Dicekam Bayang Bayang Musuh

Usai menitipkan istri dan anaknya kepada Nyi Halimah, janda Syaikh Datuk Kahfi, tanpa peduli hujan deras yang sedang mengguyur bumi, Abdul Jalil menembus kegelapan malam dengan sebatang obor yang ditudungi daun jati menuju kuta Caruban. Malam itu terasa sangat lengang dan mencekam. Kegelapan melingkupi permukaan bumi. Hanya sesekali lidah petir terlihat berkeredap menerangi alam dengan cahayanya. Tidak satu pun bayangan makhluk terlihat di jalan. Kuta Caruban telah menjelma jadi kota mati. Tidak setitik pun cahaya pelita terlihat dari rumah-rumah penduduk. Jalan-jalan yang membelah kuta hingga ke kawasan sekitar kraton pun terlihat gelap gulita dan sepi. Kegelapan makin hitam ketika obor yang dipegang Abdul Jalil padam karena kehabisan minyak dan terkena guyuran hujan.

Dengan berpedoman pada kilatan cahaya halilintar yang sesekali menyambar, Abdul Jalil menelusuri lorong-lorong kuta yang sepi itu. Meski gelap dan tidak melihat satu pun makhluk di jalanan, ia mengetahui jika di tiap-tiap bangunan sesungguhnya sedang bersiaga prajurit dan penduduk yang siap menyerang siapa saja orang yang dicurigai sebagai musuh. Itu sebabnya, ia memaklumi kenapa kawasan di sekitar kraton pun lampu-lampunya dipadamkan. Satu-satunya bangunan yang terlihat agak terang disinari cahaya pelita yang dinyalakan di beberapa sudut ruangan adalah Ndalem Pekalifahan. Seorang prajurit dengan tubuh menggigil kedinginan menyambut Abdul Jalil dengan penuh hormat dan memberi tahu bahwa khalifah Caruban, Sri Mangana, saat itu tidak berada di Ndalem. “Sudah dua bulan lebih Paduka Yang Mulia Khalifah Caruban pergi meninggalkan Ndalem Pekalifahan.”

“Apakah Paduka Khalifah tidak memberi tahu pergi ke mana?” tanya Abdul Jalil minta penjelasan.

“Kabarnya, beliau ke Gunung Panawarjati, Kangjeng Syaikh.”

“Selama beliau pergi, siapa yang menggantikan kedudukan khalifah?” tanya Abdul Jalil.

“Yang Mulia Syarif Hidayatullah, wali nagari Gunung Jati.”

“Di mana dia sekarang? Aku tidak melihatnya.”

“Yang Mulia Syarif Hidayatullah tidak tinggal di Pekalifahan, Kangjeng Syaikh. Beliau tinggal di Ndalem Pakungwati.”

“Di Ndalem Pakungwati?” tanya Abdul Jalil heran.

“Mohon maaf, apakah Kangjeng Syaikh belum tahu jika Yang Mulia Syarif Hidayatullah sudah menjadi menantu Paduka Khalifah?”

“O begitu,” gumam Abdul Jalil singkat dan langsung berpamitan ke Ndalem Pakungwati. Di sana ia mendapati Syarif Hidayatullah sedang berbincang-bincang dengan Raden Mahdum Ibrahim dan adiknya, Raden Qasim. Tampaknya mereka bertiga sedang membincang rencana menangkis serbuan pasukan Galuh Pakuwan ke kuta Caruban.

Ketika Abdul Jalil mengucap salam dari luar pendapa, Syarif Hidayatullah yang sangat mengenali suaranya buru-buru menghambur keluar menyambutnya. Kemudian, tanpa diminta, dengan wajah diliputi ketegangan dia memberi tahu Abdul Jalil tentang keadaan genting yang sedang mencekam Caruban, terutama kekalahan demi kekalahan yang dialami pihak Caruban di medan tempur. Namun, ia merasa heran sebab Abdul Jalil kelihatan sangat tenang seolah-olah tidak merasakan suasana genting dan bahkan seolah tak peduli. Dia makin tidak paham ketika Abdul Jalil dengan nada dingin malah bertanya tentang kabar terakhir dari medan tempur.

“Laporan terakhir yang kami terima sore tadi, induk pasukan Caruban yang berpangkalan di gunung Gundul telah dipermalukan musuh. Para tetunggul Caruban kalah semua dalam adu kesaktian denga tetunggul-tetunggul Galuh Pakuwan. Malahan, pasukan Caruban sekarang ini sedang dikepung oleh berpuluh ribu pasukan Galuh Pakuwan di puncak gunung Gundul,” ujar Syarif Hidayatullah berharap Abdul Jalil peduli.

“Di gunung Gundul?” gumam Abdul Jalil tetap dingin. “Kalau pasukan Caruban kalah, berarti dua tiga hari lagi pasukan Galuh Pakuwan sudah menyerbu kuta.”

“Kelihatannya demikian, Paman. Barusan tadi kami berunding untuk mencari jalan keluar dalam menghadapi kemungkinan serbuan Galuh Pakuwan ke kuta. Kami sepakat, besok akan memerintahkan para gedeng untuk membawa masuk seluruh kekuatan mereka ke dalam kuta. Kita akan bertempur habis-habisan di dalam kuta,” kata Syarif Hidayatullah mengamati perubahan wajah Abdul Jalil yang tetap tidak berubah sedikit pun.

Abdul Jalil diam. Ia tahu dirinya sedang diamati. Ia sengaja tidak menunjukkan gejolak perasaan karena ia tidak ingin suasana menjadi lebih tegang. Ia bahkan tidak berkomentar sedikit pun tentang kabar kekalahan telak pasukan Caruban di gunung Gundul, sebaliknya ia mengalihkan arus pembicaraan dengan menanyakan hal lain. “Di Kalisapu tadi aku bertemu Ki Gedeng Jatimerta. Menurutnya, Galuh Pakuwan bersekutu dengan Talaga. Benarkah itu?”

“Sebenarnya bukan bersekutu, Paman. Sebab, Talaga sudah kita taklukkan lebih dulu. Sekarang ini wilayah Talaga sudah disatukan dengan wilayah Caruban. Yang benar, sisa-sisa pasukan Talaga yang membangkang dan tidak mau tunduk kepada kita telah bergabung dengan Galuh Pakuwan. Sisa-sisa pasukan itu dipimpin Dewi Tanduran Gagang, puteri Prabu Pucuk Umun,” papar Syarif Hidayatullah.

“Talaga sudah takluk? Kapan perangnya?” Abdul Jalil mengerutkan kening.

“Kira-kira tiga bulan silam, Paman.”

“Siapa yang memimpin pasukan Caruban?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Dalam pertempuran dengan Talaga, kami ditunjuk ramanda khalifah sebagai senapati.”

“Ramanda khalifah?” gumam Abdul Jalil menegakkan kepala seolah-olah terkejut. “Kenapa engkau menyebut yang Dipertuan Caruban dengan sebutan ramanda khalifah?”

“Maaf, Paman. Kira-kira tiga bulan silam kami diambil menantu oleh ramanda khalifah, setelah kami memenangkan perang dengan Talaga.”

“Dinikahkan dengan Nyi Mas Pakungwati?”

“Benar, Paman.”

Abdul Jalil tertawa. Syarif Hidayatullah menunduk jengah. Lalu seperti sengaja menggoda, Abdul Jalil tiba-tiba menyinggung tentang pembicaraannya dengan Ki Gedeng Jatimerta di Kalisapu sore tadi, terutama yang terkait dengan Nyi Mas Rarakerta, anak perempuannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri Syarif Hidayatullah. “Tidakkah engkau ingat pada Nyi Mas Raramerta, anak perempuan Ki Gedeng Jatimerta, yang kuangkat sebagai anak untuk kujadikan saudari anak perempuanku Zainab?”

“Kami tentu ingat, Paman,” sahut Syarif Hidayatullah dengan suara bergetar.

“Bukankah engkau pernah menikahinya?”

“Itu benar, Paman,” Syarif Hidayatullah menunduk dengan wajah merah.

“Seingatku, ketika engkau beriktikaf di ‘Gunung Jati’ pada malam tanggal 14 Rabiul Awal, anak sulungmu dari Nyi Mas Rarakerta lahir. Lalu, Ki Gedeng Jatimerta memberi nama bayi itu Bung Cikal, yang bermakna anak sulung yang lahir pada waktu riadho pada malam 14 Rabiul Awal?”

“Kami pasti tidak akan melupakan itu, Paman.”

“Selain membicarakan puterinya, Ki Gedeng Jatimerta sore tadi juga membicarakan Bung Cikal,” kata Abdul Jalil datar. “Katanya, dia sudah menjelang dewasa dan sering menanyakan ayahnya. Ki Gedeng Jatimerta khawatir, dengan kedudukanmu yang semakin tinggi engkau akan melupakan puteri dan cucunya, sekalipun ia tahu pernikahanmu dengan puterinya itu bersifat sirri. Tapi, aku sudah memberi jaminan kepadanya bahwa engkau akan mengambil langkah bijaksana dalam masalah itu. Aku katakan kepadanya bahwa apa pun kenyataannya, Nyi Mas Rarakerta adalah saudari puteriku dan Bung Cikal adalah cucuku juga, karena itu aku tadi berjanji akan membicarakan masalah ini denganmu.”

“Masalah itu tidak perlu dibuat rumit. Kami pasti tidak akan mengingkari darah daging kami, Paman.”

Abdul Jalil tertawa dan berkata, “Itu keputusan bijaksana. Perlu engkau ingat, jika engkau bisa melampaui ujian terberat jalan ruhani dalam wujud istri-istri dan anak-anakmu maka maqam ruhanimu akan melesat cepat tak tertandingi,” lalu ia menepuk bahu Syarif Hidayatullah memberi penguatan.

“Kami akan pusakakan petunjuk Paman.”

Abdul Jalil tersenyum. Ia memahami benar kedudukan Syarif Hidayatullah yang cukup sulit itu. Ia paham, betapa keberadaannya sebagai pemuda berdarah Arab-Bani Israil telah menimbulkan masalah tersendiri yang tidak gampang penyelesaiannya. Sejak awal membawa Syarif Hidayatullah ke Caruban, ia sudah menangkap sasmita bahwa cucu sahabatnya itu akan tumbuh menjadi laki-laki muda yang akan sering menuai masalah rumit karena akan digandrungi banyak perempuan. Dan ternyata ia tidak salah, karena Syarif Hidayatullah memang tumbuh menjadi laki-laki muda yang serba “paling” di lingkungannya: paling tinggi perawakannya, paling tampan, paling gagah, paling mancung hidungnya, paling terang kulitnya, paling cerdas pemikirannya, paling luas wawasannya, paling baik pengetahuan agamanya, dan paling bagus akhlaknya dibanding seumumnya anak-anak muda Caruban dan Sunda, yang umumnya berperawakan kecil, berkulit gelap, berhidung pesek, sempit wawasan, gampang tersinggung, agak malas, dan jarang sekali memiliki pengetahuan agama mendalam. Sejak awal ia sudah mewanti-wanti cucu sahabatnya itu agar berhati-hati dan bijaksana dalam mengambil langkah, terutama dalam menentukan keputusan memilih istri-istri dan mertua, mengingat cukup banyak orang berkedudukan yang ingin “memperbaiki” keturunan mereka dengan cara mengambilnya sebagai menantu.

Ketika malam semakin larut dan hujan mulai reda, suasana di Ndalem Pakungwati sangat sepi. Tidak terdengar suara apa pun kecuali titik-titik air yang jatuh dari atap ke atas tanah. Setelah suasana sepi itu berlangsung beberapa lama, Abdul Jalil memecahnya dengan sebuah pertanyaan. “Kenapa bisa terjadi perang berurutan seperti ini? Kenapa setelah pecah perang dengan Talaga tiba-tiba pecah perang dengan Galuh Pakuwan? Siapa sesungguhnya yang memulai perang?”

“Kami sendiri tidak pernah menduga jika peperangan bisa terjadi begitu cepat dan berturut-turut, Paman,” papar Syarif Hidayatullah mengungkap latar di balik peperangan. “Yang kami tahu, perang dengan Talaga berawal dari masalah sepele, yaitu perselisihan antara Demang Talaga dan Tumenggung Kertanegara akibat salah paham. Mereka berkelahi dan Demang Talaga terbunuh dalam perkelahian itu. Kematian Demang Talaga ternyata telah membuat marah Yang Dipertuan Talaga, Prabu Pucuk Umun, dan putera mahkota, Pangeran Salingsingan. Kabarnya, mereka dihasut Rsi Bungsu, yang menuduh peristiwa tewasnya Demang Talaga itu didalangi oleh Yang Dipertuan Caruban. Lalu, pasukan Talaga disiapkan untuk menyerbu wilayah Caruban.”

“Berarti Caruban tidak menyerang lebih dulu kan?”

“Justru tidak ada seorang pun penduduk Caruban yang menduga jika Talaga bakal menyerang,” ujar Syarif Hidayatullah menuturkan penyerbuan Talaga. Seluruh penduduk di perbatasan selatan terkejut mendengar kabar serbuan pasukan Talaga. Mereka lebih terkejut ketika mendapati pasukan Talaga sudah masuk ke gunung Keling di utara Cigugur, tidak lama setelah mereka memukul mundur Tumenggung Kertanegara dan pasukannya di gunung Sirah. Kepanikan pun terjadi ketika menyaksikan pasukan Talaga dengan gerak cepat menerobos ke utara, menjarah dan membakari desa-desa yang mereka lewati. Penduduk Gandasuli, Kalapa Gunung, Sadamantra, Sambawa, dan Bojong berhamburan keluar rumah. Lalu, beramai-ramai mereka meninggalka desanya yang sudah menjadi lautan api.

“Dengan serbuan kilat ke utara, rupanya pasukan Talaga akan menyerang langsung ke kuta Caruban. Namun, perlawanan penduduk yang dipimpin para gedeng mulai dilakukan di Bojong. Penduduk Gandasuli, Kalapa Gunung, Sadamantra, Sambawa, dan Bojong bergabung dengan penduduk Sangkanurip, Karang Muncang, Naggerang, Pakembangan, dan Linggasana melakukan penghadangan dan perlawanan. Mereka berusaha keras menahan gerak laju musuh sehingga pasukan Talaga tertahan di Sindangkasih.

Kabar penyerbuan pasukan Talaga yang mendadak itu sangat mengejutkan khalifah Caruban, Sri Mangana. Saat itu tidak ada satu pun di antara tetunggul Caruban yang berada di kraton kecuali Syarif Hidayatullah yang kebetulan menghadap untuk melaporkan perkembangan gerakan dakwah di tanah Banten. Akhirnya, khalifah Caruban mengangkat Syarif Hidayatullah sebagai senapati dan menitahkannya untuk menghadapi serbuan Talaga yang tak terduga-duga itu. “Alhamdulillah, kami dapat mengalahkan pasukan Talaga tanpa perlawanan. Rupanya, pihak Talaga waktu itu sudah terjepit. Sebab, bersamaan waktu dengan kedatangan pasukan kami ke medan tempur, dari arah selatan terlihat pasukan Kuningan bergerak gegap-gempita. Merasa tidak bakal menang menghadapi dua pasukan besar, Pangeran Salingsingan akhirnya menyerah kepada kami. Dia bahkan menyatakan keinginan untuk memeluk agama Rasulullah Saw.,” papar Syarif Hidayatullah.

Abdul Jalil diam sambil mengelus-elus janggutnya. Setelah itu ia berkata, “Syukurlah kalau ceritanya seperti itu. Yang penting, jangan sampai pihak kita menyerbu lebih dulu tanpa alasan karena Islam melarang memulai penyerbuan. Apakah dalam peperangan sekarang ini Galuh Pakuwan juga menyerang Caruban lebih dulu?”

“Benar, Paman,” Syarif Hidayatullah mengangguk dan menuturkan latar penyerbuan Galuh Pakuwan. Tidak lama setelah kekalahan Talaga yang ditandai masuk Islamnya putera mahkota, Pangeran Salingsingan, pihak Galuh Pakuwan menyiapkan kekuatan besar-besaran untuk menggempur Kraton Caruban. Menurut perkiraan, lebih dari 200.000 orang pasukan disiagakan untuk melumatkan kuta Caruban. Para panglima, manggalayudha, perwira, ksatria Rajagaluh, dan tetunggul Talaga yang masih sakit hati dengan Caruban, dengan sisa-sisa pasukan yang setia mendukungnya, bergabung ke dalam pasukan Galuh Pakuwan. Itu sebabnya, ungkap Syarif Hidayatullah, di antara tetunggul Galuh Pakuwan terdapat pula pendekar-pendekar tangguh yang pernah terlibat perang di Rajagaluh dan Talaga, seperti Sanghyang Gempol, Sanghyang Sutem, Patih Suradipa, Ki Dipati Kiban, Ki Gedeng Leuwimunding, Celeng Igel, Dalem Ciomas, Ki Dipasara. Bahkan Dewi Tanduran Gagang, puteri Prabu Pucuk Umun, diunggulkan sebagai manggala puteri yang siap dihadapkan dengan pahlawan puteri Caruban: Nyi Mas Gandasari.

Tidak berbeda dengan saat terjadinya serbuan pasukan Talaga, sewaktu para pahlawan Galuh Pakuwan membawa pasukan besarnya masuk ke wilayah Caruban, tidak ada seorang pun di pihak Caruban yang menduga negerinya bakal diserang mendadak oleh musuh. Sri Mangana sendiri, selaku khalifah Caruban, saat itu sedang tidak berada di Caruban karena melakukan perjalanan ruhani ke “Gunung Panawarjati” untuk mengobati jiwanya yang terluka ketika berburu di padang perburuan ruhani.

Saat diserbu pasukan Galuh Pakuwan, penduduk yang tinggal di perbatasan, terutama penduduk Nusaherang, melakukan perlawanan di bawah komando gedengnya masing-masing. Namun, kekuatan besar Galuh Pakuwan bukanlah tandingan penduduk. Dalam waktu singkat, penduduk Nusaherang dibuat kocar-kacir oleh pasukan Galuh Pakuwan. Setelah itu, tanpa membuang waktu, pasukan Galuh Pakuwan menerobos cepat ke utara dan menghancurkan Kadugede. Lalu, mereka menerjang terus ke Kuningan.

Rupanya, para tetunggul Galuh Pakuwan sudah memperhitungkan kekuatan wali nagari Kuningan yang merupakan penguasa paling disegani di wilayah perbatasan selatan. Dalam pertempuran singkat, para tetunggul Galuh Pakuwan merencanakan sebuah serangan kilat sebelum wali nagari Kuningan mendengar kabar kekalahan penduduk Nusaherang dan Kadugede. Demikianlah, melalui sebuah serangan kilat yang dilakukan secara besar-besaran, Kadipaten Kuningan dapat dikuasai. Wali Nagari Kuningan yang panik dan berusaha memimpin pasukan tidak dapat mempertahankan kadipatennya dari serbuan musuh. Pasukan Kuningan yang kurang dari 2.000 orang itu dalam waktu singkat lari tunggang-langgang meninggalkan kadipaten.

Wali nagari Kuningan sendiri dalam serbuan itu dengan susah payah berhasil lolos dan lari ke kraton untuk melaporkan peristiwa itu kepada khalifah. Namun, Sri Mangana saat itu sedang tidak berada di tempat. Karena saat itu yang ditunjuk mewakili Sri Mangana adalah Syarif Hidayatullah, maka ia memutuskan untuk mengangkat wali nagari Kuningan sebagai manggalayudha Caruban didampingi Wali Nagari Gegesik Ki Suranenggala. Lalu, dua orang tetunggul Caruban itu berangkat ke medan tempur untuk memimpin pasukan dan satuan-satuan perlawanan yang dipimpin para gedeng dan pemuka penduduk. “Tetapi berdasar laporan yang kami terima, dalam pertempuran di Kasturi, pasukan Caruban dipukul mundur. Mereka kemudian bertahan di gunung Gundul. Laporan sore tadi memberitakan semua tetunggul Caruban telah dikalahkan musuh. Bahkan, laporan terakhir barusan mengabarkan seluruh pasukan Caruban sudah terkepung di puncak gunung. Wali nagari Kuningan sampai sekaran belum diketahui nasibnya,” papar Syarif Hidayatullah.

“Menurut perkiraanku, kabar kepergian Paduka Khalifah ke ‘Gunung Panawarjati’ itulah yang dijadikan alasan utama oleh Yang Dipertuan Galuh Pakuwan untuk menyerang Caruban secara mendadak. Aku mengira, Prabu Surawisesa memaknai ‘Gunung Panawarjati’ sebagai obat atau jampi-jampi sehingga menduga Yang Dipertuan Caruban sesungguhnya sedang sakit. Prabu Surawisesa tentunya sudah tahu bahwa kekuatan utama Caruban terletak di genggaman tangan saudaranya, yaitu Paduka Khalifah Sri Mangana. Nah, dengan kepergian Paduka Khalifah selama dua bulan lebih, maka Prabu Surawisesa menyimpulkan kalau kekuatan Caruban sedang lemah dengan kemungkinan sakitnya Sri Mangana tidak terobati,” kata Abdul Jalil menyimpulkan.

“Kami kira memang seperti itu jalan pikiran Prabu Surawisesa, Paman. Sebab, sepekan setelah kepergian ramanda khalifah, tiba-tiba tersiar kabar bahwa Yang Dipertuan Caruban sedang sakit keras. Lalu, pada pekan ketiga tersiar kabar jika ratu Caruban mangkat. Bahkan pada pekan keempat, ketika pasukan Galuh Pakuwan sudah menyerang, hampir setiap telinga penduduk Caruban mendengar kasak-kusuk yang menyatakan bahwa Sri Mangana sesungguhnya telah meninggal akibat dibunuh oleh menantunya, Wali Nagari Gunung Jati, orang asing yang berambisi merebut takhta Caruban. Serbuan Galuh Pakuwan ke Caruban, menurut kasak-kusuk itu, sesungguhnya dilakukan untuk belapati dan sekaligus menyelamatkan takhta Caruban dari tangan orang asing,” kata Syarif Hidayatullah.

Abdul Jalil tertawa dan menggelengkan kepala sambil berkata, “Aku sangat yakin, fitnah keji itu pasti keluar dari kegelapan relung-relung jiwa Rsi Bungsu. Mahasuci Allah, Zat Yang Mencipta makhluk sekelam Rsi Bungsu.”

“Tidakkah engkau mengetahui keberadaan Nyi Mas Gandasari, o Anakku?”

“Itulah yang membuat kami kebingungan, Paman. Nyi Mas Gandasari bersama ibunda ratu ikut mengiringi ramanda khalifah ke ‘Gunung Panawarjati’. Sehingga, di saat genting ini, ketika pendekar setangguh Nyi Mas Gandasari dibutuhkan untuk melawan Galuh Pakuwan, justru dia tidak berada di tempat. Kami pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi musuh karena ibarat burung yang patah kedua sayapnya, kami hanya bisa melihat kehadiran musuh tanpa bisa melawan. Kami hanya berharap terjadi keajaiban. Sungguh, kami tidak melihat kemungkinan untuk menang melawan pasukan Galuh Pakuwan. Kami hanya mampu menjalankan siasat terakhir: bertempur habis-habisan menghadapi musuh di kuta Caruban,” kata Syarif Hidayatullah kurang bersemangat.

“Kenapa engkau tiba-tiba menjadi lemah, o Anakku?” tukas Abdul Jalil dengan suara ditekan tinggi. “Sungguh, aku meminta kepadamu lebih untuk tegar menghadapi masalah seperti ini. Jangan sekali-kali di tengah keterdesakanmu, engkau dilemahkan oleh bayang-bayang musuhmu. Janganlah ketidakhadiran pahlawan-pahlawan dan pendekar-pendekar di sekitarmu membuatmu goyah. Sungguh, aku meminta kepadamu untuk tidak sekali-kali menjadikan paduka khalifah, Nyimas Gandasari, dan tetunggul Caruban yang lain sebagai hijab bagi-Nya. Sebab Dia, Rabb al-Arbab, adalah Zat Yang Mahakuasa, Yang Berhak menentukan kalah dan menang pihak yang berperang tanpa mensyaratkan keterlibatan ini dan itu dari makhluk-Nya. Ingat-ingatlah itu, o Anakku, janganlah kiranya engkau sampai terpeleset pada jebakan angan-angan dan akal pikiranmu. Tenangkan akal pikiranmu. Gunakan piranti kalbumu untuk menangkap nuansa kekuatan dan kekuasaan-Nya yang tersembunyi di balik hiruk-pikuk masalah yang bagaimana pun hebatnya. Engkau sudah berusia seperempat abad lebih. Engkau harus mandiri. Engkau harus percaya diri dan tidak bersandar kepada siapa pun di antara manusia.”

Syarif Hidayatullah merasakan tersambar petir mendengar kata-kata Abdul Jalil. Dia menunduk dengan muka merah. Dia merasa telah melakukan kesalahan langkah selama rentang waktu menghadapi serbuan Galuh Pakuwan, yaitu kurang percaya diri dan terlalu menggunakan kekuatan nalar untuk mengatasi setiap masalah yang muncul. Dia sadar, selama ini sangat bergantung pada orang-orang kuat di sekitarnya, seperti Sri Mangana. Dan yang paling parah, dia telah melalaikan piranti kalbu sebagai senjata paling ampuh. Namun, dia juga sadar betapa di tengah suasana yang genting ini, ketika pasukan musuh sudah di depan hidung, sangatlah sulit untuk buru-buru meninggalkan piranti akal pikiran lalu menggunakan piranti kalbu yang butuh ketenangan lebih. Kenyataan itu membuat hatinya semakin diliputi kegundahan.

Abdul Jalil yang menangkap kegundahan Syarif Hidayatullah akibat diombang-ambing oleh alam pikirannya, berusaha meredakan suasana dengan mengalihkan pembicaraan ke masalah Syaikh Abdul Malik Israil, kakek Syarif Hidayatullah, yang melakukan perjalanan ke Bharatnagari bersamanya. Diingatkan tentang kakeknya, Syarif Hidayatullah terhenyak dan kemudian dengan terburu-buru menanyakan perihal kakeknya, “Kami tidak melihat kakek kami bersama Paman. Di manakah beliau sekarang ini?”

“Terakhir aku bersama kakekmu di Kandesh,” kata Abdul Jalil datar. “Tetapi setelah berziarah ke makam gurunya, Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy, kami berpisah. Aku ke Gujarat menjemput istri dan anakku, kakekmu menemui keluarga Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy di pinggiran kota Kandesh.”

“Ke mana kira-kira kakek kami pergi setelah dari Kandesh, Paman?”

“Aku tidak tahu pasti ke mana dia pergi. Sebelum berpisah dia mengatakan akan berkunjung ke Cochizha. Katanya, dia mau mengingatkan beberapa keluarga Bani Israil dan pemukim Cina di Cochizha. Keluarga-keluarga Bani Israil itu dikenal penduduk setempat sebagai lintah darat besar. Sementara pemukim Cina di Cochizha dikenal sebagai pedagang yang curang, kikir, kelewat takabur, dan hanya berpikir tentang keuntungan saja sampai-sampai mereka itu membahayakan saudaranya sesama muslim di negeri Cina. Menurut kakekmu, dia akan mengingatkan keluarga-keluarga Bani Israil itu agar tidak beternak ular riba karena hal itu akan mendatangkan murka Tuhan. Pemukim-pemukim Cina Cochizha juga akan diingatkan agar menyadari bahwa tindakan mereka tidak saja akan membuat murka kaisar Cina tapi juga akan mendatangkan murka Tuhan,” kata Abdul Jalil.

“Apakah peringatan kakek kami itu diindahkan?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi, kira-kira tiga pekan lalu, saat aku di Malaka, aku mendapat kabar jika kota Cochizha baru saja diserbu pasukan Kozhikode yang dipimpin Laksamana Kunjali Marakkar. Kota Cochizha dijarah. Persekutuan dagang antara raja Cochizha dan orang-orang Portugis, sekutunya, lari tunggang-langgang meninggalkan kota dan bersembunyi di pulau Vypin. Menurut dugaanku, dalam serbuan itu rumah keluarga Bani Israil dan pemukim Cina di kota Cochizha tentunya ikut dijarah kalau tidak malahan ada di antara mereka itu yang tewas terbunuh,” kata Abdul Jalil.

Syarif Hidayatullah menarik napas panjang dan menunduk teringat pada kakek yang dicintainya. Lalu dengan suara bergetar dia bertanya, “Apakah kakek kami tidak meninggalkan sesuatu pesan untuk kami?”

“Sebelum berpisah, Usman Haji, sahabatku terkasih itu memang berpesan khusus untuk cucunya. Pertama-tama, ia mewanti-wanti agar cucunya tetap teguh dan tak tergoyahkan menjadi pejuang Tauhid. Dia mengharap agar di dalam menghadapi kehidupan yang bakal dilanda prahara perubahan dahsyat, cucunya mewaspadai dan tidak gampang percaya dengan segala sesuatu yang ditawarkan para pecinta tubuh dan pendamba kenikmatan dunia, yang digambarkan kakekmu dengan perlambang kawanan serigala dan musang,” kata Abdul Jalil.

“Kami akan pusakakan pesan kakek kami. Tapi, apakah perlambang kawanan serigala dan musang itu menunjuk pada keberadaan orang-orang Portugis?”

“Engkau bebas menafsirkan pesan kakeku, o Anakku.”

“Apakah itu berarti, kakek kami telah membenarkan kabar yang disampaikan orang-orang Maghrib bahwa Portugis adalah bangsa perampok yang akan menjarah kekayaan bangsa-bangsa muslim dan menyebarkan kesesatan di muka bumi?”

“Aku kira pesan kakekmu tidak tegas-tegas menunjuk pada keberadaan suatu bangsa. Yang aku tangkap dari pesan kakekmu, justru dia ingin memberi tahu engkau bahwa zaman kemunculan manusia-manusia ‘berekor’ pecinta tubuh dan pendamba kehidupan dunia, yang digambarkan dengan perlambang kawanan serigala dan musang, sudah sangat dekat waktunya.”