Tengara Murka Tuhan

Suatu siang, ketika Abdul Jalil mengajak Raden Sahid pergi ke pelabuhan, tanpa tersangka-sangka mereka berpapasan dengan serombongan orang di depat kantor syahbandar. Mereka tampaknya akan ke kutaraja. Abdul Jalil berhenti mendadak. Kemudian dengan suara lirih tetapi agak ditekan, ia berkata kepada Raden Sahid. “Kalau tidak keliru, itu seperti rombongan orang-orang dari Surabaya.”

Raden Sahid menghentikan langkah dan melihat iring-iringan orang di depannya. Dilihat dari penampilan, pakaian, payung, dan lambang-lambang yang dibawa, rombongan itu tampaknya memang berasal dari Surabaya. Orang yang diusung di atas tandu, yang belakangan diketahui sebagai Pangeran Arya Kediri, adalah putera ketiga Raden Kusen Adipati Surabaya. Pangeran Arya Kediri selama itu dikenal sebagai anak muda gagah berani. Ia dipercaya ayahandanya mengepalai pasukan pengalasan Surabaya. Ia selalu berjaya dalam berbagai pertempuran. Lantaran kemenangan-kemenangan yang selalu diraihnya itulah, orang kemudian menyebutnya dengan gelar terhormat: Pangeran Tundhung Musuh.

Pangeran Arya Kediri datang ke Malaka didampingi Raden Muhammad Yusuf, putera Raden Yusuf Siddhiq Adipati Siddhayu. Mereka berdua dikenal sebagai sahabat dekat. Melalui Raden Muhammad Yusuf yang memiliki keluarga terpandang di Malaka, Pangeran Arya Kediri menancapkan kekuatan untuk melindungi saudagar-saudagar asal Surabaya yang berniaga di Malaka. Dalam suatu perbincangan singkat dengan Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, Abdul Jalil mengetahui jika salah satu alasan kehadiran putera Raden Kusen itu ke Malaka adalah untuk berdagang senjata. Rupanya, melalui bantuan Raden Muhammad Yusuf dan keluarganya, Pangeran Arya Kediri dapat membangun kekuatan dan sekaligus mengembangkan kantor perwakilan dagang di Malaka, terutama pemasaran bedil besar (meriam) buatan Sapanjang dan Jepara. Selain bedil besar, dijual juga mesiu buatan Palembang dan Samarang.

Menurut Pangeran Arya Kediri dan Raden Muhammad Yusuf, dalam hal mutu, bedil besar buatan Sapanjang dan Jepara tidak kalah dibanding meriam-meriam terbaik buatan Kerala dan Turki. Dalam tiga empat kali uji coba mutu senjata, aku Pangeran Arya Kediri, pihaknya sudah mendapat pesanan dari Sultan Malaka, Sultan Brunei, dan Sultan Sulu. “Sultan Malaka Mahmud Syah memesan seratus bedil besar dari bahan kuningan dan tujuh puluh bedil besar dari bahan besi. Sultan Brunei Nakhoda Ragam Bolkiah memesan lima puluh bedil besar dari bahan besi. Sedang Sultan Sulu Kamaluddin Hasyim Abu Bakar memesan empat puluh bedil besar dari besi.”

“Malam nanti kami akan bertemu dengan Hiyoshi, saudagar asal Hakata dari negeri Jepun. Orang-orang Jepun kelihatannya sangat tertarik dengan bedil besar dan bedil,” kata Pangeran Arya Kediri bangga.

“Bedil besar itu dibuat di Sapanjang? Maksudnya, Sapanjang di selatan Surabaya?” gumam Abdul Jalil sambil mengerutkan kening seolah belum percaya.

“Pengecoran di Terung sudah ditutup. Sebagai pengganti, dibikin pengecoran baru di Sapanjang. Yang mengepalai pengecoran adalah Raden Mahmud Pangeran Sapanjang, putera Susuhunan Rahmatullah.”

“Apakah di Sapanjang dan Jepara orang-orang sudah bisa membuat bedil?” tanya Abdul Jalil.

“Orang-orang kami belum mampu membuat bedil yang bagus. Dalam beberapa kali uji coba, laras bedil yang dibuat orang-orang kita selalu pecah setelah dipakai menembak dua tiga kali. Jadi, untuk bedil kita masih membelinya dari saudagar-saudagar Kerala dan Bengali. Tetapi, kami menawarkan bedil-bedil itu kepada siapa saja yang berminat, termasuk kepada orang-orang Jepun,” kata Pangeran Arya Kediri.

Abdul Jalil mengangguk-angguk sambil menarik napas berat. Penjelasan Pangeran Arya Kediri tentang meningkatnya perniagaan bedil besar buatan Jawa telah semakin menyadarkannya bahwa tengara kerusakan dahsyat yang bakal ditimbulkan oleh senjata penyembur api itu makin mendekati kenyataan. Ia sadar bahwa sebuah perubahan besar akibat hadirnya Ya’juj wa Ma’juj, cambuk api yang bakal digunakan Allah untuk menghajar bumi dan penghuninya, semakin dekat waktunya. Itu berarti, ujian bagi manusia beriman yang teraduk-aduk bersama azab bagi manusia yang lalai semakin dekat menghampiri dunia.

Ketika Abdul Jalil tengah merenungkan keterkaitan antara azab Allah dan maraknya perdagangan senjata penyembur api, ia dikejutkan oleh pekikan Raden Sahid. Ia menoleh dan mendapati Raden Sahid berdiri gemetar dengan wajah pucat pasi. Menangkap gelagat kurang baik, Abdul Jalil bertanya tentang apa yang sedang dialami bakal menantunya itu. Dengan bibir gemetar dan terbata-bata Raden Sahid berkata, “Kami menyaksikan orang-orang di depan itu memiliki ekor.”

Abdul Jalil tertawa, lalu sambil menepuk bahu Raden Sahid ia berbisik, “Bersyukurlah, engkau telah dianugerahi pengetahuan gaib untuk mengetahui keberadaan manusia berekor. Bersyukurlah!”

“Kenapa mereka diberi perlambang memiliki ekor?” tanya Raden Sahid heran.

“Bukankah engkau sudah menyaksikan tujuh cahaya pada tubuh manusia?” bisik Abdul Jalil. “Yang engkau saksikan itu adalah orang-orang yang hidupnya digerakkan oleh cahaya yang memanjang di ujung tulang ekornya. Itulah tanda manusia yang hidupnya terbimbing nafsu rendah hewani.”

Raden Sahid mengangguk paham. Tetapi, bagi Abdul Jalil, anggukan Raden Sahid itu justru makin menguatkan sasmita yang ditangkapnya sehubungan dengan bakal menggeletarnya cambuk Tuhan atas Malaka. Ya, Malaka. Malaka lambang kemakmuran bumi yang menebarkan suasana pengab, tengik, busuk, dan menyesakkan jiwa dengan nilai-nilai kebenaran yang jungkir balik, pancaran gemilang kelezatan duniawi yang menyilapkan banyak manusia dari mengingat Tuhan. Tampaknya, Malaka sedang menunggu giliran dihajar oleh lecutan cambuk api yang menggeletar di tengah gemuruh murka Ilahi.

Tengara bakal dilecutnya Malaka oleh cambuk api murka Ilahi makin kuat ditangkap getarannya oleh Abdul Jalil manakala ia diajak oleh Pangeran Arya Kediri ke sebuah tempat pelatihan militer di selatan kutaraja. Tempat itu berupa alun-alun yang luas dikitari barak prajurit, gudang perbekalan, gudang senjata, istal, dan kandan gajah. Di bagian tengah alun-alun terlihat barang sepuluh orang-orangan dari jerami yang dipancang pada kayu, sebagai sasaran bidikan bedil dan anak panah. Sejumlah prajurit yang berdiri berjajar terlihat membawa bedil di tangan kiri dan pedang di tangan kanan. Asap tipis masih mengepul dari moncong bedil ketika mereka dengan teriakan keras melompat ke arah orang-orangan jerami sambil mengayunkan pedang.

Sebagian dari prajurit yang tinggal di barak-barak itu berasal dari Jawa. Mereka dibayar oleh sultan sebagai tentara sewaan dengan upah tinggi. “Kebanyakan mereka berasal dari Surabaya, Siddhayu, Gresik, Terung, dan Demak. Mereka sangat berani dan terampil menggunakan berbagai jenis senjata,” ujar Pangeran Arya Kediri bangga.

Abdul Jalil hanya manggut-manggut mendengarnya. Setelah diam sejurus, ia bertanya, “Kenapa sultan menyewa prajurit dari Jawa? Apakah penduduk Malaka enggan menjadi prajurit?”

“Sepengetahuan kami, sultan memperkuat diri dengan prajurit-prajurit sewaan dari Jawa lebih disebabkan oleh kepentingan mengimbangi kekuatan Bendahara Raja Tun Mutahir yang didukung orang-orang Keling. Bahkan, belakangan Tun Mutahir didukung pula oleh pengungsi-pengungsi asal Kerala. Sultan merasa Tun Mutahir telah bertindak terlalu jauh merongrong kekuasaannya sehingga keberadaan sultan tak lebih dari boneka tak berdaya. Sultan yang merasa berdarah Majapahit itu ingin menunjukkan kekuatannya dengan mendatangkan prajurit-prajurit unggul dari Jawa.”

Abdul Jalil diam. Dalam diam ia menangkap sasmita betapa rapuhnya usaha Sultan Malaka dalam memperkuat pertahanan diri. Jika sultan merasa kuat dengan dukungan pasukan sewaan yang besar jumlahnya maka sejatinya sultan seperti sedang membangun benteng dari jaring laba-laba yang rapuh dan mudah hancur. Sebab, seberapa kuatkah kesetiaan prajurit sewaan? Bukankah mereka setiap waktu bisa mengalihkan pengabdian kepada tuan yang membayar sewa lebih mahal?

Pada awal abad ke – 16, di mana-mana tempat yang dihuni penduduk muslim, tak terkecuali Malaka, sedang berlangsung pertarungan sengit antara pengikut Syi’ah dan Sunni. Akal sehat dan persaudaraan kaum muslim (ukhuwah Islamiyyah) sepertinya telah tersapu dari permukaan bumi dan tenggelam ke dalam lautan kebencian tak bertepi. Matahari Kebenaran makin lama makin jauh bersembunyi di balik bukit-bukit permusuhan yang dikobari api amarah dan dialiri sungai darah. Fitrah manusia sebagai citra ar-Rahman (shurah ar-Rahman) telah menjelma dalam bentuk kawanan setan bertubuh api yang ganas dan haus darah. Saat itu Sang Maut seolah-olah memanjangkan bayangan-Nya dan menjulurkan cakar-Nya sampai ke bagian tergelap dari relung-relung terdalam jiwa manusia.

Di tengah bayangan kelam Sang Maut yang mengintai di balik cakrawala Kehidupan, di tengah permusuhan orang-orang Syi’ah dan Sunni, Abdul Jalil dengan didampingi istri, anak, dan Raden Sahid terlihat berjalan menelusuri lorong-lorong sempit di bandar Malaka yang diapit bangunan-bangunan di kedua sisinya. Beberapa saat lalu ia baru saja bertemu dan singgah sejenak di rumah Khoja Hasib al-Tughyan, seorang kenalan lamanya, yang terletak di tepi utara sungai Malaka. Ia tidak menyangka Khoja masih tetap sebagai Hasyib al-Tughyan yang pernah dikenalnya barang tiga dasawarsa silam; seorang anak muda yang secara ajaib tidak pernah terpengaruh putaran roda waktu. Wajahnya, matanya, bibirnya, hidungnya, kulitnya, rambutnya, dan bahkan bentuk tubuhnya tetap tidak berubah barang secuil pun. Khoja tetap seorang pemuda yang sepertinya tidak pernah tua apalagi sampai kulitnya keriput dan punggungnya bongkok lalu tumbang ke bumi.

Tidak berbeda dengan penampilannya yang tidak pernah berubah tua, Khoja juga tidak berubah dalam sikap dan perbuatan. Dia selalu bersikap tegas, jujur, polos, suka berterus terang, dan yang menakjubkan, ingatannya sangat kuat sehingga sekecil apa pun peristiwa yang diketahuinya tidak akan pernah dilupakannya. Melalui dia, Abdul Jalil mendapat cerita singkat tentang Syaikh Abul Mahjuubin dan ketiga orang anaknya; Abul Maisir sang penjudi, Abul Khamrun sang pemabuk, dan Abul Kadzib sang penipu. Dengan suara gemerisik bagaikan daun-daun kering diembus angin, Khoja bertutur.

“Manusia dekil yang kita kenal sebagai Syaikh Abul Mahjuubin ternyata hidup tidak lama setelah engkau pergi meninggalkan Malaka, o Sahabat. Rupanya, dia yang hidup dari mengisap darah manusia, di dalam tubuhnya bersarang kawanan hewan pengisap darah: lintah. Itu sebabnya, berapa banyak pun darah yang dia isap selalu tidak cukup memuaskan kawanan lintah yang menghirup setiap tetes darah yang mengalir di tubuhnya. Bahkan, semakin banyak darah yang diisapnya, semakin rakus lintah-lintah itu mengganas dan mengisap darah yang mengalir di tubuhnya. Ketika darah yang diisapnya diperebutkan oleh ketiga orang anaknya, sehingga pasokan darah di tubuhnya berkurang, lintah-lintah ganas itu dengan rakus mengisap semua cairan dan menggeragoti organ-organ tubuhnya hingga ke tulang dan sumsum. Dan, saat Sang Maut menghantamkan sayap Kematian ke hulu tenggorokannya, tubuh celaka makhluk dekil pengisap darah itu sudah tinggal tulang terbalut kulit. Dengan mata terbelalak dan wajah pucat pasi ia meregang nyawa karena sebelumnya ia tidak pernah menduga jika nyawanya bakal dicabut secepat itu.”

“Pembohong seperti Syaikh Abul Mahjuubin memang harus hidup dilingkari kebohongan demi kebohongan sehingga pada saat mati pun ia masih juga diliputi kebohongan. Para murid dan keluarga yang menunggui Syaikh Abul Mahjuubin saat menjelang sakaratul maut, dengan kelincahan lidahnya memberikan kesaksian palsu bahwa mereka telah menyaksikan gurunya mati dengan tersenyum sambil mengucap kalimat: la ilaha illa Allah! Padahal, saat itu malaikat, jin, setan, cicak, nyamuk, semut, dan aku yang berada di sana mempersaksikan bahwa Abul Mahjuubin mati secara su’ul khatimah, karena mengumpati Tuhan yang dianggapnya telah menyiksanya dengan penyakit yang tak kunjung sembuh.”

“Aku malah menyaksikan, bagaimana tidak lama setelah mayat manusia lintah itu dikubur, ketiga orang anaknya merancang kebohongan dengan membuat surat warisan palsu yang terkait dengan pembagian harta peninggalan ayahanda mereka. Mereka tanpa malu sedikit pun saling bertengkar, merebut warisan. Mereka mengeluarkan banyak uang untuk menyuap hakim dan saksi palsu. Mereka menyuap pejabat-pejabat korup agar berkenan membela mereka masing-masing. Walhasil, tidak sampai tiga bulan seluruh kekayaan yang sudah dikumpulkan dengan penuh kecurangan oleh Syaikh Abul Mahjuubin selama bertahun-tahun itu lenyap seperti tersapu angin prahara. Demikianlah, pada bulan keempat setelah kematian Syaikh Abul Mahjuubin, orang melihat Abul Maisir dan Abul Khamrun hidup menggelandang di pasar-pasar sebagai orang setengah waras. Sedang Abul Kadzib, anak bungsunya, diketahui orang keluar masuk gedung pengadilan dan dijatuhi hukuman dera berulang-ulang akibat tidak bisa meninggalkan kebiasaannya menipu.”

“Sungguh menyedihkan akhir cerita manusia pecinta duniawi seperti Syaikh Abul Mahjuubin dan putera-puteranya,” gumam Abdul Jalil menarik napas panjang.

“Mudah-mudahan kita tidak digolongkan-Nya sebagai kawanan manusia tengik seperti mereka.”

Ketika Abdul Jalil dan Khoja sedang memperbincangkan kehadiran orang-orang Kerala pendukung Tun Mutahir, muncul Thalib al-Akhbar, saudara sepupu Khoja, membawa kabar mengejutkan: barang lima hari lalu Laksamana Kunjali Marakkar, panglima angkatan laut Kozhikode, dengan kekuatan 280 buah kapal perang dan pasukan berjumlah 50.000 orang menggempur bandar Cochazhi (Cochin). Raja Cochazhi dan orang-orang Portugis sekutunya yang tak menduga bakal mendapat serangan mendadak itu terkejut bukan alang kepalang. Francisco d’Albuquerque sampai serak suaranya berteriak-teriak memimpin gerak mundur pasukannya yang hanya seratus orang itu dari Cochazhi. Duarte Pacheco Pereira yang mendampingi raja Cochazhi tidak dapat berbuat sesuatu kecuali menyarankan agar sang raja yang dikawal delapan ratus orang serdadu sewaan dan pengawal-pengawalnya itu untuk menyingkir dari kota. Setelah berhasil menguasai bandar, ungkap Thalib al-Akhbar, para prajurit dan pejuang Kozhikode beramai-ramai menghancurkan kantor persekutuan dagang (feitoria) Portugis – Cochazhi beserta gudang-gudangnya.

Setelah menyingkir dari bandar, Portugis dan raja Cochazhi membawa sisa-sisa pasukannya ke pulau Vypin. Portugis kemudian melanjutkan pembangunan benteng kayu di pulau itu untuk menahan serbuan yang dilakukan prajurit dan pejuang-pejuang Kozhikode. Portugis menamai benteng kayu itu dengan sebutan Castelo de Cima. Di benteng itulah, menurut kabar, Portugis dan raja Cochazhi melakukan perlawanan dengan taktik dan strategi perang Eropa yang sangat berbeda dengan yang diterapkan Laksamana Kunjali Marakkar.

Kabar serbuan Laksamana Kunjali Marakkar ke Cochazhi yang membuat Portugis dan sekutunya tunggang-langgang, ternyata dengan cepat menyebar ke bandar-bandar perniagaan di selatan, termasuk Malaka. Hal itu diketahui Abdul Jalil ketika ia berbincang-bincang dengan Syaikh Dara Putih, adik lain ibu Syaikh Jumad al-Kubra, dan Datuk Musa, saudara sepupunya, di rumahnya yang terletak di kampung Pulau Upih. Anehnya, orang-orang Malaka kelihatan tidak sedikit pun menganggap serius kabar pertempuran Laksamana Kunjali Marakkar dengan Portugis itu. Mereka seolah-olah menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang biasa, sebagaimana layaknya peristiwa perselisihan antarsaudagar atau antarpenguasa bandar. Mereka justru jauh lebih menganggap serius perselisihan antara pengikut Sunni dan Syi’ah.

Sekalipun dalam memperbincangkan berbagai masalah terkait nasib umat Islam yang semrawut itu Abdul Jalil dinilai memiliki pandangan berbeda dalam menyikapinya, baik Datuk Musa, Syaikh Dara Putih, dan Raden Sahid sama-sama sepakat dengan kesimpulan Abdul Jalil bahwa bertubi-tubinya masalah rumit yang dihadapi umat Islam belakangan ini bukanlah suatu peristiwa kebetulan. Mereka sepakat, keberadaan umat Islam yang belakangan ini dijungkirbalikkan dalam berbagai peristiwa pedih laksana tanah sawah dijungkir balik bajak adalah sebuah pertanda bahwa Sang Pencipta sedang menyiapkan suatu rencana bagi umat-Nya. Khusus tentang pertarungan antara pengikut Syi’ah dan Sunni, mereka melihat adanya suatu keanehan. Pemuka-pemuka Syi’ah maupun Sunni yang bertempur ternyata sama-sama mengaku sebagai golongan Alawiyyin, keturunan Imam Ali bin Abi Thalib, yang bertuhankan Allah, berkitab suci Al-Qur’an, bernabi Muhammad Saw, berkiblat Ka’bah sehingga tidak jelas siapa sesungguhnya yang benar dan siapa yang berbohong dalam pengakuan-pengakuan sepihak di tengah pertikaian itu.

Selama memperbincangkan masalah perseteruan Syi’ah dan Sunni, Abdul Jalil diam-diam menangkap kenyataan tentang kerasnya sikap Syaikh Dara Putih terhadap mereka yang dianggap memihak dan mendukung Syah Ismail. Meski Syaikh Dara Putih menyatakan tidak memihak salah satu pihak yang berseteru, kenyataan menunjuk bahwa dia tidak segan membuat fatwa untuk menghalalkan darah siapa pun di antara manusia yang terbukti mendukung Syah Ismail. Kerasnya sikap Syaikh Dara Putih itu, menurut hemat Abdul Jalil, kemungkinan bersumber dari kemarahan tak terkendali adik Syaikh Jumad al-Kubra itu ketika mendengar cerita tentang tindakan-tindakan brutal Syah Ismail dalam menghancurkan tarekat-tarekat di bumi Persia. Sebab, dengan penghancuran tarekat-tarekat itu, garis silsilah nasab para Alawiyyin – Syaikh Dara Putih termasuk di dalamnya – menjadi kacau dan bahkan terputus sehingga keabsahan silsilah mereka sewaktu-waktu layak diragukan.

Menghadapi guru tarekat yang masih dijerat oleh keberpihakan dan pamrih seperti Syaikh Dara Putih, Abdul Jalil tentu saja tidak mau mengimbangi. Sebaliknya, ia berusaha mengalihkan alur pembicaraan dengan membahas masalah kemerosotan akhlak dan jungkir baliknya nilai-nilai yang sedang berlangsung di Malaka, dengan terlebih dulu mengungkap latar di balik peperangan Kozhikode di satu pihak dengan Portugis dan penguasa Cochazhi di pihak lain. Sebagaimana pandangannya yang selalu berpusat pada Tauhid, Abdul Jalil menyimpulkan bahwa pertumpahan darah yang menimbulkan korban jiwa di Kozhikode, Cochazhi, Perlak, Pasai, dan Malaka belakangan ini pada hakikatnya adalah rangkaian panjang dari lecutan demi lecutan cambuk Allah untuk mengingatkan umat-Nya yang sedang berada di jalan kefasikan.

Setelah menguraikan berbagai hal terkait nasib pedih yang dialami kaum muslimin di Kozhikode, yang kemungkinan akan mengalami kekalahan dalam pertempuran lanjutan, Abdul Jalil tanpa terduga menyarankan agar Datuk Musa, sepupunya, melakukan hijrah, membawa keluarganya meninggalkan Malaka ke daerah pedalaman. Alasan Abdul Jalil sederhana, yakni pusaran kehidupan di Malaka sesungguhnya telah diluapi genangan arus sungai kehidupan yang dibanjiri air bah kebendaan. Keadaan itu, menurutnya, cepat atau lambat akan mendatangkan murka Allah sebagaimana telah terjadi pada umat-umat terdahulu.

“Tumpahnya darah muslim di suatu tempat, apa pun alasannya, menurut hematku, mesti memiliki hubungan tali-temali dengan lecutan cambuk Tuhan. Peristiwa berdarah di Kozhikode dan Cochazhi. Peristiwa berdarah di Perlak, Pasai dan Malaka, meski dengan latar berbeda, pada dasarnya satu juga pangkalnya, yaitu peringatan Tuhan. Jika kita masih tidak sadar juga dengan peringatan-Nya itu maka lecutan cambuk Tuhan berikutnya akan menggeletar lebih dahsyat dengan rasa sakit yang tak tertanggungkan,” ujar Abdul Jalil.

“Bagaimana engkau, o Saudaraku, bisa menilai kalau Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan seperti Kozhikode dan Cochazhi?” tanya Datuk Masa seperti belum memahami sepenuhnya makna di balik ucapan Abdul Jalil.

Abdul Jalil terdiam. Sejenak kemudian dengan suara lain ia berkata, “Selama menjejakkan kaki untuk kali kedua di Malaka, aku telah melihat genangan lumpur kemerosotan akhlak yang diakibatkan oleh meluapnya sungai kehidupan duniawi yang dibanjiri air bah kebendaan. Di hampir setiap penjuru kota aku melihat manusia-manusia malang bertubuh kurus meringkuk tak berdaya di tengah genangan lumpur. Mereka tidak bisa bergerak bebas karena sekujur tubuhnya dililit ular beludak utang yang beranak-pinak tak terhitung jumlahnya. Sungguh, telah aku saksikan kawanan ular riba beriap-riap masuk ke rumah penduduk dan mematuk para penghuninya dengan racunnya yang mematikan.”

“Renungkan, o Saudaraku, jika sebuah kota sudah padat dihuni ular riba beracun ganas, maka seluruh penduduk yang menghuni kota itu lambat laun akan terkena pula racun yang mematikan. Penduduk yang terkena racun berbisa dari gigi-geligi ular riba itu pasti akan limbung dan terhuyung-huyung kebingungan. Kenapa mereka limbung dan terhuyung-huyung kebingungan? Sesungguhnya, mereka saat itu berada di antara kesadaran ular dan kesadaran manusia. Kesadaran mereka terombang-ambing di antara dua dunia yang berbeda, yaitu dunia manusia dan dunia hewan melata. Mereka itulah yang disebut makhluk siluman: hewan bukan manusia pun bukan. Makin banyak manusia yang terkena racun riba akan semakin banyak manusia yang menjadi siluman. Sebagaimana kisah umat di masa silam yang terombang ambing di antara alam manusia dan alam hewan, murka Tuhan akan menghambur dari segenap penjuru. Lecutan cambuk Tuhan akan menggeletar di mana-mana untuk memisahkan kembali batas-batas wilayah kesadaran manusia dan hewan. Demikianlah, penduduk negeri yang hidup berdampingan dengan kawanan ular riba sehingga menjelma menjadi siluman, pasti akan merasakan lecutan cambuk Tuhan yang pedih.”

“Apakah hanya karena riba yang merajalela di negeri ini sudah bisa menjadi penyebab penduduknya dilecut oleh cambuk Tuhan? Tidakkah penduduk Malaka yang lain masih cukup banyak yang baik? Tidakkah saudaraku melihat orang-orang yang menjalankan shalat jama’ah di masjid-masjid?” tanya Datuk Musa.

Abdul Jalil tercenung sesaat. Setelah itu, ia berkata seolah-olah ditujukan kepada dirinya sendiri, “Jika hukum di sebuah negeri telah disulap menjadi barang dagangan semurah kue-kue di pasar maka akan turunlah murka Allah. Dia mengirim para perampok, penggarong, pencuri, penyiksa, dan pembunuh yang ganas di tengah penduduk. Kawanan makhluk jahat itulah pengejawantan cambuk Tuhan yang menghukum penduduk negeri celaka itu. Jika ada yang bertanya kenapa Tuhan murka ketika hukum diperdagangkan di suatu negeri? Aku katakan, Tuhan murka karena di balik keberadaan sebuah hukum, sejatinya tersembunyi Kehadiran Ilahi (Hadrah al-Ilahiyyah) yang meliputi Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya, yaitu Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghisaban pancaran al-Hasib, Penghukuman pancaran al-Hakam, Pengayoman pancaran al-Waly, Pembalasan pancaran al-Muntaqim, Keseimbangan pancaran al-Muqsith, Kebijaksanaan pancaran al-Hakim, dan Keadilan pancaran al-‘Adl.”

“Sungguh celaka para hakim yang menggunakan nama Ilahi, al-Hakim, untuk menista hukum dan keadilan demi kepentingan diri pribadi. Sungguh celaka seribu kali celaka penjahat-penjahat tengik yang menjual murah al-Hakim dan al-‘Adl demi pengumbaran nafsu rendahnya. Sungguh celaka mereka. Mereka tidak saja menghianati al-Hakim, tetapi juga al-‘Adl, al-Hakam, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Muntaqim, al-Muqsith. Mereka telah memerosokkan diri ke dalam lingkaran murka-Nya yang akan membenamkan mereka ke dalam lumpur kehidupan benda-benda yang busuk beracun. Mereka akan menjelma menjadi kaum penyekutu Tuhan (qaum al-musyrikin); kaum pemuja benda-benda yang melampaui batas (thaghut); kaum musyrikin yang paling dikutuk Tuhan. Sesungguhnya, mereka telah membenamkan diri mereka sendiri ke dalam genangan lumpur nafsu kebendaan sehingga mata hati mereka buta (ummi), telinga jiwa mereka tuli (shamam), dan suara kebenaran ruhnya bisu (bakam). Mereka itulah kawanan makhluk terkutuk karena kesadaran jiwa mereka sudah tertutup oleh benda-benda, seibarat besi-besi, seibarat besi-besi rongsokan ditutupi karat tebal.”

“Aku katakan: celaka! Seribu kali celaka manusia yang telah merendahkan dan menista makna hakiki Kebenaran pancaran al-Haqq, Kelurusan pancaran al-Hadi, Penghukuman pancaran al-Hakam, Keadilan pancaran al-‘Adl, dan Kebijaksanaan pancaran al-Hakim untuk menjadi sekadar uang recehan (al-fakkah al-nuqud). Sebab, mereka dengan kesadaran kaum penyekutu Tuhan yang jahil telah mengkhianati dan menista Asma’, Af’al, dan Shifat Ilahi. Mereka dengan kejahilannya telah membuka (fakka) kecaman (naqada) atas diri sendiri dan keluarganya, yaitu kejahilan yang bakal mengangakan paruh burung (manaqid) neraka di mana mereka akan dijadikan santapan utamanya. Akankah Allah sebagai Rabb dari Semua Rabb (Rabb al-Arbab) membiarkan para pengkhianat yang menista Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya itu bergembira ria menikmati hasil pengkhianatannya?”

“Tidakkah engkau saksikan dengan mata indriawi dan mata batin, o manusia, bagaimana para pejabat di negeri ini telah mengaku-akku sebagai hamba setia pentadbiran Kerajaan(hukumah malakiyyah), padahal mereka itu sejatinya adalah hamba thaghut? Tidakkah engkau saksikan sikap dan perilaku para pembantu sultan yang jauh dari adab orang beriman? Tidakkah engkau ketahui bahwa para hamba pentadbiran kerajaan itu telah menjadi penyeleweng nista yang menjijikkan? Sungguh, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batin bagaimana mereka yang menduduki jabatan Bendahara Raja, Wazir, Qadi, Temenggung, Laksamana, Menteri-hulubalang, Syahbandar, Penghulu Balai, Penghulu Bendahari Yang di dalam, Penghulu Bendahari Yang di luar, Penghulu Istana, Penghulu Jenang, hingga pegawai rendahan di kerajaan ini telah memanfaatkan kekuasaan yang mereka miliki untuk memenuhi kehendak nafsunya.”

“Sementara itu, telah aku saksikan pula bagaimana para ulama wakil al-‘Alim di muka bumi (khalifah al-‘Alim fi al-ardh) di negeri ini banyak yang telah menjadi pengabdi setia penguasa baik sultan maupun bendahara raja. Mereka tidak melakukan tugas dan kewajibannya sebagai penyebar ilmu, penyampai kebenaran, penegak akhlak, penunjuk bagi yang sesat jalan, sumber fatwa, dan sosok panutan yang jadi keteladanan umat. Mereka justru banyak yang berlaku zalim, dengan imbalan murah mereka telah memutarbalik ayat-ayat Allah untuk mengabsahkan ‘pembenaran’ terhadap kebijakan penguasa. Mereka sibuk menumpuk kekayaan dan mengibarkan panji-panji kemasyhuran pribadi. Mereka membangun dinding-dinding kemunafikan untuk melindungi kepentingan pribadinya. Dan dari dalam dinding-dinding kemunafikannya itu mereka diam-diam sering membidikkan panah-panah fitnah beracun terhadap ulama lain yang berbeda kepentingan.”

“Sungguh, mereka semua telah bersekongkol dalam kejahatan menjijikkan. Mereka telah menjadi pengkhianat citra Ilahi yang tersembunyi di balik Asma’, Shifat, danAf’al Zat Yang Maha Merajai (al-Malik al-Mulki) dan Maha Mengetahui (al-‘Alim) segala sesuatu. Seluruh penduduk negeri pun sudah mafhum bahwa nilai kebenaran, kekuasaan, kesetiaan, kehormatan, dan kemuliaan di negeri ini ditentukan oleh kepintaran menjilat dan menyuap. Jika ada di antara penduduk yang berkata bahwa dia masih melihat orang-orang bersembahyang di masjid-masjid, maka aku katakan bahwa bagi mereka yang memiliki mata batin akan menyaksikan betapa sebagian besar di antara mereka yang bersembahyang itu sejatinya tanpa membawa iman. Betapa banyak di antara mereka seusai sembahyang menjadi perampok, penggarong, pencuri, perampas, penyiksa, dan pembunuh. Betapa banyak di antara orang-orang yang bersembahyang itu lebih cocok disebut kaum beragama yang tidak beriman. Akankah Tuhan tidak mengetahui kemunafikan makhluk-makhluk terkutuk itu? Akankah Tuhan membiarkan makhluk-makhluk terkutuk itu mengkhianati dan menista citra keagungan Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya?”

“Sesungguhnya para pengkhianat Tuhan itu sama bejatnya dengan pelacur, tetapi kedudukan mereka jauh lebih rendah dan nista. Kenapa aku katakan para hakim pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati al-Hakim, al-Hakam, al-‘Adl, al-Haqq, al-Hadi, al-Hasib, al-Waly, al-Malik al-Mulki, al-‘Alim, dan al-Karim itu lebih rendah dan lebih nista dibanding pelacur? Sebab, pelacur adalah manusia-manusia yang mengkhianati citra ar-rahim, yang diambil dari nama-Nya, yaitu ar-Rahim (hadits Qudsy: ar-rahim syaqaqtu laha asma’an min ismi). Para pelacur telah berkhianat karena memperdagangkan citra ar-Rahim dengan harga murah. Tetapi aku katakan, kedudukan para pelacur jauh lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi yang mereka wakili.”

“Jika engkau bertanya kenapa aku menempatkan kedudukan pelacur lebih tinggi dibanding hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi? Maka aku katakan, kedudukan pelacur memang lebih tinggi daripada mereka. Sebab di mana pun pelacur-pelacur berada, mereka selalu sadar akan kedudukannya yang rendah dan nista di mata manusia dan dalam pandangan Tuhan. Pelacur-pelacur selalu sadar bahwa mereka adalah orang kotor yang berlumur dosa. Tetapi para hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Ilahi justru menganggap diri mereka mulia dan terhormat di hadapan manusia dan Tuhan. Sungguh muak aku melihat mereka. Muak. Muak. Seribu kali muak. Lantaran itu, jika hukuman Allah untuk para penzina yang menista citra ar-Rahim adalah rajam maka hukuman apakah yang paling layak untuk hakim, pejabat negeri, dan ulama yang mengkhianati citra Tuhannya? Salahkah aku jika mengatakan bahwa negeri Malaka yang penuh diliputi kebusukan oleh tindakan penduduknya itu sejatinya sedang terancam lecutan cambuk Tuhan yang tak terbayangkan pedihnya?”

“Aku paham tentang apa yang engkau ucapkan, o Saudaraku,” kata Datuk Musa. “Tetapi, apa yang akan aku lakukan di pedalaman? Bukankah aku ini seorang saudagar, bukan guru agama yang zuhud?”

“Aku tidak menyarankan engkau hijrah dari bandar Malaka untuk menjadi pertapa. Aku juga tidak menyarankan engkau tinggal sangat jauh dari Malaka. Aku hanya menyarankan engkau berhijrah dengan keluargamu dari bandar Malaka dengan tujuan utama menghindari kuatnya pengaruh kebendaan dan sekaligus membangun benteng Tauhid baru di pedalaman. Aku tahu, ini sangat berat bagi saudagar besar sepertimu yang selama ini terseret pusaran benda-benda dan uang dengan hitungan untung dan rugi. Tetapi, aku yakin engkau akan mampu menjadi guru agama penegak Tauhid,” kata Abdul Jalil.

“Terus terang, itu yang aku susah laksanakan,” Datuk Musa menarik napas berat. “Sebagaimana engkau tahu, sejak muda aku sudah bergelut dengan dunia perniagaan. Bagaimana mungkin aku menjadi guru agama? Bagaimana mungkin aku yang terbiasa di kota besar harus tinggal di pedalaman yang sepi? Di samping itu, bekal apa yang aku punyai untuk menjadi guru agama?”

“Tidakkah engkau sudah paham dengan kehidupan Rasulullah Saw.? bukankah dia awalnya juga seorang saudagar? Jika Rasulullah Saw. yang dikenal sebagai saudagar bisa menjadi pengajar Tauhid termasyhur sepanjang zaman, apakah suatu hal mustahil jika engkau sebagai keturunannya mengikuti jejaknya? Bukankah dia tidak pernah memiliki pengalaman menjadi guru agama?” kata Abdul Jalil.

“Rasulullah Saw. memang sudah dipilih Allah untuk menjalankan risalah-Nya. Tapi aku? Siapakah aku ini? Bisa apa akku dalam hal agama?” Datuk Musa berkelit.

“Rasulullah Saw. adalah seorang ummi, yang tidak bisa membaca dan menulis. Dia tidak pernah belajar pengetahuan agama dari siapa pun. Dia tidak pernah kenal agama-agama besar. Bahkan saat pertama kali bertemu Jibril a.s., dia tidak mengetahui jika Jibril adalah malaikat utusan Allah. Dia benar-benar tidak memiliki pengetahuan apa-apa yang bisa dijadikan pijakan untuk menyampaikan risalah Ilahi. Tetapi, dia dengan segala keterbatasannya bersedia meninggalkan perniagaan demi perjuangan menegakkan Tauhid. Dia rela meninggalkan tanah kelahirannya demi menyampaikan risalah Ilahi. Dia rela kehilangan semua harta kekayaannya demi tersiarnya ajaran suci pembimbing manusia ke jalan Tauhid. Sementara engkau? Bukankah sejak kecil engkau sudah dididik dalam lingkungan agama yang ketat? Bukankah pengetahuan tentang agama jauh lebih luas dan mendalam dibanding kawan-kawanmu sesama saudagar? Bukankah sebagai murid ruhani Syaikh Dara Putih, masalah Tauhid bukan sesuatu yang asing bagimu?”

“Sesungguhnya, menurut penilaianku, engkau adalah laki-laki yang takut dengan bayangan angan-anganmu sendiri yang memanjang dalam kegelapan alam pikiranmu. Engkau takut berkata benar di tengah dunia perniagaan yang penuh kecurangan dan kelicikan. Sebab, dengan berkata benar maka bayangan angan-anganmu akan mengatakan bahwa engkau akan kehilangan sekian banyak keuntungan dan malah akan terputus dari hubungan dengan saudagar lain. Engkau bahkan sangat takut oleh bayangan angan-anganmu tentang keberadaan dirimu yang akan ditertawakan para saudagar ketika berkata benar dalam berniaga. Bayangan angan-angan yang engkau takuti itu, o Saudaraku, pernah dialami oleh Nabi Yunus a.s. saat diperintah Allah berdakwah di negeri Niniveh. Apakah engkau ingin mengalami nasib seperti Nabi Yunus yang ditelan ikan raksasa karena ingin menghindari perintah?” tanya Abdul Jalil.

Datuk Musa menarik napas panjang berulang-ulang. Dia mengakui dalam hati bahwa kesadarannya saat itu memang sedang diaduk-aduk oleh bayangan angan-angan yang menakutkan yang memanjang dan melingkar-lingkar dari alam pikirannya sendiri. Setelah merenung-renung beberapa jenak, ia mengembuskan napas sambil berkata, “Jika harus hijrah meninggalkan bandar Malaka, aku pikir itu bukan sesuatu yang susah bagiku. Tetapi, apa yang bisa aku lakukan di luar Malaka? Aku tidak memiliki kemampuan apa-apa untuk menjadi guru agama.”

“Engkau boleh berkilah dengan macam-macam alasan, o Saudaraku. Tetapi bagi mereka yang memiliki penglihatan batin, tidak akan syak lagi bahwa engkau sejatinya telah menduduki maqam cukup tinggi dalam dunia ruhani. Untuk itu, aku berani memintakan kepada Syaikh Dara Putih, mursyid panutanmu, agar dia berkenan mengangkatmu sebagai khalifahnya. Sebab menurut penilaianku, engkau sudah layak menduduki jabatan khalifah Tarekat Kubrawiyyah. Bukankah demikian, Tuan Syaikh?” tanya Abdul Jalil memandang Syaikh Dara Putih.

Syaikh Dara Putih mengangguk dan berkata, “Sesungguhnya, sudah cukup lama aku akan membicarakan hal ini kepadanya, Tuan Syaikh. Tetapi aku khawatir timbul fitnah bahwa aku memiliki pamrih pribadi. Maklum, tidak semua orang di negeri ini memiliki kearifan seperti Tuan Syaikh.”

“Ya, kami paham dengan kekhawatiran Tuan,” kata Abdul Jalil mengalihkan pandangan ke arah Datuk Musa. “Lantaran itu, sebagai batu ujian pertama bagi engkau, o Saudaraku, cepat-cepatlah engkau hijrah ke pedalaman. Biarlah rumah kediamanmu yang megah ini dijadikan tempat oleh Syaikh Dara Putih untuk mengajarkan Tauhid di kota yang terancam murka Tuhan ini. Engkau tidak perlu menaruh curiga bahwa dia akan menjadikan rumah ini sebagai miliknya pribadi.”

“O tidak, Saudaraku,” tukas Datuk Musa tergagap, “Aku justru akan mengamanatkan rumah ini kepada guruku untuk dijadikan tempat pengajar Tauhid yang utama. Tetapi, aku sendiri belum tahu apa yang harus aku lakukan jika tinggal di pedalaman.”

“Engkau hendaknya menjadi pengajar Tauhid di tempatmu yang baru. Maksudku, sudah waktunya engkau menjadi khalifah tarekat yang mengajarkan Tarekat Kubrawiyyah kepada masyarakat. Mudah-mudahan dengan semakin banyak orang mengajar tarekat maka nilai-nilai Tauhid akan tegak di negeri ini,” kata Abdul Jalil.

Datuk Musa termangu-mangu. Dia merasakan ada sesuatu yang disentakkan keras dari dadanya sehingga dia merasa kehilangan sesuatu dari dadanya. Ia merasakan semacam kekosongan menguasai jiwanya. Sejenak kemudian dia bertanya, “Kenapa engkau sangat yakin jika Malaka bakal dilecut cambuk Tuhan, o Saudaraku? Apakah menurutmu negeri Jawa tidak akan terkena lecutan cambuk Tuhan?”

“Semua negeri sesungguhnya selalu diintai oleh murka Tuhan. Tidak terkecuali negeri Jawa, sewaktu-waktu akan luluh-lantak dilecut cambuk-Nya jika penduduknya telah menyeleweng dari Tauhid. Jika aku berani berkata bahwa Malaka akan dilecut cambuk Tuhan, itu bukan mengada-ada. Sebab, telah aku saksikan dengan mata indriawi dan mata batinku, betapa para penguasa dan ulama di negeri ini beserta kaki tangannya telah memberhalakan pangkat, jabatan, kekuasaan, kekayaan, kemasyhuran. Mereka sibuk berselisih merebut kedudukan duniawi seolah-olah kehidupan di dunia ini langgeng. Fitnah pun bergentayangan seperti hantu.”

“Suka atau tidak suka, kebenaran harus diungkapkan. Sesungguhnya, aku dan engkau telah tahu bahwa kebanyakan orang di bandar Malaka ini telah menjadi buta mata hatinya, tuli telinga jiwanya, dan kelu lidah ruhaninya akibat terseret nafsu rendah duniawi. Dengan pandangan mata batin, kita akan menyaksikan bahwa jiwa mereka adalah jiwa lintah darat, buaya darat, serigala licik, musang penipu, dan burung nazar pemakan bangkai. Dengan keganasan menakjubkan, kita telah menyaksikan bagaimana mereka memangsa sesamanya. Sungguh menjijikkan mereka itu bagiku. Jijik aku. Seribu kali jijik.”

“Jika engkau bertanya tentang kemungkinan negeri Jawa akan dihajar cambuk Tuhan, maka aku katakan bahwa hal itu tidak akan terjadi selama pemimpin-pemimpin di sana menjalankan tugas dengan baik. Ketahuilah, o Saudaraku, di Jawa sudah terbentuk suatu tatanan pemerintahan yang berasaskan Tauhid. Di Jawa sekarang ini selain terdapat sultan sebagai pemimpin persekutuan raja-raja, juga terdapat sebuah Majelis Guru Suci (syura al-masyayikh) yang beranggotakan para pemimpin ruhani yang disebut Wali Songo. Majelis itu anggotanya terdiri atas para guru suci tarekat-tarekat. Mereka memiliki peran dan tugas utama mengatur kehidupan penduduk dalam hal Tauhid. Majelis itu mempersatukan dan sekaligus menjadi naungan ruhani bagi kadipaten-kadipaten di Nusa Jawa. Majelis berkewajiban menegakkan akidah dan akhlak bagi seluruh penduduk negeri. Mereka memiliki tugas utama menyusun rancangan dakwa untuk mentauhidkan penduduk dan menyerahkan rancangan tersebut kepada sultan untuk dilaksanakan. Majelis memiliki kewenangan untuk melantik sultan yang merupakan pemimpin tertinggi dari persekutuan raja-raja di Nusa Jawa. Majelis berhak mengontrol tindakan sultan dan raja-raja di Jawa yang berkaitan dengan pelaksanaan agama. Majelis juga berhak menolak pelantikan sultan yang dinilai kurang mampu atau kurang sesuai menurut ketentuan agama.”

“Dengan tatanan baru yang diterapkan di Jawa itu, tugas utama seorang sultan, di samping mengatur pemerintahan, adalah menjalankan rancangan Majelis Wali Songo untuk mentauhidkan seluruh penduduk negeri. Sebab, dengan bertauhidnya penduduk sebuah negeri hingga kebanyakan di antara mereka itu menduduki martabat orang-orang yang takwa (qaum al-muttaqin), dipastikan Allah akan melimpahkan keberkahan dari langit dan bumi (QS. al-A’raf: 96) sehingga masalah keamanan, ketentraman, kedamaian, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan akan datang dengan sendirinya. Dengan demikian, selama Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Nusa Jawa setia menjalankan tugas masing-masing, pastilah negeri Jawa akan terhindar dari lecutan cambuk Tuhan yang pedih.”

“Sejauh ini aku menyaksikan sendiri betapa Majelis Wali Songo, sultan, dan raja-raja di Jawa telah menjalankan tugasnya dengan baik. Pengajaran Tauhid berlangsung ramai di Nusa Jawa. Lantaran itu, aku yakin negeri Jawa tidak akan dilecut oleh cambuk Tuhan. Aku yakin Portugis tidak akan bisa menginjakkan kaki di Nusa Jawa. Sementara di Malaka, di mana sultan dan bendahara raja sibuk berebut kuasa, akidah penduduk menjadi sangat merosot karena para ulama ikut terlibat dalam perebutan itu. Dan sebagaimana yang sudah kita saksikan bersama, setiap orang mengetahui bagaimana di Malaka ini hukum peradilan diperjualbelikan dengan murah, peraturan niaga dipermainkan di tengah suap, keadilan dijungkirbalikkan oleh penawar tertinggi, fatwa palsu yang memutar-balik ayat Ilahi, dan riba yang mencekik tersebar merata di mana-mana. Kebenaran sudah tersilap oleh bayangan hitam benda-benda, kaum beragama saling bunuh, fitnah merajalela, kecurangan menyelinap di segenap penjuru, kejahatan menggumpal laksana awan yang siap menurunkan hujan. Akankah keberkahan Ilahi melimpahi negeri ini?” kata Abdul Jalil.

“Aku paham,” kata Datuk Musa. “Aku berencana akan membuka pemukiman baru di dekat Sepang, kampung halaman istriku. Tetapi daerah itu terkenal sangat angker. Aku tidak memiliki pengetahuan sedikit pun untuk membuka daerah-daerah gawat semacam itu.”

“Biarlah Raden Sahid tinggal beberapa waktu untuk membantumu membuka daerah-daerah baru. Dia sudah bertahun-tahun bersamaku membuka daerah-daerah baru di Jawa. Aku kira, engkau cukup membuka empat tempat di sekitar Malaka,” kata Abdul Jalil.

“Empat tempat?” seru Datuk Musa heran.

“Ya, di tempat yang memiliki kaitan dengan perlambang tanah merah, kuning, putih, dan hitam.”

“Kenapa harus empat? Kenapa harus merah, kuning, putih, dan hitam?” Datuk Musa belum paham.

“Sebab, jasadmu terbentuk dari tanah yang melambangkan empat jenis nafsu: Lawwammah adalah anasir tanah berwarna hitam, Sufliyyah adalah anasir air berwarna kuning, Ammarah adalah anasir api berwarna merah, dan Muthma’innah adalah anasir angin berwarna putih. Keempat jenis nafsu itu harus dipancari oleh cahaya ruh yang memancar dari-Nya, yaitu Ruh al-Idhafi, Ruh al-Haqq, dan al-Haqq. Tanpa dipancari cahaya Kebenaran dari al-Haqq maka manusia akan tinggal dalam kesesatan karena hidupnya dikuasai nafsu-nafsunya yang gelap.”