Hidayah al-Hadi

Suasana malam hari bandar Kozhikode sebelum hadirnya orang-orang Portugis sangat semarak. Para pelaut dari berbagai negeri biasanya menghabiskan waktu di kedai-kedai yang tersebar di kawasan pelabuhan. Mereka menghamburkan uang di meja judi, kedai minuman, rumah pelacuran, dan panggung pertunjukan. Selama berpuluh tahun kehidupan malam di Kozhikode benar-benar sangat semarak. Tetapi, sejak hadirnya kapal-kapal Portugis di bawah Vasco da Gama, kehidupan malam di Kozhikode tiba-tiba menjadi senyap. Kedai-kedai minuman di sekitar pelabuhan terlihat redup dan sepi pengunjung. Rumah-rumah pelacuran pun hanya dikunjungi satu dua orang, terutama pelaut Portugis. Panggung pertunjukan tutup. Kapal-kapal niaga yang biasanya tertambat di dermaga atau membuang sauh di lepas pantai Kozhikode jumlahnya tinggal hitungan jari. Jika malam merayap, penduduk Kozhikode lebih suka menutup pintu dan menggulung diri dalam selimut.

Suatu malam, di bawah bayangan kota yang sepi, dalam liputan malam yang dingin, di antara gonggongan anjing geladak yang berkeliaran di jalanan, terlihat beberapa pelaut Portugis berjalan sempoyongan keluar dari kedai minuman. Rupanya, mereka baru saja menenggak minuman keras dengan dikawani pelacur-pelacur sampai mabuk. Tanpa peduli keadaan sekitar, dengan langkah gontai mereka merayap di tengah keremangan, melintasi lorong-lorong menuju pelabuhan. Salah seorang di antara mereka terlihat menggenggam erat botol minumannya dan sesekali menenggak isinya sambil terseok-seok. Setelah agak jauh melangkah, mereka berangkulan dan bernyanyi-nyanyi sambil sesekali berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Mereka mengumpat aturan ketat yang melarang mereka menginap di luar kapal. Mereka mengumpat tukang masak kapal yang menyiapkan menu sama dari waktu ke waktu. Dan dengan perasaan getir, mereka mengumpat para pelacur India yang menertawakan kejantanan mereka dengan ibarat ayam dalam bercinta.

Di tengah gaduhnya pelaut-pelaut Portugis yang mabuk dan mengumpat-umpat, di dalam embusan angin laut yang menampar-nampar, di antara debur ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga, terlihat seorang pelaut muda Portugis duduk di sisi kanan dermaga. Ia adalah Francisco Barbosa, prajurit bagian meriam yang terkenal gagah berani dan tidak takut mati dalam pertempuran. Agak berbeda dengan kawan-kawannya yang selalu bergembira dan menghibur diri di kota, pelaut muda asal kota Tavira, Algarvia, Portugis selatan itu selalu terlihat murung dan gelisah. Seperti kebiasaan yang dilakukannya, malam itu ia duduk di dermaga sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya yang menggantung ke arah depan dan belakang. Beberapa kali ia terlihat memukul-mukul pahanya.

Kemurungan dan kegelisahan yang dirasakan Barbosa sebenarnya berawal dari kekecewaan mendalam yang dialaminya sewaktu mengikuti pelayaran Vasco da Gama ke Kozhikode. Ia yang sebelumnya memuja kepahlawanan dan kegagahberanian ksatria di medan tempur, benar-benar kecewa dan sangat terpukul ketika menyaksikan kebiadaban pemimpin dan kawan-kawannya yang tertawa kegirangan sewaktu membakar kapal berisi orang-orang muslim Kozhikode hingga tenggelam ke dasar laut. Ia tidak bisa menerima apa pun alasan yang membenarkan peristiwa itu. Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku ksatria dan prajurit tuhan bisa melakukan tindakan nista: membakar kapal yang ditumpangi laki-laki tua, perempuan, dan anak-anak tak bersenjata. Sungguh, hanya bajingan pengecut yang membunuh orang tua, perempuan, dan anak-anak, jeritnya dalam hati dari waktu ke waktu. Sejak peristiwa keji itu, ia merasakan jiwanya luka berdarah-darah.

Luka jiwa yang dialami Barbosa makin parah manakala ia menyaksikan peristiwa yang tidak kalah nista: prajurit Portugis, prajurit-prajurit tuhan yang perkasa, menangkapi nelayan tak bersenjata dan membunuh mereka serta memotong-motong anggota tubuh mereka. Tindakan keji itu, menurutnya, adalah tindakan pengecut yang hina. Luka jiwa itu makin parah manakala ia diperintahkan menembaki kota Kozhikode. Ia merasakan bukan saja jiwanya luka dan mengalirkan darah, bahkan kedua tangannya ia rasakan berlumuran darah.

Francisco Barbosa, prajurit muda Portugis yang sejak kanak-kanak memuja kepahlawanan sebagai keutamaan, memang sangat sulit menerima tindakan brutal kawan-kawannya yang mengaku prajurit tuhan itu sebagai sebuah tindakan yang benar. Ia juga sulit menerima tindakan biadab pemimpinnya, yang mengaku ksatria tuhan itu, sebagai sebuah tindakan mulia. Ia justru menangkap kesan betapa pemimpin dan kawan-kawannya adalah kawanan monster buas mengerikan yang mengaku-aku sebagai ksatria dan prajurit tuhan. Dan kesan kemonsteran mereka itu makin kuat tergambar di benak Barbosa ketika kilasan bayangan peristiwa terkutuk itu laksana hantu memburu ingatannya. Tak jarang ia mengamuk tanpa alasan ketika telinga jiwanya mendengar jerit tangis perempuan dan anak-anak dari dalam kapal yang terbakar itu. Pemandangan terkutuk itu benar-benar telah menggerus jiwanya bagaikan tebing sungai yang longsor terkena arus.

Sebagai prajurit, Barbosa berusaha keras menutupi kegundahan yang makin menggoyahkan ketegaran jiwanya. Tetapi, ia tetap tidak mampu menyembunyikan kegalauan yang memancar dari sorot matanya. Ia tidak sanggup lagi berbicara dengan tenang akibat kecemasan yang mengharu biru jiwanya. Ia tidak dapat bersikap ramah terhadap kawan-kawan yang dianggapnya sebagai makhluk mengerikan. Bahkan, tarikan napas berat berulang-ulang yang mulai sering dilakukannya saat berusaha menenangkan jiwanya yang kacau, seolah-olah menunjuk betapa menyesakkan beban jiwa di dadanya yang ingin ditumpahkan lewat lubang hidungnya. Saat kegundahan sudah pepat memenuhi dada hingga benaknya pun padat dijejali bayangan-bayangan mengerikan, ia berusaha membersihkannya dengan minuman keras. Tapi, yang paling sering dilakukannya saat tercekam kegundahan adalah duduk semalaman di dermaga. Sebagaimana malam-malam sebelumnya, Barbosa duduk menyendiri di dermaga untuk menenangkan jiwanya yang teraduk-aduk seperti ombak lautan.

Gerak-gerik Barbosa yang dicekam kegelisahan itu ternyata cukup lama diamati oleh Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, Raden Sahid, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry yang berdiri di ujung dermaga tak jauh darinya. Ketika beberapa orang pelaut Portugis yang mabuk terlihat melangkah terseok-seok menuju dermaga, Abdul Jalil berkata kepada Sidi Abdul Qadir el-Kabiry, “Malam ini kita akan melihat kenyataan tentang manusia yang sama dalam bentuk perwujudan, namun berbeda dalam pandangan. Malam ini kita akan menyaksikan Kebenaran tentang citra keberadaan suatu bangsa berdasar hakikat kemanusiaan, tanpa dilandasi prasangka-prasangka. Kita akan menyaksikan mana manusia yang dipancari hidayah dari al-Hadi dan mana manusia yang diselimuti kelimpahan (thaghut) dari al-Mudhil.”

“Apakah Tuan Syaikh akan menunjukkan kepada kami bahwa orang-orang yang berjalan sempoyongan di ujung jalan itu adalah orang-orang sesat dan orang yang duduk di dermaga itu orang yang mendapat petunjuk?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry minta penjelasan.

“Kami tidak pernah mengatakan sesat dan tidak sesat atas orang seorang,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Kami selalu mengatakan manusia yang beroleh pancaran hidayah dan manusia yang diselubungi selimut thaghut. Manusia yang beroleh pancaran hidayah, segala tindakan yang dilakukan selalu dibimbing oleh akal (‘aql) yang diterangi burhan dan dipancari cahaya mata batin (‘ain al-bashirah). Manusia seperti itu ditandai oleh sikap dan tindakan yang selaras dan terkendali. Sedangkan manusia yang diselubungi selimut thaghut yang gelap, segala tindakannya dibimbing oleh keakuan kerdil yang mengikat (‘iql) akal (‘aql) dengan nafsu-nafsu rendah (hawa). Manusia seperti ini sikap dan tindakannya cenderung melampaui batas (thagy), lalim (thagin), menindas (thaghiyah), dan sewenang-wenang (thughyan). Itu berarti, orang-orang yang sudah mengikrarkan dua kalimah syahadat pun, jika sikap dan tindakannya dibimbing oleh keakuan kerdil yang diikat akal dan nafsu-nafsu rendah, tetaplah sebagai manusia yang masih diselubungi selimut thaghut yang memancar dari al-Mudhil.”

“Aneh sekali pandangan Tuan Syaikh ini. Padahal, menurut kami, manusia yang mendapat hidayah adalah manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Itu berarti, Tuan masih memandang hakikat manusia dari sisi lahiriah belaka. Sebab, kalau ukuran hidayah hanya terbatas pada ucapan lisan seseorang, maka Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. tidak dibutuhkan lagi sebagai pedoman bagi manusia yang mengaku beroleh hidayah. Karena itu, menurut hemat kami, pengakuan sepihak manusia-manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai orang yang mendapat hidayah wajib diuji dulu dalam sikap dan tindakannya berdasar Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.. Jika ternyata mereka dalam sikap dan tindakan masih cenderung melampaui batas-batas yang ditetapkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. serta malah terperangkap dalam kebendaan, maka mereka hanya mengaku-aku saja sebagai manusia yang beroleh hidayah. Ya, mereka itu hanya mengaku-aku. Seribu kali mengaku-aku. Sebab, sejatinya mereka masih berada dalam cengkeraman kegelapan nafsu-nafsu rendah.”

“Kami sepaham dengan Tuan dalam hal itu. Tetapi, kami sangat sulit menerima pandangan yang mengatakan bahwa hidayah bisa diperoleh oleh orang yang bukan muslim. Bagaimana orang yang tidak mengucapkan dua kalimah syahadat bisa disebut beroleh hidayah?” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tak paham.

“Tuan selaku muslim tentu saja berhak mengatakan secara sepihak bahwa hidayah (petunjuk Ilahi) adalah mutlak milik orang muslim. Sedangkan orang-orang Portugis yang Kristen juga berhak mengatakan secara sepihak bahwa merekalah orang yang mendapat petunjuk Ilahi. Demikian juga dengan penganut Budha, Hindu, dan Majusi. Semua berhak menyatakan secara sepihak sebagai umat yang beroleh petunjuk dan bimbingan Tuhan. Tapi, semua itu ‘kan masih pernyataan sepihak. Sikap dan tindakan merekalah yang mencerminkan apakah mereka hamba Tuhan yang beroleh petunjuk atau tidak.”

“Kalau menurut Tuan Syaikh, bagaimana cara yang benar untuk mengetahui siapa di antara manusia yang beroleh petunjuk dan ajaran agama mana yang benar menurut Allah?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Manusia yang beroleh hidayah bisa kita lihat dari sikap dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana telah kami uraikan. Sementara pernyataan tentang manakah agama yang benar menurut Allah, menurut kami adalah pernyataan yang kurang pantas. Sebab, pada hakikatnya semua agama adalah benar menurut penganutnya masing-masing. Maksudnya, keragaman agama adalah kehendak Allah semata. Dia, Allah, Tuhan Yang Maha Esa, ingin disembah ciptaan-Nya dengan segala macam cara sebatas kemampuan dan pemahaman penyembah bersangkutan. Dengan begitu, orang-orang yang menyembah Allah dalam bentuk arca, batu, kayu, pohon, gunung, bulan, bintang, matahari, dan bahkan manusia pada hakikatnya menyembah-Nya juga sesuai kadar kemampuannya mengenal Allah,” papar Abdul Jalil.

“Maksud kami, bagaimana cara kita untuk mengetahui suatu ajaran agama itu nilai Tauhidnya lebih tinggi dibanding ajaran lain?”

“Kalau itu, Tuan bisa bertanya kepada anak kami, Raden Sahid. Sebab, dia telah mengetahui rahasia untuk menilai tingkat Ketauhidan suatu ajaran.”

“Benarkah demikian, o Anak Muda?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry kepada Raden Sahid.

“Benar, Tuan.”

“Bisakah engkau menjelaskan kepada kami?”

“Pengetahuan rahasia itu tidak untuk dijelaskan dengan nalar, Tuan. Sebaliknya, pengetahuan itu untuk dijalankan sebagai laku ruhaniah.”

“Laku ruhaniah bagaimana?”

“Maksud kami, untuk mengetahui tingkat Ketauhidan suatu ajaran, kita tidak boleh menggunakan akal pikiran kita, apalagi akal pikiran yang sudah diikat prasangka. Kita harus masuk ke dalam suatu matra yang disebut angkasa ruhani (‘alam al-‘Ulwi). Selama ini, di bawah bimbingan guru kami Syaikh Lemah Abang, kami telah beberapa kali terbang ke angkasa ruhani. Di sana kami bertemu dengan ruh para wali Allah, ruh para brahmana, ruh para bikhu Budha, ruh para bhagawan, ruh para rishi, ruh para yogin, ruh para sadhu, dan pertapa-pertapa yang hidup kotor di dunia. Karena itu, kami tidak berani lancang menista ajaran Hindu dan Budha sebagai agama sesat pemuja berhala yang tidak berdasar Tauhid,” kata Raden Sahid menjelaskan.

“Bagaimana dengan orang-orang Syi’ah?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Kami bersaksi bahwa selama beberapa kali kunjungan ke angkasa ruhani mengikuti guru-guru kami, tidak sekali pun kami menjumpai ruh manusia yang mengaku al-Mahdi: Syah Ismail. Yang kami jumpai justru ruh ayatullah-ayatullah dan bahkan mullah-mullah desa yang secara sembunyi-sembunyi mengamalkan tarekat. Karena kenyataan yang kami saksikan di angkasa ruhani itu maka kami tidak berani menyatakan jika ajaran Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Kami juga tidak berani menyatakan ajaran Syi’ah itu menyimpang jauh dari landasan Tauhid. Kami menyimpulkan, pencapaian kepada Kebenaran itu bersifat sangat pribadi dan tidak berkaitan dengan madzhab-madzhab, kelompok-kelompok, jama’ah-jama’ah, dan golongan-golongan tertentu,” kata Raden Sahid tegas.

“Jika ruh Syah Ismail tidak pernah terlihat di angkasa ruhani, bagaimana dia bisa mengaku-aku sebagai Mahdi? Bagaimana dia bisa mengatur-atur tata hubungan manusia dengan Tuhan seolah-olah dirinya adalah Nabi Allah Saw?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Kami berani bersaksi di hadapan Allah dan seluruh makhluk, bahwa Syah Ismail adalah seorang pembohong besar. Kami yakin dia tidak akan pernah bisa mencapai angkasa ruhani sebagai bukti kebenaran jalan yang digelarnya. Kami juga yakin dia tidak akan pernah menjalankan ajaran Kebenaran sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Saw. yang hidup dalam kezahidan dan tanpa pamrih. Kami malah menduga, Syah Ismail selaku raja justru akan membangun istana-istana, taman-taman, kota-kota, benteng-benteng, harem-harem, monumen-monumen, dan masjid-masjid mewah untuk menunjukkan kebesaran dirinya. Padahal, sedikit pun hal seperti itu tidak pernah dicontohkan Nabi Muhammad Saw.. Syah Ismail, menurut terkaan kami, akan menjadi cermin keagungan dan kemuliaan fir’aun, bukan kesucian Nabi Muhammad Saw,” kata Raden Sahid tegas.

Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian sambil berlalu dia berkata, “Sungguh aku ingin membuktikan kebenaran ramalanmu, o Anak Muda, bahwa Syah Ismail bakal membangun istana, taman, kota, monumen, harem, benteng, dan tempat ibadah mewah. Jika ramalanmu terbukti maka benarlah pendusta tengik itu sesungguhnya cerminan fir’aun.”

Ketika malam telah larut dan pelaut-pelaut Portugis yang mabuk sudah naik perahu kembali ke kapalnya, Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil mendekati Francisco Barbosa yang duduk termangu-mangu di dermaga. Dengan menggunakan bahasa Spanyol yang dipelajarinya dari Abdul Malik Israil selama perjalanan ke Kozhikode, Abdul Jalil memperkenalkan dirinya sebagai Padre Sacerdote de Jaoa (bapa pendeta dari Jawa). Barbosa yang terkejut dengan kemunculan mendadak Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil tentu saja tidak mudah percaya dan malahan curiga dengan pernyataan itu. Menurut pikirannya, sangatlah aneh seseorang yang mengenakan pakaian Muslim mengaku sebagai pendeta.

Sadar bahwa Barbosa masih cenderung melihat sesuatu dari penampilan tubuh, Abdul Jalil langsung membidik kecurigaannya dengan berkata, “Aku tahu, engkau mencurigai kejujuranku. Itu tidak salah, karena kita memang baru sekali ini bertemu. Tetapi, kalau aku boleh menerka, jiwamu saat ini sedang kacau seperti lautan diaduk gelombang dahsyat. Jiwamu diaduk-aduk ombak kegundahan akibat terluka oleh peristiwa yang bertentangan dengan nuranimu. Engkau sekarang ini sudah kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin dan kawan-kawanmu. Engkau merasa seperti satu-satunya manusia di tengah kawanan binatang buas. Benarkah terkaanku itu?”

“Bagaimana Tuan bisa mengetahui kegundahan jiwa yang selama ini aku sembunyikan?” tanya Francisco Barbosa terheran-heran.

Abdul Jalil diam. Sebaliknya, Abdul Malik Israil tanpa basa-basi menimpali dengan mengungkapkan bagaimana liku-liku perjalanan yang telah dilalui Barbosa sejak dari Lisbon hingga ke Kozhikode dengan sangat tepat seolah-olah membaca catatan harian. Keterusterangan Abdul Malik Israil itu untuk beberapa jenak membuat Barbosa terperangah takjub. Tetapi, beberapa jenak setelah itu Barbosa sadar dia tidak punya alasan untuk menampik pengakuan Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil sebagai pendeta. Dia menduga kedua orang berpakaian Muslim di depannya itu kemungkinan adalah santo (orang suci) yang menyamar. Akhirnya, dengan keheranan dia bertanya, “Apakah Bapa Pendeta berdua adalah Santo Patron de Jaoa (orang suci pelindung Jawa)? Sebab, pendeta biasa tidak mungkin bisa mengetahui isi hati dan isi kepala manusia apalagi mengetahui dengan tepat liku-liku perjalanan yang telah aku lewati hingga ke Kozhikode ini.”

“Kami berdua hanya pendeta biasa. Hanya saja, kami dianugerahi kemampuan untuk membaca apa yang telah ditulis oleh Angel de la Guarda (malaikat pelindung) pada dirimu tentang apa yang telah engkau lakukan,” kata Abdul Malik Israil datar.

“Aku dilindungi malaikat pelindung? Semua tindakanku ditulis malaikat?” tanya Barbosa heran.

“Bukan hanya engkau, Anak Muda, tetapi semua manusia dilindungi malaikat pelindung dan semua perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk dicatat malaikat pelindungnya masing-masing.”

“Aku belum percaya,” kata Barbosa dengan suara ditekan. “Kalau setiap manusia dilindungi malaikat pelindung, kenapa manusia satu bisa membinasakan manusia yang lain? Maksudku, jika malaikat pelindung memang ada, bagaimana mungkin ratusan orang tak berdaya bisa dibantai dalam sekejap oleh orang-orang yang memiliki senjata? Apakah saat itu malaikat-malaikat pelindung mereka lari ketakutan?”

“Sesungguhnya, pada diri masing-masing manusia selain terdapat malaikat pelindung, juga ada Angel de la Mortalidad (malaikat kematian). Karena itu, tidak ada manusia yang hidup abadi di dunia karena nyawanya sudah digenggam malaikat kematian sampai saat ajalnya datang. Apakah engkau beranggapan bahwa orang-orang yang membunuh itu tidak bakal mati seperti orang-orang yang mereka bunuh?” kata Abdul Malik Israil.

“Semua orang memang akan mati. Baik yang dibunuh maupun yang membunuh pasti mati jika sudah datang waktunya. Tetapi, bagaimana dengan malaikat pelindung? Apa yang dikerjakannya sehingga orang yang dilindunginya bisa dibunuh orang lain?” tanya Barbosa belum paham.

“Tugas utama malaikat pelindung adalah melindungi manusia sampai saat ajal. Tugasnya selesai ketika waktu hidup seseorang sudah habis sesuai ketetapan takdir yang ditentukan Allah.”

“Apakah masing-masing manusia sudah ditentukan batas hidupnya oleh Tuhan?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan orang-orang yang dibunuh? Bukankah mereka mati sebelum batas waktunya?”

Abdul Malik Israil tertawa dan kemudian berkata mengutip sabda Nabi Saw. dengan suara yang lain, “Manusia mati, kalau tidak dengan pedang tentu dengan sebab yang lain. Tetapi, mati itu sendiri cuma satu.”

“Aku belum paham dengan penjelasan Bapa Pendeta.”

Abdul Jalil yang mendengarkan perbincangan Barbosa dan Abdul Malik Israil bertanya menyela, “Menurutmu, apakah sesungguhnya yang disebut Kematian itu?”

“Apakah orang yang tidak berdosa, orang yang suci dari dosa, akan beroleh hidup abadi?”

“Ya, itu yang aku yakini.”

“Apakah engkau pernah mengetahui ada manusia suci yang hidup abadi di dunia?”

“Menurut cerita banyak orang-orang suci yang hidup abadi.”

“Aku tidak bertanya tentang cerita dan dongeng. Aku bertanya tentang kenyataan.”

“Sepengetahuanku tidak ada.”

“Apakah engkau sudah mengetahui apa yang disebut Kematian? Apakah engkau sudah mengetahui pula apa yang disebut Kehidupan?” tanya Abdul Jalil.

Francisco Barbosa menggeleng dan berkata lirih, “Belum.”

“Maukah engkau aku tunjukkan apa yang disebut Kematian?”

“Apakah Bapa Pendeta akan menunjukkan kuasa kegelapan kepada aku?”

“Jika engkau menganggap Kematian sebagai kuasa kegelapan maka anggapanmu itu akan terwujud sesuai keyakinanmu. Tetapi, perlu aku beri tahukan kepadamu bahwa Kematian yang aku yakini bukanlah kuasa kegelapan sebagaimana engkau yakini. Kematian, menurutku, adalah sisi lain dari Kehidupan. Karena itu, mereka yang mengenal Kematian sebagaimana yang aku yakini, tidak saja menjadi manusia yang tidak takut pada Kematian, melainkan akan mencintai pula Kematian sebagaimana mereka mencintai Kehidupan,” kata Abdul Jalil.

“Aneh sekali jalan pikiran Bapa Pendeta,” kata Barbosa keheranan.

“Engkau menganggap aneh apa yang aku katakan karena engkau masih terikat dengan simpul-simpul pikiran yang menjerat kesadaranmu dari Kebenaran hakiki tentang Kehidupan dan Kematian. Jika engkau sudah menyaksikan sendiri dengan mata hati dan ruh Kebenaran (ruh al-Haqq) yang ada pada dirimu tentang kesejatian hakiki Kehidupan dan Kematian, maka engkau tidak akan menganggap aneh apa yang aku katakan,” kata Abdul Jalil.

“Apakah dengan mengetahui Kebenaran tentang Kematian berarti aku akan mati?”

“Engkau takut mengenal Kematian karena pikiranmu masih terikat oleh simpul-simpul gagasan dan pandangan yang berbeda dengan apa yang aku sampaikan. Lantaran itu, wajar jika engkau berpikir: dengan mengenal Kematian maka seseorang akan mati. Padahal, menurut pandanganku, dengan mengenal Kematian secara benar sesungguhnya kita mengenal Kehidupan sejati. Nah, beranikah engkau mengenal Kematian dengan caraku?”

“Jika ada jaminan aku tidak mati maka aku berani mengikutimu, o Bapa Pendeta.”

Abdul Jalil tertawa. Sejenak setelah itu ia berkata dengan tersenyum, “Siapakah yang bisa menjamin hidup dan mati seseorang? Apakah saat engkau berangkat dari negerimu menuju Kozhikode ini engkau sangat yakin akan terus hidup dan bisa kembali dengan selamat ke kampung halamanmu? Apakah engkau sekarang ini bisa menjamin jika dirimu akan hidup sampai esok hari ketika matahari menyingsing?”

“Aku berharap bisa hidup sampai kembali ke kampung halamanku kelak. Bahkan, aku berani menjamin jika esok hari saat matahari terbit, aku masih hidup.”

Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil tertawa bersama. Barbosa heran dan merasa tersinggung. Dengan nada marah dia bertanya, “Kenapa Bapa Pendeta menertawakan aku?”

“Karena engkau berpikiran konyol, Anak Muda,” sahut Abdul Malik Israil.

“Aku berpikiran konyol? Apa alasan Bapa Pendeta berkata seperti itu?”

“Bagaimana mungkin orang waras bisa menjamin dirinya bakal tetap hidup sampai esok hari?”

“Maksud Bapa Pendeta?”

“Anak Muda,” kata Abdul Malik Israil dingin sambil menepuk-nepuk bahu Barbosa, “Lihatlah di ujung dermaga itu! Dua orang bertubuh tinggi besar itu adalah orang-orang Mouros yang sangat membenci orang Portugis. Sedangkan anak muda yang di sampingnya adalah seorang Muslim asal Jawa. Bagaimana jika mereka datang ke sini dan mengeroyok dirimu? Apa yang bisa engkau jaminkan bagi hidupmu jika mereka mengikat tubuhmu dengan tali dan menceburkanmu ke laut? Bukankah sekarang ini engkau tidak membawa senjata apa pun?”

“Mereka akan membunuhku?” tanya Barbosa dengan wajah mendadak pucat pasi.

“Kenapa engkau bertanya kepada kami? Bukankah engkau sudah menjamin jika dirimu bakal hidup sampai esok pagi ketika matahari terbit?”

Francisco Barbosa menarik napas panjang lalu mengembuskannya keras-keras. Kemudian dengan nada tidak berdaya dia berkata, “Memang tidak ada yang bisa menjamin hidup dan mati orang seorang.”

“Bukan saja tidak ada yang bisa menjamin, melainkan sering juga Kematian datang mendadak tanpa terduga-duga,” kata Abdul Malik Israil sambil mencabut belati dari balik jubahnya. “Apakah pernah terlintas di pikiranmu jika secara tiba-tiba aku menikam dadamu dengan belati ini?”

“Ya, ya, aku paham Bapa Pendeta,” kata Barbosa dengan wajah makin pucat. “Kematian bisa datang sewaktu-waktu dan tanpa kita sangka-sangka.”

Abdul Jalil yang melihat ketakutan menerkam jiwa Barbosa merasa tidak sampai hati. Sambil menepuk-nepuk bahu pelaut muda itu, ia berkata, “Engkau selama ini dikenal sebagai prajurit pemberani. Engkau dikenal sebagai juru meriam yang handal dan pantan menyerah dalam pertempuran. Semua kawan-kawan memujimu sebagai prajurit pemberani yang tidak takut mati. Tapi sungguh menyedihkan, kenyataan menunjukkan bahwa engkau masih dikuasai oleh rasa takut menghadapi Kematian. Engkau masih kalah dibanding anak muda Jawa yang berdiri di ujung dermaga itu. Dia sudah kenal citra Kematian. Dia sudah berkali-kali bersinggungan dengan citra Kematian. Karena itu, dia tidak takut mati dan bahkan mencintai Kematian.”

“Bapa Pendeta,” kata Barbosa merendah,” sejak masih kanak-kanak, aku memang bercita-cita menjadi pahlawan pemberani yang tidak takut mati. Sewaktu aku masuk dinas militer sebagai pasukan meriam, aku sudah berusaha menunjukkan kepada orang-orang di sekitarku bahwa aku adalah pahlawan pemberani yang tidak takut mati. Ternyata, malam ini Bapa Pendeta berdua telah menelanjangi kebohongan yang aku tutup-tutupi. Ya, aku masih takut mati. Karena itu, aku akan belajar kepada Bapa Pendeta untuk mengenal Kematian sesuai yang Bapa Pendeta ajarkan agar aku benar-benar tidak takut mati.”

Francisco Barbosa telah kembali ke kapalnya. Matahari telah terbit di ufuk timur, menyinari kapal-kapal dan sampan-sampan yang terayun-ayun gelombang pantai Kozhikode. Sepagi itu, usai menyantap bekal Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Raden Sahid berpamitan kepada Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. Mereka akan berpisah karena Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil beserta Raden Sahid akan ke Dwarasamudra, sedangkan dua bersaudara asal negeri Maghrib itu akan kembali ke kapalnya yang melepas sauh agak jauh dari pelabuhan Kozhikode. Tetapi, sebelum berpisah Sidi Abdul Qadir el-Kabiry menyampaikan pertanyaan kepada Abdul Jalil, “Kenapa Tuan Syaikh tidak langsung meminta Francisco Barbosa mengucapkan dua kalimah syahadat? Bukankah dia sudah sangat yakin dengan pengetahuan gaib untuk mengenal Kematian yang telah Tuan Syaikh ajarkan?”

“Soal Islam adalah urusan as-Salam. Soal Hidayah adalah sepenuhnya urusan al-Hadi. Soal Iman adalah urusan al-Mu’minin. Maksud kami, meski al-Hadi telah memancarkan hidayah kepada Francisco Barbosa, kalau pancaran-Nya belum seiring dengan as-Salam yang memancarkan amanah ke dalam jiwanya, maka jika dia diminta mengucapkan dua kalimah syahadat, hal itu justru akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh,” sahut Sidi Abdul Qadir el-Kabiry heran. “Bagaimana mungkin orang mengucap dua kalimah syahadat bisa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain? Bukankah Islam adalah agama damai dan keselamatan?”

“Tuan belum paham karena Tuan cenderung melihat sesuatu hanya dari sisi duniawi, bentuk jasmani, dan gerak perilaku tubuh semata sehingga Tuan cenderung menganggap bahwa manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat adalah orang yang sudah beroleh hidayah dan menjadi penyebar keselamatan (salamah) dan keamanan (amanan). Padahal, kenyataan sering menunjuk berapa banyak manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat, namun sikap dan tindakannya malah menimbulkan bencana dan ketidakamanan bagi manusia di sekitarnya. Berapa banyak manusia yang mengibarkan panji-panji Islam, tetapi tindak dan perilakunya mengerikan: memamerkan kekejaman dan menimbulkan ketakutan di mana-mana.”

“Kami sangat menghargai saudara-saudara kami yang menganggap bukti kemusliman orang seorang. Tetapi, kebiasaan yang kami lakukan adalah memperkukuh dulu landasan Tauhid dari manusia-manusia yang beroleh pancaran cahaya hidayah dari al-Hadi sampai terpancar cahaya salamah dan cahaya amanan laksana bentangan pelangi di cakrawala jiwa. Jika Tuan bertanya kenapa kami melakukan kebiasaan itu? Maka, kami akan menjawab bahwa kami sangat meyakini betapa sesungguhnya makna hakiki dari Islam adalah pancaran rahasia cahaya matahari Kebenaran yang mengejawantahkan citra Kelempangan (al-Hadi), Keselamatan (as-Salam), Keamanan (al-Mu’min), Kemurahan (al-Karim), Kesabaran (ash-Shabur), Pengampunan (al-Ghaffar), Kesucian (al-Quddus), Kesantunan (al-Halim), Kecintaan (ar-Rahman), Kasih (ar-Rahim), dan pancaran dari Asma’, Shifat, Af’al Allah yang mulia yang menerangi alam semesta dengan rahmat-Nya (rahmatan lil al-‘alamin).”

“Dengan pandangan kami itu, jelaslah bagi kami bahwa apa yang disebut al-Islam adalah ruhaniah. Al-Islam mutlak berada di dalam genggaman Allah. Karena itu, kami menganggap tidak bijak jika meminta Barbosa mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai tanda kemusliman, sementara kami menangkap isyarat ruhani bahwa dia belum waktunya mengikrarkan keislaman dirinya. Jika Barbosa dengan terburu-buru kita minta mengikrarkan syahadat, maka dia akan secepatnya terlempar dari kaumnya dan bahkan akan kehilangan nyawanya. Sementara dengan membiarkan dia sebagaimana adanya, dia akan menjadi perantara bagi terpancarnya cahaya hidayah kepada kaumnya. Lantaran itu, kami sangat yakin jika waktunya telah datang, dia akan menemukan sendiri Kebenaran Sejati meski tanpa bimbingan kami. Kenapa kami berpendapat demikian? Karena menurut pandangan kami, persaksian keislaman orang seorang tidak bisa dipaksakan waktunya. Jika sudah tiba saatnya, di mana pun dia berada akan mempersaksikan dirinya sebagai Muslim. Dan kami sangat yakin jika mereka telah dipancari hidayah oleh al-Hadi akan terbimbing di jalan-Nya, meski mereka berada di lingkungan yang membenci Islam,” kata Abdul Jalil.

“Kami makin bingung dengan penjelasan Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Tuan yang belum memahami secara mendalam tentang dunia ruhani memang sulit menerima penjelasan kami. Mereka yang belum mencicipi manisnya madu tentu akan sulit dijelaskan tentang kemanisan madu. Tetapi, kami yakin saudara Tuan, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, telah sangat memahami apa yang telah kami jelaskan. Tuan bisa berbincang lebih luas dan mendalam tentang hal-hal ruhaniah kepadanya.”

“Tapi, Tuan Syaikh, apakah Tuan yakin jika Francisco Barbosa kelak akan menjadi Muslim?”

“Menurut keyakinan kami, Francisco Barbosa kelak akan mengikrarkan dua kalimah syahadat. Bahkan, dia akan mempengaruhi beberapa orang kawannya. Tetapi, kami tidak tahu kapan waktunya dan bagaimana peristiwanya. Yang jelas, dia telah menyaksikan Kebenaran Sejati tentang hakikat Kematian dengan mata batin (‘ain al-bashirah) yang jernih. Karena itu, dia akan berubah menjadi manusia yang tidak lagi gampang mempercayai dalil-dalil dogmatik yang diucapkan manusia berdasar prasangka-prasangka. Dan ujung dari keadaan manusia seperti itu ke mana lagi kalau bukan ke samudera Tauhid?”

“Kenapa Tuan Syaikh tidak melakukan hal serupa kepada orang-orang Portugis yang lain?”

“Kami tidak memiliki kewenangan apa pun untuk itu. Jika Tuan bertanya kenapa kami melakukan itu hanya kepada Barbosa? Maka, akan kami jawab bahwa hal itu kami lakukan untuk membuktikan kepada Tuan bahwa tidak semua orang Portugis kejam seperti pemimpin dan kawan-kawan Barbosa. Di damping itu, Allah memang sudah memilih Francisco Barbosa sebagai salah seorang manusia yang dianugerahi hidayah oleh al-Hadi untuk menerima benderang nyala api al-Islam di relung-relung sanubarinya,” papar Abdul Jalil.

“Baik, kami paham itu,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. “Sebelum berpisah, kami ingin Tuan Syaikh memberikan fatwa khusus kepada kami agar bisa kami jadikan pedoman dalam melintasi kehidupan yang kacau ini.”

Abdul Jali tertawa dan kemudia berkata, “Sesungguhnya, saudara Tuan, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, lebih layak memberikan fatwa kepada Tuan sebab pengetahuan ruhaninya sangat luas dan mendalam. Tetapi, Tuan tidak bisa melihat kelebihannya karena Tuan terlalu dekan dengannya.”

“Kami tahu itu. Tapi, kami benar-benar ingin beroleh fatwa khusus dari Tuan Syaikh agar bisa kami jadikan pelengkap pedoman hidup, di samping terbukanya kesadaran kami tentang betapa beragamnya pemikiran kaum Muslimin dalam memandang dan menyikapi suatu persoalan.”

“Yang paling penting untuk Tuan sadari,” kata Abdul Jalil dengan suara lain, “dalam menjalankan amaliah keislaman, Tuan jangan sekali-kali terpengaruh oleh pandangan sempit orang-orang fanatik seperti kawan-kawan Barbosa dan Syah Ismail. Maksud kami, Tuan jangan pernah menggembar-gemborkan diri sebagai pahlawan pembela Islam, apalagi mengaku-aku prajurit Allah (jundu Allah). Sebab, pada saat orang seorang sudah menyatakan diri sebagai pahlawan pembela Islam atau prajurit Allah, maka orang tersebut telah mendangkalkan hakikat al-Islam menjadi berhala yang penuh ditempeli atribut pamrih duniawi. Padahal, al-Islam adalah sesuatu yang bersifat ruhaniah. Orang bisa menjadi Islam bukan karena kehendak pribadi, melainkan kehendak Allah. Al-Islam adalah pancaran cahaya Ilahi yang memancar dari Asma’, Shifat, dan Af’al Allah yaitu as-Salam. Lantaran itu, al-Islam selalu terpelihara dan terjaga dengan cara yang tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia.”

“Kenapa kita tidak boleh mengaku-aku? Bukankah Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa keislaman kita harus dipermaklumkan kepada manusia?”

“Keislaman memang harus dipermaklumkan sebagai kesaksian iman. Tetapi permakluman yang berlebihan justru terlarang, terutama permakluman secara sepihak oleh diri sendiri yang mengaku-aku sebagai pahlawan pembela agama, prajurit tuhan, atau bahkan perwujudan tuhan di dunia. Mereka yang mengaku-aku dan gembar-gembor itu sejatinya telah mendangkalkan makna al-Islam. Dengan lambang-lambang palsu keislaman, mereka menepuk dada dan memamerkan kesombongan dan mengangkat diri sebagai prajurit-prajurit Allah. Padahal, sejatinya bala tentara Allah tersebar di langit dan bumi tanpa diketahui jumlah pastinya (QS. Al-Fath: 4 dan 7; QS. Al-Mudatsir: 31). Prajurit-prajurit Allah itu menjalankan tugas secara rahasia dengan setia dan penuh kepatuhan. Mereka itu bisa berupa malaikat, rijal al-ghaib, auliya’ Allah, angin topan, halilintar, dan bahkan binatang. Dan tidak ada satu pun di antara mereka itu yang menepuk dada untuk mempermaklumkan diri sebagai prajurit Allah. Merekalah prajurit-prajurit sejati Allah yang bertugas menjaga Islam.”

“Berarti Tuan Syaikh percaya bahwa di dunia ini ada yang disebut Jama’ah Wali-Wali?”

“Tentu saja percaya, namun kepercayaan kami sangat berbeda dengan kepercayaan umum.”

“Berbeda bagaimana?”

“Yang dimaksud Jama’ah Wali-Wali menurut kepercayaan kami adalah yang disebut Jama’ah Karamah al-Auliya’, yakni suatu hierarki karamah al-auliya’ yang memancar dari Asma’, Shifat, dan Af’al Allah, yaitu al-Karim dan al-Waly. Itu berarti, Jama’ah Karamah al-Auliya’ bersifat ruhaniah sebagaimana al-Islam. Karamah al-auliya’ yang ruhaniah itu, dalam menjalankan tugas (tawalla) akan melimpah kepada orang-orang beriman yang sudah mencapai derajat takwa (muttaqin), yaitu derajat ruhani yang terpancar dari al-Qawiy. Karamah al-auliya’ yang ruhani itu bersifat abadi sebagaimana al-Karim dan al-Waly. Itu sebabnya, jika seorang manusia yang terlimpahi karamah al-auliya’ itu wafat maka karamah auliya’ yang melimpah pada manusia tersebut akan mencari tubuh baru untuk menjalankan tugas sucinya.”

“Dengan pandangan kami ini, jelaslah bahwa Jama’ah Karamah al-Auliya’ adalah jama’ah ruhaniah. Artinya, jika mereka berkumpul di suatu tempat di suatu waktu tertentu maka yang berkumpul itu adalah karamah-karamah al-auliya’, bukan tubuh fisik manusia takwa, meski pada keadaan tertentu yang khusus bisa terjadi pertemuan tubuh fisik manusia takwa berderajat wali Allah di satu tempat di satu waktu tertentu. Karena itu, kami menggunakan istilah Jama’ah Karamah al-Auliya’ dan bukannya Jama’ah Wali-Wali Keramat. Dengan begitu, kami akan menganggap pembohong orang-orang yang menyatakan ini dan itu adalah anggota Jama’ah Wali-Wali Keramat karena jama’ah semacam itu tidak ada. Yang ada adalah Jama’ah Karamah al-Auliya’, yaitu jama’ah dari karamah-karamah al-auliya’ yang bersifat ruhaniah yang memiliki tugas suci menjaga kelestarian ajaran Tauhid terutama al-Islam.”

Sebenarnya, masih cukup banyak hal yang ingin ditanyakan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry kepada Abdul Jalil. Tetapi, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry buru-buru menyela dan mempersilakan Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke Dwarasamudra. Rupanya, sebagai seorang ulama yang mengamalkan ajaran Tarekat Qadiriyyah, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry sudah memahani semua uraian Abdul Jalil.

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 12:00LT