Cambuk Peringatan Tuhan

Selimut keremangan malam telah disingkapkan oleh fajar gemilang yang terbit dari balik pegunungan Nilgiri yang memunggungi Kozhikode. Gemerisik daun-daun kelapa terdengar lembut dibawa embusan angin yang bertiup dari laut. Kumbang-kumbang beterbangan di tengah embun yang terangkat ke angkasa. Burung-burung berkicau sambil berlompatan di balik rimbun pepohonan. Kokok ayam hutan terdengar nyaring membelah keheningan pagi. Suasana pagi di pinggiran Kozhikode terasa sejuk dan riang, meski sisa-sisa kabut tipis masih terlihat di permukaan tanah.

Agak berbeda dengan suasana di pinggiran kota, di kawasan perkampungan Kozhikode yang menuju arah pusat kota, suasana pagi yang sejuk dan riang itu tidak lagi terasa. Dengung kumbang, kicau burung, kokok ayam hutan, gemerisik daun-daun kelapa, dan sejuknya embun di tengah semburan cahaya mentari pagi tak ada lagi. Suasana pagi diwarnai kesibukan luar biasa dari orang-orang berkeringat yang berjalan hilir mudik di tengah dentang suara palu, gemuruh bising gergaji, detak ladam kuda, derit roda kereta, dan teriakan-teriakan orang menghardik budaknya. Pagi itu suasana memang sibuk sebab kapal-kapal baru buatan galangan kapal Beypore yang dipesan Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut kepercayaan Samutiru, telah bersandar di pelabuhan Kozhikode. Kapal-kapal itu konon akan digunakan untuk menggempur armada Portugis yang berpangkalan di bandar Cochazhi (Cochin).

Galangan kapal Beypore adalah galangan kapal terbesar di wilayah kekuasaan Samutiru, bahkan terbesar di sepanjang pantai Malabar. Kapal-kapal dan perahu besar pesanan saudagar dari berbagai negeri dibuat di situ oleh tukang-tukang yang terampil yang mewarisi keahlian itu secara turun-temurun. Namun, belakangan ini menurut kabar yang tersebar di kota, segenap tenaga para pembuat kapal di Beypore dikerahkan untuk membuat kapal-kapal dengan ukuran besar. Kapal-kapal itu kabarnya akan dilengkapi dengan meriam-meriam seperti kapal-kapal milik Portugis. Bukan hanya menyiapkan kapal-kapal, Laksamana Kunjali Marakkar kabarnya sedang menyiapkan kekuatan tempur untuk menggempur armada Portugis yang bersekutu dengan raja Cochazi. Sebuah pertempuran besar tampaknya bakal pecah antara kekuatan Kozhikode di satu pihak dengan kekuatan Cochazi dan Portugis di pihak lain.

Tindakan brutal Vasco da Gama membantai jama’ah Muslim Kozhikode yang baru kembali dari tanah suci, membunuh dan memotong-motong tubuh nelayan-nelayan Hindu, menyandera penduduk, menginginkan kematian seluruh penduduk muslim Kozhikode, menembaki kota Kozhikode dengan meriam, dan mengancam-ancam Samutiru, tampaknya berbuntut panjang. Bukan hanya Samutiru dan penduduk Kozhikode yang merasa tertampar harga diri dan kehormatannya, melainkan seluruh penduduk muslim di Bharatnagari tersulut amarahnya dengan tindak biadab itu. Seluruh penduduk muslim Bharatnagari – terutama para saudagar, ulama, dan pemuka masyarakat – berkobar-kobar semangatnya untuk membalas kematian saudara mereka seiman yang sudah direndahkan oleh orang kafir. Tanpa ada yang meminta, saudagar-saudagar muslim dari kota-kota niaga di negeri Dekkan, Gujarat, Bengala, Sokotra, Yaman, Basrah, hingga Mesir diam-diam memberikan dukungan kepada penguasa Kozhikode untuk melawan Portugis.

Semangat perlawanan orang-orang Kozhikode yang berkobar-kobar tampaknya memiliki kaitan dengan watak kota yang melahirkan mereka. Kozhikode pada awalnya bukanlah kota perniagaan. Ia lahir sebagai sebuah benteng pertahanan di wilayah Ponniankara sekitar abad ke dua belas. Benteng itu dibangun oleh raja Emad, Udaiyavar, setelah berhasil menaklukkan Raja Polatthiri. Benteng itu disebut Velapuram dan diserahkan penguasaannya kepada Nediyirippu (Panglima Penakluk) bernama Swami Nambiyathiri Thirumulpad, yang termasyhur dengan sebutan Samutiru atau Samuthiri. Sebagaimana layaknya sebuah benteng, pada perkembangannya di sekitar Velapuram mulai bermunculan pemukiman yang lambat laun tumbuh sebagai kota kecil. Benteng yang menjadi kota kecil itu kemudian disebut orang dengan nama Koyilkotta (istana benteng).

Di bawah kekuasaan Samutiru yang diwariskan secara turun-temurun ke anak cucu, Koyilkotta berkembang menjadi kota perniagaan antara bangsa, terutama akibat pengaruh saudagar-saudagar keturunan Arab yang disebut suku Mappila. Koyilkotta dikenal sebagai salah satu bandar perniagaan rempah-rempah terbesar di India. Lantaran yang berniaga ke Koyilkotta adalah saudagar-saudagar dari berbagai negeri yang jauh, lafal pengucapan untuk menyebut Koyilkotta pun menjadi beragam. Ada yang melafalkan Koyilkotta dengan Kozhikode, ada yang melafalkan Kalikat, Kalifo, dan belakangan orang Portugis melafalkan: Calicut.

Sekalipun Kozhikode telah berkembang menjadi kota niaga antara bangsa, citra keberadaannya sebagai kota benteng tetap tidak sirna dari ingatan penduduk. Itu sebabnya, sejak awal kehadiran orang-orang Portugis yang menipu Samutiru sehingga penduduk menyangka mereka kawanan bajak laut, penduduk sudah menyerang mereka sebagai musuh berbahaya. Bahkan, sejak penduduk berselisih dengan Pedro Alvares Cabral hingga menjadi tindakan ganas Vasco da Gama membombardir kota Kozhikode, keterlibatan penduduk Kozhikode untuk membela kehormatan kotanya sangatlah besar.

Sebagai penguasa, sesungguhnya Samutiru tidak ingin peperangan terjadi di wilayah kekuasaannya. Dalam berselisih dengan Portugis, ia selalu mengambil jalan damai. Saat Vasco da Gama mengancam agar penduduk Muslim Kozhikode dibunuh semua, ia meminta kepada warganya untuk pergi meninggalkan Kozhikode. Untuk menghindari kesalahpahaman dengan maharaja Wijayanagara, ia pun secara halus meminta kepada saudagar-saudagar Mappila yang menjadi abdi maharaja Wijayanagara untuk menyingkir sementara dari Kozhikode. Namun, sikap mengalah Samutiru itu tidak cukup berhasil meredam semangat penduduk. Ketika sebagian warga muslim Kozhikode berlayar ke negeri-negeri di selatan, orang-orang Mappila justru enggan meninggalkan Kozhikode. Mereka menyingkir dari kota, tapi tinggal tidak jauh dari situ. Mereka tinggal di Valapattanam, Thikkodi, Pandalayani, dan Kakkadu. Orang-orang Mappila yang menganggap Kozhikode sebagai negeri kelahirannya memang sulit meninggalkan begitu saja kota yang mengukir jiwa mereka. Alih-alih mengungsi ke kota-kota terdekat, mereka diam-diam menyiapkan kekuatan bersenjata untuk melawan Portugis. Mereka mendorong Laksamana Kunjali Marakkar, pemuka muslim Kozhikode yang terkenal kegagahannya, agar melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Portugis di mana pun berada. Lewat saudagar-saudagarnya, orang-orang Mappila diam-diam membeli bedil, pedang, tombak, dan bedil besar bikinan Kuthiramalika di Tanjore untuk digunakan menyerang orang-orang Portugis.

Sebagaimana warga muslim Kozhikode yang lain, Laksamana Kunjali Marakkar tidak setuju dengan kebijaksanaan Samutiru yang cenderung mengalah kepada Portugis. Mengalah kepada musuh sama maknanya dengan membiarkan Kozhikode kehilangan ruh kepahlawanannya. Laksamana Kunjali Marakkar pun berusaha membangkitkan semangat Samutiru untuk melawan Portugis lewat pengungkapan kembali kisah-kisah keperkasaan leluhur Samutiru yang menjadi penguasa benteng Velapuram. Akhirnya, Samutiru sepakat untuk melawan. Samutiru lalu memerintahkan orang untuk memperbaiki dan memperkuat benteng lama di Kottapadi yang letaknya dekat dengan Kuil Syiwa dan Kuil Vettakkorumakan. Ia menunjuk Parnambi, kepala suku setempat, untuk menjadi penguasa benteng dan sekaligus pelatih keprajuritan di benteng tersebut. Laksamana Kunjali Marakkar pun diberi keleluasaan untuk membangun angkatan laut Kozhikode sekuat mungkin.

Upaya diam-diam Samutiru membangun kekuatan militer tidak diketahui Portugis maupun seteru lamanya, raja Cochazhi. Vasco da Gama dan raja Cochazhi melakukan pembaharuan perjanjian yang pernah dibuatnya dengan Cabral. Vasco da Gama juga mengajak raja Cochazhi untuk membuat persekutuan dagang yang disebut feitoria di Cochazhi. Untuk menunjukkan taring kegarangan sebagai pemenang, Vasco da Gama sengaja membiarkan awak kapalnya mencari hiburan di Kozhikode pada malam hari. Dengan keyakinan bahwa Kozhikode sudah benar-benar bertekuk lutut, Vasco da Gama kembali ke Portugal membawa kapal-kapalnya yang penuh muatan rempah-rempah. Ia sengaja meninggalkan seratus serdadu dan tiga kapal di bawah Francisco d’Albuquerque yang ditugaskan melindungi Cochazhi, dan Duarte Pacheco Pereira yang ditugaskan menjadi penasihat raja Cochazhi, dengan keyakinan bahwa Samutiru tidak akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepentingan Portugis.

Bagian terbesar penduduk muslim Kozhikode yang disebut suku Mappila adalah orang-orang yang leluhurnya berasal dari negeri Yaman dan Teluk Persia. Berdasar cerita tutur yang samar-samar masih diingat oleh generasi muda Mappila, para dhatu leluhur mereka adalah pejuang pembela ahlul bait dari kalangan Syi’ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Karena musuh mendesak terus dari daratan maka leluhur mereka itu terdesak ke pantai dan lari meninggalkan negerinya lewat laut. Mereka mendarat dan kemudian tinggal di wilayah Kerala serta di sebagian tempat di dalam negeri Wijayanagara. Sebagai pelarian, mereka berusaha bertahan dengan cara berkompromi dengan penduduk sekitar yang beragama Hindu. Sadar dengan keberadaan diri sebagai warga pendatang, mereka melindungkan diri di bawag kekuasaan raja-raja setempat yang beragama Hindu dan bersedia menjadi abdi setia dari raja-raja tersebut.

Tidak banyak catatan sejarah ditulis orang tentang kehidupan dhatu leluhur orang-orang Mappila yang merintis kehidupan awal di negeri tersebut. Serpihan sejarah hanya mencatat bahwa negeri-negeri di selatan Bharatnagari yang termasuk di dalamnya wilayah Kerala tidak pernah sepi dari peperangan. Itu berarti, dhatu leluhur orang-orang Mappila yang lari dari negeri kelahirannya karena kalah perang harus bisa bertahan hidup di negeri baru yang ternyata tidak pernah benar-benar padam dari nyala api peperangan. Sejak pertempuran antar penguasa setempat, Dantidurga dengan Chalukya, orang-orang Mappila seolah-olah dipaksa oleh takdir untuk menyaksikan dan seringkali terlibat dalam pertempuran antarraja besar dan kecil di sekitar mereka. Bersama-sama penduduk pribumi Kerala, mereka berusaha bertahan dari tekanan-tekanan peperangan yang terus membara dari waktu ke waktu.

Boleh jadi akibat kesamaan nasib karena terus-menerus menjadi korban peperangan, orang-orang Mappila keturunan Arab asal Yaman dan Teluk Persia itu pada gilirannya dapat berbaur dengan penduduk setempat yang menganut Hindu dan Jaina. Bukan hanya dalam hal bahasa Malayalam yang mereka gunakan sebagai bahasa ibu, melainkan adat istiadat dan kepercayaan mereka pun menunjukkan hasil perpaduan antara pengaruh Islam-Hindu-Jaina. Lantaran itu, adat istiadat mereka agak berbeda dengan muslim lain di Bharatnagari. Sekalipun hampir seluruh penduduk muslim Kerala mengaku sebagai muslim penganut Sunni dan bermadzhab Syafi’i, secara aneh mereka menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang lazimnya dijalankan oleh penganut Syi’ah, Hindu, dan Jaina.

Sebagaimana lazimnya penganut Syi’ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah, orang-orang muslim Mappila memiliki adat istiadat dan kepercayaan khas, yaitu mengadakan upacara khaul bagi orang yang meninggal. Mereka membacakan talqin kepada jenasah. Mereka memperingati Maulid Nabi Saw. dengan tontonan-tontonan, nyanyian-nyanyian yang disebut Mappila Pattukal, musik, dan upacara makan-makan yang disebut kenduri. Mereka memperingati bulan Muharam dengan upacara-upacara melarung tabut Hasan dan Husein di laut dan membuat bubur Asyura. Mereka suka berziarah ke kubur wali-wali untuk meminta berkah. Mereka melakukan pula upacara yang disebut Nercha untuk meminta perlindungan kepada arwah pelindung suku dan desa, dengan mempersembahkan suguhan utama kue-kue bulat dari tepung beras yang disebut appam. Hampir semua ulama Mappila mengaku bernasab kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan orang-orang Mappila itu ternyata diikuti begitu saja oleh penduduk asli yang belakangan memeluk Islam. Malahan, mereka tidak sekadar ikut-ikutan adat istiadat orang Mappila, melainkan membaurkannya dengan adat istiadat mereka. Akibatnya, terjadi keanehan-keanehan yang mencengankan dari kebiasaan hidup sehari-hari penduduk muslim di Kerala dan terutama di kota Kozhikode. Penduduk muslim setempat yang umumnya berasal dari suku-suku berkasta rendah dalam tatanan masyarakat Hindu sangat suka menggunakan gelar-gelar asing seperti Syaikh, Khan, Sayyid, Syarif, dan Beg untuk menunjukkan kesetaraan kedudukannya dengan masyarakat muslim yang lain. Hal itu tentu menyulitkan orang untuk membedakan keberadaan mereka dengan suku Mappila maupun dengan saudagar-saudagar Arab pendatang. Ulama-ulama setempat pun, sebagaimana ulama-ulama suku Mappila, secara menakjubkan mengaku memiliki susunan silsilah leluhurnya yang merujuk kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala ternyata tidak cukup menunjukkan citra budaya yang lazim dijalankan orang-orang Syi’ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Secara nyata, mereka mengikuti pula adat istiadat dan kepercayaan penduduk setempat yang beragama Hindu dan Jaina. Setiap tahun, misalnya, mereka berduyun-duyun datang ke Masjid Pazhayangadi di kota Kondotti untuk mengadakan upacara Nercha selama empat hari dengan sesaji utama kue appam, namun setelah dari masjid mereka biasanya datang ke Kuil Kodungallur untuk mengikuti upacara Bhadrakalipattu, tempat orang Hindu memuja Bhadrakali. Mereka bersembahyang di Masjid Puthangadi, namun setelah itu berziarah ke Kuil Tirumandankunnu di dekatnya, untuk memuja Durga. Penduduk beragama Hindu pun melakukan hal yang sama: setelah berziarah ke Kuil Sri Dharmasatha untuk memuja Ayyappa dengan upacara Petta-Thullal atau Kanni Ayyappa, mereka berziarah ke Masjid Vavar di dekatnya karena Vavar yang muslim adalah sahabat Ayyappa.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala memang aneh. Sekalipun dalam kehidupan kemasyarakatan mereka terkenal sangat setia kepada rajanya, dalam hal keruhanian mereka sangat mendewakan ulama-ulama panutannya. Hampir setiap orang Mappila dan muslim Kerala memiliki anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan selain adalah keturunan Nabi Muhammad Saw., juga merupakan wali Allah yang suci dari dosa (maksum). Bahkan, keluarga dari ulama pun mereka muliakan sedemikian rupa seolah-olah mereka ikut terpancari kemaksuman tersebut.

Dengan anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan adalah keturunan Nabi Muhammad Saw. dan sekaligus wali Allah yang maksum, kepatuhan para pengikut pun menjadi mutlak. Ulama panutan yang umumnya memiliki kepandaian menyembuhkan orang sakit dan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari itu menjadi pusat ketergantungan bagi para pengikutnya. Mereka seolah-olah menggantikan peran pendeta dalam masyarakat Hindu, meski mereka paham bahwa di dalam Islam tidak ada kependetaan. Itu sebabnya, saat ulama panutan meninggal, makamnya akan dijadikan pusat ziarah oleh para pengikutnya sebagai makam keramat seorang wali. Untuk mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan yang menguntungkan kedudukannya itu, mereka secara turun-temurun mewajibkan kepada semua pengikutnya untuk taklid buta.

Pagi sudah menjelang siang. Matahari tinggi di langit timur. Cahayanya merata di permukaan bumi Kozhikode. Di sebuah rumah besar yang terletak tak jauh dari benteng, di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berseliweran di jalan-jalan, di sela-sela embusan angin pantai yang menerpa setiap bangunan di kota, Abdul Jalil duduk bersila di sudut ruangan bersama Raden Sahid dan pemilik rumah, Salim Chandidas, menantu saudagar Ramchandra Gauranga, pengikut setia Bharatchandra Jagaddhatri. Di sampingnya terlihat Bardud, anaknya yang berusia sekitar empat belas tahun, menyandarkan kepalanya ke bahunya.

Siang itu Abdul Jalil sedang menunggu keberangkatan kapal yang bakal membawanya ke Pasai. Menurut jadwal, kapal baru akan berlayar setelah kegelapan menyelimuti bumi. Agak berbeda dengan kelaziman pelayaran sebelumya, di mana kapal-kapal dari Kozhikode dapat berlayar setiap waktu, saat itu orang cenderung memilih berlayar malam. Alasannya, untuk menghindari ancaman kapal-kapal Portugis. Para nakhoda banyak memilih waktu malam untuk membawa kapalnya keluar dari pelabuhan Kozhikode karena saat itu kelasi-kelasi Portugis sibuk menghibur diri di kedai-kedai Cochazhi maupun Kozhikode. Biasanya, dengan mengambil jarak memutar yang cukup jauh dari pantai, kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Kozhidode akan menerobos kegelapan malam tanpa penerangan lampu sampai ke tengah lautan bebas.

Selama menunggu keberangkatan kapal, Abdul Jalil menangkap kegelisahan jiwa Salim Chandidas yang ditutup-tutupi dengan senyum dan keramahan. Itu sebabnya, usai berbincang-bincang tentang gerakan diam-diam penduduk Kozhikode yang mendukung Laksamana Kunjali Marakkar melawan Portugis, Abdul Jalil bertanya dengan nada menyindir, “Apakah setiap akan melepas kapal para saudagar Kozhikode selalu dibayangi kecemasan dan kekhawatiran bakal diserang Portugis?”

Salim Chandidas tercekat kaget. Setelah diam sejenak dia berkata, “Kami kira, semua pemilik kapal di Kozhikode sekarang ini sedang dicekam kegelisahan setiap kali akan melepas kapalnya. Kapal-kapal Kozhikode yang memuat barang perniagaan terutama rempah-rempah, belakangan ini sering tidak kembali ke pangkalannya. Kapal-kapal itu lenyap begitu saja seperti ditelan laut. Menurut kabar yang berkembang, kapal-kapal itu dirampas muatannya dan kemudian ditenggelamkan oleh orang-orang Portugis. Tetapi, tuduhan bahwa Portugis sebagai pelaku tindak kejahatan itu sejauh ini belum bisa dibuktikan karena tidak ada satu orang pun di antara awak kapal yang hilang itu pernah kembali ke pangkalannya.”

“Apakah Laksamana Kunjali Marakkar dan penduduk akan menyerang Portugis jika kedapatan bukti bahwa merekalah pelaku perampasan kapal?” tanya Abdul Jalil.

“Itu sudah pasti, Tuan Syaikh,” kata Salim Chandidas dengan gigi berkerut-kerut menahan amarah, “hal itu kami kira tinggal menunggu waktu saja.”

“Berarti, selama ini kabar yang beredar di kalangan penduduk tentang kapal-kapal niaga yang ditenggelamkan Portugis itu belum bisa dibuktikan kebenarannya? Maksudnya, semua kabar itu masih sangkaan?”

“Bukti nyata memang belum ada, Tuan Syaikh,” kata Salim Chandidas menarik napas panjang dengan wajah makin merah. “Tetapi, secara sederhana orang yang paling awam pun wajib mencurigai Portugis. Sebab, selama beratus-ratus tahun negeri Kozhikode berniaga belum pernah terjadi peristiwa seperti ini. Bayangkan, dalam waktu beberapa bulan sejak kehadiran Portugis sudah belasan kapal niaga Kozhikode yang membawa muatan rempah-rempah raib di tengah laut. Padahal, semua orang mengetahui kapal-kapal Portugis yang berkeliaran di lautan kita itu memiliki tujuan utama membeli rempah-rempah.”

“Jadi, yang raib itu hanya kapal-kapal yang memuat rempah-rempah?”

“Ya.”

“Apakah kapal yang akan kami tumpangi nanti memuat rempah-rempah?”

“Itu memang kapal untuk memuat rempah-rempah. Tetapi, kalau berangkat dari Kozhikode biasanya membawa barang-barang niaga lain untuk ditukar dengan rempah-rempah. Muatan rempah-rempah baru diangkut setelah kapal kembali dari negeri Jawi,” kata Salim Chandidas.

“Tapi, kami dengar kapal-kapal milik orang Cochazhi tidak ada satu pun yang hilang sebab penguasa mereka bersekutu dengan Portugis. Apakah orang-orang Kozhikode tidak bisa menjalin hubungan baik dengan Portugis sebagaimana dilakukan orang Cochazhi?” tanya Abdul Jalil.

“Itu tidak mungkin, Tuan Syaikh,” sahut Salim Chandidas tegas. “Sejak awal kedatangannya, orang-orang Portugis sudah menempatkan diri sebagai kawanan bajak laut yang menipu penguasa Kozhikode. Selain itu, Portugis dengan kekejamannya yang menjijikkan telah membantai penduduk Kozhikode dan mengancam-ancam raja kami. Lantaran itu, baik penduduk muslim maupun Hindu di Kozhikode ini tidak akan sudi berbaik-baik dengan Portugis, sedangkan orang-orang Cochazhi ikut dengan kebijakan penguasanya yang bersahabat dengan Portugis karena mereka orang-orang yang lemah dan kurang percaya diri.”

“Berarti, musuh Kozhikode sekarang ini bertambah berat karena Portugis bersekutu dengan Cochazhi. Bahkan, kabar terakhir yang kami dengar, orang-orang Portugis sedang membangun benteng di tepi sungai Periyar dekat muara,” kata Abdul Jalil.

“Itulah masalah rumit yang sedang kami hadapi. Para penguasa negeri saling berseteru. Tidak ada yang mau mengalah. Dan, Portugis kelihatannya memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingannya sendiri,” kata Salim Chandidas dengan nada kurang bersemangat.

Abdul Jalil termangu-mangu sambil mengelus-elus janggutnya. Ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian sedang menggantung di langit Kozhikode. Tidak lama lagi hujan dan angin peperangan akan melanda negeri itu bersama ledakan halilintar yang mengiringi kedatangan Ya’juj wa Ma’juj. Darah akan membanjir. Sang Maut akan meniup terompet Kematian di tengah mayat-mayat yang berserak di mana-mana. Secara tiba-tiba ingatannya melesat ke Nusa Jawa. Apakah Nusa Jawa juga akan dilintasi mendung hitam Kematian?

Sekejap mengingat Nusa Jawa, ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian tidak akan melintas di langit Nusa Jawa. Sebab, peristiwa pecah belah antarpenguasa sebagaimana yang terjadi di negeri Kerala, sepengetahuannya, sudah tidak terjadi lagi di Nusa Jawa. Para adipati di sepanjang pesisir Nusa Jawa sudah bersatu dalam suatu persekutuan di bawah kepemimpinan Sultan Demak. Persekutuan para penguasa daerah itu memiliki tujuan utama menegakkan Tauhid di tengah kehidupan masyarakat. Persekutuan adipati-adipati itu pun didukung penguasa Majapahit, Japan, dan Blambangan sehingga tidak ada alasan untuk berperang.

Sebagaimana lazimnya tatanan kekuasaan yang didasarkan atas kaidah-kaidah tasawuf, yang menempatkan kekuasaan duniawi di bawah kekuasaan ruhani, demikianlah dalam persekutuan adipati-adipati di Nusa Jawa itu. Sultan Demak dan adipati-adipatinya berada di bawah naungan kekuasaan ruhani para guru suci yang tergabung dalam Majelis Wali Songo, Sultan Demak selaku pemimpin persekutuan adipati wajib menjalankan tatanan agama berdasarkan Tauhid kepada seluruh penduduk. Untuk itu, Sultan Demak selain bergelar Amir al-Mu’minin juga beroleh gelar Khalifah ar-Rasul Sayidin Panatagama dari Majelis Wali Songo. Dengan tatanan kekuasaan sebagaimana diterapkan di Nusa Jawa yang ditegakkan atas asas Tauhid itu, Abdul Jalil sangat yakin jika kekuatan Portugis tidak akan dapat menembus Nusa Jawa. Ia sangat yakin Allah tidak akan menimpakan malapetaka kepada umat yang bertauhid dengan cara menyerahkannya kepada musuh yang keji dan biadab.

Ketika sore tiba, Abdul Jalil dan Raden Sahid terlihat berdiri di sudut jalan yang menuju dermaga Kozhikode. Sambil memandangi kapal-kapal dan perahu-perahu yang diayun-ayun gelombang laut, di tengah kerdipan cahaya kuning matahari yang memantul di permukaan air, Abdul Jalil menangkap sasmita di balik rangkaian penderitaan yang dialami penduduk muslim Kozhikode sejak kehadiran orang-orang Portugis. Orang-orang malang itu sesungguhnya sedang dicambuk oleh peringatan Tuhan melalui keganasan Ya’juj wa Ma’juj dalam wujud orang-orang Portugis. Dengan kobaran dari senjata-senjata penyembur api, ketenangan hidup penduduk muslim Kozhikode dijungkirbalikkan. Sasmita itu sendiri sejatinya sudah ditangkapnya bertahun-tahun silam saat ia berada dalam perjalanan dari Gujarat menuju Goa.

Setelah beberapa jenak merenung-renung tentang sasmita yang ditangkapnya, dengan suara lain ia berkata-kata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Sesungguhnya, Allah telah menetapkan perintah agar kaum beriman hanya menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan ilah-ilah selain Dia (QS. al-Baqarah: 21 – 22; an-Nisa:36). Sesungguhnya, jalan yang lurus adalah menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa (QS. Ali Imran: 51). Sebab, Allah adalah Sang Pencipta, Yang Maha Memelihara, Maha Melihat, Mahahalus, Maha Mengetahui (QS. al-An’am: 101 – 103), meliputi segala sesuatu (QS. al-A’raf: 89; al-Anfal: 47; Hud: 92), juga meliputi seluruh manusia (QS. al-Isra: 60).”

“Karena Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Menyesatkan (al-Mudhill) dan Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi) yang mengejawantahkan kehendak Zat Yang Mahamutlak secara rahasia selalu berjalin berkelindan dan berganti-ganti dalam menunjuki dan menyesatkan manusia (QS. al-Fathir: 8), melalui pengilhaman terhadap jiwa manusia atas kefasikan dan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8), maka manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) terpilah sesuai Asma’, Af’al dan Shifat-Nya, yaitu menjadi golongan yang disesatkan dan golongan yang diberi petunjuk. Mereka yang disesatkan akan dilimpahi azab Allah yang pedih (QS. Shad: 26).”

“Sesungguhnya, tanda paling terang dari kesesatan dan ketakwaan suatu umat terlihat dari curahan azab dan limpahan rahmat yang diterima masing-masing laksana perbedaan antara pancaran cahaya dan selimut kegelapan. Dia (al-Hadi) mengeluarkan orang beriman dari kegelapan menuju cahaya, sedangkan setan (pengejawantahan kuasa al-Mudhill) mengeluarkan orang ingkar dari cahaya ke dalam kegelapan (QS. al-Baqarah: 256 -257). Mereka yang sesat itu mengikuti jalan thaghut dan menganggap kaum beriman sesat (QS. an-Nisa: 51, 60). Padahal mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah (QS. al-Maidah: 60).”

“O penduduk Kozhikode, kefasikan apa yang sesungguhnya telah kalian lakukan hingga membuat cambuk Allah dilecutkan atas kalian? Sesungguhnya, Allah tidak pernah membinasakan kota-kota kecuali penduduknya telah melakukan kezaliman dan kefasikan (QS. al-Qashash: 59; al-Ankabut: 34). Semoga lecutan cambuk dari-Nya tidak membinasakan, tetapi hanya menjadi peringatan agar kalian kembali meneguhkan Tauhid; semata-mata menyembah Allah dengan benar dan menjauhi penyembahan kepada thaghut.”

Raden Sahid yang mendengar kata-kata Abdul Jalil itu memegang keningnya. Dia berusaha merangkai makna di balik ucapan Abdul Jalil dengan kenyataan pedih yang dialami penduduk Kozhikode, yang dicekam kegelisahan akibat tindakan-tindakan orang Portugis yang ganas. Setelah beberapa jenak merenung, dia bertanya kepada Abdul Jalil, “Apakah Paman menganggap bahwa kemalangan nasib yang dialami orang-orang muslim di Kozhikode berkaitan dengan kemerosotan Tauhid mereka?”

“Itulah sasmita perlambang yang aku tangkap.”

“Kami pun menangkap sasmita seperti Paman. Semula, kami melihat orang-orang muslim di Kozhikode sebagai muslim yang baik dalam akidah. Tetapi, belakangan kami mendapati kenyataan lain di mana kebanyakan mereka itu tanpa sadar telah mengikuti kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang dari prinsip-prinsip Tauhid. Kebanyakan mereka telah menyimpang dari jalan yang benar (fasik). Mereka banyak yang terseret keluar dari jalan Tauhid dan cenderung menjadi umat yang durhakan kepada Allah,” kata Raden Sahid.

“Tahukah engkau, o Anakku, bahwa mereka yang bersembahyang di masjid umumnya hanya kalangan ulama dan murid-muridnya?” tanya Abdul Jalil.

“Ya, kami tahu itu.”

“Tahukah engkau apa yang dilakukan seumumnya penduduk jika mereka datang ke masjid?”

“Kami melihat orang-orang datang ke masjid tidak untuk bersembahyang. Sebaliknya, mereka berziarah ke makam para wali yang terletak di belakang mihrab.”

“Sungguh aneh umat ini. Apakah mereka kaum penyembah Allah atau kaum penyembah kubur?”

“Setahu kami, mereka datang berziarah ke kuburan untuk meminta pertolongan dan berkah dari ahli kubur yang mereka anggap wali.”

“Bagaimana mereka tahu bahwa ahli kubur yang diziarahi dan dijadikan perantara meminta pertolongan itu wali Allah?” kata Abdul Jalil dengan suara ditekan tinggi. “Bukankah keberadaan wali Allah itu dirahasiakan oleh-Nya dari pandangan awam? Tidakkah engkau mengetahui bahwa di dalam tiap-tiap hati dan pikiran muslim di Kozhikode, sejatinya terselip anggapan bahwa setiap ulama panutan mereka adalah wali Allah? Tidakkah engaku mengetahui betapa mereka meyakini jika ulama-ulama mereka itu suci dan terbebas dari dosa (maksum) seperti Nabi Saw., sehingga patut bagi penduduk untuk memuja kuburan mereka? Tidakkah engkau mengetahui, o Anakku, berapa banyak penduduk muslim Kozhikode yang berziarah ke makam-makam untuk mencari berkah agar keinginan nafsunya terpenuhi? Tahukah engkau, selain meminta berkah ke kuburan ulama yang mereka anut, mereka juga sering kedapatan meminta berkah ke Kuil Durga dan Bhadrakali dengan mengikuti upacara-upacara yang mengancam prinsip-prinsip Tauhid?”

“Tahukah engkau betapa banyak di antara kaum muslimin Kozhikode diam-diam memelihara ular rumah (sarpa-kavu) yang mereka dapat dari Kuil Mannarasala tempat memuja Nagaraja? Tahukah engkau betapa mereka meyakini jika ular-ular itu bisa memberikan berkah keselamatan terhadap mereka? Dan, tahukah engkau berapa banyak di antara mereka yang tewas akibat dipatuk ular peliharaan itu?”

“Ya, kami tahu itu.”

“Tidakkah engkau mengetahui juga bagaimana ulama-ulama Kozhikode hampir selalu mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa berdoa langsung kepada Allah adalah sesuatu hal yang mustahil bisa dilakukan, karena manusia terlalu kotor dan penuh dosa? Tahukah engkau bahwa mereka mewajibkan kepada pengikut-pengikutnya untuk menggunakan wasilah kepada wali-wali dalam memohon pertolongan Allah dan yang diwalikan itu ternyata adalah diri ulama itu sendiri?”

“Kami tahu itu, Paman. Mereka berdalih dengan iktibar bahwa orang awam biasa tidak akan mungkin bisa bertemu raja tanpa melewati pengawal kerajaan atau orang-orang yang dekat dengan raja. Sementara, para wali Allah adalah sahabat-sahabat Allah yang senantiasa berkenan menjadi wasilah untuk menyampaikan doa umat kepada Allah Yang Mahasuci. Tapi Paman, bukankah wasilah melalui wali-wali diperbolehkan bagi orang awam?”

“Wasilah tidak dilarang asalkan yang dijadikan wasilah adalah benar-benar wali Allah yang sempurna (kamil al-mukamil). Tapi, berapa banyak di antara ulama atau kuburan yang disucikan orang-orang itu sesungguhnya tidak terkait dengan keberadaan wali Allah? Tidakkah engkau mengetahui, ulama Kozhikode dari waktu ke waktu selalu berusaha meyakinkan para pengikutnya agar mempercayai bahwa mereka adalah wali Allah? Padahal, berapa banyak di antara mereka itu sejatinya adalah pembohong besar? Mereka banyak yang berbohong mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw. dengan membuat susunan silsilah palsu.”

“Sungguh menyedihkan nasib umat muslim di negeri ini. Sebab, mereka dipimpin oleh ulama-ulama yang tidak mencerminkan citra pewaris Nabi: Suka menumpuk kekayaan. Gemar menghimpun tanah wakaf untuk dijadikan milik pribadi. Mempekerjakan murid-murid di tanah-tanah itu tanpa upah sepeser pun. Lalu, menempatkan diri sebagai pengabsah bagi kebijakan-kebijakan penguasa yang sering menzalimi masyarakat. Melipat-lipat dan membentuk tafsiran ayat-ayat Allah sesuai kepentingan penguasa yang menyuap mereka. Menata dalil-dalil untuk menguntungkan kepentingan mereka. Sungguh, kemuliaan dan keluhuran ulama sebagai wakil al-Alim di muka bumi telah mereka tukar dengan pengabdian membuta kepada harta benda dan kekuasaan. Mereka tanpa punya rasa malu telah menekuk lutut dan memperbudak diri sendiri kepada penguasa dengan imbalan sangat murah,” kata Abdul Jalil tegas.

“Apakah mereka akan dibinasakan Allah?”

“Aku tidak menangkap sasmita bahwa mereka bakal dibinasakan Allah,” kata Abdul Jalil datar. “Aku hanya menangkap sasmita mereka sedang dicambuk oleh murka Allah, seolah-olah hewan gembala dihardik agar tidak menyimpang jauh dari padang gembalaan. Aku menangkap sasmita, mereka sedang diperingatkan Allah dengan bahasa perlambang agar tidak larut di dalam lingkungan yang merusak tiang-tiang penyangga Tauhid. Tetapi, aku tidak yakin mereka bisa cepat tanggap dan sadar akan kekeliruannya. Aku malah melihat mereka bakal bercerai-berai, diusir dari tanah kelahirannya oleh cambuk Allah.”

“Apakah itu bermakna bahwa Allah akan mencambuk mereka dengan lebih keras lagi?”

“Kelihatannya akan seperti itu,” kata Abdul Jalil. “Tapi tahukah engkau, o Anakku, sesungguhnya pada bagian manakah perilaku ulama Kozhikode itu yang paling berbahaya bagi prinsip-prinsip Tauhid?”

“Menurut hemat kami, ada beberapa hal dari perilaku ulama Kozhikode yang kami anggap berbahaya bagi akidah Islamiyyah. Pertama-tama, mereka membiarkan pengikutnya menjadi lintah darat asal mereka tidak lupa memberi setoran. Mereka membuta-tuli terhadap larangan-larangan Allah mengenai riba. Yang tak kalah memuakkan dan menjijikkan, mereka suka sekali mengabsahkan kewalian sebuah kuburan dengan harapan setiap bulan mendapat setoran uang dari juru kunci penunggu kubur. Bahkan yang lebih memuakkan, mereka tanpa kenal malu bertengkar dengan sesama ulama untuk berebut jabatan mursyid tarekat. Sepengetahuan kami, banyak di antara mereka itu sejatinya tidak memenuhi syarat untuk menduduki jabatan mursyid, tetapi berkukuh menduduki jabatan mursyid karena alasan nasab. Bahkan, kami sering mendapati terjadinya perseteruan sengit antarmursyid yang berujung pada pertumpahan darah para jama’ah.”

“Itulah yang aku katakan berbahaya bagi Tauhid. Sebab mengabsahkan riba, ‘memperdagangkan’ kuburan dengan modal kebohongan, memutar-balik ayat-ayat suci untuk kepentingan kekuasaan, dan bertarung memperebutkan kemursyidan adalah tindak kefasikan yang tidak boleh dibiarkan. Coba renungkan, betapa berbahayanya jika mursyid satu sama lain mengkafirkan dan menghalalkan darah masing-masing. Bagaimana mungkin guru-guru tarekat yang seharusnya berakhlak mulia dan menjadi panutan tiba-tiba menjelma wujud diri sebagai tukang fitnah, tukang hasut, tukang mengkafirkan sesamanya, dan suka mencelakakan guru tarekat lain demi kepentingan pribadi? Sungguh, keadaan ini akan merobek-robek citra ajaran tasawuf yang agung dan suci,” kata Abdul Jalil.

“Apakah kita perlu memberi peringatan kepada mereka, Paman?”

“Sesungguhnya tidak perlu,” kata Abdul Jalil datar. “Sebab, yang wajib kita utamakan adalah menjaga Tauhid saudara-saudara kita di Nusa Jawa.”

“Bukankah kita berkewajiban mengingatkan saudara-saudara kita seiman di mana pun berada?”

“Itu memang benar, Anakku. Tetapi, engkau harus tahu bahwa pada masing-masing tempat dan masing-masing kaum, sejatinya sudah ada orang-orang yang ditugaskan Allah untuk memelihara dan menjaga keseimbangan. Mereka akan menjalankan tugas tanpa peduli apakah mereka akan dimusuhi atau didukung kaumnya. Masing-masing mereka tidak boleh melanggar wilayah yang lain.”

“Maksud Paman, apakah mereka itu wali-wali Allah?”

“Satu saat nanti engkau akan mengetahui rahasia itu.”