Titah Sang Naga Hitam

Bagi kebanyakan penguasa di pesisir Nusa Jawa, Tranggana selalu dikesankan sebagai orang yang suka mengumbar kesenangan, sembrono, kurang cerdas, kasar, gampang naik darah, dan telengas. Namun, bagi yang cermat mengamati tindakan-tindakan yang dilakukannya selama ia menggantikan kedudukan ayahanda dan kakaknya sebagai sultan, sekalipun hanya berkedudukan sebagai penguasa keagamaan, mereka melihat kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, baik dalam hal mengorganisasi kekuatan-kekuatan pendukung, memecah belah kekuatan-kekuatan penentang, menggalang dukungan, bahkan menahan kesabaran untuk tidak bertindak di saat menguntungkan sampai benar-benar terbukti bahwa tindakannya itu dapat membawa kemenangan. Dengan kelebihan-kelebihannya itu, di tengah persaingan kuasa dan wibawa dengan saudara iparnya, Adipati Hunus, ia selalu berhati-hati dalam bertindak. Ia tidak ingin kelengahannya dimanfaatkan oleh pesaingnya. Lantaran itu, saat alim ulama pendukungnya berniat membunuh semua pengungsi asal Persia yang dituduh kaum bid’ah, ia justru melarangnya. Ia tidak ingin pesaingnya mengambil manfaat dengan menjadi pelindung bagi pengungsi-pengungsi malang itu. Bahkan, untuk menghadang langkah pesaingnya, ia memberikan wewenang kepada Susuhunan Udung, imam Masjid Agung Demak, salah seorang anggota Majelis Wali Songo yang menjadi penasihat ruhani keluarganya, untuk memberikan perlindungan kepada para pengungsi asal Persia. Penunjukan itu penting sebab yang mengangkat Susuhunan Udung sebagai imam masjid adalah Adipati Hunus.

Selain alasan tidak ingin memberi peluang kepada pesaingnya dalam hal pengungsi asal Persia, Tranggana tampaknya sadar bahwa ia tidak boleh membiarkan alim ulama asal Khanat Bukhara, Samarkand, Kerala, Ferghana, Afghan, dan Malaka yang mendukungnya memiliki kekuasaan lebih daripada alim ulama asal Persia dan Goa yang selama itu kurang berperan. Ia tidak ingin kelompok alim ulamanya memiliki pengaruh kuat melebihi kekuasaannya. Ia sengaja membentuk kelompok lain dari alim ulama yang berpaham Syi’ah dengan dukungan para alim asal Persia dan Goa. Dengan tindakan itu, ia akan beroleh dukungan dari tiga kelompok alim ulama, yaitu Majelis Wali Songo, alim ulama Sunni dan alim ulama Syi’ah.

Dengan kebijakan berdiri di atas dukungan tiga pilar keagamaan itu, kekuatan yang ditata Tranggana terbukti jauh lebih kuat dibanding pesaingnya, Adipati Hunus. Sebab, di samping alim ulama Sunni dan Syi’ah yang setia mengabdi laksana kesetiaan dan pengabdian Karna kepada Duryudana, anggota-anggota Majelis Wali Songo yang tidak lain dan tidak bukan adalah kerabatnya telah menaikkan wibawanya di mata penduduk yang menganggap para anggota Wali Songo itu sebagai sahabat-sahabat Tuhan. Jika citra yang memancar selama masa awal kesultanan Demak didirikan adalah bias dari Suryya Majapahit, amak di saat Tranggana naik takhta citra itu bertambah gemilang dengan kenyataan yang menunjuk bahwa sultan Demak adalah kerabat Wali Songo.

Pangeran Dalem Timur, pengganti Susuhunan Giri Kedhaton, yang merupakan sahabat karibnya, sesungguhnya adalah saudara sepupunya karena ibundanya dan ibunda Pangeran Dalem Timur adalah kakak beradik, putera Raden Ali Rahmatullah Susuhunan Ampel. Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati adalah besannya. Raden Mahdum Ibrahim Susuhunan Bonang, Raden Ahmad Susuhunan Khatib Ampel Denta, dan Raden Qasim Susuhunan Drajat di Pamotan adalah saudara-saudara dari ibundanya. Raden Usman Haji Susuhunan Udung adalah besan dari pamannya, Raden Kusen, karena Jakfar Shadiq, puteranya, menikahi puteri Yang Dipertuan Terung yang bernama Nyi Mas Ratu Prada Binabar. Syaikh Dara Putih, yang menggantikan kedudukan Syaikh Jumad al-Kubra, adalah saudara lain ibu dari kakeknya. Bahkan Raden Sahid Susuhunan Kalijaga, yang diharapkan dapat membantunya, adalah kerabatnya juga karena Nyi Ageng Manila, neneknya, adalah adik dari Arya Teja, kakek Susuhunan Kalijaga.

Tindakan keras Tranggana terhadap para pengikut Syaikh Lemah Abang sendiri sesungguhnya dilatari oleh kekecewaan berlebih terhadap tindakan saudara tirinya, Pangeran Panggung, murid Syaikh Lemah Abang yang tegas-tegas memihak kepada saingannya, Adipati Hunus. Kekecewaan itu ditambah lagi oleh sikap keras kepala para pemuka dukuh Lemah Abang yang tidak mau diajak bersekutu untuk mendukungnya, meski mereka telah ditawari hadiah-hadiah dan jabatan-jabatan tinggi di kesultanan. Bahkan yang paling ditakutkannya, kebanyakan mereka yang menjadi murid Syaikh Lemah Abang adalah bangsawan-bangsawan Majapahit yang memiliki kemungkinan besar untuk merebut kekuasaan dari tangannya. Untuk yang terakhir ini, ia memang telah terpengaruh oleh pandangan-pandangan alim ulamanya tentang inti kekuatan kekuasaan Sultan Salim yang ditandai oleh pembunuhan terhadap saudara-saudaranya yang dicurigai dapat merebut takhta. Setiap sultan Turki, menurut alim ulamanya, adalah putera tunggal karena ia akan membunuh semua saudaranya yang mungkin dapat merebut kekuasaan darinya.

Berangkat dari hasratnya yang kuat untuk menandingi kekuasaan sultan Turki, diam-diam Tranggana sudah menyiapkan kekuatan-kekuatan pendukung bagi upayanya merebut kuasa dan wibawa sebagai raja jawa sebagaimana leluhurnya yang menjadi maharaja-maharaja Majapahit. Namun, berbeda dengan maharaja-maharaja Majapahit yang mengedepankan kekeluargaan dalam memperkuat takhta, ia justru ingin mengikuti jejak sultan-sultan Turki yang menjadi penguasa tunggal dengan memangkas mereka yang dianggap memiliki potensi merebut kekuasaan. Persaingannya dengan saudara iparnya, Adipati Hunus, adalah bukti tentang betapa pentingnya pandangan penguasa Turki itu diterapkan dalam kekuasaan yang bakal dipegangnya. Lantaran itu, ia harus menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan yang telah digalangnya, sampai Adipati Hunus yang sudah sakit-sakitan itu mati.

Selama menahan dengan kesabaran berlalunya sang waktu, Tranggana bukan berdiam diri tidak melakukan sesuatu. Ia justru melakukan hal-hal yang dinilainya dapat mempercepat kedatangan Sang Maut ke Japara untuk mencabut nyawa saingannya. Saat ia mendengar Adipati Hunus jatuh sakit, ia diam-diam memerintahkan alim ulamanya untuk menggempur Kadipaten Pati di bawah pimpinan Raden Darmakusuma. Terbunuhnya Adipati Kayu Bralit II, sahabat dekat Adipati Hunus, terbukti semakin memperparah sakit Yang Dipertuan Japara. Tak lama setelah itu, ia mengirim utusan ke Japara meminta perkenan Adipati Hunus menggunakan tenaga Khwaja Zainal Abidin untuk memperkuat kapal-kapal Demak yang akan dilengkapi dengan lapis besi dan meriam. Lalu, seiring kembalinya Khwaja Zainal ke Demak, tersiar kabar bahwa Yang Dipertuan Japara makin parah sakitnya dan beberapa kali tidak sadarkan diri.

Sementara, untuk mengambil simpati para pemuka dukuh Lemah Abang, Tranggana melalui Syarif Hidayatullah meminta agar Raden Sahid Syaikh Malaya yang tinggal di Kalijaga berkenan membantunya menyelesaikan masalah dengan para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Meski Tranggana tidak mengetahui jika Syaikh Malaya adalah menantu Syaikh Datuk Abdul Jalil, ia meyakini penjelasan Syarif Hidayatullah bahwa guru suci dari Kalijaga itu memiliki pengaruh kuat di kalangan pengikut tokoh yang membukan dukuh-dukuh Lemah Abang. Lantaran itu, saat Syaikh Malaya datang ke Demak, Tranggana menyambut sendiri kedatangannya sebagai orang suci dan menganugerahinya tanah perdikan di Kadilangu.

Tranggana tidak mengetahui jika selama itu guru suci yang dikenal dengan nama Syaikh Malaya yang tinggal di Kalijaga itu telah berkeliling di wilayah kekuasaannya dengan menyamar sebagai penjual rumput atau dalang wayang. Lantaran itu, ia sangat heran dan takjub dengan pengetahuan sang guru suci tentang keadaan di wilayah kekuasaannya, termasuk kebijakan-kebijakannya yang tidak disukai penduduk. Tranggana bahkan menganggap sang guru suci sebagai wwang linuwih kang weruh sadurunge winarah (manusia berkelebihan yang mengetahui sesuatu sebelum dibicarakan). Untuk mengikat tali kekeluargaan dengan guru suci yang menjadi buah bibir penduduk itu, Tranggana menikahi puteri sulungnya yang bernama Nyi Mas Ratu Mandapa.

Siasat Tranggana mengikat tali kekeluargaan dengan guru suci dari Kalijaga itu terbukti membawa hasil luar biasa. Pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil yang selama itu sangat memusuhinya dapat diredam oleh mertuanya, Susuhunan Kalijaga. Banyak dukuh Lemah Abang yang sekalipun tidak mau tunduk kepada sultan Demak, menyatakan tunduk di bawah bimbingan Susuhunan Kalijaga. Hubungan baik dengan penguasa Pengging yang selama itu renggang menjadi rapat ketika Pangeran Kebo Kenanga, putera mahkota Pengging, menikah dengan puteri Susuhunan Kalijaga yang bungsu, Nyi Mas Ratu Cempaka. Ikatan kekeluargaan Demak dengan Pengging semakin rapat dari pernikahan tersebut, karena Ratu Adi Ibunda Pangeran Kebo Kenanga adalah saudara ayahanda Tranggana. Tranggana benar-benar mendapatkan manfaat besar dengan kehadiran Susuhunan Kalijaga yang menjadi mertuanya itu. Namun demikian, ia merasa kurang puas karena sang mertua selalu tidak berada di kediaman meski telah dibangunkan rumah yang besar dan megah di Kadilangu. Tranggana selalu melihat sang mertua seolah seekor burung yang lebih suka terbang bebas di angkasa, meski telah disediakan sangkar emas.

Sementara, selama menunggu dengan sabar datangnya waktu yang tepat untuk merebut kuasa dan wibawa warisan ayahandanya, rupanya Tranggana semakin tunduk dan tidak berdaya menghadapi titah dari ular hitam yang bersarang di dalam relung jiwanya. Hari-hari hidupnya dilewati dengan mematuhi semua titah sang ular hitam yang bergelung dengan kepala mendongak ke atas. Setelah tahun-tahun berlalu dan langkah demi langkah dilaluinya dengan mematuhi titah sang ular, sampai ia merasa telah semakin tinggi mendaki puncak gunung kekuasaan, sang ular hitam telah tumbuh meraksasa menjadi naga hitam mengerikan. Dengan mata menyala laksana bara api, sang naga hitam menggeram-geram di pedalaman jiwa Tranggana seolah ingin menyemburkan api dari mulutnya untuk membakar dunia.

Setelah bertahun-tahun menunggu dengan sabar, datanglah kabar menggembirakan yang sangat diharapkan Tranggana: Adipati Hunus Sinuhun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang mangkat setelah menderita sakit tak tersembuhkan. Tranggana tertawa terbahak-bahak dalam hati ketika semua orang meratapi kepergian pahlawan gagah berani tersebut. Namun, tawa gembiranya itu tidak berlangsung lama sebab kesabarannya masih harus diuji lagi. Hal itu ia sadari tidak lama setelah pemakaman Adipati Hunus, ia tidak sedikit pun mendengar selentingan kabar tentang adanya rencana para adipati pesisir untuk berkumpul menentukan pengganti almarhum. Itu berarti, ia masih dituntut untuk menahan sabar menunggu sikap para adipati. Sementara berdasar kasak-kusuk yang menebar, Tranggana mengetahui jika para adipati pesisir sesungguhnya tidak melihat sosok lain yang memenuhi syarat memimpin persekututan setelah kematian Adipati Hunus selain dirinya. Namun, mereka tidak ingin ia menjadi pemimpin karena ia adalah manusia berdarah dingin yang menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan. Para adipati pesisir memilih diam sambil menunggu tindakan apa yang bakal dilakukan Tranggana setelah kematian pesaingnya itu.

Mengetahui sikap menunggu para adipati pesisir itu, Tranggana tetap menahan sabar dan menunggu. Namun, sebagaimana yang dilakukannya selama ini, ia tidaklah diam dan menunggu dengan pasif. Ia diam-diam selalu mengambil tindakan-tindakan yang sangat hati-hati yang berujung pada penguatan citra dirinya sebagai sultan yang berkuasa atas Nusa Jawa. Lantaran itu, sepekan setelah pemakaman Adipati Hunus, ia memaklumkan putera sulungnya, Pangeran Sabakingking, sebagai adipati Japara menggantikan Adipati Hunus. Meski kekuasaan Pangeran Sabakingking hanya sebatas Kadipaten Japara, pengangkatan tersebut melambangkan betapa kekuasaan duniawi telah digenggam sebagian oleh Tranggana. Pangeran Sabakingking akan menjadi penopang baru bagi kekuasaan Tranggana yang sudah didukung penguasa Pati, Sumenep, Sengguruh, Pasir, Samarang, dan Caruban. Dalam waktu yang berurutan, Tranggana memaklumkan pula bahwa putera keduanya, Pangeran Ratu, akan menggantikan kedudukannya sebagai sayidin panatagama, yang ditandai dengan pengangkatannya sebagai penguasa pesanggrahan sultan di gunung Prawata yang terletak di tenggara kuta Demak.

Sepintas, pengangkatan Pangeran Sabakingking sebagai adipati Japara merupakan langkah yang tepat untuk memperkuat kekuasaan Tranggana dan sekaligus melambangkan kekuasaan adipati telah digenggamnya. Namun, di balik pengangkatan itu, Pangeran Ratu, ternyata memendam ketidakpuasan karena dia ditempatkan sebagai pemimpin keagamaan (sayidin panatagama), yang dia ketahui telah membuat ayahandanya sangat menderita. Dia merasa tidak puas karena siapa pun di lingkungan keluarga sultan mengetahui bahwa di antara putera-putera sultan, hanya Pangeran Ratulah yang paling cerdas dan memiliki bakat dalam mengatur pemerintahan. Tampaknya, ketidakpuasan putera kedua Tranggana itu telah memunculkan ular hitam lain dari kedalaman jiwanya, yang menggeliat dan mendongakkan kepala karena melihat bayangan dirinya yang akan menjelma dalam bentuk naga hitam raksasa.

Sepekan setelah pengukuhan Pangeran Sabakingking, Tranggana memaklumkan penggantian jabatan imam Masjid Agung Demak dari Raden Usman Haji Susuhunan Udung kepada puteranya, Jakfar Shadiq. Meski usia Susuhunan Udung belum terlalu tua dan putera yang menggantikannya masih terlalu muda, penggantian itu sangat menentukan citra diri Tranggana sebagai penguasa baru, karena semua orang mafhum bahwa yang mengangkat Susuhunan Udung sebagai imam Masjid Agung Demak adalah Adipati Hunus. Dengan penggantian imam Masjid Agung Demak tersebut, Tranggana semakin menunjukkan kuasa dan wibawanya sebagai sultan yang memiliki kekuasaan duniawi sekaligus keagamaan.

Dengan digantikannya kedudukan Susuhunan Udung sebagai imam Masjid Agung Demak, bukan berarti putera Khalifah Husein itu tidak memiliki jabatan lagi. Sebab, Susuhunan Udung yang telah menjadi penasihat ruhani keluarga sultan dan diserahi tugas melindungi para pengungsi Syi’ah asal Persia, diberi kepercayaan oleh Tranggana untuk menduduki jabatan baru sebagai senapati Suranata: panglima pasukan bertombak yang mengawal sultan. Dengan adanya jabatan baru yang disebut Senapati Suranata tersebut maka seluruh satuan bersenjata yang dipimpin alim ulama Demak telah disatukan oleh Tranggana di bawah komando sang senapati.

Pengangkatan Susuhunan Udung sebagai senapati Suranata mengherankan dan sekaligus mengkhawatirkan para adipati pesisir, terutama dari keluarga Orob. Semua tahu bahwa Susuhunan Udung adalah seorang guru suci yang memiliki pengetahuan mendalam di bidang keagamaan. Selama bertahun-tahun menjadi anggota Majelis Wali Songo dan menduduki jabatan imam Masjid Agung Demak serta penasihat ruhani keluarga sultan, tidak sedikit pun ia diketahui memiliki keunggulan di bidang kemiliteran. Anehnya, Tranggana justru mengangkat alim ulama yang saleh itu menjadi senapati.

Tranggana tampaknya mengetahui kekhawatiran para adipati pesisir yang menduga ia akan memanfaatkan keberadaan Susuhunan Udung sebagai ujung tombak dalam memperkuat kuasa dan wibawanya selaku sultan. Lantaran itu, ia tetap berusaha sabar menunggu dan tidak menampakkan hasratnya untuk menggerakkan kekuatan bersenjata yang dipercayakannya kepada Susuhunan Udung. Ia sudah merasa cukup memberi perlambang kepada para adipati pesisir bahwa jabatan adipati dan senapati sesungguhnya telah ia pegang dan ia serahkan kepada orang kepercayaannya. Untuk menunjukkan kekuasaannya sebagai penguasa keagamaan yang juga memiliki kekuasaan duniawi, Tranggana dengan terbuka melakukan peningkatan mutu pasukan Suranata melalui penambahan jumlah prajurit berkuda, dan yang tak kalah penting adalah penanaman kefanatikan para prajurit bahwa mereka adalah tentara Allah (jundullah) yang memiliki tugas utama melindungi agama dan membersihkannya dari bid’ah.

Tranggana sendiri kelihatannya sangat bangga dengan pasukan Suranata yang sudah menunjukkan kesetiaan tinggi terhadapnya. Keberhasilan-keberhasilan pasukan bertombak itu dalam menjalankan tugasnya makin meningkatkan kecintaannya kepada pasukan tersebut. Kegagahan pasukan Suranata saat menumpas para penganut bid’ah di dukuh-dukuh Lemah Abang dan Randu Sanga adalah bukti tak tersanggah dari keperkasaan sebuah pasukan kaum beriman. Pasukan yang anggota-anggotanya terdiri atas petani, pedagang kecil, perajin, tukang, penyadap enau, dan kuli geladak itu telah menunjukkan kehebatan mereka ketika memporak-porandakan Kadipaten Pati yang mengakibatkan tewasnya Kayu Bralit II, sang adipati. Kini, pasukan itu sedang ditingkatkan ketrampilan dan perlengkapan tempurnya dan diharapkan setara dengan pasukan kadipaten lain. Seiring peningkatan mutu pasukan tersebut, Tranggana tampak sekali sudah tidak dapat menahan hasrat untuk menggunakan pasukannya. Ia merasa, betapa setelah bersabar menunggu sekian lama, sudah waktunya ia memamerkan kekuatan yang selama ini digalangnya. Ia ingin menunjukkan kepada para adipati pesisir yang sudah merendahkannya bahwa ia setiap waktu dapat menciptakan kebinasaan seperti di Kadipaten Pati. Ia ingin menunjukkan bahwa kalau mau ia akan dapat mengganti kedudukan siapa pun adipati yang tidak dikehendakinya.

Tranggana adalah Tranggana. Sekalipun ia memiliki kecenderungan untuk meledakkan kemarahan, ia selalu dapat berpikir jernih ketika akan mengambil keputusan akhir. Di tengah amarah dan keinginannya untuk pamer kekuaran senjata dan menghukum para adipati pesisir, ternyata ia masih dapat menahan diri untuk tidak buru-buru mewujudkannya dalam kenyataan. Ia sadar, menciptakan kebinasaan seperti di Kadipaten Pati akan memakan waktu lama dan jalan panjang yang berliku-liku, bahkan sangat mungkin bisa memunculkan serangan balik yang dilakukan bersama-sama oleh para adipati. Ia sadar, cara lain untuk menundukkan kepongahan adipati-adipati pesisir yang tegar tengkuk itu masih terbuka. Salah satunya: menaklukkan kekuasaan tua bangka yang sedang sekarat, Majapahit. Ya, para adipati pesisir yang hampir semua – kecuali keluarga Orob – mengaku keturunan Majapahit, tentu akan tunduk menyembah di bawah telapak kakiku, jika takhta Majapahit berada di dalam genggamanku, kata Tranggana dalam hati.

Selama menunggu, Tranggana memang telah berpikir tentang kurang kuatnya pilar kekuasaan Demak yang hanya didukung adipati-adipati pesisir yang beragama Islam. Adipati-adipati di pedalaman yang lazimnya masih menganut kepercayaan lama enggan masuk ke dalam persekutuan. Mereka masih merasa sebagai bagian dari kekuasaan Majapahit. Bahkan, para adipati pesisir pun masih bangga mengaku-aku trah Majapahit. Tranggana mendapati kenyataan bahwa kuatnya Majapahit bertahan – terutama Patih Mahodara dan sekutunya – lebih dikarenakan penguasaan atas pusaka-pusaka kerajaan. Ya, pusaka-pusaka kerajaan sebagai bagian dari lambang kekuasaan seorang ratu masih kuat mencekam ingatan semua orang, sehingga mereka yang memegang pusaka-pusakalah yang bakal diakui keabsahan kuasa dan wibawanya. Bahkan Raden Kusen Adipati Terung, paman Tranggana yang menyimpan keris Naga Sasra peninggalan Prabu Kertawijaya, diyakini masyarakat sebagai pembawa sebagian kuasa dan wibawa Majapahit.

Sebagai seorang pangeran keturunan Majapahit, Tranggana mengetahui sejumlah nama pusaka yang dianggap sebagai penopang kuasa dan wibawa Majapahit. Dari ayahanda, paman, kerabat, dan para empu pembuat pusaka, ia mengetahui jika kuasa dan wibawa Majapahit di bawah Sri Surawiryawangsaja yang bertakhta di Daha ditopang oleh tiga pusaka utama, yaitu Sang Kalacakra, Sangkelat, Kyayi Carubwuk. Yang disebut Sang Kalacakra adalah pusaka yang dibuat dari emas berbentuk bulat pipih dihias rajah-rajah berkekuatan gaib mengikuti delapan penjuru mata angin. Pusaka Sang Kalacakra melambangkan penguasaan atas waktu dan diyakini dapat menolak segala marabahaya melalui sarana delapan kata rahasia yang dibaca terbalik-balik: Yamaraja – Yamarani – Yamidora – Yamidosa – Yasihama – Yasilapa – Yasiyaca – Yadayuda. Pusaka Sang Kalacakra inilah yang oleh kalangan penduduk muslim disebut dengan nama Kala Munyeng (putaran waktu). Sedang yang disebut Sangkelat adalah pusaka yang diyakini dapat mengeluarkan makhluk berkekuatan luar biasa yang selalu membantu pemilik pusaka. Sementara yang disebut Kyayi Carubwuk adalah pusaka yang dibuat dari lima jenis logam campuran dan dibalur dengan tujuh jenis racun yang tidak ada penangkalnya. Tiga pusaka itulah yang harus berada di dalam genggaman Tranggana agar ia dapat berkuasa atas seluruh Yawadwipamandala.

Gagasan Tranggana untuk menyerang Majapahit ternyata mendapat sambutan gegap gempita dari alim ulama pendukungnya, meski alasan masing-masing saling berbeda. Para alim yang sudah sering mendengar kisah kebesaran kerajaan kafir itu tidak dapat lagi menahan sabar untuk tidak membasmi segala bentuk kemusyrikan yang masih berlangsung di kerajaan tua itu. Mereka mendesak Tranggana untuk secepatnya mewujudkan gagasan tersebut dalam kenyataan. Mereka bahkan menyatakan dengan terbuka bahwa di antara sekian banyak kebijakan Tranggana selama menjadi sultan, hanya kebijakan menundukkan kerajaan kafir itu saja yang paling agung dan diridhai Allah. Dengan menunjukkan keunggulan, kegagahan, keberanian, dan kehebatan prajurit-prajurit Suranata, mereka meyakinkan Tranggana bahwa masalah penaklukan Majapahit sesungguhnya bukan sesuatu yang sulit. Ibarat membalikkan telapak tangan, begitulah Majapahit yang terkucil di tengah penduduk yang sudah muslim itu akan mudah ditaklukkan.

Tranggana yang sudah diamuk nafsu berkuasa tentu tidak menampik usulan-usulan alim ulama pendukungnya. Ia telah memutuskan untuk mewujudkan hasratnya menaklukkan Majapahit. Ia sangat yakin bahwa menaklukkan kerajaan tua yang sudah terkucil di pedalaman memang bukan hal sulit. Ia tampaknya telah lupa pada peristiwa pahit yang terjadi barang sewindu silam, ketika pasukan Majapahit menyerang dengan gagah tak terlawan oleh pasukan Suranata dan bahkan meluluh-lantakkan kuta Juwana. Ia benar-benar sudah tersilap oleh ambisi, hasutan, dan bualan alim ulama pendukungnya yang dibutakan oleh kemenangan-kemenangan dan dalil-dalil agama yang mereka tafsir-tafsir sendiri.

Di tengah kesibukannya mempersiapkan gempuran ke Majapahit, Tranggana tiba-tiba didatangi Raden Sahid Susuhunan Kalijaga, mertuanya. Dengan pandangan seorang arif, Raden Sahid mengingatkan menantunya agar membatalkan serangan ke Majapahit. Selain mengingatkan tentang kehancuran Juwana sewindu silam, Raden Sahid juga mengingatkan bahwa setangguh apa pun pasukan Suranata yang dibangga-banggakan itu, hendaknya tetap diingat bahwa mereka sebagian besar bukanlah prajurit-prajurit yang lahir dari keluarga prajurit. “Anggota-anggota pasukan Suranata hampir seluruhnya berasal dari kalangan petani, tukang, perajin, penyadap enau, kuli geladak. Jiwa mereka tentu tidak akan setangguh jiwa prajurit yang memang berdarah prajurit. Semangat juang mereka pun digantungkan semata-mata pada jimat-jimat, rajah, haekal, wafak, dan tosan aji. Sementara, para alim asal negeri atas angin yang memimpin mereka juga bukan orang-orang tangguh yang memiliki nyali dan ketabahan di medan laga. Mereka adalah para pecundang yang lari menghindari kenyataan pahit di negerinya. “Seibarat ayam jago kampung, dilatih setangguh apa pun jika tidak memiliki trah ayam aduan pastilah sang ayam kampung akan kalah jika berlaga melawan ayam aduan,” kata Raden Sahid.

“Ananda akan pusakakan petunjuk Ramanda Susuhunan,” kata Tranggana takzim.

“Di samping itu, penunjukan saudaraku Susuhunan Udung sebagai senapati sungguh sangat rawan karena hal itu bersangkut-paut dengan citra Majelis Wali Songo, apalagi sekarang malah diperintahkan menyerang Majapahit. Aku sangat yakin akan cepat berkembang pandangan penduduk bahwa Majelis Wali Songo sudah berubah menjadi lembaga keagamaan yang dibayar dan tunduk di bawah perintah sultan Demak. Hal itu tidak saja akan berpengaruh pada keberadaan Majelis Wali Songo, melainkan akan mempengaruhi kedudukan ananda sendiri. Jika selama ini semua tunduk dan patuh pada Majelis Wali Songo maka saat lembaga itu jatuh di bawah kaki sultan, semua orang akan merendahkannya dan sekaligus berani menentang sultan. Bukankah sikap para adipati pesisir selama ini sangat memuliakan Wali Songo tetapi kurang menghormati sultan? Dan di atas semua itu, hal penting yang hendaknya ananda pertimbangkan, betapa sesungguhnya pengaruh Patih Mahodara masih sangat kuat di pedalaman. Hendaknya ananda jangan meremehkan orang tua yang sudah puluhan tahun malang melintang mengendalikan kekuasaan Majapahit.”

Tranggana menerima baik saran dan nasihat dari Raden Sahid. Ia memutuskan untuk menunda penyerangan. Selama penundaan itu, ia memerintahkan untuk menempa lebih kuat lagi pasukan Suranata yang akan dikirimnya ke Majapahit, baik dalam ha kemampuan tempur maupun peralatan yang digunakan. Ia berharap, dengan menunjukkan keseriusannya membangun kekuatan militer, tidak saja para adipati pesisir akan secepatnya mengambil sikap untuk menentukan pilihan pemimpin persekutuan, tetapi juga untuk membuktikan kepada mertuanya bahwa pasukannya dapat setangguh pasukan Majapahit. Ia ingin menunjukkan bahwa pasukan Suranata yang dibanggakannya itu dapat menjadi “ayam aduan” yang tangguh dan tak gampang dikalahkan.

Ketika hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu tanpa melihat adanya gelagat bahwa para adipati pesisir akan berkumpul untuk memilih sultan baru sebagai pemimpin persekutuan, kesabaran Tranggana pun akhirnya pupus. Setelah menunggu dalam kurun dua tahun lebih, Tranggana tidak dapat lagi menahan kesabaran. Naga hitam yang menguasai jiwanya menggeliat dan menyemburkan api dari mulutnya hingga membuat darah di seluruh jaringan tubuhnya mendidih. Sang naga hitam benar-benar sudah murka. Dengan raungan dahsyat yang mengguncang cakrawala jiwa, ia menitahkan Tranggana agar mematahkan leher makhluk-makhluk dekil yang tegar tengkuk supaya mereka semua menunduk di hadapan duli kuasanya. Ia menitahkan Tranggana untuk mematahkan punggung makhluk-makhluk pongah lurus punggung itu supaya mereka membongkok di depan takhtanya. Ia menitahkan Tranggana untuk mematahkan kedua lutut mereka supaya mereka berlutut di bawah kaki serojanya. Dan ia menitahkan Tranggana untuk menginjak kepala mereka supaya mereka bersujud di bawah telapak kakinya.

Tampaknya, titah sang naga hitam sudah menyilap kesadaran Tranggana. Kesabaran yang selama itu dijadikan tali kendali kuda-kuda nafsunya sudah terlepas dari genggamannya. Ia sudah melupakan segala saran dan nasihat yang pernah disampaikan Raden Sahid, mertua yang dihormatinya. Benaknya benar-benar penuh sesak dengan titah sang naga hitam. Relung-relung pemikirannya telah diliputi kelebatan bayangan-bayangan menakjubkan tentang keberhasilan menundukkan Majapahit, yang dilanjutkan dengan penghukuman terhadap adipati-adipati pesisir yang selama itu sangat merendahkan dan menista dirinya.

Sementara, Raden Sahid yang dengan kearifannya telah menyaksikan bagaimana sesungguhnya Tranggana sudah meringkuk di bawah kuasa sang naga hitam, tidak lagi bersedia mengingatkan menantunya. Ia sadar, tidak ada gunanya lagi mengingatkan manusia yang sudah terjerat oleh jaring-jaring nafsu kekuasaan yang ditebar sang naga hitam. Di samping itu, ia secara tidak sengaja telah bertemu dengan para penghuni purwakala Nusa Jawa yang akan menghadiri undangan pesta darah yang menandai pergantian kekuasaan. Ia menyimpulkan bahwa pertumpahan darah tidak akan dapat dihindari lagi. Lantaran itu, di tengah hiruk kesibukan orang berkemas mempersiapkan penyerangan ke Majapahit, ia justru meninggalkan kediamannya. Ia pergi dengan rasa malu tak terperi karena sepanjang jalan ia menyaksikan alim ulama – wakil al-‘Alim di muka bumi – menepuk dada dengan pongah dan menyatakan akan mengambil alih tugas Izrail mencabut nyawa manusia. Ia malu menyaksikan para alim yang menyeru manusia agar mengikuti agama Keselamatan, tetapi mereka justru menampilkan diri sebagai sosok-sosok yang akan menjadi penyebar ketidakselamatan.

Kepergian Raden Sahid tak pelak lagi menyebabkan Tranggana semakin tanpa kendali. Dengan hanya berpedoman pada dalil-dalil agama dan bualan para alim yang memesona, ia benar-benar talah membulatkan tekad untuk menggempur Majapahit yang dianggapnya sebagai lambang kekuasaan kafir di pedalaman Nusa Jawa. Namun, berbeda dengan alasan sebelumnya, kali ini ia menggunakan dalih utama menyerbu kerajaan tua itu untuk meminta hak kepewarisannya atas takhta Majapahit sebagai peninggalan dari kakeknya, Prabu Kertawijaya. Tranggana menyatakan bahwa ia lebih berhak atas takhta Majapahit dibanding Patih Mahodara yang dari keturunan bangsawan rendahan itu. Demikianlah, dengan keyakinan diri tak tergoyahkan bahwa pasukan yang dikirimnya bakal meraih kemenangan besar, Tranggana melepas pasukan Suranata dengan upacara kebesaran. Beribu-ribu penduduk memenuhi alun-alun dan kanan kiri jalan untuk mengucap selamat kepada pasukan kebanggaan sultan. Mereka mendecak kagum ketika melihat iring-iringan para pejuang gagah yang akan menggempur kerajaan kafir Majapahit.

Kekuatan pasukan Suranata yang dikirim sultan sekitar 5.000 orang ditambah bala bantuan dari Madura 2.000 orang, Udung (Kudus) 1.000 orang, Samarang 1.000 orang, Japara 1.000 orang. Alim ulama yang bergabung mendampingi Senapati Suranata adalah Susuhunan Rajeg, Syaikh Maulana Maghribi, Susuhunan Mantingan, Syaikh Abdullah Sambar Khan, Kyayi Ageng Germi, Kyayi Ageng Medini, Kyayi Ageng Penawangan, Kyayi Ageng Tajug, Kyayi Sun Ging, Kyayi Anom Martani, dan Raden Ketib Anom Maranggi. Sebagaimana Tranggana, seluruh pasukan sangat yakin mereka akan meraih kemenangan, karena hampir setiap anggota pasukan telah melengkapi diri dengan jimat, rajah, haekal, dan wafak. Keyakinan akan menang itu semakin menguat manakala mereka diberi tahu bahwa Senapati Suranata Susuhunan Udung melengkapi diri dengan jubah Antakusuma, pusaka pemberian Nabi Muhammad Saw. dari langit yang tidak dapat ditembus segala jenis senjata.

Keyakinan berlebihan Tranggana dan seluruh anggota pasukan yang akan menyerbu Majapahit sesungguhnya tidak lepas dari kepandaian para alim dalam meyakinkan kehebatan tentara Allah yang bertugas membasmi kebatilan dari muka bumi. Bualan-bualan, rajah, jimat, haekal, wafak, hizb, tosan aji, sampai dalil-dalil Al-Qur’an yang mereka berikan benar-benar telah membutakan semua orang terhadap kenyataan. Bukan hanya Tranggana, para prajurit paling rendah pun sangat yakin mereka akan secepat angin mematahkan kekuatan kaum kafir Majapahit dan kemudian memporak-porandakan sarang yang penuh disesaki kemusyrikan. Namun, beda keyakinan beda pula kenyataan. Ternyata segala bualan, jimat, rajah, haekal, wafak, hizb, tosan aji, dan dalil yang disampaikan para alim itu, ditambah semangat kefanatikan, latihan-latihan, perbaikan peralatan tempur, dan penambahan jumlah prajurit terbukti malah menimbulkan catatan sejarah yang sangat memalukan, tidak menghasilkan kemenangan sedikit pun ketika berhadap-hadapan sebagai musuh dengan pasukan kafir Majapahit.

Ketika iring-iringan pasukan Demak turun dari jung-jung dengan sorak sorai menggiriskan berusaha menerobos masuk ke kuta Tuban, mereka dihadang oleh sekitar 3.000 pasukan Majapahit yang dipimpin dua patih, Patih Daha bernama Permada dan Patih Japan bernama Wahan. Dalam sebuah pertempuran singkat di barat kuta Tuban, pasukan Demak yang jumlahnya lebih banyak itu berantakan dan kocar-kacir dikejar-kejar pasukan kafir Majapahit. Para alim yang memekikkan takbir sambil berteriak-teriak membangkitkan semangat prajurit tidak dapat menahan kegentaran prajurit-prajurit yang lari tunggang langgang ketakutan, terutama saat segala benda-benda jimat yang mereka andalkan tidak terbukti keampuhannya. Pasukan Suranata yang terkenal ganas ketika melakukan penertiban agama dan selalu menang di medan tempur itu terbukti tidak berdaya saat menghadapi prajurit Majapahit. Peristiwa tragis di Juwana lebih sewindu silam terulang dengan menyakitkan di Tuban. Apa yang pernah diungkapkan Raden Sahid kepada Tranggana bahwa prajurit-prajurit Suranata tidak akan mampu menghadapi kekuatan pasukan Majapahit, telah terbukti menjadi kenyataan.