bani Israil di Andalusia. Pada saat Granada jatuh, seluruh keluarganya yang beragama Yahudi pindah ke Maghrib, yaitu negeri Tuan, karena mereka menolak dipaksa pindah agama oleh penguasa Granada. Bukankah itu menunjukkan bahwa masalah agama tidak bisa dipaksa-paksa? Malahan kalau tidak keliru, sebagian keluarga dari saudara kami itu ada yang tinggal di kota asal Tuan, Kaar el-Kabir,” ujar Abdul Jalil.

“Tuan pernah tinggal di Baghdad?” gumam Sidi Abdul Qadir el-Kabiry heran.

“Tidak lama, cuma tujuh belas tahun.”

“Jika demikian, kenapa Tuan mau tinggal di tempat terpencil seperti ini? Bukankah kehidupan di Baghdad jauh lebih menyenangkan?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry makin heran.

“Seburuk apa pun, negeri ini adalah tempat kami dilahirkan. Menurut pepatah orang-orang di negeri ini, hujan emas di negeri orang, masih baik hujan batu di negeri sendiri. Karena itu, sebagai anak negeri dari negeri ini, tentunya kami lebih memahami pepatah itu daripada orang lain. Kembali pada masalah bangsa Portugis, kami tetap yakin mereka memang kawanan yang berbahaya, terutama bagi manusia yang masih diliputi kecintaan berlebih terhadap duniawi. Sebab, melalui bangsa Portugis itulah para pecinta duniawi akan bersaing dan bertempur memperebutkan dunia. Kami yakin, di mana pun bangsa Portugis itu berada, mereka akan menghadapi perlawanan saudagar-saudagar apakah itu Muslim atau bukan Muslim dengan alasan yang sama: berebut harta kekayaan dan kekuasaan dunia.”

“Sementara bagi para pecinta Allah dan penampik dunia, mereka tidak dianggap sebagai pesaing apalagi ancaman. Sebab, bagi para pecinta Allah dan penampik dunia, telah jelas bahwa musuh utama mereka bukanlah suatu kaum yang ditandai warna kulit, bahasa, budaya, dan agama, melainkan mereka yang terperangkap pada nafsu kecintaan berlebih pada dunia hingga terhijab dari Allah SWT.. Sungguh, para pecinta dunia itulah kaum yang berbahaya. Dengan demikian, tidak semua bangsa Portugis yang beragama Kristen bisa digolongkan sebagai pecinta tubuh dan pemuja dunia. Kami yakin, di antara mereka tentunya ada seseorang yang memiliki pandangan berbeda dengan kawan-kawannya. Sebaliknya, di antara kaum Muslimin pun tidak bisa dikata bahwa mereka semua adalah pecinta Allah sejati. Sebab, kenyataan membuktikan, tidak kurang di antara mereka yang menyatakan pecinta Allah itu sesungguhnya pecinta diri pribadi yang berlebihan sehingga mata batin (‘ain al-bashirah) mereka tertutup oleh benda-benda (thaghut) sehingga mereka terhijab dari Kebenaran,” kata Abdul Jalil.

“Bagaimana Tuan bisa yakin jika di antara mereka itu ada yang bukan pecinta tubuh dan pemuja dunia? Bukankah mereka jauh-jauh dari negerinya hingga ke India sesungguhnya karena berkeinginan merebut dan menguasai harta dunia? Mungkinkah di antara mereka itu ada yang tidak sejenis dengan kawan-kawannya?” gumam Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Kami tetap yakin dengan fitrah keragaman yang ditetapkan Allah dalam hukum alam.”

“Keyakinan Tuan itu hanya pada tingkat gagasan saja. Tuan akan kecewa jika mengetahui kenyataan betapa di antara mereka itu tidak ada satu pun orang yang tidak mencintai tubuh dan memuja dunia. Mereka selalu menyatakan diri sebagai prajurit tuhan, ksatria tuhan, dan bahkan anak-anak tuhan. Tetapi, kiblat hati dan pikiran mereka selalu tertuju pada benda-benda duniawi dan pengumbaran nafsu.”

“Kapan rombongan Tuan akan balik ke India?” tanya Abdul Jalil dengan pertanyaan lain.

“Awal purnama bulan ini,” kata Abdul Jabbar el-Kabir singkat sambil mengerutkan kening. “Kenapa Tuan bertanya tentang kepulangan kami?”

“Jika diperbolehkan, kami ingin ikut rombongan Tuan. Kami ingin membuktikan kepada Tuan bahwa apa yang baru saja kami ucapkan bukan suatu khayalan.”

“Apakah hanya untuk itu Tuan ikut kami ke India?”

“Tentu saja tidak,” sahut Abdul Jalil datar. “Selain untuk membuktikan ucapan kami, kami juga ingin pergi ke Gujarat untuk menjemput anak dan istri kami di sana.”

“Tuan punya keluarga di Gujarat?”

“Ya, tetapi mereka sudah kami tinggalkan selama belasan tahun silam.”

“Berapa lama Tuan pernah tinggal di sana?”

“Kira-kira dua tahun.”

“O pantas saja, Tuan sangat berbeda dengan orang-orang sana.”

“Berbeda bagaimana?” tanya Abdul Jalil sambil tertawa. “Apakah kami lebih lemah? Lebih tidak bersemangat? Dan lebih sulit untuk dipanas-panasi? Begitu?”

Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tersenyum kecut. Dia kemudian menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil dan kemudian mengajak bicara Abdul Malik Israil. Dia mengalihkan pembicaraan dengan memperbincangkan para pengungsi Bani Israil di Maghrib. Dalam perbincangan itu, Sidi Abdul Qadir el-Kabiry ternyata mengenal sejumlah pemuka keluarga Bani Israil yang tinggal di Kaar el-Kabir yang ternyata kerabat Abdul Malik Israil. Dari penjelasan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry, diketahuilah jika sejumlah pemuda Bani Israil dari keluarga Abraham, Menahem, David, Zakhari, Naum, Solomon, Samail, Sarkis, dan bahkan Jethro diam-diam telah pergi ke berbagai negeri di Eropa untuk berjuang melawan kekuatan gereja. “Rupanya mereka sangat sakit hati diusir dari kampung halamannya oleh penguasa baru Granada,” jelas Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Bagaimana Tuan tahu mereka pergi ke Eropa?”

“Karena kami yang membantu menyelundupkan mereka dari wilayah perbatasan Usmani di Moson dengan melewati Sungai Danube,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

Mendengar penjelasan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry, Abdul Jalil tertawa dan berkata menukas, “Menurut Tuan, apakah yang akan dilakukan para pemuda Bani Israil itu di negeri Eropa?”

“Saya tidak tahu, Tuan Syaikh,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. “Tetapi, kami mengira mereka akan memberikan laporan-laporan kepada para penguasa Usmani tentang kekuatan musuh.”

“Kalau menurut hemat kami, mereka tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Maksudnya?”

“Tuan tunggulah barang satu atau dua dasawarsa lagi,” kata Abdul Jalil dengan mata memandang kejauhan. “Tuan akan melihat hasil perjuangan mereka yang gilang-gemilang sesuai hukum alam tentang keragaman.”

“Kami belum paham maksud Tuan Syaikh?”

“Menurut dugaan kami, dengan pengetahuan mereka yang mendalam tentang al-Kitab, mereka akan berhasil menciptakan keragaman gereja. Itu berarti, kebenaran agama bukan hanya ditentukan oleh gereja Roma, melainkan akan ditentukan oleh gereja di berbagai negeri di Eropa.”

“Maksud Tuan Syaikh, mereka akan membangun madzhab-madzhab Nasrani baru?”

“Malah mungkin bukan madzhab, melainkan agama baru yang ditandai kibaran panji-panji Bani Israil,” ujar Abdul Jalil tegas. “Dan itu sah saja, sebagai perlawanan hamba Tuhan terhadap kezaliman manusia-manusia yang mengaku-aku sebagai prajurit, ksatria, anak-anak, dan bahkan tuhan.”

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 11:15LT