Makna Rahasia di Balik Nafs

Sejak bersahabat akrab dengan hewan-hewannya, Abdul Jalil berubah menjadi orang yang berperilaku sangat aneh dalam pandangan orang-orang di sekitarnya. Segala sesuatu yang terkait dengan kebiasaan hidupnya sehari-hari mendadak berubah aneh dan sangat mencengangkan. Shafa, istri setianya, sebagai orang yang paling dekat, merasakan keheranan dan khawatir luar biasa mendapati suaminya berperilaku sangat aneh. Belum pernah ia menyaksikan suaminya berperilaku tidak lazim, seperti duduk bersila dengan mata terpejam sejak subuh sampai zhuhur. Atau, bersujud selama berjam-jam. Atau, melakukan shalat malam sampai tujuh puluh rakaat. Atau, duduk takhiyat akhir tanpa salam dari subuh hingga isya. Atau, saat shalat tidak mengikuti hitungan rakaat sesuai aturan sarak. Atau, melamun memandang langit dari pagi sampai sore.

Ketika sudah tidak mampu lagi memahami keanehan-keanehan perilaku Abdul Jalil, Shafa akhirnya mengungkapkan keheranan dan ketidakpahamannya. Shafa berharap dapat beroleh kejelasan bahwa suami terkasihnya itu sejatinya tidak gila. Namun beda yang diharapkan, jawaban yang diberikan Abdul Jalil kepadanya justru berupa pertanyaan balik, “Siapakah engkau yang bertanya ini?”

Shafa yang ditanya balik sangat terkejut dan menjawab sekenanya, “Aku Shafa. Aku istri Tuan.”

“Shafa? Istriku?” Abdul Jalil mengerutkan kening, “Apakah aku punya istri?”

“Ya, Tuan punya istri. Akulah istri Tuan.”

“Siapakah aku yang engkau sebut Tuan?”

“Bukankah Tuan adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil? Syaikh Siti Jenar? Syaikh Lemah Abang? Syaikh Jabarantas? Syaikh Sitibrit? Susuhunan Binang?” sergah Shafa dengan hati diliputi kecemasan.

“Syaikh Datuk Abdul Jalil? Syaikh Siti Jenar? Syaikh Lemah Abang? Syaikh Jabarantas? Syaikh Sitibrit? Susuhunan Binang? Siapakah dia yang memiliki banyak nama itu?” tanya Abdul Jalil termangu-mangu.

“Bukankah itu Tuan sendiri?”

“Aku?” gumam Abdul Jalil dengan tangan menunjuk dada, “Akukah satu makhluk dengan banyak nama itu? Bukankah Syaikh Siti Jenar itu nama anjing belang yang berdiri menjulurkan lidah di depan pintu itu? Bukankah Syaikh Lemah Abang itu anjing hitam yang duduk menjulurkan lidah di sampingnya?” ia menudingkan tangan ke arah pintu gubuk.

Shafa terperangah mengikuti arah yang ditunjuk Abdul Jalil. Dia terheran-heran mendapati pintu gubuk yang ditunjuk suaminya itu kosong tanpa sekilas bayangan anjing terlihat di sana. Sadarlah dia, sesungguhnya suaminya saat itu telah menjadi orang yang hilang ingatan. Suaminya telah tidak ingat akan keberadaan dirinya sendiri. Akhirnya, tanpa dapat ditahan lagi, air mata jatuh bercucuran membasahi pipi Shafa. Dia merasakan dunianya runtuh. Dia menangis terisak-isak sambil merangkul Fardun, puteranya yang berdiri kebingungan memandang ibu dan ayahnya berganti-ganti.

Ketika Shafa memastikan Abdul Jalil benar-benar telah hilang ingatan, terjadi peristiwa yang membingungkannya. Tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba Abdul Jalil sadar dan berperilaku sebagaimana layaknya orang waras. Namun demikian, karena sudah terlalu sering menyaksikan keanehan-keanehan perilaku Abdul Jalil yang tak terpahami, akhirnya Shafa merasa harus berlaku sangat hati-hati dalam menyimpulkan keadaan suaminya itu. Perilaku tidak lazim yang ditunjukkan Abdul Jalil belakangan memang sangat mengkhawatirkannya baik dalam hal makan, minum, duduk, berjalan, berbicara, tidur, dan beribadah. Dalam hal makan saja, jika sebelumnya dia selalu mendapati suaminya selalu menyantap makanan yang dihidangkannya asalkan baik dan halal (halal ath-thayyibah), maka belakangan dia harus menyuguhkan ubi-ubian dan buah-buahan karena makanan yang lain tidak disentuh. Yang aneh, sesekali ia melihat suaminya tidak memakan ubi dan buah-buahan yang disuguhkannya dengan alasan ada ulat atau semut kecil di dalam buah itu. Suaminya menyatakan, ia tidak mau memangsa makhluk kecil yang meratap sedih meminta kepadanya agar tidak dimangsa. Beberapa kali dia melihat suaminya memuntahkan buah yang dimakannya, hanya karena ada seekor semut yang terselip di buah tersebut dan semut tersebut meminta untuk tidak dimangsa. Bagaimana mungkin orang waras berbicara dengan ulat dan semut, tanya Shafa dalam hati, dengan perasaan tertekan.

Di antara keanehan-keanehan perilaku Abdul Jalil, yang sangat menekan perasaan Shafa adalah saat dia mendampingi suaminya melewati rentangan malam hari yang diliputi kesunyian dan keheningan. Sepanjang malam itu dia tidak lagi mendapati keberadaan suaminya sebagai sosok seorang suami yang memiliki citra kehangatan dan penuh cinta kasih sebagaimana selama ini dia kenal. Sepanjang malam sejak isya sampai subuh dia nyaris selalu mendapati suaminya menjadi sesuatu yang aneh dan tak pernah dikenalnya. Dia tidak tahu apakah yang sesungguhnya telah terjadi pada suaminya. Dia hanya merasa suaminya telah menjelma menjadi sesuatu yang diliputi keanehan tak tergambarkan. Dia selalu merasakan semacam kegentaran menerkam semangatnya setiap kali mendekati suaminya. Bahkan, yang nyaris tak dipahaminya, setiap kali dia berada di hadapan suaminya, ia merasakan hatinya seperti diisap oleh suatu kekuatan tak kasatmata yang sangat dahsyat yang tanpa sadar membuatnya menunduk dan kemudian berlutut dan bersujud menyembah.

Sesungguhnya, yang merasakan adanya perubahan dahsyat bukan hanya Shafa. Abdul Jalil sendiri, sejak kembali turun (‘uruj at-tarkib) dari kenaikan ruhani (mi’raj at-tahlil), merasakan suatu perubahan terjadi atas dirinya, terutama setelah kemunculan hewan-hewan citra perwujudan nafs dari dalam dirinya. Ia tiba-tiba sering merasakan detik-detik keberadaan dirinya lenyap, tenggelam ke dalam Kemutlakan laksana setetes air menyatu dengan Samudera Mahaluas. Sang pecinta yang tulus (muhib ash-shadiq) telah lebur (fana’) ke dalam Sang Kekasih (al-Mahbub). Pada detik-detik seperti itulah ia merasakan keakuannya sirna. Lenyap. Yang Ada adalah Aku. Yang Tunggal. Mutlak. Tanpa batas. Namun, seiring berlalunya detik-detik keleburan keakuannya itu, ia mendapati cakrawala kesadaran dirinya lebih luas dan lebih bebas dari batas-batas nisbi alam. Ia mendapati keakuannya mengurai dan melepaskan segala ikatan yang selama ini mengikatnya, yaitu ikatan-ikatan yang terkait atribut-atribut citra diri.

Memang, ketersingkapan cakrawala kesadaran yang dialaminya saat ini jauh lebih mencengangkan dibanding sebelumnya, karena ketersingkapan ini berkaitan dengan keterlepasan-keterlepasan atribut citra diri. Ia tiba-tiba merasa tercengang kebingungan saat menyadari keberadaan dirinya sebagai seorang laki-laki telah menyingsing. Ia merasakan kesadarannya sebagai makhluk semesta tersingkap begitu menakjubkan, ia mendapati citra dirinya menjadi makhluk tak berjenis kelamin. Berhari-hari dan berpekan-pekan ia meresapi keberadaan dirinya yang tiba-tiba sudah tidak memiliki atribut citra diri, baik sebagai manusia berkelamin laki-laki, suami, bapak, saudara laki-laki, mertua laki-laki, maupun kakek. Semua atribut citra dirinya sebagai manusia tak jelas lagi, apakah jiwanya masih jiwa seorang manusia atau sudah menjadi jiwa makhluk semesta.

Ketika Abdul Jalil berada di tengah keheranan meresapi keberadaan jati dirinya, ia mendapati kenyataan lain yang tak kalah membingungkan, sewaktu cakrawala kesadarannya menangkap kenyataan menakjubkan bahwa sejatinya hamparan Samudera Makna-Makna (Bahr al-ma’ani) dan Samudera Bendawi Kasatmata (Bahr al-mulk) itu berada di dalam liputan Samudera Keuncuran (Bahr al-‘unshuriyyah) yang merupakan pancaran dari Hakikat Sejati Segala Samudera (haqiqah al-faydh al-bahr). Dikatakan menakjubkan sebab selain di balik Samudera-Samudera itu terdapat Samudera di Atas Segala Samudera, ia juga mendapati kenyataan betapa sesungguhnya Hakikat Sejati Segala Samudera itu berada di dalam dirinya. Ia merasa keberadaan dirinya seperti setetes air di tengah samudera raya, tetapi sekaligus ia merasa seperti setetes air yang di dalamnya memuat hamparan samudera raya. Sungguh perumpamaan yang tak gampang dipahami maknanya.

Keterlepasan nafs-nafs yang dialami Abdul Jalil rupanya telah menjadikan citra keakuannya meluas ibarat Samudera Kehidupan (Bahr al-Hayy) yang membentang tanpa pantai, di mana Samudera Kehidupan itu memuat Samudera Keagungan (Bahr al-‘izzah) yang suci, yakni Samudera Keagungan yang memuat Ruh al-Haqq, Ruh Suci, yang ditiupkan (nafkh) Allah ke dalam diri Adam. Samudera Keagungan itulah lambang kesucian hati manusia sempurna (insan kamil) yang tanpa batas yang mampu memuat Ruh al-Haqq. Dan, di tengah keluasan Samudera Keagungan itu tersembunyi rahasia Keberadaan Rumah Suci (Baitul Haram) yang menjadi persemayaman al-Haqq, yaitu Rumah Suci yang menjadi kiblat Kesatuan dari kesatuan (jam’ al-jam’).

Pandangan mata lahirnya (bashar) yang selama ini sudah menjadi pandangan seorang ahli ma’rifat (bashar al-‘arif) yang bisa digunakannya memandang segala sesuatu yang terpampang di hadapannya, tiba-tiba berubah menjadi Pandangan Ilahi (Bashar al-Haqq) yang tidak memiliki batas-batas penyekat atau nisbi penglihatan. Ia merasakan penglihatan bashirah-nya berkembang meluas. Meluas. Meluas terus hingga mencapai setiap sudut dunia, terus ke bulan, planet-planet, matahari, gemintang, galaksi-galaksi, dan alam perwujudan semesta. Demikianlah, ketika ia ingin melihat sesuatu di salah satu sudut dunia maka ia seperti orang yang melihat sekuntum bunga dari satu sisi sesuai keinginannya, dan jika diinginkan, ia dapat melihat hingga ke bagian pedalaman bunga tersebut.

Bukan hanya penglihatan bashirah Abdul Jalil saja yang meluas, bahkan pendengaran batin (sam’) yang selama ini terbatas pada penembusan obyek-obyek yang tertangkap pendengaran indriawinya, tiba-tiba berkembang menjadi lebih luas seolah telinga batinnya menjadi telinga raksasa yang dapat mendengar suara semut sampai suara makhluk-makhluk angkasa yang berjarak sangat jauh dari bumi. Dengan penglihatan dan pendengaran batin yang tak terhalang sekat-sekat nafs itulah ia merasakan pandangan bashirah-nya sangat menakjubkan, laksana kesadaran rajawali putih, Sang Pinakatunggal, yang mengembara di angkasa mengitari jagad Kehidupan. Ia sadar bahwa sesuatu di dalam dirinya memang sudah sangat berubah, hingga ia sendiri nyaris tak mengenal dirinya sendiri.

Tidak tahan menghadapi keanehan demi keanehan Abdul Jalil, Shafa mengungkapkan segala apa yang tidak dipahaminya itu kepada Bardudu, ketika suatu malam putera sulungnya itu berkunjung ke gubuknya. Bardud yang beroleh penjelasan tentang keadaan ayahandanya yang sedang mengalami proses menjadi “yang sendiri” dari pembimbing ruhaninya, Syarif Hidayatullah, tidak memberi penjelasan apa-apa kepada ibundanya. Ia tahu, ibunda terkasihnya tidak akan paham diberi penjelasan yang berbelit dan rumit dari keadaan yang dialami ayahandanya. Ia hanya mengingatkan ibundanya pada penjelasan yang pernah disampaikan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud. “Sesungguhnya, keanehan-keanehan perilaku ramanda bukanlah perilaku orang hilang ingatan atau orang tidak waras. Apa yang dialami ramanda pada dasarnya adalah penggenapan tengara yang pernah disampaikan Kakek Ahmad at-Tawallud, bahwa ramanda akan menjadi ‘yang sendiri’ (fard). Keanehan-keanehan perilaku ramanda yang Ibunda hadapi selama ini adalah bagian dari perubahan diri ramanda menjadi ‘yang sendiri’. Sebab itu, Ibunda harus bersabar mengantarkan ramanda menjadi apa yang dikehendaki-Nya.”

“Tapi aku sangat ketakutan, o Puteraku,” kata Shafa menguatkan diri, “Di tengah malam yang sunyi, aku sering mendapati ramandamu duduk dikerumuni ular, anjing, kera, singa, dan burung raksasa yang kadang menjelma dalam bentuk kabut tebal dan kadang pula menjelma dalam bentuk cahaya-cahaya aneka warna. Malah yang sering menakutkan aku, sering kali aku mendengar semacam dentang lonceng yang sangat keras memenuhi seluruh pendengaranku pada saat tubuh ramandamu diliputi semacam cahaya subuh. Aku menduga, jangan-jangan ramandamu berperilaku aneh karena diganggu setan.”

Ketika Bardud akan memberi penjelasan kepada ibundanya, tiba-tiba Abdul Jalil yang duduk bersila menepuk-tepukkan tangannya. Bardudu menoleh dan mendekati ayahandanya. Abdul Jalil diam dan tetap duduk bersila dengan mata terpejam. Sejenak kemudian, dengan menggunakan isyarah, ia berkata-kata kepada Bardud.

“Engkau sudah bertindak benar tidak menjelaskan sesuatu yang tidak dipahami seseorang. Sesungguhnya, dia, orang yang engkau sebut ayahanda itu bukan siapa-siapa. Ia tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki oleh siapa-siapa. Lantaran itu, o Bardud, bawalah ibunda dan adikmu pergi dari sisi ayahandamu. Sebab, semua tidak akan ada yang tahan hidup bersama ayahandamu. Biarkan ayahandamu sendiri di sini. Biarkan dia menjadi ‘yang sendiri’, menyatu dengan Yang Mahasendiri Tak Terbandingkan.”

Bardud termangu-mangu memandang wajah ayahandanya dengan penuh kasih. Ia merasakan kekosongan memenuhi dadanya. Ia merasa semacam kehilangan ketika mendengar kata-kata laki-laki tua yang telah menjadi sebab ia lahir ke dunia. Ia merasakan semacam kepedihan menyayat-nyayat hatinya. Dengan suara tercekat dan dada naik turun ia berkata terbata-bata, “Kenapa keluarga dia, o adimanusia yang terkasih, harus hancur berkeping-keping? Kenapa dia yang telah berjasa menegakkan Tauhid di muka bumi justru harus mengalami hidup begitu pedih? Kenapa dia tidak boleh lagi memiliki dan dimiliki oleh sesuatu?”

Wajah Abdul Jalil terlihat mengeras bagai batu. Lalu, dengan bahasa perlambang berkata, “Renungkan dan tangkap makna di balik kisah Sri Krishna yang seluruh keluarga dan keturunannya hancur binasa! Renungkan dan hayati makna di balik kisah Sri Rama yang keluarga dan keturunannya berantakan! Resapi kisah Sidharta Gautama yang tak pernah tergantikan oleh satu pun di antara keturunannya! Resapi kisah Nabi Musa a.s yang keluarga dan keturunannya berserak di muka bumi tanpa satu pun ada yang mengganti kedudukannya! Hayati kisah Nabi Isa a.s. yang tidak beristri dan tidak berketurunan! Resapi dan hayati kisah Nabi Muhammad Saw. yang keluarga dan keturunannya berserak di muka bumi tanpa satu pun yang mengganti kedudukannya!”

“Renungkan! Resapi! Hayati kisah semua avatar, manusia Ilahi, yang tidak pernah terwakili oleh siapa pun di antara manusia, sekalipun ada yang mengaku-aku keturunan mereka. Dengan memahami kisah-kisah mereka dari rana Tauhid, engkau akan mendapati kenyataan bahwa mereka yang dipilih-Nya menjadi sesuatu wadah sebagai cermin dari Yang Tunggal akan berdiri sendiri tanpa sekutu. Mereka adalah satu. Itu adalah rahasia Tauhid. Sebab, Allah telah menetapkan hukum bahwa dia yang dipilih-Nya adalah satu dan unik. Allah tidak pernah membiarkan ada sekutu bagi yang dipilih-Nya. Lantaran itu, mulai saat ini, siapa pun di antara keluarga ayahandamu jangan sekali-kali ada yang mengaku-aku memiliki suatu hubungan darah dengannya dan menjadi penerus paling sah keberadaannya. Sungguh, ia telah dipilih-Nya menjadi ‘yang sendiri’. Sehingga, siapa saja di antara manusia yang mengaku-aku keluarga dan keturunannya untuk melanjutkan kedudukannya akan binasa. Binasa.”

“Apakah ayahanda kami seorang avatar, manusia Ilahi?”

“Ayahandamu adalah ‘yang sendiri’. Jangan ditafsir-tafsir lagi makna itu dengan akalmu. Dia adalah ‘yang sendiri’. Sendiri. Tunggal. Dia bukan ayah, suami, saudara, sahabat, guru suci, orang beriman, muslim, atau atribut apa pun yang menandai dirinya. Dia cermin dari citra Yang Mahasendiri Tak Terbandingkan (al-Fard). Lantaran itu, jangan ada yang mencoba-coba menjadi sekutunya untuk meraih pamrih pribadi.”

Bardud terperangah mendengar kata-kata ayahandanya. Ia merasakan seluruh sendinya lemah akibat gelegak perasaan yang memenuhi dadanya. Ruang di dadanya ia rasakan semakin kosong. Rasa kosong itu makin merajalela ketika di benaknya berkelebatan bayangan ayahandanya yang duduk sendiri tanpa kawan tanpa keluarga diselimuti sepi dan sunyi, tenggelam dalam ketidaksadaran, tanpa makan tanpa minum. Terbayang pula di benaknya bagaimana ayahandanya menjadi kurus tubuhnya karena kekurangan makan dan perlahan-lahan kemudian tubuhnya tumbang ke atas bumi tanpa ada yang mengetahui. Akhirnya, tidak kuat lagi menahan gelegak perasaannya yang digelayuti bayangan-bayangan buruk tentang ayahandanya, Bardud menjatuhkan diri di pangkuan ayahandanya dan menangis tersedu-sedu. Ia sadar, ia telah kehilangan ayah dan sekaligus figur teladan yang sangat dipuja dan dirindukannya semenjak ia kecil.

Keanehan di balik perubahan sikap dan perilaku Abdul Jalil yang tak terpahami itu akhirnya terungkap sebagian ketika Raden Sahid bersama istri dan tiga orang anaknya berkunjung ke gubuknya pada sore hari menjelang maghrib. Ia mendapati Shafa, Bardud, dan Fardun sedang duduk menunggu selesainya Abdul Jalil bersembahyang. Mereka kelihatan sudah berkemas akan berpamitan meninggalkan Abdul Jalil yang belum selesai sembahyang. Saat itulah mereka membincang Abdul Jalil yang bersembahyang dengan duduk takhiyat akhir sangat lama. Menurut Shafa, suaminya sudah melakukan sembahyang sejak subuh. Zainab yang mendengar penuturan ibunda tirinya itu tidak dapat menahan perasaan khawatir. Dengan hati diliputi kerisauan ia bertanya ini dan itu tentang keadaan ayahandanya. Penjelasan Shafa tentang sikap dan perilaku ayahandanya yang tak terpahami, benar-benar membuatnya sangat terpukul. Sambil menangis tersedu-sedu ia merangkul ayahandanya dan berusaha membangunkannya. Namun, seperti orang mati, sedikit pun tubuh ayahandanya bergeming, laksana karang di tengah samudera.

Ketika kekhawatiran Zainab makin memuncak dan ia memanggil-manggil ayahandanya, tanpa terduga-duga tiba-tiba Raden Watiswara, putera keduanya berlari kencang ke samping kanannya. Kemudian dengan gerakan sangat cepat, anak yang baru berusia sembilan tahun itu memungut tongkat yang tergeletak di samping kakeknya. Lalu dengan sebuah sabetan dari atas ke bawah, dia memukul tanah kosong di bagian belakang punggung kakeknya. Terdengar bunyi gedebug ketika tongkat itu menghantam tanah. Sebuah keanehan terjadi: saat itu, tanpa terduga Abdul Jalil terlonjak kaget dan membelalakkan mata. Lalu, dengan tatapan tajam yang menggetarkan ia memandang ke arah Raden Watiswara.

Semua yang menyaksikan peristiwa itu menahan napas. Mereka menduga Abdul Jalil akan marah. Namun, sejenak kemudian Abdul Jalil justru tertawa terkekeh-kekeh merangkul Raden Watiswara sambil menggumam, “Allah menganugerahimu dengan kemuliaan, o Cucuku, sampai engkau bisa melihat ularku dan memukulnya keras sekali.” Lalu, dengan suara digetari wibawa ia berpaling ke arah Raden Sahid dan bertanya, “Bukankah engkau menyaksikan dengan bashirah apa yang dilakukan puteramu itu?”

“Ananda menyaksikannya, Ramanda Syaikh,” kata Raden Sahid takzim, “Tapi, ananda tidak mengetahui rahasia apa di balik hewan-hewan yang berbaris di belakang punggung Ramanda itu. Kenapa mereka melakukan gerakan-gerakan shalat: qiyam – ruku’ – i’tidal – sujjud – jalsah – sujjud – jalsah akhir ? Ananda tahu bahwa mereka itu sejatinya adalah nafs-nafs Ramanda yang telah keluar dari takhta mahligai keakuan Ramanda. Tetapi, ananda tidak mengetahui makna-makna di balik gerakan shalat mereka. Ananda mohon, sudilah kiranya Ramanda berkenan mengungkapkan rahasia di balik gerakan shalat mereka itu.”

Abdul Jalil menarik napas panjang dan membuat gerakan tangan mengisyaratkan agar istri dan puteri serta cucu-cucu perempuannya untuk pergi keluar gubuk. Setelah itu, ia memangku Raden Watiswara dan merangkul Fardun, puteranya, yang duduk di sampingnya. Ia meminta Bardud dan Raden Sahid mendekat. Kemudian dengan suara lain, ia berkata.

“Ular belang yang dipukul oleh puteramu itu adalah citra perwujudan nafs al-hayawaniyyah yang menjadi bagian keakuanku. Secara naluriah, ia dikodratkan untuk selalu ingkar pada titah Sang Pencipta (al-Khaliq). Ia adalah citra pengejawantahan Sang Iblis, yang tubuhnya mengandung racun ganas yang disebut al-umniyah dan al-wahm, yaitu racun yang akan membuat siapa pun di antara manusia yang terkena akan kehilangan kesadaran. Terseret imaji nirwujud (al-mumtami’) yang membuat seseorang sesat (al-idhlal) dalam memaknai segala sesuatu. Tetapi, jangan menganggap ia tidak beribadah memuja Tuhannya, karena sebagaimana sudah engkau ketahui, tidak ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang tidak memuja Sang Pencipta. Hanya saja, caranya beribadah memuliakan dan mengagungkan Allah, Rabb al-Arbab, berbeda dengan manusia. Ia beribadah dengan cara menjalankan titah Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), yaitu menggoda orang-orang beriman (qaum al-mu’minin) agar mereka tergelincir dari jalan lurus (shirat) yang menuju istana Sang Pemberi Keamanan (al-Mu’min) dan jatuh ke jurang kehinaan al-Mudzill yang sangat pedih. Lantaran itu, ular beludak itu aku namai Manikmaya, yang bermakna ‘permata khayalan sang ablasa’, yang menyesatkan Adam a.s. beserta keturunannya.”

“Anjing hitam kemerahan yang engkau saksikan berdiri di barisan belakang sambil menjulurkan lidah itu adalah perwujudan nafs al-ammarah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan cara berdiri (qiyam). Ia perlambang api yang secara kodrati selalu naik dengan arah tegak lurus. Citra perwujudan anjing itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Islam, yaitu tangga Pengetahuan tingkat pertama. Ia hanya mengetahui bagaimana menggonggong, menggigit, dan mencakar untuk menunjukkan citra dirinya. Secara naluriah, ia cenderung mengajak kepada perbuatan jahat. Meski gonggongan dan lenguhannya terdengar jinak, ia sering menggigit tuannya dan orang lain. Ia sangat bangga dengan nama besar dan identitas diri. Ia melakukan sesuatu karena dilandasi pamrih ingin dipuji dan ingin merasakan kenikmatan badani maupun ruhani. Lantaran itu, ia aku namai Sang Lemah Abang, nama masyhur yang pernah membuatku nyaris menjelma jadi berhala terkutuk.”

“Anjing putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yang engkau saksikan merunduk di depan anjing hitam kemerahan sambil menjulurkan lidah itu adalah citra perwujudan nafs al-lawwammah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan cara merunduk (ruku’). Ia perlambang tanah yang secara kodrati menyamping datar. Citra perwujudan anjing itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Iman, yaitu tangga Pengetahuan tingkat kedua. Ia cenderung suka mengaku-aku kehebatan diri dan mencela orang lain, atau sebaliknya mencela diri dan memuji orang lain. Pengetahuannya masih sebatas mendengar. Keyakinannya masih sebatas mulut. Sekali waktu, ketika ia mengarahkan pandangan ke dalam dirinya, ia akan mencela dirinya sendiri dan menemukan kebijaksanaan berlimpah di dalamnya. Tetapi, saat ia mengarahkan pandangan ke luar dirinya, ia cenderung menggonggong dan mencela orang lain. Ia sangat bangga dengan amaliah perbuatannya. Lantaran itu, anjing itu aku namai Sang Siti Jenar, nama besar yang bangga dengan amaliah berbagi keberlebih-kelimpahan yang nyaris menjerumuskanku ke jurang pemberhalaan diri.”

“Kera coklat kemerahan yang engkau saksikan berdiri tegak di depan anjing putih kekuningan adalah perwujudan nafs al-mulhammah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan berdiri (i’tidal). Ia perlambang air yang secara kodrati turun dengan arah tegak lurus. Citra perwujudan kera coklat kemerahan itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Ihsan, yaitu tangga Pengetahuan tingkat ketiga. Ia adalah kesadaran jiwa yang sudah dapat merasakan perbedaan nuansa Kebenaran dan Kebatilan. Ia mampu menangkap sarana yang bisa mengantar ke samudera kebahagiaan. Ia dapat membedakan ilham kefasikan dan ilham ketakwaan yang masuk ke dalam hatinya. Tetapi, sering kali ia kurang waspada dan terseret ke dalam lingkaran ilham kefasikan. Jiwa ini di dalam melakukan perjalanan ruhani berada di bawah pengawasan Allah. Lantaran itu, ia aku namai Sang Jnanawesa, yaitu nama yang bermakna masuknya ilham ketakwaan dan ilham kefasikan ke dalam jiwa manusia.”

“Kera putih yang engkau saksikan bersujud di depan kera coklat kemerahan adalah perwujudan nafs al-Muthma’innah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan bersujud (sujjud awwal). Ia perlambang angin yang secara kodrati melingkupi Kehidupan di muka bumi. Citra perwujudan kera putih itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah ‘ilm al-Yaqin, yaitu tangga Pengetahuan tingkat keempat. Ia adalah jiwa yang sudah tenang karena kedudukannya berada di tengah-tengah antara ruh dan nafs. Jiwa ini dalam melakukan perjalanan ruhani berada bersama Allah. Ia masih memiliki kecenderungan untuk tertarik pada suara-suara keindahan yang terdengar dari taman surgawi pancaran al-Jamal. Itu sebabnya, aku menamainya Sang Jnanaprasada, yang bermakna ketenangan jiwa surgawi.”

“Singa putih yang engkau saksikan duduk di depan kera putih adalah perwujudan nafs ar-radhiyyah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan duduk (jalsah awwal). Ia perlambang aether. Citra perwujudan singa putih itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah’ain al-Yaqin, yaitu tangga Pengetahuan tingkat kelima. Jiwa ini dalam melakukan perjalanan ruhani berada di dalam Allah. Jiwa ini tenggelam di dalam Pengetahuan Allah. Ia adalah jiwa yang sudah berada di dalam keyakinan sempurna atas kehambaan dirinya dan Keilahian Rabb-nya. Ia aku namai Sang Jnanekatwa, yang bermakna ketunggalan jiwa dan Jiwa.”

“Rajawali putih yang engkau saksikan bersujud di depan singa putih adalah perwujudan nafs al-mardhiyyah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan bersujud (sujjud tsani). Ia perlambang cahaya yang dipancarkan dari matahari, bulan, dan bintang ke permukaan bumi. Citra perwujudan rajawali putih itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah haqq al-Yaqin, yaitu tangga Pengetahuan tingkat keenam. Ia adalah jiwa yang diridhoi Allah. Ia menyaksikan Kebenaran Tuhan dengan Tuhan (‘araftu Rabbi bi Rabbi). Ia jiwa yang terbang bebas memuji Keagungan dan Kebesaran Yang Mahabenar. Dalam kelana jiwanya yang bebas, ia selalu memuja Penciptanya dengan suara Kebenaran: Haqq! Haqq! Haqq! Lantaran itu, ia aku namai Sang Jnanasunya, yang bermakna bebas dari kemenduaan.”

“Sedang burung anqa putih laksana kabut tipis yang engkau saksikan duduk di depan rajawali putih adalah perwujudan nafs al-kamilah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan duduk (jalsah tsani). Itulah lambang al-haba (atom). Citra perwujudan burung anqa putih selembut kabut tipis itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Islam, yaitu tangga Pengetahuan tingkat ketujuh. Inilah tahap puncak perkembangan aku menuju Aku. Iniah jiwa yang disucikan (nafs al-qaddisah). Aku namai burung anqa putih laksana kabut tipis itu dengan gelar kemuliaan Sang Kawula Pinakatunggal, yang bermakna hamba yang menyelam ke Sumber Samudera Kesendirian Tuhan (al-‘aini al-bahri al-wahdati).”

“Terima kasih Ramanda,” kata Raden Sahid takzim. “Sekarang jelaslah bagi ananda, bahwa di balik ketentuan hukum sarak yang mewajibkan manusia mendirikan shalat dengan gerakan qiyam – ruku’ – i’tidal – sujjud – jalsah – sujjud – jalsah itu sejatinya tersembunyi rahasia kodrati penyembahan masing-masing nafs manusia. Ananda pun sekarang paham kenapa gerakan shalat tiap satu raka’at itu terdiri atas tujuh gerakan, yaitu qiyam – ruku’ – i’tidal – sujjud – jalsah – sujjud – jalsah. Rupanya, masing-masing gerakan shalat itu mewakili kodrat penyembahan tujuh nafs di dalam diri manusia, yaitu ammarah – lawwammah – mulhammah – muthma’innah – radhiyyah – mardhiyyah – kamilah. Ananda juga baru beroleh jawaban sekarang, kenapa di dalam melakukan shalat, tujuh bagian anggota badan manusia harus menyentuh tanah: kening – dua telapak tangan – dua lutut – dua ujung telapak kaki. Bahkan sebelum shalat, ketika orang mengambil air wudhu untu membasuh tujuh bagian anggota tubuhnya: mulut – hidung – wajah – tangan – telinga – kepala – kaki, rupanya semua itu terkait dengan lambang penyucian tujuh nafs yang memiliki lima pintu indria.”

“Memang demikianlah adanya,” sahut Abdul Jalil datar. “Bahkan, ibadah shalat pun dianggap tidak sah jika tidak membaca surat al-Fatihah yang terdiri atas tujuh ayat. Itu berarti, masing-masing ayat dari surat al-Fatihah memiliki kaitan rahasia dengan pendakian tujuh tangga Pengetahuan dari masing-masing nafs tersebut. Dengan demikian, bagi orang-orang beriman yang sudah mengetahui rahasia ini, ia tidak lagi menjadikan shalat sebagai upacara formal di dalam menyembah Tuhan sebagaimana layaknya seorang hamba menyembah rajanya. Mereka yang sudah mengetahui rahasia ini menjadikan shalat sebagai proses kenaikan (mi’raj) kesadaran dari anak tangga pertama kemajemukan (katsrah), melampaui lima tahap kehadiran (al-hadharat), dan berakhir pada anak tangga ketujuh: Kesatuan (tauhid). Inilah yang dimaksud Nabi Muhammad Saw. dengan ucapan ‘shalat itu mi’raj bagi orang-orang beriman (ash-shalat al-mi’raj al-mu’minin)’, yakni proses terlampauinya tangga Pengetahuan Islam – Iman – Ihsan – ‘Ilm al-Yaqin – ‘Ain al-Yaqin – Haqq al-Yaqin – Islam. Dengan demikian, akhir sebuah shalat adalah salam. Salam. As-Salam. Yang Maha memberi Kedamaian. Islam adalah damai. Damai.”

“Bagaimana dengan tindakan orang-orang yang mengaku sudah makrifat dan kemudian meninggalkan shalat?” tanya Bardud minta penjelasan.

Abdul Jalil diam. Mengatup rahang kuat-kuat. Matanya disapukan ke sekitar. Sejenak setelah itu, ia berkata dengan suara aneh seperti digetari lengkingan rajawali, “Jika ada manusia menyatakan dirinya tidak perlu lagi melakukan ibadah shalat jasad karena mengaku sudah makrifat – sementara jika dilihat dengan bashirah, nafs-nafs-nya masih berkerumun di dalam keakuannya – maka aku katakan, sesungguhnya manusia itu pembohong takabur yang sesat jalan. Dia masih mengaku-aku. Mengaku Aku tetapi sejatinya masih aku. Lantaran itu, lihatlah dengan bashirah. Bashirah. Sebab, dengan bashirah, segala macam kebohongan akan tersingkap.”