Mezbah Persembahan Baru

Malam menggelar permadani hitam dengan hiasan bintang-bintang sebagai sulaman. Kabut tebal yang menyelimuti permukaan bumi Pasai membenamkan kehidupan dalam kesunyian. Di tengah kesenyapan yang melingkupi, sewaktu manusia menggulung tubuh dalam selimut, ketika margasatwa tidur di sarangnya, di saat terkaman hawa dingin menggigit hingga tulang, terlihat tiga sosok bayangan manusia di bawah sebatang pohon besar di hadapan segunduk tanah merah yang masih basah. Mereka adalah Abdul Jalil, Raden Sahid, dan Tughra Hasan Khan, kakak lelaki lain ibu Abdul Jalil. Agak jauh dari mereka, dalam jarak sekitar dua puluh langkah, terlihat bayangan orang-orang duduk berkerumun membentuk lingkaran di bawah pohon. Di antara mereka yang berkerumun itu terlihat Tughril Muhammad Khan dan Fadhillah Khan, putera Tughra Hasan Khan, Abdullah Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, ketiganya murid Abdul Jalil, Shafa dan Bardud, istri dan anak Abdul Jalil, Na’ina Husam, sufi perempuan asal Syiraz, dan belasan pengawal hulubalang dengan senjata terhunus. Suasana terasa senyap. Lengang. Tidak satu pun di antara mereka yang berkerumun itu berkata-kata atau berbisik-bisik. Semua diam membisu seolah dicekam ketegangan.

Di tengah kegelapan malam yang mencekam itu, sesungguhnya Abdul Jalil tengah berziarah ke makam Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi, kawan seperjalannya dalam menunaikan ibadah haji belasan tahun silam. Namun, suasana malam itu terasa sangat mencekam akibat perseteruan yang terjadi antara penduduk yang menganut paham Syi’ah itsna Asy’ariyah dan Syi’ah Zaidiyyah, ditambah lagi keterlibatan orang-orang Sunni pengikut Imam Syafi’i dan Hanafi. Suasana ziarah yang harusnya tenang justru keadaannya layaknya perang yang menegangkan. Makam Husein hanya berupa gundukan tanah merah, sengaja disamarkan oleh pengikut-pengikutnya tanpa nisan dengan maksud tidak dibongkar oleh musuh-musuhnya.

Kematian Husein yang mendadak memang sangat mengejutkan Abdul Jalil. Dalam perjalanan laut dari Kozhikode ke Pasai, ia sudah memberi tahu Raden Sahid bahwa ia akan singgah di kediaman sahabat lama yang masih berkerabat dengan Raden Sahid, yaitu Husein yang bernasab al-Abbasi. Namun, saat mereka sampai di Pasai dan singgah di kediaman Tughra Hasan Khan, diperoleh kabar bahwa Husein tewas dibunuh orang tak dikenal.

Menurut Tughra, Husein terbunuh dalam serangan mendadak barang dua pekan sebelum kehadiran Abdul Jalil ke Pasai. Tanpa menduga sebelumnya, Husein yang baru kembali dari kediaman Tughra diserang di tengah gelap malam. Ia terbunuh bersama sepuluh orang pengikutnya dan lima orang pengawal yang dikirim Tughra. Selama ini Husein dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai seorang tokoh agama pengikut Syah Ismail. Lantaran itu, dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi Husein dimusuhi banyak orang.

Husein yang memahami perkembangan suasana diam-diam menemui Tughra dan meminta perlindungan karena kedudukan Tughra sebagai salah seorang hulubalang Kesultanan Pasai. Dalam pertemuan itu, Tughra menyatakan kesediaannya untuk melindungi Husein dan keluarganya. Tughra bahkan menyatakan akan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih dalam waktu secepatnya. Untuk membuktikan keseriusannya, ia memerintahkan lima orang prajurit untuk mengawal Husein kembali ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan pulang itulah Husein diserang oleh ratusan orang tak dikenal.

Menurut dugaan Tughra, orang-orang yang terlibat pembunuhan itu berasal dari beberapa kelompok. Pertama-tama, penduduk Pasai pengikut Syi’ah Zaidiyyah asal Yaman yang dipimpin Sayyid Hasan al-Muqayyat dan para pendatang asal Kerala yang dipimpin Syarif Ali Musliyar al-Munfashil. Kelompok berikutnya adalah penduduk Pasai penganut Syi’ah Ismailiyyah asal Gujarat yang dipimpin oleh Sayyid Abdul Aziz al-Khala’ dan para saudagar Malaka penganut Imam Syafi’i yang dipimpin Tun Abdul Karim. Sementara yang juga diduga kuat ikut memanas-manasi suasana adalah saudagar-saudagar asal Maghrib.

Selama mendengarkan paparan Tughra tentang kemelut “pertarungan” kaum muslimin di Pasai, terutama tentang pembunuhan Husein, Abdul Jalil terdiam. Selama beberapa jenak ia merasakan kegeraman terhadap kepicikan wawasan Syah Ismail yang demi ambisi pribadinya telah mengorbankan banyak nyawa dan penderitaan orang-orang yang tak bersalah. Namun, secepat itu pula ia disadarkan oleh Ruh al-Haqq bahwa Syah Ismail pada hakikatnya hanyalah salah satu dari pemain sandiwara kehidupan yang ditempatkan oleh Sang Sutradara pada alur cerita yang sudah dirancang-Nya. Sadar akan hakikat sejatidi balik peristiwa-peristiwa tragis itu, Abdul Jalil tidak dapat berbuat sesuatu kecuali memuji kebesaran dan keagungan-Nya dengan menggumam lirih.

“Wahai Engkau Yang Maha Menyesatkan! Wahai Engkau Yang Maha Menghinakan! Wahai Engkau Tuannya Iblis! Wahai Engkau Penguasa Setan. Wahai Engkau Yang Mahaagung! Sungguh tidak berubah ketetapan hukum-Mu yang telah Engkau gariskan. Wahai pemilik siksa paling pedih, meski Engkau telah memalingkan ‘wajah-Mu yang mengerikan (Bhairawa), meski Engkau telah menyingsingkan kegelapan ‘malam-Mu’ (Candika) yang gelap dan penuh darah ke terang siang-Mu yang dipancari cahaya kasih-Mu (Shankara), ketetapan hukum-Mu tidaklah berubah: Korban darah! Korban darah! Seribu kali korban darah! Ya, korban darah untuk santapan Ibunda Bhumi, Sang Prthiwi, beserta para bhuta dan kala.”

“Sungguh sempurna kehendak-Mu, o Yang Mahalanggeng. Engkau memang sudah mengubah persembahan darah manusia di atas mezbah batu sembelihan. Engkau memang sudah menyelubungi mezbah-mezbah batu persembahan darah di ksetra-ksetra dengan selimut rumah-rumah ibadah kaum beriman yang memuji keagungan-Mu dengan kepasrahan. Engkau bentangkan cermin hijab (al-mir’ah al-hajib) di hamparan cakrawala dunia hingga seluruh manusia di permukaan bumi terpukau dengan gemilang kesantunan para pemuja-Mu yang berpendar laksana matahari pagi yang sejuk. Tetapi, kini telah hamba saksikan dengan mata batin (ain al-bashirah), dan hamba pahami dengan fawa’id, betapa di balik bentangan cermin hijab itu sesungguhnya umat-Mu, manusia, dengan diam-diam atau terang-terangan masih banyak yang memuja ‘citra-Mu’ yang mengerikan itu.”

“O Engkau Yang Maha Menyesatkan! O Engkau Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill)! O Engkau Yang Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr)! O Engkau Yang Mahaperkasa! O, Engkau Tuannya Iblis! O, Engkau Yang Maha Memelihara! Sungguh, Engkau telah menganugerahi hamba kemuliaan sehingga hamba bisa menyaksikan dengan mata batin keberadaan mezbah-mezbah baru untuk korban sembelihan yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah menjadikan hamba sebagai saksi tentang Keberadaan mezbah-mezbah baru yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah mencelikkan penglihatan batin hamba untuk menyaksikan bagaimana saudara-saudara hamba seiman tidak membuat mezbah persembahan dari tumpukan batu yang dipahat, tetapi membangunnya dari tumpukan dalil berdasar tafsiran akal pikiran yang mereka sebut madzhab. Madzhab. Madzhab. Seribu kali Madzhab. Ya, madzhab yang mereka bangun dengan kemegahan itulah yang mereka berhalakan dan mereka jelmakan menjadi mezbah persembahan baru tempat korban sembelihan dipersembahkan. Di atas mezbah-mezbah baru itulah umat-Mu, yang menyebut diri kaum yang pasrah (qaum al-muslimin), menyembelih saudara-saudaranya seiman, dengan harapan mendapat berkah dan ridho-Mu.”

Tughra Hasan Khan yang lamat-lamat mendengar gumam Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya keheranan, “Engkau bicara apa, o Adikku? Apakah Engkau berbicara dengan Tuhan atau mengajak-Nya bergurau?”

“Aku justru menertawakan kebingunganku sendiri.” Abdul Jalil tersenyum pahit. “Maksudku, setiap kali aku menangkap sekelumit Kebenaran Hakiki yang digelar-Nya di balik gemerlap kehidupan dunia yang kasatmata, saat itu aku menyaksikan ketololanku sendiri. Setiap kali aku menemukan Kebenaran Hakiki yang menyingkapkan tirai jati diri di tengah bayangan maya-Nya, aku dapati diriku seperti anak-anak bermain petak umpet yang selalu kalah. Dalam keadaan itu, mereka yang tidak paham dengan keadaanku akan menduga-duga aku telah bercanda dengan Tuhan. Padahal, aku tidak bercanda dengan-Nya. Justru Dia yang kurasakan mempermainkan aku, seolah Dia sangat suka melihatku kebingungan di tengah kesempurnaan-Nya yang tak terbatas.”

“Tentang ucapan-ucapan aneh yang baru saja engkau ucapkan, apakah berkaitan dengan itu juga?”

“Ya.”

“Coba terangkan kepadaku, kenapa engkau mengatakan kaum muslimin membangun mezbah-mezbah baru? Kenapa engkau menilai mereka menyembelih saudara-saudaranya seiman demi beroleh berkah dan ridho Tuhan?”

“Selama ini aku selalu berpandangan bahwa korban sembelihan darah manusia hanya dilakukan oleh para penganut Bhairawa-Tantra dalam upacara Pancamakara di ksetra-ksetra untuk memuja Prthiwi, Durga, dan Kali. Dengan segenap upaya aku sudah mengusahakan agar upacara menyembelih manusia itu diakhiri. Aku paham bahwa upacara semacam itu adalah ketetapan yang dikehendaki-Nya untuk memenuhi hak-hak Sang Prthiwi. Lantaran itu, aku yakin jika upacara korban darah manusia akan terus berlangsung dalam bentuk lain, seperti peperangan dahsyat di suatu waktu tertentu atau bencana alam atau wabah penyakit. Tapi kini, ketika Kebenaran Hakiki menyingsing di cakrawala jiwaku, aku saksikan kenyataan yang mengejutkan dan tidak kusangka-sangka: betapa di dalam amaliah peribadatan orang-orang Islam pun sesungguhnya hal berkorban darah manusia itu dilakukan juga baik secara diam-diam atau terang-terangan,” kata Abdul Jalil tegas.

“Orang Islam melakukan korban sembelihan manusia?” sergah Tughra terheran-heran, “Aku tidak paham maksud perkataanmu, o Adikku.”

“Kakanda,” kata Abdul Jalil lirih, “Jika kita melihat Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih di balik terbunuhnya Husein, tidaklah kita menyaksikan betapa sejatinya dia adalah korban sembelihan dari orang-orang yang menganggap tindakannya paling benar?”

“Aku kira begitu, tetapi aku masih belum paham maksudmu.”

“Apakah Kakanda mengira bahwa orang-orang yang membunuh Husein merasa bersalah dan berdosa atas apa yang telah mereka lakukan?”

“Tentu saja tidak.”

“Apakah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan dengan membunuh Husein itu adalah keharusan agama demi tegaknya Kebenaran?”

“Aku kira pikiran mereka memang seperti itu.”

“Apakah mereka merasa bahwa membunuh Husein adalah tindakan memurnikan agama?”

“Kelihatannya memang demikian jalan pikiran mereka.”

“Apakah mereka menganggap bahwa madzhab merekalah yang paling benar?”

“Memang demikian.”

“Nah, jika dilihat dari Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih, bukankah madzhab-madzhab yang dianut oleh para pembunuh Husein itu sejatinya telah diberhalakan? Bukankah kita menyaksikan secara hakiki bahwa madzhab-madzhab itu telah menjadi mezbah persembahan dan Husein adalah korban sembelihannya? Kebenaran Hakiki inilah, o Kakanda, yang tadi aku saksikan bersinar gemilang di cakrawala kesadaranku. Lantaran itu, aku tadi menertawakan kebingunganku yang selama ini menganggap mezbah-mezbah persembahan hanya mutlak milik penganut Bhairawa-Tantra. Aku menertawakan ketololanku yang membayangkan mezbah-mezbah persembahan hanya berbentuk batu yang dipahat dengan korban manusia di atasnya.”

“Kenapa engkau merasa tolol? Bukankah engkau harusnya bersyukur dapat menangkap cahaya Kebenaran Hakiki yang dipancarkan-Nya?”

“Memang, aku sangat bersyukur. Tetapi, selama bertahun-tahun aku telah mengikuti pandangan yang keliru bahwa korban sembelihan manusia hanya dilakukan oleh orang-orang penganut ajaran Bhairawa-Tantra. Bahkan, dalam upaya membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra, aku telah rela dan ikhlas menumpahkan darahku di atas batu-batu di berbagai tempat. Kini, ketika sebagian besar ksetra itu telah tawar daya saktinya, justru aku lihat mezbah-mezbah baru untuk sembelihan manusia telah dibangun oleh saudara-saudaraku seiman. Kini, aku saksikan mezbah-mezbah persembahan dari madzhab-madzhab yang diberhalakan telah tumbuh menggantikan ksetra-ksetra. Sekalipun mezbah-mezbah persembahan yang baru itu tersamar dan tidak kasatmata, kenyataan menunjuk bahwa mezbah-mezbah itu akan dijadikan tempat bagi persembahan korban manusia yang tidak lebih sedikit jumlahnya dibanding mezbah-mezbah batu di ksetra-ksetra.”

“Aku paham dengan Kebenaran Hakiki yang engkau peroleh, o Adikku, tetapi janganlah Kebenaran ini engkau ungkapkan kepada orang lain karena bisa menimbulkan salah paham.”

Usai berziarah, di tengah kegelapan yang diselimuti kabut, Abdul Jalil tampak berdiri termangu menatap satu demi satu kerumunan orang yang menunggunya di bawah pohon. Matanya yang setajam binatang malam terlihat berkilat di tengah keremangan. Ketika pandangannya jatuh pada Tughril Muhammad Khan, dengan suara ditekan rendah ia bertanya, “Berapa usiamu sekarang, o Putera saudaraku?”

“Tujuh belas, Paman.”

Abdul Jalil diam. Ia mengalihkan tatapan pada Fadhillah Khan dan bertanya, “Kalau engkau, o Putera saudaraku, berapa usiamu?”

“Lima belas tahun, Paman.”

“Berarti, kalian berdua sudah menginjak dewasa. Sebentar lagi Tughril akan menikah dan beranak-pinak. Lalu Fadhillah akan menyusulnya. Lantaran itu, o Putera saudaraku, sebelum kalian berdua memasuki lautan kehidupan dengan menumpang bahtera yang kalian kemudikan, hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian camkan petuah yang akan aku sampaikan kepada kalian berdua sebagai bekal agar kalian selamat sampai ke Pelabuhan tujuan.”

“Kami akan menjadikan pusaka petuah-petuah dari Paman.”

“Pertama-tama,” Abdul Jalil memulai petuahnya, “Wajib bagi kalian untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai satu-satunya cermin yang membiaskan setiap gerak langkah kalian, baik dalam berpikir, berkata-kata, bersikap, dan berperilaku. Sebab, Muhammad Saw. adalah perwujudan dari akhlak mulia (al-khuluk al-Karim), ‘cermin’ yang mengantarai dan sekaligus menjadi penghubung antara Sang Pencipta (al-Khaliq) dan ciptaan (al-khalaq). Semakin kuat kalian mengejawantahkan akhlak mulia yang telah diteladankan Muhammad Saw., maka semakin dekatlah kalian kepada-Nya, ibarat bayangan yang makin dekat kepada Yang Bercermin.”

“Aku tidak akan menjelaskan kepada kalian berdua tentang apa saja dari Muhammad Saw. yang harus kalian jadikan cerminan. Sudah terlalu banyak orang yang mengajarkan sesuatu tentang dia. Sebaliknya, aku hanya akan mengajarkan kepada kalian berdua intisari paling rahasia dari keberadaan Muhammad Saw. selama menjalankan tugas Kenabian di dunia yang berpijak pada satu tiang utama: Kebenaran (al-Haqq).”

“Ketahuilah oleh kalian bahwa Muhammad Saw. adalah pengabdi dan sekaligus penyampai Kebenaran sejati yang tulus, ikhlas, tanpa pamrih, yang tiada tandingan hingga derajatnya melampaui ishthina’. Tahukah kalian di mana letak ketulusan dan keikhlasannya dalam mengabdi kepada Kebenaran sampai melampaui ishthina’ ? Tahukah kalian tentang resiko berat yang dihadapi akibat pengabdiannya yang tulus dan ikhlas itu? Dengarkan dan camkan benar-benar apa yang akan aku sampaikan ini.”

“Pertama-tama, Muhammad Saw. mengajarkan Kebenaran tentang Yang Ilahi sebagaimana ajaran yang disampaikan barisan Nabi-Nabi sebelum dia. Padahal, dewasa itu hampir semua bangsa Arab dan terutama kaum Quraisy, kaumnya Muhammad Saw., menganut ajaran ‘kebenaran’ yang berbeda dengan ajaran Nabi-Nabi. Untuk pengabdiannya kepada Kebenaran, Muhammad Saw. harus berhadapan sebagai musuh dengan kaum dan bangsanya sendiri. Seorang diri dia menyampaikan ajaran Tauhid di tengah kejahilan bangsanya.”

“Tidak hanya tentang Yang Ilahi. Ajaran Muhammad Saw. tentang Nabi-Nabi pembawa Kebenaran pun ditandai oleh pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih. Di antara keimanan terhadap Nabi-Nabi, terutama dua puluh lima orang Nabi dan Rasul Allah yang wajib diyakini sebagai pembawa Kebenaran, tidak satu pun menunjuk kepada salah satu dhatu leluhur bangsanya, kecuali Ismail a.s. Leluhur suku-suku Arab yang dipuja sebagai sesembahan oleh bangsa Arab justru ditetapkannya sebagai pangkal kemusyrikan yang bertentangan dengan ajaran Kebenaran Tauhid. Bahkan, dengan tulus dan ikhlas Muhammad Saw. mewajibkan para pengikutnya untuk mengimani Kenabian para Nabi Bani Israil seperti Ishak, Ya’kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusak, Sulaiman, Daud, Ilyas, Zakaria, Yahya, Isa a.s. dan sebaliknya menolak keilahian dhatu-dhatu leluhur Arab yang dituhankan seperti Latta, Uzza, Manat, dan Hubal. Keikhlasan dalam menempatkan Kebenaran di atas segala itulah yang membuat Muhammad Saw. menempati kedudukan melampaui ishthina’, yaitu kedudukan ruhani orang yang tak terikat keakuan manusiawi lagi.”

“Jika ada orang yang menuduh Muhammad Saw. Memiliki pamrih dalam menyiarkan ajaran Tauhid, tentu akan ada bukti bahwa dia telah mengagungkan dewa-dewa yang disembah bangsanya. Padahal, kenyataan membuktikan bahwa dewa-dewa sesembahan bansa Arab itulah yang justru ditentangnya. Dan sebaliknya, Kebenaran Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi terdahulu termasuk Nabi-Nabi dari antaera Bani Israil yang dia ajarkan untuk menggantikan paganisme yang berkembang dewasa itu. Tauhid adalah Tauhid. Kebenaran adalah Kebenaran. Tidak ada anasir bahasa, bangsa, warna kulit, pangkat, derajat. Itu prinsip dia.”

“Ingat-ingatlah, o Putera-Putera saudaraku, puncak tertinggi dari pengabdian Muhammad Saw. kepada Kebenaran tercermin pada keberhasilan dia dalam menghapus semua pamrih pribadi bagi perjuangannya. Ingatlah sabda Muhammad Saw.: ‘Katakan Kebenaran sekalipun pahit! (qul al-haqq walau kana muran).’ Itulah tonggak pedoman yang mencerminkan keberadaannya sebagai penyampai ajaran Tauhid dan pengabdi Kebenaran. Bahkan, karena kesuciannya dari pamrih-pamrih dalam menyampaikan ajaran Kebenaran maka suara Sang Kebenaran (al-Haqq) mengejawantah dalam wujud Sabda Suci (Kalam Ilahi) yang terungkap lewat lisannya. Sekalipun Muhammad Saw. adalah manusia suci yang menjadi wahana bagi ‘kelahiran’ Sabda Suci Ilahi ke dunia, dia dengan tegas melarang para pengikutnya untuk menyembah selain Allah.”

“Dengan selalu mengingat ketulusan dan keikhlasan Muhammad Saw. dalam mengabdikan diri kepada Kebenaran, hendaknya kalian berdua menjadi sadar dan kemudian bergegas mengikuti langkahnya. Maksudku, sekalipun di dalam aliran darah kita terdapat darah Muhammad Saw., hendaknya jangan ada di antara kita yang membiarkan jiwanya ternodai pamrih-pamrih pribadi. Janganlah ada di antara kita yang mengaku-aku sebagai keturunan Muhammad Saw. dengan pamrih supaya dihormati dan dijadikan panutan manusia. Jangan ada di antara kita yang menyatakan diri sebagai keturunan Muhammad Saw., tetapi menyembunyikan harapan agar bangsa-bangsa pemeluk Islam bertekuk lutut kepada kita. Jangan ada di antara kita yang mengaku keturunan Muhammad Saw. dan kemudian menutup ‘pintu Kebenaran’ dengan memberhalakan diri sebagai satu-satunya penjaga ‘pintu Kebenaran’. Jangan ada di antara kita yang mengaku-aku keturunan Muhammad Saw. dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi, apalagi sekadar sedikit kekayaan dan kekuasaan duniawi.”

“Lantaran itu, ingat dan camkan! Kebenaran Tauhid yang diajarkan Muhammad Saw. tidak mengenal bangsa, bahasa, warna kulit, dan garis keturunan. Kebenaran adalah Kebenaran. Laksana wangi bunga, Kebenaran tidak pernah menyebar-nyebarkan harum-Nya, tetapi semerbak wanginya menebar sendiri ke mana-mana. Jangan sekali-kali kalian menerima Kebenaran berdasar siapa yang membawanya, melainkan terimalah Kebenaran sebagai Kebenaran meski berasal dari orang-orang gelandangan yang tak dihormati manusia. Kebenaran akan terbit sebagai matahari hakiki yang cahanya-Nya bisa disaksikan sebagai bashirah. Hilangkan segala macam pamrih, karena pamrih adalah bagian dari kemusyrikan yang samar,” kata Abdul Jalil.

“Kami akan pusakakan wejangan Paman,” kata Tughril.

Abdul Jalil diam dan bergantian menatap Tughril dan Fadhillah. Sejurus setelah itu, dengan suara yang lain ia berkata penuh wibawa. “Jika kalian nanti mengarungi samudra kehidupan, janganlah kalian tergiur oleh warna-warni ‘cat’ yang menghias ‘bahtera’ yang katanya dibuat dari ayat-ayat Ilahi yang terang dan abadi. Sebab, warna-warni ‘cat’ penghias ‘bahtera’ itu pada dasarnya tidak lebih dari bahan-bahan penghias ‘bahtera’, yaitu tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Ilahi yang diikat (‘iql) oleh serat-serat nalar (‘aql) hingga menjadi jalinan tali-temali pemikiran (fikr) yang nisbi jangkauannya.”

“Kenapa aku mengingatkan kalian akan hal ini? Sebab, segala sesuatu yang dibangun di atas bangunan pemikiran yang nisbi jangkauannya akan nisbi pula keberadaannya. Bahan-bahan penghias selalu rentan dan gampang terkelupas dan luntur. Lantaran itu, ingat-ingatlah selalu bahwa Kebenaran yang terkandung di dalam ayat-ayat Ilahi adalah mutlak dan tidak terbantah. Tetapi, penafsiran atas ayat-ayat tersebut berdasar akal pikiran, adalah nisbi. Terbatas. Itu sebabnya, Allah melarang melarang manusia untuk menggunakan pikiran dalam mengenal Sang Pencipta. Pikiran hanyalah piranti yang digunakan untuk mengenal ciptaan-Nya. Dengan demikian, jika ada manusia menggunakan pikiran untuk mengenal Allah, justru hasilnya adalah pengingkaran (kufur) terhadap Kebenaran dan bermuara pada pengkafiran (takfir). Mereka yang menggunakan pikiran untuk mencari Allah pasti akan sesat sehingga ‘bahtera’ yang mereka tumpangi akan kandas ke jajaran karang tajam samudera ruhani dan hancur berkeping-keping dalam Kebinasaan.”

“Tanamkan di hati sanubari kalian berdua, o Putera saudaraku, Kebenaran Sejati tidak bisa diperdebatkan berdasar dali-dalil yang dibangun dari bahan-bahan hasil tafsiran akal pikiran. Kebenaran Sejati hanya bisa dikenal dengan bashirah. Ingat itu: bashirah! Itu sebabnya, hendaknya kalian berdua jangan terperangkap kepada madzhab-madzhab yang saling berebut benar sendiri. Jangan kalian memberhalakan madzhab. Jangan kalian berperang dan membunuh sesamamu demi madzhab yang engkau anggap benar. Jika itu yang kalian lakukan maka kalian sesungguhnya telah membangun mezbah-mezbah persembahan dengan korban sembelihan saudara kalian dari perselisihan madzhab. Menghindarlah kalian dari perselisihan madzhab. Jadilah kalian sebagai bagian dari kaum beriman (qaum al-mu’minin), wakil al-Mu’min di muka bumi (khalifah al-Mu’min fi al-ardh), yang menjadi pembawa keamanan bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Citrakan diri kalian sebagai wakil as-Salam di muka bumi (khalifah as-Salam fi al-ardh) yang menjadi bagian dari pembawa dan pemelihara kedamaian di bumi.”

Tughril termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Setelah merenung beberapa jenak, dia berkata dengan nada tanya, “Kami sudah memahami akan apa yang Pamanda sampaikan. Tapi, kami belum paham dengan penjelasan Pamanda tentang mengenal Kebenaran dengan bashirah. Apakah yang Pamanda maksud dengan bashirah? Bagaimanakah cara kita menggunakan bashirah untuk mengenal-Nya?”

“Bashirah adalah piranti yang digunakan Nabi Muhammad Saw. untuk menerangi jalan Kebenaran yang dia lalui dan digunakan pula oleh orang-orang ang mengikutinya (QS. Yusuf: 108). Melalui piranti bashirah itulah Nabi Muhammad Saw. secara khusus mengajarkan kepada sahabat-sahabat dekatnya ‘cara’ dan ‘jalan’ mengenal Allah. Tetapi, ajaran tentang bashirah ini sangatlah rahasia sehingga tidak bisa diungkapkan di tengah manusia ramai. Lantaran itu, aku akan mengajarkan kepadamu pengenalan akan Allah melalui bashirah secara rahasia pula.”

Setelah mengajarkan pengetahuan rahasia tentang bashirah kepada Tughril dan Fadhillah, Abdul Jalil menggandengan dua orang kemenakannya itu berjalan ke arah Na’ina Husam, yang duduk bersimpuh di samping Shafa, istrinya. Na’ina Husam sendiri adalah sufi perempuan asal Syiraz, yang tinggal di Pasai di bawah lindungan Tughra Hasan Khan. Dia meninggalkan negerinya akibat diburu-buru kaki tangan Syah Ismail. Dia mula-mula datang ke negeri Perlak. Namun, di sana suasananya tidak berbeda dengan di Syiraz. Penduduk Perlak yang mendukung keluarga Safawi terlibat pertarungan sengit dengan penduduk yang menentang Syah Ismail. Darah tumpah di mana-mana. Di tengah pertarungan yang mengalirkan darah itulah Na’inah Husam pergi ke Pasai dan berlindung di kediaman Husein al-Abbasi. Ternyata, di Pasai pun pertarungan tak kalah sengit dan bahkan membawa Husein ke alam Kematian. Di tengah kecamuk pertarungan berdarah itulah, atas permintaan keluarga Husein, Na’ina Husam dilindungi oleh Tughra.

Malam itu cahaya bintang yang bertaburan di langit tak mampu menembus kabut yang menyelimuti permukaan bumi dengan keheningan. Suasana makin senyap. Hening. Di tengah keheningan, di bawah tatapan mata semua orang, Abdul Jalil duduk bersila di depan Na’ina Husam sambil merangkul dua orang kemenakannya. Beberapa jenak terdiam, tiba-tiba Abdul Jalil bertepuk tangan sambil melantun sebaris syair:

“Marilah kita bertepuk tangan sambil berseru: berbahagialah engkau yang terlempar dari tanah kelahirannya karena kecintaan yang tulus dan suci kepada Sang Kekasih. Berbahagialah engkau yang mabuk akibat menenggak anggur penderitaan yang diperas dari buah kerinduan yang tak kesampaian. Berbahagialah engkau yang mabuk anggur kerinduan, karena engkau yang mendamba cinta-Nya. Berbahagialah engkau, o Na’ina Husam, sebagaimana kebahagiaan yang telah direguk Rabi’ah, Rumi, Hallaj, Ba Yazid, Attar, Hafiz, Sa’di.”

Na’ina Husam menegakkan wajah. Matanya yang semula sayu tiba-tiba bercahaya. Dengan tatapan penuh gelora, ia memandang wajah Tughril dan Fadhillah ganti-berganti. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan menepuk-nepukkannya ke bahunya beberapa kali. Setelah itu, dengan suara lain dia mengutip syair-syair yang digubah Sa’di.

“Berbahagialah hari-hari mereka yang mabuk cinta Ilahi karena mereka belum atau sudah mengetahui pedihnya obat penawar Ilahi. Merekalah pengemis yang menolak martabat raja dan mereka sangat lama menderita di dalam permohonan mengharap Dia.”

Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu kiri dengan tangan kanannya sambil mengumandangkan syair.

“Wahai engkau yang membandingkan martabat pengemis dengan raja-raja, telah kutangkap citra hidupmu yang tak seekor semut pun pernah menderita karenamu. Sementara raja-raja yang tegak di tengah kemegahan duniawi, hari-harinya selalu diwarnai taburan penderitaan bagi makhluk sekitar. Itulah pertanda utama martabat sang fakir dan sang raja, yang menjadi citra kehidupan dunia sejak masa lalu hingga masa datang.”

Na’ina Husam menengadahkan wajah ke atas menatap bintang gemintang. Dia menepuk-nepuk kembali bahunya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang, ia melantunkan syair.

“Kaki tangan Syah Ismail telah memburuku laksana binatang buas yang berbahaya, hanya karena perhatianku selalu kuarahkan kepada Sang Kekasih. Atas titah Syah, mereka menganggapku liar dan karenanya aku harus ditangkap untuk ditundukkan. Sungguh keliru mereka yang menganggap rajawali betina merasa bahagia di dalam sangkar emas dalil-dalil yang mereka cipta. Memang, jiwa-jiwa merpati dan beo bisa berada dalam kerangkeng yang berbeda-beda, tetapi jiwa rajawali-rajawali Ilahi senantiasa merdeka dan Satu.”

“Kaki tangan Syah memaksaku untuk mengikuti jalan akal yang mereka lalui, yaitu jalan yang penuh belokan, putaran, tanjakan, liku-liku membingungkan, dan tebaran jebakan yang membahayakan jiwa. Mereka tidak paham. Akal, sekalipun tinggi dan mulia, bukanlah sang jalan., tetapi cahaya yang menunjukkan jalan. Dengan cahaya akal orang dapat membedakan mana keburukan, mana musuh dan mana kawan, mana benar dan mana batil. Tetapi, dengan seberkas cahaya akal, orang tidak akan mecapai tujuannya sampai dia menemukan jalan itu. Barangsiapa yang telah diberi penerangan jalan, cahaya akalnya akan tenggelam dalam pancaran matahari bashirah yang memancar dari al-Bashir.”

“Aku telah menyaksikan salik-salik penyamar berjiwa serigala dan musang yang ditebar Syah. Mereka berbaris di padang gurun menuju kota-kota dan mengaku membawa berita-berita Kebenaran. Sungguh aneh, mereka yang tidak bisa mendengar suara Kebenaran karena telinga jiwa (sam’) mereka telah pekak tertutup gumpalan awan keakuan, tiba-tiba mengaku sebagai pembawa berita Kebenaran. Sungguh mengerikan mereka, penyamar-penyamar itu. Tubuh mereka berbaris menuju kota-kota, tetapi jiwa mereka terjerat oleh angan-angan kosong laksana laba-laba terjerat jaring-jaring yang ditebar sendiri.”

“Kepada salik-salik sejati, para penempuh jalan Kebenaran, aku sampaikan peringatan kepada kalian: hendaknya jangan sekali-kali mempercayai dan mengikuti mereka yang mengaku-aku pembawa berita Kebenaran. Sebab, mereka adalah para penyamar. Mereka yang mengaku membawa berita Kebenaran sejatinya adalah orang-orang yang bertelinga tuli dan lidahnya bercabang. Sadarkanlah kesadaranmu, o salik-salik sejati, bahwa mengucapkan perkataan atas nama Kebenaran adalah jauh lebih mudah daripada menemukan jalan Kebenaran.”

“Inilah perbedaan antara salik sejati dan salik penyamar, yang pertama adalah Daud yang menyanyikan kidung Zabur, sedang yang kedua adalah gaung nyanyiannya yang memantul di dinding tebal. Atau laksana perbedaan antara ‘ilm al-tahqiqi dan ‘ilm al-taqlidi. Yang pertama dijajakan di tengah keheningan dan dibeli oleh Tuhan, sedang yang kedua dijajakan dan diperdagangkan di pasar dan dibeli banyak orang bodoh.”

Abdul Jalil menepuk bahu kanan dan bahu kirinya. Setelah itu, ia menepuk bahu Fadhillah dan Tughril. Kedua orang kemenakannya itu beringsut ke depan, berlutut dan bergantian mencium tangan Na’ina Husam. Meski orang-orang yang berkerumun di sekitar mereka tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi antara Abdul Jalil dan Na’ina Husam yang bersyair itu, Tughril dan Fadhillah menangkap peristiwa itu sebagai pelajaran ruhani yang sangat dalam dan penuh diliputi rahasia jiwa tak terungkapkan.

Keesokan harinya, ketika matahari merambat naik di ufuk timur, Abdul Jalil duduk bersila di dermaga, tak jauh dari kapal yang akan membawanya ke Malaka. Di tengah embusan angin yang menerbangkan sisa-sisa embun pagi, di antara gemuruh ombak dan jeritan burung camar, di sela-sela suara kibaran layar, ia memberikan wejangan kepada orang-orang yang dikasihinya; Ahmad Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, Raden Sahid, Tughril, dan Fadhillah Khan yang bersila takzim di depannya. Dengan suara lain yang meliputi ketenangan dan kewibawaan, ia berkata di tengah desau angin pantai.

“Sesungguhnya, aku menangkap sasmita bahwa kalian berada dalam kebingungan ketika aku beri tahukan tentang hakikat hidayah dan iman dengan sudut pandang lain daripada yang selama ini kalian pahami. Padahal, jika kalian memahami makna Tauhid secara benar, hal yang aku sampaikan itu bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.”

“Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian bahwa apa yang disebut hidayah adalah pancaran dari Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi). Lantaran itu, di dalam hidayah tersimpan daya-daya iman yang merupakan pancaran Yang Memberi Keamanan (al-Mu’min), daya-daya Islam yang merupakan pancaran Yang Memberi Kedamaian (as-Salam), dan daya-daya ruhani lain yang merupakan pancaran Asma’, Shifat, dan Af’al Yang Ilahi, yang kesemua daya itu bermuara ke samudera takwa, yakni pancaran Yang Memberi Kekuatan (al-Qawiy).”

“Dengan memahami hidayah dari sisi Tauhid ini, hendaknya kalian dapat menangkap tanda-tanda keberadaan manusia-manusia yang beroleh anugerah hidayah, hidup mereka senantiasa ditandai oleh keterbimbingan dalam menapaki jalan hidup (sabil huda) yang diterangi cahaya al-Hadi. Jika jalan hidup seseorang sudah diterangi cahaya al-Hadi maka daya-daya iman yang memancar dari al-Mu’min akan menandai pula keberadaan hidupnya. Itu berarti, yang disebut manusia beriman adalah manusia yang bisa mengejawantahkan pancaran al-Mu’min sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah al-Mu’min fi al-ardh). Sebagai wakil al-Mu’min, manusia-manusia beriman akan menampakkan suasana hati dan pikirannya yang selalu dipancari rasa aman, cenderung pada terciptanya suasana aman dan selalu memberikan keamanan bagi kehidupan di sekitarnya. Lantaran itu, Rasulullah Saw. bersabda: tidaklah beriman orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.”

“Ketahuilah, daya-daya iman secara hakiki tidak terpisah dari daya-daya Islam. Itu berarti, keberadaan seorang manusia beriman selain ditandai oleh keberadaan dirinya yang mengejawantahkan pancaran Sang Pemberi Keamanan (al-Mu’min), juga ditandai oleh keberadaannya sebagai pembawa kedamaian (al-Islam) yang merupakan pancaran Sang Pemberi Kedamaian (as-Salam). Dengan demikian, manusia-manusia yang beroleh hidayah selalu ditandai oleh keberadaan diri sebagai pencipta keamanan dan kedamaian bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka yang paling kuat dalam perjuangan mengaktualisasi daya-daya iman dan islam dalam kehidupannya akan beroleh derajat dan maqam tertinggi yang disebut takwa, yaitu pancaran dari Yang Mahakuat (al-Qawiy). Manusia-manusia yang sudah menduduki derajat takwa adalah orang yang paling kuat lahir dan batin di antara manusia, karena mereka telah mampu mewujudkan keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Mahakuat di muka bumi (khalifah al-Qawiy fi al-ardh). Mereka itulah adimanusia-adimanusia yang akan dianugerahi kemuliaan (karamah) yang memancar dari al-Karim.”

“Dengan apa yang telah aku sampaikan ini, sesungguhnya telah jelas makna hakiki di balik hidayah dan iman yang bermuara ke samudera takwa dan karamah. Artinya, mereka yang sudah mencapai derajat takwa dan beroleh anugerah karamah dari al-Karim, keberadaannya akan ditandai oleh kemurahan-kemurahan dan kemuliaan-kemuliaan. Itulah citra kaum takwa (qaum al-muttaqin), yang senantiasa menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-‘alamin). Dengan demikian, jika kalian dapati ada manusia-manusia yang menyatakan diri sebagai umat Islam yang beriman dan bertakwa tetapi keberadaan dirinya ditandai oleh citra menakutkan, menggelisahkan, menimbulkan ketidakamanan, membuat suasana tidak damai, dan bahkan menebara kematian, maka sesungguhnya mereka itu pendusta. Mereka itulah yang pantas disebut kaum beragama yang tidak beriman. Mereka mengaku muslim, tetapi tidak memiliki ruh Islam. Mereka mengaku beriman, tetapi tidak memiliki iman. Mereka adalah mayat-mayat hidup yang berbahaya bagi kehidupan makhluk.”

Semua mengangguk-angguk mendengar paparan Abdul Jalil. Mereka menangkap kebenaran di dalam ucapan-ucapannya. Setelah terdiam beberapa jenak, Orang Kaya Kenayan bertanya, “Kami paham dan dapat menangkap paparan Tuan Syaikh. Tetapi, yang masih membingungkan kami adalah bagaimana sikap kami dalam menghadapi keadaan kacau di tengah pertarungan ini? Apakah kami harus berpangku tangan agar keadaan menjadi aman dan damai, sementara orang-orang bergelut dalam pertikaian berdarah?”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, “Sungguh keliru mereka yang membayangkan keamanan dan kedamaian sebagai sesuatu yang diam dan tanpa gerak. Sebab, keamanan dan kedamaian adalah sebuah gerak dinamis dari daya-daya kehidupan laksana arus sungai mengikuti alirannya. Dengan demikian, aku katakan bahwa telah keliru orang-orang yang lari meninggalkan kehidupan dan bertapa di gua-gua karena beralasan ingin menjadikan kehidupan dunia aman dan damai. Mereka itu sejatinya adalah orang-orang picik yang menginginkan keamanan dan kedamaian bagi dirinya sendiri. Mereka adalah para pengecut yang menjadi pecundang karena tidak mampu mewujudkan citra dirinya sebagai wakil al-Mu’min di muka bumi dan wakil as-Salam di muka bumi.”

“Ingat dan camkan dalam sanubari kalian! Tugas utama kaum muslim yang beriman adalah memelihara keamanan dan kedamaian karena mereka adalah wakil as-Salam dan al-Mu’min. Itu berarti, jika terjadi suatu masa di mana ketidakamanan dan kekacauan meliputi wilayah di sekitar kaum muslim yang beriman, maka wajib baginya untuk menggunakan kekuatan tangan dan mulutnya untuk menciptakan keamanan dan kedamaian. Bahkan, untuk alasan demi terciptanya keamanan dan kedamaian, orang-orang muslim beriman diwajibkan berperang untuk melindungi orang-orang lemah baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang ditindas dan dianiaya orang-orang zalim (QS. An-Nisa: 75). Orang-orang beriman yang berjuang menjalankan tugasnya dalam menciptakan keamanan dan kedamaian itu akan dilindungi oleh Allah (QS. al-Baqarah: 257).”

“Aku tahu kalian mencemaskan pertikaian antara para penganut Syi’ah dan Sunni akibat tindakan Syah Ismail di negeri Persia. Aku juga tahu kalian mencemaskan keberadaan orang-orang Portugis di Cochazhi yang mengancam penduduk muslim. Sesungguhnya kalian tidak perlu cemas akan semua peristiwa yang terjadi. Sebab, jika Allah menghendaki, tidaklah manusia saling berbunuh-bunuhan. Tetapi, Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 200). Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak menyerang kalian. Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak berbuat zalim dan tidak membuat kerusakan. Tetaplah kalian menjadi pelindung bagi orang-orang lemah. Lindungilah mereka dalam keamanan dan kedamaian. Kaum beriman tidak pernah menjadi penyerang dan pembuat kekacauan di muka bumi.”

“Sesungguhnya, kehidupan kalian dengan alam sekitar kalian adalah ibarat sekumpulan orang yang menumpang sebuah kapal. Masing-masing penumpang memiliki hak untuk duduk di tempat yang disediakan bagi mereka. Masing-masing penumpang wajib menghargai hak penumpang lain. Itu sebabnya, jika salah seorang penumpang mengeluarkan alat untuk melubangi kapal maka seluruh penumpang wajib mencegahnya agar semuanya selamat sampai ke pelabuhan tujuan.”

“Andaikata saat berlayar itu ada kapal lain yang berusaha merampas kapal dan menawan penumpangnya maka menjadi kewajiban seluruh penumpang – terutama orang-orang yang kuat (takwa), di antara penjaga keamanan (mu’min) dan kedamaian (muslim) – untuk melawan penyerang itu dengan berbagai cara dan membagi tugas masing-masing. Ada penumpang yang bertugas melawan musuh dengan senjata. Ada yang bertugas melindungi penumpang-penumpang lemah. Ada yang mempertahankan ruang kemudi. Dan ada pula yang mempertahankan keutuhan kapal agar tidak tenggelam. Bahkan, ada yang menyelinap masuk ke kapal musuh untuk menggoyahkan semangat mereka. Demikianlah perumpamaan dari kehidupan orang-orang muslim beriman di sebuah negeri yang diserang musuh.”

“Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o Tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?” tanya Orang Kaya Kenayan.

“Ketidakmampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada Yang Mahakuasa (al-Muqtadir).”

“Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?” tanya Orang Kaya Kenayan.

“Kalau terpaksa, kenapa tidak?” sahut Abdul Jalil datar. “Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dengan keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Rajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah artinya kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Rajadiraja semesta; Rabb manusia, Rajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. an-Nas: 1 – 6). Ya bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsaan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.”

“Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?”

“Justru di bawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah,” kata Abdul Jalil.

“Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.”

“Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-Anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Rajadiraja semesta; Dia, Maharajadiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), Yang Maha Mengangkat (ar-Rafi’), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu’iz, Yang Memberi Keamanan (al-Mu’min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.”

“Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan sebagai satu-satu-Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan di mana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemumpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak merampas dan dikuasai musuh,” papar Abdul Jalil.

“Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?” tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik napas berat dan kemudian mengembuskannya keras-keras.

“Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,” sahut Abdul Jalil dingin, “Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.”

“Maksud Tuan Syaikh?”

“Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah rakyat negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran penduduk negeri ini dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?”

“Lantaran itu, o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, serigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah di mana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.”