Syaikh Malaya

Perbincangan antara Abdul Jalil dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tentang hidayah al-Hadi dan karamah al-auliya’, ternyata membingungkan Raden Sahid. Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan Abdul Jalil tentang Asma’, Shifat, dan Af’al Allah dalam kaitan dengan hidayah, salamah, amanan, takwa, karamah masih sulit dipahaminya. Sebagai seorang salik yang selalu dibimbing dan diarahkan oleh Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Jumad al-Kubra, Raden Sahid sudah terbiasa menanyakan hal-hal terkait penempuhan ruhani yang sulit dipahami. Ketika mereka menempuh perjalanan ke Dwarasamudra dan sampai di tepi hutan yang membentang di kaki Pegunungan Malaya yang bersambung dengan Pegunungan Nilgiri, Raden Sahid bertanya ini dan itu tentang ketidakpahamannya dalam mencerna ungkapan yang disampaikan Abdul Jalil kepada Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

Tidak seperti biasa, Abdul Jalil ternyata tidak menjawab sepatah kata pun pertanyaan Raden Sahid tentang hidayah al-Hadi dan karamah al-auliya’. Sebaliknya, dengan suara ditekan keras Abdul Jalil malah menyatakan akan mengakhiri kebersamaan mereka. “Seekor rajawali yang dibiasakan tinggal dengan kawanan bebek tidak akan pernah bisa terbang mengepakkan sayap sebagai pengarung kesunyian angkasa. Karena itu, sebagai rajawali muda, engkau harus ditendang dari atas bukit agar jatuh ke jurang sehingga nalurimu untuk mengepakkan sayap akan muncul dengan sendirinya,” katanya sambil berlalu.

“Tapi Paman,” kata Raden Sahid dengan bibir bergetar dan dada naik turun, “sekarang ini kita sedang berada jauh di negeri orang. Bagaimana mungkin Paman bisa sampai hati meninggalkan saya sendirian?”

“Itulah yang aku maksud dengan bukit dan jurang tempatmu jatuh melayang menuju kebinasaan. Jadilah rajawali perkasa jika engkau ingin selamat dan aman sampai ke Tujuan.”

“Tapi saya masih butuh bimbingan Paman.”

Abdul Jalil tidak menjawab. Tanpa menoleh, ia melangkah cepat dan menghilang di balik pepohonan. Raden Sahid tercengang kebingungan melihat sikap Abdul Jalil yang begitu dingin. Ia merasakan kegentaran merayapi jiwanya. Kemudian dengan pandang mengiba, ia menyampaikan keheranannya kepada Abdul Malik Israil, “Bagaimana ini, Eyang? Kenapa Paman tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan kita? Apakah saya telah melakukan kesalahan? Apa yang harus kita lakukan di tempat yang jauh ini?”

“Dia tidak meninggalkan kita,” kata Abdul Malik Israil dingin, “dia meninggalkan engkau sendirian.”

“Meninggalkan saya sendiri? Kenapa Eyang berkata demikian?”

“Karena aku pun akan pergi meninggalkanmu sendirian.”

“Eyang?” seru Raden Sahid dengan dada berdebar-debar.

“Engkau yang selama ini selalu butuh bimbingan, hendaknya berani berdiri tegak untuk menguji kemampuan dan kedewasaan ruhanimu. Semua salik harus dilepas agar mandiri dalam melampaui tantangan yang menghadangnya. Bukankah selama ini engkau selalu kami bimbing seperti anak-anak yang harus dituntun ke mana-mana? Tidakkah engkau punya harapan untuk bisa menembus alam gaib dengan kemampuan sendiri dan bukan diajak oleh orang lain? Tidakkah engkau sadar bahwa Kebenaran hanya bisa dikenal oleh pribadi dalam kesendirian?”

“Tapi Eyang ... “

Abdul Malik Israil tidak menyahut. Dia membalikkan badan dan melangkah ke arah hutan. Dalam beberapa jenak tubuhnya sudah menghilang di balik pepohonan. Suasana sejuk yang melingkupi pinggiran hutan dengan desau angin dan kicau burung tiba-tiba dirasakan hambar dan getir oleh Raden Sahid. Bagaikan orang kebingungan di persimpangan jalan, ia termangu-mangu dengan tatapan menerawang kejauhan seolah ingin mencari sesuatu yang tersembunyi di balik barisan gunung-gunung yang diselimuti awan.

Bagi Raden Sahid sendiri, masalah yang dirasakan paling berat bukanlah karena ia ditinggal sendiri di negeri yang jauh. Sebab, pengalaman ruhani yang dialaminya selama menyertai Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil telah menumbuhkan kesadaran pemikiran bahwa keberadaannya sebagai manusia senantiasa dalam liputan Allah SWT.. Yang dirasakannya paling berat justru keterpisahannya yang mendadak dengan para pembimbing ruhani yang selama ini dijadikannya gantungan harapan dalam menempuh perjalanan ruhani. Ia merasa betapa berat berpisahan dengan para guru ruhani yang sudah sangat dekat dan mengikat jiwa itu.

Selama mengikuti Abdul Jalil di pedalaman Nusa Jawa, Raden Sahid memang pernah mendengar cerita tentang persahabatan sejati antara Jalaluddin Rumi dengan Syamsuddin at-Tabrizi yang dipatahkan oleh takdir Ilahi, hingga membuat merana jiwa Jalaluddin Rumi. Saat itu Raden Sahid hanya bisa memahami rangkaian cerita tersebut sebagai bagian dari lingkaran kehidupan para sufi yang tidak lazim. Bahkan, ia sempat menilai Jalaluddin Rumi sebagai seorang sufi cengeng karena menjadi patah hati karena ditinggal pergi sahabat dan sekaligus guru ruhaninya. Tetapi, sekarang ia sendiri merasa tidak berdaya. Ia merasa seperti burung yang patah kedua sayapnya. Selama tiga hari tiga malam ia hanya duduk termangu-mangu di pinggir hutan tanpa peduli sengatan panas matahari dan dinginnya udara malam hari yang menggigit dan mengoyak-koyak tubuhnya.

Memasuki hari keempat dari ketidakberdayaannya, suatu senja saat angin bertiup kencang dengan suara gemuruh, Raden Sahid sekonyong-konyong bangkit dan melangkah gontai ke sebongkah batu yang tegak di bawah pohon cendana. Di dalam tatapan matanya yang nanar, di antara gumpalan kabut yang mulai menyelimuti permukaan tanah, ia melihat sosok manusia bertubuh kecil berdiri di atas bongkahan batu tersebut. Antara sadar dan tidak, di tengah rentangan kesadaran antara tidur dan jaga, ia berusaha menegaskan penglihatannya. Menurut penglihatannya, sosok manusia kecil berkulit hitam itu sangat aneh perwujudannya: tidak hidup dan tidak pula mati. Tidak bergerak, tetapi tidak pula diam. Tidak berkata-kata, tetapi tidak pula menutup mulut. Sederhana tetapi rumit. Meliputi tetapi diliputi. Memancar tetapi mengisap. Terbit tetapi menyingsing. Dia, manusia aneh itu, keberadaannya tidak dapat diungkapkan secara utuh dengan bahasa manusia.

Di tengah ketakjubannya menyaksikan sosok manusia aneh, tiba-tiba saja ia merasakan cakrawala baru kesadaran jiwanya tersingkap seiring terbitnya nur lawami’ di kedalaman jiwanya, laksana matahari terbit di pagi hari. Dan laksana seorang pecinta keindahan sedang menikmati kicau burung, harum bunga-bunga, segar rerumputan, gemerisik angin, dan lincahnya margasatwa yang berkejaran di sebuah taman indah, ia merasakan pemahaman fawa’id yang tersembunyi di relung-relung jiwanya tiba-tiba terbuka, bagai bunga mekar menebarkan keharuman yang memesona kumbang-kumbang pengetahuan ruhani. Dengan pemahaman fawa’id itu, ia menangkap pengetahuan gaib yang membentangkan kesadaran bahwa sosok aneh yang disaksikannya itu adalah Rishi Agastya, putera Varuna dengan Urvashi, yang lahir dari tempayan (kumbhayoni). Dialah guru suci yang diyakini sebagai titisan Syiwa. Kemudian, bagaikan menyaksikan rangkaian peristiwa yang panjang dan berliku dalam waktu yang sangat singkat, Raden Sahid menangkap segala sesuatu terkait dengan sang rishi bertubuh kecil dan berkulit hitam itu.

Pada masa silam, barang empat puluh abad ke belakang, bumi Jambhudwipa (India) dihuni oleh bangsa-bangsa berkulit hitam yang hidup dilimpahi kemakmuran dan kedamaian. Bangsa-bangsa itu sebagian tinggal di kota-kota berbenteng yang penuh dipadati bangunan megah. Tetapi, kedamaian hidup manusia di dunia tak pernah langgeng. Tanpa diduga dan disangka-sangka, datanglah serbuan bangsa-bangsa pengembara dari arah utara. Mereka adalah bangsa Arya yang berkulit putih, bermata biru, dan berambut emas. Kota-kota berbenteng bangsa kulit hitam yang tegak dilimpahi kemakmuran dan kedamaian itu satu demi satu dikuasai oleh para penyerbu yang dipimpin dewa utama mereka: Indra. Karena keberhasilannya dalam menaklukkan kota-kota berbenteng yang dibangun bangsa kulit hitam, Indra termasyhur dengan nama besar: Sang Puramdara (penakluk benteng).

Sebagaimana lazimnya para pemenang, bangsa penyerbu kulit putih itu menghinakan bangsa-bangsa kulit hitam sebagai budak nista tak bermartabat. Tetapi, hinaan dan nistaan para penyerbu kulit putih tidak melemahkan penduduk kulit hitam, sebaliknya membangkitkan perlawanan di mana-mana. Muncul perlawanan pahlawan dari laut bernama Vritra, mengamuk dan mengobrak-abrik Indraloka. Tetapi, kelicikan Indra berhasil mematahkan perlawanan Vritra. Setelah itu, bermunculan terus perlawanan dari pahlawan-pahlawan kulit hitam seperti Hiranyakasipu, Paulana, Kesin, Niwatakawaca, dan Kalakeya. Dan seperti nasib penentang Indra, para pahlawan kulit hitam itu jatuh satu demi satu digilas kelicikan Sang Surapati (Indra).

Di antara perlawanan gigih yang dilakukan bangsa kulit hitam terhadap bangsa kulit putih, yang termasyhur adalah yang dilakukan tiga bersaudara dari wangsa Rakshasa: Mali – Malyawan – Sumali. Meski ketiganya mengalami kegagalan sebagaimana pahlawan kulit hitam lain, cucu Sumali yang bernama Rahuwana (Sang Penunggu Rahu), Maharaja Langka, melakukan perlawanan hebat hingga mengobrak-abrik Indraloka dan mengalahkan Indra. Sebagai pahlawan bangsa kulit hitam, Rahuwana memperoleh bermacam-macam gelar kehormatan: Mahaprabhavam Rajyam (Raja yang kekuasaannya besar), Vitabhaya (manusia yang rasa takutnya hilang), Yuddhanipuna (pahlawan yang cakap dalam perang), Dasamuka (yang berkepala sepuluh; Rahu), Ravana (yang menjerit; Rudra), Amitrajit (penakluk musuh).

Di tengah gemuruh perubahan di utara, yang ditandai lambang perkawinan Syiwa dan Parvati, yang dihadiri dewa-dewi, pergilah Rishi Agastya ke selatan. Sang Rishi yang terhormat, yang bertubuh pendek dan berkulit hitam, tidak membangun kekuatan senjata untuk melawan para penyerbu kulit putih dari utara yang dipimpin Indra. Putera Varuna dengan Urvashi itu membangun sangam (akademi) di Dakshinakasi di wilayah hutan Pancavati, di Gunung Malaya, dan kemudian di bukit Pothigai di negeri Pandya. Ia mendidik 12 orang siswa utama dan mengajarkan kepada para siswanya di sangam tentang ilmu ketabiban, ilmu perbintangan, filsafat, tata krama, upacara-upacara keagamaan, mantra-mantra, ilmu hitam, dan ilmu batiniah. Untuk mengukuhkan keberadaan peradaban bangsa kulit hitam, sang rishi menyusun tata bahasa Dravida, bangsa keturunan Dewi Ida.

Ketika keperkasaan Rahuwana dihancurkan oleh Ramachandra yang didukung para pengkhianat seperti Bhibhisana dan Sugriwa, di tengah tumpasnya ksatria-ksatria Langka yang unggul, di antara jerit tangis perempuan dan anak-anak wangsa Rakshasa yang diburu-buru dan dibunuh, keagungan dan kemuliaan Rishi Agastya tidak tergoyahkan. Para cendikiawan dan brahmana kulit putih, bahkan Indra sendiri, datang dengan penuh hormat memohon berkah dari sang rishi kulit hitam. Para Rakshasa yang diburu-buru, berlindung di bawah kaki seroja sang rishi. Demikianlah, sang rishi yang lahir dari tempayan (Drona) itu dimuliakan oleh manusia, baik yang berkulit putih maupun yang berkulit hitam, sebagai seorang guru suci yang diyakini titisan Mahaguru yang bersthana di Kailasa. Dialah Agastya, Sang Kumbhayoni, Drona, Acosti, yang dikenal dengan nama masyhur Bhattara Guru. Dialah kulaguru dan sekaligus cikal bakal leluhur raja-raja Yavadvipa, Yavanadwipa, Malayadvipa, Varunadvipa, dan Suvarnadvipa.

Pemahaman fawa’id tentang Sang Agastya yang meresap ke segenap cakrawala kesadaran Raden Sahid tiba-tiba tersambung dan menyingkapkan tirai kesadaran tentang sosok Syaikh Lemah Abang yang meninggalkan dirinya di kesunyian hutan di kaki Pegunungan Malaya itu. Bagaikan menemukan dua bentuk yang sama meski waktu dan tempat berbeda, ia melihat kesamaan apa yang dilakukan Rishi Agastya dengan sangam dan siswa-siswanya serta apa yang dilakukan Syaikh Lemah Abang dengan paguron dan dukuh-dukuh di Lemah Abang dan Kajenar yang dibukanya. Ia menjadi paham kenapa Syaikh Lemah Abang tidak pernah peduli dengan amukan kabar yang membadai terkait dengan kemunculan Syah Ismail di Persia dan Portugis di Bharatnagari. Rupanya, tebaran nilai-nilai dan ajaran Kebenaran yang disampaikan kepada murid-muridnya lewat paguron dan dukuh-dukuh adalah benteng jiwa manusia yang sulit ditembus oleh keperkasaan prajurit maupun tajamnya senjata. Sebagaimana hal itu telah dibuktikan oleh Rishi Agastya di masa lampau.

Di tengah ketakjuban Raden Sahid merasakan pemahaman fawa’id dalam menangkap kenyataan hakiki yang disinari nur lawami’, tiba-tiba sosok kecil aneh itu, Sang Agastya, berkata-kata kepada Raden Sahid melalui al-ima’ yang jika diungkap dalam bahasa manusia berbunyi:

“O, engkau yang lahir bersama fajar, telah menyingsing kegelapan nafsu-nafsu rendahmu oleh pancaran cahaya rahasia pengetahuan. Sebab, orang yang memiliki pengetahuan tinggi memiliki pancaran cahaya rahasia (Rgveda VII. 76:4). Terangilah kegelapan dunia dengan cahaya rahasiamu, laksana Varuna memancarkan pengetahuan kepada orang-orang yang tertutupi ketidaktahuan. Sesungguhnya, seorang guru yang menanamkan pengetahuan ke dalam jiwa siswa-siswanya adalah ibarat matahari menerangi cakrawala siang dan rembulan serta bintang-bintang menerangi cakrawala malam dengan cahayanya yang cemerlang. Para guru adalah matahari yang menyebarkan terang (Rgveda VII. 79:2). Karena itu, seorang guru adalah orang yang sudah memperoleh pencerahan jiwa dan dia tidak akan menutup keingintahuan para siswanya (Atharvaveda XX. 21:2).”

“Seorang guru akan menjadi benderang cahaya pengetahuan yang memesona jika memiliki kecerdasan seorang sarjana serta pandai dalam merangkai bahasa laksana seorang penyair. Sebab, kecerdasan dan kebijaksanaan adalah pengejawantahan dewa-dewa (Atharvaveda VI. 123:3). Sedangkan bahasa adalah sabda Tuhan yang ada di mana-mana meliputi langit dan bumi. Sabda berembus bagaikan angin. Sabda menciptakan seluruh alam semesta (Rgveda X. 125:8). Sabda adalah kekuatan yang teragung. Sabda di pertajam dengan ilmu pengetahuan (Atharvaveda XIX. 9:3).”

“Seorang sarjana dan sekaligus penyair memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa sebagai pancaran sabda dan pengetahuan. Lantaran itu, seorang sarjana-penyair dapat melihat Kebenaran, sekalipun di dalam air samudera. Sarjana-penyair bercahaya laksana matahari. Sarjana-penyair mengetahui rahasia kitab suci dan kenyataan-kenyataan tersembunyi. Demikianlah, seorang guru yang sarjana dan penyair adalah pembangun sebuah bangsa. Tetapi, hendaknya selalu engkau ingat-ingat, o, engkau yang telah lahir untuk kali kedua (dwijati), bahwa tugas utama seorang guru yang sarjana sekaligus penyair adalah menebarkan cahaya Pengetahuan melalui sraddha (keimanan) sampai seseorang menyadari Kebenaran Ilahi yang hakiki ((keimanan) sampai seseorang menyadari Kebenaran Ilahi yang hakiki (Yajurveda. XIX. 30).”

Suatu pagi, saat ujung fajar masih menempel di gumpalan awan dan lekukan gunung-gunung, Raden Sahid melangkah di tengah keindahan dengan kesadaran baru seorang salik yang relung-relung jiwanya sudah terpancari nur lawami’ dan pemahaman fawa’id. Dengan ketakjuban yang mencengangkan, ia memandang bunga-bunga yang bergoyang di atas rerumputan yang dibasahi embun dengan kumbang-kumbang dan kupu-kupu beterbangan di tengah semilir angin. Ia takjub dan tercengang karena saat itu untuk kali pertama ia menangkap keharuman bunga, kesejukan embun, kesegaran rumput, kemerduan dengung kumbang, kepak sayap kupu-kupu yang gemulai, dan semilir angin dengan pandangan dan perasaan yang lain. Ia menangkap kenyataan aneh, betapa segala gerak dari makhluk yang terhampar di sekitarnya pada hakikatnya adalah pernyataan puja dan puji (tasbih) kepada Sang Pencipta. Keanekaragaman dalam bentuk, warna, gerak, dan suara makhluk yang tak terhitung jumlahnya itu ternyata satu jua ujung dan pangkalnya: semua makhluk adalah pengejawantahan Keagungan dan Kemuliaan Sang Pencipta.

Ketika Raden Sahid mulai menuruni bukit dengan dada terasa lapang dan perasaan meluapkan kegembiraan, seorang brahmin muda berwajah agung datang menghampiri dan menyapanya dalam bahasa Melayu. Bagaikan telah mengenal Raden Sahid selama bertahun-tahun, brahmin muda itu dengan penuh keakraban mengajaknya melakukan pengembaraan ruhani agar cakrawala kesadaran mereka tersingkap lebih luas dalam memaknai cahaya Kebenaran. Dengan pancaran nur lawami’ yang membentangkan pemahaman fawa’id pada kesadarannya, Raden Sahid menangkap sasmita bahwa kehadiran dan sekaligus ajakan brahmin muda itu adalah semata-mata karena kehendak Allah semata. Itu sebabnya, tanpa menaruh keberatan ia menerima ajakan sang brahmin.

Dengan ketakjuban seorang salik yang baru belajar terbang mengepakkan sayap, ia mengikuti ke mana pun brahmin muda itu mengajaknya mengembara. Berbagai tempat yang disucikan para brahmin seperti Kamakostipuri, Kaveri, Sri Rangam, Har-ksetra, dan bahkan Gunung Risabha telah dikunjunginya. Tanpa terasa, telah tujuh puluh hari tujuh puluh malam ia telah melakukan pengembaraan. Memasuki hari ke tujuh puluh tujuh, sang brahmin muda mengajaknya ke Gunung Malaya, bekas kediaman Rishi Agastya. Tanpa berkata sepatah pun, sang brahmin muda meninggalkannya seorang diri di tengah kesunyian hutan kayu cendana yang menebarkan wangi ke segenap penjuru penciumannya.

Di tengah keheningan pagi, ketika angin bertiup menebarkan wangi cendana dan harumnya bunga-bunga rumput, Raden Sahid duduk di tepi sungai kecil berair jernih yang mengalir ke lembah. Dengan hati diliputi keindahan, ia memandang batu-batu yang terendam sambil merenungkan kembali pengembaraan yang baru saja dijalaninya. Hidup manusia, gumamnya dalam hati, ibarat air yang mengalir dari mata air menuju samudera. Pada saat lahir dari rahim bumi, semua air bening dan jernih. Tetapi, seiring perjalanannya menuju samudera, air sering harus jatuh ke dalam aliran sungai, jeram, selokan, terusan, dan muara yang keruh. Di hamparan samudera itulah air kembali dijernihkan dan disucikan menjadi gumpalan awan agar bisa jatuh ke permukaan bumi, lalu meresap ke dalam perut bumi untuk lahir kembali sebagai air.

Memahami hidup manusia sebagaimana air, ia menangkap sasmita bahwa harkat dan kedudukan manusia di tengah kehidupan pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan air. Yang paling jernih di antara air adalah yang tidak ternodai oleh lumuran lumpur kehidupan. Demikianlah, manusia yang paling jernih dan mulia kedudukannya adalah yang kesadarannya tidak ternodai oleh benda-benda dan nafsu rendah duniawi. Lantaran itu, ia memahami kenapa dalam tatanan masyarakat Hindu, kedudukan para brahmana yang tidak terikat benda-benda dan nafsu rendah duniawi ditempatkan di atas manusia lain. Dan yang terendah di antara manusia adalah kalangan sudra dan paria, yakni manusia-manusia yang kesadaran hidupnya ditimbuni benda-benda dan nafsu rendah duniawi.

Kisah Bhisma dan nelayan tukang ikan adalah cerita bijak tentang harkat dan kedudukan manusia. Bhisma ditempatkan sebagai manusia berkedudukan mulia (brahmana), sedangkan nelayan sebagai manusia berkedudukan rendah (sudra). Bhisma, putera Santanu, putera mahkota Hastina, datang ke sebuah desa nelayan untuk melamar Rara Amis (gadis bau ikan), anak nelayan, sebagai istri ayahandanya yang sedang mabuk kepayang oleh cinta. Bhisma adalah ksatria sejati yang dengan tulus ingin berbakti kepada ayahandanya. Ia rela berkorban apa saja asalkan ayahandanya berbahagia. Beda Bhisma, beda pula nelayan. Melihat kesempatan emas di balik kabar mabuk cintanya sang raja terhadap puterinya, sang nelayan mengajukan syarat yang wajib dilaksanakan jika Bhisma bersungguh-sungguh ingin melamar puterinya untuk mendampingi raja Hastina. Pertama-tama, sang nelayan menginginkan puterinya, Rara Amis, berkedudukan sebagai permaisuri raja.

Dengan ketulusan seorang ksatria, Bhisma menyanggupi untuk menerima syarat sang nelayan. Tetapi, kesanggupan Bhisma itu belum cukup bagi sang nelayan. Dengan tanpa rasa malu sedikit pun, dia mengajukan syarat kedua: putera dari Rara Amis dan Santanu harus menjadi putera mahkota dan kelak menjadi raja Hastina jika Santanu mangkat. Untuk kali kedua, Bhisma menyatakan kesediaan untuk melepas haknya atas takhta Hastina. Bhisma berjanji akan menjadikan putera Rara Amis dan Santanu sebagai raja Hastina kelak. Tetapi, kesanggupan Bhisma itu pun belum cukup juga memuaskan kerakusan dan keserakahan sudra sang nelayan. Dengan pongah, sang nelayan mengajukan syarat berikut: dia tidak ingin hak atas takhta yang sudah dimiliki oleh cucunya akan diganggu oleh keturunan Bhisma. Sang nelayan dengan tegas menginginkan agar Bhisma tidak memiliki keturunan. Demikianlah, sang ksatria sejati, Bhisma, berikrar di hadapan sang nelayan untuk tidak menikah seumur hidup agar tidak memiliki keturunan yang bisa mengancam takhta yang dikuasai cucu sang nelayan.

Sepanjang pengembaraannya bersama sang brahmin muda, Raden Sahid menyaksikan betapa penduduk golongan sudra yang dijumpainya di desa-desa hampir semua menunjukkan sikap dan perilaku seperti sang nelayan. Orang-orang sudra yang disaksikan Raden Sahid adalah orang-orang yang selalu mengedepankan keakuan pribadinya dan cenderung memenuhi alam pikirannya dengan benda-benda dan angan-angan kosong. Untuk kepentingan-kepentingan remeh temeh terkait kebutuhan menumpuk benda-benda, tanpa segan-segan orang sudra akan melakukan tindakan rendah menyembah kekuatan alam dengan menyembelih anak-anaknya sebagai korban. Bahkan, sering kali Raden Sahid menemukan sekumpulan orang sudra memuja kawanan tikus di sebuah kuil yang diyakini dapat memberi berkah keselamatan dan kemakmuran.

Dengan memahami tatanan masyarakat Hindu yang kedudukannya berjenjang yang dikenal dengan catur warna dan kasta, Raden Sahid pun pada gilirannya menangkap hakikat yang sama di dalam ajaran Islam yang dianutnya. Meski di dalam Islam tidak dikenal pemilahan secara tegas atas kehidupan masyarakat dalam jenjang-jenjang, pemilahan itu sebenarnya terjadi juga secara alamiah. Manusia yang dianggap menempati kedudukan paling tinggi dalam Islam adalah yang paling takwa. Padahal, ukuran takwa adalah kemampuan orang seorang untuk hidup meneladani Nabi Muhammad Saw., yang ditandai dengan keterlepasan diri dari benda-benda (zuhud) dan tanpa pamrih (ikhlas). Demikianlah, dikalangan masyarakat Muslim, keberadaan seorang guru sufi yang hidup menjauhi keduniawian (zuhud) dan tanpa pamrih sangat dimuliakan oleh umat, saat wafat pun kubur mereka diziarahi.

Ketika merenung-renung tentang tinggi dan rendahnya harkat serta kedudukan manusia berdasar tingkat keterikatan terhadap benda-benda dan nafsu rendah duniawi, tiba-tiba Raden Sahid dikejutkan oleh hadirnya brahmin muda yang muncul laksana angin. Lebih terkejut lagi, sang brahmin tidak datang seorang diri, tetapi dengan orang yang selama ini ditunggu-tunggunya, Syaikh Lemah Abang. Raden Sahid benar-benar terperangah takjub ketika Syaikh Lemah Abang menjelaskan bahwa brahmin muda yang mengajaknya mengembara itu tiada lain adalah Bharatchandra Jagaddhatri, Pangeran Wijayanagara yang mengasingkan diri sebagai brahmin.

Dalam perjumpaan tak tersangka-sangka itu, Raden Sahid merasakan kegembiraan yang meluap-luap hingga dadanya menjadi sangat lapang. Ia menuturkan semua pengalaman ruhani yang dialaminya, terutama saat berjumpa dengan Rishi Agastya yang menyingkapkan tirai hijab yang menyelubungi kesadaran jiwanya. “Kami menangkap sasmita, Rishi Agastya menyampaikan perlambang agar kami mengikuti jejaknya dalam menghadapi serbuan bangsa-bangsa kulit putih. Rishi Agastya bahkan seperti meminta agar kami menjadi guru yang sebijaksana sarjana dan pandai mengolah bahasa sepiawai penyair.”

“Bukankah selama ini engkau telah menyaksikan apa yang telah aku lakukan?” gumam Abdul Jalil.

“Kami baru menyadarinya sekarang, Paman.”

“Tahukah engkau, kenapa aku berjuang keras mewujudkan ajaran Jawa (Tauhid) lewat dukuh-dukuh yang tersebar di penjuru Nusa Jawa?” tanya Abdul Jalil seperti menguji.

“Saya belum tahu, Paman.”

“Tanyakan saja pada Paduka Brahmin Bharatchandra Jagaddhatri!”

“Bertanya kepadanya?” tanya Raden Sahid heran.

Abdul Jalil mengangguk. Bharatchandra Jagaddhatri yang melihat Raden Sahid masih terheran-heran, tanpa ditanya langsung berkata, “Apa yang dilakukan saudaraku dengan ajaran Adwayashastra (Ilmu Tauhid) yang disampaikannya kepada penduduk Nusa Jawa, sesungguhnya berkaitan dengan bakal berubahnya tatanan kehidupan manusia di dunia.”

“Perubahan tatanan kehidupan manusia?” gumam Raden Sahid makin heran.

“Ya, perubahan yang menjungkirkan tatanan lama ke tatanan baru.”

“Kami belum paham dengan penjelasan Paduka.”

“Jika dari dahulu hingga sekarang ini para pecinta benda-benda dan pengumbar nafsu rendah badani selalu ditempatkan pada kedudukan terendah, maka di masa datang merekalah yang bakal menduduki tempat tertinggi dalam tatanan kehidupan manusia. Manusia dihormati karena memiliki kekayaan melimpah atas benda-benda. Manusia dimuliakan karena menduduki jabatan dan pangkat dalam pemerintahan duniawi. Manusia ditakuti karena memiliki kekuatan senjata pembasmi kehidupan. Manusia disegani karena memiliki kepandaian menipu manusia lain. Sementara orang-orang suci yang menjauhi keduniawian akan dihina sebagai manusia tolol dan lemah,” kata Bharatchandra Jagaddhatri.

“Apakah itu berarti, kekuasaan dunia akan dipegang orang-orang sudra?”

“Kekuasaan dunia akan dikuasai para pecinta benda-benda dan pengumbar nafsu rendah badani. Mereka akan datang ke berbagai penjuru bumi untuk merampok benda-benda dan mengumbar nafsu-nafsu rendah badani mereka di mana-mana. Tidak ada satu pun kekuatan manusia yang dapat melawan mereka, kecuali kekuatan manusia-manusia yang bernaung di bawah Adwayasashtra yang menjauhi gemerlap harta benda dan mengikat kuat nafsu-nafsu rendah badaninya di bawah kendali hati yang dipancari cahaya Ilahi. Lantaran aku mengetahui bakal terjadinya perubahan tatanan itu, aku tinggalkan takhta untuk mengajarkan Adwayasashtra kepada manusia. Dan sekarang ini, tengara bakal terjadinya perubahan tatanan itu sudah mulai menampakkan wajahnya.”

“Kami paham, yang Paduka maksudkan wajah dari perubahan itu adalah orang-orang Portugis kelaparan yang mencari kemakmuran di negara lain. Mereka itulah kawanan pecinta harta benda yang bakal merampas dan merampok harta benda penduduk. Mereka itulah kawanan saudagar rakus yang bakal menguasai bandar-bandar perniagaan di seluruh negeri. Mereka itulah kawanan pecinta kekuasaan yang bakal menjajah negeri-negeri dan memperbudak penduduknya. Mereka kawanan dari makhluk-makhluk bayangan yang bakal menjadikan penduduk negeri sebagai mayat-mayat hidup tak berjiwa,” kata Raden Sahid.

Bharatchandra Jagaddhatri tertawa mendengar kata-kata Raden Sahid yang bergelora. Dia menepuk-nepuk bahu Raden Sahid sambil membisikkan sesuatu ke telinganya. Sejenak setelah itu, dia membalikkan badan dan melangkah ke arah hutan dan menghilang di balik pepohonan. Abdul Jalil yang berdiri di samping Raden Sahid tanpa menoleh bertanya lirih, “Dia membisikkan apa ke telingamu?”

“Rsir viprah pura-eta jananam.”

“Tahukah engkau artinya?”

“Kalau tidak salah, seorang rishi harus melihat ke arah depan dan bersikap bijaksana.”

“Itu kurang tepat, yang dia maksud adalah seorang guru harus memiliki wawasan ke depan dan bersikap bijaksana. Itu berarti, dia berharap engkau bisa menjadi guru yang bijaksana bagi umat manusia, bukan pertapa yang mengasingkan diri dari kehidupan duniawi,” kata Abdul Jalil.

“Saya paham, Paman.”

“Karena itu, mulai sekarang orang akan menyebut namamu Syaikh Malaya. Sebab, engkau telah beroleh pencerahan di Gunung Malaya melalui Rishi Agastya,” kata Abdul Jalil.

“Saya menerima sebutan itu dengan suka cita, Paman. Tetapi, ada satu hal yang ingin saya tanyakan kepada Paman,” kata Raden Sahid.

“Pertanyaan tentang apa itu?”

“Kenapa Paman meninggalkan saya?”

“Aku tidak ingin menjadi hijab antara dirimu dengan-Nya.”

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 12:10LT