Buah Dalima dan Makna-Makna

Sesungguhnya, Abdul Jalil ingin menyampaikan wejangan lebih banyak kepada pengikut-pengikutnya. Namun sebelum keinginannya tercapai, di tengah ketakziman para pengikutnya mendengar wejangannya, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di kejauhan seperti sorak-sorai sambung-menyambung. Abdul Jalil mengarahkan pandangan ke pintu dan melihat beberapa orang pengikutnya berjalan cepat ke arahnya. Setelah dekat, pengikut itu menyampaikan kepadanya bahwa seorang alim dari Demak bernama Syaikh Maulana Maghribi dengan tiga ratus orang pasukan bersenjata tombak saat itu berada di luar dukuh Lemah Abang. “Mereka ingin bertemu dengan kepala dukuh Lemah Abang, Kangjeng Syaikh,” kata mereka gelisah.

Abdul Jalil terdiam sejenak dan kemudian angkat tangan kanan ke atas memberi isyarat agar semua diam. Setelah menarik napas dua tiga kali, ia melangkah ke luar diikuti pengikut-pengikutnya. Sepanjang perjalanan, ia menggumamkan nama Syaikh Maulana Maghribi berulang-ulang di tengah ucapan menyebut Asma Allah. Saat berada di ujung dukuh, ia melihat seorang lelaki tinggi jangkung berkulit gelap dengan hidung sebengkok paruh burung elang berdiri tegak sambil menggenggam pedang. Di kanan kirinya terlihat beberapa orang pengawal membawa tombak memperlihatkan wajah garang. Sementara beratus orang di belakangnya berkerumun dengan hutan tombak sambil sesekali meneriakkan takbir dan caci maki:

“BUNUH! HANCURKAN! BAKAR! ALLAHU AKBAR! BUNUH KAUM MURTAD!”

Teriakan sambung-menyambung laksana gelombang laut itu tidak sedikit pun menggoyahkan Abdul Jalil. Dengan langkah lebar dan tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, ia bergegas mendekati Syaikh Maulana Maghribi. Setelah menyampaikan salam dan berhadapan muka dengan muka dalam jarak sekitar dua depa, ia seketika menghamburkan kata-kata dalam bahasa Arab secara bertubi-tubi seolah tidak memberi kesempatan kepada Syaikh Maulana Maghribi untuk menangkis.

“Aku sungguh merasa heran melihat alim, citra al-‘Alim di muka bumi, ke mana-mana membawa pedang dan membunuhi manusia yang dianggapnya sesat dan murtad. Sungguh aku merasa heran melihat seorang mursyid, citra ar-Rasyid di muka bumi, berkeliaran ke mana-mana menebarkan Kematian dan kebinasaan. Aku sungguh merasa heran sebab, seingatku, Rasulullah Saw. hanya berwasiat: “Sampaikan apa yang dari aku meski hanya satu ayat (balighu ‘ani walau ayat).”

“Bagaimana Tuan, al-‘alim billah, bisa menafsirkan sabda Rasulullah Saw. itu menjadi amanat pembunuhan? Bagaimana Tuan, al-‘arif billah, yang menduduki derajat paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya (QS. Al-Fathir: 28) justru takut kepada sultan? Bagaimana Tuan yang kedudukannya ditinggikan beberapa derajat di antara manusia (QS. Al-Mujadalah: 11) justru merendahkan diri dengan bersujud menyembah sultan? Bagaimana Tuan yang termasuk golongan alim yang tegak di atas keadilan Mengesakan Allah (QS. Ali Imran: 18) justru merajakan manusia? Sementara, Tuan tahu bahwa Dia adalah raja manusia (QS. An-Nas: 2). Rupanya, Tauhid Mulukiyyah sudah runtuh dari iman Tuan. Bagaimana Tuan selaku alim tidak menghiasi citra Tuan dengan qalam, tetapi dengan pedang? Bagaimana Tuan yang seharusnya menumpahkan tinta di atas kertas justru menumpahkan darah di atas bumi? Apakah Tuan ini seorang alim ataukah tukang jagal? Apakah Tuan ini seorang alim wakil al-‘Alim yang bertugas utama menyampaikan pengetahuan ataukah seorang pencabut nyawa yang menggantikan tugas Izrail?”

“Aku tahu bahwa tugas yang diberikan sultan kepada Tuan dan kawan-kawan Tuan adalah menjadikan manusia di Nusa Jawa tunduk dan setia hanya kepadanya. Mereka yang mengingkari kekuasaan sultan harus dibinasakan. Tetapi, Tuan telah bertindak berlebihan dan melampaui batas. Tuan telah memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang Tuan anggap pengikut Syi’ah. Tuan telah memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang menurut Tuan berbeda akidah. Tidakkah Tuan tahu bahwa Kebenaran di dalam Islam adalah pribadi sifatnya? Tidakkah Tuan tahu bahwa ketakwaan orang seorang tidak bisa diukur dengan paham, firqah, madzhab, jama’ah? Tidakkah Tuan tahu bahwa pertanggung jawaban manusia di hadapan Allah adalah bersifat pribadi dan bukan jama’ah? Apakah Tuan dapat menunjukkan dalil-dalil kepada aku bahwa seluruh pengikut Syi’ah akan masuk neraka dan Tuan beserta pengikut Tuan yang membunuhi penganut Syi’ah itu akan masuk surga? Apakah Tuan punya dalil bahwa Allah mencipta surga semata-mata diperuntukkan bagi Tuan dan pengikut Tuan?”

“Apa yang Tuan lakukan dengan pembunuhan-pembunuhan tanpa hak itu, menurutku, sudah sangat melampaui batas kewajaran. Tuan yang dangkal pengetahuan tentang kehidupan di Nusa Jawa telah beranggapan bahwa siapa saja di antara manusia yang menyembah Tuhan dengan menjalankan sembahyang tiga waktu adalah pengikut Syi’ah, dan lantaran itu, Tuan memerintahkan pengikut Tuan untuk membunuh mereka. Sungguh sebuah kebodohan yang tidak terampunkan. Sebab, para wiku beragama Hindu-Budha pun jika bersembahyang menyembah Tuhan mereka lakukan tiga kali sehari (tri-sandya). Kenapa mereka yang bukan muslim tanpa alasan yang jelas Tuan bunuh? Apakah Tuan bisa menunjukkan dalil bahwa Muhammad Saw. pernah memerintahkan umat Islam untuk membunuh umat beragama lain tanpa alasan yang jelas? Asal Tuan tahu, akibat kecerobohan dan kebodohan Tuan, sekarang ini agama Islam yang Tuan anut telah dijadikan ejekan dan olok-olok penduduk. Islam dianggap sebagai agama haus darah yang sama menjijikkannya dengan agama Bhairawa-Tantra. Islam yang damai dan pembawa keselamatan telah dihina penduduk sebagai agama pembawa ketidakselamatan dan kematian. Semua itu gara-gara tindakan Tuan.”

Syaikh Maulana Maghribi yang merasa terpojok tampak memerah wajahnya dan matanya berkilat-kilat. Ingin rasanya ia memakan dan mengunyah-kunyah Abdul Jalil dan kemudian menelannya bulat-bulat. Namun, baru saja dia akan membuka mulut, tiba-tiba Abdul Jalil sudah bergerak mendekatinya. Kemudian dengan memegang kedua bahunya, Abdul Jalil berbisik lirih, “Aku tahu, Tuan tidak pantas melakukan tindakan memalukan ini apalagi dengan mengatasnamakan demi kesucian Islam. Sebab, Tuan sendiri sesungguhnya telah melakukan tindakan yang lebih keji dan lebih memalukan: menghamili seorang gadis tanpa hak dan meninggalkannya begitu saja tanpa tanggung jawab. Aku tahu, Tuan telah menghamili gadis bernama Nyi Mas Rasa Wulan dan membuatnya sangat menderita. Dan asal Tuan tahu, kakak kandung gadis malang itu, seorang laki-laki gagah bernama Raden Sahid, adalah menantuku. Mereka berdua adalah putera-puteri Adipati Tuban. Jika menantuku itu sampai tahu perbuatan terkutuk Tuan, aku kira dia akan memburu Tuan sampai ke ujung dunia. Dia akan membawa pasukan dari Tuban. Dia akan mengejar Tuan sambil menyebarkan aib Tuan itu ke segenap penjuru dunia.”

Wajah Syaikh Maulana Maghribi yang semula merah padam tiba-tiba menjadi pucat pasi. Matanya yang semula berkilat-kilat dikobari nyala api amarah tiba-tiba redup. Dia bungkam tidak bisa berbicara. Keringat dingin sebutiran kacang mendadak bercucuran dari keningnya. Abdul Jalil yang melihat perubahan itu buru-buru tegak kembali dan berkata dengan suara lantang, kali ini dalam bahasa Jawa, “Aku tahu bahwa orang-orang seperti Tuan selalu merasa diri sebagai pusat kebenaran. Batin Tuan selalu berkata: aku yang paling benar. Aku yang paling mulia. Aku yang paling baik. Yang lain sesat, keliru, rendah, jahat. Padahal, sebagai alim wakil al-‘Alim, Tuan seharusnya tahu bahwa makhluk Tuhan yang pertama mengaku-aku paling baik adalah Iblis (QS. Shad: 76). Aku tidak peduli apakah Tuan itu manusia yang benar-benar paling baik ataukah Tuan sebenarnya pengejawantahan dari dia yang dikutuk karena pengakuan sepihaknya. Aku tidak peduli itu. Tetapi, jika Tuan memang merasa benar dan surga itu hak Tuan, maka aku ingin bukti dengan meminta kematian Tuan sebagaimana disyaratkan Allah (QS. al-Baqarah: 94). Maksudku, bagaimana kalau aku dan Tuan mati bersama sekarang juga? Siapkah Tuan bersama aku mati sekarang juga untuk membuktikan kebenaran anggapan Tuan?”

Syaikh Maulana Maghribi yang sudah runtuh keyakinan dirinya akibat duiungkap aibnya tidak berkata sesuatu untuk membela diri. Dia malah memandang Abdul Jalil dengan mata sayu seolah minta dikasihani. Abdul Jalil yang sudah merasa di atas angin menyapukan pandang ke arah para pengikut Syaikh Maulana Maghribi. Kemudia, dengan suara ditekan tinggi ia berteriak menantang, “Adakah di antara kalian yang bersedia mati bersama aku sekarang ini untuk membuktikan apakah kalian masuk surga atau neraka? Ayo siapa yang berani mati sekarang?”

Semua diam. Semua menunduk. Ternyata, tidak ada satu pun di antara orang-orang yang suka membunuh itu siap mati saat itu. Syaikh Maulana Maghribi sendiri hanya menunduk seperti pesakitan. Abdul Jalil yang tidak sampai hati mempermalukan lebih jauh manusia yang sudah tidak berdaya itu akhirnya mengakhiri keadaan yang menegangkan itu. Setelah menarik napas berat beberapa kali, dengan suara agak ditekan ia berkata, “Aku kira, kita tidak perlu lagi memperdebatkan tentang masalah agama. Kita akhiri perbedaan pandangan kita sampai di sini. Hanya satu yang perlu Tuan ketahui bahwa penghuni dukuh Lemah Abang bukanlah pengikut Syi’ah. Mereka adalah para pengamal tarekat yang dibangsakan kepada hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Meski demikian, mereka semua tidak pernah memusuhi manusia dari agama apa pun, apalagi terhadap saudara-saudara seagama yang berkitab suci satu, berkiblat satu, dan bernabi satu.”

Syaikh Maulana Maghribi merasa lega. Dia menjabat tangan Abdul Jalil. Kemudian, dengan erat dia mendekap tubuh Abdul Jalil sambil berbisik lirih, “Bagaimana Tuan bisa tahu masalah saya dengan Nyi Mas Rasa Wulan?”

“Aku tidak bisa menjelaskan kepada Tuan. Tapi, jika di akhirat nanti Tuan dihisab pada bagian itu maka Tuan hendaknya ingat bahwa Allah Mahatahu. Maha Menghisab.”

“Apakah Nyi Mas Rasa Wulan memberitahu Tuan Syaikh?”

Abdul Jalil menggeleng. Kemudian dengan berbisik ia berkata, “Aku telah dikaruniai Allah sedikit pengetahuan untuk membaca kitab rahasia di dalam diri Tuan,” kata Abdul Jalil.

Tuan bisa membaca catatan amaliah saya?”

“Bukan membaca seperti tulisan, tetapi menyaksikan gambaran perbuatan Tuan. Semuanya. Semuanya. Bahkan, saat Tuan mengintip Nyi Mas Rasa Wulan yang sedang mandi pun telah aku saksikan.”

“Jika begitu, Tuan Syaikh adalah salah seorang kekasih-Nya.”

“Itu adalah rahasia-Nya. Tuan jangan menduga-duga.”

“Tuan Syaikh,” kata Syaikh Maulana Maghribi mempererat pelukannya, “Doakan dan berkahilah saya, semoga saya bisa menebus semua kesalahan saya. Saya akan bertobat. Saya akan meninggalkan semua pekerjaan sia-sia ini,” Syaikh Maulana Maghribi membasahi jubah Abdul Jalil dengan air mata. Sesaat setelah itu, dia membalikkan badan dan memberi isyarat kepada para pengikutnya untuk pergi meninggalkan dukuh Lemah Abang. Abdul Jalil memandang para pembunuh itu sambil sesekali menarik napas lega.

Ketika bayangan Syaikh Maulana Maghribi dan pasukannya sudah tidak terlihat, Abdul Jalil dan para pengikutnya kembali ke dukuh. Di jalan yang akan menuju tajug, ia melihat pohon dalima sedang berbuah. Ia memetik sebuah dan memberikannya kepada salah seorang pengikutnya sambil berkata, “Sampaikan dalima ini ke dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar. Katakan bahwa dalima inilah perlambang keterlepasanku yang terakhir dengan dukuh-dukuh dan pengikut-pengikutku. Mereka yang memperoleh petunjuk Ilahi akan paham dengan perlambang ini. Tetapi, mereka yang bebal dan tidak memperoleh petunjuk Ilahi akan menafsirkan lain sesuai nafsunya.”

Kabar kegagalan Syaikh Maulana Maghribi menyerang dukuh Lemah Abang karena kalah berdebat dengan Syaikh Lemah Abang dalam waktu singkat telah terdengar oleh setiap telinga. Cerita-cerita yang dilebih-lebihkan pun merebak tanpa ada yang tahu siapa yang menambah-nambah bumbunya. Semua mata pun di arahkan ke dukuh-dukuh Lemah Abang seolah menunggu tindakan apa yang akan dilakukan oleh alim ulama Demak setelah salah seorang rekan mereka dikalakan Syaikh Lemah Abang, semua menunggu-nunggu apa yang akan terjadi dengan mereka setelah terjadinya peristiwa yang memalukan alim ulama Demak itu. Namun, di tengah ramainya orang membicarakan hal tersebut dengan kemungkinan-kemungkinannya, penduduk dukuh Lemah Abang justru dikejutkan oleh munculnya buah dalima kiriman guru ruhani mereka. Mereka bertanya-tanya tentang makna apa yang sejatinya terkandung di dalam perlambang buah dalima itu.

Karena Abdul Jalil tidak memberikan pesan apa pun di balik pengiriman buah dalima tersebut, terjadi penafsiran-penafsiran makna yang saling berbeda antar para pemuka dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar di berbagai kadipaten. Sebagian di antara mereka memaknai buah dalima itu sebagai isyarat peringatan dari sang guru, yang mengandung makna kata da-lima, dina-lima, dali-ma, duma-lima, yang dikaitkan dengan suatu perubahan dalam tatanan kehidupan beragama mereka. Mereka menafsirkan bahwa guru ruhani mereka, Syaikh Lemah Abang, telah menitahkan perubahan dalam tata cara beribadah. Jika semula mereka bersembahyang tiga kali sehari, yaitu Subuh dan Siang dan Malam, sebagaimana dilakukan para pendeta Syiwa-Budha, kini mereka diharuskan mengubah menjadi sembahyang lima waktu (da-lima). Ibadah sembahyang Jum’at (dina-lima) yang semula dilakukan di dukuh Lemah Abang yang diikuti dukuh yang lain dan dianggap sunnah, tiba-tiba diselenggarakan di tiap-tiap dukuh. Karena dianggap sunnah, usai sembahyang Jum’at mereka masih melakukan sembahyang zhuhur. Setelah itu, mereka bersiaga meninggalkan kediamannya untuk membangun dukuh baru ibarat burung dadali (dali-ma) membuat sarang baru karena sarang lamanya dirampas tangan kejahatan. Mereka membagi diri dalam lima kelompok warga yang saling berhubungan. Kepada semua penghuni dukuh diberi suatu peringatan bahwa mereka harus ikhlas menerima nasib untuk hijrah karena dukuh yang mereka cintai itu bakal binasa diselimuti asap (duma-lima), sehingga mereka harus pergi jauh dari dukuh mereka.

Pemuka dukuh yang lain menafsirkan buah dalima kiriman Abdul Jalil sebagai lambang dari kata da-lima, dama, dama-lima, dana-lima. Mereka menganggap guru mereka menitahkan para penghuni dukuh untuk meninggalkan sembahyang tiga waktu dan selanjutnya menggantinya dengan lima dharma (dharma-lima), yaitu kebajikan (alpadharma), kesalehan (atidharma), kebaikhatian (budidharma), kemurahatian (punyadharma), dan kedermawanan (danadharma). Mereka berpikir: menjalankan lima dharma adalah lebih baik daripada menjalankan sembahyang tiga waktu tapi hidup penuh kejahatan. Dengan menjalankan lima dharma, mereka merasa lebih bermanfaat bagi keselamatan dan keselarasan kehidupan di alam semesta (memayu hayuning bhawana). Bagi mereka, ikatan kasih sayang (dama) adalah perbuatan termulia yang harus dilakukan manusia yang ingin membebaskan diri dari anasir-anasir nafsu keduniawian.

Pemuka dukuh yang lain lagi memaknai buah dalima kiriman guru ruhaninya sebagai perlambang permata mirah dalima yang disatukan di dalam wadah laksana biji-biji dalima di dalam kulit buah. Mereka berusaha mendapatkan permata mirah dalima sebagai tanda pengikut Syaikh Siti Jenar. Mereka akan menolak siapa pun di antara manusia yang mengaku pengikut Syaik Siti Jenar jika tidak bisa menunjukkan permata mirah dalima sebagai tanda kemuridan mereka. Sementara pemuka dukuh yang lain menafsirkan buah dalima sebagai perlambang bahwa mereka harus berperilaku seperti buah dalima; kesat dan padat kulit luarnya tetapi jernih laksana biji permata di dalamnya.

Sekalipun para pemuka dukuh memiliki penafsiran berbeda dalam memaknai buah dalima yang dikirim Abdul Jalil, mereka memiliki arah yang sama dalam bersikap: berjalan di atas garis Tauhid dan akhlak serta rela berkorban demi keselamatan sesama. Mereka memandang tindak kekerasan dalam menentukan Kebenaran adalah sebuah kejahatan yang harus dijauhi. Mereka menilai pembunuhan dengan atas nama agama adalah sama seperti penyembelihan korban di atas mezbah persembahan; sebuah upacara yang jelas-jelas bertentangan dengan jiwa Islam. Sehingga, mereka sepakat untuk mengorbankan jiwa dan raga mereka demi keselamatan sesama dari tindak kekerasan yang dilakukan alim ulama Demak.

Salah seorang di antara pengikut Abdul Jalil yang merelakan nyawanya untuk keselamatan orang lain itu adalah Ki Wanabaya, seorang sesepuh marga Bajul, kepala dukuh Lemah Abang di Pajang. Dengan suka rela dia mengorbankan jiwanya untuk menghentikan tindak kekerasan para alim Demak. Saat para pemuka agama di desa-desa sekitar dukuh Lemah Abang lari ketakutan dikejar-kejar pasukan tombak asal Demak, Ki Wanabaya dengan gagah berani mendatangi Kiai Ageng Kalipitu yang memimpin satuan bersenjata itu. Tanpa basa-basi dengan meniru tindakan gurunya yang menantang mengajak mati Syaikh Maulana Maghribi, dia menantang Kiai Ageng Kalipitu untuk mati bersama guna membuktikan Kebenaran yang dijadikan alasan membunuh orang-orang tak bersalah. Saat Kiai Ageng Kalipitu tidak menanggapi tantangannya, dia meminta agar nyawanya dicabut sebagai ganti pemuka-pemuka agama di desa-desa yang dituduh sesat dan diburu-buru, “Jika nyawaku dapat menghentikan nafsu membunuhmu, bunuhlah aku!” tantang Ki Wanabaya tanpa sedikit pun menunjukkan kegentaran.

Seorang anggota satuan tombak yang tersinggung ulama panutannya dipermalukan, tidak dapat menahan diri. Dengan teriakan keras, ia hujamkan tombak yang digenggamnya ke dada Ki Wanabaya sekuat tenaga. Terdengar suara derak tulang patah ketika mata tombak menembus dada Ki Wanabaya. Lelaki berusia setengah abad itu tersentak ke belakang. Namun, dia tidak tumbang. Dengan memegangi dadanya yang dihiasi batang tombak, dia menatap tajam ke arah Kiai Ageng Kalipitu sambil tersenyum. Setelah itu dengan napas tersengal-sengal dia berkata, “Lihatlah Tuan, apa yang aku alami ini. Sang Maut datang menjemputku dengan senyum kegembiraan. Dia tersenyum gembira. Ya tersenyum gembira. Sebab, Dia tidak aku sambut dengan ketakutan dan kegentaran, melainkan dengan cinta dan kerinduan. Kehadiran Sang Maut adalah pertanda cinta.” Lalu, dengan teriakan keras dia berseru, “Aku pasrahkan hidupku kepada Engkau, o Penguasa Yang Mahahidup,” dan tubuhnya tumbang ke atas tanah tanpa nyawa.

Kiai Ageng Kalipitu terkesima menyaksikan peristiwa tak terduga-duga yang begitu cepat kejadiannya. Ia merasa seolah-olah sedang bermimpi. Setelah termangu beberapa jenak, ia benar-benar terkesan dengan keberanian Ki Wanabaya menyongsong kematian. Hanya mereka yang sudah mengenal Kematian dengan akrab yang begitu mesra menyambut-Nya, gumamnya dalam hati. Sebagai bukti tanda hormatnya kepada laki-laki pemberani dan tabah itu, ia memutuskan untuk memenuhi permintaannya. Hari itu juga, usai memakamkan Ki Wanabaya, ia memerintahkan para pengikutnya untuk kembali ke Demak. Ia tidak pernah lagi memerintahkan pengejaran kepada pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad.

Hampir bersamaan waktu dengan terbunuhnya Ki Wanabaya, Kyayi Tapak Menjangan, kepala dukuh Lemag Abang di Kadipaten Kendal, melakukan hal yang sama tetapi dengan cara Kematian berbeda. Ketika pasukan alim ulama Demak yang dipimpin Syaikh Abdullah Sambar Khan mengobrak-abrik desa sekitar dukuh Lemah Abang untuk memburu pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad, Kyayi Tapak Menjangan yang berusia hampir lima puluh tahun, seorang diri maju menantang Syaikh Abdullah Sambar Khan untuk mati bersama guna membuktikan Kebenaran yang diakui sepihak oleh alim asal Kerala itu. Namun, berbeda dengan kematian Ki Wanabaya yang sangat singkat, Kyayi Tapak Menjangan sempat terlibat perdebatan dengan Syaikh Abdullah Sambar Khan dalam masalah Kebenaran menurut sudut pandang Islam. Dalam perdebatan itu, berkali-kali Kyayi Tapak Menjangan menertawakan Syaikh Abdullah Sambar Khan sebagai penganut tarekat Quburiyyah wa Sulthaniyyah, yaitu tarekat pemuja kuburan dan penyembah sultan.

Syaikh Abdullah Sambar Khan yang terpojok sedianya akan memerintahkan pengikutnya untuk membunuh Kyayi Tapak Menjangan. Namun, kepala dukuh Lemah Abang itu menyatakan bahwa dia akan mati menurut kehendaknya sendiri. “Tuan tidak perlu mengotori tangan Tuan dengan darahku. Akan aku tunjukkan kepada Tuan bahwa manusia yang sudah mengenal jalan Kebenaran dan telah menemukan Kebenaran Sejati akan dikaruniai kehendak untuk mati. Sebab, mereka yang sudah menyatu dengan Kebenaran pada hakekatnya menyatu pula dengan Maut dan Hidup beserta kudrat dan iradat-Nya,” kata Kyayi Tapak Menjangan tegar.

“Dengan cara bagaimana Tuan akan mati?” tanya Syaikh Abdullah Sambar Khan sinis, “Dengan alat bantu apa Tuan akan mati? Apakah itu tidak termasuk bunuh diri?”

“Aku mati dengan kehendakku sendiri tanpa alat bantu apa pun. Bagi mereka yang terhijab, menghendaki Kematian diri sendiri adalah bunuh diri. Sedang bagi yang sudah tercelikkan mata batinnya, menghendaki Kematian adalah bagian dari kehendak-Nya. Sebab, di saat ‘aku’ sudah tenggelam ke dalam ‘Aku’ maka ‘kehendakku’ tenggelam ke dalam ‘kehendak-Ku’. Kehidupan ‘aku’ akan kembali kepada ‘Aku’ Yang Mahahidup, melalui pintu yang disebut Kematian yakni citra bayangan Sang Maut (al-Mumit). Siapa yang menganggap Yang Mahahidup (al-Hayy) dan yang Maha Membinasakan (al-Mumit) adalah dua zat yang berbeda, mereka adalah musyrik.”

“Tunjukkan kepadaku kehebatan Tuan yang bisa menentukan waktu Kematian diri sendiri tanpa alat bantu apa pun. Tunjukkan Kebenaran ucapan Tuan itu kepadaku,” kata Syaikh Abdullah Sambar Khan penasaran.

Kyayi Tapak Menjangan melakukan sembahyang dua rakaat. Setelah itu, dia duduk bersila mengatur pernapasan dengan mata terpejam. Syaikh Abdullah Sambar Khan dan pengikut-pengikutnya mendekat dan mengamati apa yang dilakukan kepala dukuh Lemah Abang itu. Mereka tidak melihat keajaiban apa pun kecuali sosok seorang laki-laki yang duduk bersila mengatur napas. Mereka terus mengamati naik dan turunnya dada Kyayi Tapak Menjangan. Mereka seolah ingin menyaksikan bagaimana nyawa Kyayi Tapak Menjangan lepas dari raganya. Namun, semua harapan mereka tidak kesampaian. Mereka tidak menyaksikan keajaiban apa-apa. Mereka hanya mendapati tubuh Kyayi Tapak Menjangan sudah tidak bernyawa lagi dalam keadaan duduk bersila.

Syaikh Abdullah Sambar Khan terkejut menyaksikan kenyataan yang tak pernah dibayangkannya itu. Ia sangat menyesali kematian Kyayi Tapak Menjangan. Ia yang sejak kecil akrab dengan kisah-kisah absurd tentang wali-wali Allah, tidak syak lagi menganggap Kyayi Tapak Menjangan sebagai salah seorang di antara kekasih-kekasih Allah. Ia semakin yakin bahwa lelaki yang mati dengan kehendaknya sendiri itu adalah kekasih Allah manakala ia menyadari betapa Kematian tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan demi menyelamatkan orang lain. Saat itulah ia ingin menguburkan jenasah Kyayi Tapak Menjangan dengan cara yang baik sebagaimana lazimnya orang-orang Kerala menguburkan alim ulama mereka. Namun, keinginannya itu tidak kesampaian karena warga dukuh Lemah Abang dan keluarga Kyayi Tapak Menjangan menyatakan akan menguburkan sendiri di tempat yang tidak diketahui orang. “Guru kami, Kyayi Tapak Menjangan, telah berwasiat: jika mati ia tidak ingin kuburnya diberi tanda. Ia tidak ingin diziarahi dan dijadikan sesembahan manusia,” ujar seorang warga, seolah menyindir Syaikh Abdullah Sambar Khan yang suka bermujahadah di kuburan-kuburan keramat.

Selain Ki Wanabaya dan Kyayi Tapak Menjangan, pengikut-pengikut Syaikh Lemah Abang yang terbunuh dalam peristiwa kekerasan yang dilakukan alim ulama Demak adalah Ki Bhisana, Ki Canthuka, Ki Pringgabhaya, Ki Ageng Panawangan, Kyayi Ageng Brati Lemah Putih. Kematian mereka tidak saja telah menyelamatkan dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Putih, Lemah Ireng, dan Kajenar karena mereka semua mencegat alim ulama Demak dan pasukannya di luar dukuh, melainkan juga telah membuat berhenti kaki tangan Tranggana itu dalam menebar Kematian.

Tanpa ada yang menduga, ternyata Kematian sejumlah kepala dukuh Lemah Abang itu mengundang simpati luas di kalangan penduduk Nusa Jawa. Bibit-bibit kebencian terhadap alim ulama asing yang telah bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk tumbuh semakin subur dan tak jelas menjalarnya. Jika pada awalnya kebencian itu hanya diarahan kepada para alim beserta pengikut bersenjatanya, belakangan kecaman, caci maki, umpatan, ejekan, dan olok-olok diarahkan kepada agama mereka. Di tengah hiruk kebencian penduduk itu terjadi sesuatu yang tak terduga-duga: para mualaf yang belum memahami secara baik ajaran Islam tiba-tiba banyak yang menyatakan tidak mau lagi mengikuti agama yang dianggapnya mengajarkan kejahatan kepada manusia itu. Mereka menyatakan kembali ke agama semula.

Di kuta Juwana, sejumlah pemuka masyarakat Cina muslim menyatakan kembali ke agama leluhur karena mereka tidak mau menodai tangan mereka dengan darah orang-orang tak bersalah. Tindakan itu diikuti sejumlah besar muslim pribumi yang juga menyatakan kembali ke agama leluhur. Tindakan penduduk Juwana itu mengundang kemarahan alim ulama Demak. Mereka menganggap tindakan itu sebagai kemurtadan yang harus diganjar dengan Kematian. Lalu, terjadilah pengejaran, penangkapan, dan pembunuhan terhadap penduduk Juwana yang dianggap telah murtad dari Islam. Tidak pedulu Cina tidak peduli penduduk asli, siapa di antara penduduk Juwana yang diketahui murtad digeret ke alun-alun untuk dijadikan tontonan dan kemudian dijagal beramai-ramai. Beberapa tajug yang diubah menjadi kelenteng dibakar. Pura-pura dan asrama-asrama pun dibakar. Semua yang dianggap terkait kemurtadan dibakar dan diratakan dengan tanah.

Penduduk yang ketakutan berbondong-bondong menyelamatkan diri ke hutan-hutan di pedalaman. Sebagian meminta perlindungan ke Wirasari dan Pengging, sebagian lagi kepada Yang Dipertuan Majapahit di Daha. Patih Mahodara yang marah mendapat laporan tentang pembantaian penduduk beragama Syiwa-Budha serta penghancuran sejumlah pura dan asrama di Juwana, segera mengirim satu detasemen pasukan. Dengan gerakan sangat cepat, pasukan asal Daha itu menyerang kuta Juwana. Alim ulama Demak dan pasukannya yang tak menduga bakal diserang mendadak, kelabakan dan berusaha menahan serangan tentara kafir Daha itu dengan segenap daya dan kuasa mereka. Namun, apalah arti perlawanan para petani, perajin, tukang, nelayan, penyadap enau, dan pedagang kecil yang dipersenjatai tombak dalam melawan prajurit-prajurit Daha yang terlatih. Dalam waktu tidak lama, kuta Juwana telah penuh mayat. Darah menggenang di mana-mana. Bahkan, seperti tidak puas membunuh alim ulama dan pengikut bersenjatanya, pasukan Daha yang dikirim Patih Mahodara membakar seluruh bangunan yang tegak di kuta Juwana sehingga seluruh kuta nyaris rata dengan tanah.

Seiring menyebarnya kabar serbuan pasukan Daha ke Juwana, di tlatah Pasir terjadi pergolakan. Pangeran Mangkubhumi, putera mahkota Prabu Banyak Belanak Yang Dipertuan Pasir, tiba-tiba mengangkat senjata bersama pengikutnya dengan didukung pendeta-pendeta Syiwa-Buda, seperti Ajar Carang Andul, Wiku Ragadana, Ajar Pohkombang, dan Binatang Karya. Perlawanan putera mahkota Pasir itu sendiri semula tidak diketahui karena serangan-serangan yang dilakukan alim ulama Demak dan pasukannya itu berlangsung di wilayah yang sangat luar dari Wirasabha, Manoreh, sampai Bocor. Namun, saat diketahui bahwa di balik penyerangan-penyerangan itu terdapat perintah Pangeran Mangkubhumi, tuduhan murtad pun buru-buru dialamatkan kepadanya. Namun, pangeran yang sudah muak dengan kekejaman yang dipamerkan-pamerkan alim ulama itu tidak peduli. Ia terus melakukan perlawanan bersenjata, meski harus menghadapi risiko kehilangan takhta yang diwariskan ayahandanya.

Sementara di Samarang, di tengah hiruk kembalinya para mualaf Cina ke agama leluhur, Raden Kaji Adipati Samarang yang sangat terpukul dengan kekalahan armada Japara di Malaka, atas saran guru ruhaninya, Syaikh Malaya, mengundurkan diri dari jabatan adipati Samarang. Ia digantikan oleh adiknya, Raden Ketib. Ia sadar dan paham pada nasihat guru ruhaninya bahwa cepat atau lambat, Tranggana akan semakin kuat dan dipastikan akan menggilas semua kekuatan yang mendukung Adipati Hunus. Itu sebabnya, demi menyelamatkan kadipaten yang dipimpinnya, ia mundur untuk digantikan adiknya. Lalu, putera Raden Sahun itu, cucu Ario Damar Palembang, diam-diam pergi meninggalkan Samarang dan tinggal di pedalaman, di perbatasan Pajang dan Mataram, yaitu di tempat yang disebut Tembayat. Ia menjadi guru suci di situ dan karena itu ia disebut orang sebagai Susuhunan Tembayat.

Hampir bersamaan dengan mundurnya Raden Kaji sebagai Adipati Samarang, di Pengging terjadi pengungsian besar-besaran warga muslim mualaf dari kalangan Sasak, Domba, Kewel, dan Dapur ke Blambangan dan Bali. Penduduk kalangan bawah itu rupanya sangat ketakutan karena tersebar kabar burung yang menyatakan bahwa siapa saja di antara penduduk yang menjalankan sembahyang tiga waktu akan dituduh pengikut Syi’ah dan akan disembelih oleh alim ulama Demak. Meski tidak paham apa yang dimaksud Syi’ah dan apa yang bukan Syi’ah, kisah menyangkut pembantaian pengikut Syi’ah beberapa tahun silam telah membuat mereka ketakutan. Mereka beramai-ramai menyelamatkan diri meninggalkan kediamannya. Mereka dipimpin oleh tiga bersaudara pemuka-pemuka keluarga Bajul, yang menjadi pasukan perairan (angreyok) Pengging, yaitu KiReyok Bhaya, Ki Kawuk Bhaya, dan Ki Lendang Bhaya. Melalui jaringan keluarga Bajul yang menguasai sungai dan pantai, para pengungsi berhasil mencapai tanah Blambangan dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke Bali. Di Blambangan mereka dilindungi oleh Ki Juru, kakek Prabu Andayaningrat yang menjadi pertapa di gunung Argapura. Sedang di Bali mereka meminta perlindungan kepada Danghyang Nirartha, murid Syaikh Siti Jenar yang menjadi guru suci di Bali.

Sementara, mengetahui reaksi kebencian penduduk terhadap alim ulama Demak dan pasukan bertombaknya, Tranggana buru-buru memerintahkan mereka untuk kembali ke Demak. Kebijakannya menarik alim ulamanya ke Demak tampaknya terkait dengan laporan-laporan yang menyatakan sejak tersebarnya kabar keberanian pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang menghadapi kematian, penduduk dari berbagai tempat selalu terlihat datang berduyun-duyun ketika mendengar kabar akan adanya perdebatan antara pemuka Lemah Abang dan alim ulama Demak. Bahkan yang berkembang kemudian terdapat laporan yang mengatakan bahwa prajurit-prajurit dari Kadipaten Samarang, Tetegal, Rembang, Tedunan, Pati, Kendal, dan Siddhayu diam-diam menyelundup ke desa-desa di sekitar dukuh Lemah Abang dengan menyamar sebagai penduduk. Mereka mengawasi semua gerak-gerik alim ulama asal Demak beserta satuan-satuan bersenjatanya. Keadaan itulah yang membuat Tranggana memutuskan alim ulamanya kembali ke Demak. Pada saat itu pula ia semakin yakin jika dukuh-dukuh Lemah Abang adalah bagian dari kekuatan yang mendukung kekuasaan Adipati Hunus. Lantaran itu, di balik titah penarikan mundur para alim dan pasukannya itu, ia diam-diam menyiapkan kemungkinan-kemungkinan untuk menghancurkan dukuh-dukuh penggalang perlawanan seperti Lemah Abang itu jika keadaan sudah memungkinkan.

Dukuh Lemah Abang baginya merupakan ancaman besar. Sebab, pemuka-pemuka dukuh tersebut tidak saja telah mengajarkan kepada penduduk tentang kesederajatan, kesamaan hak, kebebasan berpikir, kebebasan memilih pemimpin, dan gagasan-gagasan yang sangat berbahaya bagi sebuah kekuasaan, melainkan telah memberi contoh pula bagaimana mengorbankan nyawa untuk melawan kekuasaan yang semena-mena.