Kue Appam dan Orang-Orang Takut

Pada pengujung abad ke-16 pelabuhan Muara Jati (sekarang Cirebon) merupakan pelabuhan yang rama melebihi pelabuhan Dermayu (Indramayu). Dari berbagai tempat di pedalaman hingga berbagai bandar besar di timur dan barat, perahu dan kapal membongkar dan memunggah muatan di situ. Kawasan di sekitar pelabuhan yang semula merupakan hutan pohon kelapa telah ditumbuhi bangunan-bangunan besar: gudang-gudang, galangan kapal, kantor syahbandar, kantor pabean, pasar ikan, kedai-kedai makanan, dan sekumpulan rumah yang berkerumun di perkampungan nelayan yang terletak di sebelah selatan pelabuhan.

Abdul Jalil yang kembali ke Caruban beserta istri dan anaknya terkejut sewaktu menginjakkan kaki di dermaga pelabuhan Muara Jati. Ia merasa ada sesuatu yang berubah di situ. Matanya yang tajam memandang ke jajaran pohon kelapa yang menghutan di sepanjang pantai sebelah utara pelabuhan. Saat itu cahaya matahari sore yang tersisa di cakrawala sudah meredup kemerahan ditabiri awan kapas yang tampak menaungi pohon-pohon kelapa yang bayangannya memanjang dan menghitam seolah menyatu dengan selimut senjakala. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sesuatu yang baru: di antara pohon-pohon kelapa yang menghutan di utara pelabuhan, terlihat kerumunan rumah baru berdesak-desakkan dengan sebuah tajug beratap tingkat tiga, tajug khas Kerala, terlihat berdiri tegak di ujung selatan kampung.

Abdul Jalil heran dan bertanya-tanya dalam hati kapan kerumunan rumah baru itu dibangun orang di situ. Barang setahun silam, saat ia untuk kali terakhir meninggalkan Caruban, kawasan di utara pelabuhan itu masih berupa hutan kelapa. Setelah terdiam sejenak, ia mendatangi perkampungan baru itu. Namun, di tengah perjalanan ia melihat dua orang pemuda sedang berjalan sambil bercanda. Mereka berbicara satu sama lain dengan menggunakan bahasa Malayalam, bahasa yang digunakan penduduk Kerala.

Ketika jarak mereka sudah dekat, Abdul Jalil menyapa mereka dengan bahasa Malayalam. Dua pemuda itu terkejut dan buru-buru menghormat takzim saat melihat orang yang menyapa mereka mengenakan jubah dan surban warna hitam. Mereka cepat sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang ulama yang wajib mereka hormati. Lantaran itu, dengan sikap sangat merendah mereka menyalami Abdul Jalil. Mereka memperkenalkan diri sebagai Ali Ladka Musliyar dan Hasan Mali Pokkar, warga Muara Jati asal Kozhikode. Rupanya, mereka menduga Abdul Jalil orang Mappila yang baru datang ke Caruban. Dengan sedikit pertanyaan dari Abdul Jalil, mereka mengaku sebagai pengungsi dari Kozhikode karena dicari-cari Portugis. “Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami setelah Portugis menembaki kota dengan meriam dan mengancam akan membunuh seluruh warga muslim Kozhikode,” ujar Ali Ladka Musliyar.

“Berapa orang warga Kozhikode yang menyingkir waktu itu?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Sekitar dua ribu orang, Tuan Syaikh.”

“Semuanya tinggal di sini?”

“Tidak Tuan Syaikh. Yang tinggal di sini hanya empat ratus orang. Saudara kami yang lain ada yang tinggal di Pasai, Malaka, Demak, Tuban, dan Gresik,” kata Ali Ladka Musliyar.

“Siapa pemimpin kalian di sini?”

“Lebai Musa Chenda, Tuan Syaikh.”

“Kalian dipimpin seorang lebai? Seorang saudagar?” tanya Abdul Jalil heran.

“Maksud kami, di Caruban ini kami memang dipimpin oleh Lebai Musa Chenda. Sebab, Yang Dipertuan Caruban menunjuk dia sebagai pemimpin kami. Tetapi, panutan kami yang sebenarnya adalah Tuan Guru Kasim Kharab Andhkar. Beliau adalah guru dari Lebai Musa Chenda, Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil diam. Ia ingat, saat berada di Kozhikode ia pernah mendengar nama Musa Chenda, seorang saudagar kaya, yang menjadi salah seorang pemimpin penyerangan terhadap armada Portugis yang dipimpin Pedro Alvares Cabral. Ternyata, saudagar kaya itu sekarang tinggal di Muara Jati. Setelah diam sejenak, ia bertanya, “Akan ke manakah kalian sekarang ini?”

“Kami mau ke tajug, Tuan Syaikh. Nanti bakdal maghrib ada upacara Nercha.”

“O begitu,” kata Abdul Jalil, “Tapi mana kue appam kalian?”

“Adik-adik kami sudah membawanya ke tajug, Tuan Syaikh.”

“Oya, apakah kalian sudah mendengar kabar tentang serbuan pasukan Kozhikode di bawah Laksamana Kunjali Marakkar ke pangkalan Portugis di Cochazhi?”

“Pasukan Kozhikode menyerang Portugis di Cochazhi? Kami belum mendengar kabar itu, Tuan Syaikh,” seru Ali Ladka Musliyar dengan mata berbinar-binar dan dada naik turun. “Kapan peristiwa itu terjadi?”

“Kira-kira tiga pekan lalu. Aku dengar kabar itu saat berada di Malaka.”

“Apakah Yang Mulia Laksamana Kunjali Marakkar berhasil menghancurkan armada Portugis?”

“Aku tidak tahu pasti. Aku hanya mendengar kalau orang-orang Portugis dan Raja Cochazhi lari tunggang langgang meninggalkan kota. Kantor dan gudang-gudang mereka dihancurkan. Orang bilang, mereka bersembunyi di pulau Vypin,” tegas Abdul Jalil.

Dengan wajah diliputi kegembiraan, Ali Ladka Musliyar dan Hasan Mali Pokkar saling pandang. Kemudian, dengan dada naik turun mereka buru-buru berpamitan kepada Abdul Jalil untuk kembali ke kampungnya. “Kami harus menyampaikan kabar gembira ini kepada saudara-saudara kami. Terima kasih, Tuan Syaikh. Terima kasih.”

Abdul Jalil tertawa melihat dua pemuda Kerala itu membalikkan badan, berlari pulang ke rumahnya.

Ketika akan melanjutkan perjalanan ke tajug di kampung orang-orang Kerala, Abdul Jalil melihat sekawanan anak laki-laki beranjak dewasa datang dari arah perkampungan nelayan di selatan. Anak-anak berusia sepuluh hingga tiga belas tahun itu menyunggi tampah berisi kue appam dan pisang. Kelihatannya mereka memiliki tujuan yang sama dengan dua pemuda Kozhikode, yaitu ke tajug untuk mengikuti upacara Nercha. Abdul Jalil menyapa salah seorang anak yang paling besar. Anak laki-laki yang kemudian diketahui bernama Enceng itu adalah anak nelayan setempat. Dia mengaku akan pergi ke tajug untuk mengikuti upacara Kenduri Neja bersama warga kampung baru. Bakdal maghrib, ungkap Enceng, semua penduduk akan berkumpul di tajug untuk mengikuti kenduri Neja dengan membawa sesaji kue Appam dan pisang.

“Ada hajat apakah orang-orang mengadakan Kenduri Neja maghrib nanti?” tanya Abdul Jalil tersenyum geli karena Enceng mengucapkan nercha dengan lafal neja, yang secara kebetulan di dalam bahasa Sunda bermakna permohonan.

“Negeri Caruban sedang perang, Tuan Syaikh. Orang-orang kafir dari Galuh Pakuwan keluar sarang. Mereka akan menyerang kuta dan membunuh semua penduduk. Semua orang ketakutan. Kami mengikuti Kenduri Neja untuk meminta tolong arwah leluhur dan arwah-arwah pelindung desa agar berkenan memberikan perlindungan kepada kami semua,” ujar Enceng polos.

“Caruban sedang berperang?” seru Abdul Jalil terkejut, “Caruban diserang Galuh Pakuwan?”

“Apakah Tuan Syaikh belum mengetahui kabar itu?”

Abdul Jalil diam. Sejurus kemudian ia menguji keberanian anak yang baru beranjak dewasa itu dengan bertanya, “Jika negeri Caruban sedang perang, kenapa engkau dan kawan-kawanmu tidak ikut berperang mengangkat senjata? Kenapa engkau tidak membantu Yang Dipertuan Caruban melawan serangan musuh?”

Enceng terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, setelah menoleh ke arah kawan-kawannya, dengan terbata-bata dia berkata, “Kami belum dianggap dewasa, Tuan Syaikh. Bapak dan kakak-kakak kami sudah berangkat ke medan perang dipimpin Ki Dipati Suranenggala. Ibu kami menyuruh kami mengikuti Kenduri Neja agar arwah leluhur kami dan arwah pelindung desa kami berkenan melindungi bapak dan kakak-kakak kami.”

“Tolong jelaskan kepada aku, o Anak Muda, kenapa engkau membawa kue appam dan pisang?” tanya Abdul Jalil ingin mengetahui pemahaman Enceng tentang kue appam yang digunakannya sebagai sesaji dalam Kenduri Neja, yang di negeri asalnya, Kerala, disebut upacara Nercha. “Bukankah orang Caruban tidak pernah menggunakan kue appam dalam kenduri?”

“Kami tidak tahu, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti perintah ibu kami. Ibu kami pun mengikuti suruhan guru mengaji kami, Tuan Guru Kasim Kharab Andhkar,” kata Enceng polos.

“Apakah ibumu tidak pernah memberi tahumu tentang guna dan manfaat dari kue appam dalam upacara Kenduri Neja itu?” tanya Abdul Jalil.

“Pernah, Tuan Syaikh. Ibu kaimi menerangkan jika kue appam adalah sesaji yang sangat disukai arwah leluhur dan arwah pelindung desa.”

“Apakah menurutmu arwah masih suka menyantap makanan dunia seperti kue appam?”

“Kami tidak tahu, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti apa yang diajarkan ibu kami. Menurutnya, arwah orang mati memang suka sekali mengisap saripati kue appam.”

“Selain arwah orang mati suka saripati kue appam, apa lagi yang dikatakan ibumu?”

“Kata ibu, kue appam sangat berguna bagi kehidupan di alam kubur dan di alam akhirat,” kata Enceng.

“Kue appam sangat berguna di alam kubur dan alam akhirat?”

“Itu benar, Tuan Syaikh.”

“Apa maksudnya? Tolong jelaskan. Aku belum paham.”

“Menurut ibu, kue appam bisa dijadikan alat perlindungan dalam kehidupan sesudah mati.”

“Kue appam bisa dijadikan sarana perlindungan sesudah mati?” Abdul Jalil mengerutkan kening.

“Benar demikian, Tuan Syaikh.”

“Alat perlindungan apa yang engkau maksud, o Anak Muda?”

“Menurut ibu, kue appam bisa digunakan untuk melindungi diri dari hal-hal mengerikan baik di alam kubur maupun di alam akhirat.”

“Melindungi diri dari hal-hal mengerikan? Aku masih belum paham. Apa maksudnya itu?”

“Bukankah di padang mahsyar di akhirat nanti, pada waktu kiamat, matahari jaraknya hanya sejengkal di atas kepala manusia? Bukankah saat itu seluruh makhluk akan kepanasan dan banyak di antaranya yang terbakar hangus? Pada saat itulah, menurut ibu kami, kue appam yang pernah disajikan pada upacara Kenduri Neja akan bisa dijadikan payung untuk menaungi kita dari sengatan panas matahari,” kata Enceng.

“Kue appam untuk payung?” Abdul Jalil menarik napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Adakah kegunaan lain kue appam selain itu?”

“Ada, Tuan Syaikh.”

“Apa itu?”

“Menurut ibu kami, kalau kita di alam kubur dipukuli malaikat dengan gada, kue appam bisa dijadikan perisai untuk menangkis pukulan malaikat yang bertubi-tubi.”

“O begitu,” ujar Abdul Jalil terbahak. “Kalau begitu, pisang yang disajikan bersama kue appam itu tentunya akan bisa dijadikan senjata untuk melawan malaikat?”

“Memang begitu yang diajarkan ibu kepada kami, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti petunjuk ibu.”

Abdul Jalil tertawa dan mempersilakan Enceng dan kawan-kawannya ke tajug. Kemudian, dengan tatapan lain, ia memandang Enceng dan kawan-kawannya yang berjalan beriringan menyunggi kue appam. Ia termangu sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Dari sekilas peristiwa yang ditemuinya, ia mendapati kenyataan betapa keyakinan orang-orang muslim asal Kerala yang aneh itu begitu cepat diikuti oleh penduduk awam, terutama para perempuan dan anak-anak. Ia mengira, cepat atau lambat keyakinan-keyakinan aneh itu akan menular ke tempat lain seperti Samarang, Demak, Jepara, Tuban, dan Gresik yang dijadikan tempat mengungsi orang-orang Kerala. Ia paham, betapa keyakinan aneh itu akan cepat diikuti kalangan awam yang sedang diguncang peristiwa menggetarkan seperti perang dan bencana, terutama pada saat jiwa manusia dicekam rasa takut yang berkeliaran bagai kawanan hantu di tengah kegelapan. Ya, ia sadar betapa keyakinan-keyakinan aneh itu jauh lebih sederhana dan memiliki cekam gegwantuhwan (takhayul) dibanding ajaran Tauhid yang disampaikannya melalui Sasyahidan yang butuh penalaran, perenungan, wawasan, kebijaksanaan, dan amaliah yang tidak menarik.

Senja itu, ketika awan kapas berubah menjadi gumpalan mendung hitam, Abdul Jalil dengan istri dan anaknya terlihat berjalan di antara batang-batang pohon kelapa menuju pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Sejak mengikuti sembahyang maghrib di tajug orang-orang Kozhikode hingga perjalanan ke pondok, ia menangkap suasana mencekam membias pada wajah setiap orang yang dijumpainya. Di jalan ia melihat hampir setiap wajah diliputi rasa was-was dan curiga. Semua orang yang berada di luar rumah selalu membawa senjata dan mengawasi siapa saja yang mereka temui dengan pandang penuh kecurigaan.

Di tengah perjalanan, ketika berada di Kalisapu, ia bertemu dengan Ki Gedeng Jatimerta yang sedang mengumpulkan penduduk Kalisapu untuk diajak ke medan perang menghadapi musuh. Berdasar penuturan Ki Gedeng Jatimerta, ia mengetahui jika keadaan Caruban saat itu memang sedang genting, karena terancam serbuan besar-besaran pasukan Galuh Pakuwan. Pasukan Galuh Pakuwan yang memiliki tetunggul-tetunggul sakti mandraguna dan masih didukung pula oleh tetunggul dari Talaga dan Rajagaluh telah bergerak menuju kuta Caruban. Jumlah seluruh kekuatan mereka, kabarnya, lebih dari setengah juta pasukan.

Sekalipun Caruban sedang dicekam suasana genting, dengan penduduk yang merasa cemas akibat simpang-siurnya kabar yang tak jelas sumbernya, suasana sangat berbeda dengan rentang waktu Caruban bertempur melawan Rajagaluh. Saat menghadapi Galuh Pakuwan sekarang ini tidak ada satu pun di antara penduduk Caruban yang mengungsi. “Seluruh penduduk Caruban telah bertekad untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah yang penghabisan. Seluruh penduduk sudah bersumpah akan melawan sampai titik darah terakhir.”

Mendengar tekad penduduk itu, Abdul Jalil sangat senang. Sebab, apa yang telah diajarkannya, terutama tentang hak milik pribadi dari wakil al-Malik di muka bumi, telah dipahami dan dijadikan sikap hidup oleh penduduk Caruban. Bahkan, para Gede sebagai kepala wisaya dan sekaligus pemimpin kabilah pun telah memiliki sikap yang tegas dan jelas dalam menempatkan keberadaan dirinya sebagai wakil al-Malik (khalifah al-Malik fi al-ardh) sekaligus wakil al-Wakil (khalifah al-Wakil fi al-ardh) yang dipilih penduduk, yaitu dengan tanggap dan tangkas menggalang kekuatan penduduk yang diwakilinya untuk melawan musuh yang akan menyerang wilayahnya. Caruban memang pantas disebut Garage, Nagara Gede, pejabat daerah yang dipimpin dan diatur oleh para Gede, pejabat daerah yang dipilih masyarakat, kata Abdul Jalil dalam hati.

Setelah berbincang-bincang beberapa bentar dengan Ki Gedeng Jatimerta, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke Giri Amparan Jati. Ternyata, suasana mencekam tetap ia rasakan sampai saat ia memasuki gerbang pondok pesantren. Ia mendapati setiap wajah yang dijumpai selalu ditandai ketegangan. Wajah-wajah yang pucat, kuyu, dan sorot mata yang diliputi rasa curiga. Empat-lima orang anak laki-laki berusia belasan tahun dan anak-anak kecil yang merupakan santri pondok, ia lihat berkeliaran di sekitar gerbang dengan membawa obor dan sarung yang diisi bongkahan batu. Anak-anak itu memandang curiga kepada siapa saja yang tidak mereka kenal. Beberapa di antara mereka terlihat membawa pentungan kayu. Dengan mengendap-endap, mereka menyelinap di balik batang pohon-pohon jati yang menghutan di sekitar pondok.

Abdul Jalil menarik napas panjang melihat suasana yang melingkupi pesantren tempat ia pernah di tempa itu. Suasana asri dan damai yang mencitrai pesantren, saat-saat senja hari seperti sekarang ini selalu diwarnai alunan suara anak-anak mengaji atau menghafal pelajaran dengan nyanyian, tiba-tiba telah berubah mencekam. Benderang nyala pelita yang menghiasi tiap-tiap bangunan di lingkungan pesantren tidak lagi terlihat. Semua pelita dipadamkan. Sejauh mata memandang, hanya keremangan senjakala menyelimuti pohon-pohon jati dengan kelebatan bayangan santri-santri kecil di sekitar gerbang. Sejauh telinga mendengar, hanya nyanyian serangga dan cacing tanah yang terdengar bersahutan di tengah gemerisik daun-daun jati kering yang diserakkan angin ke berbagai arah.

Suasana mencekam di pondok berubah hiruk pikuk ketika Abdul Jalil yang disertai istri dan anaknya memasuki kawawan dalam pondok. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja berpuluh-puluh santri yang rata-rata terdiri atas anak-anak usia sepuluh dan dua belas tahun berhamburan dari berbagai arah bagaikan kawanan lebah keluar sarang. Dengan berteriak-teriak dan sebagian menangis ketakutan, mereka berebut saling berdesak dan dorong untuk mendekati Abdul Jalil. Mereka yang di depan berebut menyalami sambil menciumi tangan Abdul Jalil. Tidak cukup menyalami dan mencium tangan, mereka merangkul dan menciumi kaki Abdul Jalil. Bahkan, santri-santri di belakang mereka berebut memegangi dan menarik-narik jubahnya. Mereka terlibat saling desak dan saling dorong sehingga istri dan anak Abdul Jalil tergeser oleh pusaran arus santri sampai tersingkir keluar gerbang pondok.

Abdul Jalil kebingungan dikerubuti santri-santri kecil itu buru-buru menyambar bahu seorang santri agak besar yang berada di dekatnya. Dengan sekali sentakan, ia mendekatkan wajah santri itu ke wajahnya sambil berkata dengan suara ditekan tinggi, “Kenapa engkau dan kawan-kawanmu berteriak-teriak dan menangis ketakutan seperti orang tidak beriman? Di manakah kakak-kakak kalian?”

Santri itu terbelalak ketakutan. Air matanya bercucuran membasahi pipi. Dengan suara bergetar dan terbata-bata dia berkata, “Orang-orang Galuh Pakuwan mengepung kuta Caruban, Kangjeng Syaikh. Desa-desa dibakar. Prajurit Caruban banyak yang terbunuh. Kakak-kakak kami semua berangkat ke medan perang menghadapi musuh. Di pondok tidak ada yang memimpin. Semua orang pergi meninggalkan kami.”

Abdul Jalil menarik napas panjang dan mengembuskannya keras-keras. Ia sadar betapa serbuan Galuh Pakuwan kali ini tidak main-main. Tekanan dari berbagai sisi tampak sekali dilakukan pihak Galuh Pakuwan untuk mengguncang Caruban yang sedang tidak siap tempur. Sadar akan apa yang sedang terjadi, setelah terdiam beberapa jenak, ia mengangkat tangan kanannya ke atas memberi isyarat kepada semua santri agar duduk tenang. Kegaduhan pun terjadi, tapi setelah itu berangsur-angsur tenang. Santri-santri kecil dengan berdesakan duduk mengerumuni Abdul Jalil seperti anak-anak ayam meminta perlindungan induknya.

Ketika Abdul Jalil akan memberikan wejangan kepada santri-santri kecil yang dicekam ketakutan itu, tanpa sengaja ia melihat ke bagian bawah bukit. Ia tercekat ketika melihat puluhan nyala obor bergerak di antara bebatuan yang bertonjolan menuju pondok. Ia mengerutkan kening. Ia tidak tahu siapa orang-orang yang naik ke pondok dengan membawa obor itu. Ia menajamkan penglihatan dan pendengaran ketika obor-obor itu semakin dekat dan mendengar suara puluhan kaki menginjak ranting dan daun-daun jati kering. Lalu, terdengar celoteh gaduh dari orang-orang yang membawa obor itu. Ia merasa lega ketika mendengar namanya disebut-sebut di tengah celotehan gaduh itu. Rupanya, malam itu kabar kedatangannya ke Giri Amparan Jati telah disebarkan oleh orang-orang Kalisapu ke desa-desa di sekitar Gunung Jati. Akibatnya, penduduk sekitar Gunung Jati yang sedang dicekam ketakukan berbondong-bondong pergi ke pondok pesantren untuk menemuinya.

Tidak berbeda jauh dengan para santri, penduduk desa-desa di sekitar Gunung Jati yang sedang dicekam ketakutan itu begitu masuk halaman pondok sudah berdesak-desak dan berebut mendekati Abdul Jalil. Yang di bagian depan menyalami dan mencium tangannya. Yang terdekat merangkul lututnya. Sementara yang agak jauh menarik-narik jubahnya, bahkan yang tersungkur berusaha mencium kakinya. Lalu dengan suara gaduh bersahutan mereka beramai-ramai memohon agar Abdul Jalil berkenan menyelamatkan mereka dari serbuan orang-orang Galuh Pakuwan. Mereka memohon agar Abdul Jalil berkenan memanjatkan do’a kepada Allah. Mereka sangat yakin do’a Abdul Jalil pasti dikabulkan Allah. Ketika Abdul Jalil termangu-mangu tidak menunjukkan tanggapan, mereka mengiba dan menangis serta memohon agar Abdul Jalil mau berdoa bagi keselamatan negeri Caruban beserta penduduknya.

Abdul Jalil bergeming. Sejurus kemudian dengan penuh kasih, ia memandang orang-orang desa dan santri-santri kecil yang duduk berkerumun mengitarinya. Ia melihat wajah-wajah ketakutan yang menengadah penuh harapan. Ia menangkap jiwa-jiwa yang runtuh ke jurang tanpa harapan pada wajah-wajah itu. Ia tidak ingin ketakutan yang dirasakan penduduk itu meledak menjadi keputusasaan dan bahkan kepanikan. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk memberikan penguatan jiwa khotbah Tauhid. Sebab, hanya dengan kesadaran Tauhid, rasa takut orang seorang terhadap selain Allah dapat dikalahkan. Lalu, di tengah beratus-ratus wajah ketakutan orang-orang yang mengitarinya itu, ia memulai khotbahnya.

“Dengarlah, hai anak-anak dan saudara-saudaraku, janganlah engkau sekalian pernah melupakan Allah, Tuhan, Penciptamu, Zat Yang Maha Melindungi (al-Waliy) dan Maha Menjaga (al-Muhaimin). Ingatlah selalu akan Dia di mana pun engkau sekalian berada. Memintalah pertolongan hanya kepada-Nya dalam kesempitan maupun keluasan. Jangan sekali-kali engkau sekalian melalaikan Allah. Jangan pernah membiarkan orang-orang fasik menggoyahkan imanmu dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan menolong umat-Nya yang memohon pertolongan. Jangan pernah meragukan sedikit pun akan pertolongan-Nya. Karena Dia adalah Perisai dan Senjata pelindung bagi kaum beriman. Lantaran itu, jika engkau sekalian merasa sebagai kaum beriman, jangan lagi ada syak dan ragu menggelayuti hati kalian, meski kalian mendengar kabar dan kemudian menyaksikan sendiri beratus ribu musuh mengepungmu. Pertolongan-Nya pasti akan datang jika kalian benar-benar orang beriman dan bertakwa.”

“Camkanlah, o anak-anak dan saudara-saudaraku, bahwa Allah, Zat Yang Maha Mendengar, selalu mendengar doa dari mulut hamba-Nya yang tidak menipu dan tidak suka berdusta. Allah, Zat Yang Maha Melihat, selalu melihat kesucian hati hamba-Nya yang tidak diselubungi kefasikan dan kemunafikan. Allah, Zat Yang Maha Mengetahui, selalu mengetahui kelempengan pikiran hamba-Nya yang tidak dinodai angan-angan palsu dan kejahilan. Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa, selalu menerima dan mengabulkan doa hamba-Nya yang tidak pernah menajiskan nama-Nya dengan kemusyrikan dan kejahilan.”

“Sekarang ini, hai anak-anak dan saudara-saudaraku, marilah kita memuji keagungan dan kemuliaan Allah, Zat Yang Mahasuci, Yang Maha Mencipta, Maha Melindungi, dan Maha Memelihara hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Hadapkanlah kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya. Teguhkan konsentrasimu hanya kepada-Nya. Jangan biarkan bayangan manusia, pohon, batu, kayu, batu nisan, gunung, dan segala sesuatu yang maujud di alam ini melintas di dalam ingatanmu. Teguhkan ingatanmu bahwa tidak ada sesuatu yang patut diingat kecuali Allah: Cahaya di atas segala cahaya. Ingatlah hanya Allah. Allah. Seribu kali hanya Allah.”

Abdul Jalil diam dan memejamkan mata. Para santri kecil dan orang tua pun diam. Mereka berusaha menyatukan hati dan pikiran untuk diarahkan kepada Allah sesuai petunjuk Abdul Jalil. Suasana berubah sepi dan senyap. Hanya desah napas dan isak tangis lirih terdengar menembus kesenyapan di antara desau angin yang meluruhkan daun-daun jati. Setelah suasana benar-benar hening, dengan suara lain yang digetari wibawa, Abdul Jalil mulai berdzikir, menyebut Asma Allah dengan suara lirih. Meski lirih, seluruh yang hadir terpesona mendengar kemerduan suaranya. Ketika seluruh jama’ah mengikuti dzikir, menyebut-nyebut Asma Allah seperti dicontohkan Abdul Jalil, terdengar suara bergelombang seperti ombak lautan yang susul-menyusul dan sambung-menyambung, yang membuat semua orang merasa seperti ditarik oleh daya pesona yang memukau kesadaran. Ketika pribadi-pribadi yang berdzikir sudah disatukan di dalam Asma Allah yang mengalun indah laksana musik surgawi, Abdul Jalil mengucapkan doa kepada Allah dengan suara keras.

“Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha Melindungi! Engkaulah Pelindung bagi hamba-Mu yang tertindas! Engkaulah Pelindung di waktu sempit dan sesak! Engkaulah Pembela semua hamba-Mu yang setia memuja dan menyembah hanya kepada-Mu! Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang mengagungkan nama-Mu. Engkau senantiasa merentangkan sayap-sayap rahmat-Mu untuk menaungi hamba-Mu yang mencintai-Mu. Hanya kepada-Mu, o Allah, hamba-Mu yang ditimpa kesusahan ini berserah diri.”

“Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha Memelihara! Engkaulah Gembala bagi hama-Mu di padang gembalaan duniawi yang dihuni hewan-hewan pemangsa ganas. Bimbing dan gembalakan kami, hamba-Mu, di padang gembalaan-Mu yang subur dan penuh limpahan keselamatan. Lindungi kami, hamba-Mu, dari intaian para pemangsa yang haus darah. Jauhkan kami, hamba-Mu, dari orang-orang fasik. Jauhkan kami, hamba-Mu, dari orang-orang tamak, loba, serakah, lalim, kejam, penindas, yang mulutnya penuh fitnah dan sumpah serapah. Gembalakan kami, hewan peliharaan-Mu, ke padang gembalaan yang aman dan penuh dilimpahi kedamaian. Jangan biarkan kami jatuh ke jurang kefasikan. Jangan biarkan kami memasuki gua singa. Peliharalah kami dari segala kejahatan makhluk ciptaan-Mu. Lindungilah kami dari panah-panah musuh yang dibidikkan dari tempat gelap. Engkau adalah Pelindung kami. Engkau adalah Perisai kami.”

“Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha kuasa! Engkau, al-Malik al-Mulki, Zat Yang Berkuasa atas segala ciptaan yang Engkau cipta! Kami, hamba-Mu, berlindung di bawah naungan kuasa-Mu. Kuatkan hati kami dari keraguan yang meruntuhkan iman. Teguhkanlah hati kami dari kegoyahan jiwa yang menggeragoti iman. Kibarkan bendera kemenangan di atas menara ruh kami yang tegak di dalam benteng keimanan yang kukuh. Lindungilah benteng kami dengan tentara-tentara-Mu (jundullah) yang memenuhi langit dan bumi! Biarlah tentara-tentara-Mu menghancurkan musuh kami dengan angin prahara, hujan badai, tanah longsor, genangan lumpur, pohon-pohon yang tumbang, dan sambaran halilintar! Halaulah musuh-musuh yang mengintai kami dengan cara-Mu yang tidak kami ketahui! Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Mahaagung! Kami berpasrah diri melindungkan diri di dalam naungan keagungan-Mu!”

Setelah berdoa dengan sura keras, Abdul Jalil tiba-tiba terdiam dengan tangan tetap menengadah ke atas. Ia berdoa tanpa bersuara. Orang-orang terus berdzikir dengan mata terpejam dan air mata bercucuran. Ketika Abdul Jalil akan mengakhiri doa dengan membaca shalawat, terjadi sesuatu yang mengejutkan semua orang. Saat itu, tiba-tiba terdengar suara guruh bersahutan di empat penjuru langit disusul sambaran halilintar menghajar bumi. Selama beberapa kejap, pemandangan di sekitar pondok pesantren menjadi terang-benderang oleh keredap cahaya halilintar. Sedetik kemudian, hujan turun sangat lebat seperti tumpahan air bah dicurahkan dari langit disambung embusan angin yang bertiup membadai.

Perubahan alam yang mendadak itu membuat semua hati tercekam dan mulut bungkam. Orang-orang saling pandang. Beberapa jenak kemudian, dengan suara gaduh mereka berdesak-desak berusaha mendekati Abdul Jalil sambil menangis dan berteriak-teriak memuji kebesaran Allah. Mereka yakin doa yang baru saja dipanjatkan Abdul Jalil telah diterima Allah dengan pertanda halilintar dan hujan angin. Peristiwa alam itu pun mereka yakini sebagai tengara hadirnya tentara Allah yang bakal menceraiberaikan musuh yang sudah mengepung Caruban.