01. Pengantar Redaksi

Menulis sebuah riwayat tersohor yang telah melekat di benak orang dengan menggunakan sudut pandang yang lain dari yang selama ini ada, tentu saja memerlukan keberanian dan ketahanan. Dikatakan “berani” karena penulisnya membalikkan kisah-kisah yang cenderung mendiskreditkan sang tokoh, dengan menyodorkan kejutan demi kejutan sehingga tampaklah bahwa tokoh utama yang terlanjur terkenal dengan cap “penyebar ajaran sesat” itu ternyata adalah manusia mulia kekasih Tuhan. Sedangkan dikatakan perlu ketahanan karena si penulis harus mencari dan membaca rujukan-rujukan dari berbagai sumber lain. Pada halaman akhir buku ini kita dapat melihat sederetan sumber yang menjadikan kisah ini tidaklah bisa kita sebut sekadar “dongengan”.

Syaikh Siti Jenar, dialah tokoh fenomenal yang sejak dulu hingga kini tak henti ditulis orang. Sosoknya begitu berselimut misteri. Setiap orang ingin tahu kisah hidupnya, ajaran-ajarannya, “kesesatannya” (?), dan tentu saja akhir hidup yang kontroversial.

Sejak Mei 2003, ketika kami mulai menerbitkan buku pertama berjudul Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syaikh Siti Jenar, buku tersebut mendapat sambutan yang luar biasa dari para pembaca. Buku yang sekarang ada di hadapan kita ini adalah seri penutup dari trilogi yang kami pecah menjadi tujuh buku. Inilah buku paling tebal, yang paling lama penggarapannya, dan paling banyak halangannya. Ini menjadikan buku ini baru bisa hadir setelah sekian lama jeda.

Sekadar untuk menyegarkan ingatan kita, trilogi buku ini menceritakan babak-babak perjalanan ruhani Syaikh Siti Jenar. Trilogi pertama dari buku satu dan dua dengan detil mengisahkan perjalanan ruhani yang ditempuh seorang salik (Abdul Jalil alias Syaikh Siti Jenar) untuk mencapai maqam yang tinggi, yakni menjadi orang yang dekat dengan-Nya. Dalam buku satu dan dua itu diceritakan betapa berat perjalanan yang harus ditempuh Syaikh Siti Jenar untuk sampai pada maqam tertinggi itu. Ia harus melewati tujuh Lembah Kasal, tujuh Jurang Futur, tujuh Gurun Malal, tujuh Sungai Riya’, tujuh Rimba Sum’ah, tujuh Samudera ‘Ujub, dan tujuh Benteng Hajbun.

Trilogi kedua yang dikemas dalam buku ketiga, empat, dan lima yang berjudul Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar menjabarkan pembaharuan-pembaharuan yang digagas oleh Syaikh Siti Jenar, yang juga bergelar Syaikh Lemah Abang. Gagasan utama dari buku ketiga, empat, dan lima ini adalah upayan Syaikh Lemah Abang untuk membangkitkan kesadaran di dalam diri rakyat jelata bahwa mereka bukanlah budak dari penguasa. Mereka adalah diri yang merdeka. Diri yang bisa melampaui tingkatan hewan – manusia hewan – manusia – adimanusia. “ … Sejak manusia lahir ke dunia yang fana ini, tiap-tiap pribadi memiliki fitrah keagungan dan kemuliaan sebagai makhluk paling sempurna keturunan Adam. Sebagai makhluk paling sempurna yang disebut adimanusia (insan kamil). Kalian semua diciptakan oleh Allah dengan maksud dijadikan wakil-Nya di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh).” (Sang Pembaharu, buku lima, hlm… ).

Di dalam trilogi kedua itu kita juga bisa melihat bagaimana Syaikh Siti Jenar merombak sistem raja-kawula atau gusti-kawula menjadi sistem kemasyarakatan yang ia sebut sebagai masyarakat ummah, yang terdiri atas kabilah sebagai satuan terkecil, kemudian nagari, dan lalu masyarakat ummah. Berdasarkan konsep masyarakat ummah itu, penentuan pemimpin masing-masing tingkatan itu tidak didasarkan atas keturunan, akan tetapi dipilih oleh sahabat-sahabat yang mengasihinya. Ukuran seorang pemimpin adalah memiliki derajat ruhani lebih tinggi dibandingkan manusia lainnya. Ia haruslah orang yang mempunyai keterikatan paling rendah terhadap kebendaan dan pengumbaran nafsu. Sistem kemasyarakatan ini sebenarnya diadopsi dari sistem kemasyarakatan Nabi Muhammad Saw..

Dari sini kita bisa paham mengapa Syaikh Siti Jenar kemudian dimusuhi banyak pihak. Yang jelas, dengan gagasan Syaikh Siti Jenar ini, para raja dan bangsawan merasa terancam kedudukannya, pengaruh kekuasaan mereka otomatis berkurang. Lalu, para pejabat di bawah raja hingga para kepala desa kehilangan sumber pendapatan mereka dari sewa tanah yang tadinya merupakan satu paket dengan konsep gusti-kawula. Sebab, sistem masyarakat baru yang dikembangkan Syaikh Siti Jenar tidak mengenal sewa tanah. Setiap warga berhak memiliki harta benda, termasuk sepetak tanah.

Adapun trilogi ketiga (buku keenam dan ketujuh), yang berjudul Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syaikh Siti Jenar, berisi tentang jawaban atas berbagai teka-teki dan juga misteri yang menyelimuti tokoh agung Syaikh Siti Jenar. Sesuai dengan judulnya, di dalam buku keenam dan terutama pada buku ketujuh, kita akan melihat bagaimana orang-orang yang tidak senang dan menaruh dendam kepada Syaikh Siti Jenar melakukan penjungkirbalikan terhadap ajaran-ajaran yang selama ini didakwahkan oleh Sang Syaikh. Dua tokoh yang mengaku sebagai Syaikh Siti Jenar, yakni Hasan Ali dan gurunya, San Ali Anshar, mengajarkan jalan ruhani (suluk) yang justru merusak tatanan yang telah dibangun oleh Syaikh Siti Jenar. Bahkan tindakan mereka telah banyak menyesatkan umat manusia. Oleh karena itu, ajaran Hasan Ali dan San Ali Anshar ini kemudian dijuluki sebagai Suluk Malang Sungsang, ajaran perjalanan ruhani (tarekat) yang mengakibatkan sang salik (pencari kebenaran) makin terhijab (tertutup) dan terjungkir kiblatnya dari Kebenaran Sejati yang ingin dituju.

Pada buku ketujuh ini, kita juga akan menemukan jawaban tentang akhir dari perjalanan hidup Syaikh Siti Jenar. Buku ketujuh ini sekaligus menjawab tentang kesimpangsiuran informasi tentang kematian Syaikh Siti Jenar. Informasi yang menyatakan bahwa Syaikh Siti Jenar dibunuh oleh Dewan Walisongo di Masjid Demak terbukti tidaklah benar. Justru Hasan Ali dan San Ali Anshar – dua tokoh yang mengaku sebagai Syaikh Siti Jenar, yang menyebarkan ajaran sesat – itulah yang dibunuh.

Dengan hadirnya buku ketujuh ini, maka lengkaplah sudah seri buku “Syaikh Siti Jenar”. Dan, dengan demikian, terjawablah sudah seluruh teka-teki dan misteri yang menyelimuti tokoh agung Syaikh Siti Jenar; mulai dari asal usul, perjuangan, ajaran ruhani, hingga akhir dari perjalanan hidupnya. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Agus Sunyoto, yang telah merampungkan karya “besar” ini dengan penuh kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi segala tantangan dan cobaan. Kepada pembaca yang budiman, kami sampaikan Selamat Membaca.

02. Cambuk Peringatan Tuhan

Selimut keremangan malam telah disingkapkan oleh fajar gemilang yang terbit dari balik pegunungan Nilgiri yang memunggungi Kozhikode. Gemerisik daun-daun kelapa terdengar lembut dibawa embusan angin yang bertiup dari laut. Kumbang-kumbang beterbangan di tengah embun yang terangkat ke angkasa. Burung-burung berkicau sambil berlompatan di balik rimbun pepohonan. Kokok ayam hutan terdengar nyaring membelah keheningan pagi. Suasana pagi di pinggiran Kozhikode terasa sejuk dan riang, meski sisa-sisa kabut tipis masih terlihat di permukaan tanah.

Agak berbeda dengan suasana di pinggiran kota, di kawasan perkampungan Kozhikode yang menuju arah pusat kota, suasana pagi yang sejuk dan riang itu tidak lagi terasa. Dengung kumbang, kicau burung, kokok ayam hutan, gemerisik daun-daun kelapa, dan sejuknya embun di tengah semburan cahaya mentari pagi tak ada lagi. Suasana pagi diwarnai kesibukan luar biasa dari orang-orang berkeringat yang berjalan hilir mudik di tengah dentang suara palu, gemuruh bising gergaji, detak ladam kuda, derit roda kereta, dan teriakan-teriakan orang menghardik budaknya. Pagi itu suasana memang sibuk sebab kapal-kapal baru buatan galangan kapal Beypore yang dipesan Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut kepercayaan Samutiru, telah bersandar di pelabuhan Kozhikode. Kapal-kapal itu konon akan digunakan untuk menggempur armada Portugis yang berpangkalan di bandar Cochazhi (Cochin).

Galangan kapal Beypore adalah galangan kapal terbesar di wilayah kekuasaan Samutiru, bahkan terbesar di sepanjang pantai Malabar. Kapal-kapal dan perahu besar pesanan saudagar dari berbagai negeri dibuat di situ oleh tukang-tukang yang terampil yang mewarisi keahlian itu secara turun-temurun. Namun, belakangan ini menurut kabar yang tersebar di kota, segenap tenaga para pembuat kapal di Beypore dikerahkan untuk membuat kapal-kapal dengan ukuran besar. Kapal-kapal itu kabarnya akan dilengkapi dengan meriam-meriam seperti kapal-kapal milik Portugis. Bukan hanya menyiapkan kapal-kapal, Laksamana Kunjali Marakkar kabarnya sedang menyiapkan kekuatan tempur untuk menggempur armada Portugis yang bersekutu dengan raja Cochazi. Sebuah pertempuran besar tampaknya bakal pecah antara kekuatan Kozhikode di satu pihak dengan kekuatan Cochazi dan Portugis di pihak lain.

Tindakan brutal Vasco da Gama membantai jama’ah Muslim Kozhikode yang baru kembali dari tanah suci, membunuh dan memotong-motong tubuh nelayan-nelayan Hindu, menyandera penduduk, menginginkan kematian seluruh penduduk muslim Kozhikode, menembaki kota Kozhikode dengan meriam, dan mengancam-ancam Samutiru, tampaknya berbuntut panjang. Bukan hanya Samutiru dan penduduk Kozhikode yang merasa tertampar harga diri dan kehormatannya, melainkan seluruh penduduk muslim di Bharatnagari tersulut amarahnya dengan tindak biadab itu. Seluruh penduduk muslim Bharatnagari – terutama para saudagar, ulama, dan pemuka masyarakat – berkobar-kobar semangatnya untuk membalas kematian saudara mereka seiman yang sudah direndahkan oleh orang kafir. Tanpa ada yang meminta, saudagar-saudagar muslim dari kota-kota niaga di negeri Dekkan, Gujarat, Bengala, Sokotra, Yaman, Basrah, hingga Mesir diam-diam memberikan dukungan kepada penguasa Kozhikode untuk melawan Portugis.

Semangat perlawanan orang-orang Kozhikode yang berkobar-kobar tampaknya memiliki kaitan dengan watak kota yang melahirkan mereka. Kozhikode pada awalnya bukanlah kota perniagaan. Ia lahir sebagai sebuah benteng pertahanan di wilayah Ponniankara sekitar abad ke dua belas. Benteng itu dibangun oleh raja Emad, Udaiyavar, setelah berhasil menaklukkan Raja Polatthiri. Benteng itu disebut Velapuram dan diserahkan penguasaannya kepada Nediyirippu (Panglima Penakluk) bernama Swami Nambiyathiri Thirumulpad, yang termasyhur dengan sebutan Samutiru atau Samuthiri. Sebagaimana layaknya sebuah benteng, pada perkembangannya di sekitar Velapuram mulai bermunculan pemukiman yang lambat laun tumbuh sebagai kota kecil. Benteng yang menjadi kota kecil itu kemudian disebut orang dengan nama Koyilkotta (istana benteng).

Di bawah kekuasaan Samutiru yang diwariskan secara turun-temurun ke anak cucu, Koyilkotta berkembang menjadi kota perniagaan antara bangsa, terutama akibat pengaruh saudagar-saudagar keturunan Arab yang disebut suku Mappila. Koyilkotta dikenal sebagai salah satu bandar perniagaan rempah-rempah terbesar di India. Lantaran yang berniaga ke Koyilkotta adalah saudagar-saudagar dari berbagai negeri yang jauh, lafal pengucapan untuk menyebut Koyilkotta pun menjadi beragam. Ada yang melafalkan Koyilkotta dengan Kozhikode, ada yang melafalkan Kalikat, Kalifo, dan belakangan orang Portugis melafalkan: Calicut.

Sekalipun Kozhikode telah berkembang menjadi kota niaga antara bangsa, citra keberadaannya sebagai kota benteng tetap tidak sirna dari ingatan penduduk. Itu sebabnya, sejak awal kehadiran orang-orang Portugis yang menipu Samutiru sehingga penduduk menyangka mereka kawanan bajak laut, penduduk sudah menyerang mereka sebagai musuh berbahaya. Bahkan, sejak penduduk berselisih dengan Pedro Alvares Cabral hingga menjadi tindakan ganas Vasco da Gama membombardir kota Kozhikode, keterlibatan penduduk Kozhikode untuk membela kehormatan kotanya sangatlah besar.

Sebagai penguasa, sesungguhnya Samutiru tidak ingin peperangan terjadi di wilayah kekuasaannya. Dalam berselisih dengan Portugis, ia selalu mengambil jalan damai. Saat Vasco da Gama mengancam agar penduduk Muslim Kozhikode dibunuh semua, ia meminta kepada warganya untuk pergi meninggalkan Kozhikode. Untuk menghindari kesalahpahaman dengan maharaja Wijayanagara, ia pun secara halus meminta kepada saudagar-saudagar Mappila yang menjadi abdi maharaja Wijayanagara untuk menyingkir sementara dari Kozhikode. Namun, sikap mengalah Samutiru itu tidak cukup berhasil meredam semangat penduduk. Ketika sebagian warga muslim Kozhikode berlayar ke negeri-negeri di selatan, orang-orang Mappila justru enggan meninggalkan Kozhikode. Mereka menyingkir dari kota, tapi tinggal tidak jauh dari situ. Mereka tinggal di Valapattanam, Thikkodi, Pandalayani, dan Kakkadu. Orang-orang Mappila yang menganggap Kozhikode sebagai negeri kelahirannya memang sulit meninggalkan begitu saja kota yang mengukir jiwa mereka. Alih-alih mengungsi ke kota-kota terdekat, mereka diam-diam menyiapkan kekuatan bersenjata untuk melawan Portugis. Mereka mendorong Laksamana Kunjali Marakkar, pemuka muslim Kozhikode yang terkenal kegagahannya, agar melakukan penyerangan terhadap kapal-kapal Portugis di mana pun berada. Lewat saudagar-saudagarnya, orang-orang Mappila diam-diam membeli bedil, pedang, tombak, dan bedil besar bikinan Kuthiramalika di Tanjore untuk digunakan menyerang orang-orang Portugis.

Sebagaimana warga muslim Kozhikode yang lain, Laksamana Kunjali Marakkar tidak setuju dengan kebijaksanaan Samutiru yang cenderung mengalah kepada Portugis. Mengalah kepada musuh sama maknanya dengan membiarkan Kozhikode kehilangan ruh kepahlawanannya. Laksamana Kunjali Marakkar pun berusaha membangkitkan semangat Samutiru untuk melawan Portugis lewat pengungkapan kembali kisah-kisah keperkasaan leluhur Samutiru yang menjadi penguasa benteng Velapuram. Akhirnya, Samutiru sepakat untuk melawan. Samutiru lalu memerintahkan orang untuk memperbaiki dan memperkuat benteng lama di Kottapadi yang letaknya dekat dengan Kuil Syiwa dan Kuil Vettakkorumakan. Ia menunjuk Parnambi, kepala suku setempat, untuk menjadi penguasa benteng dan sekaligus pelatih keprajuritan di benteng tersebut. Laksamana Kunjali Marakkar pun diberi keleluasaan untuk membangun angkatan laut Kozhikode sekuat mungkin.

Upaya diam-diam Samutiru membangun kekuatan militer tidak diketahui Portugis maupun seteru lamanya, raja Cochazhi. Vasco da Gama dan raja Cochazhi melakukan pembaharuan perjanjian yang pernah dibuatnya dengan Cabral. Vasco da Gama juga mengajak raja Cochazhi untuk membuat persekutuan dagang yang disebut feitoria di Cochazhi. Untuk menunjukkan taring kegarangan sebagai pemenang, Vasco da Gama sengaja membiarkan awak kapalnya mencari hiburan di Kozhikode pada malam hari. Dengan keyakinan bahwa Kozhikode sudah benar-benar bertekuk lutut, Vasco da Gama kembali ke Portugal membawa kapal-kapalnya yang penuh muatan rempah-rempah. Ia sengaja meninggalkan seratus serdadu dan tiga kapal di bawah Francisco d’Albuquerque yang ditugaskan melindungi Cochazhi, dan Duarte Pacheco Pereira yang ditugaskan menjadi penasihat raja Cochazhi, dengan keyakinan bahwa Samutiru tidak akan melakukan tindakan yang bertentangan dengan kepentingan Portugis.

Bagian terbesar penduduk muslim Kozhikode yang disebut suku Mappila adalah orang-orang yang leluhurnya berasal dari negeri Yaman dan Teluk Persia. Berdasar cerita tutur yang samar-samar masih diingat oleh generasi muda Mappila, para dhatu leluhur mereka adalah pejuang pembela ahlul bait dari kalangan Syi’ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Karena musuh mendesak terus dari daratan maka leluhur mereka itu terdesak ke pantai dan lari meninggalkan negerinya lewat laut. Mereka mendarat dan kemudian tinggal di wilayah Kerala serta di sebagian tempat di dalam negeri Wijayanagara. Sebagai pelarian, mereka berusaha bertahan dengan cara berkompromi dengan penduduk sekitar yang beragama Hindu. Sadar dengan keberadaan diri sebagai warga pendatang, mereka melindungkan diri di bawag kekuasaan raja-raja setempat yang beragama Hindu dan bersedia menjadi abdi setia dari raja-raja tersebut.

Tidak banyak catatan sejarah ditulis orang tentang kehidupan dhatu leluhur orang-orang Mappila yang merintis kehidupan awal di negeri tersebut. Serpihan sejarah hanya mencatat bahwa negeri-negeri di selatan Bharatnagari yang termasuk di dalamnya wilayah Kerala tidak pernah sepi dari peperangan. Itu berarti, dhatu leluhur orang-orang Mappila yang lari dari negeri kelahirannya karena kalah perang harus bisa bertahan hidup di negeri baru yang ternyata tidak pernah benar-benar padam dari nyala api peperangan. Sejak pertempuran antar penguasa setempat, Dantidurga dengan Chalukya, orang-orang Mappila seolah-olah dipaksa oleh takdir untuk menyaksikan dan seringkali terlibat dalam pertempuran antarraja besar dan kecil di sekitar mereka. Bersama-sama penduduk pribumi Kerala, mereka berusaha bertahan dari tekanan-tekanan peperangan yang terus membara dari waktu ke waktu.

Boleh jadi akibat kesamaan nasib karena terus-menerus menjadi korban peperangan, orang-orang Mappila keturunan Arab asal Yaman dan Teluk Persia itu pada gilirannya dapat berbaur dengan penduduk setempat yang menganut Hindu dan Jaina. Bukan hanya dalam hal bahasa Malayalam yang mereka gunakan sebagai bahasa ibu, melainkan adat istiadat dan kepercayaan mereka pun menunjukkan hasil perpaduan antara pengaruh Islam-Hindu-Jaina. Lantaran itu, adat istiadat mereka agak berbeda dengan muslim lain di Bharatnagari. Sekalipun hampir seluruh penduduk muslim Kerala mengaku sebagai muslim penganut Sunni dan bermadzhab Syafi’i, secara aneh mereka menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang lazimnya dijalankan oleh penganut Syi’ah, Hindu, dan Jaina.

Sebagaimana lazimnya penganut Syi’ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah, orang-orang muslim Mappila memiliki adat istiadat dan kepercayaan khas, yaitu mengadakan upacara khaul bagi orang yang meninggal. Mereka membacakan talqin kepada jenasah. Mereka memperingati Maulid Nabi Saw. dengan tontonan-tontonan, nyanyian-nyanyian yang disebut Mappila Pattukal, musik, dan upacara makan-makan yang disebut kenduri. Mereka memperingati bulan Muharam dengan upacara-upacara melarung tabut Hasan dan Husein di laut dan membuat bubur Asyura. Mereka suka berziarah ke kubur wali-wali untuk meminta berkah. Mereka melakukan pula upacara yang disebut Nercha untuk meminta perlindungan kepada arwah pelindung suku dan desa, dengan mempersembahkan suguhan utama kue-kue bulat dari tepung beras yang disebut appam. Hampir semua ulama Mappila mengaku bernasab kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan orang-orang Mappila itu ternyata diikuti begitu saja oleh penduduk asli yang belakangan memeluk Islam. Malahan, mereka tidak sekadar ikut-ikutan adat istiadat orang Mappila, melainkan membaurkannya dengan adat istiadat mereka. Akibatnya, terjadi keanehan-keanehan yang mencengankan dari kebiasaan hidup sehari-hari penduduk muslim di Kerala dan terutama di kota Kozhikode. Penduduk muslim setempat yang umumnya berasal dari suku-suku berkasta rendah dalam tatanan masyarakat Hindu sangat suka menggunakan gelar-gelar asing seperti Syaikh, Khan, Sayyid, Syarif, dan Beg untuk menunjukkan kesetaraan kedudukannya dengan masyarakat muslim yang lain. Hal itu tentu menyulitkan orang untuk membedakan keberadaan mereka dengan suku Mappila maupun dengan saudagar-saudagar Arab pendatang. Ulama-ulama setempat pun, sebagaimana ulama-ulama suku Mappila, secara menakjubkan mengaku memiliki susunan silsilah leluhurnya yang merujuk kepada Nabi Muhammad Saw. melalui galur Fatimah az-Zahrah dan Imam Ali bin Abi Thalib.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala ternyata tidak cukup menunjukkan citra budaya yang lazim dijalankan orang-orang Syi’ah Zaidiyyah dan Ismailiyyah. Secara nyata, mereka mengikuti pula adat istiadat dan kepercayaan penduduk setempat yang beragama Hindu dan Jaina. Setiap tahun, misalnya, mereka berduyun-duyun datang ke Masjid Pazhayangadi di kota Kondotti untuk mengadakan upacara Nercha selama empat hari dengan sesaji utama kue appam, namun setelah dari masjid mereka biasanya datang ke Kuil Kodungallur untuk mengikuti upacara Bhadrakalipattu, tempat orang Hindu memuja Bhadrakali. Mereka bersembahyang di Masjid Puthangadi, namun setelah itu berziarah ke Kuil Tirumandankunnu di dekatnya, untuk memuja Durga. Penduduk beragama Hindu pun melakukan hal yang sama: setelah berziarah ke Kuil Sri Dharmasatha untuk memuja Ayyappa dengan upacara Petta-Thullal atau Kanni Ayyappa, mereka berziarah ke Masjid Vavar di dekatnya karena Vavar yang muslim adalah sahabat Ayyappa.

Adat istiadat dan kepercayaan kaum muslimin di Kerala memang aneh. Sekalipun dalam kehidupan kemasyarakatan mereka terkenal sangat setia kepada rajanya, dalam hal keruhanian mereka sangat mendewakan ulama-ulama panutannya. Hampir setiap orang Mappila dan muslim Kerala memiliki anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan selain adalah keturunan Nabi Muhammad Saw., juga merupakan wali Allah yang suci dari dosa (maksum). Bahkan, keluarga dari ulama pun mereka muliakan sedemikian rupa seolah-olah mereka ikut terpancari kemaksuman tersebut.

Dengan anggapan bahwa ulama yang mereka jadikan panutan adalah keturunan Nabi Muhammad Saw. dan sekaligus wali Allah yang maksum, kepatuhan para pengikut pun menjadi mutlak. Ulama panutan yang umumnya memiliki kepandaian menyembuhkan orang sakit dan memecahkan masalah kehidupan sehari-hari itu menjadi pusat ketergantungan bagi para pengikutnya. Mereka seolah-olah menggantikan peran pendeta dalam masyarakat Hindu, meski mereka paham bahwa di dalam Islam tidak ada kependetaan. Itu sebabnya, saat ulama panutan meninggal, makamnya akan dijadikan pusat ziarah oleh para pengikutnya sebagai makam keramat seorang wali. Untuk mempertahankan adat istiadat dan kepercayaan yang menguntungkan kedudukannya itu, mereka secara turun-temurun mewajibkan kepada semua pengikutnya untuk taklid buta.

Pagi sudah menjelang siang. Matahari tinggi di langit timur. Cahayanya merata di permukaan bumi Kozhikode. Di sebuah rumah besar yang terletak tak jauh dari benteng, di tengah hiruk pikuk orang-orang yang berseliweran di jalan-jalan, di sela-sela embusan angin pantai yang menerpa setiap bangunan di kota, Abdul Jalil duduk bersila di sudut ruangan bersama Raden Sahid dan pemilik rumah, Salim Chandidas, menantu saudagar Ramchandra Gauranga, pengikut setia Bharatchandra Jagaddhatri. Di sampingnya terlihat Bardud, anaknya yang berusia sekitar empat belas tahun, menyandarkan kepalanya ke bahunya.

Siang itu Abdul Jalil sedang menunggu keberangkatan kapal yang bakal membawanya ke Pasai. Menurut jadwal, kapal baru akan berlayar setelah kegelapan menyelimuti bumi. Agak berbeda dengan kelaziman pelayaran sebelumya, di mana kapal-kapal dari Kozhikode dapat berlayar setiap waktu, saat itu orang cenderung memilih berlayar malam. Alasannya, untuk menghindari ancaman kapal-kapal Portugis. Para nakhoda banyak memilih waktu malam untuk membawa kapalnya keluar dari pelabuhan Kozhikode karena saat itu kelasi-kelasi Portugis sibuk menghibur diri di kedai-kedai Cochazhi maupun Kozhikode. Biasanya, dengan mengambil jarak memutar yang cukup jauh dari pantai, kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan Kozhidode akan menerobos kegelapan malam tanpa penerangan lampu sampai ke tengah lautan bebas.

Selama menunggu keberangkatan kapal, Abdul Jalil menangkap kegelisahan jiwa Salim Chandidas yang ditutup-tutupi dengan senyum dan keramahan. Itu sebabnya, usai berbincang-bincang tentang gerakan diam-diam penduduk Kozhikode yang mendukung Laksamana Kunjali Marakkar melawan Portugis, Abdul Jalil bertanya dengan nada menyindir, “Apakah setiap akan melepas kapal para saudagar Kozhikode selalu dibayangi kecemasan dan kekhawatiran bakal diserang Portugis?”

Salim Chandidas tercekat kaget. Setelah diam sejenak dia berkata, “Kami kira, semua pemilik kapal di Kozhikode sekarang ini sedang dicekam kegelisahan setiap kali akan melepas kapalnya. Kapal-kapal Kozhikode yang memuat barang perniagaan terutama rempah-rempah, belakangan ini sering tidak kembali ke pangkalannya. Kapal-kapal itu lenyap begitu saja seperti ditelan laut. Menurut kabar yang berkembang, kapal-kapal itu dirampas muatannya dan kemudian ditenggelamkan oleh orang-orang Portugis. Tetapi, tuduhan bahwa Portugis sebagai pelaku tindak kejahatan itu sejauh ini belum bisa dibuktikan karena tidak ada satu orang pun di antara awak kapal yang hilang itu pernah kembali ke pangkalannya.”

“Apakah Laksamana Kunjali Marakkar dan penduduk akan menyerang Portugis jika kedapatan bukti bahwa merekalah pelaku perampasan kapal?” tanya Abdul Jalil.

“Itu sudah pasti, Tuan Syaikh,” kata Salim Chandidas dengan gigi berkerut-kerut menahan amarah, “hal itu kami kira tinggal menunggu waktu saja.”

“Berarti, selama ini kabar yang beredar di kalangan penduduk tentang kapal-kapal niaga yang ditenggelamkan Portugis itu belum bisa dibuktikan kebenarannya? Maksudnya, semua kabar itu masih sangkaan?”

“Bukti nyata memang belum ada, Tuan Syaikh,” kata Salim Chandidas menarik napas panjang dengan wajah makin merah. “Tetapi, secara sederhana orang yang paling awam pun wajib mencurigai Portugis. Sebab, selama beratus-ratus tahun negeri Kozhikode berniaga belum pernah terjadi peristiwa seperti ini. Bayangkan, dalam waktu beberapa bulan sejak kehadiran Portugis sudah belasan kapal niaga Kozhikode yang membawa muatan rempah-rempah raib di tengah laut. Padahal, semua orang mengetahui kapal-kapal Portugis yang berkeliaran di lautan kita itu memiliki tujuan utama membeli rempah-rempah.”

“Jadi, yang raib itu hanya kapal-kapal yang memuat rempah-rempah?”

“Ya.”

“Apakah kapal yang akan kami tumpangi nanti memuat rempah-rempah?”

“Itu memang kapal untuk memuat rempah-rempah. Tetapi, kalau berangkat dari Kozhikode biasanya membawa barang-barang niaga lain untuk ditukar dengan rempah-rempah. Muatan rempah-rempah baru diangkut setelah kapal kembali dari negeri Jawi,” kata Salim Chandidas.

“Tapi, kami dengar kapal-kapal milik orang Cochazhi tidak ada satu pun yang hilang sebab penguasa mereka bersekutu dengan Portugis. Apakah orang-orang Kozhikode tidak bisa menjalin hubungan baik dengan Portugis sebagaimana dilakukan orang Cochazhi?” tanya Abdul Jalil.

“Itu tidak mungkin, Tuan Syaikh,” sahut Salim Chandidas tegas. “Sejak awal kedatangannya, orang-orang Portugis sudah menempatkan diri sebagai kawanan bajak laut yang menipu penguasa Kozhikode. Selain itu, Portugis dengan kekejamannya yang menjijikkan telah membantai penduduk Kozhikode dan mengancam-ancam raja kami. Lantaran itu, baik penduduk muslim maupun Hindu di Kozhikode ini tidak akan sudi berbaik-baik dengan Portugis, sedangkan orang-orang Cochazhi ikut dengan kebijakan penguasanya yang bersahabat dengan Portugis karena mereka orang-orang yang lemah dan kurang percaya diri.”

“Berarti, musuh Kozhikode sekarang ini bertambah berat karena Portugis bersekutu dengan Cochazhi. Bahkan, kabar terakhir yang kami dengar, orang-orang Portugis sedang membangun benteng di tepi sungai Periyar dekat muara,” kata Abdul Jalil.

“Itulah masalah rumit yang sedang kami hadapi. Para penguasa negeri saling berseteru. Tidak ada yang mau mengalah. Dan, Portugis kelihatannya memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingannya sendiri,” kata Salim Chandidas dengan nada kurang bersemangat.

Abdul Jalil termangu-mangu sambil mengelus-elus janggutnya. Ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian sedang menggantung di langit Kozhikode. Tidak lama lagi hujan dan angin peperangan akan melanda negeri itu bersama ledakan halilintar yang mengiringi kedatangan Ya’juj wa Ma’juj. Darah akan membanjir. Sang Maut akan meniup terompet Kematian di tengah mayat-mayat yang berserak di mana-mana. Secara tiba-tiba ingatannya melesat ke Nusa Jawa. Apakah Nusa Jawa juga akan dilintasi mendung hitam Kematian?

Sekejap mengingat Nusa Jawa, ia menangkap sasmita bahwa mendung hitam Kematian tidak akan melintas di langit Nusa Jawa. Sebab, peristiwa pecah belah antarpenguasa sebagaimana yang terjadi di negeri Kerala, sepengetahuannya, sudah tidak terjadi lagi di Nusa Jawa. Para adipati di sepanjang pesisir Nusa Jawa sudah bersatu dalam suatu persekutuan di bawah kepemimpinan Sultan Demak. Persekutuan para penguasa daerah itu memiliki tujuan utama menegakkan Tauhid di tengah kehidupan masyarakat. Persekutuan adipati-adipati itu pun didukung penguasa Majapahit, Japan, dan Blambangan sehingga tidak ada alasan untuk berperang.

Sebagaimana lazimnya tatanan kekuasaan yang didasarkan atas kaidah-kaidah tasawuf, yang menempatkan kekuasaan duniawi di bawah kekuasaan ruhani, demikianlah dalam persekutuan adipati-adipati di Nusa Jawa itu. Sultan Demak dan adipati-adipatinya berada di bawah naungan kekuasaan ruhani para guru suci yang tergabung dalam Majelis Wali Songo, Sultan Demak selaku pemimpin persekutuan adipati wajib menjalankan tatanan agama berdasarkan Tauhid kepada seluruh penduduk. Untuk itu, Sultan Demak selain bergelar Amir al-Mu’minin juga beroleh gelar Khalifah ar-Rasul Sayidin Panatagama dari Majelis Wali Songo. Dengan tatanan kekuasaan sebagaimana diterapkan di Nusa Jawa yang ditegakkan atas asas Tauhid itu, Abdul Jalil sangat yakin jika kekuatan Portugis tidak akan dapat menembus Nusa Jawa. Ia sangat yakin Allah tidak akan menimpakan malapetaka kepada umat yang bertauhid dengan cara menyerahkannya kepada musuh yang keji dan biadab.

Ketika sore tiba, Abdul Jalil dan Raden Sahid terlihat berdiri di sudut jalan yang menuju dermaga Kozhikode. Sambil memandangi kapal-kapal dan perahu-perahu yang diayun-ayun gelombang laut, di tengah kerdipan cahaya kuning matahari yang memantul di permukaan air, Abdul Jalil menangkap sasmita di balik rangkaian penderitaan yang dialami penduduk muslim Kozhikode sejak kehadiran orang-orang Portugis. Orang-orang malang itu sesungguhnya sedang dicambuk oleh peringatan Tuhan melalui keganasan Ya’juj wa Ma’juj dalam wujud orang-orang Portugis. Dengan kobaran dari senjata-senjata penyembur api, ketenangan hidup penduduk muslim Kozhikode dijungkirbalikkan. Sasmita itu sendiri sejatinya sudah ditangkapnya bertahun-tahun silam saat ia berada dalam perjalanan dari Gujarat menuju Goa.

Setelah beberapa jenak merenung-renung tentang sasmita yang ditangkapnya, dengan suara lain ia berkata-kata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri.

“Sesungguhnya, Allah telah menetapkan perintah agar kaum beriman hanya menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan ilah-ilah selain Dia (QS. al-Baqarah: 21 – 22; an-Nisa:36). Sesungguhnya, jalan yang lurus adalah menyembah hanya kepada Allah Yang Maha Esa (QS. Ali Imran: 51). Sebab, Allah adalah Sang Pencipta, Yang Maha Memelihara, Maha Melihat, Mahahalus, Maha Mengetahui (QS. al-An’am: 101 – 103), meliputi segala sesuatu (QS. al-A’raf: 89; al-Anfal: 47; Hud: 92), juga meliputi seluruh manusia (QS. al-Isra: 60).”

“Karena Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Menyesatkan (al-Mudhill) dan Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi) yang mengejawantahkan kehendak Zat Yang Mahamutlak secara rahasia selalu berjalin berkelindan dan berganti-ganti dalam menunjuki dan menyesatkan manusia (QS. al-Fathir: 8), melalui pengilhaman terhadap jiwa manusia atas kefasikan dan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8), maka manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) terpilah sesuai Asma’, Af’al dan Shifat-Nya, yaitu menjadi golongan yang disesatkan dan golongan yang diberi petunjuk. Mereka yang disesatkan akan dilimpahi azab Allah yang pedih (QS. Shad: 26).”

“Sesungguhnya, tanda paling terang dari kesesatan dan ketakwaan suatu umat terlihat dari curahan azab dan limpahan rahmat yang diterima masing-masing laksana perbedaan antara pancaran cahaya dan selimut kegelapan. Dia (al-Hadi) mengeluarkan orang beriman dari kegelapan menuju cahaya, sedangkan setan (pengejawantahan kuasa al-Mudhill) mengeluarkan orang ingkar dari cahaya ke dalam kegelapan (QS. al-Baqarah: 256 -257). Mereka yang sesat itu mengikuti jalan thaghut dan menganggap kaum beriman sesat (QS. an-Nisa: 51, 60). Padahal mereka itulah orang-orang yang dikutuk Allah (QS. al-Maidah: 60).”

“O penduduk Kozhikode, kefasikan apa yang sesungguhnya telah kalian lakukan hingga membuat cambuk Allah dilecutkan atas kalian? Sesungguhnya, Allah tidak pernah membinasakan kota-kota kecuali penduduknya telah melakukan kezaliman dan kefasikan (QS. al-Qashash: 59; al-Ankabut: 34). Semoga lecutan cambuk dari-Nya tidak membinasakan, tetapi hanya menjadi peringatan agar kalian kembali meneguhkan Tauhid; semata-mata menyembah Allah dengan benar dan menjauhi penyembahan kepada thaghut.”

Raden Sahid yang mendengar kata-kata Abdul Jalil itu memegang keningnya. Dia berusaha merangkai makna di balik ucapan Abdul Jalil dengan kenyataan pedih yang dialami penduduk Kozhikode, yang dicekam kegelisahan akibat tindakan-tindakan orang Portugis yang ganas. Setelah beberapa jenak merenung, dia bertanya kepada Abdul Jalil, “Apakah Paman menganggap bahwa kemalangan nasib yang dialami orang-orang muslim di Kozhikode berkaitan dengan kemerosotan Tauhid mereka?”

“Itulah sasmita perlambang yang aku tangkap.”

“Kami pun menangkap sasmita seperti Paman. Semula, kami melihat orang-orang muslim di Kozhikode sebagai muslim yang baik dalam akidah. Tetapi, belakangan kami mendapati kenyataan lain di mana kebanyakan mereka itu tanpa sadar telah mengikuti kepercayaan-kepercayaan yang menyimpang dari prinsip-prinsip Tauhid. Kebanyakan mereka telah menyimpang dari jalan yang benar (fasik). Mereka banyak yang terseret keluar dari jalan Tauhid dan cenderung menjadi umat yang durhakan kepada Allah,” kata Raden Sahid.

“Tahukah engkau, o Anakku, bahwa mereka yang bersembahyang di masjid umumnya hanya kalangan ulama dan murid-muridnya?” tanya Abdul Jalil.

“Ya, kami tahu itu.”

“Tahukah engkau apa yang dilakukan seumumnya penduduk jika mereka datang ke masjid?”

“Kami melihat orang-orang datang ke masjid tidak untuk bersembahyang. Sebaliknya, mereka berziarah ke makam para wali yang terletak di belakang mihrab.”

“Sungguh aneh umat ini. Apakah mereka kaum penyembah Allah atau kaum penyembah kubur?”

“Setahu kami, mereka datang berziarah ke kuburan untuk meminta pertolongan dan berkah dari ahli kubur yang mereka anggap wali.”

“Bagaimana mereka tahu bahwa ahli kubur yang diziarahi dan dijadikan perantara meminta pertolongan itu wali Allah?” kata Abdul Jalil dengan suara ditekan tinggi. “Bukankah keberadaan wali Allah itu dirahasiakan oleh-Nya dari pandangan awam? Tidakkah engkau mengetahui bahwa di dalam tiap-tiap hati dan pikiran muslim di Kozhikode, sejatinya terselip anggapan bahwa setiap ulama panutan mereka adalah wali Allah? Tidakkah engaku mengetahui betapa mereka meyakini jika ulama-ulama mereka itu suci dan terbebas dari dosa (maksum) seperti Nabi Saw., sehingga patut bagi penduduk untuk memuja kuburan mereka? Tidakkah engkau mengetahui, o Anakku, berapa banyak penduduk muslim Kozhikode yang berziarah ke makam-makam untuk mencari berkah agar keinginan nafsunya terpenuhi? Tahukah engkau, selain meminta berkah ke kuburan ulama yang mereka anut, mereka juga sering kedapatan meminta berkah ke Kuil Durga dan Bhadrakali dengan mengikuti upacara-upacara yang mengancam prinsip-prinsip Tauhid?”

“Tahukah engkau betapa banyak di antara kaum muslimin Kozhikode diam-diam memelihara ular rumah (sarpa-kavu) yang mereka dapat dari Kuil Mannarasala tempat memuja Nagaraja? Tahukah engkau betapa mereka meyakini jika ular-ular itu bisa memberikan berkah keselamatan terhadap mereka? Dan, tahukah engkau berapa banyak di antara mereka yang tewas akibat dipatuk ular peliharaan itu?”

“Ya, kami tahu itu.”

“Tidakkah engkau mengetahui juga bagaimana ulama-ulama Kozhikode hampir selalu mengajarkan kepada para pengikutnya bahwa berdoa langsung kepada Allah adalah sesuatu hal yang mustahil bisa dilakukan, karena manusia terlalu kotor dan penuh dosa? Tahukah engkau bahwa mereka mewajibkan kepada pengikut-pengikutnya untuk menggunakan wasilah kepada wali-wali dalam memohon pertolongan Allah dan yang diwalikan itu ternyata adalah diri ulama itu sendiri?”

“Kami tahu itu, Paman. Mereka berdalih dengan iktibar bahwa orang awam biasa tidak akan mungkin bisa bertemu raja tanpa melewati pengawal kerajaan atau orang-orang yang dekat dengan raja. Sementara, para wali Allah adalah sahabat-sahabat Allah yang senantiasa berkenan menjadi wasilah untuk menyampaikan doa umat kepada Allah Yang Mahasuci. Tapi Paman, bukankah wasilah melalui wali-wali diperbolehkan bagi orang awam?”

“Wasilah tidak dilarang asalkan yang dijadikan wasilah adalah benar-benar wali Allah yang sempurna (kamil al-mukamil). Tapi, berapa banyak di antara ulama atau kuburan yang disucikan orang-orang itu sesungguhnya tidak terkait dengan keberadaan wali Allah? Tidakkah engkau mengetahui, ulama Kozhikode dari waktu ke waktu selalu berusaha meyakinkan para pengikutnya agar mempercayai bahwa mereka adalah wali Allah? Padahal, berapa banyak di antara mereka itu sejatinya adalah pembohong besar? Mereka banyak yang berbohong mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw. dengan membuat susunan silsilah palsu.”

“Sungguh menyedihkan nasib umat muslim di negeri ini. Sebab, mereka dipimpin oleh ulama-ulama yang tidak mencerminkan citra pewaris Nabi: Suka menumpuk kekayaan. Gemar menghimpun tanah wakaf untuk dijadikan milik pribadi. Mempekerjakan murid-murid di tanah-tanah itu tanpa upah sepeser pun. Lalu, menempatkan diri sebagai pengabsah bagi kebijakan-kebijakan penguasa yang sering menzalimi masyarakat. Melipat-lipat dan membentuk tafsiran ayat-ayat Allah sesuai kepentingan penguasa yang menyuap mereka. Menata dalil-dalil untuk menguntungkan kepentingan mereka. Sungguh, kemuliaan dan keluhuran ulama sebagai wakil al-Alim di muka bumi telah mereka tukar dengan pengabdian membuta kepada harta benda dan kekuasaan. Mereka tanpa punya rasa malu telah menekuk lutut dan memperbudak diri sendiri kepada penguasa dengan imbalan sangat murah,” kata Abdul Jalil tegas.

“Apakah mereka akan dibinasakan Allah?”

“Aku tidak menangkap sasmita bahwa mereka bakal dibinasakan Allah,” kata Abdul Jalil datar. “Aku hanya menangkap sasmita mereka sedang dicambuk oleh murka Allah, seolah-olah hewan gembala dihardik agar tidak menyimpang jauh dari padang gembalaan. Aku menangkap sasmita, mereka sedang diperingatkan Allah dengan bahasa perlambang agar tidak larut di dalam lingkungan yang merusak tiang-tiang penyangga Tauhid. Tetapi, aku tidak yakin mereka bisa cepat tanggap dan sadar akan kekeliruannya. Aku malah melihat mereka bakal bercerai-berai, diusir dari tanah kelahirannya oleh cambuk Allah.”

“Apakah itu bermakna bahwa Allah akan mencambuk mereka dengan lebih keras lagi?”

“Kelihatannya akan seperti itu,” kata Abdul Jalil. “Tapi tahukah engkau, o Anakku, sesungguhnya pada bagian manakah perilaku ulama Kozhikode itu yang paling berbahaya bagi prinsip-prinsip Tauhid?”

“Menurut hemat kami, ada beberapa hal dari perilaku ulama Kozhikode yang kami anggap berbahaya bagi akidah Islamiyyah. Pertama-tama, mereka membiarkan pengikutnya menjadi lintah darat asal mereka tidak lupa memberi setoran. Mereka membuta-tuli terhadap larangan-larangan Allah mengenai riba. Yang tak kalah memuakkan dan menjijikkan, mereka suka sekali mengabsahkan kewalian sebuah kuburan dengan harapan setiap bulan mendapat setoran uang dari juru kunci penunggu kubur. Bahkan yang lebih memuakkan, mereka tanpa kenal malu bertengkar dengan sesama ulama untuk berebut jabatan mursyid tarekat. Sepengetahuan kami, banyak di antara mereka itu sejatinya tidak memenuhi syarat untuk menduduki jabatan mursyid, tetapi berkukuh menduduki jabatan mursyid karena alasan nasab. Bahkan, kami sering mendapati terjadinya perseteruan sengit antarmursyid yang berujung pada pertumpahan darah para jama’ah.”

“Itulah yang aku katakan berbahaya bagi Tauhid. Sebab mengabsahkan riba, ‘memperdagangkan’ kuburan dengan modal kebohongan, memutar-balik ayat-ayat suci untuk kepentingan kekuasaan, dan bertarung memperebutkan kemursyidan adalah tindak kefasikan yang tidak boleh dibiarkan. Coba renungkan, betapa berbahayanya jika mursyid satu sama lain mengkafirkan dan menghalalkan darah masing-masing. Bagaimana mungkin guru-guru tarekat yang seharusnya berakhlak mulia dan menjadi panutan tiba-tiba menjelma wujud diri sebagai tukang fitnah, tukang hasut, tukang mengkafirkan sesamanya, dan suka mencelakakan guru tarekat lain demi kepentingan pribadi? Sungguh, keadaan ini akan merobek-robek citra ajaran tasawuf yang agung dan suci,” kata Abdul Jalil.

“Apakah kita perlu memberi peringatan kepada mereka, Paman?”

“Sesungguhnya tidak perlu,” kata Abdul Jalil datar. “Sebab, yang wajib kita utamakan adalah menjaga Tauhid saudara-saudara kita di Nusa Jawa.”

“Bukankah kita berkewajiban mengingatkan saudara-saudara kita seiman di mana pun berada?”

“Itu memang benar, Anakku. Tetapi, engkau harus tahu bahwa pada masing-masing tempat dan masing-masing kaum, sejatinya sudah ada orang-orang yang ditugaskan Allah untuk memelihara dan menjaga keseimbangan. Mereka akan menjalankan tugas tanpa peduli apakah mereka akan dimusuhi atau didukung kaumnya. Masing-masing mereka tidak boleh melanggar wilayah yang lain.”

“Maksud Paman, apakah mereka itu wali-wali Allah?”

“Satu saat nanti engkau akan mengetahui rahasia itu.”

03. Mezbah Persembahan Baru

Malam menggelar permadani hitam dengan hiasan bintang-bintang sebagai sulaman. Kabut tebal yang menyelimuti permukaan bumi Pasai membenamkan kehidupan dalam kesunyian. Di tengah kesenyapan yang melingkupi, sewaktu manusia menggulung tubuh dalam selimut, ketika margasatwa tidur di sarangnya, di saat terkaman hawa dingin menggigit hingga tulang, terlihat tiga sosok bayangan manusia di bawah sebatang pohon besar di hadapan segunduk tanah merah yang masih basah. Mereka adalah Abdul Jalil, Raden Sahid, dan Tughra Hasan Khan, kakak lelaki lain ibu Abdul Jalil. Agak jauh dari mereka, dalam jarak sekitar dua puluh langkah, terlihat bayangan orang-orang duduk berkerumun membentuk lingkaran di bawah pohon. Di antara mereka yang berkerumun itu terlihat Tughril Muhammad Khan dan Fadhillah Khan, putera Tughra Hasan Khan, Abdullah Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, ketiganya murid Abdul Jalil, Shafa dan Bardud, istri dan anak Abdul Jalil, Na’ina Husam, sufi perempuan asal Syiraz, dan belasan pengawal hulubalang dengan senjata terhunus. Suasana terasa senyap. Lengang. Tidak satu pun di antara mereka yang berkerumun itu berkata-kata atau berbisik-bisik. Semua diam membisu seolah dicekam ketegangan.

Di tengah kegelapan malam yang mencekam itu, sesungguhnya Abdul Jalil tengah berziarah ke makam Husein bin Amir Muhammad bin Abdul Qadir al-Abbasi, kawan seperjalannya dalam menunaikan ibadah haji belasan tahun silam. Namun, suasana malam itu terasa sangat mencekam akibat perseteruan yang terjadi antara penduduk yang menganut paham Syi’ah itsna Asy’ariyah dan Syi’ah Zaidiyyah, ditambah lagi keterlibatan orang-orang Sunni pengikut Imam Syafi’i dan Hanafi. Suasana ziarah yang harusnya tenang justru keadaannya layaknya perang yang menegangkan. Makam Husein hanya berupa gundukan tanah merah, sengaja disamarkan oleh pengikut-pengikutnya tanpa nisan dengan maksud tidak dibongkar oleh musuh-musuhnya.

Kematian Husein yang mendadak memang sangat mengejutkan Abdul Jalil. Dalam perjalanan laut dari Kozhikode ke Pasai, ia sudah memberi tahu Raden Sahid bahwa ia akan singgah di kediaman sahabat lama yang masih berkerabat dengan Raden Sahid, yaitu Husein yang bernasab al-Abbasi. Namun, saat mereka sampai di Pasai dan singgah di kediaman Tughra Hasan Khan, diperoleh kabar bahwa Husein tewas dibunuh orang tak dikenal.

Menurut Tughra, Husein terbunuh dalam serangan mendadak barang dua pekan sebelum kehadiran Abdul Jalil ke Pasai. Tanpa menduga sebelumnya, Husein yang baru kembali dari kediaman Tughra diserang di tengah gelap malam. Ia terbunuh bersama sepuluh orang pengikutnya dan lima orang pengawal yang dikirim Tughra. Selama ini Husein dianggap oleh musuh-musuhnya sebagai seorang tokoh agama pengikut Syah Ismail. Lantaran itu, dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi Husein dimusuhi banyak orang.

Husein yang memahami perkembangan suasana diam-diam menemui Tughra dan meminta perlindungan karena kedudukan Tughra sebagai salah seorang hulubalang Kesultanan Pasai. Dalam pertemuan itu, Tughra menyatakan kesediaannya untuk melindungi Husein dan keluarganya. Tughra bahkan menyatakan akan mendamaikan pihak-pihak yang berselisih dalam waktu secepatnya. Untuk membuktikan keseriusannya, ia memerintahkan lima orang prajurit untuk mengawal Husein kembali ke rumahnya. Namun, dalam perjalanan pulang itulah Husein diserang oleh ratusan orang tak dikenal.

Menurut dugaan Tughra, orang-orang yang terlibat pembunuhan itu berasal dari beberapa kelompok. Pertama-tama, penduduk Pasai pengikut Syi’ah Zaidiyyah asal Yaman yang dipimpin Sayyid Hasan al-Muqayyat dan para pendatang asal Kerala yang dipimpin Syarif Ali Musliyar al-Munfashil. Kelompok berikutnya adalah penduduk Pasai penganut Syi’ah Ismailiyyah asal Gujarat yang dipimpin oleh Sayyid Abdul Aziz al-Khala’ dan para saudagar Malaka penganut Imam Syafi’i yang dipimpin Tun Abdul Karim. Sementara yang juga diduga kuat ikut memanas-manasi suasana adalah saudagar-saudagar asal Maghrib.

Selama mendengarkan paparan Tughra tentang kemelut “pertarungan” kaum muslimin di Pasai, terutama tentang pembunuhan Husein, Abdul Jalil terdiam. Selama beberapa jenak ia merasakan kegeraman terhadap kepicikan wawasan Syah Ismail yang demi ambisi pribadinya telah mengorbankan banyak nyawa dan penderitaan orang-orang yang tak bersalah. Namun, secepat itu pula ia disadarkan oleh Ruh al-Haqq bahwa Syah Ismail pada hakikatnya hanyalah salah satu dari pemain sandiwara kehidupan yang ditempatkan oleh Sang Sutradara pada alur cerita yang sudah dirancang-Nya. Sadar akan hakikat sejatidi balik peristiwa-peristiwa tragis itu, Abdul Jalil tidak dapat berbuat sesuatu kecuali memuji kebesaran dan keagungan-Nya dengan menggumam lirih.

“Wahai Engkau Yang Maha Menyesatkan! Wahai Engkau Yang Maha Menghinakan! Wahai Engkau Tuannya Iblis! Wahai Engkau Penguasa Setan. Wahai Engkau Yang Mahaagung! Sungguh tidak berubah ketetapan hukum-Mu yang telah Engkau gariskan. Wahai pemilik siksa paling pedih, meski Engkau telah memalingkan ‘wajah-Mu yang mengerikan (Bhairawa), meski Engkau telah menyingsingkan kegelapan ‘malam-Mu’ (Candika) yang gelap dan penuh darah ke terang siang-Mu yang dipancari cahaya kasih-Mu (Shankara), ketetapan hukum-Mu tidaklah berubah: Korban darah! Korban darah! Seribu kali korban darah! Ya, korban darah untuk santapan Ibunda Bhumi, Sang Prthiwi, beserta para bhuta dan kala.”

“Sungguh sempurna kehendak-Mu, o Yang Mahalanggeng. Engkau memang sudah mengubah persembahan darah manusia di atas mezbah batu sembelihan. Engkau memang sudah menyelubungi mezbah-mezbah batu persembahan darah di ksetra-ksetra dengan selimut rumah-rumah ibadah kaum beriman yang memuji keagungan-Mu dengan kepasrahan. Engkau bentangkan cermin hijab (al-mir’ah al-hajib) di hamparan cakrawala dunia hingga seluruh manusia di permukaan bumi terpukau dengan gemilang kesantunan para pemuja-Mu yang berpendar laksana matahari pagi yang sejuk. Tetapi, kini telah hamba saksikan dengan mata batin (ain al-bashirah), dan hamba pahami dengan fawa’id, betapa di balik bentangan cermin hijab itu sesungguhnya umat-Mu, manusia, dengan diam-diam atau terang-terangan masih banyak yang memuja ‘citra-Mu’ yang mengerikan itu.”

“O Engkau Yang Maha Menyesatkan! O Engkau Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill)! O Engkau Yang Maha Pemberi Bahaya (adh-Dharr)! O Engkau Yang Mahaperkasa! O, Engkau Tuannya Iblis! O, Engkau Yang Maha Memelihara! Sungguh, Engkau telah menganugerahi hamba kemuliaan sehingga hamba bisa menyaksikan dengan mata batin keberadaan mezbah-mezbah baru untuk korban sembelihan yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah menjadikan hamba sebagai saksi tentang Keberadaan mezbah-mezbah baru yang dibangun saudara-saudara hamba seiman. Engkau telah mencelikkan penglihatan batin hamba untuk menyaksikan bagaimana saudara-saudara hamba seiman tidak membuat mezbah persembahan dari tumpukan batu yang dipahat, tetapi membangunnya dari tumpukan dalil berdasar tafsiran akal pikiran yang mereka sebut madzhab. Madzhab. Madzhab. Seribu kali Madzhab. Ya, madzhab yang mereka bangun dengan kemegahan itulah yang mereka berhalakan dan mereka jelmakan menjadi mezbah persembahan baru tempat korban sembelihan dipersembahkan. Di atas mezbah-mezbah baru itulah umat-Mu, yang menyebut diri kaum yang pasrah (qaum al-muslimin), menyembelih saudara-saudaranya seiman, dengan harapan mendapat berkah dan ridho-Mu.”

Tughra Hasan Khan yang lamat-lamat mendengar gumam Abdul Jalil mengerutkan kening dan bertanya keheranan, “Engkau bicara apa, o Adikku? Apakah Engkau berbicara dengan Tuhan atau mengajak-Nya bergurau?”

“Aku justru menertawakan kebingunganku sendiri.” Abdul Jalil tersenyum pahit. “Maksudku, setiap kali aku menangkap sekelumit Kebenaran Hakiki yang digelar-Nya di balik gemerlap kehidupan dunia yang kasatmata, saat itu aku menyaksikan ketololanku sendiri. Setiap kali aku menemukan Kebenaran Hakiki yang menyingkapkan tirai jati diri di tengah bayangan maya-Nya, aku dapati diriku seperti anak-anak bermain petak umpet yang selalu kalah. Dalam keadaan itu, mereka yang tidak paham dengan keadaanku akan menduga-duga aku telah bercanda dengan Tuhan. Padahal, aku tidak bercanda dengan-Nya. Justru Dia yang kurasakan mempermainkan aku, seolah Dia sangat suka melihatku kebingungan di tengah kesempurnaan-Nya yang tak terbatas.”

“Tentang ucapan-ucapan aneh yang baru saja engkau ucapkan, apakah berkaitan dengan itu juga?”

“Ya.”

“Coba terangkan kepadaku, kenapa engkau mengatakan kaum muslimin membangun mezbah-mezbah baru? Kenapa engkau menilai mereka menyembelih saudara-saudaranya seiman demi beroleh berkah dan ridho Tuhan?”

“Selama ini aku selalu berpandangan bahwa korban sembelihan darah manusia hanya dilakukan oleh para penganut Bhairawa-Tantra dalam upacara Pancamakara di ksetra-ksetra untuk memuja Prthiwi, Durga, dan Kali. Dengan segenap upaya aku sudah mengusahakan agar upacara menyembelih manusia itu diakhiri. Aku paham bahwa upacara semacam itu adalah ketetapan yang dikehendaki-Nya untuk memenuhi hak-hak Sang Prthiwi. Lantaran itu, aku yakin jika upacara korban darah manusia akan terus berlangsung dalam bentuk lain, seperti peperangan dahsyat di suatu waktu tertentu atau bencana alam atau wabah penyakit. Tapi kini, ketika Kebenaran Hakiki menyingsing di cakrawala jiwaku, aku saksikan kenyataan yang mengejutkan dan tidak kusangka-sangka: betapa di dalam amaliah peribadatan orang-orang Islam pun sesungguhnya hal berkorban darah manusia itu dilakukan juga baik secara diam-diam atau terang-terangan,” kata Abdul Jalil tegas.

“Orang Islam melakukan korban sembelihan manusia?” sergah Tughra terheran-heran, “Aku tidak paham maksud perkataanmu, o Adikku.”

“Kakanda,” kata Abdul Jalil lirih, “Jika kita melihat Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih di balik terbunuhnya Husein, tidaklah kita menyaksikan betapa sejatinya dia adalah korban sembelihan dari orang-orang yang menganggap tindakannya paling benar?”

“Aku kira begitu, tetapi aku masih belum paham maksudmu.”

“Apakah Kakanda mengira bahwa orang-orang yang membunuh Husein merasa bersalah dan berdosa atas apa yang telah mereka lakukan?”

“Tentu saja tidak.”

“Apakah mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan dengan membunuh Husein itu adalah keharusan agama demi tegaknya Kebenaran?”

“Aku kira pikiran mereka memang seperti itu.”

“Apakah mereka merasa bahwa membunuh Husein adalah tindakan memurnikan agama?”

“Kelihatannya memang demikian jalan pikiran mereka.”

“Apakah mereka menganggap bahwa madzhab merekalah yang paling benar?”

“Memang demikian.”

“Nah, jika dilihat dari Kebenaran Hakiki dengan hati yang jernih, bukankah madzhab-madzhab yang dianut oleh para pembunuh Husein itu sejatinya telah diberhalakan? Bukankah kita menyaksikan secara hakiki bahwa madzhab-madzhab itu telah menjadi mezbah persembahan dan Husein adalah korban sembelihannya? Kebenaran Hakiki inilah, o Kakanda, yang tadi aku saksikan bersinar gemilang di cakrawala kesadaranku. Lantaran itu, aku tadi menertawakan kebingunganku yang selama ini menganggap mezbah-mezbah persembahan hanya mutlak milik penganut Bhairawa-Tantra. Aku menertawakan ketololanku yang membayangkan mezbah-mezbah persembahan hanya berbentuk batu yang dipahat dengan korban manusia di atasnya.”

“Kenapa engkau merasa tolol? Bukankah engkau harusnya bersyukur dapat menangkap cahaya Kebenaran Hakiki yang dipancarkan-Nya?”

“Memang, aku sangat bersyukur. Tetapi, selama bertahun-tahun aku telah mengikuti pandangan yang keliru bahwa korban sembelihan manusia hanya dilakukan oleh orang-orang penganut ajaran Bhairawa-Tantra. Bahkan, dalam upaya membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra, aku telah rela dan ikhlas menumpahkan darahku di atas batu-batu di berbagai tempat. Kini, ketika sebagian besar ksetra itu telah tawar daya saktinya, justru aku lihat mezbah-mezbah baru untuk sembelihan manusia telah dibangun oleh saudara-saudaraku seiman. Kini, aku saksikan mezbah-mezbah persembahan dari madzhab-madzhab yang diberhalakan telah tumbuh menggantikan ksetra-ksetra. Sekalipun mezbah-mezbah persembahan yang baru itu tersamar dan tidak kasatmata, kenyataan menunjuk bahwa mezbah-mezbah itu akan dijadikan tempat bagi persembahan korban manusia yang tidak lebih sedikit jumlahnya dibanding mezbah-mezbah batu di ksetra-ksetra.”

“Aku paham dengan Kebenaran Hakiki yang engkau peroleh, o Adikku, tetapi janganlah Kebenaran ini engkau ungkapkan kepada orang lain karena bisa menimbulkan salah paham.”

Usai berziarah, di tengah kegelapan yang diselimuti kabut, Abdul Jalil tampak berdiri termangu menatap satu demi satu kerumunan orang yang menunggunya di bawah pohon. Matanya yang setajam binatang malam terlihat berkilat di tengah keremangan. Ketika pandangannya jatuh pada Tughril Muhammad Khan, dengan suara ditekan rendah ia bertanya, “Berapa usiamu sekarang, o Putera saudaraku?”

“Tujuh belas, Paman.”

Abdul Jalil diam. Ia mengalihkan tatapan pada Fadhillah Khan dan bertanya, “Kalau engkau, o Putera saudaraku, berapa usiamu?”

“Lima belas tahun, Paman.”

“Berarti, kalian berdua sudah menginjak dewasa. Sebentar lagi Tughril akan menikah dan beranak-pinak. Lalu Fadhillah akan menyusulnya. Lantaran itu, o Putera saudaraku, sebelum kalian berdua memasuki lautan kehidupan dengan menumpang bahtera yang kalian kemudikan, hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian camkan petuah yang akan aku sampaikan kepada kalian berdua sebagai bekal agar kalian selamat sampai ke Pelabuhan tujuan.”

“Kami akan menjadikan pusaka petuah-petuah dari Paman.”

“Pertama-tama,” Abdul Jalil memulai petuahnya, “Wajib bagi kalian untuk menjadikan Nabi Muhammad Saw. sebagai satu-satunya cermin yang membiaskan setiap gerak langkah kalian, baik dalam berpikir, berkata-kata, bersikap, dan berperilaku. Sebab, Muhammad Saw. adalah perwujudan dari akhlak mulia (al-khuluk al-Karim), ‘cermin’ yang mengantarai dan sekaligus menjadi penghubung antara Sang Pencipta (al-Khaliq) dan ciptaan (al-khalaq). Semakin kuat kalian mengejawantahkan akhlak mulia yang telah diteladankan Muhammad Saw., maka semakin dekatlah kalian kepada-Nya, ibarat bayangan yang makin dekat kepada Yang Bercermin.”

“Aku tidak akan menjelaskan kepada kalian berdua tentang apa saja dari Muhammad Saw. yang harus kalian jadikan cerminan. Sudah terlalu banyak orang yang mengajarkan sesuatu tentang dia. Sebaliknya, aku hanya akan mengajarkan kepada kalian berdua intisari paling rahasia dari keberadaan Muhammad Saw. selama menjalankan tugas Kenabian di dunia yang berpijak pada satu tiang utama: Kebenaran (al-Haqq).”

“Ketahuilah oleh kalian bahwa Muhammad Saw. adalah pengabdi dan sekaligus penyampai Kebenaran sejati yang tulus, ikhlas, tanpa pamrih, yang tiada tandingan hingga derajatnya melampaui ishthina’. Tahukah kalian di mana letak ketulusan dan keikhlasannya dalam mengabdi kepada Kebenaran sampai melampaui ishthina’ ? Tahukah kalian tentang resiko berat yang dihadapi akibat pengabdiannya yang tulus dan ikhlas itu? Dengarkan dan camkan benar-benar apa yang akan aku sampaikan ini.”

“Pertama-tama, Muhammad Saw. mengajarkan Kebenaran tentang Yang Ilahi sebagaimana ajaran yang disampaikan barisan Nabi-Nabi sebelum dia. Padahal, dewasa itu hampir semua bangsa Arab dan terutama kaum Quraisy, kaumnya Muhammad Saw., menganut ajaran ‘kebenaran’ yang berbeda dengan ajaran Nabi-Nabi. Untuk pengabdiannya kepada Kebenaran, Muhammad Saw. harus berhadapan sebagai musuh dengan kaum dan bangsanya sendiri. Seorang diri dia menyampaikan ajaran Tauhid di tengah kejahilan bangsanya.”

“Tidak hanya tentang Yang Ilahi. Ajaran Muhammad Saw. tentang Nabi-Nabi pembawa Kebenaran pun ditandai oleh pengabdian yang tulus dan tanpa pamrih. Di antara keimanan terhadap Nabi-Nabi, terutama dua puluh lima orang Nabi dan Rasul Allah yang wajib diyakini sebagai pembawa Kebenaran, tidak satu pun menunjuk kepada salah satu dhatu leluhur bangsanya, kecuali Ismail a.s. Leluhur suku-suku Arab yang dipuja sebagai sesembahan oleh bangsa Arab justru ditetapkannya sebagai pangkal kemusyrikan yang bertentangan dengan ajaran Kebenaran Tauhid. Bahkan, dengan tulus dan ikhlas Muhammad Saw. mewajibkan para pengikutnya untuk mengimani Kenabian para Nabi Bani Israil seperti Ishak, Ya’kub, Yusuf, Musa, Harun, Yusak, Sulaiman, Daud, Ilyas, Zakaria, Yahya, Isa a.s. dan sebaliknya menolak keilahian dhatu-dhatu leluhur Arab yang dituhankan seperti Latta, Uzza, Manat, dan Hubal. Keikhlasan dalam menempatkan Kebenaran di atas segala itulah yang membuat Muhammad Saw. menempati kedudukan melampaui ishthina’, yaitu kedudukan ruhani orang yang tak terikat keakuan manusiawi lagi.”

“Jika ada orang yang menuduh Muhammad Saw. Memiliki pamrih dalam menyiarkan ajaran Tauhid, tentu akan ada bukti bahwa dia telah mengagungkan dewa-dewa yang disembah bangsanya. Padahal, kenyataan membuktikan bahwa dewa-dewa sesembahan bansa Arab itulah yang justru ditentangnya. Dan sebaliknya, Kebenaran Tauhid yang diajarkan oleh Nabi-Nabi terdahulu termasuk Nabi-Nabi dari antaera Bani Israil yang dia ajarkan untuk menggantikan paganisme yang berkembang dewasa itu. Tauhid adalah Tauhid. Kebenaran adalah Kebenaran. Tidak ada anasir bahasa, bangsa, warna kulit, pangkat, derajat. Itu prinsip dia.”

“Ingat-ingatlah, o Putera-Putera saudaraku, puncak tertinggi dari pengabdian Muhammad Saw. kepada Kebenaran tercermin pada keberhasilan dia dalam menghapus semua pamrih pribadi bagi perjuangannya. Ingatlah sabda Muhammad Saw.: ‘Katakan Kebenaran sekalipun pahit! (qul al-haqq walau kana muran).’ Itulah tonggak pedoman yang mencerminkan keberadaannya sebagai penyampai ajaran Tauhid dan pengabdi Kebenaran. Bahkan, karena kesuciannya dari pamrih-pamrih dalam menyampaikan ajaran Kebenaran maka suara Sang Kebenaran (al-Haqq) mengejawantah dalam wujud Sabda Suci (Kalam Ilahi) yang terungkap lewat lisannya. Sekalipun Muhammad Saw. adalah manusia suci yang menjadi wahana bagi ‘kelahiran’ Sabda Suci Ilahi ke dunia, dia dengan tegas melarang para pengikutnya untuk menyembah selain Allah.”

“Dengan selalu mengingat ketulusan dan keikhlasan Muhammad Saw. dalam mengabdikan diri kepada Kebenaran, hendaknya kalian berdua menjadi sadar dan kemudian bergegas mengikuti langkahnya. Maksudku, sekalipun di dalam aliran darah kita terdapat darah Muhammad Saw., hendaknya jangan ada di antara kita yang membiarkan jiwanya ternodai pamrih-pamrih pribadi. Janganlah ada di antara kita yang mengaku-aku sebagai keturunan Muhammad Saw. dengan pamrih supaya dihormati dan dijadikan panutan manusia. Jangan ada di antara kita yang menyatakan diri sebagai keturunan Muhammad Saw., tetapi menyembunyikan harapan agar bangsa-bangsa pemeluk Islam bertekuk lutut kepada kita. Jangan ada di antara kita yang mengaku keturunan Muhammad Saw. dan kemudian menutup ‘pintu Kebenaran’ dengan memberhalakan diri sebagai satu-satunya penjaga ‘pintu Kebenaran’. Jangan ada di antara kita yang mengaku-aku keturunan Muhammad Saw. dengan maksud memperoleh keuntungan pribadi, apalagi sekadar sedikit kekayaan dan kekuasaan duniawi.”

“Lantaran itu, ingat dan camkan! Kebenaran Tauhid yang diajarkan Muhammad Saw. tidak mengenal bangsa, bahasa, warna kulit, dan garis keturunan. Kebenaran adalah Kebenaran. Laksana wangi bunga, Kebenaran tidak pernah menyebar-nyebarkan harum-Nya, tetapi semerbak wanginya menebar sendiri ke mana-mana. Jangan sekali-kali kalian menerima Kebenaran berdasar siapa yang membawanya, melainkan terimalah Kebenaran sebagai Kebenaran meski berasal dari orang-orang gelandangan yang tak dihormati manusia. Kebenaran akan terbit sebagai matahari hakiki yang cahanya-Nya bisa disaksikan sebagai bashirah. Hilangkan segala macam pamrih, karena pamrih adalah bagian dari kemusyrikan yang samar,” kata Abdul Jalil.

“Kami akan pusakakan wejangan Paman,” kata Tughril.

Abdul Jalil diam dan bergantian menatap Tughril dan Fadhillah. Sejurus setelah itu, dengan suara yang lain ia berkata penuh wibawa. “Jika kalian nanti mengarungi samudra kehidupan, janganlah kalian tergiur oleh warna-warni ‘cat’ yang menghias ‘bahtera’ yang katanya dibuat dari ayat-ayat Ilahi yang terang dan abadi. Sebab, warna-warni ‘cat’ penghias ‘bahtera’ itu pada dasarnya tidak lebih dari bahan-bahan penghias ‘bahtera’, yaitu tafsiran-tafsiran dari ayat-ayat Ilahi yang diikat (‘iql) oleh serat-serat nalar (‘aql) hingga menjadi jalinan tali-temali pemikiran (fikr) yang nisbi jangkauannya.”

“Kenapa aku mengingatkan kalian akan hal ini? Sebab, segala sesuatu yang dibangun di atas bangunan pemikiran yang nisbi jangkauannya akan nisbi pula keberadaannya. Bahan-bahan penghias selalu rentan dan gampang terkelupas dan luntur. Lantaran itu, ingat-ingatlah selalu bahwa Kebenaran yang terkandung di dalam ayat-ayat Ilahi adalah mutlak dan tidak terbantah. Tetapi, penafsiran atas ayat-ayat tersebut berdasar akal pikiran, adalah nisbi. Terbatas. Itu sebabnya, Allah melarang melarang manusia untuk menggunakan pikiran dalam mengenal Sang Pencipta. Pikiran hanyalah piranti yang digunakan untuk mengenal ciptaan-Nya. Dengan demikian, jika ada manusia menggunakan pikiran untuk mengenal Allah, justru hasilnya adalah pengingkaran (kufur) terhadap Kebenaran dan bermuara pada pengkafiran (takfir). Mereka yang menggunakan pikiran untuk mencari Allah pasti akan sesat sehingga ‘bahtera’ yang mereka tumpangi akan kandas ke jajaran karang tajam samudera ruhani dan hancur berkeping-keping dalam Kebinasaan.”

“Tanamkan di hati sanubari kalian berdua, o Putera saudaraku, Kebenaran Sejati tidak bisa diperdebatkan berdasar dali-dalil yang dibangun dari bahan-bahan hasil tafsiran akal pikiran. Kebenaran Sejati hanya bisa dikenal dengan bashirah. Ingat itu: bashirah! Itu sebabnya, hendaknya kalian berdua jangan terperangkap kepada madzhab-madzhab yang saling berebut benar sendiri. Jangan kalian memberhalakan madzhab. Jangan kalian berperang dan membunuh sesamamu demi madzhab yang engkau anggap benar. Jika itu yang kalian lakukan maka kalian sesungguhnya telah membangun mezbah-mezbah persembahan dengan korban sembelihan saudara kalian dari perselisihan madzhab. Menghindarlah kalian dari perselisihan madzhab. Jadilah kalian sebagai bagian dari kaum beriman (qaum al-mu’minin), wakil al-Mu’min di muka bumi (khalifah al-Mu’min fi al-ardh), yang menjadi pembawa keamanan bagi kehidupan makhluk di muka bumi. Citrakan diri kalian sebagai wakil as-Salam di muka bumi (khalifah as-Salam fi al-ardh) yang menjadi bagian dari pembawa dan pemelihara kedamaian di bumi.”

Tughril termangu-mangu mendengar uraian Abdul Jalil. Setelah merenung beberapa jenak, dia berkata dengan nada tanya, “Kami sudah memahami akan apa yang Pamanda sampaikan. Tapi, kami belum paham dengan penjelasan Pamanda tentang mengenal Kebenaran dengan bashirah. Apakah yang Pamanda maksud dengan bashirah? Bagaimanakah cara kita menggunakan bashirah untuk mengenal-Nya?”

“Bashirah adalah piranti yang digunakan Nabi Muhammad Saw. untuk menerangi jalan Kebenaran yang dia lalui dan digunakan pula oleh orang-orang ang mengikutinya (QS. Yusuf: 108). Melalui piranti bashirah itulah Nabi Muhammad Saw. secara khusus mengajarkan kepada sahabat-sahabat dekatnya ‘cara’ dan ‘jalan’ mengenal Allah. Tetapi, ajaran tentang bashirah ini sangatlah rahasia sehingga tidak bisa diungkapkan di tengah manusia ramai. Lantaran itu, aku akan mengajarkan kepadamu pengenalan akan Allah melalui bashirah secara rahasia pula.”

Setelah mengajarkan pengetahuan rahasia tentang bashirah kepada Tughril dan Fadhillah, Abdul Jalil menggandengan dua orang kemenakannya itu berjalan ke arah Na’ina Husam, yang duduk bersimpuh di samping Shafa, istrinya. Na’ina Husam sendiri adalah sufi perempuan asal Syiraz, yang tinggal di Pasai di bawah lindungan Tughra Hasan Khan. Dia meninggalkan negerinya akibat diburu-buru kaki tangan Syah Ismail. Dia mula-mula datang ke negeri Perlak. Namun, di sana suasananya tidak berbeda dengan di Syiraz. Penduduk Perlak yang mendukung keluarga Safawi terlibat pertarungan sengit dengan penduduk yang menentang Syah Ismail. Darah tumpah di mana-mana. Di tengah pertarungan yang mengalirkan darah itulah Na’inah Husam pergi ke Pasai dan berlindung di kediaman Husein al-Abbasi. Ternyata, di Pasai pun pertarungan tak kalah sengit dan bahkan membawa Husein ke alam Kematian. Di tengah kecamuk pertarungan berdarah itulah, atas permintaan keluarga Husein, Na’ina Husam dilindungi oleh Tughra.

Malam itu cahaya bintang yang bertaburan di langit tak mampu menembus kabut yang menyelimuti permukaan bumi dengan keheningan. Suasana makin senyap. Hening. Di tengah keheningan, di bawah tatapan mata semua orang, Abdul Jalil duduk bersila di depan Na’ina Husam sambil merangkul dua orang kemenakannya. Beberapa jenak terdiam, tiba-tiba Abdul Jalil bertepuk tangan sambil melantun sebaris syair:

“Marilah kita bertepuk tangan sambil berseru: berbahagialah engkau yang terlempar dari tanah kelahirannya karena kecintaan yang tulus dan suci kepada Sang Kekasih. Berbahagialah engkau yang mabuk akibat menenggak anggur penderitaan yang diperas dari buah kerinduan yang tak kesampaian. Berbahagialah engkau yang mabuk anggur kerinduan, karena engkau yang mendamba cinta-Nya. Berbahagialah engkau, o Na’ina Husam, sebagaimana kebahagiaan yang telah direguk Rabi’ah, Rumi, Hallaj, Ba Yazid, Attar, Hafiz, Sa’di.”

Na’ina Husam menegakkan wajah. Matanya yang semula sayu tiba-tiba bercahaya. Dengan tatapan penuh gelora, ia memandang wajah Tughril dan Fadhillah ganti-berganti. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya ke atas dan menepuk-nepukkannya ke bahunya beberapa kali. Setelah itu, dengan suara lain dia mengutip syair-syair yang digubah Sa’di.

“Berbahagialah hari-hari mereka yang mabuk cinta Ilahi karena mereka belum atau sudah mengetahui pedihnya obat penawar Ilahi. Merekalah pengemis yang menolak martabat raja dan mereka sangat lama menderita di dalam permohonan mengharap Dia.”

Abdul Jalil menepuk-nepuk bahu kiri dengan tangan kanannya sambil mengumandangkan syair.

“Wahai engkau yang membandingkan martabat pengemis dengan raja-raja, telah kutangkap citra hidupmu yang tak seekor semut pun pernah menderita karenamu. Sementara raja-raja yang tegak di tengah kemegahan duniawi, hari-harinya selalu diwarnai taburan penderitaan bagi makhluk sekitar. Itulah pertanda utama martabat sang fakir dan sang raja, yang menjadi citra kehidupan dunia sejak masa lalu hingga masa datang.”

Na’ina Husam menengadahkan wajah ke atas menatap bintang gemintang. Dia menepuk-nepuk kembali bahunya. Kemudian dengan air mata berlinang-linang, ia melantunkan syair.

“Kaki tangan Syah Ismail telah memburuku laksana binatang buas yang berbahaya, hanya karena perhatianku selalu kuarahkan kepada Sang Kekasih. Atas titah Syah, mereka menganggapku liar dan karenanya aku harus ditangkap untuk ditundukkan. Sungguh keliru mereka yang menganggap rajawali betina merasa bahagia di dalam sangkar emas dalil-dalil yang mereka cipta. Memang, jiwa-jiwa merpati dan beo bisa berada dalam kerangkeng yang berbeda-beda, tetapi jiwa rajawali-rajawali Ilahi senantiasa merdeka dan Satu.”

“Kaki tangan Syah memaksaku untuk mengikuti jalan akal yang mereka lalui, yaitu jalan yang penuh belokan, putaran, tanjakan, liku-liku membingungkan, dan tebaran jebakan yang membahayakan jiwa. Mereka tidak paham. Akal, sekalipun tinggi dan mulia, bukanlah sang jalan., tetapi cahaya yang menunjukkan jalan. Dengan cahaya akal orang dapat membedakan mana keburukan, mana musuh dan mana kawan, mana benar dan mana batil. Tetapi, dengan seberkas cahaya akal, orang tidak akan mecapai tujuannya sampai dia menemukan jalan itu. Barangsiapa yang telah diberi penerangan jalan, cahaya akalnya akan tenggelam dalam pancaran matahari bashirah yang memancar dari al-Bashir.”

“Aku telah menyaksikan salik-salik penyamar berjiwa serigala dan musang yang ditebar Syah. Mereka berbaris di padang gurun menuju kota-kota dan mengaku membawa berita-berita Kebenaran. Sungguh aneh, mereka yang tidak bisa mendengar suara Kebenaran karena telinga jiwa (sam’) mereka telah pekak tertutup gumpalan awan keakuan, tiba-tiba mengaku sebagai pembawa berita Kebenaran. Sungguh mengerikan mereka, penyamar-penyamar itu. Tubuh mereka berbaris menuju kota-kota, tetapi jiwa mereka terjerat oleh angan-angan kosong laksana laba-laba terjerat jaring-jaring yang ditebar sendiri.”

“Kepada salik-salik sejati, para penempuh jalan Kebenaran, aku sampaikan peringatan kepada kalian: hendaknya jangan sekali-kali mempercayai dan mengikuti mereka yang mengaku-aku pembawa berita Kebenaran. Sebab, mereka adalah para penyamar. Mereka yang mengaku membawa berita Kebenaran sejatinya adalah orang-orang yang bertelinga tuli dan lidahnya bercabang. Sadarkanlah kesadaranmu, o salik-salik sejati, bahwa mengucapkan perkataan atas nama Kebenaran adalah jauh lebih mudah daripada menemukan jalan Kebenaran.”

“Inilah perbedaan antara salik sejati dan salik penyamar, yang pertama adalah Daud yang menyanyikan kidung Zabur, sedang yang kedua adalah gaung nyanyiannya yang memantul di dinding tebal. Atau laksana perbedaan antara ‘ilm al-tahqiqi dan ‘ilm al-taqlidi. Yang pertama dijajakan di tengah keheningan dan dibeli oleh Tuhan, sedang yang kedua dijajakan dan diperdagangkan di pasar dan dibeli banyak orang bodoh.”

Abdul Jalil menepuk bahu kanan dan bahu kirinya. Setelah itu, ia menepuk bahu Fadhillah dan Tughril. Kedua orang kemenakannya itu beringsut ke depan, berlutut dan bergantian mencium tangan Na’ina Husam. Meski orang-orang yang berkerumun di sekitar mereka tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi antara Abdul Jalil dan Na’ina Husam yang bersyair itu, Tughril dan Fadhillah menangkap peristiwa itu sebagai pelajaran ruhani yang sangat dalam dan penuh diliputi rahasia jiwa tak terungkapkan.

Keesokan harinya, ketika matahari merambat naik di ufuk timur, Abdul Jalil duduk bersila di dermaga, tak jauh dari kapal yang akan membawanya ke Malaka. Di tengah embusan angin yang menerbangkan sisa-sisa embun pagi, di antara gemuruh ombak dan jeritan burung camar, di sela-sela suara kibaran layar, ia memberikan wejangan kepada orang-orang yang dikasihinya; Ahmad Kandang, Orang Kaya Kenayan, Abdurrahman Singkel, Raden Sahid, Tughril, dan Fadhillah Khan yang bersila takzim di depannya. Dengan suara lain yang meliputi ketenangan dan kewibawaan, ia berkata di tengah desau angin pantai.

“Sesungguhnya, aku menangkap sasmita bahwa kalian berada dalam kebingungan ketika aku beri tahukan tentang hakikat hidayah dan iman dengan sudut pandang lain daripada yang selama ini kalian pahami. Padahal, jika kalian memahami makna Tauhid secara benar, hal yang aku sampaikan itu bukanlah sesuatu yang sulit dipahami.”

“Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian bahwa apa yang disebut hidayah adalah pancaran dari Yang Memberi Petunjuk (al-Hadi). Lantaran itu, di dalam hidayah tersimpan daya-daya iman yang merupakan pancaran Yang Memberi Keamanan (al-Mu’min), daya-daya Islam yang merupakan pancaran Yang Memberi Kedamaian (as-Salam), dan daya-daya ruhani lain yang merupakan pancaran Asma’, Shifat, dan Af’al Yang Ilahi, yang kesemua daya itu bermuara ke samudera takwa, yakni pancaran Yang Memberi Kekuatan (al-Qawiy).”

“Dengan memahami hidayah dari sisi Tauhid ini, hendaknya kalian dapat menangkap tanda-tanda keberadaan manusia-manusia yang beroleh anugerah hidayah, hidup mereka senantiasa ditandai oleh keterbimbingan dalam menapaki jalan hidup (sabil huda) yang diterangi cahaya al-Hadi. Jika jalan hidup seseorang sudah diterangi cahaya al-Hadi maka daya-daya iman yang memancar dari al-Mu’min akan menandai pula keberadaan hidupnya. Itu berarti, yang disebut manusia beriman adalah manusia yang bisa mengejawantahkan pancaran al-Mu’min sebagai wakil-Nya di muka bumi (khalifah al-Mu’min fi al-ardh). Sebagai wakil al-Mu’min, manusia-manusia beriman akan menampakkan suasana hati dan pikirannya yang selalu dipancari rasa aman, cenderung pada terciptanya suasana aman dan selalu memberikan keamanan bagi kehidupan di sekitarnya. Lantaran itu, Rasulullah Saw. bersabda: tidaklah beriman orang yang membuat tetangganya tidak aman dari gangguannya.”

“Ketahuilah, daya-daya iman secara hakiki tidak terpisah dari daya-daya Islam. Itu berarti, keberadaan seorang manusia beriman selain ditandai oleh keberadaan dirinya yang mengejawantahkan pancaran Sang Pemberi Keamanan (al-Mu’min), juga ditandai oleh keberadaannya sebagai pembawa kedamaian (al-Islam) yang merupakan pancaran Sang Pemberi Kedamaian (as-Salam). Dengan demikian, manusia-manusia yang beroleh hidayah selalu ditandai oleh keberadaan diri sebagai pencipta keamanan dan kedamaian bagi kehidupan di sekitarnya. Mereka yang paling kuat dalam perjuangan mengaktualisasi daya-daya iman dan islam dalam kehidupannya akan beroleh derajat dan maqam tertinggi yang disebut takwa, yaitu pancaran dari Yang Mahakuat (al-Qawiy). Manusia-manusia yang sudah menduduki derajat takwa adalah orang yang paling kuat lahir dan batin di antara manusia, karena mereka telah mampu mewujudkan keberadaan dirinya sebagai wakil Yang Mahakuat di muka bumi (khalifah al-Qawiy fi al-ardh). Mereka itulah adimanusia-adimanusia yang akan dianugerahi kemuliaan (karamah) yang memancar dari al-Karim.”

“Dengan apa yang telah aku sampaikan ini, sesungguhnya telah jelas makna hakiki di balik hidayah dan iman yang bermuara ke samudera takwa dan karamah. Artinya, mereka yang sudah mencapai derajat takwa dan beroleh anugerah karamah dari al-Karim, keberadaannya akan ditandai oleh kemurahan-kemurahan dan kemuliaan-kemuliaan. Itulah citra kaum takwa (qaum al-muttaqin), yang senantiasa menjadi rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-‘alamin). Dengan demikian, jika kalian dapati ada manusia-manusia yang menyatakan diri sebagai umat Islam yang beriman dan bertakwa tetapi keberadaan dirinya ditandai oleh citra menakutkan, menggelisahkan, menimbulkan ketidakamanan, membuat suasana tidak damai, dan bahkan menebara kematian, maka sesungguhnya mereka itu pendusta. Mereka itulah yang pantas disebut kaum beragama yang tidak beriman. Mereka mengaku muslim, tetapi tidak memiliki ruh Islam. Mereka mengaku beriman, tetapi tidak memiliki iman. Mereka adalah mayat-mayat hidup yang berbahaya bagi kehidupan makhluk.”

Semua mengangguk-angguk mendengar paparan Abdul Jalil. Mereka menangkap kebenaran di dalam ucapan-ucapannya. Setelah terdiam beberapa jenak, Orang Kaya Kenayan bertanya, “Kami paham dan dapat menangkap paparan Tuan Syaikh. Tetapi, yang masih membingungkan kami adalah bagaimana sikap kami dalam menghadapi keadaan kacau di tengah pertarungan ini? Apakah kami harus berpangku tangan agar keadaan menjadi aman dan damai, sementara orang-orang bergelut dalam pertikaian berdarah?”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara ditekan tinggi ia berkata, “Sungguh keliru mereka yang membayangkan keamanan dan kedamaian sebagai sesuatu yang diam dan tanpa gerak. Sebab, keamanan dan kedamaian adalah sebuah gerak dinamis dari daya-daya kehidupan laksana arus sungai mengikuti alirannya. Dengan demikian, aku katakan bahwa telah keliru orang-orang yang lari meninggalkan kehidupan dan bertapa di gua-gua karena beralasan ingin menjadikan kehidupan dunia aman dan damai. Mereka itu sejatinya adalah orang-orang picik yang menginginkan keamanan dan kedamaian bagi dirinya sendiri. Mereka adalah para pengecut yang menjadi pecundang karena tidak mampu mewujudkan citra dirinya sebagai wakil al-Mu’min di muka bumi dan wakil as-Salam di muka bumi.”

“Ingat dan camkan dalam sanubari kalian! Tugas utama kaum muslim yang beriman adalah memelihara keamanan dan kedamaian karena mereka adalah wakil as-Salam dan al-Mu’min. Itu berarti, jika terjadi suatu masa di mana ketidakamanan dan kekacauan meliputi wilayah di sekitar kaum muslim yang beriman, maka wajib baginya untuk menggunakan kekuatan tangan dan mulutnya untuk menciptakan keamanan dan kedamaian. Bahkan, untuk alasan demi terciptanya keamanan dan kedamaian, orang-orang muslim beriman diwajibkan berperang untuk melindungi orang-orang lemah baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak yang ditindas dan dianiaya orang-orang zalim (QS. An-Nisa: 75). Orang-orang beriman yang berjuang menjalankan tugasnya dalam menciptakan keamanan dan kedamaian itu akan dilindungi oleh Allah (QS. al-Baqarah: 257).”

“Aku tahu kalian mencemaskan pertikaian antara para penganut Syi’ah dan Sunni akibat tindakan Syah Ismail di negeri Persia. Aku juga tahu kalian mencemaskan keberadaan orang-orang Portugis di Cochazhi yang mengancam penduduk muslim. Sesungguhnya kalian tidak perlu cemas akan semua peristiwa yang terjadi. Sebab, jika Allah menghendaki, tidaklah manusia saling berbunuh-bunuhan. Tetapi, Allah berbuat segala apa yang dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 200). Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak menyerang kalian. Jangan sekali-kali kalian menyerang orang-orang yang tidak berbuat zalim dan tidak membuat kerusakan. Tetaplah kalian menjadi pelindung bagi orang-orang lemah. Lindungilah mereka dalam keamanan dan kedamaian. Kaum beriman tidak pernah menjadi penyerang dan pembuat kekacauan di muka bumi.”

“Sesungguhnya, kehidupan kalian dengan alam sekitar kalian adalah ibarat sekumpulan orang yang menumpang sebuah kapal. Masing-masing penumpang memiliki hak untuk duduk di tempat yang disediakan bagi mereka. Masing-masing penumpang wajib menghargai hak penumpang lain. Itu sebabnya, jika salah seorang penumpang mengeluarkan alat untuk melubangi kapal maka seluruh penumpang wajib mencegahnya agar semuanya selamat sampai ke pelabuhan tujuan.”

“Andaikata saat berlayar itu ada kapal lain yang berusaha merampas kapal dan menawan penumpangnya maka menjadi kewajiban seluruh penumpang – terutama orang-orang yang kuat (takwa), di antara penjaga keamanan (mu’min) dan kedamaian (muslim) – untuk melawan penyerang itu dengan berbagai cara dan membagi tugas masing-masing. Ada penumpang yang bertugas melawan musuh dengan senjata. Ada yang bertugas melindungi penumpang-penumpang lemah. Ada yang mempertahankan ruang kemudi. Dan ada pula yang mempertahankan keutuhan kapal agar tidak tenggelam. Bahkan, ada yang menyelinap masuk ke kapal musuh untuk menggoyahkan semangat mereka. Demikianlah perumpamaan dari kehidupan orang-orang muslim beriman di sebuah negeri yang diserang musuh.”

“Apa yang harus dilakukan oleh kaum muslim beriman, o Tuan Syaikh, jika kapal yang mereka tumpangi tidak dapat dipertahankan?” tanya Orang Kaya Kenayan.

“Ketidakmampuan mempertahankan kapal mesti dialami lebih dulu oleh para penumpang yang bertugas melawan musuh dengan kekuatan senjata. Jika itu yang terjadi maka menjadi tugas para pelindung penumpang, penjaga ruang kemudi, penjaga keutuhan kapal, dan penyusup untuk mengambil langkah bijaksana sesuai tugas masing-masing. Artinya, demi keselamatan kapal dan seluruh penumpang, dengan lapang dada dan penuh kepasrahan mereka harus mengembalikan segala urusan kepada Yang Mahakuasa (al-Muqtadir).”

“Membiarkan pihak musuh menguasai kapal?” tanya Orang Kaya Kenayan.

“Kalau terpaksa, kenapa tidak?” sahut Abdul Jalil datar. “Sebab, masalah utama dalam peristiwa semacam itu bukanlah kemenangan dalam menguasai kapal, melainkan sejauh mana para penumpang kapal di bawah kekuasaan musuh tetap dapat hidup dengan keyakinannya dan bisa setia melayani Sang Rajadiraja semesta (al-Malik al-Mulki). Apalah artinya kemenangan kuasa duniawi atas sebuah kapal jika para penumpang mengabaikan dan enggan melayani-Nya? Justru pada saat dikuasai musuh itulah para penumpang kapal harus mengukuhkan kembali persaksian Tauhid kepada Sang Rajadiraja semesta; Rabb manusia, Rajadiraja manusia, Sesembahan manusia, dengan menafikan keraguan yang diakibatkan oleh bisikan maya golongan jin dan manusia (QS. an-Nas: 1 – 6). Ya bisikan meragukan dari golongan jin dan manusia tentang kehormatan, kepahlawanan, kesyahidan, kebangsaan, kebebasan, kekuasaan, kepentingan golongan dan keluarga harus dinafikan semua. Sebab, semua itu bersifat maya. Saat itu, hati dan pikiran harus dikiblatkan untuk menyucikan dan memuliakan-Nya. Kesampingkan segala sesuatu selain Dia.”

“Apakah itu berarti para penumpang kapal menyerah total kepada musuh dan menjadi budak mereka?”

“Justru di bawah kekuasaan musuh itulah para penumpang kapal memulai perjuangan yang sesungguhnya dalam menegakkan Tauhid Mulukiyyah,” kata Abdul Jalil.

“Kami belum paham dengan penjelasan Tuan Syaikh tentang Tauhid Mulukiyyah.”

“Camkan dalam kesadaran kalian, o Anak-Anakku! Sesungguhnya, jatuh dan bangunnya suatu bangsa tergantung seutuhnya pada kehendak Sang Rajadiraja semesta; Dia, Maharajadiraja Yang Hakiki (al-Malik al-Haqq al-Mubin), Yang Maha Mengangkat (ar-Rafi’), Yang Memberi Kemuliaan (al-Mu’iz, Yang Memberi Keamanan (al-Mu’min), Yang Memberi Kedamaian (as-Salam). Tetapi, Dia juga Maharajadiraja Penguasa alam jasadi, Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), Yang Maha Menjatuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Mencabut (al-Qabidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), dan Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim). Itu berarti, bangsa-bangsa yang dihinakan di bawah kaki musuh hendaknya mawas diri. Ya, mawas diri, apakah mereka selama itu sudah benar dalam melayani Sang Maharajadiraja semesta? Sebab, telah tertulis pada lembaran Kitab Suci dan sejarah bangsa-bangsa bahwa kejatuhan suatu bangsa ke dalam kekuasaan bangsa lain lebih banyak disebabkan oleh kenyataan bahwa bangsa bersangkutan telah mengabaikan Sang Maharajadiraja semesta dengan membuat sesembahan (thaghut) lain yang hina dan nista.”

“Sesungguhnya, Sang Maharajadiraja semesta adalah Penguasa semesta ciptaan. Dia menolak disekutukan. Dia ingin dijadikan sebagai satu-satu-Nya kiblat Sesembahan dan Gantungan harapan umat-Nya. Dia Maha Pencemburu dengan sekutu-sekutu. Itu sebabnya, tugas utama para pemimpin kaum muslim beriman di sebuah kapal adalah menciptakan keadaan di mana seluruh penumpang kapal menjadi orang-orang yang bertakwa; yang memuliakan keagungan-Nya sebagai Rabb, Maharajadiraja dan Sesembahan seluruh makhluk. Semua penumpang wajib menjadikan-Nya sebagai Pelabuhan harapan dan Kiblat Tujuan. Para pemumpin kaum muslimin yang beriman dan bertakwa tidak boleh membiarkan para penumpang kapal berlebihan dalam mengumbar kesenangan nafsu; pesta pora menyantap makanan lezat, menenggak khamr sampai mabuk, menari-nari, menyanyi-nyanyi, menikmati kesyahwatan tanpa kendali hingga melanggar aturan yang ditetapkan Sang Maharajadiraja semesta. Demikianlah hukum kauniyah yang menetapkan syarat-syarat agar kapal yang ditumpangi suatu kaum tidak merampas dan dikuasai musuh,” papar Abdul Jalil.

“Apakah mungkin negeri kami nanti jatuh di bawah kaki orang-orang kafir Portugis?” tanya Orang Kaya Kenayan sambil menarik napas berat dan kemudian mengembuskannya keras-keras.

“Tidak ada sesuatu yang tidak mungkin di dunia ini,” sahut Abdul Jalil dingin, “Tetapi, semua kemungkinan itu tergantung pada ketakwaan orang-orang di suatu negeri.”

“Maksud Tuan Syaikh?”

“Apakah penduduk negeri Pasai selama ini sudah melayani Sang Maharajadiraja semesta dengan setia? Apakah mereka tidak menyekutukan-Nya dengan sesembahan lain? Apakah mereka tidak disibukkan oleh urusan-urusan remeh pemenuhan hasrat nafsu mereka sendiri? Apakah para pejabat negeri ini terdiri atas orang-orang yang setia melayani Sang Maharajadiraja semesta? Apakah rakyat negeri ini setia menjadi hamba-Nya? Apakah rakyat negeri ini hidup di bawah pancaran cahaya akhlak yang mulia sebagaimana diteladankan rasul-Nya? Jawabannya, tergantung kejujuran penduduk negeri ini dalam menangkap makna-makna di balik segala sesuatu yang kelihatan di negeri ini. Apakah yang sejatinya terjadi di negeri ini?”

“Lantaran itu, o Anak-anakku, lewatilah jalan-jalan di negeri ini! Lihatlah dengan seksama kehidupan penduduknya! Periksalah, apakah kalian menemukan orang-orang yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran? Jika kalian tidak mendapati cukup banyak penduduk negeri ini yang menjalankan Keadilan dan mencari Kebenaran, itu pertanda Sang Maharajadiraja semesta sedang dicekam kemurkaan. Itu berarti, jika waktu yang ditentukan-Nya telah sampai, pasti Dia akan mengirimkan siksaan dan hinaan kepada penduduk yang tidak mencitrakan Keadilan dan Kebenaran sebagai wakil-Nya di muka bumi. Dia akan mengirimkan harimau, singa, serigala, musang, dan hewan melata dari hutan, dari padang belantara, gunung, rawa-rawa, danau, dan lautan untuk merobek-robek negeri ini dalam kekacauan. Darah akan tumpah di mana-mana. Kemudian, dengan cambukan pecut-Nya yang dahsyat Dia akan mendera penduduk dengan kesengsaraan dan penderitaan. Dia akan mengirim perampok yang merampok, penggarong yang menggarong, pencuri yang mencuri, pemerkosa yang memperkosa, penyiksa yang menyiksa, dan pembunuh yang haus darah. Dia akan menekuk lutut penduduk negeri yang ingkar untuk direndahkan sebagai budak bagi bangsa lain. Demikianlah hukuman yang pantas bagi penduduk suatu negeri yang menyekutukan Sang Maharajadiraja semesta.”

03. Al-Maratib al-Wujud

Dalam usianya yang seabad lebih, Malaka yang semula hanya muara tak berpenghuni telah menjelma menjadi bandar perniagaan antara bangsa yang sangat menakjubkan. Berpuluh-puluh kapal besar dan kecil yang berasal dari berbagai negeri berlabuh di situ. Setiap hari kapal-kapal ukuran besar dan kecil silih berganti sandar di dermaga. Tiang-tiangnya yang teracung ke atas berderet laksana barisan tombak yang menghutan. Dari lambung kapal-kapal itu mengalir berbagai jenis barang niaga dari berbagai negeri; sutra, porselen, kain, kapur barus, kayu cendana, beras, pala, cengkeh, lada, timah, kayu gelondongan, emas, batu permata, dan budak.

Bandar Malaka sendiri terletak di muara sungai Malaka dan terbelah oleh sungai tersebut dari barat ke timur. Di bagian selatan sungai terletak bukit Malaka yang berdiri tegak dilingkari pohon-pohon kelapa dan sepetak hutan kecil. Di bagian kaki bukit Malaka terletak istana sultan dan masjid megah, anggun, dan mewah dikitari bangunan-bangunan besar kediaman para pejabat kerajaan. Bentangan jalan-jalan yang rapi dengan tanaman berbunga di kedua sisinya terlihat indah dan sejuk. Jalan-jalan itu membentang berliku menghubungkan kawasan istana dengan pelabuhan dan kutaraja.

Agak jauh dari bukit Malaka terdapat bukit kecil lain yang disebut orang dengan nama Bukit Cina. Bukit Cina adalah kediaman Puteri Hang Li Po, anak kaisar Yung Lo, yang dipersunting Sultan Mansyur Syah, kakek Sultan Mahmud Syah. Para pangeran keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po hanya sedikit yang terlibat di pemerintahan. Mereka umumnya menjadi saudagar. Mereka masih tinggal di Bukit Cina, meski jaraknya cukup jauh dari pusat perniagaan di kutaraja. Dengan tetap tinggal di Bukit Cina, mereka seolah-olah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar Sultan Malaka.

Tidak jauh dari muara sungai Malaka terdapat jembatan besar yang terbuat dari balok-balok kayu ukuran raksasa. Itulah jembatan yang menghubungkan kawasan istana dengan kutaraja dan pelabuhan. Agak beda dengan kawasan istana sultan, di bagian kutaraja Malaka yang terletak di utara sungai tinggal berbagai jenis manusia dari bermacam bangsa dan beragam lapisan kedudukan. Jika di kawasan sekitar istana di selatan sungai suasananya terasa tenang dan terkesan mewah, kawasan kutaraja di utara sungai itu menampilkan suasana gaduh dan hingar-bingar. Bangunan-bangunan besar berjejal-jejal dan berhimpit dengan bangunan-bangunan kecil. Ada rumah kediaman para saudagar. Ada gudang-gudang penimbunan barang niaga. Ada rumah peduduk kebanyakan. Ada toko-toko, rumah makan, rumah gadai, pasar, kedai-kedai kecil, bedeng-bedeng kumuh tempat kuli dan tukang, dan barak-barak kotor hunian sementara budak-budak. Lorong-lorong sempit dan pengap terselip di antara bangunan-bangunan. Beberapa ruas jalan yang agak lebar menebarkan debu jika dilewati.

Setiap hari, sejak fajar menyingsing di ufuk timur, citra kehidupan Malaka sebagai bandar antara bangsa sudah terlihat dalam bentuk kelebatan manusia yang terseret arus kesibukan luar biasa. Gerakan orang-orang yang berkelebat begitu cepat laksana biji-biji gabah ditampi di tampah. Sejauh mata memandang ke jalan-jalan dari arah pelabuhan ke kutaraja, yang terlihat adalah kelebatan orang-orang yang hilir mudik dari satu tempat ke tempat lain, seolah-olah mereka mengejar sesuatu yang tidak terlihat mata telanjang. Ya, gerakan cepat orang-orang yang hilir mudik dan berlari tersengal-sengal dengan tubuh bersimbah peluh sambil memanggul karung, memikul barang dagangan, menggotong balok, mendorong gerobak, menenteng keranjang, menyunggi barang. Sementara yang lain terlihat bergegas mengendarai kereta, diangkut tandu, naik pedati, menunggang kuda di tengah kepulan debu dan teriakan-teriakan orang yang memerintah serta gaduhnya celoteh kuli-kuli pengangkut yang berseliweran.

Barang seabad silam, di muara tempat bandar Malaka terletak masih belum dihuni orang. Sebatang pohon Malaka yang dijadikan tempat berteduh Parameswara, pangeran pemberontak asal Majapahit asal Palembang, adalah satu-satunya saksi bisu tentang bagaimana bandar niaga antara bangsa itu bermula. Parameswara dan para pengikutnya itulah penghuni pertama muara sungai Malaka itu. Dalam hitungan tahun sejak hunian pertama di Malaka dibuka, utusan Kaisar Yung Lo bernama Laksamana Yin Ching mengunjugi tempat baru itu. Enam tahun kemudian, Laksamana Cheng Ho datang pula ke Malaka. Dua tahun setelah kehadiran Cheng Ho, Parameswara menghadap Kaisar Yung Lo ke Beijing.

Tak lama sekembali dari Beijing, Parameswara memeluk Islam ketika menikahi puteri asal Pasai. Ia menggunakan nama muslim: Megat Iskandar Syah. Sejak masuk Islamnya Parameswara, Malaka dengan cepat menjadi bandar perniagaan yang ramai ketika disinggahi para saudagar Muslim dari Cina, India, Arab, Persia, Turki, dan Nusantara. Bahkan, karena letak Malaka yang berada di tengah lintasan perniagaan dari utara ke selatan itu maka dengan cepat ia tumbuh menjadi bandar antara bangsa.

Setelah dua puluh empat tahun berkuasa di Malaka, Megat Iskandar Syah mangkat. Ia digantikan oleh puteranya, Muhammad Syah yang bergelar Seri Maharaja. Ia meneruskan kebijakan ayahandanya. Seri Maharaja memiliki dua orang putera. Yang sulung bernama Raja Kassim, ibunya berasal dari kalangan jelata berdarah Tamil. Putera kedua, Raja Ibrahim, ibunya berdarah biru, puteri Sultan Rokan. Saat Seri Maharaja mangkat, Raja Ibrahim dinobatkan menjadi sultan dengan gelar Seri Parameswara Dewa Syah. Namun, tak sampai setahun berkuasa Raja Ibrahim diserang oleh kakak tirinya, Raja Kassim, yang didukung kaum muslim Tamil yang dipimpin Tun Ali. Dukungan Tun Ali dapat dipahami karena ia adalah kakak kandung dari ibunda Raja Kassim. Raja Ibrahim pun terbunuh. Raja Kassim kemudian menggantikan dedudukannya dengan gelar Muzaffar Syah.

Ketika takhta Malaka diduduki Muzaffar Syah inilah tampil seorang negarawan ulung bernama Tun Perak yang menduduki jabatan Bendahara Paduka Raja (Perdana Menteri). Dengan kecerdasan dan kepiawaiannya menata pemerintahan, Malaka diarahkan menjadi kekuatan maritim yang heba. Berbagai negeri sekitar Malaka seperti Perak, Pahang, Johor, Kelantan, Rokan, Aru, Siak, Kampar, Indragiri, Riau, dan Lingga ditaklukkan. Malaka melengkapi kekuatan armadanya dengan senjata-senjata bikinan Jawa. Lantaran armada Malaka sudah sedemikian rupa kuat maka sewaktu pasukan dari Siam menyerbu, terjadi pertempuran sengit di dekat Muar yang berakibat hancur binasanya pasukan Siam.

Ketika Muzaffar Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya, Raja Abdullah, yang bergelar Mansyur Syah. Di bawah Mansyur Syah, Malaka maju pesat terutama karena kehebatan Bendahara Tun Perak dan Laksamana Hang Tuah. Pada zaman Mansyur Syah inilah kebudayaan Melayu tumbuh dengan pesat dan menancapkan akar-akarnya. Mansyur Syah digantikan oleh puteranya yang bergelar Alauddin Riayat Syah, kemenakan Bendahara Tun Perak. Ketika Alauddin Riayat Syah mangkat, ia digantikan oleh puteranya yang bergelar Mahmud Syah.

Pada saat Mahmud Syah berkuasa, Bendahara Tun Perak sudah tua dan kemudian meninggal. Ia digantikan oleh Tun Putih, yang sudah tua juga. Belum dua tahun menjabat, Tun Putih meninggal. Ia digantikan oleh Tun Mutahir, anak Tun Ali. Sebagaimana ayahandanya, Tun Mutahir mendapat dukungan golongan muslim Tamil. Untuk menunjukkan kehebatan diri, tak lama setalah menjadi Bendahara Raja, Tun Mutahir menaklukkan Kedah dan Patani. Namun, Tun Mutahir bukanlah seorang pemimpin yang baik. Ia dikenal sebagai pejabat curang dan kejam yang mabuk kekuasaan, gila pangkat, dan rakus kekayaan. Ia tidak segan menghabisi lawan-lawan politiknya atau siapa saja yang dianggap melawan kebijakannya yang sering konyol.

Ibarat pepatah “bapak kencing berdiri anak kencing berlari”, sifat buruk Tun Mutahir itu dengan cepat diikuti oleh bawahannya. Hampir setiap hidung di segenap penjuru negeri Malaka mengetahui jika Tun Mutahir dan pejabat kerajaan bawahannya adalah komplotan pejabat tengik yang suka makan suap. Peraturan-peraturan dibuat menurut kepentingan pihak-pihak yang bisa menyuap. Peraturan-peraturan terkait konsesi perdagangan, peraturan tata niaga, penetapan hukum peradilan, penentuan kepangkatan dan jabatan, semuanya tergantung kepada berapa besar orang seorang bisa menyuap pejabat tertingi. Celakanya, Tun Mutahir tidak tahu kapan waktu yang tepat ia harus berhenti. Tanpa sadar, ia menganggap keberadaannya sebagai Bendahara Raja adalah sama dengan pemilik kekuasaan tertinggi, yaitu sultan. Ia bahkan merasa lebih tinggi dari sultan. Itu sebabnya, dengan berbagai cara yang licik dan busuk ia menyingkirkan pejabat-pejabat yang setia kepada sultan. Ia bahkan memfitnah Laksamana Hang Tuah hingga pahlawan gagah berani itu dijatuhi hukuman mati oleh sultan. Setelah yakin kekuasaan sultan lemah, ia dengan semau-maunya menjalankan pemerintahan yang korup dan nepotis.

Tindakan Tun Mutahir yang sewenang-wenang itu ternyata menimbulkan reaksi. Tanpa ada yang menggalang, diam-diam bermunculan pihak-pihak di lingkungan kerajaan yang melakukan perlawanan terhadapnya. Pejabat-pejabat tinggi dan rendahan, meski tak banyak jumlahnya, diam-diam menggalang kekuatan untuk mendukung kekuasaan sultan. Gerakan itu ternyata disambut baik oleh sultan yang merasa tak berdaya.

Di bawah Sultan Mahmud Syah, pada usianya yang sudah lebih seabad, Malaka memang telah menjadi bandar antara bangsa yang sangat ramai dan makmur. Malaka dihuni tak kurang dari 120.000 jiwa. Malaka menjadi gantungan harapan bagi anak negeri untuk menapaki kemakmuran. Malangnya, akibat kekuasaan Tun Mutahir dan kaki tangannya yang tercela, kehidupan di Malaka yang sekilas tampak makmur itu malah menebarkan suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan bagi mereka yang memiliki hati nurani. Pedagang-pedagang kecil, petani, nelayan, dan pejabat-pejabat jujur yang menamba sesuap nasi nyaris tidak ada yang terbebas dari lilitan hutang. Kegiatan berutang dengan bunga yang semula dilakukan di rumah-rumah gadai, pada gilirannya telah berkembang di tengah penduduk laksana jamur di musim hujan. Siapa saja di antara penduduk Malaka yang punya uang, dapat menjadi lintah darat yang bebas mengisap darah sesamanya tanpa kenal ampun. Para petugas kerajaan yang beroleh suap dari para lintah darat sering kedapatan menjelma dalam wujud tukang tagih yang menakutkan.

Di tengah suasana pengap, tengik, busuk, dan menyesakkan hati nurani itulah Abdul Jalil menginjakkan kakinya untuk kali kedua di Malaka. Sebagai manusia yang hidup diterangi hati nurani, setelah hampir tiga dasawarsa meninggalkan Malaka, ia tiba-tiba merasakan dirinya seolah-olah orang asing yang belum pernah ke Malaka. Entah apa yang telah berubah dari bandar itu, ia tidak tahu. Ia hanya merasa tak mengenal lagi kota itu. Sejak turun dari kapal menuju pusat kota dengan diikuti istri, anak, dan Raden Sahid, ia menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah asing dengan bangunan-bangunan dan orang-orang yang tak dikenalnya. Ia tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan bandar Malaka, bandar niaga ini benar-benar telah berubah dan nyaris tak dikenal lagi, katanya dalam hati.

Setelah menyusuri sekitar pelabuhan sambil melihat-lihat perubahan keadaan sekitarnya, Abdul Jalil berjalan lambat-lambat melintasi jalan yang menuju arah pusat kota. Di persimpangan jalan yang menuju arah kantor syahbandar, ia menghentikan langkah. Dengan pandangan nanap, ia menyaksikan arus cepat gerakan orang-orang yang hilir mudik di sekitarnya. Ia menangkap semacam keanehan gerak dari orang-orang yang hilir mudik itu. Beberapa jenak kemudian ia menoleh ke arah Raden Sahid dan bertanya, “Menurut pandanganmu, o Anakku, apakah yang sedang dilakukan oleh orang-orang yang hilir mudik itu?”

Raden Sahid yang diam-diam mengamati kesibukan orang-orang itu tidak segera menjawab. Dia merenung sejenak. Setelah itu, dia menelan ludah dan berkata, “Menurut hemat kami, sesungguhnya orang-orang yang hilir mudik di jalanan itu tidak melakukan apa-apa, Paman.”

“Tidak melakukan apa-apa?” gumam Abdul Jalil dengan kening berkerut. “Kalau mereka tidak melakukan apa-apa, kenapa mereka berlari membawa beban dengan keringat bercucuran bagaikan hewan pemikul beban didera tuannya?”

“Menurut hemat kami, sesungguhnya mereka sedang terseret arus sungai kehidupan duniawi yang deras, Paman. Mereka timbul tenggelam dihanyutkan oleh air bah kebendaan yang bakal membenamkan mereka ke dalam endapan lumpur kebinasaan yang pekat.”

“Itu jawaban yang arif. Itu menunjukkan cakrawala kesadaranmu sudah diterangi nur lawami’ dan kalbumu sudah dipancari pemahaman fawa’id. Tetapi masih perlu ditingkatkan,” ujar Abdul Jalil.

“Kami mohon bimbingan Paman.”

“Aku katakan bahwa pernyataanmu itu sudah benar, o Anakku,” kata Abdul Jalil dengan mata memandang gumpalan awan yang berlayar di langit. “Betapa orang-orang itu sejatinya memang tidak melakukan pekerjaan apa-apa. Mereka hanya terseret air bah kebendaan di sungai kehidupan duniawi tanpa mereka sadari. Tetapi, cobalah engkau resapi lebih jernih tentang hakikat terdalam dari sungai kehidupan duniawi itu. Resapi ia dengan benderang kecemerlangan nur lawami’ di bentangan cakrawala kesadaranmu. Resapi ia dengan terang dan luasnya pemahaman fawa’id di kedalaman semesta kalbumu. Resapi dengan lebih jernih akan hakikat yang maujud dan Yang Wujud.”

“Gunakan penglihatan mata batin untuk menangkap rahasia keberadaan wilayah nirbendawi (malakut) yang tersembunyi di balik wilayah jasadi (mulki) sejauh yang bisa engkau tangkap. Resapi dengan tenang hakikat terdalam di balik perlambang keberadaan mata air, lekukan dan liku-liku sungai, tinggi dan rendah dasar sungai, arus, muara, lautan, dan air yang mengalir di sungai kehidupan duniawi. Resapi semua itu dengan kalbu yang jernih! Resapi kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Ilahi sampai engkau tangkap nuansa Kehadiran al-Malik al-Mulki di balik segala sesuatu yang maujud! Lalu saksikan Kebenaran Sejati di balik semua itu dengan mata batin yang jernih! Saksikan Kehadiran Yang Serba Meliputi (Hadrah al-Jam’) yang tersembunyi di balik kehadiran sesuatu (hadrah) sejauh yang bisa engkau tangkap tingkatan-tingkatannya (al-maratib al-wujud)! Aku berharap, engkau akan dapat menangkap rahasia hakiki di balik kehidupan orang-orang yang terseret arus kehidupan duniawi yang terpampang di hadapanmu itu.”

Raden Sahid diam. Dengan tenang dia duduk bersila dan memejamkan mata sambil menarik napas dalam-dalam dan kemudian mengaturnya. Dia berusaha mengikuti semua petunjuk yang diberikan Abdul Jalil. Setelah merasa tenang dalam mengatur napas, ia mulai mendaki empat tangga menuju matra alam al-ghaib, yaitu istighfar – shalawat – tahlil – nafs al-haqq. Dia menyelaraskan kiblat hati dan pikiran kepada titik di antara kedua matanya. Dia tidak mempedulikan panas matahari yang mulai menyengat. Dia tidak mempedulikan suara hiruk pikuk dan teriakan orang-orang di sekitarnya yang terseret air bah kehidupan duniawi.

Ketika pendakiannya sampai pada nafs al-haqq, tiba-tiba saja ia merasakan tangan kiri Abdul Jalil menyentuh tengkuknya. Sejenak setelah itu, dia merasakan telapak tangan kanan Abdul Jalil menutupi kedua matanya sehingga kegelapan melingkupi penglihatan indriawinya. Seiring terhamparnya kegelapan dalam indera penglihatannya, dia sekonyong-konyong merasakan keanehan terjadi pada dirinya. Secara menakjubkan, dia merasa seolah-olah tidak berada di suatu tempat di Malaka dan tidak pula berada di suatu tempat di muka bumi. Dia merasa seperti berada di dunia lain, yang keadaannya hampir sama dengan saat dia bertemu Maharisi Agastya di gunung Malaya. Bahkan, suasana yang meliputinya dia rasakan jauh lebih menakjubkan lagi.

Tertegun merasakan keadaan yang meliputinya begitu aneh, tanpa terduga dia mengalami peristiwa yang sangat menajubkan bagai berada di alam mimpi: di tengah kegelapan penglihatan indriawinya itu, tiba-tiba memancar cahaya menyilaukan nur lawami’ yang terang benderang dari antara kedua matanya. Cahaya itu sangat terang dan menyilaukan. Ketika dia tercengang, tiba-tiba nur lawami’ yang hampir membutakan itu meluncur cepat laksana kilat, menyambar relung-relung kedalaman kalbunya.

Bagaikan orang terbangun dari tidur, dia tertegun-tegun kebingungan karena cahaya nur lawami’ yang disaksikannya itu memancar jauh lebih terang daripada yang pernah dia saksikan sebelumnya. Sedetik kemudian, di tengah ketakjuban dan ketertegunan, dia merasakan kesadaran baru demi kesadaran baru menyingkapkan kegelapan jiwanya, laksana tirai penutup disibakkan. Secara perlahan-lahan tetapi cepat, ia merasakan kesadaran barunya terkuak laksana ular yang keluar dari selongsong kulitnya. Atau, seperti kupu-kupu keluar dari kepompongnya. Atau, anak ayam keluar dari cangkang telurnya. Atau, hewan penghuni liang untuk kali pertama keluar dari liangnya. Dan, seiring tersingkapnya kesadaran baru demi kesadaran barunya itu, dia mendapati kenyataan menakjubkan tergelar di hadapannya. Melalui cahaya di antara kedua matanya itu, dia seperti memiliki mata ketiga yang melihat kenyataan di sekitarnya dengan penglihatan yang berbeda.

Dengan mata ketiga itu, tiba-tiba cakrawala kehidupan yang tergelar di hadapannya ia saksikan sebagai pemandangan yang luar biasa ajaib: sejauh mata ketiga itu memandang, yang tampak adalah perwujudan dari segala sesuatu yang maujud di sekitarnya dengan tingkat kehadiran yang mustahil dijabarkan dengan nalar. Dia tidak tahu apakah tingkat-tingkat kehadiran itu merupakan tingkatan yang maujud dari wilayah jasadi (mulki) hingga wilayah nirbendawi (malakut), ataukah itu merupakan tingkatan kesadaran dirinya yang berlapis-lapis laksana kesadaran cacing – kadal – kucing – harimau – burung. Dia tidak mampu menjabarkannya. Saat berada pada puncak kesadaraun dan sekaligus penglihatan mata ketiga itu, tersingkaplah bentangan cakrawala pemahaman fawa’id yang luar biasa yang jauh melebihi apa yang pernah dialami dan dirasakannya. Dia terperangah takjub karena di hadapannya secara ajaib terpampang pemandangan menakjubkan yang sebelumnya belum pernah ia lihat dan ketahui.

Bagaikan berada di alam mimpi, ia menyaksikan dengan sangat jelas kilasan-kilasan lembut dari perwujudan segala sesuatu yang tegelar di hadapannya, laksana bentangan suatu matra kehidupan di dalam samudera raya. Sejauh mata memandang, yang tampak maujud di dalam samudera raya itu adalah perwujudan menakjubkan dari anasir-anasir yang saling mengait, mulai anasir yang paling padat hingga anasir yang paling halus sampai yang nirbendawi. Aneh sekali penglihatan itu. Ajaib. Semua perwujudan yang menampak terlihat dengan terang tingkat-tingkat kehadirannya beserta seluruh anasir pembentuknya, di mana kehadiran wilayah jasadi seolah-olah terhubung saling meliputi dengan kehadiran wilayah nirbendawi dan terus terangkai dalam liputan kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik al-Mulki).

Sesaat dia tertegun-tegun dalam pesona atas pemandangan mencengangkan itu. Betapa ajaibnya penglihatan batin yang disaksikan mata ketiganya itu: yang maujud menampakkan jati diri dalam rangkaian tingkatan-tingkatan saling meliputi dengan yang nirbendawi sampai kepada liputan Yang Wujud. Inikah yang disebut al-maratib al-wujud, yaitu tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud dalam tanazzul? Dia makin tertegun dan terpesong ketika menyaksikan berbagai bentuk maujud di sekitarnya yang berubah-ubah sangat menakjubkan: bangunan-bangunan, pohon-pohon, batu-batu, kapal-kapal, lautan awan kapas di langit, manusia-manusia yang hilir mudik di sekitarnya, hewan peliharaan yang berjalan, burung-burung yang terbang di angkasa, bahkan iring-iringan semut yang merambat di pepohonan, tampil sebagai bentuk-bentuk aneh yang berseliweran di dalam “air” samudera raya. Seluruh bentuk aneh itu terkait satu sama lain. Semua saling berjalin berkelindan tak terpisah. Ke mana pun mereka bergerak, mereka selalu terkait dan selalu berada di dalam liputan anasir “air” samudera raya. Bahkan, anasir air yang meliputi mereka itu secara menakjubkan diliputi oleh anasir “api” samudera api. Anasir api pun diliputi anasir “kilatan halilintar” dari samudera petir. Anasir kilatan halilintar pun diliputi anasir “cahaya” dari samudera cahaya. Demikianlah, saling meliputi antara anasir satu dan anasir lain itu terjadi secara menakjubkan, dari anasir terpadat hingga yang bersifat lebih halus hingga nirbendawi.

Sesungguhnya, pemandangan aneh yang disaksikannya itu tidaklah tepat benar dibandingkan dengan matra kehidupan makhluk di dalam laut. Sebab, segala sesuatu yang maujud di dalam penglihatan batinnya itu menampakkan anasir-anasir pembentuknya yang hadir secara bertingkat. Pemandangan ajaib itu bisa diibaratkan seperti bentangan kain yang terlihat seluruh anasir pembentuknya, mulai dari jalinan benang, lalu benang dibentuk dari jalinan kapas, kapas dibentuk dari serat-serat kapas, terus ke anasir terkecil, hingga yang nirbendawi. Namun, gambaran itu pun tidak tepat benar karena tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud memang tidak bisa dibanding-bandingkan dengan sesuatu kecuali secara sedikit sekali. Di tengah ketakjubannya itu, dia merasakan kesadarannya makin terserap manakala mata ketiganya menayaksikan pelihatan ajaib yang mencengngkan atas manusia-manusia yang berseliweran di sekitarnya.

Secara ajaib, dia menyaksikan pancaran tujuh cahaya benderang berpendar-pendar tak terbayangkan keindahan dan kelembutannya pada tiap-tiap pribadi manusia. Pancaran cahaya pertama tampak berpendar tepat dia atas kepala setiap manusia dengan jarak sekitar sejengkal di atas ubun-ubun. Cahaya itu berwarna putih cemerlang. Besarnya seukuran telur angsa. Cahaya putih itu berpendar dengan tingkat kecemerlangan yang tidak sama.

Tepat di kening, di antara dua mata masing-masing manusia, memancar cahaya putih-kebiruan sebesar uang logam yang berpendar dengan tingkat kecemerlangan tidak sama pula. Lalu, tepat di ujung bawah tenggorokan masing-masing manusia, terlihat cahaya lembayung-kemerahan sebesar telur merpati berpendar-pendar dengan tingkat cemerlang yang juga tidak sama. Di bawahnya, di bagian dada terlihat pancaran cahaya putih-gemerlap sebesar kepalan tangan orang dewasa. Cahaya putih gemerlap itu sangat menyilaukan laksana pantulan batu permata. Sebagaimana pancaran cahaya yang lain, tingkat kecemerlangan cahaya di dada itu tidak sama pula, bahkan sangat banyak di antaranya yang terlihat sangat redup.

Raden Sahid sadar bahwa penglihatan ajaib yang disaksikannya itu adalah penglihatan bashirah yang akan menyingsing dan sirna manakala dia melibatkan nalarnya. Itu sebabnya, dia membiarkan keajaiban-keajaiban penglihatan itu membentang di cakrawala pemahaman fawa’id tanpa perlu ia bertanya tentang ini dan itu. Demikianlah ia menyaksikan lagi pancaran cahaya kuning-terang berpendar sebesar telur ayam di bawah pusar manusia-manusia itu dengan tingkat terang yang tidak sama. Setelah itu, dia saksikan pancaran cahaya putih-kuning-merah-biru-hitam pada bagian tengah tulang belakangnya. Dan terakhir, dia saksikan pancaran cahaya biru-kehitaman yang redup di ujung tulang ekor masing-masing manusia. Besar cahaya itu seukuran ekor harimau, tetapi memanjang seperti ular. Cahaya di ujung tulang ekor manusia itu memiliki tingkat keredupan yang tidak sama pula.

Raden Sahid tidak mengetahui makna di balik tujuh pancaran cahaya yang berpendar itu. Dia hanya bisa tercenagang-cengang menyaksikannya. Betapa aneh dua berkas cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor manusia itu. Setiap kali cahaya putih-cemerlang yang memancar di atas ubun-ubun manusia berpendar terang dan redup, saat itulah dia menyaksikan sosok dari makhluk-makhluk itu bergerak dan melakukan berbagai kegiatan kehidupan. Hal yang sama terjadi ketika cahaya biru-kehitaman yang memanjang di ujung tulang ekor manusia-manusia itu berpendar terang atau redup. Cahaya di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor itu seolah merupakan saluran utama kehidupan yang menentukan gerak hidup orang seorang. Sementara saat cahaya di dada yang berwarna putih-cemerlang kristal itu memancar, makhluk-makhluk itu berpikir, berangan-angan, dan berbicara. Sungguh ajaib dan menakjubkan sosok manusia-manusia itu dalam penglihatan batin. Mereka terlihat seperti boneka yang digerakkan oleh daya gaib dari cahaya yang memancar di atas ubun-ubun dan di ujung tulang ekor. Mereka berpikir, berangan-angan, dan berbicara karena dipancari cahaya yang memancar dari dadanya.

Raden Sahid tidak tahu berapa lama dia menyaksikan kenyataan menakjubkan dari kehidupan manusia lewat pemahaman fawa’id di kedalaman kalbu yang dipancari nur lawami’ itu. Dia hanya merasakan mata ketiganya makin tercelikkan ketika menyaksikan perwujudan hakiki dari perlambang-perlambang kehadiran jasadi dan nirbendawi yang bertingkat-tingkat itu. Namun, akibat peglihatan batin yang sangat mencengangkan itu, dia menjadi termangu-mangu kebingungan seperti orang linglung ketika usai mengalami peristiwa ajaib, terserap oleh suatu daya pesona dahsyat yang memukau kesadaran manusiawinya.

Melihat Raden Sahid tercengang-cengang linglung kebingungan, Abdul Jalil tertawa. Ia paham, pengaruh tersingkapnya (kasf) kesadaran baru yang luas (basth) terlalu cepat, sebagaimana pernah ia alami saat dibimbing oleh Misykat al-Marhum di gunung Uhud, dapat membuat orang seorang mengalami keguncangan jiwa (majnun) selama kurun waktu tertentu, karena akal pikiran dan kalbunya belum selaras. Itu sebabnya, ia tidak akan bertanya tentang pengalaman ruhani yang dialami Raden Sahid dengan bahasa lisan, melainkan dengan bahasa perlambang (isyarah) yang langsung menembus ke dalam mahligai kalbunya. Demikianlah, melalui isyarah, Raden Sahid mengungkapkan pengalaman ruhani yang baru saja dialaminya, yang jika dipaparkan dalam bahasa lisan manusia kira-kira berbunyi:

“Sesungguhnya, di balik keberadaan sungai kehidupan duniawi yang bermuara ke samudera Wujud (bahr al-wujud) itu telah kami saksikan betapa sejatinya Allah tidak tersembunyi karena Dia tidak pernah tidak hadir. Sesungguhnya, kami telah saksikan bahwa di balik yang maujud sejatinya tersembunyi Yang Wujud dalam tingkatan-tingkatan kehadiran (al-maratib al-wujud), ibarat keberadaan anasir nirbendawi, anasir air, anasir makhluk air, anasir angin, anasir ombak, anasir buih, dan anasir pantai yang membentuk samudera kehidupan semesta. Kami menyaksikan dengan mata batin betapa sesungguhnya di balik keberadaan sebuah bentangan samudera kehidupan semesta, sejatinya tersembunyi perlambang Keberadaan Hakiki antara yang maujud dan Yang Wujud. Kami menyaksikan dengan bashirah hakikat turunnya (tanazzul) Yang Wujud ke wilayah pemunculan kehadiran (maujud) secara bertingkat-tingkat dalam bentuk perlambang mengejawantahnya Shifat, Af’al, dan Asma’-Nya dalam rangkaian al-Malik – malakut – mulki.”

Abdul Jalil tertawa. Setelah itu, dengan suara lain ia berkata dalam bahasa perlambang, “Benarlah apa yang engkau ungkapkan itu, o Anakku. Sebab, sejatinya di balik kehadiran (hadrah) segala sesuatu yang maujud di alam semesta ini tidak ada yang terlepas atau terpisah sama sekali dari Kehadiran Zat Wajib al-Wujud, yaitu Zat Yang Serba Meliputi segala sesuatu yang diperbuat makhluk (QS. al-Anfal: 47; Hud: 92; al-Isra’: 60). Segala ciptaan-Nya berasal dari-Nya dan senantiasa berada di dalam liputan kekuasaan-Nya. Dia Yang Mahaawal, Mahaakhir, Mahazahir, Mahabatin, dan Maha Mengetahui tiap-tiap sesuatu (QS. al-Hadid: 3). Karena Dia meliputi segala sesuatu maka ke mana pun engkau menghadapkan wajah, di situ terpampang wajah-Nya (QS. al-Baqarah: 115). Dan segala sesuatu yang maujud pasti rusak binasa bentuknya kecuali wajah-Nya (QS. al-Qashash: 88).”

“Sungguh, dengan mata batin yang jernih, engkau telah berhasil menangkap sasmita kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah) di balik sungai kehidupan duniawi yang sedang menghanyutkan manusia-manusia yang terseret air bah kebendaan di dalamnya itu. Engkau telah berhasil menyaksikan rahasia Ilahi tentang bagaimana sejatinya tiap-tiap makhluk ubun-ubunnya berada di dalam genggaman-Nya (QS. Hud: 56). Engkau telah merasakan dan mempersaksikan makna rahasia dari sabda-Nya bahwa Dia lebih dekat daripada urat lehermu (QS. Qaf: 16). Engkau telah menyaksikan tanda-tanda Allah di bumi maupun di dalam dirimu (QS. adz-Dzariyat: 20-21). Engkau telah berhasil menyaksikan bahwa Dia adalah Cahaya langit dan bumi (QS. an-Nur: 35). Jika nanti maqam yang engkau capai makin meningkat maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran maka engkau akan dapat menangkap sasmita kehadiran penyaksian tentang Dia sebagai Cahaya di Atas Cahaya (QS. an-Nur: 35), sehingga engkau akan dapat mengetahui siapa orang yang dibimbing al-Hadi dan siapa orang yang disesatkan al-Mudhill.”

“Apakah yang Paman maksud dengan kehadiran penyaksian (hadrah asy-syuhudiyyah)? Adakah itu berhubungan dengan Yang Maha Menyaksikan (Asy-Syahid)? Kami mohon bimbingan.”

“Sesungguhnya, sasmita Kebenaran yang engkau tangkap dari keberadaan sungai kehidupan duniawi dalam bentuk perlambang samudera raya beserta anasir-anasir pembentuknya itu pada hakikatnya adalah pengejawantahan dari Kehadiran Asma (Hadrah al-Asma’) yang memancar dari Zat Mahatunggal Yang Serba Meliputi (Hadrah adz-Dzatiyyah). Sesungguhnya, engkah telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik Mata Air yang menjadi sumber sungai kehidupan duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Mencipta (al-Khaliq), Yang Mahaawal (al-Awwal), Yang Maha Memulai (al-Mubdi). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik aliran sungai kehidupan duniawi yang mengalir itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahahidup (al-Hayy), Yang Maha Berlimpah (al-Wajid), Yang Mahanyata (azh-Zhahir). Engkau juga telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik tinggi rendah permukaan dan dasar sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Merendahkan (al-Mudzill), Yang Maha tinggi (al-‘Ali), Yang Maha membentuk (al-Mushawwir).”

“Sungguh, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik luas dan sempitnya tepian sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Menyempitkan (al-Qabith), Yang Maha Meluaskan (al-Bhasit), Yang Maha Menjaga (al-Muhaimin). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik arus sungai yang deras maupun yang lembut itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahalembut (al-Latif), Yang Maha Memaksa (al-Qahhar), Yang Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik lekukan dan liku-liku sungai kehidupan duniawi sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahalurus (al-Hadi), Yang Maha Membelokkan (al-Mudhill), Yang Maha Menentukan (al-Muqtadir). Engkau telah menangkap perlambang hakiki betapa di balik muara sungai kehidupan sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Maha Menghimpun (al-Jami’), Yang Maha Membuka (al-Fattah), Yang Maha Memajukan (al-Muqaddim).”

“Engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik lautan kehidupan dan gumpalan awan yang menurunkan hujan rahmat dari angkasa duniawi itu sejatinya tersembunyi Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat Yang Mahaluas (al-Washiy), Yang Mahabesar (al-Kabir), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Mahakokoh (al-Matin), Yang Mahamandiri (ash-Shamad), Yang Mahaakhir (al-Akhir), Yang Maha Meyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Mematikan (al-Mumit), Yang Maha Menghidupkan (al-Muhyi), Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Maha Menyucikan (at-Tawwab), dan Segala Asma’, Af’al, Shifat Yang Serba Maha.”

“Ya, engkau telah menangkap perlambang hakiki, betapa di balik semua atribut dan perlambang Kehadiran Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya itu sejatinya tersembunyi Hakikat dari Zat Mutlak (Dzat al-Muthlaqah): Zat Murni (Dzat al-Bahat) Yang Tersembunyi (al-Bathin), Zat yang tak diketahui siapa pun kecuali Dia (kunhi Dzat), Zat Yang Cinta Diketahui (al-Wadud), Zat Yang Mencipta (al-Khaliq) segala ciptaan (makhluk) untuk Menyaksikan (asy-Syahid) Keesaan (al-Wahid), Kemuliaan (al-Majid), Kesucian (al-Muta’ali), Keluhuran (al-Jalil), Kekuasaan (al-Qadir), Kemurahan (al-Karim), Keagungan (al-‘Azhim), Kesucian (al-Quddus), dan Kemahamutlakan seluruh Kehadiran (Hadhrah) Asma’, Shifat, Af’al, dan Dzat-Nya yang memancar dari tahap Haahuut-Lahut-Jabarut-Malakut-Mitsal-Nasut. Demikianlah, engkau telah berhasil menangkap makna hakiki kehadiran penyaksian (hadhrah asy-syuhudiyyah) dari tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud (al-maratib al-wujud) di alam semesta raya yang tak terukur luasnya ini.”

“Kami paham, Paman,” kata Raden Sahid dengan wajah berbinar-binar. “Tapi, bolehkah kami menyimpulkan bahwa sejatinya di balik yang maujud ini bukanlah hamparan Kehampaan, melainkan suatu Kepenuhan? Sebab, yang kami saksikan di balik yang maujud itu adalah Kepenuhan Ilahi yang meliputi segala. Dalam penglihatan mata batin kami, kami menyaksikan segala sesuatu yang maujud di wilayah jasadi (mulki) sejatinya berada di dalam liputan Yang Wujud, ibarat gelembung-gelembung udara kosong di dalam air.”

“Janganlah engkau menyimpulkan sesuatu yang engkau saksikan melalui mata batin dengan akal pikiranmu. Sebab, hal itu akan menjerat hakikat Kebenaran yang tersembunyi di balik rahasia-Nya. Engkau akan terpeleset oleh nalar untuk menafikan azh-Zhahir dan mengisybatkan al-Bathin. Lantaran itu, cukup arif jika engkau menilai apa yang engkau saksikan sebagai tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud itu dengan istilah sederhana tetapi rumit: awang-awang, yaitu ungkapan yang mewakili makna Kehampaan sekaligus Kepenuhan. Janganlah kata-kata itu ditafsir-tafsir lagi dengan nalar sehingga Keduanya menjadi terpisah sendiri-sendiri sebagai Kehampaan dan Kepenuhan yang saling Berdiri sendiri satu sama lain, atau Kedua-nya bisa saling menyatu Satu sama lain. Apa yang telah engkau saksikan tidak boleh ditafsir-tafsir.”

“Ingat dan camkan, apa yang engkau saksikan denga bashirah tidak akan peernah bisa dijabarkan dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Ingat dan camkan pula, tingkatan-tingkatan kehadiran Yang Wujud yang sudah engkau saksikan itu jelas-jelas menunjukkan tatanan hukum yang sangat sempurna dalam ‘pemunculan’ hingga ke tingkat maujud. Itu berarti, tidak akan mungkin Zat Yang Wujud bercampur baur (imtizaj) dengan yang maujud. Zat Yang Wujud juga tidak akan mungkin menjadi satu (ittihad) dengan yang maujud, apalagi sampai menjelma (hall) dalam wilayah jasadi (mulki). Dengan demikian, jika ada orang seorang dengan kekuatan akal budinya menyimpulkan bahwa Zat Yang Wujud dapat berinkarnasi (hulul), bercampur baur (imtizaj), menyatu (ittihad), dan meyakini bahwa ruh bisa berpindah-pindah (naskh al-arwah) maka sesungguhnya orang tersebut tidak mengetahui bahwa di hamparan alam gaib sejatinya terdapat ketetapan hukum Sempurna yang mengatur kehadiran masing-masing tingkatan (al-maratib) ‘pemunculan’ dari Yang Wujud hingga yang maujud, melalui tujuh tahap dengan lapisan selubung berpuluh-puluh ribu hijab.”

“Kami memahami petunjuk Paman tentang tingkatan-tingkatan ‘pemunculan’ Yang Wujud melalui tujuh tahap. Tetapi kami masih bingung dengan masing-masing tingkatan kehadiran, terutama yang terkait dengan keberadaan piranti bahasa pada masing-masing tingkat. Kami masih sulit membedakan makna hakiki di balik bahasa indriawi, bahasa malakut, dan bahasa rabb pada masing-masing kehadiran. Kami mohon penjelasan dan bimbingan tentang itu, Paman,” kata Raden Sahid suatu malam, beberapa hari setelah pengalaman yang menggetarkan jiwanya itu berlalu.

“Ingat dan resapi, o Anakku! Pada tingkat kehadiran wilayah jasadi (mulki), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa yang bisa ditangkap panca indera. Itulah bahasa yang mengalir dari mulut dan diserap oleh indera pendengaran. Itulah bahasa yang bisa dipahami oleh nafs pada masing-masing makhluk. Dengan bahasa ini, Adam a.s. mengenal nama-nama. Pada tingkat kehadiran wilayah nirbendawi (malakut), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung antaranasir adalah bahasa perlambang (isyarah) yang hanya bisa dipahami maknanya oleh Ruh al-Idhafi lewat pendengaran batin (sam’). Sementara pada tingkat Kehadiran wilayah Ilahi (al-Malik), bahasa yang digunakan sebagai piranti penghubung adalah bahasa tanpa kata tanpa perlambang yang disebut al-ima’, yaitu bahasa rabb yang hanya bisa ditangkap oleh Ruh al-Haqq dan al-Haqq,” Abdul Jalil menjelaskan.

“Apakah yang disebut bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang biasa digunakan oleh para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa saat mereka mengalami kerawuhan (kehadiran) arwah dewata yang hidup langgeng?” tanya Raden Sahid.

“Sepengetahuanku, bahasa malakut itu sama dengan bahasa ruh yang dimaksud para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Aku katakan tidak sama sebab setahuku belakangan ini banyak di antara pengamal ajaran Pangiwa, yang berasal dari kalangan kebanyakan, telah keliru memaknai daya yang memancar dari kantha-mula atau dar al-khanja-rah sebagai bahasa ruh yang bersumber dari ruh suci Ilahi. Padahal, kantha-mula adalah salah satu ‘tempat pengungkapan’ (al-mahall) bagi mengalir keluarnya daya-daya kejahatan dan kebaikan, di mana daya kejahatan dan daya kebaikan itu muncul dengan cara diilhamkan kepada manusia melalui jalan kefasikan dan jalan ketakwaan (QS. asy-Syams: 8). Dengan begitu, keberadaan kantha-mula atau dar al-khanjarah itu memiliki dua kemungkinan: ia bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan ketakwaan yang akan membawa orang seorang mengungkapkan Kebenaran lewat lisannya, atau sebaliknya ia juga bisa menjadi jalan bagi memancarnya ilham jalan kefasikan, yang akan memancarkan jalan Kesesatan (ablasa) lewat lisannya.”

“Jika suatu saat engkau mendapati orang seorang mengatakan bahwa dia telah mengalami kehadiran arwah suci dewata yang langgeng, sebagaimana diungkapkan para pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa, maka ujilah pengakuannya itu dengan pendengaran batin, sebagaimana sudah pernah engkau gunakan saat bertemu Yang Mulia Rishi Agastya di gunung Malaya. Dengan pendengaran batin, engkau akan mudah mengetahui apakah ajaran seseorang itu igauan, sabda kesesatan, ujar kebohongan, atau benar-benar ungkapan ruh suci Yang Ilahi lewat bahasa perlambang atau lewat bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Dengan menguji lewat pendengaran batin maka engkau akan mendapati bukti nyata apa yang sejatinya diujarkan seseorang itu.”

“Sungguh telah sering aku jumpai orang seorang yang menjadi pemuja Sang Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa yang mengaku-aku mengalami kerawuhan ruh suci yang mahalanggeng. Mereka berceloteh dan mengomel tidak karuan seperti orang mabuk, tetapi mereka tidak mengetahui makna dari apa yang mereka ucapkan. Mereka dengan yakin diri menyatakan bahwa celoteh dan omelan itu adalah bahasa ruh suci yang tak terpahami. Sesungguhnya, dipandan dari sisi batiniah, mereka adalah orang-orang terhijab yang sedang terperangkap jaring angan-angan kosong (al-wahm) yang terpintal dari serat-serat tali lamunan kosong (al-umniyah). Mereka terperangkap ke dalam lingkaran kusut jaring imajinasi nirwujud (al-mumtani’) yang menebarkan jaring-jaring kesesatan (al-idhlal) yang dibentangkan Sang Penyesat (al-Mudhill) melalui Iblis beserta daya-dayanya.”

“Sesungguhnya, apa yang mereka ucapkan dalam celoteh dan omelan itu pada hakikatnya adalah ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang memancar dari kuasa nirwujud (ablasa) yang tersembunyi di dalam nafs manusia, yaitu di relung-relung mahligai kantha-mula atau dar al-khanjarah. Celoteh dan omelan itu bukanlah bahasa ruh suci yang mahalanggeng melainkan ungkapan kehadiran ilham kefasikan yang akan menghijab manusia dari Kebenaran. Itu sebabnya, mereka yang terperangkap pada jalan kefasikan yang ditebari jaring-jaring al-wahm dan al-idhlal yang kosong tak bermakna itu, akan terbelenggu dalam kerangkeng hijab dirinya dan jauh (bu’d) dari Kebenaran Sejati. Mereka adalah manusia menyedihkan karena kesadaran jiwanya sudah dikuasai imajinasi nirwujud yang tidak memiliki kiblat yang Benar ke arah Tauhid.”

“Dengan uraianku ini, telah jelaslah bahwa mereka adalah manusia-manusia yang telah terkuasai oleh daya-daya sang nirwujud (ablasa). Dapat dipastikan mereka tidak akan pernah bisa menangkap keindahan bahasa perlambang (isyarah) yang tersembunyi di balik bahasa jiwa. Mereka tidak akan bisa menangkap benderang cemerlangnya bahasa tanpa kata tanpa perlambang. Mereka tidak akan pernah bisa menyingkap tirai-tirai gaib yang menyelubungi kemaujudan alam semesta ini. Pada ujungnya, mereka tidak akan pernah menyaksikan Kebenaran Hakiki dari Yang Wujud. Sungguh, mereka itu sejatinya hanya orang-orang yang dipermain-mainkan oleh angan-angan kosong mereka sendiri. Pengalaman-pengalaman ruhani dangkal yang mereka alami bukanlah penyingkapan tirai-tirai kegaiban, melainkan sekadar pengejawantahan khayalan-khayalan nirwujud yang menyesatkan,” papar Abdul Jalil.

“Berarti, mereka tergolong orang-orang terhijab yang selama hidup tidak akan pernah bisa menembus rahasia alam gaib dan tidak pula mampu memahami bahasa rabb?” tanya Raden Sahid.

“Itu sudah pasti. Sebab, al-ima’ tidak pernah memancar lewat kantha-mula atau dar al-khanjarah dalam bentuk celoteh dan omelan tak terpahami yang bisa ditangkap indera pendengaran. Al-ima’ hanya mungkin memancar dari dar al-khanjarah jika ‘tempat’ itu sudah disucikan dari nafsu-nafsu sehingga menjadi tempat suci yang disebut bait al-qaddisah. Jika nanti engkau sudah terbiasa menggunakan pendengaran batin dan lancar enggunakan bahasa isyarah dan al-ima’, maka engkau tidak saja akan mengetahui ucapan dusta para pembohong, melainkan dapat pula mengetahui bahwa di balik ayat-ayat Al-Qur’an yang dilafazkan itu sejatinya tersembunyi bahasa rabb. Itu sebabnya, ayat-ayat Al-Qur’an yang muncul sebagai bahasa insani lewat bait al-qaddisah pada diri Nabi Muhammad Saw. tidak bisa dipalsukan satu huruf pun, karena orang-orang beriman yang sudah memahami bahasa isyarah dan al-ima’ dengan mudah akan mengetahui pemalsuan-pemalsuan yang dilakukan orang zalim.”

“Maksudnya, engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan itu dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu. Jika satu saat nanti datang kepadamu orang-orang jahil yang menantang-nantangmu untuk mengadu kehebatan dalam menempuh jalan ruhani, tetapi orang itu masih menggunakan bahasa lisan, maka wajiblah bagimu untuk menghindar. Bersikaplah seolah-olah engkau bodoh dan tidak memiliki pengetahuan ruhani. Lebih baik dirimu dianggap bodoh oleh mereka daripada engkau meladeni mereka, karena orang-orang jahil itu akan terperosok ke lembah ketakaburan yang mengundang murka Allah. Biarlah mereka memuji-muji kehebatan diri dengan menjadikanmu tumpuan pijakan.”

“Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sangat ingin menggunakan pendengaran batin, bahasa isyarah, dan al-ima’ dengan lancar, meski kami sadar hal itu tidak gampang. Butuh latihan keras dan waktu panjang. Kami ingin Paman tidak pernah bosan membimbing kami,” kata Raden Sahid takzim.

“Engkau sudah tidak perlu bimbingan lagi. Engkau ibarat burung, bisa terbang sendiri mengarungi angkasa luas. Tetapi, satu hal yang wajib engkau ingat: jangan engkau berbuat zalim dengan mengungkapkan pengetahuan ini kepada mereka yang tidak berhak. Pengetahuan ini sangat rahasia. Engkau harus pandai-pandai menyembunyikan kemampuan ini dan sekaligus menyembunyikan jati dirimu,” Abdul Jalil mewanti-wanti.

“Kami akan pusakakan wejangan Paman. Tetapi, bagaimanakah cara kami untuk mengajarkan kepada para murid yang belajar kepada kami dalam menjelaskan perbedaan tingkat-tingkat bahasa, terutama untuk menguji pengakuan orang seorang yang mengaku kehadiran ruh suci?”

“Secara sederhana, untuk menguji apakah orang seorang itu benar-benar mengungkapkan bahasa ruh suci yang mahalanggeng atau sedang terperangkap jerat-jerat al-wahm, engkau dapat menggunakan ukuran penalaran yang cerdas, yaitu membandingkan pertentangan-pertentangan antara apa yang mereka ucapkan dengan perilaku dan perbuatan yang mereka jalankan dalam kehidupan sehari-hari. Sungguh, telah bertahun-tahun aku telah mengenal para pemuja Prthiwi dan pengamal ajaran Pangiwa. Selama itu pula aku sering menangkap citra keberadaan mereka dengan penanda sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud. Mereka itu orang-orang yang citra dirinya ditandai sikap takabur, menilai terlalu tinggi diri sendiri, suka merendahkan manusia lain, membanggakan kekuatan diri, kuat ananiyyah (egois), tidak mau disaingi, penuh dendam dan iri hati, suka mengaku-aku, hidup dibimbing nafsu, kejam, pintar bicara, banyak siasat, cinta kebendaan, dan berlebihan dalam segala hal. Dengan sikap dan perilaku yang mengejawantahkan citra sang nirwujud maka citra diri mereka ditandai oleh pertentangan (munaza’ah) dari citra diri mereka, yang hal itu akan terungkap dalam ketidaksesuaian dan pertentangan antara kata dan perbuatan mereka dalam kehidupan sehari-hari.”

“Jika suatu saat engkau bertemu dengan orang-orang semacam mereka, berhati-hatilah engkau. Sebab, mereka adalah pengejawantahan citra sang nirwujud. Tanda-tanda mereka itu mudah diketahui. Umumnya tanda-tanda itu seperti ini: jika mereka berkata-kata yang menakjubkan tentang cinta kasih maka yang mereka perbuat adalah tindak kekejaman dan kebrutalan yang menjijikkan. Jika mereka berbicara tentang kerendahhatian maka yang mereka perbuat adalah pamer ketakaburan dan kecongkakan. Jika mereka berbicara tentang kedermawanan maka yang mereka perbuat adalah merampas, merampok, menggarong, menjarah, dan mengisap sesama. Jika mereka berbicara menakjubkan tentang peradaban maka yang mereka perbuat adalah tindak kebiadaban yang memalukan orang beradab. Jika mereka berbicara tentang kemerdekaan dan kesetaraan maka yang mereka perbuat adalah menindas, menjajah, dan memperbudak sesama.”

“Dengan ketidaksesuaian antara kata dan perbuatan itu, di mana pun mereka datang di suatu tempat maka saat itulah mereka akan menebarkan malapetaka bagi makhluk di tempat tersebut. Mereka akan menjadi pangkal kesengsaraan bagi makhluk lain. Sebab, mereka tidak saja akan menjadi perampok, penggarong, penjarah, perampas, penjajah, dan penindas, melainkan akan menjadi penyesat pula bagi manusia yang mempercayai ucapan mereka. Waspadalah terhadap mereka. Tetapi satu hal yang wajib engkau waspadai, o Anakku, bahwa kecenderungan-kecenderungan semacam mereka itu tidak selalu sama bentuknya dalam tiap masa. Maksudku, kecenderungan itu bisa muncul dalam berbagai bentuk dan ajaran yang berbeda dengan ajaran Pangiwa dan ajaran pemuja Prthiwi. Tidak menutup kemungkinan kecenderungan itu akan engkau dapati pada orang-orang yang mengenakan jubah keislaman atau jubah agama lain yang kelihatan santun dan baik,” kata Abdul Jalil.

Raden Sahid menarik napas panjang. Dia merasakan kelegaan memenuhi dadanya. Lalu, dengan suara lain dia berkata, “Kami akan pusakakan petunjuk Paman. Kami sekarang ini benar-benar merasa berbahagia. Sebab, ucapan Paman bahwa Allah tidak tersembunyi karena Allah tidak pernah tidak hadir baru dapat kami pahami dengan sebenarnya sekarang ini.”

“Itu berarti engkau telah mengetahui dengan bashirah sebagian rahasia kekuasaan-Nya.”

“Terima kasih Paman.”

“Sebagai tanda bahwa engkau telah menapakkan kaki sebagai al-arif billah yang sudah memenuhi syarat untuk menjadi pembimbing ruhani, aku berikan ijasah untukmu dalam wujud: Ratu Arofah,” kata Abdul Jalil memegang kedua bahu Raden Sahid.

“Kami terima ijasah sebagai pusaka.”

“Tapi, tahukah engkau apa yang aku maksud dengan Ratu Arofah?”

“Kami tidak tahu, Paman.”

“Dia adalah Zainab, puteriku. Aku berikan ia kepadamu sebagai ijasah yang menandai bahwa engkau boleh mengajarkan apa yang telah aku ajarkan kepadamu. Lantaran engkau telah ‘mengetahui’ rahasia-rahasia kekuasaan-Nya melalui bashirah maka ijasah itu aku sebut dengan nama Ratu Arofah.”

“Kami pusakakan ijasah yang agung dan mulia itu.”

“Tapi ada satu hal yang harus engkau ingat-ingat, o Anakku.”

“Kami mohon petunjuk dan bimbingan.”

“Ucapan-ucapanku seperti ‘Allah tidak pernah tidak hadir’ hendaknya engkau jadikan rahasia. Sebab, ucapan itu menjadi sesuatu yang benar jika diucapkan seorang guru kepada sang penempuh (salik) dalam menuntun ke arah ketercelikan mata hati untuk mengenal-Nya. Tetapi, ucapan itu menjadi suatu kezaliman jika disampaikan kepada kalangan awam yang keadaan jiwanya masih terhijab. Sehingga, mengungkapkan rahasia Kebenaran ini kepada awam bisa diibaratkan seperti seorang penyair mengungkapkan keindahan syair-syairnya kepada orang tuli,” sahut Abdul Jalil.

04. Tengara Murka Tuhan

Suatu siang, ketika Abdul Jalil mengajak Raden Sahid pergi ke pelabuhan, tanpa tersangka-sangka mereka berpapasan dengan serombongan orang di depat kantor syahbandar. Mereka tampaknya akan ke kutaraja. Abdul Jalil berhenti mendadak. Kemudian dengan suara lirih tetapi agak ditekan, ia berkata kepada Raden Sahid. “Kalau tidak keliru, itu seperti rombongan orang-orang dari Surabaya.”

Raden Sahid menghentikan langkah dan melihat iring-iringan orang di depannya. Dilihat dari penampilan, pakaian, payung, dan lambang-lambang yang dibawa, rombongan itu tampaknya memang berasal dari Surabaya. Orang yang diusung di atas tandu, yang belakangan diketahui sebagai Pangeran Arya Kediri, adalah putera ketiga Raden Kusen Adipati Surabaya. Pangeran Arya Kediri selama itu dikenal sebagai anak muda gagah berani. Ia dipercaya ayahandanya mengepalai pasukan pengalasan Surabaya. Ia selalu berjaya dalam berbagai pertempuran. Lantaran kemenangan-kemenangan yang selalu diraihnya itulah, orang kemudian menyebutnya dengan gelar terhormat: Pangeran Tundhung Musuh.

Pangeran Arya Kediri datang ke Malaka didampingi Raden Muhammad Yusuf, putera Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu. Mereka berdua dikenal sebagai sahabat dekat. Melalui Raden Muhammad Yusuf yang memiliki keluarga terpandang di Malaka, Pangeran Arya Kediri menancapkan kekuatan untuk melindungi saudagar-saudagar asal Surabaya yang berniaga di Malaka. Dalam suatu perbincangan singkat dengan Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, Abdul Jalil mengetahui jika salah satu alasan kehadiran putera Raden Kusen itu ke Malaka adalah untuk berdagang senjata. Rupanya, melalui bantuan Raden Muhammad Yusuf dan keluarganya, Pangeran Arya Kediri dapat membangun kekuatan dan sekaligus mengembangkan kantor perwakilan dagang di Malaka, terutama pemasaran bedil besar (meriam) buatan Sapanjang dan Jepara. Selain bedil besar, dijual juga mesiu buatan Palembang dan Samarang.

Menurut Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, dalam hal mutu, bedil besar buatan Sapanjang dan Jepara tidak kalah dibanding meriam-meriam terbaik buatan Kerala dan Turki. Dalam tiga empat kali uji coba mutu senjata, aku Pangeran Arya Kediri, pihaknya sudah mendapat pesanan dari Sultan Malaka, Sultan Brunei, dan Sultan Sulu. “Sultan Malaka Mahmud Syah memesan seratus bedil besar dari bahan kuningan dan tujuh puluh bedil besar dari bahan besi. Sultan Brunei Nakhoda Ragam Bolkiah memesan lima puluh bedil besar dari bahan besi. Sedang Sultan Sulu Kamaluddin Hasyim Abu Bakar memesan empat puluh bedil besar dari besi.”

“Malam nanti kami akan bertemu dengan Hiyoshi, saudagar asal Hakata dari negeri Jepun. Orang-orang Jepun kelihatannya sangat tertarik dengan bedil besar dan bedil,” kata Pangeran Arya Kediri bangga.

“Bedil besar itu dibuat di Sapanjang? Maksudnya, Sapanjang di selatan Surabaya?” gumam Abdul Jalil sambil mengerutkan kening seolah belum percaya.

“Pengecoran di Terung sudah ditutup. Sebagai pengganti, dibikin pengecoran baru di Sapanjang. Yang mengepalai pengecoran adalah Raden Mahmud Pangeran Sapanjang, putera Susuhunan Rahmatullah.”

“Apakah di Sapanjang dan Jepara orang-orang sudah bisa membuat bedil?” tanya Abdul Jalil.

“Orang-orang kami belum mampu membuat bedil yang bagus. Dalam beberapa kali uji coba, laras bedil yang dibuat orang-orang kita selalu pecah setelah dipakai menembak dua tiga kali. Jadi, untuk bedil kita masih membelinya dari saudagar-saudagar Kerala dan Bengali. Tetapi, kami menawarkan bedil-bedil itu kepada siapa saja yang berminat, termasuk kepada orang-orang Jepun,” kata Pangeran Arya Kediri.

Abdul Jalil mengangguk-angguk sambil menarik napas berat. Penjelasan Pangeran Arya Kediri tentang meningkatnya perniagaan bedil besar buatan Jawa telah semakin menyadarkannya bahwa tengara kerusakan dahsyat yang bakal ditimbulkan oleh senjata penyembur api itu makin mendekati kenyataan. Ia sadar bahwa sebuah perubahan besar akibat hadirnya Ya’juj wa Ma’juj, cambuk api yang bakal digunakan Allah untuk menghajar bumi dan penghuninya, semakin dekat waktunya. Itu berarti, ujian bagi manusia beriman yang teraduk-aduk bersama azab bagi manusia yang lalai semakin dekat menghampiri dunia.

Ketika Abdul Jalil tengah merenungkan keterkaitan antara azab Allah dan maraknya perdagangan senjata penyembur api, ia dikejutkan oleh pekikan Raden Sahid. Ia menoleh dan mendapati Raden Sahid berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi. Menangkap gelagat kurang baik, Abdul Jalil bertanya tentang apa yang sedang dialami bakal menantunya itu. Dengan bibir gemetar dan terbata-bata Raden Sahid berkata, “Kami menyaksikan orang-orang di depan itu memiliki ekor.”

Abdul Jalil tertawa, lalu sambil menepuk bahu Raden Sahid ia berbisik, “Bersyukurlah, engkau telah dianugerahi pengetahuan gaib untuk mengetahui keberadaan manusia berekor. Bersyukurlah!”

“Kenapa mereka diberi perlambang memiliki ekor?” tanya Raden Sahid heran.

“Bukankah engkau sudah menyaksikan tujuh cahaya pada tubuh manusia?” bisik Abdul Jalil. “Yang engkau saksikan itu adalah orang-orang yang hidupnya digerakkan oleh cahaya yang memanjang di ujung tulang ekornya. Itulah tanda manusia yang hidupnya terbimbing nafsu rendah hewani.”

Raden Sahid mengangguk paham. Tetapi, bagi Abdul Jalil, anggukan Raden Sahid itu justru makin menguatkan sasmita yang ditangkapnya sehubungan dengan bakal menggeletarnya cambuk Tuhan atas Malaka. Ya, Malaka. Malaka lambang kemakmuran bumi yang menebarkan suasana pengab, tengik, busuk, dan menyesakkan jiwa dengan nilai-nilai kebenaran yang jungkir balik, pancaran gemilang kelezatan duniawi yang menyilapkan banyak manusia dari mengingat Tuhan. Tampaknya, Malaka sedang menunggu giliran dihajar oleh lecutan cambuk api yang menggeletar di tengah gemuruh murka Ilahi.

Tengara bakal dilecutnya Malaka oleh cambuk api murka Ilahi makin kuat ditangkap getarannya oleh Abdul Jalil manakala ia diajak oleh Pangeran Arya Kediri ke sebuah tempat pelatihan militer di selatan kutaraja. Tempat itu berupa alun-alun yang luas dikitari barak prajurit, gudang perbekalan, gudang senjata, istal, dan kandan gajah. Di bagian tengah alun-alun terlihat barang sepuluh orang-orangan dari jerami yang dipancang pada kayu, sebagai sasaran bidikan bedil dan anak panah. Sejumlah prajurit yang berdiri berjajar terlihat membawa bedil di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Asap tipis masih mengepul dari moncong bedil ketika mereka dengan teriakan keras melompat ke arah orang-orangan jerami sambil mengayunkan pedang.

Sebagian dari prajurit yang tinggal di barak-barak itu berasal dari Jawa. Mereka dibayar oleh sultan sebagai tentara sewaan dengan upah tinggi. “Kebanyakan mereka berasal dari Surabaya, Siddhayu, Gresik, Terung, dan Demak. Mereka sangat berani dan terampil menggunakan berbagai jenis senjata,” ujar Pangeran Arya Kediri bangga.

Abdul Jalil hanya manggut-manggut mendengarnya. Setelah diam sejurus, ia bertanya, “Kenapa sultan menyewa prajurit dari Jawa? Apakah penduduk Malaka enggan menjadi prajurit?”

“Sepengetahuan kami, sultan memperkuat diri dengan prajurit-prajurit sewaan dari Jawa lebih disebabkan oleh kepentingan mengimbangi kekuatan Bendahara Raja Tun Mutahir yang didukung orang-orang Keling. Bahkan, belakangan Tun Mutahir didukung pula oleh pengungsi-pengungsi asal Kerala. Sultan merasa Tun Mutahir telah bertindak terlalu jauh merongrong kekuasaannya sehingga keberadaan sultan tak lebih dari boneka tak berdaya. Sultan yang merasa berdarah Majapahit itu ingin menunjukkan kekuatannya dengan mendatangkan prajurit-prajurit unggul dari Jawa.”

Abdul Jalil diam. Dalam diam ia menangkap sasmita betapa rapuhnya usaha Sultan Malaka dalam memperkuat pertahanan diri. Jika sultan merasa kuat dengan dukungan pasukan sewaan yang besar jumlahnya maka sejatinya sultan seperti sedang membangun benteng dari jaring laba-laba yang rapuh dan mudah hancur. Sebab, seberapa kuatkah kesetiaan prajurit sewaan? Bukankah mereka setiap waktu bisa mengalihkan pengabdian kepada tuan yang membayar sewa lebih mahal?

Pada awal abad ke – 16, di mana-mana tempat yang dihuni penduduk muslim, tak terkecuali Malaka, sedang berlangsung pertarungan sengit antara pengikut Syi’ah dan Sunni. Akal sehat dan persaudaraan kaum muslim (ukhuwah Islamiyyah) sepertinya telah tersapu dari permukaan bumi dan tenggelam ke dalam lautan kebencian tak bertepi. Matahari Kebenaran makin lama makin jauh bersembunyi di balik bukit-bukit permusuhan yang dikobari api amarah dan dialiri sungai darah. Fitrah manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) telah menjelma dalam bentuk kawanan setan bertubuh api yang ganas dan haus darah. Saat itu Sang Maut seolah-olah memanjangkan bayangan-Nya dan menjulurkan cakar-Nya sampai ke bagian tergelap dari relung-relung terdalam jiwa manusia.

Di tengah bayangan kelam Sang Maut yang mengintai di balik cakrawala Kehidupan, di tengah permusuhan orang-orang Syi’ah dan Sunni, Abdul Jalil dengan didampingi istri, anak, dan Raden Sahid terlihat berjalan menelusuri lorong-lorong sempit di bandar Malaka yang diapit bangunan-bangunan di kedua sisinya. Beberapa saat lalu ia baru saja bertemu dan singgah sejenak di rumah Khoja Hasib al-Tughyan, seorang kenalan lamanya, yang terletak di tepi utara sungai Malaka. Ia tidak menyangka Khoja masih tetap sebagai Hasyib al-Tughyan yang pernah dikenalnya barang tiga dasawarsa silam; seorang anak muda yang secara ajaib tidak pernah terpengaruh putaran roda waktu. Wajahnya, matanya, bibirnya, hidungnya, kulitnya, rambutnya, dan bahkan bentuk tubuhnya tetap tidak berubah barang secuil pun. Khoja tetap seorang pemuda yang sepertinya tidak pernah tua apalagi sampai kulitnya keriput dan punggungnya bongkok lalu tumbang ke bumi.

Tidak berbeda dengan penampilannya yang tidak pernah berubah tua, Khoja juga tidak berubah dalam sikap dan perbuatan. Dia selalu bersikap tegas, jujur, polos, suka berterus terang, dan yang menakjubkan, ingatannya sangat kuat sehingga sekecil apa pun peristiwa yang diketahuinya tidak akan pernah dilupakannya. Melalui dia, Abdul Jalil mendapat cerita singkat tentang Syaikh Abul Mahjuubin dan ketiga orang anaknya; Abul Maisir sang penjudi, Abul Khamrun sang pemabuk, dan Abul Kadzib sang penipu. Dengan suara gemerisik bagaikan daun-daun kering diembus angin, Khoja bertutur.

“Manusia dekil yang kita kenal sebagai Syaikh Abul Mahjuubin ternyata hidup tidak lama setelah engkau pergi meninggalkan Malaka, o Sahabat. Rupanya, dia yang hidup dari mengisap darah manusia, di dalam tubuhnya bersarang kawanan hewan pengisap darah: lintah. Itu sebabnya, berapa banyak pun darah yang dia isap selalu tidak cukup memuaskan kawanan lintah yang menghirup setiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya. Bahkan, semakin banyak darah yang diisapnya, semakin rakus lintah-lintah itu mengganas dan mengisap darah yang mengalir di tubuhnya. Ketika darah yang diisapnya diperebutkan oleh ketiga orang anaknya, sehingga pasokan darah di tubuhnya berkurang, lintah-lintah ganas itu dengan rakus mengisap semua cairan dan menggeragoti organ-organ tubuhnya hingga ke tulang dan sumsum. Dan, saat Sang Maut menghantamkan sayap Kematian ke hulu tenggorokannya, tubuh celaka makhluk dekil pengisap darah itu sudah tinggal tulang terbalut kulit. Dengan mata terbelalak dan wajah pucat pasi ia meregang nyawa karena sebelumnya ia tidak pernah menduga jika nyawanya bakal dicabut secepat itu.”

“Pembohong seperti Syaikh Abul Mahjuubin memang harus hidup dilingkari kebohongan demi kebohongan sehingga pada saat mati pun ia masih juga diliputi kebohongan. Para murid dan keluarga yang menunggui Syaikh Abul Mahjuubin saat menjelang sakaratul maut, dengan kelincahan lidahnya memberikan kesaksian palsu bahwa mereka telah menyaksikan gurunya mati dengan tersenyum sambil mengucap kalimat: la ilaha illa Allah! Padahal, saat itu malaikat, jin, setan, cicak, nyamuk, semut, dan aku yang berada di sana mempersaksikan bahwa Abul Mahjuubin mati secara su’ul khatimah, karena mengumpati Tuhan yang dianggapnya telah menyiksanya dengan penyakit yang tak kunjung sembuh.”

“Aku malah menyaksikan, bagaimana tidak lama setelah mayat manusia lintah itu dikubur, ketiga orang anaknya merancang kebohongan dengan membuat surat warisan palsu yang terkait dengan pembagian harta peninggalan ayahanda mereka. Mereka tanpa malu sedikit pun saling bertengkar, merebut warisan. Mereka mengeluarkan banyak uang untuk menyuap hakim dan saksi palsu. Mereka menyuap pejabat-pejabat korup agar berkenan membela mereka masing-masing. Walhasil, tidak sampai tiga bulan seluruh kekayaan yang sudah dikumpulkan dengan penuh kecurangan oleh Syaikh Abul Mahjuubin selama bertahun-tahun itu lenyap seperti tersapu angin prahara. Demikianlah, pada bulan keempat setelah kematian Syaikh Abul Mahjuubin, orang melihat Abul Maisir dan Abul Khamrun hidup menggelandang di pasar-pasar sebagai orang setengah waras. Sedang Abul Kadzib, anak bungsunya, diketahui orang keluar masuk gedung pengadilan dan dijatuhi hukuman dera berulang-ulang akibat tidak bisa meninggalkan kebiasaannya menipu.”

“Sungguh menyedihkan akhir cerita manusia pecinta duniawi seperti Syaikh Abul Mahjuubin dan putera-puteranya,” gumam Abdul Jalil menarik napas panjang.

“Mudah-mudahan kita tidak digolongkan-Nya sebagai kawanan manusia tengik seperti mereka.”

Ketika Abdul Jalil dan Khoja sedang memperbincangkan kehadiran orang-orang Kerala pendukung Tun Mutahir, muncul Thalib al-Akhbar, saudara sepupu Khoja, membawa kabar mengejutkan: barang lima hari lalu Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut Kozhikode, dengan kekuatan 280 buah kapal perang dan pasukan berjumlah 50.000 orang menggempur bandar Cochazhi (Cochin). Raja Cochazhi dan orang-orang Portugis sekutunya yang tak menduga bakal mendapat serangan mendadak itu terkejut bukan alang kepalang. Francisco d’Albuquerque sampai serak suaranya berteriak-teriak memimpin gerak mundur pasukannya yang hanya seratus orang itu dari Cochazhi. Duarte Pacheco Pereira yang mendampingi raja Cochazhi tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menyarankan agar sang raja yang dikawal delapan ratus orang serdadu sewaan dan pengawal-pengawalnya itu untuk menyingkir dari kota. Setelah berhasil menguasai bandar, ungkap Thalib al-Akhbar, para prajurit dan pejuang Kozhikode beramai-ramai menghancurkan kantor persekutuan dagang (feitoria) Portugis – Cochazhi beserta gudang-gudangnya.

Setelah menyingkir dari bandar, Portugis dan raja Cochazhi membawa sisa-sisa pasukannya ke pulau Vypin. Portugis kemudian melanjutkan pembangunan benteng kayu di pulau itu untuk menahan serbuan yang dilakukan prajurit dan pejuang-pejuang Kozhikode. Portugis menamai benteng kayu itu dengan sebutan Castelo de Cima. Di benteng itulah, menurut kabar, Portugis dan raja Cochazhi melakukan perlawanan dengan taktik dan strategi perang Eropa yang sangat berbeda dengan yang diterapkan Laksamana Kunjali Marakkar.

Kabar serbuan Laksamana Kunjali Marakkar ke Cochazhi yang membuat Portugis dan sekutunya tunggang-langgang, ternyata dengan cepat menyebar ke bandar-bandar perniagaan di selatan, termasuk Malaka. Hal itu diketahui Abdul Jalil ketika ia berbincang-bincang dengan Syaikh Dara Putih, adik lain ibu Syaikh Jumad al-Kubra, dan Datuk Musa, saudara sepupunya, di rumahnya yang terletak di kampung Pulau Upih. Anehnya, orang-orang Malaka kelihatan tidak sedikit pun menganggap serius kabar pertempuran Laksamana Kunjali Marakkar dengan Portugis itu. Mereka seolah-olah menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang biasa, sebagaimana layaknya peristiwa perselisihan antarsaudagar atau antarpenguasa bandar. Mereka justru jauh lebih menganggap serius perselisihan antara pengikut Sunni dan Syi’ah.

Sekalipun dalam memperbincangkan berbagai masalah terkait nasib umat Islam yang semrawut itu Abdul Jalil dinilai memiliki pandangan berbeda dalam menyikapinya, baik Datuk Musa, Syaikh Dara Putih, dan Raden Sahid sama-sama sepakat dengan kesimpulan Abdul Jalil bahwa bertubi-tubinya masalah rumit yang dihadapi umat Islam belakangan ini bukanlah suatu peristiwa kebetulan. Mereka sepakat, keberadaan umat Islam yang belakangan ini dijungkirbalikkan dalam berbagai peristiwa pedih laksana tanah sawah dijungkir balik bajak adalah sebuah pertanda bahwa Sang Pencipta sedang menyiapkan suatu rencana bagi umat-Nya. Khusus tentang pertarungan antara pengikut Syi’ah dan Sunni, mereka melihat adanya suatu keanehan. Pemuka-pemuka Syi’ah maupun Sunni yang bertempur ternyata sama-sama mengaku sebagai golongan Alawiyyin, keturunan Imam Ali bin Abi Thalib, yang bertuhankan Allah, berkitab suci Al-Qur’an, bernabi Muhammad Saw, berkiblat Ka’bah sehingga tidak jelas siapa sesungguhnya yang benar dan siapa yang berbohong dalam pengakuan-pengakuan sepihak di tengah pertikaian itu.

Selama memperbincangkan masalah perseteruan Syi’ah dan Sunni, Abdul Jalil diam-diam menangkap kenyataan tentang kerasnya sikap Syaikh Dara Putih terhadap mereka yang dianggap memihak dan mendukung Syah Ismail. Meski Syaikh Dara Putih menyatakan tidak memihak salah satu pihak yang berseteru, kenyataan menunjuk bahwa dia tidak segan membuat fatwa untuk menghalalkan darah siapa pun di antara manusia yang terbukti mendukung Syah Ismail. Kerasnya sikap Syaikh Dara Putih itu, menurut hemat Abdul Jalil, kemungkinan bersumber dari kemarahan tak terkendali adik Syaikh Jumad al-Kubra itu ketika mendengar cerita tentang tindakan-tindakan brutal Syah Ismail dalam menghancurkan tarekat-tarekat di bumi Persia. Sebab, dengan penghancuran tarekat-tarekat itu, garis silsilah nasab para Alawiyyin – Syaikh Dara Putih termasuk di dalamnya – menjadi kacau dan bahkan terputus sehingga keabsahan silsilah mereka sewaktu-waktu layak diragukan.

Menghadapi guru tarekat yang masih dijerat oleh keberpihakan dan pamrih seperti Syaikh Dara Putih, Abdul Jalil tentu saja tidak mau mengimbangi. Sebaliknya, ia berusaha mengalihkan alur pembicaraan dengan membahas masalah kemerosotan akhlak dan jungkir baliknya nilai-nilai yang sedang berlangsung di Malaka, dengan terlebih dulu mengungkap latar di balik peperangan Kozhikode di satu pihak dengan Portugis dan penguasa Cochazhi di pihak lain. Sebagaimana pandangannya yang selalu berpusat pada Tauhid, Abdul Jalil menyimpulkan bahwa pertumpahan darah yang menimbulkan korban jiwa di Kozhikode, Cochazhi, Perlak, Pasai, dan Malaka belakangan ini pada hakikatnya adalah rangkaian panjang dari lecutan demi lecutan cambuk Allah untuk mengingatkan umat-Nya yang sedang berada di jalan kefasikan.

Setelah menguraikan berbagai hal terkait nasib pedih yang dialami kaum muslimin di Kozhikode, yang kemungkinan akan mengalami kekalahan dalam pertempuran lanjutan, Abdul Jalil tanpa terduga menyarankan agar Datuk Musa, sepupunya, melakukan hijrah, membawa keluarganya meninggalkan Malaka ke daerah pedalaman. Alasan Abdul Jalil sederhana, yakni pusaran kehidupan di Malaka sesungguhnya telah diluapi genangan arus sungai kehidupan yang dibanjiri air bah kebendaan. Keadaan itu, menurutnya, cepat atau lambat akan mendatangkan murka Allah sebagaimana telah terjadi pada umat-umat terdahulu.

“Tumpahnya darah muslim di suatu tempat, apa pun alasannya, menurut hematku, mesti memiliki hubungan tali-temali dengan lecutan cambuk Tuhan. Peristiwa berdarah di Kozhikode dan Cochazhi. Peristiwa berdarah di Perlak, Pasai dan Malaka, meski dengan latar berbeda, pada dasarnya satu juga pangkalnya, yaitu peringatan Tuhan. Jika kita masih tidak sadar juga dengan peringatan-Nya itu maka lecutan cambuk Tuhan berikutnya akan menggeletar lebih dahsyat dengan rasa sakit yang tak tertanggungkan,” ujar Abdul Jalil.

“Bagaimana engkau, o Saudaraku, bisa menilai kalau Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan seperti Kozhikode dan Cochazhi?” tanya Datuk Masa seperti belum memahami sepenuhnya makna di balik ucapan Abdul Jalil.

Abdul Jalil terdiam. Sejenak kemudian dengan suara lain ia berkata, “Selama menjejakkan kaki untuk kali kedua di Malaka, aku telah melihat genangan lumpur kemerosotan akhlak yang diakibatkan oleh meluapnya sungai kehidupan duniawi yang dibanjiri air bah kebendaan. Di hampir setiap penjuru kota aku melihat manusia-manusia malang bertubuh kurus meringkuk tak berdaya di tengah genangan lumpur. Mereka tidak bisa bergerak bebas karena sekujur tubuhnya dililit ular beludak utang yang beranak-pinak tak terhitung jumlahnya. Sungguh, telah aku saksikan kawanan ular riba beriap-riap masuk ke rumah penduduk dan mematuk para penghuninya dengan racunnya yang mematikan.”

“Renungkan, o Saudaraku, jika sebuah kota sudah padat dihuni ular riba beracun ganas, maka seluruh penduduk yang menghuni kota itu lambat laun akan terkena pula racun yang mematikan. Penduduk yang terkena racun berbisa dari gigi-geligi ular riba itu pasti akan limbung dan terhuyung-huyung kebingungan. Kenapa mereka limbung dan terhuyung-huyung kebingungan? Sesungguhnya, mereka saat itu berada di antara kesadaran ular dan kesadaran manusia. Kesadaran mereka terombang-ambing di antara dua dunia yang berbeda, yaitu dunia manusia dan dunia hewan melata. Mereka itulah yang disebut makhluk siluman: hewan bukan manusia pun bukan. Makin banyak manusia yang terkena racun riba akan semakin banyak manusia yang menjadi siluman. Sebagaimana kisah umat di masa silam yang terombang ambing di antara alam manusia dan alam hewan, murka Tuhan akan menghambur dari segenap penjuru. Lecutan cambuk Tuhan akan menggeletar di mana-mana untuk memisahkan kembali batas-batas wilayah kesadaran manusia dan hewan. Demikianlah, penduduk negeri yang hidup berdampingan dengan kawanan ular riba sehingga menjelma menjadi siluman, pasti akan merasakan lecutan cambuk Tuhan yang pedih.”

“Apakah hanya karena riba yang merajalela di negeri ini sudah bisa menjadi penyebab penduduknya dilecut oleh cambuk Tuhan? Tidakkah penduduk Malaka yang lain masih cukup banyak yang baik? Tidakkah saudaraku melihat orang-orang yang menjalankan shalat jama’ah di masjid-masjid?” tanya Datuk Musa.

Abdul Jalil tercenung sesaat. Setelah itu, ia berkata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Jika hukum di sebuah negeri telah disulap menjadi barang dagangan semurah kue-kue di pasar maka akan turunlah murka Allah. Dia mengirim para perampok, penggarong, pencuri, penyiksa, dan pembunuh yang ganas di tengah penduduk. Kawanan makhluk jahat itulah pengejawantan cambuk Tuhan yang menghukum penduduk negeri celaka itu. Jika ada yang bertanya kenapa Tuhan murka ketika hukum diperdagangkan di suatu negeri? Aku katakan, Tuhan murka karena di balik keberadaan sebuah hukum, sejatinya tersembunyi Kehadiran Ilahi (Hadrah al-Ilahiyyah) yang meliputi Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya, yaitu Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghisaban pancaran al-Hasib, Penghukuman pancaran al-Hakam, Pengayoman pancaran al-Waly, Pembalasan pancaran al-Muntaqim, Keseimbangan pancaran al-Muqsith, Kebijaksanaan pancaran al-Hakim, dan Keadilan pancaran al-‘Adl.”

“Sungguh celaka para hakim yang menggunakan nama Ilahi, al-Hakim, untuk menista hukum dan keadilan demi kepentingan diri pribadi. Sungguh celaka seribu kali celaka penjahat-penjahat tengik yang menjual murah al-Hakim dan al-‘Adl demi pengumbaran nafsu rendahnya. Sungguh celaka mereka. Mereka tidak saja menghianati al-Hakim, tetapi juga al-‘Adl, al-Hakam, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Muntaqim, al-Muqsith. Mereka telah memerosokkan diri ke dalam lingkaran murka-Nya yang akan membenamkan mereka ke dalam lumpur kehidupan benda-benda yang busuk beracun. Mereka akan menjelma menjadi kaum penyekutu Tuhan (qaum al-musyrikin); kaum pemuja benda-benda yang melampaui batas (thaghut); kaum musyrikin yang paling dikutuk Tuhan. Sesungguhnya, mereka telah membenamkan diri mereka sendiri ke dalam genangan lumpur nafsu kebendaan sehingga mata hati mereka buta (ummi), telinga jiwa mereka tuli (shamam), dan suara kebenaran ruhnya bisu (bakam). Mereka itulah kawanan makhluk terkutuk karena kesadaran jiwa mereka sudah tertutup oleh benda-benda, seibarat besi-besi, seibarat besi-besi rongsokan ditutupi karat tebal.”

“Aku katakan: celaka! Seribu kali celaka manusia yang telah merendahkan dan menista makna hakiki Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghukuman pancaran al-Hakam, Keadilan pancaran al-‘Adl, dan Kebijaksanaan pancaran al-Hakim untuk menjadi sekadar uang recehan (al-fakkah al-nuqud). Sebab, mereka dengan kesadaran kaum penyekutu Tuhan yang jahil telah mengkhianati dan menista Asma’, Af’al, dan Shifat Ilahi. Mereka dengan kejahilannya telah membuka (fakka) kecaman (naqada) atas diri sendiri dan keluarganya, yaitu kejahilan yang bakal mengangakan paruh burung (manaqid) neraka di mana mereka akan dijadikan santapan utamanya. Akankah Allah sebagai Rabb dari Semua Rabb (Rabb al-Arbab) membiarkan para pengkhianat yang menista Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya itu bergembira ria menikmati hasil pengkhianatannya?”

“Tidakkah engkau saksikan dengan mata indriawi dan mata batin, o manusia, bagaimana para pejabat di negeri ini telah mengaku-akku sebagai hamba setia pentadbiran Kerajaan(hukumah malakiyyah), padahal mereka itu sejatinya adalah hamba thaghut? Tidakkah engkau saksikan sikap dan perilaku para pembantu sultan yang jauh dari adab orang beriman? Tidakkah engkau ketahui bahwa para hamba pentadbiran kerajaan itu telah menjadi penyeleweng nista yang menjijikkan? Sungguh, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batin bagaimana mereka yang menduduki jabatan Bendahara Raja, Wazir, Qadi, Temenggung, Laksamana, Menteri-hulubalang, Syahbandar, Penghulu Balai, Penghulu Bendahari Yang di dalam, Penghulu Bendahari Yang di luar, Penghulu Istana, Penghulu Jenang, hingga pegawai rendahan di kerajaan ini telah memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki untuk memenuhi kehendak nafsunya.”

“Sementara itu, telah aku saksikan pula bagaimana para ulama wakil al-‘Alim di muka bumi (khalifah al-‘Alim fi al-ardh) di negeri ini banyak yang telah menjadi pengabdi setia penguasa baik sultan maupun bendahara raja. Mereka tidak melakukan tugas dan kewajibannya sebagai penyebar ilmu, penyampai kebenaran, penegak akhlak, penunjuk bagi yang sesat jalan, sumber fatwa, dan sosok panutan yang jadi keteladanan umat. Mereka justru banyak yang berlaku zalim, dengan imbalan murah mereka telah memutarbalik ayat-ayat Allah untuk mengabsahkan ‘pembenaran’ terhadap kebijakan penguasa. Mereka sibuk menumpuk kekayaan dan mengibarkan panji-panji kemasyhuran pribadi. Mereka membangun dinding-dinding kemunafikan untuk melindungi kepentingan pribadinya. Dan dari dalam dinding-dinding kemunafikannya itu mereka diam-diam sering membidikkan panah-panah fitnah beracun terhadap ulama lain yang berbeda kepentingan.”

“Sungguh, mereka semua telah bersekongkol dalam kejahatan menjijikkan. Mereka telah menjadi pengkhianat citra Ilahi yang tersembunyi di balik Asma’, Shifat, danAf’al Zat Yang Maha Merajai (al-Malik al-Mulki) dan Maha Mengetahui (al-‘Alim) segala sesuatu. Seluruh penduduk negeri pun sudah mafhum bahwa nilai kebenaran, kekuasaan, kesetiaan, kehormatan, dan kemuliaan di negeri ini ditentukan oleh kepintaran menjilat dan menyuap. Jika ada di antara penduduk yang berkata bahwa dia masih melihat orang-orang bersembahyang di masjid-masjid, maka aku katakan bahwa bagi mereka yang memiliki mata batin akan menyaksikan betapa sebagian besar di antara mereka yang bersembahyang itu sejatinya tanpa membawa iman. Betapa banyak di antara mereka seusai sembahyang menjadi perampok, penggarong, pencuri, perampas, penyiksa, dan pembunuh. Betapa banyak di antara orang-orang yang bersembahyang itu lebih cocok disebut kaum beragama yang tidak beriman. Akankah Tuhan tidak mengetahui kemunafikan makhluk-makhluk terkutuk itu? Akankah Tuhan membiarkan makhluk-makhluk terkutuk itu mengkhianati dan menista citra keagungan Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya?”

“Sesungguhnya para pengkhianat Tuhan itu sama bejatnya dengan pelacur, tetapi kedudukan mereka jauh lebih rendah dan nista. Kenapa aku katakan para hakim pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati al-Hakim, al-Hakam, al-‘Adl, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Malik al-Mulki, al-‘Alim, dan al-Karim itu lebih rendah dan lebih nista dibanding pelacur? Sebab, pelacur adalah manusia-manusia yang mengkhianati citra ar-rahim, yang diambil dari nama-Nya, yaitu ar-Rahim (hadits Qudsy: ar-rahim syaqaqtu laha asma’an min ismi). Para pelacur telah berkhianat karena memperdagangkan citra ar-Rahim dengan harga murah. Tetapi aku katakan, kedudukan para pelacur jauh lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi yang mereka wakili.”

“Jika engkau bertanya kenapa aku menempatkan kedudukan pelacur lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi? Maka aku katakan, kedudukan pelacur memang lebih tinggi daripada mereka. Sebab di mana pun pelacur-pelacur berada, mereka selalu sadar akan kedudukannya yang rendah dan nista di mata manusia dan dalam pandangan Tuhan. Pelacur-pelacur selalu sadar bahwa mereka adalah orang kotor yang berlumur dosa. Tetapi para hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi justru menganggap diri mereka mulia dan terhormat di hadapan manusia dan Tuhan. Sungguh muak aku melihat mereka. Muak. Muak. Seribu kali muak. Lantaran itu, jika hukuman Allah untuk para penzina yang menista citra ar-Rahim adalah rajam maka hukuman apakah yang paling layak untuk hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Tuhannya? Salahkah aku jika mengatakan bahwa negeri Malaka yang penuh diliputi kebusukan oleh tindakan penduduknya itu sejatinya sedang terancam lecutan cambuk Tuhan yang tak terbayangkan pedihnya?”

“Aku paham tentang apa yang engkau ucapkan, o Saudaraku,” kata Datuk Musa. “Tetapi, apa yang akan aku lakukan di pedalaman? Bukankah aku ini seorang saudagar, bukan guru agama yang zuhud?”

“Aku tidak menyarankan engkau hijrah dari bandar Malaka untuk menjadi pertapa. Aku juga tidak menyarankan engkau tinggal sangat jauh dari Malaka. Aku hanya menyarankan engkau berhijrah dengan keluargamu dari bandar Malaka dengan tujuan utama menghindari kuatnya pengaruh kebendaan dan sekaligus membangun benteng Tauhid baru di pedalaman. Aku tahu, ini sangat berat bagi saudagar besar sepertimu yang selama ini terseret pusaran benda-benda dan uang dengan hitungan untung dan rugi. Tetapi, aku yakin engkau akan mampu menjadi guru agama penegak Tauhid,” kata Abdul Jalil.

“Terus terang, itu yang aku susah laksanakan,” Datuk Musa menarik napas berat. “Sebagaimana engkau tahu, sejak muda aku sudah bergelut dengan dunia perniagaan. Bagaimana mungkin aku menjadi guru agama? Bagaimana mungkin aku yang terbiasa di kota besar harus tinggal di pedalaman yang sepi? Di samping itu, bekal apa yang aku punyai untuk menjadi guru agama?”

“Tidakkah engkau sudah paham dengan kehidupan Rasulullah Saw.? bukankah dia awalnya juga seorang saudagar? Jika Rasulullah Saw. yang dikenal sebagai saudagar bisa menjadi pengajar Tauhid termasyhur sepanjang zaman, apakah suatu hal mustahil jika engkau sebagai keturunannya mengikuti jejaknya? Bukankah dia tidak pernah memiliki pengalaman menjadi guru agama?” kata Abdul Jalil.

“Rasulullah Saw. memang sudah dipilih Allah untuk menjalankan risalah-Nya. Tapi aku? Siapakah aku ini? Bisa apa akku dalam hal agama?” Datuk Musa berkelit.

“Rasulullah Saw. adalah seorang ummi, yang tidak bisa membaca dan menulis. Dia tidak pernah belajar pengetahuan agama dari siapa pun. Dia tidak pernah kenal agama-agama besar. Bahkan saat pertama kali bertemu Jibril a.s., dia tidak mengetahui jika Jibril adalah malaikat utusan Allah. Dia benar-benar tidak memiliki pengetahuan apa-apa yang bisa dijadikan pijakan untuk menyampaikan risalah Ilahi. Tetapi, dia dengan segala keterbatasannya bersedia meninggalkan perniagaan demi perjuangan menegakkan Tauhid. Dia rela meninggalkan tanah kelahirannya demi menyampaikan risalah Ilahi. Dia rela kehilangan semua harta kekayaannya demi tersiarnya ajaran suci pembimbing manusia ke jalan Tauhid. Sementara engkau? Bukankah sejak kecil engkau sudah dididik dalam lingkungan agama yang ketat? Bukankah pengetahuan tentang agama jauh lebih luas dan mendalam dibanding kawan-kawanmu sesama saudagar? Bukankah sebagai murid ruhani Syaikh Dara Putih, masalah Tauhid bukan sesuatu yang asing bagimu?”

“Sesungguhnya, menurut penilaianku, engkau adalah laki-laki yang takut dengan bayangan angan-anganmu sendiri yang memanjang dalam kegelapan alam pikiranmu. Engkau takut berkata benar di tengah dunia perniagaan yang penuh kecurangan dan kelicikan. Sebab, dengan berkata benar maka bayangan angan-anganmu akan mengatakan bahwa engkau akan kehilangan sekian banyak keuntungan dan malah akan terputus dari hubungan dengan saudagar lain. Engkau bahkan sangat takut oleh bayangan angan-anganmu tentang keberadaan dirimu yang akan ditertawakan para saudagar ketika berkata benar dalam berniaga. Bayangan angan-angan yang engkau takuti itu, o Saudaraku, pernah dialami oleh Nabi Yunus a.s. saat diperintah Allah berdakwah di negeri Niniveh. Apakah engkau ingin mengalami nasib seperti Nabi Yunus yang ditelan ikan raksasa karena ingin menghindari perintah?” tanya Abdul Jalil.

Datuk Musa menarik napas panjang berulang-ulang. Dia mengakui dalam hati bahwa kesadarannya saat itu memang sedang diaduk-aduk oleh bayangan angan-angan yang menakutkan yang memanjang dan melingkar-lingkar dari alam pikirannya sendiri. Setelah merenung-renung beberapa jenak, ia mengembuskan napas sambil berkata, “Jika harus hijrah meninggalkan bandar Malaka, aku pikir itu bukan sesuatu yang susah bagiku. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan di luar Malaka? Aku tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menjadi guru agama.”

“Engkau boleh berkilah dengan macam-macam alasan, o Saudaraku. Tetapi bagi mereka yang memiliki penglihatan batin, tidak akan syak lagi bahwa engkau sejatinya telah menduduki maqam cukup tinggi dalam dunia ruhani. Untuk itu, aku berani memintakan kepada Syaikh Dara Putih, mursyid panutanmu, agar dia berkenan mengangkatmu sebagai khalifahnya. Sebab menurut penilaianku, engkau sudah layak menduduki jabatan khalifah Tarekat Kubrawiyyah. Bukankah demikian, Tuan Syaikh?” tanya Abdul Jalil memandang Syaikh Dara Putih.

Syaikh Dara Putih mengangguk dan berkata, “Sesungguhnya, sudah cukup lama aku akan membicarakan hal ini kepadanya, Tuan Syaikh. Tetapi aku khawatir timbul fitnah bahwa aku memiliki pamrih pribadi. Maklum, tidak semua orang di negeri ini memiliki kearifan seperti Tuan Syaikh.”

“Ya, kami paham dengan kekhawatiran Tuan,” kata Abdul Jalil mengalihkan pandangan ke arah Datuk Musa. “Lantaran itu, sebagai batu ujian pertama bagi engkau, o Saudaraku, cepat-cepatlah engkau hijrah ke pedalaman. Biarlah rumah kediamanmu yang megah ini dijadikan tempat oleh Syaikh Dara Putih untuk mengajarkan Tauhid di kota yang terancam murka Tuhan ini. Engkau tidak perlu menaruh curiga bahwa dia akan menjadikan rumah ini sebagai miliknya pribadi.”

“O tidak, Saudaraku,” tukas Datuk Musa tergagap, “Aku justru akan mengamanatkan rumah ini kepada guruku untuk dijadikan tempat pengajar Tauhid yang utama. Tetapi, aku sendiri belum tahu apa yang harus aku lakukan jika tinggal di pedalaman.”

“Engkau hendaknya menjadi pengajar Tauhid di tempatmu yang baru. Maksudku, sudah waktunya engkau menjadi khalifah tarekat yang mengajarkan Tarekat Kubrawiyyah kepada masyarakat. Mudah-mudahan dengan semakin banyak orang mengajar tarekat maka nilai-nilai Tauhid akan tegak di negeri ini,” kata Abdul Jalil.

Datuk Musa termangu-mangu. Dia merasakan ada sesuatu yang disentakkan keras dari dadanya sehingga dia merasa kehilangan sesuatu dari dadanya. Ia merasakan semacam kekosongan menguasai jiwanya. Sejenak kemudian dia bertanya, “Kenapa engkau sangat yakin jika Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan, o Saudaraku? Apakah menurutmu negeri Jawa tidak akan terkena lecutan cambuk Tuhan?”

“Semua negeri sesungguhnya selalu diintai oleh murka Tuhan. Tidak terkecuali negeri Jawa, sewaktu-waktu akan luluh-lantak dilecut cambuk-Nya jika penduduknya telah menyeleweng dari Tauhid. Jika aku berani berkata bahwa Malaka akan dilecut cambuk Tuhan, itu bukan mengada-ada. Sebab, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batinku, betapa para penguasa dan ulama di negeri ini beserta kaki tangannya telah memberhalakan pangkat, jabatan, kekuasaan, kekayaan, kemasyhuran. Mereka sibuk berselisih merebut kedudukan duniawi seolah-olah kehidupan di dunia ini langgeng. Fitnah pun bergentayangan seperti hantu.”

“Suka atau tidak suka, kebenaran harus diungkapkan. Sesungguhnya, aku dan engkau telah tahu bahwa kebanyakan orang di bandar Malaka ini telah menjadi buta mata hatinya, tuli telinga jiwanya, dan kelu lidah ruhaninya akibat terseret nafsu rendah duniawi. Dengan pandangan mata batin, kita akan menyaksikan bahwa jiwa mereka adalah jiwa lintah darat, buaya darat, serigala licik, musang penipu, dan burung nazar pemakan bangkai. Dengan keganasan menakjubkan, kita telah menyaksikan bagaimana mereka memangsa sesamanya. Sungguh menjijikkan mereka itu bagiku. Jijik aku. Seribu kali jijik.”

“Jika engkau bertanya tentang kemungkinan negeri Jawa akan dihajar cambuk Tuhan, maka aku katakan bahwa hal itu tidak akan terjadi selama pemimpin-pemimpin di sana menjalankan tugas dengan baik. Ketahuilah, o Saudaraku, di Jawa sudah terbentuk suatu tatanan pemerintahan yang berasaskan Tauhid. Di Jawa sekarang ini selain terdapat sultan sebagai pemimpin persekutuan raja-raja, juga terdapat sebuah Majelis Guru Suci (syura al-masyayikh) yang beranggotakan para pemimpin ruhani yang disebut Wali Songo. Majelis itu anggotanya terdiri atas para guru suci tarekat-tarekat. Mereka memiliki peran dan tugas utama mengatur kehidupan penduduk dalam hal Tauhid. Majelis itu mempersatukan dan sekaligus menjadi naungan ruhani bagi kadipaten-kadipaten di Nusa Jawa. Majelis berkewajiban menegakkan akidah dan akhlak bagi seluruh penduduk negeri. Mereka memiliki tugas utama menyusun rancangan dakwa untuk mentauhidkan penduduk dan menyerahkan rancangan tersebut kepada sultan untuk dilaksanakan. Majelis memiliki kewenangan untuk melantik sultan yang merupakan pemimpin tertinggi dari persekutuan raja-raja di Nusa Jawa. Majelis berhak mengontrol tindakan sultan dan raja-raja di Jawa yang berkaitan dengan pelaksanaan agama. Majelis juga berhak menolak pelantikan sultan yang dinilai kurang mampu atau kurang sesuai menurut ketentuan agama.”

“Dengan tatanan baru yang diterapkan di Jawa itu, tugas utama seorang sultan, di samping mengatur pemerintahan, adalah menjalankan rancangan Majelis Wali Songo untuk mentauhidkan seluruh penduduk negeri. Sebab, dengan bertauhidnya penduduk sebuah negeri hingga kebanyakan di antara mereka itu menduduki martabat orang-orang yang takwa (qaum al-muttaqin), dipastikan Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi (QS. al-A’raf: 96) sehingga masalah keamanan, ketentraman, kedamaian, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan akan datang dengan sendirinya. Dengan demikian, selama Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Nusa Jawa setia menjalankan tugas masing-masing, pastilah negeri Jawa akan terhindar dari lecutan cambuk Tuhan yang pedih.”

“Sejauh ini aku menyaksikan sendiri betapa Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Jawa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Pengajaran Tauhid berlangsung ramai di Nusa Jawa. Lantaran itu, aku yakin negeri Jawa tidak akan dilecut oleh cambuk Tuhan. Aku yakin Portugis tidak akan bisa menginjakkan kaki di Nusa Jawa. Sementara di Malaka, di mana sultan dan bendahara raja sibuk berebut kuasa, akidah penduduk menjadi sangat merosot karena para ulama ikut terlibat dalam perebutan itu. Dan sebagaimana yang sudah kita saksikan bersama, setiap orang mengetahui bagaimana di Malaka ini hukum peradilan diperjualbelikan dengan murah, peraturan niaga dipermainkan di tengah suap, keadilan dijungkirbalikkan oleh penawar tertinggi, fatwa palsu yang memutar-balik ayat Ilahi, dan riba yang mencekik tersebar merata di mana-mana. Kebenaran sudah tersilap oleh bayangan hitam benda-benda, kaum beragama saling bunuh, fitnah merajalela, kecurangan menyelinap di segenap penjuru, kejahatan menggumpal laksana awan yang siap menurunkan hujan. Akankah keberkahan Ilahi melimpahi negeri ini?” kata Abdul Jalil.

“Aku paham,” kata Datuk Musa. “Aku berencana akan membuka pemukiman baru di dekat Sepang, kampung halaman istriku. Tetapi daerah itu terkenal sangat angker. Aku tidak memiliki pengetahuan sedikit pun untuk membuka daerah-daerah gawat semacam itu.”

“Biarlah Raden Sahid tinggal beberapa waktu untuk membantumu membuka daerah-daerah baru. Dia sudah bertahun-tahun bersamaku membuka daerah-daerah baru di Jawa. Aku kira, engkau cukup membuka empat tempat di sekitar Malaka,” kata Abdul Jalil.

“Empat tempat?” seru Datuk Musa heran.

“Ya, di tempat yang memiliki kaitan dengan perlambang tanah merah, kuning, putih, dan hitam.”

“Kenapa harus empat? Kenapa harus merah, kuning, putih, dan hitam?” Datuk Musa belum paham.

“Sebab, jasadmu terbentuk dari tanah yang melambangkan empat jenis nafsu: Lawwammah adalah anasir tanah berwarna hitam, Sufliyyah adalah anasir air berwarna kuning, Ammarah adalah anasir api berwarna merah, dan Muthma’innah adalah anasir angin berwarna putih. Keempat jenis nafsu itu harus dipancari oleh cahaya ruh yang memancar dari-Nya, yaitu Ruh al-Idhafi, Ruh al-Haqq, dan al-Haqq. Tanpa dipancari cahaya Kebenaran dari al-Haqq maka manusia akan tinggal dalam kesesatan karena hidupnya dikuasai nafsu-nafsunya yang gelap.”

05. Kue Appam dan Orang-Orang Takut

Pada pengujung abad ke-16 pelabuhan Muara Jati (sekarang Cirebon) merupakan pelabuhan yang rama melebihi pelabuhan Dermayu (Indramayu). Dari berbagai tempat di pedalaman hingga berbagai bandar besar di timur dan barat, perahu dan kapal membongkar dan memunggah muatan di situ. Kawasan di sekitar pelabuhan yang semula merupakan hutan pohon kelapa telah ditumbuhi bangunan-bangunan besar: gudang-gudang, galangan kapal, kantor syahbandar, kantor pabean, pasar ikan, kedai-kedai makanan, dan sekumpulan rumah yang berkerumun di perkampungan nelayan yang terletak di sebelah selatan pelabuhan.

Abdul Jalil yang kembali ke Caruban beserta istri dan anaknya terkejut sewaktu menginjakkan kaki di dermaga pelabuhan Muara Jati. Ia merasa ada sesuatu yang berubah di situ. Matanya yang tajam memandang ke jajaran pohon kelapa yang menghutan di sepanjang pantai sebelah utara pelabuhan. Saat itu cahaya matahari sore yang tersisa di cakrawala sudah meredup kemerahan ditabiri awan kapas yang tampak menaungi pohon-pohon kelapa yang bayangannya memanjang dan menghitam seolah menyatu dengan selimut senjakala. Pandangannya tiba-tiba terpaku pada sesuatu yang baru: di antara pohon-pohon kelapa yang menghutan di utara pelabuhan, terlihat kerumunan rumah baru berdesak-desakkan dengan sebuah tajug beratap tingkat tiga, tajug khas Kerala, terlihat berdiri tegak di ujung selatan kampung.

Abdul Jalil heran dan bertanya-tanya dalam hati kapan kerumunan rumah baru itu dibangun orang di situ. Barang setahun silam, saat ia untuk kali terakhir meninggalkan Caruban, kawasan di utara pelabuhan itu masih berupa hutan kelapa. Setelah terdiam sejenak, ia mendatangi perkampungan baru itu. Namun, di tengah perjalanan ia melihat dua orang pemuda sedang berjalan sambil bercanda. Mereka berbicara satu sama lain dengan menggunakan bahasa Malayalam, bahasa yang digunakan penduduk Kerala.

Ketika jarak mereka sudah dekat, Abdul Jalil menyapa mereka dengan bahasa Malayalam. Dua pemuda itu terkejut dan buru-buru menghormat takzim saat melihat orang yang menyapa mereka mengenakan jubah dan surban warna hitam. Mereka cepat sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan seorang ulama yang wajib mereka hormati. Lantaran itu, dengan sikap sangat merendah mereka menyalami Abdul Jalil. Mereka memperkenalkan diri sebagai Ali Ladka Musliyar dan Hasan Mali Pokkar, warga Muara Jati asal Kozhikode. Rupanya, mereka menduga Abdul Jalil orang Mappila yang baru datang ke Caruban. Dengan sedikit pertanyaan dari Abdul Jalil, mereka mengaku sebagai pengungsi dari Kozhikode karena dicari-cari Portugis. “Kami pergi meninggalkan kampung halaman kami setelah Portugis menembaki kota dengan meriam dan mengancam akan membunuh seluruh warga muslim Kozhikode,” ujar Ali Ladka Musliyar.

“Berapa orang warga Kozhikode yang menyingkir waktu itu?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Sekitar dua ribu orang, Tuan Syaikh.”

“Semuanya tinggal di sini?”

“Tidak Tuan Syaikh. Yang tinggal di sini hanya empat ratus orang. Saudara kami yang lain ada yang tinggal di Pasai, Malaka, Demak, Tuban, dan Gresik,” kata Ali Ladka Musliyar.

“Siapa pemimpin kalian di sini?”

“Lebai Musa Chenda, Tuan Syaikh.”

“Kalian dipimpin seorang lebai? Seorang saudagar?” tanya Abdul Jalil heran.

“Maksud kami, di Caruban ini kami memang dipimpin oleh Lebai Musa Chenda. Sebab, Yang Dipertuan Caruban menunjuk dia sebagai pemimpin kami. Tetapi, panutan kami yang sebenarnya adalah Tuan Guru Kasim Kharab Andhkar. Beliau adalah guru dari Lebai Musa Chenda, Tuan Syaikh.”

Abdul Jalil diam. Ia ingat, saat berada di Kozhikode ia pernah mendengar nama Musa Chenda, seorang saudagar kaya, yang menjadi salah seorang pemimpin penyerangan terhadap armada Portugis yang dipimpin Pedro Alvares Cabral. Ternyata, saudagar kaya itu sekarang tinggal di Muara Jati. Setelah diam sejenak, ia bertanya, “Akan ke manakah kalian sekarang ini?”

“Kami mau ke tajug, Tuan Syaikh. Nanti bakdal maghrib ada upacara Nercha.”

“O begitu,” kata Abdul Jalil, “Tapi mana kue appam kalian?”

“Adik-adik kami sudah membawanya ke tajug, Tuan Syaikh.”

“Oya, apakah kalian sudah mendengar kabar tentang serbuan pasukan Kozhikode di bawah Laksamana Kunjali Marakkar ke pangkalan Portugis di Cochazhi?”

“Pasukan Kozhikode menyerang Portugis di Cochazhi? Kami belum mendengar kabar itu, Tuan Syaikh,” seru Ali Ladka Musliyar dengan mata berbinar-binar dan dada naik turun. “Kapan peristiwa itu terjadi?”

“Kira-kira tiga pekan lalu. Aku dengar kabar itu saat berada di Malaka.”

“Apakah Yang Mulia Laksamana Kunjali Marakkar berhasil menghancurkan armada Portugis?”

“Aku tidak tahu pasti. Aku hanya mendengar kalau orang-orang Portugis dan Raja Cochazhi lari tunggang langgang meninggalkan kota. Kantor dan gudang-gudang mereka dihancurkan. Orang bilang, mereka bersembunyi di pulau Vypin,” tegas Abdul Jalil.

Dengan wajah diliputi kegembiraan, Ali Ladka Musliyar dan Hasan Mali Pokkar saling pandang. Kemudian, dengan dada naik turun mereka buru-buru berpamitan kepada Abdul Jalil untuk kembali ke kampungnya. “Kami harus menyampaikan kabar gembira ini kepada saudara-saudara kami. Terima kasih, Tuan Syaikh. Terima kasih.”

Abdul Jalil tertawa melihat dua pemuda Kerala itu membalikkan badan, berlari pulang ke rumahnya.

Ketika akan melanjutkan perjalanan ke tajug di kampung orang-orang Kerala, Abdul Jalil melihat sekawanan anak laki-laki beranjak dewasa datang dari arah perkampungan nelayan di selatan. Anak-anak berusia sepuluh hingga tiga belas tahun itu menyunggi tampah berisi kue appam dan pisang. Kelihatannya mereka memiliki tujuan yang sama dengan dua pemuda Kozhikode, yaitu ke tajug untuk mengikuti upacara Nercha. Abdul Jalil menyapa salah seorang anak yang paling besar. Anak laki-laki yang kemudian diketahui bernama Enceng itu adalah anak nelayan setempat. Dia mengaku akan pergi ke tajug untuk mengikuti upacara Kenduri Neja bersama warga kampung baru. Bakdal maghrib, ungkap Enceng, semua penduduk akan berkumpul di tajug untuk mengikuti kenduri Neja dengan membawa sesaji kue Appam dan pisang.

“Ada hajat apakah orang-orang mengadakan Kenduri Neja maghrib nanti?” tanya Abdul Jalil tersenyum geli karena Enceng mengucapkan nercha dengan lafal neja, yang secara kebetulan di dalam bahasa Sunda bermakna permohonan.

“Negeri Caruban sedang perang, Tuan Syaikh. Orang-orang kafir dari Galuh Pakuwan keluar sarang. Mereka akan menyerang kuta dan membunuh semua penduduk. Semua orang ketakutan. Kami mengikuti Kenduri Neja untuk meminta tolong arwah leluhur dan arwah-arwah pelindung desa agar berkenan memberikan perlindungan kepada kami semua,” ujar Enceng polos.

“Caruban sedang berperang?” seru Abdul Jalil terkejut, “Caruban diserang Galuh Pakuwan?”

“Apakah Tuan Syaikh belum mengetahui kabar itu?”

Abdul Jalil diam. Sejurus kemudian ia menguji keberanian anak yang baru beranjak dewasa itu dengan bertanya, “Jika negeri Caruban sedang perang, kenapa engkau dan kawan-kawanmu tidak ikut berperang mengangkat senjata? Kenapa engkau tidak membantu Yang Dipertuan Caruban melawan serangan musuh?”

Enceng terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Tapi, setelah menoleh ke arah kawan-kawannya, dengan terbata-bata dia berkata, “Kami belum dianggap dewasa, Tuan Syaikh. Bapak dan kakak-kakak kami sudah berangkat ke medan perang dipimpin Ki Dipati Suranenggala. Ibu kami menyuruh kami mengikuti Kenduri Neja agar arwah leluhur kami dan arwah pelindung desa kami berkenan melindungi bapak dan kakak-kakak kami.”

“Tolong jelaskan kepada aku, o Anak Muda, kenapa engkau membawa kue appam dan pisang?” tanya Abdul Jalil ingin mengetahui pemahaman Enceng tentang kue appam yang digunakannya sebagai sesaji dalam Kenduri Neja, yang di negeri asalnya, Kerala, disebut upacara Nercha. “Bukankah orang Caruban tidak pernah menggunakan kue appam dalam kenduri?”

“Kami tidak tahu, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti perintah ibu kami. Ibu kami pun mengikuti suruhan guru mengaji kami, Tuan Guru Kasim Kharab Andhkar,” kata Enceng polos.

“Apakah ibumu tidak pernah memberi tahumu tentang guna dan manfaat dari kue appam dalam upacara Kenduri Neja itu?” tanya Abdul Jalil.

“Pernah, Tuan Syaikh. Ibu kaimi menerangkan jika kue appam adalah sesaji yang sangat disukai arwah leluhur dan arwah pelindung desa.”

“Apakah menurutmu arwah masih suka menyantap makanan dunia seperti kue appam?”

“Kami tidak tahu, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti apa yang diajarkan ibu kami. Menurutnya, arwah orang mati memang suka sekali mengisap saripati kue appam.”

“Selain arwah orang mati suka saripati kue appam, apa lagi yang dikatakan ibumu?”

“Kata ibu, kue appam sangat berguna bagi kehidupan di alam kubur dan di alam akhirat,” kata Enceng.

“Kue appam sangat berguna di alam kubur dan alam akhirat?”

“Itu benar, Tuan Syaikh.”

“Apa maksudnya? Tolong jelaskan. Aku belum paham.”

“Menurut ibu, kue appam bisa dijadikan alat perlindungan dalam kehidupan sesudah mati.”

“Kue appam bisa dijadikan sarana perlindungan sesudah mati?” Abdul Jalil mengerutkan kening.

“Benar demikian, Tuan Syaikh.”

“Alat perlindungan apa yang engkau maksud, o Anak Muda?”

“Menurut ibu, kue appam bisa digunakan untuk melindungi diri dari hal-hal mengerikan baik di alam kubur maupun di alam akhirat.”

“Melindungi diri dari hal-hal mengerikan? Aku masih belum paham. Apa maksudnya itu?”

“Bukankah di padang mahsyar di akhirat nanti, pada waktu kiamat, matahari jaraknya hanya sejengkal di atas kepala manusia? Bukankah saat itu seluruh makhluk akan kepanasan dan banyak di antaranya yang terbakar hangus? Pada saat itulah, menurut ibu kami, kue appam yang pernah disajikan pada upacara Kenduri Neja akan bisa dijadikan payung untuk menaungi kita dari sengatan panas matahari,” kata Enceng.

“Kue appam untuk payung?” Abdul Jalil menarik napas panjang sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Adakah kegunaan lain kue appam selain itu?”

“Ada, Tuan Syaikh.”

“Apa itu?”

“Menurut ibu kami, kalau kita di alam kubur dipukuli malaikat dengan gada, kue appam bisa dijadikan perisai untuk menangkis pukulan malaikat yang bertubi-tubi.”

“O begitu,” ujar Abdul Jalil terbahak. “Kalau begitu, pisang yang disajikan bersama kue appam itu tentunya akan bisa dijadikan senjata untuk melawan malaikat?”

“Memang begitu yang diajarkan ibu kepada kami, Tuan Syaikh. Kami hanya mengikuti petunjuk ibu.”

Abdul Jalil tertawa dan mempersilakan Enceng dan kawan-kawannya ke tajug. Kemudian, dengan tatapan lain, ia memandang Enceng dan kawan-kawannya yang berjalan beriringan menyunggi kue appam. Ia termangu sambil menarik napas panjang berulang-ulang. Dari sekilas peristiwa yang ditemuinya, ia mendapati kenyataan betapa keyakinan orang-orang muslim asal Kerala yang aneh itu begitu cepat diikuti oleh penduduk awam, terutama para perempuan dan anak-anak. Ia mengira, cepat atau lambat keyakinan-keyakinan aneh itu akan menular ke tempat lain seperti Samarang, Demak, Jepara, Tuban, dan Gresik yang dijadikan tempat mengungsi orang-orang Kerala. Ia paham, betapa keyakinan aneh itu akan cepat diikuti kalangan awam yang sedang diguncang peristiwa menggetarkan seperti perang dan bencana, terutama pada saat jiwa manusia dicekam rasa takut yang berkeliaran bagai kawanan hantu di tengah kegelapan. Ya, ia sadar betapa keyakinan-keyakinan aneh itu jauh lebih sederhana dan memiliki cekam gegwantuhwan (takhayul) dibanding ajaran Tauhid yang disampaikannya melalui Sasyahidan yang butuh penalaran, perenungan, wawasan, kebijaksanaan, dan amaliah yang tidak menarik.

Senja itu, ketika awan kapas berubah menjadi gumpalan mendung hitam, Abdul Jalil dengan istri dan anaknya terlihat berjalan di antara batang-batang pohon kelapa menuju pondok Pesantren Giri Amparan Jati. Sejak mengikuti sembahyang maghrib di tajug orang-orang Kozhikode hingga perjalanan ke pondok, ia menangkap suasana mencekam membias pada wajah setiap orang yang dijumpainya. Di jalan ia melihat hampir setiap wajah diliputi rasa was-was dan curiga. Semua orang yang berada di luar rumah selalu membawa senjata dan mengawasi siapa saja yang mereka temui dengan pandang penuh kecurigaan.

Di tengah perjalanan, ketika berada di Kalisapu, ia bertemu dengan Ki Gedeng Jatimerta yang sedang mengumpulkan penduduk Kalisapu untuk diajak ke medan perang menghadapi musuh. Berdasar penuturan Ki Gedeng Jatimerta, ia mengetahui jika keadaan Caruban saat itu memang sedang genting, karena terancam serbuan besar-besaran pasukan Galuh Pakuwan. Pasukan Galuh Pakuwan yang memiliki tetunggul-tetunggul sakti mandraguna dan masih didukung pula oleh tetunggul dari Talaga dan Rajagaluh telah bergerak menuju kuta Caruban. Jumlah seluruh kekuatan mereka, kabarnya, lebih dari setengah juta pasukan.

Sekalipun Caruban sedang dicekam suasana genting, dengan penduduk yang merasa cemas akibat simpang-siurnya kabar yang tak jelas sumbernya, suasana sangat berbeda dengan rentang waktu Caruban bertempur melawan Rajagaluh. Saat menghadapi Galuh Pakuwan sekarang ini tidak ada satu pun di antara penduduk Caruban yang mengungsi. “Seluruh penduduk Caruban telah bertekad untuk mempertahankan tanah miliknya sampai titik darah yang penghabisan. Seluruh penduduk sudah bersumpah akan melawan sampai titik darah terakhir.”

Mendengar tekad penduduk itu, Abdul Jalil sangat senang. Sebab, apa yang telah diajarkannya, terutama tentang hak milik pribadi dari wakil al-Malik di muka bumi, telah dipahami dan dijadikan sikap hidup oleh penduduk Caruban. Bahkan, para Gede sebagai kepala wisaya dan sekaligus pemimpin kabilah pun telah memiliki sikap yang tegas dan jelas dalam menempatkan keberadaan dirinya sebagai wakil al-Malik (khalifah al-Malik fi al-ardh) sekaligus wakil al-Wakil (khalifah al-Wakil fi al-ardh) yang dipilih penduduk, yaitu dengan tanggap dan tangkas menggalang kekuatan penduduk yang diwakilinya untuk melawan musuh yang akan menyerang wilayahnya. Caruban memang pantas disebut Garage, Nagara Gede, pejabat daerah yang dipimpin dan diatur oleh para Gede, pejabat daerah yang dipilih masyarakat, kata Abdul Jalil dalam hati.

Setelah berbincang-bincang beberapa bentar dengan Ki Gedeng Jatimerta, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke Giri Amparan Jati. Ternyata, suasana mencekam tetap ia rasakan sampai saat ia memasuki gerbang pondok pesantren. Ia mendapati setiap wajah yang dijumpai selalu ditandai ketegangan. Wajah-wajah yang pucat, kuyu, dan sorot mata yang diliputi rasa curiga. Empat-lima orang anak laki-laki berusia belasan tahun dan anak-anak kecil yang merupakan santri pondok, ia lihat berkeliaran di sekitar gerbang dengan membawa obor dan sarung yang diisi bongkahan batu. Anak-anak itu memandang curiga kepada siapa saja yang tidak mereka kenal. Beberapa di antara mereka terlihat membawa pentungan kayu. Dengan mengendap-endap, mereka menyelinap di balik batang pohon-pohon jati yang menghutan di sekitar pondok.

Abdul Jalil menarik napas panjang melihat suasana yang melingkupi pesantren tempat ia pernah di tempa itu. Suasana asri dan damai yang mencitrai pesantren, saat-saat senja hari seperti sekarang ini selalu diwarnai alunan suara anak-anak mengaji atau menghafal pelajaran dengan nyanyian, tiba-tiba telah berubah mencekam. Benderang nyala pelita yang menghiasi tiap-tiap bangunan di lingkungan pesantren tidak lagi terlihat. Semua pelita dipadamkan. Sejauh mata memandang, hanya keremangan senjakala menyelimuti pohon-pohon jati dengan kelebatan bayangan santri-santri kecil di sekitar gerbang. Sejauh telinga mendengar, hanya nyanyian serangga dan cacing tanah yang terdengar bersahutan di tengah gemerisik daun-daun jati kering yang diserakkan angin ke berbagai arah.

Suasana mencekam di pondok berubah hiruk pikuk ketika Abdul Jalil yang disertai istri dan anaknya memasuki kawawan dalam pondok. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba saja berpuluh-puluh santri yang rata-rata terdiri atas anak-anak usia sepuluh dan dua belas tahun berhamburan dari berbagai arah bagaikan kawanan lebah keluar sarang. Dengan berteriak-teriak dan sebagian menangis ketakutan, mereka berebut saling berdesak dan dorong untuk mendekati Abdul Jalil. Mereka yang di depan berebut menyalami sambil menciumi tangan Abdul Jalil. Tidak cukup menyalami dan mencium tangan, mereka merangkul dan menciumi kaki Abdul Jalil. Bahkan, santri-santri di belakang mereka berebut memegangi dan menarik-narik jubahnya. Mereka terlibat saling desak dan saling dorong sehingga istri dan anak Abdul Jalil tergeser oleh pusaran arus santri sampai tersingkir keluar gerbang pondok.

Abdul Jalil kebingungan dikerubuti santri-santri kecil itu buru-buru menyambar bahu seorang santri agak besar yang berada di dekatnya. Dengan sekali sentakan, ia mendekatkan wajah santri itu ke wajahnya sambil berkata dengan suara ditekan tinggi, “Kenapa engkau dan kawan-kawanmu berteriak-teriak dan menangis ketakutan seperti orang tidak beriman? Di manakah kakak-kakak kalian?”

Santri itu terbelalak ketakutan. Air matanya bercucuran membasahi pipi. Dengan suara bergetar dan terbata-bata dia berkata, “Orang-orang Galuh Pakuwan mengepung kuta Caruban, Kangjeng Syaikh. Desa-desa dibakar. Prajurit Caruban banyak yang terbunuh. Kakak-kakak kami semua berangkat ke medan perang menghadapi musuh. Di pondok tidak ada yang memimpin. Semua orang pergi meninggalkan kami.”

Abdul Jalil menarik napas panjang dan mengembuskannya keras-keras. Ia sadar betapa serbuan Galuh Pakuwan kali ini tidak main-main. Tekanan dari berbagai sisi tampak sekali dilakukan pihak Galuh Pakuwan untuk mengguncang Caruban yang sedang tidak siap tempur. Sadar akan apa yang sedang terjadi, setelah terdiam beberapa jenak, ia mengangkat tangan kanannya ke atas memberi isyarat kepada semua santri agar duduk tenang. Kegaduhan pun terjadi, tapi setelah itu berangsur-angsur tenang. Santri-santri kecil dengan berdesakan duduk mengerumuni Abdul Jalil seperti anak-anak ayam meminta perlindungan induknya.

Ketika Abdul Jalil akan memberikan wejangan kepada santri-santri kecil yang dicekam ketakutan itu, tanpa sengaja ia melihat ke bagian bawah bukit. Ia tercekat ketika melihat puluhan nyala obor bergerak di antara bebatuan yang bertonjolan menuju pondok. Ia mengerutkan kening. Ia tidak tahu siapa orang-orang yang naik ke pondok dengan membawa obor itu. Ia menajamkan penglihatan dan pendengaran ketika obor-obor itu semakin dekat dan mendengar suara puluhan kaki menginjak ranting dan daun-daun jati kering. Lalu, terdengar celoteh gaduh dari orang-orang yang membawa obor itu. Ia merasa lega ketika mendengar namanya disebut-sebut di tengah celotehan gaduh itu. Rupanya, malam itu kabar kedatangannya ke Giri Amparan Jati telah disebarkan oleh orang-orang Kalisapu ke desa-desa di sekitar Gunung Jati. Akibatnya, penduduk sekitar Gunung Jati yang sedang dicekam ketakukan berbondong-bondong pergi ke pondok pesantren untuk menemuinya.

Tidak berbeda jauh dengan para santri, penduduk desa-desa di sekitar Gunung Jati yang sedang dicekam ketakutan itu begitu masuk halaman pondok sudah berdesak-desak dan berebut mendekati Abdul Jalil. Yang di bagian depan menyalami dan mencium tangannya. Yang terdekat merangkul lututnya. Sementara yang agak jauh menarik-narik jubahnya, bahkan yang tersungkur berusaha mencium kakinya. Lalu dengan suara gaduh bersahutan mereka beramai-ramai memohon agar Abdul Jalil berkenan menyelamatkan mereka dari serbuan orang-orang Galuh Pakuwan. Mereka memohon agar Abdul Jalil berkenan memanjatkan do’a kepada Allah. Mereka sangat yakin do’a Abdul Jalil pasti dikabulkan Allah. Ketika Abdul Jalil termangu-mangu tidak menunjukkan tanggapan, mereka mengiba dan menangis serta memohon agar Abdul Jalil mau berdoa bagi keselamatan negeri Caruban beserta penduduknya.

Abdul Jalil bergeming. Sejurus kemudian dengan penuh kasih, ia memandang orang-orang desa dan santri-santri kecil yang duduk berkerumun mengitarinya. Ia melihat wajah-wajah ketakutan yang menengadah penuh harapan. Ia menangkap jiwa-jiwa yang runtuh ke jurang tanpa harapan pada wajah-wajah itu. Ia tidak ingin ketakutan yang dirasakan penduduk itu meledak menjadi keputusasaan dan bahkan kepanikan. Itu sebabnya, ia memutuskan untuk memberikan penguatan jiwa khotbah Tauhid. Sebab, hanya dengan kesadaran Tauhid, rasa takut orang seorang terhadap selain Allah dapat dikalahkan. Lalu, di tengah beratus-ratus wajah ketakutan orang-orang yang mengitarinya itu, ia memulai khotbahnya.

“Dengarlah, hai anak-anak dan saudara-saudaraku, janganlah engkau sekalian pernah melupakan Allah, Tuhan, Penciptamu, Zat Yang Maha Melindungi (al-Waliy) dan Maha Menjaga (al-Muhaimin). Ingatlah selalu akan Dia di mana pun engkau sekalian berada. Memintalah pertolongan hanya kepada-Nya dalam kesempitan maupun keluasan. Jangan sekali-kali engkau sekalian melalaikan Allah. Jangan pernah membiarkan orang-orang fasik menggoyahkan imanmu dengan mengatakan bahwa Allah tidak akan menolong umat-Nya yang memohon pertolongan. Jangan pernah meragukan sedikit pun akan pertolongan-Nya. Karena Dia adalah Perisai dan Senjata pelindung bagi kaum beriman. Lantaran itu, jika engkau sekalian merasa sebagai kaum beriman, jangan lagi ada syak dan ragu menggelayuti hati kalian, meski kalian mendengar kabar dan kemudian menyaksikan sendiri beratus ribu musuh mengepungmu. Pertolongan-Nya pasti akan datang jika kalian benar-benar orang beriman dan bertakwa.”

“Camkanlah, o anak-anak dan saudara-saudaraku, bahwa Allah, Zat Yang Maha Mendengar, selalu mendengar doa dari mulut hamba-Nya yang tidak menipu dan tidak suka berdusta. Allah, Zat Yang Maha Melihat, selalu melihat kesucian hati hamba-Nya yang tidak diselubungi kefasikan dan kemunafikan. Allah, Zat Yang Maha Mengetahui, selalu mengetahui kelempengan pikiran hamba-Nya yang tidak dinodai angan-angan palsu dan kejahilan. Allah, Zat Yang Maha Mengabulkan doa, selalu menerima dan mengabulkan doa hamba-Nya yang tidak pernah menajiskan nama-Nya dengan kemusyrikan dan kejahilan.”

“Sekarang ini, hai anak-anak dan saudara-saudaraku, marilah kita memuji keagungan dan kemuliaan Allah, Zat Yang Mahasuci, Yang Maha Mencipta, Maha Melindungi, dan Maha Memelihara hamba-hamba-Nya yang beriman dan bertakwa. Hadapkanlah kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya. Teguhkan konsentrasimu hanya kepada-Nya. Jangan biarkan bayangan manusia, pohon, batu, kayu, batu nisan, gunung, dan segala sesuatu yang maujud di alam ini melintas di dalam ingatanmu. Teguhkan ingatanmu bahwa tidak ada sesuatu yang patut diingat kecuali Allah: Cahaya di atas segala cahaya. Ingatlah hanya Allah. Allah. Seribu kali hanya Allah.”

Abdul Jalil diam dan memejamkan mata. Para santri kecil dan orang tua pun diam. Mereka berusaha menyatukan hati dan pikiran untuk diarahkan kepada Allah sesuai petunjuk Abdul Jalil. Suasana berubah sepi dan senyap. Hanya desah napas dan isak tangis lirih terdengar menembus kesenyapan di antara desau angin yang meluruhkan daun-daun jati. Setelah suasana benar-benar hening, dengan suara lain yang digetari wibawa, Abdul Jalil mulai berdzikir, menyebut Asma Allah dengan suara lirih. Meski lirih, seluruh yang hadir terpesona mendengar kemerduan suaranya. Ketika seluruh jama’ah mengikuti dzikir, menyebut-nyebut Asma Allah seperti dicontohkan Abdul Jalil, terdengar suara bergelombang seperti ombak lautan yang susul-menyusul dan sambung-menyambung, yang membuat semua orang merasa seperti ditarik oleh daya pesona yang memukau kesadaran. Ketika pribadi-pribadi yang berdzikir sudah disatukan di dalam Asma Allah yang mengalun indah laksana musik surgawi, Abdul Jalil mengucapkan doa kepada Allah dengan suara keras.

“Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha Melindungi! Engkaulah Pelindung bagi hamba-Mu yang tertindas! Engkaulah Pelindung di waktu sempit dan sesak! Engkaulah Pembela semua hamba-Mu yang setia memuja dan menyembah hanya kepada-Mu! Engkau tidak pernah meninggalkan hamba-Mu yang mengagungkan nama-Mu. Engkau senantiasa merentangkan sayap-sayap rahmat-Mu untuk menaungi hamba-Mu yang mencintai-Mu. Hanya kepada-Mu, o Allah, hamba-Mu yang ditimpa kesusahan ini berserah diri.”

“Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha Memelihara! Engkaulah Gembala bagi hama-Mu di padang gembalaan duniawi yang dihuni hewan-hewan pemangsa ganas. Bimbing dan gembalakan kami, hamba-Mu, di padang gembalaan-Mu yang subur dan penuh limpahan keselamatan. Lindungi kami, hamba-Mu, dari intaian para pemangsa yang haus darah. Jauhkan kami, hamba-Mu, dari orang-orang fasik. Jauhkan kami, hamba-Mu, dari orang-orang tamak, loba, serakah, lalim, kejam, penindas, yang mulutnya penuh fitnah dan sumpah serapah. Gembalakan kami, hewan peliharaan-Mu, ke padang gembalaan yang aman dan penuh dilimpahi kedamaian. Jangan biarkan kami jatuh ke jurang kefasikan. Jangan biarkan kami memasuki gua singa. Peliharalah kami dari segala kejahatan makhluk ciptaan-Mu. Lindungilah kami dari panah-panah musuh yang dibidikkan dari tempat gelap. Engkau adalah Pelindung kami. Engkau adalah Perisai kami.”

“Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Maha kuasa! Engkau, al-Malik al-Mulki, Zat Yang Berkuasa atas segala ciptaan yang Engkau cipta! Kami, hamba-Mu, berlindung di bawah naungan kuasa-Mu. Kuatkan hati kami dari keraguan yang meruntuhkan iman. Teguhkanlah hati kami dari kegoyahan jiwa yang menggeragoti iman. Kibarkan bendera kemenangan di atas menara ruh kami yang tegak di dalam benteng keimanan yang kukuh. Lindungilah benteng kami dengan tentara-tentara-Mu (jundullah) yang memenuhi langit dan bumi! Biarlah tentara-tentara-Mu menghancurkan musuh kami dengan angin prahara, hujan badai, tanah longsor, genangan lumpur, pohon-pohon yang tumbang, dan sambaran halilintar! Halaulah musuh-musuh yang mengintai kami dengan cara-Mu yang tidak kami ketahui! Wahai Engkau, Rabb al-Arbab, Zat Yang Mahaagung! Kami berpasrah diri melindungkan diri di dalam naungan keagungan-Mu!”

Setelah berdoa dengan sura keras, Abdul Jalil tiba-tiba terdiam dengan tangan tetap menengadah ke atas. Ia berdoa tanpa bersuara. Orang-orang terus berdzikir dengan mata terpejam dan air mata bercucuran. Ketika Abdul Jalil akan mengakhiri doa dengan membaca shalawat, terjadi sesuatu yang mengejutkan semua orang. Saat itu, tiba-tiba terdengar suara guruh bersahutan di empat penjuru langit disusul sambaran halilintar menghajar bumi. Selama beberapa kejap, pemandangan di sekitar pondok pesantren menjadi terang-benderang oleh keredap cahaya halilintar. Sedetik kemudian, hujan turun sangat lebat seperti tumpahan air bah dicurahkan dari langit disambung embusan angin yang bertiup membadai.

Perubahan alam yang mendadak itu membuat semua hati tercekam dan mulut bungkam. Orang-orang saling pandang. Beberapa jenak kemudian, dengan suara gaduh mereka berdesak-desak berusaha mendekati Abdul Jalil sambil menangis dan berteriak-teriak memuji kebesaran Allah. Mereka yakin doa yang baru saja dipanjatkan Abdul Jalil telah diterima Allah dengan pertanda halilintar dan hujan angin. Peristiwa alam itu pun mereka yakini sebagai tengara hadirnya tentara Allah yang bakal menceraiberaikan musuh yang sudah mengepung Caruban.

06. Dicekam Bayang Bayang Musuh

Usai menitipkan istri dan anaknya kepada Nyi Halimah, janda Syaikh Datuk Kahfi, tanpa peduli hujan deras yang sedang mengguyur bumi, Abdul Jalil menembus kegelapan malam dengan sebatang obor yang ditudungi daun jati menuju kuta Caruban. Malam itu terasa sangat lengang dan mencekam. Kegelapan melingkupi permukaan bumi. Hanya sesekali lidah petir terlihat berkeredap menerangi alam dengan cahayanya. Tidak satu pun bayangan makhluk terlihat di jalan. Kuta Caruban telah menjelma jadi kota mati. Tidak setitik pun cahaya pelita terlihat dari rumah-rumah penduduk. Jalan-jalan yang membelah kuta hingga ke kawasan sekitar kraton pun terlihat gelap gulita dan sepi. Kegelapan makin hitam ketika obor yang dipegang Abdul Jalil padam karena kehabisan minyak dan terkena guyuran hujan.

Dengan berpedoman pada kilatan cahaya halilintar yang sesekali menyambar, Abdul Jalil menelusuri lorong-lorong kuta yang sepi itu. Meski gelap dan tidak melihat satu pun makhluk di jalanan, ia mengetahui jika di tiap-tiap bangunan sesungguhnya sedang bersiaga prajurit dan penduduk yang siap menyerang siapa saja orang yang dicurigai sebagai musuh. Itu sebabnya, ia memaklumi kenapa kawasan di sekitar kraton pun lampu-lampunya dipadamkan. Satu-satunya bangunan yang terlihat agak terang disinari cahaya pelita yang dinyalakan di beberapa sudut ruangan adalah Ndalem Pekalifahan. Seorang prajurit dengan tubuh menggigil kedinginan menyambut Abdul Jalil dengan penuh hormat dan memberi tahu bahwa khalifah Caruban, Sri Mangana, saat itu tidak berada di Ndalem. “Sudah dua bulan lebih Paduka Yang Mulia Khalifah Caruban pergi meninggalkan Ndalem Pekalifahan.”

“Apakah Paduka Khalifah tidak memberi tahu pergi ke mana?” tanya Abdul Jalil minta penjelasan.

“Kabarnya, beliau ke Gunung Panawarjati, Kangjeng Syaikh.”

“Selama beliau pergi, siapa yang menggantikan kedudukan khalifah?” tanya Abdul Jalil.

“Yang Mulia Syarif Hidayatullah, wali nagari Gunung Jati.”

“Di mana dia sekarang? Aku tidak melihatnya.”

“Yang Mulia Syarif Hidayatullah tidak tinggal di Pekalifahan, Kangjeng Syaikh. Beliau tinggal di Ndalem Pakungwati.”

“Di Ndalem Pakungwati?” tanya Abdul Jalil heran.

“Mohon maaf, apakah Kangjeng Syaikh belum tahu jika Yang Mulia Syarif Hidayatullah sudah menjadi menantu Paduka Khalifah?”

“O begitu,” gumam Abdul Jalil singkat dan langsung berpamitan ke Ndalem Pakungwati. Di sana ia mendapati Syarif Hidayatullah sedang berbincang-bincang dengan Raden Mahdum Ibrahim dan adiknya, Raden Qasim. Tampaknya mereka bertiga sedang membincang rencana menangkis serbuan pasukan Galuh Pakuwan ke kuta Caruban.

Ketika Abdul Jalil mengucap salam dari luar pendapa, Syarif Hidayatullah yang sangat mengenali suaranya buru-buru menghambur keluar menyambutnya. Kemudian, tanpa diminta, dengan wajah diliputi ketegangan dia memberi tahu Abdul Jalil tentang keadaan genting yang sedang mencekam Caruban, terutama kekalahan demi kekalahan yang dialami pihak Caruban di medan tempur. Namun, ia merasa heran sebab Abdul Jalil kelihatan sangat tenang seolah-olah tidak merasakan suasana genting dan bahkan seolah tak peduli. Dia makin tidak paham ketika Abdul Jalil dengan nada dingin malah bertanya tentang kabar terakhir dari medan tempur.

“Laporan terakhir yang kami terima sore tadi, induk pasukan Caruban yang berpangkalan di gunung Gundul telah dipermalukan musuh. Para tetunggul Caruban kalah semua dalam adu kesaktian denga tetunggul-tetunggul Galuh Pakuwan. Malahan, pasukan Caruban sekarang ini sedang dikepung oleh berpuluh ribu pasukan Galuh Pakuwan di puncak gunung Gundul,” ujar Syarif Hidayatullah berharap Abdul Jalil peduli.

“Di gunung Gundul?” gumam Abdul Jalil tetap dingin. “Kalau pasukan Caruban kalah, berarti dua tiga hari lagi pasukan Galuh Pakuwan sudah menyerbu kuta.”

“Kelihatannya demikian, Paman. Barusan tadi kami berunding untuk mencari jalan keluar dalam menghadapi kemungkinan serbuan Galuh Pakuwan ke kuta. Kami sepakat, besok akan memerintahkan para gedeng untuk membawa masuk seluruh kekuatan mereka ke dalam kuta. Kita akan bertempur habis-habisan di dalam kuta,” kata Syarif Hidayatullah mengamati perubahan wajah Abdul Jalil yang tetap tidak berubah sedikit pun.

Abdul Jalil diam. Ia tahu dirinya sedang diamati. Ia sengaja tidak menunjukkan gejolak perasaan karena ia tidak ingin suasana menjadi lebih tegang. Ia bahkan tidak berkomentar sedikit pun tentang kabar kekalahan telak pasukan Caruban di gunung Gundul, sebaliknya ia mengalihkan arus pembicaraan dengan menanyakan hal lain. “Di Kalisapu tadi aku bertemu Ki Gedeng Jatimerta. Menurutnya, Galuh Pakuwan bersekutu dengan Talaga. Benarkah itu?”

“Sebenarnya bukan bersekutu, Paman. Sebab, Talaga sudah kita taklukkan lebih dulu. Sekarang ini wilayah Talaga sudah disatukan dengan wilayah Caruban. Yang benar, sisa-sisa pasukan Talaga yang membangkang dan tidak mau tunduk kepada kita telah bergabung dengan Galuh Pakuwan. Sisa-sisa pasukan itu dipimpin Dewi Tanduran Gagang, puteri Prabu Pucuk Umun,” papar Syarif Hidayatullah.

“Talaga sudah takluk? Kapan perangnya?” Abdul Jalil mengerutkan kening.

“Kira-kira tiga bulan silam, Paman.”

“Siapa yang memimpin pasukan Caruban?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Dalam pertempuran dengan Talaga, kami ditunjuk ramanda khalifah sebagai senapati.”

“Ramanda khalifah?” gumam Abdul Jalil menegakkan kepala seolah-olah terkejut. “Kenapa engkau menyebut yang Dipertuan Caruban dengan sebutan ramanda khalifah?”

“Maaf, Paman. Kira-kira tiga bulan silam kami diambil menantu oleh ramanda khalifah, setelah kami memenangkan perang dengan Talaga.”

“Dinikahkan dengan Nyi Mas Pakungwati?”

“Benar, Paman.”

Abdul Jalil tertawa. Syarif Hidayatullah menunduk jengah. Lalu seperti sengaja menggoda, Abdul Jalil tiba-tiba menyinggung tentang pembicaraannya dengan Ki Gedeng Jatimerta di Kalisapu sore tadi, terutama yang terkait dengan Nyi Mas Rarakerta, anak perempuannya yang tidak lain dan tidak bukan adalah istri Syarif Hidayatullah. “Tidakkah engkau ingat pada Nyi Mas Raramerta, anak perempuan Ki Gedeng Jatimerta, yang kuangkat sebagai anak untuk kujadikan saudari anak perempuanku Zainab?”

“Kami tentu ingat, Paman,” sahut Syarif Hidayatullah dengan suara bergetar.

“Bukankah engkau pernah menikahinya?”

“Itu benar, Paman,” Syarif Hidayatullah menunduk dengan wajah merah.

“Seingatku, ketika engkau beriktikaf di ‘Gunung Jati’ pada malam tanggal 14 Rabiul Awal, anak sulungmu dari Nyi Mas Rarakerta lahir. Lalu, Ki Gedeng Jatimerta memberi nama bayi itu Bung Cikal, yang bermakna anak sulung yang lahir pada waktu riadho pada malam 14 Rabiul Awal?”

“Kami pasti tidak akan melupakan itu, Paman.”

“Selain membicarakan puterinya, Ki Gedeng Jatimerta sore tadi juga membicarakan Bung Cikal,” kata Abdul Jalil datar. “Katanya, dia sudah menjelang dewasa dan sering menanyakan ayahnya. Ki Gedeng Jatimerta khawatir, dengan kedudukanmu yang semakin tinggi engkau akan melupakan puteri dan cucunya, sekalipun ia tahu pernikahanmu dengan puterinya itu bersifat sirri. Tapi, aku sudah memberi jaminan kepadanya bahwa engkau akan mengambil langkah bijaksana dalam masalah itu. Aku katakan kepadanya bahwa apa pun kenyataannya, Nyi Mas Rarakerta adalah saudari puteriku dan Bung Cikal adalah cucuku juga, karena itu aku tadi berjanji akan membicarakan masalah ini denganmu.”

“Masalah itu tidak perlu dibuat rumit. Kami pasti tidak akan mengingkari darah daging kami, Paman.”

Abdul Jalil tertawa dan berkata, “Itu keputusan bijaksana. Perlu engkau ingat, jika engkau bisa melampaui ujian terberat jalan ruhani dalam wujud istri-istri dan anak-anakmu maka maqam ruhanimu akan melesat cepat tak tertandingi,” lalu ia menepuk bahu Syarif Hidayatullah memberi penguatan.

“Kami akan pusakakan petunjuk Paman.”

Abdul Jalil tersenyum. Ia memahami benar kedudukan Syarif Hidayatullah yang cukup sulit itu. Ia paham, betapa keberadaannya sebagai pemuda berdarah Arab-Bani Israil telah menimbulkan masalah tersendiri yang tidak gampang penyelesaiannya. Sejak awal membawa Syarif Hidayatullah ke Caruban, ia sudah menangkap sasmita bahwa cucu sahabatnya itu akan tumbuh menjadi laki-laki muda yang akan sering menuai masalah rumit karena akan digandrungi banyak perempuan. Dan ternyata ia tidak salah, karena Syarif Hidayatullah memang tumbuh menjadi laki-laki muda yang serba “paling” di lingkungannya: paling tinggi perawakannya, paling tampan, paling gagah, paling mancung hidungnya, paling terang kulitnya, paling cerdas pemikirannya, paling luas wawasannya, paling baik pengetahuan agamanya, dan paling bagus akhlaknya dibanding seumumnya anak-anak muda Caruban dan Sunda, yang umumnya berperawakan kecil, berkulit gelap, berhidung pesek, sempit wawasan, gampang tersinggung, agak malas, dan jarang sekali memiliki pengetahuan agama mendalam. Sejak awal ia sudah mewanti-wanti cucu sahabatnya itu agar berhati-hati dan bijaksana dalam mengambil langkah, terutama dalam menentukan keputusan memilih istri-istri dan mertua, mengingat cukup banyak orang berkedudukan yang ingin “memperbaiki” keturunan mereka dengan cara mengambilnya sebagai menantu.

Ketika malam semakin larut dan hujan mulai reda, suasana di Ndalem Pakungwati sangat sepi. Tidak terdengar suara apa pun kecuali titik-titik air yang jatuh dari atap ke atas tanah. Setelah suasana sepi itu berlangsung beberapa lama, Abdul Jalil memecahnya dengan sebuah pertanyaan. “Kenapa bisa terjadi perang berurutan seperti ini? Kenapa setelah pecah perang dengan Talaga tiba-tiba pecah perang dengan Galuh Pakuwan? Siapa sesungguhnya yang memulai perang?”

“Kami sendiri tidak pernah menduga jika peperangan bisa terjadi begitu cepat dan berturut-turut, Paman,” papar Syarif Hidayatullah mengungkap latar di balik peperangan. “Yang kami tahu, perang dengan Talaga berawal dari masalah sepele, yaitu perselisihan antara Demang Talaga dan Tumenggung Kertanegara akibat salah paham. Mereka berkelahi dan Demang Talaga terbunuh dalam perkelahian itu. Kematian Demang Talaga ternyata telah membuat marah Yang Dipertuan Talaga, Prabu Pucuk Umun, dan putera mahkota, Pangeran Salingsingan. Kabarnya, mereka dihasut Rsi Bungsu, yang menuduh peristiwa tewasnya Demang Talaga itu didalangi oleh Yang Dipertuan Caruban. Lalu, pasukan Talaga disiapkan untuk menyerbu wilayah Caruban.”

“Berarti Caruban tidak menyerang lebih dulu kan?”

“Justru tidak ada seorang pun penduduk Caruban yang menduga jika Talaga bakal menyerang,” ujar Syarif Hidayatullah menuturkan penyerbuan Talaga. Seluruh penduduk di perbatasan selatan terkejut mendengar kabar serbuan pasukan Talaga. Mereka lebih terkejut ketika mendapati pasukan Talaga sudah masuk ke gunung Keling di utara Cigugur, tidak lama setelah mereka memukul mundur Tumenggung Kertanegara dan pasukannya di gunung Sirah. Kepanikan pun terjadi ketika menyaksikan pasukan Talaga dengan gerak cepat menerobos ke utara, menjarah dan membakari desa-desa yang mereka lewati. Penduduk Gandasuli, Kalapa Gunung, Sadamantra, Sambawa, dan Bojong berhamburan keluar rumah. Lalu, beramai-ramai mereka meninggalka desanya yang sudah menjadi lautan api.

“Dengan serbuan kilat ke utara, rupanya pasukan Talaga akan menyerang langsung ke kuta Caruban. Namun, perlawanan penduduk yang dipimpin para gedeng mulai dilakukan di Bojong. Penduduk Gandasuli, Kalapa Gunung, Sadamantra, Sambawa, dan Bojong bergabung dengan penduduk Sangkanurip, Karang Muncang, Naggerang, Pakembangan, dan Linggasana melakukan penghadangan dan perlawanan. Mereka berusaha keras menahan gerak laju musuh sehingga pasukan Talaga tertahan di Sindangkasih.

Kabar penyerbuan pasukan Talaga yang mendadak itu sangat mengejutkan khalifah Caruban, Sri Mangana. Saat itu tidak ada satu pun di antara tetunggul Caruban yang berada di kraton kecuali Syarif Hidayatullah yang kebetulan menghadap untuk melaporkan perkembangan gerakan dakwah di tanah Banten. Akhirnya, khalifah Caruban mengangkat Syarif Hidayatullah sebagai senapati dan menitahkannya untuk menghadapi serbuan Talaga yang tak terduga-duga itu. “Alhamdulillah, kami dapat mengalahkan pasukan Talaga tanpa perlawanan. Rupanya, pihak Talaga waktu itu sudah terjepit. Sebab, bersamaan waktu dengan kedatangan pasukan kami ke medan tempur, dari arah selatan terlihat pasukan Kuningan bergerak gegap-gempita. Merasa tidak bakal menang menghadapi dua pasukan besar, Pangeran Salingsingan akhirnya menyerah kepada kami. Dia bahkan menyatakan keinginan untuk memeluk agama Rasulullah Saw.,” papar Syarif Hidayatullah.

Abdul Jalil diam sambil mengelus-elus janggutnya. Setelah itu ia berkata, “Syukurlah kalau ceritanya seperti itu. Yang penting, jangan sampai pihak kita menyerbu lebih dulu tanpa alasan karena Islam melarang memulai penyerbuan. Apakah dalam peperangan sekarang ini Galuh Pakuwan juga menyerang Caruban lebih dulu?”

“Benar, Paman,” Syarif Hidayatullah mengangguk dan menuturkan latar penyerbuan Galuh Pakuwan. Tidak lama setelah kekalahan Talaga yang ditandai masuk Islamnya putera mahkota, Pangeran Salingsingan, pihak Galuh Pakuwan menyiapkan kekuatan besar-besaran untuk menggempur Kraton Caruban. Menurut perkiraan, lebih dari 200.000 orang pasukan disiagakan untuk melumatkan kuta Caruban. Para panglima, manggalayudha, perwira, ksatria Rajagaluh, dan tetunggul Talaga yang masih sakit hati dengan Caruban, dengan sisa-sisa pasukan yang setia mendukungnya, bergabung ke dalam pasukan Galuh Pakuwan. Itu sebabnya, ungkap Syarif Hidayatullah, di antara tetunggul Galuh Pakuwan terdapat pula pendekar-pendekar tangguh yang pernah terlibat perang di Rajagaluh dan Talaga, seperti Sanghyang Gempol, Sanghyang Sutem, Patih Suradipa, Ki Dipati Kiban, Ki Gedeng Leuwimunding, Celeng Igel, Dalem Ciomas, Ki Dipasara. Bahkan Dewi Tanduran Gagang, puteri Prabu Pucuk Umun, diunggulkan sebagai manggala puteri yang siap dihadapkan dengan pahlawan puteri Caruban: Nyi Mas Gandasari.

Tidak berbeda dengan saat terjadinya serbuan pasukan Talaga, sewaktu para pahlawan Galuh Pakuwan membawa pasukan besarnya masuk ke wilayah Caruban, tidak ada seorang pun di pihak Caruban yang menduga negerinya bakal diserang mendadak oleh musuh. Sri Mangana sendiri, selaku khalifah Caruban, saat itu sedang tidak berada di Caruban karena melakukan perjalanan ruhani ke “Gunung Panawarjati” untuk mengobati jiwanya yang terluka ketika berburu di padang perburuan ruhani.

Saat diserbu pasukan Galuh Pakuwan, penduduk yang tinggal di perbatasan, terutama penduduk Nusaherang, melakukan perlawanan di bawah komando gedengnya masing-masing. Namun, kekuatan besar Galuh Pakuwan bukanlah tandingan penduduk. Dalam waktu singkat, penduduk Nusaherang dibuat kocar-kacir oleh pasukan Galuh Pakuwan. Setelah itu, tanpa membuang waktu, pasukan Galuh Pakuwan menerobos cepat ke utara dan menghancurkan Kadugede. Lalu, mereka menerjang terus ke Kuningan.

Rupanya, para tetunggul Galuh Pakuwan sudah memperhitungkan kekuatan wali nagari Kuningan yang merupakan penguasa paling disegani di wilayah perbatasan selatan. Dalam pertempuran singkat, para tetunggul Galuh Pakuwan merencanakan sebuah serangan kilat sebelum wali nagari Kuningan mendengar kabar kekalahan penduduk Nusaherang dan Kadugede. Demikianlah, melalui sebuah serangan kilat yang dilakukan secara besar-besaran, Kadipaten Kuningan dapat dikuasai. Wali Nagari Kuningan yang panik dan berusaha memimpin pasukan tidak dapat mempertahankan kadipatennya dari serbuan musuh. Pasukan Kuningan yang kurang dari 2.000 orang itu dalam waktu singkat lari tunggang-langgang meninggalkan kadipaten.

Wali nagari Kuningan sendiri dalam serbuan itu dengan susah payah berhasil lolos dan lari ke kraton untuk melaporkan peristiwa itu kepada khalifah. Namun, Sri Mangana saat itu sedang tidak berada di tempat. Karena saat itu yang ditunjuk mewakili Sri Mangana adalah Syarif Hidayatullah, maka ia memutuskan untuk mengangkat wali nagari Kuningan sebagai manggalayudha Caruban didampingi Wali Nagari Gegesik Ki Suranenggala. Lalu, dua orang tetunggul Caruban itu berangkat ke medan tempur untuk memimpin pasukan dan satuan-satuan perlawanan yang dipimpin para gedeng dan pemuka penduduk. “Tetapi berdasar laporan yang kami terima, dalam pertempuran di Kasturi, pasukan Caruban dipukul mundur. Mereka kemudian bertahan di gunung Gundul. Laporan sore tadi memberitakan semua tetunggul Caruban telah dikalahkan musuh. Bahkan, laporan terakhir barusan mengabarkan seluruh pasukan Caruban sudah terkepung di puncak gunung. Wali nagari Kuningan sampai sekaran belum diketahui nasibnya,” papar Syarif Hidayatullah.

“Menurut perkiraanku, kabar kepergian Paduka Khalifah ke ‘Gunung Panawarjati’ itulah yang dijadikan alasan utama oleh Yang Dipertuan Galuh Pakuwan untuk menyerang Caruban secara mendadak. Aku mengira, Prabu Surawisesa memaknai ‘Gunung Panawarjati’ sebagai obat atau jampi-jampi sehingga menduga Yang Dipertuan Caruban sesungguhnya sedang sakit. Prabu Surawisesa tentunya sudah tahu bahwa kekuatan utama Caruban terletak di genggaman tangan saudaranya, yaitu Paduka Khalifah Sri Mangana. Nah, dengan kepergian Paduka Khalifah selama dua bulan lebih, maka Prabu Surawisesa menyimpulkan kalau kekuatan Caruban sedang lemah dengan kemungkinan sakitnya Sri Mangana tidak terobati,” kata Abdul Jalil menyimpulkan.

“Kami kira memang seperti itu jalan pikiran Prabu Surawisesa, Paman. Sebab, sepekan setelah kepergian ramanda khalifah, tiba-tiba tersiar kabar bahwa Yang Dipertuan Caruban sedang sakit keras. Lalu, pada pekan ketiga tersiar kabar jika ratu Caruban mangkat. Bahkan pada pekan keempat, ketika pasukan Galuh Pakuwan sudah menyerang, hampir setiap telinga penduduk Caruban mendengar kasak-kusuk yang menyatakan bahwa Sri Mangana sesungguhnya telah meninggal akibat dibunuh oleh menantunya, Wali Nagari Gunung Jati, orang asing yang berambisi merebut takhta Caruban. Serbuan Galuh Pakuwan ke Caruban, menurut kasak-kusuk itu, sesungguhnya dilakukan untuk belapati dan sekaligus menyelamatkan takhta Caruban dari tangan orang asing,” kata Syarif Hidayatullah.

Abdul Jalil tertawa dan menggelengkan kepala sambil berkata, “Aku sangat yakin, fitnah keji itu pasti keluar dari kegelapan relung-relung jiwa Rsi Bungsu. Mahasuci Allah, Zat Yang Mencipta makhluk sekelam Rsi Bungsu.”

“Tidakkah engkau mengetahui keberadaan Nyi Mas Gandasari, o Anakku?”

“Itulah yang membuat kami kebingungan, Paman. Nyi Mas Gandasari bersama ibunda ratu ikut mengiringi ramanda khalifah ke ‘Gunung Panawarjati’. Sehingga, di saat genting ini, ketika pendekar setangguh Nyi Mas Gandasari dibutuhkan untuk melawan Galuh Pakuwan, justru dia tidak berada di tempat. Kami pun tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghadapi musuh karena ibarat burung yang patah kedua sayapnya, kami hanya bisa melihat kehadiran musuh tanpa bisa melawan. Kami hanya berharap terjadi keajaiban. Sungguh, kami tidak melihat kemungkinan untuk menang melawan pasukan Galuh Pakuwan. Kami hanya mampu menjalankan siasat terakhir: bertempur habis-habisan menghadapi musuh di kuta Caruban,” kata Syarif Hidayatullah kurang bersemangat.

“Kenapa engkau tiba-tiba menjadi lemah, o Anakku?” tukas Abdul Jalil dengan suara ditekan tinggi. “Sungguh, aku meminta kepadamu lebih untuk tegar menghadapi masalah seperti ini. Jangan sekali-kali di tengah keterdesakanmu, engkau dilemahkan oleh bayang-bayang musuhmu. Janganlah ketidakhadiran pahlawan-pahlawan dan pendekar-pendekar di sekitarmu membuatmu goyah. Sungguh, aku meminta kepadamu untuk tidak sekali-kali menjadikan paduka khalifah, Nyimas Gandasari, dan tetunggul Caruban yang lain sebagai hijab bagi-Nya. Sebab Dia, Rabb al-Arbab, adalah Zat Yang Mahakuasa, Yang Berhak menentukan kalah dan menang pihak yang berperang tanpa mensyaratkan keterlibatan ini dan itu dari makhluk-Nya. Ingat-ingatlah itu, o Anakku, janganlah kiranya engkau sampai terpeleset pada jebakan angan-angan dan akal pikiranmu. Tenangkan akal pikiranmu. Gunakan piranti kalbumu untuk menangkap nuansa kekuatan dan kekuasaan-Nya yang tersembunyi di balik hiruk-pikuk masalah yang bagaimana pun hebatnya. Engkau sudah berusia seperempat abad lebih. Engkau harus mandiri. Engkau harus percaya diri dan tidak bersandar kepada siapa pun di antara manusia.”

Syarif Hidayatullah merasakan tersambar petir mendengar kata-kata Abdul Jalil. Dia menunduk dengan muka merah. Dia merasa telah melakukan kesalahan langkah selama rentang waktu menghadapi serbuan Galuh Pakuwan, yaitu kurang percaya diri dan terlalu menggunakan kekuatan nalar untuk mengatasi setiap masalah yang muncul. Dia sadar, selama ini sangat bergantung pada orang-orang kuat di sekitarnya, seperti Sri Mangana. Dan yang paling parah, dia telah melalaikan piranti kalbu sebagai senjata paling ampuh. Namun, dia juga sadar betapa di tengah suasana yang genting ini, ketika pasukan musuh sudah di depan hidung, sangatlah sulit untuk buru-buru meninggalkan piranti akal pikiran lalu menggunakan piranti kalbu yang butuh ketenangan lebih. Kenyataan itu membuat hatinya semakin diliputi kegundahan.

Abdul Jalil yang menangkap kegundahan Syarif Hidayatullah akibat diombang-ambing oleh alam pikirannya, berusaha meredakan suasana dengan mengalihkan pembicaraan ke masalah Syaikh Abdul Malik Israil, kakek Syarif Hidayatullah, yang melakukan perjalanan ke Bharatnagari bersamanya. Diingatkan tentang kakeknya, Syarif Hidayatullah terhenyak dan kemudian dengan terburu-buru menanyakan perihal kakeknya, “Kami tidak melihat kakek kami bersama Paman. Di manakah beliau sekarang ini?”

“Terakhir aku bersama kakekmu di Kandesh,” kata Abdul Jalil datar. “Tetapi setelah berziarah ke makam gurunya, Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy, kami berpisah. Aku ke Gujarat menjemput istri dan anakku, kakekmu menemui keluarga Syaikh Abdul Malik al-Isbiliy di pinggiran kota Kandesh.”

“Ke mana kira-kira kakek kami pergi setelah dari Kandesh, Paman?”

“Aku tidak tahu pasti ke mana dia pergi. Sebelum berpisah dia mengatakan akan berkunjung ke Cochizha. Katanya, dia mau mengingatkan beberapa keluarga Bani Israil dan pemukim Cina di Cochizha. Keluarga-keluarga Bani Israil itu dikenal penduduk setempat sebagai lintah darat besar. Sementara pemukim Cina di Cochizha dikenal sebagai pedagang yang curang, kikir, kelewat takabur, dan hanya berpikir tentang keuntungan saja sampai-sampai mereka itu membahayakan saudaranya sesama muslim di negeri Cina. Menurut kakekmu, dia akan mengingatkan keluarga-keluarga Bani Israil itu agar tidak beternak ular riba karena hal itu akan mendatangkan murka Tuhan. Pemukim-pemukim Cina Cochizha juga akan diingatkan agar menyadari bahwa tindakan mereka tidak saja akan membuat murka kaisar Cina tapi juga akan mendatangkan murka Tuhan,” kata Abdul Jalil.

“Apakah peringatan kakek kami itu diindahkan?”

“Aku tidak tahu pasti. Tetapi, kira-kira tiga pekan lalu, saat aku di Malaka, aku mendapat kabar jika kota Cochizha baru saja diserbu pasukan Kozhikode yang dipimpin Laksamana Kunjali Marakkar. Kota Cochizha dijarah. Persekutuan dagang antara raja Cochizha dan orang-orang Portugis, sekutunya, lari tunggang-langgang meninggalkan kota dan bersembunyi di pulau Vypin. Menurut dugaanku, dalam serbuan itu rumah keluarga Bani Israil dan pemukim Cina di kota Cochizha tentunya ikut dijarah kalau tidak malahan ada di antara mereka itu yang tewas terbunuh,” kata Abdul Jalil.

Syarif Hidayatullah menarik napas panjang dan menunduk teringat pada kakek yang dicintainya. Lalu dengan suara bergetar dia bertanya, “Apakah kakek kami tidak meninggalkan sesuatu pesan untuk kami?”

“Sebelum berpisah, Usman Haji, sahabatku terkasih itu memang berpesan khusus untuk cucunya. Pertama-tama, ia mewanti-wanti agar cucunya tetap teguh dan tak tergoyahkan menjadi pejuang Tauhid. Dia mengharap agar di dalam menghadapi kehidupan yang bakal dilanda prahara perubahan dahsyat, cucunya mewaspadai dan tidak gampang percaya dengan segala sesuatu yang ditawarkan para pecinta tubuh dan pendamba kenikmatan dunia, yang digambarkan kakekmu dengan perlambang kawanan serigala dan musang,” kata Abdul Jalil.

“Kami akan pusakakan pesan kakek kami. Tapi, apakah perlambang kawanan serigala dan musang itu menunjuk pada keberadaan orang-orang Portugis?”

“Engkau bebas menafsirkan pesan kakeku, o Anakku.”

“Apakah itu berarti, kakek kami telah membenarkan kabar yang disampaikan orang-orang Maghrib bahwa Portugis adalah bangsa perampok yang akan menjarah kekayaan bangsa-bangsa muslim dan menyebarkan kesesatan di muka bumi?”

“Aku kira pesan kakekmu tidak tegas-tegas menunjuk pada keberadaan suatu bangsa. Yang aku tangkap dari pesan kakekmu, justru dia ingin memberi tahu engkau bahwa zaman kemunculan manusia-manusia ‘berekor’ pecinta tubuh dan pendamba kehidupan dunia, yang digambarkan dengan perlambang kawanan serigala dan musang, sudah sangat dekat waktunya.”

07.

07. Taj dan Khirqah Sufi

“Kalau menurut Paman sendiri, bagaimana sesungguhnya orang-orang Portugis itu?” tanya Syarif Hidayatullah denga benak masih dikuasai kecurigaan akibat cerita-cerita yang didapatnya dari orang-orang Maghribi, “Seberapa berbahayanya mereka itu bagi kita?”

“Dipandang dari mata indriawi, keberadaan orang-orang Portugis itu sungguh menakjubkan: perawakannya tinggi, besar, tegap, gagah, berkulit putih, berhidung mancung, bermata biru, berambut emas, berkumis dan berjanggut lebat, kalau berbicara suaranya keras seperti petir, semangatnya tinggi, dan tegas dalam bersikap. Ditinjau dari sisi kepribadian berdasar pikiran yang jernih diterangi burhan, mereka tidaklah berbeda dengan bangsa lain: ada yang baik dan ada pula yang tidak baik. Ada yang ramah dan ada pula yang tidak ramah. Ada yang cerdas, tapi banyak pula yang bebal. Ada yang dermawan, tetapi banyak pula yang kikir. Ada yang suka bercanda, tetapi banyak pula yang pemarah. Tapi kalau kita melihat mereka dengan pandangan mata batin maka kita akan menyaksikan mereka tidak lebih dari manusia-manusia yang menyedihkan keadaan jiwanya, karena kalbunya tertutup hijab keakuan (rayn) yang tebal dan berkarat. Mereka adalah manusia-manusia yang terhijab dari Kebenaran karena ruhani mereka tidak berkembang dewasa, sebaliknya tetap kerdil karena terperangkap oleh jiwa anak-anak (al-ghulam an-nafsiyyah) yang cenderung terseret lamunan kosong (al-umniyyah) dan angan-angan kosong (al-wahm). Di dalam perangkap jiwa anak-anaknya itu, mereka membayangkan diri secara berlebihan (thaghut) di tengah semakin kuatnya al-umniyyah dan al-wahm yang bakal memerosokkan mereka ke sumur khayalan nirwujud (al-mumtani’) tak berdasar, yang dipadati kabut keakuan yang tebal dan membutakan,” kata Abdul Jalil.

“Menyedihkan sekali mereka itu,” ujar Syarif Hidayatullah menggeleng-geleng dan mendecakkan mulut.

“Ya, begitulah mereka. Hampir semua pelaut Portugis yang kuajak bicara selalu berkhayal tentang kemuliaan diri mereka sebagai prajurit-prajurit tuhan yang gagah perkasa, agung, mulia, dan suci. Mereka semua merasa memiliki kewenangan untuk membinasakan orang-orang kafir dan menghukum pelaku bid’ah dalam agama. Mereka merasa ini dan itu yang terkait dengan kehebatan diri sebagai pejuang tuhan. Tetapi, di balik pengakuan sepihak berdasar khayalan itu, mereka sedikit pun tidak mencerminkan citra diri sebagai prajurit-prajurit tuhan yang agung, suci, dan mulia. Sebaliknya, mereka justru mencerminkan citra diri sahabat setan: dekil, jarang mandi, tidak kenal siwak, boros, suka membual, selalu mabuk, akrab dengan perzinahan, takabur, tamak, kejam, gampang membunuh, dan tidak mengorangkan orang.”

“Kami memahami perilaku orang-orang yang terhijab dari Kebenaran memang seperti itu. Tetapi dari uraian Paman tadi, pangkal keterperangkapan mereka ke dalam khayalan nirwujud (al-mumtani’) itu berawal dari jiwa anak-anak yang memerangkap mereka. Apakah sesungguhnya yang Paman maksud dengan jiwa anak-anak itu? Kenapa mereka bisa terjerat oleh jiwa itu?” tanya Syarif Hidayatullah minta penegasan.

“Jiwa anak-anak, al-ghulam an-nafsiyyah, adalah jiwa yang ditandai kecenderungan untuk memandang sesuatu berdasar ukuran anak-anak, yaitu menyenangkan dan tidak menyenangkan. Berdasar ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan itulah jiwa anak-anak itu mengukur nilai baik dan buruk, halal dan haram, benar dan salah, untung dan rugi, berat dan ringan, kalah dan menang, pantas dan tidak pantas, mudah dan sulit, lurus dan bengkok. Engkau bisa membayangkan sendiri apa jadinya tatanan kehidupan suatu kaum jika sebagian besar di antara mereka itu mendasarkan nilai-nilainya pada ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan,” kata Abdul Jalil.

“Tentu akan terjadi perpecahan dan kekisruhan karena semua orang cenderung memilih yang menyenangkan nafsunya,” kata Syarif Hidayatullah.

“Tapi, yang tidak kalah berbahaya dari jiwa anak-anak adalah kecenderungan untuk menyeret kesadaran manusia ke lingkaran setan yang penuh dipadati pintalan al-umniyyah dan lembaran al-wahm, yang dihiasi corak dan gambar al-mumtani’, di mana ujungnya padat, pejal, dangkal, bendawi, dan menjerat keakuan. Nah, dengan jiwa anak-anak itulah orang-orang Portugis yang pernah kuajak berbicara itu memaknai segala sesuatu. Mereka selalu menggunakan ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan. Mereka dengan kekanak-kanakan memaknai nilai Kebenaran agama, begini: ‘Kebenaran adalah sesuatu yang menyenangkan, menguntungkan, membebaskan, mengasihi, mengampuni, dan melimpahi manusia tanpa batas. Lantaran itu, kami tidak mau menyembah Tuhan yang tidak menyenangkan, tidak menguntungkan, tidak membebaskan, tidak mengasihi, tidak mengampuni, tidak mau berkorban, dan tidak melimpahi kami dengan macam-macam kenikmatan. Kami menampik tuhan yang ganas, suka mengancam, suka menyiksa, dan selalu membebani manusia dengan aturan-aturan berat.”

“Lantaran mereka berpandangan kekanak-kanakan seperti itu maka saat memperbincangkan masalah Kebenaran agama, aku dan kakekmu mereka jadikan bahan tertawaan. Mereka menilai kami sebagai orang-orang konyol karena telah bertindak bodoh, mengikuti agama yang keras, kejam, memberatkan, dan menyengsarakan manusia. Mereka menertawakan kebodohan kami yang mau saja menjalankan ibadah berat dan menyengsarakan seperti berpuasa sebulan penuh, berkhitan memotong kulup kemaluan, bersembahyang lima kali sehari, berzakat membuang harta, berkurban menyembelih domba, berhaji dengan biaya sangat mahal dan risiko bahaya tinggi, tidak boleh minum anggur yang memabukkan, dilarang makan babi, dilarang melacur, dilarang membungakan uang, dilarang ini dan itu, yang semua larangan itu sebenarnya nikmat dan lezat.”

“Penilaian miring itu ternyata tidak hanya ditujukan kepada kami, orang yang berbeda agama. Pendeta-pendeta mereka sendiri pun mereka nilai sebagai kumpulan orang malas, bodoh, dan rakus. Tanpa rasa hormat sedikit pun mereka memberi sebutan-sebutan merendahkan kepada pendeta-pendeta mereka seperti ‘si tambun rakus’, ‘pencuri berkedok rahib’, atau ‘si rakus penimbun’. Bahkan tanpa rasa malu, mereka sambil tertawa-tawa mengaku hampir tidak pernah bersembahyang ke gereja.”

“Aneh sekali mereka itu?”

“Itulah yang aku katakan bahwa mereka adalah manusia-manusia terhijab yang terperangkap jiwa anak-anak, yaitu orang dewasa yang cenderung menilai segala sesuatu berdasar ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan. Mereka boleh kita golongkan sebagai orang-orang beragama yang tidak beriman sebab mereka menjadikan agama tidak lebih hanya sebagai adat istiadat kepantasan atau identitas kaum saja. Tapi, dengan ceritaku ini, engkau jangan terburu menilai semua orang Portugis berjiwa anak-anak. Sebab, yang aku ajak berbicara di Bharatnagari adalah pelaut-pelaut Portugis yang dekil, kasar, kejam, pongah, gemar mengumbar kesyahwatan, pemuja benda-benda, pendamba kelezatan duniawi, dan mengkhayal dalam keyakinan. Aku belum berkenalan dengan pendeta dan ruhaniwan mereka. Aku mengira, pendeta dan ruhaniwan mereka mestinya berbeda dengan pelaut-pelaut dekil itu,” kata Abdul Jalil.

“Jika pelaut-pelaut Portugis yang datang ke Bharatnagari seperti itu gambarannya, berarti kabar langit yang pernah disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan tentang serigala dan musang yang keluar dari bulu burung gagak, sekarang ini sudah menampakkan bayangannya, Paman?”

“Engkau bebas menafsirkan kabar langit itu, o Anakku. Tetapi, ada satu hal yang wajib engkau ingat tentang sesuatu yang terkait denga kabar langit.”

“Apa itu, Paman?”

“Pertama-tama, kabar langit tidak pernah ditujukan kepada satu bangsa tertentu. Perlambang kawanan serigala dan musang bisa menunjuk pada bangsa mana saja yang memenuhi syarat di mana kabar tersebut tergenapi. Singkatnya, kawanan serigala dan musang itu bisa muncul pada bangsa mana pun di dunia.”

“Apakah mungkin kawanan serigala dan musang muncul dari antara bangsa-bangsa di negeri Timur?”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, o Anakku,” kata Abdul Jalil menegaskan, “Tetapi ada satu hal yang patut engkau jadikan pedoman dalam memaknai kabar langit yang disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan, yang sasmita gaibnya telah aku tangkap dengan makna yang lebih tegas.”

“Kami akan mempusakakan petunjuk Paman.”

“Sesungguhnya, di balik perlambang munculnya kawanan serigala dan musang dari balik bulu burung gagak, terselip makna hakiki yang mengabarkan tentang bakal munculnya kawanan manusia berekor, manusia-manusia sudra papa pengumpul benda-benda duniawi, pendamba kelezatan dunia, pemuja setia nafsu rendah badani, penyembah ibunda Bhumi, Sang Prthiwi, yang tersamar. Mereka akan bermunculan ke permukaan bumi dengan jumlah tak terhitung, laksana daun-daun di hutan yang berguguran ke atas tanah. Mereka dengan semangat mencintai bumi yang berkobar-kobar akan mendatangi negeri-negeri makmur dan menaklukkan bangsa-bangsa penghuninya untuk dijadikan budak. Mereka, sebagaimana para penguasa Ksetra pemuja Sang Prthiwi, akan menggunakan gelar kebesaran: Wisesa Dharani (Sansekerta: Penguasa Bhumi). Lalu, dengan gelar itu mereka akan menempatkan diri sebagai penguasa yang berwenang menguasai dan mengatur seluruh tatanan kehidupan negeri-negeri yang sudah mereka taklukkan.”

“Waspadalah terhadap mereka. Sebab, sebagai pengumpul benda-benda duniawi, pemuja bumi, pengumbar nafsu rendah badani, pendamba kelezatan duniawi, penyembah Prthiwi, mereka adalah manusia-manusia berekor pemuja bumi sejati. Maknanya, sebagai pemuja bumi sejati, manusia-manusia berekor itu akan menampik semua ajaran agama yang bersifat ukhrawi karena tidak berkaitan dengan bumi. Bagi mereka, kebenaran hanyalah sesuatu yang terkait dengan bumi. Sehingga, segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan bumi apalagi tidak bisa dinikmati di bumi ini akan mereka tampik sebagai kebohongan besar. Namun demikian, hendaknya engkau selalu waspada karena manusia-manusia berekor itu dalam usahanya merampok, menjarah, merampas, dan menguasai negeri-negeri dan bangsa-bangsa di bumi hampir selalu mengibarkan bendera agama-agama untuk mengecoh manusia yang kurang waspada.”

“Waspadalah terhadap mereka. Sebab, sebagai pemuja Sang Bhumi yang tersamar, mereka itu sejatinya masih setia melakukan upacara korban manusia untuk santapan Sang Bhumi beserta para bhuta pengikutnya. Tetapi, berbeda dengan tata cara pengorbanan lama yang mensyaratkan orang-orang sukerta sebagai bebanten untuk bhuta, mereka menetapkan syarat bagi orang-orang yang bakal dikorbankan untuk bebanten itu begini: orang-orang yang berani melawan penguasa bumi, orang-orang yang berani meminta haknya atas tanah, orang-orang yang berusaha beroleh kelimpahan hasil kemakmuran bumi, orang-orang yang berjuang membebaskan diri dari kekuasaan penguasa bumi, orang-orang yang berusaha memegahkan diri menjadi penguasa bumi seperti mereka. Korban persembahan yang dilakukan para pemuja Sang Bhumi yang tersamar itu tidaklah disembelih di ksetra-ksetra, melainkan di jalan-jalan, kerangkeng bawah tanah, tempat-tempat peradilan, dan medan perang, bahkan jumlahnya jauh lebih besar dibanding korban serupa di masa silam.”

“Sungguh mengerikan tanda-tanda kemunculan manusia-manusia berekor pemuja Sang Bhumi yang tersamar itu. Apakah ikhtiar untuk menghindari tengara mengerikan itu, Paman?”

“Ketahuilah, o Anakku, bahwa kabar langit yang disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan dan telah aku tangkap sasmita di baliknya itu pada hakikatnya adalah ketetapan Sang Penentu (al-Muqtadir) yang sudah ditulis dengan Pena Mulia (al-qalam al-‘ala) pada Lembaran Terjaga (al-Lauh al-Mahfuzh). Itu berarti, tidak ada satu pun makhluk yang bisa mengubah ketentuan-Nya itu. Kita, manusia, hanya bisa pasrah kepada-Nya dan berharap bagaimana kita bisa terhindar dari pengaruh jahat makhluk ciptaan-Nya. Dan khusus untuk menghindari pengaruh jahat kawanan pemuja Sang Bhumi itu, hendaknya kita memohon kepada-Nya dengan do’a yang diajarkan Rasulullah Saw.: Allahumma inni ‘audzubika min ‘adzabi jahannam wa min ‘adzabi qabri wa min fitnah al-mahya wa al mamati wa min fitnah al-masihi ad-dajjal.”

Seperti tidak peduli dengan keadaan genting yang mengintai Caruban, malam itu Abdul Jalil menyampaikan pelajaran khusus tentang intisari Tauhid dan sekaligus memberikan ijasah berupa taj dan khirqah sufi kepada Syarif Hidayatullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Raden Qasim. Dengan suara lain, ia menjelaskan tentang tiga pusaka lambang kemuliaan kaum sufi itu, “Sesungguhnya, aku tidak memiliki apa-apa yang tersisa kecuali tiga benda lambang kemuliaan para sufi. Yang pertama adalah taj, mahkota sufi, yang aku peroleh dari sahabatku Syaikh Jumad al-Kubra. Taj ini adalah pemberian dari mursyid Tarekat Kubrawiyyah Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi yang khusus diberikan kepadaku melalui Syaikh Jumad al-Kubra. Yang kedua adalah taj dan khirqah (jubah sufi bertambal-tambal) yang aku peroleh dari guru ruhaniku, Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati, mursyid Tarekat Syattariyyah di Gujarat. Beberapa waktu sebelum ia wafat, ia menitipkan taj dan khirqah itu kepada mertuaku untuk disampaikan kepadaku jika sewaktu-waktu aku kembali ke Gujarat.”

“Bagi orang awam yang cenderung melihat sesuatu dari bentuk luar, taj dan khirqah sufi tidak lebih dari kain lap yang tidak berharga. Tetapi, bagi yang memahami jalan sufi, taj dan khirqah sufi adalah lambang kemuliaan dan keluhuran. Khirqah biasanya diberikan mursyid kepada salik yang menjalani tarekat atau telah menyelesaikan jalan ruhani (suluk). Sedang taj diberikan kepada salik atau sufi lain sebagai penghormatan khusus. Tetapi, bagiku, taj yang terbaik adalah memahkotai diri dengan Kepasrahan (al-Islam) dan menenggelamkan keakuan diri pada tujuh samudera Kebenaran: al-Islam – Iman – ihsan – ‘ilm – al-yaqin – ‘ain al-yaqin – haqq al-yaqin – al-Islam; lillah – billah – ma’allah; inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un. Bagiku, khirqah terbaik adalah menyelubungi diri ke dalam liputan tujuh petala langit al-Wujud: nasut –mitsal – malakut – jabarut – lahut – hahut; lillah – billah – ma’allah; inna li Allaihi wa inna ilaihi raji’un.”

“Malam ini, taj pemberian mursyid Tarekat Kubrawiyyah Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi aku berikan kepada putera saudaraku, Raden Mahdum Ibrahim. Taj pemberian mursyid Tarekat Syattariyyag Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati aku berikan kepada Syarif Hidayatullah, cucu sahabatku, Usman Haji, Syaikh Abdul Malik Israil al-Gharnata. Khirqah aku berikan kepada putera saudaraku, Raden Qasim. Dengan taj dan khirqah ini, kalian bertiga telah beroleh ijasah yang sah dari Tarekat Kubrawiyyah dan Tarekat Syattariyyah. Tetapi, satu hal yang aku inginkan dari kalian dalam menyikapi keberadaan taj dan khirqah itu, yaitu tidak ada kewajiban bagi kalian untuk secara terang-terangan mengungkapkan jati diri sebagai mursyid Tarekat Kubrawiyyah dan Syattariyyah. Kalian boleh mengajarkan jalan ruhani dengan nama apa saja asalkan intisari ajarannya sama: Tauhid.”

“Sungguh, telah aku jelajahi negeri-negeri, telah aku kenal bangsa-bangsa, dan telah aku ketahui madzhab-madzab serta tarekat-tarekat termasyhur yang dianut manusia. Sungguh, telah aku saksikan bahwa runtuhnya keagungan dan keluhuran madzhab dan tarekat selalu diawali dari pemberhalaan nama. Orang-orang bodoh dan picik sering kedapatan memberhalakan madzhabnya dan melakukan upacara korban darah dengan menyembelih saudara seiman yang berbeda madzhab dan tarekat. Sungguh, telah aku saksikan madzhab-madzhab agung dan luhur ‘disucikan’ oleh para penganutnya yang picik dengan darah dan kebencian. Sungguh, telah aku saksikan pula tarekat-tarekat yang suci dan mulia ‘disucikan’ oleh pengikut-pengikut picik dengan darah dan air mata. Orang-orang picik dan bebal, dengan pengetahuannya yang dangkal tentang jalan ruhani, banyak yang tidak mampu menangkap makna hakiki di balik nama sebuah tarekat. Mereka terpaku pada nama yang mereka jelmakan sebagai mahkota kesombongan dan jubah kejahatan. Mereka tanpa sadar telah terjerat ke dalam perangkap angan-angan kosong yang mereka tebar sendiri. Mereka telah menempatkan nama tarekat sebagai citra Kebenaran Hakiki. Dan ujung dari pemberhalaan nama tarekat itu adalah pemberhalaan nama mursyid.”

“Selama perjalananku mendatangi negeri-negeri, telah sering kudapati orang-orang picik dan jahil yang saling bertarung memperebutkan jabatan mursyid sebuah tarekat. Mereka itu picik karena cakrawala kesadaran nalarnya sudah tertutupi kabut khayal yang bergumpal-gumpal. Lalu, mereka menjadi jahil karena dengan kepicikan itu mereka memberhalakan nama tarekat. Mereka menganggap nama tarekat adalah sama dan sebangun dengan Kebenaran. Lantaran itu, menurut mereka, dengan menjadi mursyid suatu tarekat maka sama dengan menjadi satu-satunya ‘penuntun’ menuju Kebenaran. Nah, ujung dari pemberhalaan nama tarekat itu adalah pemberhalaan diri pribadi sang mursyid.”

“Sungguh memuakkan mereka itu bagiku. Dengan lidahnya yang bercabang, mereka tidak segan menghalalkan cara apa saja, termasuk menghalalkan darah saudara yang dianggap pesaing dalam memperebutkan nama. Dan, hasil dari pertarungan itu sering kali seperti ini: mereka yang muncul sebagai pemenang akan menempatkan diri sebagai mursyid, pengejawantahan Yang Maha Menunjuki (ar-Rasyid), pembimbing ruhani sempurna (kamil al-mukamil), satu-satunya penunjuk dan sekaligus penuntun suci menuju Kebenaran. Padahal, kalau dilihat dari sisi batiniah, mereka itu sejatinya hanyalah seorang mushtawif: sufi gadungan! Mursyid palsu!”

“Sungguh aku bersaksi bahwa mereka sejatinya adalah orang-orang yang berbahaya, karena membimbing banyak orang ke arah Kebenaran tanpa pengetahuan ruhani yang benar. Mereka ibarat orang-orang buta membawa obor yang diikuti orang-orang buta lain. Mereka berjalan saling berpegangan karena akan menuju tempat yang sangat jauh, yaitu negeri harapan tempat orang-orang buta dicelikkan matanya. Mereka akan berjalan melintasi tujuh lembah, tujuh hutan, tujuh gunung, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh benteng, tujuh samudera, tetapi sedikit pun mereka tidak mau bertanya kepada orang lain yang mereka jumpai di tengah perjalanan, karena mereka sangat yakin jika jalannyalah yang paling benar. Sungguh, musthawif sesat itu akan menyesatkan diri sendiri dan orang lain, seperti orang buta penunjuk jalan yang menyesatkan orang buta lainnya.”

“Untuk menghindari terjadinya pemberhalaan terhadap nama-nama tarekat yang berujung pada pemberhalaan mursyid, aku mengharap kepada guru-guru ruhani yang mempercayaiku untuk tidak terpaku pada salah satu nama tarekat. Itu sebabnya, guru-guru ruhani yang mengikuti jalanku menamai tarekat yang dipimpinnya dengan beragam nama: Akmaliyyah, Syattariyyah, Haqqmaliyyah, Khaliqiyyah, Kejawen, dan Sunda Wiwitan. Apa pun nama tarekat yang beragam itu, pada intinya semua terlarang memberhalakan nama masing-masing. Semua pengamal tarekat harus menghormati pengamal lain yang menempuh ‘jalan’ berbeda, sebagaimana Rasulullah Saw. Menghormati Uwaisy al-Qarny.”

“Aku beritahukan kepada kalian bertiga bahwa dengan beroleh taj dan khirqah ini, sesungguhnya tugas yang kalian pikul akan lebih berat. Sebab, kalian harus mentauhidkan berbagai adat istiadat dan kepercayaan jahil yang tumbuh semula maupun yang datang bergelombang-gelombang ke Nusa Jawa ini. Kalian harus berpacu dengan waktu untuk mengajarkan Tauhid kepada penduduk Nusa Jawa seluas-luasnya, sebelum kawanan serigala dan musang yang keluar dari bulu burung gagak datang dan menyerbu kediamanmu. Tugas utama kalian adalah meneruskan pembangunan benteng Tauhid yang dasar-dasarnya sudah dirintis oleh pejuang-pejuang Tauhid terdahulu. Kalian harus mengawal benteng itu dengan sebaik-baiknya sehingga saat datang waktunya, ketika kawanan serigala dan musang yang kelaparan menghampiri benteng yang kalian kawal, kalian tidak perlu syak dan ragu lagi menghadapi mereka, karena Yang Mahatunggal (al-Ahad), Penguasa Sejati benteng, akan melindungi benteng-Nya dan sekaligus menghalau makhluk-makhluk rendah yang mendekat dengan cara-Nya yang tak terpikirkan.”

“Aku beritahukan kepada kalian, kebanyakan runtuhnya benteng Tauhid bukanlah akibat serangan kawanan musuh dari luar. Sebaliknya, dinding-dinding benteng Tauhid sering kali dibongkar dan digali dari dalam oleh penghuni-penghuninya yang bodoh dan jahil. Lantaran itu, jagalah kebersihan benteng Tauhid yang kalian kawal. Jangan biarkan tikus-tikus tanah dan tikus-tikus air bersarang dan beranak-pinak di situ. Jangan biarkan retakan atau lubang menandai dinding benteng sehingga memungkinkan bagi hewan-hewan buas dari hutan dengan leluasa masuk ke dalam. Sebab, seekor saja di antara hewan-hewan buas itu masuk benteng maka inilah yang akan terjadi: dia akan menggigit penghuni benteng yang paling lemah. Mereka yang sudah terkena gigitan hatinya menjadi biru dan beku. Lalu mereka menjadi mayat-mayat , tubuh tak bernyawa, kerangka kosong tak berjiwa (ash-shuwar al-qa’imah) yang patuh terhadap semua perintah hewan buas.”

“Jika sebagian penghuni benteng Tauhid sudah menjadi mayat-mayat, tubuh-tubuh tak bernyawa, kerangka kosong tak berjiwa yang berkeliaran menakut-nakuti manusia seperti kawanan hantu, maka kawanan serigala dan musang akan datang menyerbu benteng dengan dipimpin rajanya. Mayat-mayat di dalam benteng akan membukakan gerbang. Atau, meruntuhkan dinding benteng dari dalam. Atau, membuat kekisruhan di dalam benteng hingga para penghuninya lari ke luar. Atau, menjadi penunjuk jalan bagi kawanan serigala melalui terowongan-terowongan yang dibuat tikus-tikus. Jika para serigala dan musang sudah menguasai benteng maka para penghuni benteng yang masih hidup akan mereka mangsa dan sisanya akan mereka jadikan budak. Harta benda dan segala jenis makanan simpanan di dalam benteng akan mereka jarah dan mereka usung ke negeri serigala. Lalu benteng itu akan dirajai oleh raja serigala. Lalu peraturan hukum di dalam benteng pun diganti menjadi peraturan serigala. Lalu, manusia-manusia penghuni benteng akan hidup menderita berkepanjangan.”

“Jika sebuah benteng Tauhid sudah dirajai serigala dan diatur dengan hukum serigala, maka sudah tidak bergunalah benteng itu sebagai tempat berlindung bagi kaum beriman yang bertauhid. Sebab, benteng itu sudah tidak pantas lagi disebut benteng Tauhid, persemayaman Yang Mahabenar (al-Haqq), Yang Tunggal (al-Ahad), Pemilik Kemuliaan dan Kesucian (dzul jalali wa al-ikram) karena penguasa dan penghuninya tidak lagi menebarkan rahmat bagi alam tetapi malah menebarkan kerusakan dan malapetaka dan kesengsaraan bagi makhluk sekitarnya. Lantaran itu, Dia, Yang Mahakuasa (al-Muqtadir), Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Maha Meberi Bahaya (adh-Dharr), Yang Maha Meruntuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), akan menghancurkan benteng celaka itu dengan cara mengirimkan makhluk-makhluk buas dan mengerikan. Makhluk-makhuk buas dan mengerikan itu akan bertarung dengan serigala-serigala dan musang-musang penguasa benteng. Di tengah pertarungan antarmakhluk buas itu, bertumbanganlah sisa-sisa manusia penghuni benteng seperti buah busuk berguguran dari pohon.”

Sebagaimana lazimnya mendengar wejangan ruhani seorang guru ruhani, Syarif Hidayatullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Raden Qasim tidak sedikit pun bertanya. Mereka hanya mendengar dan merenungkan makna dari ucapan-ucapan yang mereka dengar. Baru setelah Abdul Jalil usai menyampaikan wejangan, Syarif Hidayatullah bertanya tentang latar dianugerahinya mereka bertiga dengan taj dan khirqah sufi. Dengan suara menahan kegetiran dia bertanya, “Apakah Paman menganugerahi kami bertiga dengan taj dan khirqah ini dengan maksud agar kami pergi meninggalkan Caruban dan menjadi guru suci, susuhunan, di tempat yang jauh dari Caruban? Apakah itu berarti kami tidak perlu lagi melakukan perlawanan terhadap pasukan Galuh Pakuwan yang akan menyerbu kuta?”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Engkau masih belum melepaskan diri dari prasangka (zhan), o Anakku. Engkau masih dicekam oleh keraguan dalam menangkap sasmita Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya karena keterlibatan akal pikiranmu yang kuat. Padahal, dengan bersabar menggunakan piranti kalbu, yang menjadi takhta bagi penglihatan batin, engkau akan bisa menangkap sasmita itu. Bukanlah selama ini engkau sudah terbiasa menggunakan penglihatan mata batin? Kenapa sekarang tiba-tiba terpejam kembali?”

“Maafkan kami, Paman. Kami bingung akibat datangnya kabar buruk yang bertubi-tubi dari medan tempur. Kami tercekam dengan akal dan pikiran kami sehingga melalikan kalbu kami,” kata Syarif Hidayatullah mengiba.

“Bukankah aku telah mengajarkan engkau tentang bagaimana dengan al-ism al-‘azham yang paling rahasia, dan pengetahuan rahasia tentang Shifat dan Af’al-Nya, kita, manusia, bisa memohon kepada Dia, Tuhan Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Maha Melindungi, Yang Maha Membinasakan (al-Mumit), Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr), Yang Maha Meruntuhkan (al-Khafidh), untuk mengerahkan bala tentara-Nya (jundullah) yang gaib? Apakah engkau sudah melupakan itu semua?”

“Kami merasa bersalah, Paman. Kami bingung karena secara mendadak diserahi tugas menggantikan kedudukan ramanda khalifah. Dan tanpa kami sangka-sangka, tahu-tahu wilayah kami diserbu musuh dalam jumlah banyak. Sungguh, kami bingung dan sejauh ini kami hanya menggunakan naluri dan akal pikiran saja dalam memecahkan masalah.”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara ditekan ia berkata lantang, “Sekarang kalian berdua, Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim, berdoalah kepada-Nya dengan al-ism al-‘azham yang paling rahasia. Satukan kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya. Resapi kerahasiaan Shifat dan Af’al-Nya sampai kalian berdua merasakan kehadiran-Nya. Lalu, jika kalian sudah ‘sampai’, mintalah Dia agar mengirimkan bala tentara-Nya untuk memporak-porandakan pasukan Galuh Pakuwan.” Kemudian, dengan isyarah, ia mengajak Raden Mahdum Ibrahim meninggalkan Ndalem Pakungwati, menembus kegelapan malam yang diselimuti kabut tebal.

08. Bermula dari Kemenangan Tak Terduga

Awan putih berarak rendah di langit biru. Matahari bersinar terang di atas bukit-bukit yang membentang di kaki gunung Ciremai. Cahayanya yang kuning keperakan menyinari tanah basah berlumpur yang diguyur hujan semalaman. Di lereng gunung Gundul di sebuah hamparan tanah berumput alang-alang yang sudah diaduk-aduk dengan gumpalan tanah dan genangan air keruh, terbaring ribuan tubuh tak bernyawa terbalut lumpur dan dibasahi darah segar. Dilihat dari pakaian yang dikenakan dan panji-panji yang berserak di sekitarnya, tubuh-tubuh bergelimpangan tanpa nyawa itu adalah prajurit Galuh Pakuwan.

Suasana pagi itu, meski terang, terasa sangat mencekam. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya tubuh-tubuh manusia tak bernyawa yang bergelimpangan di antara bangkai-bangkai kuda dan gajah, tombak-tombak patah, perisai-perisai belah, pedang-pedang bertindihan, anak-anak panah bertancapan, dan panji-panji yang berserakan penuh lumpur. Sejauh telinga menguping tidak terdengar kicau burung atau suara margasatwa di sekitar tempat itu. Satu-satunya suara yang terdengar adalah dengung beribu-ribu kawanan lalat yang beterbangan mengerumuni mayat-mayat dan bangkai-bangkai hewan yang berserak.

Di tengah suasana mencekam, di antara hamparan tanah lumpur yang teraduk-aduk, di sela-sela tubuh-tubuh manusia tak bernyawa dan bangkai-bangkai yang berserakan, Abdul Jalil dan Raden Mahdum Ibrahim berdiri termangu-mangu sambil sesekali memuji kebesaran Ilahi karena mereka menangkap ‘bekas jejak’ Sang Maut melingkupi tempat itu. Tapi belum lama mereka meresapi ‘bekas jejak’ Sang Maut yang mengerikan itu, tiba-tiba dari arah puncak gunung terlihat iring-iringan orang menuruni jalanan berlumpur yang terjal. Iring-iringan itu tidak lain dan tidak bukan adalah prajurit dan pejuang Caruban yang terluka. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang. Sebagian di antara mereka adalah penduduk Kalisapu, Jatimerta, Babadan, dan Muara. Di antara mereka terlihat Syaikh Duyuskhani, Abdul Karim Wang Tao, dan Ki Anggasura yang terluka agak parah.

Ketika para prajurit dan pejuang Caruban itu melihat Abdul Jalil, mereka tampak terkejut dan terperangah kebingungan. Mereka saling pandang. Lalu, seperti tidak peduli dengan luka yang diderita dan rasa sakit yang dirasakan, mereka berhamburan menghapiri Abdul Jalil sambil berteriak-teriak kegirangan seperti anak kecil. Mereka berebut menyalami dan mencium tangannya. Sebagian lagi merangkul kaki Abdul Jalil dengan isak tangis dan yang lain menarik-narik jubahnya atau mengusap kakinya. Abdul Jalil yang heran melihat tindakan mereka, dengan suara ditekan tinggi bertanya, “Ada apa ini? Apa sesungguhnya yang telah terjadi sampai kalian bertindak berlebihan seperti ini?”

Para prajurit dan pejuang Caruban yang mengerumuni Abdul Jalil diam. Satu pun tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Sebaliknya, mereka malah bersujud beramai-ramai dan menangis terisak. Abdul Jalil yang terheran-heran melangkah ke depan mendekati Syaikh Duyuskhani sambil bertanya, “Apakah sesungguhnya yang telah terjadi, Tuan Syaikh? Kenapa mereka berlebihan seperti itu menyambut aku? Bukankah yang seharusnya dielu-elukan sebagai pahlawan adalah mereka?”

Syaikh Duyuskhani yang dipapah dua orang muridnya diam tak menjawab. Sejurus kemudian dia berkata, “Semalaman kami baru saja mengalami sebuah peristiwa yang sangat menggetarkan. Sebuah peristiwa ajaib yang tidak bakal kami lupakan seumur hidup.”

“Peristiwa ajaib apakah itu, o Tuan Syaikh?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Malam tadi, andaikata tidak terjadi keajaiban, kami semua tidak akan bertemu dengan Tuan Syaikh di sini,” papar Syaikh Duyuskhani menjelaskan peristiwa menggetarkan itu. Kemarin, sepanjang hari, langit terlihat redup dan suram, diliputi gumpalan awan hitam yang berdesak-desak dengan awan kelabu. Sejak pagi matahari tidak terlihat. Seperti redup dan suramnya langit itulah hati para prajurit dan pejuang Caruban. Sejak subuh, dengan perasaan tertekan, mereka menunggu datangnya badai pertempuran yang bakal melanda mereka. Perasaan mereka makin tertekan manakala di pagi yang suram itu terlihat lautan panji, bendera, umbul-umbul, dan tombak beriap-riap di lembah yang membentang di kaki selatan gunung Gundul, timbul tenggelam di tengah hamparan rumput alang-alang dan semak-belukar.

Sesungguhnya, perasaan tertekan itu bukan hanya dirasakan para prajurit dan pejuang Caruban. Para tetunggul Caruban pun diam-diam merasa tertekan luar biasa karena mereka harus bertempur tanpa didampingi pemimpin tertinggi yang mereka jadikan kiblat panutan: Sri Mangana. Jiwa mereka tertekan, keyakinan mereka goyah, dan semangat tempur mereka padam. Bahkan, tanpa sadar, tiba-tiba mereka semua merasakan semacam ketidakpedulian menjerat jiwa mereka, terutama akibat santernya kabar yang menyatakan bahwa Sri Mangana sebenarnya sudah tewas dibunuh menantunya. Mereka semua merasa tidak perlu lagi bertempur menghadapi musuh karena tidak ada lagi junjungan yang perlu mereka bela. Di tengah ketidakpedulian itu, mereka merasa seperti anak ayam kehilangan induk; anak ayam yang berciap-ciap dan berlari tak tentu arah mencari perlindungan saat diserang kawanan musang dan burung elang.

Di tengah suasana yang menekan itu, Angga, wali nagari Kuningan, manggalayudha Caruban, mengambil keputusan mengejutkan, yaitu menawarkan pertarungan antartetunggul. Pertempuran dua belah pihak yang hanya dilakukan oleh para tetunggul masing-masing tanpa melibatkan prajurit. Wali nagari Kuningan yakin, dalam pertarungan antartetunggul itu pihaknya akan meraih kemenangan karena memiliki pendekar-pendekar yang termasyhur kehebatannya di medan tempur. Tanpa syak sedikit pun ia percaya para tetunggul Caruban akan mudah mematahkan kehebatan tetunggul-tetunggung Galuh Pakuwan yang kebanyakan sangat mengandalkan ilmu kawedukan, ilmu karosan, pangerutan, dan pangabaran.

Dalam pertarungan itu, wali nagari Kuningan berhadapan dengan musuh lamanya, Adipati Kiban. Keduanya, adalah seteru lama yang saling berhasrat menghancurkan. Mereka bertarung sengit seperti harimau kelaparan dan banteng luka. Dalam sekejap, di tengah sorak-sorai prajuri kedua pihak, arena pertarungan berubah menjadi palagan menggetarkan. Serpihan tanah dan batu barhamburan di tengah kepulan debu yang bergumpal-gumpal. Kelebatan tubuh dan senjata beradu teraduk-aduk di tengah suara menggiriskan, seperti cangkul ditancapkan berulang-ulang pada tumpukan kerikil. Akibat sengitnya pertarungan, tanpa sadar keduanya telah berlaga keluar jauh dari arena. Beberapa puluh prajurit dari kedua pihak diperintah untuk mengikuti dan sekaligus mengawal dua orang manggalayuddha itu.

Selama menunggu akhir pertarungan wali nagari Kuningan dengan Adipati Kiban, Ki Anggasura maju ke tengah arena berhadapan dengan Ki Dipasara. Namun, jauh dari perhitungan wali nagari Kuningan, Ki Anggasura yang sejak awal sudah tertekan, semakin kehilangan semangat tempur dan ketrampilan bertarung sebelum tampil di palagan. Dalam dua tiga kali gebrakan, ia tumbang dengan luka tikaman di punggungnya. Ki Dipasara yang berada di atas angin tidak membunuhnya. Sebaliknya, dengan sikap jumawa dan merendahkan ia meminta para prajurit Caruban untuk membawa tetunggulnya itu ke belakang arena. “Obati lukanya. Kalau sudah sembuh suruh dia berguru lagi. Aku tunggu lima belas tahun lagi di sini untuk menjajal ilmunya.” Sekumpulan prajurit Caruban dengan muka merah karena menahan malu menggotong Ki Anggasura yang berlumuran darah.

Tampaknya, hari itu adalah hari keberuntungan bagi pihak Galuh Pakuwan. Dalam waktu hanya satu hari, mereka sudah memperlihatkan kehebatannya di arena pertarungan. Satu demi satu tetunggul Caruban yang maju ke tengah arena, tanpa kesulitan berarti dapat mereka kalahkan. Para tetunggul seperti Syaikh Magelung, Pangeran Karang Kendal, Pangeran Kapethakan, Pangeran Kandhayaksan, Ki Anggarunting, Li Han Siang, Haji Shang Su, Abdul Karim Wang Tao, Abdul Razak Wu Lien, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Demang Singagati, Tumenggung Jaya Orean, Abdul Qadir, dan Abdul Qahar al-Baghdady, bahkan Adipati Suranenggala yang diunggulkan, bertumbangan tak berdaya dikalahkan tetunggul-tetunggul Galuh Pakuwan. Tragisnya, sebagaimana sikap Ki Dipasara, para tetunggul Galuh Pakuwan yang lain sengaja tidak membunuh lawan, tetapi menghinakan mereka sebagai pecundang nista. Rupanya para tetunggul Galuh Pakuwan telah sepakat: tidak memberi kesempatan kepada pihak lawan untuk gugur sebagai ksatria di arena pertarungan, sebaliknya membiarkan mereka menjadi pecundang nista yang akan menanggung malu seumur hidup karena setelah kalah dihina dengan ejekan-ejekan merendahkan.

Ketika sangkakala dibunyikan pertanda pertarungan usai, terjadi kericuhan kecil saat sebagian prajurit Caruban terlibat tantang-menantang dengan prajurit Galuh Pakuwan. Lalu terjadi perkelahian kecil yang merembet menjadi besar, terutama ketika Sanghyang Gempol memerintahkan pasukan Galuh Pakuwan untuk menyerang perkemahan pasukan Caruban di puncak gunung Gundul. Beribu-ribu prajurit Galuh Pakuwan yang membawa obor mengepung puncak. Perlahan-lahan tetapi pasti, lautan obor yang memenuhi delapan penjuru lereng itu terus bergerak mengerucut ke atas laksana lautan api sabut yang belum terbakar.

Menyaksikan gelombang lautan api yang terus mengerucut, semua orang yang berada di puncak gunung dicekam rasa ketakutan, bahkan sebagian sudah putus asa. Semua sadar bahwa Sang Maut saat itu sudah terbang di angkasa merentangkan sayap-sayap-Nya yang setajam pedang. Semua sadar Kematian bakal datang secepat hitungan jari. Semua sadar, mereka hanya bisa menunggu. Menunggu. Menunggu. Bahkan, prajurit dan pejuang yang tak dapat menahan rasa takut dan putus asa berteriak-teriak meminta tolong kepada Sri Mangana dan Syaikh Lemah Abang. Di tengah hiruk pikuk teriakan para prajurit dan pejuang yang memanggil-manggil, disusul ledakan halilintar, disambung turunnya hujan deras, dan berembusnya badai. Obor-obor yang dibawa musuh padam, tersiram hujan. Lalu, terdengar teriakan dan jeritan dan caci maki musuh yang saling bunuh karena kegelapan malam dan hujan badai telah membutakan mereka.

Ketika semua orang Caruban terheran-heran menyaksikan musuh yang saling berperang sendiri itu, terjadi peristiwa ajaib yang tak kalah mengherankan. Tiba-tiba, terdengar seruan sambung-menyambung di tengah kegelapan yang menyatakan bahwa Sri Mangana telah muncul beserta bala bantuan dan menyerbu gunung Gundul dari lembah utara. Orang-orang Caruban yang memalingkan pandangan ke lembah utara melihat beribu-ribu titik api memenuhi lembah dan bergerak cepat ke selatan. Semangat pihak Caruban yang sudah surut mendadak berkobar kembali. Takbir dikumandangkan sahut-menyahut.

Di tengah hiruk suara takbir, tiba-tiba terdengar seruan-seruan lantang bersahutan yang memerintahkan pasukan Galuh Pakuwan untuk mundur. Seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, beribu-ribu prajurit Galuh Pakuwan yang saling bertarung itu berhenti serentak. Dan seperti dikomando, mereka berebut turun secara berbarengan. Lalu terjadilah malapetaka tak terduga: tanah polos yang memagari tebing-tebing di seputar gunung Gundul yang sudah basah oleh air hujan ternyata tidak kuat menahan beban. Di tengah berdesak-desaknya pasukan Galuh Pakuwan menuruni tebing-tebing tanah itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggiriskan. Rupanya, satu demi satu tebing tanah itu longsor menimpa apa saja yang berada di bawahnya dan mengubur apa saja yang tersambar oleh runtuhannya yang dahsyat. “Demikianlah, Tuan Syaikh, kami yang sudah terjepit antara hidup dan mati bisa lolos dari maut dan bahkan merebut kemenangan,” kata Syaikh Duyuskhani.

“Bukankah semua itu Af’al Allah dan tidak terkait dengan keterlibatan makhluk-Nya?”

“Bagi mereka yang sudah tinggi Tauhidnya, peristiwa itu memang merupakan perbuatan Allah mutlak. Tetapi bagi kebanyakan orang awam, terutama yang berada pada keadaan antara hidup dan mati, peristiwa semalam itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai keajaiban yang tidak bisa tidak mesti terkait dengan keterlibatan orang suci kekasih Allah. Sejak semalam, sebagian prajurit dan pejuang kita menganggap peristiwa ajaib itu terjadi berkat kekeramatan Tuan Syaikh. Sebab sambaran petir, curahan hujan, dan embusan badai itu terjadi saat mereka berteriak-teriak meminta pertolongan Tuan Syaikh. Sehingga, saat mereka turun dan kemudian mendapati Tuan Syaikh di tempat ini, mereka makin yakin bahwa kekeramatan Tuanlah yang telah menyebabkan keajaiban itu,” kata Syaikh Duyuskhani.

“Sesungguhnya, mereka telah terjebak ke dalam lingkaran prasangka-prasangka.”

“Tapi Tuan Syaikh, kami berharap Tuan tidak menafikan pandangan mereka itu dengan sikap yang keras. Kami berharap Tuan Syaikh berkenan memahami keadaan mereka yang belum sepenuhnya mampu mewadahi ajaran Sasyahidan yang Tuan ajarkan,” kata Syaikh Duyuskhani merendah.

Abdul Jalil menatap puncak gunung Gundul dan kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Berapakah jumlah pasukan Caruban yang semalam terkepung di puncak, Tuan Syaikh?”

“Kurang dari dua belas ribu orang, Tuan Syaikh.”

“Lalu pihak Galuh Pakuwan yang mengepung berapa jumlahnya?”

“Kami tidak bisa menghitung dengan pasti, Tuan Syaikh. Yang jelas, seputar gunung ini semalam sudah menjadi lautan api karena obor-obor yang dibawa prajurit Galuh tak terhitung jumlahnya.”

“Apakah pasukan Caruban masih di atas? Aku tidak melihat mereka.”

“Sejak subuh tadi Sri Mangana memimpin mereka ke Galuh Pakuwan.”

Sri Mangana, khalifah Caruban, selain dikenal sebagai negarawan ulung yang adil dan bijaksana, juga dikenal sebagai manggalayuddha gagah perkasa dan tak tertandingi dalam mengatur siasat perang. Hal itu paling tidak telah ia buktikan untuk kali ke sekian ketika pasukan Caruban yang sudah terkepung di puncak gunung Gundul, tetapi kemudian beroleh kemenangan tak terduga-duga.

Ketika pasukan Galuh Pakuwan masih sibuk menyelamatkan diri dari amukan alam yang mengerikan itu, diam-diam Sri Mangana memerintahkan beberapa prajuritnya untuk mengenakan pakaian prajurit Galuh Pakuwan yang tewas. Lalu, di tengah hiruk orang-orang yang berebut turun ke lembah di selatan gunung, prajurit-prajurit penyamar itu menyebarkan berita yang intinya: pasukan Galuh Pakuwan diperintahkan untuk menyusul Prabu Surawisesa ke Pakuwan Pajajaran, sebab ibu kota Galuh Pakuwan telah jatuh ke tangan Prabu Banyak Belanak, Yang Dipertuan Pasir Luhur, yang menyerbu kutaraja Galuh secara mendadak. Di tengah suasana hiruk yang membingungkan itu, baik prajurit maupun tetunggul Galuh Pakuwan ternyata percaya begitu saja dengan kabar itu. Dengan kalang-kabut dan tak teratur, masing-masing pasukan Galuh Pakuwan membentuk barisan-barisan dari prajurit-prajurit yang tersisa. Dengan buru-buru, satuan-satuan kecil itu bergerak ke arah barat, ke Pakuwan Pajajaran. Sementara, sebagian sisanya masih terlihat berkeliaran di kaki gunung Gundul, sibuk menolong kawan-kawannya yang terluka.

Selain memerintah prajurit untuk menyebar kabar palsu, Sri Mangana malam itu juga memerintahkan prajuritnya untuk membangunkan penduduk yang tinggal di sekitar gunung Gundul. Penduduk diminta keluar rumah dan mengibarkan kain apa saja yang mereka punyai sebagai bendera atau umbul-umbul di sepanjang jalan-jalan desa. Saat matahari terbit, pasukan Galuh Pakuwan yang masih berkeliaran di lembah selatan gunung Gundul terkejut menyaksikan bendera dan umbul-umbul aneka warna menghiasi segenap penjuru gunung. Mereka makin terkejut manakala menyaksikan hiruk pikuk pasukan Caruban yang turun dari puncak gunung sambil menggoyang-goyang panji-panji, bendera, dan tombak.

Siasat cemerlang Sri Mangana ternyata membuahkan hasil mengejutkan. Dalam waktu singkat, tanpa menumpahkan darah setetes pun, pasukan Galuh Pakuwan terusir tanpa sisa. Hanya tubuh-tubuh tak bernyawa dan bangkai-bangkai hewan yang menebarkan bau anyir yang menampakkan sisa keberadaan pasukan Galuh Pakuwan di situ. Saat pasukan Galuh Pakuwan tersuruk-suruk menyusuri jalan yang melintasi lembah-lembah, bukit-bukit, dan hutan-hutan menuju Pakuwan Pajajaran, orang melihat Sri Mangana beserta sebelas ribu pasukannya beriringan melintasi lembah dan bukit-bukit yang membentang di selatan gunung Gundul. Bagaikan ular raksasa menerobos rimbunan hutan dan belukar, iring-iringan pasukan Caruban bergerak cepat ke arah timur dan kemudian berbelok ke selatan. Setelah bergerak tanpa henti selama sehari dan semalam, pada hari ketiga iring-iringan terlihat menyeberangi sungai Sanggarung.

Selama perjalanan ke selatan tanpa kenal istirahat itu, iring-iringan pasukan Caruban terlihat bertambah panjang. Setiap kali melewati desa-desa di kawasan perbatasan selatan, pasukan selalu mendapat tambahan warga desa yang dipimpin kuwu masing-masing. Saat iring-iringan pasukan itu berhenti di sisi utara sungai Julang, jumlahnya sudah membengkak dari sekitar sebelas ribu menjadi dua puluh ribu orang. Meski jumlahnya semakin besar, iring-iringan itu bergerak tanpa suara. Para prajurit dan pejuang sepanjang perjalanan tidak berbicara. Derap langkah kaki pun terdengar ringan. Bahkan, keempat kaki kuda-kuda tunggangan para tetunggul dibebat kain supaya tidak menimbulkan suara.

Memasuki hari keempat, setelah melintasi bukit-bukit terjal di gunung Manik, iring-iringan pasukan Caruban berhenti di Padahurip, di utara sungai Julang. Sri Mangana memerintahkan pasukan untuk beristirahat di situ. Namun, saat malam menjelang ia memerintahkan Abdul Halim Tan Eng Hoat, Pangeran Karang Kendal, dan Syaikh Magelung untuk pergi ke Tangkolo dengan membawa tiga ribu pasukan yang sebagian besar berasal dari Kendal. Mereka ditugaskan merebut kubu pertahanan Galuh Pakuwan di Situmandala, yang letaknya di sisi selatan sungai Julang. Selama penyerangan itu semua diperintahkan untuk berbicara dan memberi aba-aba dalam bahasa Jawa.

Gerakan senyap pasukan Caruban ke Tangkolo tidak diketahui pasukan Galuh Pakuwan yang mempertahankan kubu Situmandala. Saat dinihari ketika permukaan bumi diselimuti kabut tebal, sewaktu iring-iringan tiga ribu orang pasukan Caruban bergerak menyeberangi sungai Julang, tidak sedikit pun menimbulkan kecurigaan pihak Galuh Pakuwan bahwa musuh bakal datang. Itu sebabnya, ketika pasukan Caruban menyerang kubu saat subuh, pasukan Galuh Pakuwan yang sedang mendengkur sangat terkejut. Tanpa perlawanan berarti, kubu Situmandala jatuh. Sekitar tujuh ratus orang prajurit ditawan. Yang lain sengaja dibiarkan meloloskan diri.

Setelah merebut Situmandala, pasukan Caruban pada pagi hari hingga siang merebut Patakarajya, Rancah, dan Kawunglarang tanpa perlawanan. Serangan mendadak pasukan Caruban ini ternyata menimbulkan kegemparan di kutaraja Galuh Pakuwan. Laporan-laporan yang disampaikan prajurit-prajurit dari kubu Situmandala yang lolos menyebutkan para penyerbu menggunakan bahasa Jawa dengan logat aneh. Prajurit dari Patakarajya serta penduduk Rancah dan Kawunglarang pun menyampaikan laporan yang sama. Tidak syak lagi, Prabu Surawisesa dan para menterinya menganggap penyerangan itu dilakukan Prabu Banyak Belanak dari Pasir Luhur.

Di tengah kegemparan kabar serbuan orang-orang Pasir Luhur, terjadi sesuatu yang lebih menggemparkan. Ketika matahari naik sepenggalah, sewaktu prajurit-prajurit Galuh Pakuwan sedang memperkuat pertahanan di sekitar Kraton Surawisesa, tersiar kabar bahwa Sri Mangana dengan pasuka Caruban yang berjumlah sekitar lima puluh ribu orang menyeberangi sungai Julang dan langsung merebut pertahanan Galuh Pakuwan di kubu Karangpaningal. Prajurit-prajurit dari kubu Karangpaningal yang berhasil lolos melaporkan jika pasukan Caruban saat itu sedang bergerak ke Kraton Surawisesa.

Prabu Surawisesa terperangah kaget mendengar kabar serangan bertubi-tubi itu. Ia tidak pernah menduga jika penguasa Pasir Luhur dan penguasa Caruban bakal berkomplot untuk menyerang kratonnya dalam waktu bersamaan. Padahal, seluruh kekuatan Galuh Pakuwan saat itu sedang dipusatkan di Caruban. Itu sebabnya, dengan terburu-buru ia mengumpulkan para menteri dan penasihat untuk membicarakan masalah pelik itu. “Apa yang bisa kita lakukan sekarang ini? Seluruh pasukan kita berada di Caruban dan kabarnya sudah dikalahkan. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Prabu Surawisesa kebingungan.

Para menteri dan nayaka Galuh Pakuwan tidak dapat menjawab pertanyaan junjungan mereka. Mereka pun saat itu sedang dicekam ketakutan dengan datangnya kabar bertubi-tubi serangan dari Caruban dan Pasir Luhur. Akhirnya, dalam pertemuan singkat itu, semua yang hadir termasuk Prabu Surawisesa tidak memiliki pilihan lain kecuali dengan tegas mengambil satu keputusan: menyingkir dari kutaraja Galuh Pakuwan secepat-cepatnya sebelum musuh datang menyerang. Demikianlah, dengan dikawal sekitar dua ribu pasukan, Prabu Surawisesa dan keluarga serta pejabat Galuh Pakuwan meninggalkan kutaraja. Dengan menyusuri jalan berliku di lereng selatan gunung Sawal, iring-iringan penguasa Galuh Pakuwan itu bergerak ke barat menuju Pakuwan Pajajaran.

Ketika Sri Mangana dan pasukan Caruban memasuki kutaraja dan menduduki Kraton Surawisesa, mereka mendapati kraton itu dalam keadaan kosong dan semrawut. Peti-peti perhiasan, cerana dan piring berlapis emas, bertumpuk-tumpuk kain, ikatan-ikatan naskah rontal, dan karas tanah terlihat berserakan di halaman beserta busur, perisai, pedang, tombak, dan tahi kuda. Sementara kayu-kayu dan tali-temali yang bakal dijadikan alat pertahanan berserakan di berbagai sudut kraton menambah kesemrawutan. Rupanya, Prabu Surawisesa lari dari kratonnya dengan terburu-buru sehingga banyak barang bawaannya yang tertinggal. Sekitar lima-enam orang dayang-dayang masih membawa cerana, cermin, dan alat-alat rias.

Setelah seluruh tempat di kutaraja Galuh Pakuwan terkuasai, siang itu juga Sri Mangana memaklumkan wilayah Galuh Pakuwan sebagai bagian dari kekuasaan Caruban dengan batas-batas sesuai yang berlaku atas wilayah Galuh Pakuwan sebelumnya, yaitu batas timur dari gunung Gunatiga di utara sampai ke muara sungai Tanduy di selatan. Batas selatan samudera. Batas barat gunung Cakrabuwana di utara dan muara sungai Panerang di selatan. Dengan demikian, seluruh wilayah kekuasaan Caruban sudah terpisah sedemikian rupa dengan wilayah kerajaan Sunda, laksana buah semangka dibagi dua. Batas wilayah Caruban di utara sepanjang sungai Cimanuk dan berakhir di sungai Panerang yang bermuara di samudera raya. Sebagaimana yang berlaku di Rajagaluh dan Talaga, penaklukkan Galuh Pakuwan itu ditandai dengan pembagian tanah kepada seluruh penduduk yang bersedia menaungkan diri di bawah lindungan khalifah Caruban Sri Mangana.

Bermula dari kemenangan beruntun pasukan Caruban, yang ditandai dengan awal kemenangan tak terduga di puncak gunung Gundul, terjadilah sesuatu yang membingungkan dan sekaligus merisaukan Abdul Jalil. Di tengah semarak kabar kemenangan tak terduga pasuka Caruban di gunung Gundul, tersebar di bawah permukaan tentang kabar burung yang menyatakan bahwa kemenangan ajaib itu adalah berkat kekeramatan Syaikh Lemah Abang. Lalu, seperti hempasan air bah tak terbendung, kabar burung itu dengan deras melanda seluruh negeri. Tanpa ada yang menduga sebelumnya, tiba-tiba kediaman Abdul Jalil di Lemah Abang diserbu beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang dari berbagai tempat yang memiliki tujuan utama: mencari berkah keselamatan dan bermacam-macam keperluan lain.

Ketika Abdul Jalil melihat orang-orang yang bergerombol mengerumuni kediamannya makin lama makin beriap-riap, ia menangkap sasmita tidak baik tentang bakal terjadinya sesuatu yang tidak diharapkannya. Sambil mengelus-elus janggutnya, ia menyapukan pandangan ke kerumunan orang di sekitarnya. Lalu dengan suara lain ia berbisik kepada Ki Luwung Seta, yang duduk di sampingnya, “Betapa aneh orang-orang yang kusaksikan hari ini. Wajah mereka sedungu keledai. Punggung mereka sebongkok unta. Kaki mereka sependek kura-kura. Tangan mereka sepanjang lutung. Suara mereka separau bebek. Apa yang membuat mereka beriap-riap datang ke gubukku?”

“Mereka menginginkan berkah keselamatan dari Kangjeng Syaikh,” sahut Ki Luwung Seta lirih.

“Sungguh celaka jika keinginan mereka itu dikabulkan,” gumam Abdul Jalil tiba-tiba menyaksikan seluruh pemandangan di sekitarnya berubah dalam beberapa kejap. Ia menyaksikan rumah-rumah berubah menjadi gundukan tanah kering dan batu-batu sungai. Pohon-pohon berubah menjadi tanah kering berwarna merah dan hitam. Sementara mendung kelabu yang menggantung di langit berubah menjadi gumpalan hitam seolah gunung batu digantung di awang-awang.

Ketika pemandangan mengerikan yang melintas sesaat itu telah berganti semula, Abdul Jalil berdiri dengan perasaan berat. Dengan langkah goyah ia melangkah ke arah masjid. Namun, baru berjalan beberapa langkah, orang-orang yang berkerumun di gubuknya tiba-tiba menyerbu. Mereka berebut mendekati Abdul Jalil. Ada yang menyalami dan menciumi tangannya. Ada yang merangkul dan mencium lututnya. Ada yang mengelus dan mencium kakinya. Ada yang menarik jubahnya. Bahkan, ada yang mencium bekas tapak kakinya.

Abdul Jalil terhenyak kaget. Ia tiba-tiba merasakan malu menerkam jiwanya. Ia malu melihat perilaku orang-orang yang menurutnya jauh dari kepantasan orang-orang beriman. Ia memalingkan pandangan dan berusaha lari cepat-cepat meninggalkan tempat laknat itu. Namun, gerakan tubuhnya terhalang kerumunan orang-orang. Malah dari kerumunan orang-orang itu terdengar suara aneh yang gaduh, seperti beribu-ribu suara bebek di tengah ringkikan kuda dan suara burung hantu. Dan lamat-lamat, suara aneh yang gaduh itu terdengar berbunyi:

“Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Limpahi kami berkah keselamatan! Limpahilah kami berkah rezeki! Limpahilah kami berkah kesehatan! Limpahilah kami berkah kekayaan! Limpahilah kami berkah kemuliaan! Limpahilah kami berkah keagungan!”

Abdul Jalil merasakan bulu kuduknya meremang mendengar suara-suara aneh itu. Ia merasakan dadanya tiba-tiba menggelegak seperti air direbus di ketel. Ia merasakan darahnya memuai. Namun, ia berusaha menahan gejolak jiwanya yang membakar itu. Ia menahan. Menahan. Dan hasilnya, ia merasa betapa kebingungan dan kerisauan tiba-tiba melingkar-lingkar bagaikan benang kusut menjerat kesadarannya. Kemudian, dengan hentakan kuat ia mendorong orang-orang yang mengerumuninya sambil berteriak lantang, “Tahukah engkau siapakah aku ini?”

“Kangjeng Syaikh Lemah Abang!” terdengar sahutan serempak.

“Syaikh Lemah Abang hanyalah nama,” Abdul Jalil terhenyak dan kemudian berkata dengan suara ditekan rendah, “Sewaktu-waktu aku bisa mengganti nama itu dengan nama lain. Engkau pun bisa menunjuk orang ini dan itu dengan nama Syaikh Lemah Abang. Semua orang di antara kalian boleh memakai nama Syaikh Lemah Abang. Tetapi, hendaknya kalian tahu bahwa Syaikh Lemah Abang juga memiliki nama lain pemberian guru agungnya, Syaikh Datuk Kahfi, yaitu Sang Pajuningrat, baji pembelah dunia.”

“Kenapa Syaikh Lemah Abang dinamai Sang Pajuningrat? Sebab, dengan baji ia diharapkan dapat membelah kerasnya hati manusia yang melebihi keras biji kemiri. Dengan baji, ia diharapkan dapat menumbangkan pohon-pohon kemusyrikan di dalam jiwa manusia. Dengan baji, ia diharapkan menghancurkan berhala-berhala sesembahan baik dari kayu pahatan, batu pahatan, maupun manusia pahatan. Dengan baji, ia diharapkan dapat memisahkan benalu kemusyrikan dari pohon Tauhid. Dan apa yang diharapkan dengan nama Pajuningrat itu telah aku genapi. Telah kubersihkan dan kusucikan Pohon Tauhid dari benalu kemusyrikan dan pemberhalaan.”

“Kini, engkau semua telah mengaku-aku sebagai murid-murid Syaikh Lemah Abang, Sang Pajuningrat. Engkau datang berduyun-duyun ke gubukku untuk meminta berkah keselamatan dariku. Aku tidak keberatan engkau semua mengaku-aku muridku. Tetapi, hendaknya engkau semua memahami dan mengamalkan ajaran inti yang kusampaikan. Tahukan engkau semua apakah ajaran inti Sang Pajuningrat? Pertama-tama, Sang Pajuningrat berkewajiban menjaga dan memelihara pertumbuhan Pohon Tauhid. Lalu, membersihkan Pohon Tauhid dari benalu-benalu dan hama kemusyrikan. Lalu, membagi-bagikan buah Tauhid sebagai rahmat kepada seluruh makhluk. Lalu, menanam benih-benih Tauhid di tempat-tempat lain agar tumbuh Pohon Tauhid yang lain.”

“Aku tegaskan kepada engkau semua dengan setegas-tegasnya, berkah yang akan aku berikan kepada murid-murid dan pengikutku bukanlah berkah khayal seperti yang dibayangkan orang kebanyakan. Berkah yang akan aku wariskan adalah berkah dalam bentuk nama Pajuningrat. Siapa saja di antara manusia yang mengaku sebagai murid atau pengikutku, hendaknya bersedia menjadi paju. Baji. Alat pembelah yang digunakan untuk mengawal kesucian Pohon Tauhid. Dengan demikian, jika satu saat nanti engkau semua mendapati siapa saja di antara manusia, termasuk orang yang menggunakan nama Syaikh Lemah Abang, disucikan dan dijadikan berhala sesembahan manusia, maka kewajiban kalianlah sebagai pemegang baji untuk menumbangkan dan meratakannya dengan tanah.”

Orang-orang yang berkerumun menyibak seolah memberi jalan untuk Abdul Jalil. Namun, saat Abdul Jalil melangkah, terdengar mereka berceloteh gaduh. Lalu, dengan berdesak-desak mereka berebut kembali mendekati Abdul Jalil. Sambil berteriak-teriak gaduh mereka mendesak-desak, mendorong-dorong, menindih-nindih, menarik-narik tubuh kawannya agar mereka dapat mendekati Abdul Jalil.

Celoteh-celoteh gaduh itu lamat-lamat terdengar berbunyi, “Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Kami memohon limpahan berkahmu! Kami tidak paham fatwamu! Kami tidak mampu menangkap butir-butir mutiara yang berhamburan dari mulutmu!”

Abdul Jalil termangu-mangu memandang orang-orang yang berebut mendekati dirinya. Ia memandang mereka seperti seekor elang memandang kerumunan anak ayam yang menciap-ciap ditinggal induknya. Ingin sekali rasanya ia menyantap anak-anak ayam itu, mengunyah, dan memamahnya sampai lembut lalu mengalir ke dalam darahnya. Ia ingin mengajak anak-anak ayam itu terbang ke angkasa menikmati kebebasan jiwa. Namun, anak-anak ayam itu terlalu lama menjadi anak ayam yang kecil, lembut, tak berdaya, dan butuh perlindungan. Mereka tidak mampu menangkap makna di balik suara jeritan elang, kecuali mendengarnya dengan rasa takut berlebih. Mereka hanya bisa menangkap makna suara ayam. Di tengah kerumunan anak-anak ayam itu, Abdul Jalil bersikukuh meyakinkan diri bahwa ia adalah elang perkasa yang sekali-kali tidak akan menjadi induk ayam meski untuk alasan luhur: melindungi anak-anak ayam tak berdaya.

Kedatangan beribu-ribu orang kegubuk Abdul Jalil ternyata tidak cukup meminta berkah keselamatan. Beberapa di antara mereka, yang umumnya datang dari tempat jauh, diam-diam berusaha memanfaatkan keadaan dengan menempatkan diri sebagai bujang Abdul Jalil. Tanpa malu sedikit pun mereka mengaku sebagai pembantu dan bahkan murid terkasih Syaikh Lemah Abang. Lalu dengan kesempitan wawasan yang menyedihkan, mereka menirukan semua kata, wejangan, dan fatwa Syaikh Lemah Abang. Untuk meyakinkan orang, dengan bekal pikiran picik dan diliputi khayalan-khayalan naif, mereka mengarang-ngarang cerita berlebihan tentang kekeramatan Syaikh Lemah Abang.

Sadar sesuatu sedang terjadi pada dirinya, sepekan setelah kediamannya yang terletak di samping masjid Lemah Abang itu diserbu ribuan orang yang meminta berkah keselamatan, Abdul Jalil diam-diam mengajak istri dan anaknya pergi ke kuta Caruban untuk menghadap Sri Mangana dan Nyi Indang Geulis di Pekalifahan. Di hadapan ayahanda dan ibunda asuh yang sangat dihormati dan dimuliakannya itu, ia menyembah dan berpamitan akan pergi meninggalkan Caruban dalam waktu yang tak terbatas. Sri Mangana dan permaisuri terkejut mendengar permintaan pamit Abdul Jalil yang tak terduga-duga itu.

Nyi Indang Geulis termangu-mangu dengan dada turun naik seperti menahan sesuatu yang berat. Sri Mangana, yang masih terlihat lelah setelah perjalanan kembali dari Galuh Pakuwan, dengan suara tersekat di leher bertanya lirih, “Kenapa engkau begitu terburu-buru meninggalkan negerimu, o Puteraku? Kenapa engkau tiba-tiba meninggalkan bangunan masyarakat yang sudah tegak dengan megah di negerimu ini? Kenapa engkau meninggalkan apa yang telah engkau rintis dengan susah payah, o Puteraku?”

“Mohon ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” Abdul Jalil menyembah. “Sesungguhnya, ananda merasa berat hati meninggalkan Caruban, tanah tumpah darah ananda. Ananda merasa sedih harus berpisah dengan orang-orang yang ananda cintai. Ananda merasa berduka karena meninggalkan tatanan masyarakat ummah yang sudah terbentuk dengan baik ini. Tetapi, demi menghindari kesesatan umat akibat munculnya berhala baru, ananda dengan perasaan berat terpaksa harus meninggalkan Caruban. Sungguh, semua ini ananda lakukan semata-mata demi tetap terpeliharanya kemurnian ajaran Tauhid yang telah tumbuh subur di negeri ini.”

“Apakah yang engkau maksud dengan berhala baru itu, o Puteraku?” Sri Mangana heran, “Dan kenapa engkau malah menghindar darinya?”

“Sesungguhnya, yang ananda maksud berhala baru itu tidak lain dan tidak bukan adalah ananda sendiri. Lantaran itu, tidak ada pilihan lain bagi ananda untuk menghancurkan berhala itu kecuali pergi meninggalkan tanah kelahiran ananda. Ananda akan pergi karena orang-orang berdatangan ke kediaman ananda dengan tujuan utama menjadikan ananda berhala sesembahan,” kata Abdul Jalil tegas.

“Kenapa engkau merasa dirimu diberhalakan?” tanya Sri Mangana ingin penjelasan.

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu. Telah hampir sepekan ini kediaman ananda di Lemah Abang didatangi beribu-ribu orang dari berbagai tempat yang jauh. Mereka meminta berkah dan keselamatan dari ananda. Mereka menganggap ananda adalah wali Allah yang keramat yang bisa memberikan macam-macam manfaat bagi manusia. Bahkan, sebagian di antara mereka mengaku-aku sebagai murid, bujang, dan pengikut ananda. Mereka kemudian membesar-besarkan cerita bahwa kemenangan Caruban atas Galuh sejatinya disebabkan keramat ananda. Mereka bahkan mengarang-ngarang cerita takhayul murahan tentang kekeramatan ananda. Mereka sejatinya adalah pembohong-pembohong celaka karena telah menebarkan racun kejahilan ke tengah umat manusia.”

“Racun kejahilan yang ditebar oleh para pembohong itu, ternyata begitu dahsyat akibatnya. Seperti kawanan lalat mengerumuni bangkai, beribu-ribu orang berdatangan dan mengerumuni ananda. Seolah-olah ananda ini dewa. Mereka berdesakan mengerumuni ananda. Mereka berlomba mencium tangan, lutut, kaki, dan jubah ananda, seolah-olah pada diri ananda ini terdapat pancaran berkah gaib. Tindakan orang-orang itu sungguh berlebihan. Mereka sudah memberhalakan makhluk. Ananda telah berusaha mengusir mereka baik dengan cara halus maupun kasar, tetapi mereka terus berkerumun mengitari ananda seolah-olah ananda ini benar-benar bangkai busuk yang pantas dikerumuni lalat. Sungguh, Ramanda Ratu, paduka telah memahami bagaimana isi kepala dan isi hati ananda. Perbuatan orang-orang itu sungguh telah melukai jiwa ananda.”

Sri Mangana menarik napas berat dan menunduk. Setelah itu, dengan suara berat ia berkata, “Aku memang sudah mendengar kabar tentang kedatangan orang-orang dari penjuru negeri ke kediamanmu di Lemah Abang. Aku berpikir bahwa apa yang engkau alami itu adalah kehendak Allah semata. Aku tidak berprasangka lain kecuali menganggap bahwa semua itu adalah anugerah dari Allah.”

“Ananda justru merasa berkewajiban untuk secepatnya mengambil langkah tegas. Sebab, terlambat sedikit saja ananda bertindak tentu akan terjadi kekisruhan yang bakal merusak tatanan masyarakat ummah yang sudah terbangun dengan baik selama ini.”

“Bagaimana engkau bisa berpikir bahwa hal itu bisa menimbulkan masalah seserius itu?”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil dengan suara lain, “Jika ananda membiarkan orang-orang dari berbagai penjuru negeri berdatangan mengeramatkan ananda, bukan saja hal itu akan melahirkan berhala baru yang disebut Syaikh Lemah Abang. Sebaliknya, yang tak kalah membahayakan, hal itu bakal menjadi penyebab lahirnya matahari kembar di atas langit Caruban. Matahari yang satu memancar di Lemah Abang. Matahari yang lain memancar di Pekalifahan Caruban. Dan, kalau sudah seperti itu maka rusak binasalah tatanan masyarakat ummat yang dengan susah payah sudah ananda tegakkan, warga masyarakat yang sudah menerima ajaran Sasyahidan pun pada gilirannya akan ikut terpengaruh memberhalakan ananda sehingga Tauhid mereka yang sudah bersih itu akan rusak kembali.”

Sri Mangana diam. Ia memejamkan mata dan menarik napas berat berulang-ulang. Nyi Indang Geulis yang sejak tadi diam, dengan mata berkaca-kaca bertanya, “Akan pergi ke manakah engkau, o Puteraku?”

“Ampun seribu ampun, Ibunda Ratu,” Abdul Jalil menyembah dan berkata, “Ananda akan pergi ke mana pun aliran sungai nasib membawa ananda. Ananda hanya memohon doa dan restu Ibunda Ratu.”

“Doaku selalu menyertai ke mana pun engkau pergi, o Puteraku. Tetapi, apakah istri dan puteramu akan engkau bawa serta?”

“Ananda hanya pergi didampingi istri, Ibunda Ratu. Putera ananda, Bardud, akan ananda serahkan pengasuhan dan pengajarannya kepada menantu paduka, Syarif Hidayatullah.”

“Bagaimana dengan Zainab, puterimu?”

“Ananda telah menyerahkan semua urusan tentang dia kepada menantu paduka, Syarif Hidayatullah. Perlu ananda beri tahukan kepada Ibunda Ratu bahwa Zainab akan ananda nikahkan dengan Raden Sahid putera adipati Tuban. Soal pernikahannya, telah ananda serahkan sepenuhnya kepada menantu paduka pula,” kata Abdul Jalil.

“Sampai kapankah engkau meninggalkan Caruban, o Puteraku?”

“Ananda tidak tahu pasti, Ibunda Ratu. Ananda sudah bertekad tidak akan kembali ke Caruban jika citra ananda sebagai berhala belum pudar. Bahkan andaikata ananda kembali pun, ananda tidak akan lagi disebut orang dengan nama Syaikh Lemah Abang. Nama itu bagi ananda sudah mati dan harus dikubur dalam-dalam di dasar bumi.”

09. Berbagi Keberlebih-Kelimpahan

Setelah meninggalkan Caruban, tanah kelahiran yang telah mengukir beribu-ribu kenangan manis dan pahit, Abdul Jalil dengan didampingi Shafa, istrinya, pergi ke pedalaman Nusa Jawa, dengan mula-mula memasuki tlatah Galuh Pakuwan yang sudah menjadi bagian Caruban. Hari-hari dan pekan-pekan selama perjalanan dilaluinya dalam kesendirian dua anak manusia, yang seperti leluhurnya, Adam dan Hawa, hidup berdua di alam perawan berkawan burung-burung dan margasatwa yang bergembira menyanyikan senandung Kehidupan memuji Yang Mahahidup. Lalu, tanpa sadar ia merasakan semacam pesona Kehidupan surgawi: bentangan gunung dan bukit, lembah dan ngarai, jeram dan aliran sungai, padang rumput dan hutan perawan dengan gemericik air, kicau burung, jerit margasatwa, dengung serangga, ranum buah-buahan, wangi bunga-bunga, harum ilalang, dan segar embun yang memukau kesadaran manusiawi.

Abdul Jalil yang selama bertahun-tahun terseret pusaran arus Kehidupan, teraduk-aduk di tengah gelombang perubahan yang diciptanya, tertegun dan tersilap oleh pesona ketenang-tenteraman alam yang membentangkan keindahan ciptaan Ilahi tak tergambarkan. Setiap pagi menjelang, ketika matahari merekah diufuk timur dan hangat cahayanya mengangkat gumpalan kabut dari permukaan bumi, ia menghirup keharuman napas hutan yang wangi. Ia menangkap kebijaksanaan hutan mengalir memenuhi jiwanya, laksana mata air memenuhi telaga dan mengalir ke sungai. Setiap siang membentangkan cakrawala, ketika burung-burung beterbangan dan margasatwa berkejaran mencari makan, ia menyantap buah-buahan hutan dan meminum madu hutan yang menyegarkan kesadaran manusiawinya. Setiap malam datang mengerudungi bumi dengan selimut hitam, ketika hewan malam bersenandung merindukan bulan dan bintang-bintang, ia menikmati hangatnya pelukan Sang Kekasih yang acapkali kerahiman-Nya mengejawantah dalam wujud manusiawi sang istri: Shafa.

Di tengah hamparan alam bebas, Abdul Jalil merasakan kebebasan elangnya terbang tinggi di angkasa meninggalkan hiruk pikuk kehidupan di bumi. Ia terpesona oleh keleluasaan langit ruhani yang membentangkan kesunyian tanpa batas. Ia terpesona oleh citra keperawanan alam yang telanjang, seolah melemparkannya ke gugusan ingatan purba kehidupan manusiawi leluhur, Adam dan Hawa. Di tengah keterpesonaan itu, ia bersyair memuji Keagungan dan Kemuliaan Sang Pencipta. Suaranya yang merdu tetapi tegar menggema di tengah suara alam yang mendendangkan nyanyian pepujian atas Keagunngan Sang Pencipta.

Wahai Kekasih / di dalam hutan rimba-Mu / di tengah hewan-hewan-Mu / di tengah alam ciptaan-Mu / Engkau limpahkan kenyamanan melebihi kuta, desa dan gubukku // seluruh makhluk ciptaan-Mu / hadir telanjang tanpa topeng-topeng / nyanyian pepujian yang mereka lantunkan memuji-Mu / polos dan terbuka tanpa polesan / merdu tanpa kepalsuan // di hutan bebas inikah kediaman akhirku di dunia? / di alam bebas inikah elangku bisa terbang tinggi menggapai citra hampa-Mu? / di sini, dihutan-Mu, aku bersimpuh tanpa daya menghadap-Mu / aku persembahkan diriku, utuh, meski kehidupan palsu duniawi telah mencabik-cabik jiwaku //

Keindahan alam ciptaan Ilahi bagaimanapun bukanlah sesuatu yang langgeng. Baik keindahan alam yang terbentang maupun makhluk yang terpesona memandangnya, semua tidaklah abadi. Semua terbatas dan dibatasi oleh waktu yang ganas yang selalu menghancurkan tiap-tiap ciptaan tanpa belas kasihan. Keindahan bumi, bulan, bintang, matahari, hewan, manusia, bahkan surga pun pasti berakhir jika waktunya tiba. Hanya keindahan Sang Penguasa waktu yang selalu kekal dan abadi. Sebagaimana hukum alam (sunnatullah) yang berlaku, keindahan perjalanan Abdul Jalil yang memesona laksana perjalanan di surga itu pun akhirnya berakhir sesuai waktunya.

Ketika suatu pagi Abdul Jalil berjalan ke sungai kecil berair jernih untuk mengambil air dengan tabung bambu, tiba-tiba ia tersentak kaget ketika melihat bayangannya terpantul di permukaan air. Ia merasakan sekujur tubuhnya gemetar dan dadanya berdegup keras. Ia menajamkan pandangan. Jelas sudah, bayangan itu bukan bayangan dirinya: wajah sangar, kulit gelap, tubuh bongkok, tangan sangat panjang sampai melebihi lutut, mata terbelalak lebar, hidung besar, dan mulut jelek dengan gigi tak beraturan. Lalu, bayangan itu secara menakjubkan bangkit dari dalam air tanpa basah tubuhnya. Tanpa mengucap salam atau memperkenalkan diri, bayangan manusia buruk rupa itu sekonyong-konyong bertanya, “Siapakah engkau, o manusia jelek pengambil air?”

Terheran-heran Abdul Jalil menajamkan pandangan untuk menegaskan sosok bayangan itu. Dengan suara bergetar ia berkata, “Aku seorang pengembara papa bernama Abdul Jalil. Asalku dari Caruban Larang. Balik, siapakah engkau ini, o makhluk yang muncul dari air?”

“Aku? Namaku Abdul Jalil seperti engkau. Asalku juga dari Caruban Larang. Tapi aku tidak mengenalmu. Perwujudanmu sangat buruk, sampai-sampai hatiku gemetar ketakutan melihat sosokmu.”

“Engkau mengatakan perwujudanku buruk?”

“Ya, engkau manusia buruk rupa. Kenapa? Apakah engkau tidak sadar jika perwujudanmu sangat buruk dan menakutkan? Apakah engkau tidak melihat keberadaan bayangan dirimu yang palsu? Aku tahu siapa engkau sebenarnya. Engkau adalah makhluk jejadian yang membayangkan keberadaan dirimu sebagai Abdul Jalil, guru manusia asal Caruban Larang. Padahal, engkau hanyalah orang yang terseret angan-angan kosongmu menjadi orang lain. Engkau terperangkap khayalan nirwujudmu. Engkau tidak mengenal dengan benar guru manusia itu,” kata manusia buruk rupa itu dengan suara menggetarkan seolah diiringi bunyi derik ribuan jangkrik dari napasnya.

“Bukankah Abdul Jalil, guru manusia itu, adalah aku?” tukas Abdul Jalil terheran-heran.

“Aku tidak mengenalmu, o Pengaku-aku,” seru manusia buruk rupa itu sembari menunjukkan giginya yang tak teratur dan bibirnya yang tebal dalam seringai mengerikan. “Sebab, Abdul Jalil, guru manusia, yang pernah aku kenal adalah seorang manusia berlebih-kelimpahan. Dia manusia yang selalu merasa berat menanggung keberlebih-kelimpahannya, sehingga hari-hari dari hidupnya tidak pernah dilaluinya tanpa membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya. Ia terus membagi. Membagi. Seribu kali membagi. Dengan membagi, beban keberlebih-kelimpahannya akan berkurang.”

“Jika engkau bertanya kepada hutan, sungai, pohon, batu, matahari, bulan, bintang dan margasatwa tentang siapa Abdul Jalil maka engkau akan mendapati jawaban yang sama: dia, Abdul Jalil, adalah guru sang pembagi keberlebih-kelimpahan. Dia, guru manusia, yang selalu berkorban tanpa pamrih. Sebab, berkorban membagi-bagi diri, baginya, adalah membebaskan diri dari beban yang terus melimpahinya. Ya, itulah Abdul Jalil yang aku kenal, guru manusia yang selalu membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya. Sementara, engkau, manusia buruk rupa yang mengaku-aku Abdul, apakah yang engkau sudah lakukan selama di hutan ini? Bukankah hari-harimu hanya engkau isi dengan menerima dan menikmati keramahan alam, seolah engkau orang yang berkurang-kesusutan. Siapakah engkau ini sesungguhnya, o manusia buruk rupa?”

Abdul Jalil terperangah kaget. Ia merasakan wajahnya panas tertampar oleh ucapan makhluk buruk rupa itu. Bukan. Bukan hanya tamparan yang ia rasakan menghantam wajahnya. Rasa malu pun ia rasakan tiba-tiba menyesaki jiwanya. Rasa malu yang bergelegak dan meluap-luap membanjiri seluruh jaringan tubuhnya mulai dari ujung kaki naik terus ke ubun-ubun. Sekejap kemudian, ia tiba-tiba mendapati sekujur tubunya sudah basah diguyur keringat dingin. Lalu dengan hati risau ia membalikkan badan dan pergi meninggalkan manusia buruk rupa yang telah membuatnya malu itu. Namun, manusia buruk rupa itu mengejar dan memanggil-manggilnya dengan suara serak, “Abdul Jalil! Abdul Jalil! Berhentilah! Tunggu aku! Aku bukanlah orang lain. Aku adalah bayang-bayangmu! Jangan tinggalkan aku!”

Dengan keringat bercucuran, Abdul Jalil berjalan menembus kelengangan hutan. Ia tidak melihat lagi bayangan manusia buruk rupa yang mengejarnya. Namu, saat ia melintasi sebuah tikungan jalan setapak berbatu di lereng sebuah bukit, tiba-tiba ia terpekik kaget. Rupanya, di tengah kecamuk pikirannya yang galau ia telah menabrak seseorang yang sedang tersungkur di jalan. Raung kesakitan dan makian kemarahan terdengar bersahutan seperti pekik elang dan desau angin yang menampar tebing batu yang tinggi menjulang.

Dengan mata ditajamkan, Abdul Jalil menegaskan pandangannya ke sosok yang baru saja ditabraknya. Ia terkejut dan merasakan bulu kuduknya meremang saat mendapati kenyataan betapa sosok orang yang ditabraknya itu, wajah dan perawakannya sangat mirip dengannya. Anehnya, sosok itu luar biasa tambun. Saking tambunnya, tubuh sosok itu seperti terbentuk dari gumpalan daging. Hanya wajah sosok tambun itu saja yang mirip dengannya. Lalu, dengan suara yang direndahkan dan hati kebat-kebit ia berkata, “Maafkan aku. Aku tidak sengaja. Siapakah engkau ini, o Tuan? Kenapa engkau tersungkur di tengah jalan?”

Sosok tambun mirip Abdul Jalil itu dengan gerakan lamban dan sangat susah payah, berkata terbata-bata dengan suara serak seperti kambing mengembik, “Maafkan aku, o Saudara. Bukan maksudku tidur-tiduran di jalan untuk menikmati hangatnya matahari sebagaimana anjing berjemur kehangatan matahari. Bukan pula maksudku menghalang-halangi orang-orang yang berjalan. Sebaliknya, ini yang harus engkau ketahuhi, aku adalah manusia malang yang tidak kuat lagi menanggung beban keberlebih-kelimpahan yang menghimpitku laksana bongkahan batu gunung. Kakiku tidak cukup kuat menahan beban keberlebih-kelimpahan yang memberati tubuhku. Itu sebabnya, aku tersungkur tak berdaya karena napas dan tenagaku hampir habis menahan beban keberlebih-kelimpahan yang terus bertambah menindihku dari waktu ke waktu. Aku sudah tidak kuat menahan. Aku merasakan diriku seperti jembatan bambu rapuh yang tidak kuat lagi menahan arus sungai yang meluap ganas akibat banjir di hulu. Aku hanya bisa menunggu datangnya orang-orang yang dengan suka rela menolongku; membagi keberlebih-kelimpahanku kepada mereka yang membutuhkan. Aku hanya bisa menunggu. Menunggu. Seribu kali menunggu. Dan engkau barusan tadi malah menabrakku. Apakah dengan suka rela mau menolongku? Apakah engkau bersedia membagi-bagi keberlebih-kelimpahanku kepada mereka yang membutuhkan?”

“Maafkan aku, o Saudaraku,” sahut Abdul Jalil dengan hati diliputi kepedihan, “Aku akan membawamu berkeliling ke mana pun engkau inginkan. Aku akan membagi-bagi keberlebih-kelimpahanmu kepada mereka yang membutuhkan. Apa pun akan aku lakukan untuk membantumu. Tetapi, izinkan aku akan berpamitan kepada istri yang sedang menungguku,” dengan tanpa menoleh sedikit pun ia berlari meninggalkan sosok tambun itu. Ia berlari ke tempat istrinya menunggu.

Ketika Abdul Jalil mendapati istrinya sedang duduk memakan buah-buahan dan meminum madu hutan, ia mendekat dan berkata, “Tadi aku ke sungai untuk mengambil air. Sekarang aku sudah kembali. Tapi tidak setetes pun air yang kubawa.”

“Apakah yang telah terjadi dalam perjalananmu, o Suamiku?” tanya Shafa menangkap sasmita bahwa suaminya telah mengalami sesuatu.

“Di pinggir sungai tadi aku melamu dan jatuh tertidur di bawah pohon besar. Aku terbangun ketika seekor kucing hutan mencakar dan menggigit dadaku. Waktu ia melihat aku terbangun, ia lari ketakutan. Tetapi, buru-buru ia kuhentikan dan kutanya kenapa lari ketakutan dariku. Bukankah ia telah berjasa membangunkan aku dari tidur lelap? Lalu ia menjawab, ia lari karena telah melukaiku. Lalu kukatakan kepadanya begini: masakan seekor kucing hutan dapat melukai singa? Kubuka jubahku, dadaku memang tidak luka oleh cakaran dan gigitannya. Lalu kucing hutan itu merunduk malu dan menjilati kakiku.”

“Ketika kucing hutan itu pergi ke hutannya dan aku mengisi tabung bambu dengan air, tiba-tiba muncul seekor sapi betina yang berjalan terseok-seok dan menangis kesakitan. Dia mengeluh kepadaku telah berbilang pekan ini sekujur tubuhnya meriang kesakitan. Pasalnya, air susunya tidak ada yang mengisap dan tidak pula ada yang memerah. Dia meratap dan memohon kepadaku untuk menolongnya: memeras air susunya dan membagi-bagikan air susu itu kepada siapa pun di antara bayi yang membutuhkan susu. Aku tidak kuasa menolak keinginan makhluk mulia yang menderita sakit karena tidak bisa mendermakan keberlebih-kelimpahannya kepada sesama. Lalu aku menemuimu, meminta pendapatmu apakah engkau berkenan membantuku memerah susu sapi yang kesakitan itu, dengan imbalan engkau akan beroleh manfaat dari susunya. Itulah sebabnya, o Istriku, aku kembali tanpa membawa air setetes pun,” kata Abdul Jalil.

Shafa tertawa. Lalu dengan manja ia bertanya, “Adakah sesuatu pesan di balik ceritamu itu, o Suamiku?”

Abdul Jalil memandang ke atas, melihat langit dari sela-sela rimbunan pohon. Setelah itu, ia menunduk dan berkata dengan suara lain, “Dalam perjalananku mengambil air di sungai tadi, aku melihat bayanganku di permukaan air. Tapi, aku tidak lagi mengenalinya karena dia begitu buruk rupa dan mengerikan. Lalu seperti seekor kucing hutan liar yang ganas, ia mencakar dan menggigit kesadaranku. Aku terbangun. Dan, kudapati betapa diriku telah menjadi orang lain yang tidak kukenal. Aku, Abdul Jalil, guru manusia, yang dikenal orang sebagai sang pemberi yang selalu membagi-bagi tubuh dan jiwanya laksana Raja Bagiratha tiba-tiba telah menjelma menjadi makhluk papa, sang penerima dan penikmat kelezatan dunia. Sungguh muak aku melihat cermin diriku seperti itu.”

“Bayanganku telah membangunkan kesadaranku bahwa aku adalah manusia yang dianugerahi keberlebih-kelimpahan, seperti sapi perah betina dianugerahi keberlebih-kelimpahan susu. Dan seperti sapi perah betina yang kesakitan tidak diperah, begitulah kesakitan kurasakan merejam tubuh dan jiwaku saat aku tidak membagi-bagi keberlebih-kelimpahanku kepada sesama. Sungguh, telah berkali-kali aku sampaikan kepadamu bahwa Kehidupan makhluk tidaklah kekal. Bukan hanya bumi, bulan, bintang, matahari, dan planet-planet yang tidak kekal, bahkan surga dan neraka pun tidak kekal. Sebagaimana yang telah engkau yakini, Kehidupan di bumi ini hanya sekejap. Kita semua sedang berjalan menuju persemayaman Sang Maut, alamat Cinta Sejati bertakhta. Kita tidak boleh dan tidak bisa bahkan tidak mungkin berhenti. Kita harus berjalan menuju-Nya sambil melepas segala sesuatu yang melekat pada diri kita. Kita harus melepas semua sampai kita telanjang seperti bayi yang tidak mengenal sesuatu yang lain kecuali puting susu ibunya. Begitulah sebaiknya kita dalam kembali kepada-Nya. Sebagai orang yang sedang berjalan menuju-Nya, tetapi menanggung beban keberlebih-kelimpahan dari-Nya, maka wajiblah bagiku untuk meneruskan perjalanan di bawah naungan-Nya dan membagi-bagi keberlebih-kelimpahan yang dianugerahkan-Nya itu kepada yang membutuhkan. Aku tidak ingin menjadi makhluk tambun yang terkapar sekarat di jalanan, akibat menanggung derita tertimbun oleh keberlebih-kelimpahan yang tidak dibagi.”

Shafa tersenyum dan bangkit. Sambil menunduk menyentuh kaki Abdul Jalil, dia berkata lembut, “Aku tahu siapa sejatinya engkau, o Suamiku. Aku telah menyaksikan keindahan telaga sunyi di matamu. Aku telah merasakan kesejukan angin di desah napasmu. Aku telah menyaksikan kegagahan sayap-sayapmu yang laksana rajawali terbang mengarungi langit sunyi. Aku telah mendengarkan bagaimana merdu suaramu menyanyikan pepujian atas keagungan-Nya. Bahkan di atas semua penyaksian itu, aku telah merasakan keberadaan dirimu secara utuh. Sungguh, telah kukenal engkau melebihi yang lain. Karena itu, o Suamiku, ke mana pun engkau pergi aku akan selalu ikut. Apa pun yang engkau perintahkan aku akan patuhi. Apa pun yang engkau teladankan aku akan ikuti. Bagiku, berlaku ketentuan suci seorang istri setia laksana Sati, yang mengabdi kepada suami ibarat pepatah ‘ke surga ikut ke neraka tersangkut-paut’. Demikianlah ungkapan dari lubuk jiwaku terdalam terhadapmu, o Suamiku.”

Setelah meninggalkan Kehidupan hutan, Abdul Jalil dengan didampingi istri berjalan melintasi lembah, gunung, sungai, sawah, dan padang belantara, dengan sesekali singgah di desa, dukuh, padepokan, dan asrama-asrama. Sepanjang perjalanannya itu ia laksana gumpalan awan di angkasa, dengan kegembiraan raya mencurahkan keberlebih-kelimpahannya seperti hujan kepada siapa saja yang membutuhkannya: ia mengobati yang sakit, menghibur yang dirundung kesedihan, memberi obor yang dalam kegelapan, menguatkan yang lemah, memberi makan yang lapar, mengulurkan tangan kepada yang meminta, memberi petunjuk kepada yang sesat jalan, mengajarkan jalan Kebenaran yang lurus, memacu kesadaran manusia agar berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia, dan yang tak pernah terlupakan adalah memberitakan kabar langit tentang bakal datangnya kawanan Ya’juj wa Ma’juj, pengikut Dajjal, yaitu kawanan ‘manusia berekor’, binatang yang berpikir, manusia pembawa hewan buas yang bakal menjatuhkan umat manusia ke jurang kebinasaan.

Sebagai guru manusia, Abdul Jalil paham jika manusia-manusia yang dihadapinya adalah kawanan-kawanan manusia tak berpribadi yang akal budi dan jiwanya dibentuk oleh lingkungan yang penuh diliputi rasa takut, yaitu manusia-manusia yang sejak bayi sudah ditakut-takuti takhayul dan kurafat. Ia paham bahwa manusia satu dengan manusia yang lain diikat oleh jalinan tali-temali nilai yang sama, yakni nilai-nilai yang dibangun di atas rasa takut pada sesuatu di luar diri manusia. Itu sebabnya, di dalam membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya kepada masyarakat semacam itu, ia memutuskan untuk mengikat rangkaian itu pada satu simpul utama yang kuat, yaitu mengikat kabar langit tentang kawanan manusia berekor yang membahayakan Kehidupan umat manusia sebagai simpul utama. Ia barharap, rasa takut orang-orang terhadap kabar langit itu mengalahkan semua rasa takut mereka terhadap hantu takhayul di sekitar mereka. Lalu, melalui simpul utama itu ia berharap dapat memperkuat simpul yang lain dari semua jalinan nilai yang akan diubahnya. Demikianlah, tanpa kenal siang dan malam, di tengah kesibukan membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, ia menyampaikan kabar langit yang dahsyat itu kepada siapa saja yang datang kepadanya.

Dengan suara lain yang acapkali terdengar aneh, seperti suara angin berembus di antara kepak beribu-ribu sayap burung, atau seperti kicau burung bersahutan di tengah gemuruh suara jeram, atau seperti jeritan rajawali di tengah angkasa, ia berkata, “Dengarkanlah kabar langit yang aku bawa ini, o engkau yang memiliki telinga indriawi! Resapi dan hayatilah apa yang akan aku sampaikan ini, o engkau yang memiliki pendengaran batin! Ketahuilah, o anak-anak Adam, bahwa sesungguhnya Sang Penentu (al-Muqtadir), telah menggoreskan pena mulia (al-qalam al-a’la) pada Kitab Langit (al-Lauh al-Mahuzh), suatu ketetapan yang isinya kira-kira berbunyi:

‘Akan datang suatu zaman di mana seluruh negeri di permukaan bumi akan dipenuhi oleh kawanan manusia berekor, binatang berpikir, makhluk pembawa binatang buas, yang muncul beriap-riap laksana kawanan semut dan lalat dan belatung mengerumuni bangkai. Mereka datang susul-menyusul laksana ombak lautan menerpa pantai. Mereka datang ke berbagai negeri dan menghampiri bangsa-bangsa dengan wajah berbunga-bunga membiaskan harapan. Lalu dengan kata-kata merdu yang menawan mereka menyodorkan talam-talam. Talam-talam itu terbuat dari emas dan di atasnya terdapat piala, piring, cerana, kotak-kotak, dan pundi-pundi yang terbuat dari bahan emas berhias permata. Mereka menawarkan arak hangat yang terdapat di dalam piala. Mereka menawarkan makanan lezat yang tersuguh di piring. Mereka menawarkan sirih kehormatan di cerana. Mereka menawarkan perhiasan yang tersimpan di kotak-kotak. Mereka menawarkan ilmu pengetahuan ajaib yang tersimpan di dalam pundi-pundi.’

“Tetapi waspadalah, o engkau yang memiliki telinga indriawi dan pendengaran batin! Jika kawanan manusia berekor, binatang berpikir, yang aku sebut ‘kerbau bule mata kucing’ itu, satu saat datang kepadamu dan menyodorkan talam yang dibawanya kepadamu, hendaknya engkau jangan gampang tersilap oleh bujukan manis mulut mereka yang beracun. Kenapa aku katakan mulut mereka beracun? Sebab, mereka adalah manusia-manusia mengerikan yang membawa hewan buas (nafs al-hayawaniyyah) di dalam diri mereka. Hewan buas yang bersemayam di dalam diri mereka itulah yang meneteskan air liur beracun dari mulut mereka. Siapa pun di antara manusia yang terkena air liur beracun, mereka akan berubah menjadi seperti mereka: manusia berekor!”

“Sungguh, aku akan memberitahu engkau, o yang memiliki akal budi dan hati nurani. Ketahuilah, arak hangat yang mengisi piala mereka itu sejatinya adalah arak yang sudah tercampur air liur beracun mereka. Arak itu akan membuatmu mabuk terhuyung-huyung, muntah-muntah, tersungkur di tanah tanpa daya dan tanpa kekuatan. Arak hangat beracun itu akan menghilangkan kesadaranmu sebagai manusia. Sementara makanan lezat yang tersuguh pada piring mereka bukanlah makanan yang baik dan bermanfaat. Makanan itu pun sejatinya adalah makanan berjamur yang terkena tetesan air liur beracun mereka. Makanan itu akan membuatmu kebingungan kelimpungan, kehilangan arah, dan melangkah gontai tanpa tujuan serta menjerembabkanmu ke jurang kesesatan yang dalam.”

“Aku beri tahukan kepadamu bahwa sirih kehormatan yang mereka suguhkan di cerana emas itu adalah sirih kemunafikan yang terkena tetesan air liur beracun mereka. Jika engkau mengunyah sirih itu, engkau akan kehilangan jati diri, linglung, tersuruk-suruk sesat di jalanan, bahkan akan menjelmakanmu dalam wujud makhluk rendah yang mengerikan. Engkau akanmenjadi orang lain yang tidak engkau kenal lagi. Sedang perhiasan-perhiasan di kotak yang mereka pamerkan, sejatinya adalah gemerlap perhiasan setan yang jika kau pakai akan menjadikanmu sebagai orang sesat pemuja benda-benda yang meninggikan diri di atas segala. Ilmu pengetahuan ajaib yang mereka simpan di dalam pundi-pundi sejatinya adalah ilmu pengetahuan iblis yang bakal menyesatkan manusia yang mempelajari dan mengamalkannya. Lantaran itu, jika engkau membuka pundi-pundi itu, lalu mempelajari dan mengamalkan ilmu pengetahuan ajaib yang ada di dalamnya, maka engkau akan kehilangan segala yang engkau miliki. Engkau akan kehilangan diri. Engkau akan kehilangan iman. Engkau bahkan akan kehilangan Tuhan. Engkau akan menjadi seperti mereka: Manusia berekor. Binatang berpikir. Manusia pembawa hewan buas.”

“Camkan apa yang aku sampaikan ini, o engkau yang memiliki hati nurani! Munculnya kawanan manusia berekor, binatang berpikir, itu tidak lain adalah atas kehendak-Nya semata. Dia menguji manusia dengan bermacam-macam ujian. Dan, ujian terberat bagi manusia terwujud dalam bentuk kawanan manusia berekor. Kawanan binatang berpikir. Kenapa aku katakan ujian terberat? Sebab, mereka itu dengan kecerdasan dan kecerdikan manusia tetapi dengan kelicikan, kerakusan, keganasan, dan kesetiakawanan binatang, sangat berhasrat kuat untuk menjadi penguasa dunia. Tidak cukup dengan menguasai dunia, mereka pun pada gilirannya akan mengubah kiblat manusia yang menuju Kebenaran (al-Haqq) ke kiblat lain (al-aghyar) yang menyesatkan. Dengan ilmu pengetahuan ajaibnya, mereka akan merampas pelita iman yang menyinari jalan orang-orang beriman sehingga orang-orang yang berjalan di jalan Kebenaran berada dalam kegelapan. Mereka akan menuntun manusia ke pinggir jurang kesesatan dan kemudian melemparkannya ke dasar jurang kebinasaan.”

“Bukalah telinga indriawi dan pendengaran batinmu, o engkau yang dianugerahi akal dan hati nurani. Ketahuilah, kawanan manusia berekor, binatang-binatang berpikir, yang dipimpin oleh Sang Kere, dengan tawaran-tawarannya yang memesona dan menggiurkan itu, sesungguhnya adalah kawanan makhluk mengerikan yang dikirim oleh Dia, Zat Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill) dan Maha Menghinakan (al-Mudzill), untuk membalikkan kiblat Kebenaran dari jiwa manusia. Mereka akan menjadika kiblat Kebenaran seluruh manusia menjadi sama dengan kiblat kebenaran mereka. Mereka akan menempatkan masalah benar dan salah, baik dan buruk, halal dan haram, hak dan batil, sesuai sudut pandang dan ukuran kiblat mereka, yaitu kiblat manusia berekor. Kiblat binatang berpikir. Dengan rasa bangga berlebih-lebihan, mereka akan menepuk dada dan berkata:

‘Inilah nilai-nilai agung, luhur dan mulia yang menandai keberadaan kami, manusia-manusia berekor, binatang berpikir, anak-anak bumi, makhluk terhebat penguasa bumi dan tuan dari bangsa-bangsa di muka bumi. Inilah nilai-nilai agung dan luhur yang telah membawa kami sebagai penguasa jagat raya tak terkalahkan. Apakah nilai-nilai kami itu? Inilah nilai-nilai kami yang agung, luhur dan mulia: yang kuat memangsa yang lemah, yang pintar memangsa yang bodoh, yang kaya memangsa yang miskin, yang kejam memangsa yang lemah hati, yang jahat memangsa yang baik, yang berkuasa memangsa yang dikuasai, yang menindas memangsa yang tertindas, yang menjajah memangsa yang dijajah, yang kuat sentosa memangsa yang tidak berdaya. Dengan demikian, mereka yang kuat dan menang dan berkuasalah yang akan menjadi makhluk terunggul di atas makhluk segala makhluk. Sebab, itulah ketentuan hukum alam yang akan memenangkan siapa saja di antara makhluk yang bisa menyesuaikan diri dengan tuntutan-tuntutan azasi nalurinya sebagai binatang berpikir.’

“Dengarlah, o engkau yang memiliki akal budi dan telinga batin, betapa berbahaya kawanan manusia berekor itu jika mereka sudah menguasai dunia. Sebab, kebenaran yang mereka pahami adalah kebenaran hewani yang sangat berbeda dengan Kebenaran yang dipahami manusia. Tetapi, sebagaimana telah aku kabarkan kepada engkau, o yang memiliki akal budi dan hati nurani, kedatangan mereka adalah atas kehendak-Nya sebagai ujian dahsyat bagi manusia beriman. Sehingga, engkau sekalian tidak akan sanggup melawan mereka dengan akal pikiran dan kekuatan senjata. Engkau tidak akan pernah bisa memenangkan pertarungan pikiran tentang kehidupan duniawi melawan mereka, meski engkau gunakan hujjah-hujja berdasar kitab suci. Engkau tidak bisa menghunus pedang untuk melawan dan mengalahkan mereka. Engkau juga tidak bisa membangkitkan perlawanan bersenjata di antara kaummu untuk menghalau mereka yang menyerbu negerimu.”

“Camkan oleh kalian semua, o engkau yang memiliki hati nurani. Kemunculan manusia berekor, binatang berpikir, para pengikut Dajjal penyesat, tidak dapat pula kalian lawan dengan ilmu-ilmu kesaktian dan kedigdayaan, apalagi dengan kepercayaan kalian yang sarat dilingkari takhayul dan kurafat. Mereka adalah setengah manusia dan setengah binatang. Mereka manusia berekor. Binatang berpikir. Manusia-hewan yang tidak percaya pada Tuhan, dewa-dewa, hantu-hantu, setan, dan segala macam makhluk gaib yang tak kasatmata. Sungguh, mereka itu makhluk hantu-hantu dan setan-setan yang selama ini kalian takuti.”

“Ingat-ingatlah, o engkau yang memiliki akal dan hati nurani. Seperti yang telah aku katakan, kehadiran manusia berekor, binatang berpikir, adalah semata-mata atas kehendak Allah. Lantaran itu, tidak ada daya dan kekuatan makhluk yang dapat menolak kemunculan mereka di dunia. Aku katakan kepada engkau, o yang memiliki hati nurani, bahwa engkau dan seluruh balamu tidak akan bisa berbuat sesuatu untuk menolak kehadiran mereka. Satu-satunya tindakan yang bisa menghindarkan kalian dari serbuan kawanan manusia berekor itu adalah Allah sendiri. Jika kalian ingin selamat dari cengkeraman mereka maka kalian wajib mengarahkan kiblat Kebenaran di hati dan pikiran kalian hanya kepada al-Ahad, Sanghyang Tunggal: Allah! Esakan Dia, Yang Tunggal, Yang Maha Meliputi segala sesuatu! Esakan Dia, Allah, Tuhanmu, dengan sesungguh-sungguh Tauhid!”

“Dengarlah, o engkau yang berakal budi dan berhati nurani! Bahwa mengesakan Allah, Tuhan, Zat Mutlak Tak Terbandingkan, bukanlah perkara mudah. Sebab, sebagaimana telah aku ajarkan tentang keberadaan rentangan jiwa hewan – manusia-hewan – manusia – adimanusia yang harus kalian lampaui, demikianlah usaha mengesakan al-Ahad, Sanghyang Tunggal, Allah, itu membutuhkan perjuangan tak kenal henti dan pantang menyerah. Mengahadkan Tuhan butuh perjuangan keras melampaui kebinatangan dan kemanusiaan hingga mencapai keadimanusiaan. Hanya mereka yang sudah menjadi adimanusia sajalah yang dapat menangkap makna hakiki dari Tauhid. Hanya adimanusia yang mampu mengesakan Tuhan dalam makna yang sebenar-benarnya.”

“Ketahuilah, o para penempuh jalan ruhani, bakal adimanusia yang gagah perkasa dan pantang menyerah, bahwa Tuhan, Allah, Zat Yang Maha Esa, Sumber segala kejadian, Kiblat segala harapan, pada hakikatnya bukanlah suatu obyek statis yang diam dan gampang ditemukan oleh para pencari-Nya. Sebaliknya, Dia adalah Zat Maha Esa, Tunggal, Maha Meliputi, yang dinamis dan tidak gampang ditemukan oleh para pencari-Nya, sampai semuanya benar-benar teruji secara sempurna. Untuk itu, berjuanglah sekuat tenaga dan sekuat daya upayamu untuk menemukan makna hakiki Tauhid, dengan mewujudkan dirimu sebagai adimanusia, insan kamil, yang mentauhidkan Allah secara benar. Adimanusia yang di mana pun berada senantiasa ditandai oleh citra diri sebagai rahmat bagi alam semesta (rahmatan li al-‘alamin).”

“Jika di dalam berjuang engkau dapat mewujudkan diri menjadi adimanusia, wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh), manusia sempurna (insan kamil), maka terjagalah bumi di sekitarmu dari kekuasaan dan jarahan manusia-manusia berekor, binatang berpikir, yang akan merusak Kehidupan umat manusia. Sebab, citra adimanusia ada citra rahmat, yaitu citra manusia yang senantiasa membuka tangan untuk memberi kepada mereka yang meminta dan membutuhkan. Citra adimanusia adalah berbagi keberlebih-kelimpahan dan bahkan berkorban diri secara utuh tanpa pamrih. Citra adimanusia itulah yang paling dibenci oleh manusia berekor, karena binatang berpikir itu tidak pernah dapat meraih derajat rahmat seperti adimanusia. Lantaran itu, o engkau yang berakal budi dan berhati nurani, berjuanglah sekuat daya dan upayamu untuk mewujudkan dirimu menjadi adimanusia yang selalu ditandai kegembiraan raya dalam membagi-bagi keberlebih-kelimpahan anugerah-Nya kepada sesama makhluk. Jadilah adimanusia yang tidak mengenal rasa takut kepada sesuatu kecuali kepada Penciptanya.”

10. Syaikh Jabarantas

Selama melakukan perjalanan membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil sengaja tidak memperkenalkan diri sebagai Syaikh Lemah Abang, guru suci termasyhur asal dukuh Lemah Abang di Caruban Larang. Ia memperkenalkan diri dengan nama Pak Bardud, yang bermakna bapaknya Bardud. Namun begitu, karena sejak berangkat dari Caruban ia sudah mengenakan khirqah sufi, dan orang tidak pernah menyebut seorang pendeta atau guru suci yang memiliki kelebihan dengan sebutan pak ini dan pak itu, maka tanpa ada yang menyuruh, para wiku dan penduduk di wilayah pedalaman menyebutnya dengan nama Syaikh Jabarantas (Jawa Kuno: Guru Suci yang berpakaian compang-camping).

Abdul Jalil tidak peduli dengan sebutan itu. Ia malah suka dengan nama baru itu karena dapat menghapus kemasyhuran nama Syaikh Lemah Abang yang sudah diberhalakan manusia. Anehnya, dengan nama baru Syaikh Jabarantas itu, penghormatan terhadap dirinya tidak berkurang, kalau tidak boleh dibilang malah bertambah-tambah. Entah apa yang sesungguhnya terjadi, setiap kali ia hadir di sebuah dukuh atau padepokan, ia justru disambut dengan sangat berlebihan. Ia merasa betapa semua wiku yang ditemuinya, tanpa sedikit pun membantah, mengikuti pandangan-pandangan dan petunjuk-petunjuknya tentang keislaman sebagai tatanan baru penyempurna tatanan Syiwa-Buda yang sudah ada. Bahkan, saat ia meminta agar peraturan hidup para wiku di dukuh-dukuh disebarkan ke desa-desa sekitar, sebagaimana yang sudah diberlakukan di dukuh-dukuh yang dibukanya, mereka dengan patuh menjalankannya. Demikianlah, tanpa kesulitan berarti lahirlah dukuh-dukuh baru bercitra caturbhasa mandala di Galuh Pakuwan yang menjadi pelopor gerakan pembaharuan bagi desa-desa di sekitarnya, seperti dukuh Sirnabhaya, Sukahurip, Kawasen Ratawangi, Karangpawitan, dan Pamwatan.

Sepanjang perjalanan di pedalaman Galuh Pakuwan, Abdul Jalil menyaksikan kenyataan tak terduga tentang keberadaan penduduk keturunan Cina dan Campa yang tinggal di berbagai desa hidup membaur dengan penduduk setempat. Meski banyak di antara mereka tidak menampakkan lagi keberadaan diri sebagai orang muslim sebagaimana citra diri warga Cina dan Campa di pesisir, orang dengan mudah mengenal mereka lewat perbedaan bentuk fisik mereka yang mencolok dengan penduduk asli. Kulit mereka lebih terang. Mata mereka lebih sipit. Hidung mereka lebih pesek. Rambut mereka lebih lurus. Orang-orang keturunan Cina dan Campa masuk ke pedalaman Galuh Pakuwan melalui wilayah Kuningan yang merupakan koloni penduduk keturunan Cina dan Campa, yang dibangun orang barang seabad silam. Keturunan Cina dan Campa banyak dijumpai di hampir seluruh tlatah bumi Pasundan, termasuk di kutaraja Pakuan Pajajaran. Rupanya, pemuka-pemuka masyarakat Sunda suka sekali mengambil mereka sebagai menantu dengan tujuan utama memperbaiki keturunan agar warna kulit keturunan mereka lebih terang.

Keberadaan orang-orang keturunan Cina dan Campa di pedalaman Galuh Pakuwan paling tidak memberikan semacam kemudahan bagi Abdul Jalil dalam berbagi keberlebih-kelimpahan. Sebab, mereka yang masih menyimpan sisa-sisa ‘ingatan purwa’ di alam bawah sadarnya yang berakar dari ajaran Islam tidak sulit menerima apa yang disampaikan Abdul Jalil. Lewat merekalah Abdul Jalil dikenal dan dijadikan guru panutan oleh pemuka-pemuka masyarakat Sunda asli. Lewat mereka, Abdul Jalil beroleh kemudahan jalan untuk berbagi keberlebih-kelimpahan. Lewat jasa mereka pula, Abdul Jalil tanpa kesulitan membangun dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala di pedalaman Galuh Pakuwan.

Seperti hewan penanggung beban yang ingin melepaskan beban di punggungnya, setelah merasa cukup berbagi keberlebih-kelimpahan di tlatah Galuh Pakuwan, Abdul Jalil meneruskan perjalanan ke timur, menyeberangi sungai Tanduy, memasuki wilayah Pasir Luhur yang membentang di antara gunung Gora (nama purba gunung Slamet) dan lembah subur di lereng barat dan selatan pegunungan Dihyang. Pasir Luhur sendiri adalah kerajaan di pedalaman Nusa Jawa yang wilayah intinya terletak di tlatah Kabhumian (wilayah khusus yang milik Sang Bhumi). Wilayah kekuasaan Dewi Bhumi: Bhattari Prthiwi. Lantaran itu, di kawasan tersebut terdapat puluhan ksetra dan sanggar pemujaan Sang Prthiwi yang umumnya dipimpin para pendeta sakti mandraguna.

Berbeda dengan saat berbagi di Galuh Pakuwan yang ditandai kemudahan-kemudahan, saat berada di tlatah Kabhumian Abdul Jalil menghadapi tantangan yang sangat luar biasa berat. Sejak awal kehadirannya di tlatah tersebut ia telah dihadang oleh perlawanan para pendeta penguasa ksetra dan penguasa sanggar pemujaan Sang Prthiwi. Rupanya, sejumlah pendeta penguasa ksetra telah mencium gelagat tidak baik dari kehadirannya di tlatah Kabhumian, yang selain berbagi keberlebih-kelimpahan, ternyata melakukan upacara bhumi-sodhana untuk membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra dan sanggar-sanggar pemujaan Sang Prthiwi. Tindakannya yang terakhir itulah yang menyulut amarah para penguasa ksetra karena dianggap sebagai suatu ancaman berbahaya yang harus dilenyapkan. Lalu, beramai-ramailah para pendeta penguasa ksetra menggalang kekuatan untuk menghadang gerak langkah sekaligus menyingkirkan Abdul Jalil dari muka bumi.

Semula, Abdul Jalil tidak mengetahui jika gerak langkahnya dihadang oleh suatu kekuatan tersembunyi yang ingin menghancurkannya. Ia baru menangkap sasmita kurang baik ketika mendapat laporan dari sejumlah pengikutnya tentang beberapa desa yang baru disinggahinya, tetapi secara tiba-tiba diserang wabah penyakit menular ganas dan menimbulkan kematian banyak orang. Sasmita kurang baik itu semakin kuat manakala ia menerima laporan susulan tentang desa-desa yang baru disinggahinya mendadak terbakar secara beruntun hingga meluluhlantakkan puluhan rumah. Akhirnya, ia menduga ada suatu kesengajaan yang dilakukan orang untuk menghancurkan dirinya ketika ia mendapat laporan tentang puluhan penduduk yang mendadak kerasukan ruh setan secara serentak di dua desa yang baru disinggahinya.

Sadar halangan berat sedang menghadang langkahnya, dengan suara getir Abdul Jalil berkata kepada beberapa orang pengikutnya yang melapor, “Kejadian-kejadian ini bukanlah suatu peristiwa kebetulan atau sebuah musibah. Aku menangkap sasmita, kejadian-kejadian itu adalah suatu gerakan terencana yang memiliki tujuan utama merusak citra diri dan ajaranku. Aku menduga sebentar lagi akan berembus badai fitnah yang menyambar-nyambar ganas ke arahku.”

Dugaan itu tidak meleset. Tak lama setelah kabar peristiwa-peristiwa aneh yang beruntun itu menyebar, berembuslah badai fitnah yang menyambar-nyambar dan susul-menyusul menerjang Abdul Jalil dan istrinya dengan suara gemuruh mengerikan di tengah jeritan-jeritan dan raungan serak yang tak jelas dari mana datangnya. “Jauhi Syaikh Jabarantas! Syaikh Jabarantas adalah dewa yang dikutuk dan diusir dari kahyangan untuk menjalani hidup sebagai manusia hina dan nista. Jauhi dia! Jangan biarkan dia menghampiri manusia! Sebab, dewa yang dikutuk, di mana pun dia berada akan selalu diikuti para Kingkara, prajurit-prajurit Bhattara Yama, penguasa Kematian! Jauhi dia, manusia jelmaan dewa yang terkutuk yang di mana pun dia berada selalu membawa bencana dan kebinasaan. Jauhi makhluk terkutuk itu!” Lalu seiring bergaungnya jeritan dan raungan itu, tiba-tiba semua mata dengan pandang ketakutan diarahkan kepada sosok Abdul Jalil dan istri.

Sebagai seorang guru manusia yang sudah kenyang menelan pahit dan getirnya kehidupan, Abdul Jalil sedikit pun tidak goyah dalam menghadapi terpaan badai fitnah. Kedewasaan ruhani yang sudah dicapainya telah menjadikan jiwanya sekukuh bukit-bukit karang yang tegak perkasa meski dihempas badai dahsyat. Tanpa peduli dengan kerasnya tamparan badai fitnah yang mengepung, ia melangkahkan kaki di tengah tatapan mata penduduk yang menutup pintu rumah rapat-rapat. Setelah berhari-hari tertatih-tatih menelusuri jalanan berbatu tanpa satu pun pintu rumah dibukakan untuk mereka, bahkan di sebuah jalan kecil di sebuah desa beberapa orang secara sembunyi-sembunyi menimpukkan batu-batu, tersungkurlah Shafa, istrinya, dengan kening berdarah, di bawah sebatang pohon yang tumbuh di ujung desa. Tubuhnya menggigil dengan demam tinggi. Rupanya, selama berhari-hari dan bermalam-malam berjalan dengan sedikit istirahat dan hanya memakan ubi mentah, meminum air sungai, dan tidur di udara terbuka, telah membuat tubuhnya sangat lemah, ditambah luka berdarah-darah, telah menumbangkan kekuatan tubuh dan jiwanya.

Dengan wajah kuyu dicekam kepedihan, Abdul Jalil duduk membisu di samping istrinya. Ia merasakan suatu tekanan yang sangat berat sedang menindihnya dengan hebat. Belum pernah ia mengalami saat-saat seberat itu, bahkan saat ia melakukan upacara bhumi-sodhana dan membuka dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala selama bertahun-tahun. Ia rasakan saat ini sebagai saat terberat karena yang mengalami tekanan-tekanan Kehidupan bukan dirinya, melainkan istri yang tingkat ketangguhan ruhaninya masih rapuh. Kepedihan ia rasakan makin mengigit jiwanya manakala ia perhatikan wajah istrinya yang sedang sakit dan masih dinodai bekas darah kering itu seolah semakin tua. Ia tiba-tiba diterkam rasa bersalah karena telah menelantarkan masa muda istrinya selama belasan tahun hanya untuk menunggu kedatangannya dari rantau. Teringat pada kesetiaan istrinya yang ikhlas membuang usia untuk menunggunya dan kemudian saat sudah bersamanya malah mengalami nasib begitu buruk, terlunta-lunta dihalau manusia seperti hewan menjijikkan, tanpa sadar ia menitikkan air mata haru.

Melihat air mata membasahi wajah yang sejak dulu tak pernah menangis itu, Shafa terkejut. Meski tubuhnya masih menggigil diterkam demam, dia dengan suara bergetar bertanya, “Kenapa engkau menangis, o Tuan? Apakah keteguhan jiwamu sudah mulai goyah? Apakah yang menyebabkan air mata itu menetes, o Dewaku?”

Abdul Jalil diam. Ia merasakan dadanya kosong dan tenggorokannya kering. Ia tidak mampu berkata-kata akibat amukan kepedihan yang mengkoyak-koyak jiwanya. Tak ingin mengecewakan istri, ia dengan terbata-bata berkata, “Air mata ini jatuh untuk istri yang aku kasihi. Aku merasa bersalah kepadanya. Telah berbilang tahun aku sia-siakan masa mudanya untuk mengisi hari-hari kosong dari kepergianku yang tak jelas kapan kembalinya. Kini, saat engkau bersamaku, aku justru membagi beban berat yang tidak kuasa engkau tanggungkan. Sungguh, aku merasa bersalah kepadamu, o Istriku setia.”

Shafa tersenyum dan menggelengkan kepala dan mengusap air mata dari pipi Abdul Jalil. Dia berkata lembut, “Tuan jangan menangis lagi. Air mata Tuan yang menetes untuk hamba telah mengobati semua luka jiwa yang pernah hamba derita dan bahkan semakin mengobarkan api kesetiaan hamba kepada Tuan. Hamba mengucapkan terima kasih kepada Tuan yang telah menghargai pengabdian hamba yang tulus.”

Abdul Jalil menarik napas berat dan menggenggam erat tangan istrinya. Dengan suara lirih ia berkata, “Sungguh aku bangga dengan kesetianmu, o Istriku. Andaikan aku bisa, ingin aku menanggung rasa sakit yang engkau derita.”

Shafa tersenyum bangga, “Hamba tersanjung dengan pujian Tuan. Hamba merasa seolah-olah terbang di angkasa khayalan. Tapi bolehkah hamba bertanya sesuatu dan Tuan menjawab pertanyaan hamba dengan jujur?”

“Bertanyalah, o bungaku terharum. Aku akan menjawab dengan jujur.”

“Apakah Tuan melihat wajah hamba sudah semakin tua?”

Abdul Jalil tercekat. Ia diam. Beberapa jenak kemudian ia tersenyum dan berkata, “Jujur aku katakan, wajah istriku sekarang ini memang lebih tua dibanding saat ia aku nikahi. Tetapi ibarat kumbang yang lebih suka memilih bunga yang mekar daripada yang kuncup, begitulah rasa cintaku kepadamu sekarang ini tidak kurang sedikit pun dan bahkan malah bertambah-tambah. Bagi kumbang pengarung angkasa ruhani, makna sekuntum bunga bukanlah terletak kepada keindahan dan keharumannya, melainkan sejauh mana bunga itu dengan tulus memberikan sari madunya demi Kehidupan sang kumbang.”

“Apakah Tuan tidak akan mencari bunga lain jika kuntum bunga yang Tuan hinggapi sudah layu?”

“Bunga yang tulus memberikan madu tidak pernah layu bagi sang kumbang. Sebab, yang dilihat sang kumbang bukanlah bentuk ragawi bunga lagi, melainkan citra indah dari jiwa bunga yang tak pernah layu. Itulah bunga abadi yang keharumannya memabukkan bagi sang kumbang,” kata Abdul Jalil mengelus tulang pipi istrinya yang kurus.

“Hamba benar-benar tersanjung, o Tuan. Tetapi, hamba takut jika keberadaan bunga abadi itu akan membuat murka Raja Kumbang, karena telah membuat mabuk sang kumbang hingga lupa kepada-Nya,” kata Shafa.

“Raja kumbang tidak akan murka,” sahut Abdul Jalil lembut. “Sebab, bunga abadi itu pada hakikatnya adalah cerminan dari Bunga Abadi yang dijadikan mahligai persemayaman Raja Kumbang.”

Ketika Shafa akan berkata-kata, tiba-tiba muncul seorang pengikut Abdul Jalil yang dengan wajah pucat dan terengah-engah memberi tahu jika sekawanan begal yang ganas sedang mencari-carinya. “Kami tidak tahu apa maksud mereka mencari Kangjeng Syaikh. Tapi kami yakin mereka berniat tidak baik,” ujarnya gemetar.

“Pulanglah ke rumah,” kata Abdul Jalil tenang. “Janganlah rasa takut membuatmu kehilangan iman. Sesungguhnya, Yang Memberi Bahaya sedang menguji keteguhan manusia. Berlindunglah kepada Yang Maha Melindungi dan Yang Memberi Keamanan. Janganlah syak dan ragu menggoyahkan jiwamu. Segala sesuatu bersumber dari-Nya. Kembalikanlah semua urusan hanya kepada-Nya!”

Dengan tergopoh-gopoh pengikut itu melesat di balik pepohonan. Abdul Jalil tersenyum dan memandang istrinya sambil menggumam, “Apakah engkau yakin dengan apa yang baru saja aku katakan, o Istriku terkasih?”

“Hamba mempercayai kata-kata Tuan. Tetapi, hamba masih merasa ketakutan jika kawanan begal itu datang.”

“Rasa takut muncul karena kita masih diliputi keraguan. Yang membisikkan keraguan di dalam hati kita tidak lain dan tidak bukan adalah setan yang merupakan ‘citra bayangan’ dari Yang Maha Menyesatkan. Lantaran itu, kita harus menghilangkan rasa ragu dengan menumpukan kiblat hati dan pikiran kita hanya kepada-Nya: Zat Yang Mahamutlak dalam segala.” Abdul Jalil merengkuh tubuh istrinya. Mendekapnya erat-erat sambil membisikkan kata-kata agar sang istri diam. Sesaat kemudian, terlihat sekitar lima belas orang berwajah sangar dengan membawa kelewang dan tombak berjalan beriringan lewat di depan Abdul Jalil, seolah-olah mereka tidak melihat sesuatu pun di depannya.

Ketika melihat kawanan begal yang mencarinya sudah jauh, Abdul Jalil meninggalkan tempat. Ia memutuskan pergi ke ibu kota untuk menemui Yang Dipertuan Pasir Luhur, Prabu Banyak Belanak, yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudara tiri ayahanda asuhnya, Sri Mangana. Di tengah perjalanan, ketika ia dan istrinya singga di sebuah desa yang ramah menyambut, terjadi sesuatu yang nyaris merenggut nyawanya dan nyawa istrinya yang sedang sakit. Sewaktu ia dan istri akan menyantap makanan yang disuguhkan kepala desa, muncul anjing peliharaan kepala desa yang mengendus-endus kakinya. Terbiasa dengan berbagi keberlebih-kelimpahan, ia tanpa berpikir mengambil sekerat daging dari atas piring dan memberikannya kepada anjing yang dengan lahap menyantapnya. Saat itulah ia sadar kalau jiwanya dan jiwa istrinya sedang terancam karena anjing yang menyantap daging itu seketika menggelepar-gelepar dan mati.

Sadar rintangan yang dihadapinya semakin mengganas, Abdul Jalil buru-buru pergi ke Kraton Pasir Luhur menemui Prabu Banyak Belanak. Di depan penguasa yang sudah mengikrarkan keislaman kepada Raden Mahdum Ibrahim itu, ia memperkenalkan diri sebagai putera Sri Mangana Ratu Caruban Larang. Prabu Banyak Belanak sangat gembira menyambutnya dan menyatakan kesediaan untuk mendukungnya dalam menyampaikan risalah Kebenaran di wilayah Pasir Luhur yang masih diliputi kabut kejahilan. Namun, Yang Dipertuan Pasir Luhur mengaku tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi masalah yang dihadapi Abdul Jalil. “Hendaknya ananda memahami kedudukan paman yang sedang lemah sejak paman mengikrarkan keislaman. Di kraton ini banyak nayaka dan abdi yang lebih patuh kepada penguasa ksetra daripada kepada raja. Raja Pasir telah lemah kuasa dan wibawa dibanding pendeta,” ujar Prabu Banyak Belanak.

Sekalipun Prabu Banyak Belanak lemah kuasa dan wibawa, ia tetaplah seorang raja yang memiliki pengikut-pengikut setia dan sedikit kekuasaan. Ia mengetahui siapa saja di antara penguasa ksetra dan sanggar pamujan Prthiwi dan nayaka Pasir Luhur yang menggalang kekuatan untuk menghadang langkah dan sekaligus ingin menyingkirkan Abdul Jalil dari muka bumi. Beberapa orang di antara mereka itu adalah Ajar Carang Andul, Wiku Ragadana, Rishi Banasari, Ajar Pohkumbang, Wiku Kalibacin, Rishi Wuaya, dan Binatang Karya. Mereka adalah pendeta-pendeta yang hidup dalam kelimpahan, kemuliaan, dan disembah-sujudi penduduk karena mereka diyakini memiliki hubungan khusus dengan dewa-dewa dan termasyhur kesaktiannya.

Abdul Jalil paham kedudukan tinggi dan mulia para penguasa ksetra itu pada dasarnya ditegakkan di atas rasa takut penduduk yang tercekam lingkaran takhayul dan kurafat yang menempatkan mereka sebagai penguasa tempat suci dan sekaligus wakil dewa-dewa di dunia. Lewat cerita dan dongeng yang bersambung turun-temurun dari mulut ke mulut, mereka telah menempatkan diri sebagai pengawal Dewi Durga atau Dewi Prthiwi yang diagungkan dan dimuliakan dan ditakuti penduduk. Hari-hari dari kehidupan mereka penuh diwarnai dengan dongeng-dongeng klenik yang menjerumuskan manusia ke jurang kejahilan mengerikan: memberhalakan sesama titah sebagai sesembahan. Lantaran itu, kehadiran Abdul Jalil yang tidak tersangka-sangka sangat mengusik kemapanan mereka. Sebab, dalam waktu singkat ia telah menjadi buah bibir sebagai guru suci yang memiliki kesaktian luar biasa, mampu menyembuhkan orang sakit, menolak dan mendatangkan hujan, menjinakkan binatang buas, mengusir ruh setan yang merasuki manusia, menaklukkan setan, dan dapat membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra serta tempat-tempat pemujaan Sang Prthiwi.

Keterusikan para penguasa ksetra-ksetra dan sanggar-sanggar pemujaan Sang Prthiwi itu pada gilirannya menjelma menjadi kemarahan, ketika ajaran Abdul Jalil mulai menampakkan pengaruh dahsyat pada perilaku pengikut-pengikutnya. Orang-orang yang semula penakut dan penurut, tiba-tiba berani bangkit dan menuntut hak untuk melindungi anak-anak dan keluarga dari kewajiban mempersembahkan mereka sebagai korban sembelihan di ksetra-ksetra. Mereka membentuk kumpulan-kumpulan dan melakukan perlawanan terhadap para pengawal ksetra yang datang mengambil anak-anak calon korban. Bahkan, mereka mulai menampik cerita-cerita dan dongeng-dongeng menakjubkan yang melingkupi ksetra-ksetra. Gerakan mereka telah membuat marah para pendeta yang kemudian menggalang kekuatan untuk menyingkirkan biang pembuat kisruh itu: Syaikh Jabarantas.

Sekalipun sadar akan bahaya yang bakal dihadapi akibat perlawanan para penguasa ksetra, Abdul Jalil bergeming dari jalannya. Ia tidak membenci dan tidak pula meladeni tindakan mereka yang menginginka nyawanya. Ia justru mengasihi mereka, manusia-manusia picik yang cakrawala pemandangannya sangat sempit dan pengetahuannya sangat dangkal. Ia paham, sebagaimana penduduk pedalaman Nusa Jawa lain yang hidup di tengah limpahan kesuburmakmuran tanah yang gemah ripa lohjinawi, mereka adalah orang-orang yang tidak bisa melihat Kehidupan dengan rana lebih luas dan lebih jauh dari sawah, desa, sungai, gunung, dan lembah yang mengitari kediamannya. Cakrawala pandangan mereka sangat sempit. Pendek. Picik.

Abdul Jalil sadar, membentangkan cakrawala pemandangan manusia yang sempit tidaklah mungkin bisa dilakukan tanpa menegakkan landasan nilai-nilai baru yang bisa dijadikan pijakan bagi terbangunnya tatanan Kehidupan baru yang lebih leluasa dan memberi harapan. Dan sebagaimana lazimnya sebuah perubahan, dalam usaha membangunkan manusia dari alam Kehidupan yang sempit dan menyesakkan itu, ia harus membongkar bangunan nilai-nilai lama penduduk yang sarat diliputi takhayul dan kurafat untuk diganti dengan bangunan nilai-nilai baru yang berlandaskan Tauhid. Itu berarti, ia harus merobohkan dinding-dinding penyekat labirin nilai-nilai lama yang sarat dengan takhayul berliku-liku dan menyesatkan. Ia harus membersihkan dan menyehatkan keyakinan orang-orang yang terpenjara di dalam lorong-lorong gua kurafat yang gelap gulita dengan terangnya matahari Pengetahuan yang Hakiki tentang Tauhid. Lalu, ia mengajarkan tentang eling (dzikir), pracaya (al-iman), mituhu (istiqamah), rila (ridho), lapang dada (sabar), berani berkorban (wirya), bijaksana (arif), ngalah (tawakal), nerima (qana’ah), temen (amanah), dan budi luhur (akhlak al-Karim) baik sebagai nilai-nilai hidup dan amaliah ruhani.

Usaha Abdul Jalil untuk membangun nilai-nilai baru berdasar Tauhid itu bukanlah sesuatu yang ringan. Ia dituntut oleh kewajiban asasi untuk memberikan pelajaran ruhani yang dapat menyingkap tirai kesadaran banyak manusia, agar bisa menyaksikan matahari Kebenaran yang tersembunyi di dalam diri masing-masing, yaitu matahari Kebenaran yang benderang cahaya-Nya jauh lebih agung dan mulia dibanding “gumpalan kabut kejahilan” yang terselip di pohon-pohon, batu-batu, gunung-gunung, mata air, sungai-sungai, punden-punden. Ia harus menyadarkan banyak orang bahwa ruh suci Ilahi yang ditiupkan Allah pada manusia saat penciptaan adalah jauh lebih tinggi dan lebih suci dibanding ruh-ruh gentayangan makhluk penghuni dasar bumi, seibarat perbandingan terang matahari dengan kegelapan gumpalan kabut. Usaha itu hanya mungkin terwujud jika dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala ditegakkan sebagai kediaman manusia-manusia yang sudah tercerahkan oleh pancaran matahari Kebenaran; manusia-manusia unggul yang akan membentangkan cakrawala baru bagi Kehidupan umat manusia yang lebih gemilang dan penuh harapan.

Selama usaha menegakkan caturbhasa mandala yang mendapat dukungan dari raja Pasir Luhur, Abdul Jalil terus dihadapkan pada tekanan-tekanan hebat yang nyaris membuat orang-orang di sekitarnya putus asa. Semakin kuat tekadnya untuk mewujudkan tegaknya caturbhasa mandala di wilayah Kabhumian, semakin hebatlah serangan yang datang untuk menggagalkannya. Namun, di tengah suasana yang penuh tekanan itu, tanpa disadari ia acapkali menampakkan kekeramatan-kekeramatan bersifat adikodrati yang secara langsung atau tidak langsung memperkuat keyakinan orang-orang yang mendukungnya. Bahkan, puncak dari kekeramatan itu disaksikan oleh banyak manusia ketika berlangsung upacara pembukaan empat dukuh pertama bercitra caturbhasa mandala di Kabhumian, yaitu dukuh Tanah Sari, Soka, Telaga, Wulung, dan Kali Putih.

Ketika Prabu Banyak Belanak menghadiri upacara pembukaan keempat dukuh di Kabhumian itu, ia lebih dulu telah mengundang para sesepuh dan pemuka desa, para balian, dukun, kumara, pendekar, tuan tanah, saudagar, bangsawan, terutama penguasa ksetra dan sanggar pemujaan Prthiwi di wilayah Kabhumian. Di tengah upacara itu ia mengumumkan akan mencari guru suci kerajaan yang linuwih. Hal itu dilakukan dengan cara menguji kesaktian dan kedigdayaan calon guru suci tersebut. Raja ingin menguji kemampuan semua orang sakti di wilayah Kabhumian dengan cara mengadu kesaktian dan kedigdayaan masing-masing. Siapa yang paling unggul maka dialah yang akan menjadi guru suci kerajaan.

Keiinginan raja untuk menguji kesaktian semua orang sakti di Kabhumian disambut penuh semangat oleh semua undangan yang merasa memiliki keunggulan dalam olah kanuragan maupun olah kebatinan. Lalu, terjadilah unjuk kehebatan di antara orang-orang yang berhasrat kuat menjadi guru suci kerajaan yang sangat terhormat dan mulia itu. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi ketika Syaikh Jabarantas tiba-tiba muncul dan berhasil lolos dari ujian yang berat itu. Dalam ujian yang diselenggarakan raja Pasir Luhur itu, Syaikh Jabarantas dengan cara sangat menakjubkan yang sebelumnya belum pernah disaksikan orang. Ia dengan mudah membuat tawar tuah dan tulah para penguasa ksetra dan penguasa sanggar pemujaan Sang Prthiwi, melumpuhkan keampuhan mantera-mantera para balian dan dukun-dukun, membuat tidak berdaya kesaktian dan kedigdayaan para pendekar, menggagalkan permainan ruh para kumara, dan melemahkan daya sakti pusaka-pusaka keramat.

Setelah memenangkan ujian dan diangkat menjadi guru suci kerajaan, Abdul Jalil tinggal di dukuh Tanah Sari dan menerima banyak murid. Sebagaimana kebiasaan yang dilakukannya, ia memberikan pelajaran berbagai pengetahuan baru yang memiliki sudut pandang baru kepada para muridnya, yang membuat banyak orang tertegun-tegun dan terheran-heran. Tanpa peduli dengan keyakinan dan pemahaman sebagian besar penduduk yang sarat takhayul dan gegwantuhuan, ia mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya belum pernah diketahui orang. Orang sering melihatnya menyampaikan ajaran-ajaran aneh seperti “belajar mati”, menjadi adimanusia, Sasyahidan, dan “menaklukkan setan”. Dengan suara aneh laksana desis ular di tengah derik ribuan jangkrik, ia mengajarkan cara menaklukkan setan kepada murid-muridnya, yang kalau dipaparkan, kira-kira begini intisarinya:

“Sungguh, telah berbilang tahun dan abad kalian mempercayai bahwa ruh-ruh setan menghuni tempat-tempat angker yang berbahaya bagi manusia. Kalian mempercayai bahwa ruh-ruh setan ada yang baik, ada yang jahat, dan suka mengganggu manusia. Kalian menyakini, orang-orang yang kesurupan adalah orang-orang yang sedang dirasuki ruh setan penghuni batu, pohon, sungai, mata air, punden, dan gunung. Padahal, apa yang kalian yakini itu pada hakikatnya adalah dunia khayali yang kalian bangun dengan prasangka-prasangka kosong. Yang kalian yakini adalah dunia angan-angan yang mengada-ada karena kuatnya daya cipta kalian sendiri.”

“Mulai sekarang, dengarlah apa yang diajarkan oleh Syaikh Jabarantas tentang setan-setan yang menggentarkan jiwamu itu. Ketahuilah, sejak awal zaman ketika manusia diciptakan Allah, di dalam diri manusia sudah terkumpul berbagai anasir mulai Yang Ilahi, malakut, setani, manusiawi, sampai hewani. Itu sebabnya, anasir setani, yang membuat seseorang kesurupan, sejatinya bukanlah anasir yang berasal dari luar diri manusia. Setan-setan yang merasuki diri manusia bukanlah ruh-ruh gentayangan penghuni tempat-tempat angker. Sebab, sejatinya, anasir-anasir setani sudah ada di dalam diri manusia sejak awal zaman. Anasir setani itu mengalir bersama aliran darah manusia. Setan ada di dalam diri manusia. Setan itulah yang membuat was-was hati manusia dan mendorong-dorong manusia untuk menekuk kaki, tubuh, dan kepala manusia, agar manusia bersujud kepada sesembahan selain Allah. Setan di dalam diri manusia itulah yang telah membuat lengah manusia dengan menunjuk bayangan dirinya yang seolah-olah bersemayam di pepohonan, sungai-sungai, batu-batu, mata air, gunung-gunung, dan punden-punden. Setiap orang yang terperdaya oleh bujukannya akan mengikuti bisikannya sehingga mereka tidak mengetahui di mana sejatinya ruh setani itu berada.”

“Camkan oleh kalian semua, o orang-orang yang mengaku pengikut Syaikh Jabarantas, mulai sekarang hendaknya kalian semua tidak lagi mengarahkan kiblat hati dan pikiran kepada sesembahan di luar diri kalian, baik itu pohon, batu, sungai, mata air, gunung, laut, bintang, bulan, matahari dan tempat-tempat angker. Kiblat Kebenaran yang sejati ada di dalam kalbu manusia. Dengan kiblat yang benar, kalian akan menjadi penakluk segala ciptaan karena kalian adalah wakil Allah di muka bumi. Dengan demikian, ulai saat ini jangan lagi kalian takut terhadap bayangan setan yang disebut Naga Shesha yang membagi-bagi waktu untuk menggiring kiblat hati dan pikiran manusia dari jalan Kebenaran. Sebagai wakil Allah di muka bumi, kalian akan bisa menjadi manusia penakluk setan yang selama ini kalian takuti. Apakah kalian ingin menjadi penakluk setan? Jika kalian ingin menjadi manusia penakluk setan maka ikutilah petunjukku.”

“Mula-mula, arahkan kiblat kesadaranmu ke dalam dirimu sendiri. Renungkan, rasakan, resapi, dan hayati keberadaan anasir setani yang bersembunyi di dalam dirimu. Sebab, setan di dalam dirimu itulah setan yang sejati, bukan bayangannya yang menciptakan angan-angan kosong di luar dirimu. Renungkan, rasakan, resapi, dan hayati keberadaan anasir setani di dalam dirimu yang panas membakar laksana api yang darinya setan dicipta. Renungkan, rasakan, resapi, dan hayati anasir api yang mengobarkan sifat takabur, iri, dengki, amarah, cemburu, dan dendam kesumat dalam dirimu yang salah satu gerbangnya terletak pada indera pendengaranmu. Jika kalian telah mengetahui dan menangkap keberadaan setan beserta sifat-sifat dan af’al-nya di dalam diri kalian masing-masing maka mudahlah bagi kalian untuk menaklukkannya. Sebab, bagaimanapun rapi setan menyembunyikan diri, kalian telah mengetahui jati dirinya. Sehingga, kalian setiap saat akan dapat menertawakan segala daya upaya setan yang akan membelokkan kiblat Kebenaran dari kesadaran kalian. Itulah yang aku sebut kemenangan menaklukkan setan karena setan tidak berdaya menghadapi orang-orang yang sudah mengetahui dan mengenal jati dirinya.”

11. Serpihan-Serpihan Manusia

Setelah merasa cukup berbagi keberlebih-kelimpahan di Kabhumian, Abdul Jalil dengan didampingi istri melakukan perjalanan ke arah timur melintasi gunung, bukit, lembah, ngarai, sungai, hutan, dan padang hijau dengan istirahat sekadarnya di desa-desa, dukuh-dukuh, padepokan-padepokan dan asrama-asrama yang berkenan menerima kehadirannya. Laksana seekor sapi membagi-bagi susunya kepada siapa saja yang membutuhkan, ia membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya tanpa sedikit pun meminta imbalan jasa. Dengan ketulusan dalam berbagi, tanpa dikehendaki ia telah menimbulkan perubahan-perubahan pada manusia-manusia di berbagai tempat yang di kunjunginya: perampok, begal, penggarong, maling, pembunuh, dan pelacur yang selama itu dianggap sebagai hama masyarakat, tiba-tiba banyak yang bertobat dan kembali ke jalan yang benar; wiku-wiku yang mengikuti upacara mediksha dengan sukarela mengikrarkan dua kalimah syahadat diikuti upacara memotong kulup kemaluan; beralih fungsinya ksetra-ksetra menjadi kuburan-kuburan penduduk; dan munculnya dukuh-dukuh baru bercitra caturbhasa mandala.

Setelah bulan-bulan dan tahun-tahun berlalu, dalam perjalanan panjang membagi keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil yang dikenal orang dengan nama Syaikh Jabarantas telah menjadi buah bibir masyarakat. Sejak kawasan barat Pasir Luhur hingga perbatasan Mataram, Pengging, dan Pajang, tidak ada orang yang tidak kenal nama Syaikh Jabarantas yang mengajarkanajaran-ajaran aneh: belajar mati, menaklukkan setan, Sasyahidan, dan menjadi adimanusia. Suatu ajaran aneh yang telah mengobrak-abrik kejumudan dan kemandekan Kehidupan ruhani di pedalaman Nusa Jawa. Bahkan bukan sekadar ajaran anehnya, tapi penampilan, perilaku, dan kekeramatannya yang luar biasa telah menjadikannya dikenal dan dihormati orang dengan sangat berlebihan. Di mana pun ia berada, ia selalu dijadikan pergunjingan yang tak ada habis-habisnya. Hanya saja, keberadaannya yang selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain telah menghindarkannya dari pemberhalaan sebagaimana telah terjadi di Caruban. Penduduk di pedalaman Nusa Jawa kebanyakan hanya satu dua kali melihat sosok Syaikh Jabarantas atau bahkan hanya mendengar nama itu dari cerita mulut ke mulut.

Sebagaimana saat berada di wilayah Pasir Luhur, ketika memasuki wilayah perbatasan Pasir Luhur, Mataram, Pengging, dan Pajang yang membentang sejak lembah selatan pegunungan Dihyang hingga lembah gunung Sindara – Sumbing, di kaki gunung Candrageni (Merapi), dan Candramuka (Merbabu), Abdul Jalil disambut dengan penghormatan berlebih setiap kali datang ke dukuh-dukuh, padepokan-padepokan, asrama-asrama. Namun, di tengah sanjungan dan pujian yang ditujukan kepada dirinya itu, Abdul Jalil menangkap sasmita mengerikan tentang bakal terjadinya azab Allah dalam bentuk bencana dahsyat yang akan melanda wilayah tersebut.

Sepanjang perjalanan memasuki wilayah yang bakal diterjang bencana itu, Abdul Jalil menyaksikan jungkir baliknya tatanan nilai-nilai yang dianut penduduk di kawasan tersebut. Ia menduga, kemerosotan Majapahit yang diikuti tumbuh suburnya kerajaan-kerajaan kecil dan kadipaten-kadipaten gurem yang saling berselisih telah menjadi penyebab utama bagi lahirnya sebuah tatanan baru masyarakat yang kabur dan tidak jelas kekuatan tiang-tiang penyangganya. Kehidupan masyarakat telah teraduk-aduk dan berantakan karena pilar-pilar kekuasaan, hukum, keamanan, dan ketertiban telah runtuh serta hilang tersapu badai keserakahan dan keganasan para penguasa yang berselisih memperebutkan kuasa dan wibawa. Kekuasaan sudah berbaur dengan ketidakteraturan. Hukum sudah bercampur dengan perdagangan. Keadilan sudah sama dan sebangun dengan keberpihakan. Kejujuran telah menyatu dengan dusta. Kebaikan telah bercampur aduk dengan kejahatan. Kebenaran telah tumpang tindih dengan kebatilan. Semua nilai telah kabur. Buram. Gelap. Menyesakkan.

Di tengah perselisihan para penguasa serpihan-serpihan wilayah Majapahit yang sebagian besar telah menjadi kekuasaan-kekuasaan gurem itu, memang terjadi kesepakatan para penguasa untuk membagi wilayah kekuasaan masing-masing dengan batas-batas wilayah yang tegas. Namun, akibat tidak adanya kekuasaan tertinggi yang memiliki kuasa dan wibawa, maka kesepakatan-kesepakatan itu sering kali dilanggar. Lalu, terjadi tumpang tindih dalam pengaturan daerah kekuasaan baik menyangkut batas tanah, pajak, cacah jiwa, administrasi, hingga status warga dan jumlah nayakapraja. Di tengah ketumpangtindihan itu, rakyat sengaja dibiarkan hidup dengan pilihan-pilihannya sendiri, termasuk dalam hal melindungi diri sendiri dari berbagai masalah berat yang seharusnya menjadi kewajiban penguasa. Akibatnya, kerusuhan-kerusuhan kerap kali terjadi, baik dalam bentuk perampokan, penyerobotan tanah, tawuran antardesa, pembunuhan-pembunuhan, dan penjarahan-penjarahan. Para penguasa biasanya pura-pura menutup mata seolah tidak mengetahui keadaan carut marut yang terjadi di wilayah kekuasaannya.

Sebagaimana perilaku alam, seiring perjalanan waktu, tatanan Kehidupan di wilayah yang sarat perselisihan itu telah melahirkan kenyataan hidup manusia yang sesuai dengan dasar-dasar hukum alam: siapa yang kuat akan muncul sebagai pemenang. Di tengah kehidupan yang mirip rimba raya itu, bermunculan makhluk-makhluk mengerikan yang ganas, buas, rakus, dan keji, laksana mayat-mayat hidup bangkit dari kubur bergentayangan menakuti manusia. Atau, makhluk-makhluk buas yang curang, licik, kejam, tamak, dan serakah, laksana kawanan lintah berkeriap dari rawa-rawa mencari manusia untuk diisap darahnya. Atau, makhluk-makhluk pemakan bangkai, laksana kawanan biawak merayap-rayap dengan lidah bercabang terjulur meneteskan liur keserakahan. Atau makhluk-makhluk dekil pemakan sampah, laksana lalat beterbangan menebarkan bau busuk dan penyakit. Makhluk-makhluk ganas itulah yang dikenal orang dengan nama: tuan tanah, lintah darat, pemungut pajak, tukang tagih, centeng, maling, penggarong, pemeras, orang-orang bayaran, dan penjarah. Semua makhluk menjijikkan itu hidup saling membahu, tolong-menolong, manfaat-memanfaatkan, dukung-mengukung, pendek kata saling bekerja sama dengan sesama maupun dengan para penguasa. Mereka membangun kuasa dan wibawa yang menakutkan bagi Kehidupan manusia karena kekuatan mereka saling berjalin berkelindan, laksana dinding-dinding labirin yang berliku-liku membingungkan dan menyesatkan.

Kemunculan makhluk-makhluk mengerikan itu ternyata akibat keadaan tidak pasti yang membuat semua orang saling berlomba memenuhi kepentingan pribadinya masing-masing di luar batas kewajaran. Seperti sedang berpacu mengadu kecepatan, orang-orang berlomba saling mendahului untuk meraih keuntungan pribadi sebesar-besarnya. Siapa yang tercepat akan berada pada urutan terdepan. Dalam perlombaan mengedepankan kepentingan pribadi itu, muncul makhluk-makhluk mengerikan yang membahayakan Kehidupan manusia. Sementara penduduk desa yang selama berbilang abad merupakan orang-orang tangguh yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, ternyata ikut berubah menjadi kawanan makhluk pemalas rakus dan ganas akibat tanah-tanah yang mereka garap secara turun-temurun bergantian dirampas oleh penguasa yang berbeda dari satu waktu ke waktu yang lain. Bagaikan kawanan lalat berkerumun mengitari bangkai yang dimangsa serigala, begitulah penduduk desa-desa yang sebelumnya dikenal sebagai komunitas yang mandiri tiba-tiba menjelma menjadi kawanan pencoleng yang suka menangguk keuntungan di tengah kekacauan. Selama kurun perselisihan yang panjang itu, banyak desa yang semula penduduknya terkenal ramah dan suka menolong tiba-tiba berubah menjadi desa para pelucut mayat. Perangai ramah dan suka menolong serta merta lenyap digantikan wajah seram dari serpihan-serpihan manusia yang suka melucuti barang-barang prajurit yang tewas dalam pertempuran, seperti keris, sarung keris, pedang, sarung pedang, busur, mata tombak, cincin, gelang, dan kantung jimat. Bahkan, yang lebih banyak tumbuh lagi di samping desa-desa pelucut mayat adalah desa-desa penggarong dan penjarah, yakni desa dari serpihan-serpihan manusia ganas pembawa binatang buas yang menjarah dan membiadab di tengah kekacauan.

Melucuti mayat dan menjarah. Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus di tengah perselisihan kuasa dan wibawa yang berlangsung berpuluh-puluh tahun akhirnya mewujud menjadi sebuah mentalitas kaum. Sebab, dengan melucuti mayat dan menjarah, segala hal yang sulit menjadi mudah. Segala hal yang rumit menjadi sederhana. Segala hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bukankah di dalam melakukan perlucutan mayat dan penjarahan, orang hanya butuh sedikit kekuatan dan sekeping keberanian untuk melakukan aksinya? Bukankah seorang pemalas dekil pun tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk melakukan tindakan perlucutan mayat atau aksi penjarahan? Melucuti mayat. Menjarah. Melucuti mayat. Menjarah. Itulah mentalitas kaum yang terus tumbuh subur baik di kalangan kawula maupun di tingkat penguasa yang hidup di tengah konflik. Semakin porak-porandan dan jungkir balik tatanan nilai-nilai kehidupan yang sudah dirobek-robek perselisihan itu, semakin suburlah mentalitas rendah itu dengan pertanda seringnya pecah kekacauan yang bermuara ke perlucutan dan penjarahan besar-besaran. Demikianlah, di wilayah persilangan Pasir Luhur, Mataram, Pengging, dan Pajang yang ditebari kadipaten-kadipaten gurem seperti Bocor, Taji, Surabhuwana, Pakem, Semanggi, Wanabhaya, Wirasabha, Bhagahalin, Jatinom, Kajoran, dan Tembayat itu nyaris tidak pernah sepi dari kekacauan yang tampaknya sengaja dicipta oleh para penjarah.

Di lembah selatan gunung Candrageni yang selalu mengeluarkan asap, yang menurut penduduk di sekitar gunung tersebut terdapat kerajaan gaib bangsa lelembut, yang dirajai Sang Kala Rudra, yang pada waktu-waktu tertentu menyemburkan lahar panas dari kepundan, terdapat pemukiman penduduk yang tersebar begitu dekat jaraknya satu sama lain. Sejak berbilang abad, kawasan tersebut dikenal sebagai daerah sangat subur karena muntahan lahar dari gunung Candrageni telah menjadi pupuk bagi tanah yang ditebarinya. Lantaran berlimpah kesuburan yang laksana berkah tercurah dari langit, penduduk di kawasan tersebut hidup dalam kemakmuran berlebihan. Namun, sejak ketidakpastian hidup mulai mengambang seiring merosotnya kekuasaan Majapahit, seluruh kemakmuran yang dinikmati penduduk tiba-tiba terampas oleh tangan-tangan kekar bersenjata. Petani-petani penggarap sawah diusir dan tanahnya dirampas oleh orang-orang kuat yang kelak mendudukkan diri sebagai penguasa wilayah. Lalu, seiring menguatnya penguasa wilayah, bermunculan para tuan tanah, pemungut pajak, penagih sewa tanah, tukang kepruk, dan lintah darat. Kemiskinan pun merebak menjadi keniscayaan yang melahirkan manusia-manusia pemalas yang mengedepankan kepentingan pribadi, yang dengan cara sangat ajaib menjelma menjadi serpihan-serpihan manusia dekil berjiwa perampok, penggarong, pencuri, pelucut mayat, pengutil, dan penjarah.

Ketika Abdul Jalil dan istri dalam perjalanan membagi keberlebih-kelimpahan tiba di kawasan lembah selatan gunung Candrageni, ia menyaksikan kejahatan demi kejahatan dilakukan oleh manusia-manusia yang sudah menjadi serpihan-serpihan berjiwa kawanan binatang buas. Yang paling menderita dari keadaan itu tentu saja orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang tak berdaya. Mereka meringkuk ketakutan di sudut-sudut rumah dengan tubuh lemah diterkam rasa lapar dan putus asa. Dengan tatap mata kosong, beberapa ibu yang kurus mendekap mayat bayinya yang sudah kaku. Sementara orang-orang yang masih kuat acapkali terlihat berlari tak tentu arah ketika rumah-rumah mereka dibakar para perusuh yang laksana kawanan serigala haus darah menjarah dan memburu siapa saja di antara manusia yang bisa dijadikan mangsa. Demikianlah, di tengah jerit kematian, pekik kesakitan, dan rintih keputusasaan orang-orang lemah tak berdaya itu, terdengar gelak tawa para tuan tanah, lintah darat, tukang tagih, pemungut pajak, tukang kepruk, para penjarah, dan tentu saja para penguasa bermental penjarah.

Bagi kebanyakan orang yang tinggal di daerah lembah gunung Candrageni dan Candramukha, compang-camping dan porak-porandanya kehidupan penduduk dengan nilai-nilai yang jungkir balik itu dianggap sebagai suatu hal biasa dan bahkan sangat menyenangkan. Namun, bagi Abdul Jalil yang terbiasa berbagi keberlebih-kelimpahan, keadaan itu sangat melukai jiwanya. Ia merasa seolah-olah berdiri di tengah bentangan cermin yang mengelilingi seperti lingkaran. Lalu, di dalam cermin itu ia melihat bayangan mengerikan dari manusia-manusia berkurang-kesusutan yang meraung-raung, melolong-lolong, dan melenguh-lenguh dengan mata menyala dan liur menetes, ingin melahap mangsa. Betapa mengerikan bayangan makhluk-makhluk buas berwujud manusia itu karena mereka lebih ganas dan lebih liar dibanding binatang paling buas. Mereka tidak takut kepada sesuatu karena di dalam diri mereka bersembunyi sesuatu yang sangat menakutkan manusia.

Sesungguhnya, sebagai makhluk hidup, serpihan-serpihan manusia itu memiliki naluri rasa takut. Sebab sebuas dan seliar apa pun makhluk hidup, entah itu manusia atau binatang, tidak akan pernah dapat membebaskan diri dari naluri rasa takut. Demikianlah, serpihan-serpihan manusia dekil berkurang-kesusutan yang dari waktu ke waktu mengumbar kejahatan demi kejahatan itu ternyata lehernya dililit oleh rantai-rantai rasa takut, yang diikat pada tiang api raksasa di puncak gunung Candrageni, yang merupakan singgasana Sang Kala Rudra. Rasa takut kepada Sang Kala Rudra itulah yang membuat mereka dapat berubah menjadi kumpulan dari serpihan manusia yang dengan takzim mempersembahkan sesaji kepada penguasa gunung serta mematuhi pantangan-pantangan, terutama di saat mereka menangkap tanda-tanda kemarahan Sang Penguasa Gunung.

Sementara, tercekam oleh penderitaan manusia akibat kejahatan manusia lain, Abdul Jalil berusaha memberi peringatan kepada semua orang agar mereka sadar bahwa tindak kejahatan yang mereka lakukan dengan semena-mena itu telah membuat Yang Mahakuasa murka. Dengan cara yang aneh, muncul mendadak seperti orang terbawa tiupan angin, ia datang ke tengah para pendeta dan pemuka penduduk yang sibuk mengadakan upacara persembahan bagi Sang Kala Rudra, penguasa gaib gunung Candrageni, yang belakangan terlihat murka dengan pertanda terbatuk-batuk dan menggeram-geramnya sang gunung. Ketika semua terheran-heran dengan kemunculannya yang aneh itu, Abdul Jaliln dengan cara yang aneh pula menyatakan bahwa ia adalah punggawa kraton gaib gunung Candrageni, yang diutus Sang Kala Rudra untuk memperingatkan manusia.

Di tengah rasa takut yang sedang menerkam, dengan menunjukkan sedikit kekeramatan yang menakjubkan, Abdul Jalil berhasil meyakinkana para pendeta dan pemuka penduduk. Mereka yang meyakini bahwa dewa-dewa sering muncul di dunia dalam wujud manusia, benar-benar yakin jika manusia yang berpakaian compang-camping yang datang dengan cara aneh dan mampu menunjukkan kesaktian itu adalah punggawa kepercayaan Sang Kala Rudra. Dengan penuh ketundukan dan kepatuhan, mereka menyembah dan kemudian duduk takzim bagaikan nayaka sedang menunggu sabda rajanya.

Sadar orang-orang sudah meyakini dirinya adalah punggawa kepercayaan Sang Kala Rudra, Abdul Jalil kemudian memberikan wejangan-wejangan yang intinya adalah peringatan dan ancaman kepada para pelaku kejahatan yang telah membuat murka Penguasa gunung, sungai, hutan, lautan, dan langit. Dengan suara nyaring laksana jeritan camar di tengah deburan ombak lautan, ia berkata dengan suara lantang diliputi wibawa yang aneh.

“Dengar! Dengarlah sabdaku, o pemimpin-pemimpin manusia yang tinggal di wilayah kekuasaanku! Bukalah telingamu lebar-lebar sebelum aku tusuk dengan batang bambu! Camkan peringatan yang aku sampaikan ini! Pertama-tama, untuk apa engkau sekalian melakukan upacara persembahan kepada Tuanku, Sang Kala Rudra, dengan cara berlebihan? Untuk apa tumpeng, ayam panggang, domba sembelihan, arak wangi, dan dupa harum engkau suguhkan untuk Tuanku, jika apa yang kalian persembahkan itu adalah hasil rampokan dan jarahan? Apakah kalian menganggap Tuanku pemimpin perampok yang memerintahkan kalian untuk merampas dan menjarah? Sungguh, persembahan kalian adalah penistaan dan kejijikan bagi Tuanku. Sungguh, perayaan upacara yang kalian adakan ini adalah suatu kejahatan yang memalukan bagi Tuanku.”

“Dengar! Dengar sabdaku, o manusia-manusia memuakkan. Telah bertahun-tahun Tuanku menahan murkanya atas penghinaan yang kalian lakukan. Tuanku muak melihat kalian. Muak. Muak. Seribu kali muak. Sehingga, kalau Tuanku mendapati kalian menengadahkan tangan untuk berdoa kepadanya maka dia akan memalingkan muka dan menutup telinganya. Dia tidak akan mendengar doa kalian. Sebaliknya, dia murka dan akan menebarkan kemurkaannya atas kalian semua. Tanpa kenal orang tua, perempuan, anak-anak, dan bahkan bayi sekali pun, dia akan mencurahkan amarahnya ke atas kepala tiap-tiap makhluk hidup di sekitarnya. Dia, Sang Kala Rudra, Penguasa Waktu, akan turun kepada kalian dalam wujud Yama, Sang Maut, Yang Maha Membinasakan. Dia akan menyaksikan Kebinasaan manusia akibat kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan.”

“Sekarang dengarkan! Dengarkan, o manusia-manusia jahat. Jika kalian ingin selamat dari murka Tuanku maka ikutilah apa yang aku tunjukkan ini: pertama-tama, sucikanlah dirimu dari semua perbuatan jahat. Lalu, dermakan semua harta benda yang telah kalian kumpulkan dengan cara tidak hak itu kepada mereka yang membutuhkanu. Berbuat baiklah dengan menolong siapa saja di antara manusia yang membutuhkan pertolongan. Lalu, tegakkan keadilan dan cegah orang-orang dari perbuatan jahat. Lindungi orang-orang tua tak berdaya. Bela hak anak-anak yatim dan terlantar. Perjuangkan hak janda-janda tua dan orang-orang tertindas. Berikan keberlebih-kelimpahan yang kalian miliki kepada siapa saja di antara makhluk yang membutuhkan. Lalu, jangan sekali-kali kalian melakukan upacara persembahan untuk Tuanku lagi. Sebab, Tuanku telah berkata kepadaku bahwa Dia jijik dengan persembahanmu. Sebaliknya, Dia menginginkan kalian untuk menyembah-Nya dalam perwujudan Sanghyang Taya, Hyang Tunggal, Tuhan sesembahan leluhurmu sejak awal zaman. Kembalilah kalian kepada jalan Kebenaran yang pernah diajarkan Danghyang Semar beribu tahun silam.

Kembalilah kalian kepada ajaran Kapitayan. Tinggalkan upacara-upacara tak berguna yang menista Tuanku. Upacaramu itu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi malah menurunkan bencana dahsyat bagi kalian.”

“Jika kalian ikuti petunjukku maka kalian akan selamat dari murka Tuanku. Sekalipun kesalahan kalian sudah sehitam jelaga, jika mengikuti petunjukku dengan benar maka kesalahan kalian akan dibersihkan dan disucikan seputih kapas. Jika kalian mau mendengar dan menuruti petunjukku maka kelimpahan yang Tuanku berikan akan semakin bertambah-tambah. Tetapi sebaliknya, jika kalian menentang dan melawan petunjukku maka kalian akan dimangsa oleh naga api raksasa yang bakal keluar dari kraton Tuanku. Sekarang dengarkan dan ikuti seruanku: seibarat kecepatan awan yang berarak ditiup angin kencang, begitulah engkau dengan keluargamu hendaknya pergi jauh-jauh dari wilayah kekuasaan Tuanku! Pergilah kalian menjauh dari tempat ini karena murka Tuanku sudah tidak tertahankan lagi. Dia akan menumpahkan murka-Nya ke empat penjuru negeri.”

Tiap-tiap umat memiliki ajal. Jika ajal suatu umat sudah datang menghampiri, waktunya tidak dapat diundur atau dimajukan. Sebagaimana keniscayaan hukum kehidupan, suatu umat yang sedang menunggu ajal selalu menampakkan tanda-tanda yang nyaris sama: mata nuraninya buta, telinga jiwanya tuli, lidah kebenaran-hatinya bisu, cakrawala kesadaran ruh manusiawinya tertutup gumpalan kabut pekat kejahilan. Sehingga, tidak seberkas pun keindahan wejangan yang dapat mereka lihat, tidak secuil pun kemerduan nasihat dapat mereka dengar, tidak sekerat pun kelezatan petunjuk dapat mereka nikmati, dan tidak sebersit pun bentangan cahaya Kebenaran dapat mereka ketahui. Mereka seperti orang buta, tuli dan bisu yang berada di dalam sel penjara yang gelap sehingga seberkas apa pun orang berusaha mengingatkan mereka tentang terangnya Kebenaran pastilah tidak akan mereka hiraukan.

Sebagai seorang manusia yang memiliki kepekaan dalam membaca tanda-tanda Kehidupan, Abdul Jalil sebenarnya menangkap sasmita bakal terjadinya bencana sejak kali pertama ia menginjakkan kaki di tanah yang dikerudungi kabut kejahatan. Keluh kesah penduduk tentang serbuan hama tikus dan belalang di sawah-sawah, disusul serangan penyakit ganas yang menewaskan ternak, dan disambung terjangan angin puyuh yang merusakkan tanah pertanian dan pemukiman, adalah tengara awal yang ditangkapnya tentang bakal terjadinya bencana dahsyat di daerah itu akibat kejahatan manusia. Ia tidak terkejut ketika kemudian mendapati kejahatan demi kejahatan yang dilakukan manusia-manusia dekil dan yang sudah buta nurani, tuli jiwa, dan bisu batinnya itu tergelar di depan matanya. Ia hanya merasakan dadanya sesak ketika dari waktu ke waktu menyaksikan ruh kejahatan terus datang membadai dan sambung-menyambung, menyelimuti jiwa manusia laksana embusan angin menggiring gumpalan awan yang bakal menghamburkan prahara; badai Kematian ganas yang ditunggangi Sang Maut, Penguasa Kematian, Pembinasa Yang mengangkat cakar-cakar Kehancuran dan akan menyantap nyawa semua makhluk yang ditemui-Nya.

Di tengah kebutaan mata hati, ketulian telinga batin, kebisuan lidah ruhani manusia yang sudah menghitam, di antara kejahatan yang tercurah laksana hujan deras dari langit, Abdul Jalil dengan diikuti tiga puluh sembilan orang yang meyakini ucapannya, yang kesemuanya adalah orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang lemah, berjalan beriringan tersuruk-suruk melewati pematang sawah, jalan setapak, semak belukar, hutan, bukit-bukit terjal dan menyeberangi sungai-sungai berair deras. Tanpa mempedulikan rasa lelah yang melumpuhkan jaringan otot tubuh dan rasa lapar yang menerkam perutnya, ia dan istri terus berjalan cepat dan secara bergantian menggendong anak-anak yang menangis ketakutan mendengar raungan gunung Candrageni yang menggemuruh. Ia berjalan sambil sesekali berteriak, menyemangati orang-orang yang mengikutinya agar tidak putus asa, meski kelelahan dan kelaparan telah menguras habis tenaga mereka. “Jangan putus asa! Teruslah bergerak! Bergerak! Ingat, di belakang kita Sang Maut sedang menggeliat dan akan memangsa siapa saja yang berada di dekat-Nya. Sedikit saja terjadi keterlambatan dari gerakan kita, tidak syak lagi, kita akan menjadi santapan-Nya. Ayo percepat langkahmu!” seru Abdul Jalil memapah seorang orang tua yang lemah kehabisan tenaga.

Setelah berjalan beberapa lama, Abdul Jalil beserta orang-orang lemah yang mengikutinya mencapai lembah Martani, yang membentang antara sungai Kuning dan sungai Gendol di kaki selatan gunung Candrageni, terjadilah peristiwa mengerikan yang sudah mereka tunggu dengan cemas: sebuah gempa dahsyat tiba-tiba mengguncang bumi sekeras-kerasnya diikuti runtuhnya bangunan-bangunan dan hiruk pikuk manusia yang bergelimpangan di atas tanah. Lalu, jerit kepanikan sambung-menyambung di tengah suara gemuruh runtuhnya segala sesuatu. Suasana mendadak berubah sangat mencekam dan menegangkan. Bayangan Kematian berkeliaran mengejar setiap jiwa. Wajah Sang Maut yang mengerikan menyeringai sangat menyeramkan, seolah kelaparan dan ingin melahap jiwa-jiwa yang ketakutan melarikan diri dari amukan alam. Ke mana pun manusia menghadapkan wajah, di situ mereka menyaksikan wajah Kematian yang tak tergambarkan dahsyatnya.

Ketika guncangan gempa yang dahsyat mulai mereda, semua orang yang selamat dari runtuhan bangunan-bangunan ambruk dengan kepala pening dan tatap mata kabur berhamburan keluar, berjalan hilir-mudik tak tentu arah, berlari kebingungan memanggili anak-anak, istri, suami, saudara, orang tua, dan handai taulannya. Arus manusia tiba-tiba berpusar dengan cepat di bawah seringai wajah Kematian. Kepanikan tersebar di mana-mana laksana air lautan di aduk-aduk gelombang. Manusia-manusia yang jiwanya sudah menjadi serpihan-serpihan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali berlari. Berlari. Berlari tanpa tahu ke mana arah hendak dituju karena ke mana pun mereka berlari, bayangan Kematian terlihat menunggu mereka di ujung jalan.

Sementara, Abdul Jalil dan orang-orang yang mengikutinya yang sudah mengetahui bakal terjadi bencana, terlihat jauh lebih tenang. Mereka tidak sebingung dan sepanik orang-0rang yang tak mengetahui bakal terjadinya bencana tersebut. Saat orang-orang berlarian tak tentu arah menyelamatkan diri atau mencari sanak-keluarganya, mereka dengan tenang berjalan beriringan ke arah timur menuju perbatasan Pajang yang jauh dari jangkauan gunung Candrageni. Belum lagi mereka cukup jauh berjalan, tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat semua mata terbelalak dan semua mulut bungkam: sebuah ledakan dahsyat terdengar dari puncak gunung diikuti suara gemuruh dari semburan lahar berapi yang menjulang tinggi laksana tiang raksasa menggapai langit. Sekejap kemudian, tiang api raksasa itu tumbang ke bawah menjadi cairan lahar berapi yang turun ke lereng dengan suara mengerikan, berpacu mengadu kecepatan bagaikan kawanan raksasa api berkejaran dan berlompatan saling mendahului, membentuk aliran merah membara, dan menjelma dalam wujud naga api raksasa yang merayap ganas, menyantap segala sesuatu yang dilewatinya. Dalam beberapa jenak, pada bekas jejak naga api raksasa itu terlihat beribu-ribu batang pohon tumbang yang hangus, kayu-kayu hitam menyala berserakan, mayat-mayat sehitam arang yang tak karuan lagi bentuknya, desa-desa yang rata dengan tanah dan mengepulkan asap, dan sayap-sayap Kematian yang terentang gagah menaungi kabut Kebinasaan yang bergumpal-gumpal memenuhi cakrawala.

Tanpa peduli Kebinasaan yang memporak-porandakan Kehidupan makhluk, Abdul Jalil dan orang-orang yang mengikutinya terus bergerak menerobos kegelapan debu yang menyelimuti permukaan bumi sambil terus mengagungkan kebesaran Ilahi. Dengan keyakinan bahwa Kebinasaan yang menghambur dari gunung Candrageni itu senapas dengan Kebinasaan yang pernah melanda kaum ‘Ad dan kaum T’samut di zaman Nabi Luth a.s., ia mewanti-wanti semua orang untuk tidak menoleh ke arah bencana. “Arahkan kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya! Jangan menoleh-noleh ke samping atau ke belakang! Barangsiapa yang melanggar akan binasa dimangsa Sang Maut.”

Sekalipun sejak awal sudah mengetahui bakal datangnya bencana, dalam perjuangan keras membawa orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak untuk menghindar dari amukan gunung yang marah, Abdul Jalil merasakan jiwanya dicekam ketegangan yang membuat tubuhnya basah kuyup diguyur keringat dingin. Sebab, secepat apa pun usaha yang dilakukannya untuk membawa orang-orang yang kelelahan dan kelaparan itu menjauh dari bencana, tak urung ia harus berhadapan dengan hambatan-hambatan yang sangat berat dan menekan terutama menyangkut kelambanan gerak. Sampai saat lahar berapi yang membludak dari puncak gunung laksana naga api raksasa itu meluncur ke bawah, melahap segala sesuatu yang menghadang jalannya, Abdul Jalil dan mereka yang mengikutinya masih berada di daerah aliran lahar. Ibarat sekumpulan anak-anak yang kelelahan dikejar naga api raksasa, begitulah mereka berlari terseok-seok, jatuh bangun diikuti aliran lahar berapi yang melaju cepat dengan suara gemuruh.

Kejar-mengejar antara aliran lahar berapi dengan Abdul Jalil dan mereka yang mengikutinya berlangsung sangat seru. Tanpa mempedulikan rasa sakit akibat terjatuh atau rasa lelah dan kehabisan napas, mereka berlari untuk menjauhi kejaran lahar berapi yang membinasakan. Namun, apalah daya orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang sudah lapar dan kelelahan. Jarak mereka dengan lahar berapi makin lama makin dekat sehingga gemuruh amukan sang naga api raksasa itu dapat mereka dengar, seolah-olah berada di belakang punggung. Kekuatan mereka nyaris habis manakala tebaran panas dari naga api raksasa itu mereka rasakan mulai menyengati tubuh. Sewaktu jarak mereka dengan aliran lahar berapi itu sudah sangat dekat, kira-kira sekitar tiga puluh tombak, Abdul Jalil tidak melihat kemungkinan lain untuk menghindar. Ia sudah membayangkan terjangan lahar berapi itu akan melahap dan melumat para pengikut dan bahkan dirinya.

Manusia boleh berusaha, tetapi Tuhanlah penentu segala. Saat bayangan Kematian sudah mengambang di permukaan bumi dan wajah-Nya menyeringai sangat menyeramkan di depan mata, tiba-tiba Abdul Jalil melihat secercah cahaya Kehidupan bersinar di atas sebuah bukit kecil yang tegak di sisi sebalah kirinya. Seperti digerakkan oleh kekuatan tak kasatmata, ia tiba-tiba saja berhenti dan memerintahkan orang-orang untuk berbelok arah, bergerak menyilang ke sisi kiri bukit yang memiliki jalan setapak menanjak ke tebing. Orang-orang yang panik dan hanya melihat Abdul Jalil sebagai satu-satunya penyelamat yang harus mereka ikuti tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti perintah panutannya. Mereka berlari sekuat kuasa dengan sisa-sisa tenaga terakhir. Lalu, terjadi suatu keajaiban: pada saat semua sudah mencapai puncak bukit yang terletak di sisi timur sungai Gendol di dekat tempuran sungai Opak, sampailah ujung lahar berapi itu ke sisi-sisi bukit dan menerjang segala sesuatu di aliran sungai dengan suara gemuruh. Aliran lahar berapi yang membinasakan itu meluncur ganas dan hanya berjarak sekitar sepuluh tombak dari atas bukit tempat Abdul Jalil dan pengikutnya berada.

Abdul Jalil yang tengah termangu-mangu menyaksikan hasil amukan alam yang menyisakan Kebinasaan mengerikan di sekitarnya, tiba-tiba dikejutkan oleh penglihatan batin yang membuat jantungnya berdentam-dentam dan aliran darahnya tersirap. Nun jauh di gugusan pantai selatan yang membentang di selatan kutaraja Mataram, terjadi Kebinasaan lain yang tidak kalah dahsyat ketika sebuah gempa mengguncang samudera dan memunculkan barisan gelombang besar yang bergerak hiruk-pikuk sangat mengerikan menerjang pantai, menjelma dalam wujud naga air raksasa yang menjulur ke tengah daratan dengan mulut ternganga, menyapu segala sesuatu yang dilewatinya, dan sewaktu kembali ke tengah lautan telah menyisakan bekas jejak menggiriskan: rumah-rumah berantakan dan rata dengan tanah, pohon-pohon tumbang bergulingan, pedati dan kereta bergelimpangan, sampah-sampah membukit, air berlumpur yang menggenang, mayat-mayat manusia berserakan, dan jiwa-jiwa yang beterbangan ke langit.

“Ya Allah, hamba berlindung dari murka-murka-Mu. Hamba percaya bahwa kasih-Mu lebih besar dari murka-Mu. Lindungilah kami, o Sang Pelindung!” seru Abdul Jalil di tengah gemuruh amukan Sang Maut. Namun, belum lagi bayangan Kematian terhapus dari penglihatan batinnya, ia menyaksikan bayangan Sang Maut berkeliaran ganas di antara garis langit dan permukaan bumi. Seperti belum puas dengan amukan naga api dan naga air raksasa yang menghamburkan Kebinasaan, murka Tuhan muncul lagi dalam wujud amukan naga tanah raksasa yang menyeruak di tengah kegelapan. Seiring tumpahnya air hujan dari langit yang meluapkan sungai-sungai dan meggenangi puluhan bukit dan lereng gunung, menjelmalah butir-butir air hujan yang lembut itu menjadi kawanan raksasa tambun yang tidak dapat bergerak karena tertahan bongkahan lahar berapi yang sudah padat. Tidak kuat menahan beban yang makin berat seiring makin tambunnya raksasa-raksasa air yang bergelantungan di punggungnya, runtuhlah tebing-tebing puluhan bukit itu ke bawah dengan suara gemuruh, menjelma menjadi naga tanah raksasa yang bergerak cepat menerjang pohon-pohon, hutan-hutan, lembah-lembah, padang hijau, sawah-sawah, desa-desa, rumah-rumah, dan semua makhluk yang berada di jalur lintasannya. Dalam sekejap, beribu-ribu manusia hilang tertelan di dalam perut naga tanah raksasa yang mengganas tak kenal ampun.

Ketika hari menjelang sore dan Abdul Jalil berdiri di atas bukit dikerumuni orang-orang yang mengikutinya, orang-orang meyakini bahwa dirinya adalah dewa yang turun ke dunia untuk menyelamatkan mereka. Dengan tatap nanar ia memandang Kebinasaan yang terhampar di sekitarnya. Setelah diam beberapa lama, ia dengan suara lain yang aneh berkata, menasihati orang-orang yang begitu mencintai dan memujanya.

“Wahai sahabat-sahabatku! Sesungguhnya, kita baru saja terhindar dari sergapan Sang Maut dan sekarang ini kita saksikan bersama padang Kebinasaan yang dipenuhi potongan dan serpihan tubuh manusia yang hangus menghitam. Aku tidak tahu apakah serpihan-serpihan itu tubuh manusia atau bangkai hewan karena semua tidak karuan lagi bentuknya. Semua sudah menjadi sekadar gumpalan atau serpihan daging hangus. Semua kecantikan, kemolekan, ketampanan, kegagahan, keperkasaan, dan kesempurnaan jasad ragawi manusia telah hilang, digantikan gumpalan-gumpalan daging hangus tak berharga. Tak berharga. Tak berharga. Seribu kali tak berharga.”

“Inilah pemandangan mengerikan bagi manusia yang memiliki penglihatan batin. Sebab, jauh sebelum pemandangan mengerikan ini terjadi sebagai kenyataan, mata batin mereka telah menyaksikan terlebih dahulu pemandangan ini. Mereka sudah menyaksikan keberadaan serpihan-serpihan jiwa manusia yang terkoyak-koyak dan hangus terbakar sehitam jelaga. Mereka sudah menangkap sasmita tentang bakal terjadinya Kebinasaan mengerikan karena Penguasa dunia tidak sudi lagi melihat citra-Nya berantakan menjadi serpihan-serpihan ragawi yang kehilangan jiwa insani. Lantaran itu, hendaknya kalian mengingat bahwa kemuliaan ragawi yang selama ini diagungkan oleh kaum sebangsamu, pada dasarnya tidak lebih dari kemuliaan palsu, ibarat cerminan azab neraka yang memantul ke dunia. Semakin kuat seorang manusia ingin mewujudkan Kehidupan surga di dunia dengan diri dan keluarganya menjadi penghunianya, sesungguhnya dia sedang membangun neraka yang mengerikan.”

“Kalian yang melihat apa yang terjadi saat ini hendaknya menjadikannya sebagai pelajaran, bahwa yang terbaik dari Kehidupan manusia adalah berada di tengah-tengah. Madya. Wasathan. Jangan terperangkap pada pesona benda-benda, tetapi juga jangan meninggalkannya. Janganlah mencintai dunia berlebih, tetapi jangan pula membencinya. Madya. Madya. Seribu kali madya. Ituah jalan hidup yang harus kalian lalui.”

“Tahukah kalian tentang hakikat dari benda-benda, o Sahabat-Sahabatku? Tahukah kalian tentang nisbinya hukum keberadaan benda-benda? Aku beri tahukan kepada kalian, wahai Sahabat-Sahabat, bahwa hakikat dari benda-benda adalah pantulan gambar maya dari Yang Wujud. Benda-benda adalah ‘wujud tergantung’ yang akan lenyap jika Wujud sejati-Nya terbenam di balik cermin pengetahuan-Nya. Lantaran itu, jangan sekali-kali kaian menggantungkan kiblat jiwa dan pikiran pada benda-benda yang hanya bayangan maya dari Yang Wujud. Barangsiapa yang mengarahkan atau bahkan menggantungkan kiblat hati dan pikirannya pada benda-benda bayangan maya Yang Wujud maka dia sudah musyrik. Musyrik. Musyrik. Seribu kali musyrik.”

“Lihatah ke sekelilingmu, o Sahabat-Sahabatku! Lihatlah semua benda-benda rongsokan yang hangus di sekitar kalian! Lihatlah bangkai benda-benda yang berserak tak berharga setelah dilahap naga api raksasa! Lihatlah semua! Itukah benda-benda yang telah memesona jiwa manusia? Itukah benda-benda yang ingin dimiliki manusia? Itukah benda-benda yang dengan segala cara dikumpulkan manusia tanpa kenal hak dan batil atau halal dan haram? Itukah benda-benda yang dicintai dan digandrungi manusia? Adakah sekarang sisa keindahan dan kelangkaan dari benda-benda hangus yang selama ini mempesona kesadaran manusia?”

“Sunggu, aku katakan kepada kalian semua, benda-benda memesona yang dikumpulkan manusia dengan menghalalkan segala cara itu pada hakikatnya tak lebih dari potongan, serpihan, kepingan, dan gumpalan benda hangus tak berharga. Semua tidak lebih dari tumpukan arang hitam, sehitam Kegelapan malam tergelap yang menjadi persemayaman Sang Maut. Dan, saat Sang Maut membentangkan sayap-sayap Kematian yang mengerikan, lalu membalikkan Wajah dari cermin pengetahuan-Nya, maka tertelanlah semua benda karena pantulan bayangan pada cermin akan terhapus saat Kegelapan meliputi seluruh permukaan cermin. Seiring lenyapnya benda-benda para pecinta benda-benda pun akan kehilangan miliknya yang paling berharga: ruh dan jiwa.”

“Wahai serpihan-serpihan manusia! Wahai pemburu benda-benda! Wahai pengumpul benda-benda! Apakah yang akan engkau banggakan jika benda-benda kecintaanmu berubah menjadi kepingan dan gumpalan arang tak berharga? Apakah yang akan engkau katakan jika Yang Wujud membalikkan Wajah dari cermin hingga lenyap bayangan maya-Nya? Sungguh celaka engkau sekalian, o pecinta benda-benda yang dengan segala kebodohan mengumpulkan benda-benda dengan menghalalkan segala cara. Sungguh bodoh. Bodoh. Seribu kali bodoh. Sebab, seiring hancurnya benda-benda yang engkau kumpulkan ke pusaran Kebinasaan, hancur pula benda-benda milikmu yang berharga: anak-anak, istri-istri, saudara-saudara, orang tua, dan handai taulan kembali ke haribaan-Nya, meninggalkan dirimu yang terkucil di dalam terali penjara kebodohanmu yang gelap. Engkau telah kehilangan segala-galanya, o makhluk bodoh pecinta bayangan maya.”

Abdul Jalil menghentikan kata-kata sambil memandang ke arah gumpalan lahar berapi yang sudah membeku dan padat yang mgengitari bukitnya. Dengan mata penuh kasih ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah orang-orang kelaparan dan kelelahan yang mengerumuninya. Ia menarik napas panjang ketika melihat anak-anak tertidur dengan senyuman, seolah bermimpi menyantap sekerat makanan di tengah kelaparan yang menerkam perutnya. Lalu, dengan senyum lebar ia berkata-kata, memberi hiburan dan penguatan jiwa kepada mereka yang memujanya.

“Wahai sahabat-sahabatku yang baik! Sungguh beruntung engkau yang telah menyaksikan Keagungan, Kemuliaan, dan Kemahakuasaan Tuhan, Zat Pencipta, Yang telah menyelamatkan kita dari Kematian. Beruntunglah engkau yang telah menyaksikan manusia-manusia cerdik tetapi tumbang kecerdikannya karena ditebang kecurangan dan kelicikan nafsunya. Semoga, semua hal yang telah engkau saksikan itu akan membawamu ke masa depan yang penuh harapan, masa depan adimanusia. Jadikanlah peristiwa Kebinasaan ini sebagai pedoman bahwa engkau yang telah diselamatkan dari Kematian hendaknya makin sadar untuk berjalan pada jalan Kebenaran. Sebab, tidak kurang di antara manusia yang diselamatkan dari Kematian justru menjauh dari jalan Kebenaran dan bahkan lupa bagaimana berjalan yang Benar.”

12. Syaikh Siti Jenar

Setelah memasuki tahun kelima dari perjalanannya di pedalaman Nusa Jawa, sampailah Abdul Jalil di dukuh Lemah Abang yang terletak di kaki utara gunung Mahendra (Lawu) di lembah selatan Bengawan Sori. Di dukuh yang dibukanya barang enam tahun silam itu ia disambut dengan penuh sukacita oleh murid-murid yang sangat merindukannya. Namun, ia memutuskan tidak tinggal di Lemah Abang. Ia tinggal dan mengajar di Siti Jenar, yang terletak di utara Bengawan Sori. Hari-hari pun diliputi oleh semarak para murid yang dengan setia mengerumuninya. Berbeda dengan tampilan keseharian sewaktu ia menggunakan nama masyhur Syaikh Jabarantas, di dukuh Siti Jenar itu ia melepaskan khirqah sufi dan tidak memperkenalkan diri dengan nama Syaikh Jabarantas. Pelepasan khirqah sufi itu terkait dengan peringatan-peringatan yang disampaikan istrinya menyangkut sikap para wiku yang sangat berlebihan menghormatinya, seolah-olah mereka adalah sekumpulan umat yang menunggu sabda nabi panutannya. Para wiku selalu mengiyakan apa saja yang disampaikan Abdul Jalil tanpa ada yang bertanya apalagi membantah.

Bertolak dari peringatan-peringatan istrinya itu, Abdul Jalil tiba-tiba disadarkan oleh cakrawala pemahaman baru yang tersingkap di balik latar sikap para wiku yang terkesan sangat berlebihan itu. Rupanya, semua hal yang terkait dengan penghormatan berlebihan yang dialamatkan kepadanya itu berhubungan dengan khirqah sufi yang dikenakannya dan nama Syaikh Jabarantas yang disandangnya. Tanpa ia sadari sebelumnya, khirqah sufi yang seperti pakaian compang-camping, telah menumbuhkan kesan mendalam di relung-relung ingatan para wiku tentang sosok pertapa suci dari zaman purwakala yang berpakaian compang-camping. Sosok pertapa suci yang terlihat hina, tetapi sangat dihormati manusia dan disegani dewa-dewa. Dialah Bhagawan Dhruwasa (pertapa yang berpakaian compang-camping). Seperti menguatkan kembali sisa-sisa keyakinan umum tentang penitisan, para wiku diam-diam menganggap Syaikh Jabarantas sebagai titisan Bhagawan Dhruwasa, manusia setengah dewa berpakaian compang-camping yang disucikan manusia dn dimuliakan dewa-dewa.

Sadar anggapan keliru para wiku itu bakal mendatangkan masalah yang tidak kalah pelik dibanding nama masyhur Syaikh Lemah Abang di Caruban, Abdul Jalil pun buru-buru melepas khirqah ketika akan memasuki dukuh Siti Jenar. Itu sebabnya, tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai guru suci termasyhur bernama Syaikh Jabarantas. Kepada para murid yang semula mengenalnya dengran nama Syaikh Lemah Abang, ia meminta untuk tidak menggunakan nama itu lagi. Para murid dan penduduk desa-desa sekitar menyebutnya dengan nama baru sesuai dukuh tempatnya mengajar, yaitu Syaikh Siti Jenar (Jawa Kuno: guru suci dari dukuh Siti Jenar).

Dengan nama baru itu, Abdul Jalil menduga dirinya tidak bakal dikenal oleh banyak orang karena dukuh Siti Jenar berada di tengah hutan dan jauh dari keramaian. Namun, dugaan itu meleset. Sebab, tidak berbeda dengan kebiasaannya selama itu, di dukuh Siti Jenar yang terpencil itu ia tidak pernah berhenti mengajarkan Sasyahidan, belajar mati, menaklukkan setan, dan menjadi adimanusia kepada siapa saja tanpa memandang derajat dan pangkat, sehingga keberadaannya sebagai guru manusia yang ditandai citra berbagai keberlebih-kelimpahan dalam waktu singkat telah menjadi buah bibir penduduk sekitar. Buah bibir itu makin panjang sambung-menyambung ketika orang mengenal bahwa dia, guru suci, yang disebut orang dengan nama Syaikh Siti Jenar, tidak lain dan tidak bukan adalah Syaikh Jabarantas yang juga disebut orang sebagai Syaikh Lemah Abang. Bahkan, sebagian pengikut menyebutnya dengan nama hormat Susuhunan Binang atau Syaikh Sitibrit, yang maknanya sama: guru suci dari Lemah Abang. Lalu, terjadilah sesuatu di luar dugaannya. Bagaikan kawanan anai-anai melihat cahaya pelita, atau kawanan lalat membaui bangkai, atau seperti iring-iringan semut menyerbu gula, penduduk dari berbagai desa di seputar lereng gunung Mahendra dan tlatah timur Pajang berdatangan ke dukuh Siti Jenar untuk beroleh berkah keselamatan dan limpahan kekeramatan.

Seperti pepatah sepanjang-panjang tali masih panjang mulut orang, begitulah kabar kemunculan Syaikh Jabarantas yang menggunakan nama baru Syaikh Siti Jenar bersambung dari satu mulut ke mulut yang lain. Di dukuh Siti Jenar, beribu-ribu orang datang untuk meminta berkah keselamatan dan limpahan kekeramatan kepada seorang guru manusia yang waskita. Para pemuka penduduk dari berbagai tempat berdatangan untuk berguru dan mengambil berkah darinya. Mereka yang datang itu selain kawula alit, juga bangsawan, pemuka penduduk, ruhaniwan, cerdik cendikiawan, dan para brahmin pencari Kebenaran. Orang pun menyaksikan bagaimana manusia-manusia berdarah biru yang unggul dan termasyhur seperti Pangeran Danaraja, Kyayi Ageng Bhuwana Gumelar, Ki Bhisana, Kyayi Ageng Jumantana, Ki Wanabaya, Tumenggung Karanganom, Ki Pringgabhaya, Ki Buyut Sukadana, Ki Buyut Masahar, Ki Buyut Kedawung, dan Ki Gatak berkerumun mengitari kakinya untuk mengambil baiat jalan Keselamatan sebagai murid-murid terkasih. Tanpa kenal pagi, siang, sore, dan malam, orang-orang kebanyakan dari berbagai penjuru negeri datang berdesak-desak dan berkerumun-kerumun berusaha mendekatinya. Sebagian di antara mereka ada yang menyalami dan mencium tangannya. Sebagian ada yang merangkul mencium lututnya. Sebagian yang lain lagi mengusap dan mencium kakinya. Bahkan, tidak kurang di antara orang-orang yang berdesak-desak itu mengambil tanah bekas telapak kakinya yang dianggap mengandung berkah.

Perubahan demi perubahan yang terkait dengan semakin masyhurnya nama Syaikh Siti Jenar sedikit pun tidak disadari Abdul Jalil. Saat kemasyhuran telah mendorongnya ke puncak kemuliaan yang berlebihan dan mendudukkannya sebagai manusia yang diberhalakan, ia belum juga sadar. Ketidaksadaran Abdul Jalil akan keadaan itu sesungguhnya sangat wajar dalam kehidupan ruhani seorang manusia yang sudah melampaui derajat maqam ruhani yang tinggi. Sejatinya jiwanya sudah tergolong jiwa orang-orang yang sibuk tetapi bebas dari kesibukan (al-masyghul al-farigh). Maknanya, jiwa orang seperti Abdul Jalil telah masuk ke dalam golongan jiwa orang-orang yang sibuk membagi keberlebih-kelimpahannya, tetapi hatinya terbebas dari pamrih dan hanya diliputi oleh kehadiran Allah. Allah. Allah. Tanpa sedikit pun berkesempatan untuk berpaling kepada selain-Nya. Itu sebabnya, ia baru sadar jika dirinya diberhalakan manusia ketika istrinya menegurnya dengan keras karena selama berhari-hari ia membiarkan para pengikutnya memperlakukannya secara tidak semestinya.

Sadar apa yang selama ini dihindarinya, diberhalakan oleh sesama manusia, terulang tanpa disadari, Abdul Jalil buru-buru mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan dukuh Siti Jenar, meski ia tahu istrinya sedang hamil tua. Sebelum pergi, ia menyampaikan khotbah Tauhid kepada para murid dan orang-orang yang mengaku pengikutnya.

“Sebelum aku pergi meninggalkan kalian, sangat baik jika aku tinggalkan wasiat kepada kalian, yang dengan wasiat itu kalian tidak akan tersesat dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat. Ya, dengan wasiat itu kalian akan selalu berada di Jalan Kebenaran sampai ke hadirat-Nya. Sebab itu, jangan sekali-kali kalian melepaskan wasiat yang aku tinggalkan itu. Pegang erat wasiat itu sebagai pusaka!”

“Pertama-tama, inilah wasiatku, setiap orang harus sadar jika segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini adalah nisbi. Tidak ada yang bersifat mutlak. Lantaran itu, masing-masing orang harus hidup madya (tengah-tengah), ora ngoyo (tidak berlebihan), dan ora ngongso (tidak melampaui batas). Prinsip ini hendaknya kalian jadikan pusaka dalam segala hal yang menyangkut kehidupan kalian, baik yang duniawiah maupun ukhrawiah dan Ilahiah. Dalam kehidupan duniawiah, kalian bisa memaknai prinsip ini dengan kehidupa dunia yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga membuat orang tertimbun benda-benda kekayaannya. Kalian juga boleh memaknainya sebagai pengekangan terhadap nafsu perut dan nafsu syahwat yang sesuai dengan nilai-nilai kepantasan manusia. Kalian juga boleh memaknainya sebagai pengekangan terhadap ambisi kekuasaan yang membahayakan. Pendek kata, maknailah prinsip madya itu sesuai kemampuan akal budi dan hati nurani kalian masing-masing dengan ukuran keseimbangan dan penghormatan atas Kehidupan.”

“Di dalam kehidupan ruhaniah pun berlaku prinsip madya. Lantaran itu, aku melarang murid-murid dan pengikutku untuk bertapa di gua-gua dan di hutan-hutan, kurang makan, kurang tidur, tidak kawin, tidak bergaul dengan manusia, tenggelam dalam lautan ruhani. Sebab, hak-hak ruhani harus dipenuhi secara pantas. Hak-hak jasmani pun hendaknya tidak diabaikan. Bayarlah hak ruhani dan jasmani secara seimbang. Bukan aku menganggap tidak baik perilaku orang-orang yang meninggalkan keduniawian dengan menjadi pertapa. Semua manusia bebas memilih yang terbaik bagi dirinya. Tetapi, bagi pengikut Syaikh Siti Jenar, hal seperti itu tidak dibenarkan. Hiduplah dengan prinsip tengah-tengah (wasathan), yaitu madya. Madya. Madya. Seribu kali madya.”

“Di dalam pengetahuan tentang Yang Ilahi pun prinsip madya itu hendaknya tetap kalian pusakakan. Sebab, ada di antara umat Islam yang memiliki pandangan berlebihan dalam memaknai Yang Ilahi. Mereka memandang bahwa Allah adalah Zat Yang Mahasuci, Mahasempurna, Mahabaik, Mahakasih. Lantaran itu, dari Allah selalu memancar Kebaikan, Kesempurnaan, Kesucian, dan Kasih. Mereka menganggap mustahil dari Allah bisa memancar ketidakbaikan, ketidaksempurnaan, ketidaksucian, dan kemurkaan. Pandangan semacam itu sah bagi pengikut paham itu. Pandangan itu benar bagi yang meyakininya.”

“Tetapi, dengarlah, o murid-murid dan pengikutku, bahwa aku, Syaikh Siti Jenar, tidak pernah mengajarkan keyakinan yang berlebihan dan melampaui batas seperti itu. Ajaranku tetap bertolak dari prinsip-prinsip madya, wasathan, tengah-tengah. Sebab, jika orang seorang menganggap bahwa Allah adalah Kebaikan, Kesempurnaan, Kesucian, Mahakasih dan dari-Nya tidak bisa memancar ketidakbaikan, ketidaksempurnaan, ketidaksucian, dan kemurkaan maka sejatinya orang tersebut telah terperangkap ke dalam jaring-jaring masalah rumit yang bakal membawanya ke jurang kemusyrikan. Mereka akan menganggap ketidakbaikan dan ketidaksempurnaan berasal dari Zat selain Allah, yaitu kuasa Kegelapan dan Kejahatan. Itu berarti, mereka menganggap ada dua Zat berbeda, yaitu Zat Allah dan Zat selain Allah. Kalau keyakina itu diikuti maka orang akan menolak keberadaan Asma Ilahi yang saling bertolak belakang (al-asma’ al-mutaqabilah) yang berujung pada Asma Allah sebagai ‘keseluruhan yang bertentangan’ (majmu’ al-asma’ al-mutaqabalah). Mereka akan menolak nama Ilahi Yang Maha Menyesatkaan (al-Mudhill), Yang Memberi Kesempitan (al-Qabidh), Yang Maha Menista (al-Mudzil), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), Yang Membinasakan (al-Mumit). Mereka juga akan mengingkari bahwa dunia yang tidak sempurna ini berasal dari Allah. Atau mengingkari bahwa iblis, setan, makhluk-makhluk kegelapan, dan manusia-manusia terkutuk tidak berasal dari Allah. Padahal, sesuai prinsip inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un: segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.”

“Dengan memegang teguh prinsip hidup madya ini, sangatlah tidak masuk akal jika kalian sebagai murid-murid dan pengikutku memperlakukan aku secara berlebihan. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kalian menciumi kakiku, merangkuk lututku, mengusap jubahku, mengelus terompahku, bahkan mengambil tanah bekas telapak kakiku. Itu berlebihan. Itu melampaui batas. Itu thaghut. Itu pemberhalaan yang justru aku tentang selama ini. Sebab, Nabi Muhammad Saw., manusia agung yang menjadi panutanku, selalu menolak diperlakukan secara berlebihan. Dia selalu menampakkan kehambaan dan kerendahatian. Dia selalu berada di tengah-tengah (wasathan). Lantaran itu, mulai saat ini, aku katakan bahwa mereka yang memperlakukan aku atau siapa pun di antara manusia secara berlebihan dan bahkan memberhalakan, maka bukanlah dia itu dari antara pengikutku, apalagi murid ruhaniku.”

Setelah memberikan petunjuk secukupnya kepada para sesepuh di antara murid-muridnya, Abdul Jalil bersama istri meninggalkan dukuh Siti Jenar. Kali ini karena sang istri sedang hamil tua, ia berusaha menghindari desa-desa yang memungkinkan ia singgah dan beroleh penghormatan berlebih yang mengakibatkan istrinya terabaikan. Ia memilih melewati jalan setapak berliku di hutan atau lembah yang tak banyak dilewati manusia. Namun, sepanjang perjalanan yang diliputi kesunyian itu, ia justru merasakan kerinduan yang kuat untuk berbagi keberlebih-kelimpahannya kepada manusia. Ia merasa berat untuk menggenggam tangannya erat-erat dan tidak memberi. Ia merasakan jiwanya seperti mata air berbual-bual yang airnya tidak dapat mengalir karena tertahan tumpukan batu-batu berbalut lumpur kotor.

Ketika jiwanya yang ingin memberi sedang menggemuruh laksana kawah gunung berapi, tiba-tiba Abdul Jalil melihat sesosok manusia muncul dari balik pepohonan dan berdiri tegak di depannya. Wajah manusia itu sangat rupawan dengan memancarkan cahaya berpendar-pendar. Lalu tanpa mengucap salam, dengan suara semerdu kicauan burung, manusia rupawan itu berkata, “Wahai engkau yang telah membagi-bagi keberlebih-kelimpahanmu, hendaknya mulai engkau sadari bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini, sebagaimana pandanganmu, tidaklah abadi. Sebab itu, janganlah engkau menganggap bahwa keberlebih-kelimpahanmu bakal terus langgeng mencitrai dirimu. Ibarat sumur berkelimpahan air yang ditimba oleh banyak orang, suatu saat ia akan kering juga. Bukankah sudah sering engkau saksikan keberadaan sumur-sumur mati tak berair? Lantaran itu, bersiagalah engkau untuk menghadapi akhir-akhir dari masa keberlebih-kelimpahanmu. Engkau harus bersiaga. Siaga. Siaga. Seribu kali siaga.”

Abdul Jalil termangu-mangu menatap manusia rupawan itu. Setelah diam sejenak, ia kemudian berkata, “Jika Allah, Zat Yang Mahakuasa dan Maha Berkehendak mencabut keberlebih-kelimpahan yang dianugerahkan-Nya kepadaku, maka hal itu bukanlah sesuatu yang patut kurisaukan. Sebab telah jelas bagiku: segala sesuatu berasal dari-Nya dan bakal kembali kepada-Nya.”

Manusia rupawan itu tertawa. Lalu, dengan suara sebening tetesan air di malam hari ia berkata, “Sesungguhnya, di tengah kemasyhuran namamu yang mengarah pada pemberhalaan diri itu, engkau sudah menempati kedudukan ruhani orang-orang yang terkucil sendirian (fard), yaitu orang yang mengejawantahkan citra nama Ilahi: Yang Mahasendiri (al-Fard). Dengan demikian, engkau tidak akan bisa lagi membagi-bagi sekehendakmu keberlebih-kelimpahanmu kepada yang lain, kecuali sebatas yang dibutuhkan musafir-musafir yang kehausan. Keberlebih-kelimpahanmu akan menggenang menjadi telaga sunyi rahasia yang hanya diketahui oleh-Nya dan mereka yang dikehendaki-Nya.”

“Jika memang demikian, aku akan membagi-bagikan sisa keberlebih-kelimpahanku sebatas yang aku bisa,” kata Abdul Jalil membalikkan badan, pergi menemui istrinya. Namun, manusia rupawan itu mengejar dan menarik jubahna dari belakang sambil berkata, “Tunggu! Tunggu! Jangan tinggalkan aku! Aku adalah bayanganmu.”

Dengan kesadaran orang-orang yang mencapai derajat kesendirian, Abdul Jalil bersama istri melanjutkan perjalanan. Tanpa kenal malam yang membentangkan selimut hitam dan jalan berliku yang dihiasi batu-batu tajam, ia berjalan tertatih-tatih ke arah barat sambil menuntun istri yang semakin tua usia kandungannya. Setelah berjalan hampir tiga hari, sampailah ia di kediaman Ki Buyut Butuh yang terletak di perbatasan Kerajaan Pajang dan Pengging. Di kediaman Ki Buyut Butuh itulah, saat menjelang subuh, istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Lantaran saat kelahiran puteranya itu Abdul Jalil berada pada kedudukan orang yang sendiri (fard), maka sebagai penanda kedudukannya itu ia menamai puteranya: Fardun.

Sekalipun sudah sadar akan keberadaan diri sebagai orang yang sendiri (fard) serta sudah berbilang keadaan (hal), kedudukan (maqam), dan derajat ruhani (martabat) ia lampaui dengan tingkat-tingkat ketersingkapan kesadaran (kasyf) yang tak terhitung, dalam banyak hal, terutama yang terkait dengan keberadaan diri sendiri, Abdul Jalil sering heran ketika dihadapkan pada masalah rahasia di balik kehendak (iradah) dan kekuasaan (qudrah) )Allah atas dirinya. Sewaktu ia menyadari keberadaan dirinya sebagai orang yang sendiri, orang yang mengejawantahkan citra al-Fard, Yang Mahasendiri, ia justru tidak tahu haris bersikap bagaimana: apakah ia tetap menjadi orang sibuk yang tidak terikat kesibukan (al-masyghul al-farigh), dengan akibat tak terduga bisa disembah orang sebagai manusia berhala, ataukah ia membagi-bagi sisa keberlebih-kelimpahannya lalu mengasingkan diri dari keramaian hidup manusia sebagai telaga sunyi rahasia milik-Nya.

Di tengah keheranannya sebagai orang yang sendiri dan di tengah ketidaktahuan akan apa yang harus dilakukannya itu, tanpa diduga-duga Ki Buyut Butuh datang menghadap dan meminta untuk membaiatnya sebagai murid ruhaninya. Sebagai seorang guru manusia yang selalu melayani dan berbagi, ia tentu tidak bisa menolak permohonan Ki Buyut Butuh. Namun, seiring menyebarnya kabar berbaiatnya Ki Buyut Butuh, datanglah kerabat dan kawan-kawannya sesama buyut yang memohon agar mereka dibaiat sebagai murid ruhani Syaikh Siti Jenar. Di antara para buyut yang mengikuti jejak Ki Buyut Butuh adalah buyut Ngerang, Banyubiru, Tingkir, Banyudana, Susukan, Susuruh, Wanasegara, Pabelan, dan Banyumanik. Tidak berbeda dengan saat tinggal di dukuh Siti Jenar, di Kabuyutan Butuh pun kehadiran Syaikh Siti Jenar ditandai dengan kerumunan-kerumunan manusia yang mencari limpahan berkah dan keselamatan.

Kerajaan Pengging, yang dijadikan persinggahan Abdul Jalil dalam perjalanan berbagi keberlebih-kelimpahan, adalah daerah subur makmur, gemah ripah lohjinawi, yang membentang sejak lembah selatan dan tenggara gunung Candrageni hingga wilayah timur gunung Candramukha, terus ke utara hingga perbatasan Kadipaten Samarang. Meski Pengging hanya negara kecil sempalan Majapahit yang lebih sempit wilayahnya dibanding Pajang, Mataram, dan Pasir Luhur, di bawah kepemimpinan Prabu Adi Andayaningrat, kemakmuran Pengging tidak kalah dibanding ketiga kerajaan tersebut. Bahkan, dalam hal keamanan boleh dikata Pengging sangat kuat dan mantap kecuali wilayah perbatasan Mataram – Pajang – Pasir – Pengging yang seperti tanpa penguasa.

Sebagai sebuah kerajaan, Pengging baru muncul pada paro terakhir abad ke-15 ketika keagungan Majapahit mengalami kemerosotan. Prabu Adi Andayaningrat sendiri, penguasa pertama Pengging, bukan seorang yang memiliki galur kebangsawanan dari maharaja Majapahit. Ia anak Ki Bajul Sanghara, kepala wisaya Semanggi, suatu daerah kabuyutan yang terletak di pinggiran kutaraja Pajang. Meski hanya berkedudukan sebagai kepala wisaya, di tengah kemerosotan Majapahit, Ki Bajul Sanghara sangat berkuasa di wilayah Pajang karena keluarga-keluarga Bajul yang tersebar di sepanjang Bengawan Semanggi hingga Bengawan Sori tunduk di bawah perintahnya. Ki Bajul Sanghara di daerah kekuasaannya ibarat seorang raja kecil yang disegani dan ditakuti oleh kawan maupun lawan.

Ibunda yang melahirkan Prabu Andayaningrat adalah puteri Raden Juru, ksatria Majapahit, adik kandung Patih Mahodara. Sejak kematian istrinya Raden Juru bersama puteri tunggalnya mengasingkan diri sebagai pertapa di kaki gunung Argapura. Ayah beranak itu ingin meninggalkan kehidupan duniawi. Namun, di tengah gemuruh ambisi Patih Mahodara menggalang kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan di Majapahit, kemenakannya itu dinikahkan dengan Ki Bajul Sanghara. Sebuah pernikahan politik yang lazim dilakukan untuk beroleh dukungan dari penguasa Bengawan Semanggi. Pernikahan itu membuahkan hasil seorang anak yang diberi nama Jaka Sanghara. Namun, karena sejak kecil anak itu dilatih olah keprajuritan dan olah kanuragan oleh guru-guru unggul yang sakti mandraguna di Desa Bobodo, yang terletak di kutaraja Pajang, maka ia dikenal pula dengan nama Jaka Bobodo (pemuda dari Bobodo).

Ketika usianya sudah cukup dewasa, Jaka Sanghara pergi ke gunung Argapura untuk berguru kepada kakeknya, Raden Juru, yang mengajarinya ilmu pemerintahan. Setelah dianggap cukup, ia pergi ke kutaraja dan bergabung dengan keluarga ibundanya yang cukup kuat di kutaraja Majapahit. Atas jasa Patih Mahodara, saudara tua kakeknya, ia menjadi salah seorang perwira andalan kerajaan tua yang mulai merosot itu. Selama menjadi perwira Majapahit, ia beberapa kali diikutsertakan dalam tugas menumpas pemberontakan di ujung timur Jawa dan Bali. Dengan dukungan tetunggul-tetunggul keluarga Bajul, Jaka Sanghara berhasil menjalankan tugasnya menumpas kekuatan para pemberontak. Atas jasa-jasanya itu, ia mendapat berbagai anugerah pangkat dan jabatan tinggi, bahkan akhirnya ia diangkat menjadi menantu oleh Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit. Ia dinikahkan dengan puteri bernama Ratu Adhi. Setelah menjadi menantu maharaja, ia dirajakan di Pengging didampingi permaisuri Ratu Adhi yang memberinya dua orang putera: Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga.

Sekalipun Andayaningrat dikenal sebagai raja yang cakap dan memiliki kekuatan militer cukup besar, ia bukanlah seorang yang teguh pendirian. Itu yang menyebabkan ia sering dijadikan ajang tarik menarik di antara pihak-pihak yang bersengketa memperebutkan kuasa dan wibawa di Majapahit. Satu saat ia ditarik oleh kelompok-kelompok kepentingan dari trah Prabu Kertawijaya yang sebagian besar adalah para penguasa pesisir beragama Islam. Di saat yang lain, ia ditarik oleh kelompok-kelompok kepentingan dari Patih Mahodara yang sebagian besar adalah penguasa-penguasa di pedalaman yang bukan muslim. Akibat seringnya ditarik oleh kekuatan-kekuatan yang saling berselisih memperebutkan kuasa dan wibawa, Adi Adayaningrat sering mengorbankan nyawa perwira-perwira dan prajurit-prajurit Pengging untuk membela kepentingan pihak-pihak yang berperang. Sementara, letak Pengging yang merupakan perlintasan antara daerah pedalaman dan pesisir utara telah pula menempatkan wilayah itu sebagai daerah yang strategis, tetapi sekaligus rawan konflik. Wilayah Pengging sangat rentan terhadap pecahnya perselisihan antara penguasa muslim di pesisir dan penguasa bukan muslim di pedalaman.

Sejak berembusnya angin perubahan di pesisir utara Nusa Jawa yang melahirkan tatanan baru masyarakat ummah, yang dengan cepat diikuti oleh penduduk dari kalangan kebanyakan, terjadi kegemparan di kalangan pendeta-pendeta fanatik Syiwa-Buda dan bangsawan-bangsawan Pengging, karena mereka melihat bahaya besar sedang mengintai di balik perubahan yang digagas Syaikh Lemah Abang itu. Secara bahu membahu mereka berusaha menangkis pengaruh perubahan itu dengan membangun “benteng pertahanan”, jalinan kekuatan antara pendeta penguasa ksetra, dukuh, padepokan, dan asrama-asrama dengan pendeta-pendeta kraton dan bangsawan-bangsawan darah biru, untuk menahan arus masuknya pengaruh agama Islam yang sangat deras menerobos ke lapisan terbawah penduduk pedalaman. Namun, di tengah usaha bahu membahu para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan Pengging itu, terjadi sesuatu yang mencengangkan semua orang: tanpa disangka-sangka dan tanpa diduga-duga, tersiar kabar di keempat penjuru negeri bahwa sejumlah kepala wisaya yang masih terhitung kerabat raja tiba-tiba memeluk agama Islam di bawah bimbingan Syaikh Siti Jenar, seorang guru suci yang membawa ajaran pembaharuan Syiwa-Buda yang disebut Islam.

Seperti sedang menyaksikan pemandangan menakjubkan, para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan Pengging itu saling pandang, seolah mereka tidak percaya dengan kabar yang didengarnya. Bagaimana mungkin “benteng pertahanan” yang mereka bangun jalin-menjalin di sepanjang perbatasan utara Pengging untuk menahan serbuan pengaruh Islam, tiba-tiba ditembus dari arah selatan? Keadaan itu membuat mereka kebingungan, terutama saat mereka menyadari bahwa orang-orang yang memeluk Islam di tlatah Pengging bukan dari kalangan penduduk kebanyakan, melainkan dari kalangan atas, termasuk kerabat raja, yakni para kepala wisaya yang selama ini dipatuhi dan dijadikan panutan masyarakat seperti raja-raja kecil. Bahkan, mereka menjadi tercengang ketika mengetahui jika Syaikh Siti Jenar sesungguhnya adalah Syaikh Lemah Abang, orang yang menyebarkan gagasan masyarakat umat di pesisir utara.

Ketercengangan para pendeta, terutama pendeta-pendeta kraton, wajar karena mereka sadar bahwa kemunculan tak terduga seorang guru suci bernama Syaikh Siti Jenar, yang belakangan menjadi buah bibir di pedalaman dan bahkan menjadi guru panutan para buyut di Pengging, tidak saja akan mengubah tatanan Kehidupan penduduk di Pengging, melainkan akan mengancam pula kedudukan mereka. Sementara, para bangsawan Pengging pun tidak kurang merasakan ancaman yang berat karena mereka sadar ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar sangat membahayakan kedudukan mereka. Lantaran itu, disatukan oleh kepentingan yang sama, mereka berusaha keras menolak kehadiran Syaikh Siti Jenar di wilayah Pengging. Mula-mula mereka berusaha mempengaruhi raja agar menggunakan kekuasaannya untuk mengusir Syaikh Siti Jenar dari wilayah Pengging. Namun, raja Pengging tidak percaya begitu saja dengan alasan-alasan mereka, terutama setelah mendapat laporan dari nayaka kepercayaannya bahwa guru suci yang dikenal dengan nama Syaikh Siti Jenar itu sebenarnya bernama Syaikh Abdul Jalil, berasal dari dukuh Lemah Abang di Caruban. Raja Pengging tahu pasti siapa guru suci yang belakangan termasyhur dengan nama Syaikh Siti Jenar itu. Lantaran itu, ia justru membuat keputusan yang mengecewakan para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan yang ketakutan.

“Jika guru suci yang disebut Syaikh Siti Jenar itu adalah Abdul Jalil, orang asal Lemah Abang Caruban, maka dia tidak lain dan tidak bukan adalah kerabatku sendiri. Karena ayahandanya, Ki Danusela, adalah saudara tua istriku. Biarlah dia tinggal di Pengging dan menyebarkan ajarannya di tlatah ini.”

Kecewa karena tidak berhasil mempengaruhi raja, para pendeta dan bangsawan yang bersekutu itu berusaha menghadang kehadiran Abdul Jalil melalui putera mahkota Pengging, Pangeran Kebo Kanigara. Pangeran muda yang dikenal angkuh dan pemarah itu dengan gampang terhasut. Dengan sedikit memuji-muji kehebatan ilmu kesaktian dan kedigdayaan Syaikh Siti Jenar, mereka berhasil membakar api kebesaran diri putera mahkota. Tanpa berpamitan kepada ayahandanya, Pangeran Kebo Kanigara dengan diiringi sepuluh orang pendeta kraton mengajak adiknya, Kebo Kenanga, untuk mencegat Abdul Jalil yang sedang berjalan bersama istri dan anaknya menuju kutaraja Pengging.

Di depan gerbang selatan kutaraja Pengging, Pangeran Kebo Kanigara mendapati Abdul Jalil sedang menggendong puteranya yang berusia kurang dari dua bulan dengan diikuti sang istri. Tanpa basa-basi, dengan dada dikobari kepongahan ia menghadang dan langsung menantang Abdul Jalil untuk mengadu kesaktian.

Abdul Jalil yang tanggap cepat mengetahui jika pangeran muda di depannya itu adalah orang yang angkuh dan pemarah. Ia tidak mau meladeni tantangannya. Sebaliknya dengan suara lembut ia berkata, “Jika ada orang yang menyampaikan berita kepada Pangeran Kebo Kanigara bahwa kami, Syaikh Siti Jenar, adalah orang yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan luar biasa, maka itu adalah bohong. Itu fitnah. Perlu Pangeran ketahui, selama kami hidup di dunia, belum pernah kami berkelahi dengan orang seorang. Kami juga tidak memiliki ilmu kanuragan, apalagi kasantikan jayakawijayan. Lantaran itu, kalau Pangeran mau, dengan hanya menjentikkan telunjuk ke tubuh kami, dapat dipastikan tubuh kami akan terpental dan hangus terbakar.”

“Tetapi, nama Tuan Syaikh sangat termasyhur sebagai orang yang tak terkalahkan. Lalu apa yang menjadi kebiasaan Tuan Syaikh sampai para buyut di tlatah Pengging beramai-ramai menjadi pengikut Tuan Syaikh?”

“Terlalu sombong jika dikatakan tak terkalahkan. Soal buyut-buyut yang menjadi pengikut kami, itu lebih terletak pada penghargaan mereka terhadap kelebihan akal pikiran dan pengetahuan ruhani yang dilimpahkan Allah kepada kami,” kata Abdul Jalil merendah.

“Bagaimana kalau kita mengadu keunggulan akal pikiran dan pengetahuan ruhani kita?” tantang Pangeran Kebo Kanigara.

“Pangeran tidak bakal menang melawan kami,” kata Abdul Jalil memancing amarah sang pangeran.

“Tuan Syaikh meremehkan aku,” tukas Pangeran Kebo Kanigara dengan suara ditekan tinggi, “Apa yang membuat Tuan Syaikh yakin bisa mengalahkan aku?”

“Usia kami jauh lebih tua dari Pangeran. Pengalaman hidup kami pun lebih banyak dibanding Pangeran. Tempat-tempat di dunia yang pernah kami datangi lebih banyak daripada Pangeran. Bahkan, dalam hal menyelam di dunia ruhani pun kami merasa lebih dalam.”

“Tapi itu bukan ukuran untuk menduga kemampuan orang seorang. Itu bukan ukuran untuk menilai Pangeran Kebo Kanigara sebagai katak di dalam tempurung,” kata Pangeran Kebo Kanigara berapi-api.

“Tidak perlu menilai berlebihan tentang ucapan kami itu, o Pangeran.”

“Untuk membuktikan itu, kita harus mengadu akal pikiran dan pengetahuan ruhani. Harus. Harus.”

“Apa yang akan Pangeran pertaruhkan dalam adu akal pikiran dan pengetahuan ruhani ini?”

“Apa pun yang Tuan Syaikh inginkan akan aku pertaruhkain: emas, permata, uang, tanah, atau apa? Sebaliknya, apa yang akan Tuan Syaikh pertaruhkan?” tantang Pangeran Kebo Kanigara jumawa.

“Taruhan kami adalah jiwa dan raga kami. Maksudnya, jika kami kalah, kami akan menjadi hamba Pangeran. Hidup dan mati kami akan kami pasrahkan kepada Pangeran sebagai budak, karena kami adalah hamba dan pangeran adalah tuan kami.”

“Lalu taruhan apa yang akan Tuan Syaikh minta dari aku?”

“Mahkota.”

“Mahkota?” sergah Pangeran Kebo Kanigara terkejut, “Apakah Tuan Syaikh ingin menjadi raja?”

“Sama sekali keliru penilaian Pangeran. Kami sedikit pun tidak ingin menjadi raja. Kami hanya menginginkan Pangeran tidak menjadi raja kelak. Sebab, seorang raja yang angkuh dan pemarah akan membahayakan negeri dan kawulanya. Sebaliknya, kami ingin Pangeran kelak menjadi seorang ruhaniwan. Sebab, dengan menempa ruhani, Pangeran akan beroleh keselamatan di dunia dan di akhirat serta negeri pun akan sentosa,” kata Abdul Jalil sambil memandang ke arah Pangeran Kebo Kenanga yang termangu-mangu heran melihat keangkuhan kakaknya.

“Baik, jika itu keinginan Tuan Syaikh. Mulai sekarang ini aku tetapkan bahwa andaikata nanti aku kalah dalam mengadu akal pikiran dan pengetahuan ruhani dengan Tuan Syaikh Siti Jenar, maka mahkota Pengging kelak akan jatuh ke tangan adik kandungku, Pangeran Kebo Kenanga,” kata Pangeran Kebo Kanigara sambil menepuk-nepuk bahu adiknya yang terheran-heran.

Abdul Jalil tertawa. Ia menyerahkan bayi Fardun kepada istrinya dan memintanya untuk menjauh. Setelah itu, ia menghampiri Pangeran Kebo Kanigara dan berkata, “Kami siap menjawab teka-teki yang akan Pangeran ajukan.”

Pangeran Kebo Kanigara terkejut karena Abdul Jalil ternyata seperti sudah mengetahui jika dalam adu kemampuan akal pikiran dan pengetahuan ruhani itu, ia akan mengajukan sebuah teka-teki. Dengan pikiran kacau dan keyakinan diri yang goyah, ia melontarkan juga teka-teki yang sudah disiapkannya.

“Tahukah Tuan Syaikh jawaban dari pertanyaan ini: apakah itu yang luhur melebihi gunung, luas melebihi samudera, terang laksana cahaya matahari siang hari, dan rata laksana padang rumput?”

“Pertanyaan Pangeran, menurut kami, jawabnya terkait dengan keberadaan seorang raja yang arif bijaksana,” kata Abdul Jalil menebak. “Pertama, luhur melebihi gunung adalah gambaran raja yang suka berderma membagi-bagikan harta kekayaan kepada siapa saja yang membutuhkan. Kedua, luas melebihi samudera adalah gambaran raja yang suka memberi ampunan kepada orang-orang yang bersalah dan meminta pengampunan. Ia juga menerima segala kritik dan kecaman, laksana lautan menerima air dari sungai-sungai. Ketiga, terang laksana cahaya matahari di siang hari adaah gambaran raja yang memiliki kesadaran tinggi sehingga dapat menjadi penerang pengetahuan bagi negerinya. Keempat, rata laksana padang rumput adalah gambaran raja adil bijaksana yang memberikan keamanan dan perlindungan kepada seluruh penghuni negeri dan menjadi limpahan keguna-manfaatan bagi siapa saja.”

“Benarlah apa yang Tuan jawabkan pada pertanyaanku,” kata Pangeran Kebo Kanigara dengan tubuh gemetar dan dada naik turun. “Sekarang ganti Tuan Syaikh yang harus memberi pertanyaan kepada aku.”

Abdul Jalil tersenyum dan berkata, “Pertanyaan yang akan kami ajukan sangat sederhana, tetapi tak gampang dijawab. Lantaran itu, kami memberi kesempatan kepada para pendeta yang mendampingi Pangeran untuk ikut serta menjawab pertanyaan kami nanti.”

“Tuan Syaikh meremehkan kemampuan kami?” tukas Pangeran Kebo Kanigara tersinggung.

“Sekali-kali tidak, Pangeran.”

“Baiklah, apa pertanyaan Tuan Syaikh untuk kami?”

“Ada beberapa cara yang saling berbeda dari kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini. Tolong jelaskan kepada kami, cara apa saja itu dan disebut apa proses kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini.”

Pangeran Kebo Kanigara tercekat kaget. Ia sungguh tidak menduga akan mendapat pertanyaan yang benar-benar belum pernah ia pelajari. Ia merasa sudah kalah sebelum berusaha memikirkan jawaban. Tanpa sadar, ia menoleh ke arah para pendeta yang mengawalnya. Ia berharap mereka dapat membantunya. Namun, para pendeta itu kelihatannya tidak memiliki jawaban pula. Akhirnya, setelah cukup lama terdiam, ia berkata, “Kami tidak bisa menjawab pertanyaan Tuan Syaikh. Kami mohon penjelasan.”

“Ketahuilah, o Pangeran, bahwa kemunculan makhluk hidup di dunia ini melalui tiga cara berbeda yang disebut wetu telu (keluar tiga). Pertama, adalah yang disebut manganak (melahirkan anak). Kedua, adalah yang disebut mangendog (melalui telur). Ketiga, adalah yang disebut masemi (tumbuh). Seluruh makhluk hidup yang memiliki daun telinga, umumnya muncul ke dunia melalui cara manganak. Sedang makhluk-makhluk yang tidak memiliki daun telinga umumnya muncul ke dunia melalui cara mangendog. Dan semua makhluk hidup yang muncul tidak melalui cara manganak dan mangendog, umumnya muncul ke dunia melalui cara masemi,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Baik, kami kalah satu. Tetapi kami belum menyerah,” kata Pangeran Kebo Kanigara. Lalu, dengan emosi meningkat tetapi keyakinan diri goyah, ia bertanya, “Tahukah Tuan Syaikh akan makna rahasia di balik kata Uninang, Unining, Uninong?”

Abdul Jalil tersenyum dan berkata, “Sungguh tinggi nilai pertanyaan Pangeran. Sebab jawaban dari pertanyaan itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Tetapi hanya bisa dibuktikan dengan kenyataan.”

“Aku tidak paham dengan ucapan Tuan Syaikh.”

“Jika kata Uninang dimaknai dengan kata-kata maka jawabannya bisa bermacam-macam tergantung yang menafsirkan. Bisa saja Uninang dimaknai ‘suara nang-nang’ yaitu bunyi kepala botak saat diketuk. Bisa juga Uninang dimaknai ‘suara inang’ yaitu panggilan ibu. Bisa juga Uninang dimaknai ‘suara kanang’ yaitu tangisan. Jadi ada seribu jawaban yang tidak pasti. Padahal, pertanyaan itu harus dijawab dengan satu Kebenaran.”

“Itulah yang aku harapkan, Tuan Syaikh. Satu jawaban!”

“Kami akan menjawab dengan satu Kebenaran. Tapi tidak dengan kata-kata dan bahasa manusia.”

“Bagaimana Tuan bisa menjelaskan kepada aku bahwa itu benar jika tanpa kata dan bahasa manusia?”

Abdul Jalil mendekati Pangeran Kebo Kenanga. Kemudian dengan memegang kedua bahunya, ia berkata, “Maukah Pangeran membantu aku memberi jawaban kepada kakakmu tanpa kata dan bahasa manusia?”

“Kami akan melakukan apa yang kami mampu lakukan, Tuan Syaikh,” kata Pangeran Kebo Kenanga.

“Pejamkan matamu, o Pangeran,” kata Abdul Jalil sambil menutupi telinga Pangeran Kebo Kenangan dengan kedua telapak tangannya.

Semua mata memandang ke arah Pangeran Kebo Kenanga. Semua menunggu apa yang akan terjadi padanya. Dan, semua terperangah seperti mimpi saat menyaksikan Pangeran Kebo Kenanga terhenyak dengan wajah tegang dan keringat dingin bercucuran. Namun sebelum mereka melakukan sesuatu, Pangeran Kebo Kenanga dengan mata tetap terpejam berteriak, “Aku mendengar suara genta berdentang-dentang memenuhi seluruh pendengaranku.”

Abdul Jalil menepuk bahu Pangeran Kebo Kenanga dan memintanya membuka mata. Pangeran Kebo Kenanga dengan sikap seperti meminta perlindungan merangkul erat-erat tubuh Abdul Jalil. Melihat adiknya ketakutan, Pangeran Kebo Kanigara menghardik, “Tuan Syaikh, apakah Tuan menggunakan sihir hingga membuat adikku ketakutan?”

“Pangeran tidak perlu berlebihan curiga. Sesungguhnya, adik Pangeran tadi mendengar suara Uninang, Unining, dan Uninong yang Pangeran tanyakan kepada kami. Di dalam istilah agama kami, itulah yang disebut jaras. Kami tidak bisa menjelaskan apa itu sebab memang tidak bisa dijelaskan. Tapi, sudah menjadi kehendak Hyang Tunggal jika adik Pangeran akan menjadi seorang muslim sejati karena ia telah beroleh risalah Ilahi.”

Pangeran Kebo Kanigara sangat marah dengan penjelasan Abdul Jalil. Ia berusaha menahan sambil terus menghujani Abdul Jalil dengan berbagai pertanyaan dan teka-teki berat, tetapi semuanya bisa dijawab dengan baik oleh Abdul Jalil. Sebaliknya, ketika hari menjelang sore dan pertanyaan-pertanyaan Abdul Jalil tidak ada satu pun yang bisa dijawabnya, maka meledaklah amarahnya. Dengan mata menyala dan dada naik turun, ia memandang para pendeta yang mendampinginya. Kemudian, dengan suara meledak bagai halilintar ia menghardik, “Kalian semua adalah pendeta-pendeta bodoh. Pemalas. Kerja kalian cuma menghasut dan memanas-manasi orang. Kalian jahat. Penuh dengki dan iri hati. Kalian sesungguhnya takut dengan kehadiran Tuan Syaikh Siti Jenar yang ternyata jauh lebih cerdas dan lebih bijaksana daripada kalian. Sungguh malu aku hari ini karena mengikuti hasutan orang-orang bodoh!” Dengan langkah lebar ia mendekati Abdul Jalil dan berkata, “Tuan Syaikh, aku mengakui kekalahanku. Ucapan Tuan Syaikh benar, aku terlalu angkuh dan pemarah. Sesuai petunjuk Tuan Syaikh, aku akan menjadi ruhaniwan. Tetapi, aku tidak akan berguru kepada pendeta-pendeta bodoh seperti mereka. Adakah petuah yang bisa Tuan Syaikh berikan untuk aku?”

“Pangeran,” kata Abdul Jalil lembut, “Pangeran adalah ksatria sejati. Lantaran itu, jika Pangeran akan mendalami kehidupan ruhani, Pangeran pasti akan melebihi orang biasa. Dan perlu Pangeran ketahui, mendalami pengetahuan ruhani tidak harus melalui guru tertentu. Sebab, guru sejati ada di dalam kalbu. Carilah dia. Tanyalah segala sesuatu kepada kalbu Pangeran sendiri.”

13. Al-Fard

Setelah tinggal selama empat puluh hari di lingkungan Kraton Pengging dan menjadi salah satu penyebab bagi masuk Islamnya Pangeran Kebo Kenanga, dengan diiringi tangis pedih para pemuka penduduk yang menjadi muridnya, Abdul Jalil meneruskan perjalanan ke arah timur untuk berbagi keberlebih-kelimpahan. Memang, empat puluh hari adalah sebuah rentang waktu yang terlalu pendek bagi seseorang untuk melakukan perubahan. Namun, dalam keterbatasan waktu yang menghimpit itulah Abdul Jalil menunjukkan kelebihan yang sulit dicari tolok bandingan pada zamannya: menjadi penggerak utama sebuah perubahan.

Jejak yang ditinggalkan Abdul Jalil, yang mengarah pada terjadinya perubahan tatanan kehidupan masyarakat, dari tatanan yang berdasarkan gagasan catur-warna dan kasta menjadi masyarakat ummah, terlihat pada kebijaksanaan raja Pengging yang memberlakukan peraturan baru menyangkut status kependudukan warga kerajaan yang beragama Islam. Di dalam peraturan itu ditetapkan bahwa penduduk kerajaan yang berasal dari kalangan rendah seperti Dhapur, Kewel, Domba, Sasak, Potet, dan Mambang yang kedudukannya sangat hina dan nista di tengah masyarakat, seketika akan disetarakan dengan penduduk yang lain. Ketetapan raja itu sangat mengejutkan para bangsawan dan warga kerajaan. Bagaimana mungkin kalangan rendah dan hina papa itu bisa diberi status sederajat dengan warga kerajaan? Bagaimana mungkin manusia berkasta rendah dapat disejajarkan dengan manusia luhur berkasta tinggi? Bukankah perubahan itu akan merusak tatanan yang sudah berlaku beribu tahun? Bagaimana mungkin Prabu Andayaningrat bisa menista peraturan agamanya sendiri?

Keterkejutan para bangsawan dan warga Pengging adalah keterkejutan yang ke sekian kali. Sebelum itu, mereka sudah dikejutkan oleh kabar yang nyaris tidak masuk akal: mahkota Pangeran Kebo Kanigara telah diserahkan kepada adiknya, Pangeran Kebo Kenanga, setelah putera mahkota tersebut kalah bertaruh dengan Syaikh Siti Jenar. Di saat orang masih ramai membincang peristiwa aneh itu, telah tersiar lagi kabar yang sangat tak terduga-duga: raja dan putera mahkota Pengging yang baru, Pangeran Kebo Kenanga, menyatakan memeluk agama Islam.

Perubahan bertubi-tubi yang terjadi di Pengging tak pelak lagi telah membuat semua mata diarahkan kepada sosok Abdul Jalil. Sebagian memandang dengan penuh kekaguman, tapi tidak sedikit yang memandangnya dengan mata menyembunyikan api kemarahan. Sejumlah pendeta kerajaan yang benci, menjulukinya dengan gelar hebat: si lidah menyala, si pengacau, si pembuat kisruh, dan si perusak tatanan. Abdul Jalil sendiri tidak peduli dengan pandangan dan penilaian yang dibidikkan orang ke arah dirinya. Dengan tegar, seolah tidak terjadi sesuatu, ia terus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tanpa peduli dengan hantu-hantu fitnah yang berkeliaran mengerumuninya, ia dengan penuh sukacita menyemburkan api menyala dari lidahnya untuk menghangatkan manusia yang kedinginan atau mencurahkan air segar dari mulutnya yang berkelebih-kelimpahan kepada manusia yang kehausan. Laksana bongkahan batu karang di tengah telaga yang bergeming diterpa hujan, badai, dan panas, di tengah gemuruh kecaman, caci maki, umpatan, fitnah, dan ancaman, ia dengan ramah memberikan keberlebih-kelimpahannya kepada makhluk yang menghampirinya.

Tanpa kenal lelah, ia ajarkan kepada manusia tentang cara bercermin yang benar. Bercermin untuk mengenal diri sendiri sebagai citra ar-Rahman. Ia sulut dan kobarkan semangat perlawanan manusia terhadap keterbatasan diri sendiri. Ia ajarkan kepada manusia-manusia yang mengikuti jalannya tentang kewajiban dasar manusia untuk berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia (insan kamil). Ia ajarkan kepada mereka cara-cara sederhana bagi manusia untuk melampaui liku-liku jalan menanjak dan menurun yang terentang antara martabat hewan dan adimanusia. Ia ajarkan semua yang ia punyai sampai tuntas tanpa sisa. Ia buka tangannya lebar-lebar sampai tak ada lagi sisa di genggamannya. Lalu, dengan pengetahuannya yang mendalam tentang jiwa manusia dan pengalaman ruhaninya yang matang, ia meneguhkan kepercayaan diri para pengikutnya terhadap keberadaan diri mereka sebagai makhluk paling agung dan mulia di jagad raya. Ia untkapkan kepada mereka rahasia Ilahiyyah yanmeng tersembunyi di daam diri setiap manusia, yang dengan rahasia tersebut orang seorang akan memiliki senjata untuk berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia. Ya, adimanusia, insan kamil, wakil Allah di muka bumi, makhluk yang menduduki derajat paling tinggi dan paling mulia di antara segala makhluk di jagad raya, yaitu wakil Allah yang menjadikan para malaikat bersujud kepadanya.

Setelah merasa cukup berbagi selama empat puluh hari di Pengging, dengan meninggalkan panji-panji persamaan derajat di antara warga kerajaan, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tanpa kenal lelah ia telusuri hutan jati, bukit padas, jurang, lembah, dan jalanan berbatu. Ia hanya singgah di beberapa desa untuk sekadar beristirahat, ketika melihat istrinya sangat kelelahan. Setelah sepekan berjalan, ia sampai di Pamantingan, daerah keramat tempat orang memuja Dewi Manting (dewi kesuburan). Di tempat itu ia memutuskan untuk tinggal dan mengajar penduduk sekitar. Ia berharap, dengan tinggal di tempat terkucil yang terletak di tengah hutan jati ituta orang tidak akan banyak yang mengenalnya. Namun, ibarat ratu lebah yang ke mana pun pergi selalu diikuti lebah-lebah, begitulah kehadiran Abdul Jalil di Pamantingan secepat embusan angin sudah menjadi buah bibir penduduk sekitar. Kemunculan Abdul Jalil di tempat itu pun dalam hitungan hari diikuti munculnya beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu manusia dari berbagai kalangan yang datang berduyun-duyun mengerumuninya untuk beroleh berkah keselamatan. Di antara mereka yang datang dan mengambil baiat kepadanya adalah para bangsawan, pemuka penduduk, ruhaniwan, dan cerdik cendikia pencari Kebenaran. Mereka itu adalah Ki Ageng Tarub, Ki Buyut Brati, Ki Ageng Gabus, Kyayi Ageng Bulu, Pngerban Pandanarum, Pangeran Sukalila, Pangeran Matahun, Pangeran Rajegwesi.

Diserbu berarus-ratus dan bahkan beribu-ribu orang yagn meminta berkah, Abdul Jalil untuk kali ke sekian merasa dihadapkan pada persoalan yang membingungkan. Dikatakan membingungkan karena setelah melampaui keadaan (hal), tingkatan (makanah), derajat (martabat), dan kedudukan (maqam) ruhani yang tak terhitung, ia tetap merasa sebagai orang bodoh yang belum banyak mengetahui rahasia di balik kehendak Allah atas dirinya. Ia sering terheran-heran dan kebingungan menghadapi hal-hal tak terduga: ia diberhalakan manusia di saat ia meyakini jika kedudukannya sebagai ‘yang terendah’ dalam perubahan tatanan itu makin mendekati kenyataan. Bagaimana mungkin ia yang sejak awal perubahan tatanan kehidupan baru sudah menempatkan diri pada kedudukan di bawah seibarat tanah tempat berpijak, tiba-tiba diserbu beribu-ribu orang dan disanjung-sanjung manusia setinggi langit?

Bingung dan terheran-heran dengan kenyataan yang dialaminya, Abdul Jalil dalam suatu sembahyang malam mengungkapkan keterbatasan dirinya itu kepada Allah, Rabb al-Arbab, yang belakangan ia rasakan seperti menutup Diri di balik selimut al-Haqq. Ia mengungkapkan ketidakpahamannya terhadap kehendak Rabb al-Arbab atas dirinya yang mendadak diberhalakan manusia. Ia mengungkapkan rasa khawatirnya, betapa keadaan itu akan mengancam ajaran Tauhid yang selama itu diajarkannya. Ia mengungkapkan semua keheranan dan ketidakmengertiannya. Ia mengungkapkan semua. Semua. Namun, sampai jauh malam ia tidak mendapat secuil pun jawaban dari-Nya. Barulah pada detik-detik menjelang subuh ia beroleh jawaban sangat singkat dari Allah melalui al-Haqq yang menerobos relung-relung pedalaman ruhnya lewat al-ima’, yang jika diungkapkan denga bahasa manusia, kira-kira intinya:

“Siapa yang memberimu hak untuk memilih? Siapa yang memberimu hak untuk mengetahui sesuatu melebihi apa yang Ku-kehendaki?”

Abdul Jalil tersentak kaget. Ia seketika sadar, jawaban itu sejatinya merupakan sebuah perubahan dahsyat yang sedang berlangsung atas jalan hidupnya. Sehingga, ia wajib memasrahkan utuh semua urusan dirinya kepada-Nya. Ia pun segera sadar, inilah rentang waktu di mana keberlebih-kelimpahannya akan berakhir. Ia sadar, segala sesuatu harus terjadi sesuai waktu yang ditetapkan-Nya. Tidak bisa diundur dan tidak bisa pula diajukan. Demikianlah, setelah kesadaran demi kesadaran terdalamnya terkuak, ia menutup diri di dalam kamar dan tidak bicara selama berhari-hari

Ketika rentang waktu seratus hari berlalu dan Abdul Jalil meninggalkan Pamantingan, ia memutuskan untuk tidak memilih tempat lain lagi untuk tinggal dan mengajar. Sebaliknya, ia melanjutkan perjalanan ke arah timur sepanjang pedalaman, mengunjugi dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala daan lemah larangan yang telah dibukanya, lalu berputar dan berbalik arah ke arah barat sepanjang pantai utara, dengan tujuan akhir tanah kelahiran, Caruban. Sesuai rencana, sepanjang perjalanan itu ia akan singgah di dukuh-dukuh yang tersebar di berbagai tempat tersebut, untuk mengetahui apakah tanaman yang telah ditebarnya telah tumbuh dengan baik atau merana tak berkembang. Ia gembira sekaligus takjub ketika melihat ladang persemaian yang dibukanya telah tumbuh subur menjadi tempat penyebaran benih-benih unggul yang memberikan manfaat bagi Kehidupan di sekitarnya.

Di tengah kegembiraan menyaksikan kesuburan pengajaran Tauhid di dukuh-dukuh yang dibukanya itu, Abdul Jalil tiba-tiba melihat setan muncul dalam wujud bayangan palsu dirinya, dengan tujuan utama menodai dan meyimpangkan kemurnian ajaran Tauhid yang disampaikannya. Hal itu ia ketahui ketika beberapa murid terkemukanya melaporkan munculnya dukuh-dukuh baru bernama Lemah Abang dan Kajenar, yang letaknya tidak jauh dari dukuh-dukuh Lemah Abang dan Kajenar yang dibukanya. “Di negeri Daha sekarang ini saja sudah ada dua dukuh Kajenar. Yang satu di barat kutaraja, yaitu dukuh Kajenar yang paduka buka. Yang satu lagi, dukuh Kajenar di dekat Tirwan, yang dibuka seorang guru suci bernama San Ali Anshar. Kami tidak tahu berapa dukuh lagi nanti yang muncul,” kata Kyayi Pocanan.

Menerima laporan kemunculan dukuh-dukuh baru bercitra Lemah Abang dan Lemah Kuning, Abdul Jalil tiahdak merasa terkejut dan khawatir. Tengara bakal munculnya setan yang akan menyimpangkan ajarannya ke arah kesesatan yang sesesat-sesatnya telah ia tangkap bertahun-tahun silam, saat ia bertemu Pangeran Arya Pinatih di Bangsal Sri Manganti di Giri Kedhaton. Munculnya orang bernama Hasan Ali alias Bango Samparan, yang mengaku murid Syaikh Lemah Abang yang bernama asli San Ali Anshar, telah ia tangkap sebagai tengara tentang bakal munculnyaq setan yang menyaru dalam wujud bayangan palsu dirinya. Lalu, setan itu akan melakukan penyelewengan besar-besaran terhadap ajaran yang sudah disampaikannya kepada manusia. Ia merasa betapa kemunculan setan itu akan menjadi salah satu penyebab yang menggenapi perjanjiannya dengan Sang Prthiwi, yaitu mengobarkan keakuannya sebagai Putera Sang Bhumi (Ksitiputera) yang akan disembelih sebagai santapan Mahaksitiputra, Putera Teragung Sang Bhumi, Sang Bhoma Narakasura.

Sadar munculnya setan yang menyaru dirinya itu adalah tengara keniscayaan baginya untuk mengakhiri jalan dharmanya membagi-bagi sisa keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil tidak berkomentar apa-apa menanggapi kemunculan dukuh-dukuh baru di sekitar caturbhasa mandala yang dibukanya. Ia hanya meminta kepada murid-murid terkemukanya untuk berdiam diri. Kepada murid-murid terkemukanya itu, ia memberikan wejangan singkat:

“Ketahuilah, o engkau yang memiliki mata indriawi dan penglihatan batin! Bahwa telah menjadi kodrat Kehidupan, di mana kehadiran sesuatu yang haqq selalu diikuti oleh sesuatu yang batil, laksana siang yang terang benderang diikuti malam yang gelap gulita. Itu sebabnya, jika suatu ketika engkau sekalian berada di suatu masa yang tak jelas batas-batas terang dan gelapnya, karena bumi diliputi gumpalan awan, atau diselimuti gerhana, atau di ambang fajar dan senjakala, di mana antara yang haqq dan yang batil tidak jelas, maka saat itu diamlah! Diam! Seribu kali diam!”

“Ketahuilah, o engkau yang memiliki penglihatan batin! Bahwa dengan diam, mata hatimu (‘ain al-bashirah) yang tersembunyi di relung-relung jiwamu akan menangkap tengara Kebenaran yang muncul laksana matahari kembar, yaitu matahari yang sebenarnya dan bayangan palsunya. Dengan demikian, o engkau yang melihat dengan mata batin, engkau akan menemukan aku dan bayangan palsuku berdiri di ujung jalan Kebenaran. Saat itu, engkau akan sulit membedakan antanra aku dan bayangan palsuku. Sebab, ibarat matahari di pagi dan sore hari yang sama-sama merah cahayanya, demikianlah citra diriku dan citra diri bayangan palsuku itu sama-sama menebarkan cahaya merah keraguan di hati sanubarimu. Lantaran itu, aku beri tahukan kepada engkau sekalian tentang tanda-tanda yang bisa engkau jadikan pedoman untuk membedakan keberadaanku dan keberadaan bayangan palsuku.”

“Pertama-tama, jika engkau sekalian bertemu dan berjabat tangan dengan aku maka engkau akan mendapati tanganmu bersih tanpa bekas apa pun. Sebaliknya, jika engkau sekalian menjabat tangan bayangan palsuku maka engkau akan mendapati bekas tanda pamrih berwarna hitam di telapak tanganmu. Segera lari menjauhlah kalian dari bayangan palsuku jika melihat tanda hitam itu, karena tanda itu akan melebar dan membesar, hingga menutupi seluruh tubuh dan jiwamu. Bekas tanda hitam pamrih itu akan membuatmu terhijab dari jalan Kebenaran dan bahkan akan mementalkanmu jauh-jauh dari jalan-Nya sampai engkau terperosok ke jurang Kesesatan.”

“Aku beri tahukan kepadamu bahwa jalan Kebenaran adalah jalan berliku-liku dan berkelok-kelok, terjal, curam, dan carut-marut membingungkan jika tidak diterangi cahaya matahari Kebenaran. Jalan Kebenaran yang terhampar pada Kitab Suci hanya mungkin dilewati hingga ke mahligai Kebenaran Sejati jika ia diterangi cahaya matahari Kebenaran yang tersembunyi di langit batin. Jika suatu saat nanti engkau sekalian mendapati bayangan palsuku mengaku-aku sebagai diriku, maka bentangkanah jalan Kebenaran Kitab Suci dan berjalanlah di bawah pancaran cahaya matahari Kebenaran yang menerangi penglihatan mata batinmu. Dengan piranti Kitab Suci sebagai jalan Kebenaran dan penglihatan mata batin sebagai cahaya matahari Kebenaran, engkau sekalian dengan mudah akan bisa membedakan mana Syaikh Siti Jenar yang sesungguhnya dan mana pula yang bayangan palsunya. Ujilah kemunculan setan pengaku-aku itu dengan Kitab Suci dan penglihatan mata batin, niscaya engkau sekalian akan menemukan Kebenaran bahwa dia, bayangan palsuku, itu hanyalah bayangan maya fatamorgana yang menyesatkan.”

“Ketahuilah oleh engkau sekalian, o para penempuh jalan ruhani yang berjalan di bentangan jalan Kebenaran, bahwa aku akan meninggalkan hiruk Kehidupan yang melingkupi bumi manusia ini. Aku akan pergi ke duniaku sendiri. Aku tidak bisa mendampingi kalian terus-menerus. Aku tidak bisa berkata ini dan itu ketika bermunculan setan-setan penyesat yang menyaru diriku. Lantaran itu, diamlah dan pasrahkan semua urusan kepada-Nya!”

Sewaktu perjalanan yang dilakukannya sampai di Giri Kedhaton, Abdul Jalil mendapati orang sedang sibuk mempersiapkan peringatan khaul kesembilan wafatnya Prabu Satmata Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah. Ia buru-buru menemui Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, putera Prabu Satmata yang menggantikan kedudukan ayahandanya baik sebagai raja Giri Kedhaton maupun guru suci Tarekat Ni’matullah. Saat bertemu dengan Pangeran Zainal Abidin yang disebut orang dengan gelar Susuhunan Dalem Timur, ia beroleh kabar yang mengejutkan, terkait dengan Majelis Wali Songo. Setelah Prabu Satmata Susuhuna Giri Kedhaton mangkat, anggota majelis lain yang meninggal adalah Pangeran Arya Pinatih Susuhunan Giri Gajah, Khalifah Husein Imam Madura, dan Syaikh Jumad al-Kubra. “Kakek kami, Susuhunan Giri Gajah digantikan oleh putera Eyang Susuhunan Ampel Denta, Raden Qasim. Yang Mulia Khalifah Husein digantikan oleh putera sulungnya, Usman Haji. Yang Mulia Syaikh Jumad al-Kubra digantikan oleh adiknya, Syaikh Dara Pethak. Sementara Paman, yang tak pernah terdengar kabarnya, digantikan oleh Raden Sahid Susuhunan Kalijaga. Yang menunjuk Raden Sahid sebagai pengganti Paman adalah Syaikh Dara Putih,” kata Pangeran Zainal Abidin menjelaskan.

“Kenapa Syaikh Manganti Susuhunan Giri Gajah diganti Raden Qasim? Apakah ia meninggalkan wasiat agar digantikan Raden Qasim?” tanya Abdul Jalil.

“Kakek kami memang berwasiat seperti itu.”

“Bagaimana dengan putera-puteranya?”

“Pangeran Pringgabhaya menjadi kepala wisaya di Pamwatan dan mengepalai keluarga Bajul di sepanjang Bengawan Sori hingga muara. Sementara, Pangeran Kedhanyang menggantikan kakek kami sebagai guru suci di Sri Manganti,” Pangeran Zainal Abidin menerangkan.

Abdul Jalil mengangguk-angguk. Setelah itu ia berkata, “Tapi, tadi sewaktu aku sembahyang di masjid, aku dengar kabar jika di Demak sekarang ini ada ratu kembar: Yang Dipertuan Demak dan Yang Dipertuan Japara. Bagaimana itu? Apakah yang sudah terjadi sepeninggal Sultan Abdurahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama? Kenapa bisa ada dua penguasa?”

“Semula yang mengganti sultan adalah Pangeran Sabrang Lor, putera sulung sultan. Tapi, belum genap tiga tahun dia mangkat. Sekarang ini Tranggana, yang menjadi Sultan Demak.”

“Tranggana?” gumam Abdul Jalil heran, “Putera sultan yang suka mengumbar nafsu kesenangan itu?”

“Benar Paman. Kami juga tidak mengira kalau dia bakal naik takhta.”

“Bagaimana para adipati dapat memilih dia sebagai sultan?”

“Maaf Paman. Tranggana belum utuh menggantikan kedudukan ayahandanya. Sebab, para adipati yang tergabung dalam persekutuan telah sepakat menunjuk saudara iparnya, Pangeran Hunus Adipati Japara, sebagai adipati dan senapati. Jadi sekarang ini penguasa Demak yang berwenang memimpin persekutuan adipati se-Nusa Jawa adalah Pangeran Hunus,” kata Pangeran Zainal Abidin.

“Mungkin itu yang disebut penduduk dengan istilah ratu kembar. Apakah itu tidak menimbulkan masalah?” tanya Abdul Jalil ingin penjelasan.

“Kami berusaha memecahkan masalah itu dengan membagi kekuasaan menjadi dua, yaitu kekuasaan duniawi yang dipegang Pangeran Hunus dan kekuasaan ruhani yang dipegang Tranggana. Pangeran Hunus menduduki jabatan adipati dan senapati, sedang Tranggana menduduki jabatan sayidin panatagama yang hanya mengurusi masalah keagamaan. Jadi, meski ia bergelar sultan tetapi kekuasaannya hanya di bidang agama.”

Abdul Jalil diam. Ia tidak ingin terlibat dengan masalah-masalah rumit seputar pemerintahan, karena ia sudah menangkap sasmita bakal mengalami perubahan jalan hidup yang sangat dahsyat. Itu sebabnya, usai mengikuti upacara peringatan khaul Prabu Satmata, ia beserta istri dan anaknya bergegas meninggalkan Giri Kedhaton ke barat. Sepanjang perjalanan mengunjungi dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala dan lemah larangan, Abdul Jalil justru mendapati kenyataan yang sangat menggembirakan hatinya. Sebab, tatanan kehidupan masyarakat ummah di kawasan pesisir terlihat jauh lebih baik dibanding kehidupan di pedalaman. Bukan saja bandar-bandar di pesisir dimakmurkan oleh perdagangan dari pedalaman ke pesisir, melainkan perniagaan antara bangsa pun membawa kelimpahan yang menakjubkan. Kemakmuran benar-benar melimpah di pesisir seolah sulit ditemukan orang fakir. Tajug dan masjid tegak di mana-mana. Pesantren dan khanaqah pun tumbuh seperti jamur. Di tengah berlimpahnya kemakmuran itu, tatanan kehidupan masyarakat pesisir jauh terasa lebih aman dan tertib dibanding pedalaman karena diterapkannya undang-undang hukum yang disebut Angger-Angger Suryangalam, yakni hukum yang diberlakukan di Kadipaten Demak dan seluruh kadipaten sekutunya. Keadaan itu sangat berbeda dengan di pedalaman, di mana hukum Majapahit Kutaramanawa sudah compang-camping dan menjadi barang dagangan yang sangat murah sehingga tak mampu membawa ketertiban apalagi keadilan.

Ketika perjalanan yang dilakukannya mencapai Demak, Abdul Jalil melakukan sembahyang di Masjid Agung Demak yang telah diperluas dan diperindah dengan segala kemegahan. Para arsitek dan tukang yang diserahi tugas memperluas masjid adalah orang-orang Mappila asal Kerala. Lantaran itu, rancang bangun masjid baru itu mirip dengan masjid Kerala, yaitu beratap limas tingkat tiga. Masjid baru itu merupakan masjid terbesar di Nusa Jawa dan dijadikan salah satu tempat bertemunya Majelis Wali Songo. Sebenarnya, setelah bersembahyang Abdul Jalil berniat akan singgah ke kraton menemui Tranggana untuk mengingatkan bahaya dari takhta kekuasaan sebagai amanah Ilahi. Namun, baru saja ia berjalan dari masjid ke alun-alun, tiba-tiba ia tersentak kaget karena menjumpai sesuatu yang sedikit pun tidak pernah diduganya: bertemu muka dengan sahabat penunjuk jalan Kebenaran yang sangat dihormatinya, guru ruhani yang dimuliakan dan pembimbing jalan lurus yang membawanya ke lingkaran Jama’ah Karamah al-Auliya’, yaitu Ahmad Mubasyarah at-Tawallud.

Seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Abdul Jalil terperangah kebingungan menatap wajah Ahmad at-Tawallud yang seperti tidak termakan usia. Dengan wajah berbinar-binar penuh kegembiraan, ia menyalami, merangkul, mencium pipi, dan kemudian berlutut sambil memegangi kaki guru tercintanya itu. Lama ia terdiam seolah ingin menumpahkan kerinduannya sebagai anak lewat kaki guru yang dihormatinya. Setelah diam beberapa jurus, ia bertanya dengan suara bergetar, “Apakah yang membuat Tuan, guru suci kami, datang ke negeri yang jauh tersembunyi di balik kabut ini?”

Ahmad at-Tawallud tidak buru-buru menjawab. Sebaliknya, dia mengusap kepala si kecil Fardun yang dipangku Shafa sambil bertanya, “Berapa usianya?”

“Satu tahun delapan bulan,” jawab Shafa.

“Siapa namanya?”

“Fardun.”

Ahmad at-Tawallud tertawa. Lalu dengan suara lain dia berkata, “Nama anak ini Fardun, terkait dengan tugasku. Maksudku, aku sekarang ini sedang mengemban tugas dari Misykat al-Marhum untuk mencari engkau, o Tuan Abdul Jalil, untuk memberikan jubah kehormatan (an-nawalah), sebagai tanda bahwa engkau telah menjadi ‘orang yang sendiri’ (fard). Sebab, telah beberapa waktu ini Misykat al-Marhum mengaku tidak lagi dapat memantau dan mengawasi keberadaan Tuan. Ternyata, barang setahun delapan bulan silam Tuan sudah mengetahui kedudukan Tuan itu.”

“Maaf Tuan, apakah dengan itu berarti kami sudah tidak menjadi anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’?”

“Tidak hanya itu.”

“Maksudnya?”

“Keberadaan Tuan sebagai apa pun sudah selesai,” kata Ahmad at-Tawallud lepas. “Artinya, Tuan tidak boleh lagi menjadi guru manusia atau menjadi apa pun yang berkaitan dengan urusan duniawiah. Tuan harus meninggalkan segala-galanya. Tuan telah dipilih-Nya untuk menjadi kekasih-Nya yang setia. Kekasih yang tidak memalingkan kiblat kepada yang lain kecuali kepada-Nya. Dia menginginkan Tuan utuh sebagai pribadi tanpa predikat dan atribut apa pun. Tuan akan dijadikan-Nya sebagai Abdul Jalil (hamba Yang Mahaagung) dalam makna yang sebenar-benarnya. Tuan akan dijadikan sebagai ‘yang sendiri’, kekasih ‘Yang Tunggal’ (al-Fard).”

Abdul Jalil tersungkur mencium tanah. Bersujud syukur atas anugerah yang tak pernah dibayangkan dan diimpikannya itu. Dengan air mata bercucuran ia menangis terisak-isak sampai tubuhnya terguncang-guncang. Ia merasakan seluruh aliran darahnya mengalir deras laksana air sungai. Ia merasakan napasnya bertiup laksana angin pegunungan bertiup di musim kemarau. Ia benar-benar merasa hilang diri. Hanya rasa rindu yang tak kesampaian ia rasakan naik perlahan-lahan dari dada hingga ke ubun-ubun.

Berbeda dengan Abdul Jalil yang menerima anugerah dari al-Fard dengan penuh kesyukuran, Shafa justru terheran-heran dan kebingungan menyaksikan kenyataan terkait nasib suaminya. Dengan benak dipenuhi tanda tanya, dia bertanya kepada Ahmad at-Tawallud, “Apakah dengan menjadi ‘yang sendiri’ dan menjadi kekasih Yang Tunggal, suami kami sudah kehilangan segala-galanya? Apakah dia akan kehilangan juga istri dan anak-anak yang dikasihinya?”

“Ananda,” kata Ahmad at-Tawallud lembut, “Secara manusiawi, Tuan Abdul Jalil tetaplah suami ananda dan ayahanda dari putera-puteranya. Tetapi, secara ruhaniah dia adalah mutlak milik-Nya. Sebab itu, jika ananda melihat ke dalam relung-relung jiwa suami ananda maka yang akan ananda dapati adalah Kehampaan. Kosong. Kepenuhan. Pepat. Yang ada hanyala Yang Tunggal dan Tak Terbandingkan. Tidak ada yang lain lagi.”

“Apakah tidak ada sedikit ruang yang tersisa bagi kami, istri dan anak-anaknya?”

“Dia Mahasuci. Maha Pencemburu. Tidak mau disekutukan. Tidak mau diduakan. Jika di dalam relung-relung jiwa orang-orang seperti suami ananda masih terdapat ruang untuk yang lain, maka yang lain itu akan dihapus dan dihancurkan tanpa sisa.”

“Lalu bagaimana dengan nasib kami, o Tuan?” tanya Shafa minta penegasan dengan air mata bercucuran.

“Ananda janganlah berpikir dangkal sebagaimana pemikiran orang kebanyakan pada umumnya, yang selalu bertanya begini: Bagaimana nasibku dan nasib anak-anakku? Apa yang diberikan Tuhan untukku? Apa yang diberikan suamiku untuk aku? Bagaimana hak-hakku sebagai istri dan bagaimana pula hak anak-anakku sebagai anak? Sungguh, aku katakan kepada ananda bahwa sebagai istri seorang penempuh jalan ruhani, hendaknya ananda berpikir yang sebaliknya dari pandangan umum orang kebanyakan. Ananda harus berpikir begini: bagaimana seharusnya saya mengabdi secara benar kepada Allah, Sang Pencipta! Bagaimana aku dapat melayani Allah dengan sebaik-baiknya. Sebesar apakah pengorbanan yang harus aku lakukan untuk berbakti kepada-Nya? Bukankah dengan melayani dan mengabdi kepada kekasih Allah, sejatinya aku sudah melayani dan mengabdi kepada-Nya? Bukankah semua yang ada di dalam dan di luar diriku pada hakikatnya adalah milik-Nya? Pantaskah aku menentang Dia Yang mengambil milik-Nya?”

14. Citra Bayangan Sang Maut

Ketika hari menjelang sore, Abdul Jalil mengantar Ahmad at-Tawallud ke pelabuhan Demak. Guru ruhani terkasihnya itu ingin sampai di sana sebelum senja sebab kapal yang ditumpanginya akan berlayar sebelum hari gelap. Saat mereka berjalan sambil berbincang-bincang di tepi pantai, tiba-tiba Abdul Jalil menyaksikan kilasan penglihatan batin yang membuat darahnya tersirap dan langkahnya terhenti. Saat itu, tanpa terduga-duga di bentangan langit barat yang mulai memerah terpampang citra wajah Sang Maut yang memanjangkan bayang-bayang-Nya hingga garis cakrawala. Bayangan yang terus memanjang itu diselimuti semacam kabut tipis yang membentuk gambaran aneka rupa perwujudan yang menampakkan seringai wajah Kematian yang mengerikan. Sekejap kemudian, wajah Kematian itu semburat dan mewujud dalam bentuk makhluk-makhluk setengah manusia berdarah dingin yang mengerikan wujudnya; matanya semenyala mata serigala, gigi-geliginya setajam pedang, cakar-cakarnya seruncing tombak, raungannya sedahsyat seribu singa, dan embusan napasnya sepanas tungku. Kemudian, makhluk-makhluk mengerikan itu dengan keganasan tak terlukiskan memburu beribu-ribu dan bahkan beratus-ratus ribu makhluk hidup.

Abdul Jalil menahan napas dan merasakan dadanya sesak menyaksikan penglihatan batin yang mengerikan. Dengan suara tergetar ia bertanya kepada Ahmad at-Tawallud, “Apakah Tuan menyaksikan bayangan Sang Maut di cakrawala sebagaimana yang kami saksikan? Apakah itu memiliki keterkaitan dengan jalan yang harus kami lampaui untuk menjadi ‘yang sendiri’?”

Ahmad at-Tawallud berdiri di samping Abdul Jalil dengan mata menatap ke garis cakrawala yang mulai kabur. Setelah diam sejurus, ia berkata dengan suara lain, “Aku menyaksikan apa yang Tuan saksikan. Apa yang Tuan saksikan barusan dapat Tuan tafsirkan memiliki kaitan dengan jalan yang akan Tuan lampaui untuk menjadi ‘yang sendiri’. Sebab, tatkala bayangan Sang Maut menebar Kebinasaan atas orang-orang di sekitar Tuan, tidak sedikit pun Tuan diperbolehkan untuk berbuat sesuatu guna menolong mereka. Tuan yang dikenal orang sebagai manusia luhur budi yang selalu berbagi keberlebih-kelimpahan dan rela berkorban untuk yang lain, saat itu harus melepas citra diri Tuan. Tuan harus menjadi sesuatu yang tidak berguna manfaat apa pun di saat Tuan dengan mudah dapat memberi guna dan manfaat. Tuan harus ikhlas melepas semua desakan hati nurani, meski pahit. Tuan harus membiarkan manusia-manusia yang Tuan kasihi melolong-lolong ketakutan, berlarian menghindari kejaran makhluk-makhluk ganas berdarah dingin jelmaat bayangan Kematian. Tuan harus dapat menahan rasa sakit tak terkatakan ketika menyaksikan beratus-ratus bahkan beribu-ribu tangan manusia tak berdaya menggapai-gapai ke arah Tuan untuk meminta tolong, tanpa sedikit pun Tuan memberikan pertolongan.”

“Seberat itukah jaan yang harus aku lampaui untuk menjadi ‘yang sendiri’?” Abdul Jalil merasakan dadanya semakin sesak.

“Tuan akan terus menyaksikan bagaimana ganas dan brutalnya makhluk-makhluk mengerikan bayangan Sang Maut meraung, mencabik-cabik, mengoyak-koyak, dan merobek-robek semua mangsa dengan gigi geligi dan cakar-cakarnya yang tajam serta runcing. Tuan akan menyaksikan bagaimana mereka pamer keganasan,a mengunyah-kunyah, memamah, dan menelan mangsa-mangsanya di depan Tuan. Tuan harus diam menyaksikan itu semua. Tuan harus diam. Diam. Sebab, Tuan bukan siapa-siapa lagi,” kata Ahmad at-Tawallud menepuk bahu Abdul Jalil.

“Tapi beri tahukan kepada kami, kenapa bayangan Sang Maut terpampang di langit barat?”

“Sebab, bayangan Kematian yang Tuan saksikan itu adalah citra bayangan Sang Maut yang sudah menebar Kebinasaan di barat dan kemudian terbawa angin ke negeri Tuan.”

“Dapatkah Tuan menceritakan kepada kami tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di barat negeri kami?”

Ahmad at-Tawallud diam dengan mata menerawang ke garis cakrawala. Beberapa bentar kemudian ia duduk di atas hamparan pasir dan memberi isyarat agar Abdul Jalil duduk di sampingnya. Setelah itu, dengan suara lain dia mulai bercerita tentang badai Kebinasaan yang telah melanda negeri-negeri di sebelah barat.

Di negeri Persia, bayangan Sang Maut kembali muncul dalam wujud Syah Ismail yang mengamuk tidak lama setelah ia berhasil menguasai Herat. Sebagaimana saat kemenangan yang pernah diraih di Tabriz dan Shiraz, usai menaklukkan Herat, sang mahdi, reinkarnasi tuhan itu, segera menudingkan telunjuk ke tempat-tempat ‘kedurhakaan yang penuh kenajisan’: makam-makam para sufi, dan zawiyyah-zawiyyah tarekat yang bertebaran di Herat. Lalu seiring tudingan tangan sang tuhan, terdengarlah suara gemuruh amukan badai yang menggiriskan yang membuat makam-makam para sufi terbongkar, khanaqah-khanaqah berantakan, zawiyyah-zawiyyah porak-poranda, para penempuh jalan Kebenaran berpentalan terempas ke tepi jurang Kematian. Seringai wajah Kematian yang mengerikan tampak melayang-layang di atas ubun-ubun siapa saja di antara manusia yang menolak kemahdian dan keilahian Syah Ismail.

Tangisan pilu terdengar di sudut-sudut rumah ketika makam sufi besar Jami terbongkar porak-poranda dan rata dengan tanah dilanda amukan badai Kebinasaan yang diembuskan Syah Ismail. Para pengikut Tarekat Khalwatiyyah kocar-kacir dan ari tunggang langgang, berjalan terhuyung-huyung meninggalkan khanaqah-khanaqah dan zawiyyah-zawiyyah. Mereka tidak mampu menahan terjangan badai Kebinasaan yang susul-menyusul dan sambung-menyambung menebar Kematian. Dengan langkah gontai dan terseok-seok, mereka, dengan sisa-sisa terakhir tenaganya, berjuang menyelamatkan Kehidupan mereka ke wilayah Turki Usmani dan meminta perlindungan kepada Sultan Turki Usmani: Bayazid. Sementara, para pengikut Tarekat Kubrawiyyah Nurbakhsyi bersembunyi di lubang-lubang gua dan ruang-ruang bawah tanah karena pemimpin mereka, Qawamuddin bin Muhammad Nurbakhsyi, diintai bayangan Sang Maut yang berkeliaran bersama gumpalan awan Kematian dan badai Kebinasaan yang tak kenal ampun.

Bayangan Sang Maut yang mengembuskan badai Kebinasaan di Herat ternyata berembus pula dengan dahsyat di Khanat Bukhara. Seringai keganasan wujudnya membayang dalam wajah dingin penguasa dinasti Shaybanid, yang menghempaskan Kehidupan para pemimpin suku-suku Uzbek yang mengangkat senjata bagi kemerdekaan negerinya. Sebagaimana di Persia, di Khanat Bukhara, seiring gemuruh badai Kebinasaan yang melanda, terdengar jeritan panjang sahut-menyahut di tengah hingar ringkik kuda, gemerincing senjata, derap kaki, caci maki, dan sumpah serapah. Pada saat semua pandangan diarahkan ke garis cakrawala, terbelalaklah semua mata menyaksikan pemandangan yang meremangkan bulu kuduk: genangan darah mengalir bagaikan sungai, mayat-mayat bertumpuk membentuk bukit-bukit, bangkai-bangkai kuda berkaparan, pedang-pedang patah, anak-anak panah menghutan di palagan, dan jiwa-jiwa beterbangan ke angkasa. Ke mana pun pandangan diarahkan, baik di wilayah Tashkent di utara, baik di lembah Ferghana di timur, baik di lembah Afghan di selatan, baik di oasis Khwarazm di mulut Amu Darya di barat, hanya bayangan wajah Sang Maut yang terpampang ganas, mengintai dan mengepung Kehidupan makhluk.

Ketika badai Kebinasaan masih bergulung-gulung melumat Kehidupan makhluk di Khanat Bukhara, di negeri Ferghana yang terletak di sebelah timurnya berembus badai Kebinasaan yang menggemuruh bersama debu dan hutan panji-panji yang dikibarkan Zahiruddin Muhammad Babur, Yang Dipertuan Ferghana dan Samarkand. Badai Kebinasaan itu dengan ganas menerobos ke selatan, melintasi lembah, pegunungan, ngarai dan jurang, melanda negeri Afghan. Laksana Indra, Sang Puramdara, penakluk benteng, Babur memamerkan kekejaman luar biasa saat menaklukkan Samarkand dan menghancurkan gerakan oposisi yang menentangnya itu berteriak lebih garang di lembah Afghan. Lalu, dengan keganasan hewan buas kelaparan, Babur menggiring badai Kebinasaan melanda lembah subur Punjab di Bharatnagari. Ke arah mana pun orang berpaling, yang terlihat hanyalah bayangan Babur sebagai citra bayangan Sang Maut. Di mana pun Babur berada, orang akan menyaksikan pengejawantahan Sang Maut yang mewujud dalam bentuk hutan panji, bendera, dan tombak yang bergerak serempak di antara meriam-meriam, pedang-pedang, perisai-perisai, panah-panah, senapan-senapan, dan dentam-dentam ladam kuda yang menggemuruh di tengah bahana nyanyian perang membelah angkasa. Perang! Perang! Perang!

Sementara bayangan Sang Maut berkeliaran memangsa bangsa-bangsa muslim di Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, Afghan, dan Punjab, di anak benua India bertiup badai Kebinasaan yang tidak kalah dahsyat.

Alfonso d’Albuquerque, gubernur Portugis di India, menyeringai dan mengembuskan napas Kematian di tengah debur ombak, kibaran layar, dentum meriam, letusan senapan, gemerincing pedang, dan pekik kemenangan pasukannya. Alfonso d’Albuquerque adalah ksatria tuhan yang datang ke Bharatnagari setelah Vasco da Gama. Ia lahir di Alandra, dekat Lisbon hambir delapan windu silam, anak kedua Gonzalio d’Albuquerque, Senhor de Villa Verde. Sejak muda, di bawah Raja Alfonso V, ia sudah terlibat pertempuran dengan orang-orang Islam di Afrika Utara. Lantaran pengalaman masa mudanya itu, sebagaimana Vasco da Gama, ia beranggapan bahwa di dunia ini hanya ada dua agama yang saling bermusuhan, yaitu Kristen dan Islam.

Alfonso d’Albuquerque datang ke India bersama sepupunya, Dom Francisco d’Alameda. Sebagai ksatria tuhan yang termasyhur kegagahannya di medan tempur, ketika tiba di India ia langsung terlibat dalam pembangunan benteng yang disiapkan sebagai ‘ladang pembantaian’ bagi musuh-musuh tuhan. Dom Francisco d’Alameda diangkat menjadi gubernur Portugis pertama di India dan berjaya menghancurkan armada Samutiru Yang Dipertuan Kozhikode. Tidak lama kemudian, d’Almadea digantikan d’Albuquerque, yang sebelumnya telah menaklukkan bandar Socotra dan Ormuz, di mulut Laut Merah. Tidak mau kalah dengan prestasi Vasco da Gama, sang ksatria tuhan d’Albuquerque melengkapi kemenangan armada laut d’Alameda dengan menggempur Kozhikode.

Dengan semangat ksatria tuhan yang membawa panji-panji kebesaran agama, d’Albuquerque memimpin pasukannya, prajurit-prajurit tuhan yang gagah berani. Bagaikan malaikat Kematian memburu mangsa, mereka bergerak cepat laksana awan hitam bersama gemuruh badai Kebinasaan, melanda pasukan Kozhikode yang dipanglimai Laksamana Kunjali Marakkar. Dalam waktu sangat singkat, sang ksatria tuhan dan pasukannya telah menjadikan Kozhikode sebagai rumah jagal raksasa yang penuh dengan bukit mayat dan bangkai hewan, genangan darah, senapan berserak, tombak patah, baju zirah terbelah, dan bau Kematian yang menusuk ke relung-relung jiwa.

Kemenangan yang dicapai d’Albuquerque di Kozhikode adalah bagian dari kemenangan-kemenangan yang telah diraihnya sebagai ksatria tuhan tak terkalahkan. Sanjungan dan pujian nyaris tak pernah jauh darinya. Nama d’Albuquerque selalu disebut dengan penuh kekaguman sepanjang jalur pelayaran antara India hingga Portugal. Sebagai pemenang, ia tidak sadar jika dirinya telah mabuk sanjungan dan pujian. Antara mabuk dan sadar, ia secara tiba-tiba mengumbar kebanggaan akan kehebatan diri sebagai ksatria tuhan yang tidak kalah hebat dibanding Vasco da Gama. Kemudian, dengan kepongahan ksatria tuhan tak terkalahkan, ia menggiring armadanya ke Goa, bandar niaga kedua terpenting di wilayah Kesultanan Bijapur, yang terletak di sebuah pulau di muara sungai Mandovi. Dengan kegagahan ksatria tuhan, ia dengan gampang merebut benteng Pangim. Penduduk Goa yang sudah mendengar kehebatan pasukan Portugis semenjak Vasco da Gama beramai-ramai mendatangi ksatria tuhan baru, d’Albuquerque. Mereka menyatakan kesediaan kotanya dijadikana bagian dari wilayah Kerajaan Portugal.

Sementara, kemenangan d’Albuquerque atas Goa untuk kali kesekian mengejutkan para panglima perang Bharatnagari, yang selama berabad-abad cenderung menilai secara berlebihan kehebatan diri di medan tempur berdasar ukuran darah kebangsawanan, keberanian, kesaktian, siasat gelar perang, maupun besarnya jumlah pasukan. Para panglima yang bangga dengan nilai-nilai ksatria dan kepahlawanan dalam bertempur tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan-kenyataan aneh terkait dengan kekuatan-kekuatan baru kemiliteran Portugis yang memiliki sudut pandang berbeda dengan apa yang selama ini mereka pahami. Senapan yang selama itu lebih banyak digunakan untuk memeriahkan pesta pada upacara perkawinan dan penyambutanaaaa tamu terhormat atau perayaan-perayaan keagamaan, terbukti di tangan Portugis menjadi alat pembunuh yang ampuh. Mereka dengan terpaksa harus menggeleng-gelengkan kepala ketika menyaksikan keuletan, ketangguhan, kekompakan, dan keberanian satuan-satuan kecil pasukan Portugis yang mampu menahan musuh berjumlah puluhan kali lipat dengan hanya bersenjatakan senapan-senapan. Mereka tidak tahu rahasia apa di balik kekuatan orang-orang kulit putih itu hingga mereka menjadi orang-orang yang ulet, tangguh, kompak dan pantang menyerah selama menghadapi musuh.

Keuletan dan ketangguhan pasukan Portugis di bawah Francisco d’Albuquerque selama menghadapi serangan besar-besaran Panglima Kunjali Marakkar di Cochizha barang sewindu silam memang telah menjadi buah bibir yang tak ada habisnya di anak benua India. Orang dengan berdecak kagum berkata terheran-heran, bagaimana mungkin Portugis yang hanya berkekuatan tiga kapal dengan 100 orang serdadu ditambah 300 orang tentara bayaran Malabar dan 5000 orang pengawal Raja Cochizha, mampu menahan gempuran pasukan Kozhikode yang berkekuatan 280 buah kapal dan 50.000 orang tentara selama lima bulan? Bagaimana mungkin kekuatan kecil Portugis itu dengan sangat gemilang akhirnya berhasil memukul baik kekuatan Laksamana Kunjali Marakkar yang lebih besar itu sampai terlempar keluar Cochizha?

Keuletan dan ketangguhan itu kini teruji lagi ketika pasukan Portugis di bawah Alfonso d’Albuquerque berhasil menahan serbuan Adil Shah, Sultan Bijapur, yang membawa 50.000 orang prajurit mengepung Goa. D’Albuquerque dean pasukannya tidak menyerah setelah dikepung tiga bulan oleh pasukan Bijapur, meski kekurangan bahan pangan dan amunisi. Baru setelah empat bulan terkepung, d’Albuquerque dan pasukannya mundur meninggalkan Goa, dengan kapal-kapal rusak berat karena menerobos kepungan pasukan Bijapur. Namun, saat datang bantuan dari Portugis berupa 23 kapal perang dan 2000 orang serdadu pilihan, pada 25 November 1510 d’Albuquerque menyerang kembali Goa. Dalam tempo hanya sehari, ia telah mengubah Goa menjadi rumah jagal raksasa yang mengerikan: mayat-mayat dengan tubuh hangus berserpihan dan ceceran darah berserakan di bawah intaian ratusan gagak yang berteriak-teriak serak di angkasa.

Usai menaklukkan Goa, d’Albuquerque yang sudah mabuk kemenangan mengarahkan pandangan ke Malaka, bandar perniagaan penting di timur, sebuah batu loncatan bagi Portugis untuk mencapai negeri rempah-rempah. Sudah sejak awal d’Albuquerque meneterkan liur hendak mencaplok bandar terkenal kaya raya itu. Saat itu ia memiliki alasan kuat untuk menggempur dan menguasai bandar kaya tersebut, karena penguasa Malaka barang setahun silam telah menolak tawarannya untuk berniaga dan malah menawan pelaut-pelaut yang dikirimnya di bawah Diego Lopez d’Sequeira. Hasrat d’Albuquerque makin berkobar ketika saudagar-saudagar Cina muslim Cochizha memberikan dukungan, baik menyangkut keterangan-keterangan tentang kelemahan bandar Malaka maupun tawaran jung-jung mereka untuk mengangkut pasukan Portugis ke Malaka, tentunya, dengan imbalan yang memadai.

Menurut kabar, Malaka saat itu sedang diguncang kemelut akibat persekongkolan Tun Mutahir yang merencanakan suatu pembunuhan terhadap sultan. Meski persekongkolan itu terbongkar dan Tun Mutahir beserta keluarganya dihukum bunuh, keruwetan yang ditimbulkan bendahara jahat itu masih membelit Malaka. Kebobrokan akhlak pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang menular ke pegawai-pegawai rendahan masih kuat bercokol di tubuh aparat kesultanan Malaka. Melalui liku-liku kebobrokan akhlak para pejabat dan pegawai kesultanan itulah setumpuk laporan Ruy de Araujo tentang peta pertahanan bandar Malaka dapat diselundupkan keluar tahanan hingga jatuh ke tangan d’Albuquerque. Setelah memahami kelemahan pertahanan Malaka, pada 25 Juli 1511 d’Albuquerque menggempur Malaka. Pecah pertempuran sengit. Sultan dengan didukung tentara bayarannya melawan. Meriam berdentuman dari kedua belah pihak. Sekalipun d’Albuquerque sempat mendaratkan pasukannya, sultan berhasil menghalau mereka kembali ke kapalnya.

Seiring kembalinya pasukan Portugis ke kapal, terlihatlah pemandangan mengerikan dari bekas jejak-jejak bayangan Sang Maut: mayat-mayat bergelimpangan dan bertumpuk di hampir setiap jengkal bandar Malaka. Bangunan-bangunan hangus mengepulkan asap dengan kobaran api menjilat-jilat ke angkasa. Meriam-meriam berserakan. Senapan-senapan berceceran. Anak panah bertumpang tindih dengan tombak-tombak patah. Meriam-meriam yang berdentuman dari kapal-kapal Portugis telah mengejawantahkan citra bayangan Sang Maut. Alfonso d’Albuquerque, sang ksatria tuhan, membuktikan bahwa dirinya tidak kalah ganas dibanding Vasco da Gama.

Selama berada di kapalnya, setelah mundur dari bandar Malaka, d’Albuquerque memperoleh laporan-laporan lebih lengkap tentang keadaan musuhnya. Di antara laporan-laporan itu, yang terpenting bagi d’Albuquerque adalah laporan tentang kecilnya nyali prajurit-prajurit Malaka yang berakibat pada rendahnya semangat tempur mereka. Dengan laporan itu, jelas sudah bagi d’Albuquerque bahwa kekuatan inti yang diandalkan sultan Malaka adalah tentara bayaran asal Jawa, Persia, dan Kerala. Sebagai ksatria tuhan yang berpengalaman, d’Albuquerque mengirim orang-orangnya untuk melumpuhkan tentara-tentara bayaran itu dengan tawaran harga yang lebih tinggi. Kemudian, setelah yakin kekuatan musuh terbelah, pada 10 Agustus 1511 d’Albuquerque melakukan serbuan besar-besaran ke Malaka. Tanpa kesulitan berarti pasukannya berhasil mendarat kembali di bandar Malaka. Meski perlawanan sengit dilakukan sultan dan pasukannya, akibat sebagian di antara tentara bayaran asal Jawa sudah berpindah tuan karena tergiur tawaran gaji yang lebih tinggi, maka porak-porandalah pertahanan sultan. D’Albuquerque bersama pasukannya meraih kejayaan gemilang. Prajurit-prajurit Portugis yang berkemenangan itu kemudian menjarah kekayaan Malaka. Mereka menjarah apa saja barang perniagaan yang terdapat di Malaka; kain sutra, gading, emas lantakan, perhiasan, batu mulia, keramik, aneka jenis senjata. Di antara barang-barang hasil jarahan itu terdapat 3000 buah meriam yang terbuat dari kuningan dan 2000 buah meriam yang terbuat dari besi, yang semua senjata berat itu didatangkan dari Jawa.

Setelah Malaka jatuh, Sultan Mahmud Syah, dengan dikawal sisa-sisa pasukannya meninggalkan ibu kota. Ia membangun kubu pertahanan di Pagoh yang terletak di tepi sungai Muar. Namun, d’Albuquerque yang khawatir kalau Sultan Mahmud Syah akan merebut kembali Malaka segera memburunya. Dengan dukungan 400 orang prajurit Portugis, 600 orang tentara bayaran Jawa, dan 300 orang tentara bayaran Pegu (Burma), d’Albuquerque menggempur kubu Sultan Mahmud Syah di Pagoh. Sultan tua yang sudah lelah itu tak kuasa menahan serbuan d’Albuquerque. Ia mundur ke hulu sungai Muar sampai ke wilayah Pahang. Setahun setelah di Pahang, sultan menggempur Pagoh, tapi ia kalah dan lari hingga ke Bentam. Usaha sultan merebut kembali bandar-bandarnya dari tangan Portugis mengakibatkan terjadinya perang berlarut-larut. Perang! Perang! Perang!

15. Dua Penguasa Berebut Kuasa

Paparan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud tentang amukan badai Kebinasaan di berbagai negeri di barat seketika mengingatkan Abdul Jalil tentang pemukiman-pemukiman baru orang-orang asing di Surabaya, Gresik, Tuban, Lasem, dan Demak yang dijumpainya selama ia berkeliling mengunjugi dukuh-dukuh larangan dan caturbhasa mandala. Rupanya, tiupan dahsyat badai Kebinasaan yang melanda bumi Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, dan Afghan telah menimbulkan ketakutan penduduk di negeri tersebut. Kekalahan, kekejaman, kemenangan, kebiadaban, kegagahan, ketertindasan, kepongahan, kebencian, keberanian, kekuatan, dan ketidakberdayaan yang tumpang tindih di tengah bayangan Kematian telah mengaduk-aduk jiwa manusia-manusia yang kalah. Di tengah hiruk Kebinasaan tersebut, para pemuka pihak yang kalah, para pemimpin marga yang enggan tunduk kepada pemenang, guru-guru ruhani dan murid-muridnya yang teraniaya, dan warga yang ketakutan terpusar dalam ketidakberdayaan yang membingungkan. Mereka saling pandang dan saling bincang. Lalu, mereka bersepakat meninggalkan tanah kelahiran mereka untuk mencari keselamatan di negeri lain.

Seperti layaknya hewan yang mengetahui ke mana harus bersembunyi ketika bahaya mengancam, manusia-manusia kalah yang jiwanya didera ketakutan dan pikirannya diaduk-aduk kebingungan itu pergi meninggalkan tanah kelahiran mereka, menuju negeri yang tersembunyi di balik kabut; negeri surgawi penuh harapan dengan gunung-gunungnya yang biru dilimpahi kesuburan, biji-bijian menguning membentuk bukit-bukit makanan, buah-buahan ranum menyegarkan, susu dan madu melimpah ruah, gemericik air sungai yang mengumandangkan nyanyian Kehidupan, dan senyuman ramah penghuninya yang setengah telanjang; surga dunia yang sejak zaman kuno disebut orang negeri Jawi (sebutan pelaut-pelaut Arab untuk pulau-pulau Nusantara di masa silam) yang terhampar laksana untaian permata zamrud di tengah lautan.

Ketika waktu berlalu dan cakrawala Kehidupan terbit dengan harapan baru, para pencari keselamatan itu telah terlihat bermunculan di sepanjang pantai negeri Jawi. Dengan ketakjuban luar biasa, mereka yang merasa telah sampai di negeri surgawi itu beramai-ramai tinggal di negeri harapan yang mereka impikan. Mereka mendatangi penguasa-penguasa negeri dan dengan bahasa isyarat mereka meminta izin tinggal di situ. Penduduk negeri Jawi yang terheran-heran melihat kehadiran orang-orang asing di negeri mereka, menyebut mereka sebagai wong kabur kanginan (orang-orang terbawa badai) asal negeri Rum, yaitu negeri kediaman orang-orang berwajah rupawan di negeri Atas Angin di angkasa.

Tercekam oleh paparan Ahmad at-Tawallud dan penglihatan batin yang disaksikannya di atas langit Demak, Abdul Jalil ingin mengetahui apakah gerangan yang sedang terjadi di negeri Demak sehingga memiliki kaitan dengan badai Kebinasaan yang sudah mengamuk lebih dulu di barat. Apakah kedatangan orang-orang yang terbawa badai dari negeri-negeri tersebut bakal menjadi salah satu penyebab berembusnya badai Kebinasaan di Nusa Jawa? Apakah yang sesungguhnya terjadi di Kesultanan Demak setelah mangkatnya Sultan Abdurrahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama?

Usai mengantar guru terkasihnya, ia buru-buru menemui Gagak Cemani, seorang pengikutnya yang tinggal di kuta Demak. Ia menitipkan istri dan puteranya kepada Gagak Cemani. Setelah itu, seorang diri ia melangkahkan kaki menuju Masjid Agung Demak. Namun, saat berada di alun-alun ia merasakan hawa aneh melingkupi daerah tersebut. Tanpa sengaja ia menangkap kelebatan empat sosok bayangan hitam yang melintas cepat di depannya dalam jarak sekitar sepuluh tombak. Ia tahu bayangan yang berkelebat itu bukanlah manusia, melainkan bangsa jin. Lalu, dengan bahasa perlambang ia memanggil mereka. Keempat bayangan hitam itu berhenti seketika dan melesat berbalik arah. Ternyata, mereka adalah Ratu Rara Dhenok, jin penguasa Demak. Ia didampingi Ratu Banjaransari, jin penguasa Pengging, Sapujagad, jin penguasa Jipang, dan Barat Katiga, jin penguasa Samarang. Dengan terheran-heran, Abdul Jalil melihat keempat pemuka jin itu dan bertanya, “Ada keperluan apakah sehingga kalian yang datang dari Jipang, Pengging, dan Samarang berada di Demak?”

Ratu Banjaransari dengan sikap sangat hormat menjawab, “Kami sedang merencanakan pesta, paduka.”

“Pesta darah, maksudmu?” sergah Abdul Jalil.

“Benar Paduka.”

“Apakah itu karena ada kemelut pergantian kekuasaan di Demak?”

“Paduka sudah lebih tahu tentang itu.”

Abdul Jalil diam. Ia sadar, cepat atau lambat badai Kebinasaan akan berembus dengan dahsyat di Nusa Jawa. Ia sadar, berkuasanya dua orang raja setelah mangkatnya Sultan Abdurrahman Surya Alam akan berbuntut pesta darah para jin. Sebab, perebutan pengaruh masing-masing raja yang akan memanfaatkan apa saja yang bisa mereka gunakan untuk mengukuhkan kekuasannya. Orang-orang terbawa badai sangat mungkin akan dijadikan alat oleh salah satu di antara dua penguasa tersebut untuk memperkuat kekuasaannya. Itu berarti, embusan badai Kebinasaan yang akan memporak-porandakan keberadaan umat Islam di Nusa Jawa tidak akan dapat dihindari lagi. Para jin pasti akan mensyukuri Kebinasaan itu dalam pesta darah yang menjadi hak mereka dari zaman ke zaman.

Tengara bakal berembusnya badai Kebinasaan di Nusa Jawa makin kuat ditangkap Abdul Jalil manakala ia menyaksikan kenyataan-kenyataan yang berkaitan dengan keberadaan orang-orang terbawa badai itu, bagaikan sebuah rangkaian cerita yang sudah diatur.

Tidak lama setelah kedatangan orang-orang terbawa badai asal Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, dan Afghan, datang pula orang-orang terbawa badai asal Goa dan Malaka yang negerinya jatuh ke tangan Portugis. Tidak lama setelah itu, di sepanjang pantai utara Nusa Jawa terlihat iring-iringan jung besar dan kecil yang memuat penduduk muslim asal daratan Cina. Mereka adalah saudagar-saudagar Cina yang lari dari tanah kelahiran akibat amukan badai Kebinasaan yang berembus dari istana Kaisar Langit. Menurut kabar yang beredar, berita pengkhianatan saudagar-saudagar Cina Cochizha yang menawarkan bantuan kepada Portugis yang disusul jatuhnya Malaka, telah membuat Kaisar Langit sangat murka, terutama ketika para pangeran tua asal Malaka, keturunan Sultan Mansyur Syah dan Puteri Hang Li Po, menghadap dan membenarkan kabar pengkhianatan tersebut.

Kaisar Langit yang ingin melindungi kerajaannya dari pengkhianatan kemudian mengambil tindakan tegas: mengeluarkan titah pembakaran atas semua kapal milik saudagar di seluruh negeri. Seiring bergemanya titah tersebut, berembuslah angin berapi yang makin lama makin membesar menjadi badai Kebinasaan yang menghancurleburkan semua kapal milik saudagar Cina yang berserak di sepanjang pantai daratan Cina. Tanpa peduli apakah saudagar tersebut memiliki hubungan dengan saudagar Cochizha, pembinasaan terus dilakukan dengan sangat ganas dan tak kenal ampun. Kepulan asap dan kobaran api memenuhi garis pantai Cina yang memanjang dari selatan ke utara, laksana naga api mengamuk. Celakanya, bagian terbesar saudagar Cina yang berniaga di lautan adalah muslim seperti saudagar-saudagar Cina Cochizha.

Di tengah amukan badai berapi yang tak memilih-milih sasaran itu, ikut terbakarlah perahu-perahu kecil dan sebagian rumah para saudagar. Bingung, panik, takut, dan rasa putus asa menerka jiwa orang-orang tak bersalah yang berlarian di tengah gemerecik runtuhnya benda-benda yang hangus menghitam. Bayangan wajah Kematian tampak menyeringai ganas di cakrawala negeri Cina. Ke mana pun orang berpaling, hanya bayangan wajah Kematian yang terpampang mengerikan. Sekumpulan demi sekumpulan manusia tak bersalah itu meloloskan diri dari terkaman Kematian. Dengan jung-jung dan perahu-perahu kecil yang tersisa, mereka berduyun-duyun membawa keluarganya pergi meninggalkan tanah kelahiran, mengarungi lautan menuju negeri surgawi harapan di laut selatan. Sebagaimana orang-orang terbawa badai sebelumnya, para saudagar Cina yang terusir dari negerinya itu tinggal di pantai-pantai negeri Jawi.

Di tengah hiruk menjamurnya pemukiman baru orang-orang terbawa badai itu, menyeruakah seekor ular hitam bermahkota emas dari reruntuhan jiwa pewaris kesultanan Demak: Tranggana. Penguasa yang diamuk amarah akibat kehilangan kuasa dan wibawa itu tiba-tiba merasakan tubuhnya digetari semangat berkobar-kobar ketika menyaksikan tumbuhnya hunian-hunian baru pemukim asing di wilayahnya. Ular hitam bermahkota emas yang selama bertahun-tahun selalu menggulung dalam tidur beku, tiba-tiba mendongakkan kepala dan mendorong jiwanya untuk mendaki puncak kekuasaan yang telah melemparkannya ke jurang memalukan sebagai raja tanpa mahkota. “Bangkit dan pimpinlah bangsa-bangsa yang datang terbawa angin itu untuk merebut kekuasaanmu!” titah ular hitam bermahkota emas kepada Tranggana dengan suara mendesis-desis.

Tranggana, putera Sultan Demak, belum genap dua puluh lima usianya ketika menggantikan takhta ayahandanya. Ia dikenal orang sebagai pangeran yang sangat suka mengumbar nafsu, menikmati kesenangan-kesenangan syahwat. Ia seolah tidak pernah peduli dengan masalah pemerintahan sebagaimana kakaknya, Pangeran Sabrang Lor. Ia sangat bangga dikelilingi perempuan cantik yang menyanjung dan memujinya. Dalam usia lima belas tahun ia sudah memiliki tiga empat orang anak dari selir-selirnya. Lantaran hari-hari hidupnya penuh warna-warni kesenangan, tidak satu pun orang menduga ia bakal naik takhta menggantikan ayahandanya. Sehingga, saat ia naik takhta menjadi Yang Dipertuan Demak, orang mendecakkan mulut menahan napas.

Memang banyak yang terkejut dengan kenaikan mendadak Tranggana ke takhta kesultanan. Pada saat ayahandanya mangkant, orang hanya memilih harapan kepada putera sultan tertua, Pangeran Sabrang Lor. Namun, tidak ada yang menyangka, belum genap tiga tahun berkuasa, ketika akan dinobatkan menjadi pemimpin persekutuan adipati-adipati pesisir dengan gelar sultan oleh Majelis Wali Songo, tiba-tiba Pangeran Sabrang Lor sakit keras dan meninggal secara mendadak. Kebingungan pun terjadi di antara keluarga sultan sebab sepeninggalnya, putera Sultan Abdurrahman Surya Alam dari permaisuri Ratu Asyiqah yang memiliki hak atas takhta hanyalah Tranggana, karena saudaranya yang lain, Pangeran Kanduruwan yang menjadi manghuri (sekretaris negara) Ratu Sri Maskumambang di Japan, dan adiknya, Pangeran Panggung, yang tinggal di Randu Sanga, adalah putera-putera sultan dari selir. Dengan demikian, meski semua mengetahui jika Tranggana bukan pemimpin dan negarawan unggul seperti ayahandanya dan kakaknya, semua tidak memiliki pilihan lain untuk tidak memilihnya sebagai penguasa baru Demak.

Sekalipun keluarga dan kerabat sultan akhirnya sepakat menunjuk Tranggana sebagai Yang Dipertuan Demak, untuk jabatan sultan-pemimpin tertinggi persekutuan adipati-adipati pesisir utara Jawa-dibutuhkan kesepakatan para adipati yang tergabung dalam persekutuan tersebut untuk memilihnya. Tapi, kabar tentang kelakuan buruk Tranggana sudah didengar tiap telinga dan disaksikan setiap mata sehingga diam-diam para adipati pesisir tidak bersimpati kepadanya. Pada saat seperti itu adipati Tedunan, Rembang, Tetegal, Samarang, dan Siddhayu memanfaatkan keadaan untuk mempengaruhi adipati yang lain agar tidak memilih Tranggana sebagai pemimpin tertinggi persekutuan. Lalu, terjadi perubahan sejarah yang tidak terduga-duga. Dengan alasan mengikuti kaidah-kaidah khalifah yang sudah disepakati bersama, para adipati pesisir utara Jawa yang berkumpul di Masjid Agung Demak memilih Pangeran Hunus Adipati Japara, adik ipar Tranggana, sebagai pemimpin tertinggi mereka. Mereka memberi gelar penguasa pilihan mereka itu: Adipati Hunus Senapati Jimbun Sabrang.

Kesepakatan para adipati pesisir utara Jawa untuk memilih Pangeran Hunus sebagai pemimpin tertinggi mereka adalah sama maknanya dengan menunjuk adipati Japara itu sebagai pemegang kekuasaan pemerintahan (adipati) dan komando angkatan perang (senapati) yang menggantikan kedudukan mertuanya, Sultan Abdurrahman Surya Alam. Itu berarti, Pangeran Hunuslah satu-satunya penguasa yang memiliki kewenangan untuk mengerahkan kekuatan militer di seluruh kadipaten pesisir. Hal itu tidak bisa ditafsirkan lain, kecuali: kedudukan pemimpin tertinggi persekutuan adipati pesisir utara Jawa telah pindah dari Demak ke Japara. Bahkan, dengan naiknya Pangeran Hunus sebagai pengganti mertuanya, menunjuk bukti betapa persekutuan marga Orob yang berkuasa di Kadipaten Tedunan, Rembang, Tetegal, dan Siddhayu telah berhasil menggalang kekuatan besar di Nusa Jawa.

Tindakan para adipati memilih Pangeran Hunus adalah tamparan keras bagi Tranggana.ia menganggap tindakan itu merupakan usaha terang-terangan untuk meminggirkannya dari kekuasaan atas Jawa yang diwariskan ayahandanya. Tindakan para adipati itu bagi Tranggana adalah persengkongkolan jahat yang telah mengerdilkan kekuasaannya menjadi tidak lebih luas dari wilayah Kadipaten Demak. Itu adalah suatu penghinaan besar. Yang paling menyakitkan hati, Pangeran Panggung, saudara tirinya justru mendukung kepemimpinan Pangeran Hunus dengan alasan sesuai kaidah-kaidah khalifah, kekuasaan yang sah adalah yang sesuai dengan hasil pemilihan yang disepakati. Padahal kakak kandung Pangeran Panggung, yaitu Pangeran Kanduruwan, tegas-tegas menyatakan dukungan kepadanya.

Andaikata tidak disadarkan 0leh sahabatnya, Pangeran Zainal Abidin Susuhunan Dalem Timur, putera Prabu Satmata Susuhunan Giri Kedhaton, Tranggana yang sudah dibakar amarah akibat tersingkir dari takhta kesultanan itu akan mengambil jalan pintas: merebut kekuasaan dari tangan Pangeran Hunus dengan kekerasan. Ia akan menggempur adipati Samarang, Pangeran Mangkubhumi, putera Pangeran Pandanarang, saudara sepupu yang dianggapnya berkhianat. Ia juga akan menyingkirkan saudara tirinya, Pangeran Panggung, yang dianggapnya berkhianat pula. Jika hal itu terjadi, dipastikan ia akan terperosok ke jurang kehancuran karena Pangeran Hunus didukung oleh kerabat dan sahabat-sahabatnya yang menjadi adipati di Rembang, Tetegal, Japara, Tedunan, Siddhayu, Samarang. Sementara, Pangeran Panggung pun memiliki hubungan kuat dengan pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang karena ia adalah murid Syaikh Lemah Abang.

Akhirnya, berkat nasihat dari Susuhunan Dalem Timur, Tranggana mengurungkan niat, baik merebut kekuasaan dari Pangeran Hunus maupun keinginan menggempur adipati Samarang dan membunuh saudara tirinya, Pangeran Panggung. Ia sadar, kedudukannya sebagai pewaris takhta sedang berada pada rentangan masa yang sulit. Ia sadar, dirinya tidak saja telah ditinggalkan kuasa dan wibawa, tetapi keluarganya pun sudah terpecah-belah dalam kekuatan-kekuatan yang saling bertentangan. Dibanding adik iparnya, Pangeran Hunus, ia bukanlah apa-apa karena keberadaannya tidak lebih dari seekor singa tanpa gigi tanpa cakar yang duduk di depan gua.

Tranggana yang sudah dikuasai nafsu berkuasa itu ternyata tidak menyerah. Ia yang sudah dicekam harapan untuk berkuasa sebagai raja Jawa sebagaimana ayahandanya, diam-diam melakukan usaha-usaha yang sangat hati-hati untuk menyusun kekuatan demi mewujudkan harapannya. Ia menyadari, saat itu satu-satunya tiang penopang kekuasaannya yang bisa diandalkannya hanyalah Majelis Wali Songo, yang kebetulan dipimpin oleh sahabatnya, Pangeran Zainal Abidin Susuhunan Dalem Timur. Ia juga menyadari hanya Majelis Wali Songolah satu-satunya majelis yang memiliki kewenangan untuk melantik seorang adipati pemimpin persekutuan dengan gelar sutan, selain berwenang menganugerahi gelar keagamaan Sayidin Panatagama kepada sultan.

Sadar dirisnya terjepit di tengah rentangan waktu yang makin mendesak, Tranggana diam-diam menggeliat untuk tidak berdiam diri menunggu nasib. Ia sadar, di tengah keterjepitan kedudukannya itu ia harus berpacu dengan waktu untuk berlomba kecepatan menghambat jadwal pelantikan Pangeran Hunus sebagai sultan. Diam-diam ia berusaha keras agar Pangeran Hunus hanya dilantik oleh Majelis Wali Songo sebagai adipati dan senapati, sebagaimana hasil pemilihan adipati-adipati. Itu berarti, jabatan sayidin panatagama yang belum diperoleh Pangeran Hunus dari Majelis Wali Songo akan direbutnya. Tranggana berpikir, biarlah untuk sementara dia menjadi pemimpin keagamaan asalkan memiliki wilayah kekuasaan di pesisir Jawa. Untuk menggapai tujuan itu, ia harus mendapatkan simpati dari Majelis Wali Songo. Lalu, Tranggana pun mengumumkan rencana perluasan Masjid Agung Demak yang akan dijadikan masjid agung terbesar dan termegah di Nusa Jawa sekaligus menjadi salah satu tempat pertemuan Majelis Wali Songo paling terhormat.

Siasat Tranggana memperluas Masjid Agung Demak terbukti membawa hasil tak terduga-duga. Pertama-tama, pelantikan sultan hasil pilihan adipati-adipati yang akan dilakukan di Masjid Agung Demak menjadi tertunda sampai pengerjaan perluasan masjid selesai. Selama rentang waktu perluasan masjid, Tranggana memperkuat kedudukan dengan memanfaatkan semuda hal yang dapat dimanfaatkan. Secara diam-diam ia mengirim saudarinya, Nyi Mas Ratu Winong, ke Wirasabha untuk dinikahi oleh saudara sepupunya, Pangeran Arya Terung, putera Raden Kusen. Alih-alih menikahkan adik perempuannya, Tranggana menyuruh Pangeran Arya Terung untuk meminta hak atas Kadipaten Sengguruh yang dikuasai Raden Pramana, putera Patih Mahodara. Merasa nasihat Tranggana itu sangat baik, Pangeran Arya Terung membawa pasukan dari Wirasabha dan menggempur Kadipaten Sengguruh dari arah utara. Tanpa kesulitan berarti, Pangeran Arya Terung mengalahkan dan mengusir Raden Pramana, yang menjadi adipati di Sengguruh. Pangeran Arya Terung kemudian mengangkat diri menjadi adipati Sengguruh. Para pemuka penduduk di Kadipaten Sengguruh menerima baik kepemimpinan Arya Terung, sebab mereka menganggap Kadipaten Sengguruh adalah bagian dari kekuasaan Bhre Tumapel, kakek buyut Pangeran Arya Terung dari pihak ibu, sehingga putera Raden Kusen itu dianggap lebih berhak menjadi adipati di Sengguruh daripada Raden Pramana yang hanya keturunan seorang patih. Dengan berkuasanya Pangeran Arya Terung di Sengguruh, Tranggana telah memiliki satu kekuatan pendukung di pedalaman Nusa Jawa.

Ketika perluasan masjid Demak selesai dan peresmiannya dihadiri Majelis Wali Songo, terjadilah peristiwa langka yang sebelumnya belum pernah terjadi: Majelis Wali Songo tiba-tiba melantik dua orang penguasa dengan kekuasaan dan kewenangan dan gelar berbeda. Pertama-tama, Majelis Wali Songo melantik Tranggana sebagai sultan dengan gelar kebesaran Sultan Ahmad Abdul Arifin Ki Mas Palembang Sayidin Panatagama. Dengan gelar itu, Tranggana secara sah telah memiliki kekuasaan ruhani untuk mengatur kehidupan beragama penduduk di Nusa Jawa. Itu berarti, Tranggana telah memegang otoritas kekuasaan di bidang agama, yakni sayidin panatagama yang merupakan pelaksana kekuasaan Majelis Wali Songo selaku pemimpin ruhani umat (imam al-ummah).

Setelah melantik Tranggana, Majelis Wali Songo melantik Pangeran Hunus yang telah dipilih para adipati-adipati persekutuan adipati dengan gelar kebesaran Adipati Hunus Sinihun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang. Dengan dikukuhkannya gelar Adipati Hunus pada Pangeran Hunus dan gelar Ki Mas Palembang pada Tranggana, sesungguhnya Majelis Wali Songo secara simbolik tidak saja telah memilahkan secara tegas kekuasaan sultan dan adipati dengan wewenangnya masing-masing, tetapi yang tak kalah penting adalah memilahkan kedudukan garis nasab masing-masing, di mana nama Hunus sama makna dengan Orob menunjuk bahwa pemilik nama tersebut adalah bagian dari marga Orob, bangsawan asal Lawe, Barunadwipa, sedang nama Ki Mas Palembang menunjuk bahwa pemilik nama adalah keturunan sultan pertama Demak, Panembahan Palembang. Dengan kebijakan itu, api di dalam sekam yang selama itu membara di bawah permukaan Kesultanan Demak untuk sementara dapat dipadamkan, karena dua orang penguasa pengganti Sultan Abdurrahman Surya Alam sudah memiliki kedudukan dan kewenangan sendiri-sendiri, baik kedudukan dalam garis nasab maupun kedudukan di dalam mengatur kekuasaan masing-masing; sultan Demak berkedudukan di Demak dan Adipati Hunus berkedudukan di Japara.

16. Tiupan Badai Kematian

Sadar dirinya sudah memegang kekuasaan di Nusa Jawa, meski hanya kekuasaan agama, Tranggana merasakan semangatnya terbang ke angkasa bersama ular hitam bermahkota emas yang bersemayam di relung jiwanya. Dari atas ketinggian hasratnya yang melayang-layang laksana burung alap-alap itu, ia menyapukan pandangan ke setiap sudut Kehidupan di wilayah kekuasaannya. Saat itulah ia menyaksikan secercah cahaya harapan yang membentang di garis cakrawala, yang menurut perhitungannya dapat digunakan untuk membangun kekuatan baru yang akan memperkokoh kuasa dan wibawanya sebagai sayidin panatagama di Nusa Jawa. Secercah harapan yang disaksikannya itu adalah keberadaan orang-orang terbawa badai, yaitu orang-orang yang terusir dari negeri kelahiran akibat perang dan mereka hidup tanpa harapan di rantau. Orang-orang terbawa badai itu pasti akan memasrahkan kesetiaan mutlak kepadanya jika ia bisa memberikan makna bagi kehidupan mereka. Sebab, mereka dipastikan akan setia mutlak kepada siapa saja yang bisa memberi makna dan harapan, sebagaimana kesetiaan Karna kepada Duryudana, raja Hastina, yang mengangkatnya sebagai raja Angga. Ya, kesetiaan mutlak Karna, anak kusir tanpa derajat dan tanpa pangkat yang tak punya harapan, yang baru beroleh makna hidup dan kehormatan setelah Duryudana mengangkatnya menjadi raja.

Salah satu langkah nyata Tranggana untuk membangun kekuatan yang mengukuhnak kuasa dan wibawanya adalah ia tidak segan mengawinkan sauradi-saudari, kemenakan, dan putera-puterinya dengan putera-puteri adipati-adipati, guru-guru suci, kepala-kepala marga, pemuka-pemuka penduduk berpengaruh. Setelah menikahkan adiknya yang bernama Nyi Mas Ratu Winong dengan Pangeran Arya Terung, Tranggana menikahkan lagi dua orang adiknya yang lain, Nyi Mas Ratu Pembayun dan Nyi Mas Ratu Nyawa, dengan dua orang putera Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati dari istri Syarifah Bahgdad, yaitu Pangeran Jayakelana dan Pangeran Bratakelana. Syarif Hidayatullah yang merupakan anggota Majelis Wali Songo, sekaligus menantu yang mewakili Ratu Caruban Sri Mangana, menyatakan dukungan kepadanya. Itu berarti,Tranggana memiliki tiga kekuatan pendukung, yaitu Kerajaan Caruban Larang, Kerajaan Pasir, dan Kadipaten Sengguruh. Ia juga nikahkan seorang puterinya yang baru berusia sepuluh tahun, Nyi Mas Ratu Aria Japara, dengan seorang nakhoda asal negeri Cina bernama Thio Bin Tang. Dengan mengambil menantu seorang nakhoda Cina berpengaruh maka penduduk Cina pelarian di Nusa Jawa akan menjadi pendukungnya. Ia yakin, lewat menantunya itu, para pemukim Cina yang terhempas badai bakal menjadi abdi-abdinya yang setia.

Selain melalui pernikahan, Tranggana menempuh langkah lain untuk memperkuat pengaruh, yaitu mengangkat sejumlah guru tarekat yang memiliki banyak pengikut sebagai penasihat-penasihat utama di kesultanan. Mereka itu adalah Susuhunan Rajeg, Syaikh Maulana Maghribi, Susuhunan Mantingan, Syaikh Dara Putih, Susuhunan Udung, Syaikh Khwaja Zainal Akbar Badakhsi, Syaikh Najmuddin Bakharsi, dan Syaikh Abdullah Sambar Khan. Mereka dianugerahi tanah perdikan yang luas untuk mengembangkan ajarannya. Murid-murid terbaik para guru tarekat diangkat menjadi nayaka kesultanan yang akan bekerjasama dengan rekan-rekannya mengatur tata kehidupan beragama penduduk Nusa Jawa. Mereka diangkat sebagai kali (qadhi), ketib (khatib), penghulu, merbot, dan imamuddin yang merupakan pejabat keagamaan di tingkat pusat sampai desa. Lalu, dengan alasan demi tersebarluasnya dakwah Islam dan tertatanya Kehidupan beragama di Nusa Jawa, ia mengirim nayaka-nayaka keagamaannya ke kadipaten-kadipaten di luar Demak untuk menjalankan tugas membantu para adipati menata Kehidupan beragama di wilayah kekuasaan masing-masing. Melalui nayaka-nayaka keagamaannya itu ia dapat memantau dan mengawasi semua gerak-gerik para adipati di pesisir.

Sementara, untuk memperoleh dukungan lebih kuat dari orang-orang terbawa badai, Tranggana menganugerahkan tanah-tanah perdikan kepada alim ulama di antara mereka, terutama para alim yang memiliki banyak pengikut di antara penduduk setempat. Mereka diberi kewenangan untuk menyebarkan ajaran Islam kepada penduduk di Nusa Jawa. Kepada mereka, Tranggana menganugerahi gelar-gelar kebangsawanan seperti Kyayi Ageng, Kyayi Anom, Kyayi, dan Raden. Tranggana berpikir, dengan gelar-gelar kebangsawanan itu mereka akan menjadi abdi-abdi setianya. Sebab, ia telah mengangkat derajat mereka dari kedudukan wong kabur kanginan menjadi bangsawan yang dihormati.

Anugerah tanah perdikan dan gelar kebangsawanan dari Tranggana disambut gembira oleh para alim di antara orang-orang terbawa badai itu. Namun demikian, karena yang tinggal lebih dahulu di Demak adalah alim ulama asal Campa dan Kerala yang sudah memiliki pengaruh cukup kuat di kalangan penduduk bumi putera, maka merekalah yang paling beruntung dengan kebijakan tersebut. Di antara mereka yang beruntung itu adalah alim ulama yang kelak dikenal penduduk dengan nama terhormat: Kyayi Ageng Kali Podang, Kyayi Ageng Kaliputu, Kyayi Ageng Germi, Kyayi Ageng Medini, Kyayi Ageng Panawangan, Kyayi Ageng Hujung Semi, Kyayi Ageng Tajug, Kyayi Telingsing, Kyayi Sun Ging, Kyayi Anom Martani, Raden Ketib Anom Maranggi, dan Raden Pengulu Terkesi.

Ketika dukungan terhadap kedudukan Tranggana sebagai sayidin panatagama semakin kuat, terjadi langkah lanjutan untuk memperkuat kedudukan para pendukung tersebut. Tanpa ada yang menduga, tiba-tiba Tranggana membuat kebijakan aneh: memberi kebebasan kepada para guru tarekat dan para alim yang memiliki pengikut untuk membentuk satuan-satuan bersenjata yang anggotanya berasal dari pengikut-pengikut mereka. Lebih aneh lagi, Tranggana memberikan tugas khusus kepada pasukan Suranata, satuan pengawalnya yang bersenjata tombak, untuk melatih satuan-satuan bersenjata bentukan para guru tarekat dan para alim tersebut. Para petani, perajin, tukang, pedagang kecil, penyadap enau, dan nelayan berbondong-bondong ke kediaman para alim panutannya untuk bergabung ke dalam satuan-satuan bersenjata tombak yang memiliki tugas utama melindungi guru suci dan alim ulama panutan mereka. Dalam waktu singkat, di tlatah Demak bermunculan satuan-satuan bersenjata tombak di pesantren-pesantren, padepokan-padepokan, dan masjid-masjid. Satuan-satuan itu secara khusus dilatih dan dikoordinasi oleh pasukan Suranata, pengawal sultan.

Di tengah gemuruh bangkitnya satuan-satuan bersenjata itu, Tranggana menancapkan bayangan kekuasaannya di pedalaman Nusa Jawa dengan mengangkat Raja Pasir Prabu Banyak Belanak sebagai panglima Demak di pedalaman dengan gelar Senapati Mangkubhumi dan menghadiahinya seorang selir asal Kadipaten Pati. Selir itu adalah puteri almarhum Adipati Pati Kayu Bralit yang bersama saudara lelakinya, Raden Darmakusuma, melarikan diri dan meminta perlindungan ke Demak. Raja Pasir ditugaskan menjalankan dakwah Islam di pedalaman, sekaligus menggalang kekuatan dengan adipati-adipati di pedalaman yang belum tergabung dalam persekutuan adipati pesisir. Lalu, sebagaimana di Demak, di Pasir pun dibentuk satuan-satuan bersenjata tombak yang dipimpin alim ulama yang dikirim dari Demak.

Sementara, untuk memperkuat kedudukan di luar pesisir utara Jawa, Tranggana berusaha menancapkan kuasa dan wibawanya di ujung timur Madura di Kadipaten Sumenep. Menurut kabar, dengan alasan yang tidak masuk akal dan terkesan dibuat-buat, Pangeran Kanduruwan, adik tiri Tranggana, tiba-tiba mengaku menjalankan titah Ratu Stri Maskumambang, Yang Dipertuan Japan yang sudah tua, untuk menggempur Kadipaten Sumenep dengan didukung pasukan dari Wirasabha dan Japan. Pangeran Kanduruwan datang ke Sumenep untuk menghukum adipati Sumenep yang telah dianggap menolak keinginan nafsu syahwat Ratu Japan yang sudah tua itu.

Saat itu yang menjadi adipati Sumenep adalah Aria Wanabaya, putera Patih Sumenep, Aria Banyak Modang. Aria Wanabaya yang anak patih itu dapat menjadi adipati karena menikahi puteri Adipati Sumenep Aria Wigananda. Karena Aria Wigananda tidak memiliki putera maka saat ia meninggal kedudukannya digantikan sang menantu, Aria Wanabaya. Lalu, untuk memperkuat kekuasaannya, Aria Wanabaya mengangkat saudara kandungnya menjadi patih Sumenep dengan gelar: Tumenggung Tan Kondur. Kemudian untuk mensahkan kekuasaannya, Aria Wanabaya meminta perkenan Ratu Stri Maskumambang di Japan yang dianggap penerus Majapahit. Namun, tindakan Aria Wanabaya itu malah memunculkan masalah dengan Pangeran Kanduruwan, yang merasa lebih berhak atas Kadipaten Sumenep dibanding Aria Wanabaya, karena kakek buyutnya dari pihak ibu adalah raja Sumenep, Kuda Panolih. Adik tiri Tranggana itu menganggap Aria Wanabaya tidak lebih berhak menjadi adipati Sumenep dibanding dirinya yang keturunan Kuda Panolih.

Menurut gari nasab, Raden Ali Fida’ yang termasyhur disebut Susuhunan Padusan, putera Raden Ali Murtadho Raja Pandhita Gresik, kakek Pangeran Kanduruwan dari pihak ibu, adalah menantu Kuda Panolih. Raden Ali Fida’ menikahi puteri tertua Kuda Panolih, kakak kandung Aria Wigananda. Dari pernikahan itu lahir Nyi Malaka, ibunda Pangeran Kanduruwan, yang setelah dinikahi Raden Patah Adipati Bintara tinggal di Randu Sanga. Nyi Malaka adalah kemenakan Aria Wiraganda. Dengan demikian, ketika Aria Wiraganda meninggal tanpa meninggalkan keturunan laki-laki maka Pangeran Kanduruwan merasa lebih berhak atas takhta Sumenep dari pada anak patih. Namun, untuk mempersingkat jalan menuju Kadipaten Sumenep, Pangeran Kanduruwan menggunakan nama besar Ratu Japan yang masih dipatuhi di pedalaman Jawa dan Madura. Demikianlah, Pangeran Kanduruwan menggempur Aria Wanabaya. Adipati Sumenep itu terbunuh di purinya (kelak dikenal penduduk dengan nama Pangeran Sedeng Puri). Segera setelah Pangeran Kanduruwan menjadi adipati di Sumenep, ia menyatakan dukungan kepada kekuasaan Sultan Demak.

Setelah menangkap sasmita bahwa kilasan penglihatan batinnya atas citra Sang Maut yang memanjangkan bayang-bayang-Nya di langit Demak bakal mewujud dalam kenyataan, Abdul Jalil buru-buru menyingkir dari bumi sengketa yang sudah mulai basah oleh siraman minyak yang ditumpahkan Tranggana. Ia ingin menjauh dari tempat yang akan terbakar oleh amukan api ambisi sultan baru itu. Ia tidak ingin menyaksikan citra bayangan Sang Maut menebar Kebinasaan di depan matanya, tanpa sedikit pun ia boleh melakukan sesuatu. Ia tidak ingin menyaksikan manusia-manusia tak bersalah melolong-lolong ketakutan, berlari kebingungan menghindari kejaran makhluk-makhluk ganas berdarah dingin yang membiaskan bayangan wajah Sang Maut. Ia tidak ingian menyaksikan beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu bangsa jin sambil tertawa-tawa menyantap manusia-manusia tak berdaya. Ia tidak ingin menyaksikan tangan-tangan yang menggapai-gapai ke arahnya meminta tolong tanpa sedikit pun ia mampu memberikan pertolongan. Namun, semua keinginannya untuk menghindar dari apa yang sudah dikemukakan Ahmad at-Tawallud itu ternyata hancur. Saat itu tanpa sengaja ia menyasikan kilasan penglihatan batin yang lain lagi.

Wajah Sang Maut terpampang mengerikan di balik awarn kelabu yang bergumpal-gumpal dengan seringai wajah mengerikan. Citra wajah Sang Maut tampak menaungi bayangan kelam-Nya yang berkeliaran dalam wujud makhluk-makhluk bertubuh api yang melayang-layang dan turun ke permukaan bumi merasuki jiwa manusia. Lalu, mausia-manusia yang jiwanya sudah kerasukan makhluk-makhluk bertubuh api itu tiba-tiba menjadi garang. Mereka menyemburkan bara api dari mulutnya. Seiring gerakan manusia-manusia kerasukan itu, terlihatlah gumpalan asap hitam menyelimuti permukaan bumi yang dikobari nyala api yang membakar hangus jiwa manusia-manusia tak berdaya.

Usai menyaksikan kilasan penglihatan batin yang mencengangkan itu, Abdul Jalil memutuskan untuk menunda kepergiannya meninggalkan kuta Demak. Namun, belum lagi ia beranjak jauh, ia sudah didatangi orang-orang suruhan Gagak Cemani, yang menyampaikan pesan bahwa saat itu terjadi peristiwa-peristiwa janggal di Kadipaten Demak.

Di Kadipaten Demak, dalam beberapa hari belakangan muncul kasak-kusuk yang membicarakan kebiasaan-kebiasaan penduduk sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang yang dianggap tidak lazim, yaitu memperbincangkan masalah agama. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja berkembang anggapan bahwa kebiasaan itu merupakan sesuatu yang sangat tidak pantas. Melanggar tabu. Melanggar hukum. Padahal, sejak masa Sultan Abdurrahman Suryan Alam, kebiasaan penduduk membincang masalah agama tidak diganggu-gugat, malah dianjurkan demi cepatnya perkembangan agama Islam, sehingga bukan hal aneh ketika orang melihat penduduk membincang masalah agama di surau, tajug, bale banjar, bahkan di dangau di tengah sawah. Di antara penduduk yang paling giat membincang masalah agama adalah mereka yang tinggal di desa-desa yang terpengaruh ajaran Syaikh Lemah Abang.

Namun, kebiasaan yang sudah menguat itu tiba-tiba dianggap sebagai sesutau yang melanggar tabu dan hukum. Belakangan, sultan yang baru, Tranggana mengubah kebijakan ayahandanya itu. Tranggana kelihatannya sangat dipengaruhi alim ulama Mappila asal Kerala yang menekankan taklid buta kepada pengikutnya sehingga menganggap kebiasaan warga yang biasa membincang masalah-masalah agama sebagai sesuatu yang berbahaya. Tampaknya, para alim Mappila yang didewakan pengikutnya sebagai wali Allah itu merasa terancam dengan daya kritis warga. Selain itu, Tranggana sendiri kelihatannya tidak suka dengan sikap kesederajatan yang ditunjukkan oleh warga pengikut Syaikh Lemah Abang di Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang. Sejak terpuruk menjadi sultan yang hanya mengurusi masalah agama, ia mendapat banyak laporan tentang perilaku penduduk di sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang yang tidak sekadar membincang agama, tetapi juga masalah pemilihan sultan dan adipati-adipati. Seluruh penduduk yang tinggal di sekitar Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang, menurut laporan, mendukung kepemimpinan Adipati Hunus yang naik takhta karena dipilih. Semua laporan itu makin mengkhawatirkan Tranggana sebab dapat menjadi anasir penentang kekuasaannya kelak. Rupanya, pengaruh ajaran Syaikh Lemah Abang telah meracuni penduduk, termasuk saudaraku, kata Tranggana dalam hati.

Kemarahan Tranggana makin memuncak ketika alim ulama Mappila yang sejak tingga di negeri asalnya suka menjilat kepada penguasa, memanas-manasinya dengan perilaku penduduk yang sudah teracuni oleh ajaran Syaikh Lemah Abang. Mereka yang merasa terancam oleh daya kritis penduduk Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang itu, dengan alasan demi kepentingan kekuasaan dan dukungan dari alim ulama, memohon agar Tranggana membuat keputusan untuk melarang ajaran Syaikh Lemah Abang. Namun, Tranggana yang memahami masalah pemerintahan tidak mengabulkan permohonan alim ulama Mappila tersebut, dengan alasan waktu yang belum tepat dan jaringan persaudaraan para pengikut Syaikh Lemah Abang yang sangat luas dan kuat. Tranggana berjanji jika telah sampai waktu yang tepat, pastilah Randu Sanga dan dukuh Lemah Abang akan ditundukkan baik dengan siasat pendekatan kekeluargaan maupun dengan kekerasan.

Ternyata, bukan hanya Tranggana yang dipengaruhi alim ulama Mappila. Adipati Hunus pun dipengaruhi pula oleh mereka yang diam-diam sudah menanamkan pengaruh kuat di kalangan penduduk pesisir lewat tradisi-tradisi yang sarat kurafat dan takhayul. Mereka berusaha membakar semangat jihad Adipati Hunus dengan dalil-dalil agama dan dongeng-dongeng takhayul Kerala, dengan tujuan agar sang pemegang kekuasaan atas angkatan perang Jawa itu mengambil tindakan tegas menggempur bangsa “kafir” Portugis. Adipati Hunus sendiri yang sebenarnya sudah mempersiapkan sebuah serangan ke Malaka, karena saudagar-saudagar Japara yang berniaga di bandar tersebut barang empat tahun lalu telah dihina oleh Sultan Malaka, seperti api disiram minyak saja menyikapi hasutan alim ulama Mappila itu. Tanpa berpikir panjang, ia berjanji secepatnya akan menggempur Portugis di Malaka dan kalau berhasil akan dilanjutkan menggempur Cochiza dan Kozhikode.

Sesungguhnya, tak berbeda dengan Tranggana, Adipati Hunus diam-diam memperkuat kedudukannya sebagai raja Jawa untuk mengimbangi langkah-langkah Tranggana dalam memperkuat kekuasaan. Beberapa saat ketika ia mendengar Tranggana menikahkan saudari-saudari iparnya dengan putera-putera Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati, buru-buru ia meminang puteri Syarif Hidayatullah yang lain dari pernikahan dengan Nyi Tepasari, ia berpikir, selain menjadi menantu seorang guru suci yang masyhur di Caruban, ia juga menjadi cucu menantu Menak Lampor Adipati Tepasana, sehingga kekuatan adipati-adipati di wilayah Blambangan yang umumya masih kafir akan berpihak kepadanya. Meski Yang Dipertuan Caruban Sri Mangana menyatakan dukungan kepada Tranggana, dengan menikahi puteri Syarif Hidayatullah yang juga menantu Sri Mangana, kedudukan Caruban akan berada di tengah-tengah jika sewaktu-waktu ia terlibat perselisihan bersenjata dengan Tranggana.

Ketika di Kadipaten Pati terjadi kemelut perebutan kekuasaan antara putera mahkota Raden Darmakusuma dan saudaranya Raden Jatikusuma, Adipati Hunus berpihak kepada Raden Jatikusuma yang tidak lain dan tidak bukan adalah sahabatnya. Ia mengangkat Raden Jatikusuma sebagai adipati Pati, dengan nama Kayu Bralit II, mengikuti nama ayahandanya. Ia tidak sekadar mengangkat sahabatnya itu sebagai pejabat adipati, tetapi memperkuatnya pula dengan pasukan dari Japara. Raden Darmakusuma yang tersingkir lari ke Wirasari bersama keluarganya dan meminta perlindungan kepada sultan Demak. Adik perempuan Raden Darmakusuma inilah yang dihadiahkan Tranggana sebagai selir Raja Pasir Prabu Banyak Belanak.

Sementara, melalui Raden Muhammad Yusuf Adipati Siddhayu, yang merupakan kerabatnya dari pihak ayah, Adipati Hunus menyampaikan pinangan kepada puteri Sultan Malaka. Sultan yang saat itu mengungsi di Bentam menerima baik pinangannya. Sultan Malaka sangat berharap Yang Dipertuan Japara dapat mengambil tindakan tegas terhadap Portugis di Malaka. Demikianlah, dengan bergabungnya semua kekuatan yang bakal mendukungnya – persekutuan adipati ditambah Tepasana, Pati, Malaka, dan Lawe – Adipati Hunus merasa kebesaran Majapahit di masa lampau akan dapat ditegakkan kembali sehingga ia akan menjadi raja agung yang paling besar di zamannya.

Besarnya kekuasaan yang diterima Adipati Hunus yang masih sangat muda usia itu ternyata telah mendorong sikap gegabah dan cepat bangga dirinya. Dukungan dari kerabat dan sahabat-sahabat membuatnya besar kepala. Hari-hari dari kesibukannya memperkuat armada tempur nyaris tak pernah sepi dari puja dan puji tentang kehebatan pasukannya yang paling perkasa di dunia. Ia bangga dengan kapalnya yang dilengkapi meriam-meriam besar yang diikat di geladak kapal, tanpa peduli dengan laporan-laporan tentang bentuk kapal-kapal Portugis yang selalu unggul dalam pertempuran laut. Hari-hari dilewatinya dengan semangat bertempur yang menyala-nyala. Semangat tempurnya makin menyala dan berkobar-kobar ketika seorang Portugis muslim bernama Khwaja Zainal Abidin, yang sangat ahli dalam membuat dan mengoperasikan meriam, yang bekerja di galangan kapal Demak, diperbantukan Tranggana kepadanya untuk membantu perbaikan mutu pengecoran meriam di Japara. Meski awalnya ia curiga dan khawatir dengan orang kiriman Tranggana itu, pada akhirnya ia malah sangat mempercayainya. Bahkan, Khwaja Zainal Abidin yang memiliki nama asli Francisco Barbosa diangkat sebagai penasihat utamanya. Atas nasihat Khwaja, ia memerintahkan kapal-kapal perang Japara yang akan menggempur Malaka dilapisi bahan besi.

Di tengah kesibukan Pangeran Hunus mempersiapkan kekuatan untuk menggempur Malaka dan maraknya kasak-kusuk yang memasalahkan kebiasaan penduduk membincang agama, Tranggana tanpa alasan jelas mendadak memerintahkan para nayaka keagamaannya untuk menertibkan penduduk di kuta Demak yang mengajar agama maupun yang memperbincangkan masalah-masalah agama tanpa wewenang. Lalu, penangkapan-penangkapan pun dilakukan terhadap penduduk yang dianggap bersalah karena mengajarkan agama tanpa izin dari nayaka keagamaan yang ditunjuk sultan. Penangkapan juga dilakukan terhadap penduduk yang kedapatan memperbincangkan masalah agama tanpa melibatkan alim ulama yang ditunjuk sultan. Mereka yang ditangkap itu ada yang dikurung, dicambuk, diusir dari kampung, bahkan beberapa orang di antaranya tak pernah kembali ke desanya.

Ketika armada gabungan Japara, Demak, Pati, Tuban, Samarang, Siddhayu, Rembang, Tetegal, Kendal, dan Tedunan bergerak dan beriringan dari pelabuhan Japara ke barat dengan tujuan utama Malaka, di tengah hingar-bingar penduduk yang mengelu-elukan kegagahan dan kehebatan para pahlawan yang akan menghancurkan kaum kafir, Abdul Jalil yang terpusar aliran manusia di sepanjang pantai tiba-tiba menyaksikan lagi citra bayangan wajah Sang Maut menaungi langit Demak. Ia menangkap sasmita, bayangan wajah Sang Maut yang mengintai di balik gumpalan awan itu tidak lama lagi akan turun ke permukaan bumi, laksana kilatan halilintar yang menyambar-nyambar dalam wujud badai Kematian yang mengerikan.

Penglihatan batin yang berulang-ulang ditangkap Abdul Jalil, ternyata mewujud dalam kenyataan dua tiga hari setelah keberangkatan armada gabungan tersebut. Ketika semua ksatria, pahlawan, pendekar, dan prajurit yang berada di atas kapal-kapal itu sedang dibakar semangat tempur untuk menghalau orang-orang Peranggi (Portugis) dari Malaka, di tengah warga yang masih membincang keperkasaan kapal-kapal raksasa yang dilapisi besi dan dilengkapi meriam-meriam besar, di saat semua orang memuji keagungan dan kebesaran Adipati Hunus Sinuhun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang, penduduk kuta Demak justru melihat iring-iringan barisan orang berjubah putih mengibarkan panji-panji putih dan bersenjata tombak bergerak keluar dari kuta Demak. Lalu, seperti kawanan hewan buas haus darah yang kelaparan, iring-iringan demi iring-iringan barisan putih itu menyebar dan berkeliaran menuju desa-desa di tlatah Demak, terutama desa-desa yang terletak tidak jauh dari Randu Sanga, kediaman Pangeran Panggung.

Ketika sampai di ujung desa-desa yang dituju, alim ulama yang memimpin iring-iringan pasukan bertombak itu menghentikan langkah tepat di jalan utama desa. Kemudian, dengan suara lantang mereka berteriak keras menyitir ayat-ayat al-Qur’an, “Sesungguhnya, agama yang diridhoi di sisi Allah adalah Islam (QS. Ali Imran: 19). Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidak akan diterima daripadanya (QS. Ali Imran: 85). Sebab itu, orang-orang yang mengaku beragama Islam tetapi masih mencari-cari tafsiran lain sehingga menjadikan Islam bukan Islam, akan sia-sialah usahanya itu. Orang muslim semacam itu sesungguhnya telah murtad karena membuat agama baru. Dan, tidak ada hukuman paling tepat dari orang-orang yang murtad kecuali Kematian.”

Seiring berakhirnya suara sang alim, terdengar suara gemuruh orang-orang meneriakkan takbir, mengagungkan kebesaran Allah, sambil mengacung-acungkan tombak. Disertai pekikan perang sahut-menyahut, iring-iringan barisan seba putih itu bergerak cepat dahulu-mendahului memasuki desa. Suara derap langkah dan pekikan yang membelah ketenangan mengejutkan penduduk. Semua mata diarahkan pada suara gemuruh. Semua mata pun membelalak ketika menyaksikan peristiwa tak tersangka-sangka yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan: tombak-tombak menghambur, mata-mata terbelalak, pedang-pedang berkelebat, mulut-mulut terngaga, tangan-tangan menggapai ke atas, leher-leher tersembelih, darah semburat ke mana-mana, dada-dada berlubang, kepala-kepala bergelindingan, serta tubuh-tubuh bertumbangan di atas bumi di tengah jerit Kematian dan lolongan ketakutan. Para alim dengan satuan-satuan bersenjata tombak, abdi setia Sultan Tranggana, sedang menjalankan tugas suci melakukan penertiban terhadap penduduk yang telah menyelewengkan agama, menghina alim ulama, membangun agama baru, murtad dari agama. Demikian kabar yang tersebar dari mulut ke mulut yang seketika menyulut rasa takut setiap orang.

Rupanya, setelah merasa waktu yang ditunggunya tiba, Tranggana, dengan tindakan yang sangat tidak terduga, menjulurkan tangan kekuasaannya untuk memperkukuh kuasa dan wibawanya sebagai sayidin panatagama. Para pemuka agama yang mengajar agama tanpa izin dan penduduk yang suka membincang masalah agama tanpa melibatkan alim ulama didatangi oleh satuan-satuan bersenjata tombak yang dipimpin alim ulama utusan sultan. Mula-mula para alim itu berusaha menggiring mereka untuk mengiblatkan kesetiaan hanya kepada sultan Demak. Para pemuka agama yang menerima akan diberikan izin mengajar dan diangkat menjadi abdi setia sultan dan beroleh hadiah-hadiah. Sementara, mereka yang menolak atau mereka yang dinilai masih menduakan kesetiaan kepada selain sultan dikenai tuduhan-tuduhan berat, seperti mengajarkan agama tanpa izin, menyelewengkan agama, mengikuti paham sesat, memberikan pelajaran agama yang berbahaya kepada umat, berseberangan dengan paham dan madzhab resmi yang dianut sultan, bahkan murtad. Para pemuka agama yang tidak menduga bakal diserang oleh orang-orang bersenjata itu tidak memiliki pilihan lain kecuali pasrah dan menerima kematian. Bagi yang sempat menyelamatkan diri, mereka menyelinap pergi meninggalkan rumah dan keluarga.

Di tengah tiupan badai Kebinasaan yang diembuskan Tranggana yang menyambar-nyambar ganas itu, Abdul Jalil berdiri tegak bagai tugu batu dengan rasa malu menguasai seluruh jiwanya. Ia benar-benar malu menyaksikan kekejaman dan kebrutalan kaki tangan Tranggana yang mengatasnamakan agama untuk melampiaskan desakan nafsu rendah kekuasaan duniawi. Ia malu dengan orang-orang yang menyandang gelar alim ulama dan bahkan guru suci, tetapi tugas utamanya merangkak di depan penguasa duniawi dan menjalankan semua tugas yang dititahkan sang penguasa kepada mereka. Ia sungguh merasakan bagaimana rasa malu itu menjalar di jiwanya dan perlahan-lahan naik dari telapak kaki menerobos ke ubun-ubun. Ia malu sungguh malu ketika menyaksikan tubuh-tubuh manusia tak bernyawa bertumbangan ke atas tanah di tengah tawa kegirangan orang-orang yang mengaku prajurit-prajurit Allah (jundullah), pengawal agama. Saat itu ia benar-benar ingin memalingkan muka dan menjauhi pemandangan terkutuk itu. Namun, ia segera sadar bahwa apa yang disaksikannya itu adalah bagian dari perjalanan dirinya menjadi “yang sendiri”, sehingga ia tidak dapat berbuat sesuatu kecuali membiarkannya begitu saja sebagai sesuatu yang sudah dikehendaki-Nya. Bahkan ia hanya memejamkan mata dan menahan napas ketika mendapat kabar bahwa Pangeran Panggung, saudara sultan yang juga muridnya, dinyatakan buron dan desa Randu Sanga diratakan dengan tanah, seluruh penghuninya diusir keluar dari wilayah Kadipaten Demak.

Abdul Jalil sadar, derajat ruhani “yang sendiri” yang sudah diperolehnya dengan perlambang nawalah dari Misykat al-Marhum, pada hakikatnya bukanlah suatu kedudukan yang utuh dan sempurna sebagai penanda kedudukannya. Citra al-fard yang disandangnya bukan sesuatu yang “sudah jadi” sebagaimana pangkat dan jabatan yang diperoleh seorang punggawa dari rajanyae ia bukan buah yang sudah matang dan tinggal dipetik di pohonnya. Ia bukan pula seperti pengantin yang menggambarkan persatuan dua orang mempelai di pelaminan. Ia bahkan bukan suatu kedudukan (maqam), keadaan (hal), tingkatan (makanah), atau derajat (martabat) yang bisa disebut “sudah mapan” secara utuh dan sempurna. Sebaliknya, kedudukan ruhani “yang sendiri” yang disandangnya hendaknya dipahami sebagai suatu proses “untuk menjadi”. Itu berarti, ia yang sudah ditempatkan pada kedudukan ruhani “yang sendiri” dengan pertanda nawalah bukanlah seseorang yang sudah menjadi “yang sendiri” dalam makna utuh, melainkan ia adalah seseorang yang sedang berada pada kedudukan “akan menjadi” atau “untuk menjadi” atau “bakal menjadi” seseorang yang menduduki derajat ruhani “yang sendiri”.

Abdul Jalil sadar, menjadi “yang sendiri” tidak berarti harus hidup mengucilkan diri meninggalkan Kehidupan duniawi dengan menjadi pertapa yang mengasingkan diri di gua-gua atau hutan-hutan. Sebaliknya, menjadi “yang sendiri” harus dimaknai sebagai proses pelepasan dari segala sesuatu yang melekat, terikat, terhubung, terjalin, atau memiliki kaitan dengan keberadaan “aku” yang sedang mengalami proses menjadi “yang sendiri”. Lantaran itu, ia merasa dituntut oleh suatu keharusan untuk menyiapkan diri menjadi “aku” yang “tunggal”, “aku” yang “terkucil”, “aku” yang tidak memiliki keterkaitan apa pun dengan segala citra kemanusiaan. Ia sadar sesadar-sadarnya bahwa keakuannya sedang mengalami “proses menjadi” sesuatu yang benar-benar tunggal, sebatang kara, mufrad, tiada duanya, esa yang unik; sebuah ketunggalan yang mencerminkan citra Keberadaan Yang Tunggal Tak Terbandingkan (al-Fard).

Sadar bahwa sebagai seseorang yang sedang mengalami proses menjadi “yang sendiri” akan melampaui proses pelepasan-pelepasan segala citra diri yang masih menempel pada dirinya, Abdul Jalil pun dalam menjalani proses tersebut membiarkan semuanya terjadi sesuai kehendak-Nya. Ia membiarkan keakuannya ditinggalkan, dilepaskan, dijauhkan, dibersihkan, dan disucikan dari segala sesuatu yang bersifat “tempelan” sementara, seperti nama besar, kedudukan dan derajat ruhani, karya, jasa, amaliah, dan segala sesuatu yang menyangkut citra diri kemanusiaan kecuali Yang Tunggal Tak Terbandingkan. Ia sadar, rentang waktu yang harus ia lampaui untuk menjadi “yang sendiri” adalah rentang waktu yang sangat panjang dan tidak diketahui kapan berak hirnya. Ia sadar, selama itu pula ia akan merasakan waktu berjalan sangat lambat dengan kehilangan demi kehilangan citra dirinya, sampai semua yang “menempel” pada keakuannya habis tak tersisa.

17. Wejangan Terakhir

Di tengah gemuruh suara Sang Maut mengisap napas-Nya di permukaan bumi Demak, bertiup angin dari barat yang membawa kabar sangat mengejutkan: gabungan armada Jawa yanga menyerang Malaka mengalami kekalahan telak. Dari 90 kapal yang berangkat, hanya sepuluh kapal perang jenis jung yang berlapis besi dan sepuluh kapal perbekalan yang kembali. Beribu-ribu prajurit asal Samarang, Tetegal, Tedunan, Rembang, Tuban, Siddhayu, Demak, Japara, Kendal, dan Pati tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi ke dasar laut.

Ketika semua dada terasa sesak dan semua mata meneteskan air mata kepedihan akibat peristiwa memalukan itu, terjadi peristiwa yang membuat semua mata terpejam dan semua hati tergetar. Satuan-satuan bersenjata yang dipimpin alim ulama Demak, yang dengan ganas telah menertibkan Kehidupan beragama di setiap sudut Kadipaten Demak, tiba-tiba mengarahkan pandangan ke kadipaten lain: Samarang, Japara, Tetegal, Kendal, Rembang, Siddhayu, dan Tedunan. Lalu, dengan gerakan sangat menakjubkan laksana kawanan hewan buas keluar sarang, mereka beriringan dengan suara gemuruh menerjang desa-desa yang terletak di sekitar Lemah Abang sambil meneriakkan takbir. Para alim dan pasukan tombaknya itu rupanya mendapat perintah untuk menyerang desa-desa di sekitar dukuh-dukuh Lemah Abang dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Sebagaimana peristiwa mengerikan yang telah terjadi di Demak, dengan alasan menertibkan agama Islam yang telah disimpangkan penduduk, satuan-satuan bersenjata tombak pimpinan alim ulama itu melakukan perburuan dan penjagalan terhadap siapa saja di antara manusia yang dituduh mengajarkan agama tanpa izin, menyelewengkan agama, menyebarkan ajaran sesat, atau murtad dari agama Islam.

Warga di kadipaten-kadipaten yang kebanyakan hanya mendengar kabar burung tentang kekejaman satuan-satuan bersenjata itu, dengan terheran-heran menyaksikan sendiri bagaimana tindakan ganas dan brutal manusia-manusia tak berjiwa yang menyebut diri barisan alim ulama pengawal agama Islam itu. Mereka saling pandang dan saling bertanya dengan keheranan.

Bagaimana mungkin alim ulama yang merupakan tokoh agama bisa memiliki pasukan bersenjata dan menggunakannya untuk menekan, menakuti, mengancam, dan bahkan membunuh orang-orang yang tidak sepaham? Bukankah sejak zaman purwakala belum pernah ada agamawan yang memiliki pasukan? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku pengawal agama Islam yang suci memiliki kebiasaan meminum dan menjilati darah orang-orang yang dibunuhnya? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku beriman gemar merusak mayat, memotongi telinga dan alat kemaluan orang-orang yang dibunuh sebagai kesenangan? Bagaimana mungkin sebuah agama ditertibkan lewat tekanan, ancaman, teror, dan pembunuhan? Bagaimana mungkin citra sebuah agama yang damai yang menjanjikan keselamatan justru menimbulkan ketakutan dan kepanikan, karena orang-orang yang mengaku pengawal agama tersebut dengan keberingasan dan kebengisan tak terbayangkan menciptakan ladang mayat dan sungai darah?

Bagi sebagian besar penduduk yang keluarga, kerabat, tetangga, kawan, atau kenalannya menjadi korban keganasan satuan-satuan bersenjata pimpinan alim ulama Demak itu, mereka tidak bisa memahami peristiwa biadab itu sebagai sesuatu yang bisa dibenarkan oleh nurani. Mereka seumumnya menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang sangat membingungkan. Sebab, citra Islam yang selama itu mereka pahami sebagai penyempurnaan ajaran Syiwa-Buda ternyata sangat berbeda dengan citra Islam yang dipahami alim ulama yang memiliki satuan-satuan bersenjata, baik dalam amaliah ibadah maupun istilah-istilah keagamaan sehari-hari. Mereka yang sehari-hari biasa menggunakan istilah-istilah sembahyang, puasa, swarga, neraka, langgar, tajug, Hyang Manon, Kangjeng, Nabi, pandhita, susuhunan, wiku, kiai, ki, dukuh, destar, aksamala, bebet, dan dodot cukup kebingungan dengan istilah-istilah yang digunakan anggota-anggota satuan bersenjata dan alim ulamanya seperti shalat, shaum, firdaus, jahannam, mushala, masjid, Allah Subhanahu wa Ta’ala, Muhammad Saw, alim ulama, syaikh, habaib, khwajah, tasbih, ghamis, surban, sarung, kopiah.

Istilah-istilah itu makin membingungkan ketika orang menyaksikan keganasan anggota satuan-satuan bersenjata tombak yang memaklumkan diri sebagai pengawal Islam agama Keselamatan. Mereka heran dengan kepongahan orang-orang bersenjata yang mengaku-aku bahwa Tuhan yang paling Benar adalah Tuhannya, sedang tuhan orang lain adalah tuhan-tuhanan alias tuan palsu. Mereka heran dan menganggap pengakuan sepihak itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin agama Islam yang menjanjikan keselamatan, di tangan para pengaku-aku itu justru menjadikan banyak manusia tidak selamat? Bagaimana mungkin agama Islam yang digembar-gemborkan sebagai agama kedamaian justru menimbulkan kekisruhan? Bagaimana mungkin Kebenaran Ilahi dan keimanan orang seorang dalam mengenal Tuhan diukur dengan bilah tombak? Betapa mengherankan, tanpa alasan yang jelas sejumlah pemuka agama Islam di berbagai desa disembelih begitu saja karena dituduh murtad.

Tindak kekerasan yang dilakukan alim ulama asing dengan satuan-satuan bersenjatanya itu memunculkan kesan miring bagi penduduk pedalaman Jawa dalam memaknai Islam. Bagian terbesar penduduk yang semula memahami Islam sebagai ajaran penyempurna Syiwa-Buda, yaitu ajaran yang damai penuh toleransi dan pembawa keselamatan sebagaimana telah disampaikan para guru suci terdahulu, terutama ajaran Syaikh Siti Jenar dan pengikut-pengikutnya, ternyata mendapati wajah dan jiwa yang berbeda dengan agama Islam yang dianut alim ulama bersenjata asal Demak. Islam yang mereka saksikan datang bersama para alim itu adalah citra sebuah agama yang ganas tak kenal ampun dan berlumur darah. Islam yang mereka saksikan datang dari Demak sama menjijikkannya dengan ajaran Bhairawa-Tantra yang dianut bhairawa-bhairawi peminum darah. Muara dan ketidakpahaman penduduk atas citra Islam yang dibawa alim ulama Demak dan satuan-satuan bersenjatanya itu adalah tumbuh suburnya sikap antipati terhadap sesuatu yang bersifat asing yang dibayangkan akan menjajah dan membahayakan keberadaan penduduk bumiputera. Dan entah bagaimana awalnya, tiba-tiba istilah-istilah agama Jawa dan agama Arab mulai digunakan orang untuk membedakan wajah agama yang dianut penduduk asli dan agama yang dianut warga asing.

Abdul Jalil yang menyaksikan adegan demi adegan kekerasan aitu dengan perasaan malu tak terlukiskan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali diam, laksana sebongkah batu di sungai dangkal berair jernih. Ia benar-benar sebongkah batu yang menyaksikan semua tindakan alim ulama yang bertopeng agama, tapi melumuri tangannya dengan darah manusia. Ia menyaksikan semua gerak-gerik alim ulama yang melakukan kejahatan atas titah seorang penguasa duniawi. Ia menyaksikan semua tindaka alim ulama yang melakukan pembunuhan demi imbalan sepetak tanah perdikan dan hadiah-hadiah dari sultan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Diam. Seribu kali diam. Namun, di tengah kecamuk perasaannya yang teraduk-aduk dalam diam itu, ia sadar betapa citra dirinya sebagai salah seorang pendakwah ajaran Kebenaran Islam sesungguhnya telah hilang bersama terbangnya nyawa-nyawa kaum muslimin yang menjalankan Islam menurut ajaran yang didakwahkannya. Ia yang dulu telah mendakwahkan bahwa Islam adalah penyempurna ajaran Syiwa-Buda, ternyata tidak berbuat sesuatu ketika apa yang didakwahkannya itu dihancurbinasakan oleh orang-orang terbawa badai yang terbuang dari negerinya dan mencari kemapanan hidup di negeri orang. Ia tidak melakukan apa pun – bahkan sekedar mengingatkan lewat lisan – untuk mencegah kekeliruan tindakan yang dilakukan para alim beserta pasukan tombaknya. Ia merasa semua yang telah dirintisnya telah sirna tersapu prahara bersama lenyapnya citra dirinya sebagai juru dakwah. Ia merasa benar-benar telah menjadi sebongkah batu.

Ketika ia meresapi keterkaitan makna antara peristiwa memalukan itu dan keterlepasan-keterlepasan citra diri yang dialaminya, hingga membuat keberadaan dirinya tak lebih dari sebongkah batu, terjadilah sesuatu yang selama ini sudah ditunggu-tunggunya sebagai bagian dari keterlepasan yang sangat berat.

Badai Kebinasaan yang diembuskan Sang Maut telah berpusar-pusar melanda permukaan bumi dan perlahan-lahan mulai mendekati caturbhasa mandala dan lemah larangan yang telah ditegakkannya selama berpuluh tahun dengan taruhan nyawa. Seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan sandiwara, ia menyaksikan bagaimana para pemuka agama di desa-desa yang berhasil meloloskan diri dari serangan satuan-satuan bersenjata asal Demak beriringan mencari perlindungan ke dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar. Lantaran dukuh Lemah Abang jumlahnya lebih banyak dibanding Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar, maka mereka hampir semuanya bersembunyi dan meminta perlindungan ke Lemah Abang.

Abdul Jalil sadar, cepat atau lambat ia bakal menyaksikan kehancuran dukuh-dukuh yang mengabadikan karya besarnya itu. Untuk itu, ia berusaha melepaskan segala keterkaitan dirinya dengan tempat-tempat bersejarah itu. Ia ingin melupakan semua kenangan yang menghubungkan dirinya dengan dukuh-dukuh yang ditinggali murid-muridnya itu. Namun, hal itu tentu saja tidak mudah. Sebab, rangkaian kenangan yang menandai jejak langkahnya di dukuh-dukuh itu telah menjadi taman indah Tauhid yang menebarkan wangi bunga-bunga Kebenaran. Menghapus rangkaian kenangan yang telah mewujud menjadi keindahan akan menimbulkan rasa kehilangan yang menyesakkan dada. Itu sebabnya, pada saat ia menyaksikan para alim dengan satuan-satuan bersenjatanya yang memburu orang-orang yang mereka tuduh ahli bid’ah dan penyeleweng agama mendekat ke dukuh-dukuh Lemah Abang, tanpa ia sadari tiba-tiba ia sudah bergerak dan tahu-tahu sudah berada di dukuh Lemah Abang yang terletak di Kadipaten Samarang. Hiruk pun pecah ketika Ki Wujil Kunting, pemimpin dukuh dan pengikut-pengikutnya mengetahui kedatangan Abdul Jalil. Beramai-ramai mereka mengerumuninya. Menyaksikan wajah pengikut-pengikutnya yang diliputi ketegangan itu, ia merasa trenyuh. Lalu, dengan penuh kasih ia berkata kepada mereka dengan suara lain yang terdengar aneh.

“Sebagaimana perilaku alam yang terus berulang bersama putaran waktu, begitulah waktu senja dari hidupku telah datang menjemput. Dia akan mengajakku terbang ke langit hampa yang luas tanpa batas. Melayang-layang sendiri memaknai kesendirian di tengah liputan Yang Mahasendiri. Aku akan kembali bersama waktu senjaku menikmati ketenag-damaian di mahligai keabadian-Nya yana azali. Bersama waktu senjaku, hendaknya diketahui oleh semua manusia yang memiliki keterkaitan denganku, bahwa aku yang disebut manusia dengan berbagai nama; San Ali, Syaikh Datuk Abdul Jalil, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Siti Jenar, Syaikh Sitibrit, dan Susuhunan Binang adalah manusia biasa yang lahir ke dunia dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Lantaran itu, aku kembali pun dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Aku datang dari Allah dan akan kebali kepada-Nya. Inna li Alahi wa inna ilaihi raji’un.”

“Buka telinga indriawimu dan buka pula telinga batinmu untuk mengingat-ingat pesanku yang terakhir. Aku yang lahir telanjang dan bakal kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan telanjang tidak akan pernah meninggalkan sesuatu yang bersifat kebendaan yang bisa engkau kaitkan denganku. Aku tidak meninggalkan warisan apa-apa dalam bentuk benda-benda duniawi; rumah, harta benda, kitab, pusaka, murid, keluarga, dukuh, atau apa pun. Yang aku wariskan kepada manusia hanyalah ajaran rahasia berupa awrad yang tidak boleh ditulis atau disimpan di dalam sesuatu yang bisa dibendakan. Lantaran itu, jika di suatu masa ada manusia mengaku-aku pengikutku dengan menunjukkan bukti ini dan itu berupa benda atau bukti-bukti pengakuan nasab, sesungguhnya dia itu pendusta yang bakal menyesatkan banyak orang.”

“Jika ada yang bertanya tentang makna apa di balik awrad yang aku wariskan. Aku katakan, ia ibarat sebutir biji nangka, yang aku tinggalkan sebagai satu-satunya warisan. Seperti biji nangka yang memuat hakikat batang, dahan, ranting, daun, bunga, akar, dan buah yang akan tumbuh dengan baik di tanah subur yang terawat, begitulah awrad rahasia itu jika kalian tanam di jiwa yang baik dan dirawat dengan baik akan tumbuh menjadi pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna. Buah dari pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna itu bisa kalian bagi-bagi kepada siapa pun yang membutuhkan. Tetapi, biji dari buah nangka itu akan tumbuh lagi jika ditanam di tanah yang sesuai. Dengan demikian, selama kalian setia memelihara dan mewariskan awrad yang aku tinggalkan maka saat itu pula kalian telah mewarisi warisanku. Inilah pesan-pesanku terakhir yang hendaknya kalian pusakakan: jadikan awrad rahasia dariku itu sebagai satu-satunya warisan dariku untuk wahana kembali menuju Sang Pencipta. Jadikanlah ia wahana menuju inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un !”

“Pesanku yang hendaknya kalian ingat-ingat adalah yang terkait dengan keberadaan jasad dan tubuhku. Maksudnya, jika satu saat nanti kalian mendapati tubuh jasadku terbujur tanpa nyawa karena ruhku telah kembali kepada-Nya, hendaknya kalian kuburkan jenasahku tanpa tanda apa pun yang bersifat bendawi. Jangan biarkan siapa pun di antara manusia yang mengetahui jika itu kuburanku. Jangan buat manusia datang menziarahiku. Sebab, aku tidak ingin menjadi hijab setitik noktah pun bagi manusia dalam berhubungan dengan Penciptanya. Biarkan aku terkubur sebagai tanah yang diinjak-injak manusia. Biarkan jasad tubuh anak Adam a.s. ini kembali menjadi tanah.”

Para pengikut yang tak kuasa menahan haru mendengar wejangan guru ruhani yang mereka cintai serentak menjatuhkan diri dan merangkul kaki Abdul Jalil sambil mencucurkan air mata. Ki Wujil Kunting yang terlihat tegar pun tak kuasa menahan haru. Dengan napas tersengal menahan tangis, dia bersimpuh dan bertanya. “Jika Kangjeng Syaikh kembali kepada-Nya tanpa meninggalkan bekas bendawi, bagaimana kami dapat mengingat paduka yang telah menyalakan api kesadaran di jiwa kami tentang Tauhid? Bagaimana kami dapat melepaskan kerinduan kami kepada Kangjeng Syaikh?”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian, dengan suara digetari kepahitan ia berkata, “Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin menjadi hijab bagi manusia dalam memuja Penciptanya? Bukankah sudah aku katakan bahwa aku hanya meninggalkan awrad rahasia yang tak boleh ditulis? Apakah itu kurang cukup? Apakah kalian masih belum paham juga dengan maksudku?”

“Kami paham maksud paduka Syaikh. Tapi, kami hanya manusia biasa yang memiliki kerinduan pada rupa dan rasa. Sedang kami paham bahwa Sang Wujud tidak bisa dirupakan dan dirasakan kecuali melalui wahana ciptaan-Nya yang maujud. Jadi, bagaimana cara kami melampiaskan kerinduan jiwa kami kepada-Nya tanpa melalui ciptaan-Nya yang kami kenal seperti Kangjeng Syaikh?”

Abdul Jalil diam. Ia tidak memberikan jawaban. Ia paham, terlalu banyak hal yang tidak dapat dijelaskan kepada pengikut-pengikutnya. Namun, ia sadar bahwa semua itu adalah kehendak Allah semata. Lantaran itu, ia memasrahkan semua urusan yang terkait dengan pengikut-pengikunya itu kepada-Nya. Beberapa jenak kemudian, ia pun berkata dengan suara tegar diliputi getar-getar keanehan.

“Jika kalian membaca Kitab Suci Al-Qur’an dan memahami Sabda Suci Ilahi di kitab tersebut sebagai rangkaian huruf Arab dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya, maka ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Suci Ilahi yang dilafazkan mulut manusia. Ia hanya akan menjadi rangkaian huruf-huruf bermakna. Ia akan menjadi Kalam al-Lafzhiyyah. Tetapi, jika kalian memahami Sabda Suci Ilahi itu sebagai Firman Ilahi yang pernah terucap lewat lisan Muhammad Saw. Maka Ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Ilahi yang terucap lewat lisan Yang Terpuji Saw.. Ia akan menjadi Kalam an-Nafsiyyah. Dan, jika kalian memahami bahwa Yang Terpuji Saw. adalah pancaran dari Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad), maka Sabda Suci Ilahi pun akan kalian pahami sebagai sabda-Nya. Ia akan menjadi Kalam Ilahiyyah.”

“Demikian pula dengan awrad rahasia yang telah aku tinggalkan kepada kalian sebagai warisan satu-satunya itu. Jika kalian mengamalkan awrad rahasia dengan pemahaman bahwa aku pun telah mengamalkannya maka kalian akan merasakan kehadiranku di situ. Sebab, seibarat biji nangka yang tumbuh di “tanah” bernama Abdul Jalil, demikianlah biji nangka itu akan tumbuh di jiwa mereka yang mengamalkannya. Jika kalian lewat awrad itu dapat merasakan kehadiranku maka satu saat kelak kalian akan merasakan kehadiran hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq, yang mewariskan awrad rahasia itu kepadaku. Dan ujungnya, kalian akan merasakan kehadiran Dia yang mewariskan awrad rahasia itu kepada hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq. Itu berarti, muara dari kerinduan kalian kepada aku adalah Yang Terpuji (Ahmad) yang merupakan pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid).”

“Dengan penjelasanku ini, hendaknya kalian sadar bahwa muara dari segala sesuatu yang terkait denganku adalah Dia, Yang Mahamutlak. Jika kalian menemukan manusia mengaku-aku sebagai pelanjut ajaranku tetapi muara daari pengakuannya itu terarah kepada dirinya pribadi, maka aku katakan bahwa dia adalah pendusta yang bakal menyesatkan manusia. Mulai sekarang ini hendaknya kalian ketahui bahwa siapa pun di antara manusia yang mengaku sebagai pengikut Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Sitibrit, atau Susuhunan Binang, sesungguhnya gelar-gelar masyhur dari manusia bernama Abdul Jalil itu adalah tempelan sesaat yang menyelebungi makna terdalam dari jati diriku. Maksudnya, hendaknya kalian ketahui bahwa aku yang kalian ikuti sejatinya adalah pengikut Muhammad Saw., citra Kemuliaan dari Yang Maha Terpuji. Itu berarti, pengamal ajaranku yang paham dengan apa yang telah aku ajarkan tidak akan pernah membawa-bawa namaku. Mereka akan menisbatkan jalan ruhani (tarekat) yang diamalkannya kepada Allah semata. Demikianlah, kalian akan mendapati ajaranku dalam nama-nama yang dinisbatkan kepada-Nya, seperti Akmaliyyah (al-Kamal), Haqqmaliyyah (al-Haqq), Khaliqiyyah (al-Khaliq), Sattariyyah (as-Sattar), Kubrawiyyah (al-Kabir), Wahidiyyah (al-Wahid), dan sebagainya.”

“Kami memahami wejangan Kangjeng Syaikh. Tapi, apakah Kangjeng Syaikh akan benar-benar meninggalkan kami semua?” tanya Ki Wujil Kunting mengiba.

“Adakah Kehidupan di dunia ini yang tidak saling tinggal meninggalkan? Kenapakah engkau ini bertanya sesuatu yang menggelikan sepertinya engkau ini seorang anak kecil?”

“Kami tidak ingin berpisah dengan Kangjeng Syaikh. Kami rela berkorban nyawa asalkan kami tetap bersama-sama dengan Kangjeng Syaikh. Jika Kangjeng Syaikh kelak kembali kepada-Nya, kami ingin merawat dan menguburkan junjungan kami dengan tangan kami sendiri.”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Wujil … Wujil, bagaimana engkau bisa merawat dan mengubur jenasahku jika waktu kematianku saja engkau belum tahu? Apakah engkau yakin kalau aku mati lebih dulu daripada engkau? Sungguh aku minta, janganlah kepedihan membuat engkau melakukan hal-hal yang tidak benar. Jangan berandai-andai dengan masa depan. Sebab, apa yang aku ajarkan adalah kekinian. Kini. Masa depan adalah angan-angan. Masa lampau adalah kenang-kenangan. Semua akan bermakna jika ditarik ke masa kini.”

“Kami paham akan Kebenaran wejangan Kangjeng Syaikh. Kami mohon, sudilah Kangjeng Syaikh memberi kami wejangan terakhir sebelum kita saling berpisah. Sebab, kami menangkap sasmita yang sudah padukan sampaikan bahwa tidak lama lagi kita akan saling berpisah. Apakah yang sebaiknya kami lakukan, o Kangjeng Syaikh?” kata Ki Wujil Kunting sambil memegangi jubah Abdul Jalil.

“Ingat-ingatlah selalu bahwa dunia yang kita diami ini adalah kehinaan (danayah), rendah (daniyyun), bendawi (dunyawiyyun), dekat (adna). Kita semua di dunia ini hanya tinggal untuk sementara. Singkat. Kita semua tinggal di dunia ini sekadar menjalani “hukuman” yang diwariskan leluhur kita: Adam a.s. yang terperosok ke jurang kefanaan insani karena nafsu (hawa). Kita semua sejatinya berada di dalam kerangkeng nafsu. Tetapi, jika saatnya untuk pembebasan datang, kita semua bakal kembali kepada-Nya. Lantaran itu, tugas utama kita sebagai anak keturunan Adam adalah mencari jalan pembebasan untuk melepaskan diri dari kerangkeng nafsu. Agar kita dapat bebas dan kembali kepada-Nya sebagai manusia merdeka yang ridho dan diridhoi.”

“Hendaknya kalian camkan bahwa dengan berjuang membebaskan diri dari kerangkeng nafsu, dan jika kalian berhasil, maka kalian akan menjadi manusia baru. Laksana kupu-kupu yang terbebas dari kepompongnya, begitulah kalian akan lahir sebagai manusia baru yang disebut adimanusia: insan kamil, yakni citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-Ardh) sebagaimana dikehendaki-Nya. Hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian pusakakan wejangan terakhirku ini: bahwa mereka yang disebut adimanusia bukanlah manusia raksasa yang memiliki kekuatan tubuh dan akal luar biasa, bukan pula manusia yang memiliki kemampuan menaklukkan dunia dengan kekuasaan tubuh dan akalnya itu. Sebaliknya, adimanusia adalah manusia-manusia yang sudah merdeka dari kerangkeng nafsunya dan mencapai tahap Tauhid tertinggi dalam mengenal Sang Pencipta dan mengejawantahkan citra kekhalifahan-Nya.”

“Aku pesankan dan aku wanti-wanti kepada kalian bahwa akan datang Dajjal dan bala tentaranya yang akan membalikkan kiblat penilaian umat manusia tentang adimanusia sebagaimana yang aku ajarkan. Dajjal dan balatentaranya akan menyatakan bahwa adimanusia adalah manusia yang memiliki kekuatan tubuh luar biasa akal cerdas tak tertandingi, harta benda berlimpah, pengetahuan ilmu duniawi mengagumkan, senjata-senjata pemusnah dahsyat, dan penakluk bangsa-bangsa lemah di dunia. Sungguh, aku katakan bahwa penilaian Dajjal tentang adimanusia itu adalah sesat. Sesat. Seribu kali sesat. Jika kalian mengikutinya maka kalian pun akan sesat pula.”

“Aku beri tahukan kepada kalian tentang makna adimanusia dalam pandangan Sang Pencipta melalui Sabda Suci-Nya yang termaktub dalam Kitab Suci al-Qur’an, yang jika ditafsirkan kira-kira begini maknanya:

“Ketahuilah, o manusia, di antara puak bangsa-bangsa manusia, yang paling mulia adalah manusia yang paling takwa (QS.al-Hujurat: 13). Siapakah manusia takwa itu? Dia adalah manusia yang selalu mengingat Aku, meski keteguhan jiwanya digoyahkan setan dan diperosokkan kawan-kawan dekatnya agar tersesat (QS.al-A’raf: 201 – 202). Dia hanya takut kepada Aku (QS.al-Baqarah: 41). Dia mentauhidkan Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-Nahl: 2). Dia hanya menyembah Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-A’raf: 65). Itulah adimanusia. Insan kamil. Itulah manusia-manusia unggul yang di mana pun berada selalu bersama Aku (QS.al-Baqarah: 194; at-Taubah: 123). Dia selalu berada di dalam lindungan-Ku (QS.al-Jatsiyah: 19). Dia tidak akan dihisab atas dosa-dosanya (QS.al-An’am: 69). Dia kelak akan menemui Aku (QS.al-Baqarah: 223).”

“Sekarang, jelaslah bagi kalian bahwa adimanusia yang aku maksudkan adalah manusia-manusia merdeka yang sudah berhasil membebaskan diri dari kerangkeng nafsunya. Itulah manusia-manusia yang sudah mentauhidkan Allah dalam makna yang sebenarnya. Itulah manusia-manusia unggul. Insan kamil. Manusia sempurna. Ingatkah kalian akan kisah Fir’aun, maharajadiraja Mesir yang memiliki kekuatan tubuh dan akal yang luar biasa, kekayaan tak terhitung, istana-istana megah dan mewah, bala tentara perkasa yang menakutkan, senjata-senjata pembunuh yang mematikan, kehormatan, dan kemuliaan atas bangsa-bangsa manusia? Ingatkah kalian akan Fir’aun yang disembah manusia? Meski ada yang mengatakan bahwa Fir’aun adalah adimanusia yang berkuasa di zamannya, aku katakan sebaliknya bahwa Fir’aun bukan adimanusia. Dia bukan adimanusia. Sebab, dia adalah seorang manusia yang terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa Fir’aun adalah jiwa cacing yang menggeliat di dalam lumpur duniawi yang menjijikkan.”

“Sebaliknya, aku katakan kepada kalian, bahwa yang disebut adimanusia di zaman itu bukanlah Fir’aun dan bukan pula dukun-dukun sakti yang mengitarinya. Adimanusia pada zaman itu adalah Musa a.s.: laki-laki yang tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan, tidak punya tentara, tidak punya apa-apa. Manusia hanya mengenal dia sebagai salah seorang pemuka budak Bani Israil. Musa itulah adimanusia pada zamannya. Sebab, dia adalah pemuka di antara manusia-manusia merdeka yang dipilih-Nya. Musa adalah manusia yang takwa dan bertauhid kepada-Nya.”

“Ingatkah kalian akan detik-detik ketika Islam disampaikan Muhammad Saw. di jazirah Arabia? Ingatkah kalian tentang kekuasaan-kekuasaan duniawi yang mengitari jazirah Arabia saat itu? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal keagungan an-Najasi Maharajadiraja Habasyah? Siapakah manusia yang tidak mengenal kebesaran Heraklius Maharajadiraja Rum? Siapakah manusia yang tidak mengenal kehebatan Chosroes II Maharajadiraja Persia? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal para maharajadiraja yang kuat, cerdas, berlimpah harta benda, berkekuatan luar biasa, berpasukan mengerikan yang membawa senjata penghancur? Siapa manusia zaman itu yang tidak mengenal kehebatan mereka?”

“Tapi, aku katakan kepada kalian bahwa mereka para maharajadiraja itu bukanlah adimanusia yang aku maksudkan. Mereka hanyalah penguasa-penguasa duniawi yang terbelenggu dan terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa mereka adalah jiwa hewan melata yang tak mampu melepaskan diri dari lumpur duniawi. Sedang adimanusia pada zaman itu yang aku maksudkan, tidak lain dan tidak bukan adalah Muhammad Saw.: laki-laki buta huruf dari padang pasir, tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan duniawi, tidak punya apa-apa yang bersifat duniawiyah, yang tinggal di masjid dan ketika wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan harta. Dialah adimanusia. Insan kamil. Manusia sempurna. Manusia Yang Terpuji (Muhammad) citra pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid). Dialah, sang guru pengajar Tauhid, yang paling tinggi ketakwaannya di hadapan Allah. Dialah adimanusia terbesar sepanjang zaman. Dialah manusia Tauhid yang dipilih-Nya.”

“Dengan uraianku ini, jelaslah sudah bahwa sebagai manusia-manusia yang bakal menjadi adimanusia, hendaknya kalian tidak menimbun kesadaran Tauhid kalian dengan benda-benda duniawi yang menjijikkan. Kalian adalah para pejuang pembebasan yang akan menjadi orang-orang merdeka. Lantaran itu, jika ada di antara manusia ingin membangun kerajaan surga di dunia, hendaknya kalian jauhi mereka. Sebab, mereka itu sejatinya sedang membangun neraka bagi manusia dirinya dan manusia lain. Mereka sedang membangun kerangkeng-kerangkeng nafsu yang membahayakan manusia. Jika kalian dapati para pemuja duniawi sudah berkuasa dan merajalela dengan kejahatannya, hendaknya kalian hijrah! Hijrah! Hijrahlah kalian sebagaimana diteladankan Muhammad Saw.! Tinggalkan kediamanmu. Bumi Allah sangat luas. Di mana pun kalian berada dan kapan pun kalian hidup, selama kalian bertauhid kepada-Nya dan berjuang keras membebaskan diri dari kerangkeng nafsu-nafsu, maka kalian akan menjadi selamat sentosa menjadi adimanusia. Kalian akan selalu bersama-Nya.”

18. Buah Dalima dan Makna-Makna

Sesungguhnya, Abdul Jalil ingin menyampaikan wejangan lebih banyak kepada pengikut-pengikutnya. Namun sebelum keinginannya tercapai, di tengah ketakziman para pengikutnya mendengar wejangannya, tiba-tiba terdengar suara hiruk pikuk di kejauhan seperti sorak-sorai sambung-menyambung. Abdul Jalil mengarahkan pandangan ke pintu dan melihat beberapa orang pengikutnya berjalan cepat ke arahnya. Setelah dekat, pengikut itu menyampaikan kepadanya bahwa seorang alim dari Demak bernama Syaikh Maulana Maghribi dengan tiga ratus orang pasukan bersenjata tombak saat itu berada di luar dukuh Lemah Abang. “Mereka ingin bertemu dengan kepala dukuh Lemah Abang, Kangjeng Syaikh,” kata mereka gelisah.

Abdul Jalil terdiam sejenak dan kemudian angkat tangan kanan ke atas memberi isyarat agar semua diam. Setelah menarik napas dua tiga kali, ia melangkah ke luar diikuti pengikut-pengikutnya. Sepanjang perjalanan, ia menggumamkan nama Syaikh Maulana Maghribi berulang-ulang di tengah ucapan menyebut Asma Allah. Saat berada di ujung dukuh, ia melihat seorang lelaki tinggi jangkung berkulit gelap dengan hidung sebengkok paruh burung elang berdiri tegak sambil menggenggam pedang. Di kanan kirinya terlihat beberapa orang pengawal membawa tombak memperlihatkan wajah garang. Sementara beratus orang di belakangnya berkerumun dengan hutan tombak sambil sesekali meneriakkan takbir dan caci maki:

“BUNUH! HANCURKAN! BAKAR! ALLAHU AKBAR! BUNUH KAUM MURTAD!”

Teriakan sambung-menyambung laksana gelombang laut itu tidak sedikit pun menggoyahkan Abdul Jalil. Dengan langkah lebar dan tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, ia bergegas mendekati Syaikh Maulana Maghribi. Setelah menyampaikan salam dan berhadapan muka dengan muka dalam jarak sekitar dua depa, ia seketika menghamburkan kata-kata dalam bahasa Arab secara bertubi-tubi seolah tidak memberi kesempatan kepada Syaikh Maulana Maghribi untuk menangkis.

“Aku sungguh merasa heran melihat alim, citra al-‘Alim di muka bumi, ke mana-mana membawa pedang dan membunuhi manusia yang dianggapnya sesat dan murtad. Sungguh aku merasa heran melihat seorang mursyid, citra ar-Rasyid di muka bumi, berkeliaran ke mana-mana menebarkan Kematian dan kebinasaan. Aku sungguh merasa heran sebab, seingatku, Rasulullah Saw. hanya berwasiat: “Sampaikan apa yang dari aku meski hanya satu ayat (balighu ‘ani walau ayat).”

“Bagaimana Tuan, al-‘alim billah, bisa menafsirkan sabda Rasulullah Saw. itu menjadi amanat pembunuhan? Bagaimana Tuan, al-‘arif billah, yang menduduki derajat paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya (QS. Al-Fathir: 28) justru takut kepada sultan? Bagaimana Tuan yang kedudukannya ditinggikan beberapa derajat di antara manusia (QS. Al-Mujadalah: 11) justru merendahkan diri dengan bersujud menyembah sultan? Bagaimana Tuan yang termasuk golongan alim yang tegak di atas keadilan Mengesakan Allah (QS. Ali Imran: 18) justru merajakan manusia? Sementara, Tuan tahu bahwa Dia adalah raja manusia (QS. An-Nas: 2). Rupanya, Tauhid Mulukiyyah sudah runtuh dari iman Tuan. Bagaimana Tuan selaku alim tidak menghiasi citra Tuan dengan qalam, tetapi dengan pedang? Bagaimana Tuan yang seharusnya menumpahkan tinta di atas kertas justru menumpahkan darah di atas bumi? Apakah Tuan ini seorang alim ataukah tukang jagal? Apakah Tuan ini seorang alim wakil al-‘Alim yang bertugas utama menyampaikan pengetahuan ataukah seorang pencabut nyawa yang menggantikan tugas Izrail?”

“Aku tahu bahwa tugas yang diberikan sultan kepada Tuan dan kawan-kawan Tuan adalah menjadikan manusia di Nusa Jawa tunduk dan setia hanya kepadanya. Mereka yang mengingkari kekuasaan sultan harus dibinasakan. Tetapi, Tuan telah bertindak berlebihan dan melampaui batas. Tuan telah memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang Tuan anggap pengikut Syi’ah. Tuan telah memerintahkan pembunuhan terhadap orang-orang yang menurut Tuan berbeda akidah. Tidakkah Tuan tahu bahwa Kebenaran di dalam Islam adalah pribadi sifatnya? Tidakkah Tuan tahu bahwa ketakwaan orang seorang tidak bisa diukur dengan paham, firqah, madzhab, jama’ah? Tidakkah Tuan tahu bahwa pertanggung jawaban manusia di hadapan Allah adalah bersifat pribadi dan bukan jama’ah? Apakah Tuan dapat menunjukkan dalil-dalil kepada aku bahwa seluruh pengikut Syi’ah akan masuk neraka dan Tuan beserta pengikut Tuan yang membunuhi penganut Syi’ah itu akan masuk surga? Apakah Tuan punya dalil bahwa Allah mencipta surga semata-mata diperuntukkan bagi Tuan dan pengikut Tuan?”

“Apa yang Tuan lakukan dengan pembunuhan-pembunuhan tanpa hak itu, menurutku, sudah sangat melampaui batas kewajaran. Tuan yang dangkal pengetahuan tentang kehidupan di Nusa Jawa telah beranggapan bahwa siapa saja di antara manusia yang menyembah Tuhan dengan menjalankan sembahyang tiga waktu adalah pengikut Syi’ah, dan lantaran itu, Tuan memerintahkan pengikut Tuan untuk membunuh mereka. Sungguh sebuah kebodohan yang tidak terampunkan. Sebab, para wiku beragama Hindu-Budha pun jika bersembahyang menyembah Tuhan mereka lakukan tiga kali sehari (tri-sandya). Kenapa mereka yang bukan muslim tanpa alasan yang jelas Tuan bunuh? Apakah Tuan bisa menunjukkan dalil bahwa Muhammad Saw. pernah memerintahkan umat Islam untuk membunuh umat beragama lain tanpa alasan yang jelas? Asal Tuan tahu, akibat kecerobohan dan kebodohan Tuan, sekarang ini agama Islam yang Tuan anut telah dijadikan ejekan dan olok-olok penduduk. Islam dianggap sebagai agama haus darah yang sama menjijikkannya dengan agama Bhairawa-Tantra. Islam yang damai dan pembawa keselamatan telah dihina penduduk sebagai agama pembawa ketidakselamatan dan kematian. Semua itu gara-gara tindakan Tuan.”

Syaikh Maulana Maghribi yang merasa terpojok tampak memerah wajahnya dan matanya berkilat-kilat. Ingin rasanya ia memakan dan mengunyah-kunyah Abdul Jalil dan kemudian menelannya bulat-bulat. Namun, baru saja dia akan membuka mulut, tiba-tiba Abdul Jalil sudah bergerak mendekatinya. Kemudian dengan memegang kedua bahunya, Abdul Jalil berbisik lirih, “Aku tahu, Tuan tidak pantas melakukan tindakan memalukan ini apalagi dengan mengatasnamakan demi kesucian Islam. Sebab, Tuan sendiri sesungguhnya telah melakukan tindakan yang lebih keji dan lebih memalukan: menghamili seorang gadis tanpa hak dan meninggalkannya begitu saja tanpa tanggung jawab. Aku tahu, Tuan telah menghamili gadis bernama Nyi Mas Rasa Wulan dan membuatnya sangat menderita. Dan asal Tuan tahu, kakak kandung gadis malang itu, seorang laki-laki gagah bernama Raden Sahid, adalah menantuku. Mereka berdua adalah putera-puteri Adipati Tuban. Jika menantuku itu sampai tahu perbuatan terkutuk Tuan, aku kira dia akan memburu Tuan sampai ke ujung dunia. Dia akan membawa pasukan dari Tuban. Dia akan mengejar Tuan sambil menyebarkan aib Tuan itu ke segenap penjuru dunia.”

Wajah Syaikh Maulana Maghribi yang semula merah padam tiba-tiba menjadi pucat pasi. Matanya yang semula berkilat-kilat dikobari nyala api amarah tiba-tiba redup. Dia bungkam tidak bisa berbicara. Keringat dingin sebutiran kacang mendadak bercucuran dari keningnya. Abdul Jalil yang melihat perubahan itu buru-buru tegak kembali dan berkata dengan suara lantang, kali ini dalam bahasa Jawa, “Aku tahu bahwa orang-orang seperti Tuan selalu merasa diri sebagai pusat kebenaran. Batin Tuan selalu berkata: aku yang paling benar. Aku yang paling mulia. Aku yang paling baik. Yang lain sesat, keliru, rendah, jahat. Padahal, sebagai alim wakil al-‘Alim, Tuan seharusnya tahu bahwa makhluk Tuhan yang pertama mengaku-aku paling baik adalah Iblis (QS. Shad: 76). Aku tidak peduli apakah Tuan itu manusia yang benar-benar paling baik ataukah Tuan sebenarnya pengejawantahan dari dia yang dikutuk karena pengakuan sepihaknya. Aku tidak peduli itu. Tetapi, jika Tuan memang merasa benar dan surga itu hak Tuan, maka aku ingin bukti dengan meminta kematian Tuan sebagaimana disyaratkan Allah (QS. al-Baqarah: 94). Maksudku, bagaimana kalau aku dan Tuan mati bersama sekarang juga? Siapkah Tuan bersama aku mati sekarang juga untuk membuktikan kebenaran anggapan Tuan?”

Syaikh Maulana Maghribi yang sudah runtuh keyakinan dirinya akibat duiungkap aibnya tidak berkata sesuatu untuk membela diri. Dia malah memandang Abdul Jalil dengan mata sayu seolah minta dikasihani. Abdul Jalil yang sudah merasa di atas angin menyapukan pandang ke arah para pengikut Syaikh Maulana Maghribi. Kemudia, dengan suara ditekan tinggi ia berteriak menantang, “Adakah di antara kalian yang bersedia mati bersama aku sekarang ini untuk membuktikan apakah kalian masuk surga atau neraka? Ayo siapa yang berani mati sekarang?”

Semua diam. Semua menunduk. Ternyata, tidak ada satu pun di antara orang-orang yang suka membunuh itu siap mati saat itu. Syaikh Maulana Maghribi sendiri hanya menunduk seperti pesakitan. Abdul Jalil yang tidak sampai hati mempermalukan lebih jauh manusia yang sudah tidak berdaya itu akhirnya mengakhiri keadaan yang menegangkan itu. Setelah menarik napas berat beberapa kali, dengan suara agak ditekan ia berkata, “Aku kira, kita tidak perlu lagi memperdebatkan tentang masalah agama. Kita akhiri perbedaan pandangan kita sampai di sini. Hanya satu yang perlu Tuan ketahui bahwa penghuni dukuh Lemah Abang bukanlah pengikut Syi’ah. Mereka adalah para pengamal tarekat yang dibangsakan kepada hadhrat Abu Bakar ash-Shiddiq. Meski demikian, mereka semua tidak pernah memusuhi manusia dari agama apa pun, apalagi terhadap saudara-saudara seagama yang berkitab suci satu, berkiblat satu, dan bernabi satu.”

Syaikh Maulana Maghribi merasa lega. Dia menjabat tangan Abdul Jalil. Kemudian, dengan erat dia mendekap tubuh Abdul Jalil sambil berbisik lirih, “Bagaimana Tuan bisa tahu masalah saya dengan Nyi Mas Rasa Wulan?”

“Aku tidak bisa menjelaskan kepada Tuan. Tapi, jika di akhirat nanti Tuan dihisab pada bagian itu maka Tuan hendaknya ingat bahwa Allah Mahatahu. Maha Menghisab.”

“Apakah Nyi Mas Rasa Wulan memberitahu Tuan Syaikh?”

Abdul Jalil menggeleng. Kemudian dengan berbisik ia berkata, “Aku telah dikaruniai Allah sedikit pengetahuan untuk membaca kitab rahasia di dalam diri Tuan,” kata Abdul Jalil.

Tuan bisa membaca catatan amaliah saya?”

“Bukan membaca seperti tulisan, tetapi menyaksikan gambaran perbuatan Tuan. Semuanya. Semuanya. Bahkan, saat Tuan mengintip Nyi Mas Rasa Wulan yang sedang mandi pun telah aku saksikan.”

“Jika begitu, Tuan Syaikh adalah salah seorang kekasih-Nya.”

“Itu adalah rahasia-Nya. Tuan jangan menduga-duga.”

“Tuan Syaikh,” kata Syaikh Maulana Maghribi mempererat pelukannya, “Doakan dan berkahilah saya, semoga saya bisa menebus semua kesalahan saya. Saya akan bertobat. Saya akan meninggalkan semua pekerjaan sia-sia ini,” Syaikh Maulana Maghribi membasahi jubah Abdul Jalil dengan air mata. Sesaat setelah itu, dia membalikkan badan dan memberi isyarat kepada para pengikutnya untuk pergi meninggalkan dukuh Lemah Abang. Abdul Jalil memandang para pembunuh itu sambil sesekali menarik napas lega.

Ketika bayangan Syaikh Maulana Maghribi dan pasukannya sudah tidak terlihat, Abdul Jalil dan para pengikutnya kembali ke dukuh. Di jalan yang akan menuju tajug, ia melihat pohon dalima sedang berbuah. Ia memetik sebuah dan memberikannya kepada salah seorang pengikutnya sambil berkata, “Sampaikan dalima ini ke dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar. Katakan bahwa dalima inilah perlambang keterlepasanku yang terakhir dengan dukuh-dukuh dan pengikut-pengikutku. Mereka yang memperoleh petunjuk Ilahi akan paham dengan perlambang ini. Tetapi, mereka yang bebal dan tidak memperoleh petunjuk Ilahi akan menafsirkan lain sesuai nafsunya.”

Kabar kegagalan Syaikh Maulana Maghribi menyerang dukuh Lemah Abang karena kalah berdebat dengan Syaikh Lemah Abang dalam waktu singkat telah terdengar oleh setiap telinga. Cerita-cerita yang dilebih-lebihkan pun merebak tanpa ada yang tahu siapa yang menambah-nambah bumbunya. Semua mata pun di arahkan ke dukuh-dukuh Lemah Abang seolah menunggu tindakan apa yang akan dilakukan oleh alim ulama Demak setelah salah seorang rekan mereka dikalakan Syaikh Lemah Abang, semua menunggu-nunggu apa yang akan terjadi dengan mereka setelah terjadinya peristiwa yang memalukan alim ulama Demak itu. Namun, di tengah ramainya orang membicarakan hal tersebut dengan kemungkinan-kemungkinannya, penduduk dukuh Lemah Abang justru dikejutkan oleh munculnya buah dalima kiriman guru ruhani mereka. Mereka bertanya-tanya tentang makna apa yang sejatinya terkandung di dalam perlambang buah dalima itu.

Karena Abdul Jalil tidak memberikan pesan apa pun di balik pengiriman buah dalima tersebut, terjadi penafsiran-penafsiran makna yang saling berbeda antar para pemuka dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar di berbagai kadipaten. Sebagian di antara mereka memaknai buah dalima itu sebagai isyarat peringatan dari sang guru, yang mengandung makna kata da-lima, dina-lima, dali-ma, duma-lima, yang dikaitkan dengan suatu perubahan dalam tatanan kehidupan beragama mereka. Mereka menafsirkan bahwa guru ruhani mereka, Syaikh Lemah Abang, telah menitahkan perubahan dalam tata cara beribadah. Jika semula mereka bersembahyang tiga kali sehari, yaitu Subuh dan Siang dan Malam, sebagaimana dilakukan para pendeta Syiwa-Budha, kini mereka diharuskan mengubah menjadi sembahyang lima waktu (da-lima). Ibadah sembahyang Jum’at (dina-lima) yang semula dilakukan di dukuh Lemah Abang yang diikuti dukuh yang lain dan dianggap sunnah, tiba-tiba diselenggarakan di tiap-tiap dukuh. Karena dianggap sunnah, usai sembahyang Jum’at mereka masih melakukan sembahyang zhuhur. Setelah itu, mereka bersiaga meninggalkan kediamannya untuk membangun dukuh baru ibarat burung dadali (dali-ma) membuat sarang baru karena sarang lamanya dirampas tangan kejahatan. Mereka membagi diri dalam lima kelompok warga yang saling berhubungan. Kepada semua penghuni dukuh diberi suatu peringatan bahwa mereka harus ikhlas menerima nasib untuk hijrah karena dukuh yang mereka cintai itu bakal binasa diselimuti asap (duma-lima), sehingga mereka harus pergi jauh dari dukuh mereka.

Pemuka dukuh yang lain menafsirkan buah dalima kiriman Abdul Jalil sebagai lambang dari kata da-lima, dama, dama-lima, dana-lima. Mereka menganggap guru mereka menitahkan para penghuni dukuh untuk meninggalkan sembahyang tiga waktu dan selanjutnya menggantinya dengan lima dharma (dharma-lima), yaitu kebajikan (alpadharma), kesalehan (atidharma), kebaikhatian (budidharma), kemurahatian (punyadharma), dan kedermawanan (danadharma). Mereka berpikir: menjalankan lima dharma adalah lebih baik daripada menjalankan sembahyang tiga waktu tapi hidup penuh kejahatan. Dengan menjalankan lima dharma, mereka merasa lebih bermanfaat bagi keselamatan dan keselarasan kehidupan di alam semesta (memayu hayuning bhawana). Bagi mereka, ikatan kasih sayang (dama) adalah perbuatan termulia yang harus dilakukan manusia yang ingin membebaskan diri dari anasir-anasir nafsu keduniawian.

Pemuka dukuh yang lain lagi memaknai buah dalima kiriman guru ruhaninya sebagai perlambang permata mirah dalima yang disatukan di dalam wadah laksana biji-biji dalima di dalam kulit buah. Mereka berusaha mendapatkan permata mirah dalima sebagai tanda pengikut Syaikh Siti Jenar. Mereka akan menolak siapa pun di antara manusia yang mengaku pengikut Syaik Siti Jenar jika tidak bisa menunjukkan permata mirah dalima sebagai tanda kemuridan mereka. Sementara pemuka dukuh yang lain menafsirkan buah dalima sebagai perlambang bahwa mereka harus berperilaku seperti buah dalima; kesat dan padat kulit luarnya tetapi jernih laksana biji permata di dalamnya.

Sekalipun para pemuka dukuh memiliki penafsiran berbeda dalam memaknai buah dalima yang dikirim Abdul Jalil, mereka memiliki arah yang sama dalam bersikap: berjalan di atas garis Tauhid dan akhlak serta rela berkorban demi keselamatan sesama. Mereka memandang tindak kekerasan dalam menentukan Kebenaran adalah sebuah kejahatan yang harus dijauhi. Mereka menilai pembunuhan dengan atas nama agama adalah sama seperti penyembelihan korban di atas mezbah persembahan; sebuah upacara yang jelas-jelas bertentangan dengan jiwa Islam. Sehingga, mereka sepakat untuk mengorbankan jiwa dan raga mereka demi keselamatan sesama dari tindak kekerasan yang dilakukan alim ulama Demak.

Salah seorang di antara pengikut Abdul Jalil yang merelakan nyawanya untuk keselamatan orang lain itu adalah Ki Wanabaya, seorang sesepuh marga Bajul, kepala dukuh Lemah Abang di Pajang. Dengan suka rela dia mengorbankan jiwanya untuk menghentikan tindak kekerasan para alim Demak. Saat para pemuka agama di desa-desa sekitar dukuh Lemah Abang lari ketakutan dikejar-kejar pasukan tombak asal Demak, Ki Wanabaya dengan gagah berani mendatangi Kiai Ageng Kalipitu yang memimpin satuan bersenjata itu. Tanpa basa-basi dengan meniru tindakan gurunya yang menantang mengajak mati Syaikh Maulana Maghribi, dia menantang Kiai Ageng Kalipitu untuk mati bersama guna membuktikan Kebenaran yang dijadikan alasan membunuh orang-orang tak bersalah. Saat Kiai Ageng Kalipitu tidak menanggapi tantangannya, dia meminta agar nyawanya dicabut sebagai ganti pemuka-pemuka agama di desa-desa yang dituduh sesat dan diburu-buru, “Jika nyawaku dapat menghentikan nafsu membunuhmu, bunuhlah aku!” tantang Ki Wanabaya tanpa sedikit pun menunjukkan kegentaran.

Seorang anggota satuan tombak yang tersinggung ulama panutannya dipermalukan, tidak dapat menahan diri. Dengan teriakan keras, ia hujamkan tombak yang digenggamnya ke dada Ki Wanabaya sekuat tenaga. Terdengar suara derak tulang patah ketika mata tombak menembus dada Ki Wanabaya. Lelaki berusia setengah abad itu tersentak ke belakang. Namun, dia tidak tumbang. Dengan memegangi dadanya yang dihiasi batang tombak, dia menatap tajam ke arah Kiai Ageng Kalipitu sambil tersenyum. Setelah itu dengan napas tersengal-sengal dia berkata, “Lihatlah Tuan, apa yang aku alami ini. Sang Maut datang menjemputku dengan senyum kegembiraan. Dia tersenyum gembira. Ya tersenyum gembira. Sebab, Dia tidak aku sambut dengan ketakutan dan kegentaran, melainkan dengan cinta dan kerinduan. Kehadiran Sang Maut adalah pertanda cinta.” Lalu, dengan teriakan keras dia berseru, “Aku pasrahkan hidupku kepada Engkau, o Penguasa Yang Mahahidup,” dan tubuhnya tumbang ke atas tanah tanpa nyawa.

Kiai Ageng Kalipitu terkesima menyaksikan peristiwa tak terduga-duga yang begitu cepat kejadiannya. Ia merasa seolah-olah sedang bermimpi. Setelah termangu beberapa jenak, ia benar-benar terkesan dengan keberanian Ki Wanabaya menyongsong kematian. Hanya mereka yang sudah mengenal Kematian dengan akrab yang begitu mesra menyambut-Nya, gumamnya dalam hati. Sebagai bukti tanda hormatnya kepada laki-laki pemberani dan tabah itu, ia memutuskan untuk memenuhi permintaannya. Hari itu juga, usai memakamkan Ki Wanabaya, ia memerintahkan para pengikutnya untuk kembali ke Demak. Ia tidak pernah lagi memerintahkan pengejaran kepada pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad.

Hampir bersamaan waktu dengan terbunuhnya Ki Wanabaya, Kyayi Tapak Menjangan, kepala dukuh Lemag Abang di Kadipaten Kendal, melakukan hal yang sama tetapi dengan cara Kematian berbeda. Ketika pasukan alim ulama Demak yang dipimpin Syaikh Abdullah Sambar Khan mengobrak-abrik desa sekitar dukuh Lemah Abang untuk memburu pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad, Kyayi Tapak Menjangan yang berusia hampir lima puluh tahun, seorang diri maju menantang Syaikh Abdullah Sambar Khan untuk mati bersama guna membuktikan Kebenaran yang diakui sepihak oleh alim asal Kerala itu. Namun, berbeda dengan kematian Ki Wanabaya yang sangat singkat, Kyayi Tapak Menjangan sempat terlibat perdebatan dengan Syaikh Abdullah Sambar Khan dalam masalah Kebenaran menurut sudut pandang Islam. Dalam perdebatan itu, berkali-kali Kyayi Tapak Menjangan menertawakan Syaikh Abdullah Sambar Khan sebagai penganut tarekat Quburiyyah wa Sulthaniyyah, yaitu tarekat pemuja kuburan dan penyembah sultan.

Syaikh Abdullah Sambar Khan yang terpojok sedianya akan memerintahkan pengikutnya untuk membunuh Kyayi Tapak Menjangan. Namun, kepala dukuh Lemah Abang itu menyatakan bahwa dia akan mati menurut kehendaknya sendiri. “Tuan tidak perlu mengotori tangan Tuan dengan darahku. Akan aku tunjukkan kepada Tuan bahwa manusia yang sudah mengenal jalan Kebenaran dan telah menemukan Kebenaran Sejati akan dikaruniai kehendak untuk mati. Sebab, mereka yang sudah menyatu dengan Kebenaran pada hakekatnya menyatu pula dengan Maut dan Hidup beserta kudrat dan iradat-Nya,” kata Kyayi Tapak Menjangan tegar.

“Dengan cara bagaimana Tuan akan mati?” tanya Syaikh Abdullah Sambar Khan sinis, “Dengan alat bantu apa Tuan akan mati? Apakah itu tidak termasuk bunuh diri?”

“Aku mati dengan kehendakku sendiri tanpa alat bantu apa pun. Bagi mereka yang terhijab, menghendaki Kematian diri sendiri adalah bunuh diri. Sedang bagi yang sudah tercelikkan mata batinnya, menghendaki Kematian adalah bagian dari kehendak-Nya. Sebab, di saat ‘aku’ sudah tenggelam ke dalam ‘Aku’ maka ‘kehendakku’ tenggelam ke dalam ‘kehendak-Ku’. Kehidupan ‘aku’ akan kembali kepada ‘Aku’ Yang Mahahidup, melalui pintu yang disebut Kematian yakni citra bayangan Sang Maut (al-Mumit). Siapa yang menganggap Yang Mahahidup (al-Hayy) dan yang Maha Membinasakan (al-Mumit) adalah dua zat yang berbeda, mereka adalah musyrik.”

“Tunjukkan kepadaku kehebatan Tuan yang bisa menentukan waktu Kematian diri sendiri tanpa alat bantu apa pun. Tunjukkan Kebenaran ucapan Tuan itu kepadaku,” kata Syaikh Abdullah Sambar Khan penasaran.

Kyayi Tapak Menjangan melakukan sembahyang dua rakaat. Setelah itu, dia duduk bersila mengatur pernapasan dengan mata terpejam. Syaikh Abdullah Sambar Khan dan pengikut-pengikutnya mendekat dan mengamati apa yang dilakukan kepala dukuh Lemah Abang itu. Mereka tidak melihat keajaiban apa pun kecuali sosok seorang laki-laki yang duduk bersila mengatur napas. Mereka terus mengamati naik dan turunnya dada Kyayi Tapak Menjangan. Mereka seolah ingin menyaksikan bagaimana nyawa Kyayi Tapak Menjangan lepas dari raganya. Namun, semua harapan mereka tidak kesampaian. Mereka tidak menyaksikan keajaiban apa-apa. Mereka hanya mendapati tubuh Kyayi Tapak Menjangan sudah tidak bernyawa lagi dalam keadaan duduk bersila.

Syaikh Abdullah Sambar Khan terkejut menyaksikan kenyataan yang tak pernah dibayangkannya itu. Ia sangat menyesali kematian Kyayi Tapak Menjangan. Ia yang sejak kecil akrab dengan kisah-kisah absurd tentang wali-wali Allah, tidak syak lagi menganggap Kyayi Tapak Menjangan sebagai salah seorang di antara kekasih-kekasih Allah. Ia semakin yakin bahwa lelaki yang mati dengan kehendaknya sendiri itu adalah kekasih Allah manakala ia menyadari betapa Kematian tersebut bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan demi menyelamatkan orang lain. Saat itulah ia ingin menguburkan jenasah Kyayi Tapak Menjangan dengan cara yang baik sebagaimana lazimnya orang-orang Kerala menguburkan alim ulama mereka. Namun, keinginannya itu tidak kesampaian karena warga dukuh Lemah Abang dan keluarga Kyayi Tapak Menjangan menyatakan akan menguburkan sendiri di tempat yang tidak diketahui orang. “Guru kami, Kyayi Tapak Menjangan, telah berwasiat: jika mati ia tidak ingin kuburnya diberi tanda. Ia tidak ingin diziarahi dan dijadikan sesembahan manusia,” ujar seorang warga, seolah menyindir Syaikh Abdullah Sambar Khan yang suka bermujahadah di kuburan-kuburan keramat.

Selain Ki Wanabaya dan Kyayi Tapak Menjangan, pengikut-pengikut Syaikh Lemah Abang yang terbunuh dalam peristiwa kekerasan yang dilakukan alim ulama Demak adalah Ki Bhisana, Ki Canthuka, Ki Pringgabhaya, Ki Ageng Panawangan, Kyayi Ageng Brati Lemah Putih. Kematian mereka tidak saja telah menyelamatkan dukuh-dukuh Lemah Abang, Lemah Putih, Lemah Ireng, dan Kajenar karena mereka semua mencegat alim ulama Demak dan pasukannya di luar dukuh, melainkan juga telah membuat berhenti kaki tangan Tranggana itu dalam menebar Kematian.

Tanpa ada yang menduga, ternyata Kematian sejumlah kepala dukuh Lemah Abang itu mengundang simpati luas di kalangan penduduk Nusa Jawa. Bibit-bibit kebencian terhadap alim ulama asing yang telah bertindak sewenang-wenang terhadap penduduk tumbuh semakin subur dan tak jelas menjalarnya. Jika pada awalnya kebencian itu hanya diarahan kepada para alim beserta pengikut bersenjatanya, belakangan kecaman, caci maki, umpatan, ejekan, dan olok-olok diarahkan kepada agama mereka. Di tengah hiruk kebencian penduduk itu terjadi sesuatu yang tak terduga-duga: para mualaf yang belum memahami secara baik ajaran Islam tiba-tiba banyak yang menyatakan tidak mau lagi mengikuti agama yang dianggapnya mengajarkan kejahatan kepada manusia itu. Mereka menyatakan kembali ke agama semula.

Di kuta Juwana, sejumlah pemuka masyarakat Cina muslim menyatakan kembali ke agama leluhur karena mereka tidak mau menodai tangan mereka dengan darah orang-orang tak bersalah. Tindakan itu diikuti sejumlah besar muslim pribumi yang juga menyatakan kembali ke agama leluhur. Tindakan penduduk Juwana itu mengundang kemarahan alim ulama Demak. Mereka menganggap tindakan itu sebagai kemurtadan yang harus diganjar dengan Kematian. Lalu, terjadilah pengejaran, penangkapan, dan pembunuhan terhadap penduduk Juwana yang dianggap telah murtad dari Islam. Tidak pedulu Cina tidak peduli penduduk asli, siapa di antara penduduk Juwana yang diketahui murtad digeret ke alun-alun untuk dijadikan tontonan dan kemudian dijagal beramai-ramai. Beberapa tajug yang diubah menjadi kelenteng dibakar. Pura-pura dan asrama-asrama pun dibakar. Semua yang dianggap terkait kemurtadan dibakar dan diratakan dengan tanah.

Penduduk yang ketakutan berbondong-bondong menyelamatkan diri ke hutan-hutan di pedalaman. Sebagian meminta perlindungan ke Wirasari dan Pengging, sebagian lagi kepada Yang Dipertuan Majapahit di Daha. Patih Mahodara yang marah mendapat laporan tentang pembantaian penduduk beragama Syiwa-Budha serta penghancuran sejumlah pura dan asrama di Juwana, segera mengirim satu detasemen pasukan. Dengan gerakan sangat cepat, pasukan asal Daha itu menyerang kuta Juwana. Alim ulama Demak dan pasukannya yang tak menduga bakal diserang mendadak, kelabakan dan berusaha menahan serangan tentara kafir Daha itu dengan segenap daya dan kuasa mereka. Namun, apalah arti perlawanan para petani, perajin, tukang, nelayan, penyadap enau, dan pedagang kecil yang dipersenjatai tombak dalam melawan prajurit-prajurit Daha yang terlatih. Dalam waktu tidak lama, kuta Juwana telah penuh mayat. Darah menggenang di mana-mana. Bahkan, seperti tidak puas membunuh alim ulama dan pengikut bersenjatanya, pasukan Daha yang dikirim Patih Mahodara membakar seluruh bangunan yang tegak di kuta Juwana sehingga seluruh kuta nyaris rata dengan tanah.

Seiring menyebarnya kabar serbuan pasukan Daha ke Juwana, di tlatah Pasir terjadi pergolakan. Pangeran Mangkubhumi, putera mahkota Prabu Banyak Belanak Yang Dipertuan Pasir, tiba-tiba mengangkat senjata bersama pengikutnya dengan didukung pendeta-pendeta Syiwa-Buda, seperti Ajar Carang Andul, Wiku Ragadana, Ajar Pohkombang, dan Binatang Karya. Perlawanan putera mahkota Pasir itu sendiri semula tidak diketahui karena serangan-serangan yang dilakukan alim ulama Demak dan pasukannya itu berlangsung di wilayah yang sangat luar dari Wirasabha, Manoreh, sampai Bocor. Namun, saat diketahui bahwa di balik penyerangan-penyerangan itu terdapat perintah Pangeran Mangkubhumi, tuduhan murtad pun buru-buru dialamatkan kepadanya. Namun, pangeran yang sudah muak dengan kekejaman yang dipamerkan-pamerkan alim ulama itu tidak peduli. Ia terus melakukan perlawanan bersenjata, meski harus menghadapi risiko kehilangan takhta yang diwariskan ayahandanya.

Sementara di Samarang, di tengah hiruk kembalinya para mualaf Cina ke agama leluhur, Raden Kaji Adipati Samarang yang sangat terpukul dengan kekalahan armada Japara di Malaka, atas saran guru ruhaninya, Syaikh Malaya, mengundurkan diri dari jabatan adipati Samarang. Ia digantikan oleh adiknya, Raden Ketib. Ia sadar dan paham pada nasihat guru ruhaninya bahwa cepat atau lambat, Tranggana akan semakin kuat dan dipastikan akan menggilas semua kekuatan yang mendukung Adipati Hunus. Itu sebabnya, demi menyelamatkan kadipaten yang dipimpinnya, ia mundur untuk digantikan adiknya. Lalu, putera Raden Sahun itu, cucu Ario Damar Palembang, diam-diam pergi meninggalkan Samarang dan tinggal di pedalaman, di perbatasan Pajang dan Mataram, yaitu di tempat yang disebut Tembayat. Ia menjadi guru suci di situ dan karena itu ia disebut orang sebagai Susuhunan Tembayat.

Hampir bersamaan dengan mundurnya Raden Kaji sebagai Adipati Samarang, di Pengging terjadi pengungsian besar-besaran warga muslim mualaf dari kalangan Sasak, Domba, Kewel, dan Dapur ke Blambangan dan Bali. Penduduk kalangan bawah itu rupanya sangat ketakutan karena tersebar kabar burung yang menyatakan bahwa siapa saja di antara penduduk yang menjalankan sembahyang tiga waktu akan dituduh pengikut Syi’ah dan akan disembelih oleh alim ulama Demak. Meski tidak paham apa yang dimaksud Syi’ah dan apa yang bukan Syi’ah, kisah menyangkut pembantaian pengikut Syi’ah beberapa tahun silam telah membuat mereka ketakutan. Mereka beramai-ramai menyelamatkan diri meninggalkan kediamannya. Mereka dipimpin oleh tiga bersaudara pemuka-pemuka keluarga Bajul, yang menjadi pasukan perairan (angreyok) Pengging, yaitu KiReyok Bhaya, Ki Kawuk Bhaya, dan Ki Lendang Bhaya. Melalui jaringan keluarga Bajul yang menguasai sungai dan pantai, para pengungsi berhasil mencapai tanah Blambangan dan sebagian lagi melanjutkan perjalanan ke Bali. Di Blambangan mereka dilindungi oleh Ki Juru, kakek Prabu Andayaningrat yang menjadi pertapa di gunung Argapura. Sedang di Bali mereka meminta perlindungan kepada Danghyang Nirartha, murid Syaikh Siti Jenar yang menjadi guru suci di Bali.

Sementara, mengetahui reaksi kebencian penduduk terhadap alim ulama Demak dan pasukan bertombaknya, Tranggana buru-buru memerintahkan mereka untuk kembali ke Demak. Kebijakannya menarik alim ulamanya ke Demak tampaknya terkait dengan laporan-laporan yang menyatakan sejak tersebarnya kabar keberanian pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang menghadapi kematian, penduduk dari berbagai tempat selalu terlihat datang berduyun-duyun ketika mendengar kabar akan adanya perdebatan antara pemuka Lemah Abang dan alim ulama Demak. Bahkan yang berkembang kemudian terdapat laporan yang mengatakan bahwa prajurit-prajurit dari Kadipaten Samarang, Tetegal, Rembang, Tedunan, Pati, Kendal, dan Siddhayu diam-diam menyelundup ke desa-desa di sekitar dukuh Lemah Abang dengan menyamar sebagai penduduk. Mereka mengawasi semua gerak-gerik alim ulama asal Demak beserta satuan-satuan bersenjatanya. Keadaan itulah yang membuat Tranggana memutuskan alim ulamanya kembali ke Demak. Pada saat itu pula ia semakin yakin jika dukuh-dukuh Lemah Abang adalah bagian dari kekuatan yang mendukung kekuasaan Adipati Hunus. Lantaran itu, di balik titah penarikan mundur para alim dan pasukannya itu, ia diam-diam menyiapkan kemungkinan-kemungkinan untuk menghancurkan dukuh-dukuh penggalang perlawanan seperti Lemah Abang itu jika keadaan sudah memungkinkan.

Dukuh Lemah Abang baginya merupakan ancaman besar. Sebab, pemuka-pemuka dukuh tersebut tidak saja telah mengajarkan kepada penduduk tentang kesederajatan, kesamaan hak, kebebasan berpikir, kebebasan memilih pemimpin, dan gagasan-gagasan yang sangat berbahaya bagi sebuah kekuasaan, melainkan telah memberi contoh pula bagaimana mengorbankan nyawa untuk melawan kekuasaan yang semena-mena.

19. Keterlepasan Ikatan-Ikatan Citra Diri

Seperti tak peduli dengan hiruk di sekitarnya, Abdul Jalil berenang mengarungi lautan waktu yang luas seolah tanpa batas. Sesekali ia menoleh ke belakang, menyaksikan pulau duniawi yang tampak semakin samar di kejauhan. Ia merasakan betapa semua hal yang telah disaksikan matanya dan didengar telinganya tentang pulau duniawi telah semakin menjauh darinya. Cerita tentang Kematian murid-muridnya terkasih yang terbunuh dengan gagah dan pemuka-pemuka agama yang dituduh sesat dan murtad telah semakin kabur. Namun demikian, ia masih merasakan ada sesuatu yang menempel pada dirinya yang membuatnya terasa berat sehingga sering kali ia tenggelam ke dasar samudera waktu. Seperti orang berenang kehabisan udara dan terlalu banyak meminum air, ia merasa megap-megap menggapai-gapaikan tangan dan menjejak-jejakkan kaki sekuat kuasa supaya tidak tenggelam. Saat berada di antara dasar dan permukaan, ia baru menyadari jika pikiran dan jiwanya masih digelayuti oleh jaring-jaring ingatan tentang keberadaan dirinya sebagai manusia yang memiliki ikatan-ikatan dengan tubuh dan jiwa. Ya, jaring-jaring ingatan tentang keberadaan diri. Lalu, seperti kapas di dalam karung yang menjadi berat karena terkena air, begitulah ia merasakan jiwanya menjadi berat digelayuti oleh ikatan-ikatan citra diri manusiawi.

Sadar untuk menjadi yang sendiri (fard) ia harus melepas semua ikatan citra diri manusiawi, Abdul Jalil buru-buru melepas surban, jubah, dan terompah yang dikenakannya. Lalu, seperti layaknya orang kebanyakan, ia mengenakan celana hitam, baju hitam, ikat pinggang lebar dari bahan kulit, destar batik kawung warna hitam, dan bertelanjang kaki tanpa terompah. Dengan penampilan barunya itu, ketika ia bersembahyang di Masjid Agung Demak atau berjalan di jalanan dukuh Lemah Abang, ia tidak dikenal lagi oleh orang-orang yang pernah mengenalnya. Kumis dan cambangnya yang melebat hampir menutupi wajah semakin menjadikan dirinya tak dikenal. Ia merasa lebih leluasa karena ia sudah bukan lagi seorang guru ruhani. Ia hanya manusia biasa yang sedang menunggu kesendirian menjadi yang sendiri. Dengan tidak dikenalnya dirinya sebagai seseorang yang pernah termasyhur, ia merasa lebih leluasa dalam mendengar dan melihat segala sesuatu yang menjadi bagian dari citra dirinya yang harus dilepaskannya.

Ketika suatu sore, dengan penampilan yang baru, Abdul Jalil berjalan di bekas ksetra di Kaliwungu di timur kuta Demak, ia melihat seorang laki-laki duduk sendirian di bawah sebatang pohon besar. Ketika didekati, pahamlah a jika laki-laki itu adalah pelaut Potugis yang pernah dikenanya di Kozhikode beberapa tahun silam: Francisco Barbosa. Dilihat dari penampilannya dengan jubah hitam berenda benang emas dan surban hitam dihias bulu merak, jelas menunjuk bahwa pelaut Portugis itu tidak saja telah memeluk agama Islam, tetapi juga menduduki jabatan terhormat di istana. Setelah mengamati beberapa bentar, ia mendekati Francisco Barbosa dan menyapa.

“Assalamualaikum.”

“Wa alaikum salam warahmatullah.”

“Como esta usted?” Abdul Jalil menanya kabar dalam bahasa Spanyol.

“Muy bien, gracias,” seru Barbosa terkejut dan bertanya balik, “Habla usted Espanol?”

“Solo hablo un poco de Espanol,” Abdul Jalil tertawa menyatakan sedikit bicara dalam bahasa Spanyol.

Francisco Barbosa terkejut dan menatap tajam Abdul Jalil. Ia seperti mengingat-ingat sesuatu. Setelah beberapa jenak diam, tiba-tiba ia tertawa sambil menyalami Abdul Jalil dan berkata penuh kegembiraan dalam bahasa Jawa yang kurang fasih. “Bapa pastilah Datuk Abdul Jalil, padre sacerdote de Jaoa. Saya tidak akan pernah lupa suara Bapa.”

“Apakah nama Tuan masih Francisco Barbosa?”

“Sejak memeluk Islam lima tahun lalu, saya ganti nama: Zainal Abidin. Tapi orang-orang memanggil saya Khwaja Zainal.”

Setelah saling mengabarkan keadaan masing-masing, Abdul Jalil dan Khwaja Zainal berbincang tentang berbagai hal. Dari dialah Abdul Jalil mengetahui jika barang tiga bulan silam Syah Ismail, sang tuhan, penguasa Persia, telah dikalahkan oleh Sultan Turki, Salim, dalam pertempuran di Chaldiran pada 23 Agustus 1514. “Syah Ismail lari terbirit-birit ke Daghestan meninggalkan haremnya yang cantik. Sang mahdi telah kalah oleh si kejam Salim,” kata Zainal Abidin.

“Apakah dalam kemenangannya anak Bayazid itu melumuri tangannya dengan darah?” tanya Abdul Jalil.

“Menurut kabar, si kejam Salim telah menjagal 40.000 orang kaum bid’ah pendukung Syah Ismail.”

Abdul Jalil menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering. Di benaknya tiba-tiba berkelebat bayangan keganasan Salim, sultan Turki itu tertawa-tawa menyaksikan musuh-musuhnya dijagal prajuritnya. Setelah menarik napas berat beberapa kali, ia berkata, “Bagiku, makhluk seperti Salim dan Ismail bukanlah penganut ajaran Muhammad Saw. yang kaffah. Mereka hanya menjadikan Islam sebagai adat warisan untuk menutupi agama mereka yang sebenarnya, yaitu agama purwakala yang di dalam memuja Tuhan mensyaratkan penyembelihan korban manusia,” kata Abdul Jalil.

“Kenapa Bapa berpandangan seperti itu? Bukankah mereka itu kalau beribadah di masjid?”

“Ya, mereka bersembahyang di masjid hanya sebagai penanda formal bahwa mereka muslim. Sebab tempat ibadah mereka yang sesungguhnya adalah mezbah tidak kasatmata yang disebut madzhab. Di atas madzhab-madzhab yang tak kasatmata itulah mereka menyembelih manusia yang mereka anggap mengotori agama Tuhan. Mereka menganggap tindakan biadab menjagal manusia itu sebagai bagian dari jihad menyucikan agama Allah. Mereka tidak sadar diri siapa sesungguhnya mereka itu. Apa hak mereka menyucikan agama Tuhan? Siapa yang memberi mereka wewenang untuk menjalankan hak itu?” kata Abdul Jalil.

“Saya paham jalan pikiran Bapa. Tapi terus terang, belakangan ini saya justru gelisah dengan tindakan sultan Jawa yang membayangkan diri sebagai Salim.”

“Maksud Tuan, Tranggana?” gumam Abdul Jalil. “Apakah dia memimpikan jadi sultan sebesar Salim?”

Khwaja Zainal mengangguk dengan muka murung.

“Berarti, dia harus menjagal orang-orang yang dia anggap bid’ah sebagaimana Salim menjagal orang-orang penganut Syi’ah,” kata Abdul Jalil.

“Itu yang sedang saya risaukan, Bapa. Dalam pertemuan dengan para alim kaki tangannya, sultan telah merencanakan pembasmian terhadap kelompok penduduk yang disebut kaum Abangan.”

“Kaum Abangan?” gumam Abdul Jalil mengerutkan kening, “Siapa mereka itu?”

“Itu sebutan untuk menandai penduduk yang mengikuti ajaran Syaikh Lemah Abang. Katanya, Syaikh Lemah Abang itu guru agama yang sesat karena mengajarkan manusia menjadi tuhan dan menyuruh pengikut-pengikutnya bunuh diri. Tapi saya tidak yakin dengan tuduhan itu. Menurut saya, itu hanya rekayasa.”

“Kenapa Tuan berpendapat begitu? Kenapa Tuan tidak percaya?”

“Kalau Syaikh Lemah Abang memang menyuruh pengikut-pengikutnya bunuh diri, kenapa sultan repot-repot menbentuk satuan-satuan bersenjata untuk menumpas mereka? Bukankah dengan dibiarkan maka pengikut Syaikh Lemah Abang akan habis sendiri karena bunuh diri semua?”

“Tuan benar. Tapi tidak semua orang berpikiran cerdas seperti Tuan.”

“Saya juga cemas mendengar kabar datangnya pengungsi-pengungsi dari Persia di Udung, Pati, Rembang, Tuban, dan Gresik. Saya khawatir sultan yang ingin seperti Salim itu akan membantai mereka, karena kemarin alim ulama asal Kerala dan Malaka telah memanas-manasi sultan dengan kabar persekutuan Syah Ismail dengan Portugis.”

“Apakah Syah Ismail memang bersekutu dengan Portugis?”

“Ya Bapa. Ismail telah mengirim utusan kepadma gubernur Portugis di India, Alfonso d’Albuquerque untuk meminta bantuan melawan Salim dalam pertempuran di Bahrain dan al-Qathib serta menindas pemberontakan di Baluchistan dan Makran. D’Albuquerque telah menyanggupi untuk membantu Ismail dalam melawan kekuatan militer Salim.”

Abdul Jalil diam. Ia menangkap sasmita bahwa badai Kebinasaan masih akan terus berlangsung dengan ganas, seolah mengaitkan gemuruh ambisi Tranggana dengan keterlepasan-keterlepasan dirinya dari keterikatan-keterikatan yang melekat pada citra dirinya. Kabar tentang kekalahan Syah Ismail, sang tuhan, semakin memperjelas sasmita Kebinasaan yang sudah ditangkapnya. Sebab, seiring menyingsingnya keagungan kekuasaan Syah Ismail, yang ternyata seorang manusia biasa yang bisa kalah perang, secara langsung atau tidak langsung akan berpengaruh kuat terhadap perubahan tatanan yang berlaku di Nusa Jawa. Maksudnya, jika sebelum itu lambang kewalian dalam wujud Majelis Wali Songo sebagai pemimpin tertinggi umat (wilayah al-ummah) harus dimunculkan sebagai lembaga kewalian yang diketahui manusia, sebagai lambang perlawanan terhadap Syah Ismail dan kaki tangannya yang menafikan keberadaan wali Allah, maka dengan tumbangnya kisah kemahdian dan ketuhanan cucu Syaikh Saifuddin Ishaq itu, keberadaan lembaga kewalian seperti Majelis Wali Songo secara hakiki tidak dibutuhkan lagi. Keniscayaan tentang wali Allah akan kembali menjadi sesuatu yang bersifat rahasia dari pengetahuan manusia. Itu berarti, secara ruhaniah kekuasaan Tranggana akan menjadi tidak terkendali karena tidak ada lagi lembaga ruhani berwibawa yang membatasinya. Dan salah satu sasaran yang akan dimangsa ambisi Tranggana adalah pengikut-pengikut yang sudah dikelompokkan sebagai kaum Abangan, pengikut Syaikh Lemah Abang.

Dengan hati gundah Abdul Jalil menjemput istri dan puteranya di kediaman Gagak Cemani. Namun, baru saja ia masuk ke dalam rumah Gagak Cemani, ia sudah diberi tahu oleh pengikutnya itu bahwa beberapa saat yang lalu di pantai Demak dekat muara telah terjadi pembantaian terhadap orang-orang berkulit merah yang tinggal di situ barang dua pekan silam. Entah siapa pelakunya, ungkap Gagak Cemani, menurut kabar yang didengarnya orang-orang tersebut adalah pengungsi dari negeri Persia. “Kabar yang kami dapat dari Masjid Agung Demak, orang-orang kulit merah yang terbunuh itu diduga prajurit-prajurit Persia yang menyamar dan bertujuan menyerang sultan,” kata Gagak Cemani.

Abdul Jalil diam. Ia tahu, apa yang dicemaskan Khwaja Zainal Abidin tentang para pengungsi Syi’ah telah mewujud menjadi kenyataan. Pembunuhan demi pembunuhan terus berlangsung seolah tak diketahui kapan berakhirnya. Bahkan, saat ia akan mengajak istri dan puteranya meninggalkan kuta Demak, ia mendapat kabar yang sangat mengejutkan: Abdul Qahar bin Abdul Malik Baghdady, saudara iparnya yang membantu Raden Qasim mendakwahkan Kebenaran Islam di Pamwatan, telah dibunuh beserta belasan orang pengikutnya. Padahal, saat itu istri Abdul Qahar sedang hamil lima bulan. Sepeninggal suaminya, istri Abdul Qahar tinggal di Kaninyan Sendang, pertapaan seorang bhairawi yang sangat ditakuti di Pamwatan. Istri Abdul Qahar dapat terhindar dari pembunuhan karena dilindungi oleh sang tapaswijana (pertapa perempuan) yang dikenal penduduk dengan nama masyhur: Hyang Nini Durgandini.

Mengetahui nasib malang yang dialami Abdul Qahar, terutama istrinya yang sedang hamil, ingin sekali Abdul Jalil pergi ke Pamwatan dan menjemput istri saudara iparnya itu untuk dibawa ke Caruban. Namun, ia segera sadar bahwa ia harus melepaskan semua ikatan yang “menempel” pada dirinya baik ikatan persahabatan, persaudaraan, kekerabatan, kekeluargaan, bahkan akhirnya ikatan keakuan diri pribadi. Ia menekan segala kilasan pikiran dan sentakan perasaan yang terkait dengan nasib istri Abdul Qahhar yang mengandung anak yatim yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya itu. Ia memasrahkan semua urusan yang terkait dengannya kepada Yang Mahatunggal Tak Terbandingkan. Saat sebuah kapal jung berangkat ke barat, ia buru-buru mengajak istri dan puteranya menumpang dengan tujuan Caruban. Sepanjang perjalanan ia terus dibayangi nasib bayi yatim yang tidur lelap di perut ibundanya. “Ya Allah, Engkau berkali-kali menunjukkan kepadaku kuasa dan kebesaran-Mu dengan melindungkan mereka yang tak berdaya di bawah naungan manusia-manusia peminum darah,” kata Abdul Jalil dalam hati.

Ketika kapal jung yang ditumpanginya baru saja bersandar di dermaga pelabuhan Muara Jati, Abdul Jalil sudah ditunggu oleh sesuatu yang terkait dengan keterlepasan-keterlepasan ikatan citra dirinya. Begitu akan turun dari kapal jung yang membawanya, ia mendengar juru tambat dan awak kapal berbicara tentang sesuatu yang tidak terduga-duga dan membuatnya terkejut: putera Syaikh Maulana Jati Susuhunan Cirebon Girang, Pangeran Bratakelana, telah diserang oleh sekawanan orang tak dikenal saat berlayar dari Demak ke Caruban, tepatnya di lepas pantai Gebang. Pangeran Bratakelana beserta semua pengawalnya terbunuh. Jenasah Pangeran Bratakelana ditemukan di pantai Mundu dan dimakamkan di sana.

Abdul Jalil mengatupkan mulut rapat-rapat mendengar pembicaraan itu. Meski hasrat hatinya berkobar ingin bertanya tentang kabar Kematian putera Syarif Hidayatullah itu, ia tindas sekuat daya hasrat itu sampai ia rasakan dadanya sesak. Kilasan-kilasan kenangan saat ia menggendong dan bermain dengan pangeran yang memiliki panggilan Gung Anom itu berkelebatan memasuki ingatannya. Pangeran kecil yang setiap kali ia singgah di Giri Amparan Jati selalu minta gendong itu kini telah kembali ke hadirat-Nya. Meski sadar bahwa segala sesuatu adalah tergantung mutlak pada kehendak-Nya, rangkaian ingatan yang mengikat kenangannya dengan seseorang yang pernah dekat terasa sangat menyesakkan dada. Untuk membebaskan diri dari kegundahan, ia segera menenggelamkan keakuannya ke dalam Keakuan Yang Mahaaku.

Ketika singgah di Pesantren Giri Amparan Jati, Abdul Jalil melihat suasana berkabung menyelimuti. Namun, saat ia akan masuk ke Ndalem ternyata tidak seorang pun di antara mereka yang berpapasan mengenalnya. Rupanya, penampilannya yang berubah telah menjadikannya sebagai orang seorang yang tak lagi dikenali oleh mereka yang masih terikat pada bentuk penampilan luar. Saat itu ia tiba-tiba sadar bahwa sebaiknya ia tidak ke Ndalem karena pasti akan menemui Syarifah Baghdad, ibunda Pangeran Bratakelana, yang tentu sangat berduka. Ia berbalik arah, naik ke atas pemakaman Syaikh Datuk Khafi.

Di depat makam ia melihat Syarif Hidayatullah sedang berbincang-bincang dengan Bardud, puteranya, yang sudah terlihat dewasa. Saat mereka melihatnya, mereka serentak mengungkapkan keheranan melihat perubahan yang terjadi pada dirinya. Mereka heran melihat penampilannya yang seperti petani desa. Sebelum ditanya ini dan itu, ia memberi tahu mereka tentang jalan hidup yang akan dilaluinya yang mengharuskannya uzlah meninggalkan Kehidupan duniawi. “Saat turun dari kapal tadi, aku terkejut mendengar kepergian cucuku yang memenuhi panggilan-Nya. Tapi, seberat apa pun kita harus ikhlas melepasnya. Sebab, dia yang berasal dari Dia pasti kembali kepada-Nya. Kita semua sedang menunggu giliran. Yang membedakan di antara kita adalah cara dan waktu kembali. Hendaknya engkau ketahui bahwa aku pun sekarang ini sedang mengalami detik-detik kembali kepada-Nya,” kata Abdul Jalil sambil meminta kepada Syarif Hidayatullah agar kehadirannya kembali ke Caruban dirahasiakan dari siapa pun kecuali keluarganya. “Biarlah orang-orang perlahan-lahan melupakan keberadaanku. Biarlah anak Adam menjadi ‘adam (tiada) dan kembali pada ‘Adam al-Muhith (Ketiadaan Yang Maha Meliputi) tanpa diketahui oleh siapa pun di antara makhluk. Biarlah wujud khayalan (wujud al-khayali) ini terserap ke dalam Wujud Hakiki (Wujud al-Haqiqi).”

“Kami paham akan apa yang Pamanda alami,” kata Syarif Hidayatullah dengan suara tersekat di tenggorokan, “Tapi, kami berharap sudilah Pamanda meninggalkan kepada kami warisan wejangan yang akan kami jadikan pusaka dalam mengarungi samudera Kehidupan ini.”

Abdul Jalil menatap tajam Syarif Hidayatullah. Lalu, dengan suara penuh kasih ia berkata, “Pertama-tama, sebagai penegak Tauhid, hendaknya engkau tidak mendekat tetapi tidak juga menjauhi kekuasaan Yang Dipertuan Demak. Sebab, Tranggana yang telah membeli iman dan agama alim ulama dengan sepetak tanah dan hadiah-hadiah serta jabatan duniawi itu adalah bagian dari ujian-Nya pada manusia beriman. Tranggana telah menjadi sarana penyebab bagi banyak ulama pewaris Nabi (waratsat al-anbiya’) yang berubah menjadi pedagang agama dan tukang jagal bertopeng kesucian. Tranggana telah banyak menyesatkan alim ulama. Lantaran itu, jangan engkau dekat dan jangan pula engkau jauhi dia. Hendaklah engkau mengambil jarak dengannya. Sebaliknya, jangan dekati siapa pun di antara alim ulama yang telah menukar iman dan agamanya demi segenggam bara api dunia yang mereka kira harta abadi. Sebab, mereka itu adalah wakil al-‘Alim di muka bumi yang telah mengkhianati al-‘Alim Yang Diwakilinya. Jauhi mereka! Hindari mereka!”

“Bagaimana dengan Majelis Wali Songo?” tanya Syarif Hidayatullah, “Apakah harus kami tinggalkan pula?”

“Sesungguhnya, salah satu alasan dibentuknya Majelis Wali Songo adalah sebagai perlambang untuk menghadapi keyakinan sesat Syah Ismail beserta pengikut-pengikutnya. Majelis Wali Songo dibentuk beberapa waktu sebelum Syah Ismail berkuasa. Lantaran itu, ketika Syah Ismail dan pengikut-pengikutnya menafikan keberadaan wali-wali Allah dan dengan tindak kekerasan membongkar kuburan-kuburan para wali di wilayah kekuasuannya, dengan kekejaman menjijikkan memburu para guru tarekat dan orang-orang yang meyakini keberadaan wali Allah, dan dengan doktrin-doktrin yang menyesatkan menghancurkan keyakinan manusia tentang keberadaan wali-wali Allah, maka keberadaan Majelis Wali Songo menjadi keniscayaan tak tersanggah. Sehingga, pada saat al-Waly menyingsing di tanah Persia dalam citra al-Bathin maka di Nusa Jawa yang sudah ditebari tanah Karbala oleh Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi, al-Waly terbit dalam citra azh-Zhahir. Tetapi kini, setelah tuhan jejadian itu dikalahkan Salim, keberadaan Majelis Wali Songo sudah tidak lagi menjadi keniscayaan karena sang tuhan yang berfirman tentang ketiadaan wali-wali Allah itu telah lari tunggang-langgang dihajar manusia kejam bernama Salim. Kewalian (wilayah) kembali menjadi sesuatu yang bersifat rahasia dan tersembuny dari manusia. Hanya mereka yang memahami hakikat keseimbangan al-Bathin dan azh-Zhahir yang dapat mengetahui rahasia tentang al-Waly dan wilayah beserta wali-wali.

“Engkau tentu telah melihat bagaimana aku melepas pakaian dan semua atribut diriku sebagai seorang alim. Sebab, aku telah malu mengenakannya. Malu. Malu. Seribu kali malu. Aku tidak tahan menyaksikan setiap mata melihat pakaian ulama yang aku kenakan dengan pandang curiga dan ketakutan, karena semua menduga siapa pun yang berpakaian alim ulama adalah tukang jagal bertopeng agama. Semua menangkap citra keulamaan sebagai Yamadipati, Sang Maut. Sehingga, dengan pakaian itu aku tidak bisa bergerak ke mana-mana. Sungguh memalukan pakaian keulamaan saat ini, karena siapa pun di antara manusia yang mengenakan jubah, destar, surban, terompah, tasbih, dan kitab suci akan dipandang oleh semua mata sebagai kaki tangan sultan. Memalukan. Memalukan. Citra wakil al-‘Alim di muka bumi sudah direndahkan sebagai citra tukang-tukang sihir Fir’aun yang tidak memiliki kemampuan lain kecuali menghasut dan menebar fitnah menyesatkan. Sungguh memalukan citra al-‘Alim yang telah menjadi citra kaum musyrik dan munafik, yaitu kaum yang di mulut mengaku-aku hamba Allah, tetapi dalam kenyataan bersujud di kaki sultan. Memalukan.”

“Lantaran itu, o engkau yang terkasih, tegakkan Tauhid dengan sekuat kuasamu tanpa keharusan engkau menampilkan diri sebagai ulama dalam bentuk ragawi. Lebih baik engkau menjadi sultan secara zahir, tetapi alim secara batin, daripada sebaliknya. Tidakkah engkau pernah mendengar kisah guru terkasihku, Ahmad Mubasyarah at-Tawallud? Dia adalah saudagar kaya raya secara zahir, tetapi alim secara batin. Sebaliknya, alim ulama sekarang ini secara zahir alim, tetapi secara batin adalah saudagar. Itu sebabnya, waspadalah engkau sekarang ini kepada siapa pun di antara manusia yang muncul di depanmu dengan mengenakan pakaian keulamaan. Pandanglah mereka dengan bashirah sehingga engkau mengetahui siapa mereka sejatinya.”

“Kami akan pusakakan wejangan Paman,” kata Syarif Hidayatullah.

Ketika Abdul Jalil akan beranjak pergi, Syarif Hidayatullah bertanya, “Apakah Paman nanti singgah dahulu ke Kalijaga?”

“Ke Kalijaga? Ada apa?” tanya Abdul Jalil tak paham.

“Zainab,” kata Syarif Hidayatullah menjelaskan, “Puteri Paman, sekarang tinggal di Kalijaga mendampingi suaminya yang menjadi guru suci di sana.”

“Raden Sahid sudah mengajar?”

“Pengikut-pengikut Paman yang kebingungan dengan kabar pembunuhan terhadap pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang, berdatangan ke Kalijaga dan menjadikan dia sebagai pengganti Paman. Tidak hanya orang-orang dari Caruban yang berguru kepadanya, bahkan mereka yang mengaku pengikut Paman dari Luragung, Bojong, Tetegal, Pasir, Kendal pun berdatangan ke Kelijaga.”

“Semua sudah diatur oleh-Nya. Biarlah terjadi apa yang harus terjadi sesuai kehendak-Nya.”

“Apakah Paman sudah tahu jika Paman telah dikaruniai tiga orang cucu, si kembar Watiswari dan Watiswara serta si bungsu Wertiswari?”

“Aku sudah punya tiga orang cucu? Watiswari, Watiswara, dan Wertiswari,” gumam Abdul Jalil. “Watiswari dan Watiswara bermakna penguasa angin. Wertiswari bermakna penguasa sumbu lampu. Sungguh perlambang jalan ruhani yang baik nama-nama itu. Berapa usia mereka sekarang?”

“Yang kembar sudah sembilan tahun. Yang bungsu tujuh tahun. Tetapi, karena ketiga orang cucu Paman itu dianggap keluarga ratu Caruban, maka sebagaimana ayahanda mereka yang dianugerahi gelar Pangeran Kalijaga dan kakeknya dianugerahi gelar Pangeran Lemah Abang, Watiswari dianugerahi gelar Nyi Mas Ratu Mandapa, Watiswara dianugerahi gelar Pangeran Panggung, dan yang bungsu dianugerahi gelar Nyi Mas Ratu Campaka,” kata Syarif Hidayatullah.

Abdul Jalil diam dan menarik napas panjang berkali-kali. Ia merasakan sesuatu yang berat sedang menyesaki dadanya. Sebagai seorang ayah dan sekaligus kakek, nalurinya menarik-narik hasratnya untuk cepat-cepat melangkahkan kaki ke Kalijaga. Namun, ia segera sadar bahwa jalan hidup yang harus dilewatinya akan penuh ditandai oleh keterlepasan-keterlepasan segala sesuatu yang berkaitan dengan citra dirinya, sampai ia benar-benar sendiri tidak memiliki apa pun dan tidak dimiliki oleh siapa pun (la yamliku syaian wala yamlikuhu syaiun) kecuali Yang Mahatunggal. Ia sadar, betapa setiap keterlepasan adalah sesuatu yang menyakitkan baik bagi dirinya maupun bagi yang terlepas dengannya. Lantaran alasan-alasan itu, setelah memberi pesan secukupnya kepada Syarif Hidayatullah, ia mengajak istri dan anaknya, Fardun, meninggalkan Pesantren Giri Amparan Jati.

20. Keterlepasan Nafs-Nafs

Setelah singgah di Pekalifahan untuk berpamitan, Abdul Jalil dengan istri dan anak berjalan menuju sebuah hutan bambu yang terletak di selatan dukuh Lemah Abang. Di situ, seorang diri ia mendirikan gubuk berdinding bambu beratap daun kawung. Ia tinggal di gubuk itu bersama istri dan anak sebagai orang kebanyakan, bukan guru suci, bukan sesepuh dukuh, bukan pelopor pembaharuan, dan bukan pula seseorang yang pernah dianggap berjasa kepada masyarakat. Sebagaimana layaknya orang kebanyakan, dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan istri dan anaknya, Abdul Jalil membuka sepetak lahan untuk berladang. Pagi-pagi sekali, usai sembahyang subgih, ia sudah terlihat di ladang mengayunkan cangkul atau membuat alat-alat dapur dari bahan bambu dan tempurung kelapa, membuat kopiah rajutan, atau menganyam tikar pandan yang akan dijual ke pasar. Hari-hari hidupnya benar-benar dilaluinya sebagai orang kebanyakan tanpa atribut dan tanpa gelar apa pun. Ia bukan orang berkelebihan yang pantas disebut hormat dengan julukan Kangjeng Syaikh, Susuhunan, Syaikh Datuk, Dang Guru Suci, Pangeran, atau Sang Pandita Suci. Ia adalah Abdul Jalil. Ia adalah Pak Bardud. Ia adalah orang kebanyakan tak dikenal yang sedang menghabiskan hari-hari hidupnya untuk menunggu datangnya ajal. Ia adalah orang tua yang sedang mempersiapkan pelepasan segala sesuatu yang melekat pada dirinya untuk dipasrahkan utuh kepada Sang Pemilik Sejati.

Sekalipun sejak awal ia menyadari bahwa dengan menempatkan dirinya sebagai orang kebanyakan maka akan memudahkannya melampaui tahap-tahap keterlepasan-keterlepasan ruhani, Abdul Jalil tetap merasakan tekanan-tekanan berat menghantam jiwanya manakala ia dihadapkan pada kuatnya desakan-desakan keinginan yang mendorong-dorong dan menarik-narik hasrat jiwanya untuk berbagi keberlebih-kelimpahan kepada sesama. Sebagai orang yang sudah terbiasa berbagi keberlebih-kelimpahan, ia benar-benar merasakan suatu siksaan ketika berusaha keras menutup dan membalikkan genggaman tangan agar keberlebih-kelimpahannya terbendung dan tidak mengalir a keluar. Di tengah tekanan-tekanan jiwanya yang sangat menyiksa itu, ia merasakan sesuatu membakar hatinya, ketika tanpa terduga-duga muncul seorang laki-laki yang terluka parah, mengharap uluran tangannya.

Kemunculan laki-laki terluka itu sangat aneh. Tanpa diketahui darimana asalnya, tiba-tiba dia muncul dengan langkah terseok-seok dengan wajah menyeringai kesakitan. Tanpa terduga-duga, dia tersungkur di depan pintu gubuk sambi mengerang kesakitan. Dia meminta pertolongan dengan ratapan mengharu biru. Abdul Jalil yang saat itu berada di dalam gubuk bersama istri dan anaknya tersentak menyaksikan pemandangan menyedihkan itu. Ia merasakan jiwanya ditarik-tarik oleh keinginan kuat untuk memberikan pertolongan kepada laki-laki malang tersebut. Namun, secepat itu ia sadar bahwa tindakannya menolong orang malang itu akan mendatangkan sesuatu yang selama ini dihindarinya: membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, terutama kebiasaan dalam mengobati orang. Dengan menolong, ia akan memberi peluang untuk menjadikan dirinya sebagai berhala bagi manusia. Ia sadar bahwa dirinya sudah memutuskan untuk benar-benar menghindari orang-orang agar tidak ada lagi yang mengenalnya, baik sebagai Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Siti Jenar, Susuhunan Binang, Syaikh Sitibrit, atau Pangeran Kajenar, nama-nama yang dikenal orang memiliki daya linuwih dan kekeramatan-kekeramatan. Namun, hasrat kuat dari kedalaman dirinya untuk menolong mereka yang membutuhkan terus menggelegak dahsyat di relung-relung jiwanya, sehingga ia merasakan jiwanya sangat tersiksa. Semakin kuat ia berusaha menahan-nahan dan membendung hasrat menolongnya, semakin ia rasakan jiwanya terkoyak-koyak oleh rasa sakit tak tertahankan.

Ketika Abdul Jalil masih dibingungkan oleh hasrat menolong dan hasrat menahan diri untuk tidak menolong, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ratapan laki-laki terluka itu, yang terdengar memilukan tetapi penuh getar kemarahan, “Kenapa engkau tiba-tiba menjelma menjadi makhluk yang begitu kejam dan tidak memiliki belas kasih, o hamba Allah? Apakah hatimu sudah berubah menjadi batu sehingga tidak sedikit pun tergerak untuk menolong sesamamu? Kenapa engkau ini, o engkau yang terkasih dan selalu berbagi keberlebih-kelimpahan?”

Mendengar ratapan laki-laki malang itu, Abdul Jalil bergegas keluar dari gubuknya. Di luar, ia melihat laki-laki itu meliuk-liuk kesakitan sambil terus mengerang-erang. Namun, Abdul Jalil tidak sedikit pun merasa kasihan. Sebaliknya, dengan bentakan keras ia menghardik, “Rupanya engkau setan. Engkau akan memperdaya aku dengan siasat licikmu memanfaatkan kelemahanku. Engkau datang meratap meminta tolong. Jika aku menolongmu, engkau akan sebarkan kepada manusia jika aku adalah titisan Tuhan. Lalu, manusia datang beramai-ramai menyembahku sebagai berhala. Sungguh keji siasatmu. Sekarang pergilah engkau dari pedalamanku sebelum kutimpuk dengan batu.”

Laki-laki malang yang terluka dan tersungkur di depan gubuk itu tiba-tiba bangkit. Dengan bersungut-sungut ia berkata, “Bagaimana engkau tahu jika aku adalah aku, o Abdul Jalil?”

“Aku tahu engkau adalah engkau, karena engkau adalah setan di pedalamanku,” kata Abdul Jalil tertawa, “Aku lebih mengenalmu daripada engkau mengenalku. Ketika citra bayanganmu engkau sungkurkan di depan gubukku dalam wujud laki-laki terluka yang minta dikasihani, aku segera tahu bahwa engkau sedang berusaha memperdayaku. Engkau mau memelesetakan aku dari jalanku. Sekarang, pergilah engkau dari pedalamanku! Pergi!”

Seberkas cahaya merah tiba-tiba melesat dari mulut Abdul Jalil dan dengan kecepatan kilat menyambar tubuh laki-laki yang berdiri terperangah di depan gubuk. Terdengar jeritan panjang di tengah suara dentuman. Secara ajaib tubuh laki-laki itu menggelepar-gelepar dalam kobaran api yang menjilat-jilat ke angkasa. Dalam beberapa saat, tubuh itu sudah terpanggang menjadi setumpuk arang. Namun, secara ajaib tumpukan arang itu berubah menjadi seekor ular belang warna kuning, hitam, putih dan merah. Kemudian, dengan gerakan cepat laksana sambaran kilat, ular itu sekonyong-konyong melesat dan membelit leher Abdul Jalil erat-erat. Abdul Jalil terpekik kaget. Tanggannya menggapai-gapai berusaha menarik ular dari lehernya dan melemparkannya jauh-jauh. Saat tangan kanannya berhasil memegang ekor sang ular, tiba-tiba pendengaran batinnya disentuh oleh al-ima’ yang menggema dari cakrawala kesadarannya, yang berasal dari Ruh al-Haqq.

“Kenapa engkau ingin melempar ular belang itu dari lehermu? Masakan engkau tidak mengenal ular belang yang membelit lehermu itu, o Abdul Jalil, padahal dia adalah nafs al-hayawaniyyah, anasir tanah bersifat zhulmun, yang tersembunyi di dalam diri (nafs) yang bersemayam di dalam keakuanmu. Sekarang ini engkau tidak perlu takut lagi terhadap keganasan racunnya. Sebab, ibarat seekor naga yang tidak bakal mati karena racun seekor ular kecil, begitulah engkau tidak akan binasa oleh racun nafs al-hayawaniyyah itu.”

Abdul Jalil tertawa dan membiarkan ular belang itu melilit lehernya. Ia tiba-tiba sadar sesungguhnya ia telah sering melihat ular itu berkeliaran di sekitarnya. Ia bahkan baru menyadari jika ular itu telah dikenalnya untuk kali pertama berpuluh tahun silam, saat ia berguru kepada Ario Abdillah di Palembang. Saat itu, seingatnya, ular belang kuning, hitam, putih, dan merah itu dilihatnya sekilas merayap di sampingnya saat ia mengambil air wudhu untuk bersembahyang malam. Sejak waktu itu, kelebatan ular itu sesekali ia saksikan melintas di sekitarnya. Baru setelah ia mengalami peristiwa ruhani di gunung Uhud bersama Misykat al-Marhum dan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, kelebatan bayangan ular itu tidak pernah lagi muncul.

Kini, setelah ia melupakan citra ular belang itu, tiba-tiba sang ular muncul dengan cara menakjubkan. Ia baru sadar jika ular itu tidak lain dan tidak bukan adalah citra perwujudan nafs al-hayawaniyyah yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri. Kini ia tidak lagi merasa khawatir terhadap keberadaan ular yang racunnya terkenal ganas tersebut. Bahkan, ia membiarkan ular itu mengikuti ke mana pun ia pergi. Ia menyebut ular belang itu dengan nama Manik Maya, yang bermakna “permata khayalan” yang menyesatkan. Dengan nama Manik Maya itu, ia berharap setiap kali melihatnya, ia akan selalu teringat bahwa leluhurnya dahulu, Adam a.s., terperosok ke dalam lingkaran dosa – melanggar titah Sang Pencipta – karena tersihir pesona keindahan kata-kata “permata khayalan” yang dipancarkan oleh Sang Iblis, sehingga Adam jatuh dari martabat “Adam Ma’rifat” yang bisa berwawansabda dengan Allah dan disujudi malaikat menjadi “Adam Mahjubin” yang terhijab dan direndahkan sebagai asfala safilin (QS. At-Tin: 4-5), yaitu dihukum di planet dunia yang ditumbuhi Pohon Kegelapan (syajarah azh-zhulmah) yang penuh ditebari jalan berliku-liku yang menyesatkan untuk bisa kembali kepada-Nya.

Hari kesembilan sejak Abdul Jalil tinggal di gubuk bersama ular sahabatnya ditandai oleh sebuah peristiwa aneh yang mengubah seluruh kisah perjalanan hidupnya sebagai adimanusia menjadi yang sendiri (fard).

Sejak pertama kali mengalami perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati (as-safar min al-khaliq ila al-Haqq), telah berulang-ulang Abdul Jalil mengalami hal serupa: tenggelam ke dalam Kebenaran Sejati (fana’ fi al-Haqq) dan kembali dari Kebenaran Sejati menuju ciptaan bersama Kebenaran Sejati (as-safar min al-Haqq ila al-khaliq bi al-Haqq), lalu melakukan perjalanan di dalam ciptaan bersama Kebenaran Sejati (as-safar fi al-khaliq bi al-Haqq). Ia tidak ingat lagi untuk kali keberapa ia mengalami peristiwa ruhani yang tak tergambarkan kata-kata dan tak terucap bahasa manusia itu. Namun, sejak ia bersahabat dengan ular belang yang sangat jinak itu, ia justru mengalami pengalaman ruhani mencengangkan yang sebelumnya tidak pernah ia sangka-sangka dan sedikit pun tak pernah ia bayangkan dalam pikiran. Perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati (al-Haqq) yang selama ini telah dialaminya berulang-ulang itu ternyata bukan merupakan yang terpuncak. Sebab, di balik kefanaan di dalam Kebenaran sejati (fana’ fi al-Haqq) yang tersembunyi di dalam kerahasiaan dirinya itu, ia mendapati Kenyataan yang lebih menakjubkan, yaitu kesadaran diri baru yang mengungkapkan rahasia bahwa selama ini yang ia alami adalah tenggelam ke dalam Rabb: Wujud al-Haqq.

Ia sendiri tidak mengetahui kenapa tiba-tiba ia mendapat kesadaran baru setelah fana di dalam Rabb (fana’ fi al-Haqq) yang ia anggap sebagai puncak dari perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati, karena berjalan di dalam Kebenaran Sejati (as-safar fi al-Haqq). Lantaran itu, dengan tercengang-cengang kebingungan ia melampaui pengalaman ruhani lanjutan yang menakjubkan yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan dan ia bayangkan itu: melakukan perjalanan ruhani di dalam al-Haqq menuju Allah (as-safar fi al-Haqq ila Allah) menuju Wujud al-Muhaqaq atau melakukan perjalanan di dalam Rabb menuju Rabb al-Arbab. Inilah perjalanan naik ke Hadirat Allah (mi’raj al-kubra) setelah terlebih dulu berkali-kali naik ke Hadirat al-Haqq (mi’raj al-shughra). Inilah perjalanan ruhani naik ke Hadirat Allah sebagaimana telah dialami Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Di dalam perjalanan naik ke Hadirat Allah, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya itu, ia merasakan seperti terisap oleh suatu kegaiban yang membuat seluruh kesadarannya berubah. Ia merasakan seperti bayi yang lahir dari kandungan ibu ke dunia yang lebih luas dengan kesadaran yang lebih tinggi. Ia tiba-tiba menjadi sadar sesadar-sadarnya akan makna sejati dari Sabda Ilahi: Sungguh telah datang seorang rasul dari nafs-mu sendiri (QS. At-Taubah: 128); Aku ciptakan engkau (Muhammad) dari nur-Ku dan aku cipta seluruh ciptaan dari Nur-mu (hadits Qudsy); jika engkau tidak Aku cipta maka cakrawala tidak Aku cipta (hadits Qudsy).” Ia benar-benar menyaksikan bahwa di balik hakikat Asma’, Shifat, Af’al, dan Dzat yang terpancar pada ciptaan-Nya, tersembunyi hakikat Ahmad (Asma’), Muhammad (Shifat), Mahmud (Af’al), dan al-Hamid (Dzat). Ia merasakan dengan senyata-nyatanya keterhubungan dirinya sebagai bagian Nur Muhammad dan Haqiqat Muhammadiyyah.

Selama tenggelam di dalam al-Haqq menuju Allah – di dalam Rabb menuju Rabb al-Arbab – tidak ada satu pun pengalaman ruhani yang bisa diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa manusia. Ia tidak dapat mengungkapkan segala sesuatu yang dapat diungkapkan dan digambarkan. Ia hanya tercengang-cengang menyaksikan kesadarannya terisap ke dalam kesadaran demi kesadaran baru yang tak terlukiskan, di mana dengan kesadaran-kesadaran barunya itu ia menyaksikan akhirat sebagai citra dari Yang Mahaakhir (al-Akhir). Ia mendapati pemahaman baru bahwa akhirat adalah “ruang tak beruang dan waktu tak berwaktu”; akhirat adalah “pertemuan” ruang dan waktu dan Zat; akhirat adalah wahdat adz-dzatiyyah. Di situ ia menyaksikan dengan terheran-heran pancaran al-Hadi dalam wujud sabil sebagai cermin thariq, dan sebaliknya thariq sebagai cermin sabil. Lalu, keduanya menyatu di dalam shirath. Ia menyaksikan pula dengan terheran-heran pancaran al-Hakam dalam wujud mizan al-ashli sebagai cermin mizan asy-syar’i, dan sebaliknya mizan asy-syar’i sebagaiaHakH cermin mizan al-ashli. Lalu keduanya menyatu di dalam Mizan al-Ilahi. Ia menyaksikan al-jannah sebagai kedekatan Allah dalam wujud adna sebagai cermin qurb, atau sebaliknya qurb sebagai cermin adna. Lalu, keduanya menyatu di dalam Maqam al-Mahmud. Ia juga menyaksikan an-nur sebagai kejauhan Allah dalam wujud bu’d sebagai cermin al-idhlal, atau sebaliknya al-idhlal sebagai cermin bu’d. Lalu, keduanya menyatu di dalam al-ghayr.

Dengan ketidakpahaman dengan apa yang disaksikannya, ia merasakan kesadarannya terisap oleh suatu kekuatan tak terbatas ke dalam al-Kursi. Dari dalam al-Kursi, kesadarannya tercengang-cengang menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan dan tak pernah terlintas dalam angan-angan: alam semesta tampak tergelar di bawahnya laksana hamparan pasir cahaya berserak tak terhitung jumlahnya. Bumi, bulan, planet, matahari, bintang, dan galaksi terhampar laksana butiran pasir dengan bentuk-bentuk berbeda-beda dan berubah-ubah kumpulan serta kelompok-kelompoknya. Ada yang berkerumun dalam bentuk lingkaran pipih seperti telinga gajah. Ada yang berkerumun membenuk bulatan seperti gentong. Ada yang berbentuk lingkaran hitam tetapi sangat ganas memangsa benda-benda di sekitar. Ada yang terus berubah-ubah warna dan cahayanya. Seluruhnya mengagungkan Rabb mereka tanpa kecuali. Di dalam al-Kursi itu ia menyaksikan Buraq, kendaraan ruhani berwujud keledai (bighal) dengan kecepatan tak terukur dan khusus dikendarai Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Setelah tercengang-cengang di al-Kursi, ia terisap lagi oleh kekuatan dahsyat ke dalam al-Arsy. Di situ ia tidak menyaksikan sesuatu yang lain kecuali Nama-Nama Allah Yang Indah dan tak terbatas jumlah-Nya. Semua terjalin dalam suatu ikatan (muqadiyyah) dan dari situlah sejatinya Sabda Suci Ilahi (al-kalimah al-ilahiyyah) memancar menjadi hukum dan kabar Kebenaran. Di al-‘Arsy inilah ia menjumpai kegandaan dirinya – ‘Ali al-Fatta Karamallahu Wajha sebagai pancaran citra al-‘Aly, al-Fattah, ar-Rasyid, al-Karim, al-Hadi – di depan dua cermin yang disebut haqiqat al-faydh dan haqiqat al-irsyad. Anehnya, di balik ‘Ali al-Fatta Karamallahu Wajha bukanlah punggung, melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq. Bahkan, yang tak terungkap dengan akal, kata-kata dan bahasa manusia, keduanya ternyata tidak saling berbeda dalam menghadapkan wajah, melainkan berhadap-hadapan wajah. Yang membedakan keduanya: ‘Ali al-Fattah Karamallahu Wajha memancarkan citra -al-mursyid (pembimbing ruhani) sedang Abu Bakar ash-Shiddiq memancarkan citra as-suhbah (persahabatan ruhani).

Kesadaran demi kesadaran baru yang dialami Abdul Jalil berangsur melenyap ketika ia terserap ke dalam hakikat Alif pada citra Asma’ Allah. Lalu, terisap lagi ke dalam hakikat Lam pada citra Af’al Allah. Lalu, terisap lagi ke dalam hakikat Lam pada citra Shifat Allah. Dan terakhir, ia hilang kesadaran diri ketika terserap ke dalam hakikat Hu. Di situ, ia tidak sadar lagi akan siapa dirinya. Ia tidak tahu apakah berada di luar atau di dalam hakikat Hu. Ia telah hilang kesadaran karena terserap oleh Sesuatu Yang Tak Terlukiskan (laisa kamitslihi syai’un); Kunhi Dzat; Dzat al-Bahat yang bersabda: “Kun-Tu (kanzan mahfiyyun),” yang dari Sabda-Nya itu bersabda: “Ku Fayakun!.”

Sejak turun kembali (‘uruj at-tarkib) dari perjalanan naik (mi’raj at-tahlil) ke Hadirat Allah Rabb al-Arbab, Abdul Jalil mengalami peristiwa-peristiwa aneh yang sebelumnya tidak pernah ia alami, yaitu keterlepasan nafs-nafs dari keakuannya. Ceritanya, tanpa disangka-sangka, pada hari ketiga setelah turun kembali dari perjalanan naik, di hadapannya tiba-tiba muncul seekor anjing berbulu hitam kemerahan yang berjalan terseok-seok karena kaki kanan depannya terluka. Dengan merintih kesakitan, anjing itu menggeser-geserkan punggungnya ke kakinya. Mendengar anjing yang merintih kesakitan itu, rasa kasihnya mengalir berkelimpahan. Ia rengkuh anjing ke dalam pelukannya dan ia belai kepalanya. Dengan penuh kasih ia mengobati lukan anjing itu sambil berkata, “Aku menolong engkau, o anjing, bukan karena aku kasihan atau iba melihatmu. Aku menolongmu semata-mata karena rasa kasihku kepada sesama makhluk yang maujud di dunia. Aku mengobati lukamu karena aku sadar bahwa antara engkau dan aku sejatinya sama-sama menyembunyikan hakikat jejak rasul (qadam rasul).”

Seperti mengerti kata-kata Abdul Jalil, anjing hitam kemerahan itu mengiuk-ngiuk dan mendesak-desakkan kepalanya ke dada Abdul Jalil. Abdul Jalil tersenyum sambil membebat kaki kanan depan anjing malang itu dengan destarnya. Namun, saat bebatannya selesai, tiba-tiba terdengar suara al-ima’ menggema di relung-relung kedalaman jiwanya.

“Kenalilah citra bayangan dirimu, o Abdul Jalil! Kenalilah citra nafs yang menyelubungi keakuanmu! Bagaimana mungkin engkau tidak mengenali anjing luka yang datang kepadamu itu? Padahal, dia sejatinya adalah diri (nafs) yang tersembunyi di dalam keakuanmu. Dia adalah anjingmu yang selalu menjulurkan lidah, baik ketika engkau halau atau ketika engkau diamkan (QS. Al-A’raf: 176). Itulah diri (nafs al-ammarrah) yang tersembunyi di pedalamanmu. Nafs yang cenderung kepada perbuatan jahat (QS.Yusuf: 53). Sekarang ini, sebagaimanna ularmu, dia telah keluar dari keakuanmu. Lantaran itu, sekarang ini bukan engkau yang mengikuti dia, tetapi dia yang akan mengikuti ke mana pun engkau pergi.”

Abdul Jalil tertawa dan mengelus-elus kepala anjing hitam kemerahan itu dengan penuh kasih. Ia sadar, seburuk dan sejelek dan bahkan senajis apa pun, anjing itu adalah bagian dari diri (nafs) yang membentuk citra keakuannya sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Ia justru mensyukuri kemunculan anjing yang selama ini bersemayam di pedalaman jiwanya yang tersembunyi. Dengan suara lembut ia berkata kepada anjing itu: “Karena engkau adalah citra diri yang pernah kuikuti tetapi sekarang berbalik mengikutiku, maka engkau aku sebut dengan nama Sang Lemah Abang. Sebab, itulah kemasyhuran nama yang engkau damba-dambakan, o anjingku. Berbangga-dirilah engkau dengan nama besarmu itu.” Sejak waktu itu, ke mana pun Abdul Jalil berada, ia selalu terlihat bersama ular belang dan anjing hitam kemerahannya, bahkan saat sembahyang pun ular dan anjing itu dengan setia terlihat berdiri menunggu di belakangnya.

Ketika memasuki hari ketujuh sejak turun kembali dari kenaikan ruhani, saat Abdul Jalil sedang bermain-main dengan ular dan anjingnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kemunculan mendadak seekor anjing berbulu putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yang menggelepar-gelepar di depan pintu gubuknya. Rupanya, anjing itu kesakitan karena kepalanya luka mengucurkan darah. Dengan pandangan penuh kasih, Abdul Jalil menolong anjing malang itu. Namun, saat ia membersihkan luka di kepala anjing itu dengan destarnya, ia tiba-tiba mendengar suara al-ima’ menggema dari cakrawala kesadarannya yang menegaskan bahwa anjing putih kekuningan yang belang itu pun sejatinya adalah bagian diri (nafs al-lawwamah) yang tersembunyi di dalam keakuannya, yaitu jiwa pencela (QS. Al-Qiyamah: 2). Lalu, ia menamai anjing belang itu Sang Siti Jenar. Sambil mengelus-elus anjing itu, ia berkata, “Sebagaimana anjing hitam yang bangga dengan kemasyhuran nama, maka engkau yang bangga dengan amaliah perbuatanmu aku gelari nama masyhur Sang Siti Jenar. Semoga engkau bangga dengan nama terkenal itu.” Lalu, ke mana pun Abdul Jalil pergi, ia selalu diikuti oleh ular dan dua ekor anjingnya.

Suatu pagi, pada hari keempat puluh, ketika Abdul Jalil sedang mengambil air wudhu di sungai kecil yang mengalir tak jauh dari gubuknya ditemani ular belang dan dua ekor anjingnya, tiba-tiba pangkuannya dijatuhi seekor kera coklat kemerahan dari atas pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Kera itu menjerit-jerit kesakitan karena punggungnya terdapat luka mengaga seperti kena tebasan pedang. Melihat keadaan kera itu, dengan penuh kasih Abdul Jalil membersihkan darah dan membebat kera itu dengan destarnya. Sebagaimana saat ia menolong dua ekor anjingnya, tiba-tiba ia mendengar al-ima’ menggema di cakrawala kesadarannya yang menegaskan bahwa kera itu sejatinya adalah diri (nafs al-mulhammah) yang tersembunyi di kedalaman keakuannya, yaitu jiwa yang terilhami kejahatan dan ketakwaan (QS. Asy-Syams: 7-8). Lalu, ia menamai kera coklat kemerahan itu Sang Jnanawesa, yang bermakna masuknya ilham ketakwaan dan ilham kejahatan ke dalam jiwa.

Tidak lama kemunculan kera kemerahan yang dinamai Jnanawesa itu, muncul kera berbulu putih dengan wajah bergaris-garis biru dan putih. Begitu muncul, kera itu menjerit-jerit kesakitan karena dadanya terluka. Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ yang mengungkapkan bahwa kera itu tidak lain dan tidak bukan adalah diri (nafs al-muthma’innah) yang tersembunyi di dalam keakuannya, yaitu jiwa yang tenang (QS.al-Muthma’innah: 27). Kera itu pun di namai Jnanaprasada, yang bermakna ketenangan jiwa. Lalu, secara berututan muncul seekor singa putih yang merupakan dirri (nafs ar-radhiyyah) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya. Singa putih itu dinamai Jnanekatwa, yang bermakna ketunggalan jiwa. Disusul kemunculan seekor rajawali putih yang terbang menyambar-nyambar ganas dan kemudian bertengger di atas bahunya. Rajawali putih itu adalah diri (nafs al-mardhiyyah) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya. Rajawali putih itu ia namai Sang Jnanasunya, yang bermakna bebas dari kemenduaan. Dan, yang terakhir muncul adalah bayangan burung anqa putih laksana kabut tipis yang diliputi cahaya terang kebiru-biruan. Anqa putih itu bertengger di atas kepalanya. Anqa putih itu adalah diri (nafs al kamilah) dan ia menamainya Sang Jiwanmukta, yang bermakna “bebas” saat masih hidup di dunia.

Setelah kemunculan tujuh ekor binatang aneka warna dan seekor anqa putih laksana kabut tipis lambang citra diri (nafs) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya, Abdul Jalil merasakan suatu perubahan dahsyat terjadi atas dirinya. Ia merasakan kegembiraan luar biasa meliputi jiwanya laksana kupu-kupu terbang di antara bunga-bunga. Atau, seperti seseorang yang terseok-seok memikul beban berat tapi kemudian terlepas dari bebannya. Atau, seperti seekor burung lepas dari sangkarnya dan terbang bebas ke angkasa. Atau, seperti seekor ikan yang menggelepar-gelepar di selokan berair keruh kemudian dipindahkan ke kolam luas berair jernih. Demikianlah, hari-hari hidupnya di gubuk yang sepi dilewati Abdul Jalil dengan kegembiraan raya bersama hewan-hewan yang begitu jinak dan bersahabat dengannya. Ke mana pun ia pergi, hewan-hewan itu selalu mengikutinya dengan setia.

21. Makna Rahasia di Balik Nafs

Sejak bersahabat akrab dengan hewan-hewannya, Abdul Jalil berubah menjadi orang yang berperilaku sangat aneh dalam pandangan orang-orang di sekitarnya. Segala sesuatu yang terkait dengan kebiasaan hidupnya sehari-hari mendadak berubah aneh dan sangat mencengangkan. Shafa, istri setianya, sebagai orang yang paling dekat, merasakan keheranan dan khawatir luar biasa mendapati suaminya berperilaku sangat aneh. Belum pernah ia menyaksikan suaminya berperilaku tidak lazim, seperti duduk bersila dengan mata terpejam sejak subuh sampai zhuhur. Atau, bersujud selama berjam-jam. Atau, melakukan shalat malam sampai tujuh puluh rakaat. Atau, duduk takhiyat akhir tanpa salam dari subuh hingga isya. Atau, saat shalat tidak mengikuti hitungan rakaat sesuai aturan sarak. Atau, melamun memandang langit dari pagi sampai sore.

Ketika sudah tidak mampu lagi memahami keanehan-keanehan perilaku Abdul Jalil, Shafa akhirnya mengungkapkan keheranan dan ketidakpahamannya. Shafa berharap dapat beroleh kejelasan bahwa suami terkasihnya itu sejatinya tidak gila. Namun beda yang diharapkan, jawaban yang diberikan Abdul Jalil kepadanya justru berupa pertanyaan balik, “Siapakah engkau yang bertanya ini?”

Shafa yang ditanya balik sangat terkejut dan menjawab sekenanya, “Aku Shafa. Aku istri Tuan.”

“Shafa? Istriku?” Abdul Jalil mengerutkan kening, “Apakah aku punya istri?”

“Ya, Tuan punya istri. Akulah istri Tuan.”

“Siapakah aku yang engkau sebut Tuan?”

“Bukankah Tuan adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil? Syaikh Siti Jenar? Syaikh Lemah Abang? Syaikh Jabarantas? Syaikh Sitibrit? Susuhunan Binang?” sergah Shafa dengan hati diliputi kecemasan.

“Syaikh Datuk Abdul Jalil? Syaikh Siti Jenar? Syaikh Lemah Abang? Syaikh Jabarantas? Syaikh Sitibrit? Susuhunan Binang? Siapakah dia yang memiliki banyak nama itu?” tanya Abdul Jalil termangu-mangu.

“Bukankah itu Tuan sendiri?”

“Aku?” gumam Abdul Jalil dengan tangan menunjuk dada, “Akukah satu makhluk dengan banyak nama itu? Bukankah Syaikh Siti Jenar itu nama anjing belang yang berdiri menjulurkan lidah di depan pintu itu? Bukankah Syaikh Lemah Abang itu anjing hitam yang duduk menjulurkan lidah di sampingnya?” ia menudingkan tangan ke arah pintu gubuk.

Shafa terperangah mengikuti arah yang ditunjuk Abdul Jalil. Dia terheran-heran mendapati pintu gubuk yang ditunjuk suaminya itu kosong tanpa sekilas bayangan anjing terlihat di sana. Sadarlah dia, sesungguhnya suaminya saat itu telah menjadi orang yang hilang ingatan. Suaminya telah tidak ingat akan keberadaan dirinya sendiri. Akhirnya, tanpa dapat ditahan lagi, air mata jatuh bercucuran membasahi pipi Shafa. Dia merasakan dunianya runtuh. Dia menangis terisak-isak sambil merangkul Fardun, puteranya yang berdiri kebingungan memandang ibu dan ayahnya berganti-ganti.

Ketika Shafa memastikan Abdul Jalil benar-benar telah hilang ingatan, terjadi peristiwa yang membingungkannya. Tanpa hujan tanpa angin, tiba-tiba Abdul Jalil sadar dan berperilaku sebagaimana layaknya orang waras. Namun demikian, karena sudah terlalu sering menyaksikan keanehan-keanehan perilaku Abdul Jalil yang tak terpahami, akhirnya Shafa merasa harus berlaku sangat hati-hati dalam menyimpulkan keadaan suaminya itu. Perilaku tidak lazim yang ditunjukkan Abdul Jalil belakangan memang sangat mengkhawatirkannya baik dalam hal makan, minum, duduk, berjalan, berbicara, tidur, dan beribadah. Dalam hal makan saja, jika sebelumnya dia selalu mendapati suaminya selalu menyantap makanan yang dihidangkannya asalkan baik dan halal (halal ath-thayyibah), maka belakangan dia harus menyuguhkan ubi-ubian dan buah-buahan karena makanan yang lain tidak disentuh. Yang aneh, sesekali ia melihat suaminya tidak memakan ubi dan buah-buahan yang disuguhkannya dengan alasan ada ulat atau semut kecil di dalam buah itu. Suaminya menyatakan, ia tidak mau memangsa makhluk kecil yang meratap sedih meminta kepadanya agar tidak dimangsa. Beberapa kali dia melihat suaminya memuntahkan buah yang dimakannya, hanya karena ada seekor semut yang terselip di buah tersebut dan semut tersebut meminta untuk tidak dimangsa. Bagaimana mungkin orang waras berbicara dengan ulat dan semut, tanya Shafa dalam hati, dengan perasaan tertekan.

Di antara keanehan-keanehan perilaku Abdul Jalil, yang sangat menekan perasaan Shafa adalah saat dia mendampingi suaminya melewati rentangan malam hari yang diliputi kesunyian dan keheningan. Sepanjang malam itu dia tidak lagi mendapati keberadaan suaminya sebagai sosok seorang suami yang memiliki citra kehangatan dan penuh cinta kasih sebagaimana selama ini dia kenal. Sepanjang malam sejak isya sampai subuh dia nyaris selalu mendapati suaminya menjadi sesuatu yang aneh dan tak pernah dikenalnya. Dia tidak tahu apakah yang sesungguhnya telah terjadi pada suaminya. Dia hanya merasa suaminya telah menjelma menjadi sesuatu yang diliputi keanehan tak tergambarkan. Dia selalu merasakan semacam kegentaran menerkam semangatnya setiap kali mendekati suaminya. Bahkan, yang nyaris tak dipahaminya, setiap kali dia berada di hadapan suaminya, ia merasakan hatinya seperti diisap oleh suatu kekuatan tak kasatmata yang sangat dahsyat yang tanpa sadar membuatnya menunduk dan kemudian berlutut dan bersujud menyembah.

Sesungguhnya, yang merasakan adanya perubahan dahsyat bukan hanya Shafa. Abdul Jalil sendiri, sejak kembali turun (‘uruj at-tarkib) dari kenaikan ruhani (mi’raj at-tahlil), merasakan suatu perubahan terjadi atas dirinya, terutama setelah kemunculan hewan-hewan citra perwujudan nafs dari dalam dirinya. Ia tiba-tiba sering merasakan detik-detik keberadaan dirinya lenyap, tenggelam ke dalam Kemutlakan laksana setetes air menyatu dengan Samudera Mahaluas. Sang pecinta yang tulus (muhib ash-shadiq) telah lebur (fana’) ke dalam Sang Kekasih (al-Mahbub). Pada detik-detik seperti itulah ia merasakan keakuannya sirna. Lenyap. Yang Ada adalah Aku. Yang Tunggal. Mutlak. Tanpa batas. Namun, seiring berlalunya detik-detik keleburan keakuannya itu, ia mendapati cakrawala kesadaran dirinya lebih luas dan lebih bebas dari batas-batas nisbi alam. Ia mendapati keakuannya mengurai dan melepaskan segala ikatan yang selama ini mengikatnya, yaitu ikatan-ikatan yang terkait atribut-atribut citra diri.

Memang, ketersingkapan cakrawala kesadaran yang dialaminya saat ini jauh lebih mencengangkan dibanding sebelumnya, karena ketersingkapan ini berkaitan dengan keterlepasan-keterlepasan atribut citra diri. Ia tiba-tiba merasa tercengang kebingungan saat menyadari keberadaan dirinya sebagai seorang laki-laki telah menyingsing. Ia merasakan kesadarannya sebagai makhluk semesta tersingkap begitu menakjubkan, ia mendapati citra dirinya menjadi makhluk tak berjenis kelamin. Berhari-hari dan berpekan-pekan ia meresapi keberadaan dirinya yang tiba-tiba sudah tidak memiliki atribut citra diri, baik sebagai manusia berkelamin laki-laki, suami, bapak, saudara laki-laki, mertua laki-laki, maupun kakek. Semua atribut citra dirinya sebagai manusia tak jelas lagi, apakah jiwanya masih jiwa seorang manusia atau sudah menjadi jiwa makhluk semesta.

Ketika Abdul Jalil berada di tengah keheranan meresapi keberadaan jati dirinya, ia mendapati kenyataan lain yang tak kalah membingungkan, sewaktu cakrawala kesadarannya menangkap kenyataan menakjubkan bahwa sejatinya hamparan Samudera Makna-Makna (Bahr al-ma’ani) dan Samudera Bendawi Kasatmata (Bahr al-mulk) itu berada di dalam liputan Samudera Keuncuran (Bahr al-‘unshuriyyah) yang merupakan pancaran dari Hakikat Sejati Segala Samudera (haqiqah al-faydh al-bahr). Dikatakan menakjubkan sebab selain di balik Samudera-Samudera itu terdapat Samudera di Atas Segala Samudera, ia juga mendapati kenyataan betapa sesungguhnya Hakikat Sejati Segala Samudera itu berada di dalam dirinya. Ia merasa keberadaan dirinya seperti setetes air di tengah samudera raya, tetapi sekaligus ia merasa seperti setetes air yang di dalamnya memuat hamparan samudera raya. Sungguh perumpamaan yang tak gampang dipahami maknanya.

Keterlepasan nafs-nafs yang dialami Abdul Jalil rupanya telah menjadikan citra keakuannya meluas ibarat Samudera Kehidupan (Bahr al-Hayy) yang membentang tanpa pantai, di mana Samudera Kehidupan itu memuat Samudera Keagungan (Bahr al-‘izzah) yang suci, yakni Samudera Keagungan yang memuat Ruh al-Haqq, Ruh Suci, yang ditiupkan (nafkh) Allah ke dalam diri Adam. Samudera Keagungan itulah lambang kesucian hati manusia sempurna (insan kamil) yang tanpa batas yang mampu memuat Ruh al-Haqq. Dan, di tengah keluasan Samudera Keagungan itu tersembunyi rahasia Keberadaan Rumah Suci (Baitul Haram) yang menjadi persemayaman al-Haqq, yaitu Rumah Suci yang menjadi kiblat Kesatuan dari kesatuan (jam’ al-jam’).

Pandangan mata lahirnya (bashar) yang selama ini sudah menjadi pandangan seorang ahli ma’rifat (bashar al-‘arif) yang bisa digunakannya memandang segala sesuatu yang terpampang di hadapannya, tiba-tiba berubah menjadi Pandangan Ilahi (Bashar al-Haqq) yang tidak memiliki batas-batas penyekat atau nisbi penglihatan. Ia merasakan penglihatan bashirah-nya berkembang meluas. Meluas. Meluas terus hingga mencapai setiap sudut dunia, terus ke bulan, planet-planet, matahari, gemintang, galaksi-galaksi, dan alam perwujudan semesta. Demikianlah, ketika ia ingin melihat sesuatu di salah satu sudut dunia maka ia seperti orang yang melihat sekuntum bunga dari satu sisi sesuai keinginannya, dan jika diinginkan, ia dapat melihat hingga ke bagian pedalaman bunga tersebut.

Bukan hanya penglihatan bashirah Abdul Jalil saja yang meluas, bahkan pendengaran batin (sam’) yang selama ini terbatas pada penembusan obyek-obyek yang tertangkap pendengaran indriawinya, tiba-tiba berkembang menjadi lebih luas seolah telinga batinnya menjadi telinga raksasa yang dapat mendengar suara semut sampai suara makhluk-makhluk angkasa yang berjarak sangat jauh dari bumi. Dengan penglihatan dan pendengaran batin yang tak terhalang sekat-sekat nafs itulah ia merasakan pandangan bashirah-nya sangat menakjubkan, laksana kesadaran rajawali putih, Sang Pinakatunggal, yang mengembara di angkasa mengitari jagad Kehidupan. Ia sadar bahwa sesuatu di dalam dirinya memang sudah sangat berubah, hingga ia sendiri nyaris tak mengenal dirinya sendiri.

Tidak tahan menghadapi keanehan demi keanehan Abdul Jalil, Shafa mengungkapkan segala apa yang tidak dipahaminya itu kepada Bardudu, ketika suatu malam putera sulungnya itu berkunjung ke gubuknya. Bardud yang beroleh penjelasan tentang keadaan ayahandanya yang sedang mengalami proses menjadi “yang sendiri” dari pembimbing ruhaninya, Syarif Hidayatullah, tidak memberi penjelasan apa-apa kepada ibundanya. Ia tahu, ibunda terkasihnya tidak akan paham diberi penjelasan yang berbelit dan rumit dari keadaan yang dialami ayahandanya. Ia hanya mengingatkan ibundanya pada penjelasan yang pernah disampaikan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud. “Sesungguhnya, keanehan-keanehan perilaku ramanda bukanlah perilaku orang hilang ingatan atau orang tidak waras. Apa yang dialami ramanda pada dasarnya adalah penggenapan tengara yang pernah disampaikan Kakek Ahmad at-Tawallud, bahwa ramanda akan menjadi ‘yang sendiri’ (fard). Keanehan-keanehan perilaku ramanda yang Ibunda hadapi selama ini adalah bagian dari perubahan diri ramanda menjadi ‘yang sendiri’. Sebab itu, Ibunda harus bersabar mengantarkan ramanda menjadi apa yang dikehendaki-Nya.”

“Tapi aku sangat ketakutan, o Puteraku,” kata Shafa menguatkan diri, “Di tengah malam yang sunyi, aku sering mendapati ramandamu duduk dikerumuni ular, anjing, kera, singa, dan burung raksasa yang kadang menjelma dalam bentuk kabut tebal dan kadang pula menjelma dalam bentuk cahaya-cahaya aneka warna. Malah yang sering menakutkan aku, sering kali aku mendengar semacam dentang lonceng yang sangat keras memenuhi seluruh pendengaranku pada saat tubuh ramandamu diliputi semacam cahaya subuh. Aku menduga, jangan-jangan ramandamu berperilaku aneh karena diganggu setan.”

Ketika Bardud akan memberi penjelasan kepada ibundanya, tiba-tiba Abdul Jalil yang duduk bersila menepuk-tepukkan tangannya. Bardudu menoleh dan mendekati ayahandanya. Abdul Jalil diam dan tetap duduk bersila dengan mata terpejam. Sejenak kemudian, dengan menggunakan isyarah, ia berkata-kata kepada Bardud.

“Engkau sudah bertindak benar tidak menjelaskan sesuatu yang tidak dipahami seseorang. Sesungguhnya, dia, orang yang engkau sebut ayahanda itu bukan siapa-siapa. Ia tidak memiliki apa-apa dan tidak dimiliki oleh siapa-siapa. Lantaran itu, o Bardud, bawalah ibunda dan adikmu pergi dari sisi ayahandamu. Sebab, semua tidak akan ada yang tahan hidup bersama ayahandamu. Biarkan ayahandamu sendiri di sini. Biarkan dia menjadi ‘yang sendiri’, menyatu dengan Yang Mahasendiri Tak Terbandingkan.”

Bardud termangu-mangu memandang wajah ayahandanya dengan penuh kasih. Ia merasakan kekosongan memenuhi dadanya. Ia merasa semacam kehilangan ketika mendengar kata-kata laki-laki tua yang telah menjadi sebab ia lahir ke dunia. Ia merasakan semacam kepedihan menyayat-nyayat hatinya. Dengan suara tercekat dan dada naik turun ia berkata terbata-bata, “Kenapa keluarga dia, o adimanusia yang terkasih, harus hancur berkeping-keping? Kenapa dia yang telah berjasa menegakkan Tauhid di muka bumi justru harus mengalami hidup begitu pedih? Kenapa dia tidak boleh lagi memiliki dan dimiliki oleh sesuatu?”

Wajah Abdul Jalil terlihat mengeras bagai batu. Lalu, dengan bahasa perlambang berkata, “Renungkan dan tangkap makna di balik kisah Sri Krishna yang seluruh keluarga dan keturunannya hancur binasa! Renungkan dan hayati makna di balik kisah Sri Rama yang keluarga dan keturunannya berantakan! Resapi kisah Sidharta Gautama yang tak pernah tergantikan oleh satu pun di antara keturunannya! Resapi kisah Nabi Musa a.s yang keluarga dan keturunannya berserak di muka bumi tanpa satu pun ada yang mengganti kedudukannya! Hayati kisah Nabi Isa a.s. yang tidak beristri dan tidak berketurunan! Resapi dan hayati kisah Nabi Muhammad Saw. yang keluarga dan keturunannya berserak di muka bumi tanpa satu pun yang mengganti kedudukannya!”

“Renungkan! Resapi! Hayati kisah semua avatar, manusia Ilahi, yang tidak pernah terwakili oleh siapa pun di antara manusia, sekalipun ada yang mengaku-aku keturunan mereka. Dengan memahami kisah-kisah mereka dari rana Tauhid, engkau akan mendapati kenyataan bahwa mereka yang dipilih-Nya menjadi sesuatu wadah sebagai cermin dari Yang Tunggal akan berdiri sendiri tanpa sekutu. Mereka adalah satu. Itu adalah rahasia Tauhid. Sebab, Allah telah menetapkan hukum bahwa dia yang dipilih-Nya adalah satu dan unik. Allah tidak pernah membiarkan ada sekutu bagi yang dipilih-Nya. Lantaran itu, mulai saat ini, siapa pun di antara keluarga ayahandamu jangan sekali-kali ada yang mengaku-aku memiliki suatu hubungan darah dengannya dan menjadi penerus paling sah keberadaannya. Sungguh, ia telah dipilih-Nya menjadi ‘yang sendiri’. Sehingga, siapa saja di antara manusia yang mengaku-aku keluarga dan keturunannya untuk melanjutkan kedudukannya akan binasa. Binasa.”

“Apakah ayahanda kami seorang avatar, manusia Ilahi?”

“Ayahandamu adalah ‘yang sendiri’. Jangan ditafsir-tafsir lagi makna itu dengan akalmu. Dia adalah ‘yang sendiri’. Sendiri. Tunggal. Dia bukan ayah, suami, saudara, sahabat, guru suci, orang beriman, muslim, atau atribut apa pun yang menandai dirinya. Dia cermin dari citra Yang Mahasendiri Tak Terbandingkan (al-Fard). Lantaran itu, jangan ada yang mencoba-coba menjadi sekutunya untuk meraih pamrih pribadi.”

Bardud terperangah mendengar kata-kata ayahandanya. Ia merasakan seluruh sendinya lemah akibat gelegak perasaan yang memenuhi dadanya. Ruang di dadanya ia rasakan semakin kosong. Rasa kosong itu makin merajalela ketika di benaknya berkelebatan bayangan ayahandanya yang duduk sendiri tanpa kawan tanpa keluarga diselimuti sepi dan sunyi, tenggelam dalam ketidaksadaran, tanpa makan tanpa minum. Terbayang pula di benaknya bagaimana ayahandanya menjadi kurus tubuhnya karena kekurangan makan dan perlahan-lahan kemudian tubuhnya tumbang ke atas bumi tanpa ada yang mengetahui. Akhirnya, tidak kuat lagi menahan gelegak perasaannya yang digelayuti bayangan-bayangan buruk tentang ayahandanya, Bardud menjatuhkan diri di pangkuan ayahandanya dan menangis tersedu-sedu. Ia sadar, ia telah kehilangan ayah dan sekaligus figur teladan yang sangat dipuja dan dirindukannya semenjak ia kecil.

Keanehan di balik perubahan sikap dan perilaku Abdul Jalil yang tak terpahami itu akhirnya terungkap sebagian ketika Raden Sahid bersama istri dan tiga orang anaknya berkunjung ke gubuknya pada sore hari menjelang maghrib. Ia mendapati Shafa, Bardud, dan Fardun sedang duduk menunggu selesainya Abdul Jalil bersembahyang. Mereka kelihatan sudah berkemas akan berpamitan meninggalkan Abdul Jalil yang belum selesai sembahyang. Saat itulah mereka membincang Abdul Jalil yang bersembahyang dengan duduk takhiyat akhir sangat lama. Menurut Shafa, suaminya sudah melakukan sembahyang sejak subuh. Zainab yang mendengar penuturan ibunda tirinya itu tidak dapat menahan perasaan khawatir. Dengan hati diliputi kerisauan ia bertanya ini dan itu tentang keadaan ayahandanya. Penjelasan Shafa tentang sikap dan perilaku ayahandanya yang tak terpahami, benar-benar membuatnya sangat terpukul. Sambil menangis tersedu-sedu ia merangkul ayahandanya dan berusaha membangunkannya. Namun, seperti orang mati, sedikit pun tubuh ayahandanya bergeming, laksana karang di tengah samudera.

Ketika kekhawatiran Zainab makin memuncak dan ia memanggil-manggil ayahandanya, tanpa terduga-duga tiba-tiba Raden Watiswara, putera keduanya berlari kencang ke samping kanannya. Kemudian dengan gerakan sangat cepat, anak yang baru berusia sembilan tahun itu memungut tongkat yang tergeletak di samping kakeknya. Lalu dengan sebuah sabetan dari atas ke bawah, dia memukul tanah kosong di bagian belakang punggung kakeknya. Terdengar bunyi gedebug ketika tongkat itu menghantam tanah. Sebuah keanehan terjadi: saat itu, tanpa terduga Abdul Jalil terlonjak kaget dan membelalakkan mata. Lalu, dengan tatapan tajam yang menggetarkan ia memandang ke arah Raden Watiswara.

Semua yang menyaksikan peristiwa itu menahan napas. Mereka menduga Abdul Jalil akan marah. Namun, sejenak kemudian Abdul Jalil justru tertawa terkekeh-kekeh merangkul Raden Watiswara sambil menggumam, “Allah menganugerahimu dengan kemuliaan, o Cucuku, sampai engkau bisa melihat ularku dan memukulnya keras sekali.” Lalu, dengan suara digetari wibawa ia berpaling ke arah Raden Sahid dan bertanya, “Bukankah engkau menyaksikan dengan bashirah apa yang dilakukan puteramu itu?”

“Ananda menyaksikannya, Ramanda Syaikh,” kata Raden Sahid takzim, “Tapi, ananda tidak mengetahui rahasia apa di balik hewan-hewan yang berbaris di belakang punggung Ramanda itu. Kenapa mereka melakukan gerakan-gerakan shalat: qiyam – ruku’ – i’tidal – sujjud – jalsah – sujjud – jalsah akhir ? Ananda tahu bahwa mereka itu sejatinya adalah nafs-nafs Ramanda yang telah keluar dari takhta mahligai keakuan Ramanda. Tetapi, ananda tidak mengetahui makna-makna di balik gerakan shalat mereka. Ananda mohon, sudilah kiranya Ramanda berkenan mengungkapkan rahasia di balik gerakan shalat mereka itu.”

Abdul Jalil menarik napas panjang dan membuat gerakan tangan mengisyaratkan agar istri dan puteri serta cucu-cucu perempuannya untuk pergi keluar gubuk. Setelah itu, ia memangku Raden Watiswara dan merangkul Fardun, puteranya, yang duduk di sampingnya. Ia meminta Bardud dan Raden Sahid mendekat. Kemudian dengan suara lain, ia berkata.

“Ular belang yang dipukul oleh puteramu itu adalah citra perwujudan nafs al-hayawaniyyah yang menjadi bagian keakuanku. Secara naluriah, ia dikodratkan untuk selalu ingkar pada titah Sang Pencipta (al-Khaliq). Ia adalah citra pengejawantahan Sang Iblis, yang tubuhnya mengandung racun ganas yang disebut al-umniyah dan al-wahm, yaitu racun yang akan membuat siapa pun di antara manusia yang terkena akan kehilangan kesadaran. Terseret imaji nirwujud (al-mumtami’) yang membuat seseorang sesat (al-idhlal) dalam memaknai segala sesuatu. Tetapi, jangan menganggap ia tidak beribadah memuja Tuhannya, karena sebagaimana sudah engkau ketahui, tidak ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang tidak memuja Sang Pencipta. Hanya saja, caranya beribadah memuliakan dan mengagungkan Allah, Rabb al-Arbab, berbeda dengan manusia. Ia beribadah dengan cara menjalankan titah Yang Maha Menyesatkan (al-Mudhill), yaitu menggoda orang-orang beriman (qaum al-mu’minin) agar mereka tergelincir dari jalan lurus (shirat) yang menuju istana Sang Pemberi Keamanan (al-Mu’min) dan jatuh ke jurang kehinaan al-Mudzill yang sangat pedih. Lantaran itu, ular beludak itu aku namai Manikmaya, yang bermakna ‘permata khayalan sang ablasa’, yang menyesatkan Adam a.s. beserta keturunannya.”

“Anjing hitam kemerahan yang engkau saksikan berdiri di barisan belakang sambil menjulurkan lidah itu adalah perwujudan nafs al-ammarah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan cara berdiri (qiyam). Ia perlambang api yang secara kodrati selalu naik dengan arah tegak lurus. Citra perwujudan anjing itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Islam, yaitu tangga Pengetahuan tingkat pertama. Ia hanya mengetahui bagaimana menggonggong, menggigit, dan mencakar untuk menunjukkan citra dirinya. Secara naluriah, ia cenderung mengajak kepada perbuatan jahat. Meski gonggongan dan lenguhannya terdengar jinak, ia sering menggigit tuannya dan orang lain. Ia sangat bangga dengan nama besar dan identitas diri. Ia melakukan sesuatu karena dilandasi pamrih ingin dipuji dan ingin merasakan kenikmatan badani maupun ruhani. Lantaran itu, ia aku namai Sang Lemah Abang, nama masyhur yang pernah membuatku nyaris menjelma jadi berhala terkutuk.”

“Anjing putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yang engkau saksikan merunduk di depan anjing hitam kemerahan sambil menjulurkan lidah itu adalah citra perwujudan nafs al-lawwammah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan cara merunduk (ruku’). Ia perlambang tanah yang secara kodrati menyamping datar. Citra perwujudan anjing itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Iman, yaitu tangga Pengetahuan tingkat kedua. Ia cenderung suka mengaku-aku kehebatan diri dan mencela orang lain, atau sebaliknya mencela diri dan memuji orang lain. Pengetahuannya masih sebatas mendengar. Keyakinannya masih sebatas mulut. Sekali waktu, ketika ia mengarahkan pandangan ke dalam dirinya, ia akan mencela dirinya sendiri dan menemukan kebijaksanaan berlimpah di dalamnya. Tetapi, saat ia mengarahkan pandangan ke luar dirinya, ia cenderung menggonggong dan mencela orang lain. Ia sangat bangga dengan amaliah perbuatannya. Lantaran itu, anjing itu aku namai Sang Siti Jenar, nama besar yang bangga dengan amaliah berbagi keberlebih-kelimpahan yang nyaris menjerumuskanku ke jurang pemberhalaan diri.”

“Kera coklat kemerahan yang engkau saksikan berdiri tegak di depan anjing putih kekuningan adalah perwujudan nafs al-mulhammah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan berdiri (i’tidal). Ia perlambang air yang secara kodrati turun dengan arah tegak lurus. Citra perwujudan kera coklat kemerahan itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Ihsan, yaitu tangga Pengetahuan tingkat ketiga. Ia adalah kesadaran jiwa yang sudah dapat merasakan perbedaan nuansa Kebenaran dan Kebatilan. Ia mampu menangkap sarana yang bisa mengantar ke samudera kebahagiaan. Ia dapat membedakan ilham kefasikan dan ilham ketakwaan yang masuk ke dalam hatinya. Tetapi, sering kali ia kurang waspada dan terseret ke dalam lingkaran ilham kefasikan. Jiwa ini di dalam melakukan perjalanan ruhani berada di bawah pengawasan Allah. Lantaran itu, ia aku namai Sang Jnanawesa, yaitu nama yang bermakna masuknya ilham ketakwaan dan ilham kefasikan ke dalam jiwa manusia.”

“Kera putih yang engkau saksikan bersujud di depan kera coklat kemerahan adalah perwujudan nafs al-Muthma’innah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan bersujud (sujjud awwal). Ia perlambang angin yang secara kodrati melingkupi Kehidupan di muka bumi. Citra perwujudan kera putih itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah ‘ilm al-Yaqin, yaitu tangga Pengetahuan tingkat keempat. Ia adalah jiwa yang sudah tenang karena kedudukannya berada di tengah-tengah antara ruh dan nafs. Jiwa ini dalam melakukan perjalanan ruhani berada bersama Allah. Ia masih memiliki kecenderungan untuk tertarik pada suara-suara keindahan yang terdengar dari taman surgawi pancaran al-Jamal. Itu sebabnya, aku menamainya Sang Jnanaprasada, yang bermakna ketenangan jiwa surgawi.”

“Singa putih yang engkau saksikan duduk di depan kera putih adalah perwujudan nafs ar-radhiyyah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan duduk (jalsah awwal). Ia perlambang aether. Citra perwujudan singa putih itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah’ain al-Yaqin, yaitu tangga Pengetahuan tingkat kelima. Jiwa ini dalam melakukan perjalanan ruhani berada di dalam Allah. Jiwa ini tenggelam di dalam Pengetahuan Allah. Ia adalah jiwa yang sudah berada di dalam keyakinan sempurna atas kehambaan dirinya dan Keilahian Rabb-nya. Ia aku namai Sang Jnanekatwa, yang bermakna ketunggalan jiwa dan Jiwa.”

“Rajawali putih yang engkau saksikan bersujud di depan singa putih adalah perwujudan nafs al-mardhiyyah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan bersujud (sujjud tsani). Ia perlambang cahaya yang dipancarkan dari matahari, bulan, dan bintang ke permukaan bumi. Citra perwujudan rajawali putih itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah haqq al-Yaqin, yaitu tangga Pengetahuan tingkat keenam. Ia adalah jiwa yang diridhoi Allah. Ia menyaksikan Kebenaran Tuhan dengan Tuhan (‘araftu Rabbi bi Rabbi). Ia jiwa yang terbang bebas memuji Keagungan dan Kebesaran Yang Mahabenar. Dalam kelana jiwanya yang bebas, ia selalu memuja Penciptanya dengan suara Kebenaran: Haqq! Haqq! Haqq! Lantaran itu, ia aku namai Sang Jnanasunya, yang bermakna bebas dari kemenduaan.”

“Sedang burung anqa putih laksana kabut tipis yang engkau saksikan duduk di depan rajawali putih adalah perwujudan nafs al-kamilah yang secara naluriah dikodratkan memuja dan menyembah Penciptanya dengan duduk (jalsah tsani). Itulah lambang al-haba (atom). Citra perwujudan burung anqa putih selembut kabut tipis itulah yang di dalam tingkatan anak tangga ruhani disebut dengan istilah al-Islam, yaitu tangga Pengetahuan tingkat ketujuh. Inilah tahap puncak perkembangan aku menuju Aku. Iniah jiwa yang disucikan (nafs al-qaddisah). Aku namai burung anqa putih laksana kabut tipis itu dengan gelar kemuliaan Sang Kawula Pinakatunggal, yang bermakna hamba yang menyelam ke Sumber Samudera Kesendirian Tuhan (al-‘aini al-bahri al-wahdati).”

“Terima kasih Ramanda,” kata Raden Sahid takzim. “Sekarang jelaslah bagi ananda, bahwa di balik ketentuan hukum sarak yang mewajibkan manusia mendirikan shalat dengan gerakan qiyam – ruku’ – i’tidal – sujjud – jalsah – sujjud – jalsah itu sejatinya tersembunyi rahasia kodrati penyembahan masing-masing nafs manusia. Ananda pun sekarang paham kenapa gerakan shalat tiap satu raka’at itu terdiri atas tujuh gerakan, yaitu qiyam – ruku’ – i’tidal – sujjud – jalsah – sujjud – jalsah. Rupanya, masing-masing gerakan shalat itu mewakili kodrat penyembahan tujuh nafs di dalam diri manusia, yaitu ammarah – lawwammah – mulhammah – muthma’innah – radhiyyah – mardhiyyah – kamilah. Ananda juga baru beroleh jawaban sekarang, kenapa di dalam melakukan shalat, tujuh bagian anggota badan manusia harus menyentuh tanah: kening – dua telapak tangan – dua lutut – dua ujung telapak kaki. Bahkan sebelum shalat, ketika orang mengambil air wudhu untu membasuh tujuh bagian anggota tubuhnya: mulut – hidung – wajah – tangan – telinga – kepala – kaki, rupanya semua itu terkait dengan lambang penyucian tujuh nafs yang memiliki lima pintu indria.”

“Memang demikianlah adanya,” sahut Abdul Jalil datar. “Bahkan, ibadah shalat pun dianggap tidak sah jika tidak membaca surat al-Fatihah yang terdiri atas tujuh ayat. Itu berarti, masing-masing ayat dari surat al-Fatihah memiliki kaitan rahasia dengan pendakian tujuh tangga Pengetahuan dari masing-masing nafs tersebut. Dengan demikian, bagi orang-orang beriman yang sudah mengetahui rahasia ini, ia tidak lagi menjadikan shalat sebagai upacara formal di dalam menyembah Tuhan sebagaimana layaknya seorang hamba menyembah rajanya. Mereka yang sudah mengetahui rahasia ini menjadikan shalat sebagai proses kenaikan (mi’raj) kesadaran dari anak tangga pertama kemajemukan (katsrah), melampaui lima tahap kehadiran (al-hadharat), dan berakhir pada anak tangga ketujuh: Kesatuan (tauhid). Inilah yang dimaksud Nabi Muhammad Saw. dengan ucapan ‘shalat itu mi’raj bagi orang-orang beriman (ash-shalat al-mi’raj al-mu’minin)’, yakni proses terlampauinya tangga Pengetahuan Islam – Iman – Ihsan – ‘Ilm al-Yaqin – ‘Ain al-Yaqin – Haqq al-Yaqin – Islam. Dengan demikian, akhir sebuah shalat adalah salam. Salam. As-Salam. Yang Maha memberi Kedamaian. Islam adalah damai. Damai.”

“Bagaimana dengan tindakan orang-orang yang mengaku sudah makrifat dan kemudian meninggalkan shalat?” tanya Bardud minta penjelasan.

Abdul Jalil diam. Mengatup rahang kuat-kuat. Matanya disapukan ke sekitar. Sejenak setelah itu, ia berkata dengan suara aneh seperti digetari lengkingan rajawali, “Jika ada manusia menyatakan dirinya tidak perlu lagi melakukan ibadah shalat jasad karena mengaku sudah makrifat – sementara jika dilihat dengan bashirah, nafs-nafs-nya masih berkerumun di dalam keakuannya – maka aku katakan, sesungguhnya manusia itu pembohong takabur yang sesat jalan. Dia masih mengaku-aku. Mengaku Aku tetapi sejatinya masih aku. Lantaran itu, lihatlah dengan bashirah. Bashirah. Sebab, dengan bashirah, segala macam kebohongan akan tersingkap.”

22. Bayangan – Bayangan Kusam

Rentang waktu semenjak ditariknya alim ulama dan pasukan bertombaknya ke Demak adalah rentang waktu yang sarat dipenuhi ketegangan. Saat itu, ibarat menunggu badai susulan yang mengamuk, semua mata diarahkan ke sosok Tranggana dan menunggu-nunggu tindakan apa yang bakal dilakukannya bersama kaki tangannya. Tindakan-tindakan Tranggana menertibkan Kehidupan beragama yang berlanjut dengan pembunuhan terhadap para pemuka dukuh Lemah Abang telah menimbulkan berbagai reaksi yang umumnya mengarah pada lahirnya kebencian baik terhadap Tranggana, alim ulama, maupun agama Islam.

Di tengah ketegangan menunggu-nunggu itulah tersebar kabar burung yang makin lama makin berkembang meningkatkan ketegangan bahwa Tranggana sedang menyiapkan sebuah pembasmian terhadap siapa saja di antara manusia yang menjadi pengikut Syaikh Lemah Abang. Lalu, orang melihat sekumpulan demi sekumpulan orang bergerak meninggalkan dukuh Lemah Abang menuju berbagai penjuru negeri untuk menyelamatkan ajaran dan keyakinan mereka dari pemusnahan yang dilakukan penguasa. Mereka adalah penduduk dukuh Lemah Abang yang menangkap perlambang makna dari guru suci panutannya sebagai titah untuk meninggalkan dukuh dan membukan dukuh di tempat lain. Mereka yang meninggalkan dukuh Lemah Abang itu ada yang tinggal di negeri Palembang, Malaka, Pasai, Banjar, Lawe, Gowa, Butan, Haru, Hitu, Ternate, Tidore, dan Bima. Di sana mereka mendirikan dukuh-dukuh Lemah Abang, Tanah Merah, Batu Merah, Lemah Putih, Batu Putih, dan meneruskan ajaran-ajaran Syaikh Lemah Abang yang mereka yakini kebenarannya.

Sementara, di tengah hiruk kabar burung dan pengungsian penduduk dukuh Lemah Abang, tidak sedikit pun bukti menunjuk bahwa Tranggana telah menggerakkan alim ulama dan pasukannya untuk membumi hangus dukuh-dukuh Lemah Abang, meski orang-orang di Demak melihat persiapan-persiapan penyerangan sudah dilakukan. Rupanya, pada detik-detik akhir menjelang dilakukannya penyerangan, Syarif Hidayatullah datang menghadap Tranggana untuk melaporkan kematian puteranya, Pangeran Bratakelana. Saat itu pula Syarif Hidayatullah memberi saran agar penumpasan terhadap semua pengikut Syaikh Lemah Abang tidak dilakukan. Sebab, kalau yang dianggap bersalah adalah sang guru, hendaknya hukuman dijatuhkan kepada sang guru yang bersangkutan. Lalu, dengan mengambil ibarat membasmi tikus tidak perlu membakar rumah yang dijadikan sarang, tetapi cukup mengusir dan membunuh tikus-tikus, sadarlah Tranggana bahwa sebuah pembasmian tidak akan membawa hasil yang lebih baik kecuali dendam dan kebencian. Syarif Hidayatullah memberi tahu Tranggana bahwa di Caruban para pengikut Syaikh Lemah Abang dapat ditundukkan dan menjadi pengikut Syaikh Malaya Susuhunan di Kalijaga. “Jika pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang mengetahui hal itu, tentu mereka akan beramai-ramai mengalihkan kiblat keyakinan mereka kepada saudara kami yang tinggal di Kalijaga,” ujar Syarif Hidayatullah.

Tranggana sangat yakin dengan kebenaran nasihat yang disampaikan Syarif Hidayatullah. Usai membincang nasib saudarinya, Nyi Mas Ratu Nyawa, yang sudah menjanda dan akan dinikahkan dengan putera Syarif Hidayatullah yang lain, Pangeran Muhammad Arifin, cucu Menak Lampor Adipati Tepasana, Tranggana meminta kepada Syarif Hidayatullah agar berkenan membujuk Syaikh Malaya Susuhunan Kalijaga untuk tinggal di Demak. “Kami sudah mendengar kemasyhurannya di Caruban. Kami pasti akan mengangkatnya sebagai imam masjid agung dan sekaligus guru ruhani bagi keluarga kami,” kata Tranggana berharap.

Kesanggupan Syarif Hidayatullah untuk mengusahakan agar Syaikh Malaya Susuhunan Kalijaga berkenan tinggal di Demak, meski waktunya tidak ditentukan, telah melegakan Tranggana. Ia memutuskan untuk menunda penyerangan terhadap dukuh-dukuh Lemah Abang sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Namun demikian, pasukan tombak yang sudah bersiaga untuk menyerang itu tidak bisa dihentikan begitu saja. Lalu, orang melihat iring-iringan pasukan tombak yang dipimpin para alim Demak itu bergerak ke wilayah Pati, menertibkan kehidupan beragama di sana yang diikuti tumpahnya darah dan bergelimpangannya mayat-mayat manusia yang dituduh murtad dan bid’ah. Bahkan, saat terdengar kabar Adipati Hunus jatuh sakit, pasukan tombak yang dipimpin alim ulama itu bergabung di bawah pimpinan Raden Darmakusuma, putera mendiang Adipati Pati Kayu Bralit. Adipati Pati Kayu Bralit II, adik Raden Darmakusuma, yang sejak penyerbuan ke Malaka tidak didukung lagi oleh pasukan dari Japara, tidak dapat menahan serangan pasukan tombak. Adipati Kayu Bralit II yang dengan gagah berani bersama sisa-sisa pasukannya melakukan perlawanan, gugur dalam pertempuran secara ksatria. Jenasah Adipati Kayu Bralit II dibuang ke tengah hutan supaya dimakan binatang buas, karena ia dianggap murtad.

Keberhasilan Raden Darmakusuma menghancurkan kekuatan adiknya ternyata tidak mematahkan pandangan penduduk yang tidak membenarkan lagi kepemimpinan berdasar pembunuhan. Saat Raden Darmakusuma dan para alim Demak beserta pasukannya merayakan kemenangan, penduduk kuta dan desa-desa di kadipaten Pati diam-diam menyingkir ke Wirasari, Sesela, Bulu, Balora, Tuban, Jipang, Rajegwesi, dan terutama di dukuh-dukuh Lemah Abang. Sebagaimana penduduk pedalaman Nusa Jawa yang lain, mereka memendam sikap antipati terhadap orang-orang berpakaian serba putih yang memaklumatkan diri sebagai alim ulama penegak kesucian agama Islam. Mereka menganggap semua ulama yang mengenakan jubah, surban, dan biji tasbih sebagai jelmaan Bhattara Yama, Sang Maut, dan para pengikut bertombaknya dianggap sebagai para Kingkara, prajurit-prajurit Yamani (Jawa Kuno: neraka).

Tindakan penduduk Pati menyingkir ke pedalaman diterima Tranggana sebagai sebuah bukti bahwa ajaran Syaikh Lemah Abang sudah begitu kuat diikuti penduduk. Sebab, sebelum gagasan masyarakat ummah yang disampaikan Syaikh Lemah Abang dijalankan di kadipaten-kadipaten pesisir, penduduk sebagai kumpulan manusia yang berkedudukan kawula (Jawa Kuno: budak) hanyalah penghuni wilayah yang paling pasif. Mereka tidak pernah peduli dengan urusan pemerintahan negerinya. Mereka tidak peduli bagaimana pemimpin-pemimpin mereka berebut kuasa dan wibawa. Bahkan, mereka tidak peduli siapa yang memimpin mereka dan bagaimana para pemimpin itu memperlakukan mereka. Mereka hanya sadar bahwa mereka adalah kawula. Budak. Tidak lebih dari itu. Bahkan untuk menandai kebudakan mereka, pribadi-pribadi manusia itu membentuk satuan-satuan terkecil anggota penduduk sebuah negeri dan menyebut keberadaannya dengan istilah kawulawarga (Jawa Kuno: kumpulan budak) yang seluruh hajat hidupnya dikuasai oleh kalangan penguasa yang menyebut diri golongan gusti (Jawa Kuno: tuan, yang berkuasa). Kini, setelah gagasan masyarakat ummah yang dikemukakan Syaikh Lemah Abang diterima sebagai tatanan baru kehidupan penduduk di pesisir Nusa Jawa, para anggota kawulawarga itu mendadak menjadi liar dan susah dikendalikan. Ibarat kawanan harimau keluar dari hutan, penduduk yang menyebut diri sebagai masyarakat ummah itu telah menjelma menjadi binatang liar yang buas dan berbahaya dan tidak gampang dijinakkan.

Sesaat setelah diberi tahu oleh Syarif Hidayatullah tentang perkembangan keadaan di Demak, Raden Sahid meninggalkan Kalijaga untuk mengunjungi dukuh-dukuh Lemah Abang. Ia ingin mengetahui apa sejatinya yang terjadi dengan dukuh-dukuh tersebut setelah kemelut panjang yang meliputi perebutan kuasa dan wibawa antara Yang Dipertuan Demak dengan Yang Dipertuan Japara.

Ketika sampai di Japara, ia menemui Ki Saridin, seorang murid Syaikh Siti Jenar yang menjadi kepala dukuh Lemah Abang di Japara. Sejak peristiwa terbunuhnya kawan-kawannya oleh satuan-satuan bersenjata, Ki Saridin didaulat menjadi guru suci wakil Syaikh Lemah Abang oleh para pengikut kepala dukuh yang terbunuh. Karena kedudukan barunya itu, Ki Saridin disebut orang dengan nama terhormat Syaikh Jangkung. Dia sangat dihormati penduduk karena merupakan salah seorang murid Syaikh Lemah Abang dari kalangan orang kebanyakan yang berhasil menjadi adimanusia. Lantaran keberhasilannya itulah Raden Sahid menempatkannya sebagai salah seorang murid Syaikh Lemah Abang terkemuka.

Menurut Ki Saridin sendiri, sejak kematian para pemuka dukuh Lemah Abang, yang disusul pengungsian sejumlah pemuka dukuh ke berbagai negeri, ditambah raibnya sang guru suci bagai ditelan bumi, terjadi perubahan besar di antara para pengikut Syaikh Lemah Abang yang tersisa. “Ibarat anak-anak ayam ditinggal induknya, para murid dan pengikut Kangjeng Syaikh terpecah menjadi tiga kelompok besar. Pertama-tama, kalangan alim ulama yang memimpin Tarekat Akmaliyyah, Haqqmaliyyah, Khaliqiyyah, Sattariyyah, Kubrawiyyah, dan Wahidiyyah memutuskan untuk menjadikan tarekat yang mereka pimpin sebagai ajaran rahasia yang khusus diajarkan kepada keluarga. Kedua, kalangan bangsawan juga memutuskan hal serupa, mengajarkan tarekat hanya kepada keluarga. Yang justru membingungkan adalah pengikut yang berasal dari kalangan orang kebanyakan, baik yang tinggal di dukuh-dukuh Lemah Abang maupun di desa-desa sekitarnya.”

“Kenapa dengan mereka?” Raden Sahid minta penjelasan.

“Mereka terpecah menjadi tiga kelompok yang saling bersaing. Kelompok pertama memilih pemimpin sendiri untuk melanjutkan ajaran tarekat yang diwariskan kangjeng syaikh. Kelompok kedua, dua tiga orang warga di sejumlah dukuh secara sepihak mengajarkan ajaran batiniah yang dinisbatkan kepada kangjeng syaikh dengan alasan mereka mendapat wangsit langsung dari Allah untuk meneruskan tugas sang guru, membimbing manusia menuju Kebenaran Sejati. Yang terakhir, beberapa orang warga desa di sekitar dukuh mengajarkan ajaran batiniah yang juga dinisbatkan kepada kangjeng syaikh dengan alasan ditemui sendiri oleh arwah Syaikh Lemah Abang. Mereka mengaku ditugasi kangjeng syaikh untuk meneruskan ajarannya. Sungguh, tiga kelompok orang ini sangat membahayakan ajaran kangjeng syaikh, karena setahu kami mereka itu kurang memahami ajaran kangjeng syaikh secara benar dan sangat sedikit memahami ilmu-ilmu Keislaman,” ujar Ki Saridin.

“Mereka menggunakan nama apa untuk tarekatnya?”

“Ada macam-macam nama yang mereka gunakan. Ada yang menyebut tarekatnya dengan nama Agama Jawa, Islam Sejati, Wahyu Utama, Murti Tunggal, Sapta Warah, Lelana Brata, dan banyak lagi yang lain.”

Raden Sahid termangu-mangu mendengar paparan Ki Saridin. Dengan bekal penjelasan singkat itu, ia mendatangi dukuh-dukuh Lemah Abang dan desa-desa sekitarnya baik dengan menyamar sebagai penjual rumput, dalang wayang, maupun Syaikh Malaya. Ketika ia berkeliling ke dukuh-dukuh dan desa-desa sekitar Lemah Abang, dan mengenali para guru batiniah tersebut melalui penglihatan mata batin dan pendengaran jiwa, ia mendapati kenyataan yang memprihatinkan sekaligus mengharukan. Dengan penglihatan mata batin, ia menyaksikan sebagian di antara guru batiniah itu berdiri tegak menepuk dada penuh kepongahan, memamerkan kehebatan dan kemegahan diri. “Lihatlah kami! Lihatlah anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpi Syaikh Lemah Abang! Kami adalah anak-anak bangsa yang lahir dari kehinaan dan nistaan bangsa lain. Kami adalah anak-anak yang disusui dan disuapi Syaikh Lemah Abang dengan kesadaran dan keyakinan diri! Kami adalah anak-anak yang sudah memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah sesembahan segala bangsa dan bukan milik bangsa tertentu! Kami adalah penerus ajaran Bapak kami mulia, Syaikh Lemah Abang!”

Raden Sahid menarik napas panjang mendengar suara-suara itu. Dengan suara lembut penuh kasih, ia berkata, “Aku tahu siapa kalian sejatinya. Kalian adalah orang-orang yang sangat ceroboh di dalam mengajarkan pengetahuan ruhani. Seibarat satu ember air diambil dari sumber mata air yang jernih untuk dipindahkan ke dalam kendi-kendi dengan cara disiramkan, demikianlah kalian menumpahkan air yang jernih ke atas tanah dan hanya beberapa tetes saja yang masuk ke dalam kendi-kendi. Kalian telah berbuat zalim karena memberikan kalung mutiara kepada kawanan kera yang butuh pisang.”

“Wahai Syaikh Malaya! Janganlah engkau memandang kami dari kedudukanmu yang tinggi. Lihatlah kami sebagai kami! Kami adalah anak-anak bangsa yang diasuh, disusui, disuapi, dituntun, dan bahkan dicambuk oleh Syaikh Lemah Abang untuk memiliki keyakinan diri tinggi sebagai adimanusia. Kami dididik untuk yakin akan keberadaan diri. Kami dididik untuk berani tampil sebagai guru suci tanpa perlu membawa-bawa nama bangsa asing. Kami dididik untuk meyakini bahwa Allah adalah Tuhan semua bangsa dan bukan milik bangsa tertentu. Kami dididik agar yakin diri bahwa segala sesuatu adalah semata-mata kehendak Allah, sehingga kami tidak perlu berdusta mengatakan apa yang tidak kami punyai. Inilah kami!”

“Benarlah apa yang kalian katakan, o bayangan-bayangan kusam Syaikh Lemah Abang,” kata Raden Sahid penuh kasih, “Tetapi, hendaknya kalian sadar bahwa sebagian besar di antaramu menyampaikan pengetahuan yang tak jelas dari mana sumbernya. Kalian mengumpulkan air tumpahan dari ember dan memasukkannya ke kendi lain sehingga kemurnian dan kejernihan air tidak lagi tersisa. Air yang sudah keruh itu tidak lagi dapat memuaskan kehausan para musafir pencari Kebenaran, bahkan bisa mengundang penyakit.”

Terdengar suara hiruk dari orang-orang berceloteh. Sejenak kemudian, terdengar suara berisik sahut-menyahut seperti ratusan orang mengomel di dalam gua, “Tidakkah engkau mengetahui, 0 Syaikh Malaya, bahwa kecenderungan kalangan orang kebanyakan yang berpengetahuan dangkal dan berwawasan sempit dan bernalar picik adalah mencari guru yang sederajat dengan mereka? Ketahuilah olehmu, o Syaikh Malaya, kamilah guru yang sesuai dengan keinginan mereka. Sesungguhnya, Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan kepada kami bahwa Allah selalu memahami prasangka hamba-Nya sesuai batas-batas kemampuan sang hamba mengenal-Nya. Lantaran itu, biarlah kami dengan kesempitan wawasan, kepicikan nalar, kedangkalan pengetahuan, dan kepercayaan diri kami yang berlebihan, menjadi apa yang kami kehendaki. Jangan kami dinilai dengan penilaian yang tinggi. Sebab, Allah lebih tahu keterbatasan kami daripada manusia-manusia takabur yang merasa paling benar sendiri.”

Raden Sahid memahami para petani, tukang, perajin, juru tambang, penyadap getah enau, atau buruh tani yang tiba-tiba menjadi guru suci dan membaiat pengikut-pengikutnya itu telah menangkap dan memahami ajaran Syaikh Lemah Abang sebatas cakrawala pandangan mereka yang tidak pernah lebih jauh dari sawah, sungai, bukit, hutan, dan gunung yang melingkungi mereka. Wawasan mereka yang tidak pernah lebih luas dari kadipaten tempat mereka hidup telah menjadi ‘penghalang’ untuk memahami ajaran sang syaikh yang telah melanglang buana dan mereguk segarnya mata air ilmu dari berbagai bangsa. Kurangnya mereka bergaul dengan bangsa lain, dengan pemikiran-pemikiran yang beragam, telah pula menjadikan mereka sulit untuk menangkap secara baik dan sempurna tarekat yang diajarkan Syaikh Lemah Abang yang mensyaratkan kecerdasan dan perjuangan keras untuk mewujudkannya.

Sepengetahuan Raden Sahid, ajaran tarekat yang disampaikan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil, mertuanya, selalu disampaikan secara sistematik berupa pengetahuan ruhani dalam bentuk analogi meteforik (qiyas bayani), pembabaran ungkapan (futuh al-ibarah) pengetahuan gnostik (irfani), dan pembuktian-pembuktian (burhani), sehingga dibutuhkan kecerdasan lebih untuk menangkap dan memahaminya. Sebab itu, ia sangat memahami tiga kelompok – kalangan alim ulama, bangsawan, dan orang kebanyakan – karena masing-masing kelompok memiliki pemahaman yang berbeda dalam menangkap intisari ajaran yang disampaikan mertuanya. Bahkan, ia memahami ketika mendapati ajaran agung mertuanya itu telah menjelma menjadi seperangkat ajaran batiniah yang sangat dangkal dan membingungkan. Itu sebabnya, bertolak dari pengetahuan otak-atik mathuk yang merupakan dasar pengetahuan orang kebanyakan, para guru batiniah yang menyatakan diri pelanjut ajaran Syaikh Lemah Abang itu tanpa sadar telah membangun sistem epistemologi pengetahuan batiniah dengan prinsip-prinsip analogi metaforik (qiyas bayani) yang didasarkan atas kesamaan-kesamaan dan penyerupaan-penyerupaan yang tidak terikat aturan tertentu atau sekehendak sendiri dalam menafsirkan sesuatu. Dengan keyakinan diri yang berlebih-lebihan, mereka memaklumkan bahwa apa yang mereka sampaikan itu adalah Kebenaran mutlak tak tersanggah sebagaimana diajarkan Syaikh Lemah Abang.

Raden Sahid sendiri melihat pendangkalan atas ajaran mertuanya berawal dari kekurangpahaman para guru batiniah itu di dalam memaknai pokok-pokok bahasan pengetahuan ruhani yang disampaikan Syaikh Lemah Abang. Pokok-pokok bahasan yang seharusnya dipahami sebagai sistem pengetahuan ruhani yang akan digunakan membimbing salik ke jalan Kebenaran, ternyata diajarkan sebagai rangkaian doa-doa panjang untuk mencapai Kebenaran. Entah bagaimana awalnya, ungkapan-ungkapan metaforik dan kupasan-kupasan filosofis tentang jalan Kebenaran yang diajarkan Syaikh Lemah Abang, tiba-tiba menjelma menjadi rangkaian doa yang dihafal sedemikian rupa tanpa diketahui maknanya. Ajaran Syaikh Lemah Abang yang didasarkan pada keseimbangan pengetahuan bashrah yang memancar dari qalb dengan pengetahuan akal (‘aql) yang diterangi burhan itu telah berubah menjadi ajaran batiniah dangkal yang penuh mantera dan diselimuti takhayul.

Raden Sahid merasa iba kepada para guru batiniah yang memaknai ajaran Syaikh Lemah Abang sesuai pemahaman mereka yang kelewat sederhana itu. Mereka hampir selalu menyederhanakan masalah-masalah serius sesederhana penalaran mereka. Sering terjadi, ajaran Syaikh Lemah Abang yang bersifat rahasia dalam mengungkap Ruh al-Idhafi, dengan sangat naif disederhanakan sebagai sekadar kilasan-kilasan cahaya yang terlihat saat mata orang dikucek-kucek. Dengan keyakinan diri berlebihan, para guru suci menyatakan kepada pengikut-pengikutnya bahwa kilasan cahaya saat mata dikucek-kucek itu adalah cahaya Ilahi yang disebut Ruh al-Idhafi. Itulah mursyid pembimbing. Itulah guru sejati. Bahkan, dengan pongah tetapi naif dan konyol mereka menyatakan bahwa untuk melihat cahaya Ilahi tidak sulit dan hanya butuh waktu beberapa kedipan mata saja, yaitu saat mata orang dikucek-kucek. Demikianlah, murid-murid yang sama sederhananya dengan mereka dalam segala hal itu mengaminkan semua yang mereka ajarkan, sehingga sering kali terjadi peristiwa-peristiwa konyol yang memalukan di mana murid-murid yang senaif dan sekonyol gurunya itu berteriak-teriak “aku sudah ketemu tuhan,” ketika mereka menyaksikan kilasan cahaya di matanya yang sengaja mereka kucek-kucek.

Yang memprihatinkan Raden Sahid, di antara ajaran ruhani yang disampaikan guru-guru batiniah itu adalah pemberian makna kata-kata di dalam bahasa Arab dengan makna bahasa Jawa. Mereka, yang memang tidak paham dengan bahasa Arab yang menjadi dasar ilmu-ilmu Keislaman, dengan kesederhanaannya memaknai semua kata dan kalimat dalam bahasa Arab dengan bahasa Jawa. Kata “padang Arafah” mereka maknai sebagai “terangnya penglihatan”. Sebab, “padang” bermakna terang dalam bahasa Jawa. Arafah bermakna penglihatan dalam bahasa Arab. Dengan demikian, yang dimaksud “padang Arafah bukan tempat di Arab, melainkan terang-benderangnya penglihatan atas kilasan-kilasan cahaya saat mata dikucek-kucek.

Kata “Rasul Allah” mereka maknai sebagai “rasanya Allah”, karena kata “rasul” disama-artikan dengan kata “rasa”. Bunyi “ras” dalam bahasa Arab mereka pikir sama dengan “rasa” dalam bahasa Jawa. Akibatnya, mereka menafsirkan bahwa yang disebut Muhammad Rasul Allah itu bukanlah orang Arab bernama Muhammad yang menjadi Nabi umat Islam, melainkan Nur Muhammad yang ada di dalam alam ruhani. Nur Muhammad itulah “rasanya Allah”. Nur Muhammad itulah “rasul Allah”. Lantaran Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan bahwa masing-masing manusia adalah pancaran dan percikan Nur Muhammad, maka yang terpenting bagi manusia adalah bagaimana mereka mengetahui dan mengenal Nur Muhammad tersebut.

Muara dari penafsiran berdasar prinsip otak-atik mathuk – bahasa Arab dimaknai dengan bahasa Jawa dan sebaliknya – itu adalah munculnya pandangan yang menyatakan bahwa manusia yang melakukan sembahyang mengikuti ajaran agama Islam dari Arab yang disampaikan Nabi Muhammad adalah keliru, apalagi dengan berkiblat pada batu yang disebut Ka’bah. Bersembahyang menghadap Ka’bah itu musyrik karena menyembah batu. Mereka memaknai sembahyang yang dilakukan umat Islam sebagai kegiatan mobah molah muna muni (bergerak-gerak dan berkata-kata tanpa mengerti makna ucapannya). Bahkan, ajaran tentang Nur Muhammad pun akhirnya dimaknai sebagai matahari yang bersinar di tata surya.

Yang paling memprihatinkan Raden Sahid atas para guru batiniah itu adalah kecenderungan mereka untuk memperbanyak pengikut dengan membaiat semua orang secara serampangan dan borongan. Dengan alasan diperintah langsung oleh Allah atau arwa Syaikh Lemah Abang, mereka membaiat siapa pun yang datang. Tanpa kenal siang dan malam, setiap orang yang datang bertamu diiming-iming dengan cerita-cerita isapan jempol tentang tarekat, hakikat, makrifat, berkat, dan keramat yang jauh dari keagungan ilmu tasawaf. Tidak peduli apakah orang paham atau tidak dengan uraian dan penjelasannya, mereka langsung dibaiat. Sebab, dengan membaiat banyak orang, kedudukan mereka sebagai guru suci akan semakin kukuh dan melambung tinggi ke langit karena masyarakat sangat memuliakan para guru suci laksana dewa.

Sungguh berbeda apa yang dilakukan kebanyakan guru suci tersebut dengan Syaikh Lemah Abang. Jika Syaikh Lemah Abang mengajarkan tarekat secara rahasia, yakni kepada pencari Kebenaran Sejati dan para salik terpilih, maka kebanyakan guru suci baru itu mengajarkan tarekat secara terbuka selayaknya barang dagangan murah yang dijajakan kepada siapa saja yang mau menerima. Tidak hanya pencari Kebenaran Sejati, mereka yang berkeinginan mencari pangkat, derajat, jabatan, rezeki, bahkan pencari pesugihan pun diajari laku tarekat. Mereka mengajarkan semau-maunya semua ajaran rahasia dengan pamrih utama agar mereka menjadi guru suci yang memiliki banyak pengikut dan disegani manusia. Bahkan, bagian terbesar dari guru-guru batiniah baru yang semula adalah petani, pedagang kecil, tukang, perajin, penyadap getah enau, dan buruh kecil secara menakjubkan tiba-tiba menjelma menjadi “orang kaya baru”, karena selain menjadi guru batiniah mereka juga mengambil alih peran para janggan (dukun) di desanya. Dengan demikian, jika Syaikh Lemah Abang mengajarkan tarekat semata-mata untuk membimbing manusia menuju jalan Kebenaran, maka banyak di antara guru suci baru itu telah melumuri ajarannya dengan pamrih pribadi berlebihan. Pamrih. Pamrih. Beribu-ribu kali pamrih.

23. Suluk Malang Sungsang

Di tengah ketercengangan dan keprihatinan Raden Sahid atas munculnya guru-guru batiniah dari kalangan orang kebanyakan yang menyampaikan ajaran Syaikh Lemah Abang secara sederhana, ia mendengar kabar mengejutkan yang tidak disangka-sangka. Saat ia berada di kediaman Ki Ageng Gabus di Wirasari, ia diberi tahu oleh murid Syaikh Datuk Abdul Jalil itu tentang kemunculan dukuh-dukuh baru bernama Lemah Abang tidak jauh dari dukuh-dukuh Lemah Abang yang dibukan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di dukuh-dukuh Lemah Abang yang baru muncul secara misterius seorang guru suci bernama Hasan Ali yang dikenal dengan nama Syaikh Lemah Abang. Laksana seorang pengembara berkaki seribu, guru suci itu berkeliling dari satu dukuh Lemah Abang baru ke dukuh Lemah Abang baru yang lain dengan kecepatan angin. Di setiap dukuh Lemah Abang baru, sang tokoh misterius mengajarkan “jalan kebenaran” kepada penduduk. “Karena ajaran-ajarannya sangat sederhana dan gampang diikuti penduduk dari kalangan kebanyakan maka dalam waktu singkat pengikutnya melimpah. Para penduduk dari kalangan petani, tukang, perajin, pedagang kecil, penambang, penyadap enau, dan kuli datang berduyun-duyun untuk membaiat diri menjadi murid Hasan Ali,” ujar Ki Ageng Gabus.

“Apakah Hasan Ali itu orangnya bertubuh pendek dan kulitnya hitam?” tanya Raden Sahid.

“Benar Raden,” sahut Ki Ageng Gabus, “Apakah Raden mengenal dia?”

“Aku mengenal nama Hasan Ali dari penuturan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Aku pernah sekali bertemu sendiri dengan dia di Giri Kedhaton,” sahut Raden Sahid.

“Tapi dia mengaku berasal dari Caruban, sama dengan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Sebab itu, penduduk yang belum pernah melihat Syaikh Datuk Abdul Jalil mengira Hasan Ali adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil dan karena itu mereka menyebutnya Syaikh Lemah Abang. Sebenarnya, aku dan kawan-kawan hendak meluruskan masalah itu agar tidak terjadi kekeliruan yang menyesatkan. Tetapi, aku segera ingat wejangan terakhir beliau tentang sang bayangan. Karena beliau menitahkan semua pengikut harus diam saat sang bayangan muncul maka kami semua akhirnya diam,” ujar Ki Ageng Gabus.

“Hasan Ali memang kelahiran Caruban. Dia semula bernama Raden Anggaraksa, putera Rsi Bungsu dan cucu Prabu Surawisesa, Yang Dipertuan Galuh Pakuan,” kata Raden Sahid menjelaskan. Saat memaparkan tentang Hasan Ali itulah tiba-tiba di benak Raden Sahid berkelebat bayangan putera Rsi Bungsu itu: Tubuh yang pendek dan kulit yang gelap. Kepala yang lonjong dibungkus destar putih yang selalu terlihat mendongak, pertanda keangkuhan bawaan darah biru. Alis mata yang tebal, tetapi bola mata yang tidak bisa tenang dan selalu bergerak-gerak dari satu sudut ke sudut yang lain. Hidung yang kecil dan kurang mancung dengan bagian bawahnya ditempeli kumis sekasar ijuk. Janggut yang ditumbuhi beberapa helai rambut menjuntai menutupi dagu. Bentuk bibir yang mencibir, seolah mengejek orang. Sungguh sebuah citra diri manusia takabur yang selalu ingin menempati kedudukan tertinggi.

Berbekal petunjuk Ki Ageng Gabus, Raden Sahid pergi ke dukuh Lemah Abang baru yang letaknya memang tidak jauh dari dukuh Lemah Abang yang dibangun Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di situ ia menyusup di antara pengikut-pengikut Syaikh Lemah Abang gadungan. Ia memahami betapa bagi kalangan orang kebanyakan, ajaran sederhana yang disampaikan Hasan Ali memang sangat mudah dipahami dan diamalkan. Sebab, sebagaimana ajaran guru-guru batiniah di Lemah Abang dan sekitarnya, ajaran Hasan Ali pun hanya berupa teknik pernapasan ditambah sederetan doa yang tidak perlu ditelaah maknanya. Doa-doa yang diajarkannya pun lazimnya berkait dengan ilmu kanuragan, ilmu pengobatan, ilmu sihir yang bercampur-aduk dengan ajaran batiniah. Murid-murid yang umumnya datang dari kalangan orang kebanyakan yang tidak memahami ilmu-ilmu Keislaman, rata-rata tidak bisa membedakan mana ilmu pengetahuan ruhani yang menuju jalan Kebenaran dan mana pengetahuan perdukunan yang menuju pemenuhan pamrih pribadi yang diliputi hasrat-hasrat nafsu rendah badani.

Dalam waktu singkat Raden Sahid sudah mengenali perbedaan mencolok antara ajaran mertuanya dan ajaran Hasan Ali dalam hal meniti jalan ruhani menuju Kebenaran Sejati (al-Haqq). Pertama-tama, ia sangat paham dan telah membuktikan Kebenaran ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil di dalam konteks Kebenaran Sejati. Syaikh Datuk Abdul Jalil tegas-tegas mengajarkan bahwa untuk mencapai Aku, yang wajib dinafikan dari keberadaan seorang salik adalah aku. Selama aku masih mengaku ada maka, Aku tidak akan mengakuinya. Sehingga, selamanya aku akan terhijab dari Aku. Sebaliknya, Hasan Ali mengajarkan bahwa untuk mencapai Aku maka yang wajib dikuatteguhkan adalah aku. Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan bahwa lamunan kosong (al-umniyyah) yang membentuk angan-angan kosong (al-wahm) harus dihindari oleh para salik karena akan membawa kepada kesesatan al-mumtani’ yang terbit dari al-ghyar. Hasan Ali sebaliknya, dia justru mengajarkan tentang betapa pentingnya al-umniyyah dan al-wahm sebagai piranti untuk mencapai Kebenaran Sejati. “Tanpa menguatkan angan-angan khayalan menjadi Allah maka manusia tidak akan bisa menyatu dan menjadi Allah. Sebab itu, kuat dan teguhkan daya khayalmu bahwa engkau adalah Allah sendiri. Akumu adalah Aku Allah,” ujar Hasan Ali meyakinkan murid-muridnya.

Salah satu cara Hasan Ali untuk membuktikan kebenaran ajarannya, ia memberikan amalan-amalan doa yang salah satunya disebut Sindung Kraton, yaitu doa aneh yang jika dipaparkan maknanya kira-kira begini:

Eh ... eh ... eh. Akulah Sindung Liwang-liwung / Aku sudah ada di sini / Aku Ratu Agung / Ratu Kayaraya / Ratu Yang Berkuasa / Ratu Yang Didewakan / Ratu Sempurna Yang Tinggal di Pulau Kencana / Yang Merajai seluruh rasa / / Ruh-ku adalah ruh manusia / ruh api / ruh air / ruh angin / ruh bumi / ruh batu / ruh kayu / ruh besi / ruh nabi / ruh wali / ruh orang beriman / ruh malaikat / ruh jin / ruh setan / ruh banaspati / ruh ilu-ilu / ruh demit / ruh perayangan / ruh gandarwa / ruh makhluk sejagat / / datang hanyut datang terseret kepada seluruh ciptaan / jangan ada yang tertinggal / perkumpulan nabi wali orang beriman / terkumpul pada aku / Akulah Ratu Maulana yang bersemayam di dada manusia / Akulah Ratu Agung yang Merajai di dalam pagar batu kuasa / pintu-ku Ratu Kekayaan / tutup-ku Batu Agung / pintu rumah yang bisa menutup dan membuka sendiri / leh ... leh ... leh/

Ketika menerima amalan doa Sindung Kraton ini, Raden Sahid terkejut. Sepengetahuannya, amalan doa Sindung Kraton memuat gagasan-gagasan ajaran Majusi (Magi Zoroaster) terkait pemujaan Ormuzd. Bagaimana mungkin Hasan Ali bisa memperoleh doa-doa yang memiliki kaitan dengan ajaran Majusi? Dan yang tak kalah mengejutkan, Hasan Ali meyakinkan murid-muridnya bahwa doa Sindung Kraton tersebut selain dapat mengukuhkan keyakinan diri bahwa manusia sejatinya adalah jelmaan Yang Ilahi, yang ruh-nya menyebar ke segala ciptaan, juga dapat membuka pintu kuasa dan harta benda. Bahkan, kepada murid-murid yang dianggap sudah mendekati makrifat diajarkan doa-doa tambahan yang disebut Sindu Sepah, yang juga memuat gagasan doa bernuansa Majusi, yang kira-kira maknanya begini: Eh ... eh ... eh ... Aku Sindung Liwang-liwung / Aku sudah Ada di sini / lautan ramai / hutan kosong / ehek ... ehek ... yang ada aku sendiri //.

Semakin mengetahui ajaran yang disampaikan Hasan Ali, semakin sadarlah Raden Sahid jika makhluk dekil bernama Hasan Ali itu sangat tidak pantas menggunakan nama masyhur Syaikh Lemah Abang. Sebab, segala apa yang diajarkan Hasan Ali pada dasarnya jauh lebih berbahaya dan lebih gampang menyesatkan manusia dibanding yang diajarkan para guru batiniah di dukuh-dukuh Lemah Abang. Namun demikian, karena ia sudah diberitahu oleh mertuanya tentang akan munculnya bayangan hitam Syaikh Lemah Abang yang bakal menyesatkan umat, maka ia tidak berkata sesuatu pun tentang kepalsuan sosok Hasan Ali yang menggunakan nama Syaikh Lemah Abang itu. Ia merasa wajib untuk diam. Diam. Seribu kali diam, sebagaimana amanat terakhir sang mertua. Di tengah kemuakannya dengan sosok Hasan Ali, yang menuhankan diri itu, ia hanya menggumam dalam hati: memang, bayangan selalu lebih hitam dari wujud aslinya.

Belum hilang muaknya terhadap sosok Hasan Ali, Syaikh Lemah Abang gadungan, Raden Sahid mendapat kabar yang tak kalah mengejutkan saat berada di Pamotan menemui sahabat karibnya, Raden Qasim yang menjadi guru suci. Menurut Raden Qasim, di sejumlah dukuh di pedalaman telah muncul seorang guru suci bernama Syaikh Siti Jenar yang memiliki nama asli San Ali Anshar. Dia adalah guru ruhani Hasan Ali, San Ali Anshar mendirikan dukuh-dukuh Siti Jenar, Kajenar, dan Kamuning tidak jauh dari dukuh-dukuh yang pernah didirikan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil. Di dukuh-dukuh itulah ia mengajarkan tarekat ganjil yang campur aduk dengan ilmu ketabiban, ilmu sihir, dan ilmu kanuragan.

Mendengar nama San Ali Anshar, Raden Sahid merasa jantungnya berdegup-degup dan darahnya terpompa keras. Tak pelak lagi, San Ali Anshar yang dimaksud adalah Ali Anshar al-Isfahany, pengkhianat tengik yang menjadi penyebab kehancuran keluarga istrinya. Dan kini, makhluk rendah itu semakin menjadi-jadi kejahatannya dengan mengaku-aku sebagai Syaikh Siti Jenar. Tidak mungkin tidak, penganut ajaran Rawandi yang dibangsakan kepada Hakim bin Hasyim itu akan merusak nama Syaikh Datuk Abdul Jalil, katanya dalam hati.

Raden Qasim yang mengetahui bagaimana gejolak perasaan dan kecamuk pikiran sahabat karibnya itu membiarkan Raden Sahid menenangkan diri. Setelah suasana dirasa mereda, dia berkata, “Aku diam-diam sudah pergi ke dukuh Kajenar di Negeri Daha dengan menyamar sebagai pedagang kain. Aku berguru kepada San Ali Anshar yang dipuja seperti dewa oleh pengikut-pengikutnya. Dia mengajarkan macam-macam ilmu, terutama sejenis sihir yang disebut gendam, yaitu ilmu yang dapat mempengaruhi kesadaran orang seorang. Semua muridnya seperti tersihir kekuatan dahsyat sehingga selalu mematuhi semua titahnya.”

“Ilmu Gendam?” gumam Raden Sahid seolah mengingat-ingat, “Aku tiba-tiba teringat nama Gendam Smaradahana, penjahat yang telah mempermalukan Yang Dipertuan Terung.”

“Tepat sekali. Memang ada keterkaitan antara ilmu gendam yang diajarkan San Ali Anshar dan Gendam Smaradahana. Sebab, manusia bernama Gendam Smaradahana itu adalah murid San Ali Anshar. Dia sering membuat kisruh di berbagai tempat karena kegemarannya menggoda anak dan istri pejabat-pejabat kerajaan. Waktu aku di Daha, dia sedang dicari-cari oleh Adipati Panjer karena membawa lari selirnya.”

“Apakah Yang Dipertuan Terung sudah mengetahui kabar itu?”

“Sudah. Aku langsung menemuinya di Kraton Majahapit di Wirasabha. Sekarang ini pembunuh-pembunuh yang dikirim oleh murid ayahandaku itu sedang memburu Gendam Smaradahana,” papar Raden Qasim sambil menjelaskan bahwa semua ajaran yang disampaikan San Ali Anshar sangat bertolak belakang dengan ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil. “Kalau Syaikh Datuk Abdul Jalil mengajarkan Sasyahidan kepada para murid yang menduduki maqam ‘ahli kasyaf’ dan penemu (ahl al-kasyf wa al-wujud) agar dalam pendakian ruhani mencapai maqam Kesatuan Penyaksian (wahdat asy-syuhud), San Ali Anshar justru mengajarkan kepada murid-muridnya yang paling baru sekalipun tentang Kesatuan Wujud (wahdat al-wujud). Dia sangat terbuka membabar Kesatuan Wujud. Selama membabar rahasia Kesatuan Wujud itu, jelas sekali dia hanya ingin memamerkan kehebatan nalarnya. Sebab, sewaktu aku melihat dengan pandangan mata batin ternyata dia itu hanya pintar berbicara dan beradu hujjah. Pengalaman ruhaninya sangat rendah dan dangkal diliputi pamrih-pamrih duniawi. Keganjilan-keganjilan perbuatan ajaib yang dipertontonkannya semata-mata dari ilmu sihir,” ujar Raden Qasim.

“Apakah dia mengajarkan tentang Tuhan yang menjelma dalam wujud manusia?” tanya Raden Sahid.

“Setahuku, ajarannya tidak jelas benar. Satu saat dia mengajarkan bahwa manusia adalah jelmaan Tuhan sehingga saat dicipta malaikat-malaikat disuruh bersujud. Setelah itu, dia mengajarkan bahwa sifat Ilahiyyah yang ada pada diri para utusan Tuhan (rasul) menitis dari satu rasul ke rasul yang lain. Lantaran San Ali Anshar mengaku keturunan Nabi Muhammad Saw., maka ia menyatakan mewarisi sifat Ilahiyyah Nabi Muhammad Saw. tetapi yang aneh, dia mengajarkan pula keyakinan tentang avatar, yaitu titisan Wisynu. Ia mengaku sebagai titisan Wisynu wakil Tripurusa (Brahma-Wisynu-Syiwa) di dunia. Karena di Daha banyak pengikut Waishnawa, dan dia berkali-kali mempertunjukkan kehebatan ilmu sihirnya, maka dia diyakini pengikutnya sebagai titisan Wisynu. Sebab itu, dukuh Kajenar yang dijadikannya tempat membabar ilmu batiniah itu dinamai Wrendawana, yaitu kediaman Wisynu bersama para gopi pengikutnya.”

“Yang sangat membingungkan aku, dia mengajarkan dzikir berjamaah kepada pengikut-pengikutnya. Aku katakan bingung, sebab, pertama-tama, Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak pernah mengajarkan awrad seperti itu. Kedua, dzikir berjama’ah itu dilakukan bersama-sama antara jama’ah laki-laki dan perempuan. Semua berteriak-teriak seperti orang kesurupan dan banyak yang pingsan. Bahkan yang nyaris tidak aku mengerti, dzikir berjamaah itu dilakukan di makam Syaikh Syamsuddin ar-Rumi,” ujar Raden Qasim.

“Sungguh berbahaya tindakan guru-murid itu. Mereka bukan hanya merusak nama baik Syaikh Datuk Abdul Jalil, melainkan akan menyesatkan banyak manusia,” kata Raden Sahid.

“Lantaran itu, orang-orang Giri Kedhaton menyebut jalan ruhani (suluk) yang diajarkan Hasan Ali dan San Ali Anshar itu dengan nama ejekan: Suluk Malang Sungsang, ajaran perjalanan ruhani (tarekat) yang mengakibatkan sang salik makin terhijab dan terjungkir kiblatnya dari Kebenaran Sejati yang dituju,” kata Raden Qasim.

“Itu mewajibkan kita untuk mengambil tindakan pencegahan agar benih-benih Tauhid yang telah disebar Syaikh Datuk Abdul Jalil tidak terkotori oleh bid’ah-bid’ah yang disebar dua makhluk sesat itu, sebagaimana tanaman padi di sawah dirambati semak-semak,” kata Raden Sahid.

“Bukankah kita semua diperintahkan untuk diam oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil?”

“Maksudku, kita tidak perlu mengurusi San Ali Anshar dan Hasan Ali dalam hal ini. Kita hanya akan mengurusi pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil yang tersisa dan sebagian besar malah menyembunyikan jati dirinya. Saat aku berkeliling ke sejumlah dukuh Lemah Abang, banyak orang yang tidak berhak mengajar telah lancang mengajar karena mengikuti nafsunya sehingga ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil menjadi kabur karena tercampurnya pengetahuan ruhani (tarekat) dengan ilmu perdukunan,” kata Raden Sahid.

“Caranya bagaimana?” tanya Raden Qasim.

“Kita harus menghubungi semua pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka harus kita ingatkan bahwa melarikan diri dari kenyataan hidup adalah sesuatu yang paling dibenci Syaikh Datuk Abdul Jalil. Mereka harus mulai mengajarkan pengetahuan ruhani kepada yang berhak dan tidak hanya diperuntukkan bagi keluarganya sendiri. Saat mereka mengajar itulah, guru-guru batiniah yang mengaku pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil kita minta untuk belajar kepada mereka yang jelas-jelas memiliki kewenangan untuk mengajar. Jika ada yang menolak, kita maklumkan bahwa mereka itu bukan penerus ajaran Syaikh Datuk Abdul Jalil,” kata Raden Sahid.

“Berarti nanti akan ada penjenjangan untuk memilahkan siapa yang mengajar apa?”

“Itu sudah pasti.”

“Ukuran untuk menentukan jenjang apakah cukup dengan bashirah?”

“Tentu saja. Bukankah itu ukuran yang tidak bisa direkayasa?”

24. Titah Sang Naga Hitam

Bagi kebanyakan penguasa di pesisir Nusa Jawa, Tranggana selalu dikesankan sebagai orang yang suka mengumbar kesenangan, sembrono, kurang cerdas, kasar, gampang naik darah, dan telengas. Namun, bagi yang cermat mengamati tindakan-tindakan yang dilakukannya selama ia menggantikan kedudukan ayahanda dan kakaknya sebagai sultan, sekalipun hanya berkedudukan sebagai penguasa keagamaan, mereka melihat kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, baik dalam hal mengorganisasi kekuatan-kekuatan pendukung, memecah belah kekuatan-kekuatan penentang, menggalang dukungan, bahkan menahan kesabaran untuk tidak bertindak di saat menguntungkan sampai benar-benar terbukti bahwa tindakannya itu dapat membawa kemenangan. Dengan kelebihan-kelebihannya itu, di tengah persaingan kuasa dan wibawa dengan saudara iparnya, Adipati Hunus, ia selalu berhati-hati dalam bertindak. Ia tidak ingin kelengahannya dimanfaatkan oleh pesaingnya. Lantaran itu, saat alim ulama pendukungnya berniat membunuh semua pengungsi asal Persia yang dituduh kaum bid’ah, ia justru melarangnya. Ia tidak ingin pesaingnya mengambil manfaat dengan menjadi pelindung bagi pengungsi-pengungsi malang itu. Bahkan, untuk menghadang langkah pesaingnya, ia memberikan wewenang kepada Susuhunan Udung, imam Masjid Agung Demak, salah seorang anggota Majelis Wali Songo yang menjadi penasihat ruhani keluarganya, untuk memberikan perlindungan kepada para pengungsi asal Persia. Penunjukan itu penting sebab yang mengangkat Susuhunan Udung sebagai imam masjid adalah Adipati Hunus.

Selain alasan tidak ingin memberi peluang kepada pesaingnya dalam hal pengungsi asal Persia, Tranggana tampaknya sadar bahwa ia tidak boleh membiarkan alim ulama asal Khanat Bukhara, Samarkand, Kerala, Ferghana, Afghan, dan Malaka yang mendukungnya memiliki kekuasaan lebih daripada alim ulama asal Persia dan Goa yang selama itu kurang berperan. Ia tidak ingin kelompok alim ulamanya memiliki pengaruh kuat melebihi kekuasaannya. Ia sengaja membentuk kelompok lain dari alim ulama yang berpaham Syi’ah dengan dukungan para alim asal Persia dan Goa. Dengan tindakan itu, ia akan beroleh dukungan dari tiga kelompok alim ulama, yaitu Majelis Wali Songo, alim ulama Sunni dan alim ulama Syi’ah.

Dengan kebijakan berdiri di atas dukungan tiga pilar keagamaan itu, kekuatan yang ditata Tranggana terbukti jauh lebih kuat dibanding pesaingnya, Adipati Hunus. Sebab, di samping alim ulama Sunni dan Syi’ah yang setia mengabdi laksana kesetiaan dan pengabdian Karna kepada Duryudana, anggota-anggota Majelis Wali Songo yang tidak lain dan tidak bukan adalah kerabatnya telah menaikkan wibawanya di mata penduduk yang menganggap para anggota Wali Songo itu sebagai sahabat-sahabat Tuhan. Jika citra yang memancar selama masa awal kesultanan Demak didirikan adalah bias dari Suryya Majapahit, amak di saat Tranggana naik takhta citra itu bertambah gemilang dengan kenyataan yang menunjuk bahwa sultan Demak adalah kerabat Wali Songo.

Pangeran Dalem Timur, pengganti Susuhunan Giri Kedhaton, yang merupakan sahabat karibnya, sesungguhnya adalah saudara sepupunya karena ibundanya dan ibunda Pangeran Dalem Timur adalah kakak beradik, putera Raden Ali Rahmatullah Susuhunan Ampel. Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati adalah besannya. Raden Mahdum Ibrahim Susuhunan Bonang, Raden Ahmad Susuhunan Khatib Ampel Denta, dan Raden Qasim Susuhunan Drajat di Pamotan adalah saudara-saudara dari ibundanya. Raden Usman Haji Susuhunan Udung adalah besan dari pamannya, Raden Kusen, karena Jakfar Shadiq, puteranya, menikahi puteri Yang Dipertuan Terung yang bernama Nyi Mas Ratu Prada Binabar. Syaikh Dara Putih, yang menggantikan kedudukan Syaikh Jumad al-Kubra, adalah saudara lain ibu dari kakeknya. Bahkan Raden Sahid Susuhunan Kalijaga, yang diharapkan dapat membantunya, adalah kerabatnya juga karena Nyi Ageng Manila, neneknya, adalah adik dari Arya Teja, kakek Susuhunan Kalijaga.

Tindakan keras Tranggana terhadap para pengikut Syaikh Lemah Abang sendiri sesungguhnya dilatari oleh kekecewaan berlebih terhadap tindakan saudara tirinya, Pangeran Panggung, murid Syaikh Lemah Abang yang tegas-tegas memihak kepada saingannya, Adipati Hunus. Kekecewaan itu ditambah lagi oleh sikap keras kepala para pemuka dukuh Lemah Abang yang tidak mau diajak bersekutu untuk mendukungnya, meski mereka telah ditawari hadiah-hadiah dan jabatan-jabatan tinggi di kesultanan. Bahkan yang paling ditakutkannya, kebanyakan mereka yang menjadi murid Syaikh Lemah Abang adalah bangsawan-bangsawan Majapahit yang memiliki kemungkinan besar untuk merebut kekuasaan dari tangannya. Untuk yang terakhir ini, ia memang telah terpengaruh oleh pandangan-pandangan alim ulamanya tentang inti kekuatan kekuasaan Sultan Salim yang ditandai oleh pembunuhan terhadap saudara-saudaranya yang dicurigai dapat merebut takhta. Setiap sultan Turki, menurut alim ulamanya, adalah putera tunggal karena ia akan membunuh semua saudaranya yang mungkin dapat merebut kekuasaan darinya.

Berangkat dari hasratnya yang kuat untuk menandingi kekuasaan sultan Turki, diam-diam Tranggana sudah menyiapkan kekuatan-kekuatan pendukung bagi upayanya merebut kuasa dan wibawa sebagai raja jawa sebagaimana leluhurnya yang menjadi maharaja-maharaja Majapahit. Namun, berbeda dengan maharaja-maharaja Majapahit yang mengedepankan kekeluargaan dalam memperkuat takhta, ia justru ingin mengikuti jejak sultan-sultan Turki yang menjadi penguasa tunggal dengan memangkas mereka yang dianggap memiliki potensi merebut kekuasaan. Persaingannya dengan saudara iparnya, Adipati Hunus, adalah bukti tentang betapa pentingnya pandangan penguasa Turki itu diterapkan dalam kekuasaan yang bakal dipegangnya. Lantaran itu, ia harus menahan diri untuk tidak menggunakan kekuatan yang telah digalangnya, sampai Adipati Hunus yang sudah sakit-sakitan itu mati.

Selama menahan dengan kesabaran berlalunya sang waktu, Tranggana bukan berdiam diri tidak melakukan sesuatu. Ia justru melakukan hal-hal yang dinilainya dapat mempercepat kedatangan Sang Maut ke Japara untuk mencabut nyawa saingannya. Saat ia mendengar Adipati Hunus jatuh sakit, ia diam-diam memerintahkan alim ulamanya untuk menggempur Kadipaten Pati di bawah pimpinan Raden Darmakusuma. Terbunuhnya Adipati Kayu Bralit II, sahabat dekat Adipati Hunus, terbukti semakin memperparah sakit Yang Dipertuan Japara. Tak lama setelah itu, ia mengirim utusan ke Japara meminta perkenan Adipati Hunus menggunakan tenaga Khwaja Zainal Abidin untuk memperkuat kapal-kapal Demak yang akan dilengkapi dengan lapis besi dan meriam. Lalu, seiring kembalinya Khwaja Zainal ke Demak, tersiar kabar bahwa Yang Dipertuan Japara makin parah sakitnya dan beberapa kali tidak sadarkan diri.

Sementara, untuk mengambil simpati para pemuka dukuh Lemah Abang, Tranggana melalui Syarif Hidayatullah meminta agar Raden Sahid Syaikh Malaya yang tinggal di Kalijaga berkenan membantunya menyelesaikan masalah dengan para pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil. Meski Tranggana tidak mengetahui jika Syaikh Malaya adalah menantu Syaikh Datuk Abdul Jalil, ia meyakini penjelasan Syarif Hidayatullah bahwa guru suci dari Kalijaga itu memiliki pengaruh kuat di kalangan pengikut tokoh yang membukan dukuh-dukuh Lemah Abang. Lantaran itu, saat Syaikh Malaya datang ke Demak, Tranggana menyambut sendiri kedatangannya sebagai orang suci dan menganugerahinya tanah perdikan di Kadilangu.

Tranggana tidak mengetahui jika selama itu guru suci yang dikenal dengan nama Syaikh Malaya yang tinggal di Kalijaga itu telah berkeliling di wilayah kekuasaannya dengan menyamar sebagai penjual rumput atau dalang wayang. Lantaran itu, ia sangat heran dan takjub dengan pengetahuan sang guru suci tentang keadaan di wilayah kekuasaannya, termasuk kebijakan-kebijakannya yang tidak disukai penduduk. Tranggana bahkan menganggap sang guru suci sebagai wwang linuwih kang weruh sadurunge winarah (manusia berkelebihan yang mengetahui sesuatu sebelum dibicarakan). Untuk mengikat tali kekeluargaan dengan guru suci yang menjadi buah bibir penduduk itu, Tranggana menikahi puteri sulungnya yang bernama Nyi Mas Ratu Mandapa.

Siasat Tranggana mengikat tali kekeluargaan dengan guru suci dari Kalijaga itu terbukti membawa hasil luar biasa. Pengikut-pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil yang selama itu sangat memusuhinya dapat diredam oleh mertuanya, Susuhunan Kalijaga. Banyak dukuh Lemah Abang yang sekalipun tidak mau tunduk kepada sultan Demak, menyatakan tunduk di bawah bimbingan Susuhunan Kalijaga. Hubungan baik dengan penguasa Pengging yang selama itu renggang menjadi rapat ketika Pangeran Kebo Kenanga, putera mahkota Pengging, menikah dengan puteri Susuhunan Kalijaga yang bungsu, Nyi Mas Ratu Cempaka. Ikatan kekeluargaan Demak dengan Pengging semakin rapat dari pernikahan tersebut, karena Ratu Adi Ibunda Pangeran Kebo Kenanga adalah saudara ayahanda Tranggana. Tranggana benar-benar mendapatkan manfaat besar dengan kehadiran Susuhunan Kalijaga yang menjadi mertuanya itu. Namun demikian, ia merasa kurang puas karena sang mertua selalu tidak berada di kediaman meski telah dibangunkan rumah yang besar dan megah di Kadilangu. Tranggana selalu melihat sang mertua seolah seekor burung yang lebih suka terbang bebas di angkasa, meski telah disediakan sangkar emas.

Sementara, selama menunggu dengan sabar datangnya waktu yang tepat untuk merebut kuasa dan wibawa warisan ayahandanya, rupanya Tranggana semakin tunduk dan tidak berdaya menghadapi titah dari ular hitam yang bersarang di dalam relung jiwanya. Hari-hari hidupnya dilewati dengan mematuhi semua titah sang ular hitam yang bergelung dengan kepala mendongak ke atas. Setelah tahun-tahun berlalu dan langkah demi langkah dilaluinya dengan mematuhi titah sang ular, sampai ia merasa telah semakin tinggi mendaki puncak gunung kekuasaan, sang ular hitam telah tumbuh meraksasa menjadi naga hitam mengerikan. Dengan mata menyala laksana bara api, sang naga hitam menggeram-geram di pedalaman jiwa Tranggana seolah ingin menyemburkan api dari mulutnya untuk membakar dunia.

Setelah bertahun-tahun menunggu dengan sabar, datanglah kabar menggembirakan yang sangat diharapkan Tranggana: Adipati Hunus Sinuhun Natapraja Amir al-Mukminin Senapati Jimbun Sabrang mangkat setelah menderita sakit tak tersembuhkan. Tranggana tertawa terbahak-bahak dalam hati ketika semua orang meratapi kepergian pahlawan gagah berani tersebut. Namun, tawa gembiranya itu tidak berlangsung lama sebab kesabarannya masih harus diuji lagi. Hal itu ia sadari tidak lama setelah pemakaman Adipati Hunus, ia tidak sedikit pun mendengar selentingan kabar tentang adanya rencana para adipati pesisir untuk berkumpul menentukan pengganti almarhum. Itu berarti, ia masih dituntut untuk menahan sabar menunggu sikap para adipati. Sementara berdasar kasak-kusuk yang menebar, Tranggana mengetahui jika para adipati pesisir sesungguhnya tidak melihat sosok lain yang memenuhi syarat memimpin persekututan setelah kematian Adipati Hunus selain dirinya. Namun, mereka tidak ingin ia menjadi pemimpin karena ia adalah manusia berdarah dingin yang menghalalkan segala cara untuk merebut kekuasaan. Para adipati pesisir memilih diam sambil menunggu tindakan apa yang bakal dilakukan Tranggana setelah kematian pesaingnya itu.

Mengetahui sikap menunggu para adipati pesisir itu, Tranggana tetap menahan sabar dan menunggu. Namun, sebagaimana yang dilakukannya selama ini, ia tidaklah diam dan menunggu dengan pasif. Ia diam-diam selalu mengambil tindakan-tindakan yang sangat hati-hati yang berujung pada penguatan citra dirinya sebagai sultan yang berkuasa atas Nusa Jawa. Lantaran itu, sepekan setelah pemakaman Adipati Hunus, ia memaklumkan putera sulungnya, Pangeran Sabakingking, sebagai adipati Japara menggantikan Adipati Hunus. Meski kekuasaan Pangeran Sabakingking hanya sebatas Kadipaten Japara, pengangkatan tersebut melambangkan betapa kekuasaan duniawi telah digenggam sebagian oleh Tranggana. Pangeran Sabakingking akan menjadi penopang baru bagi kekuasaan Tranggana yang sudah didukung penguasa Pati, Sumenep, Sengguruh, Pasir, Samarang, dan Caruban. Dalam waktu yang berurutan, Tranggana memaklumkan pula bahwa putera keduanya, Pangeran Ratu, akan menggantikan kedudukannya sebagai sayidin panatagama, yang ditandai dengan pengangkatannya sebagai penguasa pesanggrahan sultan di gunung Prawata yang terletak di tenggara kuta Demak.

Sepintas, pengangkatan Pangeran Sabakingking sebagai adipati Japara merupakan langkah yang tepat untuk memperkuat kekuasaan Tranggana dan sekaligus melambangkan kekuasaan adipati telah digenggamnya. Namun, di balik pengangkatan itu, Pangeran Ratu, ternyata memendam ketidakpuasan karena dia ditempatkan sebagai pemimpin keagamaan (sayidin panatagama), yang dia ketahui telah membuat ayahandanya sangat menderita. Dia merasa tidak puas karena siapa pun di lingkungan keluarga sultan mengetahui bahwa di antara putera-putera sultan, hanya Pangeran Ratulah yang paling cerdas dan memiliki bakat dalam mengatur pemerintahan. Tampaknya, ketidakpuasan putera kedua Tranggana itu telah memunculkan ular hitam lain dari kedalaman jiwanya, yang menggeliat dan mendongakkan kepala karena melihat bayangan dirinya yang akan menjelma dalam bentuk naga hitam raksasa.

Sepekan setelah pengukuhan Pangeran Sabakingking, Tranggana memaklumkan penggantian jabatan imam Masjid Agung Demak dari Raden Usman Haji Susuhunan Udung kepada puteranya, Jakfar Shadiq. Meski usia Susuhunan Udung belum terlalu tua dan putera yang menggantikannya masih terlalu muda, penggantian itu sangat menentukan citra diri Tranggana sebagai penguasa baru, karena semua orang mafhum bahwa yang mengangkat Susuhunan Udung sebagai imam Masjid Agung Demak adalah Adipati Hunus. Dengan penggantian imam Masjid Agung Demak tersebut, Tranggana semakin menunjukkan kuasa dan wibawanya sebagai sultan yang memiliki kekuasaan duniawi sekaligus keagamaan.

Dengan digantikannya kedudukan Susuhunan Udung sebagai imam Masjid Agung Demak, bukan berarti putera Khalifah Husein itu tidak memiliki jabatan lagi. Sebab, Susuhunan Udung yang telah menjadi penasihat ruhani keluarga sultan dan diserahi tugas melindungi para pengungsi Syi’ah asal Persia, diberi kepercayaan oleh Tranggana untuk menduduki jabatan baru sebagai senapati Suranata: panglima pasukan bertombak yang mengawal sultan. Dengan adanya jabatan baru yang disebut Senapati Suranata tersebut maka seluruh satuan bersenjata yang dipimpin alim ulama Demak telah disatukan oleh Tranggana di bawah komando sang senapati.

Pengangkatan Susuhunan Udung sebagai senapati Suranata mengherankan dan sekaligus mengkhawatirkan para adipati pesisir, terutama dari keluarga Orob. Semua tahu bahwa Susuhunan Udung adalah seorang guru suci yang memiliki pengetahuan mendalam di bidang keagamaan. Selama bertahun-tahun menjadi anggota Majelis Wali Songo dan menduduki jabatan imam Masjid Agung Demak serta penasihat ruhani keluarga sultan, tidak sedikit pun ia diketahui memiliki keunggulan di bidang kemiliteran. Anehnya, Tranggana justru mengangkat alim ulama yang saleh itu menjadi senapati.

Tranggana tampaknya mengetahui kekhawatiran para adipati pesisir yang menduga ia akan memanfaatkan keberadaan Susuhunan Udung sebagai ujung tombak dalam memperkuat kuasa dan wibawanya selaku sultan. Lantaran itu, ia tetap berusaha sabar menunggu dan tidak menampakkan hasratnya untuk menggerakkan kekuatan bersenjata yang dipercayakannya kepada Susuhunan Udung. Ia sudah merasa cukup memberi perlambang kepada para adipati pesisir bahwa jabatan adipati dan senapati sesungguhnya telah ia pegang dan ia serahkan kepada orang kepercayaannya. Untuk menunjukkan kekuasaannya sebagai penguasa keagamaan yang juga memiliki kekuasaan duniawi, Tranggana dengan terbuka melakukan peningkatan mutu pasukan Suranata melalui penambahan jumlah prajurit berkuda, dan yang tak kalah penting adalah penanaman kefanatikan para prajurit bahwa mereka adalah tentara Allah (jundullah) yang memiliki tugas utama melindungi agama dan membersihkannya dari bid’ah.

Tranggana sendiri kelihatannya sangat bangga dengan pasukan Suranata yang sudah menunjukkan kesetiaan tinggi terhadapnya. Keberhasilan-keberhasilan pasukan bertombak itu dalam menjalankan tugasnya makin meningkatkan kecintaannya kepada pasukan tersebut. Kegagahan pasukan Suranata saat menumpas para penganut bid’ah di dukuh-dukuh Lemah Abang dan Randu Sanga adalah bukti tak tersanggah dari keperkasaan sebuah pasukan kaum beriman. Pasukan yang anggota-anggotanya terdiri atas petani, pedagang kecil, perajin, tukang, penyadap enau, dan kuli geladak itu telah menunjukkan kehebatan mereka ketika memporak-porandakan Kadipaten Pati yang mengakibatkan tewasnya Kayu Bralit II, sang adipati. Kini, pasukan itu sedang ditingkatkan ketrampilan dan perlengkapan tempurnya dan diharapkan setara dengan pasukan kadipaten lain. Seiring peningkatan mutu pasukan tersebut, Tranggana tampak sekali sudah tidak dapat menahan hasrat untuk menggunakan pasukannya. Ia merasa, betapa setelah bersabar menunggu sekian lama, sudah waktunya ia memamerkan kekuatan yang selama ini digalangnya. Ia ingin menunjukkan kepada para adipati pesisir yang sudah merendahkannya bahwa ia setiap waktu dapat menciptakan kebinasaan seperti di Kadipaten Pati. Ia ingin menunjukkan bahwa kalau mau ia akan dapat mengganti kedudukan siapa pun adipati yang tidak dikehendakinya.

Tranggana adalah Tranggana. Sekalipun ia memiliki kecenderungan untuk meledakkan kemarahan, ia selalu dapat berpikir jernih ketika akan mengambil keputusan akhir. Di tengah amarah dan keinginannya untuk pamer kekuaran senjata dan menghukum para adipati pesisir, ternyata ia masih dapat menahan diri untuk tidak buru-buru mewujudkannya dalam kenyataan. Ia sadar, menciptakan kebinasaan seperti di Kadipaten Pati akan memakan waktu lama dan jalan panjang yang berliku-liku, bahkan sangat mungkin bisa memunculkan serangan balik yang dilakukan bersama-sama oleh para adipati. Ia sadar, cara lain untuk menundukkan kepongahan adipati-adipati pesisir yang tegar tengkuk itu masih terbuka. Salah satunya: menaklukkan kekuasaan tua bangka yang sedang sekarat, Majapahit. Ya, para adipati pesisir yang hampir semua – kecuali keluarga Orob – mengaku keturunan Majapahit, tentu akan tunduk menyembah di bawah telapak kakiku, jika takhta Majapahit berada di dalam genggamanku, kata Tranggana dalam hati.

Selama menunggu, Tranggana memang telah berpikir tentang kurang kuatnya pilar kekuasaan Demak yang hanya didukung adipati-adipati pesisir yang beragama Islam. Adipati-adipati di pedalaman yang lazimnya masih menganut kepercayaan lama enggan masuk ke dalam persekutuan. Mereka masih merasa sebagai bagian dari kekuasaan Majapahit. Bahkan, para adipati pesisir pun masih bangga mengaku-aku trah Majapahit. Tranggana mendapati kenyataan bahwa kuatnya Majapahit bertahan – terutama Patih Mahodara dan sekutunya – lebih dikarenakan penguasaan atas pusaka-pusaka kerajaan. Ya, pusaka-pusaka kerajaan sebagai bagian dari lambang kekuasaan seorang ratu masih kuat mencekam ingatan semua orang, sehingga mereka yang memegang pusaka-pusakalah yang bakal diakui keabsahan kuasa dan wibawanya. Bahkan Raden Kusen Adipati Terung, paman Tranggana yang menyimpan keris Naga Sasra peninggalan Prabu Kertawijaya, diyakini masyarakat sebagai pembawa sebagian kuasa dan wibawa Majapahit.

Sebagai seorang pangeran keturunan Majapahit, Tranggana mengetahui sejumlah nama pusaka yang dianggap sebagai penopang kuasa dan wibawa Majapahit. Dari ayahanda, paman, kerabat, dan para empu pembuat pusaka, ia mengetahui jika kuasa dan wibawa Majapahit di bawah Sri Surawiryawangsaja yang bertakhta di Daha ditopang oleh tiga pusaka utama, yaitu Sang Kalacakra, Sangkelat, Kyayi Carubwuk. Yang disebut Sang Kalacakra adalah pusaka yang dibuat dari emas berbentuk bulat pipih dihias rajah-rajah berkekuatan gaib mengikuti delapan penjuru mata angin. Pusaka Sang Kalacakra melambangkan penguasaan atas waktu dan diyakini dapat menolak segala marabahaya melalui sarana delapan kata rahasia yang dibaca terbalik-balik: Yamaraja – Yamarani – Yamidora – Yamidosa – Yasihama – Yasilapa – Yasiyaca – Yadayuda. Pusaka Sang Kalacakra inilah yang oleh kalangan penduduk muslim disebut dengan nama Kala Munyeng (putaran waktu). Sedang yang disebut Sangkelat adalah pusaka yang diyakini dapat mengeluarkan makhluk berkekuatan luar biasa yang selalu membantu pemilik pusaka. Sementara yang disebut Kyayi Carubwuk adalah pusaka yang dibuat dari lima jenis logam campuran dan dibalur dengan tujuh jenis racun yang tidak ada penangkalnya. Tiga pusaka itulah yang harus berada di dalam genggaman Tranggana agar ia dapat berkuasa atas seluruh Yawadwipamandala.

Gagasan Tranggana untuk menyerang Majapahit ternyata mendapat sambutan gegap gempita dari alim ulama pendukungnya, meski alasan masing-masing saling berbeda. Para alim yang sudah sering mendengar kisah kebesaran kerajaan kafir itu tidak dapat lagi menahan sabar untuk tidak membasmi segala bentuk kemusyrikan yang masih berlangsung di kerajaan tua itu. Mereka mendesak Tranggana untuk secepatnya mewujudkan gagasan tersebut dalam kenyataan. Mereka bahkan menyatakan dengan terbuka bahwa di antara sekian banyak kebijakan Tranggana selama menjadi sultan, hanya kebijakan menundukkan kerajaan kafir itu saja yang paling agung dan diridhai Allah. Dengan menunjukkan keunggulan, kegagahan, keberanian, dan kehebatan prajurit-prajurit Suranata, mereka meyakinkan Tranggana bahwa masalah penaklukan Majapahit sesungguhnya bukan sesuatu yang sulit. Ibarat membalikkan telapak tangan, begitulah Majapahit yang terkucil di tengah penduduk yang sudah muslim itu akan mudah ditaklukkan.

Tranggana yang sudah diamuk nafsu berkuasa tentu tidak menampik usulan-usulan alim ulama pendukungnya. Ia telah memutuskan untuk mewujudkan hasratnya menaklukkan Majapahit. Ia sangat yakin bahwa menaklukkan kerajaan tua yang sudah terkucil di pedalaman memang bukan hal sulit. Ia tampaknya telah lupa pada peristiwa pahit yang terjadi barang sewindu silam, ketika pasukan Majapahit menyerang dengan gagah tak terlawan oleh pasukan Suranata dan bahkan meluluh-lantakkan kuta Juwana. Ia benar-benar sudah tersilap oleh ambisi, hasutan, dan bualan alim ulama pendukungnya yang dibutakan oleh kemenangan-kemenangan dan dalil-dalil agama yang mereka tafsir-tafsir sendiri.

Di tengah kesibukannya mempersiapkan gempuran ke Majapahit, Tranggana tiba-tiba didatangi Raden Sahid Susuhunan Kalijaga, mertuanya. Dengan pandangan seorang arif, Raden Sahid mengingatkan menantunya agar membatalkan serangan ke Majapahit. Selain mengingatkan tentang kehancuran Juwana sewindu silam, Raden Sahid juga mengingatkan bahwa setangguh apa pun pasukan Suranata yang dibangga-banggakan itu, hendaknya tetap diingat bahwa mereka sebagian besar bukanlah prajurit-prajurit yang lahir dari keluarga prajurit. “Anggota-anggota pasukan Suranata hampir seluruhnya berasal dari kalangan petani, tukang, perajin, penyadap enau, kuli geladak. Jiwa mereka tentu tidak akan setangguh jiwa prajurit yang memang berdarah prajurit. Semangat juang mereka pun digantungkan semata-mata pada jimat-jimat, rajah, haekal, wafak, dan tosan aji. Sementara, para alim asal negeri atas angin yang memimpin mereka juga bukan orang-orang tangguh yang memiliki nyali dan ketabahan di medan laga. Mereka adalah para pecundang yang lari menghindari kenyataan pahit di negerinya. “Seibarat ayam jago kampung, dilatih setangguh apa pun jika tidak memiliki trah ayam aduan pastilah sang ayam kampung akan kalah jika berlaga melawan ayam aduan,” kata Raden Sahid.

“Ananda akan pusakakan petunjuk Ramanda Susuhunan,” kata Tranggana takzim.

“Di samping itu, penunjukan saudaraku Susuhunan Udung sebagai senapati sungguh sangat rawan karena hal itu bersangkut-paut dengan citra Majelis Wali Songo, apalagi sekarang malah diperintahkan menyerang Majapahit. Aku sangat yakin akan cepat berkembang pandangan penduduk bahwa Majelis Wali Songo sudah berubah menjadi lembaga keagamaan yang dibayar dan tunduk di bawah perintah sultan Demak. Hal itu tidak saja akan berpengaruh pada keberadaan Majelis Wali Songo, melainkan akan mempengaruhi kedudukan ananda sendiri. Jika selama ini semua tunduk dan patuh pada Majelis Wali Songo maka saat lembaga itu jatuh di bawah kaki sultan, semua orang akan merendahkannya dan sekaligus berani menentang sultan. Bukankah sikap para adipati pesisir selama ini sangat memuliakan Wali Songo tetapi kurang menghormati sultan? Dan di atas semua itu, hal penting yang hendaknya ananda pertimbangkan, betapa sesungguhnya pengaruh Patih Mahodara masih sangat kuat di pedalaman. Hendaknya ananda jangan meremehkan orang tua yang sudah puluhan tahun malang melintang mengendalikan kekuasaan Majapahit.”

Tranggana menerima baik saran dan nasihat dari Raden Sahid. Ia memutuskan untuk menunda penyerangan. Selama penundaan itu, ia memerintahkan untuk menempa lebih kuat lagi pasukan Suranata yang akan dikirimnya ke Majapahit, baik dalam ha kemampuan tempur maupun peralatan yang digunakan. Ia berharap, dengan menunjukkan keseriusannya membangun kekuatan militer, tidak saja para adipati pesisir akan secepatnya mengambil sikap untuk menentukan pilihan pemimpin persekutuan, tetapi juga untuk membuktikan kepada mertuanya bahwa pasukannya dapat setangguh pasukan Majapahit. Ia ingin menunjukkan bahwa pasukan Suranata yang dibanggakannya itu dapat menjadi “ayam aduan” yang tangguh dan tak gampang dikalahkan.

Ketika hari, pekan, bulan, dan tahun berlalu tanpa melihat adanya gelagat bahwa para adipati pesisir akan berkumpul untuk memilih sultan baru sebagai pemimpin persekutuan, kesabaran Tranggana pun akhirnya pupus. Setelah menunggu dalam kurun dua tahun lebih, Tranggana tidak dapat lagi menahan kesabaran. Naga hitam yang menguasai jiwanya menggeliat dan menyemburkan api dari mulutnya hingga membuat darah di seluruh jaringan tubuhnya mendidih. Sang naga hitam benar-benar sudah murka. Dengan raungan dahsyat yang mengguncang cakrawala jiwa, ia menitahkan Tranggana agar mematahkan leher makhluk-makhluk dekil yang tegar tengkuk supaya mereka semua menunduk di hadapan duli kuasanya. Ia menitahkan Tranggana untuk mematahkan punggung makhluk-makhluk pongah lurus punggung itu supaya mereka membongkok di depan takhtanya. Ia menitahkan Tranggana untuk mematahkan kedua lutut mereka supaya mereka berlutut di bawah kaki serojanya. Dan ia menitahkan Tranggana untuk menginjak kepala mereka supaya mereka bersujud di bawah telapak kakinya.

Tampaknya, titah sang naga hitam sudah menyilap kesadaran Tranggana. Kesabaran yang selama itu dijadikan tali kendali kuda-kuda nafsunya sudah terlepas dari genggamannya. Ia sudah melupakan segala saran dan nasihat yang pernah disampaikan Raden Sahid, mertua yang dihormatinya. Benaknya benar-benar penuh sesak dengan titah sang naga hitam. Relung-relung pemikirannya telah diliputi kelebatan bayangan-bayangan menakjubkan tentang keberhasilan menundukkan Majapahit, yang dilanjutkan dengan penghukuman terhadap adipati-adipati pesisir yang selama itu sangat merendahkan dan menista dirinya.

Sementara, Raden Sahid yang dengan kearifannya telah menyaksikan bagaimana sesungguhnya Tranggana sudah meringkuk di bawah kuasa sang naga hitam, tidak lagi bersedia mengingatkan menantunya. Ia sadar, tidak ada gunanya lagi mengingatkan manusia yang sudah terjerat oleh jaring-jaring nafsu kekuasaan yang ditebar sang naga hitam. Di samping itu, ia secara tidak sengaja telah bertemu dengan para penghuni purwakala Nusa Jawa yang akan menghadiri undangan pesta darah yang menandai pergantian kekuasaan. Ia menyimpulkan bahwa pertumpahan darah tidak akan dapat dihindari lagi. Lantaran itu, di tengah hiruk kesibukan orang berkemas mempersiapkan penyerangan ke Majapahit, ia justru meninggalkan kediamannya. Ia pergi dengan rasa malu tak terperi karena sepanjang jalan ia menyaksikan alim ulama – wakil al-‘Alim di muka bumi – menepuk dada dengan pongah dan menyatakan akan mengambil alih tugas Izrail mencabut nyawa manusia. Ia malu menyaksikan para alim yang menyeru manusia agar mengikuti agama Keselamatan, tetapi mereka justru menampilkan diri sebagai sosok-sosok yang akan menjadi penyebar ketidakselamatan.

Kepergian Raden Sahid tak pelak lagi menyebabkan Tranggana semakin tanpa kendali. Dengan hanya berpedoman pada dalil-dalil agama dan bualan para alim yang memesona, ia benar-benar talah membulatkan tekad untuk menggempur Majapahit yang dianggapnya sebagai lambang kekuasaan kafir di pedalaman Nusa Jawa. Namun, berbeda dengan alasan sebelumnya, kali ini ia menggunakan dalih utama menyerbu kerajaan tua itu untuk meminta hak kepewarisannya atas takhta Majapahit sebagai peninggalan dari kakeknya, Prabu Kertawijaya. Tranggana menyatakan bahwa ia lebih berhak atas takhta Majapahit dibanding Patih Mahodara yang dari keturunan bangsawan rendahan itu. Demikianlah, dengan keyakinan diri tak tergoyahkan bahwa pasukan yang dikirimnya bakal meraih kemenangan besar, Tranggana melepas pasukan Suranata dengan upacara kebesaran. Beribu-ribu penduduk memenuhi alun-alun dan kanan kiri jalan untuk mengucap selamat kepada pasukan kebanggaan sultan. Mereka mendecak kagum ketika melihat iring-iringan para pejuang gagah yang akan menggempur kerajaan kafir Majapahit.

Kekuatan pasukan Suranata yang dikirim sultan sekitar 5.000 orang ditambah bala bantuan dari Madura 2.000 orang, Udung (Kudus) 1.000 orang, Samarang 1.000 orang, Japara 1.000 orang. Alim ulama yang bergabung mendampingi Senapati Suranata adalah Susuhunan Rajeg, Syaikh Maulana Maghribi, Susuhunan Mantingan, Syaikh Abdullah Sambar Khan, Kyayi Ageng Germi, Kyayi Ageng Medini, Kyayi Ageng Penawangan, Kyayi Ageng Tajug, Kyayi Sun Ging, Kyayi Anom Martani, dan Raden Ketib Anom Maranggi. Sebagaimana Tranggana, seluruh pasukan sangat yakin mereka akan meraih kemenangan, karena hampir setiap anggota pasukan telah melengkapi diri dengan jimat, rajah, haekal, dan wafak. Keyakinan akan menang itu semakin menguat manakala mereka diberi tahu bahwa Senapati Suranata Susuhunan Udung melengkapi diri dengan jubah Antakusuma, pusaka pemberian Nabi Muhammad Saw. dari langit yang tidak dapat ditembus segala jenis senjata.

Keyakinan berlebihan Tranggana dan seluruh anggota pasukan yang akan menyerbu Majapahit sesungguhnya tidak lepas dari kepandaian para alim dalam meyakinkan kehebatan tentara Allah yang bertugas membasmi kebatilan dari muka bumi. Bualan-bualan, rajah, jimat, haekal, wafak, hizb, tosan aji, sampai dalil-dalil Al-Qur’an yang mereka berikan benar-benar telah membutakan semua orang terhadap kenyataan. Bukan hanya Tranggana, para prajurit paling rendah pun sangat yakin mereka akan secepat angin mematahkan kekuatan kaum kafir Majapahit dan kemudian memporak-porandakan sarang yang penuh disesaki kemusyrikan. Namun, beda keyakinan beda pula kenyataan. Ternyata segala bualan, jimat, rajah, haekal, wafak, hizb, tosan aji, dan dalil yang disampaikan para alim itu, ditambah semangat kefanatikan, latihan-latihan, perbaikan peralatan tempur, dan penambahan jumlah prajurit terbukti malah menimbulkan catatan sejarah yang sangat memalukan, tidak menghasilkan kemenangan sedikit pun ketika berhadap-hadapan sebagai musuh dengan pasukan kafir Majapahit.

Ketika iring-iringan pasukan Demak turun dari jung-jung dengan sorak sorai menggiriskan berusaha menerobos masuk ke kuta Tuban, mereka dihadang oleh sekitar 3.000 pasukan Majapahit yang dipimpin dua patih, Patih Daha bernama Permada dan Patih Japan bernama Wahan. Dalam sebuah pertempuran singkat di barat kuta Tuban, pasukan Demak yang jumlahnya lebih banyak itu berantakan dan kocar-kacir dikejar-kejar pasukan kafir Majapahit. Para alim yang memekikkan takbir sambil berteriak-teriak membangkitkan semangat prajurit tidak dapat menahan kegentaran prajurit-prajurit yang lari tunggang langgang ketakutan, terutama saat segala benda-benda jimat yang mereka andalkan tidak terbukti keampuhannya. Pasukan Suranata yang terkenal ganas ketika melakukan penertiban agama dan selalu menang di medan tempur itu terbukti tidak berdaya saat menghadapi prajurit Majapahit. Peristiwa tragis di Juwana lebih sewindu silam terulang dengan menyakitkan di Tuban. Apa yang pernah diungkapkan Raden Sahid kepada Tranggana bahwa prajurit-prajurit Suranata tidak akan mampu menghadapi kekuatan pasukan Majapahit, telah terbukti menjadi kenyataan.

25. Perangkap Patih Mahodara

Kekalahan memalukan di Tuban sangat menampar Tranggana. Ia geram dan menumpahkan kemarahannya, terutama kepada alim ulama terbawa badai yang selama itu dianggap terlalu banyak membual. Dalam amarahnya, Tranggana membandingkan mereka dengan para pemuka dukuh Lemah Abang yang berani menyongsong Kematian. “Aku mengira kalian setabah orang-orang Lemah Abang dalam menyongsong Maut. Ternyata, kalian lari tunggang langgang menghadapi orang-orang yang kalian anggap kafir, najis, dan hina. Memalukan. Sungguh memalukan,” kata Tranggana dengan nada sangat kecewa.

Kabar kemarahan Tranggana terhadap para alim terbawa badai ternyata sampai kepada Susuhunan Udung yang bertahan di perbatasan Lasem. Dia mengirim utusan kepada Tranggana meminta perkenan untuk memimpin kembali pasukan gabungan Demak menyerbu Majapahit. Tranggana yang sudah tertampar oleh rasa malu memperkenankan keinginan pahlawannya yang pemberani itu dengan mengirim pasukan tambahan dari Pati 1.000 orang yang dipimpin oleh Raden Iman Sumantri dan dari Sesela 1.000 orang yang dipimpin Ki Ageng Sesela. Ketika pasukan dari Pati dan Sesela berangkat ke perbatasan Lasem untuk bergabung, tidak satu pun di antara alim ulama terbawa badai yang ikut dalam serangan kedua itu. Mereka bersembunyi ketakutan dan hanya mengirim wakil-wakil keluarga mereka dari kalangan muda.

Menghadapi serangan gelombang kedua dari Demak, Patih Mahodara telah menyiapkan sebuah perangkap mematikan. Pertama-tama, ia membiarkan pasukan alim ulama memasuki Tuban tanpa perlawanan. Ketika mereka meneruskan serangan ke arah Daha, satuan-satuan kecil pasukan Majapahit akan menyerang dan lari sehingga mereka mengira mendapat kemenangan. Saat mereka sampai di Wirasabha, barulah dilakukan serangan balik secara besar-besaran sebab di Wirasabha telah berkumpul pasukan gabungan yang datang dari Kadipaten Dengkol, Garuda (Pasuruan), Kedhawung, Japan (Japanan), Pengging, Daha, Blambangan, Puger, Srengat, Panjer, Rawa, Jipang, dan Wirasabha. Menurut kabar, pasukan gabungan yang akan menghadang pasukan Demak di Wirasabha itu dipimpin sendiri oleh pemuka-pemuka mereka seperti Andayaningrat dan puteranya Kebo Kanigara dari Pengging, Menak Supethak dan saudaranya Raden Pramana dari Garuda, Menak Pentor dari Blambangan, Menak Pangseng dari Puger, Arya Simping dari Kedhawung, Arya Puspa dari Dengkol, Nila Suwarna dai Panjer, Arya Tiron dari Pamenang, Arya Matahun dari Rajegwesi, Arya Gugur putera mahkota Majapahit. Bahkan, yang ditunjuk menjadi senapati pasukan gabungan Majapahit adalah Raden Kusen Adipati Terung, paman Tranggana.

Siasat Patih Mahodara menjebak pasukan alim ulama Demak di Wirasabha sesungguhnya sudah diketahui Susuhunan Udung. Sebab, pada saat pasukan Demak akan menyeberang Bengawan Sori, Raden Kusen, yang tidak lain dan tidak bukan adalah besannya, telah mengirim peringatan lewat Raden Sulaiman, Leba Wirasabha, yang meminta agar pasukan Demak mengurungkan penyerangan ke Majapahit, karena pihak Majapahit sudah memasang jebakan. Namun, Susuhunan Udung yang sudah terlanjur malu dengan kekalahan pasukannya di Tuban tidak mengindahkan peringatan itu. Tampaknya, dia yang sejak kecil hanya mengenal masalah-masalah agama dan tidak mengetahui kemiliteran, kurang memahami isyarat-isyarat bahaya yang diberikan oleh besannya. Di samping itu, dia sudah tercekam oleh dalil-dalil agama yang menjanjikan kemenangan bagi kaum beriman dalam bertempur menghadapi kaum kafir. Dia semakin yakin bakal meraih kemenangan karena sudah mengenakan pusaka jubah antakusuma.

Dengan keyakinan kuat bakal menang itulah Susuhunan Udung memerintahkan pasukannya untuk bergerak cepat ke Wirasabha. Tanpa peduli gelap dan kabut, dia memimpin pasukan ke selatan pada malam hari dengan mengikuti jalan utama Wirasabha – Tuban. Saat pagi menjelang, ribuan kaki pasukannya sudah mengaduk-aduk dangkalan sungai Brantas yang mereka seberangi dari tepi utara ke tepi selatan. Meski jumlah pasukannya kurang dari 10.000 orang, Susuhunan Udung sangat bangga dengan mereka yang menunjukkan semangat tinggi. Seperti tak kenal lelah, setelah menyantap jatah makanan di tepi selatan sungai Brantas, mereka bergerak lagi. Seperti berlari mereka bergerak terus dengan cepat ke arah selatan. Beberapa orang penunggang kuda yang memimpin barisan terlihat berseru sambil menggeletarkan cemetinya ke udara, “Kita harus cepat sampai ke Wirasabha! Kita serang Wirasabha! Musuh-musuh kita ada di Wirasabha! Musuh Allah di sana! Cepat! Cepat!”

Dengan semangat yang terus dipacu, pasukan Demak yang berpakaian serba putih itu memang menakjubkan gerakannya. Ketika matahari baru naik sepenggalah, mereka sudah sampai di sungai Tambak Beras, sungai bersejarah yang diingat penduduk sebagai tempat hancurnya balatentara Tuban yang dipimpin Ranggalawe barang dua abad silam. Setelah berhenti beberapa jenak untuk minum usai menyeberangi sungai Tambak Beras, mereka bergerak lagi dengan langkah lebih cepat. Seperti berpacu, mereka melesat dengan cepat ke arah kuta Wirasabha.

Ketika dari kejauhan dinding kuta Wirasabha yang terbuat dari batu bata terlihat kukuh di bawah langit, mereka berhenti dan membagi pasukan dalam tiga sayap. Sayap kiri dipimpin oleh Ki Ageng Sesela. Sayap kanan dipimpin Raden Iman Sumantri. Induk pasukan tengah dipimpin Susuhunan Udung. Lalu diiringi teriakan takbir gegap-gempita laksana bukit runtuh, ketiga pasukan yang memiliki panji-panji berbeda itu bergerak cepat ke arah gerbang kuta. Mereka berlomba saling mendahului untuk bisa secepat mungkin sebagai yang pertama sampai.

Sementara, sejak pagi gerbang barat kuta Wirasabha sudah dibuka sebagian. Anehnya, di balik pintu gerbang yang ditutup sebelah itu terdapat tumpukan batu-batu besar seolah gerbang itu sengaja ditutup separo. Lebih aneh lagi, ketika gegap-gempita iring-iringan pasuka Demak mendekati kuta dan berpacu mener0b0s gerbang barat, prajurit penjaga gerbang justru lari meninggalkan pos penjagaan sambil tersenyum-senyum. Mereka seperti sengaja membiarkan gerbang yang dijaganya itu tetap terbuka separo. Mereka seperti sengaja membiarkan musuh masuk ke kuta.

Ketika pasukan Demak menerjang ke arah gerbang bagaikan air yang membanjir, terjadi sesuatu yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Pasukan Demak yang berlomba saling mendahului itu berdesak-desak, terhalang oleh pintu gerbang yang terbuka separo. Lantaran tidak ada satu pun di antara prajurit Demak yang mau mengalah dan mereka terus berdesak-desak ingin mendahului yang lain masuk ke dalam kuta, makin sesaklah gerbang itu dipadati manusia. Semangat prajurit-prajurit Demak yang berkobar-kobar ingin secepatnya masuk ke kuta Wirasabha makin menyesaki gerbang. Sementara para prajurit berkuda yang melambai-lambaikan pedang memberi perintah agar semua prajurit tidak saling berdesakan, tidak lagi digubris. Ujung dari keadaan itu adalah terjadinya kerusakan formasi pasukan Demak. Prajurit-prajurit yang dengan susah payah berhasil masuk ke dalam gerbang, terlihat celingukan mencari barisannya yang berantakan.

Di tengah rusaknya formasi pasukan yang berantakan itu, terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan. Pasukan gabungan Majapahit yang sejak pagi menunggu di dalam kuta, tiba-tiba bergerak serentak menyongsong kedatangan pasukan Demak. Lalu, seibarat beruang ganas mengangakan mulut mendekati sekawanan lebah yang berkerumun di sarangnya, demikianlah pasukan gabungan Majapahit yang berjumlah sekitar 30.000 orang dengan gelar perang Bajrapanjara-byuha (Jawa Kuno: formasi tempur sangkar intan) mendekati pasukan Demak yang berdesak-desak di pintu gerbang. Semua menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi ketika pasukan Majapahit semakin lama semakin dekat jaraknya.

Ketika jarak kedua pasukan semakin dekat, tampak sekali pasukan Demak tidak saja masih berantakan formasinya, melainkan terputus pula tali komandonya. Tanpa ada yang memerintah, tiba-tiba saja barisan pertama dari sayap kanan pasukan Suranata yang berada di bawah pimpinan Raden Iman Sumantri bergerak cepat ke depan menyerbu sayap kiri pasukan Majapahit. Dengan pekikan takbir sambung-menyambung, mereka menyambut musuh yang menghadang dengan tombak terhunus. Namun, saat jarak mereka dengan musuh tinggal tiga empat tombak, tanpa terduga-duga pasukan berkuda Majapahit dari barisan tengah mendadak bergerak cepat ke depan. Lalu, dengan kecepatan menakjubkan mereka melakukan gerakan memutar.

Pasukan Demak yang berhadapan dengan pasukan sayap kiri Majapahit tersentak kaget ketika mendengar suara gemuruh dari arah belakang mereka. Secara refleks mereka menoleh serentak. Terbelalaklah mata mereka ketika menyaksikan betapa di belakang mereka sudah mengepung pasukan berkuda musuh. Mereka gugup. Mereka baru sadar jika telah terperangkap di tengah-tengah kepungan musuh. Laksana sekumpulan rusa dikepung kawanan anjing pemburu, mereka hanya tercengang-cengang kebingungan ketika pasukan sayap kiri dan pasukan berkuda Majapahit mengerumuni dan menghujani mereka dengan tikaman-tikaman tombak dan aneka jenis senjata. Mereka tidak dapat berbuat lain kecuali melawan sekuat daya serangan bertubi-tubi itu. Terdengar suara gaduh dari senjata yang beradu disusul jerit kematian dan pekik kesakitan yang sambung-menyambung. Tak lama kemudian, ketika prajurit-prajurit Majapahit kembali ke barisannya masing-masing, orang melihat barisan depan pasukan sayap kanan Demak itu menjadi tumpukan mayat bersimbah darah.

Kebinasaan yang dialami barisan pertama pasukan Demak segera menyulut kemarahan kawan-kawan mereka. Bau anyir darah yang menebar di tengah medan tempur membangkitkan nafsu membunuh prajurit-prajurit Demak laksana kobaran api. Mereka merasakan tubuh mereka panas dan kaki mereka seolah tidak menginjak tanah. Saat teriakan menyerang terdengar bersahutan dari para pemimpin, mereka serentak berlari ke depan dengan berteriak sekeras-kerasnya. Mereka berteriak dengan tombak terhunus menerjang siapa saja yang berada di hadapan mereka. Mereka menerjang terus ke depan dengan membabi-buta. Namun, yang mereka saksikan hanyalah hutan tombak dan panji-panji musuh yang bergerak maju mundur dan ke kanan kiri membingungkan. Ibarat sarang lebah dicabik-cabik kuku dan mulut beruang kelaparan, serangan demi serangan membabi-buta yang mereka lakukan semburat diluluh-lantakkan pasukan Majapahit yang bertempur dengan disiplin dan semangat tinggi.

Menyaksikan barisan pasukannya selalu berantakan setiap kali menyerang musuh, Susuhunan Udung memerintahkan Ki Ageng Sesela menyemangati pasukan yang dipimpinnya dan secepatnya memimpin mereka menerjang sayap kanan musuh. Ia juga memerintahkan Raden Iman Sumantri untuk bergegas ke depan menyemangati para prajurit dan menyerang ke barisan tengah musuh. Sementara ia sendiri dengan teriakan-teriakan takbir menggetarkan, seolah-olah digetari kekuatan gaib, membangkitkan semangat tempur prajurit-prajuritnya. Setiap prajurit Demak yang mendengar pekikan takbir senapati mereka merasakan terbakar semangatnya. Mereka seperti tidak peduli dengan tebasan pedang dan tikaman tombak pasukan Majapahit. Mereka mengamuk, menerjang, menerobos, dan melangkahi mayat kawan-kawan dan musuh-musuhnya. Akibatnya, pasukan Majapahit yang selalu berhasil menahan serangan mereka terheran-heran menghadapi perubahan mendadak tersebut. Secara berangsur-angsur daya tempur mereka menurun dan formasi tempur mereka pun mulai berantakan.

Melihat formasi tempur pasukannya mulai berantakan, para pemuka pasukan gabungan Majapahit meminta Yang Dipertuan Pengging dan Yang Dipertuan Terung untuk tampil ke depan menghadapi amukan pasukan musuh. Mereka, yang sebagian besar adalah putera dan kemenakan dan cucu Patih Mahodara, ingin menguji kesungguhan janji dua orang tetunggul Majapahit yang sudah bersumpah setia akan mempertahankan kerajaan tersebut, meski keduanya telah menjadi pemeluk agama Islam. Alih-alih ingin menguji kesetiaan kedua orang tersebut, sesungguhnya Patih Mahodara ingin memecah belah kekuatan Tranggana dengan kedua orang pamannya itu. Kedua tetunggul itu tampaknya tidak memiliki pilihan lain kecuali menunaikan janji mereka untuk membela Majapahit sebagai pelaksanaan dharma ksatria mereka.

Andayaningrat, Raja Pengging yang sudah tua itu, terlihat maju ke garis depan medan tempur. Puteranya, Kebo Kanigara, dan sejumlah ksatria berkerumun di sekitarnya. Dengan tatapan mata yang sudah agak kabur, dia menyaksikan medan tempur di depannya dipenuhi gelimpangan mayat prajurit kedua pihak. Dia menarik napas berat ketika mengetahui betapa sejauh itu pasukan Majapahit belum berhasil mematahkan serangan pasukan Demak yang lebih sedikit jumlahnya. Amarahnya meledak ketika di kejauhan ia melihat senapati Demak, Susuhunan Udung, berdiri gagah sambil mengacung-acungkan keris pusaka menyemangati prajurit-prajuritnya yang memaki musuh-musuhnya sebagai kafir penghuni neraka. Dengan keris terhunus, dia berlari ke arah Susuhunan Udung. Sementara, Susuhunan Udung yang mengetahui akan diserang Raja Pengging hanya tegak berdiri sambil menggenggam erat-erat keris pusakanya. Ia menunggu.

Ketika jarak keduanya sudah sekitar tiga empat depa, Andayaningrat berteriak keras sambil menyerang dengan tikaman keris ke arah dada Susuhunan Udung. Susuhunan Udung yang sudah menunggu serangan musuh hanya berdiri tegak tidak berusaha menghindar. Ketika keris Andayaningrat terlihat berkelebat ke arah dadanya, Susuhunan Udung membarenginya dengan tikaman keris ke dada Andayaningrat.

Terdengar suara gemeretak dan jeritan terpekik ketika dua keris pusaka itu secara bersamaan mengenai sasaran. Tubuh Andayaningrat tampak limbung dan sejenak kemudian tumbang ke atas bumi. Rupanya tikaman keris Susuhunan Udung dengan telak mengenai dada kirinya hingga mematahkan tulang-tulang iganya. Sementara, dada Susuhunan Udung yang ditutupi jubah antakusuma tidak sedikit pun menunjukkan luka.

Melihat tetunggul musuhnya terbunuh, semangat pasukan Demak seketika meningkat. Sambil meneriakkan takbir mereka meningkatkan serangan yang menewaskan puluhan prajurit lawan. Namun tak lama sesudah itu, serangan mereka berantakan ketika Kebo Kanigara, putera Andayaningrat, mengamuk dan menimbulkan korban besar di antara pasukan Demak. Bahkan, beberapa jenak kemudian semua mata tertuju ke tengah medan tempur, menyaksikan Senapati Majapahit Raden Kusen berdiri berhadap-hadapan dengan Senapati Demak Susuhunan Udung. Semua seolah ingin mengetahui, apakah yang akan terjadi dengan dua orang besan yang sama-sama menjadi panglima dari dua pasukan yang saling bermusuhan itu.

Susuhunan Udung sendiri merasakan adanya getaran-getaran aneh yang membuatnya gugup saat berhadap-hadapan dengan Raden Kusen. Ia merasakan jiwa seperti digelayuti lintasan bayangan bahwa laki-laki tua yang berdiri di depannya itu adalah sahabat ayahandanya, mertua puteranya, pelindung umat Islam di pedalaman, dan tentu saja paman dari sultan Demak. Ia sadar sedang berhadapan dengan manusia tangguh dalam pengalaman tempur. Ia sadar, dalam hal pertempuran ia tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki yang sudah malang-melintang selama hampir setengah abad di medan tempur itu. Dengan suara merendah ia berusaha menyadarkan panglima yang dijadikan andalan pihak musuh itu. Ia meminta agar sebagai sesama muslim apalagi berbesan, mereka tidak perlu bertempur sebagai musuh. “Sungguh kami sulit menerima kenyataan, seorang pahlawan muslim seperti Tuan bertempur melawan saudara seiman demi membela kerajaan kaum kafir,” kata Susuhunan Udung.

“Andaikata guruku terkasih, Raden Ali Rahmatullah Susuhunan Ampel Denta, tidak memerintahkan aku untuk mengabdi kepada Majapahit, niscaya aku tidak berada di hadapanmu sebagai musuh, o Saudaraku. Aku tidak peduli apakah aku akan dituduh murtad atau kafir dengan kedudukanku sebagai panglima Majapahit ini. Aku hanya tahu bahwa dharmaku sebagai murid adalah menjalankan amanat guruku apa pun akibatnya,” Raden Kusen berkali-kali menarik napas berat dengan tubuh dibasahi keringat dingin.

Sebagai seorang guru suci, Susuhunan Udung dapat memahami pandangan Raden Kusen yang begitu teguh memegang amanat guru ruhaninya. Ia sadar, pertarungan antara dia dan besannya tidak bisa dihindari. Ia sadar, mereka berdua tidak ada yang bisa disalahkan karena masing-masing menjalankan dharma sesuai keyakinan. Dalam pertempuran satu lawan satu yang seru itu, Susuhunan Udung gugur akibat tikaman keris Raden Kusen. Prajurit Demak yang menyaksikan sendiri bagaimana pusaka jubah antakusuma itu ternyata tidak bertuah lagi karena tertembus tikaman keris Raden Kusen Adipati Terung, tidak dapat menahan diri untuk tidak mengambil langkah seribu. Mereka berhamburan ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri. Hanya pasukan yang dipimpin Ki Ageng Sesela yang tidak melarikan diri. Dengan sisa-sisa pasukannya, Ki Ageng Sesela membawa jenasah Susuhunan Udung ke Demak.

Kabar terbunuhnya secara gagah Susuhunan Udung dalam pertempuran melawan Raden Kusen menggemparkan semua orang yang mendengar. Simpati dan sesal ganti-berganti diungkapkan dengan berbagai gejolak perasaan. Ujung dari kabar menggemparkan itu, semua kegeraman diarahkan kepada Tranggana yang dianggap kurang cerdas dalam memperkuat kuasa dan wibawa melalui penyerangan ke Majapahit dengan menggunakan barisan alim ulama. Tak kurang penyesalan diungkapkan diam-diam oleh anggota-anggota Majelis Wali Songo yang tidak paham dengan jalan pikiran Tranggana yang padat dijejali ambisi berkuasa. Mereka merasa tertampar karena dengan gugurnya salah satu anggota Wali Songo di medan perang, telah menimbulkan kesan bahwa anggota-anggota Wali Songo tidak lagi dilindungi Allah. Mereka mafhum bahwa bagi kebanyakan penduduk Nusa Jawa, gambaran seorang wali identik dengan manusia setengah dewa yang diliputi anugerah-anugerah ruhani, barokah dan karomah. Lantaran itu, saat salah seorang anggota Wali Songo dikalahkan oleh seorang panglima perang, kegemparan pun tak dapat lagi dihindarkan. Penduduk dari kalangan kebanyakan nyaris tidak percaya bahwa seorang anggota Wali Songo dapat kalah menghadapi seorang panglima perang.

Kekalahan pasukan Demak dan gugurnya panglima mereka di Wirasabha ternyata membawa akibat lain yang tidak diperhitungkan Tranggana, yaitu terampasnya Kadipaten Sengguruh dan Balitar. Pada saat seluruh kadipaten di pedalaman bergabung dengan pasukan Majapahit, dua orang putera Raden Kusen, Pangeran Arya Terung Adipati Sengguruh dan Pangeran Arya Balitar Adipati Balitar, tidak muncul dan tidak pula mengirimkan bala bantuan. Ha itu dijadikan alasan oleh Raden Pramana, putera Patih Mahodara, untuk merebut kembali Kadipaten Sengguruh dari tangan Arya Terung. Tindakan merebut kembali Kadipaten Sengguruh dilakukan bersamaan dengan perebutan Kadipaten Balitar. Raden Kusen sendiri tidak dapat berbuat sesuatu menghadapi tindakan sepihak putera-putera Patih Mahodara tersebut. Jatuhnya Sengguruh dan Balitar ke tangan putera-putera Patih Mahodara telah menjadikan Tranggana tidak lagi memiliki pijakan kekuasaan di pedalaman.

Bagi Tranggana sendiri, peristiwa kekalahannya yang kedua adalah pelajaran terbaik. Ia mulai membenarkan pandangan-pandangan Raden Sahid Susuhunan Kalijaga, mertuanya, terutama yang terkait dengan pasukan alim ulama. Apa pun alasannya, ia sadar bahwa selama ini ia telah keliru menjadikan pasukan Suranata sebagai inti kekuatan militer Demak. Kekeliruan itu sebenarnya berpangkal pada kebakilannya sendiri. Ia sadar, salah satu alasannya menyandarkan kekuatan militer pada pasukan Suranata lebih disebabkan karena pasukan yang terbentuk dari kalangan petani, tukang, perajin, penyadap enau, pedagang kecil, dan buruh itu tidak digaji. Mereka adalah para pengikut alim ulama yang fanatik dan bersedia melakukan apa saja untuk mematuhi titah tokoh panutannya, termasuk menjadi prajurit pembela agama tanpa imbalan gaji kecuali mendapat bagian pampasan perang. Tranggana sadar, kebakilan yang selama ini dipeliharanya ternyata membawa akibat mengerikan bagi tewasnya beribu-ribu kaum beriman yang sudah tersihir hasutan dan bualan alim ulama kaki tangannya.

Sadar akan kekeliruannya, Tranggana menendang jauh-jauh kebakilannya. Ia sadar bahwa tanpa pesaing, ia tidak perlu risau pada aliran pajak yang selama itu mengalir ke Japara. Kini semua jenis pajak akan mengalir ke Demak. Itu berarti, sudah waktunya ia wajib membentuk satuan-satuan tempur baru yang anggota-anggotanya diseleksi sedemikian rupa ketat agar yang terjaring adalah prajurit-prajurit yang benar-benar berdarah prajurit. Untuk beroleh prajurit unggul, dilakukan seleksi dengan cara memilih juara-juara dalam lomba-lomba adu keunggulan kaum muda. Melalui lomba-lomba itulah masing-masing peserta diuji ketabahan, keberanian, ketrampilan, ketangguhan, dan kepantang-menyerahan mereka. Bahkan, untuk memilih perwira-perwira, Tranggana tidak segan menguji sendiri. Lantaran ketatnya pemilihan, Ki Ageng Sesela yang telah menunjukkan keberanian di medan tempur Wirasabha dinyatakan gagal dalam ujian, gara-gara memalingkan muka saat memecahkan kepala seekor kerbau. Ia dinilai Tranggana berdarah petani, karena tidak tahan melihat darah. Walhasil, dengan ketatnya seleksi tersebut, kebanyakan di antara mereka yang lulus ujian adalah putera-putera para prajurit Demak lama yang umumnya berasal dari Wanasalam di tenggara Wirasabha.

Galangan-galangan kapal Demak yang nyaris tak berfungsi dikembangkan lagi untuk menghasilkan kapal-kapal perang besar yang dilapisi besi dan dilengkapi meriam-meriam ukuran besar. Khusus untuk membangun armada laut, Tranggana mempercayakan kepada Khwaja Zainal Abidin, ahli meriam asal Algarvia daerah di selatan Portugal. Dari Khwaja Zainal Abidin inilah Tranggana memiliki pengetahuan tentang raja-raja di Eropa yang bermusuhan dengan Salim, sultan Turki. Tranggana tahu bahwa raja-raja Eropa adalah raja-raja miskin yang kekayaannya tidak lebih besar dibanding seorang adipati gurem di Nusa Jawa. Itu sebabnya, mereka tidak pernah menang melawan Salim, yang kekayaannya berlimpah ruah. Dengan pengetahuan barunya itu, hasrat Tranggana menjadi sultan sebesar Salim semakin menguat. Hasratnya untuk membangkitkan kembali kebesaran Majapahit makin berkobar-kobar. Ia membayangkan dirinya sebagai sultan yang memiliki kekuasaan luas, seluas Majapahit awal. Untuk itu, ia membutuhkan dukungan militer yang kuat dan tentu saja jauh lebih kuat dibanding pasukan Suranata.

Sekalipun satuan-satuan tempur baru telah dibentuk, Tranggana belum berani merombak struktur pasukannya. Ia tetap menyebut satuan-satuan tempur barunya itu dengan nama Suranata karena kedudukannya masih sebagai sultan yang memiliki kewenangan di bidang kekuasaan agama. Di samping itu, keberadaan pasukan Suranata yang dikaitkan dengan alim ulama itu dinilainya masih dapat menyulut simpati penduduk yang mulai banyak memeluk agama Islam. Ia ingin memanfaatkan ghirah Keislaman penduduk untuk memperkuat kuasa dan wibawanya. Untuk alasan itu, beberapa bulan setelah kekalahan di Wirasabha berlalu, ia mengangkat Ja’far Shadiq, putera Susuhunan Udung, sebagai adipati Udung dan sekaigus menetapkannya sebagai senapati Suranata. Demi menghindari terulangnya kekalahan – menjadikan seorang alim ulama sebagai panglima perang – Tranggana menempatkan seorang manggalayuddha yang bertugas mendampingi Ja’far Shadiq dalam penyusunan siasat dan taktik perang. Manggalayuddha dimaksud adalah seorang bangsawan Majapahit yang beragama Islam, yang dikenal orang dengan nama Pangeran Pancawati.

Dengan diangkatnya Ja’far Shadiq sebagai senapati Suranata dan sekaligus adipati Udung, jabatannya sebagai imam Masjid Agung Demak harus ditinggalkannya. Tranggana ternyata sudah menyiapkan pengganti untuk jabatan imam Masjid Agung Demak, yaitu Susuhunan Kalijaga, mertuanya. Tranggana sadar bahwa kehadiran sang mertua di sampingnya sangat dibutuhkannya. Sebab, selama itu sang mertua nyaris tidak pernah berada di kediaman. Dengan mengangkatnya menjadi imam Masjid Agung Demak, sang mertua tentu akan lebih sering berada di kediaman.

26. Geliat Sang Naga Hitam

Di tengah gegap peningkatan kekuatan bersenjata Demak, hadirlah di Demak dua orang pejuang asal negeri Pasai yang tidak saja memiliki kemampuan tempur menakjubkan, tetapi juga memiliki pengetahuan agama yang luas dan mendalam. Dia adalah Tughril Muhammad Khan dan adiknya yang bernama Fadhillah Khan. Mereka meninggalkan negeri kelahirannya barang empat tahun silam ketika Portugis menduduki Pasai. Setelah menunaikan ibadah haji dan tinggal beberapa waktu di tanah suci, dua bersaudara itu pergi ke Caruban untuk mencari paman mereka, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ternyata mereka tidak bertemu karena sang paman dinyatakan telah lama pergi meninggalkan Caruban dan belum pernah kembali. Mereka hanya bertemu Syaikh Datuk Bardud, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil, sepupu mereka. Lalu, mereka dipertemukan dengan Syaikh Datuk Bayanullah, sepupu ayahanda mereka yang sudah sangat uzur. Oleh Syaikh Datuk Bayanullah, mereka disarankan pergi ke Demak, menemui Raden Sahid, menantu Syaikh Datuk Abdul Jalil, yang dikenal dengan nama Susuhunan Kalijaga.

Tughril dan Fadhillah yang sudah mengenal Raden Sahid sewaktu di Pasai kemudian pergi ke Demak. Ternyata, menantu paman mereka itu menjadi imam masjid Agung Demak dan sekaligus mertua sultan Demak. Melalui Raden Sahidlah dua bersaudara itu berkenalan dengan Tranggana yang ternyata sangat membutuhkan orang-orang gagah seperti mereka. Untuk mengikat mereka, Tranggana menikahkan saudarinya yang bernama Nyi Mas Galuh dengan Tughril. Sedang Fadhillah dinikahkan dengan janda Adipati Hunus, Nyi Mas Ratu Ayu, puteri Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati.

Keberadaan Tughril, Fadhillah, dan Khwaja Zainal Abidin yang dipercaya Tranggana membangun angkatan perang Demak telah membentuk pola kemiliteran baru yang merupakan perpaduan antara dasar-dasar kemiliteran setempat dengan Portugis dan Pasai. Angkatan bersenjata Demak yang sebelumnya hanya terdiri atas pasukan tombak dan sedikit pasukan berkuda telah dikembangkan sedemikian rupa dengan pembentukan satuan-satuan pemanah, meriam, dan senapan. Formasi gelar perang pun tidak mengikuti cara lama yang mengandalkan jumlah besar pasukan. Keyakinan diri, keberanian, ketangguhan, keuletan, ketabahan, dan kepantang-menyerahan dijadika dasar utama dalam pembinaan mental setiap prajurit.

Ketika hiruk latihan tempur sedang dilakukan satuan-satuan tempur baru di bawah arahan Tughril, Fadhillah, dan Khwaja Zainal, terbetik sebuah laporan singkat dari Malaka yang mengejutkan Tranggana tentang rencana Portugis membangun benteng di pelabuhan Banten dan Kalapa yang merupakan dua pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Laporan yang diperoleh Tranggana dari utusan Sultan Malaka di Banten itu melempar kembali ingatannya pada peristiwa empat tahun silam, ketika Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati memberi tahunya tentang perjanjian antara Kerajaan Sunda dan penguasa Portugis di Malaka yang dilakukan di pelabuhan Kalapa.

Selain dari Syarif Hidayatullah, Tranggana beroleh kebenaran adanya perjanjian Kerajaan Sunda dengan Portugis itu dari Khwaja Zainal. Menurut Khwaja Zainal, antara tanggal 18 – 21 Agustus 1522, barang tiga tahun silam, memang telah dilakukan perjanjian antara Kerajaan Sunda dan penguasa Portugis di Malaka melalui wakil-wakil mereka. Ratu Sanghyang Maharaja Sunda menunjuk Adipati Siput Tumenggung Argatala dan syahbandar Kalapa untuk mewakilinya dalam perjanjian tersebut. Jorge d’Albuquerque penguasa Malaka diwakili oleh Amrrique Leme, didampingi saksi-saksi utama: Fernam d’Almeyda, kapten kapal, Framcisquo Annes, saudagar wakil raja, Baltesar Memdez, juru tulis, Nicolao da Sylva, juru tinggi kapal, Jorge d’Oliveira, juru mudi kapal, dan para perwira militer seperti Manuell Mendez, Sebastio Diaz do Rego, Francisco Diaz, Joham Coutinho, Joham Goncalvez, Gil Barbosa, T0mee Pymto, Ruy Goncalvez, Joham Rodriguez, Joham Fernandez, Diogo Fernandez, Diogo Diaz, Alfonso Fernandez. Berdasar perjanjian tersebut, Portugis akan mendirikan benteng di pelabuhan Kalapa untuk melindungi Kerajaan Sunda dengan imbalan akan memperoleh lada berharga murah.

Kabar bakal dibangunnya benteng Portugis di Banten dan Kalapa itu dalam waktu pendek meluas ke sepanjang pesisir utara Nusa Jawa. Rupanya, Tranggana diam-diam sengaja menyebarluaskan kabar tersebut kepada alim ulama asal Maghribi, Socotra, Kozhikode, Cochazi, Goa, dan Malaka yang tinggal di kawasan tersebut. Hasilnya sudah bisa ditebak, betapa para alim yang tercekam sikap antipati terhadap Portugis itu dengan tergopoh-gopoh datang ke Demak menghadap Tranggana. Mereka memohon agar Tranggana selaku pelindung agama Islam di Nusa Jawa mengambil tindakan tegas terhadap rencana Portugis tersebut. Namun, dengan sangat diplomatis Tranggana menyatakan bahwa selaku sultan yang berkedudukan sayidin panatagama, ia tidak memiliki kewenangan untuk menindak Portugis yang akan mendirikan benteng di pelabuhan Banten dan Kalapa. “Orang-orang Peranggi dan orang-orang Sunda mengadakan perjanjian dagang. Tidak ada kaitan dengan agama. Selaku sultan yang hanya berwenang menjadi pelindung agama, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menindak baik Peranggi maupun Sunda. Urusan Peranggi dan Sunda adalah urusan dagang,” kata Tranggana dingin.

Jawaban Tranggana yang dingin itu menampar keras kesadaran para alim. Mereka baru sadar jika selama itu, sejak mangkatnya Adipati Hunus, di Nusa Jawa sesungguhnya tidak ada pemimpin tertinggi dari persekutuan adipati. Padahal, umat Islam dan khususnya mereka sangat membutuhkan pemerintah yang kuat yang bisa melindungi mereka dari musuh-musuh. Mereka butuh pemerintah yang memiliki pasukan bersenjata dan tidak sekadar mengurusi tata kehidupan beragama. Mereka butuh pemerintah yang mengurusi tata kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Akhirnya, tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan kecuali mendaulat Majelis Wali Songo untuk menobatkan Tranggana sebagai Sultan Demak yang memegang kekuasaan adipati, senapati, dan sayidin panatagama. Untuk itu, mereka mengawali dengan menyatakan sumpah setia secara terbuka mendukung kepemimpinan Tranggana sebagai satu-satunya raja dan pelindung agama di Nusa Jawa.

Tranggana tentu saja menyambut gembira pernyataan alim ulama yang umumnya memiliki banyak pengikut itu. Ia merasakan sekujur tubuhnya digetari kegembiraan meluap-luap. Di tengah luapan kegembiraan itu, ia dapati naga hitam yang bersemayam di kedalaman relung-relung jiwanya, meraung-raung kelaparan ingin memangsa siapa saja makhluk yang terlihat sebagai musuh-musuhnya. Naga hitam itu terus meraung dan membesar tubuhnya seolah-olah menutupi cakrawala kesadaran Tranggana. Bahkan, karena berkuasanya sang naga hitam di kedalaman jiwa Tranggana, sampai-sampai Yang Dipertuan Demak itu tidak bisa lagi membedakan apakah ia masih seorang manusia atau seekor naga hitam bermahkota. Hari-hari dari hidup Tranggana panas membara akibat semburan-semburan api dari mulut sang naga hitam yang membakar jaringan tubuh dan jiwanya. Anehnya, semakin sering sang naga hitam menyemburkan api dari mulutnya, Tranggana merasakan tubuh dan jiwanya semakin kuat seolah campuran berjenis-jenis logam yang ditempa menjadi senjata pusaka.

Khawatir rencana Portugis membangun benteng di Banten dan Kalapa akan menghadang ambisinya menjadi penguasa Jawa, Tranggana mengirim 1.000 orang prajurit pilihan di bawah pimpinan Fadhillah ke Caruban. Kepada Yang Dipertuan Caruban Sri Mangana, Tranggana meminta bantuan pasukan untuk menyerang Banten dan Kalapa. Sri Mangana menambah pasukan Demak dengan 967 orang prajurit Caruban pilihan dipimpin Pangeran Cirebon, puteranya, selaku manggala yang didampingi adipati Keling, adipati Kuningan, dan adipati Cangkuwang. Pasukan gabungan Demak dan Caruban itu tidak menundukkan Kalapa dulu, melainkan langsung ke Banten yang keadaannya sudah kisruh akibat Pangeran Sabakingking, putera Syarif Hidayatullah dengan Nyi Kawunganten, mengadakan kekacauan bersama pengikut-pengikutnya.

Sejak berangkat dari Caruban, pasukan gabungan yang dipimpin Fadhillah disiagakan untuk menduduki pelabuhan Panjang yang dalam setahun belakangan dijadikan pelabuhan lada oleh Yang Dipertuan Banten. Kapal-kapal milik saudagar Sunda dari pelabuhan Banten, Kalapa, Cibuaya, dan Pamanukan secara diam-diam mengangkut lada dari gudang-gudang penimbunan yang dibangun di pelabuhan Panjang untuk dibawa ke Malaka. Bahkan, beberapa kali orang melihat kapal-kapal Portugis bersandar di pelabuhan Panjang untuk mengangkut lada. Di pelabuhan Panjang inilah Portugis rencananya akan mendirikan benteng untuk melindungi Banten dari penguasa-penguasa muslim di sekitarnya.

Sejak kekisruhan yang dilakukan Pangeran Sabakingking dan pengikut-pengikutnya, Yang Dipertuan Banten Prabu Sedah nyaris kebingungan. Sebab, putera Syarif Hidayatullah itu tidak sekadar didukung oleh penduduk beragama Islam yang kebanyakan adalah pengikut Ki Kawunganten yang tinggal di Waka, Pontang, Kasemen, dan Karanghantu, tetapi didukung pula oleh penduduk di sekitar gunung Pulasari. Bahkan Rsigana Domas, delapan ratus orang resi yang tingga di gunung Pulasari di bawah pimpinan Brahmana Kandali, diketahui memihak kepada Pangeran Sabakingking. Kebingungan Yang Dipertuan Banten makin sempurna manakala tanpa terduga-duga, pasukan gabungan Demak dan Caruban secara tiba-tiba menduduki pelabuhan Panjang dan mendirikan pertahanan kuat di sana. Prabu Sedah tidak memiliki kekuatan lagi sebab dengan dikuasainya pelabuhan Panjang dan kawasan pantai di Waka, Pontang, Kasemen, serta Karanghantu oleh Pangeran Sabakingking, pintu keluar Banten Girang ke daerah-daerah lain telah tertutup.

Kabar keberhasilan pasukan gabungan Demak dan Caruban yang dipimpin Fadhillah menduduki pelabuhan Panjang disambut gembira di Caruban dan terutama di Demak. Namun, di tengah kegembiraan itu, tanpa ada yang menduga tersiar kabar Sang Ratu Caruban Larang Sri Mangana mangkat tak lama setelah berziarah ke makam Syaikh Datuk Kahfi. Seluruh Kehidupan di Caruban seperti terhenti selama beberapa kejap. Angin tidak bertiup. Sungai-sungai seolah tidak mengalir. Burung-burung tidak ada yang terbang. Ikan-ikan berhenti berenang. Hewan ternak berhenti memamah biak. Manusia-manusia hilir mudik di jalanan menghentikan langkah dan kendaraan yang ditumpanginya. Mereka berdiri dengan dada kosong dan air mata membasahi pipi. Semua berhenti seolah ingin menghormati kepergian seorang raja yang alim, arif, bijaksana, zuhud, dan dicintai rakyatnya menghadap ke hadirat Maharajadiraja Penguasa semesta.

Sepeninggal Sri Mangana, para wali nagari dan gedeng se-Caruban Larang sepakat memilih Pangeran Muhammad Arifin putera Syarif Hidayatullah untuk menggantikan kedudukan sebagai khalifah Caruban. Semua sepakat memilih pangeran yang masih muda itu karena dianggap sebagai orang yang memenuhi syarat-syarat khilafah sebagaimana diajarkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Pangeran Muhammad Arifin sendiri dikenal sebagai sahabat akrab Syaikh Datuk Bardud, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil. Bahkan, nama Pasarean (pekuburan) yang diberikan oleh Syaikh Datuk Bardud kepadanya ditafsirkan oleh para wali nagari dan gedeng – yang sebagian besar adalah pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil – sebagai tanda keberhasilan putera Syarif Hidayatullah dalam mengamalkan ajaran ‘mati sebelum Kematian’ (mutu qabla an-tamutu) sebagaimana yang disampaikan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Demikianlah, Pangeran Muhammad Arifin yang dikenal orang dengan nama Pangeran Pasarean itu dinobatkan sebagai pengganti Sri Mangana menjadi pemimpin pemerintahan (amir al-mu’minin) dan penguasa keagamaan (sayidin panatagama). Sementara Pangeran Cirebon, putera Sri Mangana yang telah ditunjuk oleh ayahandanya menjadi manggala dalam penyerbuan ke Banten dan Kalapa, ditetapkan sebagai pengganti kedudukan ayahandanya sebagai manggalayuddha (senapati ing alaga) yang memiliki kewenangan dalam menata dan memerintah kekuatan militer Caruban.

Di tengah pergantian kepemimpinan di Caruban Larang, terdengar kabar dari Malaka yang menyatakan pertahanan Sultan Malaka di Bentam baru saja dihancurkan oleh pasukan Portugis di pimpinan gubernur Malaka Pedro Mascarenhas. Dalam penyerbuan itu, pasukan Portugis diperkuat oleh pasukan pimpinan Francisco de Sa. Yang lebih mengejutkan, sehari setelah itu tersebar kabar susulan yang menyatakan bahwa gubernur Malaka menitahkan de Sa pergi ke negeri Sunda untuk membangun benteng di sana. De Sa membawa armada besar. Ia sendiri naik sebuah kapal perang dengan 300 orang prajurit pilihan. Armada de Sa diperkuat oleh Duarte Coelho yang membawa sebuah kapal jenis galeota dan dua kapal jenis fusta. Sebagai siasat penyerangan, de Sa memerintahkan sebagian kapalnya berangkat lebih dulu ke Jawa. Menurut rencana, pada minggu ketiga bulan Juni 1526 seluruh kapal akan berkumpul di Kalapa untuk melindungi pembuatan benteng di sana.

Mendengar kabar keberangkatan armada Portugis itu, Tranggana yang masih diliputi rasa bangga dengan keberhasilan pasukannya menguasai pelabuhan Panjang, buru-buru mengirim Tughril ke Caruban dengan kekuatan 500 orang prajurit pilihan. Tughril diperintah untuk meminta bantuan pasukan dari Caruban kepada pengganti Sri Mangana. Karena Pangeran Cirebon, manggala Caruban, sedang memimpin pasukan bersama Fadhillah di Banten, Pangeran Pasarean selaku khalifah Caruban mengirim Pangeran Wirakusuma, putera Pangeran Cirebon, untuk memimpin 1.000 orang prajurit Caruban dan bergabung dengan prajurit Demak untuk merebut pelabuhan Kalapa sebelum Portugis datang dan mendirikan benteng di sana.

Sesuai rencana, Kalapa akan diserang dari dua arah, dari arah barat oleh pasukan yang dipimpin Fadhillah dan dari arah timur yang dipimpin Tughril. Sekalipun dengan kekuatan 1.500 orang Tughril yakin dapat merebut Kalapa, sebagai seorang pejuang yang pernah terlibat pertempuran dengan Portugis di Pasai, ia merasa heran dengan keberadaan prajurit-prajurit Caruban yang tidak mau menggunakan meriam dan senapan. Ketika hal itu ditanyakan Tughril kepada Syaikh Datuk Bardud, sepupunya, ia diberi tahu bahwa ayahandanya telah melarang penggunaan senjata-senjata penyembur api seperti meriam, gurnita, dan senapan dengan alasan senjata berpengaruh setani. “Karena kakek kami, Sri Mangana almarhum, menyetujui pandangan ayahanda kami maka ia melarang pasukan Caruban menggunakan meriam, gurnita, dan senapan,” Syaikh Datuk Bardud menjelaskan.

“Tapi yang akan kita hadapi di Kalapa nanti adalah pasukan Portugis yang sudah termasyhur kehebatannya di medan tempur. Meriam-meriam dan senapan-senapan yang mereka gunakan tidak mungkin kita lawan dengan panah, tombak, pedang, keris, dan pentungan,” kata Tughril tidak paham dengan penjelasan Syaikh Datuk Bardud.

“Manakah menurutmu yang lebih unggul, o Saudaraku, senjata meriam dan senapan dibanding senjata iman seorang sahabat Allah?” tanya Syaikh Datuk Bardud.

“Tentu saja senjata iman seorang sahabat Allah lebih dahsyat,” kata Tughril masih belum paham, “Tetapi yang akan menghadapi meriam dan senapan Portugis itu prajurit-prajurit Demak dan Caruban yang aku pimpin. Aku bukan sahabat Allah, begitu pula prajurit-prajuritku.”

“Sebelum engkau berangkat, mohonlah doa restu dari guru suciku, Syaikh Maulana Jati. Ia telah diajari oleh ayahandaku untuk meminta kepada Allah agar menggerakkan tentara-Nya (jundullah) dalam pertempuran melawan para pemuja taghut. Yakinlah bahwa dengan perkenannya, engkau akan meraih kemenangan melawan pasukan Portugis yang bersenjata meriam dan senapan,” kata Syaikh Datuk Bardud.

Di dalam selimut kabut dan gumpalan awan yang mencurahkan hujan lebat, pada suatu siang yang gelap kelabu, perahu-perahu yang memuat prajurit gabungan Demak-Caruban yang datang dari Caruban merapat di pantai Cilincing di timur pelabuhan Kalapa. Pada saat hampir bersamaan, perahu-perahu bermuatan prajurit gabungan Demak-Caruban yang datang dari pelabuhan Panjang merapat di pantai Kamal di barat pelabuhan Kalapa. Lalu, seperti kawanan hantu yang berbaris di tengah keremangan senjakala, kedua pasukan itu bergerak tanpa suara. Rawa-rawa dangkal berlumpur dengan pohon-pohon bakau yang sering dijadikan sarang buaya tidak dianggap sebagai penghalang bagi kedua pasukan yang berlomba menjadi yang pertama sampai di Kalapa.

Setelah berjalan setengah berlari selama beberapa jam, iring-iringan pasukan gabungan Demak-Caruban mulai melihat pelabuhan Kalapa, yang samar-samar tampak seperti kerumunan pohon, pondok, dan tiang-tiang kapal yang kelabu tertutup tirai hujan dan kabut. Dengan tubuh basah kuyup, semua merunduk dan mendekam. Lalu, sambil menggunakan isyarat gerakan tangan, jatah makanan dibagikan. Prajurit-prajurit yang kelaparan dan kedinginan itu melahapnya dengan ganas. Usai menyantap jatah makan, mereka bergerak lagi mendekati Kalapa yang makin tampak remang-remang karena hari telah memasuki senjakala.

Ketika hari benar-benar gelap dan hujan tersisa dalam gerimis tipis, terjadi peristiwa yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua prajurit. Sebuah pondok di ujung dermaga terbakar hebat. Pertanda penyerangan atas Kalapa dimulai. Teriakan-teriakan perang terdengar bersahutan dan sambung-menyambung diikuti oleh bergeraknya bayangan-bayangan hitam dari kegelapan, menerjang ke depan dengan panji-panji digoyang-goyang dan tombak diacungkan. Semua bergerak sangat cepat seolah berpacu saling mendahului. Karena jalanan berlumpur dan menjadi licin akibat hujan, beberapa sosok bayangan terbanting dengan keras ke tanah, tetapi secepat itu kawan-kawannya menarik dan menggeretnya untuk bangkit dan berlari. Beberapa orang yang berlari di bagian depan berteriak lantang memberi arahan kepada kawan-kawannya.

“Ke rumah syahbandar!”

Di tengah gelap yang hanya sesekali ditandai kilatan petir, jarak bayangan-bayangan hitam para prajurit yang berlari itu semakin dekat dengan kediaman syahbandar Kalapa. Teriakan-teriakan liar bersahutan di antara suara benturan senjata. Para prajurit Sunda yang menjaga kediaman syahbandar Kalapa hanya sedikit jumlahnya. Mereka terkejut menghadapi serangan mendadak yang tak mereka sangka-sangka. Mereka melawan sekuat-kuatnya, tetapi dengan mudah ditewaskan atau dihalau dari kubu pertahanan. Kepanikan merebak di mana-mana. Syahbandar Kalapa yang melakukan perlawanan bersama pengawal-pengawalnya tanpa kesulitan dibinasakan oleh para penyerang yang bertempur bagaikan kawanan hewan buas mencabik-cabik mangsa. Dalam semalam, pelabuhan Kalapa yang dipertahankan oleh sekitar 1.000 orang prajurit Sunda itu jatuh ke dalam kekuasaan pasukan gabungan Demak-Caruban.

Kemenangan merebut pelabuhan Kalapa tidak dirayakan. Sebaliknya, seluruh pasukan digabungkan menjadi satu di bawah kepemimpinan Tughril untuk menghadapi pasukan Portugis yang sedang dalam perjalanan menuju Kalapa. Menurut perhitungan Tughril, meriam-meriam yang sudah ditempatkan pasukan gabungan Demak-Caruban di pelabuhan Panjang dipastikan akan menghalau armada Portugis yang akan singgah di sana. Portugis yang belum tahu jika Kalapa sudah jatuh pasti akan mengarahkan armadanya ke pelabuhan Kalapa. Untuk menghadang kedatangan armada Portugis, pihaknya akan menunggu di pantai sesuai petunjuk Susuhunan Gunung Jati. Meski agak kurang yakin sepenuhnya dengan penjelasan Datuk Bardud, bahwa Susuhunan Gunung Jati mampu meminta datangnya balatentara Allah, dan lantaran itu ia memerintahkan pembangunan kubu-kubu dari kayu dan bambu di sekitar muara, tak urung Tughril memerintahkan kepada seluruh pasukan untuk tidak menyerang musuh sebelum mendarat di pantai. Tughril terombang-ambing antara desakan nalarnya yang liar dan tali kendali keyakinannya yang kadang kencang tapi kadang mengendor.

Sementara, ketika armada yang dipimpin de Sa baru beberapa saat melintasi Selat Sunda tiga empat legoa (1 legoa = 5,5 mil laut), terjadi peristiwa yang hampir membuat semua pelaut di dalam armada itu ketakutan. Hujan angin turun sangat ganas disusul amukan puting beliung yang menerjang kapal-kapal raksasa itu, laksana tangan-tangan raksasa terjulur dari balik gumpalan awan mempermainkan sabut-sabut kelapa di atas laut. Kapal perang yang ditumpangi de Sa tergulung badai dan dijauhkan dari pantai Sunda, terseret gelombang hingga ke ujung timur Nusa Jawa. Kapal perang yang ditumpangi Duarte Coelho dengan satu kapal galeo dan satu kapal fusta pendampingnya berhasil lolos dari amukan badai. Coelho dan seluruh awaknya belum sadar jika kapal yang ditumpangi pemimpin mereka, de Sa, telah terseret arus dan badai jauh ke arah timur berpuluh-puluh legoa. Coelho memutuskan untuk membawa tiga kapal yang dipimpinnya ke pelabuhan Kalapa mendahului kapal de Sa. Ia berharap raja Sunda sahabat Portugis akan menyambutnya dan membantu perbaikan layar kapal-kapalnya yang rusak akibat badai.

Ketika iring-iringan kapal yang dinakhodai Coelho melintasi pulau-pulau kecil yang tersebar di teluk Kalapa, bergeraklah gumpalan awan hitam dari arah selatan menutupi langit. Pada saat bersamaan terlihat gumpalan kabut memenuhi permukaan laut. Lalu, seperti dua hamparan kegelapan disatukan, gumpalan awan hitam di langit dan gumpalan kabut di permukaan laut itu disatukan oleh gemuruh hujan dan diselingi ledakan halilintar. Semua awak kapal yang beberapa waktu sebelumnya sempat melihat remang-remang pelabuhan Kalapa, tercekam kegentaran ketika menyaksikan gumpalan awan hitam, kabut, hujan, dan halilintar bergerak cepat ke arah kapal-kapal mereka. Semua merasakan jantungnya berdebar-debar saat melihat putting beliung bergerak seperti tangan raksasa mengaduk-aduk laut.

Coelho yang masih tercekam kengerian amukan putting beliung di lepas Selat Sunda hanya membelalakkan mata dan menutup mulutnya rapat-rapat ketika pusaran putting beliung menyambar kapal fusta yang melaju di depannya. Kapal berukuran panjang dengan dua tiang dan 15 bangku pendayung itu seperti sabut dicengkeram tangan yang kuat, meronta tak berdaya ketika tiang-tiangnya satu demi satu patah. Ia menahan napas ketika menyaksikan kapal yang bermuatan 30 orang itu terangkat dari permukaan laut dan kemudian terlempar keras ke daratan. Menyaksikan keanehan demi keanehan peristiwa yang dialami sejak terempas badai di lepas Selat Sunda, ia tidak dapat berbuat lain ketika kapal yang ditumpanginya dan galeo yang berada di dekatnya terseret arus dan badai ke arah daratan, menyusul kapal fusta yang sudah tersungkur lebih dahulu di tengah rawa-rawa berlumpur. Ia hanya bisa memerintahkan kepada awak kapalnya untuk berdoa kepada Tuhan.

Di tengah kepasrahan atas nasib yang bakal mereka alami, terjadi suatu keanehan. Badai tiba-tiba menyingkir. Gumpalan awan hitam dan kabut mendadak bergerak ke timur dan menghilang. Saat itulah Coelho menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya sesak dan tenggorokannya kering: sekumpulan orang bersenjata tombak dan kelewang menangkapi para awak kapal fusta yang sebagian melakukan perlawanan. Perlawanan tak berarti dari awak-awak kapal malang itu berakibat terjadinya penyembelihan terhadap kawan-kawan mereka. Tidak peduli tentara atau pendayung, satu demi satu seolah sengaja memamerkan kebuasan – awak kapal fusta dijagal tanpa kenal belas kasihan.

Terkejut oleh peristiwa tak terduga itu, Coelho mengirim sebuah perahu yang mengibarkan bendera putih untuk mengajak orang-orang bersenjata itu berunding. Namun saat perahu itu mendekat, dari balik gundukan-gundukan tanah dan kubu-kubu kayu yang memanjang di pantai, berhamburan ratusan anak panah disusul letusan senapan. Awak perahu yang tak menduga bakal diserang, buru-buru berbalik arah. Kembali ke kapal. Coelho dengan napas sesak menyaksikan bagaimana orang terakhir dari awak kapal fusta itu disembelih dan mayatnya dilempar ke lumpur. Sejak mengalami peristiwa mengerikan, dan berkat pertolongan Tuhan saja yang tersisa bisa selamat, Duarte Coelho tidak mau lagi ke Sunda. Tanpa menunggu lebih lama kedatangan kapal de Sa, ia kembali ke Malaka.

De Sa yang belum mengetahui nasib malang yang dialami awak kapal Duarte Coelho, mengumpulkan kapal-kapal perang yang sudah disebarnya lebih dahulu di sejumlah pelabuhan di Jawa. Ia menunggu mereka di pelabuhan Panarukan. Tak kurang dari tujuh kapal perang besar dengan tiga galeo dan tiga fusta berkumpul. Dari Panarukan, ia dengan penuh yakin diri memimpin armada ke pelabuhan Kalapa. Ketika sampai di teluk Kalapa, ia mendapati permukaan air laut sedang surut. Tanpa mengetahui jika Kalapa sudah jatuh ke tangan pasukan gabungan Demak-Caruban, ia mendarat di Kalapa dengan sekoci-sekoci yang memuat sekitar tujuh puluh orang prajurit bersenapan.

Ketika naik ke daratan, De Sa menangkap gelagat tidak beres karena pelabuhan Kalapa yang selalu ramai itu terasa sekali lengang. Ia bergegas menuju kediaman syahbandar. Sebelum masuk, ia memerintahkan beberapa orang untuk memberi tahu syahbandar yang seharusnya menyambut kedatangannya. Saat orang-orang yang disuruhnya itu kembali, ia terperangah mendengar laporan bahwa yang menguasai kediaman syahbandar adalah pejuang asal Pasai yang sudah mereka kenal, dua bersaudara Tughril dan Fadhillah Khan.

Tercekam oleh tugas yang diemban untuk secepatnya mendirikan benteng di Kalapa, De Sa tidak berpikir panjang. Saat itu pula ia memerintahkan pasukannya untuk merebut kediaman syahbandar Kalapa. Namun, dua orang pejuang asal Pasai yang sudah menyiagakan pasukan dengan keberanian luar biasa menyerang de Sa dan pasukan yang mengawalnya. Terjadi pertempuran jarak pendek. Prajurit Portugis yang tidak memiliki kesempatan mengisi senapan dalam pertempuran jarak pendek itu menjadi sasaran empuk bagi tombak dan keris yang digunakan Tughril dan Fadhillah beserta prajurit-prajuritnya. Tiga empat orang prajurit Portugis tumbang ke atas tanah berlumpur tanpa nyawa. Yang lain berusaha mundur sambil menlindungi pemimpin mereka. Saat de Sa beserta sisa-sisa pasukan kembali ke kapal dengan sekoci, Fadhillah memimpin dua puluh delapan perahu berisi pasukan panah dan tombak untuk mengejar sekoci-sekoci Portugis yang melarikan diri.

Begitu berhasil naik ke kapal, de Sa buru-buru memerintahkan kapal-kapalnya untuk bergegas pergi meninggalkan teluk Kalapa. Ia sadar, perahu-perahu yang sedang memburunya itu akan menjadi ancaman yang membahayakan bagi kapal-kapalnya. Pertempuran jarak pendek! Ia bayangkan kapal-kapalnya dikerubuti perahu-perahu kecil itu tanpa dapat menggunakan meriam. Pertempuran jarak pendek yang baru saja dialaminya di Kalapa harus dihindari. Demikianlah, di tengah sorak-sorai para penumpang perahu yang dipimpin Fadhillah, kapal-kapal Portugis di bawah de Sa terbirit-birit meninggalkan teluk Kalapa.

27. Bangkit! Maju! Berkuasa!

Kabar kemenangan gemilang di Kalapa diterima Tranggana dengan kegirangan orang mabuk. Kepalanya terasa membesar dan berat. Matanya sayu tapi penuh hasrat. Dadanya naik turun dipenuhi rasa hangat. Kakinya gontai. Sesuatu ingin ia tumpahkan dari pedalamannya. Dan, satu-satunya hal yang mengisi benaknya adalah kilasan-kilasan khayalan yang mengalir dari mulut sang naga hitam yang menyemburkan api. Kilasan-kilasan khayalan itu melesat dari benaknya, terbang ke angkasa menjadi tangan-tangan hitam berkuku panjang yang menjulur ke bentangan masa depan yang diselimuti kabut misterius. Tranggana tersentak kaget ketika naga hitam yang bersarang di pedalamannya meraung keras, menggetarkan cakrawala jiwanya, “Bangkit dan majulah!”

Tranggana termangu-mangu. Ia merasakan kegembiraan bergelut dengan luapan kebanggaan memenuhi jiwanya. Lalu ia mendengar lagi raungan naga hitam di pedalamannya, “Bangkit! Maju! Berkuasalah! Raihlah keagungan dan kemuliaan raja-raja! Jaya! Jaya!” Pada saat orang masih sibuk membincang kemenangan pasukan gabungan Demak-Caruban yang menghantam keras-keras kekuatan Portugis, Tranggana sudah menitahkan Raden Ja’far Shadiq Senapati Suranata membawa pasukan untuk menggempur Majapahit. Untuk memperkuat pasukan yang dilengkapi meriam dan senapan itu, Tranggana meminta bantuan pasukan dari Giri Kedhaton. Kemenangan atas Banten dan Kalapa tampaknya memperkuat hasrat Tranggana untuk berkuasa atas seluruh Nusa Jawa.

Sangat berbeda dengan saat ayahandanya menyerang Majapahit yang berakibat kegagalan, Raden Ja’far Shadiq selaku senapati tidak lagi mempercayai bualan alim ulama yang penuh diliputi khayalan dan dalil kosong. Ia lebih percaya kepada manggala dan perwira-perwiranya yang mengenal benar makna pertempuran dan nilai-nilai yang meliputinya. Sabda Nabi Muhammad Saw., “Serahkan semua urusan kepada ahlinya” , dipegangnya sebagai harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Masalah perang hendaknya diserahkan kepada manusia-manusia yang darah dan jiwanya dialiri darah ksatria. Kegagalan dan kepedihanlah yang akan diperoleh jika masalah perang diurusi ahli agama yang hanya berbekal dalil-dalil dan semangat.

Di bawah arahan manggala dan perwira-perwira kepercayaannya, Raden Ja’far yang ditugaskan menyerang Majapahit tidak serta merta menerobos ke Wirasabha. Sebaliknya, ia menggempur Kadipaten Tuban yang merupakan pelabuhan utama Majapahit. Jika Tuban sudah dikuasai maka Majapahit akan terkucil dari dunia luar. Sebab, dengan menguasai Tuban, bukan saja alur perniagaan akan dapat dikendalikan oleh sang pemenang, melainkan lalu lintas pelayaran di Bengawan Sori pun dapat diawasi melalui tempat-tempat penambangan yang dikuasai keluarga Bajul yang sebagian sudah memeluk agama Islam. Gagasan Raden Ja’far Shadiq beserta manggala dan perwira-perwira kepercayaannya itu terbukti tidak lama setelah Tuban ditaklukkan. Seluruh jalur perniagaan dari pesisir ke pedalaman menjadi sangat terhambat.

Kehati-hatian Raden Ja’far Shadiq dalam bertindak paling tidak telah menyebabkan Tranggana tidak sabar. Ia berharap senapatinya itu bisa bertindak cepat seperti Tughril dan Fadhillah yang tanpa kesulitan berhasil gemilang menaklukkan Banten dan Kalapa. Namun, saat ia diberi tahu bahwa salah satu alasan yang sangat dipertimbangkan oleh Raden Ja’far Shadiq beserta manggala dan perwiranya untuk menunda-nunda penyerbuan ke Majapahit adalah keberadaan Raden Kusen Adipati Terung, paman Sultan Demak, ia tidak dapat berbuat sesuatu. Apa pun kenyataannya, pamannya itu adalah satu-satunya sesepuh keluarga yang harus dipatuhi sebagaimana wasiat ayahandanya beberapa waktu sebelum mangkat. Bahkan, Tranggana merasakan gundah ketika Susuhunan Kalijaga, mertuanya, memberi tahu bahwa Prabu Bhre Wijaya, maharaja Majapahit pengganti Sri Surawiryawangsaja, telah menyatakan Keislaman di hadapannya.

Di tengah keraguan dan kegundahan untuk menyerang Majapahit, terbetik usulan yang disampaikan Susuhunan Dalem Timur terkait dengan usaha menyingkirkan Raden Kusen menjelang saat-saat penyerangan ke Majapahit. Dalam usulan itu, Susuhunan Dalem Timur meminta salah seorang sentana Susuhunan Ampel Denta agar menemui Raden Kusen. Sentana itu akan menuturkan bahwa ia bermimpi bertemu dengan Susuhunan Ampel Denta yang melambaikan tangan ke arah Raden Kusen tanpa berkata-kata sesuatu. Semua orang yang mengetahui bagaimana kepatuhan Yang Dipertuan Terung itu kepada gurunya dapat menduga dengan gampang apa yang akan terjadi.

Ketika saat pertempuran yang ditentukan datang, di mana pasukan gabungan Majapahit berhadap-hadapan dengan pasukan gabungan Demak di Wirasabha, terjadi sesuatu yang tak terduga-duga. Raden Kusen, dengan alasan dipanggil oleh guru suci yang dipatuhinya, pergi ke Ampel Denta untuk berziarah. Patih Mahodara dan para tetunggul Majapahit yang siaga bertempur mati-matian menghadapi serangan Demak, kebingungan dan hilang kendali menghadapi kejadian yang tak pernah disangka-sangka itu. Mahodara sempat memerintahkan kepada para tetunggulnya untuk tidak keburu menyerang sampai sang adipati kembali dari ziarah ke Ampel Denta. Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh pasukan gabungan Demak. Berberapa saat setelah dilaporkan bahwa perahu yang membawa Raden Kusen sampai di pelabuhan Canggu, serangan awal dilakukan oleh pasukan gabungan Demak.

Serentetan tembakan senapan yang dihamburkan oleh sekitar lima pulu prajurit Demak asal Palembang dan menumbangkan puluhan prajurit Majapahit telah membelalakkan mata para tetunggul Majapahit. Mereka tidak pernah menduga jika alat bernama bedil yang selama itu mereka gunakan untuk merayakan upacara perkawinan dan menghormati tamu itu digunakan oleh pasukan Demak sebagai senjata pembunuh. Yang lebih membingungkan, pasukan pembawa senapan itu mengibarkan panji-panji bergambar lebah emas yang merupakan lambang panji-panji adipati Palembang. Seiring berkibarnya panji-panji tersebut, pasukan dari Wirasabha dan Japan yang diandalkan sebagai kekuatan utama pasukan Majapahit tiba-tiba mundur serentak tanpa diperintah. Akibatnya, pasukan sayap kanan Majapahit terbelah.

Melihat mundurnya pasukan Wirasabha dan Japan, pasukan gabungan Demak serta merta menyerbu secara bergelombang bagaikan ombak menerjang pantai. Sisa pasukan sayap kanan Majapahit yang dipimpin Arya Simping Adipati Kedhawung dan Arya Tiron Adipati Pamenang seketika itu berantakan formasinya diterjang pasukan dari Giri Kedhaton yang dipimpin dua pendekar Cina bernama Panji Laras dan Panji Liris. Tak lama kemudian, formasi pasukan sayap kiri Majapahit yang dipimpin Arya Puspa Adipati Dengkol dan Arya Matahun Adipati Rajegwesi berantakan juga diterjang pasukan gabungan dari Pati, Udung, dan Madura. Puncak kehancuran formasi tempur pasukan Majapahit adalah saat pasukan utama Demak di bawah Raden Ja’far Shadiq didampingi manggala Pangeran Pancawati menyerang pasukan utama yang dipimpin Arya Gugur, putera mahkota Majapahit, yang didampingi Menak Supethak Adipati Garuda, Menak Pentor Adipati Blambangan, Menak Pangseng Adipati Puger, Raden Pramana Adipati Sengguruh, Nila Suwarna Adipati Pajer, Arya Jeding Adipati Rawa, Arya Babon Adipati Srengat.

Di tengah porak-porandanya formasi tempur pasukan Majapahit, pasukan gabungan Demak tidak melakukan pengejaran sebagaimana lazimnya pasukan yang berada di atas angin. Sebaliknya, secara serentak pasukan gabungan Demak bergegas kembali ke garis belakang pasukannya masing-masing. Pasukan Majapahit yang sudah berantakan berusaha memanfaatkan kesempatan itu untuk membangun lagi formasi tempurnya. Namun, baru saja beberapa orang perwira berkuda melesat ke kanan dan kiri sambil berteriak-teriak memerintahkan pasukannya untuk menata barisan, terdengar suara gemuruh menggentarkan dada dan memekakkan telinga ketika meriam-meriam yang dipasang pasukan Demak mulai menyalak. Seiring melesatnya bola-bola besi bersalut api dari mulut-mulut meriam-meriam itu, berhamburanlah tubuh para prajurit Majapahit yang sedang menata barisan. Serpihan daging, tulang, dan rambut berserak di tengah cipratan darah. Bau mesiu dan anyir darah menebar ke mana-mana menyesakkan dada.

Ketika kabar kehancuran pasukan gabungan Majapahit di Wirasabha sampai ke Demak, Tranggana buru-buru mengirim pesan kepada Raden Ja’far Shadiq selaku senapati Suranata untuk secepat mungkin memboyong singgasana maharaja beserta pusaka dan pustaka Majapahit. Selama menunggu kembalinya sang utusan, Tranggana menitahkan kepada punggawanya agar menyebarkan kabar kemenangan tersebut kepada seluruh kawula. Mereka diperintahkan untuk datang ke alun-alun Demak menyaksikan perpindahan singgasana yang akan dikirab bersama pusaka-pusaka keramat dari kerajaan tua tersebut. Di tengah hiruk persiapan para punggawa menyongsong kirab agung itu, Tranggana justru sedang terbuai mimpi: terbang bersama naga hitam ke angkasa tinggi kediaman raja-raja leluhurnya yang gemerlap disinari cahaya emas keagungan kekuasaan. Ia terbang tinggi untuk menerima mahkota kekuasaan dari leluhurnya dan ia akan menjadi raja bagi manusia.

Beda mimpi yang dialami Tranggana beda pula kenyataan yang ditangkap oleh orang-orang di sekitarnya. Ketika Tranggana membayangkan diri sebagai raja agung penerus kekuasaan raja-raja leluhurnya, orang-orang di sekitarnya justru melihat perubahan jiwanya yang mirip seekor ular berbisa: dingin, angkuh, licik, berbisa, lidah bercabang, sulit didekati, selalu curiga, dan pendendam. Keularan Tranggana setidaknya terlihat ketika singgasana, pusaka-pusaka, dan pustaka-pustaka yang dibawa dari Kraton Majapahit di Daha ditempatkan di Giri Kedhaton selama empat puluh hari. Sekalipun para alim dan sesepuh sudah menjelaskan bahwa penempatan lambang-lambang kekuasaan Majapahit di Giri Kedhaton itu adalah prasyarat bersifat ruhani dari perpindahan sebuah kekuasaan, Tranggana diam-diam mencurigai Susuhunan Dalem Timur, sepupu dan juga sahabatnya, menyembunyikan hasrat untuk menjadi penguasa. “Darah Bhre Wirabhumi yang mengalir di tubuhmu, o Saudaraku, tampaknya tidak cukup puas dengan kekuasaan seluas Giri Kedhaton,” kata Tranggana dalam hati.

Menghadapi kemungkinan-kemungkinan munculnya kekuatan tak terduga yang bakal menghambat jalan menuju puncak kekuasaan di Nusa Jawa, Tranggana mengambil keputusan-keputusan yang memiliki kaitan dengan penguatan kekuasaannya. Untuk menjaga keseimbangan kekuatan Raden Muhammad Yusuf Adipati Siddhayu, ia mengangkat Ki Supa, adik ipar Susuhunan Kalijaga, menjadi Adipati Sendang Siddhayu yang merupakan perbatasan Siddhayu dengan Pamotan. Sementara, untuk menjaga keseimbangan kekuatan dengan Susuhunan Dalem Timur, ia mengangkat Pangeran Anggung Bhaya, putera Pangeran Pringgabhaya, menjadi adipati Sekar-Widang.

Kecurigaan Tranggana terhadap Susuhunan Dalem Timur makin meningkat manakala pusaka-pusaka Majapahit yang diharapkan dapat dimilikinya ternyata tidak satu pun sampai ke tangannya. Pusaka Kala Cakra, Sangkelat, dan Carubwuk yang menjadi lambang kekuasaan Majapahit tidak satu pun muncul di hadapannya. Raden Ja’far Shadiq sang senapati hanya menyerahkan pusaka-pusaka Majapahit yang tidak masyhur. Tranggana tidak sedikit pun curiga kepada senapatinya itu, sebab ia mengetahui jika putera Susuhunan Udung itu tidak mengenal dengan baik masalah pusaka-pusaka. Tranggana justru curiga, pusaka-pusaka itu “menghilang” saat berada di Giri Kedhaton selama empat puluh hari.

Ketidakberhasilan Tranggana memboyong pusaka-pusaka masyhur Majapahit berakibat serius pada keberadaan dirinya sebagai sultan. Meski Majelis Wali Songo telah melantiknya sebagai sultan yang memiliki kewenangan dalam pemerintahan (amir al-mu’minin), kemiliteran (senapati ing alaga), dan pengatur agama (sayidin panatagama), para adipati pesisir tetap belum menunjukkan tanda-tanda untuk mendukung kepemimpinannya. Tidak sabar lagi menghadapi sikap menunggu para adipati pesisir, Tranggana menyiagakan serangan ke Rembang untuk menyingkirkan Arya Pikrama Orob. Namun, Arya Pikrama Orob yang sejak kekalahan kemenakannya dalam pertempuran di Malaka sudah melihat gelagat kurang baik dari Tranggana, segera menyingkir ke pedalaman bersama pasukannya. Arya Pikrama Orob kemudian menggalang kekuatan bersama Arya Matahun Adipati Rajegwesi. Bahkan, persekutuan itu diperkuat oleh adipati Wirasari dan didukung pula oleh Ki Ageng Sesela yang pernah dikecewakan Tranggana karena ditolak waktu mendaftar sebagai tamtama Demak.

Marah mendengar persekutuan adipati-adipati dan penguasa Sesela untuk menentang kekuasaannya, Tranggana menyatakan mereka yang berkubu di Wirasari adalah para pemberontak. Lalu, ia memimpin sendiri pasukannya ke Wirasari. Di Wirasari ia mendapat perlawanan keras dan gagah berani dari para pemberontak. Pasukannya yang terlatih, dengan susah-payah dan banyak korban baru berhasil mematahkan perlawanan para pemberontak. Setelah tujuh hari pertempuran, Wirasari baru jatuh. Tranggana mengangkat Kidang Telangkas, putera Dewi Rasawulan dengan Syaikh Maulana Maghribi, kemenakan Susuhunan Kalijaga sebagai adipati Wirasari. Arya Pikrama Orob Adipati Rembang yang terbunuh dalam pertempuran digantikan kedudukannya oleh Raden Iman Sumantri. Kadipaten Rajegwesi yang kosong akibat terbunuhnya Arya Matahun, dimasukkan ke dalam wilayah Jipang yang dirajai putera ketiga Tranggana, Pangeran Arya Jipang.

Penumpasan terhadap pemberontakan Wirasari dijadikan salah satu alasan oleh Tranggana untuk menggempur Pengging. Pertama-tama, sisa-sisa pemberontak, yaitu Ki Ageng Sesela dan saudara-saudaranya Ki Ageng Pakis, Ki Ageng Adibaya, Ki Ageng Wanglu, Ki Ageng Bokong, Ki Ageng Kare, dan Ki Ageng Purna melarikan diri ke wilayah Pengging. Mereka menyembunyikan diri di Ngerang, yaitu kediaman ayahanda mereka Ki Ageng Ngerang. Selain itu, Tranggana mendapati kenyataan keterlibatan sejumlah pengikut Syaikh Lemah Abang dalam pemberontakan di Wirasari yang lari ke Pengging. Namun, banyak yang paham bahwa alasan Tranggana menyerang Pengging lebih disebabkan oleh rasa khawatirnya terhadap Pangeran Kebo Kenanga yang menggantika kedudukan ayahandanya sebagai penguasa Pengging. Kebo Kenanga dianggap ancaman bagi kekuasaannya. Tranggana yang terilhami kekuasaan Sultan Turki Salim tidak ingin melihat trah Majapahit menandingi kekuasaannya.

Dalam upaya mengabsahkan penyerangan ke Pengging, Tranggana kembali menggerakkan pasukan Suranata yang dipimpin alim ulama Demak untuk melakukan penumpasan terhadap penduduk yang diduga menjadi pengikut Syaikh Lemah Abang. Sejarah kelabu alim ulama membunuhi penduduk tak bersalah terulang kembali. Tombak-tombak berkelebat. Dada-dada berlubang. Darah tumpah. Nyawa beterbangan ke angkasa. Janda-janda dan anak-anak yatim berlipat-lipat jumlahnya. Penumpasan terhadap para pengikut Syaikh Lemah Abang itu diramaikan pula oleh para dukun dan pedagang jimat-jimat yang merasa dirugikan oleh ajaran Syaikh Lemah Abang. Bahkan pada gilirannya, keadaan itu dimanfaatkan oleh banyak orang untuk menjatuhkan saingan atau merebut istri orang. Kebejatan dan kelicikan manusia bergulat menjadi satu dengan lenguhan setan dan hewan buas.

Syaikh Lemah Abang sendiri, menurut kabar, ditangkap dan diadili di Demak dengan tuduhan menyebarkan ajaran sesat. Syaikh Lemah Abang dijatuhi hukuman mati. Untuk membuktikan kesesatannya, jenasah Syaikh Lemah Abang telah berubah menjadi seekor anjing hitam kudisan. Demikianlah, setelah guru suci penyebar kesesatan itu tewas, pasukan Demak disiagakan menyerang Pengging karena penguasa Pengging Pangeran Kebo Kenanga yang masyhur dengan gelar Ki Ageng Pengging itu adalah pengikut setia Syaikh Lemah Abang.

Ketika Tranggana akan berangkat memimpin pasukan ke Pengging, tiba-tiba Raden Ja’far Shadiq menghadap dan memohon agar dirinya diperkenankan memimpin penaklukan ke Pengging. Raden Ja’far Shadiq beralasan, tidak sepantasnya sultan seagung Tranggana membawa pasukan besar untuk menaklukkan Pengging yang sudah bukan merupakan kerajaan lagi. “Sepengetahuan kami, Pengging telah menjadi semacam kadipaten kecil setingkat wisaya yang dipimpin oleh seorang Ki Ageng Pengging. Apa kata orang jika Sultan Demak yang perkasa menggunakan kekuatan besar untuk menumpas Pengging yang wilayahnya hanya empat wisaya, yaitu Tingkir, Banyubiru, Butuh, dan Ngerang. Akan lebih bijak jika paduka sultan menitahkan kami untuk menaklukkan Pengging,” kata Raden Ja’far Shadiq berharap.

Tranggana yang menganggap pandangan Raden Ja’far Shadiq masuk akal, menerima usulan itu. Ia menyerahkan penaklukan atas Pengging kepada menantu dari pamannya itu. Tanpa mengeluarkan darah orang-orang tak bersalah, Raden Ja’far Shadiq berhasil menaklukkan Pengging. Menurut kabar, Ki Ageng Pengging tewas dengan luka goresan di sikunya. Setelah itu, Yang Dipertuan Tingkir, Butuh, Banyubiru, dan Ngerang menyatakan tunduk kepada sultan.

Kemenangan atas Pengging makin menyeret hasrat Tranggana untuk meyujudkan mimpinya sebagai sultan yang berkuasa atas seluruh Jawa. Segerah setelah Pengging takluk, Tranggana menyerang Kadipaten Bojong. Adipati Bojong Arya Danaraja Orob yang sudah uzur itu terbunuh. Kadipaten Bojong lalu dipecah menjadi tiga, yaitu Kersana, Tetegal, Pamalang. Belum puas menaklukkan daerah pesisir, Tranggana menggerakkan pasukannya ke pedalaman menyerang Gagelang dan Medangkungan. Badai Kematian ia embuskan. Gunung mayat ia ciptakan. Janda-janda dan anak-anak yatim ia serakkan ke permukaan bumi.

Setelah melumat Gagelang dan Medangkungan, Tranggana menggilas Kadipaten Siddhayu dan mengusir Adipati Siddhayu Muhammad Yusuf, sahabat karib Adipati Hunus. Kadipaten Tedunan di selatan Surabaya yang dikuasai Arya Bijaya Orob tak ketinggalan dibumi hangus. Pendek kata, seluruh kekuatan keluarga Orob dan adipati-adipati pendukungnya dihabisi tanpa sisa oleh Tranggana. Tak cukup melampiaskan ambisi kekuasannya di Nusa Jawa, Tranggana mengirim Tughril Muhammad Khan ke Baruna Dwipa untuk membela Raden Paksi yang berselisih dengan saudaranya, Raden Tumenggung, memperebutkan takhta kerajaan Banjar. Tranggana beralasan, dengan memiliki pijakan di Barunadwipa, alur pelayaran kapal-kapal Portugis dari dan ke Wandan dapat diawasi dan sewaktu-waktu dapat diserang. Demikianlah, hari-hari dari hidup Tranggana dilampauinya dengan ketakziman mendengar titah naga hitam di kedalaman jiwanya yang terus-menerus berseru: “Bangkit! Maju! Berkuasalah!”

Ketika ayam jantan berkokok sahut-menyahut pertanda subuh bakal menjelang, di tengah embusan angin dingin yang membawa gumpalan kabut, Raden Ketib tersentak dari kehanyutan jiwanya selama mendengarkan pengungkapan kisah Syaikh Datuk Abdul Jalil dari Susuhunan Kalijaga. Ia merasakan betapa tirai rahasia yang selama ini menyelubungi Kehidupan Syaikh Datuk Abdul Jalil makin tersingkap seterang matahari di siang hari. Namun demikian, sekeping tanda tanya masih tersisa di benaknya tentang akhir hidup sang guru suci tersebut. Lantaran itu, setelah menarik napas panjang berulang-ulang, ia bertanya kepada Susuhunan Kalijaga, “Kami sudah memahami semua kisah tentang beliau, o Paduka Guru. Tetapi masih tersisa tanda tanya di benak kami yang bebal ini. Maksud kami, jika Paduka Guru menuturkan kepada kami bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal di selatan dukuh Lemah Abang di Caruban dalam keadaan hilang ingatan (majnun) akibat tarikan Ilahi (jadzab), apakah yang dibunuh di Demak itu Syaikh Lemah Abang yang bernama Hasan Ali?”

Raden Sahid diam. Setelah menarik napas, dia berkata, “Engkau benar, yang dibunuh adalah Hasan Ali. Tapi dia tidak dibunuh di Demak, melainkan di kediamannya sendiri di Kanggaraksan, kuta Caruban. Dia ditikam dengan keris Kanta Naga milik saudaraku, Syarif Hidayatullah. Sedang Syaikh Siti Jenar yang bernama San Ali Anshar dibunuh di Pamantingan.”

“Tapi cerita yang kami dengar, Syaikh Siti Jenar atau Syaikh Lemah Abang dibunuh di Masjid Agung Demak dan di Tajug Agung Caruban. Kami benar-benar bingung dengan cerita simpang siur itu.”

Raden Sahid tertawa. Kemudian dengan suara digetari wibawa dia berkata menjelaskan, “Masjid adalah tempat manusia beribadah menyembah Allah. Masjid maknanya tempat bersujud. Lantaran itu, sangat jahil jika masjid digunakan untuk mengadili dan membunuh manusia. Bahkan, lebih jahil lagi kalau sampai terjadi bangkai anjing dikubur di mihrab masjid.”

“Jadi cerita-cerita itu?”

“Sebagian besar dibuat dan disebarkan oleh pengikut-pengikut Hasan Ali dan San Ali Anshar untuk memuliakan guru mereka. Mereka mereka-reka cerita jika jenasah guru mereka itu menebarkan wangi bunga. Mereka membuat-buat cerita jika anjing jelmaan guru mereka itu dikubur di mihrab Masjid Agung Demak.”

“Lalu cerita tentang bangkai anjing itu bagaimana? Peran Majelis Wali Songo bagaimana?” tanya Raden Ketib masih penasaran.

“Cerita tentang bangkai anjing adalah rekayasa alim ulama jahat abdi Tranggana. Mereka mengabsahkan titah pelarangan ajaran Syaikh Siti Jenar oleh Sultan Demak melalui cerita-cerita yang membodohkan manusia. Untuk mengabsahkan pelarangan itu, mereka menebar cerita bohong bahwa yang membunuh Syaikh Lemah Abang adalah Majelis Wali Songo. Padahal, yang membunuh San Ali Anshar di Pamantingan adalah aku sendiri. Lalu, yang membunuh Hasan Ali di Kanggaraksan Caruban adalah keris Kanta Naga milik saudaraku Syarif Hidayatullah. Jadi, Majelis Wali Songo tidak pernah bersidang di Masjid Agung Demak untuk mengadili Hasan Ali maupun San Ali Anshar. Itu semua kabar bohong yang dibikin alim ulama Tranggana. Tetapi biar saja begitu, karena dengan cerita-cerita itu keberadaan Syaikh Lemah Abang, Syaikh Siti Jenar, Syaikh Sitibrit, Syaikh Jabarantas, Susuhunan Binang, Pangeran Kajenar, benar-benar telah jatuh sebagai tanah yang diinjak-injak dan direndahkan manusia sesuai kehendak dan keinginan Syaikh Datuk Abdul Jalil,” kata Raden Sahid.

Raden Ketib termangu-mangu menangkap pemahaman baru tentang kisah Kematian Syaikh Datuk Abdul Jalil yang selama itu sangat membingungkan dan simpang siur. Dengan penjelasan Susuhunan Kalijaga yang begitu terang, ia menjadi paham dengan teka-teki yang pernah disampaikan Syaikh Datuk Bardud tentang Sang Rajawali yang pengarung Kesunyian dan Kehampaan. Ia semakin yakin Syaikh Datuk Abdul Jalil saat itu masih hidup. Namun demikian, ia tidak berani menanyakan hal keberadaan Syaikh Datuk Abdul Jalil kepada Susuhunan Kalijaga. Sebaliknya, ia ingin mengetahui latar belakang alasan dibunuhnya Hasan Ali dan San Ali Anshar. “Apakah mereka berdua melakukan kesesatan sehingga pantas untuk dibunuh, o Padukan Guru?” tanya Raden Ketib.

Raden Sahid terdiam. Dia mengelus-elus janggutnya. Setelah itu, dengan suara penuh wibawa dia berkata, “Sesungguhnya, tidak ada hak bagi manusia satu menghakimi manusia lain dalam masalah amaliah agama. Sedangkal apa pun orang seorang menafsirkan ajaran agama, tidaklah ada hak bagi orang lain untu menyatakan ini sesat itu bid’ah dan kemudian membunuhnya. Satu-satunya kesalahan berat yang dilakukan San Ali Anshar adalah dia secara sengaja telah menggunakan nama orang lain, yaitu Syaikh Siti Jenar, nama masyhur Syaikh Datuk Abdul Jalil, dengan tujuan membuat fitnah dan kerusakan. Dengan sengaja ia menggunakan ilmu sihir, dzikir berjama’ah laki-laki dan perempuan, mengaku tuhan titisan Wisynu, menghujat sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw. sebagai kafir, dan menjadikan perempuan sebagai barang yang bisa dimiliki bersama. Dia telah merusak tatanan hidup manusia. Itu semua dia nisbatkan kepada nama Syaikh Siti Jenar. Di balik alasan-alasan itu, aku sengaja membunuhnya untuk membalaskan utang darah yang dilakukannya terhadap keluarga kakek istriku, khususnya Syaikh Abdul Qahhar al-Baghdady, paman istriku yang dibunuh oleh orang-orang suruhannya. Dia kubunuh dengan tanganku sendiri karena aku merasa berhak melakukan belapati (qishash) atasnya.”

“Akan hal Hasan Ali, tak jauh kesalahannya dengan gurunya. Dia pertama-tama telah menggunakan nama Syaikh Lemah Abang dengan membuat fitnah dan kerusakan. Kenapa dia dibunuh di Caruban? Sebab, dia terang-terangan membangun dukuh Lemah Abang di selatan dukuh Lemah Abang yang didirikan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Dia mengajarkan ajaran sesat seperti gurunya. Dia tidak sadar bahwa para sesepuh Caruban sangat kenal siapa Syaikh Datuk Abdul Jalil dan siapa Hasan Ali putera Rsi Bungsu. Kesalahannya yang terbesar, dia memerintahkan pengikut-pengikutnya untuk membunuh Pangeran Bratakelana, putera saudaraku Syarif Hidayatullah. Dia sangat membenci Syarif Hidayatullah yang dianggapnya merampas haknya sebagai pelanjut Pesantren Giri Amparan Jati, yang didirikan oleh Syaikh Datuk Kahfi, suami dari uwaknya. Dia menganggap dirinya lebih berhak menjadi guru suci di Giri Amparan Jati dibanding Syarif Hidayatullah. Dia tidak pernah tahu jika yang mengangkat Syarif Hidayatullah sebagai pelanjut Syaikh Datuk Kahfi adalah Syaikh Datuk Abdul Jalil, yaitu santri terkasih dan saudara sepupu yang diamanati Syaikh Datuk Kahfi mengembangkan pesantren tersebut. Bahkan Syaikh Datuk Bayanullah, adik kandung Syaikh Datuk Kahfi tidak sedikit pun pernah menyoal masalah tersebut. Ia bahkan tinggal bersama kemenakannya, Tughril Muhammad Khan di negeri Banjar di Barunadwipa.”

Raden Ketib terdiam. Ia benar-benar merasakan kelapangan terhampar di dadanya. Benaknya yang digelayuti tanda tanya pun sudah terang laksana langit pagi hari tanpa awan. Semua telah terang. Namun, saat ia menoleh tanpa sengaja matanya melihat dua bentuk gambar aneh yang terbuat dari kulit tipis yang menempel di dinding. Gambar itu aneh, karena melukiskan sosok orang berhidung sebengkok paruh rajawali, mengenakan surban, destar, jubah, biji tasbih, dan pedang. Sesaat ia teringat bahwa Susuhunan Kalijaga selama itu dikenal sebagai guru suci yang suka menyamar sebagai dalang yang memainkan pertunjukan wayang. Ia menduga, gambar aneh itu pastilah bagian dari pertunjukan wayang, meski ia tidak tahu nama dari gambar tokoh aneh itu.

Sekalipun Raden Ketib tidak bertanya, Susuhunan Kalijaga seperti dapat membaca isi pikirannya. Tanpa terduga-duga, ia bertanya kepada Raden Ketib, “Menurutmu, gambar apakah yang menempel di dinding itu?”

“Menurut hemat kami, itu gambar alim ulama asing,” sahut Raden Ketib.

“Tahukah engkau siapakah nama dua gambar itu?”

Raden Ketib menggeleng, “Kami tidak mengetahuinya, o Paduka Guru.”

“Yang tinggi besar itu aku sebut Sang Yamadipati.”

“Dewa Kematian? Sang pencabut nyawa?” gumam Raden Ketib terkejut.

“Yang satu lagi, yang lebih kecil, aku sebut Pandita Durna.”

“Pandita yang jadi abdi setia Kurawa.”

“Tepat seperti itu.”

“Kenapa Dewa Kematian dan Pandita Durna digambarkan berpakaian alim ulama?” tanya Raden Ketib tak paham dan meminta penjelasan.

“Ini adalah caraku mencatat sejarah bangsaku yang terhina dan teraniaya akibat tindakan alim ulama jahat yang mengkhianati citra keulamaannya dengan menjadikan diri sebagai Sang Yamadipati, mencabut nyawa manusia yang dianggapnya berbeda pandangan dengannya. Ini juga caraku mengungkapkan suasana batin bangsaku yang telah mencitrakan pakaian keulamaan sebagai atribut Sang Pencabut nyawa. Gambar Pandita Durna adalah caraku mengungkapkan rasa muak bangsaku terhadap alim ulama yang menjilat kepada kekuasaan; menggunakan dalil-dalil agama untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan mencelakakan banyak orang sebagai tumbalnya. Citra alim ulama tukang hasut, penyebar fitnah, penggunjing, dan pengadu domba itulah yang aku tuangkan dalam sosok wayang Durna. Jika engkau nanti kembali ke Caruban dan menangkap pandangan jiwa penduduk sepanjang perjalananmu, engkau akan mendapati sudut pandang yang sama pada mereka saat memandang alim ulama; semua orang menganggap alim ulama yang mengenakan jubah, destar, surban, terompah, dan memutar biji tasbih adalah para pencabut nyawa dan begundal sultan,” kata Raden Sahid menjelaskan.

Raden Ketib menggeleng-gelengkan kepala mendengar uraian Susuhunan Kalijaga. Meski sepintas seperti berlebihan, sepanjang perjalanan kembali ke Caruban, Raden Ketib benar-benar membuktikan Kebenaran kata-kata Susuhunan Kalijaga tersebut. Pandangan penduduk Nusa Jawa, terutama di pedalaman, benar-benar miring terhadap alim ulama yang mengenakan jubah, destar, surban, terompah, biji tasbih. Bagaikan melihat Dewa Pencabut Nyawa, Yama, penduduk serentak menutup pintu rapat-rapat setiap kali melihat ada orang seorang mengenakan pakaian keulamaan putih melintas di sekitar kampung. Bahkan, kemunculan alim ulama asal negeri Yaman yang tidak tahu-menahu tindakan rekan-rekannya, telah disalahpahami sangat serius. Sebab, nama Yamani yang lazimnya digunakan alim ulama asal negeri Yaman, dalam bahasa Jawa bermakna neraka. Sehingga, mendengar nama Yamani digunakan sebagai nama orang, penduduk seketika lari tunggang-langgang karena menyangka berhadapan dengan makhluk dari neraka, pengikut Dewa Yama. Demikianlah, hampir semua orang Jawa di pedalaman berharap orang-orang yang mengenakan pakaian keulamaan, terutama yang menggunakan nama Yamani tidak masuk ke dalam rumah mereka karena citra Sang Maut yang sudah berurat dan berakar di kedalaman jiwa. Bahkan lantaran itu, hampir seluruh alim ulama di pedalaman mengenakan pakaian khas seperti yang dikenakan Susuhunan Kalijaga, yaitu destar hitam, baju hitam, celana hitam, kain batik, ikat pinggang kulit, dan sebilah keris terselip di dada.

28. Sang Suwung

Ketika Raden Ketib sampai di Caruban, ia tidak langsung kembali ke kediamannya di Tegal Gubuk, tetapi bergegas ke dukuh Lemah Abang, mencari pemukiman baru yang terletak di selatan dukuh tersebut. Namun, yang ditemuinya di selatan dukuh Lemah Abang hanya hutan bambu yang cukup lebat. Tidak satu pun hunian ia temukan di hutan tersebut. Yakin bahwa apa yang diungkapkan Susuhunan Kalijaga tentang kediaman Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah Kebenaran, ia berjalan terus menelusuri hutan bambu sampai di perbatasan dukuh Lemah Abang yang baru yang didirikan Hasan Ali. Semakin yakin dengan Kebenaran cerita Susuhunan Kalijaga, ia mengitari lagi hutan bambu yang cukup luas itu. Setelah berputar-putar di tengah rimbunan bambu-bambu, ia mendapati sebuah keanehan pada salah satu celah yang terdapat pada sekumpulan rumpun yang lebat. Aneh, sebab celah itu dijaga oleh tak kurang lima orang prajurit bersenjata tombak.

Penasaran dengan keanehan itu, Raden Ketib mendekati kelima prajurit tersebut. Kepada mereka ia menanyakan ini dan itu, terutama tentang keberadaan mereka di situ. Seolah tidak pedulu berhadapan dengan seorang gedeng, salah seorang prajurit itu menegaskan bahwa ia dititahkan oleh Syaikh Maulana Jati Susuhunan Caruban Larang untuk menjaga celah itu. “Kami tidak tahu apa yang kami jaga. Tetapi kami diperintahkan untuk menolak siapa pun di antara manusia yang akan melewati jalan ini,” kata prajurit itu menunjuk celah itu.

Raden Ketib diam. Ia sadar bahwa jalan setapak di celah rumpun bambu itu pastilah jalan menuju tempat Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal. Namun, ia juga sadar bahwa para prajurit itu pasti akan menolaknya masuk ke celah itu. Lantaran itu, ia hanya meminta izin kepada para prajurit untuk sekedar beristirahat beberapa bentar di situ. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk bisa melewati penjagaan itu. Untuk meminta ijin Syaikh Maulana Jati pun tidak mungkin dilakukan karena yang bersangkutan berada di Banten. Akhirnya, ia hanya duduk sambil menenangkan diri dan berharap beroleh cara untuk bisa masuk.

Setelah cukup lama berdiam diri, tiba-tiba Raden Ketib mendengar detak-detak ladam kuda mendekat dari arah utara. Saat ia menoleh, ia terkejut. Tak jauh di belakangnya, di antara rimbunan rumpun bambu, ia melihat Pangeran Pasai Fadhillah Khan melompat turun dari atas kuda tunggangannya. Lalu dengan tersenyum dia mendekat dan berkata, “Engkau akan menemui dia yang sudah ditarik Allah (majdzub) dalam kemabukan (sukr) tak bertepi?”

“Kami menunggu perkenan untuk menghadap,” kata Raden Ketib.

“Masuklah! Engkau sudah diperkenankan meluhatnya,” kata Fadhillah memberi isyarat tangan kepada para prajurit penjaga, “Tetapi ingat, engkau hanya menyaksikan. Menyaksikan. Bersaksi. Tidak lebih. Jangan melakukan sesuatu yang tidak disukainya.”

“Terima kasih,” sahut Raden Ketib, “Tapi bolehkah kami mengetahui nama tempat itu?”

“Kami menyebutnya Suwung! Hampa!”

“Apakah hanya ada satu tempat bernama Suwung?”

“Ada tiga. Yang satu di tanah Bali. Yang satu di Banten. Yang satu di sini.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Raden Ketib melesat ke celah rumpun bambu. Ternyata, celah itu merupakan jalan setapak yang berliku. Beberapa lama berjalan melewati jalan berliku itu, ia merasakan suasana aneh menyelimuti keadaan sekitarnya. Ia tidak tahu keanehan apa yang dirasakannya. Ia hanya merasa betapa ungkapan Syaikh Datuk Bardud tentang Kehampaan dan Kesunyian sebagai kediaman sang rajawali ia rasakan mulai menerkam jiwanya. Saat sampai di sebuah tanah lapang, ia melihat beberapa ekor anjing berlarian di depan seekor singa yang tidur di bawah sebatang pohon. Anehnya, anjing-anjing itu tidak menyalak dan singa itu tidak mengaum. Merekaa bersahabat sangat akrab. Ketika ia mengongak ke langit terlihat dua-tiga ekor rajawali terbang berputar-putar. Anehnya, burung perkasa itu tidak memperdengarkan pekikannya. Semua diam. Sunyi. Hening. Bahkan rumpun bambu yang biasanya berderit, tidak sedikit pun terdengar bunyinya.

Di tengah keheranannya merasakan keanehan suasana sekitar, Raden Ketib melihat tanah lapang di depannya itu ditumbuhi lima enam gubuk bambu beratap daun kawung. Melihat gubuk-gubuk kecil yang sangat sederhana itu, ia menarik napas berat. Ia merasakan keharuan mencakari hatinya. Sungguh, ia tak pernah membayangkan bahwa manusia raksasa yang membawa perubahan besar itu harus hidup terkucil di tempat seperti itu dalam keadaan hilang ingatan karena terpengaruh tarikan Ilahi. Betapa sepi dan sunyinya hidup di tengah hutan bambu berkawan hewan-hewan bisu. Namun, secepat itu ia sadar bahwa apa yang disaksikan oleh mata indriawi tidaklah mewakili kenyataan yang sebenarnya. Ia sadar, apa yang ia bayangkan tentang sosok Syaikh Datuk Abdul Jalil tidaklah sama persis dengan kenyataan yang sebenarnya tentang yang bersangkutan.

Ketika Raden Ketib baru saja melangkah mendekati gubuk-gubuk itu, ia melihat seorang perempuan setengah umur bertubuh tinggi semampai berjalan sangat cepat dari satu gubuk ke gubuk yang lain diikuti dua ekor anjing hitam kemerahan dan putih belang. Sekalipun sudah berumur, garis-garis kecantikan masih terlihat jelas di wajahnya. Anehnya, beberapa kejap menyaksikan perempuan itu, ia merasakan benderang terangnya mata batin (‘ain al-bashirah) menyingkap kesadarannya. Tanpa ada yang memberi tahu, ia tiba-tiba sadar bahwa perempuan setengah umur yang diikuti dua ekor anjing itu adalah Nyi Mas Gandasari, kakak perempuan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Rupanya, panglima perempuan Caruban yang menghilang sejak jatuhnya Rajagaluh itu mengalami peristiwa yang sama dengan yang dialami adiknya, yaitu terpengaruh tarikan Allah (majdzub) dan hilang kesadaran manusiawinya.

Tak lama setelah Nyi Mas Gandasari masuk ke dalam gubuk, Raden Ketib melihat seorang laki-laki tua membawa tongkat berjalan cepat keluar dari gubuknya. Melihat sosoknya, usia laki-laki itu tak kurang dari delapan puluh tahun. Namun, dia masih sangat teguh dan tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan tumbang. Rambutnya yang putih tampak terurai hingga sebatas lutut. Alisnya yang putih tebal seperti segumpal kapas menempel di atas matanya. Kumis dan janggutnya yang putih menggantung sebatas dada. Di lehernya melilit seekor ular belang besar. Meski tua dan tidak terurus, sorot matanya yang berkilat laksana harimau menggetarkan yang melihatnya. Ia mendadak sadar, lelaki tua yang ia lihat itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ki Waruanggang, seorang bekas pendeta Bhairawa bernama Wiku Suta Lokeswara. Dia adalah adik Pandita Asmaranatha, Mantri Herhaji Majapahit yang bergelar Dang Acarya Candralekha alias Rishi Punarjanma. Ia adalah pendeta Bhairawa yang mengasuh Danghyang Nirartha. Sungguh, tak ada yang menduga jika bekas pendeta pemakan manusia dan peminum darah itu bisa mendapat derajat ruhani begitu tinggi hingga tinggal di Suwung bersama Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Tak lama setelah Ki Waruanggang berjalan, muncul pula dari gubuknya seorang laki-laki tegap berusia kurang dari empat puluh tahun. Tubuhnya masih kukuh dengan kulit terang dan wajah tampan. Sekalipun rambutnya dibiarkan terurai sepunggung awut-awutan, gerak-geriknya yang mencerminkan kebangsawanan tidak hilang. Ada keagungan dan kewibawaan darah biru yang terpancar dari sosok tak terurus itu. Lewat pandangan batin, Raden Ketib mengetahui jika lelaki gagah itu adalah Pangeran Kebo Kenanga yang masyhur disebut dengan nama Ki Ageng Pengging, menantu Susuhunan Kalijaga. Rupanya, kabar yang menyatakan ia dibunuh Raden Ja’far Shadiq hanya isapan jempol. Yang Dipertuan Pengging, yang terpengaruh tarikan Allah itu, tinggal bersama guru suci dan sekaligus kakek istrinya. Para pengawalnya dari Pengging yang berjumlah sekitar tiga ratus orang tinggal di kuta Caruban, tepatnya di utara kraton yang disebut Kasunean.

Setelah melihat Nyi Mas Gandasari, Ki Waruanggang, dan Ki Ageng Pengging, Raden Ketib mendekat ke arah gubuk-gubuk. Di ujung gubuk paling barat ia mendapati seorang laki-laki tua duduk bersila di bawah sebatang pohon. Rambutnya yang kemerahan terurai sebatas punggung. Wajahnya hampir tertutup kumis dan cambang yang berwarna kemerahan juga. Hidungnya mancung. Alisnya tebal. Matanya yang terpejam menyembunyikan keagungan. Bentuk tubuhnya tinggi dan tegap. Anehnya, meski keadaan tubuhnya tidak terawat dan mirip orang tidak waras, pancaran kewibawaan yang berpendar dari sosoknya sangat menggetarkan. Raden Ketib merasakan sendi lututnya lemas dan jantungnya berdebar-debar ketika memandangnya. Tidak syak lagi, laki-laki berambut kemerahan itu pastilah Syaikh Datuk Abdul Jalil, katanya dalam hati.

Didorong oleh rasa cinta dan hormat, Raden Ketib mendekat ke arah laki-laki berambut kemerahan itu dengan berjalan merunduk. Ketika jaraknya tinggal empat lima langkah, ia berhenti dan duduk bersimpuh. Tak tahan menghadap pancaran wibawanya, ia membungkuk hendak bersujud. Namun, baru saja ia menekuk punggung, tiba-tiba lelaki itu mengangkat tangan kanannya dan berkata-kata kepadanya dengan isyarah.

“Janganlah kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna menarik kesadaranmu dan menjadi beban yang menindih punggungmu hingga engkau menunduk dan bersujud pada sesuatu perwujudan. Sesungguhnya, segala yang maujud adalah citra bayangan dari Yang Wujud. Jika engkau tunduk dan bersujud pada sesuatu yang maujud maka engkau telah membanting kesadaran jiwamu sebagai citra bayangan Yang Wujud. Sejatinya, nilai tiap-tiap yang maujud tergantung pada seberapa kuat ia memancarkan citra Yang Wujud. Itu sebabnya, seekor kucing bagi mereka yang telah mengenal Kebenaran, jauh lebih berharga daripada sebongkah emas.”

Raden Ketib tercengang takjub. Ia merasakan tubuhnya meriang, bibirnya bergetar, tenggorokkannya kering, dan dadanya penuh. Ia takjub karena kemampuannya menangkap bahasa perlambang mendadak sangat tajam dan cemerlang. Bahkan, seperti didorong suatu kekuatan tak kasatmata, ia tiba-tiba dapat lancar berkata-kata dengan bahasa perlambang. “Kami adalah penempuh jalan ruhani (salik) yang tak kenal lelah mencari Kebenaran Sejati. Kami memohon paduka berkenan membagi Pengetahuan kepada kami yang masih terus mencari.”

Laki-laki tua berambut kemerahan itu membuka matanya yang berkilat-kilat seperti memancarkan cahaya. Raden Ketib menunduk tak kuat menahan pandangannya. Sejenak setelah itu, dia berkata lagi dalam bahasa perlambang, “Engkau terlalu sibuk mencari sampai tidak engkau temukan apa yang engkau cari. Sebab, Kebenaran Sejati yang engkau cari telah engkau selubungi sendiri dengan kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna yang jauh dari Kebenaran itu sendiri. Ketahuilah, o Salik, bahwa Wujud Kebenaran (Wujud al-Haqq) adalah Zat Yang Mahatampak (azh-Zhuhur al-Haqq). Dia tampak pada segala sesuatu (azh-Zhahir bi kulli syai’). Dia menampakkan segala sesuatu (azh-Zhahara kulla syai’). Dia nyata atas tiap-tiap sesuatu (azh-Zhahir li kulli syai’). Dia adalah Yang Nyata sebelum segala sesuatu ada (Hawa Zhahir qabla wujudi kulli syai’). Dia meliputi segala sesuatu (Hawa ‘ala kulli syai’).”

“Ibarat seekor ikan kecil di dalam laut mencari air, demikianlah engkau sesungguhnya sedang berenang di Samudera Wujud (Bahr al-Wujud), mencari Wujud Kebenaran (Wujud al-Haqq). Lalu ibarat ikan yang tidak dapat melihat air dan tidak sadar hidup di dalam air, demikianlah engkau tidak dapat melihat Wujud al-Haqq yang meliputi dan bahkan engkau tidak sadar berada di dalam liputan-Nya. Sungguh, Dia meliputi segala sesuatu laksana air meliputi seluruh samudera raya beserta segala isinya.”

“Adakah suatu cara untuk menjadikan ikan sadar akan airnya?” tanya Raden Ketib.

“Diam! Rasakan! Resapi! Hayati! Sadari keberadaan air,” kata laki-laki berambut kemerahan itu dalam bahasa perlambang, “Sebab, selama sang ikan masih menggerakkan sirip dan melihat perwujudan di sekitarnya dengan indera penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan perabaannya; tidaklah mungkin ia mengetahui hakikat sejati air. Selama ia menggunakan pengetahuan indriawinya, ia masih terbelenggu oleh kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna menyesatkan dari yang maujud. Ia masih terjepit pada kewaktuan yang dibentuk oleh kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna. Padahal, Dia mutlak tidak terikat ruang dan waktu. Lantaran itu, diam adalah kunci utama. Di dalam diam, waktu akan dapat menyingsing. Di dalam diam, sang ikan akan menemukan-Nya. Diam! Diam!”

Raden Ketib terperanjat dengan peringatan lelaki itu tentang diam. Ia mendadak sadar bahwa selama ini ia sangat disibukkan oleh keakuan hingga belum paham dengan apa yang disebut diam. Ia menduga diam adalah suatu keadaan yang sudah jadi. Ternyata, diam adalah keadaan. “akan menjadi”. Keadaan yang harus diperjuangkan keras. Untuk diam, ternyata butuh perjuangan keras karena nalar dan keakuannya tidak pernah bisa diam. Akal dan keakuan. Dua anasir inilah yang selalu mengganggu usahanya untuk diam.

Didorong oleh rasa cinta dan ketundukan yang memenuhi jiwanya, Raden Ketib duduk bersila dan menegakkan badan di hadapan laki-laki berambut kemerahan itu. Kemudian, dengan mengarahkan pandangan ke sosok tersebut ia tutup kedua matanya. Ia berusaha memutuskan belenggu kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna dari ingatannya. Ia merasakan, meresapi, dan menghayati bahwa sosok di hadapannya itu bukanlah sosok Syaikh Datuk Abdul Jalil, bukan sosok seorang guru suci, bukan sosok seorang laki-laki, bukan sosok seorang lelaki tua berambut kemerahan, bukan sosok seseorang yang terpengaruh tarikan Ilahi, bukan pula sosok seorang manusia. Ia menghadapi sosok di depannya tanpa memberi makna apa-apa kecuali sesuatu yang maujud yang diliputi Yang Wujud. Ia berusaha diam. Diam. Diam.

Beberapa jenak diam membuat Raden Ketib terkejut. Ia mendapati semacam pancaran sesuatu yang tak tergambarkan mengalir secara bergelombang-gelombang ke dalam relung-relung jiwanya. Ia merasakan pancaran semacam cahaya berpendar-pendar memenuhi cakrawala kesadarannya. Namun setelah itu, cahaya itu menyingsing dan ia merasakan sesuatu yang lebih aneh di mana tidak ada cahaya dan tidak ada kegelapan. Ia merasakan keberadaannya seperti larut ke dalam keberadaan sosok di depannya.

Ketika Raden Ketib membuka matanya, ia terperanjat bukan alang-kepalang. Sebab, sosok laki-laki berambut kemerahan itu lenyap. Ia hanya menangkap citra kekosongan dari bekas kedudukannya. Sebaliknya, ia saksikan keadaan kosong yang meliputi sekitar kedudukan sosok berambut kemerahan itu penuh dengan aneka perwujudan yang tak tergambarkan yang merangkum makna Kehidupan dan Kematian, Kebenaran dan Kebatilan, Terang dan Gelap, Pahala dan Hukuman, Kebaikan dan Kejahatan, Masa lampau dan Masa mendatang, semua berlangsung sangat aneh dan menakjubkan.

Ketika Raden Ketib memalingkan pandangan melihat keadaan kosong yang meliputi sekitar kedudukan lelaki berambut kemerahan itu, ia justru menyaksikan sosoknya berada pada kedudukan seperti sediakala. Dengan tercengang-cengang, ia terus memandang sosok lelaki berambut kemerahan dan kekosongan yang meliputinya itu ganti-berganti, sehingga ia menjadi kebingungan. Ia kebingungan karena saat itu ia seperti menyaksikan keberadaan sesuatu di depan bentangan cermin yang berhadap-hadapan dengan luas tanpa batas, sehingga ia tidak dapat membedakan mana bayangan dan mana perwujudan yang sebenarnya dari sesuatu itu. Dan, saat itulah ia tiba-tiba disadarkan oleh Ruh al-Haqq yang tersembunyi di kedalaman jiwanya bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil yang dicarinya selama itu telah ia temukan sebagai sesuatu yang tak dapat ia jabarkan dengan kata-kata; dia bukan bapak, bukan saudara, bukan suami, bukan laki-laki, bukan guru suci, bukan ulama, bukan orang beriman, bukan orang beragama, bukan manusia, bukan sesuatu yang bisa dikaitkan dengan kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna. Lalu antara sadar dan tidak sadar, antara samar-samar dan terang, antara hening dan hiruk pikuk, antara jauh dan dekat, antara tidur dan jaga, ia menangkap getaran suara di pedalamannya yang menggunakan bahasa aneh antara isyarah dan al-ima’.

“Dialah sang suwung! Hampa! Tak bermakna apa-apa!”

Raden Ketib terperanjat. Ia merasakan kehampaan tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia merasakan kekosongan bersimaharajalela memenuhi benaknya. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Lalu tanpa dikehendaki, ia membungkuk dan mencium tanah yang terhampar di depan sang suwung tak bermakna apa-apa itu. Butiran-butiran air bening ia rasakan mengalir hangat dari matanya membasahi wajah dan tanah yang diciumnya. Ia tidak tahu untuk alasan apa air matanya itu bergulir dari kelopak matanya. Ia juga tidak tahu untuk alasan apa ia mencium tanah di depan sang suwung tak bermakna apa-apa itu. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia melakukan semua itu. Ia hanya merasakan Kehampaan yang membebaskan memenuhi jiwanya. Satu-satunya hal yang diingatnya adalah kenyataan tak tersanggah bahwa lantaran sang suwung tak bermakna apa-apa itulah ia telah memiliki kesadaran burung yang sangat menghormati dan memuliakan kemerdekaan, cinta kasih, ketulusan, kehidupan, kesucian, dan pengorbanan yang justru telah menghilang dari jiwa banyak manusia di zamannya.

Malang, Rabiul Awwal 1426 H.

Re-Type by EHL, Pacific Ocean (MV. Taho), April 30th 2007 (13 Rabiul Akhir 1428 H)

Kepustakaan

Abdullah al-Habsyi. 1396H. As-Sufiyyah wa al-Fuqaha fi al-Yaman. San’a: Dar al-Kutub al-Tsaqafiyyah.

Abdullah bin Muhammad al-Misri. 1987 Hikayat Tanah Bali (editor Monique Zaini-Lajoubert). Bandung: Angkasa – EFEO.

Abdurrahman Dabbag. 1959. Kitab Masyariq Anwar al-Qulub wa Mafatih Asrar al-Bhuyub. Beirut: Dar al-Sadir

Abdurrahman Jami. 1327H. Syarh ‘ala Fushush al-Hikam. Firuzpursyahr. Fayd Bakhsyi.

Abdul Karim bin Ibrahim al-Jili. t.t. Al-Insan al-Kamil fi Ma’rifah al-Awakhir wa al-Awa’il. Juz II. Beirut: Dar al-Fikr.

Abdul Mun’in al-Namir. 1378H. Tarikh al-Islam fi al-Hindi. Kairo: Dar al-‘Abd al-Jadid li al-Thaba’ah.‘

Abdul Qadir Mahmud. 1387H. Al-Falsafah al-Shufiyyah fi al-Islam. Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi.

Abu al-‘Ala al-‘Afifi. 1365H. Al-Malamatiyyah wa at-Shufiyyah wa Ahl al-Futuwwah. Kairo: Dar al-Ma’arif.

Abu al-Fida’. t.t. al-Bidayah wa al-Nihayah. Beirut: Dar al-Fikr.

Abu Bakr Muhammad Kalabadzi. 1388H. At-Ta’arruf li-Mazhab Ahl at-Tashawwuf. (editor Mahmud Amin al-Nawawi). Kairo: Maktabat al-Kuliyyat al-Azhariyyah.

Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali. 1382H. Misykat al-Anwar (editor Abu al-‘Ala a’Afifi). Kairo: al-Dar al-Qawmiyyah.

1411H. Ihya ‘Ulum ad-Din. 5 Jilid. Beirut: Dar al-Fikr.

1401H. Jawahir al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr.

1402H. Mukasyafah al-Qulub al-Muqarrah ila Hadrah ‘Alam al-Ghuyub fi ‘Ilm al-Tashawwuf. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

1406H. Misykah al-Anwar wa Mishfah al-Asrar. Beirut: al-‘Alam al-Kutub.

Abu Thalib Makki. 1381H. Qut al-Qulub. 2 Jilid, Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi.

Abu Qasim al-Hasan ibn Muhammad ibn Habib al-Naysaburi. t.t. ‘Uqala al-Majanin. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Adiparwa Parikan. Naskah di Gedung Kirtya Singaraja No. 656.

Albright, W.F. 1968. Yahweh and the Gods of Canaan. New York: Doubleday.

Al-Alusi. 1985. Ruh al-Ma’ani. Beirut: Dar Ihya’ at-Turats al-‘Arabi. Cet. Ke-4.

1382H. al-Tashawwuf al-Tsaurah al-Ruhiyyah fi al-Islam. Kairo: Dar al-Ma’arif.

Al-‘Allamah Ibn Katsir. t.t. Tafsir al-Qur’an al-Azhim (tafsir Ibnu Katsir). 4Jilid. Beirut: Dar al-Ihya at-Turats al-Arabi.

Al-Biruni. 1999. India (editor Qeyamuddin Ahmad). 4th reprint. New Delhi: National Book Trust.

Al-Imam Ahmad ibnu Hanbal. 1368H. Al-Musnad. 6Jilid. Kairo: Dar al-Ma’arif.

Al-Khwarizmi. t.t. Mafatih al-‘Ulum. Kairo: Dar al-Nahdlah al-‘Arabiyah.

Al-Munjid fi al-‘A’lam (Kamus). 1986. Beirut: Dar al-Masyriq. Cet. Ke-28.

Al-Nisabury. t.t. Kitab Ma’rifatu ‘Ulum al-Hadits. Kairo: Maktabah al-Mutanabbi.

Ali ibn ‘Utsman al-Hujwiri. 1982. The Kasyf al-Mahjub: The Oldest Persian Treatise on Sufism (Penerjemah R. Nicholson). New Delhi: Taj Company.

A. Budiman. 1978. Semarang Riwayatmu Dulu. Jilid I. Semarang: Tanjung Sari.

A. H. Nasir. 1990. Kota-kota Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

A. Kasdi. 1978. Kepurbakalaan Sunan Giri: Sosok Akulturasi Kebudayaan Hindu dan Islam pada Abad ke-15-16. Surabaya: Jurusan Sejarah IKIP Surabaya dan IAIN Sunan Ampel.

A. S. Ahmad. 1986. Sulalatus Salatin (Sejarah Melayu). Kuala Lumpur: Dewan Bahasa & Pustaka Kementerian Pelajaran Malaysia.

A. Sutaarga. 1984. Prabu Siliwangi atau Ratu Purana Prebu Guru Dewataprana Sri Baduga Maharaja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran. 1474-1513. Jakarta: Pustaka Jaya.

Arberry, A. J. 1963. The Legacy of Persia. Oxford: Oxford University Press.

Arjomand, S. A. 1984. The Shadow of God an the Hidden Imam: Religion, Political Order, and Societal Change in Shi’ite Iran from the Beginning to 1890. Chicago: University of Chicago Press.

Amstrong, A. 1998. Khazanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tasawuf (Penerjemah M. S. Nasrullah dan Ahmad Baiquni). Cetakan ke 2. Bandung: Mizan.

Amstrong, K. 2001. Holy War: The Crusades and Their Impact on today’s World. 2nd Edition. New York: Anchor Books.

Arnold, T. W. 1913. The Preaching of Islam; A History of The Propagation of The Muslim Faith. London: Constable.“

Arya Kemuning Keturunan Kaisar Cina”. Pikiran Rakyat. 3 Juli 1993.

Al-Ashbahani. t.t. Hilyat al-Auliya’ wa Thabaqat al-Ashfiya’. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabi.

Artja. 1967. Carita Parahiyangan. Titilar Karuhun Urang Sunda Abad ke-16 Masehi. Bandung: Yayasan Kebudayaan Nusalarang.

1986. Carita Purwaka Caruban Nagari; Karya Sastra sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah. Bandung: Proyek Pengembangan Permeseuman Jawa Barat.

Avalon, A. 1931. The Serpent Power (sat-cakra-nirupana and paduka-pancaka). 3rd ed. Rev. Madras & London: t.p.

1960. Principles of Tantra. Madras: t.p.

(Sir John Woodroffe). 1972. Tantra of the Great Liberation (Mahanirwana Tantra). New York: Dover Publication.

Avi-Yonah, M. 1966. The Holy Land, From Persian to the Arab Conquests, 1536 BC to 640 AD, A Historical Geography. Michigan: t.p.

Ayatrohaedi. 1977. “Kerajaan Sunda Menjelang Keruntuhannya”. MISI. Jakarta: FSUI.

Babad Banyumas. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-148.

Babad Buleleng. Naskah di Museum Bali Denpasar No. 435.

Babad Cirebon. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-145.

Babad Ciungwanara. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-39.

Babad Demak. Naskah di Perpustakaan Mangkunegaran No. B-31.

Babad Gresik. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-138.

Babad ing Gresik. Naskah di Museum Radya Pustaka Surakarta No. SM 137.

Babad Kalinyamat. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-159.

Babad Mentaram. Naskah Koleksi Dr. Saleh Al Djufri.

Babad Nampeldenta. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-136.

Babad Pasir. Naskah Koleksi EFEO Bandung No. MS-85/ Sj5.

Babad Pengging. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-47.

Babad Sangkala. Naskah di Museum Nasional Jakarta. Koleksi Brandes No. 608.

Babad Sang Brahmana Catur. Koleksi Gedung Kirtya Singaraja No. Vd.273/4.

Babad Tuban. Terbitan Tan Khoen Swie, Kediri.

Baker, D. B. (ed). 1993. Explores and Discovers of the World. Detroit: Gall Research Inc.

Besant, A. 1912. The Bagavad Gita. 4th ed. & rev. London: t.p.

Berg, C.C. 1974. Penulisan Sejarah Jawa. Jakarta: Bhratara.

Berg, L.W.C. van den. 1989. Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara (Penerjemah Rahayu Hidayat). Jakarta: INIS.

Bisri Musthofa. 1952. Tarikh al-Auliya. Kudus: Menara Kudus.

Bhumi Kamulan. Naskah milik keluarga K. Ng. H. Amir Arifin.

Boechari, M. 1963. “A Pleminary Note on the Study of the Old Javanese Civil Administration”, MISI I. hlm. 122-33.

1981. “Ulah Para Pemungut Pajak di dalam Masyarakat Jawa Kuna”. Majalah Arkeologi, IV (1-2). Hlm. 67-87.

Boekoe Siti Djenar ingkang toelen. 1931. Kediri: Tan Khoen Swie.

Brandes, J. L. A. 1920. Pararaton (Ken Angrok) of het boek der koningen van Tumapel en Majapahit. Cet. ke-2; N.J. Krom. VBG Vol. 62. ‘s-Gravenhage: Martin Nijhoff; Batavia: Albrecht & Co.

Bulliet, R.W. 1972. The Practicians of Nishapur. Cambridge: Harvard University Press.

B. Suharto. 1974. Riwayat Sunan Kalijaga. Demak: Demak Trah Kadilangu.

Cabaton, A. 1981. “Orang-orang Cam Islam di Indocina Perancis”. EFEO. “Kerajaan Campa”. Jakarta: Balai Pustaka.

Carr, E.H. 1973. What is History? London: Penguin Books.

Casparis, J. G. 1975. Indonesian Palaeography, A History of Writing in Indonesia from the Beginning to c. A.D. 1500. Leiden: E.J. Brill.

Christie, J. W. 1982. “Pattern of Trade in Western Indonesia: Ninth through Thirteenth Centuries AD” Disertasi. 2 vol. London: SOAS, University of London.

Coedes, G. 1968. The Indianized States of South-East Asia. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.

1981. “Sejarah Campa dari Awal Sampai Tahun 1471”, dalam EFEO. “Kerajaan Campa”. Jakarta: Balai Pustaka.

Colles, B. E. “Majapahit Revisited”. JMBRAS, XLVII (2). Hlm. 124-61.

Coomaraswamy, A. K. 1927. History of Indian and Indonesian Art. New York: t. p.

Cortesao, A. (ed). 1944. The Suma Oriental of Tome Pires: An Account of the East. Jilid XXVIXL. London: The Hakluyt Society.

Couto, Diogo do. 1973. Decadas da Asia. I-XIV. Lisbon: t.p.

Craig, S. 1997. “A Passage to India”. Geographical Magazine, Juli. Hlm. 73-75.

Crucq, K. C. 1939. “De kanonnen in den Kraton te Soerakarta”. TBG LXXXVIII.

Dalal, R. 2002. The Puffin History of India for Children 3000 BC-AD 1947. New Delhi: Puffin Books.

Danvers, F. C. 1966. The Portuguese in India. New York: Octagon Books.

DeCasparis, J.G. 1956. “Selected Inscription from the 7th to the 9th Century A. D.” Dalam Prasasti Indonesia. Jilid II. Bandung: Masa Baru.

DeWeese, D. 1988. “The Eclipse of the Kubrawiyyah in Central Asia”. Iranian Studies 21. hlm. 45-83.

Diamond, J. 1998. Guns, Germs and Steel: A Short History of Everybody for the Last 13,000 Years. London: Vintage.

Digby, S. 1990. “The Sufi Shaykh and the Sultan: a conflict of Claims to Authority in Midieval India”. Iran: Journal of the British Institute of Persian Studies. Vol. 28. hlm. 71-81.

De Graaf, H. J. 1997. Cina Muslim di Jawa abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Drewes, G. W. J. 1978. An early Javanese code of Muslim ethics. Den Haag: Martinus Nijhoff.

D. D. Bintarti. 1981. “Punden Berundak di Gunung Padang, Jawa Barat”, Amerta 4: hlm. 28-37.

D. Dwijanto. 1993. “Perpajakan pada Masa Majapahit”. Dalam Sartono Kartodirdjo, dkk. (ed). 700 Tahun Majapahit (1923-1993) Suatu Bunga Rampai. Surabaya: Dinas Pariwisata Daerah Provinsi Dati II Jawa Timur. hlm. 217-34.

Eiseman, F. B. 1988. Bali: Sekala & Niskala (Essay on Religion, Ritual, an Art). 1st ed. Berkeley-Singapore: Periplus Editions.

Ensink, J. t.t. On the Old Javanese Cantakaparwa and its Tale of Sutasoma. t.kp.:VKI 54.

Eringa, F.S. 1949. “Loetoeng Kasaroeng: een Mythologisch Verhaal uit West Java”. Disertasi. VKI. VIII. ‘s-Gravenhage: Martinus Nijhoff.

E. Budiwanti. 2000. Islam Sasak: Wetu Telu versus Waktu Lima. Yogyakarta: LkiS.

E. S. Ekajati. 1977. Wawasan Sajarah Galuh. Bandung: EFEO.

1984. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Jakarta: Girimukti Pusaka.

E. Zarkasi. 1977. Unsur Islam dalam Pewayangan. Bandung: al-Ma’arif.

Ferm, V. (ed). 1976. An Encyclopedia of Religion. Connecticut: Greenwood Press.

Frye, R. 1975. The Golden Age of Persia. London: Weidenfield & Nicholson.“

Gandasari Putri Datuk Sholeh, Gandasari Adakan Sayembara Adu Jurit”. Pikiran Rakyat Edisi Cirebon. 3 Februari 1992.

Garuda Purana. (Penerjemah Oka Sanjaya). 2001. Surabaya: Paramita.

Ghazi al-Tamam. 1441 H. Iqtishadiyaat al-Harb fi al-Islam. Riyadh: Maktabah Rasyid.

Goitein, S. D. 1955. Jews and Arab: Their Contact Throught the Ages. New York: Schoken Books Inc.

Green, R. W. 1973. Protestantism, Capitalism, and Social Sciences: The Weber Thesis Controversy. London: D.C. Heath and Company.

Groeneveldt, W. P. 1960. Historical Notes on Indonesia and Malaya, Compiled from Chinese Sources. Jakarta: Bhratara.

Guillot, C. 1992. “Perjanjian dan masalah perjanjian antara Portugis dan Sunda tahun 1522”. Dalam Aspek-Aspek Arkeologi Indonesia (XIII). Jakarta: t.p.

G. Pudja. 1985. Weda-Pengantar Agama Hindu. Jakarta: Mayasari.

Hall, D. G. E. 1969. A History of Shouteast Asia. 3rd ed. New York : Macmillan.

Haqq, F. A. 1959. Suluk Seh Malaja. Yogyakarta: Bratakesawa.

Hart, H. H. 1950. The Sea Road to the Indies. New York: Macmillan Company.

Hastings, J. (ed). 1928. Encyclopedia of Religion and Ethnics. 13 Jilid. New York: t.p.

Heidel, A. 1949. The Gigamesh Epic and the Old Testament Parallels. 2nd ed. Chicago: Chicago University Press.

Heine-Geldern, R.v. 1982. Konsepsi Tentang Negara dan Kedudukan Raja di Asia Tenggara. Jakarta: Rajawali Press.

Hemming, J. (ed). 1997. Atlas of Exploration. New York: Oxford University Press.

Herklots, G. A. 1921. Islam in India or The Qanun-i-Islam. The Customs of the Musalamans of India Comprising a Full and Exact Account of the Various Rites and Ceremonies from the Moment of Birth to the Hour of Death. London: Oxford University Press.

Hirth, F. & W. W. Rockhill. 1966. Chau Ju-Kua: on the Chinese and Arab Trade in the twelfth and thirteenth Centuries, entitled Chu-fanchi. Terjemahan dari The Chinese and Annotated. Amsterdam: Oriental Press.

Holladay, W. L. 1971. A Concise Hebrew and Aramaic Lexicon of the Old Testament. Leiden: Grand Rapids.

Howard, J. 1966. Malay Manuscripts. Kuala Lumpur University of Malaya.

H. Djajaningrat. 1957. “Kanttekeningen bij het Javaanse rijk Tjerbon in de eerstre eeuwen van zijn bestaan”. BKI Vol. 113. hlm. 380-391.

1983. Tinjauan Kritis Tentang Sejarah Banten. Jakarta: Jambatan – KITLV.

H. Djafar. 1978. Girindrawarddhana: Beberapa Masalah Majapahit Akhir. Jakarta: Yayasan Dana Pendidikan Buddhis Nalanda.

t.t. “Historiografi dalam Prasasti”. Majalah Arkeologi. VI (1): 3-50.

H. I. Hasan. 1964. Tarikh al-Islam. Kairo: Maktabah al-Nahdlah al-Misriyah.

H. Santiko. 1992. “Bhatari Durga”. Disertasi tidak dipublikasikan. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Ibn al-Bana Sarqusthi. t.t. Iqadh al-Himam fi Syarah al-Hikam Ibn ‘Atha’illah Sukandary. Beirut: Dar al-Fikr.

Ibn Mi’mar Hanbali al-Baghdadi. 1985. Kitab al-Futuwwuh. Baghdad: Maktabah al-Musanna.

Ibrahim Syahatah. 1980. Athwar al-‘Alaqaat al-Maghribiyyah al-‘Utsmaniyyah. Iskandariyah: Mansyaatu al-Ma’arif.

I. B. Oka dan I Made Suandra. 1991. Tuntunan Pitra Yadnya. Denpasar: Upada Sastra.

I. B. O. Puniyatmadja. 1976. Silakrama. Denpasar: Parisada Hindu Dharma Pusat.

I. B. P. Purwita. 1993. Upacara Mediksa. Denpasar: Upada Sastra.

I. G. B. Sugriwa. 1956. Babad Pasek. Denpasar: Balimas.

1991. Dwijendra Tatwa. Denpasar: Upada Sastra.

I. M. Gambar. t.t. Tingkahing Wiku. Denpasar: t.p.

I. N. Kantun dan I Ketut Yadnya. 1989. Babad Sidakarya. Denpasar: Upada Sastra.

I. N. S. Wikarman. 1998. Caru: Pelemahan dan Sasih. Surabaya: Paramita.

Imam Abul Hasan Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi al-Naisaburi. 1412 H. Shahih Muslim. Kairo: Dar al-Hadits.

Jamil Saliba’. 1416 H. Tarikh al-Falsafah al-‘Arabiyyah. Beirut: Dar al-Kitab al-Lubnani.

Jay, R. R. 1963. Religion and Politics in Central Java. New Haven: Yale University.

Jones, A. M. B. 1984. Early Tenth Century Java from the Inscriptions. Dodrecht-Holland: Foris Publication.

Juynboll, H. H. 1899. Catalogus van de Maleische en Sundaneesche Handschriften der Leidsche Universiteitbibliotheek. Leiden: E. J. Brill.

J. Gonda. 1952. Sanskrit in Indonesia. Nagpur: International Academy of Indian Culture.

Kartosoedjono. 1950. Kitab Wali Sepuluh. Kediri: Tan Khoen Swie.

Kats, J. 1910. Sanghyang Kamahayanikan Oud Javaansche Tekst met inleiding, Vertaling en Aanteekeningen. ‘s-Gravenhage: Nijhoff.

1953. Punika Papethikan Saking Serat Jawi Ingkang Tanpa Sekar. Jakarta: t.p.

Kellinger dan W. Rudolph (ed). 1967-1977. Biblia Hebraica Stuttgartensia. Stuttgart: t.p.

Klokke, J. Maryke dan Thomas de Bruijn. 1993. Tantri Relief on Ancient Javanese Candi. Leiden: KITLV Press.

Kramaning Dadi Wiku. Naskah milik keluarga K. Ng. H. Amir Arifin.

Lawrence, J. 1961. The Hard Fact of Unity. London: S.C.M. Press.

Leur, J. C. Van. 1955. Indonesian Trade and Society: Essay in Asian Social and Economic History. The Hague-Bandung: W. Van Hoeve Ltd.

London, K. P. 1948. Southeast Asia Crossroad of Religion. Chicago: University of Chicago Press.

L. D. Ratnawati. 1992. “Jenis-jenis Masakan pada Masa Jawa Kuna menurut Data Prasasti”. PIA VI. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. hlm. 185-204.

L. Ismail. 1988. Sejarah Malaysia 1400-1963. Kuala Lumpur: Utusan Publication & Distributiors.

Mackenzie, D. A. t.t. Indian Mith and Legend. London: Gresham Publishing Company.

Mead, J. P. 1914. “Hikayat Raja-Raja Pasai”. JSBRAS LXVI : 1-54.

Meilink-Roelofsz, M. A. P. 1962. Asia Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630. The Hague: Martinus Nijhoff.

Meinsma, J. J. 1874. Babad Tanah Jawa, in Proza, Javaansche Geschiedenis Loopende tot het jaar 1647 der Javaansche jaartelling. ‘s-Gravenhage: KITLV.

Middleditch, M. 1985. The Penguin Map of Europe on a Conic Projection. t.kp. : Michael Graham Publication.

Miller, R. 1976. Mappila Muslims of Kerala. Madras: Orient Longmans.

Mills, J. V. G. (ed). 1970. Ma Huan Ying-yai Shenglan: The Overall Survey of the Ocean’s Shores (1433). Cambridge: Cambridge University Press.

Moens, J. L. 1974. Buddhisme di Jawa dan Sumatra Dalam Masa Kejayaannya Terakhir. Jakarta: Bhratara.

Monier, S. W. 1899. A Sanskrit-English Dictionary. Oxford: Clarendon Press.

Muhammad al-‘Amrusi. 1412 H. Al-Huruuqi al-Shalibiyyah fi al-Masyriq wa al-Maghrib. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.

Muhammad bin Abdul Karim Syahristani. 1270 H. Al-Milal wa al-Nihal. Kairo: Mathbaah al-Adabiyyah.

Muhammad bin Ismail al-Bukhari. 1412 H. Shahih Bukhari. Kairo: Dar al-Hadits.

Muhyiddin Ibn. ‘Arabi. 1386 H. Tarjuman al-Asywaq. Beirut: Dar al-Sadir.

1392 H. Al-Futuhat al-Makkiyyah. Vol. 4. Kairo: al-Hay’at al-Misriyyah al-‘Ammah lil Kitab.

1400 H. Fushush al-Hikam (editor Abu al-‘Ala al-‘Afifi). Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.

t.t. Syajarah al-Kaun. Iskandariah: Maktabat al-Syamrali.

Muhammad ibn Jarir al-Thabari. 1399 H. Tarikh al-Umam wa al-Mulk. Damaskus: Dar al-Fikr.

1405 H. Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al-Qur’an. Beirut: Dar al-Fikr.

Muusses, M. A. t.t. “Singhawikramawarddhana”. Feestbundel II: 207-214.

M. Budiardjo. (ed). 1984. Aneka Pemikiran tentang Kuasa dan Wibawa. Jakarta: Sinar Harapan

M. Yamin. 1956. Atlas Sedjarah. Jakarta: Djambatan.

1962. tatanegara Majajpahit: Saptaparwa. 4 jilid. Jakarta: Yayasan Prapanca.

Nawal al-Shairafi. 1403 H. Al-Nufudz al-Burtughali fi al-Khalij al-‘Arabi. Riyadh: Mathbuah Dar al-Malik Abdul Aziz.

Nicholson, R. A. 1975. The Mystic of Islam. London: Routledge and Kegan Paul.

Nietzsche, F. 1968. The Will to Power. Penerjemah Walter Kaufmann dan R. J. Holling Dale. New York: Vintage Books.

2000. Sabda Zarathustra. Penerjemah Sudarmaji dan Ahmad Santoso. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Noorduyn, J. 1978. “Majapahit in the Fifteenth Century”. BKI 134: 207-274. “

Bujangga Manik’s Journeys Through Java: Topographical Data fram an Old Sundanese Source”. BKI 138: 413-442.

N. Harnani. 1989. “Arca Dewa Kemakmuran di Jawa: Telaah Ikonografi”. PIA V (IIa). Yogyakarta: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia. hlm. 413-433.

N. T. Raras. 2004. Kajeng Kliwon: Kerinduan Kosmik Panca Maha Bhuta. Surabaya: Paramita.

Olthoff, W. L. (ed). 1941. Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi in Tahoen 1647. ‘s-Gravenhage: M. Nijhoff.

Pangeran Wangsakerta, dkk. 1677. Carita Parahiyangan Sakeng Bhumi Jawa Kulwan. Naskah di Museum Sri Baduga Bandung No. MNJBS/ Sj7-Sj7a.

1678-1685. Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara. Naskah di Museum Sri Baduga Bandung No. MNJBS/ Sj169-Sj186.

1692-1697. Nagara Kretabhumi. Naskah di Museum Sri Baduga Bandung No. MNJBS/Sj8-Sj10. 4 teks naskah.

1675-1677. Pustaka Dwipantara. Naskah di Museum Sri Baduga Bandung No. Sj188-Sj195. 8 dari 10 jilid.“

Perang Besar antara Kerajaan Galuh dan Cirebon”. Pikiran Rakyat Edisi Cirebon. 5 Maret 1994.

Pigeaud, Th. G. Th. 1924. “De Tantu Panggelaran, uitgegeven, vertaald toegelicht”. Disertasi. Universitas Leiden: ‘s-Gravenhage.

1938. Javaansche Volksvertoningen. Batavia: Bijdrage to de beschrijving van Land en Volk.

1967. Literature of Java. 3 vols. Batavia: Martinus Nijhoff.

1960-1963. Java in the 14th Century: A Study in Cultural History. Vol. I-V. The Hague: Martinus Nijhoff.

Pleyte, C. M., 1915. “Maharaja Cri Jayabhupati, Soenda’s Oudst Bekende Vorst: Vijfde Bijrage tot de Kennis van het Oude Soenda”. TBG. hlm. 201-218.

Poerbatjaraka. 1992. Agastya di Nusantara. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. “

Nirartha – Prakkreta”. BKI 107: 201-225.

Pott, P. H. 1946. Yoga en Yantra in hunne betekenis voor de Indische Archeologie. Leiden: t.p.

Pritchard, J. B. 1954. Ancient Near Eastern Texts Relating to the Old Testament. Princenton: Princenton University Press.

Priyohutomo. 1934. Nawaruci, Groningen: JB. Wolters Uitgevers Maatchapij.

Pustaka Pakungwati Carbon. 1779. Naskah di Museum Sri Baduga Bandung No. MNJBS/Sj53.

P. Arifin. 1995. Babad Blambangan. Yogyakarta: EFEO dan Bentang Budaya.

P. H. M. Sudjiman. 1996. Adat Raja-Raja Melayu. Jakarta: UI Press.

P. Mus. 1981. “Agama-agama India dan Asli di Kerajaan Campa”. Dalam Kerajaan Campa. EFEO. Jakarta: Balai Pustaka.

P. S. Sulendraningrat. 1968. Nukilan Sedjarah Tjirebon Asli. Tjirebon: Pustaka Tjirebon.

1972. Purwaka Caruban Nagari. Jakarta: Bhratara.

1982. Babad Tanah Sunda. Cirebon: t.p.

1985. Sejarah Cirebon. Jakarta: Balai Pustaka.

Raffles, T. S. 1982. The History of Java. Vol.II Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Reid, A. (ed). 1983. Slavery, Bondager and Dependency in South-east Asia. St. Lucia: University of Queensland Press.

1988. Southeast Asia in the Age of Commerce 1450-1680. volume Two; Expansion and Crisis. New Haven and London: Yale University Press.

Rinkes, D. A. 1996. Nine Saints of Java. Editor Alijah Gordon. Kualalumpur: Malaysian Sociological Research Institute.

Robson, S. O. 1981. “Java at the Crossroads: Aspect of Javanese Cultural History in the 14th and 15th Centuries”. BKI 137. hlm. 259-292.

Roorda, T. 1844. Javaansche Wetten. Amsterdam: Johannes Muller.

Rouffaer, G. P. 1899. “Wanner is Majapahit gevallen? Het Tijdpark van Godsdienstovergang (1400-1600) in den Malaischen Archipel”. BKI, Zesde Volgreeks, 6e deel. hlm. 111.

Rouse, Ruth dan Stephen Charles Neill. 1997. A History of the Ecumenical Movement 1517-1948. 4rd ed. Geneva: World Council of Churches.

Runia, K. 1948. “The Hermeneutic of the Reformers”. Calvin Theological Journal 19. November. hlm. 121-152.

R. Darmosoetopo. 1997. “Hubungan Tanah Sima dengan Bangunan Keagamaan di Jawa Pada Abad IX-X”. Disertasi tidak dipublikasikan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

R. H. U. Sunardjo. 1983. Meninjau Sepintas Panggung Sejarah Pemerintahan Kerajaan Cirebon 1479-1809. Bandung: Tarsito.

R. Ng. Wongsodilogo. 1994. Serat Babad Mentaram. Surakarta Hadiningrat.

R. Tanojo. 1966. Kidungan Purwadjati. Surakarta: Trijasa.

R. Sasrawidjaja. 1958. Serat Seh Siti Jenar. Yogyakarta: Bratakesawa.

R. Sastraatmadja. 1917.Boekoe Tjerita Babad Tjirebon. Batavia: Kho Theng Bie.

R. Satjadibrata. 1950. Kamoes Soenda-Indonesia. Cetakan Kedua. Djakarta: Balai Poestaka.

Sajarah Regen Soerabaja. Naskah di Museum Nasional Jakarta. Koleksi Brandes. No. 474.

Sarasilah Brawijaya V. Naskah Milik Keluarga K. Ng. Amir Arifin.

Sanders, J. J. 1965. A History of Medieval Islam. London: Routledge & Kegan Paul.

Sastri, N. 1966. A History of South India from Prehistoric Times to the Fall of Vijayanagar. Oxford: Oxford University Press.

Satya Prakash Sarasvati Svami dan Satyakam Vidyalankar Pandit. 1977. Rgveda Samhita. (Terjemahan dari bahasa Inggris). New Delhi: Rashtriya Veda Vidya Pratisthana.

Schrieke, B. J. O. 1916. “Het Boek van Bonang”. Disertasi Universitas Leiden. Utrecht: Den Boer.

1959. Penguasa-penguasa Pribumi. Terjemahan. Jakarta: Balai Pustaka.

Schutte, G. J. 1994. State and Trade in the Indonesia Archipelago. Leiden: KITLV.

Serat Babad Majapahit. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-44.

Serat Darmasonya. Naskah Milik Keluarga K. Ng. Amir Arifin.

Serat Dewaroetji. 1928. Kediri: terbitan Tan Khoen Swie.

Serat Gatolotjo. 1931. Kediri: terbitan Tan Khoen Swie.

Serat Jugul Mudha. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. H-1.

Serat Kebokanongo. 1921. Kediri: terbitan Tan Khoen Swie.

Serat Kandha. Naskah di Museum Nasional Jakarta. Koleksi KBG No. 540.

Serat Kandaning Ringgit Purwa. 1986. Menurut Naskah Tangan Lor 6379 (8 jilid, disalin A. Sarman Am). Jakarta: KITLV- Djambatan.

Serat Manikmaya. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-8.

Serat Momana. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-2.

Serat Seh Malaya. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. P-159.

Serat Siti Djenar. 1922. Kediri: terbitan Tan Khoen Swie.

Serat Soeloek Walisono. 1932. Kediri: terbitan Tan Khoen Swie.

Serat Walisana. Naskah di Museum Nasional Jakarta. Koleksi KBG No.1022ab.

Shellabear, W. G. 1967. Sejarah Melayu. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Silsilah Galuh Cirebon. Naskah di EFEO Bandung No. MS-140.

Simuh. 1995. Sufisme Jawa: Transformasi Tasauf Islam ke Mistik Jawa. Yogyakarta: Bentang Budaya.

Siva Purana (Terjemahan Oka Sanjaya). 2001. Surabaya: Paramitra.

Slamet Muljana. 1968. Runtuhnya Kerajaan Hindu Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara. Jakarta: Bhratara.

1979. Negarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Snaith, N. H. (ed). 1958. Hebrew Old Testament. London: British and Foreign Bible Society.

Soebadio, H. 1985. Jnanasiddhanta. Jakarta: Djambatan.

Societal Change in Shi’ite Iran from the Beginning to 1890. Chicago: University of Chicago Press.

Soeloek Seh Malaja. 1931. Solo: De Bliksem.

Stutterheim, W. F. 1947. De Islam in de Archipel. 2nd ed. Jakarta: Groningen.

Suluk Malang Sumirang. 1961. Yogyakarta: Kulawarga Bratakesawa.

Sunan Abi Dawud. 1990. Cet. I. Beirut: Dar al-Fikr.

Sunan An-Nasa’i. 1930. Cet. I. Beirut: Dar al-Fikr.

Syakib Arselan. t.t. Khulashat Tarikh al-Andalus. Beirut: Dar al-Maktabah al-Hayat.

Syauqi ‘Atha’ullah al-Jamal. 1977. Al-Maghrib Al-‘Arabi Al-Kabir. Kairo: Maktabah Anglo Al-Mishriyyah.

Syihabuddin Ahmad bin Muhammad al-Asady al-Makky. 1936 H. Ikhbar al-Kiram bi Akhbar al-Masjid al-Haram. Benares: al-Mathba’ah as-Syalafiyyah.

Syihabuddin Umar Suhrawardi. 1403 H. ‘Awarif al-Ma’arif. Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

Syihabuddin Yahya Suhrawardi. 2003. Hikmah al-Isyraq: Teosofi Cahaya dan Metafisika Huduri. Penerjemah Muhammad al-Fayyadl. Yogyakarta: Islamika.

Syiwa Ratrikalpa – Lubdhaka. (Penyalin. Wayan Budha Gautama). 1911 Saka. Bali: CV. Kayumas.

S. Danasasmita, dkk. 1987. Sewaka Darma, Sanghyang Siksakandang Karesian, Amanat Galunggung. (Transkrip dan terjemahan). Bandung: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sunda.

S. H. Widyastuti. 2001. Suluk Wujil: Suntingan Teks dan Tinjauan Semiotik. Semarang: Mekar.

S. K. Ikram. 1965. Muslim Civilization in India (editor Ainslie T. Embree). New York: Columbia University Press.

S. M. Afnan. 1969. A Philosophical Lexicon in Persia and Arabic. Beirut: Dar al-Masyriq.

S. Q. Fatimi. 1963. Islam Comes to Malaysia. Singapore: Malaysian Sociological Research Institute.

S. Rahardjo. 2002. Peradaban Jawa: dinamika pranata politik, agama, dan ekonomi Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu.

S. Sadihutomo. 2001. Sinkretisme Jawa-Islam. Yogyakarta: Bentang Budaya.

S. Sastrodiwiryo. 1999. Perjalanan Danghyang Nirartha: Sebuah Dharmayatra (1478-1560) dari Daha sampai Tambora. Denpasar: BP.

S.S. Chandrasekharendra Sarasvati. 1988. The Vedas. Bombay: Bharatiya Vidya Bhavan.

S. Wardi. 1950. Kumpulan Tjerita Lama dari Kota Wali. Demak: Wahju.

Tantu Panggelaran. Naskah di Museum Sonobudoyo Yogyakarta No. S-6.

Tedhak Dermayudan. Naskah Milik Keluarga K. Ng. Amir Arifin.

Tedhak Pusponegaran. Naskah Milik Keluarga K. Ng. Amir Arifin.

Thapar, R. 2003. The Penguin History of Early India from the Origin to AD 1300. New Delhi: Penguin Books.

The Bhagavadgita or The Song Divine (with Sanskrit text and an English Translation). 1969. Gorakhpur: Gita Press.

Tiele, C. P. 1912. The Religion of the Iranian Peoples. Bombay: Parsi Publishing Co.

T. Haryono. 1913. “Aspek-aspek Simbolik Dalam Teknik Arkeo-metalurgi Masa Klasik Jawa Kuna”. Proceedings AHPA IV: Metalurgi dalam Arkeologi. Jakarta: Depdikbud & Puslit Arkeologi Nasional. hlm. 341-347.

T. R. Sudharta. 1997. Slokantara: Untaian Ajaran Etika, Teks, Terjemahan dan Ulasan. Denpasar: Upada Sastra.

T. S. Nastiti. t.t. “Pandai Logam dalam Kehidupan Masyarakat Jawa Kuno”. AHPA IV. Jilid I: 269-278.

Vansina, J. 1973. Oral Tradition: A Study in Historical Methodology. London: Penguin Books.

Van der Tuuk, H. N. 1897-1912. Kawi-Balineesch-Nederlandsch Woordenboek. 4 volume. Batavia: Landsdrukkerij.

Virkler, H. A. 1981. Hermeneutics: Principle and Processes of Biblical Interpretation. Michigan: Baker Book House.

Vlekke, B. H. M. 1965. Nusantara: a History of Indonesia. The Hague: W. Van Hoeve Ltd.

Voorhoeve, P. 1957. Handlist of Arabic Manuscripts in Library of the University of Leiden and Other Collections in the Netherlands. Leiden: Bibliotheca Universitet.

Watson, A. 1992. The Evolation of International Society. London: Routledge.

Weraspati Kalpa: Tenung Pedukunan. (Penyalin I Made Gambar). 1992. Denpasar: Cempaka.

Wickens, G. M. 1952. “The Persian Conceptions of Artistic Unity in Poetry dan its Implications in Other Fields”. BSOAS. Vol. 14,3.

Winstedt, R. 1953. The Malay: A Cultural History. 3rd ed. London: Routledge & Kegan Paul.

Woodroffe, S. J. 1959. Sakti and Sakta. Madras: t.p.

Woodward, M. R. 1999. Islam Jawa: Kesalehan Normatif Versus Kebatinan. Yogyakarta: LKiS.

Wrhaspati Tattwa (Sudharsana Dewi). 1957. New Delhi: International Academy of Indian Culture.

W. Saksono. 1995. Mengislamkan Tanah Jawa: Telaah atas Metode Dakwah Walisongo. Bandung: Mizan.

Yochai, Rabbi Shimonbar. t.t. The Zohar. New York: Yeshivat Kol Yehudah.

Yusuf bin Ismail al-Nabhani. 1381 H. Jami’ Karamat al-Awliya’. 2 Jilid. Beirut: al-Maktabah al-Tsaqafah.

Yusuf Zaidan. t.t. Tarikh Adab al-Arabiyyah. Beirut: Dar al-Maktabah al-Hayyah.

1408 H. Al-Fikr al-Shufi ‘inda ‘Abd al-Karim al-Jili. Beirut: Dar al-Nahdah al-‘Arabiyyah.

Zoetmulder, P. J. dan I. R. Poedjawijatna. 1954. Bahasa Parwa. 2 jilid. Djakarta: t.p.

1983. Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang. Jakarta: Djambatan.

1990. Manunggaling Kawula-Gusti, Pantheisme dan Monisme Dalam Sastra Suluk Jawa. (Penerjemah Dick Hartoko). Jakarta: Gramedia.

1997. Kamus Jawa Kuna-Indonesia. 2 jilid. Cet. ke-2. Jakarta: PT Gramedia Pustaka.

Daftar Singkatan

AHPA : Analisis Hasil Penelitian Arkeologi.

BEFEO : Bulletin de I’Ecole Franscaisse d’Extereme Orient.

BKI : Bijdragen tot de Tall-, Land-, en Vokenkunde van het Koninkllijk

Instituut.

BSOS : Bulletin of the School of Oriental (and African) Studies, London.

EFEO : Ecole Francaise d’Extreme-Orient.

INIS : Indonesian-Netherlands Cooperation in Islamic Studies.

JA : Journal Asiatic.

JMBRAS : Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society.

JSBRAS : Journal of the Straits Branch of the Royal Asiatic Society (Singapore)

KBG : Koninklijk Instituut voor Taal-, Land-, en Vokenkunde.

KITLV : Koninklijk Instituut voor Taal-, Land, en Volkenkunde.

LPLI : Lembaga Penerangan dan Laboratorium Islam “Sunan Ampel”

Surabaya.

MISI : Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia. Diterbitkan oleh Fakultas

Sastra Universitas Indonesia.

PIA : Pertemuan Ilmiah Arkeologi.

SOAS : School of Oriental and Afrikan Studies, London.

TBG : Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Vokendunde.

Uitgegeven door het KBG

VG : Verspreide Gescheriften.

VBG : Verhandeling van het Bataviaasch Genootschap van Kunsten en

Wetenschappen.

VKI : Verhandelingen Konijnklijk Instituut voor Taal-, Land- en

Volkenkunde.

Biodata Penulis

Agus Sunyoto, Drs., M. Pd., dilahirkan di Surabaya, 21 Agustus 1959. pendidikan S1 diselesaikan di Jurusan Seni Rupa, FPBS IKIP Surabaya tahun 1985. Magister Kependidikan diselesaikan tahun 1990 di Fakultas Pascasarjana IKIP Malang bidang Pendidikan Luar Sekolah.

Pengalaman kerja diawali sebagai kolumnis sejak 1984. Tahun 1986-1989 menjadi wartawan Jawa Pos. setelah keluar dan menjadi wartawan free-lance, sering menulis novel dan artikel di Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, Republika, dan Merdeka. Sejak tahun 1990-an mulai aktif di LSM serta melakukan penelitian sosial dan sejarah. Hasil penelitian ditulis dalam bentuk laporan ilmiah atau dituangkan dalam bentuk novel.

Karya-karyanya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku adalah: Sumo Bawuk (Jawa Pos, 1987); Sunan Ampel: Taktik dan Strategi Dakwah Islam di Jawa (LPLI Sunan Ampel, 1990); Penelitian Kualitatif dalam Ilmu Sosial dan Keagamaan (Kalimasahada, 1994); Banser Berjihad Melawan PKI (LKP GP Ansor Jatim, 1995); Darul Arqam: Gerakan Mesianik Melayu (Kalimasahada, 1996); Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Lingkaran Studi Kebudayaan, 1999); Pesona Wisata Sejarah Kabupaten Malang (Pemkab Malang, 2001).

Karya-karya fiksinya banyak dipublikasikan dalam bentuk cerita bersambung, antara lain di Jawa Pos: Anak-Anak Tuhan (1985); Orang-Orang Bawah Tanah (1985); Ki Ageng Badar Wonosobo (1986); Khatra (1987); Hizbul Khofi (1987); Khatraat (1987); Gembong Kertapati (1988); Vi Daevo Datom (1988); Angela (1989); Bait al-Jaubar (1990); Angin Perubahan (1990). Di harian sore Surabaya Post: Sastra Hajendra Pangruwat Diyu (1989); Kabban Habbakuk (1990); Misteri di Snelius (1992); Kabut Kematian Nattayya (1994); Daeng Sekara (1994-1995); Sang Sarjana (1996); Jimat (1997). Di harian Surya: Dajjal (1993). Di Radar Kediri: Babad Janggala-Panjalu dengan episode: (1) Rahuwahana Tattwa, (2) Ratu Niwatakawaca, (3) Ajisaka dan Dewata Cahangkara, (4) Titisan Darah Baruna. Di harian Bangsa: Suluk Abdul Jalil (2002).