Tiupan Badai Kematian

Sadar dirinya sudah memegang kekuasaan di Nusa Jawa, meski hanya kekuasaan agama, Tranggana merasakan semangatnya terbang ke angkasa bersama ular hitam bermahkota emas yang bersemayam di relung jiwanya. Dari atas ketinggian hasratnya yang melayang-layang laksana burung alap-alap itu, ia menyapukan pandangan ke setiap sudut Kehidupan di wilayah kekuasaannya. Saat itulah ia menyaksikan secercah cahaya harapan yang membentang di garis cakrawala, yang menurut perhitungannya dapat digunakan untuk membangun kekuatan baru yang akan memperkokoh kuasa dan wibawanya sebagai sayidin panatagama di Nusa Jawa. Secercah harapan yang disaksikannya itu adalah keberadaan orang-orang terbawa badai, yaitu orang-orang yang terusir dari negeri kelahiran akibat perang dan mereka hidup tanpa harapan di rantau. Orang-orang terbawa badai itu pasti akan memasrahkan kesetiaan mutlak kepadanya jika ia bisa memberikan makna bagi kehidupan mereka. Sebab, mereka dipastikan akan setia mutlak kepada siapa saja yang bisa memberi makna dan harapan, sebagaimana kesetiaan Karna kepada Duryudana, raja Hastina, yang mengangkatnya sebagai raja Angga. Ya, kesetiaan mutlak Karna, anak kusir tanpa derajat dan tanpa pangkat yang tak punya harapan, yang baru beroleh makna hidup dan kehormatan setelah Duryudana mengangkatnya menjadi raja.

Salah satu langkah nyata Tranggana untuk membangun kekuatan yang mengukuhnak kuasa dan wibawanya adalah ia tidak segan mengawinkan sauradi-saudari, kemenakan, dan putera-puterinya dengan putera-puteri adipati-adipati, guru-guru suci, kepala-kepala marga, pemuka-pemuka penduduk berpengaruh. Setelah menikahkan adiknya yang bernama Nyi Mas Ratu Winong dengan Pangeran Arya Terung, Tranggana menikahkan lagi dua orang adiknya yang lain, Nyi Mas Ratu Pembayun dan Nyi Mas Ratu Nyawa, dengan dua orang putera Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati dari istri Syarifah Bahgdad, yaitu Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana. Syarif Hidayatullah yang merupakan anggota Majelis Wali Songo, sekaligus menantu yang mewakili Ratu Caruban Sri Mangana, menyatakan dukungan kepadanya. Itu berarti,Tranggana memiliki tiga kekuatan pendukung, yaitu Kerajaan Caruban Larang, Kerajaan Pasir, dan Kadipaten Sengguruh. Ia juga nikahkan seorang puterinya yang baru berusia sepuluh tahun, Nyi Mas Ratu Aria Japara, dengan seorang nakhoda asal negeri Cina bernama Thio Bin Tang. Dengan mengambil menantu seorang nakhoda Cina berpengaruh maka penduduk Cina pelarian di Nusa Jawa akan menjadi pendukungnya. Ia yakin, lewat menantunya itu, para pemukim Cina yang terhempas badai bakal menjadi abdi-abdinya yang setia.

Selain melalui pernikahan, Tranggana menempuh langkah lain untuk memperkuat pengaruh, yaitu mengangkat sejumlah guru tarekat yang memiliki banyak pengikut sebagai penasihat-penasihat utama di kesultanan. Mereka itu adalah Susuhunan Rajeg, Syaikh Maulana Maghribi, Susuhunan Mantingan, Syaikh Dara Putih, Susuhunan Udung, Syaikh Khwaja Zainal Akbar Badakhsi, Syaikh Najmuddin Bakharsi, dan Syaikh Abdullah Sambar Khan. Mereka dianugerahi tanah perdikan yang luas untuk mengembangkan ajarannya. Murid-murid terbaik para guru tarekat diangkat menjadi nayaka kesultanan yang akan bekerjasama dengan rekan-rekannya mengatur tata kehidupan beragama penduduk Nusa Jawa. Mereka diangkat sebagai kali (qadhi), ketib (khatib), penghulu, merbot, dan imamuddin yang merupakan pejabat keagamaan di tingkat pusat sampai desa. Lalu, dengan alasan demi tersebarluasnya dakwah Islam dan tertatanya Kehidupan beragama di Nusa Jawa, ia mengirim nayaka-nayaka keagamaannya ke kadipaten-kadipaten di luar Demak untuk menjalankan tugas membantu para adipati menata Kehidupan beragama di wilayah kekuasaan masing-masing. Melalui nayaka-nayaka keagamaannya itu ia dapat memantau dan mengawasi semua gerak-gerik para adipati di pesisir.

Sementara, untuk memperoleh dukungan lebih kuat dari orang-orang terbawa badai, Tranggana menganugerahkan tanah-tanah perdikan kepada alim ulama di antara mereka, terutama para alim yang memiliki banyak pengikut di antara penduduk setempat. Mereka diberi kewenangan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk di Nusa Jawa. Kepada mereka, Tranggana menganugerahi gelar-gelar kebangsawanan seperti Kyayi Ageng, Kyayi Anom, Kyayi, dan Raden. Tranggana berpikir, dengan gelar-gelar kebangsawanan itu mereka akan menjadi abdi-abdi setianya. Sebab, ia telah mengangkat derajat mereka dari kedudukan wong kabur kanginan menjadi bangsawan yang dihormati.

Anugerah tanah perdikan dan gelar kebangsawanan dari Tranggana disambut gembira oleh para alim di antara orang-orang terbawa badai itu. Namun demikian, karena yang tinggal lebih dahulu di Demak adalah alim ulama asal Campa dan Kerala yang sudah memiliki pengaruh cukup kuat di kalangan penduduk bumi putera, maka merekalah yang paling beruntung dengan kebijakan tersebut. Di antara mereka yang beruntung itu adalah alim ulama yang kelak dikenal penduduk dengan nama terhormat: Kyayi Ageng Kali Podang, Kyayi Ageng Kaliputu, Kyayi Ageng Germi, Kyayi Ageng Medini, Kyayi Ageng Panawangan, Kyayi Ageng Hujung Semi, Kyayi Ageng Tajug, Kyayi Telingsing, Kyayi Sun Ging, Kyayi Anom Martani, Raden Ketib Anom Maranggi, dan Raden Pengulu Terkesi.

Ketika dukungan terhadap kedudukan Tranggana sebagai sayidin panatagama semakin kuat, terjadi langkah lanjutan untuk memperkuat kedudukan para pendukung tersebut. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba Tranggana membuat kebijakan aneh: memberi kebebasan kepada para guru tarekat dan para alim yang memiliki pengikut untuk membentuk satuan-satuan bersenjata yang anggotanya berasal dari pengikut-pengikut mereka. Lebih aneh lagi, Tranggana memberikan tugas khusus kepada pasukan Suranata, satuan pengawalnya yang bersenjata tombak, untuk melatih satuan-satuan bersenjata bentukan para guru tarekat dan para alim tersebut. Para petani, perajin, tukang, pedagang kecil, penyadap enau, dan nelayan berbondong-bondong ke kediaman para alim panutannya untuk bergabung ke dalam satuan-satuan bersenjata tombak yang memiliki tugas utama melindungi guru suci dan alim ulama panutan mereka. Dalam waktu singkat, di tlatah Demak bermunculan satuan-satuan bersenjata tombak di pesantren-pesantren, padepokan-padepokan, dan masjid-masjid. Satuan-satuan itu secara khusus dilatih dan dikoordinasi oleh pasukan Suranata, pengawal sultan.

Di tengah gemuruh bangkitnya satuan-satuan bersenjata itu, Tranggana menancapkan bayangan kekuasaannya di pedalaman Nusa Jawa dengan mengangkat Raja Pasir Prabu Banyak Belanak sebagai panglima Demak di pedalaman dengan gelar Senapati Mangkubhumi dan menghadiahinya seorang selir asal Kadipaten Pati. Selir itu adalah puteri almarhum Adipati Pati Kayu Bralit yang bersama saudara lelakinya, Raden Darmakusuma, melarikan diri dan meminta perlindungan ke Demak. Raja Pasir ditugaskan menjalankan dakwah Islam di pedalaman, sekaligus menggalang kekuatan dengan adipati-adipati di pedalaman yang belum tergabung dalam persekutuan adipati pesisir. Lalu, sebagaimana di Demak, di Pasir pun dibentuk satuan-satuan bersenjata tombak yang dipimpin alim ulama yang dikirim dari Demak.

Sementara, untuk memperkuat kedudukan di luar pesisir utara Jawa, Tranggana berusaha menancapkan kuasa dan wibawanya di ujung timur Madura di Kadipaten Sumenep. Menurut kabar, dengan alasan yang tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat, Pangeran Kanduruwan, adik tiri Tranggana, tiba-tiba mengaku menjalankan titah Ratu Stri Maskumambang, Yang Dipertuan Japan yang sudah tua, untuk menggempur Kadipaten Sumenep dengan didukung pasukan dari Wirasabha dan Japan. Pangeran Kanduruwan datang ke Sumenep untuk menghukum adipati Sumenep yang telah dianggap menolak keinginan nafsu syahwat Ratu Japan yang sudah tua itu.

Saat itu yang menjadi adipati Sumenep adalah Aria Wanabaya, putera Patih Sumenep, Aria Banyak Modang. Aria Wanabaya yang anak patih itu dapat menjadi adipati karena menikahi puteri Adipati Sumenep Aria Wigananda. Karena Aria Wigananda tidak memiliki putera maka saat ia meninggal kedudukannya digantikan sang menantu, Aria Wanabaya. Lalu, untuk memperkuat kekuasaannya, Aria Wanabaya mengangkat saudara kandungnya menjadi patih Sumenep dengan gelar: Tumenggung Tan Kondur. Kemudian untuk mensahkan kekuasaannya, Aria Wanabaya meminta perkenan Ratu Stri Maskumambang di Japan yang dianggap penerus Majapahit. Namun, tindakan Aria Wanabaya itu malah memunculkan masalah dengan Pangeran Kanduruwan, yang merasa lebih berhak atas Kadipaten Sumenep dibanding Aria Wanabaya, karena kakek buyutnya dari pihak ibu adalah raja Sumenep, Kuda Panolih. Adik tiri Tranggana itu menganggap Aria Wanabaya tidak lebih berhak menjadi adipati Sumenep dibanding dirinya yang keturunan Kuda Panolih.

Menurut gari nasab, Raden Ali Fida’ yang termasyhur disebut Susuhunan Padusan, putera Raden Ali Murtadho Raja Pandhita Gresik, kakek Pangeran Kanduruwan dari pihak ibu, adalah menantu Kuda Panolih. Raden Ali Fida’ menikahi puteri tertua Kuda Panolih, kakak kandung Aria Wigananda. Dari pernikahan itu lahir Nyi Malaka, ibunda Pangeran Kanduruwan, yang setelah dinikahi Raden Patah Adipati Bintara tinggal di Randu Sanga. Nyi Malaka adalah kemenakan Aria Wiraganda. Dengan demikian, ketika Aria Wiraganda meninggal tanpa meninggalkan keturunan laki-laki maka Pangeran Kanduruwan merasa lebih berhak atas takhta Sumenep dari pada anak patih. Namun, untuk mempersingkat jalan menuju Kadipaten Sumenep, Pangeran Kanduruwan menggunakan nama besar Ratu Japan yang masih dipatuhi di pedalaman Jawa dan Madura. Demikianlah, Pangeran Kanduruwan menggempur Aria Wanabaya. Adipati Sumenep itu terbunuh di purinya (kelak dikenal penduduk dengan nama Pangeran Sedeng Puri). Segera setelah Pangeran Kanduruwan menjadi adipati di Sumenep, ia menyatakan dukungan kepada kekuasaan Sultan Demak.

Setelah menangkap sasmita bahwa kilasan penglihatan batinnya atas citra Sang Maut yang memanjangkan bayang-bayang-Nya di langit Demak bakal mewujud dalam kenyataan, Abdul Jalil buru-buru menyingkir dari bumi sengketa yang sudah mulai basah oleh siraman minyak yang ditumpahkan Tranggana. Ia ingin menjauh dari tempat yang akan terbakar oleh amukan api ambisi sultan baru itu. Ia tidak ingin menyaksikan citra bayangan Sang Maut menebar Kebinasaan di depan matanya, tanpa sedikit pun ia boleh melakukan sesuatu. Ia tidak ingin menyaksikan manusia-manusia tak bersalah melolong-lolong ketakutan, berlari kebingungan menghindari kejaran makhluk-makhluk ganas berdarah dingin yang membiaskan bayangan wajah Sang Maut. Ia tidak ingian menyaksikan beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu bangsa jin sambil tertawa-tawa menyantap manusia-manusia tak berdaya. Ia tidak ingin menyaksikan tangan-tangan yang menggapai-gapai ke arahnya meminta tolong tanpa sedikit pun ia mampu memberikan pertolongan. Namun, semua keinginannya untuk menghindar dari apa yang sudah dikemukakan Ahmad at-Tawallud itu ternyata hancur. Saat itu tanpa sengaja ia menyasikan kilasan penglihatan batin yang lain lagi.

Wajah Sang Maut terpampang mengerikan di balik awarn kelabu yang bergumpal-gumpal dengan seringai wajah mengerikan. Citra wajah Sang Maut tampak menaungi bayangan kelam-Nya yang berkeliaran dalam wujud makhluk-makhluk bertubuh api yang melayang-layang dan turun ke permukaan bumi merasuki jiwa manusia. Lalu, mausia-manusia yang jiwanya sudah kerasukan makhluk-makhluk bertubuh api itu tiba-tiba menjadi garang. Mereka menyemburkan bara api dari mulutnya. Seiring gerakan manusia-manusia kerasukan itu, terlihatlah gumpalan asap hitam menyelimuti permukaan bumi yang dikobari nyala api yang membakar hangus jiwa manusia-manusia tak berdaya.

Usai menyaksikan kilasan penglihatan batin yang mencengangkan itu, Abdul Jalil memutuskan untuk menunda kepergiannya meninggalkan kuta Demak. Namun, belum lagi ia beranjak jauh, ia sudah didatangi orang-orang suruhan Gagak Cemani, yang menyampaikan pesan bahwa saat itu terjadi peristiwa-peristiwa janggal di Kadipaten Demak.

Di Kadipaten Demak, dalam beberapa hari belakangan muncul kasak-kusuk yang membicarakan kebiasaan-kebiasaan penduduk sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang yang dianggap tidak lazim, yaitu memperbincangkan masalah agama. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja berkembang anggapan bahwa kebiasaan itu merupakan sesuatu yang sangat tidak pantas. Melanggar tabu. Melanggar hukum. Padahal, sejak masa Sultan Abdurrahman Suryan Alam, kebiasaan penduduk membincang masalah agama tidak diganggu-gugat, malah dianjurkan demi cepatnya perkembangan agama Islam, sehingga bukan hal aneh ketika orang melihat penduduk membincang masalah agama di surau, tajug, bale banjar, bahkan di dangau di tengah sawah. Di antara penduduk yang paling giat membincang masalah agama adalah mereka yang tinggal di desa-desa yang terpengaruh ajaran Syaikh Lemah Abang.

Namun, kebiasaan yang sudah menguat itu tiba-tiba dianggap sebagai sesutau yang melanggar tabu dan hukum. Belakangan, sultan yang baru, Tranggana mengubah kebijakan ayahandanya itu. Tranggana kelihatannya sangat dipengaruhi alim ulama Mappila asal Kerala yang menekankan taklid buta kepada pengikutnya sehingga menganggap kebiasaan warga yang biasa membincang masalah-masalah agama sebagai sesuatu yang berbahaya. Tampaknya, para alim Mappila yang didewakan pengikutnya sebagai wali Allah itu merasa terancam dengan daya kritis warga. Selain itu, Tranggana sendiri kelihatannya tidak suka dengan sikap kesederajatan yang ditunjukkan oleh warga pengikut Syaikh Lemah Abang di Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang. Sejak terpuruk menjadi sultan yang hanya mengurusi masalah agama, ia mendapat banyak laporan tentang perilaku penduduk di sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang yang tidak sekadar membincang agama, tetapi juga masalah pemilihan sultan dan adipati-adipati. Seluruh penduduk yang tinggal di sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang, menurut laporan, mendukung kepemimpinan Adipati Hunus yang naik takhta karena dipilih. Semua laporan itu makin mengkhawatirkan Tranggana sebab dapat menjadi anasir penentang kekuasaannya kelak. Rupanya, pengaruh ajaran Syaikh Lemah Abang telah meracuni penduduk, termasuk saudaraku, kata Tranggana dalam hati.

Kemarahan Tranggana makin memuncak ketika alim ulama Mappila yang sejak tingga di negeri asalnya suka menjilat kepada penguasa, memanas-manasinya dengan perilaku penduduk yang sudah teracuni oleh ajaran Syaikh Lemah Abang. Mereka yang merasa terancam oleh daya kritis penduduk Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang itu, dengan alasan demi kepentingan kekuasaan dan dukungan dari alim ulama, memohon agar Tranggana membuat keputusan untuk melarang ajaran Syaikh Lemah Abang. Namun, Tranggana yang memahami masalah pemerintahan tidak mengabulkan permohonan alim ulama Mappila tersebut, dengan alasan waktu yang belum tepat dan jaringan persaudaraan para pengikut Syaikh Lemah Abang yang sangat luas dan kuat. Tranggana berjanji jika telah sampai waktu yang tepat, pastilah Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang akan ditundukkan baik dengan siasat pendekatan kekeluargaan maupun dengan kekerasan.

Ternyata, bukan hanya Tranggana yang dipengaruhi alim ulama Mappila. Adipati Hunus pun dipengaruhi pula oleh mereka yang diam-diam sudah menanamkan pengaruh kuat di kalangan penduduk pesisir lewat tradisi-tradisi yang sarat kurafat dan takhayul. Mereka berusaha membakar semangat jihad Adipati Hunus dengan dalil-dalil agama dan dongeng-dongeng takhayul Kerala, dengan tujuan agar sang pemegang kekuasaan atas angkatan perang Jawa itu mengambil tindakan tegas menggempur bangsa “kafir” Portugis. Adipati Hunus sendiri yang sebenarnya sudah mempersiapkan sebuah serangan ke Malaka, karena saudagar-saudagar Japara yang berniaga di bandar tersebut barang empat tahun lalu telah dihina oleh Sultan Malaka, seperti api disiram minyak saja menyikapi hasutan alim ulama Mappila itu. Tanpa berpikir panjang, ia berjanji secepatnya akan menggempur Portugis di Malaka dan kalau berhasil akan dilanjutkan menggempur Cochiza dan Kozhikode.

Sesungguhnya, tak berbeda dengan Tranggana, Adipati Hunus diam-diam memperkuat kedudukannya sebagai raja Jawa untuk mengimbangi langkah-langkah Tranggana dalam memperkuat kekuasaan. Beberapa saat ketika ia mendengar Tranggana menikahkan saudari-saudari iparnya dengan putera-putera Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati, buru-buru ia meminang puteri Syarif Hidayatullah yang lain dari pernikahan dengan Nyi Tepasari, ia berpikir, selain menjadi menantu seorang guru suci yang masyhur di Caruban, ia juga menjadi cucu menantu Menak Lampor Adipati Tepasana, sehingga kekuatan adipati-adipati di wilayah Blambangan yang umumya masih kafir akan berpihak kepadanya. Meski Yang Dipertuan Caruban Sri Mangana menyatakan dukungan kepada Tranggana, dengan menikahi puteri Syarif Hidayatullah yang juga menantu Sri Mangana, kedudukan Caruban akan berada di tengah-tengah jika sewaktu-waktu ia terlibat perselisihan bersenjata dengan Tranggana.

Ketika di Kadipaten Pati terjadi kemelut perebutan kekuasaan antara putera mahkota Raden Darmakusuma dan saudaranya Raden Jatikusuma, Adipati Hunus berpihak kepada Raden Jatikusuma yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya. Ia mengangkat Raden Jatikusuma sebagai adipati Pati, dengan nama Kayu Bralit II, mengikuti nama ayahandanya. Ia tidak sekadar mengangkat sahabatnya itu sebagai pejabat adipati, tetapi memperkuatnya pula dengan pasukan dari Japara. Raden Darmakusuma yang tersingkir lari ke Wirasari bersama keluarganya dan meminta perlindungan kepada sultan Demak. Adik perempuan Raden Darmakusuma inilah yang dihadiahkan Tranggana sebagai selir Raja Pasir Prabu Banyak Belanak.

Sementara, melalui Raden Muhammad Yusuf Adipati Siddhayu, yang merupakan kerabatnya dari pihak ayah, Adipati Hunus menyampaikan pinangan kepada puteri Sultan Malaka. Sultan yang saat itu mengungsi di Bentam menerima baik pinangannya. Sultan Malaka sangat berharap Yang Dipertuan Japara dapat mengambil tindakan tegas terhadap Portugis di Malaka. Demikianlah, dengan bergabungnya semua kekuatan yang bakal mendukungnya – persekutuan adipati ditambah Tepasana, Pati, Malaka, dan Lawe – Adipati Hunus merasa kebesaran Majapahit di masa lampau akan dapat ditegakkan kembali sehingga ia akan menjadi raja agung yang paling besar di zamannya.

Besarnya kekuasaan yang diterima Adipati Hunus yang masih sangat muda usia itu ternyata telah mendorong sikap gegabah dan cepat bangga dirinya. Dukungan dari kerabat dan sahabat-sahabat membuatnya besar kepala. Hari-hari dari kesibukannya memperkuat armada tempur nyaris tak pernah sepi dari puja dan puji tentang kehebatan pasukannya yang paling perkasa di dunia. Ia bangga dengan kapalnya yang dilengkapi meriam-meriam besar yang diikat di geladak kapal, tanpa peduli dengan laporan-laporan tentang bentuk kapal-kapal Portugis yang selalu unggul dalam pertempuran laut. Hari-hari dilewatinya dengan semangat bertempur yang menyala-nyala. Semangat tempurnya makin menyala dan berkobar-kobar ketika seorang Portugis muslim bernama Khwaja Zainal Abidin, yang sangat ahli dalam membuat dan mengoperasikan meriam, yang bekerja di galangan kapal Demak, diperbantukan Tranggana kepadanya untuk membantu perbaikan mutu pengecoran meriam di Japara. Meski awalnya ia curiga dan khawatir dengan orang kiriman Tranggana itu, pada akhirnya ia malah sangat mempercayainya. Bahkan, Khwaja Zainal Abidin yang memiliki nama asli Francisco Barbosa diangkat sebagai penasihat utamanya. Atas nasihat Khwaja, ia memerintahkan kapal-kapal perang Japara yang akan menggempur Malaka dilapisi bahan besi.

Di tengah kesibukan Pangeran Hunus mempersiapkan kekuatan untuk menggempur Malaka dan maraknya kasak-kusuk yang memasalahkan kebiasaan penduduk membincang agama, Tranggana tanpa alasan jelas mendadak memerintahkan para nayaka keagamaannya untuk menertibkan penduduk di kuta Demak yang mengajar agama maupun yang memperbincangkan masalah-masalah agama tanpa wewenang. Lalu, penangkapan-penangkapan pun dilakukan terhadap penduduk yang dianggap bersalah karena mengajarkan agama tanpa izin dari nayaka keagamaan yang ditunjuk sultan. Penangkapan juga dilakukan terhadap penduduk yang kedapatan memperbincangkan masalah agama tanpa melibatkan alim ulama yang ditunjuk sultan. Mereka yang ditangkap itu ada yang dikurung, dicambuk, diusir dari kampung, bahkan beberapa orang di antaranya tak pernah kembali ke desanya.

Ketika armada gabungan Japara, Demak, Pati, Tuban, Samarang, Siddhayu, Rembang, Tetegal, Kendal, dan Tedunan bergerak dan beriringan dari pelabuhan Japara ke barat dengan tujuan utama Malaka, di tengah hingar-bingar penduduk yang mengelu-elukan kegagahan dan kehebatan para pahlawan yang akan menghancurkan kaum kafir, Abdul Jalil yang terpusar aliran manusia di sepanjang pantai tiba-tiba menyaksikan lagi citra bayangan wajah Sang Maut menaungi langit Demak. Ia menangkap sasmita, bayangan wajah Sang Maut yang mengintai di balik gumpalan awan itu tidak lama lagi akan turun ke permukaan bumi, laksana kilatan halilintar yang menyambar-nyambar dalam wujud badai Kematian yang mengerikan.

Penglihatan batin yang berulang-ulang ditangkap Abdul Jalil, ternyata mewujud dalam kenyataan dua tiga hari setelah keberangkatan armada gabungan tersebut. Ketika semua ksatria, pahlawan, pendekar, dan prajurit yang berada di atas kapal-kapal itu sedang dibakar semangat tempur untuk menghalau orang-orang Peranggi (Portugis) dari Malaka, di tengah warga yang masih membincang keperkasaan kapal-kapal raksasa yang dilapisi besi dan dilengkapi meriam-meriam besar, di saat semua orang memuji keagungan dan kebesaran Adipati Hunus Sinuhun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang, penduduk kuta Demak justru melihat iring-iringan barisan orang berjubah putih mengibarkan panji-panji putih dan bersenjata tombak bergerak keluar dari kuta Demak. Lalu, seperti kawanan hewan buas haus darah yang kelaparan, iring-iringan demi iring-iringan barisan putih itu menyebar dan berkeliaran menuju desa-desa di tlatah Demak, terutama desa-desa yang terletak tidak jauh dari Randu Sanga, kediaman Pangeran Panggung.

Ketika sampai di ujung desa-desa yang dituju, alim ulama yang memimpin iring-iringan pasukan bertombak itu menghentikan langkah tepat di jalan utama desa. Kemudian, dengan suara lantang mereka berteriak keras menyitir ayat-ayat al-Qur’an, “Sesungguhnya, agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Islam (QS. Ali Imran: 19). Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima daripadanya (QS. Ali Imran: 85). Sebab itu, orang-orang yang mengaku beragama Islam tetapi masih mencari-cari tafsiran lain sehingga menjadikan Islam bukan Islam, akan sia-sialah usahanya itu. Orang muslim semacam itu sesungguhnya telah murtad karena membuat agama baru. Dan, tidak ada hukuman paling tepat dari orang-orang yang murtad kecuali Kematian.”

Seiring berakhirnya suara sang alim, terdengar suara gemuruh orang-orang meneriakkan takbir, mengagungkan kebesaran Allah, sambil mengacung-acungkan tombak. Disertai pekikan perang sahut-menyahut, iring-iringan barisan seba putih itu bergerak cepat dahulu-mendahului memasuki desa. Suara derap langkah dan pekikan yang membelah ketenangan mengejutkan penduduk. Semua mata diarahkan pada suara gemuruh. Semua mata pun membelalak ketika menyaksikan peristiwa tak tersangka-sangka yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan: tombak-tombak menghambur, mata-mata terbelalak, pedang-pedang berkelebat, mulut-mulut terngaga, tangan-tangan menggapai ke atas, leher-leher tersembelih, darah semburat ke mana-mana, dada-dada berlubang, kepala-kepala bergelindingan, serta tubuh-tubuh bertumbangan di atas bumi di tengah jerit Kematian dan lolongan ketakutan. Para alim dengan satuan-satuan bersenjata tombak, abdi setia Sultan Tranggana, sedang menjalankan tugas suci melakukan penertiban terhadap penduduk yang telah menyelewengkan agama, menghina alim ulama, membangun agama baru, murtad dari agama. Demikian kabar yang tersebar dari mulut ke mulut yang seketika menyulut rasa takut setiap orang.

Rupanya, setelah merasa waktu yang ditunggunya tiba, Tranggana, dengan tindakan yang sangat tidak terduga, menjulurkan tangan kekuasaannya untuk memperkukuh kuasa dan wibawanya sebagai sayidin panatagama. Para pemuka agama yang mengajar agama tanpa izin dan penduduk yang suka membincang masalah agama tanpa melibatkan alim ulama didatangi oleh satuan-satuan bersenjata tombak yang dipimpin alim ulama utusan sultan. Mula-mula para alim itu berusaha menggiring mereka untuk mengiblatkan kesetiaan hanya kepada sultan Demak. Para pemuka agama yang menerima akan diberikan izin mengajar dan diangkat menjadi abdi setia sultan dan beroleh hadiah-hadiah. Sementara, mereka yang menolak atau mereka yang dinilai masih menduakan kesetiaan kepada selain sultan dikenai tuduhan-tuduhan berat, seperti mengajarkan agama tanpa izin, menyelewengkan agama, mengikuti paham sesat, memberikan pelajaran agama yang berbahaya kepada umat, berseberangan dengan paham dan madzhab resmi yang dianut sultan, bahkan murtad. Para pemuka agama yang tidak menduga bakal diserang oleh orang-orang bersenjata itu tidak memiliki pilihan lain kecuali pasrah dan menerima kematian. Bagi yang sempat menyelamatkan diri, mereka menyelinap pergi meninggalkan rumah dan keluarga.

Di tengah tiupan badai Kebinasaan yang diembuskan Tranggana yang menyambar-nyambar ganas itu, Abdul Jalil berdiri tegak bagai tugu batu dengan rasa malu menguasai seluruh jiwanya. Ia benar-benar malu menyaksikan kekejaman dan kebrutalan kaki tangan Tranggana yang mengatasnamakan agama untuk melampiaskan desakan nafsu rendah kekuasaan duniawi. Ia malu dengan orang-orang yang menyandang gelar alim ulama dan bahkan guru suci, tetapi tugas utamanya merangkak di depan penguasa duniawi dan menjalankan semua tugas yang dititahkan sang penguasa kepada mereka. Ia sungguh merasakan bagaimana rasa malu itu menjalar di jiwanya dan perlahan-lahan naik dari telapak kaki menerobos ke ubun-ubun. Ia malu sungguh malu ketika menyaksikan tubuh-tubuh manusia tak bernyawa bertumbangan ke atas tanah di tengah tawa kegirangan orang-orang yang mengaku prajurit-prajurit Allah (jundullah), pengawal agama. Saat itu ia benar-benar ingin memalingkan muka dan menjauhi pemandangan terkutuk itu. Namun, ia segera sadar bahwa apa yang disaksikannya itu adalah bagian dari perjalanan dirinya menjadi “yang sendiri”, sehingga ia tidak dapat berbuat sesuatu kecuali membiarkannya begitu saja sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki-Nya. Bahkan ia hanya memejamkan mata dan menahan napas ketika mendapat kabar bahwa Pangeran Panggung, saudara sultan yang juga muridnya, dinyatakan buron dan desa Randu Sanga diratakan dengan tanah, seluruh penghuninya diusir keluar dari wilayah Kadipaten Demak.

Abdul Jalil sadar, derajat ruhani “yang sendiri” yang sudah diperolehnya dengan perlambang nawalah dari Misykat al-Marhum, pada hakikatnya bukanlah suatu kedudukan yang utuh dan sempurna sebagai penanda kedudukannya. Citra al-fard yang disandangnya bukan sesuatu yang “sudah jadi” sebagaimana pangkat dan jabatan yang diperoleh seorang punggawa dari rajanyae ia bukan buah yang sudah matang dan tinggal dipetik di pohonnya. Ia bukan pula seperti pengantin yang menggambarkan persatuan dua orang mempelai di pelaminan. Ia bahkan bukan suatu kedudukan (maqam), keadaan (hal), tingkatan (makanah), atau derajat (martabat) yang bisa disebut “sudah mapan” secara utuh dan sempurna. Sebaliknya, kedudukan ruhani “yang sendiri” yang disandangnya hendaknya dipahami sebagai suatu proses “untuk menjadi”. Itu berarti, ia yang sudah ditempatkan pada kedudukan ruhani “yang sendiri” dengan pertanda nawalah bukanlah seseorang yang sudah menjadi “yang sendiri” dalam makna utuh, melainkan ia adalah seseorang yang sedang berada pada kedudukan “akan menjadi” atau “untuk menjadi” atau “bakal menjadi” seseorang yang menduduki derajat ruhani “yang sendiri”.

Abdul Jalil sadar, menjadi “yang sendiri” tidak berarti harus hidup mengucilkan diri meninggalkan Kehidupan duniawi dengan menjadi pertapa yang mengasingkan diri di gua-gua atau hutan-hutan. Sebaliknya, menjadi “yang sendiri” harus dimaknai sebagai proses pelepasan dari segala sesuatu yang melekat, terikat, terhubung, terjalin, atau memiliki kaitan dengan keberadaan “aku” yang sedang mengalami proses menjadi “yang sendiri”. Lantaran itu, ia merasa dituntut oleh suatu keharusan untuk menyiapkan diri menjadi “aku” yang “tunggal”, “aku” yang “terkucil”, “aku” yang tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan segala citra kemanusiaan. Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa keakuannya sedang mengalami “proses menjadi” sesuatu yang benar-benar tunggal, sebatang kara, mufrad, tiada duanya, esa yang unik; sebuah ketunggalan yang mencerminkan citra Keberadaan Yang Tunggal Tak Terbandingkan (al-Fard).

Sadar bahwa sebagai seseorang yang sedang mengalami proses menjadi “yang sendiri” akan melampaui proses pelepasan-pelepasan segala citra diri yang masih menempel pada dirinya, Abdul Jalil pun dalam menjalani proses tersebut membiarkan semuanya terjadi sesuai kehendak-Nya. Ia membiarkan keakuannya ditinggalkan, dilepaskan, dijauhkan, dibersihkan, dan disucikan dari segala sesuatu yang bersifat “tempelan” sementara, seperti nama besar, kedudukan dan derajat ruhani, karya, jasa, amaliah, dan segala sesuatu yang menyangkut citra diri kemanusiaan kecuali Yang Tunggal Tak Terbandingkan. Ia sadar, rentang waktu yang harus ia lampaui untuk menjadi “yang sendiri” adalah rentang waktu yang sangat panjang dan tidak diketahui kapan berak hirnya. Ia sadar, selama itu pula ia akan merasakan waktu berjalan sangat lambat dengan kehilangan demi kehilangan citra dirinya, sampai semua yang “menempel” pada keakuannya habis tak tersisa.