Suluk Malang Sungsang

Di tengah ketercengangan dan keprihatinan Raden Sahid atas munculnya guru-guru batiniah dari kalangan orang kebanyakan yang menyampaikan ajaran Syaikh Lemah Abang secara sederhana, ia mendengar kabar mengejutkan yang tidak disangka-sangka. Saat ia berada di kediaman Ki Ageng Gabus di Wirasari, ia diberi tahu oleh murid Syaikh Datuk Abdul Jalil itu tentang kemunculan dukuh-dukuh baru bernama Lemah Abang tidak jauh dari dukuh-dukuh Lemah Abang yang dibukan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di dukuh-dukuh Lemah Abang yang baru muncul secara misterius seorang guru suci bernama Hasan Ali yang dikenal dengan nama Syaikh Lemah Abang. Laksana seorang pengembara berkaki seribu, guru suci itu berkeliling dari satu dukuh Lemah Abang baru ke dukuh Lemah Abang baru yang lain dengan kecepatan angin. Di setiap dukuh Lemah Abang baru, sang tokoh misterius mengajarkan “jalan kebenaran” kepada penduduk. “Karena ajaran-ajarannya sangat sederhana dan gampang diikuti penduduk dari kalangan kebanyakan maka dalam waktu singkat pengikutnya melimpah. Para penduduk dari kalangan petani, tukang, perajin, pedagang kecil, penambang, penyadap enau, dan kuli datang berduyun-duyun untuk membaiat diri menjadi murid Hasan Ali,” ujar Ki Ageng Gabus.

“Apakah Hasan Ali itu orangnya bertubuh pendek dan kulitnya hitam?” tanya Raden Sahid.

“Benar Raden,” sahut Ki Ageng Gabus, “Apakah Raden mengenal dia?”

“Aku mengenal nama Hasan Ali dari penuturan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Aku pernah sekali bertemu sendiri dengan dia di Giri Kedhaton,” sahut Raden Sahid.

“Tapi dia mengaku berasal dari Caruban, sama dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sebab itu, penduduk yang belum pernah melihat Syaikh Datuk Abdul Jalil mengira Hasan Ali adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil dan karena itu mereka menyebutnya Syaikh Lemah Abang. Sebenarnya, aku dan kawan-kawan hendak meluruskan masalah itu agar tidak terjadi kekeliruan yang menyesatkan. Tetapi, aku segera ingat wejangan terakhir beliau tentang sang bayangan. Karena beliau menitahkan semua pengikut harus diam saat sang bayangan muncul maka kami semua akhirnya diam,” ujar Ki Ageng Gabus.

“Hasan Ali memang kelahiran Caruban. Dia semula bernama Raden Anggaraksa, putera Rsi Bungsu dan cucu Prabu Surawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan,” kata Raden Sahid menjelaskan. Saat memaparkan tentang Hasan Ali itulah tiba-tiba di benak Raden Sahid berkelebat bayangan putera Rsi Bungsu itu: Tubuh yang pendek dan kulit yang gelap. Kepala yang lonjong dibungkus destar putih yang selalu terlihat mendongak, pertanda keangkuhan bawaan darah biru. Alis mata yang tebal, tetapi bola mata yang tidak bisa tenang dan selalu bergerak-gerak dari satu sudut ke sudut yang lain. Hidung yang kecil dan kurang mancung dengan bagian bawahnya ditempeli kumis sekasar ijuk. Janggut yang ditumbuhi beberapa helai rambut menjuntai menutupi dagu. Bentuk bibir yang mencibir, seolah mengejek orang. Sungguh sebuah citra diri manusia takabur yang selalu ingin menempati kedudukan tertinggi.

Berbekal petunjuk Ki Ageng Gabus, Raden Sahid pergi ke dukuh Lemah Abang baru yang letaknya memang tidak jauh dari dukuh Lemah Abang yang dibangun Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di situ ia menyusup di antara pengikut-pengikut Syaikh Lemah Abang gadungan. Ia memahami betapa bagi kalangan orang kebanyakan, ajaran sederhana yang disampaikan Hasan Ali memang sangat mudah dipahami dan diamalkan. Sebab, sebagaimana ajaran guru-guru batiniah di Lemah Abang dan sekitarnya, ajaran Hasan Ali pun hanya berupa teknik pernapasan ditambah sederetan doa yang tidak perlu ditelaah maknanya. Doa-doa yang diajarkannya pun lazimnya berkait dengan ilmu kanuragan, ilmu pengobatan, ilmu sihir yang bercampur-aduk dengan ajaran batiniah. Murid-murid yang umumnya datang dari kalangan orang kebanyakan yang tidak memahami ilmu-ilmu Keislaman, rata-rata tidak bisa membedakan mana ilmu pengetahuan ruhani yang menuju jalan Kebenaran dan mana pengetahuan perdukunan yang menuju pemenuhan pamrih pribadi yang diliputi hasrat-hasrat nafsu rendah badani.

Dalam waktu singkat Raden Sahid sudah mengenali perbedaan mencolok antara ajaran mertuanya dan ajaran Hasan Ali dalam hal meniti jalan ruhani menuju Kebenaran Sejati (al-Haqq). Pertama-tama, ia sangat paham dan telah membuktikan Kebenaran ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil di dalam konteks Kebenaran Sejati. Syaikh Datuk Abdul Jalil tegas-tegas mengajarkan bahwa untuk mencapai Aku, yang wajib dinafikan dari keberadaan seorang salik adalah aku. Selama aku masih mengaku ada maka, Aku tidak akan mengakuinya. Sehingga, selamanya aku akan terhijab dari Aku. Sebaliknya, Hasan Ali mengajarkan bahwa untuk mencapai Aku maka yang wajib dikuatteguhkan adalah aku. Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan bahwa lamunan kosong (al-umniyyah) yang membentuk angan-angan kosong (al-wahm) harus dihindari oleh para salik karena akan membawa kepada kesesatan al-mumtani’ yang terbit dari al-ghyar. Hasan Ali sebaliknya, dia justru mengajarkan tentang betapa pentingnya al-umniyyah dan al-wahm sebagai piranti untuk mencapai Kebenaran Sejati. “Tanpa menguatkan angan-angan khayalan menjadi Allah maka manusia tidak akan bisa menyatu dan menjadi Allah. Sebab itu, kuat dan teguhkan daya khayalmu bahwa engkau adalah Allah sendiri. Akumu adalah Aku Allah,” ujar Hasan Ali meyakinkan murid-muridnya.

Salah satu cara Hasan Ali untuk membuktikan kebenaran ajarannya, ia memberikan amalan-amalan doa yang salah satunya disebut Sindung Kraton, yaitu doa aneh yang jika dipaparkan maknanya kira-kira begini:

Eh ... eh ... eh. Akulah Sindung Liwang-liwung / Aku sudah ada di sini / Aku Ratu Agung / Ratu Kayaraya / Ratu Yang Berkuasa / Ratu Yang Didewakan / Ratu Sempurna Yang Tinggal di Pulau Kencana / Yang Merajai seluruh rasa / / Ruh-ku adalah ruh manusia / ruh api / ruh air / ruh angin / ruh bumi / ruh batu / ruh kayu / ruh besi / ruh nabi / ruh wali / ruh orang beriman / ruh malaikat / ruh jin / ruh setan / ruh banaspati / ruh ilu-ilu / ruh demit / ruh perayangan / ruh gandarwa / ruh makhluk sejagat / / datang hanyut datang terseret kepada seluruh ciptaan / jangan ada yang tertinggal / perkumpulan nabi wali orang beriman / terkumpul pada aku / Akulah Ratu Maulana yang bersemayam di dada manusia / Akulah Ratu Agung yang Merajai di dalam pagar batu kuasa / pintu-ku Ratu Kekayaan / tutup-ku Batu Agung / pintu rumah yang bisa menutup dan membuka sendiri / leh ... leh ... leh/

Ketika menerima amalan doa Sindung Kraton ini, Raden Sahid terkejut. Sepengetahuannya, amalan doa Sindung Kraton memuat gagasan-gagasan ajaran Majusi (Magi Zoroaster) terkait pemujaan Ormuzd. Bagaimana mungkin Hasan Ali bisa memperoleh doa-doa yang memiliki kaitan dengan ajaran Majusi? Dan yang tak kalah mengejutkan, Hasan Ali meyakinkan murid-muridnya bahwa doa Sindung Kraton tersebut selain dapat mengukuhkan keyakinan diri bahwa manusia sejatinya adalah jelmaan Yang Ilahi, yang ruh-nya menyebar ke segala ciptaan, juga dapat membuka pintu kuasa dan harta benda. Bahkan, kepada murid-murid yang dianggap sudah mendekati makrifat diajarkan doa-doa tambahan yang disebut Sindu Sepah, yang juga memuat gagasan doa bernuansa Majusi, yang kira-kira maknanya begini: Eh ... eh ... eh ... Aku Sindung Liwang-liwung / Aku sudah Ada di sini / lautan ramai / hutan kosong / ehek ... ehek ... yang ada aku sendiri //.

Semakin mengetahui ajaran yang disampaikan Hasan Ali, semakin sadarlah Raden Sahid jika makhluk dekil bernama Hasan Ali itu sangat tidak pantas menggunakan nama masyhur Syaikh Lemah Abang. Sebab, segala apa yang diajarkan Hasan Ali pada dasarnya jauh lebih berbahaya dan lebih gampang menyesatkan manusia dibanding yang diajarkan para guru batiniah di dukuh-dukuh Lemah Abang. Namun demikian, karena ia sudah diberitahu oleh mertuanya tentang akan munculnya bayangan hitam Syaikh Lemah Abang yang bakal menyesatkan umat, maka ia tidak berkata sesuatu pun tentang kepalsuan sosok Hasan Ali yang menggunakan nama Syaikh Lemah Abang itu. Ia merasa wajib untuk diam. Diam. Seribu kali diam, sebagaimana amanat terakhir sang mertua. Di tengah kemuakannya dengan sosok Hasan Ali, yang menuhankan diri itu, ia hanya menggumam dalam hati: memang, bayangan selalu lebih hitam dari wujud aslinya.

Belum hilang muaknya terhadap sosok Hasan Ali, Syaikh Lemah Abang gadungan, Raden Sahid mendapat kabar yang tak kalah mengejutkan saat berada di Pamotan menemui sahabat karibnya, Raden Qasim yang menjadi guru suci. Menurut Raden Qasim, di sejumlah dukuh di pedalaman telah muncul seorang guru suci bernama Syaikh Siti Jenar yang memiliki nama asli San Ali Anshar. Dia adalah guru ruhani Hasan Ali, San Ali Anshar mendirikan dukuh-dukuh Siti Jenar, Kajenar, dan Kamuning tidak jauh dari dukuh-dukuh yang pernah didirikan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di dukuh-dukuh itulah ia mengajarkan tarekat ganjil yang campur aduk dengan ilmu ketabiban, ilmu sihir, dan ilmu kanuragan.

Mendengar nama San Ali Anshar, Raden Sahid merasa jantungnya berdegup-degup dan darahnya terpompa keras. Tak pelak lagi, San Ali Anshar yang dimaksud adalah Ali Anshar al-Isfahany, pengkhianat tengik yang menjadi penyebab kehancuran keluarga istrinya. Dan kini, makhluk rendah itu semakin menjadi-jadi kejahatannya dengan mengaku-aku sebagai Syaikh Siti Jenar. Tidak mungkin tidak, penganut ajaran Rawandi yang dibangsakan kepada Hakim bin Hasyim itu akan merusak nama Syaikh Datuk Abdul Jalil, katanya dalam hati.

Raden Qasim yang mengetahui bagaimana gejolak perasaan dan kecamuk pikiran sahabat karibnya itu membiarkan Raden Sahid menenangkan diri. Setelah suasana dirasa mereda, dia berkata, “Aku diam-diam sudah pergi ke dukuh Kajenar di Negeri Daha dengan menyamar sebagai pedagang kain. Aku berguru kepada San Ali Anshar yang dipuja seperti dewa oleh pengikut-pengikutnya. Dia mengajarkan macam-macam ilmu, terutama sejenis sihir yang disebut gendam, yaitu ilmu yang dapat mempengaruhi kesadaran orang seorang. Semua muridnya seperti tersihir kekuatan dahsyat sehingga selalu mematuhi semua titahnya.”

“Ilmu Gendam?” gumam Raden Sahid seolah mengingat-ingat, “Aku tiba-tiba teringat nama Gendam Smaradahana, penjahat yang telah mempermalukan Yang Dipertuan Terung.”

“Tepat sekali. Memang ada keterkaitan antara ilmu gendam yang diajarkan San Ali Anshar dan Gendam Smaradahana. Sebab, manusia bernama Gendam Smaradahana itu adalah murid San Ali Anshar. Dia sering membuat kisruh di berbagai tempat karena kegemarannya menggoda anak dan istri pejabat-pejabat kerajaan. Waktu aku di Daha, dia sedang dicari-cari oleh Adipati Panjer karena membawa lari selirnya.”

“Apakah Yang Dipertuan Terung sudah mengetahui kabar itu?”

“Sudah. Aku langsung menemuinya di Kraton Majahapit di Wirasabha. Sekarang ini pembunuh-pembunuh yang dikirim oleh murid ayahandaku itu sedang memburu Gendam Smaradahana,” papar Raden Qasim sambil menjelaskan bahwa semua ajaran yang disampaikan San Ali Anshar sangat bertolak belakang dengan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil. “Kalau Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan Sasyahidan kepada para murid yang menduduki maqam ‘ahli kasyaf’ dan penemu (ahl al-kasyf wa al-wujud) agar dalam pendakian ruhani mencapai maqam Kesatuan Penyaksian (wahdat asy-syuhud), San Ali Anshar justru mengajarkan kepada murid-muridnya yang paling baru sekalipun tentang Kesatuan Wujud (wahdat al-wujud). Dia sangat terbuka membabar Kesatuan Wujud. Selama membabar rahasia Kesatuan Wujud itu, jelas sekali dia hanya ingin memamerkan kehebatan nalarnya. Sebab, sewaktu aku melihat dengan pandangan mata batin ternyata dia itu hanya pintar berbicara dan beradu hujjah. Pengalaman ruhaninya sangat rendah dan dangkal diliputi pamrih-pamrih duniawi. Keganjilan-keganjilan perbuatan ajaib yang dipertontonkannya semata-mata dari ilmu sihir,” ujar Raden Qasim.

“Apakah dia mengajarkan tentang Tuhan yang menjelma dalam wujud manusia?” tanya Raden Sahid.

“Setahuku, ajarannya tidak jelas benar. Satu saat dia mengajarkan bahwa manusia adalah jelmaan Tuhan sehingga saat dicipta malaikat-malaikat disuruh bersujud. Setelah itu, dia mengajarkan bahwa sifat Ilahiyyah yang ada pada diri para utusan Tuhan (rasul) menitis dari satu rasul ke rasul yang lain. Lantaran San Ali Anshar mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw., maka ia menyatakan mewarisi sifat Ilahiyyah Nabi Muhammad Saw. tetapi yang aneh, dia mengajarkan pula keyakinan tentang avatar, yaitu titisan Wisynu. Ia mengaku sebagai titisan Wisynu wakil Tripurusa (Brahma-Wisynu-Syiwa) di dunia. Karena di Daha banyak pengikut Waishnawa, dan dia berkali-kali mempertunjukkan kehebatan ilmu sihirnya, maka dia diyakini pengikutnya sebagai titisan Wisynu. Sebab itu, dukuh Kajenar yang dijadikannya tempat membabar ilmu batiniah itu dinamai Wrendawana, yaitu kediaman Wisynu bersama para gopi pengikutnya.”

“Yang sangat membingungkan aku, dia mengajarkan dzikir berjamaah kepada pengikut-pengikutnya. Aku katakan bingung, sebab, pertama-tama, Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak pernah mengajarkan awrad seperti itu. Kedua, dzikir berjama’ah itu dilakukan bersama-sama antara jama’ah laki-laki dan perempuan. Semua berteriak-teriak seperti orang kesurupan dan banyak yang pingsan. Bahkan yang nyaris tidak aku mengerti, dzikir berjamaah itu dilakukan di makam Syaikh Syamsuddin ar-Rumi,” ujar Raden Qasim.

“Sungguh berbahaya tindakan guru-murid itu. Mereka bukan hanya merusak nama baik Syaikh Datuk Abdul Jalil, melainkan akan menyesatkan banyak manusia,” kata Raden Sahid.

“Lantaran itu, orang-orang Giri Kedhaton menyebut jalan ruhani (suluk) yang diajarkan Hasan Ali dan San Ali Anshar itu dengan nama ejekan: Suluk Malang Sungsang, ajaran perjalanan ruhani (tarekat) yang mengakibatkan sang salik makin terhijab dan terjungkir kiblatnya dari Kebenaran Sejati yang dituju,” kata Raden Qasim.

“Itu mewajibkan kita untuk mengambil tindakan pencegahan agar benih-benih Tauhid yang telah disebar Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak terkotori oleh bid’ah-bid’ah yang disebar dua makhluk sesat itu, sebagaimana tanaman padi di sawah dirambati semak-semak,” kata Raden Sahid.

“Bukankah kita semua diperintahkan untuk diam oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil?”

“Maksudku, kita tidak perlu mengurusi San Ali Anshar dan Hasan Ali dalam hal ini. Kita hanya akan mengurusi pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil yang tersisa dan sebagian besar malah menyembunyikan jati dirinya. Saat aku berkeliling ke sejumlah dukuh Lemah Abang, banyak orang yang tidak berhak mengajar telah lancang mengajar karena mengikuti nafsunya sehingga ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil menjadi kabur karena tercampurnya pengetahuan ruhani (tarekat) dengan ilmu perdukunan,” kata Raden Sahid.

“Caranya bagaimana?” tanya Raden Qasim.

“Kita harus menghubungi semua pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka harus kita ingatkan bahwa melarikan diri dari kenyataan hidup adalah sesuatu yang paling dibenci Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka harus mulai mengajarkan pengetahuan ruhani kepada yang berhak dan tidak hanya diperuntukkan bagi keluarganya sendiri. Saat mereka mengajar itulah, guru-guru batiniah yang mengaku pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil kita minta untuk belajar kepada mereka yang jelas-jelas memiliki kewenangan untuk mengajar. Jika ada yang menolak, kita maklumkan bahwa mereka itu bukan penerus ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil,” kata Raden Sahid.

“Berarti nanti akan ada penjenjangan untuk memilahkan siapa yang mengajar apa?”

“Itu sudah pasti.”

“Ukuran untuk menentukan jenjang apakah cukup dengan bashirah?”

“Tentu saja. Bukankah itu ukuran yang tidak bisa direkayasa?”