Al-Maratib al-Wujud

Dalam usianya yang seabad lebih, Malaka yang semula hanya muara tak berpenghuni telah menjelma menjadi bandar perniagaan antara bangsa yang sangat menakjubkan. Berpuluh-puluh kapal besar dan kecil yang berasal dari berbagai negeri berlabuh di situ. Setiap hari kapal-kapal ukuran besar dan kecil silih berganti sandar di dermaga. Tiang-tiangnya yang teracung ke atas berderet laksana barisan tombak yang menghutan. Dari lambung kapal-kapal itu mengalir berbagai jenis barang niaga dari berbagai negeri; sutra, porselen, kain, kapur barus, kayu cendana, beras, pala, cengkeh, lada, timah, kayu gelondongan, emas, batu permata, dan budak.

Bandar Malaka sendiri terletak di muara sungai Malaka dan terbelah oleh sungai tersebut dari barat ke timur. Di bagian selatan sungai terletak bukit Malaka yang berdiri tegak dilingkari pohon-pohon kelapa dan sepetak hutan kecil. Di bagian kaki bukit Malaka terletak istana sultan dan masjid megah, anggun, dan mewah dikitari bangunan-bangunan besar kediaman para pejabat kerajaan. Bentangan jalan-jalan yang rapi dengan tanaman berbunga di kedua sisinya terlihat indah dan sejuk. Jalan-jalan itu membentang berliku menghubungkan kawasan istana dengan pelabuhan dan kutaraja.

Agak jauh dari bukit Malaka terdapat bukit kecil lain yang disebut orang dengan nama Bukit Cina. Bukit Cina adalah kediaman Puteri Hang Li Po, anak kaisar Yung Lo, yang dipersunting Sultan Mansyur Syah, kakek Sultan Mahmud Syah. Para pangeran keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po hanya sedikit yang terlibat di pemerintahan. Mereka umumnya menjadi saudagar. Mereka masih tinggal di Bukit Cina, meski jaraknya cukup jauh dari pusat perniagaan di kutaraja. Dengan tetap tinggal di Bukit Cina, mereka seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar Sultan Malaka.

Tidak jauh dari muara sungai Malaka terdapat jembatan besar yang terbuat dari balok-balok kayu ukuran raksasa. Itulah jembatan yang menghubungkan kawasan istana dengan kutaraja dan pelabuhan. Agak beda dengan kawasan istana sultan, di bagian kutaraja Malaka yang terletak di utara sungai tinggal berbagai jenis manusia dari bermacam bangsa dan beragam lapisan kedudukan. Jika di kawasan sekitar istana di selatan sungai suasananya terasa tenang dan terkesan mewah, kawasan kutaraja di utara sungai itu menampilkan suasana gaduh dan hingar-bingar. Bangunan-bangunan besar berjejal-jejal dan berhimpit dengan bangunan-bangunan kecil. Ada rumah kediaman para saudagar. Ada gudang-gudang penimbunan barang niaga. Ada rumah peduduk kebanyakan. Ada toko-toko, rumah makan, rumah gadai, pasar, kedai-kedai kecil, bedeng-bedeng kumuh tempat kuli dan tukang, dan barak-barak kotor hunian sementara budak-budak. Lorong-lorong sempit dan pengap terselip di antara bangunan-bangunan. Beberapa ruas jalan yang agak lebar menebarkan debu jika dilewati.

Setiap hari, sejak fajar menyingsing di ufuk timur, citra kehidupan Malaka sebagai bandar antara bangsa sudah terlihat dalam bentuk kelebatan manusia yang terseret arus kesibukan luar biasa. Gerakan orang-orang yang berkelebat begitu cepat laksana biji-biji gabah ditampi di tampah. Sejauh mata memandang ke jalan-jalan dari arah pelabuhan ke kutaraja, yang terlihat adalah kelebatan orang-orang yang hilir mudik dari satu tempat ke tempat lain, seolah-olah mereka mengejar sesuatu yang tidak terlihat mata telanjang. Ya, gerakan cepat orang-orang yang hilir mudik dan berlari tersengal-sengal dengan tubuh bersimbah peluh sambil memanggul karung, memikul barang dagangan, menggotong balok, mendorong gerobak, menenteng keranjang, menyunggi barang. Sementara yang lain terlihat bergegas mengendarai kereta, diangkut tandu, naik pedati, menunggang kuda di tengah kepulan debu dan teriakan-teriakan orang yang memerintah serta gaduhnya celoteh kuli-kuli pengangkut yang berseliweran.

Barang seabad silam, di muara tempat bandar Malaka terletak masih belum dihuni orang. Sebatang pohon Malaka yang dijadikan tempat berteduh Parameswara, pangeran pemberontak asal Majapahit asal Palembang, adalah satu-satunya saksi bisu tentang bagaimana bandar niaga antara bangsa itu bermula. Parameswara dan para pengikutnya itulah penghuni pertama muara sungai Malaka itu. Dalam hitungan tahun sejak hunian pertama di Malaka dibuka, utusan Kaisar Yung Lo bernama Laksamana Yin Ching mengunjugi tempat baru itu. Enam tahun kemudian, Laksamana Cheng Ho datang pula ke Malaka. Dua tahun setelah kehadiran Cheng Ho, Parameswara menghadap Kaisar Yung Lo ke Beijing.

Tak lama sekembali dari Beijing, Parameswara memeluk Islam ketika menikahi puteri asal Pasai. Ia menggunakan nama muslim: Megat Iskandar Syah. Sejak masuk Islamnya Parameswara, Malaka dengan cepat menjadi bandar perniagaan yang ramai ketika disinggahi para saudagar Muslim dari Cina, India, Arab, Persia, Turki, dan Nusantara. Bahkan, karena letak Malaka yang berada di tengah lintasan perniagaan dari utara ke selatan itu maka dengan cepat ia tumbuh menjadi bandar antara bangsa.

Setelah dua puluh empat tahun berkuasa di Malaka, Megat Iskandar Syah mangkat. Ia digantikan oleh puteranya, Muhammad Syah yang bergelar Seri Maharaja. Ia meneruskan kebijakan ayahandanya. Seri Maharaja memiliki dua orang putera. Yang sulung bernama Raja Kassim, ibunya berasal dari kalangan jelata berdarah Tamil. Putera kedua, Raja Ibrahim, ibunya berdarah biru, puteri Sultan Rokan. Saat Seri Maharaja mangkat, Raja Ibrahim dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Seri Parameswara Dewa Syah. Namun, tak sampai setahun berkuasa Raja Ibrahim diserang oleh kakak tirinya, Raja Kassim, yang didukung kaum muslim Tamil yang dipimpin Tun Ali. Dukungan Tun Ali dapat dipahami karena ia adalah kakak kandung dari ibunda Raja Kassim. Raja Ibrahim pun terbunuh. Raja Kassim kemudian menggantikan dedudukannya dengan gelar Muzaffar Syah.

Ketika takhta Malaka diduduki Muzaffar Syah inilah tampil seorang negarawan ulung bernama Tun Perak yang menduduki jabatan Bendahara Paduka Raja (Perdana Menteri). Dengan kecerdasan dan kepiawaiannya menata pemerintahan, Malaka diarahkan menjadi kekuatan maritim yang heba. Berbagai negeri sekitar Malaka seperti Perak, Pahang, Johor, Kelantan, Rokan, Aru, Siak, Kampar, Indragiri, Riau, dan Lingga ditaklukkan. Malaka melengkapi kekuatan armadanya dengan senjata-senjata bikinan Jawa. Lantaran armada Malaka sudah sedemikian rupa kuat maka sewaktu pasukan dari Siam menyerbu, terjadi pertempuran sengit di dekat Muar yang berakibat hancur binasanya pasukan Siam.

Ketika Muzaffar Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya, Raja Abdullah, yang bergelar Mansyur Syah. Di bawah Mansyur Syah, Malaka maju pesat terutama karena kehebatan Bendahara Tun Perak dan Laksamana Hang Tuah. Pada zaman Mansyur Syah inilah kebudayaan Melayu tumbuh dengan pesat dan menancapkan akar-akarnya. Mansyur Syah digantikan oleh puteranya yang bergelar Alauddin Riayat Syah, kemenakan Bendahara Tun Perak. Ketika Alauddin Riayat Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Mahmud Syah.

Pada saat Mahmud Syah berkuasa, Bendahara Tun Perak sudah tua dan kemudian meninggal. Ia digantikan oleh Tun Putih, yang sudah tua juga. Belum dua tahun menjabat, Tun Putih meninggal. Ia digantikan oleh Tun Mutahir, anak Tun Ali. Sebagaimana ayahandanya, Tun Mutahir mendapat dukungan golongan muslim Tamil. Untuk menunjukkan kehebatan diri, tak lama setalah menjadi Bendahara Raja, Tun Mutahir menaklukkan Kedah dan Patani. Namun, Tun Mutahir bukanlah seorang pemimpin yang baik. Ia dikenal sebagai pejabat curang dan kejam yang mabuk kekuasaan, gila pangkat, dan rakus kekayaan. Ia tidak segan menghabisi lawan-lawan politiknya atau siapa saja yang dianggap melawan kebijakannya yang sering konyol.

Ibarat pepatah “bapak kencing berdiri anak kencing berlari”, sifat buruk Tun Mutahir itu dengan cepat diikuti oleh bawahannya. Hampir setiap hidung di segenap penjuru negeri Malaka mengetahui jika Tun Mutahir dan pejabat kerajaan bawahannya adalah komplotan pejabat tengik yang suka makan suap. Peraturan-peraturan dibuat menurut kepentingan pihak-pihak yang bisa menyuap. Peraturan-peraturan terkait konsesi perdagangan, peraturan tata niaga, penetapan hukum peradilan, penentuan kepangkatan dan jabatan, semuanya tergantung kepada berapa besar orang seorang bisa menyuap pejabat tertingi. Celakanya, Tun Mutahir tidak tahu kapan waktu yang tepat ia harus berhenti. Tanpa sadar, ia menganggap keberadaannya sebagai Bendahara Raja adalah sama dengan pemilik kekuasaan tertinggi, yaitu sultan. Ia bahkan merasa lebih tinggi dari sultan. Itu sebabnya, dengan berbagai cara yang licik dan busuk ia menyingkirkan pejabat-pejabat yang setia kepada sultan. Ia bahkan memfitnah Laksamana Hang Tuah hingga pahlawan gagah berani itu dijatuhi hukuman mati oleh sultan. Setelah yakin kekuasaan sultan lemah, ia dengan semau-maunya menjalankan pemerintahan yang korup dan nepotis.

Tindakan Tun Mutahir yang sewenang-wenang itu ternyata menimbulkan reaksi. Tanpa ada yang menggalang, diam-diam bermunculan pihak-pihak di lingkungan kerajaan yang melakukan perlawanan terhadapnya. Pejabat-pejabat tinggi dan rendahan, meski tak banyak jumlahnya, diam-diam menggalang kekuatan untuk mendukung kekuasaan sultan. Gerakan itu ternyata disambut baik oleh sultan yang merasa tak berdaya.

Di bawah Sultan Mahmud Syah, pada usianya yang sudah lebih seabad, Malaka memang telah menjadi bandar antara bangsa yang sangat ramai dan makmur. Malaka dihuni tak kurang dari 120.000 jiwa. Malaka menjadi gantungan harapan bagi anak negeri untuk menapaki kemakmuran. Malangnya, akibat kekuasaan Tun Mutahir dan kaki tangannya yang tercela, kehidupan di Malaka yang sekilas tampak makmur itu malah menebarkan suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan bagi mereka yang memiliki hati nurani. Pedagang-pedagang kecil, petani, nelayan, dan pejabat-pejabat jujur yang menamba sesuap nasi nyaris tidak ada yang terbebas dari lilitan hutang. Kegiatan berutang dengan bunga yang semula dilakukan di rumah-rumah gadai, pada gilirannya telah berkembang di tengah penduduk laksana jamur di musim hujan. Siapa saja di antara penduduk Malaka yang punya uang, dapat menjadi lintah darat yang bebas mengisap darah sesamanya tanpa kenal ampun. Para petugas kerajaan yang beroleh suap dari para lintah darat sering kedapatan menjelma dalam wujud tukang tagih yang menakutkan.

Di tengah suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan hati nurani itulah Abdul Jalil menginjakkan kakinya untuk kali kedua di Malaka. Sebagai manusia yang hidup diterangi hati nurani, setelah hampir tiga dasawarsa meninggalkan Malaka, ia tiba-tiba merasakan dirinya seolah-olah orang asing yang belum pernah ke Malaka. Entah apa yang telah berubah dari bandar itu, ia tidak tahu. Ia hanya merasa tak mengenal lagi kota itu. Sejak turun dari kapal menuju pusat kota dengan diikuti istri, anak, dan Raden Sahid, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah asing dengan bangunan-bangunan dan orang-orang yang tak dikenalnya. Ia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan bandar Malaka, bandar niaga ini benar-benar telah berubah dan nyaris tak dikenal lagi, katanya dalam hati.

Setelah menyusuri sekitar pelabuhan sambil melihat-lihat perubahan keadaan sekitarnya, Abdul Jalil berjalan lambat-lambat melintasi jalan yang menuju arah pusat kota. Di persimpangan jalan yang menuju arah kantor syahbandar, ia menghentikan langkah. Dengan pandangan nanap, ia menyaksikan arus cepat gerakan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ia menangkap semacam keanehan gerak dari orang-orang yang hilir mudik itu. Beberapa jenak kemudian ia menoleh ke arah Raden Sahid dan bertanya, “Menurut pandanganmu, o Anakku, apakah yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang hilir mudik itu?”

Raden Sahid yang diam-diam mengamati kesibukan orang-orang itu tidak segera menjawab. Dia merenung sejenak. Setelah itu, dia menelan ludah dan berkata, “Menurut hemat kami, sesungguhnya orang-orang yang hilir mudik di jalanan itu tidak melakukan apa-apa, Paman.”

“Tidak melakukan apa-apa?” gumam Abdul Jalil dengan kening berkerut. “Kalau mereka tidak melakukan apa-apa, kenapa mereka berlari membawa beban dengan keringat bercucuran bagaikan hewan pemikul beban didera tuannya?”

“Menurut hemat kami, sesungguhnya mereka sedang terseret arus sungai kehidupan duniawi yang deras, Paman. Mereka timbul tenggelam dihanyutkan oleh air bah kebendaan yang bakal membenamkan mereka ke dalam endapan lumpur kebinasaan yang pekat.”

“Itu jawaban yang arif. Itu menunjukkan cakrawala kesadaranmu sudah diterangi nur lawami’ dan kalbumu sudah dipancari pemahaman fawa’id. Tetapi masih perlu ditingkatkan,” ujar Abdul Jalil.

“Kami mohon bimbingan Paman.”

“Aku katakan bahwa pernyataanmu itu sudah benar, o Anakku,” kata Abdul Jalil dengan mata memandang gumpalan awan yang berlayar di langit. “Betapa orang-orang itu sejatinya memang tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Mereka hanya terseret air bah kebendaan di sungai kehidupan duniawi tanpa mereka sadari. Tetapi, cobalah engkau resapi lebih jernih tentang hakikat terdalam dari sungai kehidupan duniawi itu. Resapi ia dengan benderang kecemerlangan nur lawami’ di bentangan cakrawala kesadaranmu. Resapi ia dengan terang dan luasnya pemahaman fawa’id di kedalaman semesta kalbumu. Resapi dengan lebih jernih akan hakikat yang maujud dan Yang Wujud.”

“Gunakan penglihatan mata batin untuk menangkap rahasia keberadaan wilayah nirbendawi (malakut) yang tersembunyi di balik wilayah jasadi (mulki) sejauh yang bisa engkau tangkap. Resapi dengan tenang hakikat terdalam di balik perlambang keberadaan mata air, lekukan dan liku-liku sungai, tinggi dan rendah dasar sungai, arus, muara, lautan, dan air yang mengalir di sungai kehidupan duniawi. Resapi semua itu dengan kalbu yang jernih! Resapi kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Ilahi sampai engkau tangkap nuansa Kehadiran al-Malik al-Mulki di balik segala sesuatu yang maujud! Lalu saksikan Kebenaran Sejati di balik semua itu dengan mata batin yang jernih! Saksikan Kehadiran Yang Serba Meliputi (Hadrah al-Jam’) yang tersembunyi di balik kehadiran sesuatu (hadrah) sejauh yang bisa engkau tangkap tingkatan-tingkatannya (al-maratib al-wujud)! Aku berharap, engkau akan dapat menangkap rahasia hakiki di balik kehidupan orang-orang yang terseret arus kehidupan duniawi yang terpampang di hadapanmu itu.”

Raden Sahid diam. Dengan tenang dia duduk bersila dan memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam dan kemudian mengaturnya. Dia berusaha mengikuti semua petunjuk yang diberikan Abdul Jalil. Setelah merasa tenang dalam mengatur napas, ia mulai mendaki empat tangga menuju matra alam al-ghaib, yaitu istighfar – shalawat – tahlil – nafs al-haqq. Dia menyelaraskan kiblat hati dan pikiran kepada titik di antara kedua matanya. Dia tidak mempedulikan panas matahari yang mulai menyengat. Dia tidak mempedulikan suara hiruk pikuk dan teriakan orang-orang di sekitarnya yang terseret air bah kehidupan duniawi.

Ketika pendakiannya sampai pada nafs al-haqq, tiba-tiba saja ia merasakan tangan kiri Abdul Jalil menyentuh tengkuknya. Sejenak setelah itu, dia merasakan telapak tangan kanan Abdul Jalil menutupi kedua matanya sehingga kegelapan melingkupi penglihatan indriawinya. Seiring terhamparnya kegelapan dalam indera penglihatannya, dia sekonyong-konyong merasakan keanehan terjadi pada dirinya. Secara menakjubkan, dia merasa seolah-olah tidak berada di suatu tempat di Malaka dan tidak pula berada di suatu tempat di muka bumi. Dia merasa seperti berada di dunia lain, yang keadaannya hampir sama dengan saat dia bertemu Maharisi Agastya di gunung Malaya. Bahkan, suasana yang meliputinya dia rasakan jauh lebih menakjubkan lagi.

Tertegun merasakan keadaan yang meliputinya begitu aneh, tanpa terduga dia mengalami peristiwa yang sangat menajubkan bagai berada di alam mimpi: di tengah kegelapan penglihatan indriawinya itu, tiba-tiba memancar cahaya menyilaukan nur lawami’ yang terang benderang dari antara kedua matanya. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan. Ketika dia tercengang, tiba-tiba nur lawami’ yang hampir membutakan itu meluncur cepat laksana kilat, menyambar relung-relung kedalaman kalbunya.

Bagaikan orang terbangun dari tidur, dia tertegun-tegun kebingungan karena cahaya nur lawami’ yang disaksikannya itu memancar jauh lebih terang daripada yang pernah dia saksikan sebelumnya. Sedetik kemudian, di tengah ketakjuban dan ketertegunan, dia merasakan kesadaran baru demi kesadaran baru menyingkapkan kegelapan jiwanya, laksana tirai penutup disibakkan. Secara perlahan-lahan tetapi cepat, ia merasakan kesadaran barunya terkuak laksana ular yang keluar dari selongsong kulitnya. Atau, seperti kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Atau, anak ayam keluar dari cangkang telurnya. Atau, hewan penghuni liang untuk kali pertama keluar dari liangnya. Dan, seiring tersingkapnya kesadaran baru demi kesadaran barunya itu, dia mendapati kenyataan menakjubkan tergelar di hadapannya. Melalui cahaya di antara kedua matanya itu, dia seperti memiliki mata ketiga yang melihat kenyataan di sekitarnya dengan penglihatan yang berbeda.

Dengan mata ketiga itu, tiba-tiba cakrawala kehidupan yang tergelar di hadapannya ia saksikan sebagai pemandangan yang luar biasa ajaib: sejauh mata ketiga itu memandang, yang tampak adalah perwujudan dari segala sesuatu yang maujud di sekitarnya dengan tingkat kehadiran yang mustahil dijabarkan dengan nalar. Dia tidak tahu apakah tingkat-tingkat kehadiran itu merupakan tingkatan yang maujud dari wilayah jasadi (mulki) hingga wilayah nirbendawi (malakut), ataukah itu merupakan tingkatan kesadaran dirinya yang berlapis-lapis laksana kesadaran cacing – kadal – kucing – harimau – burung. Dia tidak mampu menjabarkannya. Saat berada pada puncak kesadaraun dan sekaligus penglihatan mata ketiga itu, tersingkaplah bentangan cakrawala pemahaman fawa’id yang luar biasa yang jauh melebihi apa yang pernah dialami dan dirasakannya. Dia terperangah takjub karena di hadapannya secara ajaib terpampang pemandangan menakjubkan yang sebelumnya belum pernah ia lihat dan ketahui.

Bagaikan berada di alam mimpi, ia menyaksikan dengan sangat jelas kilasan-kilasan lembut dari perwujudan segala sesuatu yang tegelar di hadapannya, laksana bentangan suatu matra kehidupan di dalam samudera raya. Sejauh mata memandang, yang tampak maujud di dalam samudera raya itu adalah perwujudan menakjubkan dari anasir-anasir yang saling mengait, mulai anasir yang paling padat hingga anasir yang paling halus sampai yang nirbendawi. Aneh sekali penglihatan itu. Ajaib. Semua perwujudan yang menampak terlihat dengan terang tingkat-tingkat kehadirannya beserta seluruh anasir pembentuknya, di mana kehadiran wilayah jasadi seolah-olah terhubung saling meliputi dengan kehadiran wilayah nirbendawi dan terus terangkai dalam liputan kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik al-Mulki).

Sesaat dia tertegun-tegun dalam pesona atas pemandangan mencengangkan itu. Betapa ajaibnya penglihatan batin yang disaksikan mata ketiganya itu: yang maujud menampakkan jati diri dalam rangkaian tingkatan-tingkatan saling meliputi dengan yang nirbendawi sampai kepada liputan Yang Wujud. Inikah yang disebut al-maratib al-wujud, yaitu tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud dalam tanazzul? Dia makin tertegun dan terpesong ketika menyaksikan berbagai bentuk maujud di sekitarnya yang berubah-ubah sangat menakjubkan: bangunan-bangunan, pohon-pohon, batu-batu, kapal-kapal, lautan awan kapas di langit, manusia-manusia yang hilir mudik di sekitarnya, hewan peliharaan yang berjalan, burung-burung yang terbang di angkasa, bahkan iring-iringan semut yang merambat di pepohonan, tampil sebagai bentuk-bentuk aneh yang berseliweran di dalam “air” samudera raya. Seluruh bentuk aneh itu terkait satu sama lain. Semua saling berjalin berkelindan tak terpisah. Ke mana pun mereka bergerak, mereka selalu terkait dan selalu berada di dalam liputan anasir “air” samudera raya. Bahkan, anasir air yang meliputi mereka itu secara menakjubkan diliputi oleh anasir “api” samudera api. Anasir api pun diliputi anasir “kilatan halilintar” dari samudera petir. Anasir kilatan halilintar pun diliputi anasir “cahaya” dari samudera cahaya. Demikianlah, saling meliputi antara anasir satu dan anasir lain itu terjadi secara menakjubkan, dari anasir terpadat hingga yang bersifat lebih halus hingga nirbendawi.

Sesungguhnya, pemandangan aneh yang disaksikannya itu tidaklah tepat benar dibandingkan dengan matra kehidupan makhluk di dalam laut. Sebab, segala sesuatu yang maujud di dalam penglihatan batinnya itu menampakkan anasir-anasir pembentuknya yang hadir secara bertingkat. Pemandangan ajaib itu bisa diibaratkan seperti bentangan kain yang terlihat seluruh anasir pembentuknya, mulai dari jalinan benang, lalu benang dibentuk dari jalinan kapas, kapas dibentuk dari serat-serat kapas, terus ke anasir terkecil, hingga yang nirbendawi. Namun, gambaran itu pun tidak tepat benar karena tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud memang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu kecuali secara sedikit sekali. Di tengah ketakjubannya itu, dia merasakan kesadarannya makin terserap manakala mata ketiganya menayaksikan pelihatan ajaib yang mencengngkan atas manusia-manusia yang berseliweran di sekitarnya.

Secara ajaib, dia menyaksikan pancaran tujuh cahaya benderang berpendar-pendar tak terbayangkan keindahan dan kelembutannya pada tiap-tiap pribadi manusia. Pancaran cahaya pertama tampak berpendar tepat dia atas kepala setiap manusia dengan jarak sekitar sejengkal di atas ubun-ubun. Cahaya itu berwarna putih cemerlang. Besarnya seukuran telur angsa. Cahaya putih itu berpendar dengan tingkat kecemerlangan yang tidak sama.

Tepat di kening, di antara dua mata masing-masing manusia, memancar cahaya putih-kebiruan sebesar uang logam yang berpendar dengan tingkat kecemerlangan tidak sama pula. Lalu, tepat di ujung bawah tenggorokan masing-masing manusia, terlihat cahaya lembayung-kemerahan sebesar telur merpati berpendar-pendar dengan tingkat cemerlang yang juga tidak sama. Di bawahnya, di bagian dada terlihat pancaran cahaya putih-gemerlap sebesar kepalan tangan orang dewasa. Cahaya putih gemerlap itu sangat menyilaukan laksana pantulan batu permata. Sebagaimana pancaran cahaya yang lain, tingkat kecemerlangan cahaya di dada itu tidak sama pula, bahkan sangat banyak di antaranya yang terlihat sangat redup.

Raden Sahid sadar bahwa penglihatan ajaib yang disaksikannya itu adalah penglihatan bashirah yang akan menyingsing dan sirna manakala dia melibatkan nalarnya. Itu sebabnya, dia membiarkan keajaiban-keajaiban penglihatan itu membentang di cakrawala pemahaman fawa’id tanpa perlu ia bertanya tentang ini dan itu. Demikianlah ia menyaksikan lagi pancaran cahaya kuning-terang berpendar sebesar telur ayam di bawah pusar manusia-manusia itu dengan tingkat terang yang tidak sama. Setelah itu, dia saksikan pancaran cahaya putih-kuning-merah-biru-hitam pada bagian tengah tulang belakangnya. Dan terakhir, dia saksikan pancaran cahaya biru-kehitaman yang redup di ujung tulang ekor masing-masing manusia. Besar cahaya itu seukuran ekor harimau, tetapi memanjang seperti ular. Cahaya di ujung tulang ekor manusia itu memiliki tingkat keredupan yang tidak sama pula.

Raden Sahid tidak mengetahui makna di balik tujuh pancaran cahaya yang berpendar itu. Dia hanya bisa tercenagang-cengang menyaksikannya. Betapa aneh dua berkas cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor manusia itu. Setiap kali cahaya putih-cemerlang yang memancar di atas ubun-ubun manusia berpendar terang dan redup, saat itulah dia menyaksikan sosok dari makhluk-makhluk itu bergerak dan melakukan berbagai kegiatan kehidupan. Hal yang sama terjadi ketika cahaya biru-kehitaman yang memanjang di ujung tulang ekor manusia-manusia itu berpendar terang atau redup. Cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor itu seolah merupakan saluran utama kehidupan yang menentukan gerak hidup orang seorang. Sementara saat cahaya di dada yang berwarna putih-cemerlang kristal itu memancar, makhluk-makhluk itu berpikir, berangan-angan, dan berbicara. Sungguh ajaib dan menakjubkan sosok manusia-manusia itu dalam penglihatan batin. Mereka terlihat seperti boneka yang digerakkan oleh daya gaib dari cahaya yang memancar di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor. Mereka berpikir, berangan-angan, dan berbicara karena dipancari cahaya yang memancar dari dadanya.

Raden Sahid tidak tahu berapa lama dia menyaksikan kenyataan menakjubkan dari kehidupan manusia lewat pemahaman fawa’id di kedalaman kalbu yang dipancari nur lawami’ itu. Dia hanya merasakan mata ketiganya makin tercelikkan ketika menyaksikan perwujudan hakiki dari perlambang-perlambang kehadiran jasadi dan nirbendawi yang bertingkat-tingkat itu. Namun, akibat peglihatan batin yang sangat mencengangkan itu, dia menjadi termangu-mangu kebingungan seperti orang linglung ketika usai mengalami peristiwa ajaib, terserap oleh suatu daya pesona dahsyat yang memukau kesadaran manusiawinya.

Melihat Raden Sahid tercengang-cengang linglung kebingungan, Abdul Jalil tertawa. Ia paham, pengaruh tersingkapnya (kasf) kesadaran baru yang luas (basth) terlalu cepat, sebagaimana pernah ia alami saat dibimbing oleh Misykat al-Marhum di gunung Uhud, dapat membuat orang seorang mengalami keguncangan jiwa (majnun) selama kurun waktu tertentu, karena akal pikiran dan kalbunya belum selaras. Itu sebabnya, ia tidak akan bertanya tentang pengalaman ruhani yang dialami Raden Sahid dengan bahasa lisan, melainkan dengan bahasa perlambang (isyarah) yang langsung menembus ke dalam mahligai kalbunya. Demikianlah, melalui isyarah, Raden Sahid mengungkapkan pengalaman ruhani yang baru saja dialaminya, yang jika dipaparkan dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:

“Sesungguhnya, di balik keberadaan sungai kehidupan duniawi yang bermuara ke samudera Wujud (bahr al-wujud) itu telah kami saksikan betapa sejatinya Allah tidak tersembunyi karena Dia tidak pernah tidak hadir. Sesungguhnya, kami telah saksikan bahwa di balik yang maujud sejatinya tersembunyi Yang Wujud dalam tingkatan-tingkatan kehadiran (al-maratib al-wujud), ibarat keberadaan anasir nirbendawi, anasir air, anasir makhluk air, anasir angin, anasir ombak, anasir buih, dan anasir pantai yang membentuk samudera kehidupan semesta. Kami menyaksikan dengan mata batin betapa sesungguhnya di balik keberadaan sebuah bentangan samudera kehidupan semesta, sejatinya tersembunyi perlambang Keberadaan Hakiki antara yang maujud dan Yang Wujud. Kami menyaksikan dengan bashirah hakikat turunnya (tanazzul) Yang Wujud ke wilayah pemunculan kehadiran (maujud) secara bertingkat-tingkat dalam bentuk perlambang mengejawantahnya Shifat, Af’al, dan Asma’-Nya dalam rangkaian al-Malik – malakut – mulki.”

Abdul Jalil tertawa. Setelah itu, dengan suara lain ia berkata dalam bahasa perlambang, “Benarlah apa yang engkau ungkapkan itu, o Anakku. Sebab, sejatinya di balik kehadiran (hadrah) segala sesuatu yang maujud di alam semesta ini tidak ada yang terlepas atau terpisah sama sekali dari Kehadiran Zat Wajib al-Wujud, yaitu Zat Yang Serba Meliputi segala sesuatu yang diperbuat makhluk (QS. al-Anfal: 47; Hud: 92; al-Isra’: 60). Segala ciptaan-Nya berasal dari-Nya dan senantiasa berada di dalam liputan kekuasaan-Nya. Dia Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, Mahabatin, dan Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu (QS. al-Hadid: 3). Karena Dia meliputi segala sesuatu maka ke mana pun engkau menghadapkan wajah, di situ terpampang wajah-Nya (QS. al-Baqarah: 115). Dan segala sesuatu yang maujud pasti rusak binasa bentuknya kecuali wajah-Nya (QS. al-Qashash: 88).”

“Sungguh, dengan mata batin yang jernih, engkau telah berhasil menangkap sasmita kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah) di balik sungai kehidupan duniawi yang sedang menghanyutkan manusia-manusia yang terseret air bah kebendaan di dalamnya itu. Engkau telah berhasil menyaksikan rahasia Ilahi tentang bagaimana sejatinya tiap-tiap makhluk ubun-ubunnya berada di dalam genggaman-Nya (QS. Hud: 56). Engkau telah merasakan dan mempersaksikan makna rahasia dari sabda-Nya bahwa Dia lebih dekat daripada urat lehermu (QS. Qaf: 16). Engkau telah menyaksikan tanda-tanda Allah di bumi maupun di dalam dirimu (QS. adz-Dzariyat: 20-21). Engkau telah berhasil menyaksikan bahwa Dia adalah Cahaya langit dan bumi (QS. an-Nur: 35). Jika nanti maqam yang engkau capai makin meningkat maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran penyaksian tentang Dia sebagai Cahaya di Atas Cahaya (QS. an-Nur: 35), sehingga engkau akan dapat mengetahui siapa orang yang dibimbing al-Hadi dan siapa orang yang disesatkan al-Mudhill.”

“Apakah yang Paman maksud dengan kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah)? Adakah itu berhubungan dengan Yang Maha Menyaksikan (Asy-Syahid)? Kami mohon bimbingan.”

“Sesungguhnya, sasmita Kebenaran yang engkau tangkap dari keberadaan sungai kehidupan duniawi dalam bentuk perlambang samudera raya beserta anasir-anasir pembentuknya itu pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari Kehadiran Asma (Hadrah al-Asma’) yang memancar dari Zat Mahatunggal Yang Serba Meliputi (Hadrah adz-Dzatiyyah). Sesungguhnya, engkah telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik Mata Air yang menjadi sumber sungai kehidupan duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Mencipta (al-Khaliq), Yang Mahaawal (al-Awwal), Yang Maha Memulai (al-Mubdi). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik aliran sungai kehidupan duniawi yang mengalir itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahahidup (al-Hayy), Yang Maha Berlimpah (al-Wajid), Yang Mahanyata (azh-Zhahir). Engkau juga telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik tinggi rendah permukaan dan dasar sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Merendahkan (al-Mudzill), Yang Maha tinggi (al-‘Ali), Yang Maha membentuk (al-Mushawwir).”

“Sungguh, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik luas dan sempitnya tepian sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Menyempitkan (al-Qabith), Yang Maha Meluaskan (al-Bhasit), Yang Maha Menjaga (al-Muhaimin). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik arus sungai yang deras maupun yang lembut itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahalembut (al-Latif), Yang Maha Memaksa (al-Qahhar), Yang Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik lekukan dan liku-liku sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahalurus (al-Hadi), Yang Maha Membelokkan (al-Mudhill), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik muara sungai kehidupan sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Menghimpun (al-Jami’), Yang Maha Membuka (al-Fattah), Yang Maha Memajukan (al-Muqaddim).”

“Engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik lautan kehidupan dan gumpalan awan yang menurunkan hujan rahmat dari angkasa duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahaluas (al-Washiy), Yang Mahabesar (al-Kabir), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Mahakokoh (al-Matin), Yang Mahamandiri (ash-Shamad), Yang Mahaakhir (al-Akhir), Yang Maha Meyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Mematikan (al-Mumit), Yang Maha Menghidupkan (al-Muhyi), Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Maha Menyucikan (at-Tawwab), dan Segala Asma’, Af’al, Shifat Yang Serba Maha.”

“Ya, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik semua atribut dan perlambang Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya itu sejatinya tersembunyi Hakikat dari Zat Mutlak (Dzat al-Muthlaqah): Zat Murni (Dzat al-Bahat) Yang Tersembunyi (al-Bathin), Zat yang tak diketahui siapa pun kecuali Dia (kunhi Dzat), Zat Yang Cinta Diketahui (al-Wadud), Zat Yang Mencipta (al-Khaliq) segala ciptaan (makhluk) untuk Menyaksikan (asy-Syahid) Keesaan (al-Wahid), Kemuliaan (al-Majid), Kesucian (al-Muta’ali), Keluhuran (al-Jalil), Kekuasaan (al-Qadir), Kemurahan (al-Karim), Keagungan (al-‘Azhim), Kesucian (al-Quddus), dan Kemahamutlakan seluruh Kehadiran (Hadhrah) Asma’, Shifat, Af’al, dan Dzat-Nya yang memancar dari tahap Haahuut-Lahut-Jabarut-Malakut-Mitsal-Nasut. Demikianlah, engkau telah berhasil menangkap makna hakiki kehadiran penyaksian (hadhrah asy-syuhudiyyah) dari tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud (al-maratib al-wujud) di alam semesta raya yang tak terukur luasnya ini.”

“Kami paham, Paman,” kata Raden Sahid dengan wajah berbinar-binar. “Tapi, bolehkah kami menyimpulkan bahwa sejatinya di balik yang maujud ini bukanlah hamparan Kehampaan, melainkan suatu Kepenuhan? Sebab, yang kami saksikan di balik yang maujud itu adalah Kepenuhan Ilahi yang meliputi segala. Dalam penglihatan mata batin kami, kami menyaksikan segala sesuatu yang maujud di wilayah jasadi (mulki) sejatinya berada di dalam liputan Yang Wujud, ibarat gelembung-gelembung udara kosong di dalam air.”

“Janganlah engkau menyimpulkan sesuatu yang engkau saksikan melalui mata batin dengan akal pikiranmu. Sebab, hal itu akan menjerat hakikat Kebenaran yang tersembunyi di balik rahasia-Nya. Engkau akan terpeleset oleh nalar untuk menafikan azh-Zhahir dan mengisybatkan al-Bathin. Lantaran itu, cukup arif jika engkau menilai apa yang engkau saksikan sebagai tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud itu dengan istilah sederhana tetapi rumit: awang-awang, yaitu ungkapan yang mewakili makna Kehampaan sekaligus Kepenuhan. Janganlah kata-kata itu ditafsir-tafsir lagi dengan nalar sehingga Keduanya menjadi terpisah sendiri-sendiri sebagai Kehampaan dan Kepenuhan yang saling Berdiri sendiri satu sama lain, atau Kedua-nya bisa saling menyatu Satu sama lain. Apa yang telah engkau saksikan tidak boleh ditafsir-tafsir.”

“Ingat dan camkan, apa yang engkau saksikan denga bashirah tidak akan peernah bisa dijabarkan dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Ingat dan camkan pula, tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud yang sudah engkau saksikan itu jelas-jelas menunjukkan tatanan hukum yang sangat sempurna dalam ‘pemunculan’ hingga ke tingkat maujud. Itu berarti, tidak akan mungkin Zat Yang Wujud bercampur baur (imtizaj) dengan yang maujud. Zat Yang Wujud juga tidak akan mungkin menjadi satu (ittihad) dengan yang maujud, apalagi sampai menjelma (hall) dalam wilayah jasadi (mulki). Dengan demikian, jika ada orang seorang dengan kekuatan akal budinya menyimpulkan bahwa Zat Yang Wujud dapat berinkarnasi (hulul), bercampur baur (imtizaj), menyatu (ittihad), dan meyakini bahwa ruh bisa berpindah-pindah (naskh al-arwah) maka sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui bahwa di hamparan alam gaib sejatinya terdapat ketetapan hukum Sempurna yang mengatur kehadiran masing-masing tingkatan (al-maratib) ‘pemunculan’ dari Yang Wujud hingga yang maujud, melalui tujuh tahap dengan lapisan selubung berpuluh-puluh ribu hijab.”

“Kami memahami petunjuk Paman tentang tingkatan-tingkatan ‘pemunculan’ Yang Wujud melalui tujuh tahap. Tetapi kami masih bingung dengan masing-masing tingkatan kehadiran, terutama yang terkait dengan keberadaan piranti bahasa pada masing-masing tingkat. Kami masih sulit membedakan makna hakiki di balik bahasa indriawi, bahasa malakut, dan bahasa rabb pada masing-masing kehadiran. Kami mohon penjelasan dan bimbingan tentang itu, Paman,” kata Raden Sahid suatu malam, beberapa hari setelah pengalaman yang menggetarkan jiwanya itu berlalu.

“Ingat dan resapi, o Anakku! Pada tingkat kehadiran wilayah jasadi (mulki), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa yang bisa ditangkap panca indera. Itulah bahasa yang mengalir dari mulut dan diserap oleh indera pendengaran. Itulah bahasa yang bisa dipahami oleh nafs pada masing-masing makhluk. Dengan bahasa ini, Adam a.s. mengenal nama-nama. Pada tingkat kehadiran wilayah nirbendawi (malakut), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa perlambang (isyarah) yang hanya bisa dipahami maknanya oleh Ruh al-Idhafi lewat pendengaran batin (sam’). Sementara pada tingkat Kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung adalah bahasa tanpa kata tanpa perlambang yang disebut al-ima’, yaitu bahasa rabb yang hanya bisa ditangkap oleh Ruh al-Haqq dan al-Haqq,” Abdul Jalil menjelaskan.

“Apakah yang disebut bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang biasa digunakan oleh para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa saat mereka mengalami kerawuhan (kehadiran) arwah dewata yang hidup langgeng?” tanya Raden Sahid.

“Sepengetahuanku, bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang dimaksud para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Aku katakan tidak sama sebab setahuku belakangan ini banyak di antara pengamal ajaran Pangiwa, yang berasal dari kalangan kebanyakan, telah keliru memaknai daya yang memancar dari kantha-mula atau dar al-khanja-rah sebagai bahasa ruh yang bersumber dari ruh suci Ilahi. Padahal, kantha-mula adalah salah satu ‘tempat pengungkapan’ (al-mahall) bagi mengalir keluarnya daya-daya kejahatan dan kebaikan, di mana daya kejahatan dan daya kebaikan itu muncul dengan cara diilhamkan kepada manusia melalui jalan kefasikan dan jalan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8). Dengan begitu, keberadaan kantha-mula atau dar al-khanjarah itu memiliki dua kemungkinan: ia bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan ketakwaan yang akan membawa orang seorang mengungkapkan Kebenaran lewat lisannya, atau sebaliknya ia juga bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan kefasikan, yang akan memancarkan jalan Kesesatan (ablasa) lewat lisannya.”

“Jika suatu saat engkau mendapati orang seorang mengatakan bahwa dia telah mengalami kehadiran arwah suci dewata yang langgeng, sebagaimana diungkapkan para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa, maka ujilah pengakuannya itu dengan pendengaran batin, sebagaimana sudah pernah engkau gunakan saat bertemu Yang Mulia Rishi Agastya di gunung Malaya. Dengan pendengaran batin, engkau akan mudah mengetahui apakah ajaran seseorang itu igauan, sabda kesesatan, ujar kebohongan, atau benar-benar ungkapan ruh suci Yang Ilahi lewat bahasa perlambang atau lewat bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Dengan menguji lewat pendengaran batin maka engkau akan mendapati bukti nyata apa yang sejatinya diujarkan seseorang itu.”

“Sungguh telah sering aku jumpai orang seorang yang menjadi pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa yang mengaku-aku mengalami kerawuhan ruh suci yang mahalanggeng. Mereka berceloteh dan mengomel tidak karuan seperti orang mabuk, tetapi mereka tidak mengetahui makna dari apa yang mereka ucapkan. Mereka dengan yakin diri menyatakan bahwa celoteh dan omelan itu adalah bahasa ruh suci yang tak terpahami. Sesungguhnya, dipandan dari sisi batiniah, mereka adalah orang-orang terhijab yang sedang terperangkap jaring angan-angan kosong (al-wahm) yang terpintal dari serat-serat tali lamunan kosong (al-umniyah). Mereka terperangkap ke dalam lingkaran kusut jaring imajinasi nirwujud (al-mumtani’) yang menebarkan jaring-jaring kesesatan (al-idhlal) yang dibentangkan Sang Penyesat (al-Mudhill) melalui Iblis beserta daya-dayanya.”

“Sesungguhnya, apa yang mereka ucapkan dalam celoteh dan omelan itu pada hakikatnya adalah ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang memancar dari kuasa nirwujud (ablasa) yang tersembunyi di dalam nafs manusia, yaitu di relung-relung mahligai kantha-mula atau dar al-khanjarah. Celoteh dan omelan itu bukanlah bahasa ruh suci yang mahalanggeng melainkan ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang akan menghijab manusia dari Kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang terperangkap pada jalan kefasikan yang ditebari jaring-jaring al-wahm dan al-idhlal yang kosong tak bermakna itu, akan terbelenggu dalam kerangkeng hijab dirinya dan jauh (bu’d) dari Kebenaran Sejati. Mereka adalah manusia menyedihkan karena kesadaran jiwanya sudah dikuasai imajinasi nirwujud yang tidak memiliki kiblat yang Benar ke arah Tauhid.”

“Dengan uraianku ini, telah jelaslah bahwa mereka adalah manusia-manusia yang telah terkuasai oleh daya-daya sang nirwujud (ablasa). Dapat dipastikan mereka tidak akan pernah bisa menangkap keindahan bahasa perlambang (isyarah) yang tersembunyi di balik bahasa jiwa. Mereka tidak akan bisa menangkap benderang cemerlangnya bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Mereka tidak akan pernah bisa menyingkap tirai-tirai gaib yang menyelubungi kemaujudan alam semesta ini. Pada ujungnya, mereka tidak akan pernah menyaksikan Kebenaran Hakiki dari Yang Wujud. Sungguh, mereka itu sejatinya hanya orang-orang yang dipermain-mainkan oleh angan-angan kosong mereka sendiri. Pengalaman-pengalaman ruhani dangkal yang mereka alami bukanlah penyingkapan tirai-tirai kegaiban, melainkan sekadar pengejawantahan khayalan-khayalan nirwujud yang menyesatkan,” papar Abdul Jalil.

“Berarti, mereka tergolong orang-orang terhijab yang selama hidup tidak akan pernah bisa menembus rahasia alam gaib dan tidak pula mampu memahami bahasa rabb?” tanya Raden Sahid.

“Itu sudah pasti. Sebab, al-ima’ tidak pernah memancar lewat kantha-mula atau dar al-khanjarah dalam bentuk celoteh dan omelan tak terpahami yang bisa ditangkap indera pendengaran. Al-ima’ hanya mungkin memancar dari dar al-khanjarah jika ‘tempat’ itu sudah disucikan dari nafsu-nafsu sehingga menjadi tempat suci yang disebut bait al-qaddisah. Jika nanti engkau sudah terbiasa menggunakan pendengaran batin dan lancar enggunakan bahasa isyarah dan al-ima’, maka engkau tidak saja akan mengetahui ucapan dusta para pembohong, melainkan dapat pula mengetahui bahwa di balik ayat-ayat Al-Qur’an yang dilafazkan itu sejatinya tersembunyi bahasa rabb. Itu sebabnya, ayat-ayat Al-Qur’an yang muncul sebagai bahasa insani lewat bait al-qaddisah pada diri Nabi Muhammad Saw. tidak bisa dipalsukan satu huruf pun, karena orang-orang beriman yang sudah memahami bahasa isyarah dan al-ima’ dengan mudah akan mengetahui pemalsuan-pemalsuan yang dilakukan orang zalim.”

“Maksudnya, engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan itu dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu. Jika satu saat nanti datang kepadamu orang-orang jahil yang menantang-nantangmu untuk mengadu kehebatan dalam menempuh jalan ruhani, tetapi orang itu masih menggunakan bahasa lisan, maka wajiblah bagimu untuk menghindar. Bersikaplah seolah-olah engkau bodoh dan tidak memiliki pengetahuan ruhani. Lebih baik dirimu dianggap bodoh oleh mereka daripada engkau meladeni mereka, karena orang-orang jahil itu akan terperosok ke lembah ketakaburan yang mengundang murka Allah. Biarlah mereka memuji-muji kehebatan diri dengan menjadikanmu tumpuan pijakan.”

“Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sangat ingin menggunakan pendengaran batin, bahasa isyarah, dan al-ima’ dengan lancar, meski kami sadar hal itu tidak gampang. Butuh latihan keras dan waktu panjang. Kami ingin Paman tidak pernah bosan membimbing kami,” kata Raden Sahid takzim.

“Engkau sudah tidak perlu bimbingan lagi. Engkau ibarat burung, bisa terbang sendiri mengarungi angkasa luas. Tetapi, satu hal yang wajib engkau ingat: jangan engkau berbuat zalim dengan mengungkapkan pengetahuan ini kepada mereka yang tidak berhak. Pengetahuan ini sangat rahasia. Engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan ini dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu,” Abdul Jalil mewanti-wanti.

“Kami akan pusakakan wejangan Paman. Tetapi, bagaimanakah cara kami untuk mengajarkan kepada para murid yang belajar kepada kami dalam menjelaskan perbedaan tingkat-tingkat bahasa, terutama untuk menguji pengakuan orang seorang yang mengaku kehadiran ruh suci?”

“Secara sederhana, untuk menguji apakah orang seorang itu benar-benar mengungkapkan bahasa ruh suci yang mahalanggeng atau sedang terperangkap jerat-jerat al-wahm, engkau dapat menggunakan ukuran penalaran yang cerdas, yaitu membandingkan pertentangan-pertentangan antara apa yang mereka ucapkan dengan perilaku dan perbuatan yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh, telah bertahun-tahun aku telah mengenal para pemuja Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Selama itu pula aku sering menangkap citra keberadaan mereka dengan penanda sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud. Mereka itu orang-orang yang citra dirinya ditandai sikap takabur, menilai terlalu tinggi diri sendiri, suka merendahkan manusia lain, membanggakan kekuatan diri, kuat ananiyyah (egois), tidak mau disaingi, penuh dendam dan iri hati, suka mengaku-aku, hidup dibimbing nafsu, kejam, pintar bicara, banyak siasat, cinta kebendaan, dan berlebihan dalam segala hal. Dengan sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud maka citra diri mereka ditandai oleh pertentangan (munaza’ah) dari citra diri mereka, yang hal itu akan terungkap dalam ketidaksesuaian dan pertentangan antara kata dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.”

“Jika suatu saat engkau bertemu dengan orang-orang semacam mereka, berhati-hatilah engkau. Sebab, mereka adalah pengejawantahan citra sang nirwujud. Tanda-tanda mereka itu mudah diketahui. Umumnya tanda-tanda itu seperti ini: jika mereka berkata-kata yang menakjubkan tentang cinta kasih maka yang mereka perbuat adalah tindak kekejaman dan kebrutalan yang menjijikkan. Jika mereka berbicara tentang kerendahhatian maka yang mereka perbuat adalah pamer ketakaburan dan kecongkakan. Jika mereka berbicara tentang kedermawanan maka yang mereka perbuat adalah merampas, merampok, menggarong, menjarah, dan mengisap sesama. Jika mereka berbicara menakjubkan tentang peradaban maka yang mereka perbuat adalah tindak kebiadaban yang memalukan orang beradab. Jika mereka berbicara tentang kemerdekaan dan kesetaraan maka yang mereka perbuat adalah menindas, menjajah, dan memperbudak sesama.”

“Dengan ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan itu, di mana pun mereka datang di suatu tempat maka saat itulah mereka akan menebarkan malapetaka bagi makhluk di tempat tersebut. Mereka akan menjadi pangkal kesengsaraan bagi makhluk lain. Sebab, mereka tidak saja akan menjadi perampok, penggarong, penjarah, perampas, penjajah, dan penindas, melainkan akan menjadi penyesat pula bagi manusia yang mempercayai ucapan mereka. Waspadalah terhadap mereka. Tetapi satu hal yang wajib engkau waspadai, o Anakku, bahwa kecenderungan-kecenderungan semacam mereka itu tidak selalu sama bentuknya dalam tiap masa. Maksudku, kecenderungan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk dan ajaran yang berbeda dengan ajaran Pangiwa dan ajaran pemuja Prthiwi. Tidak menutup kemungkinan kecenderungan itu akan engkau dapati pada orang-orang yang mengenakan jubah keislaman atau jubah agama lain yang kelihatan santun dan baik,” kata Abdul Jalil.

Raden Sahid menarik napas panjang. Dia merasakan kelegaan memenuhi dadanya. Lalu, dengan suara lain dia berkata, “Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sekarang ini benar-benar merasa berbahagia. Sebab, ucapan Paman bahwa Allah tidak tersembunyi karena Allah tidak pernah tidak hadir baru dapat kami pahami dengan sebenarnya sekarang ini.”

“Itu berarti engkau telah mengetahui dengan bashirah sebagian rahasia kekuasaan-Nya.”

“Terima kasih Paman.”

“Sebagai tanda bahwa engkau telah menapakkan kaki sebagai al-arif billah yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi pembimbing ruhani, aku berikan ijasah untukmu dalam wujud: Ratu Arofah,” kata Abdul Jalil memegang kedua bahu Raden Sahid.

“Kami terima ijasah sebagai pusaka.”

“Tapi, tahukah engkau apa yang aku maksud dengan Ratu Arofah?”

“Kami tidak tahu, Paman.”

“Dia adalah Zainab, puteriku. Aku berikan ia kepadamu sebagai ijasah yang menandai bahwa engkau boleh mengajarkan apa yang telah aku ajarkan kepadamu. Lantaran engkau telah ‘mengetahui’ rahasia-rahasia kekuasaan-Nya melalui bashirah maka ijasah itu aku sebut dengan nama Ratu Arofah.”

“Kami pusakakan ijasah yang agung dan mulia itu.”

“Tapi ada satu hal yang harus engkau ingat-ingat, o Anakku.”

“Kami mohon petunjuk dan bimbingan.”

“Ucapan-ucapanku seperti ‘Allah tidak pernah tidak hadir’ hendaknya engkau jadikan rahasia. Sebab, ucapan itu menjadi sesuatu yang benar jika diucapkan seorang guru kepada sang penempuh (salik) dalam menuntun ke arah ketercelikan mata hati untuk mengenal-Nya. Tetapi, ucapan itu menjadi suatu kezaliman jika disampaikan kepada kalangan awam yang keadaan jiwanya masih terhijab. Sehingga, mengungkapkan rahasia Kebenaran ini kepada awam bisa diibaratkan seperti seorang penyair mengungkapkan keindahan syair-syairnya kepada orang tuli,” sahut Abdul Jalil.