00. Pengantar Redaksi

Akhirnya, saat-saat sejarah Syaikh Siti Jenar semakin mendekati ujung. Buku ini merupakan satu dari dua buku penutup (Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar Buku Keenam dan Ketujuh). Sebagaimana sebuah teka-teki, kisah akhir hidupnya menimbulkan pertanyaan beragam: Benarkah dia mati? Benarkah dia tidak mati? Benarkah dia dimatikan? Namun demikian, yang lebih penting adalah apa yang ada di balik teka-teki itu. Bagaimana orang-orang memahami ajarannya?

Sejarah hampir tidak pernah berbicara tentang kelompok marjinal karena dianggap telah subversif melalui wacana dan praksis keagamaan yang mereka kembangkan. Mereka dianggap menantang status quo kaum mayoritas. Sejarah kaum terpinggirkan telah tertindas oleh sejarah yang berpusat pada kaum borjuasi lain: ulama dan elit penguasa.

Hegemoni menurut Gramsci bukan semata-mata dominasi, melainkan juga “kepemimpinan” dan “kekuasaan” kelompok sosial tertentu yang diwujudkan dalam masyarakat luas melalui keberhasilan untuk mendapatkan pengaruh.

Persoalan dasar hegemoni bukanlah tentang bagaimana suatu kelompok baru mendapatkan dominasi dan kekuasaan, melainkan lebih penting lagi bagaimana kelompok itu sampai bisa diterima tidak hanya sebagai penguasa, juga sebagai “pemandu” masyarakat sehingga mampu memainkan peran sebagai pemimpin moral.

Kepemimpinan moral yang hegemoni dapat menjadi dominan secara formal melalui aliansi dengan kekuatan politik. Begitu aliansi seperti itu terjadi maka kekuatan dominan dan hegemonik dapat menggunakan kekuatan dan bahkan kekerasan untuk mempertahankan posisinya yang dominan. Pada tahap inilah muncul kelompok-kelompok terpinggirkan yang menjadi sasaran dominasi dan penindasan.

Kerja keras Syaikh Siti Jenar Abdul Jalil untuk mewujudkan pembaharuan-pembaharuan dalam tatanan hidup manusia masih berlanjut pada buku ini. Ia membuka Dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, Lemah Jenar, membentuk Caturbhasa Mandala, dan Majelis Wali Songo. Di sini ia pun banyak menyingkap perjanjian-perjanjian rahasia dalam mewujudkan cita-citanya.

Demikian pula, kabar kedatangan pasukan Dajjal, Ya’juj wa Ma’juj, yang dibawa Syaikh Siti Jenar semakin mendekati kebenaran. Bangsa kulit putih bermata biru tengah beriap-riap mengibarkan pengaruhnya.

Tidak mudah memang merekonstruksi sejarah masa silam yang jauh. Namun demikian, ini merupakan kerja penting untuk medudukkan peristiwa-peristiwa historis dalam posisinya secara proporsional dan adil.

Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada Mas Agus Sunyoto yang mempercayakan penerbitan karya ini kepada kami. Kepada pembaca yang budiman, kami mengucapkan selamat membaca.

01. Kesadaran Burung

Kesadaran burung adalah kesadaran yang diperoleh seorang penempuh (salik) selama tahap-tahap perjalanan ruhani melampaui kedudukan (maqamat) menuju Kesatuan (Tauhid). Bagaikan seekor burung, seorang salik yang sudah mencapai tahap ini akan menyaksikan dunia sebagai tempat hinggap sementara dan dapat ditinggalkan kapan pun dikehendaki. Segala sesuatu yang terkait dengan kecintaan terhadap dunia (hubb ad-dunya) sudah menyingsing bagaikan matahari menyeruak di tengah gumpalan awan hitam. Dunia telah menjadi sesuatu yang rendah di bawahnya. Pada tahap ini sang salik akan merasakan getar-getar cinta (hubb) seorang pecinta (muhibb) untuk mengarahkan pandangan kepada Kekasih (Mahbub) sehingga yang lain (ghair) akan terabaikan.

Kesadaran burung adalah kesadaran sang salik melihat dunia sebagai sekadar tempat berpijak untuk hinggap, makan, istirahat, bermadu kasih, tidur, dan bersarang. Atau, kesadaran makhluk berkedudukan tinggi yang selalu mengarahkan pandangan ke hamparan kehidupan di bawahnya. Atau, kesadaran untuk selalu melimpahkan segala sesuatu dari atas tanpa pernah menengadah dari bawah. Atau, kesadaran untuk selalu memberi tanpa pernah meminta. Atau, kesadaran seorang salik yang sudah di ambang batas antara alam kasatmata dan alam tak kasatmata. Atau, kesadaran untuk memaknai angkasa kosong sebagai Tujuan akhir dari Kebebasan yang didambakannya, meski sayap-sayapnya telah patah dan tubuhnya terbanting menjadi bangkai di muka bumi. Di atas semua gambaran itu, mereka yang sudah memiliki kesadaran burung adalah cermin dari jiwa merdeka yang tak sudi bertekuk lutut kepada sesama, meski kepadanya disediakan sangkar emas dan limpahan makanan.

Meski kesadaran burung nilainya lebih tinggi dibanding kesadaran hewan melata dalam rentang perjalanan ruhani seorang salik, kesadaran burung masih terjenjang berdasarkan tingkat-tingkat kedudukan (maqamat) yang mencitrai makna keburungan. Ada kesadaran burung gagak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang masih tercekam lingkaran angan-angan (al-wahm) yang memunguti serpihan-serpihan bangkai kamalasan dan cepat lupa diri jika dipuji-puji. Ada kesadaran burung merak yang tak mampu terbang tinggi dan jauh: itulah kesadaran yang cenderung membusungkan dada dan membentangkan bulu-bulu untuk memamerkan keindahan citra dirinya sebagai yang terbaik dan terindah di antara segala burung. Ada pula kesadaran bangau yang pintar bertutur kata, namun cenderung memuji diri dan selalu memamfaatkan “udang-udang” yang percaya pada ucapannya.

Pada tingkat-tingkat kedudukan selanjutnya ada yang disebut kesadaran burung beo, yang cenderung bangga dan berpuas diri bisa berkata-kata menirukan kata-kata orang bijak tanpa tahu maknanya. Ada kesadaran burung pipit yang cenderung berbangga diri hidup dalam kawanan-kawanan dan kemudian membanggakan kawanannya sebagai yang paling baik dan benar. Ada kesadaran burung merpati yang meski mampu terbang tinggi dan jauh, cenderung gampang terbujuk oleh kemapanan sehingga menjadi hewan peliharaan yang jinak. Yang tergagah dan terperkasa adalah kesadaran burung rajawali; sebuah kesadaran yang terbang tinggi dan jauh di tengah kesenyapan angkasa, berkawan kesunyian dan keheningan, bersarang tinggi di puncak tebing karang, tidak makan jika tidak lapar, tidak minum jika tidak haus, dan selalu bertasbih memuji Penciptanya dengan suara garang digetari makna rahasia: haqq…haqq…haqq!

Raden Ketib yang sadar dirinya telah memiliki kesadaran burung sering merasakan kegamangan ketika belajar terbang mengepakkan sayap jiwanya menembus angkasa luas tanpa batas. Ia gamang karena belum tahu apakah kesadaran yang dimilikinya itu kesadaran gagak, bangau, merak, pipit, beo, merpati, atau rajawali. Ia hanya merasa telah menjadi seekor burung yang setiap saat dengan ringan dapat terbang meninggalkan bumi. Di tengah kegamangan itulah ia menyaksikan angkasa sekitarnya penuh dilintasi kelebatan burung yang mengepakkan sayap-sayapnya dengan suara gemuruh; burung gagak hitam, burung bangau yang putih, burung merak yang aneka warna, burung beo yang hitam dengan jambul kuning, burung pipit yang coklat, burung merpati yang kelabu, dan burung rajawali yang coklat bersalut putih.

Di tengah kelepak sayap burung-burung yang terbang memenuhi angkasa itu, tanpa terduga dan terbayangkan sebelumnya tiba-tiba Raden Ketib menyaksikan bayangan Sang Maut membentangkan sayap di atas angkasa Nusa Jawa bagaikan bayangan burung raksasa yang mengerikan. Peristiwa menakjubkan itu disaksikannya ketika ia melakukan perjalanan dari kediaman Pangeran Fadhilah Khan di Caruban ke kediaman Raden Sahid, Susuhunan Kalijaga, di Demak. Sepanjang perjalanan yang dilakukannya itu, baik dengan perahu maupun dengan berjalan kaki, ia terus-menerus mendengar berbagai cerita tentang Sang Maut yang rakus dan tak kenal puas menghirup napas kehidupan yang berpusar-pusar di tengah kelebatan pedang, tombak, panah, dan keris pusaka yang tersebar di gunung, lembah, bukit, hutan, sawah, desa, dan kuta di Nusa Jawa. Bahkan, saat berada di Demak ia mendengar jeritan Sang Maut begitu mengerikan seolah-olah ledakan halilintar yang membelah cakrawala jiwanya.

Para pelaut menuturkan kepadanya, meski Sang Maut tidak seganas dan serakus tahun-tahun sebelumnya, napas kehidupan yang dihirup-Nya pada tahun-tahun belakangan masih menggemakan tembang Kematian di berbagai sudut Nusa Jawa. Di tanah Blambangan yang membentang di timur Nusa Jawa, tembang Kematian masih terdengar mengharu biru di tengah kelepak sayap Sang Maut yang menggemuruh di Pajarakan, Besuki, dan Demung. Sementara para pedagang di pedalaman menuturkan, di tanah Pasir yang menghampar di selatan Nusa Jawa, Sang Maut tengah mengumandangkan kidung Kematian di Bocor, Wirasabha, dan Maron. Melalui pandangan mata batin (‘ain al-bashirah), Raden Ketib memang menyaksikan Sang Maut mengejawantahkan keberadaan-Nya laksana hamparan mendung kelabu tersalut cahaya subuh dengan berjuta sayap Kematian mengambang di cakrawala.

Ketika Raden Ketib menjumpai para kawi yang bijak dan waskita sepanjang perjalanan ke Demak, ia beroleh petunjuk bahwa sejak zaman purwakala Sang Maut telah menampakkan kesetiaan dan kecintaan pada Nusa Jawa. Kesetiaan Sang Maut laksanan kesetiaan burung raksasa Kematian di alam dongeng yang setia menunggu Pohon Kehidupan tempatnya bersarang. Selama puluhan abad Sang Maut dengan keganasan tiada tara nyaris tak pernah beranjak dari pohon Kehidupan yang disebut Nusa Jawa. Dari waktu ke waktu, Sang Maut dengan kerakusan menakjubkan menggelar pesta darah, menyantap penghuni Nusa Jawa bagaikan burung raksasa Kematian menyantap kawanan ulat yang memenuhi penjuru pohon.

Aneh, tutur para kawi nan bijak, manusia-manusia penghuni Nusa Jawa yang bagaikan kawanan ulat itu secara ajaib tidak pernah habis, meski dijadikan santapan dalam pesta darah Sang Maut. Ulat-ulat itu terus berdatangan ke Pohon Kehidupan Nusa Jawa. Dengan beriap-riap mereka bermunculan dari pohon-pohon sekitar, seolah-olah sengaja menyuguhkan diri untuk disantap. Demikianlah, sang burung raksasa Kematian akhirnya tak pernah beranjak pergi dari Pohon Kehidupan yang menyuguhkan santapan lezat. Sambil berkicau dan menjerit-jerit garang sang burung raksasa Kematian menyantap dengan lahap manusia-manusia ulat penghuni Pohon Kehidupan Nusa Jawa sebagai makanan kesukaan-Nya.

Kepada Raden Ketib para kawi menuturkan, sejak zaman purwakala Sang Maut telah beribu-ribu kali menjadikan penghuni Nusa Jawa sebagai hidangan lezat dalam pesta darah. Tidak satu pun penghuni Nusa Jawa yang ingat berapa kali perhelatan pesta darah dilakukan. Mereka hanya bisa menandai bahwa citra Kematian bagi penghuni Nusa Jawa adalah berwarna merah laksana darah yang tumpah pada pesta tersebut. Para kawi sejak zaman purwakala menggambarkan kegemaran Sang Maut menyantap penghuni Nusa Jawa itu sebagai kegemaran penghuni Nusa Jawa mengunyah buah pinang dan sirih yang mengeluarkan cairan berwarna merah. Kematian mereka gambarkan sama merahnya dengan air kunyahan sirih dan pinang. Kematian adalah darah. Kematian adalah air kunyahan sirih. Kematian adalah air kunyahan pinang. Kematian adalah merah. Lantaran itu, kata pejah (Jawa Kuno: mati), mengandung perlambang yang sama dengan kata pejah (Jawa Kuno: pinang) yang jika dikunyah menghasilkan air berwarna merah. Kata seda (Jawa Kuno: mati) pun mengandung makna perlambang yang sama dengan kata alirkan air berwarna merah. Bagi penghuni Nusa Jawa, Kematian adalah darah merah. Darah adalah Kematian. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian.

Di tengah kegemaran Sang Maut mengunyah penghuni Nusa Jawa bagaikan kegemaran mereka mengunyah pinang dan sirih, di tengah kuatnya kesan bahwa Kematian adalah darah dan merah, tiba-tiba muncul seorang guru manusia yang dengan aneh mengajarkan manusia untuk “belajar mati”, “belajar mengakrabi Kematian”, dan “mencintai Sang Maut”. Aneh memang. Di tengah orang-orang yang takut dengan Kematian justru ada yang menyampaikan ajaran sebaliknya. Guru manusia itulah yang dikenal dengan nama Syaikh Datuk Abdul Jalil atau masyhur dengan sebutan Syaikh Lemah Abang (tanah merah), Syaikh Sitibrit (tanah merah), Syaikh Jabarantas (yang berpakaian compang-camping), dan Susuhunan Binang (raja merah), yang semuanya merujuk dengan kata merah: lambang Kematian.

Keanehan ajaran Syaikh Lemah Abang tentang Sang Maut dan Kematian di tengah orang-orang yang akrab dengan Kematian ternyata telah menimbulkan berbagai kesan dan pandangan beragam dari mereka yang belum mengenal secara dekat baik pribadi maupun ajaran sang guru manusia tersebut. Ada yang menganggap Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan ajaran sesat: mati adalah hidup dan hidup adalah mati. Ada pula yang menganggap Syaikh Lemah Abang sesat karena telah menyuruh pengikutnya untuk bunuh diri mencari mati. Bahkan, tak kurang ada yang beranggapan Syaikh Lemah Abang adalah Kematian itu sendiri, titisan Hyang Yamadipati Sang Pencabut Nyawa, sehingga siapa pun yang berdekatan dengannya akan mati. Kematian adalah merah. Merah adalah Kematian. Lemah Abang yang bermakna tanah merah adalah tanah Kematian. Lemah Abang adalah tanah larangan, mala ning lemah, yang harus dijauhi.

Ketumpangtindihan dan kegandaan makna kata dalam bahasa Jawa, yang cenderung dikait-kaitkan dengan kerangka pikir otak-atik mathuk, itulah yang ditangkap Raden Ketib ketika ia beroleh penjelasan tentang liku-liku hidup Syaikh Datuk Abdul Jalil dari Raden Sahid yang dijumpainya di Selamirah (batu merah) di kaki Gunung Chandramukha (Merbabu). Rupanya, menurut kesan Raden Ketib, liku-liku hidup Raden Sahid tak jauh berbeda dengan mertuanya, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Maksudnya, meski orang mengatakan Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal di Lemah Abang, kenyataan menunjuk bahwa guru manusia itu selalu berkeliaran ke mana-mana untuk menyampaikan ajarannya. Hal serupa menunjuk pula pada Raden Sahid. Kadilangu yang dianggap sebagai kediaman Raden Sahid ternyata hanya merupakan kediaman istri dan putera-puterinya. Raden Sahid sendiri nyaris tak pernah berada di rumah, karena mengikuti jejak mertuanya untuk menyampaikan ajaran Tauhid kepada manusia-manusia yang berada di dalam kegelapan akal dan budi yang diliputi karat kejahilan. Lantaran itu, Raden Sahid dikenal dengan sebutan masyhur Syaikh Malaya (guru ruhani pengelana).

Di bawah cahaya rembulan yang menerangi punggung Gunung Chandramukha, di dalam bayangan atap balai-balai yang berdiri di antara batang-batang pohon randu alas di ujung desa Selamirah, di tengah terkaman rasa dingin malam, Raden Ketib duduk bersila di atas hamparan lampit (tikar rotan). Di hadapannya tersuguh aneka kue lezat yang disediakan murid Raden Sahid, Ki Luwung Salawe (Jawa Kuno: kehampaan sebesar benang), yang menemaninya selama menunggu Raden Sahid. Meski dua belas jenis penganan lezat seperti juwadah, ketan srikaya, arang kambang, serabi, sagon, cucur merah, cucur putih, ketan, wajik, buah jeruk, durian, dan kepundung yang terhidang di depannya sangat menarik selera dan mengandung makna perlambang, Raden Ketib justru sangat terkesan dengan penampilan sederhana lelaki setengah baya itu. Ia menangkap sasmita bahwa Raden Sahid sengaja menguji dirinya dengan perlambang Ki Luwung Salawe dan kedua belas jenis penganan yang disuguhkan itu. Lantaran itu, setelah saling diam beberapa jenak, Raden Ketib bertanya kepada Ki Luwung Salawe, “Maaf Paman, jika boleh tahu, apakah makna perlambang di balik dua belas jajanan yang Paman suguhkan ini?”

Ki Luwung Salawe tersenyum sambil mengangguk-angguk dan berkata dengan nada menguji, “Bagaimana Raden bisa mengira bahwa jajanan yang kami suguhkan memiliki makna perlambang?” “

Saya tidak tahu, Paman,” jawab Raden Ketib polos. “Saya hanya menangkap sasmita bahwa jajanan itu mengandung makna perlambang. Bahkan nama Paman, Luwung Salawe, pun menurut penangkapan saya memiliki makna perlambang yang sangat dalam. Jadi, saya merasa Kangjeng Susuhunan memberi pelajaran kepada saya melalui perlambang-perlambang. Karena itu, saya mohon agar Paman berkenan menerangkan makna perlambang di balik dua belas jenis jajanan ini.” “

Saya tidak akan memaparkan secara rinci tentang makna masing-masing perlambang, tetapi dua belas jajanan itu adalah perlambang pancaran Ahmad bila mim dalam tujuh selubung nafsu manusia, yaitu hayawaniyyah, musawwilah, ammarrah, lawwammah, mulhamah, muthma’innah, wahidah, dan lima tahap pemunculannya menjadi manusia sempurna (insan kamil), yaitu alfah, khasafah, antifah, amarullah, Ahmad.” “

Terima kasih, Paman. Saya sudah paham. Saya paham jika tahap kemunculan Ahmad bila mim sebagai Ahmad sang manusia sempurna tidak bakal terwujud tanpa melalui Luwung Salawe,” kata Raden Ketib. “

Begitu juga ketika Ahmad terserap kembali ke dalam liputan Ahmad bila mim mesti melalui Luwung Salawe,” ujar Ki Luwung Salawe.

Ketika Raden Ketib akan berkata-kata lebih lanjut, terdengar suara orang berdeham dari arah rumah. Raden Ketib menoleh. Di ujung pintu ia melihat Raden Sahid berjalan dengan langkah mantap ke arahnya. Ki Luwung Salawe berdiri dan bergegas ke dalam lalu keluar lagi dengan membawa cerana tempat sirih. Saat Raden Sahid duduk berhadap-hadapan dengan Raden Ketib, Ki Luwung Salawe menempatkan cerana sirih di depannya dan kemudian menghilang ke dalam rumah. Setelah duduk beberapa jenak, Raden Sahid menatap mata Raden Ketib seolah-olah hendak mengukur pedalamannya.

Raden Sahid yang masyhur dikenal orang dengan sebutan Syaikh Malaya adalah laki-laki sederhana, namun diliputi kewibawaan besar. Usianya kira-kira lima puluh tahun lebih sedikit. Tubuhnya lebih tinggi dan lebih tegap dibanding orang Jawa pada umumnya. Kulitnya coklat kemerahan seperti tembaga. Wajahnya bulat seperti memancarkan cahaya keagungan. Hidungnya mancung dengan hiasan kumis tebal di bawahnya. Alisnya yang tebal melengkung laksana pedang. Matanya yang lebar berkilat-kilat memancarkan kewaskitaan rajawali. Sekepal janggut yang menggantung di dagunya menambah kesempurnaan citra seorang guru suci. Pakaian yang dikenakannya sangat sederhana sebagai layaknya orang kebanyakan: baju, celana, jubah, dan destar warna hitam terbuat dari bahan kain kasar. Kain batik kawung yang menutupi bagian bawah tubuhnya terbuat dari bahan kain kasar. Ikat pinggang lebar yang dikenakannya pun terbuat dari bahan kulit yang kasar. Hanya sebilah keris bergagang gading dengan serasa emas yang diselipkan di perutnya yang menjadi penanda bahwa dia bukanlah orang dari kalangan kebanyakan.

Duduk berhadapan beberapa jenak di hadapan Raden Sahid yang berpenampilan bersahaja itu, Raden Ketib merasakan semacam getar kewibawaan seekor harimau menerkam jiwanya. Ia merasakan semacam rasa gentar, galau, kikuk, dan ketundukan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Lantaran itu, saat Raden Sahid mempersilakannya menikmati kue-kue yang disuguhkan, ia hanya mengangguk sambil tersenyum blingsatan. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Ia hanya menunggu dengan menatap lantai di depannya dengan dada terasa berdebar-debar. Ketika Raden Sahid mengambil sedah (sirih), hapu (kapur), peja (pinang) dan mempersilakannya, barulah ia mengambil sirih dan mengunyahnya. Setelah meludah beberapa kali ke dalam cerana, Raden Sahid pun berkata dengan suara penuh wibawa. “

Jika engkau ingin menangkap citra Syaikh Datuk Abdul Jalil, o kulup, hendaknya engkau mengambil gambaran alam yang tergelar di hadapanmu sebagai perlambang. Jika engkau melihat deretan pohon randu alas yang tegak di depanmu, hendaknya engkau menangkap makna yang sama dari kehidupan manusia yang saling berusaha meninggikan keberadaan diri seperti pohon-pohon yang tegak menjulang itu. Sebab, di tengah pohon-pohon yang tegak meninggi itu Syaikh Datuk Abdul Jalil telah membiarkan dirinya menjadi tanah yang dijadikan tumpuan bagi tegaknya pohon-pohon tersebut. Ya, tanah yang membiarkan pohon-pohon yang tinggi maupun yang rendah tumbuh di atasnya. Tanah yang membiarkan dirinya diinjak-injak dan dilukai oleh para penanam. Tanah yang selalu bersedia merangkul kayu-kayu tumbang yang membusuk. Tanah yang menjadi tumpahnya darah para makhluk di atasnya sejak lahir hingga mati. Tanah yang tak pernah dihargai, tetapi sangat dicintai dan diperebutkan oleh para penghuninya.” “

Jika engkau sudah paham bahwa gambaran Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah tanah maka engkau akan paham bahwa mereka yang menganggapnya sebagai pohon lebat yang berbuah telah keliru dalam memaknai keberadaannya. Sebab, makna di balik perlambang sebatang pohon yang tinggi adalah semakin ia bergerak naik ke atas hingga pucuknya menjulang ke angkasa maka semakin dalam pula akarnya menyusup ke bumi menuju ke dalam kegelapan. Begitulah manusia yang berusaha bermegah-megah ke puncak kemasyhuran, sesungguhnya pada saat yang sama ditarik oleh naluri kegelapan jiwanya ke dalam lubang kejahatan di dalam jiwanya. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil menolak usaha bermegah-megah diri. Sebaliknya, ia berjuang keras membiarkan keberadaan dirinya sebagai tanah sehingga jejak-jejak kemanfaatan hidupnya tak pernah diketahui orang lain, kecuali mereka yang memahami hakikat pohon-pohon dan tanah.” “

Hidup manusia memang seibarat pohon. Semakin ia berusaha meraih Kehidupan sempurna dan abadi bagaikan pohon tumbuh tegak menjulang ke atas, maka kegelapan dan Kematian akan menariknya ke bawah bagaikan akar-akar pohon menembus kegelapan bumi. Itu sebabnya, Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan tentang Kematian agar tumbuh bersemi Kehidupan yang sempurna dan abadi. Kematian dan Kehidupan saling menarik ibarat akar dan pucuk. Di tengah tarik-menarik itulah cakrawala kehidupan manusia akan diwarnai perubahan-perubahan tatanan, sebagaimana pohon-pohon memiliki citra musim yang terus berubah.” “

Apakah itu berarti para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak boleh terikat dengan keberadaannya, sebagaimana para salik tidak boleh terikat pada duniawi?” tanya Raden Ketib. “

Engkau sudah memahaminya, o kulup,” kata Raden Sahid bijak. “Sebagai seorang pengajar Tauhid, ia telah berjuang keras untuk mendobrak semua sekat yang menghijab Sang Ahad. Lantaran itu, ia telah menegakkan rambu-rambu bagi para pengikutnya agar tidak menempatkan dirinya sebagai hijab bagi Kebenaran. Tentang usahanya mendobrak sekat-sekat hijab itu, pernah aku alami dengan penuh kebingungan setelah aku mengikuti perjalanan bersamanya selama lima tahun mengembara ke berbagai tempat.” “

Sungguh kami merasa beruntung jika Paduka berkenan menuturkan hal tersebut kepada kami,” pinta Raden Ketib berharap. “

Terus terang, sepanjang mengikuti perjalanan membuka dukuh-dukuh bercitra mandala dan mengajarkan Sasyahidan di berbagai tempat di Nusa Jawa, aku sudah seperti anaknya sendiri. Aku malah sudah menganggapnya sebagai pembimbing ruhaniku yang sejati. Aku menganggapnya sebagai mursyid pengejawantahan ar-Rasyid, yang menjadi jalan bagiku menuju Kebenaran (al-Haqq). tetapi, saat aku sudah begitu meyakini anggapanku itu, tiba-tiba ia mengusirku dan tidak mau lagi aku ikuti. Semula aku terkejut dan bingung sebab aku tidak tahu kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga aku diusir dan tidak diperbolehkan lagi mengikuti perjalanannya. Saat itu aku rasakan dunia ini seperti runtuh. Aku hampir putus asa. Dan pada detik-detik krisis kepercayaan terhadap diri sendiri itulah tiba-tiba aku ingat akan ajarannya tentang Ngalah (tawakal), yakni memasrahkan segala urusan kepada Gusti Allah.” “

Akhirnya, dengan bekal Ngalah itulah aku hadapkan kiblat hati dan pikiranku hanya kepada Allah. Seluruh keraguanku kusingsingkan. Seluruh keinginanku kusingsingkan. Bahkan, seluruh gantungan harapanku kusingsingkan. Saat semua menyingsing, terbukalah hijab demi hijab yang menyelubungi Kebenaran. Saat itulah aku beroleh pencerahan ruhani sebagaimana yang pernah engkau alami saat mencapai kesadaran burung. Dan ternyata, saat itu pula Syaikh Datuk Abdul Jalil datang menemuiku sambil berkata, ‘Sesungguhnya, aku mengusirmu dengan tujuan utama agar aku tidak menjadi hijab antara engkau dan Dia.’ Saat itulah aku baru sadar tentang ketinggian martabatnya sebagai pengajar Tauhid. Bahkan, setelah itu ia menikahkan aku dengan puterinya Zainab. Sebagai lambang keberhasilanku dalam beroleh pencerahan, ia mengganti nama Zainab menjadi Ratu Arafah.” “

Kami pernah mendengar bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan martabat tujuh dan membagi kedudukan pengikut-pengikutnya ke dalam jenjang-jenjang kedudukan. Apakah pernikahan Paduka dengan puterinya yang dinamai Ratu Arafah itu memiliki keterkaitan makna dengan kedudukan Paduka sebagai pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil?” tanya Raden Ketib dengan rasa ingin tahu berkobar-kobar.

Raden Sahid terdiam. Beberapa kali dia menarik napas panjang. Sejenak setelah itu dia berkata, “Sesungguhnya, beliau tidak pernah membagi-bagi kedudukan pengikut-pengikutnya. Tetapi, pengikut-pengikutnya sendirilah yang telah membagi-bagi kedudukan masing-masing berdasar tingkatan maqam, yang hal itu dilakukan sangat rahasia. Yang tertinggi di antara pengikut-pengikut adalah yang digolongkan ke dalam kelompok Ahadiyyah, kemudian kelompok Wahdat, kelompok Wahidiyyah, dan seterusnya.” “

Bolehkah kami mengetahui salah satu di antara mereka itu, o Paduka Guru?” pinta Raden Ketib. “

Salah satu di antara pengikutnya yang menggolongkan diri ke dalam kelompok Ahadiyyah adalah Pangeran Karucil (Jawa Kuno: belanga kecil), bangsawan asal Blambangan yang mengajarkan Tauhid di Gunung Argapura. Ia dikenal dengan nama Syaikh Akadiyat. Yang tergolong ke dalam kelompok Wahdat salah satunya adalah Susuhunan Wahdat Cakrawati, ahli wahdat, yang mengajarkan Tauhid di Bonang, Tuban, Komalasa, dan Karang Kemuning. Yang tergolong kelompok Wahidiyyah salah satunya adalah Pangeran Pringgabhaya yang mengajarkan Tauhid di Pamotan. Yang cukup banyak di antara kelompok-kelompok tersebut adalah dari kelompok Wahidiyyah. Mereka menjadi pengajar Tauhid hingga ke luar Nusa Jawa. Bahkan, belakangan aku mendengar kabar ada lagi kelompok ruwahan (arwah), yang dipimpin Kyayi Jasim Latif di Kabumian dan Kyayi Mujasim di Mataram,” kata Raden Sahid. “

Murid-murid Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajar hingga ke luar Nusa Jawa?” gumam Raden Ketib heran. “

Ya, terutama setelah ajarannya dilarang pada masa awal pemerintahan Tranggana, sultan Demak yang sekarang. Saat itulah pengikut-pengikutnya meninggalkan kampung halaman dan menebar ke berbagai tempat di bumi Allah. Sebagai tanda bahwa mereka adalah pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil, mereka menamai kediaman barunya dengan Lemah Abang, Tanah Merah, Batu Merah, Sela Mirah, Lemah Putih, Batu Putih, Lemah Ireng, Kemuning, Karang Kemuning, dan Kajenar,” ujar Raden Sahid. “Kenapa ada merah, putih, hitam, dan kuning? Bukankah beliau hanya membuka Dukuh Lemah Abang?” “

Sesungguhnya, yang ia buka bukan hanya Dukuh Lemah Abang, melainkan empat jenis dukuh yang di masa silam dikenal dengan sebutan caturbhasa mandala. Ia mendirikan mandala-mandala yang dijadikan sebagai tempat berpijak bagi ajaran Islam di Nusa Jawa. Tetapi, karena dukuh pertama yang ia buka adalah Lemah Abang maka ia dikenal orang dengan sebutan Syaikh Lemah Abang,” papar Raden Sahid. “

Mohon ampun Paduka Guru, apakah sesungguhnya makna sejati dari nama Lemah Abang?” Raden Ketib ingin tahu. “Sebab, banyak tempat yang bernama Lemah Abang, namun ternyata tanahnya tidak merah. Selain itu, kenapa pula Syaikh Datuk Abdul Jalil disebut pula dengan nama Syaikh Siti Jenar yang bermakna sang guru ruhani dari tanah kuning? Apakah makna merah dan kuning di dalam nama yang disandangnya?”

Raden Sahid tercenung beberapa saat mendapat pertanyaan dari Raden Ketib. Setelah menarik napas berat beberapa kali dia berkata dengan suara lain, “Nama Lemah Abang, Sitibrit, Siti Jenar, dan Lemah Kuning adalah nama-nama yang menyiratkan makna pengorbanan rahasia anak manusia demi lahirnya zaman baru. Nama-nama itu adalah tonggak-tonggak sejarah perubahan di suatu kurun zaman. Nama-nama yang tetap dikenang meski dibalut bermacam-macam gambaran membingungkan tentang maknanya. Hanya mereka yang memiliki kesadaran burung jua yang dapat mengetahui makna sejati di balik nama-nama itu.”

Selat Taiwan (MV. Taho), 15 April 2007, 20:20LT

02. Keanehan-Keanehan

Ketika gemuruh perubahan melanda Bumi Pasundan bagaikan bah membanjiri aliran sungai kehidupan, membobol kemandekan di Rajagaluh dan Dermayu, Abdul Jalil yang sedang berkeliling ke berbagai tempat di Rajagaluh untuk menyampaikan ajaran Sasyahidan tiba-tiba memutuskan kembali ke gubuknya di Lemah Abang. Ia menarik diri dari hiruk pikuk semangat perubahan manusia yang meluap-luap dan menyambar-nyambar dengan ganas itu. Ia menghindar dari gelegak semangat perubahan yang membuat orang-orang berkeliaran, berdesak-desakan, berhimpitan, jungkir balik, tumbang, bangkit kembali, dan kemudian berpacu menyongsong cakrawala baru yang penuh harapan. Ia ingin menjauh dari semua itu. Di dalam gubuknya yang selalu penuh sesak oleh murid-murid, ia sering terlihat duduk merenung menapaki jejak-jejak yang telah dilewatinya.

Di tengah perenungannya menapaki jejak-jejak perubahan yang berliku itu, Abdul Jalil menyaksikan sebuah pemandangan yang membuat hatinya lega, namun sekaligus khawatir. Lega karena sebuah bentangan cakrawala baru yang gemilang dengan manusia-hewan dan manusia saling berpacu untuk mewujudkan diri menjadi adimanusia. Tetapi, ia juga khawatir karena di tengah gelombang perubahan itu ia melihat terbuka celah-celah bagi sebuah kemungkinan buruk, di mana manusia-manusia yang menjelma menjadi makhluk bayangan nirwujud dan adimanusia-adimanusia yang bakal menduduki puncak-puncak kekuasaan duniawi akan rawan terperosok ke jurang nista pemberhalaan diri sebagai fir’aun-fir’aun.

Di tengah perenungan menilai kembali liku-liku perubahan itu, tiba-tiba muncul Angga, wali nagari Kuningan, di gubuk Abdul Jalil. Kemenakan Sri Mangana itu dengan bingung mengungkapkan kerumitan hidupnya yang nyaris tak bisa diatasinya. Dia mengaku seperti orang yang dibelit ular raksasa gaib. Dia merasa seolah-olah terkungkung oleh kekuatan dahsyat tak kasatmata sehingga untuk bernapas pun sulit. “Semua seperti buntu. Ke mana pun aku hendak melangkah, yang aku temukan adalah bentangan tembok besar. Bahkan yang aku rasakan sekarang, aku seperti berada di dalam kuburan. Tubuhku seperti dihimpit bumi. Aku benar-benar tersiksa, o Saudaraku. Tolonglah aku. Aku tidak mau mati dalam keadaan tidak tahu arah seperti ini,” keluh Angga sambil memegangi kepalanya.

“Apa yang bisa aku lakukan untuk membantumu, o Saudaraku terkasih?” tanya Abdul Jalil.

“Aku ingin engkau membaiat aku. Bimbinglah aku ke jalanmu. Aku sangat yakin engkaulah yang bisa menolongku dari kesempitan yang kualami ini,” kata Angga sambil memegangi tangan Abdul Jalil.

“Apa yang engkau alami ini, menurut hematku, karena engkau telah banyak melupakan-Nya. Karena itu, kembalilah kepada-Nya. Ingatlah Dia sebanyak mungkin, niscaya engkau akan lepas dari penderitaanmu.”

“Aku sudah mengingat-Nya terus dengan bersembahyang. Malahan aku terus memanjatkan doa kepada-Nya. Tetapi, semua bagaikan buntu. Allah yang kusembah tidak menjawab doa-doaku. Padahal, menurut kakek, nenek, ibunda, ayahanda, dan guru agamaku, Allah itu Maha Pemurah. Maha Pengasih. Maha Mengabulkan doa. Kenyataannya, apa yang aku inginkan tidak ada yang terpenuhi sehingga aku jadi ragu dengan semua pelajaran agama yang telah kuperoleh sejak kecil,” kata Angga.

“Jika demikian, kenapa engkau mau minta bimbinganku? Bukankah yang akan aku sampaikan kepadamu tidak akan jauh berbeda dengan apa yang telah disampaikan keluarga dan gurumu?” Abdul Jalil balik bertanya.

“Tidak. Aku yakin yang akan engkau ajarkan tidak sama dengan mereka. Di tengah kesempitan yang menyesakkan ini aku justru melihat bayanganmu berkelebat memasuki ingatanku seperti cahaya matahari menerangi malam yang gelap gulita. Aku yakin isyarat yang aku terima itu benar, meski selama ini yang kuingat tentangmu adalah kecemburuan dan kebencian. Aku yakin hanya engkaulah yang bisa menunjukkan jalan Kebenaran sehingga aku terlepas dari himpitan kehidupan yang menyiksa ini,” kata Angga tiba-tiba merangkul lutut Abdul Jalil.

“Tegaklah dengan gagah menghadapi tantangan hidup, O Saudaraku,” kata Abdul Jalil menegakkan badan Angga. “Aku tidak keberatan membimbingmu ke jalan Kebenaran, asalkan engkau mau menerima syarat utamanya.”

“Apakah syarat itu, o Saudaraku?” tanya Angga ingin tahu.

“Pertama-tama, engkau harus keluar dari dirimu. Maksudku, engkau harus bersedia meninggalkan segala sesuatu yang engkau miliki di dunia ini, terutama keakuanmu yang kerdil. Sebab, keakuanmu yang kerdil itulah yang selama ini telah membuatmu keliru dalam memahami keberadaan-Nya.”

“Apa pun yang engkau tunjukkan akan aku jalankan, apa pun tantangannya.”

Sebagaimana prinsip Abdul Jalil bahwa masalah baiat adalah masalah kesadaran pribadi akibat tergugahnya hati nurani, ia pun membaiat Angga dan mengajarkan jalan lurus (sabil huda) sesuai ajaran Tarekat Akmaliyyah. Abdul Jalil berharap, dengan setia menekuni jalan yang diajarkannya, sang burung gagak akan menjelma sebagai rajawali, rajadiraja burung, pecinta angkasa kesunyian yang perkasa. Tetapi, keterbukaan Abdul Jalil dalam menerima Angga sebagai pengikut ruhani ternyata dianggap sebagai sesuatu yang kurang tepat sehingga menimbulkan ketidaksukaan pengikutnya yang lain. Beberapa murid terang-terangan menyatakan ketidakpahaman mereka terhadap kehadiran Angga di Lemah Abang, terutama dengan baiatnya sebagai pengamal Tarekat Akmaliyyah. Bahkan Liu Sung, pemuka suku Tungsiang Caruban yang selama perang dengan Rajagaluh ditugaskan menjaga Kuta Caruban, tiba-tiba datang ke Lemah Abang dan menyatakan keheranannya atas kesudian Abdul Jalil menerima Angga sebagai pengikut. “Kami khawatir dia akan melakukan tindakan-tindakan tidak terpuji dengan membawa-bawa nama Tuan Syaikh. Itu akan merugikan semua orang, terutama Tuan Syaikh sendiri. Bukankah selama ini dia sudah sering mempermalukan Sri Mangana dengan tingkahnya yang tidak terpuji?” kata Liu Sung.

“Sesungguhnya, Angga hanyalah manusia sengsara yang menjadi korban dari lingkungan yang membentuknya. Sejak kecil dia hanya menjadi alat orang-orang sekitarnya untuk melampiaskan dendam sehingga dia kebingungan saat menerima akibat dari tindakan-tindakan yang tidak disadarinya,” Abdul Jalil menjelaskan.

“Apakah itu bukan akibat dia selalu dimanja oleh keluarganya?” tanya Liu Sung.

“Paduka Khalifah telah bercerita banyak kepadaku tentang Angga,” kata Abdul Jalil dengan suara perlahan. “Betapa sejak kecil Angga dan saudara-saudaranya sudah dicekoki oleh dendam dan kebencian terhadap kakeknya, Prabu Guru Dewata Prana, dan terutama kepada para pendeta kerajaan. Itu sebabnya, dalam setiap perbedaan sekecil apa pun dengan pihak kerajaan Sunda selalu ditanggapinya secara berlebihan, seolah-olah maharaja Sunda dan semua kekuatan pendukungnya adalah musuh utama yang harus dibinasakan.”

“Kenapa bisa begitu, Tuan Syaikh? Bukankah Prabu Guru Dewata Prana itu kakeknya? Kenapa pula dia sangat membenci pendeta-pendeta kerajaan?”

“Ini sebenarnya rahasia keluarga. Tetapi, kalau kita mengetahuinya maka kita akan paham kenapa Angga dan saudara-saudaranya begitu membenci kakek dan kerabatnya, terutama pendeta-pendeta kerajaan.”

“Bolehkah saya sedikit mengetahuinya?” tanya Liu Sung penasaran.

“Cerita kebencian keluarga Angga itu bermula dari kisah lama tentang nenek Angga yang bernama Jata Mernam, yaitu selir Prabu Guru Dewata Prana, yang oleh orang-orang Caruban dipanggil dengan nama Aci Putih. Sebutan Aci Putih itu sesungguhnya bukan tanpa alasan. Beberapa waktu sebelum kelahiran puterinya yang kelak diberi nama Dewi Siliwangi, Prabu Guru Dewata Prana bermimpi buruk bahwa dari dalam kratonnya tiba-tiba muncul mata air yang berbual-bual, yang makin lama airnya makin menggenangi seluruh kraton. Bahkan akhirnya air itu berubah menjadi bah yang melanda seluruh wilayah kerajaan. Maharaja dan keluarga beserta seluruh kawula hanyut tersapu bah. Mimpi buruk itu oleh para pendeta yang menjadi penasihat ruhaninya ditafsirkan sebagai suatu tengara buruk bagi kerajaan Sunda akibat tersiarnya agama baru. Mereka menganggap bah itu adalah agama baru, yaitu Islam. Dan, mata air itu adalah keluarga maharaja sendiri, yaitu selir bernama Jata Mernam, satu-satunya keluarga maharaja yang beragama Islam.”

Para pendeta menyatakan jika hal itu dibiarkan maka keturunan Jata Mernam akan menimbulkan kerusakan dan kebinasaan bagi kerajaan Sunda. Sebab, yang akan menentang agama baru itu bukan hanya para nayakapraja kerajaan, tetapi juga para bhuta yang tidak suka dengan agama baru tersebut. Lantaran itu, agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan, harus diadakan upacara kurban persembahan kepada para bhuta (bhutayajna). Dan sebagai korban persembahan (aci) untuk para bhuta, yang paling tepat adalah selir Prabu Guru Dewata Prana: Puteri Jata Mernam. Dengan demikian, tidak saja para bhuta akan bisa diredam kemarahannya, tetapi mata air itu dengan sendirinya tidak akan lagi mengalirkan sumbernya.

Dengan alasan demi keselamatan kerajaan dan seluruh kawula, Prabu Guru Dewata Prana akhirnya merelakan selirnya, Puteri Jata Mernam, dijadikan aci. Tetapi, dengan alasan Puteri Jata Mernam masih hamil maka pelaksanaan korban itu menunggu hingga ia dilahirkan. Demikianlah, setelah melahirkan seorang bayi perempuan yang dinamai Dewi Siliwangi, Puteri Jata Mernam dijadikan korban untuk para bhuta. Bayi Dewi Siliwangi dijauhkan dari kraton dengan cara dikembalikan kepada kakek dan neneknya, Haji Ma Huang dan Nyi Rara Rudra yang tinggal di Caruban.

Peristiwa mengorbankan Puteri Jata Mernam ini sangat memukul jiwa keluarga Haji Ma Huang dan Nyi Rara Rudra, bahkan penduduk Caruban yang beragama Islam. Lantaran itu, untuk menandai peristiwa tersebut penduduk Caruban sepakat menyebut Puteri Jata Mernam dengan nama Nyi Aci Putih, yang bermakna puteri suci yang menjadi korban persembahan bhutakala. Prabu Guru Dewata Prana sendiri oleh penduduk Caruban disebut dengan gelar Prabu Siliwangi, yaitu sebutan menurut nama puterinya yang lahir dari Puteri Jata Mernam. Hal itu dimaksudkan agar sang prabu selalu teringat kepada keberadaan puterinya, Siliwangi, sekaligus selalu mengingat peristiwa keji itu.

Dewi Siliwangi, ibunda Angga, dibesarkan oleh lingkungan orang-orang yang kecewa dan sakit hari dengan peristiwa itu. Lantaran itu, saat dewasa ia diam-diam menaruh dendam kepada ayahandanya yang sampai hati menjadikan ibundanya sebagai korban persembahan. Ketika ia menikah dan berketurunan, semua puteranya sejak kecil sudah diwarisi bibit kebencian kepada kakeknya, Prabu Guru Dewata Prana, yang dianggapnya sebagai pembunuh ibundanya. “Nah, dari cerita rahasia keluarga ini kita akan memahami kenapa Angga dan saudara-saudaranya begitu membenci kakeknya dan para pendeta kerajaan,” kata Abdul Jalil.

Liu Sung menarik napas berat. Sejenak setelah itu ia menggumam lirih, “Pantas saja Sri Mangana selama ini membiarkan Angga dan saudara-saudaranya bersikap memusuhi sanak kerabatnya sendiri sehingga terkesan ia memanjakan mereka. Rupanya, Sri Mangana bisa memahami hal itu dan memanfaatkannya untuk kepentingan mempertahankan kekuasaannya.”

“Sri Mangana memanfaatkannya untuk kepentingan kekuasaan?” Apa maksudmu?” tanya Abdul Jalil.

“Kami kira, penempatan ayahanda Angga sebagai gedeng di Kemuning dan pengangkatan Angga sebagai penguasa di Kuningan bukan tanpa maksud apa-apa. Tetapi, bukanlah hal itu bisa ditafsirkan bahwa dengan kebijakan itu Sri Mangana dengan cerdik dapat menjaga perbatasan Caruban dengan Galuh Pakuan, Talaga, dan Rajagaluh?”

“Kalau itu, benar sekali. Bahkan karena alasan itu, perbatasan Caruban di selatan ditetapkan di Cigugur, yang mengandung makna suara gemuruh guruh (Sunda: gugur: guruh, gugur), lambang Rudra (Yang Berteriak), perwujudan Syiwa yang dahsyat dan akan menggugurkan semua kekuatan semua makhluk yang akan melintasinya. Sri Mangana seolah memberi peringatan kepada ayahanda dan para saudaranya agar mereka tidak melewati Cigugur. Sebab, Cigugur tidak saja mengandung perlambang nama Rudra, tetapi juga menyembunyikan lambang penderitaan dan rasa sakit hati ibunda Puteri Jata Mernam, Nyi Rara Rudra,” kata Abdul Jalil.

“Seperti itukah makna rahasia di balik nama Cigugur?” gumam Liu Sung terkagum-kagum. “Makanya, selama ini pasukan Galuh dan Talaga seperti tabu melintasi Cigugur. Bahkan kami dengar cerita, Angga dan pengawalnya yang lari ke Kuningan tidak diburu lagi oleh musuhnya ketika memasuki Cigugur. Sungguh mengagumkan kecerdikan Sri Mangana dalam menggunakan perlambang untuk menggetarkan nyali musuh-musuhnya.”

“Tahukah engkau tentang hikmah di balik peristiwa itu?”

“Tentu saja Tuan Syaikh yang lebih tahu.”

“Pertama-tama, tafsiran para pendeta atas mimpi Prabu Guru Dewata Prana itu benar, namun sedikit meleset. Sebab, mata air yang berbual-bual di dalam kraton yang bakal menjadi bah itu bukanlah Puteri Jata Mernam, melainkan putera Prabu Guru Dewata Prana yang lain, yaitu Pangeran Walangsungsang. Para pendeta keliru dalam menafsirkan mata air dengan perempuan dan pancuran dengan laki-laki sehingga Pangeran Walangsungsang luput dari bidikan tafsir mimpi mereka. Sekarang mimpi itu mewujud menjadi kenyataan. Mata air yang berbual-bual dari dalam kraton itu kini telah menjadi bah. Rajagaluh sudah diempaskan. Dermayu tergulung. Bahkan aku mengira, pada gilirannya nanti seluruh Bumi Pasundan, termasuk kraton Pakuan Pajajaran, akan tenggelam dilanda bah Islam yang disebarkan Pangeran Walangsungsang,” kata Abdul Jalil.

“Apakah itu berarti bahwa usaha apa pun yang dilakukan oleh manusia pada dasarnya tidak dapat menolak takdir Ilahi, begitukah Tuan Syaikh?” tanya Liu Sung.

“Itulah makna hakiki dari peristiwa itu,” tegas Abdul Jalil. “Pada dasarnya manusia tidak memiliki kehendak apa pun kecuali apa yang dikehendaki Allah (QS. at-Takwir: 29). Lantaran itu, sekeras apa pun perjuangan orang seorang dalam berusaha, menurut para arif billah, tidak akan menembus tirai takdir (sawabiq al-himami la takhriqu aswar al-aqdar).”

“Jika demikian, sungguh kasihan Angga dan keluarganya yang masih belum dibebaskan-Nya dari terkaman dendam yang merusak jiwa,” kata Liu Sung.

“Lantaran itu, aku menerima kehadirannya dengan rasa syukur dan kemudian memenuhi keinginannya untuk dibaiat. Aku yakin, kehadirannya ke sini bukanlah atas kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak-Nya jua. Aku yakin Allah akan mengakhiri semua dendam yang menguasai jiwanya dengan lantaran amaliah yang kuajarkan. Mudah-mudahan semua kotoran jiwa Angga akan bisa disucikan sehingga dia secepatnya sadar jika dendam kesumat itu hanya membuat rusaknya jiwa,” kata Abdul Jalil.

“Kami juga berharap demikian, Tuan Syaikh.”

Hari-hari selama di Lemah Abang, meski diliputi suasana tenang dan tenteram dengan gelak tawa dan canda ria orang-orang yang patuh dan selalu setia melayaninya, ternyata tidak mampu meredam gejolak jiwa Abdul Jalil yang laksana samudera diaduk badai. Di tengah panah waktu yang melesat, ia merasakan jiwanya seperti kapal yang terombang-ambing dipermainkan gelombang lautan ganas. Bahkan, jauh di kedalaman palung jiwanya ia merasakan tarikan dan sentakan yang menggerus pantai kesadarannya, seolah-olah terkaman kekuatan gaib yang akan melemparkannya dari gubuknya. Ia seolah-olah diseret oleh suatu kekuatan adiduniawi untuk pergi meninggalkan gubuknya tanpa alasan yang jelas. Apa yang dirasakannya sebagai sesuatu yang aneh ditangkapnya sebagai tengara bakal terjadi sesuatu yang akan membuatnya meninggalkan gubuknya, meski ia tidak tahu kapan hal itu akan terjadi.

Ketika ia mengaitkan antara gelegak jiwanya dan liku-liku perjalanan hidupnya di tengah arus perubahan yang telah dilaluinya, ia mendadak terkejut sendiri. Sebab, di hadapannya terpampang dengan jelas sebuah kenyataan yang mengejutkan dan membuatnya makin sadar diri akan kekurangannya. Ia menyaksikan kenyataan betapa tugas yang dijalankannya sebagai penyulut api perubahan belumlah tuntas. Pekerjaan besar untuk menata nilai-nilai kehidupan sebuah bangsa yang ambruk masih belum selesai. Kenyataan itu membuatnya sadar, sekalipun setiap usai memimpin sembahyang isya ia selalu mengajarkan kepada murid-muridnya tentang jalan lurus (sabil huda) bagi manusia di dalam menuju Kebenaran, yaitu jalan lurus yang membebaskan manusia dari rasa takut atas segala sesuatu selain Yang Mahabenar, yang membebaskan manusia dari keputusasaan, yang membebaskan manusia dari perangkap penderitaan dan kesengsaraan, yang membebaskan manusia dari kejahilan, yang membebaskan manusia dari khayalan sesat tentang Kematian maupun Kehidupan, yang menuntun manusia pada Kebenaran hakiki; pada kenyataannya ia tetap merasakan betapa semua itu masih belum cukup. Ya, ia merasa masih belum cukup memberi kepada manusia. Ia merasa selama ini masih belum cukup menyampaikan Kebenaran hakiki kepada manusia. Ia merasa betapa masih cukup banyak tugas yang diembannya dalam membentangkan cakrawala baru itu yang belum terselesaikan dan bahkan terbengkalai.

Sadar bahwa tugas belum selesai dan sesuatu yang tak menyenangkan bakal terjadi, Abdul Jalil buru-buru mengumpulkan mereka yang selama ini telah menunaikan tugas untuk mencatat dan menyusun cerita-cerita, dongeng-dongeng, adab, dan ajaran hidup yang berdasar Tauhid. Karya mereka itulah yang bakal digunakan untuk memperkuat nilai-nilai baru yang telah ditebarnya, yaitu nilai-nilai baru berdasar penghormatan dan keseimbangan yang bakal menggantikan nilai-nilai lama yang sudah tidak sesuai tuntutan perubahan. Di antara mereka itu adalah Raden Sahid, Raden Sulaiman, Ki Gedeng Pasambangan, Syaikh Abdul Malik Israil, Syaikh Bentong, Ki Sarajaya, dan Ki Luwung Seta. Ia merasa senang saat mengetahui mereka ternyata telah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, meski belum sempurna.

Raden Sulaiman yang mendampingi Syaikh Bayanullah di Gunung Gundul telah mencatat cerita-cerita dan dongeng keislaman, Persia, dan Melayu. Raden Sulaiman menjelaskan, selama tinggal bersama Syaikh Bayanullah ia telah menyusun sejumlah naskah yang berkaitan dengan tarikh dan keteladanan Nabi Muhammad Saw. yang diberinya judul Babad Makah, Kitab Bayanullah, Hikayat Sayyid Abdullah, Nurbuat, Babar Nabi, Hikayat Nabi Muhammad, Carita Paras Nabi, dan Carita Nabi Nikah. Semua naskah masih ditulis dalam bentuk prosa dengan catatan-catatan. Raden Sahid yang selama beberapa waktu mendampingi Raden Qasim untuk mencatat cerita dan dongeng yang dituturkan Syaikh Bayanullah, mengaku pula bahwa ia telah menyusun sejumlah naskah yang berkaitan dengan kisah kepahlawanan dan pelajaran tasawuf. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Kitab Martabat Alam Tujuh, Tapel Adam, Kitab Nur Muhammad, Serat Menak, Suluk Rumeksa Ing Wengi, dan saduran Nawa Ruci.

Ki Gedeng Pasambangan mengaku telah mencatat cerita dan dongeng yang terkait dengan adab keluarga muslim. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Kitab Fatimah, Ilmu Adab, Kitab Piwulang Istri, Smaragama, Carita Panganten Tujuh, Doa dan Mantra Kaluwarga, Doa Istifal, Doa Gua Hira. Syaikh Abdul Malik Israil mengaku telah menyusun cerita dan dongeng serta tuntunan amaliah yang terkait dengan Bani Israil. Ia telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Carita Nabi Yusuf, Sajarah Para Anbiya, Tujuh Asma’ Suryaniyyah, Asma’ Qamar, Asma’ Asha Musa, Doa Nabi Sulaiman, Doa Nabi Daniyyal, dan saduran Kitab Jaljalut. Sementara Syaikh Bentong menyusun naskah yang terkait dengan pranata mangsa dan dongeng Campa. Ia mengaku telah menyelesaikan sejumlah naskah yang diberi judul Primbon Palintangan, Primbon Mujarobat, Doa Dzulfaqor, Mantra Tulak Bala, Kitab Ayat Lima Belas, Kitab Ayat Pitu, dan Pantun Sang Kodok.

Abdul Jalil gembira mengetahui naskah-naskah yang dibutuhkannya sebagai salah satu sandaran perubahan nilai-nilai itu telah tersusun, meski masih dalam bentuk prosa dan sebagian masih belum selesai. Dengan suara berkobar-kobar penuh semangat ia berkata, “Ibarat orang maju ke medan perang, semua naskah itu adalah senjata ampuh yang akan menjadi salah satu penentu kemenangan. Lantaran itu, yang kita butuhkan sekarang adalah para prajurit yang unggul dan pandai dalam menggunakan senjata tersebut.”

“Tapi, bagaimana caranya? Apakah naskah itu ditulis dalam jumlah banyak dan kemudian disebarkan ke berbagai tempat?” tanya Abdul Malik Israil.

“Tentu saja tidak mungkin melakukan cara itu,” kata Abdul Jalil. “Sebab, penduduk di Pasundan dan Majapahit yang bisa baca dan tulis hanya kalangan kraton. Padahal, kita ingin menyebarkan ini ke seluruh penduduk. Menurutku, semua naskah harus disebarkan dari mulut ke mulut hingga dipahami semua orang.”

“Aku belum paham maksudmu, o Saudaraku,” kata Abdul Malik Israil.

“Pertama-tama, kita harus mengubah sebagian naskah itu ke dalam bentuk sastra yang mudah dipahami kalangan bawah. Untuk itu, aku akan minta kepada dua orang kepercayaanku, Ki Sarajaya dan Ki Luwung Seta, untuk menuangkan naskah-naskah itu ke dalam bentuk tembang sederhana seperti smaradhana, sinom, lambang, durma, pangkur, pucung, gambuh, kinanthi, dandang gendis, dan megatruh. Setelah itu, kita akan memperbanyak pamancangah menmen, yaitu tukang dongeng keliling yang bertugas menjajakan cerita dan dongeng dari naskah-naskah tersebut kepada penduduk,” kata Abdul Jalil.

“Aku sangat setuju dengan cara itu. Aku sendiri sudah menyiapkan sejumlah muridku untuk tugas itu,” tukas Syaikh Bentong. “Tapi, bagaimana dengan bekal kehidupan mereka selama menjalankan tugas?”

“Tentu saja dari kita,” kata Abdul Jalil. “Selama ini aku sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membiayai Raden Sahid dan kawan-kawannya yang berkeliling di pedalaman sebagai pamancangah menmen. Jika ada yang bertanya dari mana aku beroleh uang dan perhiasan? Aku katakan, sebagian aku dapat utang dari Li Han Siang dan sampai sekarang belum lunas.”

Syaikh Abdul Malik Israil yang mendengar ucapan Abdul Jalil tiba-tiba tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan menahan geli dia berkata, “Kehendak Allah memang aneh dan sering tak bisa dipahami. Orang-orang yang memiliki iktikad baik untuk berkhidmat kepada masyarakat justru diberi kesempitan dalam kebutuhan duniawi sehingga berutang kesana-kemari. Sementara orang yang berkhidmat kepada diri pribadi justru dilimpahi perbendaharaan duniawi hingga jiwanya terkubur di bawah benda-benda. Aneh sekali. Aneh.”

Selat Taiwan (MV. Taho), 15 April 2007, 21:05LT

03. Tu-lah Sang Naga Shesha

Ketika Abdul Jalil dan Syaikh Bentong baru saja melepas pengikut-pengikutnya yang ditugaskan menjadi pamancangah menmen, tanpa terduga-duga datanglah tiga orang pengikutnya secara hampir bersamaan. Yang pertama, Kyayi Tapak Menjangan, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal. Kedua, Ki Wujil Kunting, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Samarang. Ketiga, Ki Saridin, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Japara. Mereka datang berurutan dengan membawa kabar yang sama: di sejumlah desa baru di Kadipaten Kendal, Wirasari, Pengging, dan Lasem telah terjadi peristiwa aneh dan menggemparkan penduduk. “

Jika waktu candikala (senja) datang, bayi-bayi menangis sepanjang malam hingga pagi. Banyak di antara bayi-bayi itu kemudian jatuh sakit dan mati. Gadis-gadis yang belum baligh (dewasa) secara berbarengan tidak sadarkan diri. Mereka menjerit-jerit dan kejang-kejang. Setelah sadar, mereka menuturkan bahwa tubuhnya telah dimasuki ruh kakek atau neneknya. Sedangkan yang tidak pernah sadar, menjadi hilang ingatan. Gila. Ibu-ibu muda banyak membunuhi bayinya tanpa sebab yang jelas. Anak-anak lelaki pun menunjukkan perilaku aneh. Tanpa sebab jelas mereka mengomel, marah-marah, mengamuk, merusak barang-barang, dan bahkan menyerang orang-orang yang berada di dekatnya. Tidak peduli bapak, ibu, adik, dan kakek, semua diserang. Bahkan, sejumlah laki-laki dewasa tanpa sebab yang jelas pula tiba-tiba menganiaya istri dan anak-anaknya sampai mati. Pendek kata, semua orang ketakutan karena penganiayaan dan pembunuhan yang terjadi di dalam keluarga itu bisa mengenai siapa saja,” kata Kyayi Tapak Menjangan.

Ki Saridin membenarkan penuturan Kyayi Tapak Menjangan dan menambahkan, “Malahan yang sedang marak di Wirasari adalah tawur antar desa. Rumah-rumah dibakar. Lumbung-lumbung dibakar. Pedati, gerobak, wluku, lesung, dan barang apa saja yang ditemui dibakar. Bahkan, sawah-sawah pun dibakar. Penduduk tak bersalah, tak peduli orang tua, perempuan, dan anak-anak diburu-buru, dianiaya, dan dibunuh. Pendek kata, semua orang di sana tidakannya seperti orang kesurupan setan,” kata Ki Saridin.

Abdul Jalil menarik napas berat. Ia merasa perasaan aneh yang dialaminya belakangan ini, yang membuatnya seolah-olah harus pergi meninggalkan gubuknya, ternyata memang isyarat gaib yang diterimanya dalam kaitan dengan peristiwa bersifat adiduniawi sebagaimana dikabarkan ketiga pengikutnya tersebut. Dan ia makin yakin ketika tak lama berbincang-bincang dengan pengikut-pengikut setianya itu, datang pula ke gubuknya dua pengikutnya yang lain, Ki Babat Penjalin, kepala dukuh Lemah Abang di Pamotan, dan Kyayi Menjangan Tumlaka, kepala dukuh Lemah Abang di Giri Kedhaton. Mereka berdua menyampaikan kabar yang sama, yaitu tentang peristiwa aneh yang terjadi pula di Japan, Terung, dan Wirasabha.

Di antara kabar tentang peristiwa aneh dari para pengikutnya itu, yang paling mengejutkannya adalah berita yang disampaikan Kyayi Menjangan Tumlaka tentang amuk yang dilakukan Yang Dipertuan Terung Raden Kusen. Menurut kabar yang didengarnya, penguasa Terung yang dikenal gagah berani dan jago perang itu suatu malam mengamuk seperti orang keranjingan setan. Ia menghunus keris pusakanya dan menikam puterinya sendiri hingga tewas. Para dayang dan prajurit yang menjaga kaputren dibunuh semua. Belum puas dengan apa yang dilakukannya, putera Ario Damar itu membakar Kraton Katerungan dan semua bangunan di sekitarnya sampai rata dengan tanah. Bahkan, dengan amarah yang masih berkobar-kobar Raden Kusen memerintahkan prajuritnya untuk membuat tambak (bendungan) yang menutup aliran Bengawan Terung. Setelah itu, ia dan keluarga pindah ke Bubat. “Menurut kabar yang kami dengar, amuk yang dilakukan oleh Yang Dipertuan Terung itu terjadi akibat kekecewaan mendalam yang dialaminya setelah mengetahui puterinya yang bernama Mas Ayu Tunjung, yang belum menikah dan dijaga ketat di kaputren telah hamil,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka.

Abdul Jalil merasakan dadanya sesak. Ia cepat menangkap kebenaran cerita bahwa peristiwa yang dialami Raden Kusen itu sejatinya tidak memiliki kaitan dengan peristiwa-peristiwa aneh yang baru saja dikabarkan oleh para pengikutnya. Ia sangat yakin tindakan amuk Raden Kusesn adalah tindakan wajar bagi seorang penguasa Majapahit yang masih memegang kuat nilai-nilai lama saat mengalami kekecewaan dan dibakar api amarah. Celakanya, peristiwa itu terjadi bertepatan waktu dengan maraknya kabar tentang peristiwa-peristiwa aneh di berbagai tempat. Lantaran itu, orang cenderung mengaitkannya satu sama lain. Untuk mengingatkan para pengikutnya agar tidak terjebak pada cara berpikir otak-atik mathuk, Abdul Jalil bertanya kepada Kyayi Tapak Menjangan, “Andaikata engkau, o Saudaraku, belum mengikuti ajaranku dan mengalami peristiwa seperti yang dialami oleh Adipati Terung, apakah yang akan engkau lakukan?”

Kyayi Tapak Menjangan, bangsawan asal Pajang yang menjadi kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal, dengan ucapan tegas berkata, “Tentu kami akan melakukan hal serupa dengan apa yang dilakukan Yang Mulia Adipati Terung. Anak gadis kami yang memalukan itu tentu akan kami bunuh. Bahkan, lelaki yang telah menistanya akan kami bunuh bersama seluruh keluarganya.”

“Itu berarti, peristiwa yang dialami Pamanda Adipati Terung itu tidak ada kaitan dengan peristiwa aneh yang marak belakangan ini. Jadi, jangan dikait-kaitkan,” kata Abdul Jalil.

“Kami rasa, apa yang Kangjeng Syaikh ucapkan memang benar adanya,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka. “Kami pun berpikiran seperti itu. Tetapi, peristiwa aneh dan kejadian menyedihkan di Terung itu telah menjadi bahan pembicaraan seru di kalangan penduduk. Orang-orang begitu ramai menggunjing keadaan mengerikan itu. Mereka bilang, semua kekisruhan itu akibat kutukan. Para janggan dan dukun menyatakan bahwa penduduk yang mendapat tanah bagian dari para adipati itu telah mendirikan bangunan-bangunan tanpa mengikuti ketentuan yang berlaku di kalangan perundagian sehingga mereka terkena tu-lah Sang Naga Shesha.”

“Tu-lah Sang Naga Shesha?” gumam Abdul Jalil.

“Ya,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka. “Naga Shesha yang disebut juga dengan nama Naga Basuki atau Naga Karkotaka. Kami kira Kangjeng Syaikh sudah paham soal itu.”

Abdul Jalil menekur sambil memegangi dagunya. Ia menangkap suatu tengara kerumitan yang bakal memerangkap penduduk ke lingkaran jalan buntu, karena terjebak dengan keyakinan-keyakinan purwa yang sudah menebarkan jaring-jaringnya yang mengikat akal budi. Sang Naga Shesha, menurut keyakinan penduduk, adalah raja ular yang sesekali menampakkan wujud sebagai ular berkepala seribu dan kadang-kadang berupa badai merah yang merusak. Dia bersemayam di dalam bumi dan selalu menyemburkan api yang membakar pada senja hari.

Naga Shesha di dalam khazanah cerita Jawa adalah nama naga jelmaan Wisynu, Sang Basuki, yang bermakna penyelamat. Seiring berkembangnya ilmu perundagian (arsitektur), yang menempatkan kepercayaan terhadap Sang Naga Shesha sebagai bagian dari ilmu tata letak tanah, maka penduduk Nusa Jawa meyakini keberadaan ular tersebut dalam kaitan dengan perundagian. Ketika peradaban Majapahit merosot, sistem pengetahuan itu berkembang menjadi sistem yang lebih luas dan mencakup pula pengetahuan tentang hari baik dan hari buruk, yang intisarinya kira-kira seperti ini: “Jika seseorang ingin selamat (basuki), hendaknya jangan berhadapan muka dengan Naga Basuki yang menyemburkan api membakar tiap senjakala.” Bertolak dari keyakinan itu, agar manusia bisa mencapai keselamatan hidup, maka mereka harus mengetahui keberadaan Sang Naga Shesha, terutama arahnya menghadap.

Kepercayaan terhadap Naga Shesha pada masa kejayaan Majapahit memang berbeda dengan yang berkembang kemudian. Jika kaum cerdik cendikia pada masa kejayaan Majapahit, terutama para undagi, mengetahui tentang sistem pengetahuan tersebut dengan mengikuti petunjuk-petunjuk yang disampaikan oleh para guru suci berdasar rontal Hasta Bhumi dan Wiswakarma, maka di tengah kemerosotan Majapahit, ilmu perundagian ikut merosot, membaur dengan kepercayaan takhayul Campa sehingga menjadi sistem pengetahuan yang dikenal dengan sebutan petungan nagadina, yaitu sistem pengetahuan yang jauh lebih luas dan lebih njlimet dibanding ilmu perundagian. Bahkan, yang menyedihkan, bagian terbesar dari sistem petungan nagadina itu hanya didasari pada kerangka berpikir otak-atik mathuk.

Kabar peristiwa-peristiwa aneh yang disampaikan para kepala dukuh Lemah Abang itu ternyata tidak berhenti pada pengaitan tu-lah Sang Naga Shesha, tetapi lebih berbahaya adalah tersebarnya kasak-kusuk yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan hukuman para dewa, karena orang-orang telah meninggalkan ajaran leluhur untuk mengikuti ajaran baru dari negeri asing. Yang tak kalah berbahaya, kasak-kusuk itu mengaitkan peristiwa aneh tersebut dengan pembukaan dukuh-dukuh Lemah Abang yang tidak sesuai dengan tatanan umum yang berlaku. Dukuh-dukuh Lemah Abang yang dibuka, yang katanya diperuntukkan bagi para wiku, ternyata dijadikan hunian penduduk dari berbagai kalangan. “Hal itulah yang menurut desas-desus telah menimbulkan tu-lah Sang Naga Shesha dan sekaligus amarah para dewa. Lantaran itu, kata mereka, selama menunggu giliran Dukuh Lemah Abang tertimpa bencana, desa-desa di sekitarnya dulu yang menanggung akibat buruk itu,” kata Kyayi Menjangan Tumlaka.

Abdul Jalil menunduk memegangi keningnya. Di benaknya tiba-tiba berkelebat gambaran menyedihkan tentang dukuh-dukuh Lemah Abang yang dikucilkan orang. Tidak cukup di situ, berkelebatan pula gambaran tentang dukuh-dukuh Lemah Abang ramai-ramai diserang penduduk dan dibakar. Di tengah gambaran kobaran api itu berkelebat pula wajah para janggan dan dukun yang menghasut penduduk untuk membenci dan memusuhi warga Dukuh Lemah Abang. Tetapi, kelebatan-kelebatan bayangan itu tidak lama memasuki benaknya. Ia menarik napas dalam-dalam dengan mata terpejam. Ia memasrahkan semua urusan kepada Allah. “Ya Allah, semua kejadian baik dan kejadian buruk mutlak berasal dari kehendak-Mu. Karena itu, kami pasrahkan semua kepada-Mu,” katanya dalam hati.

Setelah berdiam beberapa jenak, ia berkata dengan suara tegar, “Sekarang kembalilah kalian semua ke dukuh masing-masing. Pasrahkan semua kepada Allah. Tetap teguhlah kalian pada prinsip Ngalah. Yakinlah bahwa para janggan, dukun, dan pedagang jimat yang menunggu musibah besar atas Lemah Abang itu akan kecewa karena fitnah yang mereka sebarkan tidak pernah terbukti.”

Sadar peristiwa aneh yang tak terduga itu bakal menjadi petaka besar bagi perubahan yang sedang dirintisnya, Abdul Jalil buru-buru pergi ke Caruban untuk menemui Sri Mangana dan ibunda asuhnya. Ia ingin meminta petunjuk mereka tentang apa yang harus dilakukannya tentang peristiwa-peristiwa aneh yang dialami penduduk Wirasari, Lasem, Pengging, Japan, Terung, dan Wirasabha. Secara kebetulan, saat Abdul Jalil datang, Sri Mangana dan permaisuri sedang memperbincangkan masalah tersebut dengan Raden Sepat, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Ki Tedeng, dan Ki Sukawiyana. Raden Sepat adalah undagi (arsitek) termasyhur dari Majapahit yang dikirim Adipati Terung untuk membantu perluasan Tajug Agung Caruban. Dari Raden Sepatlah kabar tentang peristiwa aneh di Japan, Terung, dan Wirasabha itu sampai ke Caruban.

“Jadi peristiwa serupa juga terjadi di Wirasari, Pengging, dan Lasem?” kata Sri Mangana menoleh ke arah permaisurinya dan kemudian berkata kepada Abdul Jalil, “Kami semua sebenarnya sedang membicarakan masalah itu dan berkeinginan memanggilmu. Ternyata engkau sudah datang sendiri. Jadi, biarlah ibundamu yang akan menjelaskannya karena dia tahu banyak tentang masalah itu.”

“Sesungguhnya, apa yang terjadi dengan peristiwa aneh itu, o Ibunda Ratu?”

“Kalau melihat gelagatnya dan penjelasan dari Yang Mulia Raden Sepat, penduduk yang tinggal di pemukiman baru itu terkena tu-lah Sang Naga Shesha, Sang Kalaraja, dan Sang Kala Greha. Sebab, mereka telah melanggar tempat-tempat terlarang,” kata Nyi Indang Geulis.

“Melanggar tempat-tempat terlarang?” gumam Abdul Jalil. “Apakah yang ibunda maksud peristiwa itu berkaitan dengan tempat-tempat khusus seperti Bale Panca Rsi, Bale Panangkilan, Bale Cakrawarti, dan Bale Kapeningan di suatu tempat?”

“Tepat seperti itu. Orang-orang Islam baru (mu’alaf) yang tidak paham tentang Wiswakarmatmaja Tattwa dengan semau-maunya membuka pemukiman baru, bahkan membangun rumah di atas lambang (bangunan lain) secara sembarangan tanpa melakukan upacara prascita (penyucian). Akhirnya, mereka menjadi watang akreb dan berada dalam keadaan yang berbahaya. Kalau sudah begitu, yang disalah-salahkan adalah agama Islam dan terutama ajaranmu yang membuat orang-orang menjadi liar dan tidak tahu aturan,” kata Nyi Indang Geulis.

“Ananda siap menerima curahan segala kesalahan, o Ibunda,” kata Abdul Jalil tenang. “Tetapi, apa yang ananda lakukan, menurut hemat ananda, tidak mungkin menimbulkan keanehan-keanehan seperti itu. Sebab, sebelum ananda membuka dukuh-dukuh Lemah Abang, ananda sudah bertemu dengan para penghuni purwa Nusa Jawa, yaitu para bhuta dan kala dari antara Banu al-Jann. Kami sudah mengadakan kesepakatan dengan mereka. Dan sepengetahuan ananda, mereka tidak mungkin cedera janji seperti manusia. Sementara soal tata cara penyucian tanah, ananda sudah mengikuti semua petunjuk Ibunda Ratu. Jadi, ananda berpikir, pasti ada sebab-sebab lain yang menimbulkan keadaan aneh tersebut.”

“Apakah engkau benar-benar melakukan penyucian tanah dengan upacara pracista seperti yang aku ajarkan?” tanya Nyi Indang Geulis.

“Ananda sudah melakukan semua petunjuk Ibunda Ratu. Karena itu, dukuh-dukuh Lemah Abang yang diniatkan sebagai Jajar Lemah (tanah yang boleh ditempati semua kalangan) tetap terhindar selamat dari peristiwa aneh tersebut. Bahkan, sesuai keinginan Ibunda untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Prthiwi, ananda telah pula melakukan penyucian tanah yang disebut bhumisoddhana dan bhuta-suddhi, dan tentu saja ditambah usaha batin ananda agar apa yang Ibunda Ratu inginkan itu dapat ananda penuhi.”

“Mohon maaf, Tuan Syaikh,” Raden Sepat menyela. “Apakah dalam penyucian tanah itu, Tuan menggunakan sarana jimat yang dirajah aksara AH dan ANG yang dipadukan menjadi satu? Sebab, sesuai petunjuk Wismatattwa, semua bangunan yang berdasarkan widhi widana harus memakai sarana jimat lambang perempuan dan laki-laki yang disatukan dan ditanam di bawah hulu bangunan.”

Abdul Jalil tersentak kaget mendengar pertanyaan Raden Sepat. Cakrawala jiwanya yang semula tertutup kabut tiba-tiba bersinar cemerlang bagai ditimpa matahari. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Kami sudah melakukan itu semua, Yang Mulia. Tapi, kami jadi sadar bahwa justru di situlah letak masalah yang sesungguhnya hingga timbul berbagai masalah aneh sekarang ini.”

“Apakah Tuan Syaikh menggunakan sarana jimat atau batu merah, emas, perak, atau tembaga?”

“Ketika kami menutup Kabhumian di Caruban, yang kami tanam sebagai lambang aksaran AH dan ANG adalah lingga dari puncak Gunung Pulasari dan yoni yang dipuja di Kabhumian. Bahkan, karena perlambang aksara AH dan ANG itulah kami kemudian menamai dukuh-dukuh baru yang kami buka itu dengan Lemah Abang, yang bermakna persatuan lambang laki-laki dan perempuan. Lemah Abang adalah perlambang AH dan ANG, manusia perempuan dan laki-laki, keturunan Adam a.s. dan Hawa a.s.. Lemah Abang adalah perlambang Prthiwi (tanah) yang membentuk tubuh dan jiwa (nafs) manusia, sekaligus perlambang Wisynu (Sang Pemelihara, Rabb) yang memancarkan Ruh Kebenaran (Ruh al-Haqq) dari Paramasyiwa (Rabb ar-Arbab),” papar Abdul Jalil.

“Kami paham itu, Tuan Syaikh. Tetapi, maksud kami, sarana jimat apakah yang Tuan gunakan untuk ditanam di bawah hulu bangunan? Sebab, hal itu sangat menentukan dalam suatu upacara penyucian tanah,” tanya Raden Sepat.

“Kami tidak mengikuti aturan yang lazim, Yang Mulia,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Sebab, yang kami sucikan bukan sepetak atau dua petak tanah, melainkan tanah se-Nusa Jawa. Tanah Majapahit dan Pasundan. Bahkan di balik itu, kami ingin menutup ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Sang Bhumi yang meminta korban manusia dengan cara membuat tawar daya shakti dari tempat-tempat tersebut. Kami sudah mengikat suatu perjanjian dengan Ibunda Prthiwi, Sang Bhumi. Itu sebabnya, kami tidak menggunakan sarana jimat yang lazim.”

“Jika boleh tahu, sarana apakah itu?” tanya Raden Sepat makin penasaran.

“Darah dan keakuan kami.”

“Maksudnya?”

“Pertama-tama, di setiap Dukuh Lemah Abang yang kami buka, kami harus menumpahkan darah sebagai ganti bagi korban-korban yang selama ini dijadikan persembahan di situ. Karena itu, sesuai jumlah dukuh Lemah Abang yang kami buka, seperti itulah jumlah luka bekas sayatan yang ada pada tubuh kami,” kata Abdul Jalil sambil menyingsingkan lengan jubahnya dan menunjukkan bekas luka sayatan yang menghiasi lengannya bagai ukiran.

Semua mata memandang lengan Abdul Jalil sambil menggelengkan kepala. Nyi Indang Geulis sendiri merasakan jantungnya berhenti dan keteguhan hatinya runtuh. Meski ia berusaha menahan rasa iba yang menguasai jiwanya, tak urung ia menitikkan air mata. Dengan suara tersendat bercampur isak pedih ia bertanya lirih, “Kenapa engkau tidak pernah bercerita kepada kami tentang perjanjianmu dengan Ibunda Prthiwi?”

“Ananda kira itu tidak perlu, Ibunda Ratu,” kata Abdul Jalil menutup kembali lengan jubahnya. “Ananda paham, apa yang dilakukan Ibunda Bhumi itu hanyalah suatu ujian. Ujian untuk menguji putera-puteranya, manusia-manusia yang rela berkorban sebagaimana pengorbanan Ibunda Bhumi yang merelakan tubuhnya diinjak-injak dan dilukai oleh putera-puteranya. Dan ananda, selaku putera Ibunda Bhumi, ingin membuktikan bahwa di antara putera-putera Sang Bhumi itu ada yang rela berkorban tanpa meminta imbalan apa-apa. Itu berarti, ananda ingin menunjukkan pada Ibunda Bhumi bahwa ada puteranya yang melebihinya dalam berkorban. Sebab, dengan cara melebihi keikhlasan Ibunda Bhumi saja kekuatan ‘haus darah’ dari Sang Prthiwi itu dapat ditawarkan.”

“Apakah cukup dengan menumpahkan darahmu di dukuh-dukuh Lemah Abang?”

“Tentu saja tidak, o Ibunda Ratu. Sebab, yang lebih mendasar dari perjanjian kami dengan Ibunda Bhumi adalah jati diri kami yang dijadikan jimat di bawah hulu bangunan. Maksud ananda, sebagaimana jimat yang ditanam di bawah hulu bangunan, demikianlah jati diri kami wajib diinjak-injak dan direndahkan oleh setiap manusia yang menghuni permukaan bumi. Itu berarti, setiap manusia harus merendahkan dan menista ananda sebagaimana mereka memperlakukan bumi,” kata Abdul Jalil tegas.

“Kenapa engkau mau mengikat perjanjian seperti itu?” tanya Nyi Indang Geulis dengan air mata bercucuran. “Sungguh aku tak pernah mengira jika permintaanku itu akan berakibat menyengsarakanmu, o Puteraku.”

“Sesungguhnya, ananda sudah menawarkan nyawa ananda kepada Ibunda Bhumi sebagai tebusan bagi upacara korban persembahan manusia. Tetapi, Ibunda Bhumi tidak berkenan. Penebusan seperti itu, menurut Ibunda Bhumi, bisa dilakukan oleh banyak orang. Ibunda Bhumi ingin yang lebih dari itu, yaitu ingin melihat pengorbanan orang-orang yang ikhlas keakuannya diinjak-injak dan dinista sepanjang zaman. Bahkan, dalam perjanjian itu telah ditetapkan pula bahwa jika suatu saat keberadaan ananda diangkat melebihi letak kedudukan tanah, maka saat itulah Ibunda Bhumi akan meminum kembali darah dari manusia-manusia melalui caranya sendiri.”

“Apakah peristiwa-peristiwa aneh itu engkau anggap terkait dengan perjanjianmu?”
“Ananda kira demikian, o Ibunda Ratu,” kata Abdul Jalil. “Sebab, di berbagai tempat ananda mendengar bahwa nama ananda dipuja-puja sebagai dewa penolong dan dipuji setinggi langit oleh kalangan kawula. Dengan demikian, melalui peristiwa aneh itu Sang Bhumi telah mengingatkan kembali kepada ananda akan perjanjian itu dengan caranya. Itu berarti, sekaranglah saatnya orang-orang harus memulai penistaan terhadap ananda. Dan bagi ananda, apa yang dikehendaki Ibunda Bhumi itu sebagai suatu yang wajar dan tidak berlebihan. Sebab, dari Ibunda Bhumilah jasad ananda ini terbentuk. Dari Ibunda Bhumi juga makanan yang memelihara keutuhan jasad ananda ini berasal. Karena itu, jika Ibunda Bhumi menghendaki darah ananda maka ananda akan selalu siap menyediakannya demi kepuasannya. Ananda akan menunjukkan kepada Ibunda Bhumi bahwa tidak semua putera Bhumi adalah makhluk perusak dan penghancur ibunya. Ananda ingin menunjukkan bahwa tidak semua putera-putera Bhumi adalah manusia tak tahu budi. Ananda akan menunjukkan bahwa ananda adalah putera Ibunda Bhumi yang tahu berterima kasih karena ananda telah memakan sesuatu dari Ibunda Bhumi secara haqq dan tidak berlebihan. Ananda ingin menunjukkan bahwa ananda adalah putera Bhumi yang lebih ikhlas dan lebih tanpa pamrih dalam berkorban dibanding Sang Bhumi sendiri.”

Tanpa kembali ke gubuknya di Lemah Abang, Abdul Jalil meninggalkan Caruban dengan disertai Abdul Malik Israil, Ki Waruanggang, Ki Tameng, Raden Sulaiman, Raden Sahid, dan Liu Sung. Ketika bertemu dengan Adipati Bojong Pangeran Danareja, Abdul Jalil diberi tahu di Kadipaten Bojong secara berangsur-angsur sudah diberlakukan tatanan yang sama dengan yang berlaku di Caruban. Jabatan Buyut sebagai kepala wisaya telah diganti dengan jabatan Ki Gede. Jabatan Rama sebagai kepala desa telah diganti, namun bukan Ki Kuwu, melainkan Ki Lurah. “Perubahan itu terutama kami berlakukan di wilayah pesisir. Nanti jika tepat waktunya, daerah pedalaman pun akan menyusul,” kata Pangeran Danareja.

“Wisaya mana sajakah yang sudah diubah?” tanya Abdul Jalil.

“Wilayah pesisir, terutama yang dipimpin oleh pengikut-pengikut Kangjeng Syaikh, yaitu Wanasari, Talang, Pangkah, Suradadi, dan Patarukan.”

Setelah berbincang-bincang lama tentang makna Tauhid di balik perubahan jabatan-jabatan pemerintahan, Abdul Jalil dan rombongan meninggalkan Kadipaten Bojong. Mereka mengunjungi Dukuh Lemah Abang di Kadipaten Kendal, Abdul Jalil memberi tahu tentang perikatan janjinya dengan Sang Bhumi. Kyayi Tapak Menjangan terkejut mendengarnya dan tak dapat mengucapkan kata-kata, kecuali mengungkapkan tanda tanya seseorang yang kebingungan, “Bagaimana mungkin kami bisa ikut-ikutan menista dan merendahkan Kangjeng Syaikh? Bagaimana cara kami melakukannya?”

“Sekarang ini diam adalah yang utama,” kata Abdul Jalil tegas. “Katakan kepada seluruh warga Lemah Abang untuk tidak sekali-kali memuji aku. Maksudku, jika kalian tidak bisa menista dan merendahkan aku maka sebaiknya kalian diam dan tidak memuji aku sekecil apa pun. Diam. Diam. Seribu kali diam.”

Setelah dari Lemah Abang, Abdul Jalil dan rombongan menghadap Pangeran Gandakusuma, adipati Kendal. Sebagaimana di Bojong, usai berbincang tentang peristiwa aneh di pedalaman, sang adipati memberi tahu Abdul Jalil bahwa di wilayah kekuasaannya pun sedang berlangsung pergantian istilah jabatan kepala wisaya dan Buyut menjadi Ki Gede dan jabatan kepala desa dari Rama menjadi Ki Lurah. Tak berbeda dengan Bojong, di Kendal pun perubahan itu dimulai di wilayah pesisir, yaitu di Wisaya Pakalongan, Kedungwuni, Jalasakti, Banyuputih, dan Kaliwungu. Dalam upaya memacu semangat perubahan sang adipati, Abdul Jalil memaparkan makna di balik perubahan-perubahan jabatan itu.

“Sesungguhnya, perubahan istilah itu bukan sekadar mengganti nama, Yang Mulia. Tetapi, ada penegakan Tauhid di dalamnya. Karena itu, pahala Allah yang tak terhingga tercurah kepada mereka yang berjuang menegakkan Tauhid di bumi Allah,” kata Abdul Jalil. Sebagaimana Pangeran Danareja Adipati Bojong, Pangeran Gandakusuma pun berjanji kepada Abdul Jalil akan secepatnya melakukan perubahan serentak di seluruh wilayah kekuasaannya.

Ketika singgah di pelabuhan Samarang, Abdul Jalil mendapati kenyataan yang sama dengan di Bojong dan Kendal, yaitu terjadinya penggantian istilah jabatan pemerintahan. Sementara itu, selain mendapati orang-orang ramai membicarakan peristiwa aneh di Wirasari, Pengging, Kendal, dan Lasem, ia juga beroleh kabar dari para pelaut bahwa di Japara saat itu sedang dibangun pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar (Jawa Kuno: meriam) yang dikerjakan oleh orang-orang Cina ahli senjata asal Palembang, Terung, dan Lawe, ditambah orang-orang asal Kerala di pantai Malabar. Yang disebut bedil besar adalah sejenis gurnita, namun bahan yang digunakan dari besi atau perunggu. Sebutan bedil sendiri berasal dari kata “wedhil”, yaitu istilah yang digunakan oleh orang-orang Kerala.

Senjata bedil dan bedil besar sudah digunakan barang seratus tahun silam oleh orang-orang Majapahit yang membelinya dari pedagang-pedagang India. Sebelumnya, pedagang-pedagang India membeli senjata-senjata api tersebut dari saudagar-saudagar Turki. Kira-kira lima puluh tahun silam, usaha membuat sendiri bedil besar dilakukan untuk kali pertama oleh Ario Damar Adipati Palembang, dengan dibantu ahli-ahli mesiu Cina Palembang dan orang-orang Kerala. Usaha membuat bedil besar, memang dimungkinkan karena tekniknya jauh lebih sederhana dibanding bedil yang rumit. Meski begitu, sejumlah bedil besar hasil pengecoran di Palembang itu meledak saat dicoba dan menelan korban jiwa. Meski bedil besar buatan Palembang belum sempurna, Ario Damar berhasil membangun pabrik mesiu besar di sana.

Ketika Raden Sahun, putera Ario Damar, menjadi adipati Samarang, dibangunlah pabrik pengecoran logam di situ dengan bantuan orang-orang Persia dan Turki yang bermukim di Kerala. Di Samarang itulah bedil besar berhasil disempurnakan dengan pasokan mesiu dari Palembang. Sejak itu bedil besar buatan Samarang diperdagangkan ke berbagai negeri seperti Pasai, Kedah, Malaka, Aceh, Tamiang, bahkan Siam dan Pegu. Tetapi, demi alasan kekuasaan keturunannya, Ario Damar melarang penjualan bedil besar dan mesiu kepada orang-orang Majapahit dan Sunda. Itu sebabnya, orang-orang Majapahit tetap membeli bedil besar dari saudagar-saudagar India dengan harga yang sangat mahal. Bahkan di tengah kemelut perebutan takhta, raja-raja Majapahit tidak mampu lagi membeli bedil besar.

Lantaran kebijakan Ario Damar seperti itu, keberadaan bedil besar banyak didapati orang di Kadipaten Samarang, Demak, Madura, dan Terung, tempat putera-puteranya menjadi penguasa di situ. Malahan, di tengah kekacauan yang berlangsung tak kunjung berhenti di ibu kota Majapahit, hampir seluruh bedil besar milik kerajaan dikuasai oleh Raden Kusen Adipati Terung. Itu sebabnya, di antara penguasa-penguasa Majapahit, kekuatan tempur yang dimiliki Kadipaten Terunglah yang paling kuat karena selain memiliki pasukan gurnita, juga memiliki pasukan bedil besar dan bedil. Di berbagai medan tempur, termasuk dalam peperangan dengan Patih Mahodara, selalu saja pihak Terung beroleh kemenangan.

Seiring perputaran waktu, seiring mangkatnya Ario Damar, pabrik mesiu di Palembang dan pengecoran logam di Samarang mengalami kemunduran dan kemudian ditutup. Pasukan Demak, Samarang, dan Madura tidak lagi menggunakan bedil besar. Satu-satunya putera Ario Damar yang masih menggunakan bedil besar adalah Raden Kusen, Yang Dipertuan Terung. Dan kini, ketika keberadaan bedil besar sudah dilupakan orang, tiba-tiba saja terdengar kabar bahwa di Japara sedang dibangun pabrik mesiu baru, sekaligus dengan pengecoran logam untuk membuat bedil besar. Penggunaan senjata gurnita dalam pertempuran Caruban-Rajagaluh oleh pasukan Terung, rupanya sangat memukau Pangeran Sabrang Lor, anak menantu Raden Patah Adipati Demak, yang ikut terlibat pertempuran membela Caruban. Lantaran itu, tak lama setelah kembali dari Caruban, ia memerintahkan untuk membangun pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar di Japara dengan bantuan para ahli dari Palembang, Terung, Lawe, dan Kerala.

Kabar pembangunan pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar di Japara, bagi Abdul Jalil merupakan tengara yang mengisyaratkan pertumpahan darah antarmanusia di masa depan bakal lebih dahsyat dibanding masa-masa sebelumnya. Penggunaan senjata gurnita untuk menembaki kutaraja Rajagaluh sehingga bangunan-bangunan, pagar kuta, pohon-pohon, manusia, dan margasatwa habis terbakar, paling tidak adalah sebuah gambaran kebinasaan yang sempat mencengangkan Abdul Jalil. Padahal, kerusakan yang diakibatkan bedil besar tentu jauh lebih dahsyat dibanding gurnita, apalagi dibanding senjata-senjata jenis manjanik (pelontar api). Kini, senjata yang dahsyat itu, bedil besar, malah dibuat secara besar-besaran di Japara. Itu berarti, zaman kerusakan akibat datangnya pasukan Dajjal, yang disebut Ya’juj wa Ma’juj, sang perusak yang membawa senjata-senjata penyembur api, telah dekat. Zaman Ya’juj wa Ma’juj dengan bala tentaranya yang berkeliaran merusak bumi telah dekat, dekat, katanya dalam hati.

Ketika membayangkan kedatangan bala tentara Ya’juj wa Ma’juj yang ganas, yang melengkapi diri dengan senjata-senjata penyembur api, tiba-tiba Abdul Jalil tercekat kaget. Di benaknya tiba-tiba membayang bangunan-bangunan peracikan mesiu dan pengecoran bedil besar di bumi Japara. Jika orang-orang Japara membuat bedil besar, katanya dalam hati, apakah itu tidak mengandung makna bahwa mereka pun pada hakikatnya ikut andil dalam upaya merusak bumi. Sebab, penanda utama dari keberadaan Ya’juj wa Ma’juj adalah kawanan manusia yang menggunakan senjata penyembur api untuk menghancurkan bumi dan merampas kehidupan umat manusia.

Dengan pemikiran bahwa senjata-senjata yang disebut bedil besar adalah senjata penghancur yang digunakan Ya’juj wa Ma’juj, Abdul Jalil merasa dadanya sesak dan tenggorokannya kering. Ada semacam rasa sedih menggelayuti jiwanya saat mengingat prajurit-prajurit Japara yang gagah perkasa di medan tempur. Ia sangat menyayangkan bakal hilangnya jiwa ksatria dari pejuang-pejuang itu jika sudah menggunakan senjata bedil besar. Tanpa sadar ia menengadah dan mengangkat tangan ke atas sambil berdoa, “Ya Allah, jangan Engkau golongkan putera-putera kami ke dalam kawanan Ya’juj wa Ma’juj perusak bumi. Jangan pula Engkau jadikan putera-putera kami sebagai kawanan pembawa senjata penyembur api. Jangan Engkau berikan putera-putera kami kemenangan jika mereka menggunakan senjata-senjata penyembur api. Jadikanlah mereka sebagai umat yang membawa rahmat bagi alam semesta.”

Lantaran tidak ingin terkena pengaruh daya setani senjata penyembur api, yaitu senjata yang digunakan Ya’juj wa Ma’juj untuk merusak Kehidupan di muka bumi, usai berdoa Abdul Jalil meminta tukang perahu cepat-cepat meninggalkan Kadipaten Samarang tanpa singgah ke Demak maupun Japara. Ia meminta tukang perahu langsung ke pelabuhan Gresik. Kepada salah seorang warga Lemah Abang, ia mengirim pesan kepada Ki Saridin, kepala dukuh Lemah Abang di Kadipaten Japara, agar mengingatkan semua warganya untuk tidak dekat-dekat dengan orang-orang yang terlibat dalam pembuatan pabrik mesiu dan pengecoran bedil besar tersebut.

Selat Taiwan (MV. Taho), 15 April 2007, 21.30LT

04. Perubahan Demi Perubahan

Ketika sampai di pelabuhan Gresik, Abdul Jalil dan rombongan bersembahyang di tajug agung Gresik yang terletak di depan kediaman syahbandar. Tetapi, saat beristirahat ia terkejut ketika mengetahui penduduk di sekitar tajug agung berbicara dalam bahasa sehari-hari dengan menggunakan kata ganti diri ingsun. Hal itu mengagetkan karena barang setahun lalu ketika ia menghadap Prabu Satmata di Puri Giri Kedhaton, penduduk yang tinggal di sekitar pelabuhan Gresik masih menggunakan kata ganti diri nghulun atau kawula. Ketika ia menanyakan hal itu kepada Syaikh Garigis, yang bernama asli Mathori, imam tajug agung Gresik, ia beroleh jawaban bahwa perubahan yang terjadi di Kadipaten Gresik dan Giri Kedhaton memang baru berlangsung barang lima bulan silam. “

Atas titah Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah Prabu Satmata, seluruh penduduk di tlatah Giri Kedhaton diwajibkan menggunakan kata ganti diri ingsun. Titah itu kemudian diikuti adipati Gresik dan Siddhayu. Malahan, jabatan kepala wisaya dan kepala desa di Giri Kedhaton pun telah dirubah. Jabatan Buyut diganti Ki Ageng. Jabatan Rama diganti Ki Lurah. Para pemimpin wisaya di Giri Kedhaton sekarang ini semuanya menggunakan gelar Ki Ageng seperti di Wanjang, Siwalan, Sumengka, Cangkir, dan Damyan. Kalau tidak salah, pekan depan ini Kadipaten Gresik dan Siddhayu akan ikut juga,” ujar Syaikh Garigis.

Abdul Jalil senang mendengar perubahan itu. Karena itu, ia dan rombongan pergi ke puri Giri Kedhaton untuk menemui Prabu Satmata. Tetapi, di Puri Giri Kedhaton ia ditemui oleh Pangeran Arya Pinatih, paman angkat Prabu Satmata, yang usianya sudah tujuh puluh tiga tahun. Pangeran Arya Pinatih memberi tahu Abdul Jalil jika Prabu Satmata dan putera ketiganya, Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, barang sehari lalu telah pergi ke Surabaya. “Katanya hendak bertemu dengan Raden Kusen Adipati Terung sekalian berziarah ke Ampel Denta,” kata Pangeran Arya Pinatih.

Pangeran Arya Pinatih adalah paman angkat Prabu Satmata. Dia adik kandung Nyai Pinatih, ibu angkat Prabu Satmata. Meski lahir dari keluarga bangsawan Pinatih dari ksatria Manggis, sejak kecil dia diasuh di Gresik secara Islam oleh kakak kandungnya. Dia sangat dihormati sebagai mursyid Tarekat Kubrawiyyah, yaitu tarekat yang dinisbatkan kepada Syaikh Najamuddin Kubra al-Khwarazm. Dia mengambil baiat kepada Raden Ali Murtadho, Raja Pandita Susuhunan Gresik, kakak Raden Ali Rahmatullah. Oleh Raden Ali Murtadho, ia ditunjuk sebagai wakilnya (khalifah). Lantaran selama bertahun-tahun mengajarkan Tarekat Kubrawiyyah di Tajug Agung Giri Kedhaton yang terletak di depan Bangsal Sri Manganti, yaitu kraton Prabu Satmata yang terletak di selatan Puri Giri Kedhaton, maka dia dikenal orang dengan sebutan Syaikh Manganti.

Kemapanan sebagai seorang pangeran kaya raya dan sekaligus khalifah tarekat yang dimuliakan manusia ternyata tidak menjadikan Pangeran Arya Pinatih berpuas diri menikmatinya. Di usianya yang makin senja itu dia sering meninggalkan kediamannya untuk mendakwahkan Kebenaran Islam di pedalaman. Melalui salah seorang kepala wisaya di Tumapel yang menjadi muridnya, yaitu Kyayi Gribik, dia menyebarkan pengaruh Islam di pedalaman hingga ke daerah Sengguruh dan Lumajang di selatan. Hanya pada saat-saat tertentu saja dia kembali ke padepokannya di selatan atau ke purinya yang terletak di Kedhanyang di selatan Puri Giri Kedhaton. Dia dikaruniai dua putera, Pangeran Pringgabhaya dan Pangeran Kedhanyang.

Kedatangan Abdul Jalil dan rombongan yang tak terduga ternyata dengan cepat didengar oleh keluarga Prabu Satmata. Rupanya, selama ini orang-orang sudah banyak membicarakan pandangan-pandangannya yang aneh dan tidak lazim. Itu sebabnya, belum lama Abdul Jalil berbincang-bincang dengan Pangeran Arya Pinatih, putera-putera Prabu Satmata disertai Pangeran Pringgabhaya dan Pangeran Kedhanyang bermunculan dan saling memperkenalkan diri. Para putera Prabu Satmata itu adalah Pangeran Tegal Wangi Dalem Lor, Pangeran Ardi Pandan Dalem Kidul, Pangeran Kembangan Dalem Kulon, dan Pangeran Waruju. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka memohon kepada Pangeran Arya Pinatih agar diperkenankan ikut berbincang-bincang dengan Abdul Jalil.

Selama berbincang-bincang dengan Pangeran Arya Pinatih dan para putera Prabu Satmata, Abdul Jalil menangkap keluasan wawasan dan kedalaman pengetahuan para pangeran tersebut. Tetapi, ia sangat terkejut ketika Pangeran Arya Pinatih menyinggung-nyinggung nama Hasan Ali, orang asal Caruban yang mengaku murid Syaikh Lemah Abang yang bernama asli San Ali Anshar. “Aku curiga dengan pengakuannya. Karena yang kuketahui, nama asli Syaikh Lemah Abang adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil,” kata Pangeran Arya Pinatih.

Abdul Jalil tercenung. Ia tiba-tiba teringat pada Syaikh Datuk Kahfi, guru terkasih sekaligus ayahanda asuhnya, yang pernah menuturkan perihal Raden Anggaraksa, putera Rsi Bungsu yang setelah memeluk Islam diberi nama Hasan Ali. Sesaat ia menangkap sasmita tidak baik tentang Hasan Ali yang mengaku muridnya itu, apalagi dengan menyebutnya dengan nama San Ali Anshar. Ingatan Abdul Jalil pun melesat pada dua orang adik iparnya, Abdul Qadir dan Abdul Qahhar al-Baghdady, yang pernah menuturkan pengkhianatan Ali Anshar. Jangan-jangan, pikir Abdul Jalil, Ali Anshar yang sudah berada di Jawa itu melakukan tindakan-tindakan yang membahayakan dengan mengatasnamakan dirinya.

Menangkap gelagat tidak baik itu, Abdul Jalil buru-buru menolak pengakuan sepihak Hasan Ali itu dengan pernyataan tegas, “Sesungguhnya, Hasan Ali itu putera Rsi Bungsu, adik dari ibunda asuhku. Dia cucu Prabu Surawisesa, penguasa Galuh Pakuan. Namanya yang asli Raden Anggaraksa. Dia dinamai Hasan Ali oleh ibunda asuhku setelah memeluk agama Islam. Tetapi, kami tidak pernah saling bertemu muka. Karena itu, kalau dia mengaku murid Syaikh Lemah Abang, San Ali Anshar, mungkin itu benar. Tetapi, pasti bukan kami yang dimaksud. Kami sendiri memiliki nama kecil San Ali, namun kami bukan San Ali Anshar. Kami curiga nama itu digunakan seorang pengkhianat bernama Ali Anshar asal negeri Persia yang pernah kukenal di Baghdad. Kepadaku, dia mengaku berasal dari Tabriz dan menggunakan Ali Anshar at-Tabrizi. Belakangan aku diberi tahu jika dia berasal dari Isfahan.”

“Sejak awal aku memang sudah curiga,” kata Pangera Arya Pinatih, “Sebab, di hadapanku ia mengaku bernama Hasan Ali, murid dari Syaikh Lemah Abang, San Ali Anshar. Sedangkan di hadapan Prabu Satmata ia mengaku bernama Bango Samparan, putera Rsi Bungsu dari Pajajaran. Kepada aku, ia mengaku ingin belajar tentang ilmu Kebenaran dari Tareka Kubrawiyyah, namun kepada Prabu Satmata ia mengaku ingin belajar ilmu terawangan dari Tarekat Ni’matullah. Aku makin curiga ketika murid-muridku melaporkan Hasan Ali itu panda mempertunjukkan ilmu sihir.”

Abdul Jalil menarik napas panjang. Ia benar-benar melihat gelagat tidak baik dari keberadaan Hasan Ali yang mengaku muridnya itu, terutama dalam kaitan dengan San Ali Anshar. Sejenak setelah itu tiba-tiba Ruh al-Haqq di kedalaman kalbunya memberi tahu bahwa justru lewat Hasan Ali dan San Ali Anshar itulah jalan penistaan dan penghinaan yang harus dilaluinya akan terwujud menjadi kenyataan. Ya, lewat Hasan Ali dan Ali Anshar itulah ikatan perjanjianmu dengan Sang Bhumi akan tergenapi, kata Ruh al-Haqq.

Beberapa jenak Abdul Jalil terdiam. Ia segera sadar bahwa jalan kenistaan yang dilaluinya rupanya harus melewati sosok Hasan Ali dan Ali Anshar al-Isfahani. Lantaran itu, ia kemudian menjelaskan dengan jujur masalah perikatan janjinya dengan Sang Bhumi kepada Pangeran Arya Pinatih. Meski awalnya terkejut, pangeran asal Bali yang sudah merasakan pahit getirnya kehidupan itu menyatakan dukungan penuh kepada Abdul Jalil untuk menunaikan tugas mulia itu. Kedua orang putera sang pangeran dan para putera Prabu Satmata pun menyatakan dukungan. Bahkan, Pangeran Arya Pinatih dengan tegas meminta Abdul Jalil untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra di Giri Kedhaton. “Terus terang, aku sudah tidak tahan setiap waktu mendengar ibu-ibu meratap dan hilang ingatan karena anaknya dijadikan korban persembahan di ksetra. Upacara-upacara itu harus diakhiri. Aku dan kemenakanku, Prabu Satmata, sudah berkali-kali mencari jalan terbaik untuk menutup ksetra-ksetra itu. Tapi, belum juga bertemu caranya. Lantaran itu, aku yakin dia akan sepaham denganku, mendukung sepenuhnya usahamu menutup tempat-tempat kebusukan (putikeswara) itu dengan cara membuat tawar daya shaktinya,” kata Pangeran Arya Pinatih.

“Ada berapakah jumlah ksetra di Giri Kedhaton?” tanya Abdul Jalil.

“Ada empat, yaitu Ksetra Adhidewa, Mangare, Dara, dan Indrabhawana.”

Peristiwa amuk yang dilakukan Raden Kusen Adipati Terung ternyata sangat menggemparkan dan menjadi pembicaraan ramai penduduk dari pedalaman hingga pesisir. Hal itu diketahui Abdul Jalil tak lama setelah ia menginjakkan kaki si Surabaya. Sejak turun di panambangan ia sudah mendapati orang-orang sudah membicarakan peristiwa aneh di Japan, Wirasabha, dan Terung. Ketika di Kraton Surabaya ia mendapati hampir semua putera, kerabat dekat, dan siswa Raden Ali Rahmatullah berkumpul di situ. Mereka tampaknya ingin memecahkan masalah rumit, terutama yang sedang membelit penguasa Terung. Di antara mereka itu terlihat Raden Ahmad, Raden Mahdum Ibrahim, Raden Mahmud, Raden Hamzah, Ibrahim al-Gujarati, Raden Kusen, Prabu Satmata, Raden Zainal Abidin Adipati Gresik, Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, Khalifah Husein, Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, dan Arya Bijaya Orob Adipati Tedunan.

Saat beramah-tamah dan saling mengabarkan keselamatan masing-masing, banyak yang bertanya kepada Abdul Jalil tentang perkembangan Caruban setelah memenangkan peperangan melawan Rajagaluh. Abdul Jalil yang sangat prihatin atas “perang” lanjutan setelah kemenangan itu dengan kurang bersemangat menjelaskan, “Apa yang disabdakan Rasulullah Saw. tentang perang yang lebih besar dari Perang Badar telah terjadi di Rajagaluh sekarang ini. Masing-masing orang berperang melawan nafs mereka masing-masing. Karena itu, aku cepat-cepat meninggalkan mereka yang sedang berlomba mengumbar nafsu berkuasa itu. Sekarang ini Sri Mangana beserta para gede sedang sibuk menata pemerintahan baru di Rajagaluh.”

“Kenapa Paman justru meninggalkan Caruban pada saat-saat seperti itu?” tanya Raden Ahmad heran. “Bukankah sekarang ini Paman lebih dibutuhkan di sana?”

“Kalau aku tidak meninggalkan Caruban, fitnah akan bertebaran lebih dahsyat. Orang-orang yang sudah mabuk kekuasaan itu akan memfitnahku dengan tuduhan macam-macam, pada ujungnya yang terkena akibat buruk adalah Sri Mangana. Dengan kepergianku dari Caruban, Sri Mangana dan para gede akan bisa bertindak lebih leluasa menata pemerintahan baru di Rajagaluh,” jawab Abdul Jalil.

“Siapa kira-kira yang jadi penguasa Rajagaluh?”

“Kalau tidak keliru, para gedeng sepakat mengajukan Ki Sukawiyana dari Gunung Ciangkup sebagai calon penguasa Rajagaluh. Aku kira itu pilihan yang tepat. Sebab, Ki Sukawiyana adalah putera Sanghyang Nago yang sangat ditakuti dan disegani. Dia bekas penguasa ksetra. Dengan begitu, orang-orang Rajagaluh pasti tidak ada yang berani menentangnya,” kata Abdul Jalil.

“Yang memilih adipati para gedeng?” sergah Raden Ahmad bagai tak percaya. “Berarti, gagasan wilayah al-Ummah benar-benar dijalankan di Caruban?”

“Tentu saja. Lantaran itu, penduduk Caruban menyebut negerinya Garage, Nagara Gede. Maksudnya, negara yang dipimpin dan diatur oleh para gede. Sedangkan negeri lain masih dikuasai oleh raja,” kata Abdul Jalil.

Setelah membicarakan keadaan di Rajagaluh dan Caruban, terutama pelaksanaan gagasan wilayah al-Ummah, para putera Raden Ali Rahmatullah memberi tahu Abdul Jalil bahwa gagasan wilayah al-Ummah yang pernah ditawarkannya itu sebagian sudah dijalankan di Surabaya, Terung, dan Bubat atas permintaan ayahanda mereka. “Ayahanda kami sebelum wafat telah meminta kepada saudara kami, Raden Kusen, untuk membuat ketetapan mengganti gelar Buyut bagi kepala wisaya dengan gelar Ki Ageng, dan mengganti pula gelar Rama bagi para kepala desa dengan gelar Ki Lurah,” kata Raden Hamzah memaparkan.

“Aku juga sudah melihat perubahan itu di pesisir sejak berangkat dari Caruban. Tapi, benarkah daerah pedalaman yang masuk wilayah Terung dan Bubat juga diubah?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Ya, Paman. Semua wisaya dan desa di Kadipaten Surabaya, Terung, dan Bubat telah diubah serentak,” Raden Hamzah menjelaskan. “Wisaya Bukul dipimpin oleh Ki Ageng Bukul, Syaikh Mahmudin, putera Ki Buyut Bukul. Wisaya Sumber Urip dipimpin Ki Ageng Banyu Urip, Ki Wiryo Saroyo, putera Ki Bang Kuning. Wisaya Sapanjang dipimpin oleh Ki Ageng Sapanjang, yaitu adik kami sendiri, Raden Mahmud. Pendek kata, semua wisaya di tlatah Terung dan Bubat seperti Wringin Sapta, Lemah Tulis, Pagedangan, Pagerwaja, Sukadana, Talsewu, Hanyiru, Awang-Awang, Penggiring, Terung, Kapulungan, Kejapanan, Gerongan, Gunung Gangsir, Pandakan, dan Tunggul Wulung semuanya sudah dipimpin oleh para Ki Ageng.”

“Berarti perubahan yang dilakukan para adipati di pesisir itu sesungguhnya mengikuti Surabaya,” kata Abdul Jalil. “Sebab di Bojong, Kendal, Samarang, dan Giri Kedhaton aku mendapati perubahan yang sama di sana.”

“Itu memang benar, Paman. Ayahanda kami juga mengirim utusan ke Giri Kedhaton, Tuban, Demak, Lasem, Japara, Kendal, dan Bojong untuk melakukan perubahan tersebut. Kira-kira tiga bulan lalu, saudara kami Adipati Tedunan Arya Bijaya Orob dan Adipati Siddhayu Yusuf Siddhiq juga mulai melaksanakan perubahan tersebut di wilayahnya,” kata Raden Ahmad.

“Mudah-mudahan dengan memandang kebesaran ayahandamu, perubahan besar bagi tatanan kehidupan di Majapahit akan segera terwujud,” kata Abdul Jalil berharap.

“Tapi, Paman, terus terang saja sampai saat ini kami belum paham dengan makna yang sebenarnya di balik perubahan gelar-gelar jabatan tersebut. Sungguh, ketetapan itu dibuat saudara kami semata-mata karena kepatuhan dan penghormatannya kepada ayahanda kami. Karena kami semua mengetahui jika gagasan itu asalnya dari Paman maka kami mohon penjelasan langsung dari Paman, kenapa gelar-gelar jabatan Buyut dan Rama harus diubah. Kenapa gelar Buyut harus diubah menjadi Ki Ageng dan gelar Rama diubah menjadi Ki Lurah? Kenapa pula para kawula diharuskan menggunakan kata ganti diri ingsun?” tanya Raden Qasim.

“Semua itu tentu terkait dengan tatanan kehidupan lama ke baru. Maksudku, perubahan nilai-nilai lama ke nilai-nilai baru, perubahan dari Tauhid lama ke Tauhid baru yang murni.”

“Tapi kami tidak melihat makna apa-apa di balik perubahan itu, Paman,” Raden Ahmad menyela. “Sebab yang diganti itu, menurut hemat kami, hanya istilah-istilah gelar belaka, yaitu dari Buyut menjadi Ki Ageng, dari Rama menjadi Ki Lurah. Bukankah keberadaan Buyut dan Ki Ageng sesungguhnya tetap sama, yaitu kepala wisaya? Bukankah keberadaan Rama dan Lurah juga sama, yaitu kepala desa?”

“Dilihat dari sisi tata pemerintahan memang tidak ada yang berubah. Sebab, baik gelar Buyut dan Ki Ageng pada dasarnya tetap merupakan gelar bagi mereka yang berkedudukan sebagai kepala wisaya. Demikian juga gelar Rama dan Lurah tetap merupakan gelar bagi kepala desa. Tetapi, jika kita memandang perubahan itu dari sudut pandangan Tauhid maka kita akan segera melihat perbedaan yang mencolok di antara perubahan gelar-gelar tersebut, bagaikan perbedaan malam dengan siang,” tegas Abdul Jalil.

“Kami belum paham, Paman.”

“Sepengetahuanmu, jika seorang Buyut meninggal, apa yang dilakukan oleh kawula di wisaya yang dipimpinnya? Begitu pun jika seorang Rama meninggal, apa yang dilakukan oleh kawula di desa yang dipimpinnya?” tanya Abdul Jalil memancing. “

Penduduk akan memuja batu tanda kematian sang Buyut dan sang Rama sebagai Kabuyutan dan punden Karaman, Paman,” tukas Raden Qasim mulai menangkap makna ucapan Abdul Jalil.

“Dapatkah engkau menghitung jumlah kabuyutan dan punden karaman di wilayah Majapahit atau bahkan yang ada di Kadipaten Surabaya dan Terung saja?”

“Tentu tidak bisa, Paman. Jumlahnya beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu.”

“Nah, dengan diubahnya istilah Buyut menjadi Ki Ageng dan istilah Rama menjadi Ki Lurah, apakah menurutmu arwah mereka akan dipuja oleh penduduk setelah mereka meninggal dunia?” tanya Abdul Jalil.

“Tentu saja tidak, Paman,” Raden Qasim mengangguk-angguk paham.

“Karena itu, dalam upaya menegakkan Tauhid, ketika ayahandamu akan wafat, beliau ‘menemuiku’ dan menyatakan tidak ingin kematiannya diketahui penduduk. Beliau ingin dikuburkan oleh putera-putera dan kerabat secara diam-diam. Beliau tidak ingin makamnya dipuja seperti pendharmaan raja-raja,” kata Abdul Jalil.

“Kami paham, Paman,” kata Raden Ahmad. “Tapi kenapa gelar Sri, Prabu, Adipati, dan Ratu tidak ikut diubah? Bukankah raja-raja itu jika mangkat arwahnya dipuja di candi-candi?”

“Belum waktunya. Kalau kita terburu-buru melakukan perubahan sebelum waktunya, yang akan terjadi adalah kekacauan yang mungkin berujung pada kegagalan. Itu sebabnya, kita harus sabar.”

“Kami paham, Paman. Tapi, mohon Paman jelaskan kepada kami kenapa kita harus merubah tata cara berbahasa dan terutama mengubah kata ganti diri dari nghulun dan kawula menjadi ingsun?” tanya Raden Ahmad.

“Perubahan itu tentu terkait dengan Tauhid, Raden. Ajaran luhur Islam tentang Tauhid, terutama gagasan wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh), tidak akan bisa terwujud di dalam kenyataan jika masing-masing manusia masih menekuk lutut dan merendahkan diri sendiri sebagai budak bagi sesama. Aku kira engkau telah paham bahwa saat Islam pertama kali didakwahkan, masalah pembebasan budak-budak menjadi garapan utama dari perjuangan Nabi Muhammad Saw. dan para sahabat. Hal itu terjadi bukan karena Islam agama pembebas budak, melainkan lebih karena Islam adalah ajaran Tauhid sejati yang membawa manusia kepada pemujaan satu Ilah: al-Ahad.”

“Jika engkau bertanya kenapa aku memiliki gagasan untuk mengubah kata ganti nghulun dan kawula menjadi ingsun atau aku, maka dasar utama alasanku adalah semata-mata karena Tauhid itu sendiri. Maksudku, keberadaan penduduk Arab dan Majapahit harus dipahami sebagai dua hal yang berbeda. Jika pada zaman Nabi Muhammad Saw. para sahabat berusaha menebus budak-budak Muslim dengan membayar uang tebusan, hal itu tidak akan mungkin bisa dilakukan di Majapahit. Kenapa? Sebab, di Majapahit setiap manusia adalah budak bagi raja dan keluarganya. Itu berarti, bukan uang tebusan budak yang dibutuhkan di negeri seperti Majapahit, melainkan perubahan tatanan nilai-nilai dan kepercayaan baru yang menolak hegemoni pemikiran yang merendahkan manusia. Ya, yang dibutuhkan di Majapahit adalah perubahan cara pikir dan cara pandang yang bertolak dari nilai-nilai luhur penegakan Tauhid. Dengan penjelasanku ini, mudah-mudahan engkau dapat memahami semua gagasan yang aku sampaikan mulai perubahan gelar jabatan, kata ganti diri, sampai gagasan wilayah al-Ummah. Semua itu tujuan utamanya adalah sama, yaitu penegakan Tauhid,” tegas Abdul Jalil.

Selat Taiwan, Timur Pulau Kinmen (MV. Taho), 19 April 2007, 11:10LT

05. Rahasia Dukuh Lemah Abang

Pada hari kedua selama tinggal di Kraton Surabaya, Abdul Jalil berkenalan dengan seorang syaikh asal Ferghana, suatu wilayah di Khanat Bukhara, Syaikh Jumad al-Kubra. Ia putera Syaikh Kasah al-Ferghani bin Syaikh Jamaluddin Husein. Jadi, masih kerabat Abdul Jalil karena kakek buyut mereka sama, yaitu Sayyid Amir Ahmad Syah Jalaluddin. Syaikh Kasah al-Ferghani adalah adik lain ibu Syaikh Ibrahim as-Samarkandy, ayahanda Raden Ali Rahmatullah. Menurut Syaikh Jumad al-Kubra, ibundanya lahir dari keluarga saudagar keturunan Bulgari-Kozhak asal Samara, kota di hulu Sungai Wolga yang bermuara ke Laut Kaspia.

Di negerinya, Syaikh Kasah al-Ferghani dikenal sebagai guru Tarekat Kubrawiyyah. Syaikh Kasah al-Ferghani mengambil baiat kepada Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi dan kemudian ditunjuk sebagai khalifahnya. Karena menginginkan puteranya menjadi guru tarekat yang lebih sempurna dan lebih masyhur dari dirinya, maka putera sulungnya sejak berusia sembilan tahun sudah diserahkan pengasuhannya kepada Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi. “Ayahanda asuh dan mursyidku, Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi-lah, yang menganugerahiku nama Jumad al-Kubra. Namaku sendiri yang asli adalah Taras,” papar Jumad al-Kubra.

Boleh jadi karena berdarah campuran dari bermacam-macam bangsa, bentuk fisik Syaikh Jumad al-Kubra sangat berbeda dengan orang-orang di Kraton Surabaya. Lantaran itu, dia menjadi pusat orang-orang di sekitarnya. Bentuk tubuhnya tentu lebih tinggi dan lebih besar dibanding orang-orang di sekitar. Kulitnya sangat putih hingga terkesan bule (albino). Hidungnya yang mancung dikesankan seperti hidung Petruk. Matanya yang bening kecoklatan dikesankan seperti mata kucing. Rambut dan cambangnya yang coklat kemerahan dikesankan seperti rambut singa. Sungguh, penampilan Syaikh Jumad al-Kubra menimbulkan keheranan orang-orang Surabaya. Itu sebabnya, para pelayan di Kraton Surabaya sering terlihat berkerumun memandanginya bagaikan melihat makhluk aneh. Bahkan, saat mendengar dia berbicara dalam bahasa Melayu dengan logat aneh, orang-orang menduganya sebagai makhluk berasal dari negeri Atas Angin, negeri asing di angkasa.

Di lingkungan keluarga Raden Ali Rahmatullah sendiri, Syaikh Jumad al-Kubra sangat dihormati. Menurut cerita, bentuk fisiknya mirip dengan kakek mereka, Syaikh Ibrahim as-Samarkandy. Bahkan, yang membuatnya makin disegani adalah kenyataan yang menunjuk bahwa dia adalah wakil (khalifah) Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi, seorang mursyid besar Tareka Kubrawiyyah. Lantaran itu, ketika dia memberikan khirqah (jubah sufi) kepada Raden Ahmad yang berkedudukan sebagai pengganti (khatib) ayahandanya, orang langsung menganggap hal itu sebagai pengukuhannya sebagai mursyid Tarekat Kubrawiyyah di Nusa Jawa.

Sementara itu, kepada Abdul Jalil, Syaikh Jumad al-Kubra mengungkapkan bahwa kehadirannya ke Nusa Jawa pada dasarnya untuk memenuhi amanat almarhum guru ruhaninya tercinta, Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi. “Kira-kira tiga puluh tahun silam, syaikh kami telah menyuruhku berkelana untuk mencari seorang mujaddid (pembaharu) yang melakukan tajdid (pembaharuan) di suatu negeri. Jika sudah bertemu, aku diperintahkan untuk menyerahkan taj (mahkota sufi) kepadanya. Aku juga diperintahkan untuk ikut serta mengambil bagian dalam gerakan pembaharuan tersebut. Demi kepatuhanku kepada guruku, aku berkelana berkeliling ke berbagai belahan dunia untuk mencari sang mujaddid tersebut. Tetapi mulai negeri Khanat Bukhara, Khanat Jaghatai, Kipchak, Mameluk, Khurasan, Baghdad, Hijaz, Yaman, hingga Gujarat tidak kutemukan adanya gema pembaharuan dalam tatanan kehidupan manusia. Aku tidak menemukan sang mujaddid tersebut sehingga aku mulai meragukan kebenaran wasiat syaikh kami.”

“Baru sekitar enam bulan silam, ketika aku datang ke Malaka menemui saudaraku lain ibu, Dara Putih, yang tinggal di kampung Pulau Upih, aku diberi tahu tentang terjadinya suatu pembaharuan dalam tatanan kehidupan di negeri Jawa yang dipelopori oleh seorang syaikh asal Malaka, yaitu Syaikh Lemah Abang. Karena itu, aku buru-buru datang ke Jawa untuk mencari tahu tentang sang pembaharu itu. Aku merasa sangat beruntung dapat bertemu dengan sang mujaddid, yang ternyata tiada lain adalah kerabatku sendiri, Tuan Syaikh Datuk Abdul Jalil, keturunan Sayyid Amir Ahmad Syah Jalaluddin,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan mata berbinar-binar.

“Orang sering kali terlalu melebih-lebihkan sesuatu secara kurang tepat,” kata Abdul Jalil datar dan merendah. “Apa yang sudah aku lakukan dalam perubahan di negeri ini sesunggunya bukanlah pembaharuan. Aku katakan bukan pembaharuan karena ibarat pohon-pohon di kebun, tatanan baru yang aku tegakkan itu sesungguhnya sudah ada lembaganya, namun merana dan terbengkalai akibat tidak diurus dan tidak dipelihara dengan baik. Jadi, upayaku selama ini hanya berusaha menyuburkan lembaga-lembaga itu agar tumbuh dan berkembang menjadi pohon-pohon yang berbuah lebat. Dalam upaya menyuburkan lembaga itu, aku hanya memangkas bagian-bagian tanaman yang sudah layu dan kemudian mencangkokkan bagian yang terpangkas itu dengan bagian-bagian dari pohon lain yang baik. Sekali lagi aku tegaskan, aku bukanlah mujaddid.”

Syaikh Jumad al-Kubra tertawa. Ia menangkap isyarat bahwa Abdul Jalil tidak suka dipuji. Ia bahkan menangkap kesan Abdul Jalil adalah seorang malamit, orang yang menyembunyikan kesempurnaan batiniahnya dengan penampilan yang hina dan tercela.

Didorong rasa ingin tahu yang kuat untuk mengetahui keberadaan Abdul Jalil sebagai mujaddid sejati sesuai amanat guru ruhaninya, Syaikh Jumad al-Kubra terus bertanya kepada Abdul Jalil, “Menurut kabar yang kami dengar, Tuan Syaikh dikenal orang dengan sebutan Syaikh Lemah Abang karena Tuan Syaikh mengawali perubahan tatanan kehidupan penduduk dari tempat-tempat bernama Lemah Abang. Apakah dukuh-dukuh Lemah Abang yang Tuan dirikan itu memang tanahnya berwarna merah? Ataukah Tuan Syaikh sesungguhnya telah menemukan kibrit ahmar (belerang merah) sehingga Tuan Syaikh menamai tempat-tempat itu dengan perlambang tanah merah?”

“Tanah Abang? Kibrit ahmar? Belerang merah? Kibrit ahmar yang bisa mengubah logam menjadi emas?” gumam Abdul Jalil dengan kening berkerut dan muka tidak senang, “Jika nama Lemah Abang Tuan tafsirkan terkait dengan kibrit ahmar , itu boleh saja. Tetapi, jika penafsiran Tuan itu aku benarkan maka Tuan dan orang-orang yang paham terhadap makna kibrit ahmar akan menganggap aku manusia sombong yang suka memamerkan diri sebagai pemilik kesadaran tertinggi dan pengetahuan yang langka. Jadi menurutku, sekali-kali tidak seperti itu makna di balik nama Lemah Abang. Sedikit pun nama Lemah Abang tidak terkait dengan kibrit ahmar, meski orang bisa menafsirkan bahwa lewat dukuh-dukuh Lemah Abang, ‘manusia-manusia logam’ bisa ditempa menjadi ‘manusia-manusia emas’.”

“Aku kira nama Lemah Abang sedikit pun tidak terkait dengan kibrit ahmar. Pertama-tama, aku sengaja memilih nama Lemah Abang karena terkait dengan pengetahuan rahasia yang disebut perundagian, yang salah satu tata caranya menggunakan sarana sejenis wafak yang menggunakan aksara AH dan ANG, yang melambangkan makna laki-laki dan perempuan. Itu terkait dengan pemujaan Dewi Bhumi, Prthiwi. Yang kedua, nama Lemah Abang aku maksudkan untuk menandai perubahan suatu rentangan zaman, di mana kesadaran manusia yang kacau telah diarahkan ke kesadaran Tauhid, ibarat penyucian diri manusia dari jiwa-jiwa rendah. Lemah Abang merupakan perlambang penyucian jiwa tanah dari kuasa nafsu-nafsu rendah bendawi. Lantaran itu, dengan jiwa tanah yang suci itu, aku berharap akan lahir adimanusia (insan kamil) yang lepas dari ikatan kuat jiwa bumi.”

“Apakah itu berarti nama Lemah Abang terkait dengan penyucian nafs al-Ammarrah yang berwarna merah?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra ganti mengerutkan kening heran.

Abdul Jalil mengangguk, “Ya. Sederhana sekali, ‘kan,?”

“Kenapa Tuan Syaikh memilih perlambang nafs al-Ammarrah?” Syaikh Jumad al-Kubra minta penjelasan. “Bukankah masih ada nafs lain yang juga harus disucikan?”

“Sesungguhnya, tempat-tempat yang akan aku buka untuk menyampaikan Kebenaran bukan hanya akan dinamai Lemah Abang. Aku sudah merencanakan untuk membuka tempat-tempat baru yang disebut Lemah Ireng (tanah hitam), Lemah Putih (tanah putih), dan Lemah Jenar (tanah kuning). Ketiga nama terakhir itu mengandung perlambang nafs al-Lawwammah (hitam), nafs al-Muthma’inah (putih), dan nafs as-Sufliyah (kuning),” ujar Abdul Jalil.

“Kenapa Tuan Syaikh harus menyucikan tanah? Adakah rahasia di balik itu? Bukankah menyucikan tanah itu tidak dikenal dalam ajaran Islam?”

“Sesungguhnya, aku hanya mengikuti tata cara yang sudah pernah dilakukan orang-orang di masa silam yang pernah hidup di Nusa Jawa. Mereka menyebut penyucian tanah dengan istilah bhumisoddhana.”

“Bhumisoddhana? Upacara apa itu?”

“Sejak masa purwakala, para orang tapa waskita yang datang dari berbagai negeri sudah melakukan penyucian tanah Nusa Jawa dalam upaya menentukan tempat yang hak untuk berpijak bagi manusia. Karena itu, tempat yang hak itu dibatasi oleh dharma (anusuk). Tetapi, apa yang aku lakukan bukan sekadar menyucikan tanah yang disebut bhumisoddhana, melainkan juga menyucikan anasir tanah yang membentuk tubuh manusia yang disebut bhuta-suddhi,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Berarti sebelum ini sudah ada orang yang melakukannya?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra.

“Yang aku ketahui, manusia yang untuk kali pertama melakukan penyucian terhadap tanah Nusa Jawa adalah Dang Hyang Semar, seorang nabi dari zaman purwakala. Setelah itu secara berturut-turut bhumisoddhana dilakukan oleh Rishi Agastya putera Varuna, Prabu Isaka putera Prabu Anggajali, Prabu Writhikandayun putera Rishi Kandiawan, Rishi Trenawindu putera Rishi Agasti, Aryya Bharad dari Lemah Citra, Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, Sang Pranajaya dari Tumapel, dan Pu Gajah Mada Mahapatih Majapahit,” kata Abdul Jalil.

“Apakah para tapa itu juga menggunakan sarana-sarana sebagaimana yang Tuan lakukan?”

“Ya,” sahut Abdul Jalil. “Menurut ibunda asuhku, Nyi Indang Geulis, sarana yang digunakan oleh beliau-beliau itu untuk menyucikan tanah Nusa Jawa meliputi lambang-lambang yang terkait dengan empat macam warna (catur warna) yaitu hitam, kuning, merah, dan putih.”

“Apakah warna-warna itu harus dikaitkan dengan tanah?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra.

“Tidak selalu tanah,” jawab Abdul Jalil. “Ada yang melambangkan warna merah dengan api sehingga mereka melakukan upacara agni hotra di sejumlah tempat. Ada yang melambangkan warna merah dengan darah sehingga mereka melakukan upacara darah. Tetapi, sesuai petunjuk ibunda asuhku, cara yang aku lakukan untuk menyucikan jiwa Sang Bhumi yang kesuburannya dipuja manusia adalah dengan lambang-lambang yang terkait dengan wahana dari Sang Kesuburan, Bhattari Sri, yang dilambangkan dalam wujud empat jenis burung, yaitu kitiran (perkutut), puter, wuru-wuru spang (deruk merah), dan dara wulung (merpati hitam).”

“Menurut perlambang purwakala, dari burung kitiran memancar wija ‘Ong’ dari Hakini Shakti yang mengejawantah dalam perwujudan benih putih (beras). Dari burung puter memancar wija ‘Wang’ dari Waruna yang mengejawantah dalam perwujudan benih kuning (kunyit), Penguasa perairan yang bersemayam di atas makara putih. Dari burung wuru-wuru spang memancar wija ‘Rang’ dari Agni yang mengejawantah dalam perwujudan benih merah (jawawut). Dari burung dara wulung memancar wija ‘Lang’ dari Prthiwi yang mengejawantah dalam perwujudan benih hitam (ketan ireng). Keempat wahana Bhattari Sri itu, menurut ibundaku, adalah lambang Prthiwi (tanah), Apah (air), Agni (api), dan Bayu (angin). Jika keempat jiwa bumi yang menjadi wahana Bhattari Sri tersebut sudah tersingkap maka akan terbit Akasha, yaitu anasir kelima yang melambangkan hakikat sejati dari jiwa Sang Bhumi yang merupakan pengejawantahan Paramakhasa-rupi (Akasha Agung).”

“Jika Tuan bertanya kenapa aku melakukan penyucian bumi yang tidak lazim dilakukan orang Islam? Pertama-tama akan aku beritahukan kepada Tuan bahwa alasan utamaku melakukan penyucian tanah adalah demi keselamatan manusia-manusia penghuni negeri berpulau-pulau di tengah samudera ini. Sebab, menurut hadits Rasulullah Saw., sebelum Adam a.s., leluhur manusia dicipta dari tanah, dunia ini dihuni oleh Banu al-Jann yang dicipta dari api beracun. Mereka itu, menurut dalil-dalil Kitab Suci, suka berperang dan menumpahkan darah sesamanya. Saat Adam a.s. akan diturunkan ke dunia, Banu al-Jann diusir ke tempat-tempat di tengah samudera raya. Karena itu, Nusa Jawa dan pulau-pulau lain di tengah samudera pada akhirnya dihuni oleh Banu al-Jann. Sebagaimana Sang Iblis yang tidak senang dengan kehadiran makhluk baru yang disebut Adam a.s., demikianlah puak-puak Banu al-Jann sangat tidak senang dengan anak keturunan Adam a.s. ke tempat-tempat yang mereka huni. Tidak berbeda dengan Sang Iblis, Banu al-Jann menganggap Adam a.s. dan keturunannya sebagai makhluk yang lebih rendah derajatnya, sebagaimana manusia memandang binatang. Pada saat-saat tertentu mereka melakukan perburuan untuk memangsa manusia. Jadi, usahaku melakukan penyucian jiwa tanah, salah satu alasannya adalah bertujuan membentengi manusia dari pengaruh keganasan Banu al-Jann.”

“Alasan yang lain, Sang Bhumi adalah pengejawantahan aspek keibuan dari Brahman yang mencipta dan memberi makan dunia (Shri-mata). Sebagaimana hukum kehidupan, Sang Bhumi wajib memberi apa yang harus diberi dan sekaligus berhak meminta apa yang harus diminta. Karena itu, siapa di antara makhluk penghuni bumi yang paling banyak mengambil keuntungan dari bumi maka dia wajib mempersembahkan lebih banyak kepada Sang Bhumi. Dengan begitu, bagi manusia yang menjadi pemuja dan pendamba bumi, mereka akan menjadi hamba dari bumi. Mereka itulah yang harus memberi persembahan darah kepada Ibunda Prthiwi yang selalu haus darah dan madhu,” kata Abdul Jalil.

“Adakah keterkaitan makna rahasia di balik empat macam warna penyucian bumi?”

“Semua tergantung keyakinan. Jika orang menganggap tidak ada kaitan antara sarana-sarana yang aku tebarkan dengan tawarnya pengaruh jahat Banu al-Jann dan meredanya kehausan darah Sang Prthiwi, maka hal itu sah saja. Tetapi, bagi padanganku pribadi, apa yang aku lakukan dalam penyucian tanah itu dapat disandarkan pada peristiwa yang pernah dilakukan Rasulullah Saw. saat menempatkan bunga kurma di atas kuburan seseorang. Saat itu beliau bersabda, sebelum bunga itu kering maka ahli kubur yang ada di kuburan itu terhindar dari siksa malaikat. Bagi mereka yang belum terbuka, tidak mempercayai bahwa bunga kurma dapat menghentikan tindakan malaikat penyiksa di alam kubur. Mereka akan menganggap hadist itu palsu. Karena itu, bagiku, masalah itu hanya bisa dipandang dari sudut keyakinan dan mata batin. Orang boleh percaya dan boleh juga tidak. Demikian juga dengan apa yang aku lakukan dalam upaya membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat-tempat Sang Bhumi dipuja dengan menggunakan tu-mbal manusia, boleh dipercaya dan boleh pula tidak,” ujar Abdul Jalil menegaskan.

“Aku percaya dengan apa yang Tuan Syaikh lakukan,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

Samudera Pasifik (MV. Taho) 20 April 2007, 08:25LT

06. Caturbhasa Mandala

Semakin sering berbincang-bincang, semakin besar rasa ingin tahu Syaikh Jumad al-Kubra untuk mengetahui pandangan-pandangan dan gagasan Abdul Jalil dalam melakukan perubahan. Pada pertemuan berikut, tanpa basa-basi dia langsung bertanya tentang hal-hal yang terkait penyucian bumi. “Jika boleh tahu, kenapa Tuan Syaikh mendahulukan penyucian nafs al-Ammarrah dari tanah?” “

Sebab, Banu al-Jann tinggal di dalam perut bumi. Asal Tuan tahu, perut bumi ini sebagian berupa air dan sebagia lagi berupa api yang berwarna merah menyala. Almarhum Ario Damar Adipati Palembang pernah mengajakku masuk ke perut bumi mengunjungi puak-puak dari Banu al-Jann. Mereka tinggal di bagian api yang merah menyala. Karena itu, jika mereka keluar ke permukaan bumi maka lazimnya melalui kawah gunung berapi, gua-gua, atau setiap lubang yang terhubung dengan perut bumi. Sebagaimana lahar gunung berapi yang berbahaya, nafs al-Ammarrah perlambang api dari Sang Bumi harus disucikan terlebih dulu. Di Nusa Jawa, para tapa yang waskita sudah mengetahui sejak lama bahwa anasir api dari Sang Bhumi telah menjadi penyebab utama dari tumpahnya darah manusia-manusia. Lantaran itu, jika anasir api sebagai perlambang nafs al-Ammarah dari Sang Bhumi tidak didahulukan penyuciannya, aku khawatir manusia-manusia penghuni Nusa Jawa akan segera habis dimangsa Banu al-Jann yang merupakan salah satu aspek pengejawantahan Sang Maut,” jelas Abdul Jalil.

“Tapi Tuan Syaikh, bukankah perlambang-perlambang nafs itu sejatinya hanya menyangkut pencerahan jiwa manusia?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra belum paham dengan penjelasan Abdul Jalil. “Kenapa Tuan Syaikh menggunakannya untuk bumi, yaitu tempat tinggal manusia? Apakah menurut Tuan Syaikh, bumi itu makhluk hidup yang memiliki jiwa sehingga perlu disucikan jiwanya?”

“Bagiku, semua makhluk memiliki jiwa, apakah mereka bisa bergerak atau tidak. Gumpalan batu, besi, dan makhluk-makhluk tak terbayangkan yang merupakan benda-benda tak bergerak sesungguhnya bukanlah benda mati yang tidak memiliki jiwa. Mereka sesungguhnya hidup dan memiliki jiwa. Sebagian besar di antara mereka malah berasal dari makhluk seperti kita (QS. al-Isra: 49-51), meski benda-benda itu dalam penglihatan mata indriawi kita tidak dapat bergerak dan tidak dapat menyelamatkan diri sendiri (QS. al-Furqan: 3). Tidakkah Tuan Syaikh mengetahui jika gunung-gunung yang tidak bergerak itu sejatinya bertasbih kepada Allah, sebagaimana burung-burung bertasbih kepada Allah (QS. al-Anbiya’: 79; Shad: 18)?”

“Di dalam pandanganku, meski benda-benda tak bergerak itu tidak dapat mengusahakan keselamatan diri sendiri, mereka dapat mempengaruhi jiwa manusia. Kekuatan jiwa yang memancar dari benda-benda itu dapat mempengaruhi kesadaran manusia sehingga manusia terikat untuk mencintai dan memuliakan mereka secara berlebihan. Tidak kurang di antara manusia harus saling bunuh akibat kecintaan berlebih terhadap benda-benda tak bergerak tersebut. Bahkan, tidak kurang manusia yang keblinger kiblat imannya karena mempertuhankan mereka,” kata Abdul Jalil.

“Tentang dalil-dalil yang Tuan Syaikh kemukakan, aku sudah tahu. Tentang pengaruh benda-benda mati terhadap jiwa manusia pun aku sudah tahu. Tapi dalam kenyataan, aku belum beroleh pencerahan ruhani untuk bisa mempersaksikan Kebenaran Sejati di balik dalil-dalil tersebut dengan mata batin. Aku mohon petunjuk dan bimbingan dati Tuan Syaikh agar aku dapat mencapai maqam itu. Aku yakin Tuan Syaikh pasti sudah mencapai maqam tersebut. Sebab, guru kami, almarhum Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi, tidak akan memerintahkan aku untuk menyampaikan taj kepada Tuan Syaikh jika maqam ruhani Tuan Syaikh lebih rendah dari beliau,” kata Syaikh Jumad al-Kubra merendah.

Mendengat kata-kata Syaikh Jumad al-Kubra yang bernada memuji dan meninggikan dirinya, Abdul Jalil mengalihkan pembicaraan seolah-olah tak mendengarnya, “Jika Tuan pernah membaca kisah perjalanan Isra’ wa Mi’raj yang dilakukan Nabi Muhammad Saw, Tuan Syaikh akan mendapati satu kisah perjumpaan beliau dengan Sang Bhumi (ad-dunya’) yang digambarkan sebagai seorang perempuan tua bangka tak berdaya. Kenapa dalam kisah itu Nabi Muhammad Saw. menyaksikan Sang Bhumi sebagai perempuan tua bangka tak berdaya? Menurut hematku, penglihatan beliau adalah penglihatan seorang Rasulullah, yang tidak pernah tertarik dengan gemerlap duniawi. Itu adalah penglihatan ruhaniah seorang manusia agung yang tercerahkan kesadarannya dan menyaksikan segala sesuatu di sekitarnya dengan mata batin yang cemerlang. Sehingga, keberadaan dunia dipandangnya seperti sosok perempuan tua bangka tak berdaya.” “

Sebaliknya, bagi para petani, para pemuja kesuburan, dan para pecinta kehidupan duniawi yang hidupnya bergantung pada kekayaan dan kesuburan bumi, Sang Bhumi dilihatnya sebagai Ibunda Agung, gudang keindahan yang tiada tara, pinggangnya ramping, payudaranya ranum, pinggul dan pahanya mekar, merangsang harapan keibuan yang tak terbatas (Lalitasahasranama sargha 79), bumi yang subur tempat bagi manusia bersandar hidup, baik di kala lahir maupun mati. Asal dari ibu bumi akan kembali ke ibu bumi. Itulah keyakinan mereka yang diwariskan dari keturunan satu ke keturunan yang lain. Keberadaan Sang Bhumi, pemilik kesuburan itu, digambarkan oleh pemujanya seperti ini: Dia, Ibunda Prthiwi, melulurteguhkan yang membangkitkan semangat, sekali lagi dan sekali lagi, dia tertawa dengan mata merah padam berkilat dan mengucapkan bahasa ruh yang tak terpahami dengan bibir berlepotan darah dan madhu yang diminumnya (Markandeyapurana sargha 83). Itulah gambaran Sang Bhumi, Ibunda Prthiwi, sang peminum darah dan madhu yang sejak zaman purwakala sudah disembah oleh penduduk Nusa Jawa.”

“Sungguh luar biasa kedahsyatan Dewi Bhumi yang disembah penduduk negeri ini. Sungguh aku takjub dengan kehebatan Tuan Syaikh yang ingin menutup tempat-tempat pemujaan Sang Bhumi melalui dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Lemah Jenar,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

“Perlu Tuan ketahui, aku tidak punya hak untuk menutup tempat pemujaan apa pun. Aku hanya berupaya untuk membuat tawar pengaruh darah dan mayat pada tempat-tempat Sang Bhumi dipuja baik melalui bhumisoddhana maupun bhutasuddhi. Tempat-tempat yang disebut Kabhumian (Kebumen), Patanahan, Palemahan, Dara, dan ksetra-ksetra adalah tempat-tempat para perawan (dara) dipersembahkan sebagai korban sembelihan. Hatiku tidak cukup kuat untuk menyaksikan upacara semacam itu dilakukan orang di sekitarku. Jiwaku tidak bisa berdiam diri membiarkan pembunuhan-pembunuhan atas nama kepercayaan terhadap Sang Bhumi. Selain itu, ibunda asuhku, Nyi Indang Geulis, memang memintaku untuk berjuang keras mengakhiri upacara korban manusia itu. Dan, yang paling penting, Syiwa sendiri telah berkehendak untuk menyingsingkan wajah-Nya yang menakutkan (Bhairawa) untuk digantikan dengan wajah-Nya yang memancar penuh kasih sayang (Shankara). Syiwa telah menetapkan bahwa untuk bertemu dengan-Nya, para pemuja-Nya dapat menjumpai-Nya di mana saja karena Dia berada di dalam diri manusia yang memahami Kulatattwa.”

“Karena itu, tugas utamaku sebagai ulama pewaris Nabi Saw. di tengah perubahan ini, selain menyampaikan kepada penduduk Nusa Jawa kabar Kebenaran Tauhid Islam, mengubah nilai-nilai lama yang sudah tidak sesuai dengan nilai-nilai baru seiring tuntutan zaman, aku juga berkewajiban mengakhiri secara bijaksana pembunuhan-pembunuhan manusia untuk upacara keagamaan. Salah satu upaya yang mampu kulakukan adalah mengusahakan suatu ikhtiar dengan membuat tawar daya shakti yang memancar dari ksetra-ksetra dan tempat-tempat pemujaan Sang Bhumi yang mengerikan itu. Jadi, yang aku lakukan hanya membuat tawar daya shakti. Sekali-kali tidak menutup. Munculnya dukuh-dukuh Lemah Abang sesungguhnya baru pada perintisan belaka dari usahaku tersebut. Aku masih butuh waktu lama dan dukungan dari semua pihak untuk menjalankan tugas berat itu, sampai terbentuknya Dukuh Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Lemah Jenar,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Subhanallah,” gumam Syaikh Jumad al-Kubra takjub. “Rupanya guru kami Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi sudah mengetahui tugas rahasia Tuan Syaikh yang begitu berat. Rupanya beliau tahu tajdid yang Tuan jalankan itu lebih dari sekadar mengubah tatanan kehidupan manusia. Itu sebabnya, beliau memerintahkan kami untuk menyampaikan taj dan ikut serta terlibat dalam perubahan yang Tuan lakukan. Terimalah taj ini sebagai penghormatan dari guru suci kami Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi.”

“Guru ruhani Tuan, Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi, memang seorang arif yang waskita,” sahut Abdul Jalil menerima taj dari tangan Syaikh Jumad al-Kubra. “Tetapi, tentang pembicaraan kita tadi hendaknya tetap Tuan rahasiakan kepada yang tidak berhak mengetahui. Tentang taj pemberian guru suci Tuan, hendaknya Tuan rahasiakan juga.”

“Itu sudah pasti, Tuan Syaikh,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan mata berbinar menyiratkan kegembiraan. “Sejak di Malaka, ya, sejak di Malaka, aku sudah mendengar tentang Nusa Jawa yang masih dihuni oleh pemuja berhala yang suka minum darah dan mengorbankan manusia untuk santapan bhairawa-bhairawi sesembahannya. Aku sendiri sangat tertarik mendengar cerita itu. Karena itu, salah satu kehadiranku di Nusa Jawa ini selain mencari sang mujaddid untuk menyampaikan taj, juga untuk menyebarkan ajaran Kebenaran Islam kepada penduduk. Ternyata, atas kehendak Allah kita dipertemukan. Karena itu, sesuai amanat almarhum guru kami dan dorongan jiwaku, aku berharap Tuan memperkenankan aku untuk berjuang bahu-membahu bersama dalam menata kehidupan baru umat manusia di Nusa Jawa ini.”

“Sungguh aku sangat bergembira jika Tuan Syaikh hendak bergabung dengan kami. Tetapi, perlu aku beri tahukan kepada Tuan Syaikh bahwa dalam hal Tauhid orang-orang di Nusa Jawa sudah sangat paham secara mendalam. Sebab, sejak zaman purwakala mereka sudah menganut ajaran Tauhid, baik yang mereka sebut Kapitayan maupun ilmu Tauhid yang mereka istilahkan Adwayashastra. Mereka juga bukan kawanan orang bodoh yang puas dan percaya begitu saja dengan penjelasan dalil-dalil naqli yang beku. Bahkan, sejumlah pendeta Syiwa-Budha yang menjadi pengikutku dengan mudah dapat mengikuti sistem bepikir yang kuajarkan. Padahal, sistem berpikir yang kuajarkan itu hanya lazim digunakan di kalangan cendikiawan Baghdad,” ujar Abdul Jalil menegaskan.

“Aku akan selalu ingat-ingat petunjuk Tuan,” kata Syaikh Jumad al-Kubra. “Tapi, ada satu hal yang ingin aku peroleh dan perkenan Tuan Syaikh.”

“Apa itu?”

“Karena pembukaan dukuh-dukuh seperti Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Lemah Jenar masih butuh waktu lama sampai selesainya pembukaan dukuh-dukuh Lemah Abang, bagaimana jika Tuan mengijinkan aku untuk mengambil bagian dalam pembukaan dukuh-dukuh tersebut. Aku siap mengorbankan jiwa dan raga untuk menyelesaikan tugas mulia tersebut,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

“Jika demikian, aku sarankan sebaiknya Tuan membuka tempat-tempat bernama Lemah Putih. Aku akan menemui Prabu Satmata untuk membicarakan hal itu.”

“Prabu Satmata? Siapakah dia?”

“Prabu Satmata adalah khallifah Giri Kedhaton. Dia putera saudara sepupu Tuan, Syaikh Maulana Ishak. Dia keturunan Sayyid Amir Ahmad Khan Jalaluddin seperti kita. Dia seorang pengamal Tarekat Ni’matullah. Almarhum ayahandanya, Syaikh Maulana Ishak, adalah mursyid Tarekat Ni’matullah yang tinggal di Pasai. Sekarang ini yang menggantikan Syaikh Maulana Ishak sebagai mursyid di Nusa Jawa adalah Prabu Satmata,” kata Abdul Jalil.

Keinginan Syaikh Jumad al-Kubra untuk bahu membahu dengan Abdul Jalil dalam upaya membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi, ternyata berkaitan dengan rencana Raden Kusen sang penguasa tiga kadipaten (Terung-Bubat-Surabaya) untuk menutup ksetra-ksetra di wilayah kekuasaannya. Rupanya, berbeda pandang dengan orang-orang yang mengaitkan peristiwa-peristiwa aneh di pedalaman dan amuk yang dilakukannya dengan tulah Sang Naga Shesa, Raden Kusen justru memandang hal tersebut berasal dari kelalaiannya dalam menjalankan amanat guru yang dimuliakannya, Raden Ali Rahmatullah Susuhunan Ampel Denta.

Beberapa hari sebelum wafat Raden Ali Rahmatullah telah menyampaikan wasiat agar para putera, dan muridnya berusaha secara bijak mengakhiri upacara pengorbanan manusia di wilayah kekuasaan mereka masing-masing. Ternyata, sampai setahun wafatnya Raden Ali Rahmatullah, amanat itu belum juga dijalankan. Lantaran itu, terjadinya peristiwa buruk itu oleh Raden Kusen dianggap sebagai peringatan dari gurunya. Dengan pandangan seperti itu, Raden Kusen bertekad menjalankan amanat tersebut. Di depan para putera Raden Ali Rahmatullah, Prabu Satmata, Khalifah Husein, Yusuf Siddhiq, dan Arya Bijaya Orob, dia dengan tegas akan membuat ketetapan untuk menutup ksetra-ksetra di wilayah kekuasannya. Ksetra yang pertama-tama ditutup adalah Ksetra Nyu Denta (Jawa Kuno: Kelapa Gading) yang terletak sekitar lima yojana di sebelah timur Masjid Ampel Denta.

Abdul Jalil yang menangkap tengara tidak baik sebagai akibat penutupan ksetra itu tidak bisa berdiam diri dan berusaha keras mencegah pelaksanaan rencana tersebut. Tanpa menunda waktu, di depan para peserta pertemuan, Abdul Jalil mengemukakan pandangan bahwa kebijakan menutup Ksetra Nyu Denta tidak bisa dilakukan oleh seorang penguasa kadipaten karena akan menimbulkan akibat buruk yang tidak diinginkan.

Dengan suara direndahkan tetapi tegas, ia berkata, “Kami yakin, kebijakan mengakhiri upacara korban manusia itu adalah mulia. Kami juga yakin amanat almarhum saudara kami Raden Ali Rahmatullah bukanlah tindakan menutup ksetra-ksetra secara langsung berdasar ketetapan penguasa kadipaten. Sebab, sepengetahuan kami, Paduka Susuhunan sangat tidak menyukai hal-hal yang bersifat kekerasan. Kami sangat yakin di alam kuburnya dia akan kecewa jika ada keluarga atau murid yang menutup ksetra berdasar wewenang seorang adipati.”

“Kenapa kami katakan dia kecewa dengan cara itu? Sebab kalau ia memilih cara langsung seperti itu, tentunya sebagai raja Surabaya ia sudah melakukannya sejak lama. Kenyataannya, ia membiarkan Ksetra Nyu Denta seperti adanya. Jadi, menurut kami, yang ia inginkan adalah mengakhiri upacara korban manusia, sekali-kali bukan sekadar menutup ksetra. Sebab, upacara-upacara korban manusia tidak selalu dilakukan di ksetra. Di tempat pemujaan Sang Bhumi, di bangunan-bangunan besar yang butuh wadal, di tempat-tempat orang mencari pesugihan, bahkan saat orang mengamalkan ilmu kadigdayan pun korban manusia bisa dilakukan. Karena itu, kami kurang sepakat jika Yang Mulia Adipati Bubat akan membuat ketetapan menutup ksetra-ksetra di wilayah kekuasaannya. Hal itu tidak saja akan menyulut kekisruhan besar akibat perlawanan para pendeta, penduduk sekitar, dan ‘penguasa ksetra’, tetapi yang terpenting, ketetapan itu tidak mengakhiri kebiasaan korban manusia.”

Raden Kusen menarik napas berat dan mengangguk-angguk. Dia bisa menerima pandangan Abdul Jalil, namun dia tidak memiliki pilihan lain untuk menjalankan amanat gurunya tercinta itu. Akhirnya, setelah termenung lama dia bertanya kepada Abdul Jalil, “Aku memang sudah memikirkan tentang kemungkinan itu. Tetapi, apa yang harus aku lakukan untuk memenuhi wasiat guruku? Adakah engkau memiliki jalan keluar agar kami dapat memenuhi wasiat terakhirnya?”

“Beberapa hari lalu kami telah memperbincangkan usaha-usaha membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi dengan Yang Mulia Pangeran Arya Pinatih di Giri Kedhaton. Malahan, sore tadi kami juga memperbincangkan masalah yang sama dengan saudara kami, Syaikh Jumad al-Kubra. Ternyata, sekarang ini Paman akan melaksanakan penutupan ksetra-ksetra sesuai amanat almarhum saudara kami. Itu berarti, Allah telah mengatur semuanya. Maksud kami, amanat menutup ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi itu tetap akan kita jalankan, namun tidak melalui cara menutup berdasar titah adipati, sebaliknya dengan cara membuat tawar daya shaktinya. Kami yakin, jika ksetra-ksetra sudah kehilangan daya shakti maka ia akan ditinggalkan orang. Dengan begitu, tanpa ditutup pun ksetra itu akan dilupakan orang. Cara ini memang butuh waktu, namun bisa menghindari kemungkinan kisruh,” kata Abdul Jalil.

“Apakah engkau akan membuat tempat seperti Lemah Abang di dekat Ksetra Nyu Denta?”

“Bukan hanya Lemah Abang, Paman. Kami juga berencana membuka tempat-tempat bernama Lemah Putih, Lemah Ireng, dan Lemah Jenar,” kata Abdul Jalil.

“Lemah Abang, Lemah Putih, Lemah Ireng, dan Lemah Jenar?” gumam Raden Kusen dengan kening berkerut. Dia diam beberapa jenak. Sejurus kemudian dia berkata, “Apakah itu bermakna engkau akan mendirikan caturbhasa mandala? Apakah itu berarti engkau akan mendirikan empat wilayah lemah larangan (tanah terlarang)?”

“Tepatnya memang demikian, Paman,” Abdul Jalil terhenyak karena kerangka pikirannya telah ditebak oleh Raden Kusen. Setelah termangu sejenak ia menjelaskan, “Tetapi, tempat-tempat yang kami dirikan bukan hanya di empat tempat sebagaimana caturbhasa mandala yang didirikan Bhattara Parameswara di Sagara, Sukayajna, Kukub, dan Kasturi. Caturbhasa mandala yang kami dirikan itu akan kami pilih letaknya di sejumlah ‘titik rawan’ di Nusa Jawa. Dan melalui tempat-tempat itu, insya Allah, daya shakti ksetra-ksetra akan tawar sehingga pada akhirnya tidak akan ada lagi pembunuhan terhadap manusia sebagai upacara persembahan kepada bhuta dan kala.”

“Tapi, kalau engkau mau membuat caturbhasa mandala dan lemah larangan di banyak tempat, siapa yang akan menjadi penjaganya? Siapakah yang akan menjadi Nawadewata? Siapa yang akan engkau tunjuk sebagai lambang Wisynu, Sambhu, Iswara, Rudra, Brahma, Maheswara, Mahadewa, Sangkhara, dan Paramasyiwa?”

“Kami belum bisa menentukan siapa saja mereka itu. Tetapi, kami sudah membicarakan masalah tersebut dengan almarhum saudara kami, Raden Ali Rahmatullah, dan Prabu Satmata serta Adipati Demak tentang perlunya dibentuk suatu Majelis Guru Suci (Syura al-Masyayikh) untuk mempersatukan dan sekaligus menjadi naungan ruhani bagi kadipaten-kadipaten di Nusa Jawa. Maksudnya, melalui Majelis Guru Suci yang merupakan lambang Nawadewata itulah kita dapat menyatukan semua kekuasaan yang terpecah-pecah,” jawab Abdul Jalil.

Raden Kusen tertawa terbahak-bahak sampai tubuhnya terguncang-guncang. Dia merasa geli mendengar gagasan Abdul Jalil. Setelah rasa gelinya berkurang, dia berkata sambil tersenyum, “Majelis Guru Suci? Majelis Susuhunan, maksudmu? Apakah itu bukan perbuatan musyrik, menempatkan manusia sebagai jelmaan Tuhan?”

“Justru dengan gagasan caturbhasa mandala, lemah larangan, dan Majelis Guru Suci sebagai lambang Nawadewata itu, kami ingin mengubah gagasan lama ke gagasan baru yang berdasar Tauhid,” kata Abdul Jalil.

“Maksudmu?”

“Lambang Nawadewata sebagai penjaga caturbhasa mandala dan lemah larangan akan kami ubah menjadi Majelis Guru Suci yang sembilan, yang disebut Wali Songo, yaitu sembilan sahabat Tuhan. Itu berarti, dari sisi Tauhid para guru suci yang tergabung di dalam Wali Songo bukan lagi berkedudukan sebagai jelmaan Guru Suci yang bersthana di Kailasa, yaitu Syiwa, melainkan hanya sebagai sembilan orang sahabat Tuhan. Lantaran itu, di saat para guru suci yang menjadi anggota Wali Songo itu wafat, kuburnya tidak akan dipuja dan disembah orang. Sementara dari sisi kekuasaan duniawi, para raja yang selama ini dianggap sebagai dewaraja (tuhan) akan berubah kedudukannya karena secara ruhani mereka berada di bawah Majelis Wali Songo,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Ah, aku paham sekarang,” kata Raden Kusen manggut-manggut. “Gagasan tentang Majelis Guru Suci yang disebut Wali Songo, kalau tidak salah, adalah kelanjutan dari gagasanmu yang mengubah gelar Buyut menjadi Ki Ageng dan gelar Rama menjadi Ki Lurah. Kalau itu, aku setuju. Sebab, bagiku, yang penting di atas perubahan adalah alasan-alasan yang berdasar Tauhid. Tapi, siapa kira-kira yang engkau anggap pantas menempati kedudukan pemimpin Wali Songo yang dalam gagasan Nawadewata itu berkedudukan sama dengan Paramasyiwa?”

“Prabu Satmata, Ratu Giri Kedhaton yang sudah dikenal penduduk sebagai titisan Sang Girinatha.”

“Itu bagus sekali. Aku setuju. Aku berharap dengan gagasan itu, perubahan besar akan cepat terjadi di tengah jungkir baliknya tatanan kehidupan di negeri ini. Tetapi, ada satu hal yang perlu engkau jelaskan tentang mandala-mandala yang bakal engkau dirikan itu. Bagaimana caramu meyakinkan penduduk bahwa mandala-mandala tersebut memang sebuah mandala dan bukan hunian biasa?” tanya Raden Kusen ingin tahu.

“Kami akan menandai tiap mandala yang kami dirikan dengan aturan ketat yang wajib dipatuhi oleh penghuninya. Maksud kami, kami akan mendirikan dukuh-dukuh yang semua penduduknya menjalankan syari’at Islam secara ketat, terutama dalam hal berpakaian, berpantang makanan dan minuman, berpantang dalam bertindak asusila, bersikap hidup luhur, dan sebagainya,” kata Abdul Jalil.

“Menjalankan syari’at Islam secara ketat sebagai tanda mandala-mandala? Aku belum paham maksudmu. Ini membingungkan.”

“Maaf, Paman. Paman pasti telah paham bahwa sudah ditetapkan peraturan di dalam Satyabrata dan Yamabrata Silakrama tentang peraturan hidup para wiku yang ketat. Sepanjang yang kami ketahui, peraturan-peraturan untuk para wiku tersebut sangat mirip dengan syari’at Islam,” jelas Abdul Jalil.

“Mirip bagaimana?” sergah Raden Kusen. “Aku tidak pernah membandingkan peraturan hidup para wiku dengan syari’at Islam. Jadi, jelaskan kepada kami supaya kami paham.”

“Dalam hal berpakaian, para penghuni caturbhasa mandala yang kami dirikan akan kami perintahkan untuk mengikuti peraturan yang berlaku bagi para wiku, yaitu berkepala gundul (amundi), menutupi kepala dengan destar (adestar), memakai surban (abebed sirah), berkopiah tarbus besar (aketu agung). Tapi, agak sedikit berbeda dengan para wiku, dalam hal berpakaian (bhusana), para penghuni mandala kami hanya menggunakan kain penutup bagian tubuh atas (dodot), sekali-kali mereka tidak menggunakan hiasan-hiasan dari emas dan perak, kecuali memakai aksamala, yaitu kalung dari untaian buah genitri sebagai biji tasbih. Kami kira, dalam hal tata cara berpakaian, peraturan yang diikuti oleh para wiku sama sekali tidak bertentangan dengan hukum Islam. Sedangkan yang sangat membedakan antara para wiku dan para penghuni mandala yang kami dirikan terletak pada penyebaran tata cara berpakaian. Jika para wiku mengenakan pakaian itu untuk kalangan mereka maka bagi pengikut kami pakaian itu akan dijadikan pakaian resmi penduduk sekitar mandala tanpa memandang apakah mereka itu wiku atau sekadar orang dari kalangan sudra papa.”

“Sementara itu, dalam hal menjalankan pantangan-pantangan terhadap makanan dan minuman, para penghuni mandala akan kami wajibkan menjalani keberpantangan makanan dan minuman sebagai seorang wiku berpantang, yaitu pantang memakan babi peliharaan (celengwanwa), anjing (sona), kucing (kuwuk), tikus, ular (ula), harimau (macan), kukur (ruti), kalajengking (teledu), hewan merayap (galing), musang (rase), kera (wre), kera hitam (lutung), tupai (wut), katak besar (wiyung), kadal (dingdang kadal), burung buas (krurapaksi), burung bulu hitam (nila paksi), kakaktua (atat), beo (siyung), jalak, hewan berjari lima, hewan yang hidup di dalam tanah (bhuhkrim), ulat tanah (kutisa), hewan dan cacing kecil-kecil menjijikkan (pramikimi), lalat (laler), nyamuk (namuk), pijat-pijat (tinggi), kutu (tuma), dan kutu anjing (limpit). Mereka juga kami tekankan untuk menjauhi minuman keras (apaya-paya) dan makanan najis (camah) sebagaimana laku seorang wiku.”

“Dalam kehidupan sehari-hari, para penghuni mandala juga kami wajibkan mengikuti sikap hidup para wiku yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam, yaitu yang bersifat pengendalian diri untuk menyucikan hati (snanawidhi), seperti tidak suka marah (akrodha), tidak rakus (alobha), tidak suka bertengkar (tan awawida), tidak gampang bingung (sammoha), tidak berutang-piutang dengan bunga (rna-rni), tidak mencuri atau mengambil paksa hak orang lain (angalap), tidak memberi makan pencuri (aweh pangan maling), tidak menyuruh mencuri (akon maling), tidak bersahabat dengan pencuri (tan amitra maling), menghindari tindakan tidak mengembalikan barang pinjaman keluarga (anelang drewyaning sanak tan pangulihaken), tidak mengambil hak orang lain secara diam-diam (angutil), tidak merampok (ambegal), tidak singgah di tempat perjudian meski kehujanan dan kepanasan, menjalankan semua pantangan dan larangan (heyepadeva), dan yang terpenting adalah mengendalikan diri dari desakan-desakan ikatan kehidupan duniawi (wyawahara).”

“Sebaliknya, para penghuni mandala harus meniru sikap hidup para wiku, yang menghiasi diri dengan perilaku luhur dan mulia, seperti suka mengampuni (ksama), punya rasa malu (lajja), jujur (satya), tidak menyakiti (ahimsa), murah hati (daya), lurus hati (arjawa), kuat mengendalikan pikiran (dama), tulus lahir dan batin (cauca), suka bersedekah (dana), kuat mengendalikan panca indera (indriya samyana), selalu berpegang pada akhlak (susila) dan kebijaksanaan (jnana), selalu mandi setiap hari untuk membersihkan diri (madyus acuddha sarira), memakai bedak wewangian (bhasma), menyucikan diri dengan air pembasuh (syiwambha), melakukan sembahyang (puja parikrama) tiga kali sehari (trisandya) yaitu pada subuh, tengah hari, dan malam bertasbih memuja Tuhan (mamuja), berdoa (majapa), dan melatih diri menyemayamkan Tuhan di dalam hati (maglar sanghyang anusthana). Bukankah segala apa yang menjadi tatanan hidup para wiku itu jika kita bandingkan dengan ketentuan-ketentuan di dalam syari’at Islam pada dasarnya tidak jauh berbeda?”

“Jadi, Paman, dengan menjalankan hidup sehari-hari berdasar syari’at Islam yang ketat, terutama dalam hal berpakaian, berpantang makanan, menjauhi minuman keras, dan berperilaku luhur dalam hidup sehari-hari, akan memberi kesan kepada penduduk Nusa Jawa bahwa orang-orang yang tinggal di Dukuh Lemah Abang, Lemah Jenar, Lemah Ireng, dan Lemah Putih adalah para wiku yang wajib dimuliakan. Jika di antara penduduk di keempat mandala itu terbukti ada yang melanggar peraturan karena rakus dan sombong, ia akan terkena hukuman seperti hukuman yang dikenakan pada seorang wiku, yaitu dianggap panten. Ia akan dikucilkan (tan wenang tinghalana) dan tidak boleh diajak bicara (sabhasanen). Bahkan, jika tidak mau bertobat juga maka pelanggar itu akan dicambuk dan diusir dari mandala. Sebab, orang semacam itu tidak pantas tinggal di caturbhasa mandala.”

“Selain semua ketentuan di atas, para penghuni caturbhasa mandala juga dibiasakan untuk berpuasa setiap hari Soma (Senin) dan Wrehaspati (Kamis). Dengan begitu, penduduk sekitar akan menganggap mereka sebagai para wiku yang suka berpuasa, pengikut sang purohita para dewa, yaitu wiku suci di swarga: Bhagawan Wrehaspati. Dan yang tak kalah penting, mereka wajib mengabdikan diri pada kehidupan ruhani dan harus bertindak melayani kebutuhan penduduk sekitar sebagaimana yang dilakukan para wiku. Perlu Paman ketahui, peraturan yang sudah kami terapkan di sejumlah Dukuh Lemah Abang selama ini telah menunjukkan hasil menggembirakan. Penduduk di sekitar Lemah Abang mulai meninggalkan praktik-praktik lama yang berhubungan dengan upacara mengorbankan manusia. Mereka mulai menerapkan nilai-nilai keislaman tanpa sadar karena mereka menganggapnya sebagai amaliah dari ajaran para wiku Syiwa-Budha,” ujar Abdul Jalil.

“Jika demikian, apa yang membedakan penduduk dukuh-dukuh yang engkau buka dengan para wiku?”

“Pertama-tama dalam hal mencari nafkah, Paman. Jika para wiku tidak boleh berjual beli (tan adol awlya) maka penghuni dukuh boleh berjual beli. Kedua, semua penduduk dukuh yang berkhitan, sementara para wiku tidak. Ketiga, tata cara bersembahyang Islam yang dilakukan dengan berdiri, rukuk, sujud, dan duduk tasyahud. Keempat, arah kiblat ke Baitullah.”

“Jika memang demikian, aku setuju dengan gagasanmu. Tapi, bagaimana jika nanti ada yang menanyakan tentang nama ajaran yang engkau sampaikan lewat caturbhasa mandala itu? Apakah akan disebut Islam atau madzhab baru Syiwa-Budha?”

“Kami tetap menyebut ajaran Islam, yang bermakna Jalan Keselamatan bagi manusia. Tetapi, sejak semula kami sudah menyampaikan kepada para penghuni dukuh untuk menyatakan bahwa Islam adalah penyempurna Syiwa-Budha. Lantaran itu, jika ada penganut Syiwa-Budha yang menganggap bahwa apa yang kami ajarkan itu adalah suatu madzhab baru dari agama mereka, kami tidak punya hak untuk melarangnya. Sebab yang paling penting bagi kami bukanlah nama dan bentuk rupa suatu ajaran agama, melainkan hakikat Tauhid yang tersembunyi di balik kebenaran agama itulah yang utama,” kata Abdul Jalil tegas.

Laut China Selatan (MV. Taho), 28 April 2007, 17:15LT

07. Mandala Lemah Putih

Setelah gagasan untuk membuat tawar pengaruh daya shakti ksetra-ksetra disepakati melalui pembukaan caturbhasa mandala, Abdul Jalil bersama Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, Ki Waruanggang, Raden Sulaiman, Raden Sahid, Liu Sung, dan para putera Raden Ali Rahmatullah membuka dukuh baru yang terletak antara Ksetra Nyu Denta (kelapa gading) dan Masjid Ampel Denta (bambu gading), yaitu tanah shima (perdikan) Kasyaiwan Batu Putih. Dipilihnya Batu Putih karena tempat itu dulunya adalah sebuah Syiwa prathista (candi) tempat Syiwa dipuja dalam lambang lingga putih dan sudah lebih dari tiga dasawarsa tidak digunakan lagi. Daerah Batu Putih sendiri dijadikan pekuburan keluarga raja Surabaya. Bahkan raja Surabaya pertama, Arya Lembusura, dimakamkan di situ. Satu-satunya hunian dekat dengan Batu Putih adalah Srenggakarana, tempat pelacuran yang terletak barang satu yojana di sebelah selatannya.

Pemilihan tanah shima Batu Putih sebagai dukuh memang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Dalam mendirikan sebuah dukuh, ada larangan bagi para wiku untuk menempati bekas pertapaan, asrama, dukuh, atau tanah pekarangan yang sudah dihuni wiku lain (Imah wus kaprathista), kecuali jika tanah tersebut sudah dua puluh lima tahun ditinggalkan dan tak dihuni lagi. Dukuh-dukuh baru juga tidak diperkenankan berdiri di atas tanah yang sedang digarap petani. Sesuai ketentuan, tanah yang baik untuk mendirikan dukuh adalah tanah angker (Imah abeng), tanah kutukan (carik), lapangan dekat pertanian (patara tanya), tanah tertutup (kuluwuk), dan tanah dekat pembakaran mayat (Smasana). Sebagaimana Dukuh Lemah Abang, penetapan Batu Putih sebagai dukuh pun pada dasarnya sudah memenuhi syarat-syarat mendirikan sebuah dukuh.

Karena sudah dipilih sebagai dukuh, di Batu Putih rencananya akan dibangun sebuah tajug (mushala) dan asrama. Sesuai tugas, Raden Ahmad selaku mursyid Tarekat Kubrawiyyah ditunjuk sebagai penjaga dan pelindung Batu Putih. Karena dukuh Batu Putih bakal dibuka oleh Syaikh Jumad al-Kubra maka Abdul Jalil mengajarkan kepadanya tentang tata cara memasang tu-mbal sebagai bagian dari upaya penyucian jiwa tanah baik yang disebut prascita, bhumisoddhana, dan bhuta-suddhi. Untuk itu, selain mengupas hal-hal terkait dengan perlambang-perlambang tu-mbal dan seluk beluk kehidupan Banu al-Jann di Nusa Jawa, Abdul Jalil secara khusus mengajarkan kepada Syaikh Jumad al-Kubra pengetahuan rahasia tentang bagaimana upaya “membebaskan” jiwa-jiwa manusia yang dijadikan korban sembelihan di ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Prthiwi.

“Jika dengan cara-cara yang sudah aku ajarkan itu Tuan dapat membebaskan jiwa-jiwa mereka dari pengaruh alam dunia ke alam perbatasan (barzakh), maka dengan sendirinya kekuatan daya shakti ksetra-ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi akan menjadi tawar. Kalaupun di situ masih ada sisa daya shakti, itu adalah kekuatan dari makhluk-makhluk purwakala, yaitu para bhuta dan kala dari antara Banu al-Jann yang merupakan kegandaan dari ablasa yang nirwujud. Untuk menghindarinya, Tuan bisa menggunakan doa-doa keselamatan penolak pengaruh jahat Banu al-Jann sesuai tuntunan Rasul Saw.. Berdasarkan pengalamanku membuka dukuh-dukuh Lemah Abang, kurun waktu yang dibutuhkan untuk menyucikan tanah lamanya sekitar 40 hari. Selalma 40 hari itulah kita akan tahu apakah tindakan yang kita lakukan itu berhasil atau gagal,” kata Abdul Jalil.

“Saya akan ingat-ingat semua petunjuk yang telah Tuan ajarkan,” kata Syaikh Jumad al-Kubra takzim.

“Satu hal lagi yang wajib Tuan ingat-ingat dari usaha penyucian ini.”

“Apakah itu?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra ingin tahu.

“Tuan harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan terburuk dari syarat-syarat yang akan diajukan penguasa tanah shima Batu Putih,” tegas Abdul Jalil.

“Syarat-syarat?” gumam Syaikh Jumad al-Kubra mengerutkan kening. “Syarat apa misalnya?”

“Aku belum tahu pasti. Menurut ibunda asuhku, Sang Akasha, pengejawantahan nafs al-Muthma’innah Sang Bhumi, biasanya meminta tebusan jiwa putih yang ikhlas. Maknanya, Tuan akan diminta menjalankan amukti palapa. Yang dimaksud amukti palapa, pertama-tama kita tidak boleh memakan makanan yang berasal dari pajak, upeti, bulu bekti, dan segala sesuatu yang diperoleh dari pemungutan atas hasil tanah. Kedua, kita tidak boleh memakan makanan dengan bumbu-bumbu. Ketiga, kita dan keluarga tidak boleh mengambil manfaat dari perikatan janji kita untuk pamrih duniawi.”

“Bagiku, semua itu bukan hal yang berat untuk dipenuhi oleh manusia tak beranak istri seperti aku.”

“Aku yakin Tuan akan bisa mengatasinya,” kata Abdul Jalil sambil tertawa. “Karena itu, aku ingin menambahkan nama kehormatan bagi Tuan: al-Qalandar, sehingga orang akan menyebut Tuan sebagai Syaikh Jumad al-Kubra al-Qalandar.”

“Aku tidak setuju dengan tambahan nama itu. Justru menurutku, yang sesuai menggunakan nama kehormatan al-Qalandar adalah Tuan, guru suci yang sudah termasyhur memiliki pengetahuan ruhani yang tinggi dan kecintaan yang teguh terhadap-Nya,” sahut Syaikh Jumad al-Kubra.

“Aku setuju dengan nama kehormatan al-Qalandar, namun dengan makna gelandangan tengik yang suka pamer keadaan ruhaninya dengan bertingkah menyimpang.”

“Tuan memang seorang malamit sejati yang pintar menyembunyikan kehebatan diri.”

Mendengar Syaikh Jumad al-Kubra mulai memuji-muji dirinya, Abdul Jalil tak menanggapi ucapannya. Sebaliknya, ia mengalihkan arah pembicaraan. “Karena Tuan baru sekali ini melakukan penyucian tanah, aku mohon Tuan berkenan didampingi sahabatku Ki Waruanggang. Dia seorang bekas pendeta Bhairawa dan sekaligus bekas pemimpin ksetra. Jadi, dalam hal membuka mandala dan membuat tawar daya shakti ksetra, dia lebih paham dan lebih berpengalaman terutama jika terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.”

“Sebenarnya, aku sudah bersyukur dapat ikut serta bahu-membahu dalam tugas suci dan mulia ini. Ini benar-benar pengalaman baru bagiku. Karena itu, aku tentu sangat bergembira didampingi oleh orang yang sudah berpengalaman,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan semangat berkobar-kobar.

Sebagaimana petunjuk Abdul Jalil, dengan bantuan sembilan belas orang jama’ah Masjid Ampel Denta, Syaikh Jumad al-Kubra mulai menjalankan penyucian tanah untuk membuka Dukuh Batu Putih dengan didampingi Ki Waruanggang.

Ketika penyucian tanah Batu Putih dilakukan oleh Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Jalil tinggal di Masjid Ampel Denta bersama-sama Abdul Malik Israil, Raden Mahdum Ibrahim, Ki Tameng, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung. Rupanya, ia belum sampai hati melepas sepenuhnya Syaikh Jumad al-Kubra dalam melakukan penyucian tanah Batu Putih, meski sudah didampingi Ki Waruanggang. Ia menganggap hal itu bukan saja disebabkan Syaikh Jumad al-Kubra baru pertama kali melakukan penyucian tanah, melainkan yang lebih mendasar upacara itu merupakan pembukaan mandala pertama dari Dukuh Lemah Putih. Ia merasa perlu memantau perkembangan penyucian tanah tersebut yang sangat mungkin akan diwarnai peristiwa-peristiwa aneh yang tidak diinginkan.

Sampai memasuki hari keenam tidak terjadi sesuatu yang berarti di Batu Putih. Semua orang berharap keadaan itu bisa berlangsung sampai hari keempat puluh. Tapi, harapan tinggal harapan. Memasuki hari ketujuh terjadi peristiwa tak terduga yang sangat mencekam.

Sejak sore awan-awan tebal berwarna kelabu kehitaman bergumpal-gumpal di langit bagaikan menaungi tanah Batu Putih. Angin yang biasanya berembus keras dari arah pantai tiba-tiba berhenti. Udara mendadak panas. Kabut tebal mangalir dari arah timur dan selatan, menutupi tanah dan sungai. Keadaan di Batu Putih itu terus meluas hingga seluruh kota seolah-olah berselimut kabut. Semakin sore, kabut semakin tebal dan bayang-bayang senjakala datang begitu cepat dan menghilang di balik kegelapan yang menyelimuti kesepian dan kelengangan. Bahkan ketika beduk maghrib di Masjid Ampel Denta ditabuh bertalu-talu, gemanya tidak terdengar jauh, seolah-olah gaungnya tertutupi oleh pekatnya gumpalan kabut yang makin menebal di tengah kegelapan. Suasana senjakala berubah sangat lengang dan mencekam.

Sadar sesuatu bakal terjadi, Abdul Jalil bergegas meninggalkan Masjid Ampel Denta menuju Batu Putih dengan diikuti Abdul Malik Israil, Raden Mahdum Ibrahim, Raden Sahid, Liu Sung, dan Raden Sulaiman. Tetapi, karena permukaan tanah serta sungai tertutup kabut dan perahu tambangan tidak terlihat, mereka terpaksa berjalan ke arah selatan, yaitu ke kawasan Sanbongan, tempat mereka dapat menyeberang ke timur sungai dengan melewati jembatan kecil yang terbuat dari bambu. Dengan bantuan cahaya obor mereka berjalan tersuruk-suruk di tengah gumpalan kabut yang seolah melahap api di ujung obor tersebut. Mereka berusaha secepat mungkin bisa sampai di Batu Putih.

Sementara itu, ketika Syaikh Jumad al-Kubra sedang khusuk dalam doa, Ki Waruanggang yang mendampinginya menangkap sasmita kurang baik terhadap suasana yang sangat aneh dan mencekam itu. Sebagai bekas penguasa ksetra, ia paham suasana itu merupakan pertanda “kehadiran” kekuatan adi-duniawi dari para arwah yang langgeng. Sadar akan hal itu, ia buru-buru meminta Syaikh Jumad al-Kubra dan kesembilan belas jama’ah dari Masjid Ampel Denta untuk tetap berada di dalam “lingkaran” yang sebelumnya telah dibuat oleh Abdul Jalil. Ki Waruanggang sendiri setelah itu terdiam membisu, berusaha menyatukan kiblat hati dan pikiran kepada Kebenaran (al-Haqq) yang tersembunyi di relung-relung jiwanya. Ia melakukan pernapasan kumbhaka dan rechaka, berusaha menajamkan penglihatan mata batin. Saat itu ia benar-benar menangkap suasana aneh yang mencekam. Kesepian yang mencekam. Kesenyapan yang menggigit. Kelengangan yang mengiris. Dan kesunyian yang merajalela.

Tiba-tiba, di tengah kesunyian dan kelengangan yang makin mencekam, kesembilan belas orang jama’ah Masjid Ampel Denta yang sedang mengumandangkan doa di tengah “lingkaran” itu memekik terkejut dan kemudian membisu seperti batu. Mereka gemetar dan meringkuk dengan tangan merangkul kepala. Saat itu mereka melihat pemandangan mengerikan yang membuat darah tersirap.

Di atas angkasa, di tengah kumparan kabut hitam berasap yang bergumpal-gumpal, muncul perwujudan dahsyat yang sebelumnya tidak pernah mereka saksikan: gambaran perwujudan Sang Akasha yang dahsyat dan menggetarkan, mengenakan pakaian serba putih, duduk di atas punggung gajah putih, bertangan empat, yang satu memegang jerat (pasha), yang satu memegang pengait gajah (angkusha), yang lainnya dalam sikap samadhi (mudra). Sekejap kemudian citra Sang Akasha itu menghilang di tengah gumpalan kabut. Tetapi, sekejap pula muncul gambaran perwujudan yang tak kalah menggetarkan, sosok putih, berkepala lima, bermata tiga, berlengan sepuluh, dan di sampingnya berdiri sosok perempuan dahsyat, yang berpakaian kuning, berlengan empat, memegang busur, panah, pasha dan angkusha.

Gambaran perwujudan dahsyat itu terlihat sangat aneh dan menggetarkan. Sesekali citra perwujudan tersebut mendekat seolah-olah jaraknya hanya sejengkal, namun kemudian menjauh seolah melampaui cakrawala. Kadang-kadang diam. Terkadang berputar-putar mengerikan diiringi suara gemuruh bagaikan seribu bukit runtuh. Kesembilan belas jama’ah Masjid Ampel Denta yang melihat pemandangan mengerikan itu tak kuasa lagi menahan gelegak rasa takut dan tegang. Kain mereka basah. Bahkan, dalam hitungan detik mereka sudah berjatuhan. Pingsan. Sementara itu, Syaikh Jumad al-Kubra sendiri, meski sudah khusyuk dalam doa, sangat terkejut dan terguncang menyaksikan pemandangan mengerikan yang terpampang di hadapannya. Belum pernah dia menyaksikan pemandangan yang begitu menggetarkan.

Di tengah keterkejutan dan keterguncangan, Syaikh Jumad al-Kubra mendengarkan perwujudan dahsyat itu berkata dalam bahasa perlambang.

“Inilah aku, Sang Akasha. Akulah Kalachakra. Akulah penguasa keimanan (shraddha), ketenteraman jiwa (santhosa), kasih sayang (sneha), kemurnian (shuddhata), kebebasan (arati), rasa bersalah (aparadha), kemarahan (mana), kesedihan (shoka), kekacauan (sambhrama), kekecewaan (kheda), dan keinginan (urmmi). Siapa pun makhluk yang tidak bernaung di bawah kendali kekuasaanku akan menderita dan sengsara hidupnya. Siapa yang mengingkari akan Aku masukkan ke dalam golongan manusia tidak beriman, yaitu orang-orang yang jiwanya tidak tenteram, hidupnya tidak dilimpahi kasih sayang, penuh diliputi kepalsuan, terbelenggu kekecewaan dan keputusasaan, dan semua keinginannya tidak tercapai. Mereka yang mengabaikan Aku akan jauh dari kenikmatan surgawi.”

Syaikh Jumad al-Kubra terhenyak membisu, membeku bagai patung batu. Mulutnya terkunci. Lidahnya kelu. Tenggorokannya kering hingga dia tak mampu menelan ludah. Peluh sebesar butiran kacang berjatuhan dari keningnya. Dia seolah-olah dapat mendengar detak jantungnya yang berdegup keras. Dia merasa berada di perbatasan antara hidup dan mati. Tidak bisa berbuat sesuatu, bahkan untuk berteriak atau melafazkan doa. Dia hanya berdiam diri dan memasrahkan hidup dan matinya kepada al-Khalik.

Pada saat Syaikh Jumad al-Kubra tidak berdaya dan pasrah itulah Ki Waruanggang tiba-tiba beringsut ke depan dengan sikap takzim. Berbeda dengan Syaikh Jumad al-Kubra yang tercengang tak berdaya, ia yang sudah pernah menyaksikan penampakan yang dahsyat itu saat melakukan upacara bhuta-suddhi – menyucikan unsur-unsur yang membentuk tubuhnya – meski terkejut, tidak terguncang. Malahan, dengan penglihatan mata batin ia tidak melihat perwujudan sosok apa pun, kecuali pancaran cahaya putih yang sangat cemerlang berpendar-pendar di angkasa jiwanya. Setelah terdiam sejenak ia berkata dengan bahasa perlambang.

“Sungguh, engkau adalah Sang Akasha. Engkau Kalachakra. Engkau penguasa shraddha, santhosa, sneha, shuddhana, dama, mana, aparadha, shoka, kheda, shuddhata, sambhrama, urmmi, dan arati. Aku mempersaksikan bahwa engkau adalah jiwa putih Sang Bhumi. Engkau tanmatra bunyi. Prthiwi, Waruna, Agni, dan Bayu adalah pancaran keberadaanmu. Dari pancaranmu jua kehidupan di bumi berasal. Engkaulah penguasa kemakmuran bumi yang menjadi tumpuan harapan bagi manusia-manusia yang mendamba apa yang ada di dalam genggaman kuasamu. Engkau menjadi harapan manusia-manusia pecinta bumi. Tetapi kami bukanlah mereka, manusia-manusia rakus yang dengan berlebihan merampas dan merampok apa yang engkau genggam. Kami bukanlah manusia-manusia sombong yang menepuk dada sebagai penguasa bumi, yaitu orang-orang yang merampas hak kuasamu. Kami bukanlah manusia-manusia buas yang dengan cakar-cakar beracun mencabik-cabik bumimu. Kami bukan perusak bumi.”

“Kami adalah manusia-manusia yang merasa bersyukur karena lahir dari rahim Ibunda Agung Bhumi, pancaran pengejawantahanmu, yang membentuk tubuh dan jiwa kami: Prthiwi, Apah, Agni, Bayu. Karena itu, o Sang Akasha, makanan dan minuman yang engkau limpahkan selalu kami gunakan secara hak sesuai kebutuhan tubuh dan jiwa kami. Bahkan, kami adalah orang-orang yang sudah melepas semua keinginan untuk menikmati apa yang engkau genggam dan engkau kuasai. Kami tidak mengharap apa-apa dari engkau selain sekadar memenuhi hak tubuh dan jiwa kami dengan perkenanmu sebagai jiwa putih Ibunda Agung Bhumi. Kami tidak terikat pamrih apa-apa denganmu. Kami hanya meminta kebebasan (arati), agar atman (ruh) kami yang berasal dari Paramatman (Rabb ar-Arbab) dapat kembali kepada-Nya dengan suci dan murni.”

Terdengar suara gemuruh yang diikuti pancaran cahaya agung menyilaukan. Ki Waruanggang terhenyak dalam ketakjuban. Ia seolah-olah menyaksikan sesuatu yang memesona dan mengisap kesadarannya. Tetapi, pada saat yang sama Syaikh Jumad al-Kubra justru mengalami keguncangan dan nyaris meninggalkan tempat. Pada saat itulah Abdul Jalil dan rombongan tiba di Batu Putih. Dengan buru-buru ia memerintahkan Abdul Malik Israil, Ki Tameng, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung untuk bergegas mengikutinya masuk ke dalam “lingkaran” yang dibuatnya. Setelah menenangkan diri sejenak, ia berkata-kata kepada pancaran cahaya agung di angkasa itu dengan al-‘ima, yang jika diungkap ke dalam bahasa manusia berbunyi: “

Aku bersaksi bahwa engkau adalah Sang Akasha, pengejawantahan Rabb Yang Maha Menjaga dan Maha Memelihara (al-Hafidz). Engkau adalah pemancar dari rasa sayang dan melindungi (sneha) dari Sang Pengasih (ar-Rahim). Engkau menjadi pelimpah dari ketenteraman dan kepuasan jiwa (santosha), yang memancar dari Sang Pemberi Kebahagiaan (al-Muhaimin). Kepada engkau semua makhluk di bumi terikat, karena engkau pengejawantahan Sang Pengikat (al-Muqtadir). Engkau senantiasa memberi kemurahan kepada semua makhluk di bumi dengan tubuh dan jiwamu, karena engkau pancaran keberadaan Sang Pemurah (ar-Rahman). Engkau senantiasa memberikan dirimu kepada orang yang memohon, karena engkau pancaran Sang Pengabul permohonan (al-Mujib). Karena itu, o Sang Akasha, kabulkan permintaanku. Melalui bhuta-suddhi yang aku lakukan untuk memuliakanmu, seraplah Sang Prthiwi, Sang Apah, Sang Agni, dan Sang Bayu yang haus darah ke dalam mahligaimu. Biarkanlah rasa sayangmu, pancaran dari Sang Pengasih memancar kepada makhluk penghuni bumi laksana cahaya matahari menerangi bumi sehingga terbentang cakrawala baru kehidupan di bumi yang penuh ketenteraman dan kedamaian.”

“Kami tahu dan sadar bahwa persembahan darah memang pantas dilakukan untuk manusia-manusia rakus perusak bumi. Kami tahu bahwa kegemaran Sang Prthiwi terhadap darah dan madhu tidaklah dapat diubah. Tetapi, kami memohon agar persembahan itu bukan darah orang-orang tak bersalah. Kami memohon agar darah yang tertumpah di permukaan bumi adalah darah para perusak bumi. Biarlah Sang Prthiwi membasahi bibir dan tenggorokannya dengan darah orang-orang rakus yang menebar bencana dan membuat kerusakan di permukaan bumi. Karena itu, o Sang Akasha, seraplah kekuatan shakti Sang Prthiwi dari tempat-tempat pemujaan. Dan kami selaku pemohon, tidak memiliki sesuatu yang bisa kami persembahkan kepadamu, kecuali tubuh dan jiwa kami yang berasal darimu. Cabutlah nyawa kami, jika itu membuatmu puas.”

Suasana tiba-tiba hening. Cahaya agung yang memancar mendadak lenyap. Abdul Jalil beringsut mendekati Syaikh Jumad al-Kubra dan menepuk bahunya sambil berkata, “Semua telah berakhir, Tuan Syaikh.”

“Apakah itu tadi, o Tuan Syaikh?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra dengan suara tergetar.

“Itulah perwujudan niscaya dari Sang Akasha, jiwa putih Ibunda Agung Bhumi, yang darinya jiwa dan tubuh kita terbentuk. Pancaran cahaya putih tadi adalah lambang perwujudan nafs al-Muthma’innah bumi. Apa yang Tuan saksikan tadi akan Tuan dapati juga di dalam diri Tuan karena tubuh dan jiwa Tuan berasal darinya,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Tapi, aku tidak melihat cahaya putih apa pun,” kata Syaikh Jumad al-Kubra, “yang aku saksikan justru perwujudan dahsyat yang sangat mengerikan.”

“Sesungguhnya, Rabb menjadi Sesuatu sesuai persangkaan (zhan) hamba-Nya. Demikian pula pancaran dari Rabb, yaitu Akasha, Bayu, Agni, Apah, dan Prthiwi akan menjadi sesuatu sesuai prasangka kita.”

“Astaghfirullah, aku baru ingat sekarang. Tadi siang aku sempat berbicara dengan Ki Waruanggang tentang tanah shima Batu Putih dengan makna-makna perlambangnya. Rupanya, gambaran yang dipaparkan Ki Waruanggang masih melekat di ingatanku sehingga aku tadi tidak menggunakan mata batin, tetapi malah terseret angan-angan kosong,” kata Syaikh Jumad al-Kubra berulang-ulang membaca istighfar.

“Pengalaman adalah guru terbaik, Tuan Syaikh.”

“Itu memang benar. Tetapi, apakah permohonan Tuan Syaikh dikabulkan?”

“Pasti dikabulkan,” kata Abdul Jalil. “Sebab, dia adalah pancaran dari Rabb Yang Maha Mengabulkan doa (al-Mujib), Rabb Yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih (ar-Rahman ar-Rahim), Maha Pemberi (al-Wahhab), Maha Mendengar (as-Sami’), Maha Mencukupi (al-Muqit), Mahaluas (al-Wasi’).”

“Bagaimana Tuan bisa sangat yakin jika permohonan Tuan akan dikabulkan oleh Rabb ar-Arbab ?”

“Sebab, aku telah diberi sedikit pengetahuan oleh-Nya melalui Ruh al-Haqq bahwa Rabb ar-Arbab telah berkenan menyingsingkan Asma’, Shifat, dan Af’al-Nya dari cakrawala lama ke cakrawala baru,” kata Abdul Jalil.

“Apakah itu bermakna bahwa hukum kauniyah akan diubah oleh Rabb ar-Arbab?”

“Hukum kauniyah tidak pernah berubah. Hukum itu tetap dan langgeng, yang berubah hanya sudut pandang kita. Lantaran itu, aku menggunakan istilah cakrawala baru. Maksudku, kehausan Sang Prthiwi terhadap darah dan madhu tetap akan berlangsung sebagaimana adanya. Tetapi, Sang Prthiwi tidak lagi meminum darah dan madhu di tempat-tempat pemujaan, tetapi di medan tempur dan di tempat-tempat bencana. Karena itu, menurut hematku, perang antarmanusia dalam memperebutkan bumi di masa yang akan datang akan jauh lebih besar dan menelan jiwa manusia lebih banyak daripada perang di masa silam. Sebab, saat itulah Ibunda Agung Prthiwi beserta para bhuta dan kala, bala pengikutnya, akan berpesta pora membasahi bibir dan tenggorokan mereka dengan darah dan madhu,” papar Abdul Jalil menjelaskan.

Ketika upaya menyucikan Ksetra Nyu Denta melalui Dukuh Batu Putih dianggap selesai, Abdul Jalil pergi ke Bangsal Sri Manganti di Kraton Giri untuk memenuhi permintaan Prabu Satmata dan Pangeran Arya Pinatih yang ingin membuka Dukuh Lemah Putih di wilayah Giri Kedhaton, dengan tujuan agar daya shakti Ksetra Adhidewa, Mangare, Dara, dan Indrabhawana menjadi tawar. Dengan didampingi Syaikh Jumad al-Kubra, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung, Abdul Jalil pergi ke Kraton Giri melalui Sungai Brantas. Tetapi belum lama menghiliri Sungai Brantas, ketika melintasi penambangan Teda di Kadipaten Tedunan yang berbatasan dengan Wisaya Gesang, ia menyaksikan semacam gumpalan kabut putih diliputi cahaya merah, kuning keemasan, dan hitam yang bergumpal-gumpal di atas suatu tempat di barat sungai. Pemandangan itu, menurut Ruh al-Haqq di pedalaman kalbunya, adalah pertanda keberadaan sebuah ksetra atau pemujaan terhadap Sang Bhumi.

Ketika ia menunjuk arah kabut putih dan menanyakan kepada tukang perahu tentang nama tempat tersebut, tukang perahu mengungkapkan bahwa daerah di barat sungai yang ditunjuknya itu disebut orang dengan nama Kabrahon (Jawa Kuno: barahu : pancaran cahaya Sang Rahu) yang terkenal angker. Tukang perahu tidak tahu kenapa tempat itu disebut Kabrahon. Dia hanya tahu sejak zaman ayah dan kakeknya dulu tempat itu digunakan orang untuk berlatih ilmu kadigdayan yang menggunakan wadal manusia.

Mendengar penjelasan tukang perahu itu, Abdul Jalil hanya mengangguk-angguk. Bagi mereka yang mengetahui seluk-beluk ajaran Bhairawa-Tantra, nama Kabrahon jelas berkaitan dengan makna wilayah kekuasaan Sang Rahu, Sang Penggelap, citra Syiwa sebagai Pemangsa matahari (Suryya) dan rembulan (Chandra), yakni penguasa waktu (Mahakala). Itu berarti, Kabrahon adalah ksetra yang sudah sangat tua usianya dan mungkin sudah tidak digunakan lagi. Dengan demikian, kelirulah orang yang menduga Kabrahon sebagai tempat orang mencari ilmu kadigdayan dengan wadal.

Dugaan bahwa Kabrahon terkait dengan kekuasaan Sang Rahu terbukti ketika Abdul Jalil dan rombongan turun dari perahu di penambangan selatan Teda, yaitu di Bhogahangin. Nama Bhogahangin (Jawa Kuno: Santapan Busuk) jelas terkait dengan lambang Sang Putikeswara (Jawa Kuno: Penguasa Kebusukan) yaitu Syiwa, Sang Penyelamat, yang telah menelan racun Kalakutha, hingga tenggorokan-Nya menjadi biru: Sang Nilakantha. Sebagaimana kelaziman ksetra yang bagi para bhairawa-bhairawi adalah tempat yang menebarkan bau harum mewangi, tempat di dekat Bhogahangin itu dinamai Kemlaten (Jawa Kuno: tempat bunga melati). Bahkan, sebuah bukit berbentuk perahu terbalik di utara Kabrahon yang disebut orang Gunung Sari, mengingatkan Abdul Jalil pada Gunung Pulasari di Banten, yaitu tempat yang diyakini sebagai sthana Syiwa. Di kaki bukit Gunung Sari itu terdapat candi kecil bekas pemujaan purwa yang disebut Jagalaya (pengawal kematian), yakni Sang Yama (nama Syiwa).

Kawasan antara wilayah Tedunan dan Giri Kedhaton banyak ditebari lambang yang menunjuk Syiwa. Hal itu wajar karena lambang-lambang itu terkait erat dengan kekuasaan Prabu Satmata sebagai penguasa Giri. Dikatakan terkait sebab penduduk Majapahit di sekitar Giri Kedhaton dan di pedalaman meyakini Prabu Satmata adalah titisan Syiwa. Kedekatan hubungan Prabu Satmata dengan para penguasa Blambangan dan Bali setidaknya makin menguatkan anggapan bahwa Yang Dipertuan Giri Kedhaton memang titisan Sang Girinatha, Syiwa. Bahkan, keyakinan itu tidak goyah ketika para penguasa pesisir sepakat menunjuknya sebagai khalifah dengan gelar Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah. Saat itu para adipati di pedalaman yang masih menganut kepercayaan Syiwa-Budha tetap menunjukkan ketakziman dan sangat menghormatinya sebagai titisan Syiwa. Mereka malah menyambut gembira keputusan para adipati pesisir itu, dengan mengirim utusan untuk menghaturkan persembahan dan bulu bekti kepada Prabu Satmata.

Sore hari sesampai di Bangsal Sri Manganti, tanpa beristirahat Abdul Jalil dan Ki Waruanggang pergi ke Ksetra Mangare di timur kraton. Di gerbang ksetra Abdul Jalil disambut oleh seorang sthapaka (penguasa bangunan suci), bernama Dang Acaryya Laban. Berdasar petunjuk Dang Acaryya Laban, Abdul Jalil mengetahui seluk-beluk Bangsal Sri Manganti yang mandala-mandalanya benar-benar mencerminkan sthana Syiwa. Di timur Bangsal Sri Manganti terletak Ksetra Mangare yang diyakini orang-orang sekitar sebagai kediaman Syiwa-Bhairawa. Di utara ksetra terletak Pakalangan tempat batu suci (Sanghyang Susuk) disucikan, yaitu batu suci yang merupakan lingga lambang Syiwa. Di sebelah barat ksetra terdapat arca Syiwa dalam wujud mengerikan yang disebut Sang Randuwana (Syiwa yang bertaring sebesar buah randu hutan). Di sebelah selatan arca Sang Randuwana itu terdapat pendharmaan Sanghyang Pamunguwan (ruh pelindung) yang disebut Siddhawungu.

Selama berbincang-bincang dengan Abdul Jalil, Dang Acaryya Laban sangat heran dengan pengetahuan lawan bicaranya yang begitu mendalam tentang ajaran Syiwa-Budha dan bahkan Bhairawa-Tantra. Tetapi, keheranan Dang Acaryya Laban berubah menjadi keterkejutan ketika dia diberi tahu oleh Ki Waruanggang bahwa lawan bicaranya yang bernama Abdul Jalil itu merupakan guru suci yang termasyhur disebut orang dengan nama Syaikh Lemah Abang. Dang Acaryya Laban yang semula duduk bersila berhadap-hadapan dengan Abdul Jalil tiba-tiba bersujud menyembah dan berkata-kata dengan suara bergetar, “Sembah hamba kami haturkan kepada Paduka Syaikh Lemah Abang titisan Mahaguru. Padukalah guru suci yang hamba nanti-nantikan kedatangannya.”

“Tuan Acaryya,” kata Abdul Jalil sembari mengangkat bahu Dang Acaryya Laban, “bagaimana Tuan bisa menyatakan kami titisan Syiwa Mahaguru?”

“Kawan-kawan hamba yang berkata demikian, Paduka. Sungguh telah tersebar kabar bahwa Paduka adalah guru suci utusan Bhattara Guru untuk menyempurnakan ajaran lama yang ada. Sahabat hamba, Kyayi Menjangan Tumlaka, kepala Dukuh Dharma Lemah Abang di Pamotan, menceritakan kepada hamba bahwa dia telah menjalani madiksha (baiat) kepada Paduka. Dia menyatakan, Paduka dalam melakukan madiksha tidak menggunakan Wiku Nabe secara sakala (rabithah), tetapi menggunakan Nabe Niskala kepada Hyang Widhi, yaitu madiksha-widhi. Kyayi Menjangan Tumlaka juga menuturkan dia tertari dengan ajaran Paduka karena dia dapat bertemu dengan Syiwa dan bahkan Paramasyiwa. Karena itu, o Paduka Syaikh, hamba mohon agar Paduka berkenan membimbing hamba sebagai sisya (murid),” Dang Acaryya memohon sambil menyembah.

“Tuan Acaryya, tegakkanlah tubuh Tuan. Kami tidak suka dengan peraturan sembah-menyembah antarmanusia. Siapa saja di antara manusia yang ingin menjadi pengikut Syaikh Lemah Abang, wajib menolak kebiasaan menekuk lutut kepada sesama manusia. Jika Tuan Acaryya ingin mengikuti jalan kami, hendaknya Tuan memenuhi dulu kewajiban pertama tersebut,” kata Abdul Jalil tegas.

“Tapi Paduka Syaikh, bagaimana kami bisa bersikap tidak hormat kepada Dang Guru Suci, Susuhunan, yang akan membawa kami kepada dwijati (kelahiran kedua)?” gumam Dang Acaryya Laban.

“Hormat atau tidak hormat, tergantung dari sudut mana kita memandang sesuatu,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Maksudnya, jika Tuan menganggap bahwa bersikap hormat kepada Dang Guru Suci adalah dengan menyembahnya sebagai perwujudan Sang Mahaguru yang bersthana di Kailasa, yaitu Syiwa, maka hal itu benar dan sah menurut Tuan. Tetapi menurut kami, hal tersebut malah menista intisari ajaran kami. Sebab, dalam pandangan kami, nilai-nilai yang benar adalah nilai yang bersumber pada Adwaya (Tauhid), dengan berlandaskan penghormatan dan keseimbangan.”

“Penting untuk Tuan pahami bahwa nilai penghormatan yang kami maksud bukanlah menghormati Dang Guru Suci dengan cara menyembahnya sebagai perwujudan Tuhan, melainkan cukup menghormatinya sebagaimana hormat kita kepada ibu dan bapak. Lantaran itu, hal yang paling mendasar dari nilai penghormatan yang kami maksud, pertama-tama, menyatakan begini: kewajiban dasar manusia adalah menghormati keberadaan diri sendiri. Maknanya, seorang manusia yang menghormati diri sendiri tidak akan menista dan merendahkan martabat kemanusiaannya dengan berlutut dan bersujud kepada pohon, batu, kayu, binatang, bulan, bintang, matahari, manusia, dan sesama makhluk. Sebab, kita telah berikrar dengan segenap jiwa dan raga bahwa kita hanya berlindung, merajakan, dan menuhankan Rabb kita (QS. An-Nas: 1-3), yaitu Hyang Widhi. Itu sebabnya, dalam melakukan madiksha, kami selalu menggunakan cara madiksha-widhi.”

“Kami paham dan akan mematuhi titah Paduka Syaikh.”

“Tetapi, sebelumnya kami beri tahukan kepada Tuan Acaryya bahwa sebagaimana sisya kami yang lain, Tuan nanti akan menjalani madiksha-widhi dengan menggunakan Nabe Niskala. Itu berarti, Tuan nanti akan menemukan Kebenaran, Brahman, dengan melewati jalan Paramasyiwa. Jika dalam waktu tujuh hari setelah madiksha-widhi Tuan menemukan Kebenaran dalam perwujudan Syiwa yang masih mengambil perwujudan tertentu, maka Tuan harus menemui kami atau sisya kami, Kyayi Menjangan Tumlaka,” kata Abdul Jalil.

“Kami akan mematuhi semua titah Paduka Syaikh,” kata Dang Acaryya Laban takzim.

“Hal ini perlu kami sampaikan kepada Tuan terlebih dulu karena banyak di antara dikshita (salik) yang belum bisa membedakan tahapan-tahapan ruhani dari bhaktimarga (syari’at), karmamarga (thariqat), jnanamarga (haqiqat), dan yogamarga (ma’rifat) telah tergelincir ke jurang kesesatan, karena mereka tanpa sadar telah terpeleset oleh kekaburan batasan sakala (zahir), sakala-niskala (barzakh) dan niskala (al-Batin). Mereka dengan pongah merasa telah dianugerahi-Nya pengetahuan untuk mengenal-Nya. Padahal, mereka saat itu sedang berada di ambang pengetahuan. Mereka akan ditandai dengan kepintaran dalam berbicara tentang Adwaya (Tauhid) dengan seluk-beluknya. Sementara jika dilihat dengan mata batin, jiwa mereka telah tertutup pamrih pribadi. Jiwa mereka adalah jiwa serigala, musang, gagak, dan bahkan bayangan makhluk nirwujud.”

“Orang-orang yang seperti itu sungguh telah menyimpangkan ajaran Kebenaran dan bertentangan dengan jalan (thariq) yang kami ajarkan. Kami katakan menyimpang dari Kebenaran karena mereka tergelincir dari jalan kesadaran jati diri menjadi adimanusia (insan kamil). Mereka terperosok ke jurang angan-angan (al-wahm) menjadi al-Kamal. Sungguh, mereka telah sesat karena menuhankan keakuan pribadinya yang kerdil. Sungguh, mereka telah sesat karena terjerat angan-angan hingga menjadikan diri sendiri sebagai perwujudan Yang Mahasempurna (al-Kamal). Hal ini perlu kami sampaikan kepada Tuan, karena jalan menuju Kebenaran sejati sangat licin dan penuh jebakan yang gampang menggelincirkan seorang dikshita ke jurang kesesatan, terutama saat dikshita berada di tengah persimpangan sakala-niskala (barzakh) menuju niskala (al-bathin),” papar Abdul Jalil.

“Kami akan patuhi semua titah Paduka,” kata Dang Acaryya Laban sambil bersujud menyembah, seolah dia sudah lupa dengan ucapan Abdul Jalil yang baru saja melarangnya dengan bersujud kepada sesama.

Berbeda dengan pembukaan Dukuh Batu Putih yang lancar, rencana pembukaan Dukuh Lemah Putih di Giri Kedhaton diawali dengan perdebatan yang panas. Hal itu bermula dari keterlibatan Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, putera Prabu Satmata, dan Raden Muhammad Yusuf, putera Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu. Dalam perencanaan membuka Dukuh Lemah Putih, Pangeran Zainal Abidin mengusulkan kepada Abdul Jalil agar dukuh yang bakal dibuka di wilayah Giri Kedhaton itu letaknya agak berjauhan dari pusat ksetra. Ia beralasan, pembukaan Dukuh Lemah Putih harus berbeda dengan Batu Putih. Sebab, tanah shima Batu Putih sudah tidak digunakan barang tiga puluh tahun silam dan Ksetra Nyu Denta pun sudah tidak digunakan lagi barang tujuh tahun silam, sementara ksetra-ksetra di Giri Kedhaton masih digunakan. Bahkan, Ksetra Mangare di sebelah timur Bangsal Sri Manganti masih belum ditutup dan penduduk di sekitarnya masih banyak yang memuja Dewi Bhumi, Prthiwi, di situ. Selain itu, keberadaan Ksetra Mangare masih menjadi lambang kekuasaan lama yang menempatkan Prabu Satmata sebagai pengejawantahan Syiwa Sang Girinatha. Lantaran itu, untuk menghindari dampak yang tidak diharapkan dari perubahan mencolok akibat munculnya Dukuh Lemah Putih di dekat ksetra, yang bertujuan membuat tawar daya shakti ksetra, maka dukuh tersebut harus jauh dari pusat ksetra.

Berbeda dengan Pangeran Zainal Abidin, Raden Muhammad Yusuf yang jiwanya sedang dikobari semangat keagamaan menyala-nyala menginginkan Dukuh Lemah Putih dibuka dekat di dengan pusat ksetra. Ia beralasan, upaya membukan Dukuh Lemah Putih adalah upaya yang haqq untuk menghilangkan sesuatu yang batil. Upaya itu adalah jihad karena bertujuan menyelamatkan manusia dari pembunuhan-pembunuhan atas alasan agama. Lantaran berpandangan seperti itu, dengan suara berapi-api dan penuh keyakinan diri ia berkata, “Tuan Syaikh tidak perlu syak dan ragu-ragu dalam menghadapi kebatilan. Tuan Syaikh tidak perlu mempertimbangkan yang lain-lain dalam hal memerangi kebatilan. Sebab, Allah sudah menetapkan hukum bahwa setiap datang yang haqq, maka yang batil akan sirna (QS. Al-Isra’: 81).”

“Paman,” sergah Pangeran Zainal Abidin dengan suara ditekan dan wajah menampakkan rasa tidak senang. “Paman jangan menghiraukan omongan orang yang masih mentah pengetahuan agamanya. Paman jangan menghiraukan saran orang yang menempatkan dalil-dalil Al-Qur’an secara kurang semestinya. Sebab, menurut hemat kami, tidak ada dalil Al-Qur’an yang menyatakan ksetra sebagai tempat batil. Ksetra dalam kenyataan adalah tempat ibadah bagi umat bukan Islam. Jadi, ksetra pada dasarnya sama maknanya masjid bagi umat Islam, yaitu tempat suci yang digunakan oleh orang-orang bukan Islam dalam memuja Tuhan sesuai tata cara mereka. Kita tidak bisa menilai apa yang dilakukan para penganut ajaran Bhairawa-Tantra sebagai sesuatu yang batil dengan menggunakan dalil Al-Qur’an.”

“Tuan Syaikh, Tuan telah mendengar sendiri ucapan dari sahabat kami,” tukas Raden Muhammad Yusuf tak mau kalah. “Akankah Tuan Syaikh membenarkan orang yang menganggap sama tempat manusia-manusai disembelih dengan masjid yang suci tempat orang diselamatkan dari maut? Akankah Tuan Syaikh membenarkan orang yang menganggap sama tempat Kematian itu dengan masjid yang suci tempat Keselamatan?”

“Aku tidak menganggap ksetra sama dengan masjid,” kilah Pangeran Zainal Abidin dengan suara berapi-api. “Aku tadi menyatakan, ksetra bagi penganut ajaran Bhairawa-Tantra sama dengan masjid bagi umat Islam, yaitu tempat ibadah. Jika di ksetra-ksetra ada orang dibunuh sebagai korban suci, itu adalah aturan agama mereka. Kita tidak berhak menilainya sebagai sesuatu yang batil. Tidakkah engkau mengetahui jika di masa lampau, para dathu leluhur bangsa Arab juga mengorbankan putera sulung mereka kepada Tuhan? Tidakkah engkau tahu kisah Ibrahim a.s., Bapak Tauhid, yang pernah akan menyembelih putera sulungnya? Tidakkah engkau tahu bahwa akikah yang diajarkan di dalam Islam pada hakikatnya adalah kelanjutan kepercayaan purwa itu dalam bentuk penyembelihan hewan sebagai ganti jiwa manusia.?”

“Tapi, sejak masa Ibrahim a.s. kebiasaan korban manusia sudah diganti dengan domba?”

“Justru itu, tugas kita sekarang adalah memberitakan Kebenaran tentang perubahan dalam tata cara korban kepada mereka yang belum mengetahuinya. Kita harus menyampaikannya melalui cara-cara yang bijak. Kita tidak bisa mencaci maki dan mencela keyakinan orang menurut pandangan sepihak kita. Bukankah tugas kita hanya menyampaikan kabar Kebenaran yang disampaikan Nabi Muhammad Saw.? Bukankah orang lain bebas menerima atau menolak kabar Kebenaran yang kita sampaikan? Bukankah tidak ada paksaan dalam keyakinan agama? Bukankah semua hidayah tergantung mutlak pada kehendak-Nya?” ujar Pangeran Zainal Abidin.

“Ya, aku paham, tapi ... “ sahut Raden Muhammad Yusuf mencibir.

Abdul Jalil yang menangkap gelagat perdebatan itu akan makin memanas buru-buru menukas, “Sudahlah, masalah seperti ini tidak bisa dijadikan bahan berdebat. Sebab, penguasa ksetra tidak bisa diajak berdebat. Jadi, kalau kita keliru dalam bertindak, taruhannya ribuan nyawa manusia. Untuk masalah ini aku berharap semua pihak tidak menggunakan ukuran haqq dan batil dalam hal keyakinan orang seorang. Sebab, segala sesuatu yang haqq bersumber dari al-Haqq, sedangkan segala sesuatu yang batil bersumber dari al-Mudhil. Baik al-Mudhil maupun al-Haqq bergantung dari sisi mana kita memandang. Maksudnya, kita bisa memandang orang lain sebagai kelompok yang batil karena memuja al-Mudhil. Sebaliknya, orang bisa juga memandang dari sudut lain dengan mengatakan justru kitalah sebagai kelompok batil pemuja al-Mudhil. Padahal, baik al-Haqq maupun al-Mudhil sejatinya adalah Asma’, Af’al, dan Shifat dari Zat dari Yang Maha Tunggal: Allah. Karena itu, barang siapa yang menganggap al-Mudhil dan al-Haqq adalah dua Zat yang berbeda maka dia musyrik,” kata Abdul Jalil tegas.

“Ya, Tuan Syaikh, kami paham,” kata Raden Muhammad Yusuf. “Jadi, bagaimana sekarang?”

“Aku beri tahukan kepada kalian, Ksetra Mangare terletak di pusat Kraton Prabu Satmata, yaitu Bangsal Sri Manganti. Maksudku, Ksetra Mangare letaknya bersebelahan dengan Bangsal Sri Manganti. Malahan, Bangsal Sri Manganti kedudukannya diapit oleh Ksetra Mangare dan asrama Rsigana Domas. Di utara Ksetra Mangare terletak Pakalangan, yakni tempat batu suci (Sanghyang Susuk) ditempatkan di lingkaran keramat. Di utara Pakalangan terletak kediaman Pangeran Indrasari Patih Giri Kedhaton.”

“Jadi, sebagaimana bentuk susunan kraton-kraton Jawa yang lain, ksetra merupakan bagian tak terpisahkan dari kraton. Kalau sampai ada perubahan susunan dengan munculnya asrama para wiku baru yang disebut Dukuh Lemah Putih di dekat ksetra dan Rsigana Domas, maka dipastikan akan menimbulkan kekacauan. Sebab, yang akan melakukan perlawanan bukan hanya para penguasa ksetra, melainkan pendeta dan penduduk juga akan marah dan menentang. Karena itu, menurut hematku, letak Dukuh Lemah Putih sebaiknya memang agak jauh dari pusat ksetra,” papar Abdul Jalil.

“Aku kira, soal letak Dukuh Lemah Putih di Giri Kedhaton sepatutnya memang kita serahkan sepenuhnya kepada Paman Syaikh Lemah Abang. Sebab, yang sudah berpengalaman dalam pembukaan dukuh-dukuh baru di Nusa Jawa adalah beliau,” kata Pangeran Zainal Abidin.

Abdul Jalil yang melihat selisih pendapat antara Pangeran Zainal Abidin dan Raden Muhammad Yusuf hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia paham, perbedaan mereka dalam memandang sesuatu berasal dari perbedaan dari nilai-nilai yang mereka anut. Pangeran Zainal Abidin lahir di kalangan bangsawan Giri Kedhaton yang memiliki hubungan kekerabatan dengan penguasa-penguasa di Majapahit, Blambangan, dan Bali. Sementara Raden Muhammad Yusuf merupakan cucu Raden Ali Murtadho, Raja Pandita Gresik dari istri ketiga asal Lawe, Barunadwipa, yaitu dari keluarga Orob. Sedangkan ibu Raden Muhammad Yusuf berasal dari Malaka.

Sejak kecil Raden Muhammad Yusuf diasuh di lingkungan Islam fanatik yang sulit menerima keberbedaan agama. Apalagi saat memasuki kedewasaan dia sering diajak berdagang ke Malaka dan berkenalan dengan sejumlah ulama Malaka yang fanatik. Ayahandanya sendiri, Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu, putera bungsu Raden Ali Murtadho, dikenal penduduk Giri Kedhaton sebagai orang Islam fanatik dan suka mencela praktik-praktik tasawuf yang dianggap menyimpang dari syarak. Padahal, dibanding tiga kakaknya lain ibu, yaitu Raden Zainal Abidin Adipati Gresik, Raden Usman Kepala Negeri Tengah-Tengah di Kailolo, Raden Ali Fada’ guru suci di Bima, Raden Yusuf Siddhiq bukanlah apa-apa jika diukur dari sisi pengetahuan agama. Ketiga putera Raja Pandhita itu, kakak Raden Yusuf Siddhiq, sejak muda dikenal oleh penduduk Giri Kedhaton sebagai orang-orang yang saleh, rendah hati, dan dermawan. Sementara Raden Yusuf Siddhiq dikenal sebagai pemuda congkak, tidak mau kalah, dan suka merendahkan orang lain, apalagi setelah usahanya berniaga berkembang pesat dan menjadikannya sebagai adipati kaya raya.

Raden Yusuf Siddhiq dengan segala kecongkakannya sering terlihat datang ke Giri Kedhaton untuk mengajak berdebat Prabu Satmata dalam masalah agama. Tetapi, tidak sekali pun penduduk Giri Kedhaton mendapatinya pernah memenangkan perdebatan. Karena tidak pernah jera berdebat, meski telah berulang-ulang kalah, maka di kalangan penduduk Giri Kedhaton muncul ejekan-ejekan tersembunyi yang dialamatkan kepada sang adipati. Salah satu di antara ejekan-ejekan itu adalah gelar masyhur yang diberikan oleh penduduk Giri Kedhaton, yaitu Ki Dipati Adam (Jawa Kuno: raja yang belum matang). Tampaknya, kebiasaan mendebat sang adipati itu dilanjutkan oleh puteranya, Raden Muhammad Yusuf.

Dengan dikawal sekitar tiga puluh prajurit Giri, Abdul Jalil dan rombongan dengan berjalan kaki meninggalkan Bangsal Sri Manganti menuju arah selatan. Setelah melewati padang alang-alang dan tanah berawa-rawa, sampailah mereka di Wisaya Damyan. Sesudah singgah sebentar di kediaman Ki Ageng Damyan, perjalanan dilanjutkan ke arah selatan dengan melewati bukit-bukit berbatu kapur terjal. Di beberapa tempat di perbukitan itu Abdul Jalil menemukan sejumlah lemah larangan yang layak dijadikan dukuh, yaitu mala ning lemah seperti cerukan bukit (sodong), batu padas bergantung (cadas gantung), tiga onggokan batu melingkari suatu tanah (mungkal pategang), ngarai (lebak), tanah tandus yang curam (lmah laki). Tapi, ia masih belum menemukan yang benar-benar sesuai dengan hasrat hatinya.

Setelah semalam tidur di perbukitan, pada suatu siang ia menemukan suatu hamparan lemah larangan yang dinilainya sesuai untuk dukuh. Tanah itu terletak di timur laut Wisaya Sumengka, tepat pada lekukan Sungai Brantas. Lantaran itu, tanah tersebut digenangi air dan sebagian ada yang terlihat padat di permukaannya, namun berlumpur di bawahnya. Di beberapa sudutnya terlihat bukit-bukit tanah kecil tempat sarang anai-anai.

Setelah mengamati keadaan sekeliling tanah, ia berkata kepada Syaikh Jumad al-Kubra, “Menurut ibundaku, tanah di depan kita itu memenuhi tiga syarat lemah larangan. Pertama, tanah di pinggir barat dan selatan sungai itu termasuk jenis tanah dangdang warian, yaitu tanah yang berceruk bagian tengahnya dan digenangi air. Kedua, tanah di bagian tengah termasuk jenis tanah garenggengan, yaitu tanah kering pada bagian permukaan, namun berlumpur di bagian bawahnya. Ketiga, tanah paling utara termasuk tanah hunyur, yaitu tanah dengan bukit-bukit kecil tempat sarang anai-anai.”

“Baiklah, kita akan membuka tanah ini untuk dijadikan Dukuh Lemah Putih,” kata Syaikh Jumad al-Kubra.

“Tetapi, kita hendaknya memberi tahu dulu kepala Wisaya Sumengka bahwa atas perkenan Prabu Satmata, di tanah ini akan dibuka dukuh baru yang dinamai Lemah Putih.” Abdul Jalil lantas meminta kepada pengawal Giri untuk menyampaikan surat penetapan shima dari Juru i Ayam Teas (pejabat berwenang dalam urusan tanah perdikan) Giri Kedhaton. “Seandainya nanti penguasa Wisaya Sumengka bertanya kenapa dinamai Lemah Putih, Tuan katakan saja bahwa yang bisa menjelaskannya adalah Prabu Satmata.”

“Kami siap melaksanakan perintah, Kangjeng Syaikh,” kata kepala pengawal sambil memerintahkan anak buahnya untuk memulai pekerjaan membabat alang-alang dan semak belukar, menguruk tanah berair, membuat pematang melingkar sebagai tanggul kecil, dan memotong batang pohon untuk bahan bangunan. Sebagaimana pembukaan desa-desa Lemah Abang, Abdul Jalil menebarkan sarana tu-mbal. Tetapi, sedikit berbeda dengan di Lemah Abang, di tempat yang akan dinamai Lemah Putih itu selain menggunakan tanah, ia juga menambahkan garam dan beras.

Pekerjaan membabat alang-alang dan semak belukar serta membuat pematang ternyata tidak memakan waktu lama. Sebab, dari Sumengka dikirim sekitar lima puluh orang penduduk untuk membantu pekerjaan itu. Menjelang senja semua alang-alang dan semak belukar telah dibersihkan. Dan sepetak lahan dengan lima pondok beratap ilalang telah tegak sebagai hunian sementara. Ketika penduduk Sumengka telah kembali, Abdul Jalil meminta para pengawal Giri Kedhaton untuk mengamalkan rangkaian doa penolak godaan setan dan permohonan keselamatan, sebagaimana dilakukannya saat membuka dukuh-dukuh.

Tatkala senjakala merambat ke peraduan malam dan para pengawal Giri Kedhaton sedang khusyuk melafazkan doa-doa, kegelapan tiba-tiba menggantung di angkasa. Kabut tebal bergerak dari arah utara dan makin lama makin tebal memenuhi permukaan bumi, merayap ke lembah dan aliran sungai Brantas. Suasana mendadak berubah sangat senyap. Lengang. Seram. Mencekam. Lima pondok yang baru selesai didirikan sudah tidak terlihat karena diselimuti kabut tebal.

Di tengah suasana senyap dan mencekam itu para pengawal Giri Kedhaton mulai terlihat gelisah. Sambil melafazkan doa-doa, mereka merangkul senjata masing-masing dan saling berdesakan. Liu Sung yang sejak sore tak pernah jauh dari Raden Sahid dan Raden Sulaiman terlihat menggeser duduknya ke dekat Abdul Jalil. Beberapa kali dia menengok ke luar gubuk dengan perasaan gelisah. Dia seolah menangkap isyarat di luar sana sedang mengintai ancaman bahaya yang menggantung di angkasa bersama gumpalan awan dan kabut. Pengalaman menggetarkan di Batu Putih tiba-tiba berkelebatan memasuki relung-relung ingatannya.

Abdul Jalil sendiri terlihat tenang. Ia duduk bersila di belakang Syaikh Jumad al-Kubra sambil mengetuk-ketukkan tongkatnya ke tanah dengan mulut terkatup rapat. Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung yang melihat gerak-gerik Abdul Jalil dan suasana mencekam yang melingkupi hanya berdiam diri, meski tanda tanya menggumpal di benak mereka. Tetapi, saat kabut tebal makin bergumpal-gumpal serta menerobos ke dalam gubuk dan sayup-sayup mereka mendengar denting senjata dan hiruk-pikuk peperangan di luar pondok, mereka tak tahan lagi untuk tidak bertanya. Dengan suara tergetar Raden Sulaiman bertanya, “Paman, kami merasakan ada sesuatu yang bukan berasal dari alam kita sedang berkeliaran di sekitar kita. Kami merasa mereka seolah-olah menginginkan nyawa kita. Apakah sesungguhnya yang terjadi di tempat ini, o Paman?”

Abdul Jalil diam tak menjawab. Ia memandang ke luar pondok yang gelap gulita. Sesaat kemudian ia berkata dengan suara yang lain, “Kalian semua yang membaca doa-doa, berkumpullah ke sini!”

Bagaikan anak ayam mengerumuni induknya, para pengawal Giri Kedhaton berebut mengerumuni Abdul Jalil. Mereka tampak gentar dan ketakutan dengan wajah pucat. Wajah mereka semakin pucat manakala di tengah suara denting senjata dan hiruk pikuk peperangan itu, secara samar-samar mereka melihat kelebatan bayangan-bayangan aneka bentuk makhluk yang mengerikan di luar gubuk.

Seperti ttidak peduli dengan keadaan sekitar, Abdul Jalil membisikkan sesuatu kepada Abdul Malik Israil yang bersila di sampingnya. Setelah itu, ia berkata dengan suara lirih, “Aku beri tahukan kepada kalian bahwa apa pun yang kalian dengar dan kalian saksikan, pada hakikatnya itu adalah bayangan maya dari ablasa yang nirwujud. Jika kalian mengesankannya dengan prasangka-prasangka yang berlebih-lebihan maka mereka akan mewujud sebagaimana prasangkamu. Jangan sekali-kali kalian ikuti rasa takut yang mengeram di dalam jiwamu secara berlebihan karena itu akan menyeret khayalanmu ke arah perwujudan bayangan maya ablasa itu.”

“Apa yang harus kita lakukan, o Kangjeng Syaikh?” tanya kepala pengawal Giri Kedhaton gemetar.

“Tenangkan jiwamu! Arahkan kiblat hati dan pikiranmu hanya kepada al-Haqq yang tersembunyi di dalam relung-relung hatimu (qalb). Sesungguhnya, tidak ada Yang Wujud kecuali Dia. Allah. Sesungguhnya, mereka yang menjadi hijab antara makhluk dan al-Khaliq adalah bayangan ablasa yang nirwujud.”

Ketika para pengawal Giri Kedhaton berusaha mengarahkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada al-Haqq, Abdul Jalil membisikkan sesuatu kepada Syaikh Jumad al-Kubra. Setelah itu ia bangkit dan bergegas keluar dari gubuk. Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung buru-buru melompat mengikuti di belakangnya. Tetapi, saat mereka berada di luar pintu gubuk, mereka terhenyak kaget. Dalam jarak sekitar lima tombak di depan mereka terlihat dua sosok makhluk hitam setinggi pohon kelapa berdiri menyeringai dengan taring berkilat-kilat. Makhluk yang satu adalah laki-laki dengan rambut disanggul terikat tiga. Makhluk yang satunya lagi perempuan dengan rambut terurai hingga ke tanah. Di depan dua makhluk menyeramkan itu terlihat Ki Waruanggang dan Ki Tameng berdiri tegak seolah-olah sedang berbicara dengan mereka. Sementara di belakang dua makhluk mengerikan itu berbaris bayangan-bayangan hitam dalam jumlah beribu-ribu, seolah-olah suatu bala tentara yang ganas sedang bersiaga menyerang musuh.

Sementara itu, Abdul Jalil yang bagai tak peduli dengan keadaan sekitar yang mencekam, mengangkat tongkatnya ke atas sambil berseru, “O Prabu Yaksha dan Nyi Wuragil, penguasa bumi Tandhes dan Giripura, salam sejahtera untuk kalian berdua dan kawula kalian. Aku minta kalian berdua tidak mengganggu pekerjaan Syaikh Jumad al-Kubra, saudara kami yang membuka dukuh baru di tempat ini. Kalian berdua adalah penghuni perut bumi. Kami penghuni permukaan bumi. Kami tidak mengganggu wilayah kekuasaan kalian maka kalian pun aku minta tidak mengganggu kami.”

Dua makhluk setinggi pohon kelapa yang menyeramkan itu celingukan dan saling pandang. Setelah itu, mereka berlutut dan menyembah kepada Abdul Jalil dan berkata serentak, “Mohon ampun Padukan Syaikh, kami kemari hanya ingin melihat wilayah kami. Sebabm kami melihat kilatan cahaya petir dan kegaduhan di tempat ini. Kami tidak tahu Paduka Syaikh ada di antara orang-orang itu.”

Abdul Jalil tertawa dan berkata-kata kurang jelas sambil menggerak-gerakkan tongkatnya, seolah-olah memberi isyarat agar kedua makhluk mengerikan itu beserta bala tentaranya pergi meninggalkan tempat itu. Suasana pun mendadak hening. Sekejap kemudian terdengar suara seruling mengumandang diikuti suara gemerincing genta-genta kecil dan lengkingan-lengkingan terompet yang sahut menyahut dan sambung menyambung. Setelah itu, dua makhluk mengerikan itu lenyap dari penglihatan. Lalu terlihat kelebatan bayangan hitam berpusar-pusar mengitari tanah yang baru dibabat. Pusaran bayangan hitam itu makin lama makin cepat dan menimbulkan suara semacam gedoran pintu yang memekakkan telinga dengan diikuti oleh embusan angin. Di tengah pusaran bayangan hitam dan embusan angin itu terdengar bunyi derap kaki kuda yang mula-mula keras, makin lama makin lemah dan menjauh. Kemudian suasana menjadi hening. Sunyi. Lengang. Tak ada angin. Tak ada suara.

Ketika keadaan yang menegangkan telah berakhir, Abdul Jalil masuk ke dalam pondok, berbicara kepada Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil. Beberapa jenak kemudian ia pergi ke arah utara menuju Bangsal Sri Manganti dengan disertai Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung. Setelah melintasi bukit-bukit kapur yang terjal, menjelang dini hari mereka sudah sampai ke tempat pemujaan Sanghyang Pamunguwan, ruh pelindung Bangsal Sri Manganti, yang terletak di antara Bangsal Sri Manganti dan Ksetra Mangare. Tempat itu dikenal penduduk dengan nama pendharmaan Siddhawungu. Tanpa peduli dengan kegelapan yang melingkupi, ia masuk ke pendharmaan dan membalik letak batu lambang Sanghyang Pamunguwan sambil melafazkan doa-doa. Sebagaimana saat menutup Kabhumian di Caruban, ia berharap pendharmaan Siddhawungu akan secepatnya tersilap dari ingatan penduduk.

Setelah dari pemujaan Sanghyang Pamunguwan, tanpa istirahat sedikit pun ia dengan diikuti Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung menuju pendharmaan Siddhajangkung yang terletak di belakang Bangsal Sri Manganti. Sebagaimana di pendharmaan Siddhawungu, di situ ia membalik letak batu perlambang Sanghyang Jangkung sambil melafazkan doa-doa. Menjelang subuh ia menganggap kerjanya telah selesai. Ia meninggalkan pendharmaan Siddhajangkung menuju kediaman Pangeran Arya Pinatih yang terletak di depan Bangsal Sri Manganti. Di sana ia menjumpai sang pangeran baru saja turun dari sembahyang malam. Melihat Abdul Jalil, Pangeran Arya Pinatih sangat senang. Dia menanyakan ini dan itu tentang pembukaan Dukuh Lemah Putih. Mereka pun berbincang sampai subuh.

Ketika hari sudah siang datanglah Syaikh Jumad al-Kubra, Ki Tameng, Abdul Malik Israil, dan Ki Waruanggang menyusul. Saat itu juga Abdul Jalil meminta Ki Waruanggang secepatnya kembali ke Batu Putih. “Aku berharap Tuan bisa istiqamah menjalankan upaya membuat tawar daya shakti Ksetra Nyu Denta dan Dharma Palemahan, paling tidak selama empat puluh hari,” kata Abdul Jalil.

“Bagaimana dengan Dukuh Lemah Putih yang baru kita buka?” tanya Ki Waruanggang.

“Biarkan saudara kita, Ki Tameng, yang tinggal di situ selama empat puluh hari,” kata Abdul Jalil.

“Tetapi, bagaimana dengan asrama Rsigana Domas?” bisik Pangeran Arya Pinatih ke telinga Abdul Jalil. “Bukankah kekuatan mereka itu tidak bisa ditawarkan?” bagaimana jika mereka tetap melakukan upacara korban?”

Abdul Jalil tercenung sesaat. Setelah itu, ia berkata setengah berbisik, “Biarlah putera Tuan, Pangeran Pringgabhaya, tinggal sementara di pendharmaan Siddhajangkung sebagai sthapaka. Kami melihat pancaran kekuatan batin tersembunyi di kedalaman jiwanya. Dan sebagai putera Tuan, dia akan lebih mudah diterima oleh anggota Rsigana Domas. Selain itu, kami kira Dang Acaryya Laban yang sudah berbaiat kepada kami pun bisa membantunya. Mudah-mudahan para anggota Rsigana Domas bisa tersadarkan.”

“Dang Acaryya Laban sudah berbaiat kepada Tuan?” seru Pangeran Arya Pinatih seperti tak percaya.

“Beberapa waktu setelah kami hadir di sini, ia minta baiat kepada kami.”

“Alhamdulillah, berarti Ksetra Mangare sudah tidak punya penjaga lagi. Berarti aku tidak akan melihat lagi ibu-ibu yang menjadi gila akibat kehilangan anak-anaknya,” kata Pangeran Arya Pinatih dengan mata berkaca-kaca.

Laut China Selatan (MV. Taho), 28 April 2007, 18:15LT

08. Mandala Siti Jenar

Dengan diikuti Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, Raden Sahid, Raden Sulaiman, dan Liu Sung, Abdul Jalil menumpang perahu ke Wirashabha. Ketika sampai di penambangan Citrasabha, di dekat Terung, ia beserta rombongan turun dan singgah ke Pangawasen (pertapaan) Madhuratna yang dipimpin Wiku Citragati, sisya Ki Waruanggang saat masih menjadi guru suci di Surabhawana negeri Daha. Dalam pertemuan dengan Wiku Citragati, Abdul Jalil memberi tahu bahwa sang guru suci Wiku Suta Lokeswara telah memeluk Islam dan berganti nama menjadi Ki Waruanggang. Wiku Citragati yang sejak awal sudah menduga guru sucinya itu bakal mengikuti ajaran yang disampaikan Abdul Jalil, tidak terkejut dengan penjelasan itu. Sebaliknya, Abdul Jalil terkejut ketika diberi tahu oleh Wiku Citragati bahwa amuk yang dilakukan Raden Kusen itu sebenarnya terkait dengan perebutan takhta Majapahit.

Hampir setiap nayaka Kadipaten Terung menduga, aib yang ditimpakan kepada Paduka Yang Mulia Adipati Terung itu sengaja dilakukan untuk meruntuhkan kewibawaannya sebagai ratu Majapahit. Sebab, kenyataan menunjuk bahwa penduduk Terung, Japan, dan Wirasabha menyembahnya sebagai ratu penerus takhta Majapahit. Kata-kata sang adipati menjadi sabda dan perintahnya menjadi titah. Setiap tahun para kepala wisaya di tlatah Terung, Japan, dan Wirasabha datang ke Bale Citrasabha membawa upeti, pajak, dan bulubekti untuk dipersembahkan kepada sang ratu,” kata Wiku Citragati.

“Tapi, siapa kira-kira yang melakukannya? Apakah Ratu Stri Maskumambang atau Stri Surawiryawangsaja?”

“Itu yang masih belum jelas,” kata Wiku Citragati. “Tetapi, menurut kabar yang berkembang di kalangan prajurit, maling aguna yang telah masuk ke dalam kaputren itu disebut sebagai seorang pemuda tampan bernama Gendam Smaradahana asal Daha. Anehnya, semua telik sandhi dari Terung yang ditempatkan di Daha tidak satu pun menemukan hubungan antara Gendam Smaradahana dan Gusti Patih Mahodara. Itu sebabnya, Yang Mulia Adipati Terung sampai sekarang masih kebingungan karena hanya bisa menduga-duga siapa dalang di balik peristiwa itu.”

Abdul Jalil termangu-mangu mendengar penjelasan Wiku Citragati. Sejak awal sebenarnya ia sudah menangkap ketidaklaziman tatanan di Kadipaten Terung, terutama nama-nama bangunan yang mirip tatanan kraton. Bale Witana dan Bale Panca Rangkang yang luar biasa besar dan megah itu, menurut hematnya, bukan sesuatu yang lazim untuk ukuran sebuah kadipaten. Yang lebih tidak lazim lagi, semua bale tempat kerja sang adipati disebut dengan nama Kraton Katerungan. Puri kediaman pribadi sang adipati yang terletak di belakang kraton disebut dengan nama yang tidak lazim pula, Puri Kamerakan. Bahkan, keberadaan kraton dan puri itu dilingkari oleh baluwarti (dinding benteng dari tanah) yang dijaga oleh pasukan khusus jagasatru. Semua tatanan itu, sepengetahuan Abdul Jalil, jelas-jelas menunjuk pada kediaman seorang ratu. Sebab, belum pernah ada cerita bahwa seorang adipati memiliki kraton, puri, baluwarti, dan kesatuan jagasatru.

Tetapi, semua keagungan dan kebesaran Kadipaten Terung yang mirip kraton itu dalam sekejap telah terhapus dari permukaan bumi akibat amuk sang adipati. Seluruh bangunan kraton dan puri rata dengan tanah. Menurut Wiku Citragati, dalam satu hari saja, atas titah sang adipati, seluruh bangunan di Kraton Katerungan, Puri Kamerakan, Bale Citrasabha, Jagasatru, Karang Puri, Pager Humbug, arena pacuan kuda Jimbaran, Bhuwana Kalang, Sagadgada, dan bangunan lain binasa. Hanya tiga bangunan yang tersisa di Kadipaten Terung, yaitu tajug agung, Pangawasen Madhuratna, dan Candinegara.

“Jika tempat-tempat ibadah tidak dirusak, berarti ia tidak melakukan amuk. Sebab, ia masih sadar mana bangunan yang boleh dirusak dan mana yang tidak boleh dirusak,” kata Abdul Jalil menyimpulkan.

“Kami juga menduga begitu,” Wiku Citragati membenarkan. “Setelah menghancurkan kadipaten, Yang Mulia Adipati Terung malah memindahkan kratonnya ke Wirasabha. Bukankah tindakan itu sama maknanya dengan membelah secara tegas Daha dan Japan? Bukankah itu sama artinya dengan menantang dua kekuatan?”

“Ia mendirikan kraton di Wirasabha? Bukankah menurut kabar ia pindah ke Bubat?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Kami tidak tahu kabar mana yang paling benar. Sepengetahuan kami, kratonnya yang baru memang di Wirasabha. Sementara di Bubat adalah tempat pasukan bedil besar dan gurnita,” tegas Wiku Citragati.

“Jangan-jangan semua itu siasat?”

“Siasat yang bagaimana?” gumam Wiku Citragati.

“Bukankah dengan menyatakan pindah dari Terung ke Bubat, ia telah menantang perang terbuka kepada siapa saja sebagaimana para ksatria Majapahit bertarung di sana? Sementara dengan kenyataan yang menunjuk ia tinggal di Wirasabha adalah penegasan bahwa ia merupakan panglima perang tak terkalahkan tempat para ksatria berdatang sembah untuk mengabdi?” kata Abdul Jalil.

“Ia memang pantas menjadi ratu dan sekaligus senapati di Wirasabha. Sebab, setahu kami, hampir seluruh petani yang menggarap tanahnya telah dilatih olah keprajuritan dan mereka itu selalu siap dikirim ke medan tempur untuk membantu prajurit Terung,” kata Wiku Citragati.

“Itu berarti, kabar yang menyatakan bahwa di antara semua penguasa di Nusa Jawa ini, hanya adipati Terung yang memiliki pasukan paling besar dan paling lengkap persenjataannya adalah benar,” Abdul Jalil menyimpulkan.

“Kami kira itu memang tak terbantah.”

Setelah merasa cukup beroleh penjelasan dari Wiku Citragati, Abdul Jalil dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Wirasabha. Sewaktu melewati bekas Kadipaten Terung, dari arah sungai ia melihat reruntuhan bangunan teronggok merana bagaikan sebuah daerah bekas terkena gempa. Tikungan Sungai Brantas yang terhubung dengan Bengawan Terung tempat kapal-kapal harus berbelok dan membayar cukai, sudah dibendung dengan gundukan bukit tanah. Kayu-kayu besar bekas tiang saka Puri Kamerakan terlihat berserakan dan sebagian mencuat di antara gundukan tanah seolah-olah deretan tangan menunjuk ke langit. Suasana sangat lengang seolah-olah di sekitar tempat itu tidak pernah ada kehidupan.

Kebinasaan yang terjadi atas Kadipaten Terung ternyata sangat mempengaruhi lalu lintas perniagaan di sepanjang Sungai Brantas. Penambangan-penambangan yang terdapat di sepanjang sungai seperti Jruklegi, Wringinsapta, Bogem, Singkal, dan Canggu menjadi sepi. Satu dua perahu terlihat melintas dengan membawa barang dagangan kebutuhan dapur seperti gula, garam, gerabah, dan peralatan. Padahal, barang satu setengah tahun silam, saat melintasi kawasan itu Abdul Jalil melihatnya sebagai pusat perdagangan yang paling ramai di pedalaman, meski saat itu sedang terjadi perang antara Terung dan Daha.

Di dermaga Canggu, Abdul Jalil dan rombongan turun. Mereka berjalan ke selatan, namun tidak melewati Kraton Japan. Setelah melintasi kawasan Citrawulan (Trowulan), Ksetralaya (Tralaya), hutan Kumeter (yang menggetarkan), reruntuhan kuil Dyanayana (kuil pemujaan Wisynu), dan rimba raya Bahuwarna, mereka mengikuti jalan setapak ke Wanasalam dan kemudian melintasi bukit-bukit terjal serta tebing-tebing curam yang tak pernah dilewati manusia. Mereka menuju Pusung Semar untuk menempatkan tu-mbal, yang diharapkan dapat membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra di sekitar pusat kekuasaan Majapahit. Pusung Semar sendiri diyakini sebagai tempat bersejarah, saat Dang Hyang Semar memperolok-olok dan mengalahkan Bhattari Durga, penguasa Ksetra Gandamayu, sebagaimana tersirat pada kidung Sudamala yang dibaca pada tiap-tiap upacara lukatan (ruwatan).

Majahapit. Kraton yang dibangun Raden Kusen di pedalaman itu menyimpan banyak perlambang. Kata “maja” dapat dimaknai “wilwa” yang menunjuk pada Wilwatikta, yaitu Majapahit. Sedangkan kata “hapit”, selain menunjuk perubahan bunyi dari pahit ke hapit, juga dimaknai “yang berada di antara dua kekuatan”, yang lazimnya merujuk pada istilah hapit lemah dan hapit kayu, yakni sebutan untuk bulan dari kalender Saka: Jyestha. Jika nama Kraton Majahapit dialihbahasakan ke Sansekerta akan menjadi Wihwajyestha yang mengandung sejumlah makna: keturunan yang paling utama, bintang di antara para putera utama, yang menggenggam dua kekuasaan, dan penerus takhta Wilwatikta kesebelas. Makna yang terakhir, penerus takhta Wilwatikta kesebelas, tampaknya bukan main-main karena menurut urut-urutan maharaja Majapahit dari trah Warddhanawangsa, Raden Kusen memang menduduki urutan kesebelas sesudah Prabu Stri Tribhuwanatunggadewi, Rajasanegara, Wikramawardhana, Suhita, Kertawijaya, Rajasawarddhana, Hyang Purwawisesa, Adi-Suraprabhawa Singhawikramawarddhana, Krtabhumi, dan Girindrawarddhana. Dengan begitu, Kraton Majahapit adalah pernyataan dan sekaligus pengingkaran Raden Kusen terhadap kekuasaan Sri Surawiryawangsaja maupun Stri Maskumambang sebagai pelanjut takhta Wilwatikta kesebelas.

Tidak berbeda dengan susunan kraton-kraton sebelumnya, Kraton Majahapit selain berpusat pada bangsal kraton juga dilengkapi puri kediaman pribadi sang ratu yang terletak di belakang kraton. Puri itu disebut dengan nama Bale Kepuh dan Bale Kambang. Bale Kepuh (Jawa Kuno: Kepuh: pohon randu hutan) menunjuk lambang Syiwa yang disebut Sang Randuwana (Jawa Kuno: yang bertaring sebesar buah randu hutan), sedangkan Bale Kambang adalah taman dengan kolam besar lengkap dengan pulau dan pesanggrahan di bagian tengahnya. Di Puri Bale Kambang itulah sang adipati tinggal bersama selir-selirnya. Sementara permaisuri dan putera-puterinya ditempatkan di Puri Surabayan yang terletak di Surabaya.

Di depan Kraton Majahapit, tepatnya di seberang alun-alun, terletak Kepatihan, tempat kerja sekaligus kediaman patih. Yang diangkat menjadi patih adalah Arya Timbul, putera Arya Menak Sunaya, adipati Pamadegan, Madura. Arya Menak Sunaya adalah putera Ario Damar dengan Dewi Wahita, janda dari Bhre Daha, asal Pamadegan. Jadi sang patih adalah kemenakan Raden Kusen. Di sebelah selatan Kepatihan terletak Kepanjen, tempat para panji (pejabat kraton bawahan sang pameget) yang menjalankan tugas sebagai nayaka di bidang peradilan. Di sebelah utara alun-alun terletak mandala Dapur Kajambon, yaitu madhyadesa, lambang Jambhudwipa (satu dari tujuh benua yang mengitari Gunung Meru) yang dijaga oleh para dapur (penduduk desa dari kasta rendah). Sementara tepat di tengah-tengah alun-alun berdiri Bale Bang yang di dalamnya tersimpan payung khutlima berwarna merah yang disebut Jongbang (Jawa Kuno: payung merah).

Abdul Jalil dan rombongan yang memahami makna-makna di balik lambang-lambang Kraton Majahapit itu hanya menggeleng-geleng kepala. Sebab, dari lambang-lambang yang terpampang di sekitar kraton tersebut, mereka menangkap tengara betapa Raden Kusen sudah benar-benar nekad untuk menggelar perang terbuka terhadap siapa saja. Dengan payung khutlima warna merah, lambang kekuasaan ratu Majapahit trah Warddhanawangsa itu, Raden Kusen seolah-olah menantang siapa saja yang berkepentingan merebut takhta Majapahit. Raden Kusen seolah-olah menyatakan tidak mengakui kekuasaan Sri Surawiryawangsaja di Daha maupun Ratu Stri Maskumambang di Japan. Anehnya, meski lambang-lambang yang ditampilkan menunjukkan citra kekuasaan seorang ratu, Raden Kusen justru menolak disebut ratu apalagi maharaja. Dia tetap ingin disebut dengan gelar adipati, sesuai wasiat yang ditinggalkan gurunya, Raden Ali Rahmatullah, susuhunan yang disemayamkan di Ampel Denta. Boleh jadi karena sikapnya yang mendua itu, penguasa Japan dan Daha tidak menanggapi sikap berlebihan dari Raden Kusen yang dianggap semata-mata ingin melampiaskan kegemarannya berperang.

Selama tinggal di Kraton Majahapit dalam rangka membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra, Abdul Jalil mendapati medan tempur yang jauh lebih berat dibanding tempat-tempat yang pernah ia singgahi. Sebab, daerah Wirasabha merupakan daerah yang dijadikan lintasan dari sejumlah pusat kekuasaan sejak zaman purwakala. Lantaran itu, jumlah ksetra dan tempat pemujaan Sang Bhumi di kawasan itu jauh lebih banyak dibanding tempat lain. Di sekitar Wanasalam saja terdapat tiga ksetra, yaitu Wanasalam, Pulasari, dan Lung. Di sebelah timur Kraton Majahapit terdapat pemujaan Dewi Bhumi yang disebut Palemahan. Di barat laut kraton terdapat bekas pemujaan Rahu di Temu Wulan (gerhana) dan Kala Sumanding (gerhana). Sementara di sebelah selatan kraton purwa Watu Galuh yang didirikan Pu Sindok, tersebar pemujaan Syiwa di Kali Wungu (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Nilakantha), di Diwaka (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Diwakara), di Gajah (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Ganapati), di Gudha (Syiwa dipuja sebagai Sanghyang Niskala Mahamaya), dan sebagainya.

Sadar bahwa di pedalaman seperti Wirasabha dan Daha masih cukup banyak orang yang memahami tatanan lama, sebagaimana Raden Kusen yang dengan mudah menerka jalan pikirannya yang ingin mewujudkan Caturbhasa mandala, maka Abdul Jalil memutuskan untuk tidak menggunakan nama-nama yang mencolok dari mandala yang bakal dibukanya di Wirasabha. Ia tidak ingin menimbulkan konflik dengan munculnya dukuh-dukuh baru berciri mandala yang empat (caturbhasa). Lantaran itu, ia memutuskan untuk tidak membuka dukuh dan sebaliknya hanya menanam tu-mbal untuk membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra.

Beratnya medan di Wirasabha akhirnya menghadapkan Abdul Jalil pada keputusan untuk membuka sekaligus empat mandala (caturbhasa mandala) di situ. Demikianlah, ia mula-mula menanam tu-mbal mandala kuning di belakang kraton Majahapit. Ia menandai tu-mbal itu dengan menanam pohon kemuning, lalu meminta Liu Sung untuk menunggui tempat itu selama empat puluh hari.

Liu Sung yang mendapat tugas menjaga tu-mbal di bawah pohon kemuning itu heran dan bertanya, “Kenapa tempat itu tidak dinamai Dukuh Lemah Jenar, o Tuan Syaikh?”

“Bukankah sudah ada pohon kemuning dan Kraton Majahapit?” sahut Abdul Jalil singkat.

“Kami belum paham, Tuan Syaikh.”

“Syarat tu-mbal tidak harus dikaitkan dengan tanah, terutama yang berkaitan dengan lambang air dari nafs as-Sufliyyah. Pohon kemuning yang bermakna kuning atau jenar dapat juga dijadikan lambang.”

“Bagaimana dengan Majahapit? Apa kaitan Majahapit dengan mandala kuning?”

“Tahukah engkau makna kata Apit atau Apita dalam bahasa Sansekerta?”

“Tidak, Tuan Syaikh.”

“Artinya, warna kuning.”

“Kuning? Kenapa Yang Mulia Raden Kusen memilih nama Majahapit untuk kratonnya? Bukankah di depat kraton, di Bale Bang, ia menempatkan payung khutlima warna merah (jongbang)?” tanya Liu Sung belum paham.

“Warna merah yang tercermin dari payung khutlima adalah lambang khusus kekuasaan Warddhanawangsa, sedangkan warna putih payung khutlima adalah lambang kekuasaan Rajasawangsa. Jadi, dengan payung khutlima warna merah itu ia ingin menunjukkan diri kepada semua orang bahwa ia adalah trah Warddhanawangsa. Sementara nama kratonnya, Majahapit yang dihubungkan dengan warna kuning, menunjukkan keberadaannya sebagai keturunan puteri kuning bernama Ratna Subanci. Karena alasan itu, o Liu Sung, aku menunjukmu untuk menjalankan tugas itu di situ,” kata Abdul Jalil tertawa.

Liu Sung mengangguk-angguk memahami penjelasan Abdul Jalil. Tetapi, sejenak setelah itu bertanya lagi, “Jika demikian, Tuan Syaikh tidak perlu susah-susah membuka Dukuh Lemah Abang di tempat lain. Sebab, sarana tu-mbal itu bisa dipasang di Bale Bang tempat payung khutlima jongbang itu diletakkan.”

“Itu memang benar. Dan aku akan menunjuk Raden Sulaiman untuk menjaganya.”

“Bagaimana dengan mandala putih? Apakah juga tidak perlu membuka Dukuh Lemah Putih?”

“Ya,” jawab Abdul Jalil singkat. “Sahabat kita Syaikh Jumad al-Kubra sekarang sedang menulis wafak di atas lempengan perak untuk ditanam di suatu tempat. Dan, sesuai tu-mbal, maka tempat itu akan dinamai Dukuh Salaka atau Perak.”

“Untuk mandala hitam?”

“Aku sudah memilih tempat di Watu Galuh, yaitu di tempat yang terdapat batu hitam yang disebut Watu Gilang, tempat Pu Sindok dulu dinobatkan sebagai raja. Di situlah sarana tu-mbal yang kubuat akan kutanam sebagai lambang mandala hitam. Dan sahabat kita Raden Sahid sekarang ini sedang menulis wafak pada karas tanah untuk ditanam di sana,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

Raden Sahid duduk termangu di sisi Abdul Jalil yang terbujur lemah di atas lembar-lembar daun jati. Malam itu, di tengah rintik gerimis yang membasahi bumi, dia menunggui Abdul Jalil yang sakit di dalam naungan gubuk kecil beratap alang-alang. Suasana sekitar yang gelap gulita diselimuti kabut terasa hening. Sepi. Lengang. Angin tak sedikitpun berembus. Hanya tetes-tetes air hujan yang jatuh dari atap gubuk ke bebatuan didengar Raden Sahid seperti suara gamelan yang ditabuh makhluk penghuni kegelapan. Di tengah kesendirian itu dia mencoba merangkai kembali gambaran-gambaran peristiwa yang dialaminya selama mengikuti Syaikh Lemah Abang melakukan perjalanan di pedalaman Nusa Jawa.

Setelah usai memasang tu-mbal di Wirasabha, dia mengikuti Syaikh Lemah Abang ke wilayah Daha. Raden Sulaiman dan Liu Sung tidak ikut sebab mereka berdua dinikahkan oleh Raden Kusen dengan dua puteri patih Wirasabha, Arya Timbul. Mereka berdua diminta tinggal di Wirasabha. Sementara itu, setelah Syaikh Lemah Abang dan rombongan sampai di tlatah Daha, mereka menghadap Patih Mahodara, yang kelihatan senang sekali bertemu dengan Syaikh Lemah Abang. Mereka berbincang-bincang dan bertukar pikiran sampai jauh malam.

Tidak berbeda dengan di Wirasabha, Syaikh Lemah Abang menempatkan tu-mbal di tempat-tempat yang tidak jauh dengan ksetra atau tempat pemujaan Sang Bhumi. Mula-mula, menanam tu-mbal di bekas Kraton Keling sebagai perlambang penyucian nafs al-Lawwammah Bhumi. Ini perlambang mandala Lemah Ireng. Setelah itu, menanam tu-mbal di tempat yang terletak di tepi Sungai Brantas. Tempat itu dinamai Putih sebagai perlambang nafs al-Muthma’inah Bhumi. Itu perlambang mandala Lemah Putih. Yang ketiga, menanam tu-mbal di bekas Ksetra Abobang (Jawa Kuno: kebusukan darah; Putikeswara merah) di kaki Gunung Hijo (Wilis). Yang terakhir, atas perkenan Patih Mahodara, Syaikh Lemah Abang membuka dukuh di kutaraja, tepatnya di tepi timur Sungai Brantas. Dukuh itu dinamai Kajenar (Kamuning).

Setelah empat puluh hari tinggal di Daha, menunggu Syaikh Lemah Abang menanam tu-mbal dan membuka mandala-mandala di sekitar Gunung Kamput (Kelud) dan Gunung Kawi, mereka melanjutkan perjalanan. Yang ditunjuk menjadi kepala Dukuh Kajenar di Daha adalah Kyayi Pocanan, bekas Poco (tokoh agama Syiwa-Budha), yang bersama-sama dengan empat puluh orang siswanya mengambil madiksha kepada Syaikh Lemah Abang. Sepanjang perjalanan menembus pedalaman Nusa Jawa itu, Raden Sahid berkali-kali mendapati Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil terheran-heran dengan kebiasaan hidup penduduk di pedalaman. Mereka heran dengan penduduk yang umumnya hanya mengenakan cawat dan para perempuan belum mengenal penutup dada. Mereka hanya menggeleng-geleng kepala ketika mengetahui kebiasaan penduduk yang jarang mandi dan suka sekali memakan makanan najis, seperti botok cindil (pepes anak tikus), botok ulat, trancam cacing, dendeng kucing, ular bakar, pindang anjing, lawar-lawaran (daging mentah), bahkan lalawar (darah mentah dengan parutan kelapa). Bahkan, mereka hanya bisa mendecakkan mulut ketika mendapati penduduk yang mengaku beragama Budo (Syiwa-Budha) itu ternyata para penyembah ruh-ruh penunggu hutan, mata air, air terjun, pohon besar, batu, kabuyutan, punden karaman, arwah leluhur, dan nyaris tak mengenal dewa-dewa Hindu.

Setelah berkeliling ke berbagai tempat untuk memasang tu-mbal atau membuka dukuh-dukuh, pada awal bulan kedua puluh tiga dari perjalanan tersebut sampailah mereka di kaki utara Gunung Mahendra (Lawu) yang membentang hingga aliran Bengawan Sori (Sungai Wisynu, sekarang Bengawan Solo). Saat itu hari sudah senja dan hujan turun dengan deras disertai embusan angin yang cukup keras. Masih segar dalam ingatan Raden Sahid bagaimana ia berlindung di balik pohon-pohon jati untuk menghindar dari serangan air hujan. Titik-titik hujan yang diembus angin itu dia rasakan bagaikan ribuan serangga menyengati wajahnya. Di tengah guyuran hujan yang makin lebat itu dia sempat menyaksikan suatu kenyataan yang mengherankan: di tengah amukan hujan dan angin dia melihat betapa surban, wajah, dan pakaian yang dikenakan Syaikh Lemah Abang tidak sedikit pun basah. Semuanya kering seolah-olah sang syaikh sedang tidak berada di tengah hujan. Tetapi, saat dia menanyakan keanehan tersebut, dalam sekejap semuanya mendadak berubah. Surban, wajah, dan pakaian yang dikenakan Syaikh Lemah Abang tiba-tiba basah kuyup dan tubuhnya terlihat menggigil kedinginan.

Sadar apa yang baru saja dilakukannya adalah sebuah kesalahan, Raden Sahid diam dan merasa menyesal dalam hati. Dia sadar segala sesuatu keanehan yang menyangkut keramat (karamah) seorang kekasih Allah merupakan rahasia kekuasaan Ilahi yang tidak boleh diukur dengan akal pikiran. Dia berjanji tidak akan pernah lagi bertanya tentang ini dan itu yang terkait dengan keanehan-keanehan yang dia saksikan pada diri Syaikh Lemah Abang maupun kedua orang sahabatnya.

Setelah hujan mereda dan mereka beristirahat di pinggir Bengawan Sori, dengan beratap langit dan pakaian basah, Raden Sahid melihat Syaikh Lemah Abang berdiri tegak dengan wajah menghadap ke selatan. Beberapa kali dia melihat mata sang syaikh dikecilkan seolah ingin menembus kegelapan yang menyembunyikan lengkungan-lengkungan garis bukit yang menghitam di kaki Gunung Mahendra yang tegak laksana raksasa duduk. Setelah cukup lama berdiri, dia melihat Syaikh Lemah Abang membalikkan badan ke arah utara sambil berkata-kata seolah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Di sinilah mandala yang empat (caturbhasa mandala) itu akan ditegakkan sebagai garis pembatas bagi kekuatan-kekuatan adiduniawi yang berkuasa di timur dan barat Nusa Jawa. Di sinilah mandala Siti Jenar (Sansekerta: Ksiti: tanah) akan ditegakkan. Di sinilah keakuan anak manusia bernama Abdul Jalil akan dianugerahi nama Abiseka Ksitiputra (Putera Sang Bhumi) dan akan dijadikan korban untuk santapan Mahasitisuta (Sansekerta: Putera Teragung Sang Bhumi), Sang Narakasura.”

Syaikh Jumad al-Kubra yang duduk di samping Raden Sahid terlihat gelisah mendengar kata-kata sahabatnya itu. Berkali-kali dia menarik napas panjang. Setelah suasana terasa hening, tiba-tiba dia berdiri mendekati Syaikh Lemah Abang. Kemudian dengan wajah diliputi kepedihan dia berkata penuh perasaan.

“Aku tidak paham dengan apa yang baru saja engkau ucapkan, o Saudaraku. Tetapi, dengan tindakan yang telah engkau lakukan selama ini: melukai tubuh dan menumpahkan darah di setiap mandala Lemah Abang, adalah sesuatu yang sebelumnya tak pernah terlintas di dalam pikiranku. Bahkan, ikatan perjanjian dengan Sang Bhumi yang sudah engkau lakukan di mandala-mandala kuning, bahwa engkau dan seluruh keturunanmu tidak akan menikmati kemakmuran bumi dan akan mengingkari kemasyhuran, adalah hal yang sulit dipahami. Bagaimana mungkin ada seorang manusia rela berkorban untuk kepentingan orang lain dengan memangkas seluruh pamrih pribadi hingga ke seluruh garis keturunannya? Padahal, yang banyak aku jumpai adalah manusia-manusia yang rela berkorban demi kejayaan keturunannya mendatang. Ini sungguh aneh dan tak terpahami, o Saudaraku.”

“Kini, di tengah keletihan tubuh yang melemahkan jiwa kita, setelah berkali-kali engkau menumpahkan darahmu di mandala-mandala Lemah Abang, tiba-tiba saja engkau mengatakan akan mempersembahkan keakuanmu untuk dijadikan santapan Mahasitisuta, Sang Narakasura. Aku tidak paham maksudmu, o Saudaraku terkasih. Apakah maksud ucapanmu itu? Siapakah yang engkau maksud dengan Mahasitisuta, Sang Narakasura itu?”

“Mahasitisuta, Sang Narakasura, adalah nama neraka,” sahut Syaikh Lemah Abang dingin.

“Nama neraka? Kami belum paham maksudmu, o Saudaraku.”

“Di dalam perikatan janjiku dengan Sang Bhumi, dalam kaitan dengan penyucian nafs al-Ammarah Bhumi, anasir api, yang haus darah dan madhu, keakuanku memang akan dibenamkan di bawah permukaan bumi sebagai Ksitisuta (putera bumi). Tetapi untuk penyucian nafs al-Lawwammah, Sufliyyah, dan Muthma’innah Bhumi, anasir tanah, air, dan angin, maka keakukanku akan dibenamkan terus hingga mencapai ke dasar neraka tempat persemayaman Sang Narakasura, yakni Sang Bhoma, putera Prthiwi. Keakuanku akan luluh dan tak berbentuk. Dengan begitu, siapa pun nanti tidak akan mengenal lagi keberadaanku. Itu berarti, jika tiba saatnya nanti, setiap orang wajib menghujatku sebagai manusia paling bejat, busuk, tengik, sesat, menyesatkan, dan tidak pantas menghuni tempat mana pun di jagat raya ini kecuali di neraka paling bawah,” kata Abdul Jalil tegas.

“Kenapa engkau menerima ikatan perjanjian itu?” tanya Syaikh Jumad al-Kubra heran. “Bukankah engkau dianugerahi karamah yang memancar dari al-Karim? Bukankah engkau bisa menggunakan karamah yang tercurah pada dirimu itu untuk menekuk kekuatan Sang Bhumi? Kenapa engkau memilih jalan penistaan seperti ini?”

“Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu, o Saudaraku terkasih. Aku juga tidak tahu kenapa aku memilih cara yang rumit dan berbelit-belit ini. Tapi, satu hal yang bisa kujelaskan kepadamu, bahwa zaman di mana kita hidup adalah zaman terjadinya perubahan besar-besaran dalam tatanan kehidupan di bumi. Suatu zaman di mana Sang Bhumi tidak lagi dihormati dan dimuliakan sebagai anasir pembentuk jasad manusia. Sang Bhumi tidak lagi dianggap sebagai sebagai Ibunda Suci. Sang Bhumi akan dianggap sebagai gudan perbendaharaan yang bisa diserbu, dikuasai, dirampok, dijarah, dan diperkosa untuk melampiaskan nafsu hewani manusia yang rendah.”

Sebagaimana hukum kauniyah yang berlangsung tetap atas tiap-tiap Sunnah Allah, Sang Bhumi akan meronta dan melawan terhadap siapa saja yang akan membinasakan dirinya. Itu berarti, hukum kauniyah yang menetapkan keseimbangan timbal balik atas sesuatu, memberi hak bagi Sang Bhumi untuk meminta imbalan kepada mereka yang menyerbu, merampok, menjarah, dan memperkosanya. Jika ada di antara manusia yang sudah paham dengan rahasia di balik hukum kauniyah itu kemudian dengan suatu kekuatan adikodrati akan melelikung kekuatan Sang Bhumi untuk membela diri, maka manusia itu telah berbuat zalim, meski ia seorang kekasih Allah.”

“Dalam beberapa kali perjumpaan ruhaniku dengan Sang Bhumi, aku melihatnya dalam keadaan sangat marah dan seolah-olah ingin menumpahkan amarahnya kepada manusia-manusia yang dianggapnya tidak tahu membalas budi. Aku menangkap sasmita, jika Sang Bhumi meledakkan amarahnya maka ia akan melakukannya secara berlebihan sehingga akan menimbulkan korban sangat besar yang akan mengenai pula manusia-manusia tak bersalah. Karena itu, o Saudaraku terkasih, apa yang aku lakukan dengan cara berliku-liku dan berbelit-belit ini tidak lain dan tidak bukan adalah suatu upaya anak manusia, putera Sang Bhumi, yang ingin menunjukkan bukti kepada Ibunda Bhumi, bahwa di antara segala makhluk ciptaan Allah pada dasarnya tidak ada yang melebihi kemuliaan manusia yang ditunjuk Allah sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Aku ingin menunjukkan kepada Sang Bhumi bahwa sebesar apa pun pengorbanan yang telah diberikannya dalam berkhidmat kepada makhluk yang lahir darinya, terutama terhadap putera-puteranya, manusia, tidakklah bisa melebihi pengorbanan putera-puteranya yang sudah sadar akan keberadaan diri sebagai khalifah Allah,” kata Abdul Jalil.

“Apakah tindakanmu itu bisa meredakan amarah Sang Bhumi?”

“Ya, aku yakin,” sahut Syaikh Lemah Abang tegas. “Allah telah menetapkan sebab-sebab untuk menjaga keseimbangan hukum kauniyah yang ditetapkan-Nya. Apa yang aku lakukan sesungguhnya hanya sebagian kecil sekali dari unsur-unsur yang menjadi penyebab terciptanya keseimbangan itu, termasuk meredanya amarah Sang Bhumi yang bisa menimbulkan keguncangan.”

“Sungguh, hanya seorang malamit sejati yang bisa melakukan tindakan sepertimu, o Saudaraku. Karena itu, sungguh tidak salah ketika guru suci kami Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi menganugerahi engkau dengan taj. Sungguh, aku akan bersaksi bahwa engkau seorang malamit sejati. Aku akan selalu berdoa kepada Allah supaya aku tidak diberi umur panjang sehingga aku tidak akan menyaksikan saudaraku terkasih didera hujatan dan caci maki manusia. Sungguh, aku tidak mampu menyaksikan peristiwa itu,” kata Syaikh Jumad al-Kubra dengan mata berkaca-kaca.

Saat itu Raden Sahid melihat Syaikh Lemah Abang diam seolah-olah tidak mendengar ucapan Syaikh Jumad al-Kubra. Tetapi, sejenak setelah itu, dengan tatapan mata diarahkan ke gugusan bukit di lereng Gunung Mahendra yang membentang di selatan, dia melihat Syaikh Lemah Abang berkata, “Mandala Siti Jenar yang akan kita tegakkan ini belumlah akhir dari perjalanan. Bhumi Mataram (Sansekerta: Ibu Prthiwi) dan Kabhumian (Jawa Kuno: wilayah khusus Sang Bhumi) masih menunggu kita di sebelah barat. Artinya, kita masih harus mengucurkan darah kita dengan ikhlas dan tanpa pamrih supaya Ibunda kita itu malu.”

Syaikh Jumad al-Kubra tidak berkata-kata. Dia diam dan tidak tidur hingga pagi. Seiring terbitnya sang bagaskara di ufuk timur, Raden Sahid menyaksikan Syaikh Lemah Abang memulai pekerjaan membuka Dukuh Lemah Abang di antara kaki Gunung Mahendra dan Bengawan Sori. Tampaknya pekerjaan memasang tu-mbal di bakal Dukuh Lemah Abang kali ini sangat berat dibanding sebelumnya. Hal itu mulai terlihat gelagatnya ketika usai “mengucurkan darah” di atas sebongkah batu hitam, sebagaimana diisyaratkan Sang Bhumi, Raden Sahid melihat Syaikh Lemah Abang berjalan gontai tak tentu arah sambil menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Dia menduga saat itu sang syaikh sedang membaca doa-doa.

Ketika cahaya matahari sudah condong ke barat dan langit dipadati gumpalan awan hitam yang diselingi sambaran petir di angkasa, Raden Sahid mulai gelisah karena tidak melihat Syaikh Lemah Abang. Dengann hati diliputi kecemasan dia buru-buru menemui Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil yang sedang memasang tu-mbal di tepi Bengawan Sori, yaitu di tempat yang dinamai Siti Cemeng (Jawa Kuno: tanah hitam), yang diapit dua ksetra tempat pemujaan Dewi Prthiwi, Ksetra Bhumiaji dan Ksetra Malale. Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil terkejut mendengar laporan Raden Sahid. Mereka kemudian bergegas mencari Syaikh Lemah Abang ke mana-mana, namun tak juga ketemu. Menjelang tengah malam mereka baru menemukan tubuh Syaikh Lemah Abang tersungkur tak berdaya di pinggir sungai kecil tak jauh dari bakal Dukuh Lemah Abang. Tubuhnya menggigil panas dan bekas luka di tangannya terlihat merah membengkak.

Raden Sahid menarik napas panjang dan menyeka peluh yang membasahi kening Syaikh Lemah Abang. Ingatannya tentang peristiwa sakitnya Syaikh Lemah Abang dirasakannya sebagai bagian dari rasa bersalahnya terhadap sang syaikh. Andaikata malam itu dia tidak bertanya tentang pakaiannya yang tidak basah tertimpa hujan, tentunya sang syaikh tidak akan jatuh sakit. Bayangan Syaikh Lemah Abang yang menggigil kedinginan malam itu terus dirasakannya laksana hantu yang memburu ketenangannya. Bahkan, saat dia meyakini daun-daun dan akar-akar obat yang diborehkannya ke lengan Syaikh Lemah Abang itu mujarab untuk menyembuhkan luka, hatinya tetap diliputi kekhawatiran.

Perjalanan selama dua puluh tiga bulan di pedalaman Nusa Jawa memang telah menumbuhkan ikatan kuat di hati Raden Sahid terhadap Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jumad al-Kubra, dan Abdul Malik Israil. Dia merasakan ketiga orang itu, terutama Syaikh Lemah Abang, seolah-olah bagian dari hidupnya. Dia seperti sadar bahwa ketiga orang itulah yang diam-diam telah mengukir jiwanya dan menyingkapkan kesadarannya atas hakikat hidup manusia. Itu sebabnya, dia sangat khawatir dan bahkan takut jika salah satu di antara mereka akan meninggalkannya. Dan salah satu hal yang paling dikhawatirkannya saat ini adalah rencana Syaikh Lemah Abang untuk membuka Dukuh Siti Jenar baru di seberang Bengawan Sori. Dia khawatir jika salah satu syarat untuk membuka dukuh itu sama dengan syarat membuka Dukuh Lemah Abang, yaitu mengucurkan darah di atas batu hitam. Bukankah syarat itu jika dipenuhi akan mengancam keselamatan sang syaikh yang sedang sakit dan lukanya belum sembuh?

Ketika hari tergelap jatuh pada Anggara Kliwon, di suatu tempat angker bernama Ksetra Gandamayu yang terletak di pantai Laut Selatan di muara Sungai Opak, di tengah kepulan asap dupa dan wangi bunga, dalam selimut kabut tebal, tubuh Abdul Jalil yang dibungkus kain putih terlihat terbujur di atas altar persembahan dengan alas daun kemuning. Di sekitar tubuhnya terlihat beberapa jenis korban (bebanten) berupa ayam brumbun, ayam wiring, ayam putih, itik bulu sikep, angsa, kambing, gudel merah, kerbau, tuak, tumpeng, beras, dan bunga-bunga. Malam itu Ki Belawwalu, pemimpin Ksetra Gandamayu, mengadakan upacara bhuta yadna dengan menjadikan tubuh Abdul Jalil sebagai korban suguhan bagi para bhutakala. Di dalam upacara bhuta yadna itu, Abdul Jalil selain dijadikan sebagai pengganti anjing Bang Bungkem untuk santapan bhutakala di bawah Rudra, ia juga dijadikan babi kucit hitam untuk santapan bhutakala di bawah Bhattari Durga yang berkuasa di sebelah selatan yang disebut Susuhunan Ratu Kidul.

Selama menjalankan upacara bhuta yadna yang disebut juga caru palemahan atau bhumi-suddha itu, Ki Belawwalu didampingi kawan setianya, Ki Gagangaking, seorang bujangga Waishnawa. Dengan penuh khidmat kedua orang itu melakukan upacara yang mereka anggap dapat menyelamatkan kehidupan umat manusia dari gangguan para bhutakala. Sementara Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, dan Raden Sahid dengan wajah diliputi ketegangan duduk bersila di belakang Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking. Mereka tidak tahu apa yang bakal dialami oleh Abdul Jalil yang meminta dirinya dijadikan bebanten bagi bhutakala.

Raden Sahid yang duduk paling belakang, di tengah selimut kegelapan mengamati tubuh Abdul Jalil dari balik bahu Syaikh Jumad al-Kubra. Dia tidak bisa melihat apa pun di sekitarnya, kecuali tubuh Abdul Jalil yang remang-remang tergeletak di atas altar. Dia merasa seperti berada di alam mimpi. Benaknya penuh diliputi kelebatan tanda tanya. Hatinya tercekam kegelisahan. Jantungnya berdegup keras. Tenggorokannya terasa kering. Apakah sesungguhnya yang akan terjadi dengan Syaikh Lemah Abang yang menyerahkan diri sebagai bebanten, katanya dalam hati.

Ketika malam makin menyusup di bawah selimut kabut tebal, Raden Sahid merasakan betapa suasana makin lama makin mencekam. Dalam hening yang mencekam dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Dan dia merasakan jantungnya nyaris berhenti ketika telinganya mendengar suara lengkingan dahsyat membelah keheningan diikuti suara gemuruh sahut-menyahut, diiringi munculnya seberkas cahaya merah yang membalut api kuning dari tengah lautan. Sambil menggosok-gosok mata, dia membaca doa-doa dengan hati diliputi ketegangan.

Cahaya merah yang membalut api kuning itu terlihat makin mendekat ke arah altar. Ketika jaraknya bertambah dekat, terlihatlah ternyata cahaya merah itu dilingkari kabut hitam bergumpal-gumpal. Suasana makin mencekam ketika dari arah utara terdengar suara gemuruh yang diikuti munculnya cahaya kuning membalut api merah. Raden Sahid paham, munculnya cahaya dari arah selatan dan utara itu merupakan pertanda kemunculan makhluk-makhluk halus sebagaimana dijelaskan Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking beberapa waktu lalu. Dia paham bahwa cahaya yang membalut api itu adalah tengara dari kemunculan makhluk-makhluk yang disebut pisaca-pisaci, rakshasa-rakshasi, kalika-kaliki, yaksa-yaksi, bragala-bragali, kamala-kamali, bhutakala-bhutakali, magunda-magundi, tonyo, dan pemuka-pemukanya seperti Bhuta Dengen, Bhuta Kapiraga, Bhuta Janggit, Bhuta Langkir, Bhuta Taruna, Bhuta Tiga Shakti, Kala Sweta, serta Lembu Kere, juga para bhuta beserta kala pengikut Durga dan Kala Rudra.

Beberapa saat suasana terasa sunyi. Hening. Mencekam. Cahaya yang membalut api itu terlihat melayang-layang di dalam gumpalan kabut hitam yang tebal mendekati tubuh Abdul Jalil. Semua mata terarah ke tubuhnya. Dua cahaya dari arah berlawanan itu makin lama makin dekat. Tatkala jarak keduanya makin dekat, terlihatlah pemandangan menggetarkan, dua berkas cahaya yang membalut api itu ternyata menampakkan gambaran perwujudan makhluk-makhluk halus yang mengerikan. Sambil berteriak-teriak dan menjerit-jerit dengan suara hingar-bingar, perwujudan makhluk-makhluk mengerikan itu mengerumuni tubuh Abdul Jalil. Dalam sekejap tubuhnya sudah diselimuti gumpalan kabut hitam tebal yang berpendar menutupi cahaya. Tetapi, tanpa terduga-duga terjadi peristiwa aneh. Seberkas cahaya biru terang laksana pancaran kristal tiba-tiba memancar dari dada Abdul Jalil. Secara ajaib, gumpalan kabut hitam tebal yang menyelimuti tubuh itu menyemburat ke berbagai arah dengan suara hiruk pikuk bagaikan jeritan berjuta-juta setan di tengah bukit yang runtuh.

Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking yang sedang tenggelam dalam mantra-mantra terkejut bukan alang-kepalang ketika menyaksikan pemandangan menakjubkan itu. Mereka makin terkejut ketika merasakan tubuhnya seperti terangkat dari permukaan tanah. Dan serentak menjerit bersama ketika menyadari tubuhnya terlempar ke belakang dengan keras. Kemudian jatuh terguling-guling di atas tanah pasir berbatu. Dengan merangkak-rangkak, mereka berusaha kembali ke altar persembahan untuk melanjutkan upacara. Tetapi, saat itu dari arah samudera terdengar suara gemuruh ombak. Pancaran cahaya merah membalut api kuning yang dilingkari kabut hitam bergerak ke arah altar. Pada saat bersamaan terdengar pula suara gemuruh diikuti munculnya cahaya kuning membalut api merah yang dilingkari gumpalan awan hitam melesat ke arah altar. Raden Sahid yang bersembunyi di balik jubah Syaikh Jumad al-Kubra menyaksikan Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking menyembah sambil menyebut nama Ratu Susuhunan Kidul dan Sang Kala Rudra.

Melihat penampakan aneh itu, Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil menangkap sasmita tidak baik. Tanpa diperintah, mereka serentak bangkit sebab mengkhawatirkan keselamatan sahabat mereka, Abdul Jalil. Sambil membaca doa-doa penolak kekuatan jahat jin dan setan, mereka melangkah ke arah altar persembahan. Ketika jarak mereka tinggal sejangkauan, Syaikh Jumad al-Kubra menerkam tengkuk Ki Belawwalu yang bersila di kaki altar, sementara Abdul Malik Israil menjambak rambut Ki Gagangaking yang sedang bersujud.

Ki Belawwalu yang bertubuh pendek dan Ki Gagangaking yang bertubuh kurus itu tak berdaya dicengkeram tangan dua orang bertubuh lebih tinggi dan berkekuatan lebih dari mereka. Mereka hanya meronta sesaat, lalu diam seperti pasrah. Dengan wajah pucat mereka menunggu apa yang bakal mereka alami selanjutnya. Sementara itu, saat melihat keduanya berdiam diri, Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil secara hampir bersamaan melempar tubuh keduanya menjauhi altar seperti orang melempar barang jinjingan. Kemudian bagaikan berebut dengan waktu, mereka melompat ke arah altar untuk meraih tubuh Abdul Jalil yang terbujur dibungkus kain putih. Tetapi, sebelum mereka mencapai sisi altar, terjadi peristiwa aneh, tubuh mereka terpental dengan keras ke belakang. Terbanting dan bergulingan di dekat tubuh Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking yang telah lebih dulu terkapar di tanah berpasir.

Tak percaya dengan kenyataan, Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil serentak bangkit dan menerjang ke arah altar sambil meneriakkan takbir. Untuk kali kedua, tubuh mereka terlempar dengan sangat keras hingga terbanting dalam jarak sekitar sepuluh tombak dari altar. Tetapi, tanpa kenal jera mereka berdua bangkit kembali dan berusaha meraih tubuh Abdul Jalil. Dan seperti peristiwa semula, tubuh mereka selalu terlempar dengan keras ke arah belakang.

Ketika sadar usaha itu gagal, mereka pun menggunakan cara lain. Mereka menangkap tubuh Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking. Kemudian dengan langkah lebar mereka berlari ke arah altar dan melemparkan tubuh keduanya ke sisi altar. Terjadi peristiwa aneh yang menakjubkan, tubuh Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking yang terlempar keras itu membentur sisi altar dan jatuh terguling dengan kepala berdarah. Tetapi, secara bersamaan tubuh Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil tiba-tiba terpental lagi dan bergulingan di atas tanah. Saat mereka berusaha bangkit, kobaran api terbalut cahaya dan gumpalan awan hitam yang melesat dari arah selatan dan utara itu meluncur makin dekat ke altar.

Melihat bahaya mengancam Abdul Jalil, Raden Sahid yang dicekam kegentaran tiba-tiba panik. Tanpa berpikir akan keselamatan diri, dengan meneriakkan takbir sekeras-kerasnya dia melompat ke arah altar. Dia berpikir akan meraih dan menarik tubuh Abdul Jalil dari atas altar. Tapi, seperti nasib yang dialamui Syaikh Jumad al-Kubra dan Abdul Malik Israil, tubuh Raden Sahid terlempar keras ke belakang. Terguling-guling di atas tanah pasir berbatu. Sementara kobaran api terbalut cahaya dan gumpalan awan hitam itu bertambah dekat ke altar.

Ketika ketiganya dengan susah payah berusaha bangkit, tiba-tiba terlihat pemandangan tak terduga. Tubuh Abdul Jalil yang terbungkus kain putih dan membujur di atas altar bangkit dan duduk bersila dengan tetap berselimut kain putih. Suarah gemuruh bagai bukit runtuh dan halilintar yang bersahutan terdengar sambung menyambung seiring mendekatnya cahaya yang membalut nyala api itu ke arahnya. Di tengah suara gemuruh itu terdengar kata-kata lantang dari balik selimutnya.

“Dengan penuh keikhlasan aku persembahkan tubuhku kepada Dhari Durga, Ratu Susuhunan Kidul, penguasa arah mata angin selatan, sebagaimana telah aku persembahkan tubuhku kepada Sri Durga, penguasa timur, Raji Durga, penguasa utara, Suksmi Durga, penguasa barat, dan Dewi Durga, penguasa tengah. Dengan penuh keikhlasan aku persembahkan pula jiwaku kepada Sang Kala Rudra. Tetapi, ruhku yang suci aku pasrahkan kepada Hyang Tunggal, Tuhan sarwa sekalian alam, yang telah meniupkannya ke dalam tubuh-jiwaku. Bersatulah, o Dhari Durga dan Kala Rudra! Mangsalah aku! Semoga dengan pengorbananku ini akan lahir Sang Kala, zaman baru (amurwakala), zaman keselamatan (Islam) bagi umat manusia sebagai pengejawantahan keagungan Sang Pencipta (khalifah al-Khaliq) yang menata kehidupan di jagad raya dengan akhlaq yang mulia (al-Khuluq al-karim).”

Gumpalan kabut hitam yang membalut cahaya dari arah samudera dengan suara gemuruh menyerbu ke arah Abdul Jalil dan berpusar-pusar melingkarinya. Pada saat yang sama gumpalan awan hitam bersalut cahaya yang berpendar dari arah utara melesat ke arahnya pula. Terdengar suara dentuman menggelegar ketika kabut dan awan itu bertemu dan berpusar mengitari Abdul Jalil dengan cahaya berpendar-pendar. Putaran itu makin lama makin kencang. Setelah berlangsung beberapa jenak, terdengar ledakan dahsyat diiringi benderang cahaya dan menyemburatnya kabut dan awan hitam itu ke berbagai penjuru. Setelah itu, suasana sangat sepi. Sunyi. Lengang. Hening. Dan Abdul Jalil dengan wajah pucat pasi terlihat duduk termangu-mangu di atas altar seperti orang kebingungan.

Syaikh Jumad al-Kubra, Abdul Malik Israil, dan Raden Sahid yang melihat peristiwa aneh itu buru-buru mendekat dan bertanya dengan penuh rasa khawatir, “Bagaimana, Saudaraku, apakah engkau tidak apa-apa? Apa yang baru saja terjadi?”

Abdul Jalil menarik napas berat sambil melepas kain putih yang menutupi tubuhnya. Setelah diam sejenak, ia menoleh dan berkata, “Alhamdulillah, zaman baru bagi timbulnya matahari keselamatan (Islam) di Nusa Jawa sudah terbit. Tugas kita membuat tawar daya shakti ksetra-ksetra sudah selesai. Berarti, munculnya Islam sebagai penyempurna Syiwa-Budha akan menjadi keniscayaan. Tetapi, sebagaimana hukum alam (Sunnah Allah) yang ditetapkan-Nya, para pelaku kejahatan moral, pelanggar kepantasan adab, dan pemuja benda-benda duniawi (thaghut) pada saat-saat tertentu akan tetap menjadi santapan kesukaan Durga, Kali, Prthiwi, para bhuta dan kala dalam pesta darah, meski mereka sudah mengaku Muslim.”

“Kenapa Dhari Durga dan Kala Rudra tidak memangsamu yang menyediakan diri sebagai korban?”

“Itu yang aku tidak mengerti,” kata Abdul Jalil. “Padahal, aku sudah benar-benar pasrah menyerahkan hidupku untuk mereka jadikan mangsa.”

Ketika Syaikh Jumad al-Kubra akan bertanya lebih dalam tentang peristiwa aneh yang baru dilihatnya itu, tiba-tiba Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking bangkit menghambur dan menyembah kepada Abdul Jalil. Dengan suara mengiba mereka bersujud dan memohon, “Perkenankanlah kami menjadi siswa Paduka Syaikh. Kami telah menyaksikan terbitnya zaman baru dengan keberhasilan Paduka Syaikh membuat tawar daya shakti Ratu Susuhunan Kidul dan Hyang Kala Rudra. Kami tahu Paduka Syaikh adalah pertanda zaman baru yang harus kami ikuti sebagai panutan. Terimalah kami sebagai siswa Paduka Syaikh.”

Abdul Jalil tersenyum dan berkata tenang, “Berdirilah kalian berdua. Syarat utama dari mereka yang menjadi siswaku adalah tidak bersujud kepada sesama makhluk, meski itu guru ruhani. Dan aku beri tahukan kepada kalian berdua bahwa sesungguhnya aku ini hanyalah alat saja dari Dia, Yang Mahakuasa, Yang Maha Berkehendak dalam mengubah tatanan alam semesta. Karena itu, jika kalian berdua telah menyaksikan sendiri lahirnya Sang Kala, yang menyinari jagad di Nusa Jawa ini dengan wajah-Nya yang baru, maka hendaknya kalian berdua mengikuti tatanan baru yang kubawa. Maksudku, kalian berdua hendaknya mengubah Ksetra Gandamayu ini menjadi tempat ibadah Keselamatan (as-Salam) bagi umat manusia. Kalian berdua harus tetap tinggal di sini dengan tugas utama mengajar kepada manusia ajaran Jawa, yaitu Tauhid. Ajarkan kepada semua orang agar mereka hanya menyembah kepada Hyang Tunggal.”

“Kami akan melaksanakan apa pun petunjuk dari Paduka Syaikh,” sembah Ki Belawwalu dan Ki Gagangaking.

“Karena kalian akan mengajarkan Kejawan (Ketauhidan) kepada manusia maka kalian akan disebut orang dengan nama Syaikh Belawwalu dan Syaikh Gagangaking. Syaikh berarti guru ruhani. Dan setinggi-tinggi ajaran ruhani adalah ajaran Tauhid. Mengesakan Tuhan,” ujar Abdul Jalil.

Samudera Pacific (MV. Taho), 29 April 2007, 08:40LT

09. Ksatria dan Prajurit tuhan

Vasco da Gama, anak ketiga Estevao da Gama, penguasa kota Sines, adalah gantungan harapan raja Portugis, Manuel, untuk mewujudkan impian besarnya: menemukan jalur laut ke India.

Vasco da Gama sendiri adalah perwira muda angkatan laut Portugis berpangkat kapten mayor yang dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai manusia kejam, telengas, tak kenal ampun, dingin, suka menghina orang, dan ahli dalam menyiksa tawanan. Gambaran tentang Vasco da Gama sendiri bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sebab, bagi mereka yang paham perwatakan manusia berdasar bentuk wajah, tentu akan mengamini gambaran itu. Mata Vasco da Gama yang cekung ke dalam dan tersembunyi di bawah alis tebal bentuk pedang melengkung mencerminkan kerakusan dan keganasan serigala yang memendam hasrat tak terpuaskan dan penuh diliputi kebencian. Hidungnya yang bengkok paruh rajawali menyembunyikan kelicikan dan jiwa pendendam seekor ular yang bercabang lidahnya dan setiap ucapannya berbalut pamrih beracun. Tulang pipinya yang menonjol pada wajahnya yang tirus membiaskan keculasan dan kepura-puraan musang yang selalu mengintai kelengahan lawan. Bibirnya yang selalu terkatup sinis mengungkapkan kesombongan dan kekejaman buaya yang tak kenal ampun.

Sebagai anak seorang penguasa kota, Vasco da Gama dididik di lingkungan bangsawan yang penuh pujian dan sanjungan. Dalam usia muda ia sudah bekerja di Pengadilan Raja Joao II. Lantaran pekerjaannya itu, ia banyak mengenal para pelaku kriminal dan sampah masyarakat yang berurusan dengan pengadilan. Ia dikenal sangat kejam dan tak kenal ampun. Karena perangainya itu, Raja Joao II mengirimnya ke pantai barat Afrika untuk memperkuat benteng pertahanan di Benteng Setubal, Algarvia, dan koloni Portugis di pantai barat Afrika dalam upaya menghadapi serbuan armada Perancis yang akan menghancurkan jalur perniagaan Portugis di lautan. Selama menjalankan tugas di angkatan laut Portugis itulah reputasinya sebagai manusia kejam yang berdarah dingin makin termasyhur.

Impian menemukan negeri India sendiri adalah impian raja-raja Portugis terdahulu yang diwariskan begitu saja kepada Manuel. Henry, kakeknya, dan Joao II, ayahnya, sangat mempercayai kebenaran sebuah dongeng tentang keberadaan kerajaan Kristen bernama India yang letaknya di sebelah timur dunia Islam. Kerajaan itu dipimpin oleh Prestor Joao, seorang Kristen yang saleh. Entah dari mana dongeng tentang India itu berasal, kenyataan kemudian menunjuk bahwa dongeng itu telah menjadi sebuah impian dan bahkan menjadi pengharapan yang terus memburu mereka siang dan malam. India. Ya, India: kerajaan Kristen di negeri timur yang dilimpahi emas, permata, mutiara, sutra, rempah-rempah, susu, madu, dan gandum.

Sesungguhnya, bukan hanya raja-raja Portugis yang bermimpi bisa menemukan negeri Kristen yang bernama India itu. Raja Spanyol, Inggris, Italia, Belanda, Perancis, dan bahkan raja-raja kecil dari kekuasaan-kekuasaan gurem di Eropa beramai-ramai bermimpi bisa mencapai India. Sebab, telah terikat di dalam alam pikiran Eropa saat itu bahwa siapa saja di antara raja-raja yang bisa menguasai jalur perdagangan langsung dengan India, pasti akan menuai keuntungan berlimpah. Sebab, menjalin perniagaan langsung dengan India berarti akan memperoleh harga-harga barang yang murah dan sekaligus akan memotong jalur perniagaan di Laut Tengah yang selama itu dikuasai pedagang-pedagang Muslim. Dan yang lebih penting dari itu, mereka akan dengan mudah akan bisa mengajak raja India yang beragama Kristen itu untuk bersekutu melawan dunia Islam.

Impian tentang India sendiri nyaris menjadi kenyataan ketika Bartholomew Diaz dan Pedro Corvilhao yang dikirim Joao II berhasil mencapai Tanjung Harapan (Cabo Agulhas) dan menelusuri pantai timur Afrika. Tetapi, impian itu tinggal tergantung di awang-awang akibat Bartholomew Diaz tidak mampu mengatasi pemberontakan awak kapalnya yang menolak melanjutkan pelayaran ke India. Dengan kecewa Joao II menunjuk Estevao da Gama untuk memimpin armada Portugis ke India. Ternyata Estevao da Gama meninggal sebelum menjalankan tugasnya. Joao II lalu menominasikan Vasco da Gama, anak Estevao da Gama, untuk melanjutkan tugas ayahnya.

Ketika Manuel naik tahta menggantikan Joao II pada 1495, ia memutuskan untuk memilih orang yang telah dinominasikan oleh ayahnya: Vasco da Gama. Dalam sebuah audisi di Monte Moro-o-Novo, Manuel mendapati betapa Vasco da Gama adalah perwira muda yang jauh lebih kuat, lebih telangas, lebih dingin, dan lebih fanatik dibanding Bartholomew Diaz. Vasco da Gama lahir di Sines, Provinsi Alemtejo, Portugis, pada tahun 1469. darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah keluarga bangsawan da Gama, yaitu keluarga ksatria dari ordo St. James. Estevao da Gama, ayah Vasco, adalah ksatria ordo yang dianugerahi gelar Alcaide-Moor.

Keluarga da Gama bangga dengan kedudukannya sebagai ksatria perkasa pembela tuhan. Tak beda dengan keluarganya, Vasco da Gama juga menganggap dirinya adalah ksatria perkasa pembela tuhan. Ia sangat tercekam oleh gelar ayahandanya, Alcaide-Moor. Itu sebabnya, saat menghadapi armada Perancis di Setubal, Algarve, dan Guinea ia menganggap semua prajurit Perancis yang menjadi musuhnya sebagai musuh tuhan. Lalu termasyhurlah Vasco da Gama sebagai perwira paling kejam dan tak kenal ampun dalam menghadapi musuh-musuhnya.

Ada suatu hal aneh yang terselip pada citra diri ksatria tuhan ini. Pertama-tama, meski mengaku keberadaan dirinya sebagai ksatria tuhan, ia tidak memiliki cukup pengetahuan yang mendalam tentang Tuhan dan jalan Tuhan. Bahkan, hari demi hari dilewatinya dengan ingatan kuat yang terarah pada kelimpahan benda-benda, jabatan, dan kemasyhuran nama pribadi. Tidak sedikit pun citra Kristus yang penuh kasih tercermin pada sikap hidup dan tindakan-tindakannya yang kejam dan tak kenal ampun itu. Sikap dan perilaku anehnya itu semakin tampak ke permukaan ketika Manuel menunjuknya sebagai pemimpin armada Portugis ke India.

Sebagai ksatria tuhan, ternyata ia tidak sedikit pun tertarik untuk didampingi oleh orang-orang yang saleh di antara bangsanya. Sebaliknya, sebagai ksatria tuhan, ia memilih pendamping para penjahat yang kejam, busuk, dan tengik. Di antara nama-nama ke-171 orang awak kapal yang mengikutinya, hampir seluruhnya narapidana atau sampah masyarakat yang terbuang dari lingkungannya akibat bertindak jahat dan kejam. Sepuluh orang di antara mereka itu justru para narapidana kelas berat yang sedang menjalani hukuman mati akibat merampok dan membunuh. Bahkan tangan kanan yang paling dipercayainya, Aires Correia, adalah pembunuh berdarah dingin yang termasyhur kekejamannya.

Pada 8 Juli 1497 Vasco da Gama membawa empat buah kapal ke India, yaitu Sao Gabriel, Sao Rafael, Berrio, dan sebuah kapal perbekalan dilepas oleh Raja Manuel dengan upacara kebesaran. Para penduduk dan keluarga awak kapal berdesak-desak memenuhi jalan-jalan kota dan pelabuhan. Mereka mengelu-elukan Vasco da Gama dan armadanya bagaikan pahlawan-pahlawan yang berangkat ke medan perang. Vasco da Gama sendiri dengan membusungkan dada berdiri di anjungan kapal Sao Gabriel yang dinakhodai oleh Goncalo Alvares. Di belakangnya bergerak kapal Sao Rafael yang dinakhodai saudaranya, Paulo da Gama. Kapal Berrio yang dinakhodai Nicolau Coelho berada di urutan ketiga dan yang paling belakang kapal perbekalan dinakhodai Goncalo Nunes.

Karena terlanjur mengagungkan diri sebagai ksatria tuhan, Vasco da Gama tanpa sadar telah terjerat oleh angan-angan kosong kebesaran diri (al-wahm) untuk menempatkan diri sebagai orang nomor satu yang menduduki tempat terdepan dan paling utama di antara manusia. Lantaran itu, dalam pelayaran mencari jalan laut ke India ia tidak mau disebut sebagai pelaut yang mengekor kemasyhuran Bartholomew Diaz. Saat berlayar ia memilih mengikuti angin ke arah barat laut, menyimpang dari jalur selatan dan tenggara yang dilalui Bartholomew Diaz. Akibatnya, seluruh awak kapalnya mengalami penderitaan yang nyaris membuat mereka putus asa karena harus menghadapi badai samudera Atlantik dan terseret hingga ke Cabo Verde, kepulauan Canary dan St. Helena. Setelah lebih empat bulan dihajar gelombang dan badai, barulah armada Vasco da Gama mencapai Tanjung Harapan pada 22 Desember 1497. Sungguh sebuah harga yang mahal untuk sebuah kesombongan mencari pengakuan diri. Sang ksatria tuhan telah menukar waktu tempuh pelayaran yang semestinya hanya dua minggu menjadi empat bulan lebih.

Sadar waktu telah dibuangnya dengan percuma, tanpa peduli saat itu menjelang Natal, Vasco da Gama memerintahkan awak kapalnya untuk melanjutkan pelayaran ke pantai timur Afrika dengan harapan dapat mencapai India tepat di hari Natal. Ternyata, pada saat Natal tiba armada yang dipimpinnya baru mencapai daerah di pantai timur Afrika yang kemudian ia namai Natal. Sebulan kemudian Vasco da Gama dan armadanya baru mencapai Sungai Quelimane di utara Natal. Ia kemudian menamai sungai itu Rio Dos Bons Sinais (sungai pertanda baik). Disitu Vasco da Gama beristirahat sekitar sebulan. Setelah itu ia melanjutkan pelayaran hingga mencapai Mozambique pada 2 Maret 1498.

Di Mozambique, para awak kapal Portugis merasa sangat terpukul ketika mendapati pedagang-pedagang Mozambique kebanyakan Muslim dan mereka menjual barang-barang mahal dan mewah seperti keranjang mutiara, lonjoran gading, balok-balok kayu hutan kualitas utama, dan emas batangan. Dengan congkaknya para pedagang Mozambique menyatakan bahwa mereka hanya mau menukar barang dagangannya dengan rempah-rempah asal India, porselen Cina, permata Persia, dan bahan kain yang bagus. Sementara barang-barang dagangan yang dibawa kapal-kapal Portugis yang berupa kerudung dari bahan katun, kain bergaris, genta timah, gelang tembaga, waskom pencuci tangan, dan manik-manik dari bahan beling ditertawakan oleh pedagang-pedagang Mozambique sebagai barang murahan dan sedikit pun tidak dihargai. Sadar bahwa barang dagangan yang dibawanya memang murahan, akhirnya dengan sangat terpaksa, awak kapal Portugis menukar barang dagangannya dengan buah-buahan, sayur mayur, dan burung dara. Dan saat menyantap makanan tersebut, mereka menghibur diri dengan menganggap makanan itu sebagai “angin segar” Afrika.

Vasco da Gama sendiri selaku kuasa dagang Portugis yang mengaku wakil raja Portugis, Manuel, disambut dan dijamu oleh Sultan Mozambique dengan sangat ramah. Sultan menduga Vasco da Gama pastilah saudagar kaya raya yang ditunjuk raja Portugis untuk membuka hubungan dagang dengan Mozambique. Sultan Mozambique yang berkulit hitam, tampan, dan bertubuh tegap itu menyambut Vasco da Gama dengan tata cara kebangsawanan. Dalam menyambut Vasco da Gama, dia mengenakan pakaian kebesaran seorang sultan: memakai celana putih hingga menutupi mata kaki. Mengenakan mantel biru bersulam kembang dan benang emas yang panjangnya hingga ke lutut. Ikat pinggangnya dari sutra bersulam benang emas, disitu terselip pisau dan pedang bergagang perak. Mahkotanya dari sutra aneka warna yang dibiasi sulaman benang emas.

Vasco da Gama paham, segala kemewahan pakaian bangsawan yang dikenakan oleh Sultan Mozambique adalah hadiah dari para saudagar yang datang ke negeri itu. Ia sadar, armada yang dipimpinnya tidak memiliki cukup barang-barang mewah untuk diberikan sebagai hadiah kepada sultan, kecuali dagangan yang mau dijualnya ke India. Selain itu, ia tidak menganggap perlu memberi hadiah berlebih kepada penguasa kulit hitam yang seharusnya menjadi budak itu. Demikianlah, dengan kepongahan seorang ksatria tuhan yang agung, Vasco da Gama memberikan hadiah kepada Sultan Mozambique seolah-olah memberi sedekah seorang gelandangan: selembar kain kerudung merah, genta timah, dan gelang tembaga.

Vasco da Gama memang bukan saudagar. Ia adalah perwira angkatan laut Portugis yang terkenal kejam, sombong, dan suka merendahkan orang. Ia adalah manusia yang tercekam oleh angan-angan kosong sebagai ksatria tuhan yang berkedudukan paling tinggi di antara manusia. Lantaran itu, ia tidak mengira jika Sultan Mozambique berkulit hitam itu merasa tersinggung ketika diberinya hadiah barang murahan yang dibangga-banggakan bangsanya itu. Bahkan, ia merasa heran ketika dalam tempo yang sangat singkat tersebar kabar di antara pedagang-pedagang Mozambique yang menyatakan bahwa orang-orang Portugis yang datang itu bukanlah saudagar-saudagar kaya utusan raja Portugis yang ingin berniaga, melainkan bajak laut yang berniat merampok. Sultan yang tidak ingin kerusuhan pecah di wilayahnya akibat kehadiran armada Portugis yang dicurigai penduduk sebagai kawanan bajak laut itu, meminta Vasco da Gama untuk secepatnya meninggalkan negerinya.

Dengan api amarah yang mengobari jiwanya akibat diusir secara halus oleh orang-orang kulit hitam, Vasco da Gama bergegas meninggalkan Mozambique. Tetapi saat kapal-kapalnya sudah berada di pantai, ia memberi peringatan kepada sultan dengan menembakkan meriam ke arah kota. Setelah itu ia melanjutkan pelayaran ke utara. Sepanjang pelayaran ke utara itu, Vasco da Gama melampiaskan amarah dengan menyerang setiap kapal dagang yang ditemui dan kemudian merampas muatannya. Kapal-kapal dagang di kawasan pantai timur Afrika yang tidak dilengkapi persenjataan itu dengan mudah dilumpuhkan dan dirampas muatannya oleh armada Portugis. Tetapi, dengan tindakan itu, dalam waktu singkat telah tersebar kabar di antara pedagang-pedagang Arab dan Afrika tentang serangan kawanan bajak laut kulit putih di samudera. Demikianlah, kabar itu terus menyebar dari mulut ke mulut sehingga saat Vasco da Gama sampai ke Mombasa, sultan dan para pedagang serta penduduk kota tersebut menunjukkan sikap curiga dan tidak bersahabat. Vasco da Gama pun buru-buru meninggalkan Mombasa karena ia tahu tidak akan bisa menjalin perdagangan yang baik dengan penguasa negeri itu.

Pada 14 April 1498 Vasco da Gama sampai ke Malindi. Ternyata, tidak berbeda dengan Mozambique dan Mombasa, penduduk Malindi pun kebanyakan Muslim dan perniagaan besar dikuasai orang-orang Arab. Tetapi, agak beda denga di Mozambique dan Mombasa, Vasco da Gama disambut baik oleh penguasa Malindi, yang merasa terancam oleh serangan penguasa Mozambique dan Mombasa. Penguasa Malindi menyambut baik persekutuan dengan Portugis dan kemudian memberikan seorang nakhoda Muslim yang handal yang telah berkali-kali berlayar ke India, Ahmad Ibnu Majid. Vasco da Gama dan awak kapalnya tentu sangat bergembira sebab mereka akan dipandu oleh seorang nakhoda yang sudah sering berkunjung ke India. Itu berarti, mereka sudah pasti menjadi pelaut Eropa pertama yang menemukan India.

Selama tinggal di Malindi, Vasco da Gama bertemu dengan saudagar-saudagar Majapahit yang mereka kira orang-orang India. Awak kapal Vasco da Gama mencatat, selama di Malindi mereka bertemu dengan orang-orang berpenampilan aneh yang membawa empat kapal niaga yang aneh bentuknya. Belum pernah ia melihat kapal-kapal seperti itu. Para pemilik kapal aneh itu rambutnya panjang digelung dan tubuhnya tidak ditutupi pakaian kecuali kain penutup sebatas pinggang. Karena menyangka orang-orang aneh itu adalah penduduk India beragama Kristen, Vasco da Gama berusaha menjalin persahabatan dengan mereka. Dengan dikawal beberapa awak kapalnya, Vasco da Gama mendatangi kapal-kapal aneh itu. Ternyata, di dalam kapal ia melihat patung-patung dewi yang dipuja para saudagar tersebut. Ia mengira itulah patung Bunda Maria. Tetapi, ia heran ketika diberi tahu para pedagang itu tidak makan daging. Di kapal itu Vasco da Gama ditawari dagangan cengkeh dan pala yang katanya banyak tumbuh di negeri mereka.

Dengan bantuan Ahmad Ibnu Majid, nakhoda Arab asal Malindi, Vasco da Gama dalam tempo hanya dua puluh tiga hari sudah sampai ke pantai Malabar tepatnya di lepas pantai Kozhikode (Calicut). Saat itu tepat tanggal 18 Mei 1498. ke empat kapal Portugis itu tidak buru-buru menuju pelabuhan Kozhikode, tetapi melempar sauh beberapa mil dari kota perniagaan itu. Matahari yang bersinar terang menebarkan jutaan cahaya perak di permukaan gelombang. Tiang-tiang kapal di seputar pelabuhan Kozhikode terlihat berjajar bagaikan pagar tombak yang bergoyang-goyang melingkari kota dari arah laut.

Dari arah dermaga tiba-tiba meluncur sebuah perahu kecil pemandu yang datang mendekat. Vasco da Gama yang tercekam oleh pengalaman selama pelayaran menuju India diam-diam menaruh curiga terhadap perahu itu. Lantaran itu, ia tidak buru-buru mengikuti isyarat dari perahu pemandu untuk merapatkan kapal-kapalnya ke dermaga. Sebaliknya, ia mengirim salah seorang awak kapalnya, Joao Nunes, untuk mendarat dan menyelidiki keadaan di kota Kozhikode. Joao Nunes adalah salah seorang dari sepuluh penjahat besar yang dijatuhi hukuman berat, namun dia diajak Vasco da Gama berlayar ke India untuk menjalankan tugas-tugas berbahaya.

Setelah dua hari berada di kota Kozhikode, menjelang senja Joao Nunes naik ke atas kapal. Vasco da Gama menyambutnya dengan bertolak pinggang sambil bertanya acuh tak acuh, “Bagaimana hasilmu selam di daratan?”

“Saya bertemu dua orang Moor yang bisa berbahasa Spanyol dan Italia, Tuan,” kata Joao Nunes melapor. “Mereka bercerita banyak tentang negeri Kozhikode, Tuan.”

“Mereka cerita tentang apa saja?”

“Mula-mula mereka tanya saya, kenapa saya bisa ada di Kozhikode. Lalu saya jawab bahwa saya di India mencari orang-orang Kristen dan rempah-rempah. Mereka bilang, di India tidak ada orang Kristen. Orang Islam pun di Kozhikode sangat kecil jumlahnya, namun mereka menguasai perniagaan.”

“Tunggu!” sergah Vasco da Gama. “Mereka bilang orang Islam di sini sedikit jumlahnya?”

“Benar tuan.”

“Setelah itu, mereka bilang apa lagi?”

“Saya disuruh bersyukur kepada Tuhan karena bisa datang ke negeri yang makmur dan kaya raya penuh dilimpahi permata dan rempah-rempah ini.”

“Apalagi mereka bilang?”

“Portugis akan susah bersaing di India, Tuan.”

“Alasannya?”

“Saudagar-saudagar yang berniaga di India adalah saudagar-saudagar kaya yang memiliki barang-barang perniagaan mahal dan bermutu. Sedangkan Portugis, menurut mereka, saudagar-saudagarnya melarat dan barang-barang dagangannya murahan, Tuan,” ujar Joao Nunes.

“Kurang ajar. Mereka menghina kita.”

“Ya, Tuan. Mereka kurang ajar, Tuan. Sungguh kurang ajar mereka itu, Tuan.”

“Apakah engkau sudah menemui penguasa Kozhikode?” tanya Vasco da Gama.

“Sudah, Tuan.”

“Apakah dia seorang Kristen?”

“Kelihatannya Kristen, Tuan,” kata Joao Nunes. “Tetapi dia agak bodoh.”

“Agak bodoh bagaimana?”

“Dia membiarkan pedagang-pedagang Muslim menguasai jalur perniagaan di negerinya.”

“Begitukah?” gumam Vasco da Gama. “Apakah dia raja yang kaya raya?”

“Tentu saja, Tuan,” kata Joao Nunes menjelaskan. “Tampilannya mirip dengan pedagang cengkeh dan merica yang kita temui di Malindi. Tapi, kulitnya lebih hitam. Dia duduk di atas takhta. Tubuh bagian atasnya tidak ditutupi kain, tetapi penuh dengan perhiasan. Rambutnya digelung dengan ikatan tali untaian mutiara. Saya heran, Tuan, karena mutiara yang dipakainya sebesar biji kemiri. Seluruh jarinya penuh dengan cincin emas bermata mirah, zamrud, dan intan. Kalung yang melingkar di lehernya diganduli permata mirah delima dan zamrud ukuran besar. Dia terus menerus mengunyah sirih dan meludahkannya pada cerana emas yang dihias permata. Orang menyebutnya Zamorin.”

Vasco da Gama diam. Bayangan kegagalannya menjalin hubungan baik dengan sultan Mozambique, akibat ia terlalu melarat untuk memberi hadiah yang pantas, tiba-tiba berkelebat memasuki benaknya. Ia sadar, barang dagangan yang dibawanya adalah barang-barang murahan dibanding barang dagangan di Mozambique dan India. Ia sadar negerinya terlalu melarat dibandingkan Mozambique, apalagi India. Lantaran tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan Sultan Mozambique, ia memutuskan untuk memberi hadiah yang lebih banyak kepada Zamorin, sang penguasa Kozhikode.

Joao Nunes, bajingan dekil yang dipungut Vasco da Gama dari penjara karena dihukum berat akibat merampok dan membunuh, adalah pembual tengik yang tak berbeda dengan bajingan Portugis lain. Dia suka mengarang cerita tentang kehebatan diri dan keluarganya. Kebiasaan membual itu terbawa saat ia sedang menjalankan tugas berat mewakili Vasco da Gama menemui penguasa Kozhikode, Raja Samaritu. Di depan raja yang dianggapnya bodoh itu dia membual melebihi batas. Dia mengarang cerita-cerita bohong tentang keluarganya yang kaya dan terhormat. Dia membual tentang kekayaan rajanya, Manuel, yang tidak ada tara dan bandingnya di dunia. Dia membual tentang kekayaan negerinya, Portugis, yang dilimpahi emas, perak, mutiara, permata, gandum, susu, minyak zaitun, dan madu. Dia membual pula tentang kehebatan pemimpinnya, Vasco da Gama, ksatria tuhan, Alcaide Moor, yang membawa misi suci mencari Raja India beragama Kristen. Bahkan lebih konyol lagi, dia membual tentang barang-barang berharga yang dibawa armadanya.

Samaritu, penguasa Kozhikode, ternyata sangat mempercayai bualan Joao Nunes. Sepanjang Hidup, para utusan dagang dari berbagai negeri yang datang untuk berniaga di Kozhikode berasal dari negeri-negeri kaya yang membawa dagangan-dagangan bermutu tinggi. Dan akibat mempercayai bualan Joao Nunes, Samaritu menyambut kedatangan Vasco da Gama, duta Raja Portugis, dengan upacara kebesaran. Begitu turun dari kapal, Vasco da Gama yang diiringi tiga belas awak kapal disambut oleh sekitar dua ratus prajurit India yang membawa musket (senapan) dan pedang terhunus. Vasco da Gama kemudian dinaikkan ke atas tandu dan dipikul keliling kota dengan tembakan kehormatan ke udara. Awak kapal Portugis yang menyaksikan upacara penyambutan itu dengan terheran-heran menggumam, “Mereka lebih menghormati kita daripada raja-raja kita.”

Sebagai ksatria tuhan yang otaknya sudah diikat dengan keyakinan membuta bahwa penduduk India beragama Kristen, Vasco da Gama sangat yakin bahwa orang-orang India adalah penganut Kristen. Itu sebabnya, ia menganggap wajar penyambutan besar itu dilakukan untuknya sebagai wakil kerajaan Kristen di Barat. Bahkan saat ia diturunkan dari atas tandu untuk mengunjungi sebuah kuil yang besar dengan pilar-pilar tegak menjulang, ia menduga kuil itu sebuah katedral. Patung-patung dewi yang ada di kuil itu dianggapnya sebagai patung Bunda Maria. Telinganya seolah-olah mendengar seruan Maria! Maria! didengungkan orang dari dalam kuil. Sementara itu, gambar dewa-dewi yang menghiasi dinding kuil ia kira gambar para santo, karena di dalam dongeng-dongeng yang pernah didengarnya, beberapa santo memang memiliki lengan empat atau lima sebagaimana gambar dewa-dewi di kuil itu.

Tidak jauh berbeda dengan Joao Nunes, anak buahnya, Vasco da Gama, sang ksatria tuhan itu, dihadapan Samaritu juga membual tentang keagungan, kemuliaan, kekuatan, kekayaan, dan kejayaan rajanya, Manuel. Karena sebelumnya sudah mendengar cerita Joao Nunes, Samaritu makin meyakini bualan Vasco da Gama tentang kehebatan Raja Portugis Manuel. Dengan suka cita Samaritu berkata, “Kami menyambut baik persahabatan dengan raja Anda. Kami secepatnya akan mengirimkan seorang duta ke Portugis.”

Sekembalinya dari menghadap Samaritu, Vasco da Gama dan anak buahnya merayakan keberhasilan misinya. Mereka menganggap tugas mereka sukses. Semalaman mereka berpesta-pora menenggak anggur di atas kapal hingga mabuk. Kegembiraan mereka mendadak pupus manakala keesokan harinya secara tiba-tiba Samaritu berubah sikap, tidak mempercayai Vasco da Gama dan bahkan mencurigainya sebagai pemimpin kawanan bajak laut yang menyamar sebagai utusan raja. Awal ketidakpercayaan penguasa Kozhikode terhadap Vasco da Gama berlangsung sehari setelah upacara penyambutan yang megah itu. Dalam pertemuan itu, Vasco da Gama mempersembahkan hadiah yang dinilainya lebih banyak dan lebih pantas daripada yang pernah diberikannya kepada Sultan Mozambique. Kepada raja Kozhikode itu, ia persembahkan hadiah dua belas lembar kain bergaris, empat lembar kerudung merah, enam topi, empat gelang kerang, enam baskom pencuci tangan, dua tong kecil minyak zaitun, dan madu.

Samaritu, raja Kozhikode, yang sebelumnya sudah tercekam oleh bualan Joao Nunes dan Vasco da Gama tentang kehebatan Raja Manuel sangat terkejut melihat persembahan hadiah yang diterimanya. Sungguh, ia tidak menduga jika utusan dagang kerajaan Portugis yang katanya terkaya di dunia itu hanya memberi hadiah senilai sampah. Ia merasa telah dibohongi oleh orang-orang Portugis dekil yang membualkan kehebatan dan kekayaan rajanya. Padahal, sebagai utusan raja, mereka telah menunjukkan kenyataan memalukan: sangat dekil dan melarat. Sepanjang hidupnya, belum pernah Samaritu menemui utusan raja yang begitu dekil dan tengik seperti Vasco da Gama dan Joao Nunes, yang mempersembahkan tumpukan sampah kepadanya. Bahkan, syahbandar Kozhikode yang peranakan Arab menertawakan hadiah itu dengan berkata sinis kepada Vasco da Gama, “Pedagang Arab dari Makah yang paling miskin atau pedagang paling miskin dari negeri lain selalu memberi hadiah lebih banyak daripada yang Anda persembahkan ini. Jika mau berniaga di sini, persembahkan hadiah emas kepada Raja.”

Sejak Samaritu tidak mempercayai Vasco da Gama dan seluruh awak kapalnya, hampir semua pedagang di Kozhikode menolak untuk berdagang dengan mereka. Vasco da Gama yang sudah jauh dari negerinya tidak bisa membeli rempah-rempah kecuali segenggam lada dan cengkeh. Para pedagang seperti bersepakat menyatakan bahwa barang dagangan awak Portugis tidak cukup pantas untuk ditukar dengan barang-barang mahal India. Vasco da Gama mendengar barang dagangannya dinista. Ia makin marah ketika mendapat laporan bahwa pedagang-pedagang Muslim telah mempengaruhi pedagang-pedagang Kozhikode untuk tidak melakukan jual-beli dengan mereka. Dengan gigi gemeletuk menahan amarah, ia berjanji akan membasmi kekuatan Muslim di seluruh India.

Bagi orang-orang yang alam pikirannya sudah terjerat angan-angan kosong kebesaran diri (al-wahm) seperti Vasco da Gama, pandangannya terhadap kehidupan di dunia menjadi sangat terbatas karena tertutup oleh keakuan yang sempit menyesakkan. Lantaran itu, Vasco da Gama cenderung melihat tatanan kehidupan dunia sebagai rana yang sempit. Cakrawala pandangannya hanya terbagi atas dua bagian besar: hitam dan putih, atas dan bawah, benar dan salah, baik dan buruk, lurus dan sesat, patuh dan membangkang, saleh dan murtad, menang dan kalah, surga dan neraka. Di atas itu semua, ia akan menempatkan diri pada kedudukan yang paling atas.

Dengan pandangannya yang terpilah hitam-putih itu, menjadi wajarlah jika seorang Vasco da Gama menganggap kehidupan di dunia ini hanya diwarnai oleh dua kekuatan besar yang saling bertarung: Islam dan Kristen. Ia tidak tahu jika di dunia ini ada Hindu, Budha, Syiwa-Budha, Konghucu, Sinto, dan beratus-ratus kepercayaan yang dianut manusia. Dengan kepicikan pandangannya, ia menyimpulkan bahwa boikot perdagangan yang dilakukan pedagang-pedagang Kozhikode pada dasarnya disebabkan oleh kebencian orang-orang Islam terhadap Kristen. Vasco da Gama tidak mengetahui jika bagian terbesar pedagang Muslim di Kozhikode adalah abdi maharaja Wijayanagara yang beragama Hindu. Pedagang-pedagang Muslim yang disebut orang-orang Mappila itu, meski beragama Islam, dari generasi ke generasi telah mengabdi kepada penguasa Wijayanagara. Karena itu, ketika Samaritu yang merupakan bawahan maharaja Wijayanagara memerintahkan pedagang Muslim Mappila untuk tidak berniaga dengan Portugis, tentu perintah itu akan mereka laksanakan dengan patuh.

Ketidakpahaman Vasco da Gama, sang ksatria tuhan, terhadap tatanan kehidupan di India yang menghormati dan menghargai keragaman agama ternyata menjadi awal lahirnya kebencian penduduk terhadap mereka. Selama berabad-abad hampir setiap orang yang tinggal di India, termasuk orang-orang yang beragama Islam dari berbagai negeri yang dikenal sebagai penyiar agama paling militan, memiliki anggapan bahwa masalah agama adalah masalah kebebasan pribadi. Masalah petunjuk Ilahi (hidayah) untuk beroleh kebenaran adalah urusan Tuhan. Tidak boleh ada paksaan dalam agama. Yang mereka temukan dalam perselisihan agama di India justru pertikaian di dalam masalah madzhab agama-agama, seperti antara Sunni dan Syi’ah, Syi’ah Imamiyyah dan Syi’ah Ismailiyyah, Hindu pemuja Wisynu dan Hindu pemuja Syiwa, Budha Mahayana dan Hinayana.

Kenyataan tentang tidak dimasalahkannya hal agama yang berbeda-beda di India memang sudah disaksikan sendiri oleh awak kapal Portugis. Mereka sempat terheran-heran dengan keakraban para saudagar dari berbagai jenis bangsa yang berbeda-beda agama itu. Mereka sempat heran menyaksikan saudagar-saudagar Muslim asal Sokotra, Malindi, Mozambique, Mombasa, Yaman, Hijaz, Basrah, Baghdad, Mesir, Maroko, Habsyi, Hamadan, Hormuz, Ahwaz, Isfahan, Gujarat, Bengali, Wijayanagara, Pasai, Malaka, Aceh, Jawa, dan Cina berniaga dengan saudagar-saudagar bukan Muslim asal Pegu, Siam, Cina, Jawa, Sunda, Bugis, Luzon, dan Ryu-kyu di bandar-bandar perniagaan seperti Calicut, Cochin, dan Goa. Mereka juga heran karena umumnya para saudagar yang berasal dari beragam bangsa itu menggunakan pengantar bahasa Melayu dan Arab dalam berniaga, di samping menggunakan pengantar bahasa Hindi. Sayangnya, apapun kenyataan yang mereka saksikan, akibat otak mereka sudah diikat kefanatikan buta, mereka tetap menganggap orang-orang yang bukan Muslim itu adalah Kristen.

Vasco da Gama sering terlihat menggeleng-gelengkan kepala, menyesali ketololan raja-raja India, terutama ketika ia diberi tahu oleh awak kapalnya bahwa maharaja Wijayanagara yang beragama “Kristen” itu memiliki pasukan pengawal khusus yang tangguh dan terkenal kesetiaannya, yaitu pasukan yang anggota-anggotanya adalah orang-orang Muslim dari suku Mappila. Tidak tanggung-tanggung, jumlah pasukan khusus itu sekitar 2.000 orang. Sedangkan pada pasukan reguler Wijayanagara terdapat sekitar 10.000 orang prajurit Muslim. Pasukan-pasukan Muslim itu sudah dibentuk sejak era Maharaja Dewaraya I (1397 – 1426 M). Bahkan, Vasco da Gama sempat tak percaya ketika diberi tahu bahwa salah seorang menantu Maharaja Dewaraya I yang bernama Firuz Khan adalah raja dari kerajaan Islam dinasti Bahmanidi Deccan.

Selain terheran-heran dengan keragaman agama di India, Vasco da Gama dan awak kapalnya nyaris tidak percaya ketika mengetauhi keberadaan ibu kota Wijayanagara, Hampi, yang menurut mereka jauh lebih luas dan lebih tertata rapi serta lebih megah dibanding kota-kota di Eropa. Ya, sebuah kota raya yang dikelilingi tujuh benteng megah dan kuat. Di dalamnya terdapat empat pasar besar tempat para pedagang menjual berbagai jenis buah, seperti jeruk, nenas, anggur, sayur-mayur, ayam, babi, minyak, bunga, berbagai jenis kain, perhiasan emas, permata, mutiara, intan, bermacam jenis rempah-rempah seperti lada, cengkeh, kapulaga, pala, bahkan di situ dijual pula budak-budak. Penduduk yang tinggal di situ anggota tubuhnya penuh dengan perhiasan emas dan permata yang jumlahnya sangat berlebihan menurut ukuran Eropa. Sungguh suatu kemakmuran luar biasa yang tak pernah mereka saksikan di negeri Eropa mana pun yang pernah mereka kunjungi.

Keterpesonaan Vasco da Gama dan awak kapalnya terhadap kemegahan dan kemakmuran kota-kota di India, terutama ibu kota Wijayanagara, ternyata tidak berlangsung lama. Saat mereka mendapati kenyataan betapapedagang Muslim di situ sangat dihormati penduduk, rasa iri dan sakit hati pun membara dan membakar jiwa mereka. Mereka sangat menyesali kebodohan raja-raja India yang beragama “Kristen” itu dalam memberi tempat yang begitu terhormat kepada pedagang-pedagang Muslim. Rasa sesal mereka terhadap raja India itu berubah menjadi kemarahan ketika pejabat syahbandar Kozhikode, yang keturunan Arab, atas perintah Samaritu, mempermasalahkan biaya sandar kapal-kapal mereka. “Sebagai jaminan untuk membayar biaya sandar, kapal-kapal tuan akan kami tahan,” begitu petugas syahbandar itu berkata.

Vasco da Gama marah. Ia adalah ksatria tuhan. Ia putera Alcaide-Moor. Ia tidak pernah direndahkan orang seperti itu, apalagi oleh orang Arab. Lantaran itu, ia membalas tindakan syahbandar Kozhikode dengan memerintahkan awak kapalnya untuk menyandera puluhan penduduk Kozhikode beragama “Kristen”. Tindakan Vasco da Gama itu tentu saja mekin meningkatkan kebencian penduduk terhadap Portugis, meski perundingan berhasil dicapai. Setelah dilakukan kesepakatan, kemudian saling melepas sandera, Vasco da Gama dan kapal-kapalnya tidak mungkin legi bisa berniaga di Kozhikode.

Setelah tinggal di Kozhikode sekitar tiga bulan, pada Agustus 1498, setelah disarankan oleh Aires Correia, pembunuh berdarah dingin kepercayaannya, Vasco da Gama dengan kemarahan dan kekecewaan berat meninggalkan Kozhikode, “Kerajaan Kristen” yang telah ditemukannya itu. Ia merasa dirinya sebagai orang yang gagal. Ia marah. Tetapi, ia tidak tahu harus marah kepada siapa. Walau begitu, ia cukup berbesar hati karena selama tinggal di Kozhikode, diam-diam ia telah singgah di pulau Anjidiv, dekat Goa, dan membeli sejumlah rempah-rempah dari pedagang Muslim di sana. Hanya saja, karena kecurigaannya yang berlebihan bahwa Goa yang merupakan bandar perniagaan di wilayah kerajaan Muslim Bahmani akan bertindak serupa dengan Kozhikode, maka ia memutuskan untuk menjauhi Goa.

Setelah berputar-putar di sejumlah bandar di pantai Malabar, Vasco da Gama melanjutkan pelayaran ke selatan. Pada 8 Januari 1499 ia sampai ke Malindi. Di sana ia disambut meriah oleh Sultan Malindi. Mereka berpesta-pora. Vasco da Gama, dengan alasan berkurangnya jumlah awak kapal yang meninggal dan demi efisiensi, memerintahkan membakar kapal Sao Rafael yang dianggap sudah tidak berguna. Setelah itu, ia melanjutkan pelayaran. Pada pertengahan Pebruari 1499 armada Vasco da Gama sudah mencapai Mozambique.

Vasco da Gama, sang ksatria tuhan, yang sudah kehilangan semangat itu ternyata telah menimbulkan derita panjang bagi awak kapalnya. Satu demi satu, di tengah gempuran badai, kekurangan pangan, kelangkaan obat-obatan, dan terkaman penyakit, mereka bertumbangan di geladak kapal kehilangan nyawa. Bangkai mereka dilempar ke laut menjadi mangsa ikan. Kapal Sao Gabriel dan Berrio, sebagai armada yang tersisa, berhasil mencapai sungai Tagus pada 20 Maret 1499. Tetapi, Vasco da Gama tidak langsung ke Lisbon. Ia memerintahkan awak kapalnya untuk menjelajah kawasan Kepulauan Terceira di Azores. Di kepulauan itulah Paulo da Gama, saudaranya, dan puluhan awak kapal yang sudah lemah itu terserang penyakit dan mati dalam penderitaan.

Pada 20 September 1499 barulah Vasco da Gama, sang ksatria tuhan, kembali ke Lisbon untuk menghadap raja dengan sisa awak kapalnya yang hanya 54 orang ditambah sedikit sekali rempah-rempah. Meski tidak sesuai harapan, Vasco da Gama disambut dengan upacara kebesaran oleh Manuel. Kerajaan Portugis mengumumkan kepada dunia bahwa Vasco da Gama adalah penemu pertama kerajaan Kristen India. Manuel menganugerahinya gelar kebangsawanan: Dom. Sebagai peringatan, Manuel membangun sebuah katedral untuk Vasco da Gama. Mata uang khusus dicetak untuk mengabadikan pelayaran legendaris itu. Dan, Vasco da Gama sendiri diberi uang pensiun 1.000 cruzados setahun.

Percaya dengan bualan Vasco da Gama dan awak kapalnya yang telah menemukan kerajaan Kristen India, Manuel memerintahkan sang ksatria tuhan untuk beristirahat dan kemudian membentuk tim ekspedisi dagang kedua yang akan membuka hubungan dagang dengan India. Ia menunjuk Pedro Alvares Cabral sebagai pemimpin. Cabral sendiri tidak memperoleh laporan rinci dari hasil pelayaran Vasco da Gama, terutama tentang kegagalannya menjalin hubungan dagang di Mozambique, Mombasa, dan Kozhikode. Dengan sangat percaya diri, Cabral berangkat membawa tiga belas kapal ke India pada 15 Maret 1500.

Tercekam oleh keberhasilan Vasco da Gama, Cabral tidak mau mengikuti rute Bartholomew Diaz, da sebaliknya mengikuti rute Vasco da Gama yang menjauhi pantai barat Afrika. Akibatnya, armada Cabral melenceng jauh hingga ke Brazilia. Cabral memerintahkan beberapa kapalnya kembali ke Lisbon untuk memberi tahu kepada raja Manuel bahwa armadanya telah menemukan Brazilia. Sementara itu, setelah berbulan-bulan berlayar barulah armada Portugis mencapai Tanjung Harapan dan terus ke India. Dengan membawa enam kapal, dia berlabuh di Kozhikode.

Bayangan keberhasilan berniaga dengan India ternyata buyar menjadi kepingan kekecewaan dan kepedihan ketika Cabral mendapati sikap bermusuhan penduduk Kozhikode. Padahal, sesuai petunjuk Vasco da Gama, Cabral sudah membawa emas dan barang dagangan yang sesuai dengan kebutuhan perniagaan di India. Cabral kemudian memutuskan untuk menjalin perniagaan dengan penguasa Cochin, tanpa tahu bahwa penguasa Cochin bermusuhan dengan penguasa Kozhikode. Sementara itu, akibat pandangan yang kurang benar tentang penduduk India, yang dikiranya “orang Kristen bodoh” karena membiarkan pedagang-pedagang Muslim menguasai jalur perniagaan, Cabral mendesak bahkan memaksa pedagang India agar mau membeli dagangannya dan bersedia menjual rempah-rempah kepadanya. Akibatnya, pedagang-pedagang India menjadi marah karena mereka belum pernah mendapati cara-cara berdagang dengan paksaan. Lalu timbullah perselisihan yang memuncak menjadi kerusuhan. Sejumlah kapal Cabral dirusak dan awak kapalnya tewas dibunuh.

Cabral sendiri baru memahami latar kebencian penduduk Kozhikode terhadap Portugis setelah diberi tahu bekas awak kapal Vasco da Gama. Dia paham bahwa kebencian itu bermula dari kekecewaan Raja Kozhikode akibat merasa tertipu oleh Vasco da Gama. Kemarahan penguasa Kozhikode itu ternyata semakin membara ketika Cabral menjalin hubungan dagang dengan musuh lamanya, Raja Cochin. Sadar bahwa keadaan akan semakin parah jika armadanya tetap berada di Kozhikode, Cabral buru-buru memerintahkan awak kapal untuk meninggalkan Kozhikode, karena tidak ingin cap penipu itu melekat pada dirinya. Tetapi, pandangan keliru yang disampaikan Vasco da Gama bahwa raja India dan rakyatnya adalah Kristen, telah menyebabkan Cabral mengira penduduk yang menyerang armadanya semuanya adalah warga Muslim. Ia yakin penduduk India yang beragama Kristen tidak akan mungkin menyerang saudaranya seiman.

Pandangan Cabral dan seumumnya orang Portugis yang mengira penduduk India beragama Kristen ternyata sangat kuat mengikat alam pikiran mereka dengan simpul-simpul keyakinan membuta. Akhirnya, dengan denam kesumat berkobar-kobar terhadap penduduk Muslim Kozhikode, pada 23 Juni 1500 Cabral memutuskan untuk meninggalkan India dengan hanya empat buah kapal yang tersisa. Meski tersisa empat kapal, keempat-empatnya penuh memuat rempah-rempah yang mereka beli dari pedagang Muslim India.

Manuel menyambut gembira keberhasilan Cabral membawa rempah-rempah begitu banyak. Tetapi, Manuel juga melihat sisi lain dari keberhasilan Cabral yang tak mampu mempertahankan kapal-kapal dan awaknya. Itu sebabnya, Manuel kemudian tidak mengirim kembali Cabral ke India. Sebaliknya, ia menjagokan Vasco da Gama untuk memimpin ekspedisi dagang ke India yang ketiga.

Mendapat kepercayaan dari Manuel untuk memimpin kembali armada dagang ke India, Vasco da Gama sadar ia akan sulit mengajak awak kapal yang baru ke India. Sebab, bekas awak kapalnya telah bercerita kepada keluarga masing-masing tentang bagaimana sengsaranya mereka saat mengikuti pelayaran di bawah kepemimpinannya. Mereka yang pernah merasakan bagaimana pedihnya hukuman yang mereka dapatkan dari ksatria tuhan yang mereka sebut “binatang buas” itu, pasti tidak ingin mengalami mimpi buruk kedua.

Sadar ia harus menggunakan cara lain untuk memilih awak kapalnya, Vasco da Gama mengumumkan sebuah pendaftaran bagi “prajurit-prajurit tuhan” yang akan melakukan aksi balas dendam terhadap panduduk Muslim Kozhikode yang telah menyerang armada Portugis di bawah pimpinan Pedro Alvares Cabral beberapa waktu lalu. Darah yang mengalir dari tubuh pejuang tuhan harus ditebus. Dalam sekejap, pengumuman itu disambut hangat oleh para pemuda dan pelaut Portugis. Bahkan, sebagian bekas awak kapal Vasco da Gama yang pernah ikut ke India terlihat berbondong-bondong mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit-prajurit tuhan. Mereka siap meninggalkan negerinya demi menjalankan perang suci, menghukum musuh-musuh tuhan.

Suao Taiwan (MV. Taho), 29 April 2007, 19:10LT

10. Sang tuhan

Ketika Vasco da Gama sang ksatria tuhan sibuk mengatur barisan prajurit-prajurit tuhan untuk melakukan aksi balas dendam terhadap penduduk muslim India, nun jauh di sebelah barat daya India, tepatnya di negeri Persia, tepatnya lagi di Shiraz, muncul seorang guru suci (mursyid) Tarekat Safawiyyah bernama Isma’il bin Haydar, yang menobatkan diri sebagai syah (raja) Persia dengan gelar Syah Ismail. Tidak cukup mengangkat diri sebagai raja Persia, Syah Ismail membangun pula sebuah sistem kekuasaan berbentuk negara totaliter dengan menempatkan diri sebagai maharaja absolut perwujudan tuhan di dunia.

Syah Ismail adalah putera ketiga Syaikh Haydar keturunan Syaikh Safiuddin Ishaq. Sedangkan Syaikh Safiuddin Ishaq adalah pendiri Tarekat Safawiyyah di Ardabil, Azerbaijan, pada akhir abad ke-13M. Syaikh Safiuddin Ishaq dikenal sebagai seorang ulama Sunni yang berkepribadian menarik dan memiliki banyak pengikut dari suku-suku pengembara di Azerbaijan dan Anatolia timur. Tidak berbeda dengan Syaikh Safiuddin Ishaq, para mursyid Tarekat Safawiyyah di Azerbaijan berpaham Sunni. Baru pada pertengahan abad ke-15M, terutama pada masa Syaikh Junayd dan Syaikh Haydar, Tarekat Safawiyyah dengan terang-terangan mendukung paham Syi’ah. Sejak itulah Tarekat Safawiyyah mulai membangun pengikut-pengikut yang fanatik dan bahkan diam-diam menyusun kekuatan bersenjata yang militan. Tarekat Safawiyyah yang awalnya terkenal damai dan mengajarkan cinta kasih kepada manusia di dalam meniti jalan (thariq) menuju Kebenaran (al-Haqq), tiba-tiba saja menjadi gerakan ghazi yang sangat fanatik.

Sudah diketahui oleh hampir seluruh penduduk Azerbaijan bahwa melalui pernikahan antar keluarga terjadi hubungan kekeluargaan antara keluarga Safawi dan keluarga Aq-Qoyunlu (Domba Putih), dinasti penguasa Turkmenia yang berpusat di Tabriz, yakni penguasa wilayah Persia Barat. Lewat perkawinan-perkawinan itu, keturunan keluarga Safawi merasa memiliki hak untuk mendapat bagian kekuasaan. Lantaran itu, Syaikh Junayd dan kemudian Syaikh Haydar membangun militansi pengikut-pengikutnya dalam upaya merebut kekuasaan dari tangan dinasti Aq-Qoyunlu. Konflik bersenjata antara keluarga Safawi dan keluarga Aq-Qoyunlu mulai pecah dan melibatkan banyak pihak yang mendukung masing-masing kekuatan.

Pada tahun 1488 M, Syaikh Haydar tewas dalam pertempuran dengan bala tentara Uzun Hasan Aq-Qoyunlu. Ia meninggalkan tujuh orang putera dan puteri. Untuk mematahkan gerakan keluarga safawi, Uzun Hasan Aq-Qoyunlu memenjarakan putera sulung Syaikh Haydar, Ali Mirza, dan dua orang adiknya, Ibrahim dan Ismail, di tempat yang jauh dari pengikut-pengikutnya. Pada tahun 1493, di tengah perselisihan para pangeran Aq-Qoyunlu berebut takhta, Ali Mirza dan kedua orang adiknya berhasil lolos dari penjara. Ali Mirza kemudian diangkat menjadi mursyid Tarekat Safawiyyah, menggantikan ayahandanya, namun tak lama kemudian ia terbunuh oleh pengikut Uzun Hasan Aq-Qoyunlu. Akhirnya, Ismail menggantikan kedudukannya sebagai mursyid Tarekat Safawiyyah menggantikan Ali Mirza.

Dengan kedudukan sebagai mursyid tarekat, Ismail menjadi lebih leluasa menanamkan fanatisme kepada para pengikutnya yang selalu menyebutnya secara ganti-berganti antara Mahdi dan Tuhan. Dengan mengutip teks-teks Al-Qur’an yang disampaikannya dalam bahasa Arab dan Persia, ia telah menempatkan diri sebagai imam badal yang mewakili dua belas imam Syi’ah di dunia. Ia mendudukkan diri sebagai manusia ilahi, yang hidup menyatu dengan tuhan dan merupakan satu-satunya “jalan” menuju keselamatan ilahi. Tahun 1499, dengan dukungan pengikut fanatik yang menganggapnya Mahdi dan sekaligus tuhan, ia berhasil menguasai Anatolia. Tahun 1501, setelah berhasil menghancurkan kekuatan Uzun Hasan Aq-Qoyunlu di Shurul, ia merebut Azerbaijan dan menobatkan diri sebagai syah di Shiraz. Demikianlah, para pengikut Safawiyyah yang fanatik itu terpenuhi hasratnya untuk memuja Syah Ismail sebagai raja absolut dan sekaligus guru suci reinkarnasi tuhan di dunia.

Entah kebetulan entah tidak, munculnya tuhan di Persia dewasa itu berurutan waktu dengan munculnya ksatria tuhan dan prajurit-prajurit tuhan di Portugis. Yang lebih menakjubkan, perwujudan fisik Vasco da Gama dan Syah Ismail hampir sama baik bentuk kepala, raut wajah, kening, mata, alis, hidung, mulut, tulang pipi, dan dagu. Bahkan, sepak terjang kekejaman mereka terhadap orang-orang yang membangkang nyaris tak berbeda. Ibarat dua saudara kembar yang memiliki kemiripan dalam segala hal, pandangan Syah Ismail terhadap tatanan kehidupan di dunia ini tidak jauh berbeda dengan Vasco da Gama: serba hitam-putih. Jika Vasco da Gama cenderung membagi agama di dunia hanya dua, yakni Kristen dan Islam, maka Syah Ismail tidak lebih dari itu, yakni menganggap agama di dunia hanya dua: Sunni dan Syi’ah.

Dengan pandangan yang nyaris sama itu, wajar jika kemunculan mereka menjadi tengara bagi lahirnya sebuah babak baru dari sebuah cerita kehidupan yang dirancang Sang Sutradara, yang mengubah tatanan panggung sandiwara kehidupan umat manusia di muka bumi, baik alur cerita, panggung, musik pengiring, dan pemain-pemainnya. Sebagaimana rahasia di balik cerita-cerita sandiwara kehidupan manusia yang sudah digelar pada pertunjukan-pertunjukan sebelumnya, kemunculan ksatria tuhan, prajurit-prajurit tuhan, dan tuhan di atas panggung sandiwara saat itu senantiasa diwarnai genangan darah dan air mata derita. Artinya, meski babak baru dari cerita kehidupan itu ditandai munculnya alur baru cerita, wajah-wajah baru dari pemain-pemain, model pakaian yang berbeda, latar panggung yang lebih rumit, senjata-senjata perang baru, dan musik pengiring yang juga baru, namun adegan-adegan lama berupa seringai kebengisan dan keganasan di tengah kelebatan pedang, lecutan cambuk, tendangan kaki, dan tikaman tombak tetap juga menjadi bagian sakral cerita lama yang diulang-ulang.

Akhir tahun 1501 dan awal 1502 M, tatkala Vasco da Gama sang ksatria tuhan sedang sibuk menata barisan prajurit tuhan untuk menghukum penduduk Muslim Kozhikode di India, Syah Ismail sang tuhan justru telah menumpahkan darah orang-orang muslim tak bersalah di negeri Persia. Berdasar catatan-catatan para pelarian yang tercecer, tersusun kabar bahwa segera setelah Syah Ismail naik takhta, ia terbang ke angkasa angan-angan kebesaran diri dan membayangkan dirinya tuhan, zat yang mahaberkuasa dan mahaberkehendak yang berhak menata kehidupan manusia dalam segala hal, termasuk dalam tata cara menyembah Allah. Dan tentu saja, selaku sang tuhan, ia merasa berkewajiban menata seluruh tatanan kehidupan manusia yang berada di wilayah kekuasaannya untuk mengarahkan kiblat pada keberadaan dirinya selaku reinkarnasi tuhan.

Dengan kemahakuasaan dan kehendaknya, Syah Ismail yang terbang di angkasa angan-angan tentang keagungan dan kemuliaan diri itu, dengan suara menggelegar bagai guntur mengeluarkan sabda suci sambil menudingkan telunjuk ke permukaan bumi.

“Inilah firman tuhan yang wajib dipatuhi oleh seluruh hamba tuhan. Pertama-tama, hendaknya umat manusia mengarahkan kiblat hati dan pikiran ke satu arah, yaitu al-Haqq (Kebenaran). Karena kiblat Kebenaran bagi manusia hanya satu maka jalan (thariq) yang dilewati pun wajib satu. Itu sebabnya, keragaman jalan-jalan (tarekat) wajib dihapuskan! Seragamkanlah keragaman tarekat-tarekat di bawah satu bendera: Safawiyyah! Maklumkan kepada manusia-manusia sesat yang mengaku sebagai mursyid penunjuk jalan kebenaran dan pengikut-pengikut tololnya, bahwa setiap makhluk yang hidup di permukaan bumi Persia wajib bernaung di bawah bendera Safawiyyah!”

“Sesungguhnya, semua kebohongan keji manusia-manusia rendah yang mengaku mursyid sudah harus diakhiri. Kebohongan mereka yang mengaku memiliki garis nasab dengan Nabi Muhammad Saw. harus diakhiri. Mereka semua adalah manusia-manusia penipu. Karena itu, sejak saat ini, dimulai di negeri ini, Persia, keragaman silsilah golongan Alawiyyin (keturunan Imam Ali bin Abi Thalib r.a.), yang dijadikan sandaran oleh para guru suci pendusta itu wajib dihapuskan! Maklumkan kepada dunia bahwa galur nasab Alawiyyin yang sah adalah galur yang diakui oleh keluarga Safawi!”

“Demi tegaknya tauhid dan kemurnian ajaran Islam akibat kepalsuan ajaran para mursyid pengajar tarekat-tarekat, maka demikianlah firmanku. Singkirkan para mursyid tarekat palsu yang dianggap wali Allah oleh para pengikut dan penduduk di sekitarnya. Aku maklumkan kepada dunia bahwa sesungguhnya kedudukan wali-wali Allah yang disandang para mursyid tarekat itu adalah bohong semata. Sebab, seluruh derajat kewalian sudah terserap dalam diri dua belas imam, yaitu pemuka golongan Alawiyyin. Dan yang paling penting untuk diketahui oleh seluruh umat Islam di dunia bahwa aku, Syah Ismail, adalah imam badal yang mewakili dua belas imam suci! Selaku imam badal, aku sama dengan imam yang dua belas, yakni maksum (suci dan bebas dari kesalahan). Itu berarti, Syah Ismail saat sekarang ini adalah satu-satunya wali Allah di dunia. Mereka yang tidak menerima ketentuan ini: binasakan!”

Firman Syah Ismail, sang tuhan, yang maha berkuasa dan maha berkehendak itu meledak bagaikan halilintar menyambar permukaan bumi. Langit Persia yang terang dengan cahaya matahari bersinar cemerlang tiba-tiba gelap diselimuti awan hitam yang bergumpal-gumpal. Beberapa kejap kemudian, secara tiba-tiba seluruh permukaan bumi Persia berubah menjadi gelap berkabut. Burung-burung tidak berani terbang ke angkasa. Margasatwa tidak berani keluar sarang. Ikan-ikan berhenti berenang. Manusia tergulung di dalam selimut. Angin tidak berani bertiup kencang. Air sungai berhenti mengalir. Pendek kata, seluruh kehidupan makhluk mendadak seperti berhenti. Roda waktu seperti mandek. Seiring firman tuhan itu, bumi Persia mendadak berubah menjadi sebuah hamparan negeri asing yang lengang dan menakutkan. Seluruh jiwa makhluk tercekam oleh rasa takut yang mengambang laksana kabut tebal di permukaan tanah.

Di tengah suasana mencekam di bumi Persia, bangkitlah manusia-manusia bayangan yang memaklumkan diri sebagai pahlawan-pahlawan tuhan dan bala tentara tuhan yang bersumpah setia akan menjalankan firman Syah Ismail, sang tuhan. Manusia-manusia bayangan itu adalah manusia-manusia yang alam pikirannya diikat oleh dalil-dalil yang sudah ditafsirkan sepihak oleh Syah Ismail. Mereka adalah manusia-manusia yang memiliki sudut pandang, kerangka pikir, gagasan, angan-angan, nilai-nilai, dan bahkan khayalan yang sama dengan apa yang dikehendaki Syah Ismail.

Manusia-manusia bayangan hasil ciptaan Syah Ismail itu laksana kawanan siluman berkeliaran ke berbagai sudut kehidupan makhluk untuk mengintai gerak-gerik, ucapan, pikiran, perasaan, dan suara hati manusia terutama para sufi yang tinggal di lingkungan khanaqah dan bahkan zawiyyah. Kemunculan manusia-manusia bayangan, bala tentara tuhan itu, dengan cepat menyulut ketegangan hingga ke relung-relung terdalam jiwa manusia. Saat bala tentara tuhan itu menemukan ada makhluk yang berbeda dengan mereka, tak ayal lagi, dengan keganasan dan kebrutalan tak terbayangkan, sosok berbeda itu akan mereka buru dan mereka cabik-cabik. Darah pun tumpah. Nyawa-nyawa beterbangan. Mayat-mayat bergelimpangan.

Kawanan manusia bayangan kaki tangan Syah Ismail itu melanda wilayah Fars laksana awan hitam dan badai, memporak-porandakan keberadaan para pengikut Kaziruni. Tidak kurang dari empat ribu orang terbunuh dalam amukan badai itu. Tarekat Naqsyabandiyyah yang tegak menjulang dengan kukuh di Persia Barat dan Tengah tiba-tiba ambruk dan berantakan tanpa sisa terlanda badai. Tarekat Ni’matullah yang berakar kuat di Syiraz dengan guru-guru termasyhur seperti Rukhnuddin Syirazi, Samsuddin Makki, Jalaluddin Khwarazmi, dan Qadiuddin Iji terangkat dari permukaan tanah dan tersapu badai tanpa sisa.

Sementara itu, sesuai firman Syah Ismail, untuk menegakkan kemurnian tauhid, kawanan manusia bayangan itu menempatkan para mursyid tarekat dan pengikut-pengikutnya yang dianggap melawan, menentang, berseberangan, berbeda, atau tidak sejalan dengan titah sang tuhan sebagai musuh. Malahan, tidak cukup memburu dan membinasakan manusia-manusia yang mereka anggap merusak tauhid itu dengan keberingasan tak terbayangkan kawanan makhluk buas yang tak kenal ampun itu, beriap-riap menuju sejumlah kuburan para mursyid dari tarekat-tarekat yang ramai diziarahi penduduk negeri. Dengan suara hiruk pikuk dan meraung-raung, mereka menyalak dan menyatakan bahwa perbuatan penduduk menyembah kubur-kubur mursyid adalah musyrik. Karena itu, kuburan-kuburan itu mereka bongkar dan ratakan dengan tanah.

Penduduk yang ketakutan tidak berani berbuat apa-apa. Mereka hanya berdiri menggigil ketika menyaksikan kuburan para mursyid yang mereka ziarahi dibongkar. Mereka tidak berani berkata apa-apa, meski mereka melihat keanehan yang dilakukan para tentara tuhan itu. Mereka membongkar kubur para mursyid tarekat dengan mengutuknya sebagai tempat-tempat kemusyrikan, namun pada saat yang sama mereka justru menuhankan Syah Ismail dan menziarahi kubur imam-imam dan mullah-mullah mereka. Menurut kabar yang sempat menerobos ke perbatasan bumi Persia, di tengah intaian Kematian yang mencekam akibat berkeliarannya manusia-manusia bayangan pembela utama Syah Ismail, para mursyid tarekat yang waskita, dengan kearifan manusia yang sudah tercerahkan kesadarannya, membawa keluarga dan pengikutnya berhijrah meninggalkan tanah airnya tercinta, Persia.

Kepergian para mursyid tarekat-tarekat dari bumi Persia pada dasarnya merupakan bagian lain dari lahirnya kembali cerita lama terkait keyakinan kuno bangsa Arya tentang manusia Ilahi, hamkar, yang menurut ajaran Zarathustra adalah manusia yang menyatu dengan tuhan (hamemthwa hakhma), atau avatar yang menurut ajaran Bhagavatam merupakan manusia ilahi jelmaan tuhan. Tidak berbeda dengan keyakinan para dhatu leluhur bangsa Arya yang memuja Ahura Mazda, Indra, dan Dyanayana (Wisynu) yang meyakini manusia-manusia ilahi, reinkarnasi tuhan di dunia, demikianlah para pengikut Syah Ismail telah menyatukan keberadaan mursyid dan syah kepada satu pribadi reinkarnasi tuhan: Syah Ismail. Mereka telah mengarahkan kiblat hati dan pikiran hanya kepada Syah Ismail, mursyid sempurna (mursyid-i-kamil) perwujudan ar-Rasyad dan al-Kamal yang menjadi penunjuk jalan lurus (huda), yaitu al-Mahdi penjelmaan al-Hadi.

Agar doktrin yang mengajarkan tentang manusia-manusia ilahi itu tidak tersanggah dan untuk mengukuhkan kedudukan diri sebagai hamkar atau avatar, perwujudan yang ilahi di dunia maka Syah Ismail mewajibkan taqlid kepada seluruh penduduk Persia dan seluruh penganut Syi’ah di mana pun mereka berada. Untuk membumikan kewajiban taqlid itu agar berjalan sesuai yang dikehendaki, Syah Ismail selaku syah dan juga mursyid tarekat menetapkan firman, “Hanya mullah yang ditunjuk Syah Ismail, sang imam badal, yang memiliki wewenang mengajarkan dan menafsirkan Al-Qur’an kepada manusia. Para mullah itulah yang disebut marjak-taqlid (rujukan untuk taqlid). Mullah yang tidak mendapat perkenan Syah Ismail, sang badal imam, sang tuhan, terlarang menafsirkan Al-Qur’an apalagi mengajarkan kepada manusia. Mullah yang mengajar dan menafsir Al-Qur’an tanpa perkenan Syah Ismail akan mendapat hukuman berat, yaitu diusir dari bumi Persia atau dibinasakan.”

Menurut kabar yang dibawa para mursyid tarekat yang terusir dari negerinya, sejak Syah Ismail berkuasa semua kegiatan mengkaji Al-Qur’an telah terpenjara oleh terali-terali ketakutan yang dibangun sang tuhan. Penduduk negeri hanya berani membaca Al-Qur’an tanpa tahu maknanya sebab para mullah yang mengajar tafsir Al-Qur’an sudah diawasi dari segenap penjuru. Jika terdapat seorang mullah menafsir satu ayat Al-Qur’an yang berbeda dengan yang dikehendaki penguasa maka terali penjara telah menunggunya. Dan Al-Qur’an yang selama hampir seribu tahun menjadi bacaan dan kajian sehari-hari bangsa Persia, tiba-tiba telah menjadi kitab yang sangat disucikan hingga tak gampang ditafsirkan maknanya, kecuali oleh manusia-manusia ilahi yang bergelar ayatullah yang direstui Syah Ismail. Para ayatullah yang tidak direstui Syah Ismail, tentu akan tersingkir dan bahkan binasa jika tidak meninggalkan bumi Persia.

Yang paling terpuruk dalam tatanan baru kehidupan manusia yang mengerikan ciptaan Syah Ismail itu adalah pengajaran tasawuf. Bagaikan permukaan bumi di musim dingin tertutup tumpukan salju, demikianlah bunga-bunga pengajaran tasawuf terbenam di bawahnya. Para mursyid dan para salik yang dikenal sebagai para penabur wangi bunga-bunga Qur’ani, dengan tafsirnya yang aneka warna menekuni kebun ruhani, tiba-tiba meniarap di bawah selimut salju. Tetapi, meski bunga-bunga pengajaran tasawuf tak lagi tampak di permukaan, gerak pencarian Keindahan (al-Kamal) lewat bunga-bunga yang beragam bau dan warnanya tidak musnah. Para mursyid tetap mengajarkan kepada para penempuh tentang cara-cara mencari Keindahan lewat keharuman dan keanekaan bunga-bunga di kebun ruhani, meski di bawah tanah yang dingin membeku. Dan ternyata, Syah Ismail bukanlah tuhan yang mahatahu. Selama ia berkuasa, tarekat-tarekat masih belum terhapus dari negeri Persia, meski terpuruk di bawah rerumputan dan batu-batu. Para mursyid tarekat dengan bijak menilai, betapa keadaan yang mencekam di bumi Persia itu adalah bagian dari kehendak Ilahi: Allah Yang Mahakuasa, Sumber Kebenaran Azali, telah menyingsingkan Asma’, Shifat, dan Af’al-Nya sebagai azh-Zhahir untuk digantikan dengan al-Bathin.

Sejarah pada akhirnya mencatat, bumi Persia yang termasyhur sebagai taman terindah bagi para pencari Kebenaran, tempat persinggahan yang memesona bagi mereka yang kehausan mereguk Air Kehidupan (Abb al-Hayat) di telaga ruhani yang dijaga Sang Hidup (al-Hayy), telah berubah wujud menjadi hamparan gurun ganas yang mengerikan dan sekejap kemudian secara ajaib menjadi hamparan tanah dingin membeku diselimuti salju. Persia telah menjadi hamparan gurun atau salju yang sunyi, sepi, lengang, dan mencekam bagi taman ruhani. Tidak satu pun musyafir pencari Keindahan yang terlihat di sana. Sejauh mata memandang, yang terlihat adalah manusia-manusia bayangan yang akal pikirannya sudah terikat oleh simpul-simpul kefanatikan. Manusia-manusia bayangan yang dengan mata menyala laksana serigala mengintai Kematian setiap sosok yang berbeda dengannya.

Di tengah keadaan yang mencekam itu, di tengah kelengangan dan kesunyian jiwa, dalam desau angin kering yang berembus dari bumi Persia, terdengar ratapan pedih para salik yang bertebaran laksana kumbang-kumbang kehilangan sayap mencari kesegaran madu di taman ruhani yang merana. Mereka meratapi hilangnya bunga-bunga dari taman indah yang memesona: taman indah tempat kesadaran burung para salik beterbangan menuju angkasa ruhani menghadap hadirat Sang Keindahan (al-Kamal). Taman indah tempat para burung berkicau di dahan-dahan khanaqah menyanyikan lagu rindu terhadap Simurgh (Raja Burung) yang mengejawantahkan al-Waly. Taman indah tempat ikan-ikan berenang di telaga Kehidupan yang sejuk menyegarkan. Ya, mereka meratapi hilangnya taman indah itu. Bunga-bunga harum aneka warna yang mengejawantahkan Keindahan yang beragam seperti bunga Kubrawiyyah, Naqsyabandiyyah, Khalwatiyyah, Maulawiyyah, dan Suhrawardiyyah yang terhampar di bumi Persia telah tertutup oleh salju dan debu gurun kefanatikan atas titah sang tuhan: Syah Ismail.

Syah Ismail yang telah meletakkan mahkota suci (taj) di atas kepalanya dan duduk di atas singgasana ketidakbersalahan sebagai raja sekaligus tuhan, memang berhak mengakui kewenangan dirinya untuk menutupi bunga-bunga yang beragam di taman ruhani yang telah dikuasainya. Ia juga berhak mengakui kewenangan dirinya dalam menetapkan titah bahwa satu-satunya bunga yang indah dan harum menyimpan madu adalah bunga Safawiyyah. Tetapi, di balik semua pengakuan sepihak atas wewenang yang dipegangnya itu, sesungguhnya ia telah mewujudkan keberadaan dirinya sebagai raja absolut dan sekaligus tuhan di muka bumi, yang pernah muncul dan berkuasa di negeri Mesir: Sang Fir’aun. Bahkan tanpa ia sadari, sebagaimana telah dilakukan Fir’aun, sesungguhnya ia telah berusaha menandingi Allah, Tuhan, al-Mutakabbir, dengan cara menempatkan diri sebagai makhluk paling takabur (ablasa) yang memproklamasikan keberadaan diri sebagai yang paling mulia dan paling tinggi derajatnya di atas semua makhluk yang disebut manusia (QS. Shad: 74-76).

Suao Taiwan (MV. Taho), 29 April 2007, 19:30LT

11. Perlawanan para Hamba Tuhan

Ketika gemuruh perburuan dan pembinasaan para mursyid penunjuk jalan menuju Kebenaran dilakukan oleh bala tentara tuhan, hamba-hamba Syah Ismail yang fanatik, di tengah kobaran api yang membakar khanaqah-khanaqah dan zawiyyah-zawiyyah, di antara genangan darah para salik tak bersalah yang tersungkur di muka bumi, di tengah kelebatan beliung-beliung tajam yang membongkar makam-makam para wali Allah di bumi Persia, muncullah di tengah samudera raya iring-iringan kapal berisi makhluk-makhluk bayangan yang tak kalah mengerikan dibanding bala tentara Syah Ismail. Mereka adalah armada kerajaan Portugis yang terdiri atas dua puluh kapal perang bersenjata berat. Armada itu memuat para prajurit tuhan di bawah pimpinan ksatria tuhan tak terkalahkan: Vasco da Gama. Bagaikan monster lautan ganas, armada berisi prajurit-prajurit tuhan yang dicekam dendam kesumat itu tiba-tiba berhenti di laut Arab. Bagaikan sekawanan hiu mengintai mangsa, armada mendekam dengan sikap siaga di tengah alunan gelombang. Armada itu menunggu lewatnya kapal-kapal India yang kembali dari berniaga di negeri-negeri Arab.

Ibarat pepatah pucuk dicinta ulam tiba, tidak lama armada Portugis itu menunggu, lewatlah sebuah kapal penumpang India yang memuat jama’ah muslim Kozhikode (Calicut/India). Kapal berpenumpang 380 orang itu baru kembali dari Makah mengantar pulang jama’ah haji ke Kozhikode. Tanpa curiga sedikit pun kapal itu melenggang di atas debur gelombang lautan. Nakhoda kapal yang sudah beratus kali melintasi kawasan itu tidak menduga bahwa kebinasaan sedang mengintainya.

Munculnya kapal niaga berbendera India itu menyulut kegembiraan para prajurit dan ksatria tuhan. Dengan tertawa terbahak-bahak bagaikan setan, Vasco da Gama memerintahkan awak kapalnya untuk menangkap kapal tak bersalah itu. Vasco da Gama memerintahkan para awak kapalnya untuk merampas semua perbekalan yang ada di kapal tersebut. Kemudian sang ksatria tuhan memerintahkan para prajurit tuhan yang dipimpinnya untuk menawan dan mengunci seluruh penumpang di bawah geladak. Lalu, diiringi sorak-sorai gembira para prajurit tuhan, sang ksatria tuhan memerintahkan agar kapal tersebut dibakar. Setelah terbakar selama tiga hari tiga malam, di tengah jeritan sahut-menyahut manusia-manusia yang hangus terbakar dan gelak tawa para prajurit, tenggelamlah kapal malang itu beserta seluruh penumpangnya yang berjumlah 380 orang, termasuk perempuan dan anak-anak.

Dengan kepongahan seorang ksatria tuhan yang bangga karena telah membinasakan kaum sesat, musuh tuhan, Vasco da Gama mengirim utusan kepada penguasa Kozhikode, Samaritu. Ia menawarkan dua pilihan yang sama-sama berat kepada Samaritu. Pertama, Vasco da Gama meminta agar Samaritu membunuh semua penduduk Muslim di seluruh Kozhikode. Kedua, jika Samaritu menolak maka ia akan menghadapi pembalasan dari Portugis.

Samaritu, penguasa Kozhikode (Calicut) yang tak menginginkan perang, buru-buru mengirimkan utusan untuk melakukan perundingan. Tetapi, pada saat itu Vasco da Gama memperoleh laporan bahwa yang membakar kapal Pedro Alvares Cabral bukan hanya penduduk Muslim Kozhikode, melainkan penduduk “Kristen” India juga banyak terlibat. Dengan dada dikobari amarah, Vasco da Gama kemudian menitahkan para prajurit tuhan untuk menghukum mereka. Para prajurit tuhan pun dengan garang menangkapi nelayan Kozhikode beragama “Kristen” yang berkeliaran di pantai. Sekitar 38 orang nelayan Kozhikode yang sesungguhnya beragama Hindu itu berhasil ditangkap. Setelah perahu-perahu mereka ditenggelamkan, mereka dibinasakan dengan cara: kepala dipenggal. Kaki dan tangan mereka dipotong-potong. Kemudian di tengah gelak tawa kegirangan bagaikan setan, para prajurit tuhan menyerakkan potong-potongan tubuh para nelayan tak bersalah itu di laut. Potongan-potongan tubuh malang itu terapung-apung di pantai dan dijadikan tontonan penduduk kota. Untuk mengabadikan “hukum tuhan” agar yang lain takut melawan ksatria dan prajurit tuhan, Vasco da Gama, memerintahkan prajurit-prajurit tuhan yang dipimpinnya untuk menembaki kota dengan meriam. Lalu tewaslah puluhan penduduk kota tak bersalah.

Tindakan teror yang dilakukan Vasco da Gama dengan memamerkan kekejaman dan kehebatan meriam-meriam Portugis terbukti telah membuat gentar para saudagar Arab dan saudagar Muslim di Kozhikode. Tetapi, aksi teror itu ternyata tidak membuat Samaritu memenuhi ancaman sang ksatria tuhan. Diam-diam Samaritu meminta para saudagar Muslim Kozhikode yang sebagian besar merupakan orang-orang Mappila, abdi maharaja Wijayanagara, untuk pergi dari kota perniagaan tersebut. Sementara sejumlah mursyid tarekat asal Persia yang baru beberapa jenak mengecap ketenangan di Kozhikode tidak punya pilihan, kecuali mengangkat kaki lagi untuk mencari tempat hinggap yang baru. Akibat ancaman Vasco da Gama, para ulama Kozhikode pun beramai-ramai meninggalkan negeri kelahiran mereka. Demikianlah, di bawah intaian Sang Maut yang mengembangkan sayap-Nya di atas kapal-kapal Portugis, saudagar-saudagar Muslim, para ulama dan keluarganya, serta para mursyid asal Persia berbondong-bondong meninggalkan bumi Kerala menuju samudera selatan untuk membangun sarang baru yang jauh dari ancaman ksatria dan prajurit-prajurit tuhan yang ganas. Tetapi, sebagaimana lazimnya hukum alam, mereka yang terusir oleh kekerasan dan kefanatikan itu membangun “benteng-benteng” perlawanan di tempatnya yang baru terhadap kemungkinan serbuan dari musuh utama mereka: orang-orang Portugis, dinasti Safawi, pengikut Tarekat Safawiyyah, dan bahkan semua pengikut Syi’ah.

Kabar naik takhtanya Syah Ismail yang diikuti kebijaksanaan memburu, mengusir, menganiaya, dan membunuh para mursyid tarekat serta para salik berlangsung susul-menyusul dan sambung-menyambung dengan kabar kedatangan ksatria tuhan dan prajurit tuhan asal Portugis di Kozhikode. Sifat sombong dan suka merendahkan mereka dengan cepat menyebar ke berbagai tempat yang memiliki hubungan dengan Persia dan India. Dari mulut ke mulut, kisah kekejaman Syah Ismail dan Vasco da Gama beserta prajurit-prajuritnya dalam waktu singkat sudah terdengar di berbagai bandar perniagaan di negeri-negeri Timur.

Kisah kesombongan dan kekejaman Syah Ismail dan Vasco da Gama disebar pula secara lebih luas oleh para mursyid dan saudagar dari negeri lain. Salah satu di antara para penyebar berita kelam itu adalah para ulama dan saudagar Maghrib (Maroko – Aljazair) yang sejak lama sudah memiliki hubungan dengan para sufi di Baghdad, Istambul, dan Persia. Segera setelah para mursyid tarekat meninggalkan Persia, berlindung di negeri yang dikuasai dinasti Timuriyyah di Baghdad dan dinasti Usmaniyyah di Istambul, para ulama sufi Maghrib yang berada di kedua tempat tersebut dengan cepat menyebar ke berbagai negeri di timur dengan menumpang kapal saudagar-saudagar Maghrib yang berniaga ke Mesir, Yaman, Persia, India, Pasai, dan Malaka. Bagaikan dua pasukan yang berjuang bahu-membahu dalam sebuah pertempuran, ulama Maghrib menyebarkan kabar buruk tentang lahirnya fir’aun baru bernama Syah Ismail yang menghalalkan darah umat Islam sedunia, sementara para saudagar Maghrib menyebarkan kabar buruk tentang datangnya bajak laut Portugis yang akan merampok barang perniagaan maupun gudang kekayaan milik saudagar-saudagar Muslim di seluruh dunia.

Keterlibatan para ulama sufi dan saudagar-saudagar Maghrib untuk ikut mengambil peran dalam menyebarluaskan kabar berkuasanya telah menjadi gelombang yang susul-menyusul dan sambung-menyambung yang membuat terkejut para pemuka dan terutama saudagar-saudagar Muslim di negeri-negeri Timur. Sebab, tak lama setelah berita itu disampaikan oleh para ulama sufi dan saudagar asal Kerala dan Persia, datanglah berita dari para ulama dan saudagar Maghrib. Para ulama dan saudagar asal Maghrib itu mengaku berasal dari kabilah Bani Mathar, Bani Millal, Bani Ounif, dan Bani Slimane yang dipimpin oleh dua orang kakak beradik asal kota Kaar el-Kabir, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. Mereka bertolak dari bandar-bandar perniagaan di Yaman dan Malabar menuju selatan dengan tujuan utama membangkitkan perlawanan kaum Muslimin di berbagai negeri terhadap musuh besar mereka: para penganut paham Syi’ah dan bajak laut Portugis.

Kedatangan orang-orang Maghrib dalam jumlah ratusan di pelabuhan-pelabuhan Nusantara sempat menimbulkan tanda tanya penduduk setempat yang terheran-heran melihat mereka. Sebab, perwujudan fisik mereka memang berbeda-beda. Ada yang berkulit gelap, namun berambut perang dan bermata biru. Ada yang berkulit putih dengan rambut hitam dan mata coklat. Ada yang berkulit putih dengan mata biru, namun berambut gelap keriting. Bahkan ada yang mirip dengan orang-orang Arab, namun kulitnya sehitam jelaga. Yang lebih mengherankan, meski lelaki, mereka sangat suka bersolek dan memakai perhiasan berlebihan.

Keanehan bentuk fisik orang-orang Maghrib berasal dari kenyataan bahwa mereka adalah bangsa yang lahir dari bermacam-macam bangsa seperti Neger, Berber, Tuareg, Moor, Kabil, Arab, Vandal, Romawi, Spanyol, dan Yahudi. Mereka lahir dari bangsa-bangsa pengembara dan bangsa penakluk. Itu sebabnya, mereka dikenal sebagai orang-orang yang suka meninggalkan kampung halaman untuk berniaga ke berbagai negeri. Mereka terkenal ramah dan gampang bergaul, namun jauh di pedalaman jiwa mereka tersembunyi naluri gemar perang, warisan sejarah masa silam dari leluhur mereka yang silih berganti menguasai negeri Maghrib. Lantaran itu, saat bertemu dengan musuh lama mereka, Portugis, mereka langsung membayangkan sebuah pertarungan sengit sehingga mereka pun dengan terang-terangan berusaha membuat medan tempur lebih luas, melalui cara membangkitkan semangat perlawanan kaum Muslimin terhadap Portugis. Dengan kepiawaian berkata-kata, mereka berhasil memanas-manasi para syahbandar dan penguasa di berbagai pelabuhan Nusantara seperti Dermayu, Muara Jati, Samarang, Demak, Tuban, Surabaya, Gresik, dan tentu saja setelah lebih dulu memanasi penguasa Aceh, Pasai, Patani, Kedah, Malaka, Aru, Kampar, dan Palembang.

Sekalipun para syahbandar dan penguasa pesisir telah cukup lama mendengar ramalan Abdul Jalil tentang bakal datangnya kawanan Ya’juj wa Ma’juj, pembawa senjata penyembur api, yang dipimpin Sang Kere putera To-gog, dan akan menjarah kekayaan penduduk, ternyata mereka masih terkejut dengan kabar kedatangan orang-orang Portugis yang disampaikan saudagar-saudagar Maghribi tersebut. Sebuah pertemuan rahasia di antara penguasa-penguasa pesisir dan pemuka warga trah Prabu Kertawijaya buru-buru diadakan di Giri Kedhaton. Mereka yang hadir adalah Raden Patah Adipati Demak didampingi Imam Masjid Demak Raden Mahdum Ibrahim, Khalifah Husein Imam Madura, Raden Ahmad (putera almarhum Raden Ali Rahmatullah) Susuhunan Khatib Ampel Denta, Raden Yusuf Shiddiq Adipati Siddhayu, Raden Zainal Abidin Adipati Gresik, Arya Bijaya Orob Adipati Tedunan, Raden Sahun (Pangeran Pandanarang) Adipati Samarang, Pangeran Gandakusuma Adipati Kendal, Pangeran Danareja Adipati Bojong, Raden Sulaiman Leba Wirasabha, Syaikh Bentong, Syarif Hidayatullah mewakili Raja Caruban Sri Mangana, Raden Kusen Adipati Terung, dan Pangeran Arya Pinatih.

Mendapat kabar tentang diadakannya pertemuan rahasia tersebut, Abdul Jalil yang didampingi Abdul Malik Israil, Syaikh Jumad al-Kubra, dan Raden Sahid yang saat itu masih berada di Trigosthi (Salatiga), setelah selama dua puluh tiga bulan lebih membuka dukuh-dukuh hunian baru di pedalaman Nusa Jawa, buru-buru beranjak meninggalkan Trigosthi menuju ke Giri Kedhaton. Sepanjang perjalanan, Abdul Jalil mendapati orang-orang di sekitar pelabuhan ramai membicarakan orang-orang Syi’ah yang membunuhi para ulama dan santri, juga bajak laut Portugis yang bakal menyerang Nusa Jawa. Sebagaimana lazimnya kebiasaan penduduk Nusa Jawa yang alam pikirannya cenderung oleh bunyi dan suara tertentu, nama Syah Ismail, raja orang Syi’ah, dikesankan sebagai siluman tupai (Jawa Kuno: Sah : menyingkir; Semal: tupai) yang memisahkan diri dari kawanannya, yang menjelma menjadi manusia kejam dan haus darah. Bahkan kesan siluman tupai itu kemudian berkembang menjadi salah satu jenis tupai, yaitu bajing. Demikianlah, penduduk di sekitar pelabuhan mengesankan Syah Ismail sebagai siluman tupai yang menjadi raja para penjahat: Prabu Semal ratu ning bajingan.

Tuduhan siluman dan bajingan di Nusa Jawa adalah tuduhan yang tidak bisa diabaikan, apalagi dianggap lelucon. Sebab, siapa pun di antara makhluk yang menyandang sebutan siluman atau bajingan wajib disingkirkan dari lingkaran kehidupan penduduk Nusa Jawa. Tuduhan sebagai makhluk siluman dan bajingan yang dialamatkan kepada para penganut Syi’ah pun mengakibatkan mimpi buruk yang mengerikan. Entah benar entah tidak, kumpulan-kumpulan penduduk muslim yang dituduh sebagai penganut Syi’ah tiba-tiba diburu dan dikepung penduduk. Mereka dituduh jelmaan siluman tupai atau kawanan penjahat berbahaya. Darah pun tumpah. Mayat pun bergelimpangan. Entah siapa yang mengawali, tiba-tiba tersebar fatwa dari mulut ke mulut yang menegaskan bahwa Syi’ah adalah paham sesat yang diajarkan ratu siluman yang menghalalkan darah penduduk Nusa Jawa untuk ditumpahkan.

Sementara itu, tidak berbeda dengan kesan tentang Syah Ismail dan kaum Syi’ah, penduduk Jawa yang mengucapkan kata Portugis dengan lafal Peranggi (Jawa Kuno: Prang-pranggi: menyerang secara membabi-buta), cenderung mengesankan keberadaan Portugis bukan sebagai bangsa manusia, melainkan kawanan siluman kerbau putih bermata kucing (kebo bule mata kucing) yang mengamuk dan memangsa manusia. Mereka juga mengesankan pemimpin bangsa Peranggi itu, Vasco da Gama, sebagai raja siluman bernama Kala Srenggi: siluman babi hutan bertaring besar. Bahkan yang berkembang kemudian adalah kesan kuat bahwa bangsa Peranggi, kebo bule mata kucing, merupakan kawanan makhluk penjarah asal Nusa Pranggi (Jawa Kuno: negeri kacau) yang dipimpin Sang Kere putera Sang To-gog. Mereka datang ke Nusa Jawa membawa bala tentara kelaparan karena negeri mereka termasyhur kemiskinannya. Sang Kere dan bala tentaranya itu dengan kerakusan tiada tara akan menjarah kemakmuran Nusa Jawa dan memperbudak penduduknya.

Sebagai orang yang sejak awal telah mengetahui bakal terjadi perubahan besar bagi tatanan kehidupan negeri-negeri Timur, Abdul Jalil tidak menganggap kemunculan Syah Ismail dan bangsa Portugis sebagai sesuatu yang mengagetkan. Ia malahan sangat yakin, apa yang diperjuangkannya untuk melahirkan manusia-manusia baru, adimanusia-adimanusia, yang memegang kuat nilai-nilai berlandaskan Tauhid adalah benteng pertahanan yang tak bakal bisa ditembus oleh para pecinta tubuh dan pemuja dunia berkedok agama seperti Syah Ismail dan bangsa Portugis. Ia sangat yakin bahwa para adimanusia yang lahir dari nilai-nilai Tauhid akan dapat mempertahankan diri dari tindak kekerasan yang dilakukan para pecinta tubuh dan pemuja dunia itu. Bahkan, andaikata nanti bangsa Portugis dapat menaklukkan para penguasa negeri dan meletakkan Nusa Jawa di bawah telapak kakinya, mereka akan menghadapi kesulitan besar untuk mengubah nilai-nilai Tauhid yang sudah dianut penduduk Nusa Jawa. Itu sebabnya, ketika ia bertemu dengan Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry di pelabuhan Samarang, ia tegas-tegas menolak ajakan untuk mengusir para penganut Syi’ah dan menghalau bangsa Portugis dengan senjata di mana pun mereka berada.

“Bumi ini milik Allah, Tuan Syaikh,” kata Abdul Jalil. “Karena itu, tidak ada hak satu bangsa melarang bangsa lain untuk menginjakkan kaki di bumi Allah kecuali jika bangsa pendatang itu telah terbukti berbuat zalim terhadap penduduk setempat. Sepengetahuan kami, tidak ada dalil-dalil maupun teladan dari Rasulullah Saw. bahwa kita mengusir saudara seagama atau menyambut orang-orang yang mau berniaga dengan senjata. Jika Syah Ismail berbuat kejam di Persia maka hendaknya hal itu diselesaikan di sana. Janganlah penganut Syi’ah yang tidak tahu apa-apa di negeri ini disangkut pautkan dengan tindakan bodoh anak bangsa Azeri yang mengaku keturunan Nabi Saw. itu. Bahkan, jika Tuan memiliki rasa bermusuhan dengan suatu kaum, janganlah Tuan melibatkan orang lain dalam permusuhan itu. Sebab, hal itu akan menunjukkan bukti bahwa Tuan kurang yakin diri dalam menghadapi musuh Tuan.”

Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry terkejut dengan penolakan Abdul Jalil yang dirasakannya bagaikan anak panah menembus jantung. Dengan mata berkilat dan dada naik turun menahan amarah, dia berkata dengan suara ditekan tinggi, “Tuan tahu apa tentang orang-orang Syi’ah yang sesat itu. Mereka telah mengangkat Syah Ismail sebagai fir’aun, penjelmaan tuhan di dunia. Mereka membumihanguskan khanaqah-khanaqah dan zawiyyah-zawiyyah. Mereka memburu-buru dan menyiksa bahkan membunuh para guru suci tarekat. Apakah kita akan berdiam diri melihat kesesatan mereka?”

“Tuan Syaikh, demi Allah, kami sangat setuju memerangi Syah Ismail yang telah menuhankan dirinya. Kami juga tidak percaya sedikit pun jika dia keturunan Nabi Muhammad Saw. karena dia dan leluhurnya berkebangsaan Azeri yang lahir di Azerbaijan. Syah Ismail adalah pendusta berpikiran picik dan dungu. Dia hanya berpikir tentang kekuasaan pribadi yang bakal didudukinya di wilayah terbatas, yaitu negeri Persia. Dia sedikit pun tidak berpikir bahwa akibat tindakannya itu para penganut Syi’ah di berbagai negeri terancam jiwanya.”

“Karena itu, o Tuan Syaikh, kami sangat tidak setuju jika kita ikut-ikutan berpikir picik seperti Syah Ismail untuk membunuh setiap penganut Syi’ah hanya gara-gara tindakan sepihak makhluk pendusta yang mabuk kekuasaan duniawi. Sebab, menurut hemat kami, tidak semua penganut Syi’ah sepaham dengan Syah Ismail. Dan tentang penganut Syi’ah di Nusa Jawa ini, hendaknya tidak kita ganggu karena mereka tidak memiliki kaitan dengan gerakan Syah Ismail di Persia,” kata Abdul Jalil.

“Bagaimana Tuan bisa yakin jika orang-orang Syi’ah tidak berhubungan dengan Syah Ismail? Bukankah mereka itu satu napas dan satu jiwa?” tanya Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry.

“Siapa bilang Syi’ah itu satu napas dan satu jiwa? Siapa pula yang bilang jika Sunni itu satu napas dan satu jiwa? Bukankah Tuan Syaikh sudah paham bahwa hukum kauniyah yang ditetapkan Allah itu tidak akan berubah oleh tindakan orang-seorang? Maksudnya, jika hukum kauniyah tentang keragaman itu menjadi keniscayaan bagi tatanan kehidupan di alam semesta, tentulah mustahil jika keragaman itu bisa diseragamkan oleh seorang manusia, apalagi pembohong tengik seperti Syah Ismail,” kata Abdul Jalil.

“Bukankah Syah Ismail didukung oleh orang-orang Syi’ah asal Baghdad, Mesir, dan Turki? Bukankah sesungguhnya kaum Syi’ah itu bersatu dalam kesesatan?”

“Ketahuilah, o Tuan Syaikh, bahwa mertua kami, Syaikh Abdul Malik al-Baghdady, adalah seorang ulama Syi’ah. Tetapi, dia bukan pengikut Tareka Safawiyyah. Dia juga bukan pendukung Syah Ismail. Bahkan kabar yang kami terima terakhir, dia yang selama tiga tahun terakhir tinggal di Shiraz dibunuh oleh kaki tangan Syah Ismail karena dianggap melindungi kawan-kawannya, para ulama tarekat yang tidak patuh terhadap kekuasaan Syah Ismail,” kata Abdul Jalil tegas.

“Apakah Tuan Syaikh sendiri penganut Syi’ah?” tanya Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry curiga.

“Kami adalah guru ruhani yang mengajarkan Tarekat Akmaliyyah yang dinisbatkan kepada hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Tetapi, kami tidak peduli apakah dituduh Syi’ah atau penyembah setan sekalipun, karena tugas utama kami adalah menjaga keseimbangan tatanan kehidupan manusia di dunia ini. Itu sebabnya, ketika para pengikut ayahanda mertua kami yang datang ke Caruban memburu-buru Syaikh Duyuskhani dan pengikutnya untuk dibunuh, kami cegah sekuat kuasa kami. Sebab, kami tahu pasti bahwa Syaikh Duyuskhani sekalipun orang Persia dan penganut Syi’ah, ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan gerakan Syah Ismail. Dengan begitu, menurut hemat kami, sungguh tidak pantas jika Syaikh Duyuskhani dan pengikutnya yang tidak tahu-menahu tentang perbuatan Syah Ismail di Persia itu harus ikut menanggung akibat hanya karena kebetulan pahamnya sama.”

“Apakah Tuan Syaikh akan melindungi semua orang Syi’ah di Nusa Jawa?”

“Bukan hanya orang Syi’ah. Siapa pun di antara manusia tak bersalah yang teraniaya akan kami lindungi sekuat kuasa kami.”

“Tuan akan menuai bahaya akibat tindakan itu.”

“Kami sudah terbiasa menanggung akibat berbahaya dari tindakan yang kami lakukan.”

“Sungguh, Tuan Syaikh sedang melindungi kawanan ular berbisa.”

“Sesungguhnya, racun yang paling dahsyat bukanlah bisa ular, melainkan racun kebencian yang terletak di taring ular jiwa yang bersarang di dalam relung-relung hati kita. Sebab, dengan racun kebencian itu manusia sering menjadikan dirinya sebagai ular raksasa yang berbahaya bagi kehidupan sesamanya.”

Tidak berbeda dalam prinsip saat berdebat dengan Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, Abdul Jalil tetap berpegang teguh pada prinsipnya saat berbincang-bincang dengan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tentang bangsa Portugis. Abdul Jalil tetap berkukuh menolak ajakan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry untuk menyongsong kehadiran bangsa Portugis di Nusa Jawa dengan senjata. Sebab, menurut hematnya, kehadiran bangsa Portugis yang memamerkan kekejaman itu pada hakikatnya adalah bagian dari cerita kehidupan anak manusia yang mengandung rahasia pengukuhan Tauhid bagi manusia di negeri-negeri Timur agar lebih sempurna. “Kehadiran bangsa-bangsa perusak, Ya’juj wa Ma’juj, sepanjang sejarahnya tidaklah dapat dilawan dengan senjata. Kekuatan mereka hanya bisa ditawarkan dengan ajaran Tauhid yang kuat,” ujar Abdul Jalil.

Sidi Abdul Qadir el-Kabiry yang tidak sukan dengan pandangan Abdul Jalil tampak marah, meski berusaha meredamnya. Setelah terdiam sesaat dia berkata dengan suara lantang, “Apakah Tuan Syaikh belum tahu jika bangsa Portugis adalah kaum kafir? Apakah Tuan Syaikh belum pernah bertemu dan belum pula pernah mengenal mereka? Apakah Tuan Syaikh tetap yakin jika mereka itu bukan bangsa yang berbahaya bagi agama kita? Jika Tuan menilai Portugis bukan bangsa yang berbahaya bagi agama kita, itu karena Tuan selama ini tinggal di negeri yang jauh dari keramaian dunia. Jika Tuan Syaikh tinggal di negeri Maghrib yang berdekatan dengan negeri bangsa Portugis seperti kami, Tuan akan tahu bagaimana busuk dan tengiknya mereka. Mereka suka mabuk, gemar berzina, rakus harta, haus kekuasaan, suka berperang, menjarah, merampok, memperkosa, dan yang paling berbahaya, mereka memiliki kebencian yang berlebihan terhadap agama kita. Bagaimana pendapat Tuan terhadap orang-orang seperti itu?”

Abdul Jalil tertawa mendengar penjelasan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. Setelah diam beberapa jenak ia berkata dengan suara lain, “Jika apa yang Tuan sampaikan tentang bangsa Portugis itu benar maka kami akan menyatakan keheranan atas sifat Allah yang Maharahman dan Maharahim dan Mahaadil. Maksud kami, sungguh tidak adil dan sangat aneh jika Allah SWT. mencipta suatu kaum sebagai bangsa yang busuk dan tengik tanpa kebaikan sedikit pun. Bagi kami, jika memang ada bangsa yang busuk seluruhnya maka itu menunjukkan kemustahilan dari hukum alam yang ditetapkan Allah.”

“Kami belum paham dengan kata-kata yang Tuan sampaikan,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Terus terang, kami tidak percaya dengan pandangan Tuan yang menilai bangsa Portugis itu busuk dan tengik semua. Menurut kami, hukum alam telah menetapkan bahwa di antara bangsa-bangsa manusia itu wajib ada yang baik dan wajib pula ada yang tidak baik. Lantaran itu, kami beranggapan kebaikan dan keburukan tidak bersangkut paut dengan kebangsaan, warna kulit, bahasa, dan keturunan orang seorang. Apakah menurut Tuan semua orang Maghrib itu baik semua? Apakah orang-orang Maghrib semuanya bersifat seperti malaikat yang tidak mempunyai nafsu, tidak rakus harta, tidak suka perempuan, dan tidak gila kekuasaan duniawi?” tanya Abdul Jalil.

“Kami kira tiap bangsa memang ada yang baik dan ada pula yang buruk. Tetapi, bagaimana dengan kebencian mereka yang berlebihan terhadap agama kita? Apakah kita akan mendiamkan mereka? Apakah kita akan membiarkan agama kita mereka hancurkan?”

“Islam adalah agama Kebenaran (ad-din al-haqq) yang akan dijaga oleh Yang Mahabenar (al-Haqq). Itu berarti, kita tidak perlu ragu apalagi khawatir bahwa Islam akan musnah dari muka bumi, apalagi oleh kefanatikan suatu bangsa. Kami tetap yakin pada hukum alam bahwa kehidupan di dunia ini wajib beragam. Itu berarti, jika ada suatu bangsa ingin menyeragamkan kehidupan manusia dengan alasan agama, keyakinan, budaya, bahasa, atau kekuasaan, maka sesungguhnya bangsa itu sedang membangun bagian kecil dari keragaman karena sangat mustahil ia bisa mengubah hukum alam. Demikian pun dengan bangsa Portugis, jika mereka ingin menguasai dunia dan mengubah agama penduduk dunia agar seperti agama mereka maka mereka sejatinya sedang memecah-belah agamanya. Sebab, hukum alam telah menggariskan bahwa keragaman agama adalah fitrah bagi kehidupan makhluk di jagat raya ini. Lihat dan tunggulah, agama yang dianut bangsa Portugis itu pada gilirannya nanti akan terpecah-pecah tak terhitung jumlahnya,” kata Abdul Jalil.

“Sebagai seorang guru agama Islam, sungguh aneh sekali pandangan Tuan,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry dengan nada heran. “Tuan seolah-olah tidak punya ghirah terhadap agama Tuan.”

“Itu karena Tuan Syaikh memiliki sudut pandang yang berbeda dengan kami dalam memandang sesuatu sehingga penilaian Tuan pun menjadi berbeda dengan kami,” kata Abdul Jalil datar.

“Kami belum paham dengan penjelasan Tuan,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Begini Tuan Syaikh,” kata Abdul Jalil tenang. “Jika Tuan datang ke pedalaman Nusa Jawa, kemudian Tuan menemukan suatu kaum yang tinggal di suatu tempat memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu Esa, Tuhan tidak bisa disetarakan dengan sesuatu, yakin akan datang hari kehancuran jagat raya, yakin jika surga dan neraka itu bertingkat-tingkat, mereka berpuasa, bersembahyang, tidak makan babi, tidak makan anjing, tidak makan sesuatu yang najis, tidak meminum minuman keras, tidak berjudi, tidak mencuri, tidak menyakiti, beristri paling banyak empat, dan berusaha menjalani kehidupan yang suci. Menurut Tuan, siapakan mereka itu?”

“Tentu mereka itu orang-orang Muslim.”

“Tuan telah keliru menilai,” kata Abdul Jalil menukas, “sebab kaum yang kami sebutkan itu adalah para pendeta Syiwa-Budha.”

“Benarkah itu?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry terheran-heran.

“Tuan boleh mengikuti kami ke pedalaman Nusa Jawa untuk membuktikan ucapan kami.”

“Itu yang kami belum tahu.”

“Kami kira, masalah permusuhan bangsa Tuan dengan orang-orang Portugis terjadi karena tidak ada saling pengertian. Masing-masing pihak merasa benar sendiri. Pihak satu tidak mau memahami pihak lain.”

“Kami kira, Tuan keliru dalam menilai orang-orang Portugis. Mereka beda dengan penduduk Nusa Jawa. Kalau saja Tuan pernah dekat dengan mereka, kami yakin Tuan akan memiliki penilaian yang sama dengan kami. Tuan akan melihat betapa berbahayanya meraka itu jika dibiarkan.”

“Kami memang kaum agamawan. Tetapi, kami bukannya orang picik yang tidak mengenal bangsa-bangsa lain. Saat kami tinggal di Baghdad, kami banyak bergaul dengan berbagai bangsa berikut berbagai keyakinan dan adat budayanya. Bahkan saudara kami ini, Abdul Malik Israil al-Gharnata, adalah seorang pemuka keluarga Jethro dari antara Bani Israil di Andalusia. Pada saat Granada jatuh, seluruh keluarganya yang beragama Yahudi pindah ke Maghrib, yaitu negeri Tuan, karena mereka menolak dipaksa pindah agama oleh penguasa Granada. Bukankah itu menunjukkan bahwa masalah agama tidak bisa dipaksa-paksa? Malahan kalau tidak keliru, sebagian keluarga dari saudara kami itu ada yang tinggal di kota asal Tuan, Kaar el-Kabir,” ujar Abdul Jalil.

“Tuan pernah tinggal di Baghdad?” gumam Sidi Abdul Qadir el-Kabiry heran.

“Tidak lama, cuma tujuh belas tahun.”

“Jika demikian, kenapa Tuan mau tinggal di tempat terpencil seperti ini? Bukankah kehidupan di Baghdad jauh lebih menyenangkan?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry makin heran.

“Seburuk apa pun, negeri ini adalah tempat kami dilahirkan. Menurut pepatah orang-orang di negeri ini, hujan emas di negeri orang, masih baik hujan batu di negeri sendiri. Karena itu, sebagai anak negeri dari negeri ini, tentunya kami lebih memahami pepatah itu daripada orang lain. Kembali pada masalah bangsa Portugis, kami tetap yakin mereka memang kawanan yang berbahaya, terutama bagi manusia yang masih diliputi kecintaan berlebih terhadap duniawi. Sebab, melalui bangsa Portugis itulah para pecinta duniawi akan bersaing dan bertempur memperebutkan dunia. Kami yakin, di mana pun bangsa Portugis itu berada, mereka akan menghadapi perlawanan saudagar-saudagar apakah itu Muslim atau bukan Muslim dengan alasan yang sama: berebut harta kekayaan dan kekuasaan dunia.”

“Sementara bagi para pecinta Allah dan penampik dunia, mereka tidak dianggap sebagai pesaing apalagi ancaman. Sebab, bagi para pecinta Allah dan penampik dunia, telah jelas bahwa musuh utama mereka bukanlah suatu kaum yang ditandai warna kulit, bahasa, budaya, dan agama, melainkan mereka yang terperangkap pada nafsu kecintaan berlebih pada dunia hingga terhijab dari Allah SWT.. Sungguh, para pecinta dunia itulah kaum yang berbahaya. Dengan demikian, tidak semua bangsa Portugis yang beragama Kristen bisa digolongkan sebagai pecinta tubuh dan pemuja dunia. Kami yakin, di antara mereka tentunya ada seseorang yang memiliki pandangan berbeda dengan kawan-kawannya. Sebaliknya, di antara kaum Muslimin pun tidak bisa dikata bahwa mereka semua adalah pecinta Allah sejati. Sebab, kenyataan membuktikan, tidak kurang di antara mereka yang menyatakan pecinta Allah itu sesungguhnya pecinta diri pribadi yang berlebihan sehingga mata batin (‘ain al-bashirah) mereka tertutup oleh benda-benda (thaghut) sehingga mereka terhijab dari Kebenaran,” kata Abdul Jalil.

“Bagaimana Tuan bisa yakin jika di antara mereka itu ada yang bukan pecinta tubuh dan pemuja dunia? Bukankah mereka jauh-jauh dari negerinya hingga ke India sesungguhnya karena berkeinginan merebut dan menguasai harta dunia? Mungkinkah di antara mereka itu ada yang tidak sejenis dengan kawan-kawannya?” gumam Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Kami tetap yakin dengan fitrah keragaman yang ditetapkan Allah dalam hukum alam.”

“Keyakinan Tuan itu hanya pada tingkat gagasan saja. Tuan akan kecewa jika mengetahui kenyataan betapa di antara mereka itu tidak ada satu pun orang yang tidak mencintai tubuh dan memuja dunia. Mereka selalu menyatakan diri sebagai prajurit tuhan, ksatria tuhan, dan bahkan anak-anak tuhan. Tetapi, kiblat hati dan pikiran mereka selalu tertuju pada benda-benda duniawi dan pengumbaran nafsu.”

“Kapan rombongan Tuan akan balik ke India?” tanya Abdul Jalil dengan pertanyaan lain.

“Awal purnama bulan ini,” kata Abdul Jabbar el-Kabir singkat sambil mengerutkan kening. “Kenapa Tuan bertanya tentang kepulangan kami?”

“Jika diperbolehkan, kami ingin ikut rombongan Tuan. Kami ingin membuktikan kepada Tuan bahwa apa yang baru saja kami ucapkan bukan suatu khayalan.”

“Apakah hanya untuk itu Tuan ikut kami ke India?”

“Tentu saja tidak,” sahut Abdul Jalil datar. “Selain untuk membuktikan ucapan kami, kami juga ingin pergi ke Gujarat untuk menjemput anak dan istri kami di sana.”

“Tuan punya keluarga di Gujarat?”

“Ya, tetapi mereka sudah kami tinggalkan selama belasan tahun silam.”

“Berapa lama Tuan pernah tinggal di sana?”

“Kira-kira dua tahun.”

“O pantas saja, Tuan sangat berbeda dengan orang-orang sana.”

“Berbeda bagaimana?” tanya Abdul Jalil sambil tertawa. “Apakah kami lebih lemah? Lebih tidak bersemangat? Dan lebih sulit untuk dipanas-panasi? Begitu?”

Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tersenyum kecut. Dia kemudian menepuk-nepuk bahu Abdul Jalil dan kemudian mengajak bicara Abdul Malik Israil. Dia mengalihkan pembicaraan dengan memperbincangkan para pengungsi Bani Israil di Maghrib. Dalam perbincangan itu, Sidi Abdul Qadir el-Kabiry ternyata mengenal sejumlah pemuka keluarga Bani Israil yang tinggal di Kaar el-Kabir yang ternyata kerabat Abdul Malik Israil. Dari penjelasan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry, diketahuilah jika sejumlah pemuda Bani Israil dari keluarga Abraham, Menahem, David, Zakhari, Naum, Solomon, Samail, Sarkis, dan bahkan Jethro diam-diam telah pergi ke berbagai negeri di Eropa untuk berjuang melawan kekuatan gereja. “Rupanya mereka sangat sakit hati diusir dari kampung halamannya oleh penguasa baru Granada,” jelas Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Bagaimana Tuan tahu mereka pergi ke Eropa?”

“Karena kami yang membantu menyelundupkan mereka dari wilayah perbatasan Usmani di Moson dengan melewati Sungai Danube,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

Mendengar penjelasan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry, Abdul Jalil tertawa dan berkata menukas, “Menurut Tuan, apakah yang akan dilakukan para pemuda Bani Israil itu di negeri Eropa?”

“Saya tidak tahu, Tuan Syaikh,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. “Tetapi, kami mengira mereka akan memberikan laporan-laporan kepada para penguasa Usmani tentang kekuatan musuh.”

“Kalau menurut hemat kami, mereka tidak akan melakukan hal seperti itu.”

“Maksudnya?”

“Tuan tunggulah barang satu atau dua dasawarsa lagi,” kata Abdul Jalil dengan mata memandang kejauhan. “Tuan akan melihat hasil perjuangan mereka yang gilang-gemilang sesuai hukum alam tentang keragaman.”

“Kami belum paham maksud Tuan Syaikh?”

“Menurut dugaan kami, dengan pengetahuan mereka yang mendalam tentang al-Kitab, mereka akan berhasil menciptakan keragaman gereja. Itu berarti, kebenaran agama bukan hanya ditentukan oleh gereja Roma, melainkan akan ditentukan oleh gereja di berbagai negeri di Eropa.”

“Maksud Tuan Syaikh, mereka akan membangun madzhab-madzhab Nasrani baru?”

“Malah mungkin bukan madzhab, melainkan agama baru yang ditandai kibaran panji-panji Bani Israil,” ujar Abdul Jalil tegas. “Dan itu sah saja, sebagai perlawanan hamba Tuhan terhadap kezaliman manusia-manusia yang mengaku-aku sebagai prajurit, ksatria, anak-anak, dan bahkan tuhan.”

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 11:15LT

12. Majelis Wali Songo

Sepanjang perjalanan dari Samarang ke Giri Kedhaton, Abdul Jalil mendapati perselisihan antara penduduk pesisir dan para penganut paham Syi’ah makin menajam. Tanpa diketahui siapa yang memimpin, tiba-tiba terjadi penyerangan, penjarahan, pembakaran, dan perusakan terhadap rumah-rumah dan tempat ibadah yang diduga milik orang-orang Syi’ah. Tak kenal Muslim tak kenal Hindu, penduduk Nusa Jawa seolah diarahkan oleh satu kekuatan tak kasatmata untuk memburu orang-orang yang mereka tuduh Syi’ah. Yang paling menderita dalam peristiwa itu adalah penduduk keturunan Campa yang tegas-tegas menyatakan penganut Syi’ah. Mereka lari ke hutan-hutan untuk menghindari kejaran penduduk yang sudah gelap mata seolah keranjingan setan.

Sadar bahwa masalah perselisihan itu tidak dapat diselesaikan dengan meredamnya dari satu tempat ke tempat lain, Abdul Jalil berusaha membawa masalah tersebut ke dalam pertemuan para penguasa pesisir dan pemuka trah Prabu Kertawijaya di Giri Kedhaton. Sebagaimana saat berdebat dengan Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, Abdul Jalil dalam pertemuan itu dengan tegas menyatakan tidak setuju terhadap pandangan-pandangan picik yang menghendaki agar semua penganut Syi’ah di Nusa Jawa dibinasakan dan kedatangan Portugis wajib disambut dengan senjata.

Sebagai orang yang menghendaki terjadinya keseimbangan dalam tatanan kehidupan, Abdul Jalil tidak menginginkan ada tindak kekerasan yang berlebihan.

Di hadapan para penguasa pesisir dan keturunan Prabu Kertawijaya itu ia berkata dengan suara lantang dan tegas, “Sesungguhnya, kisah jatuh bangunnya suatu bangsa sebagaimana sudah dialami umat manusia adalah pelajaran yang agung jika kita mau berpikir. Jika Allah sudah berkehendak menimpakan marabahaya kepada makhluk-Nya, tidak ada yang bisa menghindarkannya kecuali Dia sendiri (QS. Yusuf: 107). Dengan begitu, menurut hematku, kehadiran Ya’juj wa Ma’juj yang membuat kerusakan di muka bumi pada dasarnya adalah kehendak-Nya jua. Rahasia di balik hadirnya Ya’juj wa Ma’juj pada dasarnya adalah peringatan keras dari Allah kepada sebagian manusia yang telah menempatkan diri sebagai fir’aun-fir’aun. Ya’juj wa Ma’juj selalu datang saat manusia sudah menuhankan makhluk (thaghut) sebagaimana terjadi pada fir’aun.”

“Guru dan mertuaku, almarhum Syaikh Sayyid Abdul Malik al-Baghdady, telah bercerita kepadaku tentang seorang sufi besar bernama Syaikh Majiduddin al-Baghdady yang hidup pada masa zaman Muhammad ibn Tikish, penguasa Khwarazm, yang bertindak sewenang-wenang seperti fir’aun. Para ulama fiqh dan guru tarekat yang mengitari penguasa Khwarazm tersebut adalah penghasut-penghasut jahat yang pintar menjilat dan membiarkan Ibn Tikish tenggelam di lautan nafsunya. Akibat hasutan para ulama palsu tersebut, Ibn Tikish menghukum mati Syaikh Majiduddin al-Baghdady yang dianggapnya telah murtad dan berbahaya bagi kekuasaannya. Padahal, Syaikh Majiduddin al-Baghdady adalah seorang wali Allah. Dia tidak mau berkomplot dengan penguasa. Sebaliknya, dia suka mencela tindakan-tindakan Ibn Tikish yang tidak terpuji.”

Para ulama dan Ibn Tikish untuk sesaat bisa tertawa-tawa gembira karena telah berhasil menyingkirkan “orang tak berguna” yang berbahaya seperti Syaikh Majiduddin al-Baghdady. Para ulama bisa tertawa-tawa gembira sebagaimana sebelumnya mereka menghasut penguasa Khwarazm untuk membunuh Syaikh Syihabuddin Yahya Suhrawardi dan Syaikh Ruzbihan Baqly. Tapi, apa yang terjadi setelah kematian Syaikh Majiduddin al-Baghdady? Sejarah mencatat, Al-Waly, Sang Kekasih, yang selama itu melingkupi Syaikh Syihabuddin, Syaikh Ruzbihan Baqly, dan Syaikh Majiduddin al-Baghdady meluapkan amarah kemurkaan terhadap tindakan penguasa Khwarazm dan para ulama jahat. Allah mengirim Ya’juj wa Ma’juj yang dipimpin oleh seorang pembinasa: Jenghiz Khan.

Selama kurun lima tahun, seluruh kekuatan Ibn Tikish di segenap penjuru Khwarazm diluluh lantakkan oleh kawanan Ya’juj wa Ma’juj. Beribu-ribu ulama, pejabat, raja, keluarganya, bahkan orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang hidup di permuakaan bumi Khwarazm dijagal tanpa kenal ampun. Saat itu negeri-negeri bawahan Khwarazm seperti Balkh, Marv, Nishapur, Herat, Thus, Ray, Qazwin, Hamadan, dan Ardabil tenggelam di dalam kobaran lautan api. Tidak satu pun kekuatan senjata yang dimiliki Ibn Tikish dapat menahan Ya’juj wa Ma’juj. Tidak sepatah kata pun fatwa ulama yang dapat menahan penghancuran kawanan Ya’juj wa Ma’juj.

“Kini, ketika saudara-saudara kita asal Persia, Kerala, dan Maghrib datang berbondong-bondong untuk memberitakan munculnya fir’aun Persia dan hadirnya bajak laut Portugis yang mereka anggap sebagai kaum perusak, Ya’juj wa Ma’juj, sepantasnyalah kita mawas diri. Maksudku, jika kabar yang disampaikan saudara-saudara kita itu benar maka kita wajib bertanya kepada diri kita: ‘Apakah di sekitar kehidupan kita sekarang ini tidak sedang berkuasa manusia-manusia yang mengangkat diri sebagai fir’aun-fir’aun? Apakah kiblat hati dan pikiran kita sekarang ini tidak sedang terarah pada thaghut? Apakah Tauhid kita selama ini sudah benar?’ Sebab, Allah tidak akan mengirimkan Ya’juj wa Ma’juj kepada umat yang sudah benar dalam Tauhid. Dengan begitu, menurut hematku, betapa baiknya jika kita mawas diri dan memperbaiki kekeliruan serta kesalahan kita dalam Tauhid daripada kita membunuhi penganut Syi’ah dan mempersiapkan senjata untuk menghadapi kehadiran sekelompok orang yang kita anggap berbahaya, hanya karena mereka itu kita curigai sebagai Ya’juj wa Ma’juj.”

Mendengar uraian Abdul Jalil, para adipati pesisir pada prinsipnya dapat menerima alasan yang dikemukakan Abdul Jalil. Tetapi, jauh di dalam hati, kebanyakan mereka tetap merasa sulit meninggalkan sikap curiga terhadap kehadiran bajak laut di Hindia. Sebab, apa pun kenyataannya, bagian terbesar di antara adipati-adipat pesisir tersebut adalah “penguasa saudagar” sehingga pandangan mereka tak jauh beda dengan pandangan saudagar-saudagar Kerala dan Maghrib. Mereka tidak ingin kebebasan mereka dalam berniaga tersaingi, apalagi terkuasai oleh kekuatan baru. Mereka tidak bisa menerima kabar yang menyatakan bahwa bajak laut Portugis itu telah menjagal jama’ah haji dan berencana akan menguasai semua jalur perniagaan di lautan.

Untuk alasan pertahanan diri dan kebebasan berniaga, Abdul Jalil tidak keberatan jika suatu perlawanan dilakukan kepada pihak-pihak yang ingin menguasai. Sebagaimana tatanan kehidupan yang tidak mengenal mutlak-mutlakan, dalam beragama dan perniagaan pun tidak boleh ada mutlak-mutlakan di mana satu pihak menguasai pihak lain dengan kekerasan melalui kekuatan senjata. Walau begini, menurut Abdul Jalil, sebelum suatu perlawanan dilakukan, wajiblah terlebih dulu dibangun benteng pertahanan diri yang kuat. Dan sekuat-kuat benteng pertahanan diri, menurutnya, adalah benteng pertahanan yang dibangun di atas landasan nilai-nilai Tauhid.

Untuk alasan yang terakhir itu, dengan kata-kata tajam dan bernada menyindir, ia berkata, “Aku kira, apa yang sedang kita ributkan tentang fir’aun Persia hendaknya kita selesaikan secara bijak. Maksudnya, jika seorang pemuka Syi’ah melakukan kejahatan kemanusiaan, janganlah penganut Syi’ah yang tidak ikut-ikutan melakukan kesalahan dijadikan sasaran kemarahan. Karena itu, aku berharap kepada saudara-saudaraku, para raja yang berkuasa, untuk mengambil tindakan tegas terhadap kekacauan di wilayahnya masing-masing. Jangan biarkan penduduk saling membunuh hanya gara-gara tindakan orang laing di negeri asing.”

“Kemudian tentang bajak laut Portugis, menurut hematku, pada dasarnya adalah pembuktian apa yang sudah disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan yang telah menyaksikan Kitab Langit (Lauh al-Mahfudz). Sesungguhnya, dia telah melihat perlambang kapal-kapal yang tertambat di dermaga dan dari dalamnya keluarlah kawanan serigala, musang, serta makhluk-makhluk pemangsa dari Kegelapan. Mereka itu makhluk rakus yang tak pernah kenyang. Kawanan serigala, musang, dan makhluk pemangsa itu menjelma menjadi manusia-manusia berparas mengagumkan dan perilakunya sangat santun. Mereka mendatangi manusia dengan senyuman dan kata-kata manis. Tetapi, tangan mereka yang tersembunyi di punggung menyembunyikan pisau beracun. Siapa saja di antara manusia yang lengah dan terpesona oleh ucapan manisnya akan ditikamnya.”

“Tikaman pisau beracun itu tidak menyebabkan manusia mati. Sebaliknya, racun di pisau itu akan membuat hati manusia menjadi biru dan membeku. Setelah itu, hati manusia akan menghitam dan membatu. Saat itulah manusia-manusia yang hatinya hitam dan membatu itu akan menjelma menjadi mayat-mayat hidup. Mereka akan menjadi wadag kosong tak berjiwa (ash-shuwar al-qa’imah). Kemudian mereka yang sudah menjadi mayat-mayat hidup itu akan berjalan menyimpang dari Kebenaran. Sebab, yang menampak pada cakrawala penglihatannya adalah perwujudan yang lain (al-aghyar) dari benda-benda dan angan-angan kosong yang muncul dari wujud maya (ablasa). Itulah gambaran ruhaniah yang diketahui Syaikh Ibrahim al-Uryan tentang bakal datangnya suatu zaman di mana manusia hidup dalam kegelapan nurani karena pelita jiwanya telah padam akibat kecintaan yang berlebihan terhadap kehidupan duniawi.”

“Lantaran itu, ketika tanda-tanda perubahan zaman itu telah tampak, aku berpikir bahwa saat inilah waktu yang tepat bagi kita untuk mempersubur nilai-nilai Tauhid yang sudah tumbuh di tengah kehidupan masyarakat. Sebab, manusia-manusia berparas menakjubkan jelmaan serigala, musang, dan makhluk pemangsa yang disaksikan Syaikh Ibrahim al-Uryan di Kitab Langit itu tengaranya telah muncul tak jauh dari kehidupan kita. Menurut penafsiranku, perlambang itu tidak hanya mengejawantah dalam perwujudan bajak laut Portugis yang akan diikuti oleh bajak laut lain yang akan memenuhi permukaan bumi, tetapi yang paling aku khawatirkan, perlambang itu juga mewujud di antara umat Islam sendiri. Maksudku, racun yang dibawa manusia-manusia jelmaan serigala, musang, dan makhluk pemangsa itu akan menyebar ke segenap penjuru dunia, baik melalui bajak laut Portugis maupun orang-orang Muslim berjiwa bajak laut, sehingga akhirnya akan lahir kawanan mayat hidup dari antara saudara-saudara kita yang masih terperangkap pada kecintaan terhadap dunia,” papar Abdul Jalil.

“Paman,” kata Pangeran Zainal Abidin, putera Prabu Satmata, “apakah kekuatan yang kita miliki tidak cukup kuat untuk melawan mereka? Bukankah penyerbuan Caruban ke Rajagaluh telah menunjukkan bukti bahwa kita sangat kuat jika bersatu.”

“Justru di situlah letak masalahnya, Pangeran,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Para bajak laut itu akan datang tidak sebagai musuh. Mereka akan datang sebagai mitra berniaga yang menawarkan keuntungan besar. Sebagaimana kita ketahui, dalam hal dagang tidak ada perkawanan yang sejati, apalagi persatuan. Prinsip utama dalam hal dagang adalah bagaimana kita dapat menempatkan kepentingan kita di atas semua kepentingan agar kita dapat menangguk keuntungan sebesar-besarnya. Nah, pada keadaan itulah aku tidak yakin bahwa kita bisa bersatu karena yang kita hadapi bukanlah ujung senjata seperti yang ditodongkan orang-orang Rajagaluh, melainkan tawaran keuntungan berlimpah yang menyilaukan kita.”

“Jika demikian, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menghadapi mereka?”

“Menegakkan nilai-nilai yang berasas pada Tauhid.”

“Bukankah selama ini kita semua sudah melakukannya? Bukankah kita sudah menyiarkan dakwah Islam di berbagai tempat?” tanya Pangeran Zainal Abidin.

“Itu memang benar, Pangeran. Tetapi, semuanya masih dilakukan secara sendiri-sendiri dan terbatas pada lingkungan sekitar kita. Kalaupun ada Bhayangkari Islah, itu pun dilakukan pada batas-batas wilayah sendiri. Padahal, yang kita butuhkan sekarang ini adalah gerakan serentak di seluruh negeri untuk memperkuat benteng nilai-nilai berasas Tauhid. Sebab, kawanan bajak laut itu tidak akan mampu menembus pertahanan nilai-nilai suatu bangsa yang tegak di atas landasan Tauhid. Karena itu, sekarang inilah waktu yang tepat bagi kita untuk memulai kerja keras membangun benteng pertahanan nilai-nilai sebelum para pecinta tubuh dan pemuja dunia itu datang ke hadapan kita.”

“Bagaimanakah cara kita melakukannya?”

“Kita harus mewujudkan gagasan Majelis Wali Songo sebagaimana yang sudah pernah aku bicarakan dengan saudaraku, almarhum Susuhunan Ampel Denta, dan dengan ayahandamu serta Pamanda Raden Kusen. Kenapa kita butuh mewujudkan gagasan Wali Songo? Sebab, masyarakat ummah (al-ummah) yang sudah terbentuk di sebagian Nusa Jawa ini membutuhkan pemimpin ruhani (al-imam) dengan tetap berpedoman pada keteladanan yang dicontohkan empat khalifah. Maksudku, jika selama ini di Caruban, Majapahit, dan Madura ada khalifah-khalifah yang berkuasa atas wilayahnya masing-masing maka dengan terbentuknya Majelis Wali Songo, semua khalifah itu bisa disatukan, di samping tentu saja membatasi kekuasaan khalifah agar tidak menjadi fir’aun seperti Syah Ismail.”

“Dengan alasan agar khalifah tidak menjadi fir’aun maka melalui Majelis Wali Songo, kekuasaan khalifah akan dibagi menjadi dua. Yang pertama, khalifah hanya menjadi penguasa wilayah dan menjalankan pemerintahan duniawi sehingga lebih tepat jika ia disebut al-amir atau as-sultan. Jabatan al-amir atau as-sultan akan dipegang oleh seorang adipati yang ditunjuk oleh para adipati. Yang kedua, kekuasaan ruhani yang meliputi kekuasaan agama yang mengatur penduduk yang tinggal di wilayah kekuasaan as-sultan. Kekuasaan itu dipegang oleh para guru suci (susuhunan) di bawah kendali satu orang pemimpin ruhani (al-imam al-ummah). Itu berarti, baik al-amir atau as-sultan dan seluruh penduduk wajib tunduk kepada kekuasaan Wali Songo terutama yang terkait dengan penegakan aturan-aturan syarak,” kata Abdul Jalil.

“Apakah dengan cara demikian kita bisa menghindari ancaman bajak laut Peranggi?”

“Menurut hematku, kita tidak bisa melakukan untuk menghadapi mereka yang mencintai dan memuja dunia. Sebab, jika kecintaan terhadap tubuh dan dunia kita lawan dengan cara yang sama maka tidak akan ada bedanya antara kita dengan mereka. Karena itu, mereka harus dilawan dengan kekuatan ruhani. Maksudku, saat inilah pemimpin-pemimpin ruhani harus muncul sebagai kiblat panutan pemimpin duniawi dan penduduk sebelum kawanan pecinta tubuh dan pemuja duniawi itu datang ke sini. Saat inilah waktu yang tepat untuk mewujudkan Majelis Wali Songo, penguasa ruhani di Nusa Jawa,” ujar Abdul Jalil.

“Kenapa majelis itu harus disebut wali? Kenapa pula berjumlah sembilan?” tanya Pangeran Zainal Abidin.

“Sebutan wali memiliki dua sisi makna,” ujar Abdul Jalil. “Pertama-tama, bagi penduduk beragama Syiwa-Budha, kata wali bermakna pendeta yang melaksanakan upacara caru demi terciptanya keseimbangan kehidupan manusia. Mereka dimuliakan karena dianggap memiliki kemampuan melakukan upacara bhumisuddha. Sementara itu, dengan kenyataan yang menunjuk bahwa para wali yang sembilan itu selain melaksanakan upacara juga adalah guru suci (susuhunan), maka kedudukannya adalah sama dengan guru, yang bersthana di Kailasa: Syiwa. Dengan begitu, penduduk beragama Syiwa-Budha akan menganggap mereka sebagai penjelmaan Nawadewata.”

“Menurut saudara kami, almarhum Susuhunan Ampel Denta, kata wali dikaitkan dengan penduduk beragama Islam dengan makna pelindung dan sekaligus penguasa yang merujuk pada Asma’, Af’al, dan Shifat Allah, yaitu al-Waly. Jabatan wali dalam hal itu dinisbatkan kepada manusia-manusia yang sudah mencapai derajat tertentu sebagai wakil al-Waly di muka bumi (khalifah al-Waly fi al-ardh). Hal itu sudah diterapkan di Caruban dalam bentuk wali nagari dan waly al-Ummah, yang memiliki makna jabatan duniawi dan ruhani. Tetapi, dengan alasan Tauhid dan demi menghindari kemungkinan lahirnya fir’aun-fir’aun maka jabatan itu harus dibagi dua, yaitu jabatan al-amir atau as-sultan dan jabatan al-imam al-ummah. Jadi, jabatan wali dalam Wali Songo lebih tinggi dibanding jabatan al-amir, as-sultan, dan adipati karena berkedudukan ruhaniah.”

Sedangkan kata Songo, yang bermakna sembilan, selain memiliki perlambang penguasa delapan penjuru mata angin, yaitu Nawadewata (1.Paramasyiwa, 2.Wisynu, 3.Sambhu, 4.Iswara, 5.Rudra, 6.Brahma, 7.Maheswara, 8.Mahadewa, 9.Sangkhara), juga terkait dengan hitungan saudara kami, almarhum Susuhunan Ampel Denta, yang berpedoman pada hitungan abjadiyah A Ba Ja Dun Ha Wa Zun. Kata Songo, menurut beliau, memiliki makna Jawa, yaitu huruf ketiga dan keenam pada abjadiyah A Ba Ja Dun Ha Wa Zun. Dengan demikian, Wali Songo memiliki perlambang penguasa ruhani delapan penjuru mata angin di Nusa Jawa dan sekaligus pelindung empat lemah larangan (lemah abang, lemah putih, lemah ireng, lemah jenar: Caturbhasa Mandala).”

“Didalam perbincangan, kami telah sepakat bahwa apa yang disebut Jawa bukanlah nama tempat atau nama kumpulan orang-orang. Yang disebut Jawa adalah sebuah tatanan nilai-nilai yang berlandaskan Tauhid yang merupakan perpaduan anasir-anasir Tauhid dari berbagai agama yang pernah ada di dunia. Itu sebabnya, yang disebut Jawa tidak akan pernah mati dan sebaliknya akan tetap hidup lestari abadi seiring putaran roda waktu selama anasir Tauhid masih melekat padanya.”

“Karena nilai-nilai yang membentuk ke-Jawa-an adalah nilai-nilai Tauhid. Maka nilai-nilai Jawa akan selalu hidup, meski menghadapi tantangan dan rintangan bagaimana pun dahsyatnya, selama masih setia pada Sumbernya, yaitu Tauhid. Sebagaimana telah kita pahami, di dalam tata bahasa Jawa telah terdapat aturan bahwa di antara seluruh aksara yang ada hanya aksara Ja dan Wa yang tidak bisa mati. Maksudnya, hanya aksara Ja dan aksara Wa yang tidak bisa diberi pangkon. Itu mengandung makna bahwa siapa saja di antara manusia yang mengaku sebagai orang Jawa tetapi dia ‘mati’ ketika dipangku oleh jabatan, kekayaan, dan kemuliaan duniawi maka sesungguhnya dia itu pembohong. Dia belum bertauhid. Dia belum menjadi Jawa dan sekali-kali haram mengaku Jawa. Sebab, Jawa maknanya adalah Tauhid. Jawa adalah awang-uwung. Jawa ibarat huruf alif dalam bahasa Arab, yaitu huruf yang tidak bisa mati. Nilai-nilai Tauhid inilah yang harus mendasari segala tindak dan laku bagi mereka yang mengaku manusia Jawa.”

Raden Ahmad Susuhunan Khatib yang belum jelas dalam memahami gagasan Wali Songo mengemukakan keberatan terhadap usulan Abdul Jalil itu dengan alasan Tauhid. Sebagai khalifah Tarekat Kubrawiyyah yang menggantikan ayahandanya, dia menolak tegas ajaran yang bersifat Ittihadiyyah. Itu sebabnya, saat dijelaskan bahwa Majelis Wali Songo akan menggantikan kedudukan Nawadewata, dia tidak bisa menerima. Sebab, gagasan itu hanya mungkin dilakukan jika orang seorang menganut ajaran Ittihadiyyah sebagaimana ajaran Bhagavatam dalam agama Hindu. Menurutnya, usaha mengambil alih kedudukan Nawadewata dengan Wali Songo dikhawatirkan akan merusak akidah.

Menangkap ketidakpahaman Raden Ahmad, Abdul Jalil kemudian memaparkan gagasan Wali Songo sebagaimana yang pernah ia sampaikan kepada Raden Ali Rahmatullah, Prabu Satmata, da Raden Kusen, “Sesungguhnya di balik perubahan Nawadewata menjadi Wali Songo terkait dengan perubahan jabatan Buyut menjadi Ki Ageng dan jabatan Rama menjadi Ki Lurah. Semuanya bertujuan menegakkan Tauhid. Dengan begitu, sebagaimana jabatan Ki Ageng dan jabatan Ki Lurah yang berujung pada penghapusan kabuyutan-kabuyutan dan punden-punden karaman (makam para Buyut dan Rama yang disembah-sembah), jabatan Wali Songo pun pada akhirnya berujung pada penghapusan pemujaan terhadap guru suci dan raja sebagai dewa. Sebab, mereka yang menjadi anggota Wali Songo, al-amir, atau as-sultan bukanlah jelmaan Tuhan, melainkan hanya sahabat-sahabat dan kekasih-kekasih Tuhan. Sehingga, saat anggota-anggota Majelis Guru Suci yang menjadi anggota Majelis Wali Songo dan para adipati meninggal, kuburnya tidak akan disembah penduduk.”

“Apa syarat-syarat untuk menjadi anggota Majelis Wali Songo?”

“Anggota Wali Songo terdiri atas guru suci, baik mursyid maupun khalifah tarekat yang memiliki kewenangan untuk melakukan upacara madhiksa (baiat).”

“Apakah gagasan Wali Songo itu tidak menyalahi akidah?” tanya Raden Ahmad. “Sebab, kedudukan Wali itu terahasia dan tidak boleh diketahui oleh sembarang manusia kecuali sesama wali.”

“Jika yang dimaksud adalah wali Allah, memang kedudukannya terahasia. Tetapi, sejak awal sudah aku jelaskan bahwa yang dimaksud Wali Songo adalah waly al-Ummah, yang merujuk pada kedudukan al-imam al-ummah. Jadi, Wali Songo adalah jabatan ruhani yang bisa dikenal oleh seluruh masyarakat. Apakah para anggota Wali Songo itu berkedudukan sebagai wali Allah? Hanya Allah dan para kekasihnya saja yang tahu.”

“Satu hal yang sesungguhnya dapat kita tarik dari pembentukan Majelis Wali Songo, yang terkait dengan Asma’, Shifat, dan Af’al Allah, yakni pengejawantahan azh-Zhahir dan al-Bathin yang abadi. Maksudku, jika suatu ketika azh-Zhahir pernah mengejawantah di Andalusia dalam wujud Khilafah Islamiyah maka saat itu al-Bathin tersembunyi secara rahasia. Ketika Khilafah Islamiyah secara zahir menyingsing dari Andalusia, bukan berarti Islam terhapus dari permukaan bumi, melainkan terbit di tempat lain. Salah satunya, di Nusa Jawa ini.”

“Selama berbilang abad, al-Waly telah mengejawantah pada wujud zahir para wali Allah yang mengajarkan Jalan Kebenaran (thariqah al-haqq) kepada manusia dan orang-orang yang dipilih-Nya. Tetapi, saat Syah Ismail dengan mulutnya yang lancang itu menyatakan bahwa keberadaan wali Allah yang disandang para guru tarekat dan orang-orang suci adalah kebohongan, dengan alasan bahwa kedudukan hanya disandang oleh dua belas orang imam Syi’ah, maka menyingsinglah al-Waly secara zahir dari bumi Persia. Tetapi, itu bukan berarti al-Waly terbenam di dalam al-Bathin. Dengan zahirnya Majelis Wali Songo ini, kita akan maklumkan kepada dunia bahwa al-Waly tetap mengejawantah secara zahir di Nusa Jawa. Al-Waly secara zahir telah terbenam dari bumi Persia, namun terbit di bumi Jawa. Ini adalah pembuktian bahwa firman tuhan bernama Syah Ismail yang mengaku keturunan Muhammad Saw itu hanya berlaku di wilayah kekuasaannya saja. Al-Waly tetap mengejawantah secara zahir di dunia.”

“Tapi paman,” Raden Ahmad ingin penjelasan lebih dalam, “bukankah kedudukan wali yang ditetapkan Syah Ismail terserap ke dalam diri dua belas imam? Sedangkan Majelis Wali Songo hanya sembilan orang? Apakah penduduk Jawa yang menganut Syi’ah akan mempercayai keberadaan Wali Songo?”

“Kita tidak perlu mengikuti cara berpikir Syah Ismail di Persia sana. Kita tidak perlu mengikuti cara pikir penduduk Syi’ah di Nusa Jawa. Kita harus bertindak dengan cara pikir penduduk Nusa Jawa yang bakal menerima gagasan kita. Maksudnya, jika selama ratusan tahun penduduk Nusa Jawa tidak mengenal imam yang dua belas sebaliknya mereka lebih mengenal Nawadewata (sembilan dewa) dan Trisamaya (tiga dewa), yang kesemua jumlahnya dua belas, kenapa kita harus memaksa mereka dengan sesuatu yang tidak mereka kenal? Menurut hematku, penduduk Nusa Jawa akan lebih mudah menerima keberadaan Majelis Wali Songo sebagai pengejawantahan Nawadewata dan Trisamaya. Itu berarti, kita tidak perlu lagi terperangkap ke dalam perbedaan Sunni-Syi’ah. Kita hanya mengenal paham tentang Jawa dan bukan Jawa,” kata Abdul Jalil menegaskan.

Akhirnya, semua pihak memahami pandangan dan gagasan yang disampaikan Abdul Jalil. Mereka semua sepakat membentuk Majelis Wali Songo yang ternyata sudah disetujui oleh almarhum Raden Ali Rahmatullah.

Pertama-tama, semua sepakat bahwa Sri Naranatha Giri Kedhaton Ratu Tunggul Khalifatullah, Prabu Satmata (Hyang Manon), Sang Girinatha (raja gunung; Syiwa), ditetapkan sebagai pemimpin MajelisWali Songo dan dianggap berkedudukan sebagai Bhattara Paramasyiwa. Prabu Satmata berkedudukan di pusat kekuasaan ruhani di Nusa Jawa. Lantaran menjadi lambang Paramasyiwa maka Prabu Satmata menggunakan gelar Susuhunan Giri, yang bermakna Guru Suci dari Giri (Sang Girinatha) perwujudan Guru Agung yang bersthana di Gunung Kailasa.

Prabu Satmata berkedudukan di pusat, dilingkari guru suci lainnya (Wisynu, Sambhu, Iswara, Rudra, Brahma, Maheswara, Mahadewa, Sangkhara) dan sekaligus menjadi penguasa ruhani di empat mandala utama (caturbhasa mandala), yaitu Sagaramadhu, Sukharajya, Kembang, dan Sekarkurung. Di mandala-mandala tersebut Prabu Satmata menjadi guru yang bertugas menyampaikan ajaran Islam yang mencakup syari’at-thariqat-haqiqat-ma’rifat, yaitu kelanjutan sempurna ajaran suci yang sudah disampaika Bhattara Parameswara di caturbhasa mandala yang terletak di Sagara (lautan), Sukhayajna (pemujaan), Kasturi (semerbak wangi), dan Kukub (selimut).

Di Sagaramadhu (lautan madhu), Prabu Satmata sebagai susuhunan Tarekat Ni’matullah mengajarkan ilmu ma’rifat kepada murid-murid utama yang tergolong ahl al-ahadiyyah di mana nama Sagaramadhu terkait dengan lambang lautan wujud (bahr al-wujud). Di Kembang (bunga), Prabu Satmata mengajarkan ilmu haqiqat kepada murid-murid yang tergolong ahl al-wahdat di mana nama Kembang terkait dengan lambang barzakh al-jami’. Di Sukarajya, Prabu Satmata mengajarkan ilmu thariqat kepada murid-murid yang tergolong ahl al-wahidiyyah di mana nama Sukarajya terkait dengan lambang Sukhayajna (pemujaan), yakni jihad an-nafs. Dan di Sekarkurung, sang susuhunan mengajarkan ilmu syari’at kepada murid-murid yang tergolong ahl asy-syar’i di mana nama sekar kurung (bunga yang terkurung) terkait dengan lambang selimut (kukub), yakni perlambang orang-orang yang kesucian jati dirinya masih terselubung hijab (mahjubin).

Di keempat mandala itu Prabu Satmata mengajarkan Tarekat Ni’matullah kepada para dikshita yang mencari Kebenaran. Pembagian tingkat pengajaran ruhani berdasar syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat bukanlah hal yang asing bagi penduduk Nusa Jawa. Di dalam ajaran Syiwa-Budha, pembagian tingkat tersebut sudah dikenal dengan istilah bhaktimarga (syari’at), karmamarga (thariqat), jnanamarga (haqiqat), dan yogamarga (ma’rifat). Sebagai penguasa dan guru suci pada caturbhasa mandala, Prabu Satmata selaku lambang Bhattara Paramasyiwa memberikan wewenang kepada Syaikh Siti Jenar sebagai lambang Maheswara, penguasa barat daya, untuk menjadi penjaga empat lemah larangan di wilayah Giri Kedhaton, yaitu Ksetra Adhidewa, Ksetra Mangare, Dharma Lemah Abang, dan Lemah Putih.

Raden Mahdum Ibrahim Imam Masjid Demak, mantan adipati Lasem, ditetapkan sebagai lambang Wisynu yang berkedudukan di utara dan menjadi penguasa sekaligus susuhunan pada caturbhasa mandala di Shankapura, Komalasa, Bonang, dan Trutup. Sebagai perlambang Wisynu, Raden Mahdum Ibrahim menggunakan gelar Susuhunan Wahdat Cakrawati. Di keempat mandala itu Susuhunan Wahdat Cakrawati selaku wakil mursyid (khalifah) Tarekat Ni’matullah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Wisynu, Raden Mahdum Ibrahim memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang sebagai Maheswara untuk menjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Mahibit, Lemah Abang, Lemah Putih, dan Wulung. Lantaran sudah menjadi anggota Majelis Wali Songo yang menjadi guru suci di sejumlah tempat yang jauh dari Kadipaten Demak, kedudukan Raden Mahdum Ibrahim sebagai Imam Masjid Demak digantikan oleh saudara iparnya, Pangeran Karang Kemuning, Tuan Ibrahim al-Gujarati, suami Nyi Gede Pancuran.

Pangeran Arya Pinatih yang masyhur dengan sebutan Syaikh Manganti ditetapkan sebagai lambang Brahma yang berkedudukan di selatan, sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Tasikmadhu, Giribik, Pandanwangi, dan Kamulan di Bumi Tumapel. Di keempat mandala itu Pangeran Arya Pinatih selaku wakil mursyid (khalifah) Tarekat Kubrawiyyah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Brahma, Pangeran Arya Pinatih memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang, lambang Maheswara, untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Wurare, Ksetra Sempalwadak, Tunggul Wulung, dan Kunir. Sementara itu, karena penjaga gerbang selatan Sthana Syiwa adalah Bhattara Gana (Ganesha) maka Pangeran Arya Pinatih menggunakan gelar Susuhunan Giri Gajah alias Sang Girijatanaya (Ganesha Putera Uma).

Khalifah Husein Imam Madura ditetapkan sebagai lambang Shambu yang berkedudukan di timur laut yang sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Madura yang terletak di Sagara di Gunung Geger (hiruk pikuk: Rudra), Bulan-Bulan (Candrasekhara), Aromata (tanjung wewangian), dan Kukub (Kokob). Di keempat mandala itu Khalifah Husein selaku wakil mursyid (khalifah) Kubrawiyyah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Sambhu, Khalifah Husein memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Gua Daksha, Tanah Merah, Kemuning, dan Tabehan di Sapudi.

Raden Ahmad Susuhunan Khatib ditetapkan sebagai lambang Iswara yang berkedudukan di timur yang sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Ampel Denta, Pinilih, Bang Kuning, dan Bukul. Di keempat mandala itu Raden Ahmad selaku mursyid pengganti (khatib) Tarekat Kubrawiyyah mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran. Sebagai lambang Iswara, Raden Ahmad memberi wewenang kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Nyu Denta, Kadingding, Palemahan, dan Sasawo.

Syaikh Jumad al-Kubra ditetapkan sebagai lambang Rudra yang berkedudukan di tenggara dan sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Siddhasrema, Pagedangan, Sagara, dan Tunggul Wulung. Di keempat mandala itu Syaikh Jumad al Kubra mengajarkan kepada para dikshita jalan lurus menuju Kebenaran, berdasar tingkatan syari’at, thariqat, haqiqat, ma’rifat. Sebagai lambang Rudra, Syaikh Jumad al-Kubra memberikan wewenag kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Ksetra Candika, Ksetra Rabut Carat, Keboireng, Lemah Abang.

Syarif Hidayatullah Wali Nagari Gunung Jati ditetapkan sebagai lambang Sangkhara yang berkedudukan di barat laut dan sekaligus manjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Sukhajaya, Tegalwangi, Tatakan, dan Wringinkurung. Sebagai lambang Sangkhara, Syarif Hidayatullah memberikan wewenang kepada Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Gunung Pulasari, Gunung Lancar, Gunung Karang, dan Sudamani.

Syaikh Bentong ditetapkan sebagai lambang Mahadewa yang berkedudukan di barat dan sekaligus menjadi penguasa dan susuhunan pada caturbhasa mandala di Sangkan Urip, Malang Sumirang, Campaka, dan Sirnabhaya. Sebagai lambang Mahadewa, Syaikh Bentong memberi wewenang Syaikh Lemah Abang untuk menjadi penjaga empat lemah larangan, yaitu Siddhawangi, Lemah Abang, Ksetra Kalahang, dan Girinatha.

Keberadaan Syaikh Lemah Abang (Abdul Jalil) sebagai pendeta yang paling berpengalaman dalam meredam dan membuat tawar ksetra-ksetra, telah mendudukannya sebagai salah satu dari anggota Wali Songo yang tidak sekadar bertugas menjaga empat lemah larangan yang sebagian besar adalah ksetra di sembilan wilayah, melainkan pula menjadi penguasa dan guru suci di mandala-mandala yang mengandung makna empat warna seperti Lemah Abang, Kajenar, Lemah Putih, Lemah Ireng, Kemuning, Wulung, Sekar Putih, Perak, Batu Putih, Silapethak, Selamirah. Untuk tugas itu, Syaikh Lemah Abang mempercayakan semua wilayah yang dijaganya kepada para murid kepercayaannya. Ia sendiri terlihat lebih banyak berkelana dari satu tempat ke tempat lain.

Sesuai rencana, kesembilan orang anggota Wali Songo pengganti Nawadewata adalah penguasa-penguasa ruhani yang baru bagi mandala-mandala dan lemah-lemah larangan di Nusa Jawa. Sebagaimana kedudukan khalifah yang sudah dipegang Prabu Satmata, di dalam Majelis Wali Songo pun kedudukan pemimpin juga dipegangnya, yaitu sebagai Sang Girinatha pengejawantahan Paramasyiwa. Tugas utama Majelis Wali Songo bagi penduduk Nusa Jawa penganut Syiwa-Budha adalah sebagai pendeta utama, terutama sebagai wali (pemimpin upacara) keagamaan, yang bertujuan menyelamatkan kehidupan umat manusia dari pengaruh jahat para bhutakala. Sementara bagi penduduk Nusa Jawa penganut Islam, Majelis Wali Songo adalah penguasa ruhani yang menjadi pelindung dan sekaligus pemelihara keseimbangan bagi kekuasaan duniawi dan keselamatan penduduk. Mereka adalah para guru suci, sahabat-sahabat Tuhan (wali Allah) yang mengajarkan Islam secara sempurna mulai dari syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat. Kepada merekalah para adipati, penguasa wilayah duniawi, tunduk dan meminta berkah ruhani.

Matahari merayap turun dan kabut tebal sudah memenuhi permukaan bumi ketika Abdul Jalil yang diiringi Abdul Malik Israil dan Raden Sahid menghadap Patih Mahodara di nDalem Kapatihan yang terletak di barat Bangsal Kaprabon Daha. Sore itu Abdul Jalil memenuhi undangan Patih Mahodara yang ingin mengetahui perkembangan membingungkan di Bharatnagari yang terkait dengan maraknya kabar pembunuhan terhadap orang-orang Islam. Patih Mahodara yang mengenakan kain putih tanpa hiasan didampingi Pangeran Karucil dan Pangeran Gogor, dua orang putera Sri Surawiryyawangsaja. Setelah saling mengabarkan keselamatan masing-masing, dengan nada penuh selidik Patih Mahodara bertanya, “Kesalahan apa yang dilakukan orang-orang Islam di Bharatnagari sehingga mereka dibunuh? Apakah mereka mau merebut kekuasaan raja Bharatnagari?”

Abdul Jalil yang menangkap kecurigaan berlebih Patih Mahodara atas terbentuknya Majelis Wali Songo, yang mungkin dibayangkannya bakal merebut kekuasaan Majapahit di pedalaman, menjelaskan duduk perkara kabar yang didengar sang patih itu.

“Sesungguhnya, yang dibunuh oleh orang-orang Portugis adalah orang-orang muslim Mappila, abdi maharaja Wijayanagara. Malahan, bukan hanya orang Mappila, para nelayan Hindu di Kozhikode pun dibunuh. Tubuh mereka dicincang dan dipertontonkan di pantai Kozhikode. Mereka yang dibunuh itu sama sekali tidak berhubungan dengan perebutan kekuasaan karena leluhur orang Mappila adalah abdi maharaja Wijayanagara. Mereka yang dibunuh itu bukan prajurit atau pemberontak, melainkan laki-laki tua, perempuan, dan anak-anak yang baru kembali menunaikan ibadah haji. Mereka tidak bersalah apa-apa. Mereka hanya menjadi korban dari orang-orang Peranggi yang kejam dan ingin merampas kekuasaan dari tangan raja-raja Bharatnagari.”

“Siapakah orang-orang Peranggi itu, o Tuan Syaikh?” tanya Patih Mahodara ingin tahu. “Pu Pedhut dan Pu Pecuk, Puhawang dan Pabanyaga Daha, telah melaporkan kepada kami tentang orang-orang aneh yang mereka temui di negeri Malindi. Orang-orang itu, kata mereka, kulitnya putih seperti kulit kerbau bule, matanya biru seperti mata kucing, rambutnya kuning kemerahan seperti singa, suaranya keras seperti guntur, pakaiannya dihiasi rumbai-rumbai, topinya dari bahan besi. Kapal-kapalnya aneh. Pada lambung kapalnya dipasangi bedil besar. Apakah yang ditemui Pu Pedhut dan Pu Pecuk itu orang Peranggi yang membunuhi orang Islam di Bharatnagari?”

“Menurut hemat kami memang demikian, Paduka,” sahut Abdul Jalil sambil memandang Abdul Malik Israil. “Tapi mohon maaf, kami tidak begitu paham tentang orang-orang Peranggi itu. Sepanjang hidup, kami belum pernah bertemu mereka. Tetapi saudara kami, Abdul Malik Israil, sangat mengenal orang-orang Peranggi karena tanah kelahiran mereka berdekatan. Maksud kami, tanah asal sahabat kami ini dekat dengan tanah asal orang-orang Peranggi.”

“Benarkah itu?” tanya Patih Mahodara kepada Abdul Malik Israil.

“Benar, Paduka,” sahut Abdul Malik Israil menegaskan. “Jarak kota kelahiran kami yang disebut Granada hanya sekitar seratus yojana dari perbatasan negeri Peranggi. Negeri kami terletak di bumi Andalusia.”

“Tapi, kulit Tuan Syaikh tidak putih. Mata Tuan tidak biru. Rambut Tuan tidak kuning kemerahan,” sergah Patih Mahodara mengerutkan kening, penuh curiga.

“Kami memang bangsa pendatang di bumi Andalusia. Asal tanah leluhur kami di negeri Arab. Karena itu, saat orang-orang kulit putih, mata biru, dan rambut kuning kemerahan itu berkuasa, kami diusirnya dari bumi Andalusia. Bukan hanya kami, Bani Israil, melainkan orang-orang Arab asal Maghrib pun diusirnya dari situ,” jelas Abdul Malik Israil.

“Mereka mengusir orang yang tidak sama dengan mereka?” tanya Patih Mahodara.

“Mereka itu bangsa yang sombong, Paduka. Mereka suka merendahkan orang lain yang kulitnya lebih gelap daripada mereka. Karena itu, di mana pun mereka datang, mereka akan membahayakan penduduk yang didatangi. Kenapa berbahaya? Sebab, mereka punya kebiasaan yang aneh, Paduka,” papar Abdul Malik Israil.

“Kebiasaan aneh? Apa itu misalnya?”

“Mereka memuja Raja laki-laki mereka dengan limpahan kemewahan. Sedangkan Raja puteri mereka akan mereka iris-iris dan mereka potong-potong. Para Aji mereka anggap sebagai lombok yang bisa mereka jadikan sambal atau dikunyah-kunyah sebagai lalapan. Para Ajar mereka anggap sebagai bawang putih yang bisa mereka jadikan bumbu. Para Rama mereka anggap sebagai ranting-ranting pohon yang bisa mereka jadikan kayu bakar. Para Rana mereka anggap sebagai katak yang lezat dipanggang. Para Patibulo akan mereka gantung seperti ikan di pasar. Bahkan, para Basura akan mereka campakkan ke tempat sampah,” kata Abdul Malik Israil.

“Mengerikan sekali perilaku mereka,” gumam Patih Mahodara tertegun-tegun.

“Desa-desa yang mereka bangun pun adalah desa-desa aneh dan menakutkan. Mereka menyebutnya Desacato, tempat para pembangkang. Mereka bangun pula Desalino, tempat yang berantakan. Setelah itu, mereka bangun pula Desalmado yang berisi manusia-manusia bengis dan kejam. Lalu mereka bangun Desatino, kediaman orang-orang sesat. Kalau desa-desa itu sudah terbentuk maka penduduknya akan membayar paja dengan jerami.”

“Gila sekali kebiasaan mereka itu,” gumam Pangeran Gogor seolah kepada diri sendiri.

“Pasar-pasar yang mereka sebut Pasar Hambre memperdagangkan orang-orang kurus kelaparan. Pasar mereka yang disebut Pasar Miedo merupakan tempat orang-orang ketakutan disekap di dalam kerangkeng.”

“Sungguh gila,” gumam Pangeran Gogor menggeleng-gelengkan kepala.

“Para Tanda akan ditangkap dan dihujani pukulan bertubi-tubi. Bahkan mereka menamakan diri sebagai Devastador, penghancur dewa. Jadi, kalau mereka ketemu dewa-dewa akan mereka hancurkan.”

“Sungguh gila,” seru Patih Mahodara agak marah. “Kalau begitu, mereka jangan boleh mengunjungi negeri kita. Mereka harus kita usir sebelum mengacau dan membinasakan kita.”

“Tetapi mereka tidak bisa dilawan dengan kekuatan kecil, Paduka. Mereka harus dilawan dengan kekuatan yang besar dan bersatu. Maksud kami, tidak mungkin kekuatan Daha, Wirasabha, Surabaya, Demak, Giri, Pengging, Caruban, yang terpecah-pecah dapat mengalahkan mereka. Semua harus bersatu untuk bisa melawan mereka. Ya, seluruh kekuatan di Nusa Jawa harus bersatu untuk melawan bangsa aneh itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Dalam pertemuan di Giri Kedhaton pekan lalu, para guru suci telah sepakat membentuk Majelis Wali Songo. Mereka adalah wali yang memiliki tugas utama melakukan upacara-upacara yadna demi keseimbangan hidup penduduk di Nusa Jawa. Mareka adalah para pendeta yang menjadi pelindung ruhani bagi kekuasaan-kekuasaan para adipati yang sepakat menolak kehadiran Peranggi di Nusa Jawa,” papar Abdul Malik Israil.

“Apakah Wali Songo bukan siasat orang-orang Islam untuk merebut kekuasaan?”

Abdul Jalil menukas dengan suara lain, “Kami menjamin bahwa selama kami hidup, Wali Songo tidak akan berkaitan dengan kekuasaan duniawi. Sebab, kami yang merupakan salah satu penggagas menempatkan Wali Songo semata-mata berkaitan dengan tatanan ruhani. Wali Songo adalah kumpulan para pendeta. Sebagai bukti bahwa Wali Songo adalah kumpulan pendeta yang bertujuan menjaga keseimbangan kehidupan penduduk di Nusa Jawa. Susuhunan Giri Gajah Pangeran Arya Pinatih telah mengirim utusan ke Puri Kutulingkup di Bali. Sebagai sesama keturunan Dewa Manggis Kuning, ia memberi tahu penguasa Puri Kutulingkup, Kyayi Anglurah Agung Pinatih, untuk bersiaga menghadapi kehadiran orang-orang Peranggi yang bakal menjarah kekayaan negeri-negeri subur. Ia bahkan meminta sejumlah pendeta dari Bali untuk membantu pelaksanaan upacara bhumisoddhana di Jawa. Susuhunan Giri juga mengirim utusan ke Blambangan dengan maksud yang sama, yaitu mengingatkan penguasa Blambangan bakal datangnya bahaya bangsa Peranggi dan meminta bantuan dalam melaksanakan upacara bhumisoddhana di Jawa.”

“Ya, aku sudah mendapat laporan tentang itu,” kata Patih Mahodara.

“Kami kira, tidak lama lagi akan datang utusan dari Demak ke Daha untuk meminta dukungan bagi persiapan menghadapi kedatangan Peranggi.”

“Aku kira, Sri Prabu Surawiryyawangsaja tidak akan keberatan bergabung dengan seluruh kekuatan adipati di Nusa Jawa untuk menghadapi serbuan orang-orang Peranggi yang aneh itu,” kata Patih Mahodara.

Malam itu, usai menghadap Patih Mahodara, tanpa beristirahat sedikit pun Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil serta Raden Sahid kembali ke Surabaya. Tetapi, sebelum meninggalkan Daha Abdul Jalil mempersaksikan keislaman Pangeran Kuracil sekaligus upacara madiksha yang dilakukan di kediaman Kyayi Pocanan di Kejenar. Rupanya, sejak dibukanya Dukuh Kajenar (Kamuning) di barat kota Daha, ajaran Jawa (Tauhid) yang disampaikan Abdul Jalil melalui murid-muridnya mulai tersebar di lingkungan keluarga bangsawan Daha dan sejumlah desa sekitar. Cepatnya ajaran tersebut menyebar karena apa yang disampaikan orang-0rang di Dukuh Kajenar tidak jauh berbeda dengan ajaran Syiwa-Budha yang telah dikenal, kecuali pertanda bahwa orang-orang Kajenar dan pengikutnya berkhitan. Bahkan seperti kedudukan sebelumnya, Kyayi Pocanan, pemangku Dukuh Kajenar, tetap dianggap pendeta oleh penduduk sekitar.

Seusai upacara madiksha dan memberi sedikit wejangan kepada pengikut-pengikutnya, saat berada di atas perahu menuju Surabaya, Abdul Jalil bertanya kepada Abdul Malik Israil tentang penjelasannya yang aneh kepada Patih Mahodara, “Bagaimana mungkin Tuan bisa membohongi Patih Mahodara dengan penjelasan yang keliru tentang orang-orang Portugis? Bukankah orang-orang Portugis tidak segila yang Tuan gambarkan?”

“Sesungguhnya, aku tidak berbohong sedikit pun kepada Patih Mahodara, o Saudaraku,” kata Abdul Malik Israil dengan senyum lebar. “Sebab, apa yang aku sampaikan tadi adalah berdasar bahasa Spanyol yang aku kuasai. Jika tadi aku sebutkan bahwa Raja puteri akan diiris-iris dan dipotong-potong, itu bukan bohong. Sebab kata Raja dalam bentuk muanats (feminin) dalam bahasa Spanyol artinya memang diiris-iris dan dipotong-potong. Begitu juga kata Aji, dalam bahasa Spanyol berarti lombok yang bisa disambal dan dijadikan lalapan. Kata Ajar berarti ladang bawang putih yang hasilnya bisa jadi bumbu. Kata Rama artinya ranting. Ranting yang lazimnya dijadikan kayu bakar dalam upacara persembahyangan Hindu. Kata Tanda artinya hujan pukulan bertubi-tubi. Kata Rana artinya katak. Kata Patibulo artinya penggantungan. Kata Desacato artinya membangkang. Kata Desalmado artinya bengis dan kejam. Jadi, aku hanya mengemukakan kata-kata yang berbeda arti antara bahasa Jawa dan bahasa Spanyol. Kalau Patih Mahodara membayangkan lain tentang makna kata yang aku sampaikan, itu bukan salahku.”

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 11:50LT

13. Hidayah al-Hadi

Suasana malam hari bandar Kozhikode sebelum hadirnya orang-orang Portugis sangat semarak. Para pelaut dari berbagai negeri biasanya menghabiskan waktu di kedai-kedai yang tersebar di kawasan pelabuhan. Mereka menghamburkan uang di meja judi, kedai minuman, rumah pelacuran, dan panggung pertunjukan. Selama berpuluh tahun kehidupan malam di Kozhikode benar-benar sangat semarak. Tetapi, sejak hadirnya kapal-kapal Portugis di bawah Vasco da Gama, kehidupan malam di Kozhikode tiba-tiba menjadi senyap. Kedai-kedai minuman di sekitar pelabuhan terlihat redup dan sepi pengunjung. Rumah-rumah pelacuran pun hanya dikunjungi satu dua orang, terutama pelaut Portugis. Panggung pertunjukan tutup. Kapal-kapal niaga yang biasanya tertambat di dermaga atau membuang sauh di lepas pantai Kozhikode jumlahnya tinggal hitungan jari. Jika malam merayap, penduduk Kozhikode lebih suka menutup pintu dan menggulung diri dalam selimut.

Suatu malam, di bawah bayangan kota yang sepi, dalam liputan malam yang dingin, di antara gonggongan anjing geladak yang berkeliaran di jalanan, terlihat beberapa pelaut Portugis berjalan sempoyongan keluar dari kedai minuman. Rupanya, mereka baru saja menenggak minuman keras dengan dikawani pelacur-pelacur sampai mabuk. Tanpa peduli keadaan sekitar, dengan langkah gontai mereka merayap di tengah keremangan, melintasi lorong-lorong menuju pelabuhan. Salah seorang di antara mereka terlihat menggenggam erat botol minumannya dan sesekali menenggak isinya sambil terseok-seok. Setelah agak jauh melangkah, mereka berangkulan dan bernyanyi-nyanyi sambil sesekali berteriak-teriak dan mengumpat-umpat. Mereka mengumpat aturan ketat yang melarang mereka menginap di luar kapal. Mereka mengumpat tukang masak kapal yang menyiapkan menu sama dari waktu ke waktu. Dan dengan perasaan getir, mereka mengumpat para pelacur India yang menertawakan kejantanan mereka dengan ibarat ayam dalam bercinta.

Di tengah gaduhnya pelaut-pelaut Portugis yang mabuk dan mengumpat-umpat, di dalam embusan angin laut yang menampar-nampar, di antara debur ombak yang menghantam tiang-tiang dermaga, terlihat seorang pelaut muda Portugis duduk di sisi kanan dermaga. Ia adalah Francisco Barbosa, prajurit bagian meriam yang terkenal gagah berani dan tidak takut mati dalam pertempuran. Agak berbeda dengan kawan-kawannya yang selalu bergembira dan menghibur diri di kota, pelaut muda asal kota Tavira, Algarvia, Portugis selatan itu selalu terlihat murung dan gelisah. Seperti kebiasaan yang dilakukannya, malam itu ia duduk di dermaga sambil mengayun-ayunkan kedua kakinya yang menggantung ke arah depan dan belakang. Beberapa kali ia terlihat memukul-mukul pahanya.

Kemurungan dan kegelisahan yang dirasakan Barbosa sebenarnya berawal dari kekecewaan mendalam yang dialaminya sewaktu mengikuti pelayaran Vasco da Gama ke Kozhikode. Ia yang sebelumnya memuja kepahlawanan dan kegagahberanian ksatria di medan tempur, benar-benar kecewa dan sangat terpukul ketika menyaksikan kebiadaban pemimpin dan kawan-kawannya yang tertawa kegirangan sewaktu membakar kapal berisi orang-orang muslim Kozhikode hingga tenggelam ke dasar laut. Ia tidak bisa menerima apa pun alasan yang membenarkan peristiwa itu. Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku ksatria dan prajurit tuhan bisa melakukan tindakan nista: membakar kapal yang ditumpangi laki-laki tua, perempuan, dan anak-anak tak bersenjata. Sungguh, hanya bajingan pengecut yang membunuh orang tua, perempuan, dan anak-anak, jeritnya dalam hati dari waktu ke waktu. Sejak peristiwa keji itu, ia merasakan jiwanya luka berdarah-darah.

Luka jiwa yang dialami Barbosa makin parah manakala ia menyaksikan peristiwa yang tidak kalah nista: prajurit Portugis, prajurit-prajurit tuhan yang perkasa, menangkapi nelayan tak bersenjata dan membunuh mereka serta memotong-motong anggota tubuh mereka. Tindakan keji itu, menurutnya, adalah tindakan pengecut yang hina. Luka jiwa itu makin parah manakala ia diperintahkan menembaki kota Kozhikode. Ia merasakan bukan saja jiwanya luka dan mengalirkan darah, bahkan kedua tangannya ia rasakan berlumuran darah.

Francisco Barbosa, prajurit muda Portugis yang sejak kanak-kanak memuja kepahlawanan sebagai keutamaan, memang sangat sulit menerima tindakan brutal kawan-kawannya yang mengaku prajurit tuhan itu sebagai sebuah tindakan yang benar. Ia juga sulit menerima tindakan biadab pemimpinnya, yang mengaku ksatria tuhan itu, sebagai sebuah tindakan mulia. Ia justru menangkap kesan betapa pemimpin dan kawan-kawannya adalah kawanan monster buas mengerikan yang mengaku-aku sebagai ksatria dan prajurit tuhan. Dan kesan kemonsteran mereka itu makin kuat tergambar di benak Barbosa ketika kilasan bayangan peristiwa terkutuk itu laksana hantu memburu ingatannya. Tak jarang ia mengamuk tanpa alasan ketika telinga jiwanya mendengar jerit tangis perempuan dan anak-anak dari dalam kapal yang terbakar itu. Pemandangan terkutuk itu benar-benar telah menggerus jiwanya bagaikan tebing sungai yang longsor terkena arus.

Sebagai prajurit, Barbosa berusaha keras menutupi kegundahan yang makin menggoyahkan ketegaran jiwanya. Tetapi, ia tetap tidak mampu menyembunyikan kegalauan yang memancar dari sorot matanya. Ia tidak sanggup lagi berbicara dengan tenang akibat kecemasan yang mengharu biru jiwanya. Ia tidak dapat bersikap ramah terhadap kawan-kawan yang dianggapnya sebagai makhluk mengerikan. Bahkan, tarikan napas berat berulang-ulang yang mulai sering dilakukannya saat berusaha menenangkan jiwanya yang kacau, seolah-olah menunjuk betapa menyesakkan beban jiwa di dadanya yang ingin ditumpahkan lewat lubang hidungnya. Saat kegundahan sudah pepat memenuhi dada hingga benaknya pun padat dijejali bayangan-bayangan mengerikan, ia berusaha membersihkannya dengan minuman keras. Tapi, yang paling sering dilakukannya saat tercekam kegundahan adalah duduk semalaman di dermaga. Sebagaimana malam-malam sebelumnya, Barbosa duduk menyendiri di dermaga untuk menenangkan jiwanya yang teraduk-aduk seperti ombak lautan.

Gerak-gerik Barbosa yang dicekam kegelisahan itu ternyata cukup lama diamati oleh Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, Raden Sahid, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry yang berdiri di ujung dermaga tak jauh darinya. Ketika beberapa orang pelaut Portugis yang mabuk terlihat melangkah terseok-seok menuju dermaga, Abdul Jalil berkata kepada Sidi Abdul Qadir el-Kabiry, “Malam ini kita akan melihat kenyataan tentang manusia yang sama dalam bentuk perwujudan, namun berbeda dalam pandangan. Malam ini kita akan menyaksikan Kebenaran tentang citra keberadaan suatu bangsa berdasar hakikat kemanusiaan, tanpa dilandasi prasangka-prasangka. Kita akan menyaksikan mana manusia yang dipancari hidayah dari al-Hadi dan mana manusia yang diselimuti kelimpahan (thaghut) dari al-Mudhil.”

“Apakah Tuan Syaikh akan menunjukkan kepada kami bahwa orang-orang yang berjalan sempoyongan di ujung jalan itu adalah orang-orang sesat dan orang yang duduk di dermaga itu orang yang mendapat petunjuk?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry minta penjelasan.

“Kami tidak pernah mengatakan sesat dan tidak sesat atas orang seorang,” kata Abdul Jalil menjelaskan. “Kami selalu mengatakan manusia yang beroleh pancaran hidayah dan manusia yang diselubungi selimut thaghut. Manusia yang beroleh pancaran hidayah, segala tindakan yang dilakukan selalu dibimbing oleh akal (‘aql) yang diterangi burhan dan dipancari cahaya mata batin (‘ain al-bashirah). Manusia seperti itu ditandai oleh sikap dan tindakan yang selaras dan terkendali. Sedangkan manusia yang diselubungi selimut thaghut yang gelap, segala tindakannya dibimbing oleh keakuan kerdil yang mengikat (‘iql) akal (‘aql) dengan nafsu-nafsu rendah (hawa). Manusia seperti ini sikap dan tindakannya cenderung melampaui batas (thagy), lalim (thagin), menindas (thaghiyah), dan sewenang-wenang (thughyan). Itu berarti, orang-orang yang sudah mengikrarkan dua kalimah syahadat pun, jika sikap dan tindakannya dibimbing oleh keakuan kerdil yang diikat akal dan nafsu-nafsu rendah, tetaplah sebagai manusia yang masih diselubungi selimut thaghut yang memancar dari al-Mudhil.”

“Aneh sekali pandangan Tuan Syaikh ini. Padahal, menurut kami, manusia yang mendapat hidayah adalah manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Itu berarti, Tuan masih memandang hakikat manusia dari sisi lahiriah belaka. Sebab, kalau ukuran hidayah hanya terbatas pada ucapan lisan seseorang, maka Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. tidak dibutuhkan lagi sebagai pedoman bagi manusia yang mengaku beroleh hidayah. Karena itu, menurut hemat kami, pengakuan sepihak manusia-manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai orang yang mendapat hidayah wajib diuji dulu dalam sikap dan tindakannya berdasar Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.. Jika ternyata mereka dalam sikap dan tindakan masih cenderung melampaui batas-batas yang ditetapkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw. serta malah terperangkap dalam kebendaan, maka mereka hanya mengaku-aku saja sebagai manusia yang beroleh hidayah. Ya, mereka itu hanya mengaku-aku. Seribu kali mengaku-aku. Sebab, sejatinya mereka masih berada dalam cengkeraman kegelapan nafsu-nafsu rendah.”

“Kami sepaham dengan Tuan dalam hal itu. Tetapi, kami sangat sulit menerima pandangan yang mengatakan bahwa hidayah bisa diperoleh oleh orang yang bukan muslim. Bagaimana orang yang tidak mengucapkan dua kalimah syahadat bisa disebut beroleh hidayah?” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tak paham.

“Tuan selaku muslim tentu saja berhak mengatakan secara sepihak bahwa hidayah (petunjuk Ilahi) adalah mutlak milik orang muslim. Sedangkan orang-orang Portugis yang Kristen juga berhak mengatakan secara sepihak bahwa merekalah orang yang mendapat petunjuk Ilahi. Demikian juga dengan penganut Budha, Hindu, dan Majusi. Semua berhak menyatakan secara sepihak sebagai umat yang beroleh petunjuk dan bimbingan Tuhan. Tapi, semua itu ‘kan masih pernyataan sepihak. Sikap dan tindakan merekalah yang mencerminkan apakah mereka hamba Tuhan yang beroleh petunjuk atau tidak.”

“Kalau menurut Tuan Syaikh, bagaimana cara yang benar untuk mengetahui siapa di antara manusia yang beroleh petunjuk dan ajaran agama mana yang benar menurut Allah?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Manusia yang beroleh hidayah bisa kita lihat dari sikap dan tindakannya dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana telah kami uraikan. Sementara pernyataan tentang manakah agama yang benar menurut Allah, menurut kami adalah pernyataan yang kurang pantas. Sebab, pada hakikatnya semua agama adalah benar menurut penganutnya masing-masing. Maksudnya, keragaman agama adalah kehendak Allah semata. Dia, Allah, Tuhan Yang Maha Esa, ingin disembah ciptaan-Nya dengan segala macam cara sebatas kemampuan dan pemahaman penyembah bersangkutan. Dengan begitu, orang-orang yang menyembah Allah dalam bentuk arca, batu, kayu, pohon, gunung, bulan, bintang, matahari, dan bahkan manusia pada hakikatnya menyembah-Nya juga sesuai kadar kemampuannya mengenal Allah,” papar Abdul Jalil.

“Maksud kami, bagaimana cara kita untuk mengetahui suatu ajaran agama itu nilai Tauhidnya lebih tinggi dibanding ajaran lain?”

“Kalau itu, Tuan bisa bertanya kepada anak kami, Raden Sahid. Sebab, dia telah mengetahui rahasia untuk menilai tingkat Ketauhidan suatu ajaran.”

“Benarkah demikian, o Anak Muda?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry kepada Raden Sahid.

“Benar, Tuan.”

“Bisakah engkau menjelaskan kepada kami?”

“Pengetahuan rahasia itu tidak untuk dijelaskan dengan nalar, Tuan. Sebaliknya, pengetahuan itu untuk dijalankan sebagai laku ruhaniah.”

“Laku ruhaniah bagaimana?”

“Maksud kami, untuk mengetahui tingkat Ketauhidan suatu ajaran, kita tidak boleh menggunakan akal pikiran kita, apalagi akal pikiran yang sudah diikat prasangka. Kita harus masuk ke dalam suatu matra yang disebut angkasa ruhani (‘alam al-‘Ulwi). Selama ini, di bawah bimbingan guru kami Syaikh Lemah Abang, kami telah beberapa kali terbang ke angkasa ruhani. Di sana kami bertemu dengan ruh para wali Allah, ruh para brahmana, ruh para bikhu Budha, ruh para bhagawan, ruh para rishi, ruh para yogin, ruh para sadhu, dan pertapa-pertapa yang hidup kotor di dunia. Karena itu, kami tidak berani lancang menista ajaran Hindu dan Budha sebagai agama sesat pemuja berhala yang tidak berdasar Tauhid,” kata Raden Sahid menjelaskan.

“Bagaimana dengan orang-orang Syi’ah?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Kami bersaksi bahwa selama beberapa kali kunjungan ke angkasa ruhani mengikuti guru-guru kami, tidak sekali pun kami menjumpai ruh manusia yang mengaku al-Mahdi: Syah Ismail. Yang kami jumpai justru ruh ayatullah-ayatullah dan bahkan mullah-mullah desa yang secara sembunyi-sembunyi mengamalkan tarekat. Karena kenyataan yang kami saksikan di angkasa ruhani itu maka kami tidak berani menyatakan jika ajaran Syi’ah itu sesat dan menyesatkan. Kami juga tidak berani menyatakan ajaran Syi’ah itu menyimpang jauh dari landasan Tauhid. Kami menyimpulkan, pencapaian kepada Kebenaran itu bersifat sangat pribadi dan tidak berkaitan dengan madzhab-madzhab, kelompok-kelompok, jama’ah-jama’ah, dan golongan-golongan tertentu,” kata Raden Sahid tegas.

“Jika ruh Syah Ismail tidak pernah terlihat di angkasa ruhani, bagaimana dia bisa mengaku-aku sebagai Mahdi? Bagaimana dia bisa mengatur-atur tata hubungan manusia dengan Tuhan seolah-olah dirinya adalah Nabi Allah Saw?” tanya Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

“Kami berani bersaksi di hadapan Allah dan seluruh makhluk, bahwa Syah Ismail adalah seorang pembohong besar. Kami yakin dia tidak akan pernah bisa mencapai angkasa ruhani sebagai bukti kebenaran jalan yang digelarnya. Kami juga yakin dia tidak akan pernah menjalankan ajaran Kebenaran sebagaimana diteladankan Nabi Muhammad Saw. yang hidup dalam kezahidan dan tanpa pamrih. Kami malah menduga, Syah Ismail selaku raja justru akan membangun istana-istana, taman-taman, kota-kota, benteng-benteng, harem-harem, monumen-monumen, dan masjid-masjid mewah untuk menunjukkan kebesaran dirinya. Padahal, sedikit pun hal seperti itu tidak pernah dicontohkan Nabi Muhammad Saw.. Syah Ismail, menurut terkaan kami, akan menjadi cermin keagungan dan kemuliaan fir’aun, bukan kesucian Nabi Muhammad Saw,” kata Raden Sahid tegas.

Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian sambil berlalu dia berkata, “Sungguh aku ingin membuktikan kebenaran ramalanmu, o Anak Muda, bahwa Syah Ismail bakal membangun istana, taman, kota, monumen, harem, benteng, dan tempat ibadah mewah. Jika ramalanmu terbukti maka benarlah pendusta tengik itu sesungguhnya cerminan fir’aun.”

Ketika malam telah larut dan pelaut-pelaut Portugis yang mabuk sudah naik perahu kembali ke kapalnya, Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil mendekati Francisco Barbosa yang duduk termangu-mangu di dermaga. Dengan menggunakan bahasa Spanyol yang dipelajarinya dari Abdul Malik Israil selama perjalanan ke Kozhikode, Abdul Jalil memperkenalkan dirinya sebagai Padre Sacerdote de Jaoa (bapa pendeta dari Jawa). Barbosa yang terkejut dengan kemunculan mendadak Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil tentu saja tidak mudah percaya dan malahan curiga dengan pernyataan itu. Menurut pikirannya, sangatlah aneh seseorang yang mengenakan pakaian Muslim mengaku sebagai pendeta.

Sadar bahwa Barbosa masih cenderung melihat sesuatu dari penampilan tubuh, Abdul Jalil langsung membidik kecurigaannya dengan berkata, “Aku tahu, engkau mencurigai kejujuranku. Itu tidak salah, karena kita memang baru sekali ini bertemu. Tetapi, kalau aku boleh menerka, jiwamu saat ini sedang kacau seperti lautan diaduk gelombang dahsyat. Jiwamu diaduk-aduk ombak kegundahan akibat terluka oleh peristiwa yang bertentangan dengan nuranimu. Engkau sekarang ini sudah kehilangan kepercayaan terhadap pemimpin dan kawan-kawanmu. Engkau merasa seperti satu-satunya manusia di tengah kawanan binatang buas. Benarkah terkaanku itu?”

“Bagaimana Tuan bisa mengetahui kegundahan jiwa yang selama ini aku sembunyikan?” tanya Francisco Barbosa terheran-heran.

Abdul Jalil diam. Sebaliknya, Abdul Malik Israil tanpa basa-basi menimpali dengan mengungkapkan bagaimana liku-liku perjalanan yang telah dilalui Barbosa sejak dari Lisbon hingga ke Kozhikode dengan sangat tepat seolah-olah membaca catatan harian. Keterusterangan Abdul Malik Israil itu untuk beberapa jenak membuat Barbosa terperangah takjub. Tetapi, beberapa jenak setelah itu Barbosa sadar dia tidak punya alasan untuk menampik pengakuan Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil sebagai pendeta. Dia menduga kedua orang berpakaian Muslim di depannya itu kemungkinan adalah santo (orang suci) yang menyamar. Akhirnya, dengan keheranan dia bertanya, “Apakah Bapa Pendeta berdua adalah Santo Patron de Jaoa (orang suci pelindung Jawa)? Sebab, pendeta biasa tidak mungkin bisa mengetahui isi hati dan isi kepala manusia apalagi mengetahui dengan tepat liku-liku perjalanan yang telah aku lewati hingga ke Kozhikode ini.”

“Kami berdua hanya pendeta biasa. Hanya saja, kami dianugerahi kemampuan untuk membaca apa yang telah ditulis oleh Angel de la Guarda (malaikat pelindung) pada dirimu tentang apa yang telah engkau lakukan,” kata Abdul Malik Israil datar.

“Aku dilindungi malaikat pelindung? Semua tindakanku ditulis malaikat?” tanya Barbosa heran.

“Bukan hanya engkau, Anak Muda, tetapi semua manusia dilindungi malaikat pelindung dan semua perbuatan manusia yang baik maupun yang buruk dicatat malaikat pelindungnya masing-masing.”

“Aku belum percaya,” kata Barbosa dengan suara ditekan. “Kalau setiap manusia dilindungi malaikat pelindung, kenapa manusia satu bisa membinasakan manusia yang lain? Maksudku, jika malaikat pelindung memang ada, bagaimana mungkin ratusan orang tak berdaya bisa dibantai dalam sekejap oleh orang-orang yang memiliki senjata? Apakah saat itu malaikat-malaikat pelindung mereka lari ketakutan?”

“Sesungguhnya, pada diri masing-masing manusia selain terdapat malaikat pelindung, juga ada Angel de la Mortalidad (malaikat kematian). Karena itu, tidak ada manusia yang hidup abadi di dunia karena nyawanya sudah digenggam malaikat kematian sampai saat ajalnya datang. Apakah engkau beranggapan bahwa orang-orang yang membunuh itu tidak bakal mati seperti orang-orang yang mereka bunuh?” kata Abdul Malik Israil.

“Semua orang memang akan mati. Baik yang dibunuh maupun yang membunuh pasti mati jika sudah datang waktunya. Tetapi, bagaimana dengan malaikat pelindung? Apa yang dikerjakannya sehingga orang yang dilindunginya bisa dibunuh orang lain?” tanya Barbosa belum paham.

“Tugas utama malaikat pelindung adalah melindungi manusia sampai saat ajal. Tugasnya selesai ketika waktu hidup seseorang sudah habis sesuai ketetapan takdir yang ditentukan Allah.”

“Apakah masing-masing manusia sudah ditentukan batas hidupnya oleh Tuhan?”

“Ya.”

“Bagaimana dengan orang-orang yang dibunuh? Bukankah mereka mati sebelum batas waktunya?”

Abdul Malik Israil tertawa dan kemudian berkata mengutip sabda Nabi Saw. dengan suara yang lain, “Manusia mati, kalau tidak dengan pedang tentu dengan sebab yang lain. Tetapi, mati itu sendiri cuma satu.”

“Aku belum paham dengan penjelasan Bapa Pendeta.”

Abdul Jalil yang mendengarkan perbincangan Barbosa dan Abdul Malik Israil bertanya menyela, “Menurutmu, apakah sesungguhnya yang disebut Kematian itu?”

“Apakah orang yang tidak berdosa, orang yang suci dari dosa, akan beroleh hidup abadi?”

“Ya, itu yang aku yakini.”

“Apakah engkau pernah mengetahui ada manusia suci yang hidup abadi di dunia?”

“Menurut cerita banyak orang-orang suci yang hidup abadi.”

“Aku tidak bertanya tentang cerita dan dongeng. Aku bertanya tentang kenyataan.”

“Sepengetahuanku tidak ada.”

“Apakah engkau sudah mengetahui apa yang disebut Kematian? Apakah engkau sudah mengetahui pula apa yang disebut Kehidupan?” tanya Abdul Jalil.

Francisco Barbosa menggeleng dan berkata lirih, “Belum.”

“Maukah engkau aku tunjukkan apa yang disebut Kematian?”

“Apakah Bapa Pendeta akan menunjukkan kuasa kegelapan kepada aku?”

“Jika engkau menganggap Kematian sebagai kuasa kegelapan maka anggapanmu itu akan terwujud sesuai keyakinanmu. Tetapi, perlu aku beri tahukan kepadamu bahwa Kematian yang aku yakini bukanlah kuasa kegelapan sebagaimana engkau yakini. Kematian, menurutku, adalah sisi lain dari Kehidupan. Karena itu, mereka yang mengenal Kematian sebagaimana yang aku yakini, tidak saja menjadi manusia yang tidak takut pada Kematian, melainkan akan mencintai pula Kematian sebagaimana mereka mencintai Kehidupan,” kata Abdul Jalil.

“Aneh sekali jalan pikiran Bapa Pendeta,” kata Barbosa keheranan.

“Engkau menganggap aneh apa yang aku katakan karena engkau masih terikat dengan simpul-simpul pikiran yang menjerat kesadaranmu dari Kebenaran hakiki tentang Kehidupan dan Kematian. Jika engkau sudah menyaksikan sendiri dengan mata hati dan ruh Kebenaran (ruh al-Haqq) yang ada pada dirimu tentang kesejatian hakiki Kehidupan dan Kematian, maka engkau tidak akan menganggap aneh apa yang aku katakan,” kata Abdul Jalil.

“Apakah dengan mengetahui Kebenaran tentang Kematian berarti aku akan mati?”

“Engkau takut mengenal Kematian karena pikiranmu masih terikat oleh simpul-simpul gagasan dan pandangan yang berbeda dengan apa yang aku sampaikan. Lantaran itu, wajar jika engkau berpikir: dengan mengenal Kematian maka seseorang akan mati. Padahal, menurut pandanganku, dengan mengenal Kematian secara benar sesungguhnya kita mengenal Kehidupan sejati. Nah, beranikah engkau mengenal Kematian dengan caraku?”

“Jika ada jaminan aku tidak mati maka aku berani mengikutimu, o Bapa Pendeta.”

Abdul Jalil tertawa. Sejenak setelah itu ia berkata dengan tersenyum, “Siapakah yang bisa menjamin hidup dan mati seseorang? Apakah saat engkau berangkat dari negerimu menuju Kozhikode ini engkau sangat yakin akan terus hidup dan bisa kembali dengan selamat ke kampung halamanmu? Apakah engkau sekarang ini bisa menjamin jika dirimu akan hidup sampai esok hari ketika matahari menyingsing?”

“Aku berharap bisa hidup sampai kembali ke kampung halamanku kelak. Bahkan, aku berani menjamin jika esok hari saat matahari terbit, aku masih hidup.”

Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil tertawa bersama. Barbosa heran dan merasa tersinggung. Dengan nada marah dia bertanya, “Kenapa Bapa Pendeta menertawakan aku?”

“Karena engkau berpikiran konyol, Anak Muda,” sahut Abdul Malik Israil.

“Aku berpikiran konyol? Apa alasan Bapa Pendeta berkata seperti itu?”

“Bagaimana mungkin orang waras bisa menjamin dirinya bakal tetap hidup sampai esok hari?”

“Maksud Bapa Pendeta?”

“Anak Muda,” kata Abdul Malik Israil dingin sambil menepuk-nepuk bahu Barbosa, “Lihatlah di ujung dermaga itu! Dua orang bertubuh tinggi besar itu adalah orang-orang Mouros yang sangat membenci orang Portugis. Sedangkan anak muda yang di sampingnya adalah seorang Muslim asal Jawa. Bagaimana jika mereka datang ke sini dan mengeroyok dirimu? Apa yang bisa engkau jaminkan bagi hidupmu jika mereka mengikat tubuhmu dengan tali dan menceburkanmu ke laut? Bukankah sekarang ini engkau tidak membawa senjata apa pun?”

“Mereka akan membunuhku?” tanya Barbosa dengan wajah mendadak pucat pasi.

“Kenapa engkau bertanya kepada kami? Bukankah engkau sudah menjamin jika dirimu bakal hidup sampai esok pagi ketika matahari terbit?”

Francisco Barbosa menarik napas panjang lalu mengembuskannya keras-keras. Kemudian dengan nada tidak berdaya dia berkata, “Memang tidak ada yang bisa menjamin hidup dan mati orang seorang.”

“Bukan saja tidak ada yang bisa menjamin, melainkan sering juga Kematian datang mendadak tanpa terduga-duga,” kata Abdul Malik Israil sambil mencabut belati dari balik jubahnya. “Apakah pernah terlintas di pikiranmu jika secara tiba-tiba aku menikam dadamu dengan belati ini?”

“Ya, ya, aku paham Bapa Pendeta,” kata Barbosa dengan wajah makin pucat. “Kematian bisa datang sewaktu-waktu dan tanpa kita sangka-sangka.”

Abdul Jalil yang melihat ketakutan menerkam jiwa Barbosa merasa tidak sampai hati. Sambil menepuk-nepuk bahu pelaut muda itu, ia berkata, “Engkau selama ini dikenal sebagai prajurit pemberani. Engkau dikenal sebagai juru meriam yang handal dan pantan menyerah dalam pertempuran. Semua kawan-kawan memujimu sebagai prajurit pemberani yang tidak takut mati. Tapi sungguh menyedihkan, kenyataan menunjukkan bahwa engkau masih dikuasai oleh rasa takut menghadapi Kematian. Engkau masih kalah dibanding anak muda Jawa yang berdiri di ujung dermaga itu. Dia sudah kenal citra Kematian. Dia sudah berkali-kali bersinggungan dengan citra Kematian. Karena itu, dia tidak takut mati dan bahkan mencintai Kematian.”

“Bapa Pendeta,” kata Barbosa merendah,” sejak masih kanak-kanak, aku memang bercita-cita menjadi pahlawan pemberani yang tidak takut mati. Sewaktu aku masuk dinas militer sebagai pasukan meriam, aku sudah berusaha menunjukkan kepada orang-orang di sekitarku bahwa aku adalah pahlawan pemberani yang tidak takut mati. Ternyata, malam ini Bapa Pendeta berdua telah menelanjangi kebohongan yang aku tutup-tutupi. Ya, aku masih takut mati. Karena itu, aku akan belajar kepada Bapa Pendeta untuk mengenal Kematian sesuai yang Bapa Pendeta ajarkan agar aku benar-benar tidak takut mati.”

Francisco Barbosa telah kembali ke kapalnya. Matahari telah terbit di ufuk timur, menyinari kapal-kapal dan sampan-sampan yang terayun-ayun gelombang pantai Kozhikode. Sepagi itu, usai menyantap bekal Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Raden Sahid berpamitan kepada Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. Mereka akan berpisah karena Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil beserta Raden Sahid akan ke Dwarasamudra, sedangkan dua bersaudara asal negeri Maghrib itu akan kembali ke kapalnya yang melepas sauh agak jauh dari pelabuhan Kozhikode. Tetapi, sebelum berpisah Sidi Abdul Qadir el-Kabiry menyampaikan pertanyaan kepada Abdul Jalil, “Kenapa Tuan Syaikh tidak langsung meminta Francisco Barbosa mengucapkan dua kalimah syahadat? Bukankah dia sudah sangat yakin dengan pengetahuan gaib untuk mengenal Kematian yang telah Tuan Syaikh ajarkan?”

“Soal Islam adalah urusan as-Salam. Soal Hidayah adalah sepenuhnya urusan al-Hadi. Soal Iman adalah urusan al-Mu’minin. Maksud kami, meski al-Hadi telah memancarkan hidayah kepada Francisco Barbosa, kalau pancaran-Nya belum seiring dengan as-Salam yang memancarkan amanah ke dalam jiwanya, maka jika dia diminta mengucapkan dua kalimah syahadat, hal itu justru akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh,” sahut Sidi Abdul Qadir el-Kabiry heran. “Bagaimana mungkin orang mengucap dua kalimah syahadat bisa menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan orang lain? Bukankah Islam adalah agama damai dan keselamatan?”

“Tuan belum paham karena Tuan cenderung melihat sesuatu hanya dari sisi duniawi, bentuk jasmani, dan gerak perilaku tubuh semata sehingga Tuan cenderung menganggap bahwa manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat adalah orang yang sudah beroleh hidayah dan menjadi penyebar keselamatan (salamah) dan keamanan (amanan). Padahal, kenyataan sering menunjuk berapa banyak manusia yang sudah mengucapkan dua kalimah syahadat, namun sikap dan tindakannya malah menimbulkan bencana dan ketidakamanan bagi manusia di sekitarnya. Berapa banyak manusia yang mengibarkan panji-panji Islam, tetapi tindak dan perilakunya mengerikan: memamerkan kekejaman dan menimbulkan ketakutan di mana-mana.”

“Kami sangat menghargai saudara-saudara kami yang menganggap bukti kemusliman orang seorang. Tetapi, kebiasaan yang kami lakukan adalah memperkukuh dulu landasan Tauhid dari manusia-manusia yang beroleh pancaran cahaya hidayah dari al-Hadi sampai terpancar cahaya salamah dan cahaya amanan laksana bentangan pelangi di cakrawala jiwa. Jika Tuan bertanya kenapa kami melakukan kebiasaan itu? Maka, kami akan menjawab bahwa kami sangat meyakini betapa sesungguhnya makna hakiki dari Islam adalah pancaran rahasia cahaya matahari Kebenaran yang mengejawantahkan citra Kelempangan (al-Hadi), Keselamatan (as-Salam), Keamanan (al-Mu’min), Kemurahan (al-Karim), Kesabaran (ash-Shabur), Pengampunan (al-Ghaffar), Kesucian (al-Quddus), Kesantunan (al-Halim), Kecintaan (ar-Rahman), Kasih (ar-Rahim), dan pancaran dari Asma’, Shifat, Af’al Allah yang mulia yang menerangi alam semesta dengan rahmat-Nya (rahmatan lil al-‘alamin).”

“Dengan pandangan kami itu, jelaslah bagi kami bahwa apa yang disebut al-Islam adalah ruhaniah. Al-Islam mutlak berada di dalam genggaman Allah. Karena itu, kami menganggap tidak bijak jika meminta Barbosa mengucapkan dua kalimah syahadat sebagai tanda kemusliman, sementara kami menangkap isyarat ruhani bahwa dia belum waktunya mengikrarkan keislaman dirinya. Jika Barbosa dengan terburu-buru kita minta mengikrarkan syahadat, maka dia akan secepatnya terlempar dari kaumnya dan bahkan akan kehilangan nyawanya. Sementara dengan membiarkan dia sebagaimana adanya, dia akan menjadi perantara bagi terpancarnya cahaya hidayah kepada kaumnya. Lantaran itu, kami sangat yakin jika waktunya telah datang, dia akan menemukan sendiri Kebenaran Sejati meski tanpa bimbingan kami. Kenapa kami berpendapat demikian? Karena menurut pandangan kami, persaksian keislaman orang seorang tidak bisa dipaksakan waktunya. Jika sudah tiba saatnya, di mana pun dia berada akan mempersaksikan dirinya sebagai Muslim. Dan kami sangat yakin jika mereka telah dipancari hidayah oleh al-Hadi akan terbimbing di jalan-Nya, meski mereka berada di lingkungan yang membenci Islam,” kata Abdul Jalil.

“Kami makin bingung dengan penjelasan Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Tuan yang belum memahami secara mendalam tentang dunia ruhani memang sulit menerima penjelasan kami. Mereka yang belum mencicipi manisnya madu tentu akan sulit dijelaskan tentang kemanisan madu. Tetapi, kami yakin saudara Tuan, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, telah sangat memahami apa yang telah kami jelaskan. Tuan bisa berbincang lebih luas dan mendalam tentang hal-hal ruhaniah kepadanya.”

“Tapi, Tuan Syaikh, apakah Tuan yakin jika Francisco Barbosa kelak akan menjadi Muslim?”

“Menurut keyakinan kami, Francisco Barbosa kelak akan mengikrarkan dua kalimah syahadat. Bahkan, dia akan mempengaruhi beberapa orang kawannya. Tetapi, kami tidak tahu kapan waktunya dan bagaimana peristiwanya. Yang jelas, dia telah menyaksikan Kebenaran Sejati tentang hakikat Kematian dengan mata batin (‘ain al-bashirah) yang jernih. Karena itu, dia akan berubah menjadi manusia yang tidak lagi gampang mempercayai dalil-dalil dogmatik yang diucapkan manusia berdasar prasangka-prasangka. Dan ujung dari keadaan manusia seperti itu ke mana lagi kalau bukan ke samudera Tauhid?”

“Kenapa Tuan Syaikh tidak melakukan hal serupa kepada orang-orang Portugis yang lain?”

“Kami tidak memiliki kewenangan apa pun untuk itu. Jika Tuan bertanya kenapa kami melakukan itu hanya kepada Barbosa? Maka, akan kami jawab bahwa hal itu kami lakukan untuk membuktikan kepada Tuan bahwa tidak semua orang Portugis kejam seperti pemimpin dan kawan-kawan Barbosa. Di damping itu, Allah memang sudah memilih Francisco Barbosa sebagai salah seorang manusia yang dianugerahi hidayah oleh al-Hadi untuk menerima benderang nyala api al-Islam di relung-relung sanubarinya,” papar Abdul Jalil.

“Baik, kami paham itu,” kata Sidi Abdul Qadir el-Kabiry. “Sebelum berpisah, kami ingin Tuan Syaikh memberikan fatwa khusus kepada kami agar bisa kami jadikan pedoman dalam melintasi kehidupan yang kacau ini.”

Abdul Jali tertawa dan kemudia berkata, “Sesungguhnya, saudara Tuan, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry, lebih layak memberikan fatwa kepada Tuan sebab pengetahuan ruhaninya sangat luas dan mendalam. Tetapi, Tuan tidak bisa melihat kelebihannya karena Tuan terlalu dekan dengannya.”

“Kami tahu itu. Tapi, kami benar-benar ingin beroleh fatwa khusus dari Tuan Syaikh agar bisa kami jadikan pelengkap pedoman hidup, di samping terbukanya kesadaran kami tentang betapa beragamnya pemikiran kaum Muslimin dalam memandang dan menyikapi suatu persoalan.”

“Yang paling penting untuk Tuan sadari,” kata Abdul Jalil dengan suara lain, “dalam menjalankan amaliah keislaman, Tuan jangan sekali-kali terpengaruh oleh pandangan sempit orang-orang fanatik seperti kawan-kawan Barbosa dan Syah Ismail. Maksud kami, Tuan jangan pernah menggembar-gemborkan diri sebagai pahlawan pembela Islam, apalagi mengaku-aku prajurit Allah (jundu Allah). Sebab, pada saat orang seorang sudah menyatakan diri sebagai pahlawan pembela Islam atau prajurit Allah, maka orang tersebut telah mendangkalkan hakikat al-Islam menjadi berhala yang penuh ditempeli atribut pamrih duniawi. Padahal, al-Islam adalah sesuatu yang bersifat ruhaniah. Orang bisa menjadi Islam bukan karena kehendak pribadi, melainkan kehendak Allah. Al-Islam adalah pancaran cahaya Ilahi yang memancar dari Asma’, Shifat, dan Af’al Allah yaitu as-Salam. Lantaran itu, al-Islam selalu terpelihara dan terjaga dengan cara yang tidak terjangkau oleh akal pikiran manusia.”

“Kenapa kita tidak boleh mengaku-aku? Bukankah Rasulullah Saw. mengajarkan bahwa keislaman kita harus dipermaklumkan kepada manusia?”

“Keislaman memang harus dipermaklumkan sebagai kesaksian iman. Tetapi permakluman yang berlebihan justru terlarang, terutama permakluman secara sepihak oleh diri sendiri yang mengaku-aku sebagai pahlawan pembela agama, prajurit tuhan, atau bahkan perwujudan tuhan di dunia. Mereka yang mengaku-aku dan gembar-gembor itu sejatinya telah mendangkalkan makna al-Islam. Dengan lambang-lambang palsu keislaman, mereka menepuk dada dan memamerkan kesombongan dan mengangkat diri sebagai prajurit-prajurit Allah. Padahal, sejatinya bala tentara Allah tersebar di langit dan bumi tanpa diketahui jumlah pastinya (QS. Al-Fath: 4 dan 7; QS. Al-Mudatsir: 31). Prajurit-prajurit Allah itu menjalankan tugas secara rahasia dengan setia dan penuh kepatuhan. Mereka itu bisa berupa malaikat, rijal al-ghaib, auliya’ Allah, angin topan, halilintar, dan bahkan binatang. Dan tidak ada satu pun di antara mereka itu yang menepuk dada untuk mempermaklumkan diri sebagai prajurit Allah. Merekalah prajurit-prajurit sejati Allah yang bertugas menjaga Islam.”

“Berarti Tuan Syaikh percaya bahwa di dunia ini ada yang disebut Jama’ah Wali-Wali?”

“Tentu saja percaya, namun kepercayaan kami sangat berbeda dengan kepercayaan umum.”

“Berbeda bagaimana?”

“Yang dimaksud Jama’ah Wali-Wali menurut kepercayaan kami adalah yang disebut Jama’ah Karamah al-Auliya’, yakni suatu hierarki karamah al-auliya’ yang memancar dari Asma’, Shifat, dan Af’al Allah, yaitu al-Karim dan al-Waly. Itu berarti, Jama’ah Karamah al-Auliya’ bersifat ruhaniah sebagaimana al-Islam. Karamah al-auliya’ yang ruhaniah itu, dalam menjalankan tugas (tawalla) akan melimpah kepada orang-orang beriman yang sudah mencapai derajat takwa (muttaqin), yaitu derajat ruhani yang terpancar dari al-Qawiy. Karamah al-auliya’ yang ruhani itu bersifat abadi sebagaimana al-Karim dan al-Waly. Itu sebabnya, jika seorang manusia yang terlimpahi karamah al-auliya’ itu wafat maka karamah auliya’ yang melimpah pada manusia tersebut akan mencari tubuh baru untuk menjalankan tugas sucinya.”

“Dengan pandangan kami ini, jelaslah bahwa Jama’ah Karamah al-Auliya’ adalah jama’ah ruhaniah. Artinya, jika mereka berkumpul di suatu tempat di suatu waktu tertentu maka yang berkumpul itu adalah karamah-karamah al-auliya’, bukan tubuh fisik manusia takwa, meski pada keadaan tertentu yang khusus bisa terjadi pertemuan tubuh fisik manusia takwa berderajat wali Allah di satu tempat di satu waktu tertentu. Karena itu, kami menggunakan istilah Jama’ah Karamah al-Auliya’ dan bukannya Jama’ah Wali-Wali Keramat. Dengan begitu, kami akan menganggap pembohong orang-orang yang menyatakan ini dan itu adalah anggota Jama’ah Wali-Wali Keramat karena jama’ah semacam itu tidak ada. Yang ada adalah Jama’ah Karamah al-Auliya’, yaitu jama’ah dari karamah-karamah al-auliya’ yang bersifat ruhaniah yang memiliki tugas suci menjaga kelestarian ajaran Tauhid terutama al-Islam.”

Sebenarnya, masih cukup banyak hal yang ingin ditanyakan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry kepada Abdul Jalil. Tetapi, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry buru-buru menyela dan mempersilakan Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke Dwarasamudra. Rupanya, sebagai seorang ulama yang mengamalkan ajaran Tarekat Qadiriyyah, Syaikh Abdul Jabbar el-Kabiry sudah memahani semua uraian Abdul Jalil.

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 12:00LT

14. Syaikh Malaya

Perbincangan antara Abdul Jalil dan Sidi Abdul Qadir el-Kabiry tentang hidayah al-Hadi dan karamah al-auliya’, ternyata membingungkan Raden Sahid. Ungkapan-ungkapan yang dikemukakan Abdul Jalil tentang Asma’, Shifat, dan Af’al Allah dalam kaitan dengan hidayah, salamah, amanan, takwa, karamah masih sulit dipahaminya. Sebagai seorang salik yang selalu dibimbing dan diarahkan oleh Abdul Jalil, Abdul Malik Israil, dan Jumad al-Kubra, Raden Sahid sudah terbiasa menanyakan hal-hal terkait penempuhan ruhani yang sulit dipahami. Ketika mereka menempuh perjalanan ke Dwarasamudra dan sampai di tepi hutan yang membentang di kaki Pegunungan Malaya yang bersambung dengan Pegunungan Nilgiri, Raden Sahid bertanya ini dan itu tentang ketidakpahamannya dalam mencerna ungkapan yang disampaikan Abdul Jalil kepada Sidi Abdul Qadir el-Kabiry.

Tidak seperti biasa, Abdul Jalil ternyata tidak menjawab sepatah kata pun pertanyaan Raden Sahid tentang hidayah al-Hadi dan karamah al-auliya’. Sebaliknya, dengan suara ditekan keras Abdul Jalil malah menyatakan akan mengakhiri kebersamaan mereka. “Seekor rajawali yang dibiasakan tinggal dengan kawanan bebek tidak akan pernah bisa terbang mengepakkan sayap sebagai pengarung kesunyian angkasa. Karena itu, sebagai rajawali muda, engkau harus ditendang dari atas bukit agar jatuh ke jurang sehingga nalurimu untuk mengepakkan sayap akan muncul dengan sendirinya,” katanya sambil berlalu.

“Tapi Paman,” kata Raden Sahid dengan bibir bergetar dan dada naik turun, “sekarang ini kita sedang berada jauh di negeri orang. Bagaimana mungkin Paman bisa sampai hati meninggalkan saya sendirian?”

“Itulah yang aku maksud dengan bukit dan jurang tempatmu jatuh melayang menuju kebinasaan. Jadilah rajawali perkasa jika engkau ingin selamat dan aman sampai ke Tujuan.”

“Tapi saya masih butuh bimbingan Paman.”

Abdul Jalil tidak menjawab. Tanpa menoleh, ia melangkah cepat dan menghilang di balik pepohonan. Raden Sahid tercengang kebingungan melihat sikap Abdul Jalil yang begitu dingin. Ia merasakan kegentaran merayapi jiwanya. Kemudian dengan pandang mengiba, ia menyampaikan keheranannya kepada Abdul Malik Israil, “Bagaimana ini, Eyang? Kenapa Paman tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan kita? Apakah saya telah melakukan kesalahan? Apa yang harus kita lakukan di tempat yang jauh ini?”

“Dia tidak meninggalkan kita,” kata Abdul Malik Israil dingin, “dia meninggalkan engkau sendirian.”

“Meninggalkan saya sendiri? Kenapa Eyang berkata demikian?”

“Karena aku pun akan pergi meninggalkanmu sendirian.”

“Eyang?” seru Raden Sahid dengan dada berdebar-debar.

“Engkau yang selama ini selalu butuh bimbingan, hendaknya berani berdiri tegak untuk menguji kemampuan dan kedewasaan ruhanimu. Semua salik harus dilepas agar mandiri dalam melampaui tantangan yang menghadangnya. Bukankah selama ini engkau selalu kami bimbing seperti anak-anak yang harus dituntun ke mana-mana? Tidakkah engkau punya harapan untuk bisa menembus alam gaib dengan kemampuan sendiri dan bukan diajak oleh orang lain? Tidakkah engkau sadar bahwa Kebenaran hanya bisa dikenal oleh pribadi dalam kesendirian?”

“Tapi Eyang ... “

Abdul Malik Israil tidak menyahut. Dia membalikkan badan dan melangkah ke arah hutan. Dalam beberapa jenak tubuhnya sudah menghilang di balik pepohonan. Suasana sejuk yang melingkupi pinggiran hutan dengan desau angin dan kicau burung tiba-tiba dirasakan hambar dan getir oleh Raden Sahid. Bagaikan orang kebingungan di persimpangan jalan, ia termangu-mangu dengan tatapan menerawang kejauhan seolah ingin mencari sesuatu yang tersembunyi di balik barisan gunung-gunung yang diselimuti awan.

Bagi Raden Sahid sendiri, masalah yang dirasakan paling berat bukanlah karena ia ditinggal sendiri di negeri yang jauh. Sebab, pengalaman ruhani yang dialaminya selama menyertai Abdul Jalil dan Abdul Malik Israil telah menumbuhkan kesadaran pemikiran bahwa keberadaannya sebagai manusia senantiasa dalam liputan Allah SWT.. Yang dirasakannya paling berat justru keterpisahannya yang mendadak dengan para pembimbing ruhani yang selama ini dijadikannya gantungan harapan dalam menempuh perjalanan ruhani. Ia merasa betapa berat berpisahan dengan para guru ruhani yang sudah sangat dekat dan mengikat jiwa itu.

Selama mengikuti Abdul Jalil di pedalaman Nusa Jawa, Raden Sahid memang pernah mendengar cerita tentang persahabatan sejati antara Jalaluddin Rumi dengan Syamsuddin at-Tabrizi yang dipatahkan oleh takdir Ilahi, hingga membuat merana jiwa Jalaluddin Rumi. Saat itu Raden Sahid hanya bisa memahami rangkaian cerita tersebut sebagai bagian dari lingkaran kehidupan para sufi yang tidak lazim. Bahkan, ia sempat menilai Jalaluddin Rumi sebagai seorang sufi cengeng karena menjadi patah hati karena ditinggal pergi sahabat dan sekaligus guru ruhaninya. Tetapi, sekarang ia sendiri merasa tidak berdaya. Ia merasa seperti burung yang patah kedua sayapnya. Selama tiga hari tiga malam ia hanya duduk termangu-mangu di pinggir hutan tanpa peduli sengatan panas matahari dan dinginnya udara malam hari yang menggigit dan mengoyak-koyak tubuhnya.

Memasuki hari keempat dari ketidakberdayaannya, suatu senja saat angin bertiup kencang dengan suara gemuruh, Raden Sahid sekonyong-konyong bangkit dan melangkah gontai ke sebongkah batu yang tegak di bawah pohon cendana. Di dalam tatapan matanya yang nanar, di antara gumpalan kabut yang mulai menyelimuti permukaan tanah, ia melihat sosok manusia bertubuh kecil berdiri di atas bongkahan batu tersebut. Antara sadar dan tidak, di tengah rentangan kesadaran antara tidur dan jaga, ia berusaha menegaskan penglihatannya. Menurut penglihatannya, sosok manusia kecil berkulit hitam itu sangat aneh perwujudannya: tidak hidup dan tidak pula mati. Tidak bergerak, tetapi tidak pula diam. Tidak berkata-kata, tetapi tidak pula menutup mulut. Sederhana tetapi rumit. Meliputi tetapi diliputi. Memancar tetapi mengisap. Terbit tetapi menyingsing. Dia, manusia aneh itu, keberadaannya tidak dapat diungkapkan secara utuh dengan bahasa manusia.

Di tengah ketakjubannya menyaksikan sosok manusia aneh, tiba-tiba saja ia merasakan cakrawala baru kesadaran jiwanya tersingkap seiring terbitnya nur lawami’ di kedalaman jiwanya, laksana matahari terbit di pagi hari. Dan laksana seorang pecinta keindahan sedang menikmati kicau burung, harum bunga-bunga, segar rerumputan, gemerisik angin, dan lincahnya margasatwa yang berkejaran di sebuah taman indah, ia merasakan pemahaman fawa’id yang tersembunyi di relung-relung jiwanya tiba-tiba terbuka, bagai bunga mekar menebarkan keharuman yang memesona kumbang-kumbang pengetahuan ruhani. Dengan pemahaman fawa’id itu, ia menangkap pengetahuan gaib yang membentangkan kesadaran bahwa sosok aneh yang disaksikannya itu adalah Rishi Agastya, putera Varuna dengan Urvashi, yang lahir dari tempayan (kumbhayoni). Dialah guru suci yang diyakini sebagai titisan Syiwa. Kemudian, bagaikan menyaksikan rangkaian peristiwa yang panjang dan berliku dalam waktu yang sangat singkat, Raden Sahid menangkap segala sesuatu terkait dengan sang rishi bertubuh kecil dan berkulit hitam itu.

Pada masa silam, barang empat puluh abad ke belakang, bumi Jambhudwipa (India) dihuni oleh bangsa-bangsa berkulit hitam yang hidup dilimpahi kemakmuran dan kedamaian. Bangsa-bangsa itu sebagian tinggal di kota-kota berbenteng yang penuh dipadati bangunan megah. Tetapi, kedamaian hidup manusia di dunia tak pernah langgeng. Tanpa diduga dan disangka-sangka, datanglah serbuan bangsa-bangsa pengembara dari arah utara. Mereka adalah bangsa Arya yang berkulit putih, bermata biru, dan berambut emas. Kota-kota berbenteng bangsa kulit hitam yang tegak dilimpahi kemakmuran dan kedamaian itu satu demi satu dikuasai oleh para penyerbu yang dipimpin dewa utama mereka: Indra. Karena keberhasilannya dalam menaklukkan kota-kota berbenteng yang dibangun bangsa kulit hitam, Indra termasyhur dengan nama besar: Sang Puramdara (penakluk benteng).

Sebagaimana lazimnya para pemenang, bangsa penyerbu kulit putih itu menghinakan bangsa-bangsa kulit hitam sebagai budak nista tak bermartabat. Tetapi, hinaan dan nistaan para penyerbu kulit putih tidak melemahkan penduduk kulit hitam, sebaliknya membangkitkan perlawanan di mana-mana. Muncul perlawanan pahlawan dari laut bernama Vritra, mengamuk dan mengobrak-abrik Indraloka. Tetapi, kelicikan Indra berhasil mematahkan perlawanan Vritra. Setelah itu, bermunculan terus perlawanan dari pahlawan-pahlawan kulit hitam seperti Hiranyakasipu, Paulana, Kesin, Niwatakawaca, dan Kalakeya. Dan seperti nasib penentang Indra, para pahlawan kulit hitam itu jatuh satu demi satu digilas kelicikan Sang Surapati (Indra).

Di antara perlawanan gigih yang dilakukan bangsa kulit hitam terhadap bangsa kulit putih, yang termasyhur adalah yang dilakukan tiga bersaudara dari wangsa Rakshasa: Mali – Malyawan – Sumali. Meski ketiganya mengalami kegagalan sebagaimana pahlawan kulit hitam lain, cucu Sumali yang bernama Rahuwana (Sang Penunggu Rahu), Maharaja Langka, melakukan perlawanan hebat hingga mengobrak-abrik Indraloka dan mengalahkan Indra. Sebagai pahlawan bangsa kulit hitam, Rahuwana memperoleh bermacam-macam gelar kehormatan: Mahaprabhavam Rajyam (Raja yang kekuasaannya besar), Vitabhaya (manusia yang rasa takutnya hilang), Yuddhanipuna (pahlawan yang cakap dalam perang), Dasamuka (yang berkepala sepuluh; Rahu), Ravana (yang menjerit; Rudra), Amitrajit (penakluk musuh).

Di tengah gemuruh perubahan di utara, yang ditandai lambang perkawinan Syiwa dan Parvati, yang dihadiri dewa-dewi, pergilah Rishi Agastya ke selatan. Sang Rishi yang terhormat, yang bertubuh pendek dan berkulit hitam, tidak membangun kekuatan senjata untuk melawan para penyerbu kulit putih dari utara yang dipimpin Indra. Putera Varuna dengan Urvashi itu membangun sangam (akademi) di Dakshinakasi di wilayah hutan Pancavati, di Gunung Malaya, dan kemudian di bukit Pothigai di negeri Pandya. Ia mendidik 12 orang siswa utama dan mengajarkan kepada para siswanya di sangam tentang ilmu ketabiban, ilmu perbintangan, filsafat, tata krama, upacara-upacara keagamaan, mantra-mantra, ilmu hitam, dan ilmu batiniah. Untuk mengukuhkan keberadaan peradaban bangsa kulit hitam, sang rishi menyusun tata bahasa Dravida, bangsa keturunan Dewi Ida.

Ketika keperkasaan Rahuwana dihancurkan oleh Ramachandra yang didukung para pengkhianat seperti Bhibhisana dan Sugriwa, di tengah tumpasnya ksatria-ksatria Langka yang unggul, di antara jerit tangis perempuan dan anak-anak wangsa Rakshasa yang diburu-buru dan dibunuh, keagungan dan kemuliaan Rishi Agastya tidak tergoyahkan. Para cendikiawan dan brahmana kulit putih, bahkan Indra sendiri, datang dengan penuh hormat memohon berkah dari sang rishi kulit hitam. Para Rakshasa yang diburu-buru, berlindung di bawah kaki seroja sang rishi. Demikianlah, sang rishi yang lahir dari tempayan (Drona) itu dimuliakan oleh manusia, baik yang berkulit putih maupun yang berkulit hitam, sebagai seorang guru suci yang diyakini titisan Mahaguru yang bersthana di Kailasa. Dialah Agastya, Sang Kumbhayoni, Drona, Acosti, yang dikenal dengan nama masyhur Bhattara Guru. Dialah kulaguru dan sekaligus cikal bakal leluhur raja-raja Yavadvipa, Yavanadwipa, Malayadvipa, Varunadvipa, dan Suvarnadvipa.

Pemahaman fawa’id tentang Sang Agastya yang meresap ke segenap cakrawala kesadaran Raden Sahid tiba-tiba tersambung dan menyingkapkan tirai kesadaran tentang sosok Syaikh Lemah Abang yang meninggalkan dirinya di kesunyian hutan di kaki Pegunungan Malaya itu. Bagaikan menemukan dua bentuk yang sama meski waktu dan tempat berbeda, ia melihat kesamaan apa yang dilakukan Rishi Agastya dengan sangam dan siswa-siswanya serta apa yang dilakukan Syaikh Lemah Abang dengan paguron dan dukuh-dukuh di Lemah Abang dan Kajenar yang dibukanya. Ia menjadi paham kenapa Syaikh Lemah Abang tidak pernah peduli dengan amukan kabar yang membadai terkait dengan kemunculan Syah Ismail di Persia dan Portugis di Bharatnagari. Rupanya, tebaran nilai-nilai dan ajaran Kebenaran yang disampaikan kepada murid-muridnya lewat paguron dan dukuh-dukuh adalah benteng jiwa manusia yang sulit ditembus oleh keperkasaan prajurit maupun tajamnya senjata. Sebagaimana hal itu telah dibuktikan oleh Rishi Agastya di masa lampau.

Di tengah ketakjuban Raden Sahid merasakan pemahaman fawa’id dalam menangkap kenyataan hakiki yang disinari nur lawami’, tiba-tiba sosok kecil aneh itu, Sang Agastya, berkata-kata kepada Raden Sahid melalui al-ima’ yang jika diungkap dalam bahasa manusia berbunyi:

“O, engkau yang lahir bersama fajar, telah menyingsing kegelapan nafsu-nafsu rendahmu oleh pancaran cahaya rahasia pengetahuan. Sebab, orang yang memiliki pengetahuan tinggi memiliki pancaran cahaya rahasia (Rgveda VII. 76:4). Terangilah kegelapan dunia dengan cahaya rahasiamu, laksana Varuna memancarkan pengetahuan kepada orang-orang yang tertutupi ketidaktahuan. Sesungguhnya, seorang guru yang menanamkan pengetahuan ke dalam jiwa siswa-siswanya adalah ibarat matahari menerangi cakrawala siang dan rembulan serta bintang-bintang menerangi cakrawala malam dengan cahayanya yang cemerlang. Para guru adalah matahari yang menyebarkan terang (Rgveda VII. 79:2). Karena itu, seorang guru adalah orang yang sudah memperoleh pencerahan jiwa dan dia tidak akan menutup keingintahuan para siswanya (Atharvaveda XX. 21:2).”

“Seorang guru akan menjadi benderang cahaya pengetahuan yang memesona jika memiliki kecerdasan seorang sarjana serta pandai dalam merangkai bahasa laksana seorang penyair. Sebab, kecerdasan dan kebijaksanaan adalah pengejawantahan dewa-dewa (Atharvaveda VI. 123:3). Sedangkan bahasa adalah sabda Tuhan yang ada di mana-mana meliputi langit dan bumi. Sabda berembus bagaikan angin. Sabda menciptakan seluruh alam semesta (Rgveda X. 125:8). Sabda adalah kekuatan yang teragung. Sabda di pertajam dengan ilmu pengetahuan (Atharvaveda XIX. 9:3).”

“Seorang sarjana dan sekaligus penyair memiliki pemahaman mendalam tentang bahasa sebagai pancaran sabda dan pengetahuan. Lantaran itu, seorang sarjana-penyair dapat melihat Kebenaran, sekalipun di dalam air samudera. Sarjana-penyair bercahaya laksana matahari. Sarjana-penyair mengetahui rahasia kitab suci dan kenyataan-kenyataan tersembunyi. Demikianlah, seorang guru yang sarjana dan penyair adalah pembangun sebuah bangsa. Tetapi, hendaknya selalu engkau ingat-ingat, o, engkau yang telah lahir untuk kali kedua (dwijati), bahwa tugas utama seorang guru yang sarjana sekaligus penyair adalah menebarkan cahaya Pengetahuan melalui sraddha (keimanan) sampai seseorang menyadari Kebenaran Ilahi yang hakiki ((keimanan) sampai seseorang menyadari Kebenaran Ilahi yang hakiki (Yajurveda. XIX. 30).”

Suatu pagi, saat ujung fajar masih menempel di gumpalan awan dan lekukan gunung-gunung, Raden Sahid melangkah di tengah keindahan dengan kesadaran baru seorang salik yang relung-relung jiwanya sudah terpancari nur lawami’ dan pemahaman fawa’id. Dengan ketakjuban yang mencengangkan, ia memandang bunga-bunga yang bergoyang di atas rerumputan yang dibasahi embun dengan kumbang-kumbang dan kupu-kupu beterbangan di tengah semilir angin. Ia takjub dan tercengang karena saat itu untuk kali pertama ia menangkap keharuman bunga, kesejukan embun, kesegaran rumput, kemerduan dengung kumbang, kepak sayap kupu-kupu yang gemulai, dan semilir angin dengan pandangan dan perasaan yang lain. Ia menangkap kenyataan aneh, betapa segala gerak dari makhluk yang terhampar di sekitarnya pada hakikatnya adalah pernyataan puja dan puji (tasbih) kepada Sang Pencipta. Keanekaragaman dalam bentuk, warna, gerak, dan suara makhluk yang tak terhitung jumlahnya itu ternyata satu jua ujung dan pangkalnya: semua makhluk adalah pengejawantahan Keagungan dan Kemuliaan Sang Pencipta.

Ketika Raden Sahid mulai menuruni bukit dengan dada terasa lapang dan perasaan meluapkan kegembiraan, seorang brahmin muda berwajah agung datang menghampiri dan menyapanya dalam bahasa Melayu. Bagaikan telah mengenal Raden Sahid selama bertahun-tahun, brahmin muda itu dengan penuh keakraban mengajaknya melakukan pengembaraan ruhani agar cakrawala kesadaran mereka tersingkap lebih luas dalam memaknai cahaya Kebenaran. Dengan pancaran nur lawami’ yang membentangkan pemahaman fawa’id pada kesadarannya, Raden Sahid menangkap sasmita bahwa kehadiran dan sekaligus ajakan brahmin muda itu adalah semata-mata karena kehendak Allah semata. Itu sebabnya, tanpa menaruh keberatan ia menerima ajakan sang brahmin.

Dengan ketakjuban seorang salik yang baru belajar terbang mengepakkan sayap, ia mengikuti ke mana pun brahmin muda itu mengajaknya mengembara. Berbagai tempat yang disucikan para brahmin seperti Kamakostipuri, Kaveri, Sri Rangam, Har-ksetra, dan bahkan Gunung Risabha telah dikunjunginya. Tanpa terasa, telah tujuh puluh hari tujuh puluh malam ia telah melakukan pengembaraan. Memasuki hari ke tujuh puluh tujuh, sang brahmin muda mengajaknya ke Gunung Malaya, bekas kediaman Rishi Agastya. Tanpa berkata sepatah pun, sang brahmin muda meninggalkannya seorang diri di tengah kesunyian hutan kayu cendana yang menebarkan wangi ke segenap penjuru penciumannya.

Di tengah keheningan pagi, ketika angin bertiup menebarkan wangi cendana dan harumnya bunga-bunga rumput, Raden Sahid duduk di tepi sungai kecil berair jernih yang mengalir ke lembah. Dengan hati diliputi keindahan, ia memandang batu-batu yang terendam sambil merenungkan kembali pengembaraan yang baru saja dijalaninya. Hidup manusia, gumamnya dalam hati, ibarat air yang mengalir dari mata air menuju samudera. Pada saat lahir dari rahim bumi, semua air bening dan jernih. Tetapi, seiring perjalanannya menuju samudera, air sering harus jatuh ke dalam aliran sungai, jeram, selokan, terusan, dan muara yang keruh. Di hamparan samudera itulah air kembali dijernihkan dan disucikan menjadi gumpalan awan agar bisa jatuh ke permukaan bumi, lalu meresap ke dalam perut bumi untuk lahir kembali sebagai air.

Memahami hidup manusia sebagaimana air, ia menangkap sasmita bahwa harkat dan kedudukan manusia di tengah kehidupan pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan air. Yang paling jernih di antara air adalah yang tidak ternodai oleh lumuran lumpur kehidupan. Demikianlah, manusia yang paling jernih dan mulia kedudukannya adalah yang kesadarannya tidak ternodai oleh benda-benda dan nafsu rendah duniawi. Lantaran itu, ia memahami kenapa dalam tatanan masyarakat Hindu, kedudukan para brahmana yang tidak terikat benda-benda dan nafsu rendah duniawi ditempatkan di atas manusia lain. Dan yang terendah di antara manusia adalah kalangan sudra dan paria, yakni manusia-manusia yang kesadaran hidupnya ditimbuni benda-benda dan nafsu rendah duniawi.

Kisah Bhisma dan nelayan tukang ikan adalah cerita bijak tentang harkat dan kedudukan manusia. Bhisma ditempatkan sebagai manusia berkedudukan mulia (brahmana), sedangkan nelayan sebagai manusia berkedudukan rendah (sudra). Bhisma, putera Santanu, putera mahkota Hastina, datang ke sebuah desa nelayan untuk melamar Rara Amis (gadis bau ikan), anak nelayan, sebagai istri ayahandanya yang sedang mabuk kepayang oleh cinta. Bhisma adalah ksatria sejati yang dengan tulus ingin berbakti kepada ayahandanya. Ia rela berkorban apa saja asalkan ayahandanya berbahagia. Beda Bhisma, beda pula nelayan. Melihat kesempatan emas di balik kabar mabuk cintanya sang raja terhadap puterinya, sang nelayan mengajukan syarat yang wajib dilaksanakan jika Bhisma bersungguh-sungguh ingin melamar puterinya untuk mendampingi raja Hastina. Pertama-tama, sang nelayan menginginkan puterinya, Rara Amis, berkedudukan sebagai permaisuri raja.

Dengan ketulusan seorang ksatria, Bhisma menyanggupi untuk menerima syarat sang nelayan. Tetapi, kesanggupan Bhisma itu belum cukup bagi sang nelayan. Dengan tanpa rasa malu sedikit pun, dia mengajukan syarat kedua: putera dari Rara Amis dan Santanu harus menjadi putera mahkota dan kelak menjadi raja Hastina jika Santanu mangkat. Untuk kali kedua, Bhisma menyatakan kesediaan untuk melepas haknya atas takhta Hastina. Bhisma berjanji akan menjadikan putera Rara Amis dan Santanu sebagai raja Hastina kelak. Tetapi, kesanggupan Bhisma itu pun belum cukup juga memuaskan kerakusan dan keserakahan sudra sang nelayan. Dengan pongah, sang nelayan mengajukan syarat berikut: dia tidak ingin hak atas takhta yang sudah dimiliki oleh cucunya akan diganggu oleh keturunan Bhisma. Sang nelayan dengan tegas menginginkan agar Bhisma tidak memiliki keturunan. Demikianlah, sang ksatria sejati, Bhisma, berikrar di hadapan sang nelayan untuk tidak menikah seumur hidup agar tidak memiliki keturunan yang bisa mengancam takhta yang dikuasai cucu sang nelayan.

Sepanjang pengembaraannya bersama sang brahmin muda, Raden Sahid menyaksikan betapa penduduk golongan sudra yang dijumpainya di desa-desa hampir semua menunjukkan sikap dan perilaku seperti sang nelayan. Orang-orang sudra yang disaksikan Raden Sahid adalah orang-orang yang selalu mengedepankan keakuan pribadinya dan cenderung memenuhi alam pikirannya dengan benda-benda dan angan-angan kosong. Untuk kepentingan-kepentingan remeh temeh terkait kebutuhan menumpuk benda-benda, tanpa segan-segan orang sudra akan melakukan tindakan rendah menyembah kekuatan alam dengan menyembelih anak-anaknya sebagai korban. Bahkan, sering kali Raden Sahid menemukan sekumpulan orang sudra memuja kawanan tikus di sebuah kuil yang diyakini dapat memberi berkah keselamatan dan kemakmuran.

Dengan memahami tatanan masyarakat Hindu yang kedudukannya berjenjang yang dikenal dengan catur warna dan kasta, Raden Sahid pun pada gilirannya menangkap hakikat yang sama di dalam ajaran Islam yang dianutnya. Meski di dalam Islam tidak dikenal pemilahan secara tegas atas kehidupan masyarakat dalam jenjang-jenjang, pemilahan itu sebenarnya terjadi juga secara alamiah. Manusia yang dianggap menempati kedudukan paling tinggi dalam Islam adalah yang paling takwa. Padahal, ukuran takwa adalah kemampuan orang seorang untuk hidup meneladani Nabi Muhammad Saw., yang ditandai dengan keterlepasan diri dari benda-benda (zuhud) dan tanpa pamrih (ikhlas). Demikianlah, dikalangan masyarakat Muslim, keberadaan seorang guru sufi yang hidup menjauhi keduniawian (zuhud) dan tanpa pamrih sangat dimuliakan oleh umat, saat wafat pun kubur mereka diziarahi.

Ketika merenung-renung tentang tinggi dan rendahnya harkat serta kedudukan manusia berdasar tingkat keterikatan terhadap benda-benda dan nafsu rendah duniawi, tiba-tiba Raden Sahid dikejutkan oleh hadirnya brahmin muda yang muncul laksana angin. Lebih terkejut lagi, sang brahmin tidak datang seorang diri, tetapi dengan orang yang selama ini ditunggu-tunggunya, Syaikh Lemah Abang. Raden Sahid benar-benar terperangah takjub ketika Syaikh Lemah Abang menjelaskan bahwa brahmin muda yang mengajaknya mengembara itu tiada lain adalah Bharatchandra Jagaddhatri, Pangeran Wijayanagara yang mengasingkan diri sebagai brahmin.

Dalam perjumpaan tak tersangka-sangka itu, Raden Sahid merasakan kegembiraan yang meluap-luap hingga dadanya menjadi sangat lapang. Ia menuturkan semua pengalaman ruhani yang dialaminya, terutama saat berjumpa dengan Rishi Agastya yang menyingkapkan tirai hijab yang menyelubungi kesadaran jiwanya. “Kami menangkap sasmita, Rishi Agastya menyampaikan perlambang agar kami mengikuti jejaknya dalam menghadapi serbuan bangsa-bangsa kulit putih. Rishi Agastya bahkan seperti meminta agar kami menjadi guru yang sebijaksana sarjana dan pandai mengolah bahasa sepiawai penyair.”

“Bukankah selama ini engkau telah menyaksikan apa yang telah aku lakukan?” gumam Abdul Jalil.

“Kami baru menyadarinya sekarang, Paman.”

“Tahukah engkau, kenapa aku berjuang keras mewujudkan ajaran Jawa (Tauhid) lewat dukuh-dukuh yang tersebar di penjuru Nusa Jawa?” tanya Abdul Jalil seperti menguji.

“Saya belum tahu, Paman.”

“Tanyakan saja pada Paduka Brahmin Bharatchandra Jagaddhatri!”

“Bertanya kepadanya?” tanya Raden Sahid heran.

Abdul Jalil mengangguk. Bharatchandra Jagaddhatri yang melihat Raden Sahid masih terheran-heran, tanpa ditanya langsung berkata, “Apa yang dilakukan saudaraku dengan ajaran Adwayashastra (Ilmu Tauhid) yang disampaikannya kepada penduduk Nusa Jawa, sesungguhnya berkaitan dengan bakal berubahnya tatanan kehidupan manusia di dunia.”

“Perubahan tatanan kehidupan manusia?” gumam Raden Sahid makin heran.

“Ya, perubahan yang menjungkirkan tatanan lama ke tatanan baru.”

“Kami belum paham dengan penjelasan Paduka.”

“Jika dari dahulu hingga sekarang ini para pecinta benda-benda dan pengumbar nafsu rendah badani selalu ditempatkan pada kedudukan terendah, maka di masa datang merekalah yang bakal menduduki tempat tertinggi dalam tatanan kehidupan manusia. Manusia dihormati karena memiliki kekayaan melimpah atas benda-benda. Manusia dimuliakan karena menduduki jabatan dan pangkat dalam pemerintahan duniawi. Manusia ditakuti karena memiliki kekuatan senjata pembasmi kehidupan. Manusia disegani karena memiliki kepandaian menipu manusia lain. Sementara orang-orang suci yang menjauhi keduniawian akan dihina sebagai manusia tolol dan lemah,” kata Bharatchandra Jagaddhatri.

“Apakah itu berarti, kekuasaan dunia akan dipegang orang-orang sudra?”

“Kekuasaan dunia akan dikuasai para pecinta benda-benda dan pengumbar nafsu rendah badani. Mereka akan datang ke berbagai penjuru bumi untuk merampok benda-benda dan mengumbar nafsu-nafsu rendah badani mereka di mana-mana. Tidak ada satu pun kekuatan manusia yang dapat melawan mereka, kecuali kekuatan manusia-manusia yang bernaung di bawah Adwayasashtra yang menjauhi gemerlap harta benda dan mengikat kuat nafsu-nafsu rendah badaninya di bawah kendali hati yang dipancari cahaya Ilahi. Lantaran aku mengetahui bakal terjadinya perubahan tatanan itu, aku tinggalkan takhta untuk mengajarkan Adwayasashtra kepada manusia. Dan sekarang ini, tengara bakal terjadinya perubahan tatanan itu sudah mulai menampakkan wajahnya.”

“Kami paham, yang Paduka maksudkan wajah dari perubahan itu adalah orang-orang Portugis kelaparan yang mencari kemakmuran di negara lain. Mereka itulah kawanan pecinta harta benda yang bakal merampas dan merampok harta benda penduduk. Mereka itulah kawanan saudagar rakus yang bakal menguasai bandar-bandar perniagaan di seluruh negeri. Mereka itulah kawanan pecinta kekuasaan yang bakal menjajah negeri-negeri dan memperbudak penduduknya. Mereka kawanan dari makhluk-makhluk bayangan yang bakal menjadikan penduduk negeri sebagai mayat-mayat hidup tak berjiwa,” kata Raden Sahid.

Bharatchandra Jagaddhatri tertawa mendengar kata-kata Raden Sahid yang bergelora. Dia menepuk-nepuk bahu Raden Sahid sambil membisikkan sesuatu ke telinganya. Sejenak setelah itu, dia membalikkan badan dan melangkah ke arah hutan dan menghilang di balik pepohonan. Abdul Jalil yang berdiri di samping Raden Sahid tanpa menoleh bertanya lirih, “Dia membisikkan apa ke telingamu?”

“Rsir viprah pura-eta jananam.”

“Tahukah engkau artinya?”

“Kalau tidak salah, seorang rishi harus melihat ke arah depan dan bersikap bijaksana.”

“Itu kurang tepat, yang dia maksud adalah seorang guru harus memiliki wawasan ke depan dan bersikap bijaksana. Itu berarti, dia berharap engkau bisa menjadi guru yang bijaksana bagi umat manusia, bukan pertapa yang mengasingkan diri dari kehidupan duniawi,” kata Abdul Jalil.

“Saya paham, Paman.”

“Karena itu, mulai sekarang orang akan menyebut namamu Syaikh Malaya. Sebab, engkau telah beroleh pencerahan di Gunung Malaya melalui Rishi Agastya,” kata Abdul Jalil.

“Saya menerima sebutan itu dengan suka cita, Paman. Tetapi, ada satu hal yang ingin saya tanyakan kepada Paman,” kata Raden Sahid.

“Pertanyaan tentang apa itu?”

“Kenapa Paman meninggalkan saya?”

“Aku tidak ingin menjadi hijab antara dirimu dengan-Nya.”

Samudera Pacific (MV. Taho), 30 April 2007, 12:10LT