Dua Penguasa Berebut Kuasa

Paparan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud tentang amukan badai Kebinasaan di berbagai negeri di barat seketika mengingatkan Abdul Jalil tentang pemukiman-pemukiman baru orang-orang asing di Surabaya, Gresik, Tuban, Lasem, dan Demak yang dijumpainya selama ia berkeliling mengunjugi dukuh-dukuh larangan dan caturbhasa mandala. Rupanya, tiupan dahsyat badai Kebinasaan yang melanda bumi Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, dan Afghan telah menimbulkan ketakutan penduduk di negeri tersebut. Kekalahan, kekejaman, kemenangan, kebiadaban, kegagahan, ketertindasan, kepongahan, kebencian, keberanian, kekuatan, dan ketidakberdayaan yang tumpang tindih di tengah bayangan Kematian telah mengaduk-aduk jiwa manusia-manusia yang kalah. Di tengah hiruk Kebinasaan tersebut, para pemuka pihak yang kalah, para pemimpin marga yang enggan tunduk kepada pemenang, guru-guru ruhani dan murid-muridnya yang teraniaya, dan warga yang ketakutan terpusar dalam ketidakberdayaan yang membingungkan. Mereka saling pandang dan saling bincang. Lalu, mereka bersepakat meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari keselamatan di negeri lain.

Seperti layaknya hewan yang mengetahui ke mana harus bersembunyi ketika bahaya mengancam, manusia-manusia kalah yang jiwanya didera ketakutan dan pikirannya diaduk-aduk kebingungan itu pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka, menuju negeri yang tersembunyi di balik kabut; negeri surgawi penuh harapan dengan gunung-gunungnya yang biru dilimpahi kesuburan, biji-bijian menguning membentuk bukit-bukit makanan, buah-buahan ranum menyegarkan, susu dan madu melimpah ruah, gemericik air sungai yang mengumandangkan nyanyian Kehidupan, dan senyuman ramah penghuninya yang setengah telanjang; surga dunia yang sejak zaman kuno disebut orang negeri Jawi (sebutan pelaut-pelaut Arab untuk pulau-pulau Nusantara di masa silam) yang terhampar laksana untaian permata zamrud di tengah lautan.

Ketika waktu berlalu dan cakrawala Kehidupan terbit dengan harapan baru, para pencari keselamatan itu telah terlihat bermunculan di sepanjang pantai negeri Jawi. Dengan ketakjuban luar biasa, mereka yang merasa telah sampai di negeri surgawi itu beramai-ramai tinggal di negeri harapan yang mereka impikan. Mereka mendatangi penguasa-penguasa negeri dan dengan bahasa isyarat mereka meminta izin tinggal di situ. Penduduk negeri Jawi yang terheran-heran melihat kehadiran orang-orang asing di negeri mereka, menyebut mereka sebagai wong kabur kanginan (orang-orang terbawa badai) asal negeri Rum, yaitu negeri kediaman orang-orang berwajah rupawan di negeri Atas Angin di angkasa.

Tercekam oleh paparan Ahmad at-Tawallud dan penglihatan batin yang disaksikannya di atas langit Demak, Abdul Jalil ingin mengetahui apakah gerangan yang sedang terjadi di negeri Demak sehingga memiliki kaitan dengan badai Kebinasaan yang sudah mengamuk lebih dulu di barat. Apakah kedatangan orang-orang yang terbawa badai dari negeri-negeri tersebut bakal menjadi salah satu penyebab berembusnya badai Kebinasaan di Nusa Jawa? Apakah yang sesungguhnya terjadi di Kesultanan Demak setelah mangkatnya Sultan Abdurrahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama?

Usai mengantar guru terkasihnya, ia buru-buru menemui Gagak Cemani, seorang pengikutnya yang tinggal di kuta Demak. Ia menitipkan istri dan puteranya kepada Gagak Cemani. Setelah itu, seorang diri ia melangkahkan kaki menuju Masjid Agung Demak. Namun, saat berada di alun-alun ia merasakan hawa aneh melingkupi daerah tersebut. Tanpa sengaja ia menangkap kelebatan empat sosok bayangan hitam yang melintas cepat di depannya dalam jarak sekitar sepuluh tombak. Ia tahu bayangan yang berkelebat itu bukanlah manusia, melainkan bangsa jin. Lalu, dengan bahasa perlambang ia memanggil mereka. Keempat bayangan hitam itu berhenti seketika dan melesat berbalik arah. Ternyata, mereka adalah Ratu Rara Dhenok, jin penguasa Demak. Ia didampingi Ratu Banjaransari, jin penguasa Pengging, Sapujagad, jin penguasa Jipang, dan Barat Katiga, jin penguasa Samarang. Dengan terheran-heran, Abdul Jalil melihat keempat pemuka jin itu dan bertanya, “Ada keperluan apakah sehingga kalian yang datang dari Jipang, Pengging, dan Samarang berada di Demak?”

Ratu Banjaransari dengan sikap sangat hormat menjawab, “Kami sedang merencanakan pesta, paduka.”

“Pesta darah, maksudmu?” sergah Abdul Jalil.

“Benar Paduka.”

“Apakah itu karena ada kemelut pergantian kekuasaan di Demak?”

“Paduka sudah lebih tahu tentang itu.”

Abdul Jalil diam. Ia sadar, cepat atau lambat badai Kebinasaan akan berembus dengan dahsyat di Nusa Jawa. Ia sadar, berkuasanya dua orang raja setelah mangkatnya Sultan Abdurrahman Surya Alam akan berbuntut pesta darah para jin. Sebab, perebutan pengaruh masing-masing raja yang akan memanfaatkan apa saja yang bisa mereka gunakan untuk mengukuhkan kekuasannya. Orang-orang terbawa badai sangat mungkin akan dijadikan alat oleh salah satu di antara dua penguasa tersebut untuk memperkuat kekuasaannya. Itu berarti, embusan badai Kebinasaan yang akan memporak-porandakan keberadaan umat Islam di Nusa Jawa tidak akan dapat dihindari lagi. Para jin pasti akan mensyukuri Kebinasaan itu dalam pesta darah yang menjadi hak mereka dari zaman ke zaman.

Tengara bakal berembusnya badai Kebinasaan di Nusa Jawa makin kuat ditangkap Abdul Jalil manakala ia menyaksikan kenyataan-kenyataan yang berkaitan dengan keberadaan orang-orang terbawa badai itu, bagaikan sebuah rangkaian cerita yang sudah diatur.

Tidak lama setelah kedatangan orang-orang terbawa badai asal Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, dan Afghan, datang pula orang-orang terbawa badai asal Goa dan Malaka yang negerinya jatuh ke tangan Portugis. Tidak lama setelah itu, di sepanjang pantai utara Nusa Jawa terlihat iring-iringan jung besar dan kecil yang memuat penduduk muslim asal daratan Cina. Mereka adalah saudagar-saudagar Cina yang lari dari tanah kelahiran akibat amukan badai Kebinasaan yang berembus dari istana Kaisar Langit. Menurut kabar yang beredar, berita pengkhianatan saudagar-saudagar Cina Cochizha yang menawarkan bantuan kepada Portugis yang disusul jatuhnya Malaka, telah membuat Kaisar Langit sangat murka, terutama ketika para pangeran tua asal Malaka, keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po, menghadap dan membenarkan kabar pengkhianatan tersebut.

Kaisar Langit yang ingin melindungi kerajaannya dari pengkhianatan kemudian mengambil tindakan tegas: mengeluarkan titah pembakaran atas semua kapal milik saudagar di seluruh negeri. Seiring bergemanya titah tersebut, berembuslah angin berapi yang makin lama makin membesar menjadi badai Kebinasaan yang menghancurleburkan semua kapal milik saudagar Cina yang berserak di sepanjang pantai daratan Cina. Tanpa peduli apakah saudagar tersebut memiliki hubungan dengan saudagar Cochizha, pembinasaan terus dilakukan dengan sangat ganas dan tak kenal ampun. Kepulan asap dan kobaran api memenuhi garis pantai Cina yang memanjang dari selatan ke utara, laksana naga api mengamuk. Celakanya, bagian terbesar saudagar Cina yang berniaga di lautan adalah muslim seperti saudagar-saudagar Cina Cochizha.

Di tengah amukan badai berapi yang tak memilih-milih sasaran itu, ikut terbakarlah perahu-perahu kecil dan sebagian rumah para saudagar. Bingung, panik, takut, dan rasa putus asa menerka jiwa orang-orang tak bersalah yang berlarian di tengah gemerecik runtuhnya benda-benda yang hangus menghitam. Bayangan wajah Kematian tampak menyeringai ganas di cakrawala negeri Cina. Ke mana pun orang berpaling, hanya bayangan wajah Kematian yang terpampang mengerikan. Sekumpulan demi sekumpulan manusia tak bersalah itu meloloskan diri dari terkaman Kematian. Dengan jung-jung dan perahu-perahu kecil yang tersisa, mereka berduyun-duyun membawa keluarganya pergi meninggalkan tanah kelahiran, mengarungi lautan menuju negeri surgawi harapan di laut selatan. Sebagaimana orang-orang terbawa badai sebelumnya, para saudagar Cina yang terusir dari negerinya itu tinggal di pantai-pantai negeri Jawi.

Di tengah hiruk menjamurnya pemukiman baru orang-orang terbawa badai itu, menyeruakah seekor ular hitam bermahkota emas dari reruntuhan jiwa pewaris kesultanan Demak: Tranggana. Penguasa yang diamuk amarah akibat kehilangan kuasa dan wibawa itu tiba-tiba merasakan tubuhnya digetari semangat berkobar-kobar ketika menyaksikan tumbuhnya hunian-hunian baru pemukim asing di wilayahnya. Ular hitam bermahkota emas yang selama bertahun-tahun selalu menggulung dalam tidur beku, tiba-tiba mendongakkan kepala dan mendorong jiwanya untuk mendaki puncak kekuasaan yang telah melemparkannya ke jurang memalukan sebagai raja tanpa mahkota. “Bangkit dan pimpinlah bangsa-bangsa yang datang terbawa angin itu untuk merebut kekuasaanmu!” titah ular hitam bermahkota emas kepada Tranggana dengan suara mendesis-desis.

Tranggana, putera Sultan Demak, belum genap dua puluh lima usianya ketika menggantikan takhta ayahandanya. Ia dikenal orang sebagai pangeran yang sangat suka mengumbar nafsu, menikmati kesenangan-kesenangan syahwat. Ia seolah tidak pernah peduli dengan masalah pemerintahan sebagaimana kakaknya, Pangeran Sabrang Lor. Ia sangat bangga dikelilingi perempuan cantik yang menyanjung dan memujinya. Dalam usia lima belas tahun ia sudah memiliki tiga empat orang anak dari selir-selirnya. Lantaran hari-hari hidupnya penuh warna-warni kesenangan, tidak satu pun orang menduga ia bakal naik takhta menggantikan ayahandanya. Sehingga, saat ia naik takhta menjadi Yang Dipertuan Demak, orang mendecakkan mulut menahan napas.

Memang banyak yang terkejut dengan kenaikan mendadak Tranggana ke takhta kesultanan. Pada saat ayahandanya mangkant, orang hanya memilih harapan kepada putera sultan tertua, Pangeran Sabrang Lor. Namun, tidak ada yang menyangka, belum genap tiga tahun berkuasa, ketika akan dinobatkan menjadi pemimpin persekutuan adipati-adipati pesisir dengan gelar sultan oleh Majelis Wali Songo, tiba-tiba Pangeran Sabrang Lor sakit keras dan meninggal secara mendadak. Kebingungan pun terjadi di antara keluarga sultan sebab sepeninggalnya, putera Sultan Abdurrahman Surya Alam dari permaisuri Ratu Asyiqah yang memiliki hak atas takhta hanyalah Tranggana, karena saudaranya yang lain, Pangeran Kanduruwan yang menjadi manghuri (sekretaris negara) Ratu Sri Maskumambang di Japan, dan adiknya, Pangeran Panggung, yang tinggal di Randu Sanga, adalah putera-putera sultan dari selir. Dengan demikian, meski semua mengetahui jika Tranggana bukan pemimpin dan negarawan unggul seperti ayahandanya dan kakaknya, semua tidak memiliki pilihan lain untuk tidak memilihnya sebagai penguasa baru Demak.

Sekalipun keluarga dan kerabat sultan akhirnya sepakat menunjuk Tranggana sebagai Yang Dipertuan Demak, untuk jabatan sultan-pemimpin tertinggi persekutuan adipati-adipati pesisir utara Jawa-dibutuhkan kesepakatan para adipati yang tergabung dalam persekutuan tersebut untuk memilihnya. Tapi, kabar tentang kelakuan buruk Tranggana sudah didengar tiap telinga dan disaksikan setiap mata sehingga diam-diam para adipati pesisir tidak bersimpati kepadanya. Pada saat seperti itu adipati Tedunan, Rembang, Tetegal, Samarang, dan Siddhayu memanfaatkan keadaan untuk mempengaruhi adipati yang lain agar tidak memilih Tranggana sebagai pemimpin tertinggi persekutuan. Lalu, terjadi perubahan sejarah yang tidak terduga-duga. Dengan alasan mengikuti kaidah-kaidah khalifah yang sudah disepakati bersama, para adipati pesisir utara Jawa yang berkumpul di Masjid Agung Demak memilih Pangeran Hunus Adipati Japara, adik ipar Tranggana, sebagai pemimpin tertinggi mereka. Mereka memberi gelar penguasa pilihan mereka itu: Adipati Hunus Senapati Jimbun Sabrang.

Kesepakatan para adipati pesisir utara Jawa untuk memilih Pangeran Hunus sebagai pemimpin tertinggi mereka adalah sama maknanya dengan menunjuk adipati Japara itu sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan (adipati) dan komando angkatan perang (senapati) yang menggantikan kedudukan mertuanya, Sultan Abdurrahman Surya Alam. Itu berarti, Pangeran Hunuslah satu-satunya penguasa yang memiliki kewenangan untuk mengerahkan kekuatan militer di seluruh kadipaten pesisir. Hal itu tidak bisa ditafsirkan lain, kecuali: kedudukan pemimpin tertinggi persekutuan adipati pesisir utara Jawa telah pindah dari Demak ke Japara. Bahkan, dengan naiknya Pangeran Hunus sebagai pengganti mertuanya, menunjuk bukti betapa persekutuan marga Orob yang berkuasa di Kadipaten Tedunan, Rembang, Tetegal, dan Siddhayu telah berhasil menggalang kekuatan besar di Nusa Jawa.

Tindakan para adipati memilih Pangeran Hunus adalah tamparan keras bagi Tranggana.ia menganggap tindakan itu merupakan usaha terang-terangan untuk meminggirkannya dari kekuasaan atas Jawa yang diwariskan ayahandanya. Tindakan para adipati itu bagi Tranggana adalah persengkongkolan jahat yang telah mengerdilkan kekuasaannya menjadi tidak lebih luas dari wilayah Kadipaten Demak. Itu adalah suatu penghinaan besar. Yang paling menyakitkan hati, Pangeran Panggung, saudara tirinya justru mendukung kepemimpinan Pangeran Hunus dengan alasan sesuai kaidah-kaidah khalifah, kekuasaan yang sah adalah yang sesuai dengan hasil pemilihan yang disepakati. Padahal kakak kandung Pangeran Panggung, yaitu Pangeran Kanduruwan, tegas-tegas menyatakan dukungan kepadanya.

Andaikata tidak disadarkan 0leh sahabatnya, Pangeran Zainal Abidin Susuhunan Dalem Timur, putera Prabu Satmata Susuhunan Giri Kedhaton, Tranggana yang sudah dibakar amarah akibat tersingkir dari takhta kesultanan itu akan mengambil jalan pintas: merebut kekuasaan dari tangan Pangeran Hunus dengan kekerasan. Ia akan menggempur adipati Samarang, Pangeran Mangkubhumi, putera Pangeran Pandanarang, saudara sepupu yang dianggapnya berkhianat. Ia juga akan menyingkirkan saudara tirinya, Pangeran Panggung, yang dianggapnya berkhianat pula. Jika hal itu terjadi, dipastikan ia akan terperosok ke jurang kehancuran karena Pangeran Hunus didukung oleh kerabat dan sahabat-sahabatnya yang menjadi adipati di Rembang, Tetegal, Japara, Tedunan, Siddhayu, Samarang. Sementara, Pangeran Panggung pun memiliki hubungan kuat dengan pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang karena ia adalah murid Syaikh Lemah Abang.

Akhirnya, berkat nasihat dari Susuhunan Dalem Timur, Tranggana mengurungkan niat, baik merebut kekuasaan dari Pangeran Hunus maupun keinginan menggempur adipati Samarang dan membunuh saudara tirinya, Pangeran Panggung. Ia sadar, kedudukannya sebagai pewaris takhta sedang berada pada rentangan masa yang sulit. Ia sadar, dirinya tidak saja telah ditinggalkan kuasa dan wibawa, tetapi keluarganya pun sudah terpecah-belah dalam kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan. Dibanding adik iparnya, Pangeran Hunus, ia bukanlah apa-apa karena keberadaannya tidak lebih dari seekor singa tanpa gigi tanpa cakar yang duduk di depan gua.

Tranggana yang sudah dikuasai nafsu berkuasa itu ternyata tidak menyerah. Ia yang sudah dicekam harapan untuk berkuasa sebagai raja Jawa sebagaimana ayahandanya, diam-diam melakukan usaha-usaha yang sangat hati-hati untuk menyusun kekuatan demi mewujudkan harapannya. Ia menyadari, saat itu satu-satunya tiang penopang kekuasaannya yang bisa diandalkannya hanyalah Majelis Wali Songo, yang kebetulan dipimpin oleh sahabatnya, Pangeran Zainal Abidin Susuhunan Dalem Timur. Ia juga menyadari hanya Majelis Wali Songolah satu-satunya majelis yang memiliki kewenangan untuk melantik seorang adipati pemimpin persekutuan dengan gelar sutan, selain berwenang menganugerahi gelar keagamaan Sayidin Panatagama kepada sultan.

Sadar dirisnya terjepit di tengah rentangan waktu yang makin mendesak, Tranggana diam-diam menggeliat untuk tidak berdiam diri menunggu nasib. Ia sadar, di tengah keterjepitan kedudukannya itu ia harus berpacu dengan waktu untuk berlomba kecepatan menghambat jadwal pelantikan Pangeran Hunus sebagai sultan. Diam-diam ia berusaha keras agar Pangeran Hunus hanya dilantik oleh Majelis Wali Songo sebagai adipati dan senapati, sebagaimana hasil pemilihan adipati-adipati. Itu berarti, jabatan sayidin panatagama yang belum diperoleh Pangeran Hunus dari Majelis Wali Songo akan direbutnya. Tranggana berpikir, biarlah untuk sementara dia menjadi pemimpin keagamaan asalkan memiliki wilayah kekuasaan di pesisir Jawa. Untuk menggapai tujuan itu, ia harus mendapatkan simpati dari Majelis Wali Songo. Lalu, Tranggana pun mengumumkan rencana perluasan Masjid Agung Demak yang akan dijadikan masjid agung terbesar dan termegah di Nusa Jawa sekaligus menjadi salah satu tempat pertemuan Majelis Wali Songo paling terhormat.

Siasat Tranggana memperluas Masjid Agung Demak terbukti membawa hasil tak terduga-duga. Pertama-tama, pelantikan sultan hasil pilihan adipati-adipati yang akan dilakukan di Masjid Agung Demak menjadi tertunda sampai pengerjaan perluasan masjid selesai. Selama rentang waktu perluasan masjid, Tranggana memperkuat kedudukan dengan memanfaatkan semuda hal yang dapat dimanfaatkan. Secara diam-diam ia mengirim saudarinya, Nyi Mas Ratu Winong, ke Wirasabha untuk dinikahi oleh saudara sepupunya, Pangeran Arya Terung, putera Raden Kusen. Alih-alih menikahkan adik perempuannya, Tranggana menyuruh Pangeran Arya Terung untuk meminta hak atas Kadipaten Sengguruh yang dikuasai Raden Pramana, putera Patih Mahodara. Merasa nasihat Tranggana itu sangat baik, Pangeran Arya Terung membawa pasukan dari Wirasabha dan menggempur Kadipaten Sengguruh dari arah utara. Tanpa kesulitan berarti, Pangeran Arya Terung mengalahkan dan mengusir Raden Pramana, yang menjadi adipati di Sengguruh. Pangeran Arya Terung kemudian mengangkat diri menjadi adipati Sengguruh. Para pemuka penduduk di Kadipaten Sengguruh menerima baik kepemimpinan Arya Terung, sebab mereka menganggap Kadipaten Sengguruh adalah bagian dari kekuasaan Bhre Tumapel, kakek buyut Pangeran Arya Terung dari pihak ibu, sehingga putera Raden Kusen itu dianggap lebih berhak menjadi adipati di Sengguruh daripada Raden Pramana yang hanya keturunan seorang patih. Dengan berkuasanya Pangeran Arya Terung di Sengguruh, Tranggana telah memiliki satu kekuatan pendukung di pedalaman Nusa Jawa.

Ketika perluasan masjid Demak selesai dan peresmiannya dihadiri Majelis Wali Songo, terjadilah peristiwa langka yang sebelumnya belum pernah terjadi: Majelis Wali Songo tiba-tiba melantik dua orang penguasa dengan kekuasaan dan kewenangan dan gelar berbeda. Pertama-tama, Majelis Wali Songo melantik Tranggana sebagai sultan dengan gelar kebesaran Sultan Ahmad Abdul Arifin Ki Mas Palembang Sayidin Panatagama. Dengan gelar itu, Tranggana secara sah telah memiliki kekuasaan ruhani untuk mengatur kehidupan beragama penduduk di Nusa Jawa. Itu berarti, Tranggana telah memegang otoritas kekuasaan di bidang agama, yakni sayidin panatagama yang merupakan pelaksana kekuasaan Majelis Wali Songo selaku pemimpin ruhani umat (imam al-ummah).

Setelah melantik Tranggana, Majelis Wali Songo melantik Pangeran Hunus yang telah dipilih para adipati-adipati persekutuan adipati dengan gelar kebesaran Adipati Hunus Sinihun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang. Dengan dikukuhkannya gelar Adipati Hunus pada Pangeran Hunus dan gelar Ki Mas Palembang pada Tranggana, sesungguhnya Majelis Wali Songo secara simbolik tidak saja telah memilahkan secara tegas kekuasaan sultan dan adipati dengan wewenangnya masing-masing, tetapi yang tak kalah penting adalah memilahkan kedudukan garis nasab masing-masing, di mana nama Hunus sama makna dengan Orob menunjuk bahwa pemilik nama tersebut adalah bagian dari marga Orob, bangsawan asal Lawe, Barunadwipa, sedang nama Ki Mas Palembang menunjuk bahwa pemilik nama adalah keturunan sultan pertama Demak, Panembahan Palembang. Dengan kebijakan itu, api di dalam sekam yang selama itu membara di bawah permukaan Kesultanan Demak untuk sementara dapat dipadamkan, karena dua orang penguasa pengganti Sultan Abdurrahman Surya Alam sudah memiliki kedudukan dan kewenangan sendiri-sendiri, baik kedudukan dalam garis nasab maupun kedudukan di dalam mengatur kekuasaan masing-masing; sultan Demak berkedudukan di Demak dan Adipati Hunus berkedudukan di Japara.