Keterlepasan Ikatan-Ikatan Citra Diri

Seperti tak peduli dengan hiruk di sekitarnya, Abdul Jalil berenang mengarungi lautan waktu yang luas seolah tanpa batas. Sesekali ia menoleh ke belakang, menyaksikan pulau duniawi yang tampak semakin samar di kejauhan. Ia merasakan betapa semua hal yang telah disaksikan matanya dan didengar telinganya tentang pulau duniawi telah semakin menjauh darinya. Cerita tentang Kematian murid-muridnya terkasih yang terbunuh dengan gagah dan pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad telah semakin kabur. Namun demikian, ia masih merasakan ada sesuatu yang menempel pada dirinya yang membuatnya terasa berat sehingga sering kali ia tenggelam ke dasar samudera waktu. Seperti orang berenang kehabisan udara dan terlalu banyak meminum air, ia merasa megap-megap menggapai-gapaikan tangan dan menjejak-jejakkan kaki sekuat kuasa supaya tidak tenggelam. Saat berada di antara dasar dan permukaan, ia baru menyadari jika pikiran dan jiwanya masih digelayuti oleh jaring-jaring ingatan tentang keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki ikatan-ikatan dengan tubuh dan jiwa. Ya, jaring-jaring ingatan tentang keberadaan diri. Lalu, seperti kapas di dalam karung yang menjadi berat karena terkena air, begitulah ia merasakan jiwanya menjadi berat digelayuti oleh ikatan-ikatan citra diri manusiawi.

Sadar untuk menjadi yang sendiri (fard) ia harus melepas semua ikatan citra diri manusiawi, Abdul Jalil buru-buru melepas surban, jubah, dan terompah yang dikenakannya. Lalu, seperti layaknya orang kebanyakan, ia mengenakan celana hitam, baju hitam, ikat pinggang lebar dari bahan kulit, destar batik kawung warna hitam, dan bertelanjang kaki tanpa terompah. Dengan penampilan barunya itu, ketika ia bersembahyang di Masjid Agung Demak atau berjalan di jalanan dukuh Lemah Abang, ia tidak dikenal lagi oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Kumis dan cambangnya yang melebat hampir menutupi wajah semakin menjadikan dirinya tak dikenal. Ia merasa lebih leluasa karena ia sudah bukan lagi seorang guru ruhani. Ia hanya manusia biasa yang sedang menunggu kesendirian menjadi yang sendiri. Dengan tidak dikenalnya dirinya sebagai seseorang yang pernah termasyhur, ia merasa lebih leluasa dalam mendengar dan melihat segala sesuatu yang menjadi bagian dari citra dirinya yang harus dilepaskannya.

Ketika suatu sore, dengan penampilan yang baru, Abdul Jalil berjalan di bekas ksetra di Kaliwungu di timur kuta Demak, ia melihat seorang laki-laki duduk sendirian di bawah sebatang pohon besar. Ketika didekati, pahamlah a jika laki-laki itu adalah pelaut Potugis yang pernah dikenanya di Kozhikode beberapa tahun silam: Francisco Barbosa. Dilihat dari penampilannya dengan jubah hitam berenda benang emas dan surban hitam dihias bulu merak, jelas menunjuk bahwa pelaut Portugis itu tidak saja telah memeluk agama Islam, tetapi juga menduduki jabatan terhormat di istana. Setelah mengamati beberapa bentar, ia mendekati Francisco Barbosa dan menyapa.

“Assalamualaikum.”

“Wa alaikum salam warahmatullah.”

“Como esta usted?” Abdul Jalil menanya kabar dalam bahasa Spanyol.

“Muy bien, gracias,” seru Barbosa terkejut dan bertanya balik, “Habla usted Espanol?”

“Solo hablo un poco de Espanol,” Abdul Jalil tertawa menyatakan sedikit bicara dalam bahasa Spanyol.

Francisco Barbosa terkejut dan menatap tajam Abdul Jalil. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa jenak diam, tiba-tiba ia tertawa sambil menyalami Abdul Jalil dan berkata penuh kegembiraan dalam bahasa Jawa yang kurang fasih. “Bapa pastilah Datuk Abdul Jalil, padre sacerdote de Jaoa. Saya tidak akan pernah lupa suara Bapa.”

“Apakah nama Tuan masih Francisco Barbosa?”

“Sejak memeluk Islam lima tahun lalu, saya ganti nama: Zainal Abidin. Tapi orang-orang memanggil saya Khwaja Zainal.”

Setelah saling mengabarkan keadaan masing-masing, Abdul Jalil dan Khwaja Zainal berbincang tentang berbagai hal. Dari dialah Abdul Jalil mengetahui jika barang tiga bulan silam Syah Ismail, sang tuhan, penguasa Persia, telah dikalahkan oleh Sultan Turki, Salim, dalam pertempuran di Chaldiran pada 23 Agustus 1514. “Syah Ismail lari terbirit-birit ke Daghestan meninggalkan haremnya yang cantik. Sang mahdi telah kalah oleh si kejam Salim,” kata Zainal Abidin.

“Apakah dalam kemenangannya anak Bayazid itu melumuri tangannya dengan darah?” tanya Abdul Jalil.

“Menurut kabar, si kejam Salim telah menjagal 40.000 orang kaum bid’ah pendukung Syah Ismail.”

Abdul Jalil menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Di benaknya tiba-tiba berkelebat bayangan keganasan Salim, sultan Turki itu tertawa-tawa menyaksikan musuh-musuhnya dijagal prajuritnya. Setelah menarik napas berat beberapa kali, ia berkata, “Bagiku, makhluk seperti Salim dan Ismail bukanlah penganut ajaran Muhammad Saw. yang kaffah. Mereka hanya menjadikan Islam sebagai adat warisan untuk menutupi agama mereka yang sebenarnya, yaitu agama purwakala yang di dalam memuja Tuhan mensyaratkan penyembelihan korban manusia,” kata Abdul Jalil.

“Kenapa Bapa berpandangan seperti itu? Bukankah mereka itu kalau beribadah di masjid?”

“Ya, mereka bersembahyang di masjid hanya sebagai penanda formal bahwa mereka muslim. Sebab tempat ibadah mereka yang sesungguhnya adalah mezbah tidak kasatmata yang disebut madzhab. Di atas madzhab-madzhab yang tak kasatmata itulah mereka menyembelih manusia yang mereka anggap mengotori agama Tuhan. Mereka menganggap tindakan biadab menjagal manusia itu sebagai bagian dari jihad menyucikan agama Allah. Mereka tidak sadar diri siapa sesungguhnya mereka itu. Apa hak mereka menyucikan agama Tuhan? Siapa yang memberi mereka wewenang untuk menjalankan hak itu?” kata Abdul Jalil.

“Saya paham jalan pikiran Bapa. Tapi terus terang, belakangan ini saya justru gelisah dengan tindakan sultan Jawa yang membayangkan diri sebagai Salim.”

“Maksud Tuan, Tranggana?” gumam Abdul Jalil. “Apakah dia memimpikan jadi sultan sebesar Salim?”

Khwaja Zainal mengangguk dengan muka murung.

“Berarti, dia harus menjagal orang-orang yang dia anggap bid’ah sebagaimana Salim menjagal orang-orang penganut Syi’ah,” kata Abdul Jalil.

“Itu yang sedang saya risaukan, Bapa. Dalam pertemuan dengan para alim kaki tangannya, sultan telah merencanakan pembasmian terhadap kelompok penduduk yang disebut kaum Abangan.”

“Kaum Abangan?” gumam Abdul Jalil mengerutkan kening, “Siapa mereka itu?”

“Itu sebutan untuk menandai penduduk yang mengikuti ajaran Syaikh Lemah Abang. Katanya, Syaikh Lemah Abang itu guru agama yang sesat karena mengajarkan manusia menjadi tuhan dan menyuruh pengikut-pengikutnya bunuh diri. Tapi saya tidak yakin dengan tuduhan itu. Menurut saya, itu hanya rekayasa.”

“Kenapa Tuan berpendapat begitu? Kenapa Tuan tidak percaya?”

“Kalau Syaikh Lemah Abang memang menyuruh pengikut-pengikutnya bunuh diri, kenapa sultan repot-repot menbentuk satuan-satuan bersenjata untuk menumpas mereka? Bukankah dengan dibiarkan maka pengikut Syaikh Lemah Abang akan habis sendiri karena bunuh diri semua?”

“Tuan benar. Tapi tidak semua orang berpikiran cerdas seperti Tuan.”

“Saya juga cemas mendengar kabar datangnya pengungsi-pengungsi dari Persia di Udung, Pati, Rembang, Tuban, dan Gresik. Saya khawatir sultan yang ingin seperti Salim itu akan membantai mereka, karena kemarin alim ulama asal Kerala dan Malaka telah memanas-manasi sultan dengan kabar persekutuan Syah Ismail dengan Portugis.”

“Apakah Syah Ismail memang bersekutu dengan Portugis?”

“Ya Bapa. Ismail telah mengirim utusan kepadma gubernur Portugis di India, Alfonso d’Albuquerque untuk meminta bantuan melawan Salim dalam pertempuran di Bahrain dan al-Qathib serta menindas pemberontakan di Baluchistan dan Makran. D’Albuquerque telah menyanggupi untuk membantu Ismail dalam melawan kekuatan militer Salim.”

Abdul Jalil diam. Ia menangkap sasmita bahwa badai Kebinasaan masih akan terus berlangsung dengan ganas, seolah mengaitkan gemuruh ambisi Tranggana dengan keterlepasan-keterlepasan dirinya dari keterikatan-keterikatan yang melekat pada citra dirinya. Kabar tentang kekalahan Syah Ismail, sang tuhan, semakin memperjelas sasmita Kebinasaan yang sudah ditangkapnya. Sebab, seiring menyingsingnya keagungan kekuasaan Syah Ismail, yang ternyata seorang manusia biasa yang bisa kalah perang, secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh kuat terhadap perubahan tatanan yang berlaku di Nusa Jawa. Maksudnya, jika sebelum itu lambang kewalian dalam wujud Majelis Wali Songo sebagai pemimpin tertinggi umat (wilayah al-ummah) harus dimunculkan sebagai lembaga kewalian yang diketahui manusia, sebagai lambang perlawanan terhadap Syah Ismail dan kaki tangannya yang menafikan keberadaan wali Allah, maka dengan tumbangnya kisah kemahdian dan ketuhanan cucu Syaikh Saifuddin Ishaq itu, keberadaan lembaga kewalian seperti Majelis Wali Songo secara hakiki tidak dibutuhkan lagi. Keniscayaan tentang wali Allah akan kembali menjadi sesuatu yang bersifat rahasia dari pengetahuan manusia. Itu berarti, secara ruhaniah kekuasaan Tranggana akan menjadi tidak terkendali karena tidak ada lagi lembaga ruhani berwibawa yang membatasinya. Dan salah satu sasaran yang akan dimangsa ambisi Tranggana adalah pengikut-pengikut yang sudah dikelompokkan sebagai kaum Abangan, pengikut Syaikh Lemah Abang.

Dengan hati gundah Abdul Jalil menjemput istri dan puteranya di kediaman Gagak Cemani. Namun, baru saja ia masuk ke dalam rumah Gagak Cemani, ia sudah diberi tahu oleh pengikutnya itu bahwa beberapa saat yang lalu di pantai Demak dekat muara telah terjadi pembantaian terhadap orang-orang berkulit merah yang tinggal di situ barang dua pekan silam. Entah siapa pelakunya, ungkap Gagak Cemani, menurut kabar yang didengarnya orang-orang tersebut adalah pengungsi dari negeri Persia. “Kabar yang kami dapat dari Masjid Agung Demak, orang-orang kulit merah yang terbunuh itu diduga prajurit-prajurit Persia yang menyamar dan bertujuan menyerang sultan,” kata Gagak Cemani.

Abdul Jalil diam. Ia tahu, apa yang dicemaskan Khwaja Zainal Abidin tentang para pengungsi Syi’ah telah mewujud menjadi kenyataan. Pembunuhan demi pembunuhan terus berlangsung seolah tak diketahui kapan berakhirnya. Bahkan, saat ia akan mengajak istri dan puteranya meninggalkan kuta Demak, ia mendapat kabar yang sangat mengejutkan: Abdul Qahar bin Abdul Malik Baghdady, saudara iparnya yang membantu Raden Qasim mendakwahkan Kebenaran Islam di Pamwatan, telah dibunuh beserta belasan orang pengikutnya. Padahal, saat itu istri Abdul Qahar sedang hamil lima bulan. Sepeninggal suaminya, istri Abdul Qahar tinggal di Kaninyan Sendang, pertapaan seorang bhairawi yang sangat ditakuti di Pamwatan. Istri Abdul Qahar dapat terhindar dari pembunuhan karena dilindungi oleh sang tapaswijana (pertapa perempuan) yang dikenal penduduk dengan nama masyhur: Hyang Nini Durgandini.

Mengetahui nasib malang yang dialami Abdul Qahar, terutama istrinya yang sedang hamil, ingin sekali Abdul Jalil pergi ke Pamwatan dan menjemput istri saudara iparnya itu untuk dibawa ke Caruban. Namun, ia segera sadar bahwa ia harus melepaskan semua ikatan yang “menempel” pada dirinya baik ikatan persahabatan, persaudaraan, kekerabatan, kekeluargaan, bahkan akhirnya ikatan keakuan diri pribadi. Ia menekan segala kilasan pikiran dan sentakan perasaan yang terkait dengan nasib istri Abdul Qahhar yang mengandung anak yatim yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya itu. Ia memasrahkan semua urusan yang terkait dengannya kepada Yang Mahatunggal Tak Terbandingkan. Saat sebuah kapal jung berangkat ke barat, ia buru-buru mengajak istri dan puteranya menumpang dengan tujuan Caruban. Sepanjang perjalanan ia terus dibayangi nasib bayi yatim yang tidur lelap di perut ibundanya. “Ya Allah, Engkau berkali-kali menunjukkan kepadaku kuasa dan kebesaran-Mu dengan melindungkan mereka yang tak berdaya di bawah naungan manusia-manusia peminum darah,” kata Abdul Jalil dalam hati.

Ketika kapal jung yang ditumpanginya baru saja bersandar di dermaga pelabuhan Muara Jati, Abdul Jalil sudah ditunggu oleh sesuatu yang terkait dengan keterlepasan-keterlepasan ikatan citra dirinya. Begitu akan turun dari kapal jung yang membawanya, ia mendengar juru tambat dan awak kapal berbicara tentang sesuatu yang tidak terduga-duga dan membuatnya terkejut: putera Syaikh Maulana Jati Susuhunan Cirebon Girang, Pangeran Bratakelana, telah diserang oleh sekawanan orang tak dikenal saat berlayar dari Demak ke Caruban, tepatnya di lepas pantai Gebang. Pangeran Bratakelana beserta semua pengawalnya terbunuh. Jenasah Pangeran Bratakelana ditemukan di pantai Mundu dan dimakamkan di sana.

Abdul Jalil mengatupkan mulut rapat-rapat mendengar pembicaraan itu. Meski hasrat hatinya berkobar ingin bertanya tentang kabar Kematian putera Syarif Hidayatullah itu, ia tindas sekuat daya hasrat itu sampai ia rasakan dadanya sesak. Kilasan-kilasan kenangan saat ia menggendong dan bermain dengan pangeran yang memiliki panggilan Gung Anom itu berkelebatan memasuki ingatannya. Pangeran kecil yang setiap kali ia singgah di Giri Amparan Jati selalu minta gendong itu kini telah kembali ke hadirat-Nya. Meski sadar bahwa segala sesuatu adalah tergantung mutlak pada kehendak-Nya, rangkaian ingatan yang mengikat kenangannya dengan seseorang yang pernah dekat terasa sangat menyesakkan dada. Untuk membebaskan diri dari kegundahan, ia segera menenggelamkan keakuannya ke dalam Keakuan Yang Mahaaku.

Ketika singgah di Pesantren Giri Amparan Jati, Abdul Jalil melihat suasana berkabung menyelimuti. Namun, saat ia akan masuk ke Ndalem ternyata tidak seorang pun di antara mereka yang berpapasan mengenalnya. Rupanya, penampilannya yang berubah telah menjadikannya sebagai orang seorang yang tak lagi dikenali oleh mereka yang masih terikat pada bentuk penampilan luar. Saat itu ia tiba-tiba sadar bahwa sebaiknya ia tidak ke Ndalem karena pasti akan menemui Syarifah Baghdad, ibunda Pangeran Bratakelana, yang tentu sangat berduka. Ia berbalik arah, naik ke atas pemakaman Syaikh Datuk Khafi.

Di depat makam ia melihat Syarif Hidayatullah sedang berbincang-bincang dengan Bardud, puteranya, yang sudah terlihat dewasa. Saat mereka melihatnya, mereka serentak mengungkapkan keheranan melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Mereka heran melihat penampilannya yang seperti petani desa. Sebelum ditanya ini dan itu, ia memberi tahu mereka tentang jalan hidup yang akan dilaluinya yang mengharuskannya uzlah meninggalkan Kehidupan duniawi. “Saat turun dari kapal tadi, aku terkejut mendengar kepergian cucuku yang memenuhi panggilan-Nya. Tapi, seberat apa pun kita harus ikhlas melepasnya. Sebab, dia yang berasal dari Dia pasti kembali kepada-Nya. Kita semua sedang menunggu giliran. Yang membedakan di antara kita adalah cara dan waktu kembali. Hendaknya engkau ketahui bahwa aku pun sekarang ini sedang mengalami detik-detik kembali kepada-Nya,” kata Abdul Jalil sambil meminta kepada Syarif Hidayatullah agar kehadirannya kembali ke Caruban dirahasiakan dari siapa pun kecuali keluarganya. “Biarlah orang-orang perlahan-lahan melupakan keberadaanku. Biarlah anak Adam menjadi ‘adam (tiada) dan kembali pada ‘Adam al-Muhith (Ketiadaan Yang Maha Meliputi) tanpa diketahui oleh siapa pun di antara makhluk. Biarlah wujud khayalan (wujud al-khayali) ini terserap ke dalam Wujud Hakiki (Wujud al-Haqiqi).”

“Kami paham akan apa yang Pamanda alami,” kata Syarif Hidayatullah dengan suara tersekat di tenggorokan, “Tapi, kami berharap sudilah Pamanda meninggalkan kepada kami warisan wejangan yang akan kami jadikan pusaka dalam mengarungi samudera Kehidupan ini.”

Abdul Jalil menatap tajam Syarif Hidayatullah. Lalu, dengan suara penuh kasih ia berkata, “Pertama-tama, sebagai penegak Tauhid, hendaknya engkau tidak mendekat tetapi tidak juga menjauhi kekuasaan Yang Dipertuan Demak. Sebab, Tranggana yang telah membeli iman dan agama alim ulama dengan sepetak tanah dan hadiah-hadiah serta jabatan duniawi itu adalah bagian dari ujian-Nya pada manusia beriman. Tranggana telah menjadi sarana penyebab bagi banyak ulama pewaris Nabi (waratsat al-anbiya’) yang berubah menjadi pedagang agama dan tukang jagal bertopeng kesucian. Tranggana telah banyak menyesatkan alim ulama. Lantaran itu, jangan engkau dekat dan jangan pula engkau jauhi dia. Hendaklah engkau mengambil jarak dengannya. Sebaliknya, jangan dekati siapa pun di antara alim ulama yang telah menukar iman dan agamanya demi segenggam bara api dunia yang mereka kira harta abadi. Sebab, mereka itu adalah wakil al-‘Alim di muka bumi yang telah mengkhianati al-‘Alim Yang Diwakilinya. Jauhi mereka! Hindari mereka!”

“Bagaimana dengan Majelis Wali Songo?” tanya Syarif Hidayatullah, “Apakah harus kami tinggalkan pula?”

“Sesungguhnya, salah satu alasan dibentuknya Majelis Wali Songo adalah sebagai perlambang untuk menghadapi keyakinan sesat Syah Ismail beserta pengikut-pengikutnya. Majelis Wali Songo dibentuk beberapa waktu sebelum Syah Ismail berkuasa. Lantaran itu, ketika Syah Ismail dan pengikut-pengikutnya menafikan keberadaan wali-wali Allah dan dengan tindak kekerasan membongkar kuburan-kuburan para wali di wilayah kekuasuannya, dengan kekejaman menjijikkan memburu para guru tarekat dan orang-orang yang meyakini keberadaan wali Allah, dan dengan doktrin-doktrin yang menyesatkan menghancurkan keyakinan manusia tentang keberadaan wali-wali Allah, maka keberadaan Majelis Wali Songo menjadi keniscayaan tak tersanggah. Sehingga, pada saat al-Waly menyingsing di tanah Persia dalam citra al-Bathin maka di Nusa Jawa yang sudah ditebari tanah Karbala oleh Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, al-Waly terbit dalam citra azh-Zhahir. Tetapi kini, setelah tuhan jejadian itu dikalahkan Salim, keberadaan Majelis Wali Songo sudah tidak lagi menjadi keniscayaan karena sang tuhan yang berfirman tentang ketiadaan wali-wali Allah itu telah lari tunggang-langgang dihajar manusia kejam bernama Salim. Kewalian (wilayah) kembali menjadi sesuatu yang bersifat rahasia dan tersembuny dari manusia. Hanya mereka yang memahami hakikat keseimbangan al-Bathin dan azh-Zhahir yang dapat mengetahui rahasia tentang al-Waly dan wilayah beserta wali-wali.

“Engkau tentu telah melihat bagaimana aku melepas pakaian dan semua atribut diriku sebagai seorang alim. Sebab, aku telah malu mengenakannya. Malu. Malu. Seribu kali malu. Aku tidak tahan menyaksikan setiap mata melihat pakaian ulama yang aku kenakan dengan pandang curiga dan ketakutan, karena semua menduga siapa pun yang berpakaian alim ulama adalah tukang jagal bertopeng agama. Semua menangkap citra keulamaan sebagai Yamadipati, Sang Maut. Sehingga, dengan pakaian itu aku tidak bisa bergerak ke mana-mana. Sungguh memalukan pakaian keulamaan saat ini, karena siapa pun di antara manusia yang mengenakan jubah, destar, surban, terompah, tasbih, dan kitab suci akan dipandang oleh semua mata sebagai kaki tangan sultan. Memalukan. Memalukan. Citra wakil al-‘Alim di muka bumi sudah direndahkan sebagai citra tukang-tukang sihir Fir’aun yang tidak memiliki kemampuan lain kecuali menghasut dan menebar fitnah menyesatkan. Sungguh memalukan citra al-‘Alim yang telah menjadi citra kaum musyrik dan munafik, yaitu kaum yang di mulut mengaku-aku hamba Allah, tetapi dalam kenyataan bersujud di kaki sultan. Memalukan.”

“Lantaran itu, o engkau yang terkasih, tegakkan Tauhid dengan sekuat kuasamu tanpa keharusan engkau menampilkan diri sebagai ulama dalam bentuk ragawi. Lebih baik engkau menjadi sultan secara zahir, tetapi alim secara batin, daripada sebaliknya. Tidakkah engkau pernah mendengar kisah guru terkasihku, Ahmad Mubasyarah at-Tawallud? Dia adalah saudagar kaya raya secara zahir, tetapi alim secara batin. Sebaliknya, alim ulama sekarang ini secara zahir alim, tetapi secara batin adalah saudagar. Itu sebabnya, waspadalah engkau sekarang ini kepada siapa pun di antara manusia yang muncul di depanmu dengan mengenakan pakaian keulamaan. Pandanglah mereka dengan bashirah sehingga engkau mengetahui siapa mereka sejatinya.”

“Kami akan pusakakan wejangan Paman,” kata Syarif Hidayatullah.

Ketika Abdul Jalil akan beranjak pergi, Syarif Hidayatullah bertanya, “Apakah Paman nanti singgah dahulu ke Kalijaga?”

“Ke Kalijaga? Ada apa?” tanya Abdul Jalil tak paham.

“Zainab,” kata Syarif Hidayatullah menjelaskan, “Puteri Paman, sekarang tinggal di Kalijaga mendampingi suaminya yang menjadi guru suci di sana.”

“Raden Sahid sudah mengajar?”

“Pengikut-pengikut Paman yang kebingungan dengan kabar pembunuhan terhadap pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang, berdatangan ke Kalijaga dan menjadikan dia sebagai pengganti Paman. Tidak hanya orang-orang dari Caruban yang berguru kepadanya, bahkan mereka yang mengaku pengikut Paman dari Luragung, Bojong, Tetegal, Pasir, Kendal pun berdatangan ke Kelijaga.”

“Semua sudah diatur oleh-Nya. Biarlah terjadi apa yang harus terjadi sesuai kehendak-Nya.”

“Apakah Paman sudah tahu jika Paman telah dikaruniai tiga orang cucu, si kembar Watiswari dan Watiswara serta si bungsu Wertiswari?”

“Aku sudah punya tiga orang cucu? Watiswari, Watiswara, dan Wertiswari,” gumam Abdul Jalil. “Watiswari dan Watiswara bermakna penguasa angin. Wertiswari bermakna penguasa sumbu lampu. Sungguh perlambang jalan ruhani yang baik nama-nama itu. Berapa usia mereka sekarang?”

“Yang kembar sudah sembilan tahun. Yang bungsu tujuh tahun. Tetapi, karena ketiga orang cucu Paman itu dianggap keluarga ratu Caruban, maka sebagaimana ayahanda mereka yang dianugerahi gelar Pangeran Kalijaga dan kakeknya dianugerahi gelar Pangeran Lemah Abang, Watiswari dianugerahi gelar Nyi Mas Ratu Mandapa, Watiswara dianugerahi gelar Pangeran Panggung, dan yang bungsu dianugerahi gelar Nyi Mas Ratu Campaka,” kata Syarif Hidayatullah.

Abdul Jalil diam dan menarik napas panjang berkali-kali. Ia merasakan sesuatu yang berat sedang menyesaki dadanya. Sebagai seorang ayah dan sekaligus kakek, nalurinya menarik-narik hasratnya untuk cepat-cepat melangkahkan kaki ke Kalijaga. Namun, ia segera sadar bahwa jalan hidup yang harus dilewatinya akan penuh ditandai oleh keterlepasan-keterlepasan segala sesuatu yang berkaitan dengan citra dirinya, sampai ia benar-benar sendiri tidak memiliki apa pun dan tidak dimiliki oleh siapa pun (la yamliku syaian wala yamlikuhu syaiun) kecuali Yang Mahatunggal. Ia sadar, betapa setiap keterlepasan adalah sesuatu yang menyakitkan baik bagi dirinya maupun bagi yang terlepas dengannya. Lantaran alasan-alasan itu, setelah memberi pesan secukupnya kepada Syarif Hidayatullah, ia mengajak istri dan anaknya, Fardun, meninggalkan Pesantren Giri Amparan Jati.