Bangkit! Maju! Berkuasa!

Kabar kemenangan gemilang di Kalapa diterima Tranggana dengan kegirangan orang mabuk. Kepalanya terasa membesar dan berat. Matanya sayu tapi penuh hasrat. Dadanya naik turun dipenuhi rasa hangat. Kakinya gontai. Sesuatu ingin ia tumpahkan dari pedalamannya. Dan, satu-satunya hal yang mengisi benaknya adalah kilasan-kilasan khayalan yang mengalir dari mulut sang naga hitam yang menyemburkan api. Kilasan-kilasan khayalan itu melesat dari benaknya, terbang ke angkasa menjadi tangan-tangan hitam berkuku panjang yang menjulur ke bentangan masa depan yang diselimuti kabut misterius. Tranggana tersentak kaget ketika naga hitam yang bersarang di pedalamannya meraung keras, menggetarkan cakrawala jiwanya, “Bangkit dan majulah!”

Tranggana termangu-mangu. Ia merasakan kegembiraan bergelut dengan luapan kebanggaan memenuhi jiwanya. Lalu ia mendengar lagi raungan naga hitam di pedalamannya, “Bangkit! Maju! Berkuasalah! Raihlah keagungan dan kemuliaan raja-raja! Jaya! Jaya!” Pada saat orang masih sibuk membincang kemenangan pasukan gabungan Demak-Caruban yang menghantam keras-keras kekuatan Portugis, Tranggana sudah menitahkan Raden Ja’far Shadiq Senapati Suranata membawa pasukan untuk menggempur Majapahit. Untuk memperkuat pasukan yang dilengkapi meriam dan senapan itu, Tranggana meminta bantuan pasukan dari Giri Kedhaton. Kemenangan atas Banten dan Kalapa tampaknya memperkuat hasrat Tranggana untuk berkuasa atas seluruh Nusa Jawa.

Sangat berbeda dengan saat ayahandanya menyerang Majapahit yang berakibat kegagalan, Raden Ja’far Shadiq selaku senapati tidak lagi mempercayai bualan alim ulama yang penuh diliputi khayalan dan dalil kosong. Ia lebih percaya kepada manggala dan perwira-perwiranya yang mengenal benar makna pertempuran dan nilai-nilai yang meliputinya. Sabda Nabi Muhammad Saw., “Serahkan semua urusan kepada ahlinya” , dipegangnya sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Masalah perang hendaknya diserahkan kepada manusia-manusia yang darah dan jiwanya dialiri darah ksatria. Kegagalan dan kepedihanlah yang akan diperoleh jika masalah perang diurusi ahli agama yang hanya berbekal dalil-dalil dan semangat.

Di bawah arahan manggala dan perwira-perwira kepercayaannya, Raden Ja’far yang ditugaskan menyerang Majapahit tidak serta merta menerobos ke Wirasabha. Sebaliknya, ia menggempur Kadipaten Tuban yang merupakan pelabuhan utama Majapahit. Jika Tuban sudah dikuasai maka Majapahit akan terkucil dari dunia luar. Sebab, dengan menguasai Tuban, bukan saja alur perniagaan akan dapat dikendalikan oleh sang pemenang, melainkan lalu lintas pelayaran di Bengawan Sori pun dapat diawasi melalui tempat-tempat penambangan yang dikuasai keluarga Bajul yang sebagian sudah memeluk agama Islam. Gagasan Raden Ja’far Shadiq beserta manggala dan perwira-perwira kepercayaannya itu terbukti tidak lama setelah Tuban ditaklukkan. Seluruh jalur perniagaan dari pesisir ke pedalaman menjadi sangat terhambat.

Kehati-hatian Raden Ja’far Shadiq dalam bertindak paling tidak telah menyebabkan Tranggana tidak sabar. Ia berharap senapatinya itu bisa bertindak cepat seperti Tughril dan Fadhillah yang tanpa kesulitan berhasil gemilang menaklukkan Banten dan Kalapa. Namun, saat ia diberi tahu bahwa salah satu alasan yang sangat dipertimbangkan oleh Raden Ja’far Shadiq beserta manggala dan perwiranya untuk menunda-nunda penyerbuan ke Majapahit adalah keberadaan Raden Kusen Adipati Terung, paman Sultan Demak, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Apa pun kenyataannya, pamannya itu adalah satu-satunya sesepuh keluarga yang harus dipatuhi sebagaimana wasiat ayahandanya beberapa waktu sebelum mangkat. Bahkan, Tranggana merasakan gundah ketika Susuhunan Kalijaga, mertuanya, memberi tahu bahwa Prabu Bhre Wijaya, maharaja Majapahit pengganti Sri Surawiryawangsaja, telah menyatakan Keislaman di hadapannya.

Di tengah keraguan dan kegundahan untuk menyerang Majapahit, terbetik usulan yang disampaikan Susuhunan Dalem Timur terkait dengan usaha menyingkirkan Raden Kusen menjelang saat-saat penyerangan ke Majapahit. Dalam usulan itu, Susuhunan Dalem Timur meminta salah seorang sentana Susuhunan Ampel Denta agar menemui Raden Kusen. Sentana itu akan menuturkan bahwa ia bermimpi bertemu dengan Susuhunan Ampel Denta yang melambaikan tangan ke arah Raden Kusen tanpa berkata-kata sesuatu. Semua orang yang mengetahui bagaimana kepatuhan Yang Dipertuan Terung itu kepada gurunya dapat menduga dengan gampang apa yang akan terjadi.

Ketika saat pertempuran yang ditentukan datang, di mana pasukan gabungan Majapahit berhadap-hadapan dengan pasukan gabungan Demak di Wirasabha, terjadi sesuatu yang tak terduga-duga. Raden Kusen, dengan alasan dipanggil oleh guru suci yang dipatuhinya, pergi ke Ampel Denta untuk berziarah. Patih Mahodara dan para tetunggul Majapahit yang siaga bertempur mati-matian menghadapi serangan Demak, kebingungan dan hilang kendali menghadapi kejadian yang tak pernah disangka-sangka itu. Mahodara sempat memerintahkan kepada para tetunggulnya untuk tidak keburu menyerang sampai sang adipati kembali dari ziarah ke Ampel Denta. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh pasukan gabungan Demak. Berberapa saat setelah dilaporkan bahwa perahu yang membawa Raden Kusen sampai di pelabuhan Canggu, serangan awal dilakukan oleh pasukan gabungan Demak.

Serentetan tembakan senapan yang dihamburkan oleh sekitar lima pulu prajurit Demak asal Palembang dan menumbangkan puluhan prajurit Majapahit telah membelalakkan mata para tetunggul Majapahit. Mereka tidak pernah menduga jika alat bernama bedil yang selama itu mereka gunakan untuk merayakan upacara perkawinan dan menghormati tamu itu digunakan oleh pasukan Demak sebagai senjata pembunuh. Yang lebih membingungkan, pasukan pembawa senapan itu mengibarkan panji-panji bergambar lebah emas yang merupakan lambang panji-panji adipati Palembang. Seiring berkibarnya panji-panji tersebut, pasukan dari Wirasabha dan Japan yang diandalkan sebagai kekuatan utama pasukan Majapahit tiba-tiba mundur serentak tanpa diperintah. Akibatnya, pasukan sayap kanan Majapahit terbelah.

Melihat mundurnya pasukan Wirasabha dan Japan, pasukan gabungan Demak serta merta menyerbu secara bergelombang bagaikan ombak menerjang pantai. Sisa pasukan sayap kanan Majapahit yang dipimpin Arya Simping Adipati Kedhawung dan Arya Tiron Adipati Pamenang seketika itu berantakan formasinya diterjang pasukan dari Giri Kedhaton yang dipimpin dua pendekar Cina bernama Panji Laras dan Panji Liris. Tak lama kemudian, formasi pasukan sayap kiri Majapahit yang dipimpin Arya Puspa Adipati Dengkol dan Arya Matahun Adipati Rajegwesi berantakan juga diterjang pasukan gabungan dari Pati, Udung, dan Madura. Puncak kehancuran formasi tempur pasukan Majapahit adalah saat pasukan utama Demak di bawah Raden Ja’far Shadiq didampingi manggala Pangeran Pancawati menyerang pasukan utama yang dipimpin Arya Gugur, putera mahkota Majapahit, yang didampingi Menak Supethak Adipati Garuda, Menak Pentor Adipati Blambangan, Menak Pangseng Adipati Puger, Raden Pramana Adipati Sengguruh, Nila Suwarna Adipati Pajer, Arya Jeding Adipati Rawa, Arya Babon Adipati Srengat.

Di tengah porak-porandanya formasi tempur pasukan Majapahit, pasukan gabungan Demak tidak melakukan pengejaran sebagaimana lazimnya pasukan yang berada di atas angin. Sebaliknya, secara serentak pasukan gabungan Demak bergegas kembali ke garis belakang pasukannya masing-masing. Pasukan Majapahit yang sudah berantakan berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk membangun lagi formasi tempurnya. Namun, baru saja beberapa orang perwira berkuda melesat ke kanan dan kiri sambil berteriak-teriak memerintahkan pasukannya untuk menata barisan, terdengar suara gemuruh menggentarkan dada dan memekakkan telinga ketika meriam-meriam yang dipasang pasukan Demak mulai menyalak. Seiring melesatnya bola-bola besi bersalut api dari mulut-mulut meriam-meriam itu, berhamburanlah tubuh para prajurit Majapahit yang sedang menata barisan. Serpihan daging, tulang, dan rambut berserak di tengah cipratan darah. Bau mesiu dan anyir darah menebar ke mana-mana menyesakkan dada.

Ketika kabar kehancuran pasukan gabungan Majapahit di Wirasabha sampai ke Demak, Tranggana buru-buru mengirim pesan kepada Raden Ja’far Shadiq selaku senapati Suranata untuk secepat mungkin memboyong singgasana maharaja beserta pusaka dan pustaka Majapahit. Selama menunggu kembalinya sang utusan, Tranggana menitahkan kepada punggawanya agar menyebarkan kabar kemenangan tersebut kepada seluruh kawula. Mereka diperintahkan untuk datang ke alun-alun Demak menyaksikan perpindahan singgasana yang akan dikirab bersama pusaka-pusaka keramat dari kerajaan tua tersebut. Di tengah hiruk persiapan para punggawa menyongsong kirab agung itu, Tranggana justru sedang terbuai mimpi: terbang bersama naga hitam ke angkasa tinggi kediaman raja-raja leluhurnya yang gemerlap disinari cahaya emas keagungan kekuasaan. Ia terbang tinggi untuk menerima mahkota kekuasaan dari leluhurnya dan ia akan menjadi raja bagi manusia.

Beda mimpi yang dialami Tranggana beda pula kenyataan yang ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya. Ketika Tranggana membayangkan diri sebagai raja agung penerus kekuasaan raja-raja leluhurnya, orang-orang di sekitarnya justru melihat perubahan jiwanya yang mirip seekor ular berbisa: dingin, angkuh, licik, berbisa, lidah bercabang, sulit didekati, selalu curiga, dan pendendam. Keularan Tranggana setidaknya terlihat ketika singgasana, pusaka-pusaka, dan pustaka-pustaka yang dibawa dari Kraton Majapahit di Daha ditempatkan di Giri Kedhaton selama empat puluh hari. Sekalipun para alim dan sesepuh sudah menjelaskan bahwa penempatan lambang-lambang kekuasaan Majapahit di Giri Kedhaton itu adalah prasyarat bersifat ruhani dari perpindahan sebuah kekuasaan, Tranggana diam-diam mencurigai Susuhunan Dalem Timur, sepupu dan juga sahabatnya, menyembunyikan hasrat untuk menjadi penguasa. “Darah Bhre Wirabhumi yang mengalir di tubuhmu, o Saudaraku, tampaknya tidak cukup puas dengan kekuasaan seluas Giri Kedhaton,” kata Tranggana dalam hati.

Menghadapi kemungkinan-kemungkinan munculnya kekuatan tak terduga yang bakal menghambat jalan menuju puncak kekuasaan di Nusa Jawa, Tranggana mengambil keputusan-keputusan yang memiliki kaitan dengan penguatan kekuasaannya. Untuk menjaga keseimbangan kekuatan Raden Muhammad Yusuf Adipati Siddhayu, ia mengangkat Ki Supa, adik ipar Susuhunan Kalijaga, menjadi Adipati Sendang Siddhayu yang merupakan perbatasan Siddhayu dengan Pamotan. Sementara, untuk menjaga keseimbangan kekuatan dengan Susuhunan Dalem Timur, ia mengangkat Pangeran Anggung Bhaya, putera Pangeran Pringgabhaya, menjadi adipati Sekar-Widang.

Kecurigaan Tranggana terhadap Susuhunan Dalem Timur makin meningkat manakala pusaka-pusaka Majapahit yang diharapkan dapat dimilikinya ternyata tidak satu pun sampai ke tangannya. Pusaka Kala Cakra, Sangkelat, dan Carubwuk yang menjadi lambang kekuasaan Majapahit tidak satu pun muncul di hadapannya. Raden Ja’far Shadiq sang senapati hanya menyerahkan pusaka-pusaka Majapahit yang tidak masyhur. Tranggana tidak sedikit pun curiga kepada senapatinya itu, sebab ia mengetahui jika putera Susuhunan Udung itu tidak mengenal dengan baik masalah pusaka-pusaka. Tranggana justru curiga, pusaka-pusaka itu “menghilang” saat berada di Giri Kedhaton selama empat puluh hari.

Ketidakberhasilan Tranggana memboyong pusaka-pusaka masyhur Majapahit berakibat serius pada keberadaan dirinya sebagai sultan. Meski Majelis Wali Songo telah melantiknya sebagai sultan yang memiliki kewenangan dalam pemerintahan (amir al-mu’minin), kemiliteran (senapati ing alaga), dan pengatur agama (sayidin panatagama), para adipati pesisir tetap belum menunjukkan tanda-tanda untuk mendukung kepemimpinannya. Tidak sabar lagi menghadapi sikap menunggu para adipati pesisir, Tranggana menyiagakan serangan ke Rembang untuk menyingkirkan Arya Pikrama Orob. Namun, Arya Pikrama Orob yang sejak kekalahan kemenakannya dalam pertempuran di Malaka sudah melihat gelagat kurang baik dari Tranggana, segera menyingkir ke pedalaman bersama pasukannya. Arya Pikrama Orob kemudian menggalang kekuatan bersama Arya Matahun Adipati Rajegwesi. Bahkan, persekutuan itu diperkuat oleh adipati Wirasari dan didukung pula oleh Ki Ageng Sesela yang pernah dikecewakan Tranggana karena ditolak waktu mendaftar sebagai tamtama Demak.

Marah mendengar persekutuan adipati-adipati dan penguasa Sesela untuk menentang kekuasaannya, Tranggana menyatakan mereka yang berkubu di Wirasari adalah para pemberontak. Lalu, ia memimpin sendiri pasukannya ke Wirasari. Di Wirasari ia mendapat perlawanan keras dan gagah berani dari para pemberontak. Pasukannya yang terlatih, dengan susah-payah dan banyak korban baru berhasil mematahkan perlawanan para pemberontak. Setelah tujuh hari pertempuran, Wirasari baru jatuh. Tranggana mengangkat Kidang Telangkas, putera Dewi Rasawulan dengan Syaikh Maulana Maghribi, kemenakan Susuhunan Kalijaga sebagai adipati Wirasari. Arya Pikrama Orob Adipati Rembang yang terbunuh dalam pertempuran digantikan kedudukannya oleh Raden Iman Sumantri. Kadipaten Rajegwesi yang kosong akibat terbunuhnya Arya Matahun, dimasukkan ke dalam wilayah Jipang yang dirajai putera ketiga Tranggana, Pangeran Arya Jipang.

Penumpasan terhadap pemberontakan Wirasari dijadikan salah satu alasan oleh Tranggana untuk menggempur Pengging. Pertama-tama, sisa-sisa pemberontak, yaitu Ki Ageng Sesela dan saudara-saudaranya Ki Ageng Pakis, Ki Ageng Adibaya, Ki Ageng Wanglu, Ki Ageng Bokong, Ki Ageng Kare, dan Ki Ageng Purna melarikan diri ke wilayah Pengging. Mereka menyembunyikan diri di Ngerang, yaitu kediaman ayahanda mereka Ki Ageng Ngerang. Selain itu, Tranggana mendapati kenyataan keterlibatan sejumlah pengikut Syaikh Lemah Abang dalam pemberontakan di Wirasari yang lari ke Pengging. Namun, banyak yang paham bahwa alasan Tranggana menyerang Pengging lebih disebabkan oleh rasa khawatirnya terhadap Pangeran Kebo Kenanga yang menggantika kedudukan ayahandanya sebagai penguasa Pengging. Kebo Kenanga dianggap ancaman bagi kekuasaannya. Tranggana yang terilhami kekuasaan Sultan Turki Salim tidak ingin melihat trah Majapahit menandingi kekuasaannya.

Dalam upaya mengabsahkan penyerangan ke Pengging, Tranggana kembali menggerakkan pasukan Suranata yang dipimpin alim ulama Demak untuk melakukan penumpasan terhadap penduduk yang diduga menjadi pengikut Syaikh Lemah Abang. Sejarah kelabu alim ulama membunuhi penduduk tak bersalah terulang kembali. Tombak-tombak berkelebat. Dada-dada berlubang. Darah tumpah. Nyawa beterbangan ke angkasa. Janda-janda dan anak-anak yatim berlipat-lipat jumlahnya. Penumpasan terhadap para pengikut Syaikh Lemah Abang itu diramaikan pula oleh para dukun dan pedagang jimat-jimat yang merasa dirugikan oleh ajaran Syaikh Lemah Abang. Bahkan pada gilirannya, keadaan itu dimanfaatkan oleh banyak orang untuk menjatuhkan saingan atau merebut istri orang. Kebejatan dan kelicikan manusia bergulat menjadi satu dengan lenguhan setan dan hewan buas.

Syaikh Lemah Abang sendiri, menurut kabar, ditangkap dan diadili di Demak dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Syaikh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati. Untuk membuktikan kesesatannya, jenasah Syaikh Lemah Abang telah berubah menjadi seekor anjing hitam kudisan. Demikianlah, setelah guru suci penyebar kesesatan itu tewas, pasukan Demak disiagakan menyerang Pengging karena penguasa Pengging Pangeran Kebo Kenanga yang masyhur dengan gelar Ki Ageng Pengging itu adalah pengikut setia Syaikh Lemah Abang.

Ketika Tranggana akan berangkat memimpin pasukan ke Pengging, tiba-tiba Raden Ja’far Shadiq menghadap dan memohon agar dirinya diperkenankan memimpin penaklukan ke Pengging. Raden Ja’far Shadiq beralasan, tidak sepantasnya sultan seagung Tranggana membawa pasukan besar untuk menaklukkan Pengging yang sudah bukan merupakan kerajaan lagi. “Sepengetahuan kami, Pengging telah menjadi semacam kadipaten kecil setingkat wisaya yang dipimpin oleh seorang Ki Ageng Pengging. Apa kata orang jika Sultan Demak yang perkasa menggunakan kekuatan besar untuk menumpas Pengging yang wilayahnya hanya empat wisaya, yaitu Tingkir, Banyubiru, Butuh, dan Ngerang. Akan lebih bijak jika paduka sultan menitahkan kami untuk menaklukkan Pengging,” kata Raden Ja’far Shadiq berharap.

Tranggana yang menganggap pandangan Raden Ja’far Shadiq masuk akal, menerima usulan itu. Ia menyerahkan penaklukan atas Pengging kepada menantu dari pamannya itu. Tanpa mengeluarkan darah orang-orang tak bersalah, Raden Ja’far Shadiq berhasil menaklukkan Pengging. Menurut kabar, Ki Ageng Pengging tewas dengan luka goresan di sikunya. Setelah itu, Yang Dipertuan Tingkir, Butuh, Banyubiru, dan Ngerang menyatakan tunduk kepada sultan.

Kemenangan atas Pengging makin menyeret hasrat Tranggana untuk meyujudkan mimpinya sebagai sultan yang berkuasa atas seluruh Jawa. Segerah setelah Pengging takluk, Tranggana menyerang Kadipaten Bojong. Adipati Bojong Arya Danaraja Orob yang sudah uzur itu terbunuh. Kadipaten Bojong lalu dipecah menjadi tiga, yaitu Kersana, Tetegal, Pamalang. Belum puas menaklukkan daerah pesisir, Tranggana menggerakkan pasukannya ke pedalaman menyerang Gagelang dan Medangkungan. Badai Kematian ia embuskan. Gunung mayat ia ciptakan. Janda-janda dan anak-anak yatim ia serakkan ke permukaan bumi.

Setelah melumat Gagelang dan Medangkungan, Tranggana menggilas Kadipaten Siddhayu dan mengusir Adipati Siddhayu Muhammad Yusuf, sahabat karib Adipati Hunus. Kadipaten Tedunan di selatan Surabaya yang dikuasai Arya Bijaya Orob tak ketinggalan dibumi hangus. Pendek kata, seluruh kekuatan keluarga Orob dan adipati-adipati pendukungnya dihabisi tanpa sisa oleh Tranggana. Tak cukup melampiaskan ambisi kekuasannya di Nusa Jawa, Tranggana mengirim Tughril Muhammad Khan ke Baruna Dwipa untuk membela Raden Paksi yang berselisih dengan saudaranya, Raden Tumenggung, memperebutkan takhta kerajaan Banjar. Tranggana beralasan, dengan memiliki pijakan di Barunadwipa, alur pelayaran kapal-kapal Portugis dari dan ke Wandan dapat diawasi dan sewaktu-waktu dapat diserang. Demikianlah, hari-hari dari hidup Tranggana dilampauinya dengan ketakziman mendengar titah naga hitam di kedalaman jiwanya yang terus-menerus berseru: “Bangkit! Maju! Berkuasalah!”

Ketika ayam jantan berkokok sahut-menyahut pertanda subuh bakal menjelang, di tengah embusan angin dingin yang membawa gumpalan kabut, Raden Ketib tersentak dari kehanyutan jiwanya selama mendengarkan pengungkapan kisah Syaikh Datuk Abdul Jalil dari Susuhunan Kalijaga. Ia merasakan betapa tirai rahasia yang selama ini menyelubungi Kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil makin tersingkap seterang matahari di siang hari. Namun demikian, sekeping tanda tanya masih tersisa di benaknya tentang akhir hidup sang guru suci tersebut. Lantaran itu, setelah menarik napas panjang berulang-ulang, ia bertanya kepada Susuhunan Kalijaga, “Kami sudah memahami semua kisah tentang beliau, o Paduka Guru. Tetapi masih tersisa tanda tanya di benak kami yang bebal ini. Maksud kami, jika Paduka Guru menuturkan kepada kami bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal di selatan dukuh Lemah Abang di Caruban dalam keadaan hilang ingatan (majnun) akibat tarikan Ilahi (jadzab), apakah yang dibunuh di Demak itu Syaikh Lemah Abang yang bernama Hasan Ali?”

Raden Sahid diam. Setelah menarik napas, dia berkata, “Engkau benar, yang dibunuh adalah Hasan Ali. Tapi dia tidak dibunuh di Demak, melainkan di kediamannya sendiri di Kanggaraksan, kuta Caruban. Dia ditikam dengan keris Kanta Naga milik saudaraku, Syarif Hidayatullah. Sedang Syaikh Siti Jenar yang bernama San Ali Anshar dibunuh di Pamantingan.”

“Tapi cerita yang kami dengar, Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang dibunuh di Masjid Agung Demak dan di Tajug Agung Caruban. Kami benar-benar bingung dengan cerita simpang siur itu.”

Raden Sahid tertawa. Kemudian dengan suara digetari wibawa dia berkata menjelaskan, “Masjid adalah tempat manusia beribadah menyembah Allah. Masjid maknanya tempat bersujud. Lantaran itu, sangat jahil jika masjid digunakan untuk mengadili dan membunuh manusia. Bahkan, lebih jahil lagi kalau sampai terjadi bangkai anjing dikubur di mihrab masjid.”

“Jadi cerita-cerita itu?”

“Sebagian besar dibuat dan disebarkan oleh pengikut-pengikut Hasan Ali dan San Ali Anshar untuk memuliakan guru mereka. Mereka mereka-reka cerita jika jenasah guru mereka itu menebarkan wangi bunga. Mereka membuat-buat cerita jika anjing jelmaan guru mereka itu dikubur di mihrab Masjid Agung Demak.”

“Lalu cerita tentang bangkai anjing itu bagaimana? Peran Majelis Wali Songo bagaimana?” tanya Raden Ketib masih penasaran.

“Cerita tentang bangkai anjing adalah rekayasa alim ulama jahat abdi Tranggana. Mereka mengabsahkan titah pelarangan ajaran Syaikh Siti Jenar oleh Sultan Demak melalui cerita-cerita yang membodohkan manusia. Untuk mengabsahkan pelarangan itu, mereka menebar cerita bohong bahwa yang membunuh Syaikh Lemah Abang adalah Majelis Wali Songo. Padahal, yang membunuh San Ali Anshar di Pamantingan adalah aku sendiri. Lalu, yang membunuh Hasan Ali di Kanggaraksan Caruban adalah keris Kanta Naga milik saudaraku Syarif Hidayatullah. Jadi, Majelis Wali Songo tidak pernah bersidang di Masjid Agung Demak untuk mengadili Hasan Ali maupun San Ali Anshar. Itu semua kabar bohong yang dibikin alim ulama Tranggana. Tetapi biar saja begitu, karena dengan cerita-cerita itu keberadaan Syaikh Lemah Abang, Syaikh Siti Jenar, Syaikh Sitibrit, Syaikh Jabarantas, Susuhunan Binang, Pangeran Kajenar, benar-benar telah jatuh sebagai tanah yang diinjak-injak dan direndahkan manusia sesuai kehendak dan keinginan Syaikh Datuk Abdul Jalil,” kata Raden Sahid.

Raden Ketib termangu-mangu menangkap pemahaman baru tentang kisah Kematian Syaikh Datuk Abdul Jalil yang selama itu sangat membingungkan dan simpang siur. Dengan penjelasan Susuhunan Kalijaga yang begitu terang, ia menjadi paham dengan teka-teki yang pernah disampaikan Syaikh Datuk Bardud tentang Sang Rajawali yang pengarung Kesunyian dan Kehampaan. Ia semakin yakin Syaikh Datuk Abdul Jalil saat itu masih hidup. Namun demikian, ia tidak berani menanyakan hal keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil kepada Susuhunan Kalijaga. Sebaliknya, ia ingin mengetahui latar belakang alasan dibunuhnya Hasan Ali dan San Ali Anshar. “Apakah mereka berdua melakukan kesesatan sehingga pantas untuk dibunuh, o Padukan Guru?” tanya Raden Ketib.

Raden Sahid terdiam. Dia mengelus-elus janggutnya. Setelah itu, dengan suara penuh wibawa dia berkata, “Sesungguhnya, tidak ada hak bagi manusia satu menghakimi manusia lain dalam masalah amaliah agama. Sedangkal apa pun orang seorang menafsirkan ajaran agama, tidaklah ada hak bagi orang lain untu menyatakan ini sesat itu bid’ah dan kemudian membunuhnya. Satu-satunya kesalahan berat yang dilakukan San Ali Anshar adalah dia secara sengaja telah menggunakan nama orang lain, yaitu Syaikh Siti Jenar, nama masyhur Syaikh Datuk Abdul Jalil, dengan tujuan membuat fitnah dan kerusakan. Dengan sengaja ia menggunakan ilmu sihir, dzikir berjama’ah laki-laki dan perempuan, mengaku tuhan titisan Wisynu, menghujat sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw. sebagai kafir, dan menjadikan perempuan sebagai barang yang bisa dimiliki bersama. Dia telah merusak tatanan hidup manusia. Itu semua dia nisbatkan kepada nama Syaikh Siti Jenar. Di balik alasan-alasan itu, aku sengaja membunuhnya untuk membalaskan utang darah yang dilakukannya terhadap keluarga kakek istriku, khususnya Syaikh Abdul Qahhar al-Baghdady, paman istriku yang dibunuh oleh orang-orang suruhannya. Dia kubunuh dengan tanganku sendiri karena aku merasa berhak melakukan belapati (qishash) atasnya.”

“Akan hal Hasan Ali, tak jauh kesalahannya dengan gurunya. Dia pertama-tama telah menggunakan nama Syaikh Lemah Abang dengan membuat fitnah dan kerusakan. Kenapa dia dibunuh di Caruban? Sebab, dia terang-terangan membangun dukuh Lemah Abang di selatan dukuh Lemah Abang yang didirikan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Dia mengajarkan ajaran sesat seperti gurunya. Dia tidak sadar bahwa para sesepuh Caruban sangat kenal siapa Syaikh Datuk Abdul Jalil dan siapa Hasan Ali putera Rsi Bungsu. Kesalahannya yang terbesar, dia memerintahkan pengikut-pengikutnya untuk membunuh Pangeran Bratakelana, putera saudaraku Syarif Hidayatullah. Dia sangat membenci Syarif Hidayatullah yang dianggapnya merampas haknya sebagai pelanjut Pesantren Giri Amparan Jati, yang didirikan oleh Syaikh Datuk Kahfi, suami dari uwaknya. Dia menganggap dirinya lebih berhak menjadi guru suci di Giri Amparan Jati dibanding Syarif Hidayatullah. Dia tidak pernah tahu jika yang mengangkat Syarif Hidayatullah sebagai pelanjut Syaikh Datuk Kahfi adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil, yaitu santri terkasih dan saudara sepupu yang diamanati Syaikh Datuk Kahfi mengembangkan pesantren tersebut. Bahkan Syaikh Datuk Bayanullah, adik kandung Syaikh Datuk Kahfi tidak sedikit pun pernah menyoal masalah tersebut. Ia bahkan tinggal bersama kemenakannya, Tughril Muhammad Khan di negeri Banjar di Barunadwipa.”

Raden Ketib terdiam. Ia benar-benar merasakan kelapangan terhampar di dadanya. Benaknya yang digelayuti tanda tanya pun sudah terang laksana langit pagi hari tanpa awan. Semua telah terang. Namun, saat ia menoleh tanpa sengaja matanya melihat dua bentuk gambar aneh yang terbuat dari kulit tipis yang menempel di dinding. Gambar itu aneh, karena melukiskan sosok orang berhidung sebengkok paruh rajawali, mengenakan surban, destar, jubah, biji tasbih, dan pedang. Sesaat ia teringat bahwa Susuhunan Kalijaga selama itu dikenal sebagai guru suci yang suka menyamar sebagai dalang yang memainkan pertunjukan wayang. Ia menduga, gambar aneh itu pastilah bagian dari pertunjukan wayang, meski ia tidak tahu nama dari gambar tokoh aneh itu.

Sekalipun Raden Ketib tidak bertanya, Susuhunan Kalijaga seperti dapat membaca isi pikirannya. Tanpa terduga-duga, ia bertanya kepada Raden Ketib, “Menurutmu, gambar apakah yang menempel di dinding itu?”

“Menurut hemat kami, itu gambar alim ulama asing,” sahut Raden Ketib.

“Tahukah engkau siapakah nama dua gambar itu?”

Raden Ketib menggeleng, “Kami tidak mengetahuinya, o Paduka Guru.”

“Yang tinggi besar itu aku sebut Sang Yamadipati.”

“Dewa Kematian? Sang pencabut nyawa?” gumam Raden Ketib terkejut.

“Yang satu lagi, yang lebih kecil, aku sebut Pandita Durna.”

“Pandita yang jadi abdi setia Kurawa.”

“Tepat seperti itu.”

“Kenapa Dewa Kematian dan Pandita Durna digambarkan berpakaian alim ulama?” tanya Raden Ketib tak paham dan meminta penjelasan.

“Ini adalah caraku mencatat sejarah bangsaku yang terhina dan teraniaya akibat tindakan alim ulama jahat yang mengkhianati citra keulamaannya dengan menjadikan diri sebagai Sang Yamadipati, mencabut nyawa manusia yang dianggapnya berbeda pandangan dengannya. Ini juga caraku mengungkapkan suasana batin bangsaku yang telah mencitrakan pakaian keulamaan sebagai atribut Sang Pencabut nyawa. Gambar Pandita Durna adalah caraku mengungkapkan rasa muak bangsaku terhadap alim ulama yang menjilat kepada kekuasaan; menggunakan dalil-dalil agama untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan mencelakakan banyak orang sebagai tumbalnya. Citra alim ulama tukang hasut, penyebar fitnah, penggunjing, dan pengadu domba itulah yang aku tuangkan dalam sosok wayang Durna. Jika engkau nanti kembali ke Caruban dan menangkap pandangan jiwa penduduk sepanjang perjalananmu, engkau akan mendapati sudut pandang yang sama pada mereka saat memandang alim ulama; semua orang menganggap alim ulama yang mengenakan jubah, destar, surban, terompah, dan memutar biji tasbih adalah para pencabut nyawa dan begundal sultan,” kata Raden Sahid menjelaskan.

Raden Ketib menggeleng-gelengkan kepala mendengar uraian Susuhunan Kalijaga. Meski sepintas seperti berlebihan, sepanjang perjalanan kembali ke Caruban, Raden Ketib benar-benar membuktikan Kebenaran kata-kata Susuhunan Kalijaga tersebut. Pandangan penduduk Nusa Jawa, terutama di pedalaman, benar-benar miring terhadap alim ulama yang mengenakan jubah, destar, surban, terompah, biji tasbih. Bagaikan melihat Dewa Pencabut Nyawa, Yama, penduduk serentak menutup pintu rapat-rapat setiap kali melihat ada orang seorang mengenakan pakaian keulamaan putih melintas di sekitar kampung. Bahkan, kemunculan alim ulama asal negeri Yaman yang tidak tahu-menahu tindakan rekan-rekannya, telah disalahpahami sangat serius. Sebab, nama Yamani yang lazimnya digunakan alim ulama asal negeri Yaman, dalam bahasa Jawa bermakna neraka. Sehingga, mendengar nama Yamani digunakan sebagai nama orang, penduduk seketika lari tunggang-langgang karena menyangka berhadapan dengan makhluk dari neraka, pengikut Dewa Yama. Demikianlah, hampir semua orang Jawa di pedalaman berharap orang-orang yang mengenakan pakaian keulamaan, terutama yang menggunakan nama Yamani tidak masuk ke dalam rumah mereka karena citra Sang Maut yang sudah berurat dan berakar di kedalaman jiwa. Bahkan lantaran itu, hampir seluruh alim ulama di pedalaman mengenakan pakaian khas seperti yang dikenakan Susuhunan Kalijaga, yaitu destar hitam, baju hitam, celana hitam, kain batik, ikat pinggang kulit, dan sebilah keris terselip di dada.