Majelis Wali Songo

Sepanjang perjalanan dari Samarang ke Giri Kedhaton, Abdul Jalil mendapati perselisihan antara penduduk pesisir dan para penganut paham Syi’ah makin menajam. Tanpa diketahui siapa yang memimpin, tiba-tiba terjadi penyerangan, penjarahan, pembakaran, dan perusakan terhadap rumah-rumah dan tempat ibadah yang diduga milik orang-orang Syi’ah. Tak kenal Muslim tak kenal Hindu, penduduk Nusa Jawa seolah diarahkan oleh satu kekuatan tak kasatmata untuk memburu orang-orang yang mereka tuduh Syi’ah. Yang paling menderita dalam peristiwa itu adalah penduduk keturunan Campa yang tegas-tegas menyatakan penganut Syi’ah. Mereka lari ke hutan-hutan untuk menghindari kejaran penduduk yang sudah gelap mata seolah keranjingan setan.

Sadar bahwa masalah perselisihan itu tidak dapat diselesaikan dengan meredamnya dari satu tempat ke tempat lain, Abdul Jalil berusaha membawa masalah tersebut ke dalam pertemuan para penguasa pesisir dan pemuka trah Prabu Kertawijaya di Giri Kedhaton. Sebagaimana saat berdebat dengan Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, Abdul Jalil dalam pertemuan itu dengan tegas menyatakan tidak setuju terhadap pandangan-pandangan picik yang menghendaki agar semua penganut Syi’ah di Nusa Jawa dibinasakan dan kedatangan Portugis wajib disambut dengan senjata.

Sebagai orang yang menghendaki terjadinya keseimbangan dalam tatanan kehidupan, Abdul Jalil tidak menginginkan ada tindak kekerasan yang berlebihan.

Di hadapan para penguasa pesisir dan keturunan Prabu Kertawijaya itu ia berkata dengan suara lantang dan tegas, “Sesungguhnya, kisah jatuh bangunnya suatu bangsa sebagaimana sudah dialami umat manusia adalah pelajaran yang agung jika kita mau berpikir. Jika Allah sudah berkehendak menimpakan marabahaya kepada makhluk-Nya, tidak ada yang bisa menghindarkannya kecuali Dia sendiri (QS. Yusuf: 107). Dengan begitu, menurut hematku, kehadiran Ya’juj wa Ma’juj yang membuat kerusakan di muka bumi pada dasarnya adalah kehendak-Nya jua. Rahasia di balik hadirnya Ya’juj wa Ma’juj pada dasarnya adalah peringatan keras dari Allah kepada sebagian manusia yang telah menempatkan diri sebagai fir’aun-fir’aun. Ya’juj wa Ma’juj selalu datang saat manusia sudah menuhankan makhluk (thaghut) sebagaimana terjadi pada fir’aun.”

“Guru dan mertuaku, almarhum Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Baghdady, telah bercerita kepadaku tentang seorang sufi besar bernama Syaikh Majiduddin al-Baghdady yang hidup pada masa zaman Muhammad ibn Tikish, penguasa Khwarazm, yang bertindak sewenang-wenang seperti fir’aun. Para ulama fiqh dan guru tarekat yang mengitari penguasa Khwarazm tersebut adalah penghasut-penghasut jahat yang pintar menjilat dan membiarkan Ibn Tikish tenggelam di lautan nafsunya. Akibat hasutan para ulama palsu tersebut, Ibn Tikish menghukum mati Syaikh Majiduddin al-Baghdady yang dianggapnya telah murtad dan berbahaya bagi kekuasaannya. Padahal, Syaikh Majiduddin al-Baghdady adalah seorang wali Allah. Dia tidak mau berkomplot dengan penguasa. Sebaliknya, dia suka mencela tindakan-tindakan Ibn Tikish yang tidak terpuji.”

Para ulama dan Ibn Tikish untuk sesaat bisa tertawa-tawa gembira karena telah berhasil menyingkirkan “orang tak berguna” yang berbahaya seperti Syaikh Majiduddin al-Baghdady. Para ulama bisa tertawa-tawa gembira sebagaimana sebelumnya mereka menghasut penguasa Khwarazm untuk membunuh Syaikh Syihabuddin Yahya Suhrawardi dan Syaikh Ruzbihan Baqly. Tapi, apa yang terjadi setelah kematian Syaikh Majiduddin al-Baghdady? Sejarah mencatat, Al-Waly, Sang Kekasih, yang selama itu melingkupi Syaikh Syihabuddin, Syaikh Ruzbihan Baqly, dan Syaikh Majiduddin al-Baghdady meluapkan amarah kemurkaan terhadap tindakan penguasa Khwarazm dan para ulama jahat. Allah mengirim Ya’juj wa Ma’juj yang dipimpin oleh seorang pembinasa: Jenghiz Khan.

Selama kurun lima tahun, seluruh kekuatan Ibn Tikish di segenap penjuru Khwarazm diluluh lantakkan oleh kawanan Ya’juj wa Ma’juj. Beribu-ribu ulama, pejabat, raja, keluarganya, bahkan orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang hidup di permuakaan bumi Khwarazm dijagal tanpa kenal ampun. Saat itu negeri-negeri bawahan Khwarazm seperti Balkh, Marv, Nishapur, Herat, Thus, Ray, Qazwin, Hamadan, dan Ardabil tenggelam di dalam kobaran lautan api. Tidak satu pun kekuatan senjata yang dimiliki Ibn Tikish dapat menahan Ya’juj wa Ma’juj. Tidak sepatah kata pun fatwa ulama yang dapat menahan penghancuran kawanan Ya’juj wa Ma’juj.

“Kini, ketika saudara-saudara kita asal Persia, Kerala, dan Maghrib datang berbondong-bondong untuk memberitakan munculnya fir’aun Persia dan hadirnya bajak laut Portugis yang mereka anggap sebagai kaum perusak, Ya’juj wa Ma’juj, sepantasnyalah kita mawas diri. Maksudku, jika kabar yang disampaikan saudara-saudara kita itu benar maka kita wajib bertanya kepada diri kita: ‘Apakah di sekitar kehidupan kita sekarang ini tidak sedang berkuasa manusia-manusia yang mengangkat diri sebagai fir’aun-fir’aun? Apakah kiblat hati dan pikiran kita sekarang ini tidak sedang terarah pada thaghut? Apakah Tauhid kita selama ini sudah benar?’ Sebab, Allah tidak akan mengirimkan Ya’juj wa Ma’juj kepada umat yang sudah benar dalam Tauhid. Dengan begitu, menurut hematku, betapa baiknya jika kita mawas diri dan memperbaiki kekeliruan serta kesalahan kita dalam Tauhid daripada kita membunuhi penganut Syi’ah dan mempersiapkan senjata untuk menghadapi kehadiran sekelompok orang yang kita anggap berbahaya, hanya karena mereka itu kita curigai sebagai Ya’juj wa Ma’juj.”

Mendengar uraian Abdul Jalil, para adipati pesisir pada prinsipnya dapat menerima alasan yang dikemukakan Abdul Jalil. Tetapi, jauh di dalam hati, kebanyakan mereka tetap merasa sulit meninggalkan sikap curiga terhadap kehadiran bajak laut di Hindia. Sebab, apa pun kenyataannya, bagian terbesar di antara adipati-adipat pesisir tersebut adalah “penguasa saudagar” sehingga pandangan mereka tak jauh beda dengan pandangan saudagar-saudagar Kerala dan Maghrib. Mereka tidak ingin kebebasan mereka dalam berniaga tersaingi, apalagi terkuasai oleh kekuatan baru. Mereka tidak bisa menerima kabar yang menyatakan bahwa bajak laut Portugis itu telah menjagal jama’ah haji dan berencana akan menguasai semua jalur perniagaan di lautan.

Untuk alasan pertahanan diri dan kebebasan berniaga, Abdul Jalil tidak keberatan jika suatu perlawanan dilakukan kepada pihak-pihak yang ingin menguasai. Sebagaimana tatanan kehidupan yang tidak mengenal mutlak-mutlakan, dalam beragama dan perniagaan pun tidak boleh ada mutlak-mutlakan di mana satu pihak menguasai pihak lain dengan kekerasan melalui kekuatan senjata. Walau begini, menurut Abdul Jalil, sebelum suatu perlawanan dilakukan, wajiblah terlebih dulu dibangun benteng pertahanan diri yang kuat. Dan sekuat-kuat benteng pertahanan diri, menurutnya, adalah benteng pertahanan yang dibangun di atas landasan nilai-nilai Tauhid.

Untuk alasan yang terakhir itu, dengan kata-kata tajam dan bernada menyindir, ia berkata, “Aku kira, apa yang sedang kita ributkan tentang fir’aun Persia hendaknya kita selesaikan secara bijak. Maksudnya, jika seorang pemuka Syi’ah melakukan kejahatan kemanusiaan, janganlah penganut Syi’ah yang tidak ikut-ikutan melakukan kesalahan dijadikan sasaran kemarahan. Karena itu, aku berharap kepada saudara-saudaraku, para raja yang berkuasa, untuk mengambil tindakan tegas terhadap kekacauan di wilayahnya masing-masing. Jangan biarkan penduduk saling membunuh hanya gara-gara tindakan orang laing di negeri asing.”

“Kemudian tentang bajak laut Portugis, menurut hematku, pada dasarnya adalah pembuktian apa yang sudah disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan yang telah menyaksikan Kitab Langit (Lauh al-Mahfudz). Sesungguhnya, dia telah melihat perlambang kapal-kapal yang tertambat di dermaga dan dari dalamnya keluarlah kawanan serigala, musang, serta makhluk-makhluk pemangsa dari Kegelapan. Mereka itu makhluk rakus yang tak pernah kenyang. Kawanan serigala, musang, dan makhluk pemangsa itu menjelma menjadi manusia-manusia berparas mengagumkan dan perilakunya sangat santun. Mereka mendatangi manusia dengan senyuman dan kata-kata manis. Tetapi, tangan mereka yang tersembunyi di punggung menyembunyikan pisau beracun. Siapa saja di antara manusia yang lengah dan terpesona oleh ucapan manisnya akan ditikamnya.”

“Tikaman pisau beracun itu tidak menyebabkan manusia mati. Sebaliknya, racun di pisau itu akan membuat hati manusia menjadi biru dan membeku. Setelah itu, hati manusia akan menghitam dan membatu. Saat itulah manusia-manusia yang hatinya hitam dan membatu itu akan menjelma menjadi mayat-mayat hidup. Mereka akan menjadi wadag kosong tak berjiwa (ash-shuwar al-qa’imah). Kemudian mereka yang sudah menjadi mayat-mayat hidup itu akan berjalan menyimpang dari Kebenaran. Sebab, yang menampak pada cakrawala penglihatannya adalah perwujudan yang lain (al-aghyar) dari benda-benda dan angan-angan kosong yang muncul dari wujud maya (ablasa). Itulah gambaran ruhaniah yang diketahui Syaikh Ibrahim al-Uryan tentang bakal datangnya suatu zaman di mana manusia hidup dalam kegelapan nurani karena pelita jiwanya telah padam akibat kecintaan yang berlebihan terhadap kehidupan duniawi.”

“Lantaran itu, ketika tanda-tanda perubahan zaman itu telah tampak, aku berpikir bahwa saat inilah waktu yang tepat bagi kita untuk mempersubur nilai-nilai Tauhid yang sudah tumbuh di tengah kehidupan masyarakat. Sebab, manusia-manusia berparas menakjubkan jelmaan serigala, musang, dan makhluk pemangsa yang disaksikan Syaikh Ibrahim al-Uryan di Kitab Langit itu tengaranya telah muncul tak jauh dari kehidupan kita. Menurut penafsiranku, perlambang itu tidak hanya mengejawantah dalam perwujudan bajak laut Portugis yang akan diikuti oleh bajak laut lain yang akan memenuhi permukaan bumi, tetapi yang paling aku khawatirkan, perlambang itu juga mewujud di antara umat Islam sendiri. Maksudku, racun yang dibawa manusia-manusia jelmaan serigala, musang, dan makhluk pemangsa itu akan menyebar ke segenap penjuru dunia, baik melalui bajak laut Portugis maupun orang-orang Muslim berjiwa bajak laut, sehingga akhirnya akan lahir kawanan mayat hidup dari antara saudara-saudara kita yang masih terperangkap pada kecintaan terhadap dunia,” papar Abdul Jalil.

“Paman,” kata Pangeran Zainal Abidin, putera Prabu Satmata, “apakah kekuatan yang kita miliki tidak cukup kuat untuk melawan mereka? Bukankah penyerbuan Caruban ke Rajagaluh telah menunjukkan bukti bahwa kita sangat kuat jika bersatu.”

“Justru di situlah letak masalahnya, Pangeran,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Para bajak laut itu akan datang tidak sebagai musuh. Mereka akan datang sebagai mitra berniaga yang menawarkan keuntungan besar. Sebagaimana kita ketahui, dalam hal dagang tidak ada perkawanan yang sejati, apalagi persatuan. Prinsip utama dalam hal dagang adalah bagaimana kita dapat menempatkan kepentingan kita di atas semua kepentingan agar kita dapat menangguk keuntungan sebesar-besarnya. Nah, pada keadaan itulah aku tidak yakin bahwa kita bisa bersatu karena yang kita hadapi bukanlah ujung senjata seperti yang ditodongkan orang-orang Rajagaluh, melainkan tawaran keuntungan berlimpah yang menyilaukan kita.”

“Jika demikian, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menghadapi mereka?”

“Menegakkan nilai-nilai yang berasas pada Tauhid.”

“Bukankah selama ini kita semua sudah melakukannya? Bukankah kita sudah menyiarkan dakwah Islam di berbagai tempat?” tanya Pangeran Zainal Abidin.

“Itu memang benar, Pangeran. Tetapi, semuanya masih dilakukan secara sendiri-sendiri dan terbatas pada lingkungan sekitar kita. Kalaupun ada Bhayangkari Islah, itu pun dilakukan pada batas-batas wilayah sendiri. Padahal, yang kita butuhkan sekarang ini adalah gerakan serentak di seluruh negeri untuk memperkuat benteng nilai-nilai berasas Tauhid. Sebab, kawanan bajak laut itu tidak akan mampu menembus pertahanan nilai-nilai suatu bangsa yang tegak di atas landasan Tauhid. Karena itu, sekarang inilah waktu yang tepat bagi kita untuk memulai kerja keras membangun benteng pertahanan nilai-nilai sebelum para pecinta tubuh dan pemuja dunia itu datang ke hadapan kita.”

“Bagaimanakah cara kita melakukannya?”

“Kita harus mewujudkan gagasan Majelis Wali Songo sebagaimana yang sudah pernah aku bicarakan dengan saudaraku, almarhum Susuhunan Ampel Denta, dan dengan ayahandamu serta Pamanda Raden Kusen. Kenapa kita butuh mewujudkan gagasan Wali Songo? Sebab, masyarakat ummah (al-ummah) yang sudah terbentuk di sebagian Nusa Jawa ini membutuhkan pemimpin ruhani (al-imam) dengan tetap berpedoman pada keteladanan yang dicontohkan empat khalifah. Maksudku, jika selama ini di Caruban, Majapahit, dan Madura ada khalifah-khalifah yang berkuasa atas wilayahnya masing-masing maka dengan terbentuknya Majelis Wali Songo, semua khalifah itu bisa disatukan, di samping tentu saja membatasi kekuasaan khalifah agar tidak menjadi fir’aun seperti Syah Ismail.”

“Dengan alasan agar khalifah tidak menjadi fir’aun maka melalui Majelis Wali Songo, kekuasaan khalifah akan dibagi menjadi dua. Yang pertama, khalifah hanya menjadi penguasa wilayah dan menjalankan pemerintahan duniawi sehingga lebih tepat jika ia disebut al-amir atau as-sultan. Jabatan al-amir atau as-sultan akan dipegang oleh seorang adipati yang ditunjuk oleh para adipati. Yang kedua, kekuasaan ruhani yang meliputi kekuasaan agama yang mengatur penduduk yang tinggal di wilayah kekuasaan as-sultan. Kekuasaan itu dipegang oleh para guru suci (susuhunan) di bawah kendali satu orang pemimpin ruhani (al-imam al-ummah). Itu berarti, baik al-amir atau as-sultan dan seluruh penduduk wajib tunduk kepada kekuasaan Wali Songo terutama yang terkait dengan penegakan aturan-aturan syarak,” kata Abdul Jalil.

“Apakah dengan cara demikian kita bisa menghindari ancaman bajak laut Peranggi?”

“Menurut hematku, kita tidak bisa melakukan untuk menghadapi mereka yang mencintai dan memuja dunia. Sebab, jika kecintaan terhadap tubuh dan dunia kita lawan dengan cara yang sama maka tidak akan ada bedanya antara kita dengan mereka. Karena itu, mereka harus dilawan dengan kekuatan ruhani. Maksudku, saat inilah pemimpin-pemimpin ruhani harus muncul sebagai kiblat panutan pemimpin duniawi dan penduduk sebelum kawanan pecinta tubuh dan pemuja duniawi itu datang ke sini. Saat inilah waktu yang tepat untuk mewujudkan Majelis Wali Songo, penguasa ruhani di Nusa Jawa,” ujar Abdul Jalil.

“Kenapa majelis itu harus disebut wali? Kenapa pula berjumlah sembilan?” tanya Pangeran Zainal Abidin.

“Sebutan wali memiliki dua sisi makna,” ujar Abdul Jalil. “Pertama-tama, bagi penduduk beragama Syiwa-Budha, kata wali bermakna pendeta yang melaksanakan upacara caru demi terciptanya keseimbangan kehidupan manusia. Mereka dimuliakan karena dianggap memiliki kemampuan melakukan upacara bhumisuddha. Sementara itu, dengan kenyataan yang menunjuk bahwa para wali yang sembilan itu selain melaksanakan upacara juga adalah guru suci (susuhunan), maka kedudukannya adalah sama dengan guru, yang bersthana di Kailasa: Syiwa. Dengan begitu, penduduk beragama Syiwa-Budha akan menganggap mereka sebagai penjelmaan Nawadewata.”

“Menurut saudara kami, almarhum Susuhunan Ampel Denta, kata wali dikaitkan dengan penduduk beragama Islam dengan makna pelindung dan sekaligus penguasa yang merujuk pada Asma’, Af’al, dan Shifat Allah, yaitu al-Waly. Jabatan wali dalam hal itu dinisbatkan kepada manusia-manusia yang sudah mencapai derajat tertentu sebagai wakil al-Waly di muka bumi (khalifah al-Waly fi al-ardh). Hal itu sudah diterapkan di Caruban dalam bentuk wali nagari dan waly al-Ummah, yang memiliki makna jabatan duniawi dan ruhani. Tetapi, dengan alasan Tauhid dan demi menghindari kemungkinan lahirnya fir’aun-fir’aun maka jabatan itu harus dibagi dua, yaitu jabatan al-amir atau as-sultan dan jabatan al-imam al-ummah. Jadi, jabatan wali dalam Wali Songo lebih tinggi dibanding jabatan al-amir, as-sultan, dan adipati karena berkedudukan ruhaniah.”

Sedangkan kata Songo, yang bermakna sembilan, selain memiliki perlambang penguasa delapan penjuru mata angin, yaitu Nawadewata (1.Paramasyiwa, 2.Wisynu, 3.Sambhu, 4.Iswara, 5.Rudra, 6.Brahma, 7.Maheswara, 8.Mahadewa, 9.Sangkhara), juga terkait dengan hitungan saudara kami, almarhum Susuhunan Ampel Denta, yang berpedoman pada hitungan abjadiyah A Ba Ja Dun Ha Wa Zun. Kata Songo, menurut beliau, memiliki makna Jawa, yaitu huruf ketiga dan keenam pada abjadiyah A Ba Ja Dun Ha Wa Zun. Dengan demikian, Wali Songo memiliki perlambang penguasa ruhani delapan penjuru mata angin di Nusa Jawa dan sekaligus pelindung empat lemah larangan (lemah abang, lemah putih, lemah ireng, lemah jenar: Caturbhasa Mandala).”

“Didalam perbincangan, kami telah sepakat bahwa apa yang disebut Jawa bukanlah nama tempat atau nama kumpulan orang-orang. Yang disebut Jawa adalah sebuah tatanan nilai-nilai yang berlandaskan Tauhid yang merupakan perpaduan anasir-anasir Tauhid dari berbagai agama yang pernah ada di dunia. Itu sebabnya, yang disebut Jawa tidak akan pernah mati dan sebaliknya akan tetap hidup lestari abadi seiring putaran roda waktu selama anasir Tauhid masih melekat padanya.”

“Karena nilai-nilai yang membentuk ke-Jawa-an adalah nilai-nilai Tauhid. Maka nilai-nilai Jawa akan selalu hidup, meski menghadapi tantangan dan rintangan bagaimana pun dahsyatnya, selama masih setia pada Sumbernya, yaitu Tauhid. Sebagaimana telah kita pahami, di dalam tata bahasa Jawa telah terdapat aturan bahwa di antara seluruh aksara yang ada hanya aksara Ja dan Wa yang tidak bisa mati. Maksudnya, hanya aksara Ja dan aksara Wa yang tidak bisa diberi pangkon. Itu mengandung makna bahwa siapa saja di antara manusia yang mengaku sebagai orang Jawa tetapi dia ‘mati’ ketika dipangku oleh jabatan, kekayaan, dan kemuliaan duniawi maka sesungguhnya dia itu pembohong. Dia belum bertauhid. Dia belum menjadi Jawa dan sekali-kali haram mengaku Jawa. Sebab, Jawa maknanya adalah Tauhid. Jawa adalah awang-uwung. Jawa ibarat huruf alif dalam bahasa Arab, yaitu huruf yang tidak bisa mati. Nilai-nilai Tauhid inilah yang harus mendasari segala tindak dan laku bagi mereka yang mengaku manusia Jawa.”

Raden Ahmad Susuhunan Khatib yang belum jelas dalam memahami gagasan Wali Songo mengemukakan keberatan terhadap usulan Abdul Jalil itu dengan alasan Tauhid. Sebagai khalifah Tarekat Kubrawiyyah yang menggantikan ayahandanya, dia menolak tegas ajaran yang bersifat Ittihadiyyah. Itu sebabnya, saat dijelaskan bahwa Majelis Wali Songo akan menggantikan kedudukan Nawadewata, dia tidak bisa menerima. Sebab, gagasan itu hanya mungkin dilakukan jika orang seorang menganut ajaran Ittihadiyyah sebagaimana ajaran Bhagavatam dalam agama Hindu. Menurutnya, usaha mengambil alih kedudukan Nawadewata dengan Wali Songo dikhawatirkan akan merusak akidah.

Menangkap ketidakpahaman Raden Ahmad, Abdul Jalil kemudian memaparkan gagasan Wali Songo sebagaimana yang pernah ia sampaikan kepada Raden Ali Rahmatullah, Prabu Satmata, da Raden Kusen, “Sesungguhnya di balik perubahan Nawadewata menjadi Wali Songo terkait dengan perubahan jabatan Buyut menjadi Ki Ageng dan jabatan Rama menjadi Ki Lurah. Semuanya bertujuan menegakkan Tauhid. Dengan begitu, sebagaimana jabatan Ki Ageng dan jabatan Ki Lurah yang berujung pada penghapusan kabuyutan-kabuyutan dan punden-punden karaman (makam para Buyut dan Rama yang disembah-sembah), jabatan Wali Songo pun pada akhirnya berujung pada penghapusan pemujaan terhadap guru suci dan raja sebagai dewa. Sebab, mereka yang menjadi anggota Wali Songo, al-amir, atau as-sultan bukanlah jelmaan Tuhan, melainkan hanya sahabat-sahabat dan kekasih-kekasih Tuhan. Sehingga, saat anggota-anggota Majelis Guru Suci yang menjadi anggota Majelis Wali Songo dan para adipati meninggal, kuburnya tidak akan disembah penduduk.”

“Apa syarat-syarat untuk menjadi anggota Majelis Wali Songo?”

“Anggota Wali Songo terdiri atas guru suci, baik mursyid maupun khalifah tarekat yang memiliki kewenangan untuk melakukan upacara madhiksa (baiat).”

“Apakah gagasan Wali Songo itu tidak menyalahi akidah?” tanya Raden Ahmad. “Sebab, kedudukan Wali itu terahasia dan tidak boleh diketahui oleh sembarang manusia kecuali sesama wali.”

“Jika yang dimaksud adalah wali Allah, memang kedudukannya terahasia. Tetapi, sejak awal sudah aku jelaskan bahwa yang dimaksud Wali Songo adalah waly al-Ummah, yang merujuk pada kedudukan al-imam al-ummah. Jadi, Wali Songo adalah jabatan ruhani yang bisa dikenal oleh seluruh masyarakat. Apakah para anggota Wali Songo itu berkedudukan sebagai wali Allah? Hanya Allah dan para kekasihnya saja yang tahu.”

“Satu hal yang sesungguhnya dapat kita tarik dari pembentukan Majelis Wali Songo, yang terkait dengan Asma’, Shifat, dan Af’al Allah, yakni pengejawantahan azh-Zhahir dan al-Bathin yang abadi. Maksudku, jika suatu ketika azh-Zhahir pernah mengejawantah di Andalusia dalam wujud Khilafah Islamiyah maka saat itu al-Bathin tersembunyi secara rahasia. Ketika Khilafah Islamiyah secara zahir menyingsing dari Andalusia, bukan berarti Islam terhapus dari permukaan bumi, melainkan terbit di tempat lain. Salah satunya, di Nusa Jawa ini.”

“Selama berbilang abad, al-Waly telah mengejawantah pada wujud zahir para wali Allah yang mengajarkan Jalan Kebenaran (thariqah al-haqq) kepada manusia dan orang-orang yang dipilih-Nya. Tetapi, saat Syah Ismail dengan mulutnya yang lancang itu menyatakan bahwa keberadaan wali Allah yang disandang para guru tarekat dan orang-orang suci adalah kebohongan, dengan alasan bahwa kedudukan hanya disandang oleh dua belas orang imam Syi’ah, maka menyingsinglah al-Waly secara zahir dari bumi Persia. Tetapi, itu bukan berarti al-Waly terbenam di dalam al-Bathin. Dengan zahirnya Majelis Wali Songo ini, kita akan maklumkan kepada dunia bahwa al-Waly tetap mengejawantah secara zahir di Nusa Jawa. Al-Waly secara zahir telah terbenam dari bumi Persia, namun terbit di bumi Jawa. Ini adalah pembuktian bahwa firman tuhan bernama Syah Ismail yang mengaku keturunan Muhammad Saw itu hanya berlaku di wilayah kekuasaannya saja. Al-Waly tetap mengejawantah secara zahir di dunia.”

“Tapi paman,” Raden Ahmad ingin penjelasan lebih dalam, “bukankah kedudukan wali yang ditetapkan Syah Ismail terserap ke dalam diri dua belas imam? Sedangkan Majelis Wali Songo hanya sembilan orang? Apakah penduduk Jawa yang menganut Syi’ah akan mempercayai keberadaan Wali Songo?”

“Kita tidak perlu mengikuti cara berpikir Syah Ismail di Persia sana. Kita tidak perlu mengikuti cara pikir penduduk Syi’ah di Nusa Jawa. Kita harus bertindak dengan cara pikir penduduk Nusa Jawa yang bakal menerima gagasan kita. Maksudnya, jika selama ratusan tahun penduduk Nusa Jawa tidak mengenal imam yang dua belas sebaliknya mereka lebih mengenal Nawadewata (sembilan dewa) dan Trisamaya (tiga dewa), yang kesemua jumlahnya dua belas, kenapa kita harus memaksa mereka dengan sesuatu yang tidak mereka kenal? Menurut hematku, penduduk Nusa Jawa akan lebih mudah menerima keberadaan Majelis Wali Songo sebagai pengejawantahan Nawadewata dan Trisamaya. Itu berarti, kita tidak perlu lagi terperangkap ke dalam perbedaan Sunni-Syi’ah. Kita hanya mengenal paham tentang Jawa dan bukan Jawa,” kata Abdul Jalil menegaskan.

Akhirnya, semua pihak memahami pandangan dan gagasan yang disampaikan Abdul Jalil. Mereka semua sepakat membentuk Majelis Wali Songo yang ternyata sudah disetujui oleh almarhum Raden Ali Rahmatullah.

Pertama-tama, semua sepakat bahwa Sri Naranatha Giri Kedhaton Ratu Tunggul Khalifatullah, Prabu Satmata (Hyang Manon), Sang Girinatha (raja gunung; Syiwa), ditetapkan sebagai pemimpin MajelisWali Songo dan dianggap berkedudukan sebagai Bhattara Paramasyiwa. Prabu Satmata berkedudukan di pusat kekuasaan ruhani di Nusa Jawa. Lantaran menjadi lambang Paramasyiwa maka Prabu Satmata menggunakan gelar Susuhunan Giri, yang bermakna Guru Suci dari Giri (Sang Girinatha) perwujudan Guru Agung yang bersthana di Gunung Kailasa.

Prabu Satmata berkedudukan di pusat, dilingkari guru suci lainnya (Wisynu, Sambhu, Iswara, Rudra, Brahma, Maheswara, Mahadewa, Sangkhara) dan sekaligus menjadi penguasa ruhani di empat mandala utama (caturbhasa mandala), yaitu Sagaramadhu, Sukharajya, Kembang, dan Sekarkurung. Di mandala-mandala tersebut Prabu Satmata menjadi guru yang bertugas menyampaikan ajaran Islam yang mencakup syari’at-thariqat-haqiqat-ma’rifat, yaitu kelanjutan sempurna ajaran suci yang sudah disampaika Bhattara Parameswara di caturbhasa mandala yang terletak di Sagara (lautan), Sukhayajna (pemujaan), Kasturi (semerbak wangi), dan Kukub (selimut).

Di Sagaramadhu (lautan madhu), Prabu Satmata sebagai susuhunan Tarekat Ni’matullah mengajarkan ilmu ma’rifat kepada murid-murid utama yang tergolong ahl al-ahadiyyah di mana nama Sagaramadhu terkait dengan lambang lautan wujud (bahr al-wujud). Di Kembang (bunga), Prabu Satmata mengajarkan ilmu haqiqat kepada murid-murid yang tergolong ahl al-wahdat di mana nama Kembang terkait dengan lambang barzakh al-jami’. Di Sukarajya, Prabu Satmata mengajarkan ilmu thariqat kepada murid-murid yang tergolong ahl al-wahidiyyah di mana nama Sukarajya terkait dengan lambang Sukhayajna (pemujaan), yakni jihad an-nafs. Dan di Sekarkurung, sang susuhunan mengajarkan ilmu syari’at kepada murid-murid yang tergolong ahl asy-syar’i di mana nama sekar kurung (bunga yang terkurung) terkait dengan lambang selimut (kukub), yakni perlambang orang-orang yang kesucian jati dirinya masih terselubung hijab (mahjubin).

Di keempat mandala itu Prabu Satmata mengajarkan Tarekat Ni’matullah kepada para dikshita yang mencari Kebenaran. Pembagian tingkat pengajaran ruhani berdasar syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat bukanlah hal yang asing bagi penduduk Nusa Jawa. Di dalam ajaran Syiwa-Budha, pembagian tingkat tersebut sudah dikenal dengan istilah bhaktimarga (syari’at), karmamarga (thariqat), jnanamarga (haqiqat), dan yogamarga (ma’rifat). Sebagai penguasa dan guru suci pada caturbhasa mandala, Prabu Satmata selaku lambang Bhattara Paramasyiwa memberikan wewenang kepada Syaikh Siti Jenar sebagai lambang Maheswara, penguasa barat daya, untuk menjadi penjaga empat lemah larangan di wilayah Giri Kedhaton, yaitu Ksetra Adhidewa, Ksetra Mangare, Dharma Lemah Abang, dan Lemah Putih.

Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, mantan adipati Lasem, ditetapkan sebagai lambang Wisynu yang berkedudukan di utara dan menjadi penguasa sekaligus susuhunan pada caturbhasa mandala di Shankapura, Komalasa, Bonang, dan Trutup. Sebagai perlambang Wisynu, Raden Mahdum Ibrahim menggunakan gelar Susuhunan Wahdat Cakrawati. Di keempat mandala itu Susuhunan Wahdat Cakrawati selaku wakil mursyid (khalifah) Tarekat Ni’matullah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Wisynu, Raden Mahdum Ibrahim memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang sebagai Maheswara untuk menjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Mahibit, Lemah Abang, Lemah Putih, dan Wulung. Lantaran sudah menjadi anggota Majelis Wali Songo yang menjadi guru suci di sejumlah tempat yang jauh dari Kadipaten Demak, kedudukan Raden Mahdum Ibrahim sebagai Imam Masjid Demak digantikan oleh saudara iparnya, Pangeran Karang Kemuning, Tuan Ibrahim al-Gujarati, suami Nyi Gede Pancuran.

Pangeran Arya Pinatih yang masyhur dengan sebutan Syaikh Manganti ditetapkan sebagai lambang Brahma yang berkedudukan di selatan, sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Tasikmadhu, Giribik, Pandanwangi, dan Kamulan di Bumi Tumapel. Di keempat mandala itu Pangeran Arya Pinatih selaku wakil mursyid (khalifah) Tarekat Kubrawiyyah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Brahma, Pangeran Arya Pinatih memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang, lambang Maheswara, untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Wurare, Ksetra Sempalwadak, Tunggul Wulung, dan Kunir. Sementara itu, karena penjaga gerbang selatan Sthana Syiwa adalah Bhattara Gana (Ganesha) maka Pangeran Arya Pinatih menggunakan gelar Susuhunan Giri Gajah alias Sang Girijatanaya (Ganesha Putera Uma).

Khalifah Husein Imam Madura ditetapkan sebagai lambang Shambu yang berkedudukan di timur laut yang sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Madura yang terletak di Sagara di Gunung Geger (hiruk pikuk: Rudra), Bulan-Bulan (Candrasekhara), Aromata (tanjung wewangian), dan Kukub (Kokob). Di keempat mandala itu Khalifah Husein selaku wakil mursyid (khalifah) Kubrawiyyah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Sambhu, Khalifah Husein memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Gua Daksha, Tanah Merah, Kemuning, dan Tabehan di Sapudi.

Raden Ahmad Susuhunan Khatib ditetapkan sebagai lambang Iswara yang berkedudukan di timur yang sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Ampel Denta, Pinilih, Bang Kuning, dan Bukul. Di keempat mandala itu Raden Ahmad selaku mursyid pengganti (khatib) Tarekat Kubrawiyyah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Iswara, Raden Ahmad memberi wewenang kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Nyu Denta, Kadingding, Palemahan, dan Sasawo.

Syaikh Jumad al-Kubra ditetapkan sebagai lambang Rudra yang berkedudukan di tenggara dan sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Siddhasrema, Pagedangan, Sagara, dan Tunggul Wulung. Di keempat mandala itu Syaikh Jumad al Kubra mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran, berdasar tingkatan syari’at, thariqat, haqiqat, ma’rifat. Sebagai lambang Rudra, Syaikh Jumad al-Kubra memberikan wewenag kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Candika, Ksetra Rabut Carat, Keboireng, Lemah Abang.

Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati ditetapkan sebagai lambang Sangkhara yang berkedudukan di barat laut dan sekaligus manjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Sukhajaya, Tegalwangi, Tatakan, dan Wringinkurung. Sebagai lambang Sangkhara, Syarif Hidayatullah memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Gunung Pulasari, Gunung Lancar, Gunung Karang, dan Sudamani.

Syaikh Bentong ditetapkan sebagai lambang Mahadewa yang berkedudukan di barat dan sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Sangkan Urip, Malang Sumirang, Campaka, dan Sirnabhaya. Sebagai lambang Mahadewa, Syaikh Bentong memberi wewenang Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Siddhawangi, Lemah Abang, Ksetra Kalahang, dan Girinatha.

Keberadaan Syaikh Lemah Abang (Abdul Jalil) sebagai pendeta yang paling berpengalaman dalam meredam dan membuat tawar ksetra-ksetra, telah mendudukannya sebagai salah satu dari anggota Wali Songo yang tidak sekadar bertugas menjaga empat lemah larangan yang sebagian besar adalah ksetra di sembilan wilayah, melainkan pula menjadi penguasa dan guru suci di mandala-mandala yang mengandung makna empat warna seperti Lemah Abang, Kajenar, Lemah Putih, Lemah Ireng, Kemuning, Wulung, Sekar Putih, Perak, Batu Putih, Silapethak, Selamirah. Untuk tugas itu, Syaikh Lemah Abang mempercayakan semua wilayah yang dijaganya kepada para murid kepercayaannya. Ia sendiri terlihat lebih banyak berkelana dari satu tempat ke tempat lain.

Sesuai rencana, kesembilan orang anggota Wali Songo pengganti Nawadewata adalah penguasa-penguasa ruhani yang baru bagi mandala-mandala dan lemah-lemah larangan di Nusa Jawa. Sebagaimana kedudukan khalifah yang sudah dipegang Prabu Satmata, di dalam Majelis Wali Songo pun kedudukan pemimpin juga dipegangnya, yaitu sebagai Sang Girinatha pengejawantahan Paramasyiwa. Tugas utama Majelis Wali Songo bagi penduduk Nusa Jawa penganut Syiwa-Budha adalah sebagai pendeta utama, terutama sebagai wali (pemimpin upacara) keagamaan, yang bertujuan menyelamatkan kehidupan umat manusia dari pengaruh jahat para bhutakala. Sementara bagi penduduk Nusa Jawa penganut Islam, Majelis Wali Songo adalah penguasa ruhani yang menjadi pelindung dan sekaligus pemelihara keseimbangan bagi kekuasaan duniawi dan keselamatan penduduk. Mereka adalah para guru suci, sahabat-sahabat Tuhan (wali Allah) yang mengajarkan Islam secara sempurna mulai dari syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Kepada merekalah para adipati, penguasa wilayah duniawi, tunduk dan meminta berkah ruhani.

Matahari merayap turun dan kabut tebal sudah memenuhi permukaan bumi ketika Abdul Jalil yang diiringi Abdul Malik Israil dan Raden Sahid menghadap Patih Mahodara di nDalem Kapatihan yang terletak di barat Bangsal Kaprabon Daha. Sore itu Abdul Jalil memenuhi undangan Patih Mahodara yang ingin mengetahui perkembangan membingungkan di Bharatnagari yang terkait dengan maraknya kabar pembunuhan terhadap orang-orang Islam. Patih Mahodara yang mengenakan kain putih tanpa hiasan didampingi Pangeran Karucil dan Pangeran Gogor, dua orang putera Sri Surawiryyawangsaja. Setelah saling mengabarkan keselamatan masing-masing, dengan nada penuh selidik Patih Mahodara bertanya, “Kesalahan apa yang dilakukan orang-orang Islam di Bharatnagari sehingga mereka dibunuh? Apakah mereka mau merebut kekuasaan raja Bharatnagari?”

Abdul Jalil yang menangkap kecurigaan berlebih Patih Mahodara atas terbentuknya Majelis Wali Songo, yang mungkin dibayangkannya bakal merebut kekuasaan Majapahit di pedalaman, menjelaskan duduk perkara kabar yang didengar sang patih itu.

“Sesungguhnya, yang dibunuh oleh orang-orang Portugis adalah orang-orang muslim Mappila, abdi maharaja Wijayanagara. Malahan, bukan hanya orang Mappila, para nelayan Hindu di Kozhikode pun dibunuh. Tubuh mereka dicincang dan dipertontonkan di pantai Kozhikode. Mereka yang dibunuh itu sama sekali tidak berhubungan dengan perebutan kekuasaan karena leluhur orang Mappila adalah abdi maharaja Wijayanagara. Mereka yang dibunuh itu bukan prajurit atau pemberontak, melainkan laki-laki tua, perempuan, dan anak-anak yang baru kembali menunaikan ibadah haji. Mereka tidak bersalah apa-apa. Mereka hanya menjadi korban dari orang-orang Peranggi yang kejam dan ingin merampas kekuasaan dari tangan raja-raja Bharatnagari.”

“Siapakah orang-orang Peranggi itu, o Tuan Syaikh?” tanya Patih Mahodara ingin tahu. “Pu Pedhut dan Pu Pecuk, Puhawang dan Pabanyaga Daha, telah melaporkan kepada kami tentang orang-orang aneh yang mereka temui di negeri Malindi. Orang-orang itu, kata mereka, kulitnya putih seperti kulit kerbau bule, matanya biru seperti mata kucing, rambutnya kuning kemerahan seperti singa, suaranya keras seperti guntur, pakaiannya dihiasi rumbai-rumbai, topinya dari bahan besi. Kapal-kapalnya aneh. Pada lambung kapalnya dipasangi bedil besar. Apakah yang ditemui Pu Pedhut dan Pu Pecuk itu orang Peranggi yang membunuhi orang Islam di Bharatnagari?”

“Menurut hemat kami memang demikian, Paduka,” sahut Abdul Jalil sambil memandang Abdul Malik Israil. “Tapi mohon maaf, kami tidak begitu paham tentang orang-orang Peranggi itu. Sepanjang hidup, kami belum pernah bertemu mereka. Tetapi saudara kami, Abdul Malik Israil, sangat mengenal orang-orang Peranggi karena tanah kelahiran mereka berdekatan. Maksud kami, tanah asal sahabat kami ini dekat dengan tanah asal orang-orang Peranggi.”

“Benarkah itu?” tanya Patih Mahodara kepada Abdul Malik Israil.

“Benar, Paduka,” sahut Abdul Malik Israil menegaskan. “Jarak kota kelahiran kami yang disebut Granada hanya sekitar seratus yojana dari perbatasan negeri Peranggi. Negeri kami terletak di bumi Andalusia.”

“Tapi, kulit Tuan Syaikh tidak putih. Mata Tuan tidak biru. Rambut Tuan tidak kuning kemerahan,” sergah Patih Mahodara mengerutkan kening, penuh curiga.

“Kami memang bangsa pendatang di bumi Andalusia. Asal tanah leluhur kami di negeri Arab. Karena itu, saat orang-orang kulit putih, mata biru, dan rambut kuning kemerahan itu berkuasa, kami diusirnya dari bumi Andalusia. Bukan hanya kami, Bani Israil, melainkan orang-orang Arab asal Maghrib pun diusirnya dari situ,” jelas Abdul Malik Israil.

“Mereka mengusir orang yang tidak sama dengan mereka?” tanya Patih Mahodara.

“Mereka itu bangsa yang sombong, Paduka. Mereka suka merendahkan orang lain yang kulitnya lebih gelap daripada mereka. Karena itu, di mana pun mereka datang, mereka akan membahayakan penduduk yang didatangi. Kenapa berbahaya? Sebab, mereka punya kebiasaan yang aneh, Paduka,” papar Abdul Malik Israil.

“Kebiasaan aneh? Apa itu misalnya?”

“Mereka memuja Raja laki-laki mereka dengan limpahan kemewahan. Sedangkan Raja puteri mereka akan mereka iris-iris dan mereka potong-potong. Para Aji mereka anggap sebagai lombok yang bisa mereka jadikan sambal atau dikunyah-kunyah sebagai lalapan. Para Ajar mereka anggap sebagai bawang putih yang bisa mereka jadikan bumbu. Para Rama mereka anggap sebagai ranting-ranting pohon yang bisa mereka jadikan kayu bakar. Para Rana mereka anggap sebagai katak yang lezat dipanggang. Para Patibulo akan mereka gantung seperti ikan di pasar. Bahkan, para Basura akan mereka campakkan ke tempat sampah,” kata Abdul Malik Israil.

“Mengerikan sekali perilaku mereka,” gumam Patih Mahodara tertegun-tegun.

“Desa-desa yang mereka bangun pun adalah desa-desa aneh dan menakutkan. Mereka menyebutnya Desacato, tempat para pembangkang. Mereka bangun pula Desalino, tempat yang berantakan. Setelah itu, mereka bangun pula Desalmado yang berisi manusia-manusia bengis dan kejam. Lalu mereka bangun Desatino, kediaman orang-orang sesat. Kalau desa-desa itu sudah terbentuk maka penduduknya akan membayar paja dengan jerami.”

“Gila sekali kebiasaan mereka itu,” gumam Pangeran Gogor seolah kepada diri sendiri.

“Pasar-pasar yang mereka sebut Pasar Hambre memperdagangkan orang-orang kurus kelaparan. Pasar mereka yang disebut Pasar Miedo merupakan tempat orang-orang ketakutan disekap di dalam kerangkeng.”

“Sungguh gila,” gumam Pangeran Gogor menggeleng-gelengkan kepala.

“Para Tanda akan ditangkap dan dihujani pukulan bertubi-tubi. Bahkan mereka menamakan diri sebagai Devastador, penghancur dewa. Jadi, kalau mereka ketemu dewa-dewa akan mereka hancurkan.”

“Sungguh gila,” seru Patih Mahodara agak marah. “Kalau begitu, mereka jangan boleh mengunjungi negeri kita. Mereka harus kita usir sebelum mengacau dan membinasakan kita.”

“Tetapi mereka tidak bisa dilawan dengan kekuatan kecil, Paduka. Mereka harus dilawan dengan kekuatan yang besar dan bersatu. Maksud kami, tidak mungkin kekuatan Daha, Wirasabha, Surabaya, Demak, Giri, Pengging, Caruban, yang terpecah-pecah dapat mengalahkan mereka. Semua harus bersatu untuk bisa melawan mereka. Ya, seluruh kekuatan di Nusa Jawa harus bersatu untuk melawan bangsa aneh itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dalam pertemuan di Giri Kedhaton pekan lalu, para guru suci telah sepakat membentuk Majelis Wali Songo. Mereka adalah wali yang memiliki tugas utama melakukan upacara-upacara yadna demi keseimbangan hidup penduduk di Nusa Jawa. Mareka adalah para pendeta yang menjadi pelindung ruhani bagi kekuasaan-kekuasaan para adipati yang sepakat menolak kehadiran Peranggi di Nusa Jawa,” papar Abdul Malik Israil.

“Apakah Wali Songo bukan siasat orang-orang Islam untuk merebut kekuasaan?”

Abdul Jalil menukas dengan suara lain, “Kami menjamin bahwa selama kami hidup, Wali Songo tidak akan berkaitan dengan kekuasaan duniawi. Sebab, kami yang merupakan salah satu penggagas menempatkan Wali Songo semata-mata berkaitan dengan tatanan ruhani. Wali Songo adalah kumpulan para pendeta. Sebagai bukti bahwa Wali Songo adalah kumpulan pendeta yang bertujuan menjaga keseimbangan kehidupan penduduk di Nusa Jawa. Susuhunan Giri Gajah Pangeran Arya Pinatih telah mengirim utusan ke Puri Kutulingkup di Bali. Sebagai sesama keturunan Dewa Manggis Kuning, ia memberi tahu penguasa Puri Kutulingkup, Kyayi Anglurah Agung Pinatih, untuk bersiaga menghadapi kehadiran orang-orang Peranggi yang bakal menjarah kekayaan negeri-negeri subur. Ia bahkan meminta sejumlah pendeta dari Bali untuk membantu pelaksanaan upacara bhumisoddhana di Jawa. Susuhunan Giri juga mengirim utusan ke Blambangan dengan maksud yang sama, yaitu mengingatkan penguasa Blambangan bakal datangnya bahaya bangsa Peranggi dan meminta bantuan dalam melaksanakan upacara bhumisoddhana di Jawa.”

“Ya, aku sudah mendapat laporan tentang itu,” kata Patih Mahodara.

“Kami kira, tidak lama lagi akan datang utusan dari Demak ke Daha untuk meminta dukungan bagi persiapan menghadapi kedatangan Peranggi.”

“Aku kira, Sri Prabu Surawiryyawangsaja tidak akan keberatan bergabung dengan seluruh kekuatan adipati di Nusa Jawa untuk menghadapi serbuan orang-orang Peranggi yang aneh itu,” kata Patih Mahodara.

Malam itu, usai menghadap Patih Mahodara, tanpa beristirahat sedikit pun Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil serta Raden Sahid kembali ke Surabaya. Tetapi, sebelum meninggalkan Daha Abdul Jalil mempersaksikan keislaman Pangeran Kuracil sekaligus upacara madiksha yang dilakukan di kediaman Kyayi Pocanan di Kejenar. Rupanya, sejak dibukanya Dukuh Kajenar (Kamuning) di barat kota Daha, ajaran Jawa (Tauhid) yang disampaikan Abdul Jalil melalui murid-muridnya mulai tersebar di lingkungan keluarga bangsawan Daha dan sejumlah desa sekitar. Cepatnya ajaran tersebut menyebar karena apa yang disampaikan orang-0rang di Dukuh Kajenar tidak jauh berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha yang telah dikenal, kecuali pertanda bahwa orang-orang Kajenar dan pengikutnya berkhitan. Bahkan seperti kedudukan sebelumnya, Kyayi Pocanan, pemangku Dukuh Kajenar, tetap dianggap pendeta oleh penduduk sekitar.

Seusai upacara madiksha dan memberi sedikit wejangan kepada pengikut-pengikutnya, saat berada di atas perahu menuju Surabaya, Abdul Jalil bertanya kepada Abdul Malik Israil tentang penjelasannya yang aneh kepada Patih Mahodara, “Bagaimana mungkin Tuan bisa membohongi Patih Mahodara dengan penjelasan yang keliru tentang orang-orang Portugis? Bukankah orang-orang Portugis tidak segila yang Tuan gambarkan?”

“Sesungguhnya, aku tidak berbohong sedikit pun kepada Patih Mahodara, o Saudaraku,” kata Abdul Malik Israil dengan senyum lebar. “Sebab, apa yang aku sampaikan tadi adalah berdasar bahasa Spanyol yang aku kuasai. Jika tadi aku sebutkan bahwa Raja puteri akan diiris-iris dan dipotong-potong, itu bukan bohong. Sebab kata Raja dalam bentuk muanats (feminin) dalam bahasa Spanyol artinya memang diiris-iris dan dipotong-potong. Begitu juga kata Aji, dalam bahasa Spanyol berarti lombok yang bisa disambal dan dijadikan lalapan. Kata Ajar berarti ladang bawang putih yang hasilnya bisa jadi bumbu. Kata Rama artinya ranting. Ranting yang lazimnya dijadikan kayu bakar dalam upacara persembahyangan Hindu. Kata Tanda artinya hujan pukulan bertubi-tubi. Kata Rana artinya katak. Kata Patibulo artinya penggantungan. Kata Desacato artinya membangkang. Kata Desalmado artinya bengis dan kejam. Jadi, aku hanya mengemukakan kata-kata yang berbeda arti antara bahasa Jawa dan bahasa Spanyol. Kalau Patih Mahodara membayangkan lain tentang makna kata yang aku sampaikan, itu bukan salahku.”

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 11:50LT