Pengantar Redaksi

Menulis sebuah riwayat tersohor yang telah melekat di benak orang dengan menggunakan sudut pandang yang lain dari yang selama ini ada, tentu saja memerlukan keberanian dan ketahanan. Dikatakan “berani” karena penulisnya membalikkan kisah-kisah yang cenderung mendiskreditkan sang tokoh, dengan menyodorkan kejutan demi kejutan sehingga tampaklah bahwa tokoh utama yang terlanjur terkenal dengan cap “penyebar ajaran sesat” itu ternyata adalah manusia mulia kekasih Tuhan. Sedangkan dikatakan perlu ketahanan karena si penulis harus mencari dan membaca rujukan-rujukan dari berbagai sumber lain. Pada halaman akhir buku ini kita dapat melihat sederetan sumber yang menjadikan kisah ini tidaklah bisa kita sebut sekadar “dongengan”.

Syaikh Siti Jenar, dialah tokoh fenomenal yang sejak dulu hingga kini tak henti ditulis orang. Sosoknya begitu berselimut misteri. Setiap orang ingin tahu kisah hidupnya, ajaran-ajarannya, “kesesatannya” (?), dan tentu saja akhir hidup yang kontroversial.

Sejak Mei 2003, ketika kami mulai menerbitkan buku pertama berjudul Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar, buku tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari para pembaca. Buku yang sekarang ada di hadapan kita ini adalah seri penutup dari trilogi yang kami pecah menjadi tujuh buku. Inilah buku paling tebal, yang paling lama penggarapannya, dan paling banyak halangannya. Ini menjadikan buku ini baru bisa hadir setelah sekian lama jeda.

Sekadar untuk menyegarkan ingatan kita, trilogi buku ini menceritakan babak-babak perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar. Trilogi pertama dari buku satu dan dua dengan detil mengisahkan perjalanan ruhani yang ditempuh seorang salik (Abdul Jalil alias Syaikh Siti Jenar) untuk mencapai maqam yang tinggi, yakni menjadi orang yang dekat dengan-Nya. Dalam buku satu dan dua itu diceritakan betapa berat perjalanan yang harus ditempuh Syaikh Siti Jenar untuk sampai pada maqam tertinggi itu. Ia harus melewati tujuh Lembah Kasal, tujuh Jurang Futur, tujuh Gurun Malal, tujuh Sungai Riya’, tujuh Rimba Sum’ah, tujuh Samudera ‘Ujub, dan tujuh Benteng Hajbun.

Trilogi kedua yang dikemas dalam buku ketiga, empat, dan lima yang berjudul Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar menjabarkan pembaharuan-pembaharuan yang digagas oleh Syaikh Siti Jenar, yang juga bergelar Syaikh Lemah Abang. Gagasan utama dari buku ketiga, empat, dan lima ini adalah upayan Syaikh Lemah Abang untuk membangkitkan kesadaran di dalam diri rakyat jelata bahwa mereka bukanlah budak dari penguasa. Mereka adalah diri yang merdeka. Diri yang bisa melampaui tingkatan hewan – manusia hewan – manusia – adimanusia. “ … Sejak manusia lahir ke dunia yang fana ini, tiap-tiap pribadi memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan sebagai makhluk paling sempurna keturunan Adam. Sebagai makhluk paling sempurna yang disebut adimanusia (insan kamil). Kalian semua diciptakan oleh Allah dengan maksud dijadikan wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).” (Sang Pembaharu, buku lima, hlm… ).

Di dalam trilogi kedua itu kita juga bisa melihat bagaimana Syaikh Siti Jenar merombak sistem raja-kawula atau gusti-kawula menjadi sistem kemasyarakatan yang ia sebut sebagai masyarakat ummah, yang terdiri atas kabilah sebagai satuan terkecil, kemudian nagari, dan lalu masyarakat ummah. Berdasarkan konsep masyarakat ummah itu, penentuan pemimpin masing-masing tingkatan itu tidak didasarkan atas keturunan, akan tetapi dipilih oleh sahabat-sahabat yang mengasihinya. Ukuran seorang pemimpin adalah memiliki derajat ruhani lebih tinggi dibandingkan manusia lainnya. Ia haruslah orang yang mempunyai keterikatan paling rendah terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu. Sistem kemasyarakatan ini sebenarnya diadopsi dari sistem kemasyarakatan Nabi Muhammad Saw..

Dari sini kita bisa paham mengapa Syaikh Siti Jenar kemudian dimusuhi banyak pihak. Yang jelas, dengan gagasan Syaikh Siti Jenar ini, para raja dan bangsawan merasa terancam kedudukannya, pengaruh kekuasaan mereka otomatis berkurang. Lalu, para pejabat di bawah raja hingga para kepala desa kehilangan sumber pendapatan mereka dari sewa tanah yang tadinya merupakan satu paket dengan konsep gusti-kawula. Sebab, sistem masyarakat baru yang dikembangkan Syaikh Siti Jenar tidak mengenal sewa tanah. Setiap warga berhak memiliki harta benda, termasuk sepetak tanah.

Adapun trilogi ketiga (buku keenam dan ketujuh), yang berjudul Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar, berisi tentang jawaban atas berbagai teka-teki dan juga misteri yang menyelimuti tokoh agung Syaikh Siti Jenar. Sesuai dengan judulnya, di dalam buku keenam dan terutama pada buku ketujuh, kita akan melihat bagaimana orang-orang yang tidak senang dan menaruh dendam kepada Syaikh Siti Jenar melakukan penjungkirbalikan terhadap ajaran-ajaran yang selama ini didakwahkan oleh Sang Syaikh. Dua tokoh yang mengaku sebagai Syaikh Siti Jenar, yakni Hasan Ali dan gurunya, San Ali Anshar, mengajarkan jalan ruhani (suluk) yang justru merusak tatanan yang telah dibangun oleh Syaikh Siti Jenar. Bahkan tindakan mereka telah banyak menyesatkan umat manusia. Oleh karena itu, ajaran Hasan Ali dan San Ali Anshar ini kemudian dijuluki sebagai Suluk Malang Sungsang, ajaran perjalanan ruhani (tarekat) yang mengakibatkan sang salik (pencari kebenaran) makin terhijab (tertutup) dan terjungkir kiblatnya dari Kebenaran Sejati yang ingin dituju.

Pada buku ketujuh ini, kita juga akan menemukan jawaban tentang akhir dari perjalanan hidup Syaikh Siti Jenar. Buku ketujuh ini sekaligus menjawab tentang kesimpangsiuran informasi tentang kematian Syaikh Siti Jenar. Informasi yang menyatakan bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Dewan Walisongo di Masjid Demak terbukti tidaklah benar. Justru Hasan Ali dan San Ali Anshar – dua tokoh yang mengaku sebagai Syaikh Siti Jenar, yang menyebarkan ajaran sesat – itulah yang dibunuh.

Dengan hadirnya buku ketujuh ini, maka lengkaplah sudah seri buku “Syaikh Siti Jenar”. Dan, dengan demikian, terjawablah sudah seluruh teka-teki dan misteri yang menyelimuti tokoh agung Syaikh Siti Jenar; mulai dari asal usul, perjuangan, ajaran ruhani, hingga akhir dari perjalanan hidupnya. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Agus Sunyoto, yang telah merampungkan karya “besar” ini dengan penuh kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi segala tantangan dan cobaan. Kepada pembaca yang budiman, kami sampaikan Selamat Membaca.