Berbagi Keberlebih-Kelimpahan

Setelah meninggalkan Caruban, tanah kelahiran yang telah mengukir beribu-ribu kenangan manis dan pahit, Abdul Jalil dengan didampingi Shafa, istrinya, pergi ke pedalaman Nusa Jawa, dengan mula-mula memasuki tlatah Galuh Pakuwan yang sudah menjadi bagian Caruban. Hari-hari dan pekan-pekan selama perjalanan dilaluinya dalam kesendirian dua anak manusia, yang seperti leluhurnya, Adam dan Hawa, hidup berdua di alam perawan berkawan burung-burung dan margasatwa yang bergembira menyanyikan senandung Kehidupan memuji Yang Mahahidup. Lalu, tanpa sadar ia merasakan semacam pesona Kehidupan surgawi: bentangan gunung dan bukit, lembah dan ngarai, jeram dan aliran sungai, padang rumput dan hutan perawan dengan gemericik air, kicau burung, jerit margasatwa, dengung serangga, ranum buah-buahan, wangi bunga-bunga, harum ilalang, dan segar embun yang memukau kesadaran manusiawi.

Abdul Jalil yang selama bertahun-tahun terseret pusaran arus Kehidupan, teraduk-aduk di tengah gelombang perubahan yang diciptanya, tertegun dan tersilap oleh pesona ketenang-tenteraman alam yang membentangkan keindahan ciptaan Ilahi tak tergambarkan. Setiap pagi menjelang, ketika matahari merekah diufuk timur dan hangat cahayanya mengangkat gumpalan kabut dari permukaan bumi, ia menghirup keharuman napas hutan yang wangi. Ia menangkap kebijaksanaan hutan mengalir memenuhi jiwanya, laksana mata air memenuhi telaga dan mengalir ke sungai. Setiap siang membentangkan cakrawala, ketika burung-burung beterbangan dan margasatwa berkejaran mencari makan, ia menyantap buah-buahan hutan dan meminum madu hutan yang menyegarkan kesadaran manusiawinya. Setiap malam datang mengerudungi bumi dengan selimut hitam, ketika hewan malam bersenandung merindukan bulan dan bintang-bintang, ia menikmati hangatnya pelukan Sang Kekasih yang acapkali kerahiman-Nya mengejawantah dalam wujud manusiawi sang istri: Shafa.

Di tengah hamparan alam bebas, Abdul Jalil merasakan kebebasan elangnya terbang tinggi di angkasa meninggalkan hiruk pikuk kehidupan di bumi. Ia terpesona oleh keleluasaan langit ruhani yang membentangkan kesunyian tanpa batas. Ia terpesona oleh citra keperawanan alam yang telanjang, seolah melemparkannya ke gugusan ingatan purba kehidupan manusiawi leluhur, Adam dan Hawa. Di tengah keterpesonaan itu, ia bersyair memuji Keagungan dan Kemuliaan Sang Pencipta. Suaranya yang merdu tetapi tegar menggema di tengah suara alam yang mendendangkan nyanyian pepujian atas Keagunngan Sang Pencipta.

Wahai Kekasih / di dalam hutan rimba-Mu / di tengah hewan-hewan-Mu / di tengah alam ciptaan-Mu / Engkau limpahkan kenyamanan melebihi kuta, desa dan gubukku // seluruh makhluk ciptaan-Mu / hadir telanjang tanpa topeng-topeng / nyanyian pepujian yang mereka lantunkan memuji-Mu / polos dan terbuka tanpa polesan / merdu tanpa kepalsuan // di hutan bebas inikah kediaman akhirku di dunia? / di alam bebas inikah elangku bisa terbang tinggi menggapai citra hampa-Mu? / di sini, dihutan-Mu, aku bersimpuh tanpa daya menghadap-Mu / aku persembahkan diriku, utuh, meski kehidupan palsu duniawi telah mencabik-cabik jiwaku //

Keindahan alam ciptaan Ilahi bagaimanapun bukanlah sesuatu yang langgeng. Baik keindahan alam yang terbentang maupun makhluk yang terpesona memandangnya, semua tidaklah abadi. Semua terbatas dan dibatasi oleh waktu yang ganas yang selalu menghancurkan tiap-tiap ciptaan tanpa belas kasihan. Keindahan bumi, bulan, bintang, matahari, hewan, manusia, bahkan surga pun pasti berakhir jika waktunya tiba. Hanya keindahan Sang Penguasa waktu yang selalu kekal dan abadi. Sebagaimana hukum alam (sunnatullah) yang berlaku, keindahan perjalanan Abdul Jalil yang memesona laksana perjalanan di surga itu pun akhirnya berakhir sesuai waktunya.

Ketika suatu pagi Abdul Jalil berjalan ke sungai kecil berair jernih untuk mengambil air dengan tabung bambu, tiba-tiba ia tersentak kaget ketika melihat bayangannya terpantul di permukaan air. Ia merasakan sekujur tubuhnya gemetar dan dadanya berdegup keras. Ia menajamkan pandangan. Jelas sudah, bayangan itu bukan bayangan dirinya: wajah sangar, kulit gelap, tubuh bongkok, tangan sangat panjang sampai melebihi lutut, mata terbelalak lebar, hidung besar, dan mulut jelek dengan gigi tak beraturan. Lalu, bayangan itu secara menakjubkan bangkit dari dalam air tanpa basah tubuhnya. Tanpa mengucap salam atau memperkenalkan diri, bayangan manusia buruk rupa itu sekonyong-konyong bertanya, “Siapakah engkau, o manusia jelek pengambil air?”

Terheran-heran Abdul Jalil menajamkan pandangan untuk menegaskan sosok bayangan itu. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku seorang pengembara papa bernama Abdul Jalil. Asalku dari Caruban Larang. Balik, siapakah engkau ini, o makhluk yang muncul dari air?”

“Aku? Namaku Abdul Jalil seperti engkau. Asalku juga dari Caruban Larang. Tapi aku tidak mengenalmu. Perwujudanmu sangat buruk, sampai-sampai hatiku gemetar ketakutan melihat sosokmu.”

“Engkau mengatakan perwujudanku buruk?”

“Ya, engkau manusia buruk rupa. Kenapa? Apakah engkau tidak sadar jika perwujudanmu sangat buruk dan menakutkan? Apakah engkau tidak melihat keberadaan bayangan dirimu yang palsu? Aku tahu siapa engkau sebenarnya. Engkau adalah makhluk jejadian yang membayangkan keberadaan dirimu sebagai Abdul Jalil, guru manusia asal Caruban Larang. Padahal, engkau hanyalah orang yang terseret angan-angan kosongmu menjadi orang lain. Engkau terperangkap khayalan nirwujudmu. Engkau tidak mengenal dengan benar guru manusia itu,” kata manusia buruk rupa itu dengan suara menggetarkan seolah diiringi bunyi derik ribuan jangkrik dari napasnya.

“Bukankah Abdul Jalil, guru manusia itu, adalah aku?” tukas Abdul Jalil terheran-heran.

“Aku tidak mengenalmu, o Pengaku-aku,” seru manusia buruk rupa itu sembari menunjukkan giginya yang tak teratur dan bibirnya yang tebal dalam seringai mengerikan. “Sebab, Abdul Jalil, guru manusia, yang pernah aku kenal adalah seorang manusia berlebih-kelimpahan. Dia manusia yang selalu merasa berat menanggung keberlebih-kelimpahannya, sehingga hari-hari dari hidupnya tidak pernah dilaluinya tanpa membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya. Ia terus membagi. Membagi. Seribu kali membagi. Dengan membagi, beban keberlebih-kelimpahannya akan berkurang.”

“Jika engkau bertanya kepada hutan, sungai, pohon, batu, matahari, bulan, bintang dan margasatwa tentang siapa Abdul Jalil maka engkau akan mendapati jawaban yang sama: dia, Abdul Jalil, adalah guru sang pembagi keberlebih-kelimpahan. Dia, guru manusia, yang selalu berkorban tanpa pamrih. Sebab, berkorban membagi-bagi diri, baginya, adalah membebaskan diri dari beban yang terus melimpahinya. Ya, itulah Abdul Jalil yang aku kenal, guru manusia yang selalu membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya. Sementara, engkau, manusia buruk rupa yang mengaku-aku Abdul, apakah yang engkau sudah lakukan selama di hutan ini? Bukankah hari-harimu hanya engkau isi dengan menerima dan menikmati keramahan alam, seolah engkau orang yang berkurang-kesusutan. Siapakah engkau ini sesungguhnya, o manusia buruk rupa?”

Abdul Jalil terperangah kaget. Ia merasakan wajahnya panas tertampar oleh ucapan makhluk buruk rupa itu. Bukan. Bukan hanya tamparan yang ia rasakan menghantam wajahnya. Rasa malu pun ia rasakan tiba-tiba menyesaki jiwanya. Rasa malu yang bergelegak dan meluap-luap membanjiri seluruh jaringan tubuhnya mulai dari ujung kaki naik terus ke ubun-ubun. Sekejap kemudian, ia tiba-tiba mendapati sekujur tubunya sudah basah diguyur keringat dingin. Lalu dengan hati risau ia membalikkan badan dan pergi meninggalkan manusia buruk rupa yang telah membuatnya malu itu. Namun, manusia buruk rupa itu mengejar dan memanggil-manggilnya dengan suara serak, “Abdul Jalil! Abdul Jalil! Berhentilah! Tunggu aku! Aku bukanlah orang lain. Aku adalah bayang-bayangmu! Jangan tinggalkan aku!”

Dengan keringat bercucuran, Abdul Jalil berjalan menembus kelengangan hutan. Ia tidak melihat lagi bayangan manusia buruk rupa yang mengejarnya. Namu, saat ia melintasi sebuah tikungan jalan setapak berbatu di lereng sebuah bukit, tiba-tiba ia terpekik kaget. Rupanya, di tengah kecamuk pikirannya yang galau ia telah menabrak seseorang yang sedang tersungkur di jalan. Raung kesakitan dan makian kemarahan terdengar bersahutan seperti pekik elang dan desau angin yang menampar tebing batu yang tinggi menjulang.

Dengan mata ditajamkan, Abdul Jalil menegaskan pandangannya ke sosok yang baru saja ditabraknya. Ia terkejut dan merasakan bulu kuduknya meremang saat mendapati kenyataan betapa sosok orang yang ditabraknya itu, wajah dan perawakannya sangat mirip dengannya. Anehnya, sosok itu luar biasa tambun. Saking tambunnya, tubuh sosok itu seperti terbentuk dari gumpalan daging. Hanya wajah sosok tambun itu saja yang mirip dengannya. Lalu, dengan suara yang direndahkan dan hati kebat-kebit ia berkata, “Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Siapakah engkau ini, o Tuan? Kenapa engkau tersungkur di tengah jalan?”

Sosok tambun mirip Abdul Jalil itu dengan gerakan lamban dan sangat susah payah, berkata terbata-bata dengan suara serak seperti kambing mengembik, “Maafkan aku, o Saudara. Bukan maksudku tidur-tiduran di jalan untuk menikmati hangatnya matahari sebagaimana anjing berjemur kehangatan matahari. Bukan pula maksudku menghalang-halangi orang-orang yang berjalan. Sebaliknya, ini yang harus engkau ketahuhi, aku adalah manusia malang yang tidak kuat lagi menanggung beban keberlebih-kelimpahan yang menghimpitku laksana bongkahan batu gunung. Kakiku tidak cukup kuat menahan beban keberlebih-kelimpahan yang memberati tubuhku. Itu sebabnya, aku tersungkur tak berdaya karena napas dan tenagaku hampir habis menahan beban keberlebih-kelimpahan yang terus bertambah menindihku dari waktu ke waktu. Aku sudah tidak kuat menahan. Aku merasakan diriku seperti jembatan bambu rapuh yang tidak kuat lagi menahan arus sungai yang meluap ganas akibat banjir di hulu. Aku hanya bisa menunggu datangnya orang-orang yang dengan suka rela menolongku; membagi keberlebih-kelimpahanku kepada mereka yang membutuhkan. Aku hanya bisa menunggu. Menunggu. Seribu kali menunggu. Dan engkau barusan tadi malah menabrakku. Apakah dengan suka rela mau menolongku? Apakah engkau bersedia membagi-bagi keberlebih-kelimpahanku kepada mereka yang membutuhkan?”

“Maafkan aku, o Saudaraku,” sahut Abdul Jalil dengan hati diliputi kepedihan, “Aku akan membawamu berkeliling ke mana pun engkau inginkan. Aku akan membagi-bagi keberlebih-kelimpahanmu kepada mereka yang membutuhkan. Apa pun akan aku lakukan untuk membantumu. Tetapi, izinkan aku akan berpamitan kepada istri yang sedang menungguku,” dengan tanpa menoleh sedikit pun ia berlari meninggalkan sosok tambun itu. Ia berlari ke tempat istrinya menunggu.

Ketika Abdul Jalil mendapati istrinya sedang duduk memakan buah-buahan dan meminum madu hutan, ia mendekat dan berkata, “Tadi aku ke sungai untuk mengambil air. Sekarang aku sudah kembali. Tapi tidak setetes pun air yang kubawa.”

“Apakah yang telah terjadi dalam perjalananmu, o Suamiku?” tanya Shafa menangkap sasmita bahwa suaminya telah mengalami sesuatu.

“Di pinggir sungai tadi aku melamu dan jatuh tertidur di bawah pohon besar. Aku terbangun ketika seekor kucing hutan mencakar dan menggigit dadaku. Waktu ia melihat aku terbangun, ia lari ketakutan. Tetapi, buru-buru ia kuhentikan dan kutanya kenapa lari ketakutan dariku. Bukankah ia telah berjasa membangunkan aku dari tidur lelap? Lalu ia menjawab, ia lari karena telah melukaiku. Lalu kukatakan kepadanya begini: masakan seekor kucing hutan dapat melukai singa? Kubuka jubahku, dadaku memang tidak luka oleh cakaran dan gigitannya. Lalu kucing hutan itu merunduk malu dan menjilati kakiku.”

“Ketika kucing hutan itu pergi ke hutannya dan aku mengisi tabung bambu dengan air, tiba-tiba muncul seekor sapi betina yang berjalan terseok-seok dan menangis kesakitan. Dia mengeluh kepadaku telah berbilang pekan ini sekujur tubuhnya meriang kesakitan. Pasalnya, air susunya tidak ada yang mengisap dan tidak pula ada yang memerah. Dia meratap dan memohon kepadaku untuk menolongnya: memeras air susunya dan membagi-bagikan air susu itu kepada siapa pun di antara bayi yang membutuhkan susu. Aku tidak kuasa menolak keinginan makhluk mulia yang menderita sakit karena tidak bisa mendermakan keberlebih-kelimpahannya kepada sesama. Lalu aku menemuimu, meminta pendapatmu apakah engkau berkenan membantuku memerah susu sapi yang kesakitan itu, dengan imbalan engkau akan beroleh manfaat dari susunya. Itulah sebabnya, o Istriku, aku kembali tanpa membawa air setetes pun,” kata Abdul Jalil.

Shafa tertawa. Lalu dengan manja ia bertanya, “Adakah sesuatu pesan di balik ceritamu itu, o Suamiku?”

Abdul Jalil memandang ke atas, melihat langit dari sela-sela rimbunan pohon. Setelah itu, ia menunduk dan berkata dengan suara lain, “Dalam perjalananku mengambil air di sungai tadi, aku melihat bayanganku di permukaan air. Tapi, aku tidak lagi mengenalinya karena dia begitu buruk rupa dan mengerikan. Lalu seperti seekor kucing hutan liar yang ganas, ia mencakar dan menggigit kesadaranku. Aku terbangun. Dan, kudapati betapa diriku telah menjadi orang lain yang tidak kukenal. Aku, Abdul Jalil, guru manusia, yang dikenal orang sebagai sang pemberi yang selalu membagi-bagi tubuh dan jiwanya laksana Raja Bagiratha tiba-tiba telah menjelma menjadi makhluk papa, sang penerima dan penikmat kelezatan dunia. Sungguh muak aku melihat cermin diriku seperti itu.”

“Bayanganku telah membangunkan kesadaranku bahwa aku adalah manusia yang dianugerahi keberlebih-kelimpahan, seperti sapi perah betina dianugerahi keberlebih-kelimpahan susu. Dan seperti sapi perah betina yang kesakitan tidak diperah, begitulah kesakitan kurasakan merejam tubuh dan jiwaku saat aku tidak membagi-bagi keberlebih-kelimpahanku kepada sesama. Sungguh, telah berkali-kali aku sampaikan kepadamu bahwa Kehidupan makhluk tidaklah kekal. Bukan hanya bumi, bulan, bintang, matahari, dan planet-planet yang tidak kekal, bahkan surga dan neraka pun tidak kekal. Sebagaimana yang telah engkau yakini, Kehidupan di bumi ini hanya sekejap. Kita semua sedang berjalan menuju persemayaman Sang Maut, alamat Cinta Sejati bertakhta. Kita tidak boleh dan tidak bisa bahkan tidak mungkin berhenti. Kita harus berjalan menuju-Nya sambil melepas segala sesuatu yang melekat pada diri kita. Kita harus melepas semua sampai kita telanjang seperti bayi yang tidak mengenal sesuatu yang lain kecuali puting susu ibunya. Begitulah sebaiknya kita dalam kembali kepada-Nya. Sebagai orang yang sedang berjalan menuju-Nya, tetapi menanggung beban keberlebih-kelimpahan dari-Nya, maka wajiblah bagiku untuk meneruskan perjalanan di bawah naungan-Nya dan membagi-bagi keberlebih-kelimpahan yang dianugerahkan-Nya itu kepada yang membutuhkan. Aku tidak ingin menjadi makhluk tambun yang terkapar sekarat di jalanan, akibat menanggung derita tertimbun oleh keberlebih-kelimpahan yang tidak dibagi.”

Shafa tersenyum dan bangkit. Sambil menunduk menyentuh kaki Abdul Jalil, dia berkata lembut, “Aku tahu siapa sejatinya engkau, o Suamiku. Aku telah menyaksikan keindahan telaga sunyi di matamu. Aku telah merasakan kesejukan angin di desah napasmu. Aku telah menyaksikan kegagahan sayap-sayapmu yang laksana rajawali terbang mengarungi langit sunyi. Aku telah mendengarkan bagaimana merdu suaramu menyanyikan pepujian atas keagungan-Nya. Bahkan di atas semua penyaksian itu, aku telah merasakan keberadaan dirimu secara utuh. Sungguh, telah kukenal engkau melebihi yang lain. Karena itu, o Suamiku, ke mana pun engkau pergi aku akan selalu ikut. Apa pun yang engkau perintahkan aku akan patuhi. Apa pun yang engkau teladankan aku akan ikuti. Bagiku, berlaku ketentuan suci seorang istri setia laksana Sati, yang mengabdi kepada suami ibarat pepatah ‘ke surga ikut ke neraka tersangkut-paut’. Demikianlah ungkapan dari lubuk jiwaku terdalam terhadapmu, o Suamiku.”

Setelah meninggalkan Kehidupan hutan, Abdul Jalil dengan didampingi istri berjalan melintasi lembah, gunung, sungai, sawah, dan padang belantara, dengan sesekali singgah di desa, dukuh, padepokan, dan asrama-asrama. Sepanjang perjalanannya itu ia laksana gumpalan awan di angkasa, dengan kegembiraan raya mencurahkan keberlebih-kelimpahannya seperti hujan kepada siapa saja yang membutuhkannya: ia mengobati yang sakit, menghibur yang dirundung kesedihan, memberi obor yang dalam kegelapan, menguatkan yang lemah, memberi makan yang lapar, mengulurkan tangan kepada yang meminta, memberi petunjuk kepada yang sesat jalan, mengajarkan jalan Kebenaran yang lurus, memacu kesadaran manusia agar berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia, dan yang tak pernah terlupakan adalah memberitakan kabar langit tentang bakal datangnya kawanan Ya’juj wa Ma’juj, pengikut Dajjal, yaitu kawanan ‘manusia berekor’, binatang yang berpikir, manusia pembawa hewan buas yang bakal menjatuhkan umat manusia ke jurang kebinasaan.

Sebagai guru manusia, Abdul Jalil paham jika manusia-manusia yang dihadapinya adalah kawanan-kawanan manusia tak berpribadi yang akal budi dan jiwanya dibentuk oleh lingkungan yang penuh diliputi rasa takut, yaitu manusia-manusia yang sejak bayi sudah ditakut-takuti takhayul dan kurafat. Ia paham bahwa manusia satu dengan manusia yang lain diikat oleh jalinan tali-temali nilai yang sama, yakni nilai-nilai yang dibangun di atas rasa takut pada sesuatu di luar diri manusia. Itu sebabnya, di dalam membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya kepada masyarakat semacam itu, ia memutuskan untuk mengikat rangkaian itu pada satu simpul utama yang kuat, yaitu mengikat kabar langit tentang kawanan manusia berekor yang membahayakan Kehidupan umat manusia sebagai simpul utama. Ia barharap, rasa takut orang-orang terhadap kabar langit itu mengalahkan semua rasa takut mereka terhadap hantu takhayul di sekitar mereka. Lalu, melalui simpul utama itu ia berharap dapat memperkuat simpul yang lain dari semua jalinan nilai yang akan diubahnya. Demikianlah, tanpa kenal siang dan malam, di tengah kesibukan membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, ia menyampaikan kabar langit yang dahsyat itu kepada siapa saja yang datang kepadanya.

Dengan suara lain yang acapkali terdengar aneh, seperti suara angin berembus di antara kepak beribu-ribu sayap burung, atau seperti kicau burung bersahutan di tengah gemuruh suara jeram, atau seperti jeritan rajawali di tengah angkasa, ia berkata, “Dengarkanlah kabar langit yang aku bawa ini, o engkau yang memiliki telinga indriawi! Resapi dan hayatilah apa yang akan aku sampaikan ini, o engkau yang memiliki pendengaran batin! Ketahuilah, o anak-anak Adam, bahwa sesungguhnya Sang Penentu (al-Muqtadir), telah menggoreskan pena mulia (al-qalam al-a’la) pada Kitab Langit (al-Lauh al-Mahuzh), suatu ketetapan yang isinya kira-kira berbunyi:

‘Akan datang suatu zaman di mana seluruh negeri di permukaan bumi akan dipenuhi oleh kawanan manusia berekor, binatang berpikir, makhluk pembawa binatang buas, yang muncul beriap-riap laksana kawanan semut dan lalat dan belatung mengerumuni bangkai. Mereka datang susul-menyusul laksana ombak lautan menerpa pantai. Mereka datang ke berbagai negeri dan menghampiri bangsa-bangsa dengan wajah berbunga-bunga membiaskan harapan. Lalu dengan kata-kata merdu yang menawan mereka menyodorkan talam-talam. Talam-talam itu terbuat dari emas dan di atasnya terdapat piala, piring, cerana, kotak-kotak, dan pundi-pundi yang terbuat dari bahan emas berhias permata. Mereka menawarkan arak hangat yang terdapat di dalam piala. Mereka menawarkan makanan lezat yang tersuguh di piring. Mereka menawarkan sirih kehormatan di cerana. Mereka menawarkan perhiasan yang tersimpan di kotak-kotak. Mereka menawarkan ilmu pengetahuan ajaib yang tersimpan di dalam pundi-pundi.’

“Tetapi waspadalah, o engkau yang memiliki telinga indriawi dan pendengaran batin! Jika kawanan manusia berekor, binatang berpikir, yang aku sebut ‘kerbau bule mata kucing’ itu, satu saat datang kepadamu dan menyodorkan talam yang dibawanya kepadamu, hendaknya engkau jangan gampang tersilap oleh bujukan manis mulut mereka yang beracun. Kenapa aku katakan mulut mereka beracun? Sebab, mereka adalah manusia-manusia mengerikan yang membawa hewan buas (nafs al-hayawaniyyah) di dalam diri mereka. Hewan buas yang bersemayam di dalam diri mereka itulah yang meneteskan air liur beracun dari mulut mereka. Siapa pun di antara manusia yang terkena air liur beracun, mereka akan berubah menjadi seperti mereka: manusia berekor!”

“Sungguh, aku akan memberitahu engkau, o yang memiliki akal budi dan hati nurani. Ketahuilah, arak hangat yang mengisi piala mereka itu sejatinya adalah arak yang sudah tercampur air liur beracun mereka. Arak itu akan membuatmu mabuk terhuyung-huyung, muntah-muntah, tersungkur di tanah tanpa daya dan tanpa kekuatan. Arak hangat beracun itu akan menghilangkan kesadaranmu sebagai manusia. Sementara makanan lezat yang tersuguh pada piring mereka bukanlah makanan yang baik dan bermanfaat. Makanan itu pun sejatinya adalah makanan berjamur yang terkena tetesan air liur beracun mereka. Makanan itu akan membuatmu kebingungan kelimpungan, kehilangan arah, dan melangkah gontai tanpa tujuan serta menjerembabkanmu ke jurang kesesatan yang dalam.”

“Aku beri tahukan kepadamu bahwa sirih kehormatan yang mereka suguhkan di cerana emas itu adalah sirih kemunafikan yang terkena tetesan air liur beracun mereka. Jika engkau mengunyah sirih itu, engkau akan kehilangan jati diri, linglung, tersuruk-suruk sesat di jalanan, bahkan akan menjelmakanmu dalam wujud makhluk rendah yang mengerikan. Engkau akanmenjadi orang lain yang tidak engkau kenal lagi. Sedang perhiasan-perhiasan di kotak yang mereka pamerkan, sejatinya adalah gemerlap perhiasan setan yang jika kau pakai akan menjadikanmu sebagai orang sesat pemuja benda-benda yang meninggikan diri di atas segala. Ilmu pengetahuan ajaib yang mereka simpan di dalam pundi-pundi sejatinya adalah ilmu pengetahuan iblis yang bakal menyesatkan manusia yang mempelajari dan mengamalkannya. Lantaran itu, jika engkau membuka pundi-pundi itu, lalu mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan ajaib yang ada di dalamnya, maka engkau akan kehilangan segala yang engkau miliki. Engkau akan kehilangan diri. Engkau akan kehilangan iman. Engkau bahkan akan kehilangan Tuhan. Engkau akan menjadi seperti mereka: Manusia berekor. Binatang berpikir. Manusia pembawa hewan buas.”

“Camkan apa yang aku sampaikan ini, o engkau yang memiliki hati nurani! Munculnya kawanan manusia berekor, binatang berpikir, itu tidak lain adalah atas kehendak-Nya semata. Dia menguji manusia dengan bermacam-macam ujian. Dan, ujian terberat bagi manusia terwujud dalam bentuk kawanan manusia berekor. Kawanan binatang berpikir. Kenapa aku katakan ujian terberat? Sebab, mereka itu dengan kecerdasan dan kecerdikan manusia tetapi dengan kelicikan, kerakusan, keganasan, dan kesetiakawanan binatang, sangat berhasrat kuat untuk menjadi penguasa dunia. Tidak cukup dengan menguasai dunia, mereka pun pada gilirannya akan mengubah kiblat manusia yang menuju Kebenaran (al-Haqq) ke kiblat lain (al-aghyar) yang menyesatkan. Dengan ilmu pengetahuan ajaibnya, mereka akan merampas pelita iman yang menyinari jalan orang-orang beriman sehingga orang-orang yang berjalan di jalan Kebenaran berada dalam kegelapan. Mereka akan menuntun manusia ke pinggir jurang kesesatan dan kemudian melemparkannya ke dasar jurang kebinasaan.”

“Bukalah telinga indriawi dan pendengaran batinmu, o engkau yang dianugerahi akal dan hati nurani. Ketahuilah, kawanan manusia berekor, binatang-binatang berpikir, yang dipimpin oleh Sang Kere, dengan tawaran-tawarannya yang memesona dan menggiurkan itu, sesungguhnya adalah kawanan makhluk mengerikan yang dikirim oleh Dia, Zat Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill) dan Maha Menghinakan (al-Mudzill), untuk membalikkan kiblat Kebenaran dari jiwa manusia. Mereka akan menjadika kiblat Kebenaran seluruh manusia menjadi sama dengan kiblat kebenaran mereka. Mereka akan menempatkan masalah benar dan salah, baik dan buruk, halal dan haram, hak dan batil, sesuai sudut pandang dan ukuran kiblat mereka, yaitu kiblat manusia berekor. Kiblat binatang berpikir. Dengan rasa bangga berlebih-lebihan, mereka akan menepuk dada dan berkata:

‘Inilah nilai-nilai agung, luhur dan mulia yang menandai keberadaan kami, manusia-manusia berekor, binatang berpikir, anak-anak bumi, makhluk terhebat penguasa bumi dan tuan dari bangsa-bangsa di muka bumi. Inilah nilai-nilai agung dan luhur yang telah membawa kami sebagai penguasa jagat raya tak terkalahkan. Apakah nilai-nilai kami itu? Inilah nilai-nilai kami yang agung, luhur dan mulia: yang kuat memangsa yang lemah, yang pintar memangsa yang bodoh, yang kaya memangsa yang miskin, yang kejam memangsa yang lemah hati, yang jahat memangsa yang baik, yang berkuasa memangsa yang dikuasai, yang menindas memangsa yang tertindas, yang menjajah memangsa yang dijajah, yang kuat sentosa memangsa yang tidak berdaya. Dengan demikian, mereka yang kuat dan menang dan berkuasalah yang akan menjadi makhluk terunggul di atas makhluk segala makhluk. Sebab, itulah ketentuan hukum alam yang akan memenangkan siapa saja di antara makhluk yang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan azasi nalurinya sebagai binatang berpikir.’

“Dengarlah, o engkau yang memiliki akal budi dan telinga batin, betapa berbahaya kawanan manusia berekor itu jika mereka sudah menguasai dunia. Sebab, kebenaran yang mereka pahami adalah kebenaran hewani yang sangat berbeda dengan Kebenaran yang dipahami manusia. Tetapi, sebagaimana telah aku kabarkan kepada engkau, o yang memiliki akal budi dan hati nurani, kedatangan mereka adalah atas kehendak-Nya sebagai ujian dahsyat bagi manusia beriman. Sehingga, engkau sekalian tidak akan sanggup melawan mereka dengan akal pikiran dan kekuatan senjata. Engkau tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan pikiran tentang kehidupan duniawi melawan mereka, meski engkau gunakan hujjah-hujja berdasar kitab suci. Engkau tidak bisa menghunus pedang untuk melawan dan mengalahkan mereka. Engkau juga tidak bisa membangkitkan perlawanan bersenjata di antara kaummu untuk menghalau mereka yang menyerbu negerimu.”

“Camkan oleh kalian semua, o engkau yang memiliki hati nurani. Kemunculan manusia berekor, binatang berpikir, para pengikut Dajjal penyesat, tidak dapat pula kalian lawan dengan ilmu-ilmu kesaktian dan kedigdayaan, apalagi dengan kepercayaan kalian yang sarat dilingkari takhayul dan kurafat. Mereka adalah setengah manusia dan setengah binatang. Mereka manusia berekor. Binatang berpikir. Manusia-hewan yang tidak percaya pada Tuhan, dewa-dewa, hantu-hantu, setan, dan segala macam makhluk gaib yang tak kasatmata. Sungguh, mereka itu makhluk hantu-hantu dan setan-setan yang selama ini kalian takuti.”

“Ingat-ingatlah, o engkau yang memiliki akal dan hati nurani. Seperti yang telah aku katakan, kehadiran manusia berekor, binatang berpikir, adalah semata-mata atas kehendak Allah. Lantaran itu, tidak ada daya dan kekuatan makhluk yang dapat menolak kemunculan mereka di dunia. Aku katakan kepada engkau, o yang memiliki hati nurani, bahwa engkau dan seluruh balamu tidak akan bisa berbuat sesuatu untuk menolak kehadiran mereka. Satu-satunya tindakan yang bisa menghindarkan kalian dari serbuan kawanan manusia berekor itu adalah Allah sendiri. Jika kalian ingin selamat dari cengkeraman mereka maka kalian wajib mengarahkan kiblat Kebenaran di hati dan pikiran kalian hanya kepada al-Ahad, Sanghyang Tunggal: Allah! Esakan Dia, Yang Tunggal, Yang Maha Meliputi segala sesuatu! Esakan Dia, Allah, Tuhanmu, dengan sesungguh-sungguh Tauhid!”

“Dengarlah, o engkau yang berakal budi dan berhati nurani! Bahwa mengesakan Allah, Tuhan, Zat Mutlak Tak Terbandingkan, bukanlah perkara mudah. Sebab, sebagaimana telah aku ajarkan tentang keberadaan rentangan jiwa hewan – manusia-hewan – manusia – adimanusia yang harus kalian lampaui, demikianlah usaha mengesakan al-Ahad, Sanghyang Tunggal, Allah, itu membutuhkan perjuangan tak kenal henti dan pantang menyerah. Mengahadkan Tuhan butuh perjuangan keras melampaui kebinatangan dan kemanusiaan hingga mencapai keadimanusiaan. Hanya mereka yang sudah menjadi adimanusia sajalah yang dapat menangkap makna hakiki dari Tauhid. Hanya adimanusia yang mampu mengesakan Tuhan dalam makna yang sebenar-benarnya.”

“Ketahuilah, o para penempuh jalan ruhani, bakal adimanusia yang gagah perkasa dan pantang menyerah, bahwa Tuhan, Allah, Zat Yang Maha Esa, Sumber segala kejadian, Kiblat segala harapan, pada hakikatnya bukanlah suatu obyek statis yang diam dan gampang ditemukan oleh para pencari-Nya. Sebaliknya, Dia adalah Zat Maha Esa, Tunggal, Maha Meliputi, yang dinamis dan tidak gampang ditemukan oleh para pencari-Nya, sampai semuanya benar-benar teruji secara sempurna. Untuk itu, berjuanglah sekuat tenaga dan sekuat daya upayamu untuk menemukan makna hakiki Tauhid, dengan mewujudkan dirimu sebagai adimanusia, insan kamil, yang mentauhidkan Allah secara benar. Adimanusia yang di mana pun berada senantiasa ditandai oleh citra diri sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-‘alamin).”

“Jika di dalam berjuang engkau dapat mewujudkan diri menjadi adimanusia, wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh), manusia sempurna (insan kamil), maka terjagalah bumi di sekitarmu dari kekuasaan dan jarahan manusia-manusia berekor, binatang berpikir, yang akan merusak Kehidupan umat manusia. Sebab, citra adimanusia ada citra rahmat, yaitu citra manusia yang senantiasa membuka tangan untuk memberi kepada mereka yang meminta dan membutuhkan. Citra adimanusia adalah berbagi keberlebih-kelimpahan dan bahkan berkorban diri secara utuh tanpa pamrih. Citra adimanusia itulah yang paling dibenci oleh manusia berekor, karena binatang berpikir itu tidak pernah dapat meraih derajat rahmat seperti adimanusia. Lantaran itu, o engkau yang berakal budi dan berhati nurani, berjuanglah sekuat daya dan upayamu untuk mewujudkan dirimu menjadi adimanusia yang selalu ditandai kegembiraan raya dalam membagi-bagi keberlebih-kelimpahan anugerah-Nya kepada sesama makhluk. Jadilah adimanusia yang tidak mengenal rasa takut kepada sesuatu kecuali kepada Penciptanya.”