Taj dan Khirqah Sufi

“Kalau menurut Paman sendiri, bagaimana sesungguhnya orang-orang Portugis itu?” tanya Syarif Hidayatullah denga benak masih dikuasai kecurigaan akibat cerita-cerita yang didapatnya dari orang-orang Maghribi, “Seberapa berbahayanya mereka itu bagi kita?”

“Dipandang dari mata indriawi, keberadaan orang-orang Portugis itu sungguh menakjubkan: perawakannya tinggi, besar, tegap, gagah, berkulit putih, berhidung mancung, bermata biru, berambut emas, berkumis dan berjanggut lebat, kalau berbicara suaranya keras seperti petir, semangatnya tinggi, dan tegas dalam bersikap. Ditinjau dari sisi kepribadian berdasar pikiran yang jernih diterangi burhan, mereka tidaklah berbeda dengan bangsa lain: ada yang baik dan ada pula yang tidak baik. Ada yang ramah dan ada pula yang tidak ramah. Ada yang cerdas, tapi banyak pula yang bebal. Ada yang dermawan, tetapi banyak pula yang kikir. Ada yang suka bercanda, tetapi banyak pula yang pemarah. Tapi kalau kita melihat mereka dengan pandangan mata batin maka kita akan menyaksikan mereka tidak lebih dari manusia-manusia yang menyedihkan keadaan jiwanya, karena kalbunya tertutup hijab keakuan (rayn) yang tebal dan berkarat. Mereka adalah manusia-manusia yang terhijab dari Kebenaran karena ruhani mereka tidak berkembang dewasa, sebaliknya tetap kerdil karena terperangkap oleh jiwa anak-anak (al-ghulam an-nafsiyyah) yang cenderung terseret lamunan kosong (al-umniyyah) dan angan-angan kosong (al-wahm). Di dalam perangkap jiwa anak-anaknya itu, mereka membayangkan diri secara berlebihan (thaghut) di tengah semakin kuatnya al-umniyyah dan al-wahm yang bakal memerosokkan mereka ke sumur khayalan nirwujud (al-mumtani’) tak berdasar, yang dipadati kabut keakuan yang tebal dan membutakan,” kata Abdul Jalil.

“Menyedihkan sekali mereka itu,” ujar Syarif Hidayatullah menggeleng-geleng dan mendecakkan mulut.

“Ya, begitulah mereka. Hampir semua pelaut Portugis yang kuajak bicara selalu berkhayal tentang kemuliaan diri mereka sebagai prajurit-prajurit tuhan yang gagah perkasa, agung, mulia, dan suci. Mereka semua merasa memiliki kewenangan untuk membinasakan orang-orang kafir dan menghukum pelaku bid’ah dalam agama. Mereka merasa ini dan itu yang terkait dengan kehebatan diri sebagai pejuang tuhan. Tetapi, di balik pengakuan sepihak berdasar khayalan itu, mereka sedikit pun tidak mencerminkan citra diri sebagai prajurit-prajurit tuhan yang agung, suci, dan mulia. Sebaliknya, mereka justru mencerminkan citra diri sahabat setan: dekil, jarang mandi, tidak kenal siwak, boros, suka membual, selalu mabuk, akrab dengan perzinahan, takabur, tamak, kejam, gampang membunuh, dan tidak mengorangkan orang.”

“Kami memahami perilaku orang-orang yang terhijab dari Kebenaran memang seperti itu. Tetapi dari uraian Paman tadi, pangkal keterperangkapan mereka ke dalam khayalan nirwujud (al-mumtani’) itu berawal dari jiwa anak-anak yang memerangkap mereka. Apakah sesungguhnya yang Paman maksud dengan jiwa anak-anak itu? Kenapa mereka bisa terjerat oleh jiwa itu?” tanya Syarif Hidayatullah minta penegasan.

“Jiwa anak-anak, al-ghulam an-nafsiyyah, adalah jiwa yang ditandai kecenderungan untuk memandang sesuatu berdasar ukuran anak-anak, yaitu menyenangkan dan tidak menyenangkan. Berdasar ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan itulah jiwa anak-anak itu mengukur nilai baik dan buruk, halal dan haram, benar dan salah, untung dan rugi, berat dan ringan, kalah dan menang, pantas dan tidak pantas, mudah dan sulit, lurus dan bengkok. Engkau bisa membayangkan sendiri apa jadinya tatanan kehidupan suatu kaum jika sebagian besar di antara mereka itu mendasarkan nilai-nilainya pada ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan,” kata Abdul Jalil.

“Tentu akan terjadi perpecahan dan kekisruhan karena semua orang cenderung memilih yang menyenangkan nafsunya,” kata Syarif Hidayatullah.

“Tapi, yang tidak kalah berbahaya dari jiwa anak-anak adalah kecenderungan untuk menyeret kesadaran manusia ke lingkaran setan yang penuh dipadati pintalan al-umniyyah dan lembaran al-wahm, yang dihiasi corak dan gambar al-mumtani’, di mana ujungnya padat, pejal, dangkal, bendawi, dan menjerat keakuan. Nah, dengan jiwa anak-anak itulah orang-orang Portugis yang pernah kuajak berbicara itu memaknai segala sesuatu. Mereka selalu menggunakan ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan. Mereka dengan kekanak-kanakan memaknai nilai Kebenaran agama, begini: ‘Kebenaran adalah sesuatu yang menyenangkan, menguntungkan, membebaskan, mengasihi, mengampuni, dan melimpahi manusia tanpa batas. Lantaran itu, kami tidak mau menyembah Tuhan yang tidak menyenangkan, tidak menguntungkan, tidak membebaskan, tidak mengasihi, tidak mengampuni, tidak mau berkorban, dan tidak melimpahi kami dengan macam-macam kenikmatan. Kami menampik tuhan yang ganas, suka mengancam, suka menyiksa, dan selalu membebani manusia dengan aturan-aturan berat.”

“Lantaran mereka berpandangan kekanak-kanakan seperti itu maka saat memperbincangkan masalah Kebenaran agama, aku dan kakekmu mereka jadikan bahan tertawaan. Mereka menilai kami sebagai orang-orang konyol karena telah bertindak bodoh, mengikuti agama yang keras, kejam, memberatkan, dan menyengsarakan manusia. Mereka menertawakan kebodohan kami yang mau saja menjalankan ibadah berat dan menyengsarakan seperti berpuasa sebulan penuh, berkhitan memotong kulup kemaluan, bersembahyang lima kali sehari, berzakat membuang harta, berkurban menyembelih domba, berhaji dengan biaya sangat mahal dan risiko bahaya tinggi, tidak boleh minum anggur yang memabukkan, dilarang makan babi, dilarang melacur, dilarang membungakan uang, dilarang ini dan itu, yang semua larangan itu sebenarnya nikmat dan lezat.”

“Penilaian miring itu ternyata tidak hanya ditujukan kepada kami, orang yang berbeda agama. Pendeta-pendeta mereka sendiri pun mereka nilai sebagai kumpulan orang malas, bodoh, dan rakus. Tanpa rasa hormat sedikit pun mereka memberi sebutan-sebutan merendahkan kepada pendeta-pendeta mereka seperti ‘si tambun rakus’, ‘pencuri berkedok rahib’, atau ‘si rakus penimbun’. Bahkan tanpa rasa malu, mereka sambil tertawa-tawa mengaku hampir tidak pernah bersembahyang ke gereja.”

“Aneh sekali mereka itu?”

“Itulah yang aku katakan bahwa mereka adalah manusia-manusia terhijab yang terperangkap jiwa anak-anak, yaitu orang dewasa yang cenderung menilai segala sesuatu berdasar ukuran menyenangkan dan tidak menyenangkan. Mereka boleh kita golongkan sebagai orang-orang beragama yang tidak beriman sebab mereka menjadikan agama tidak lebih hanya sebagai adat istiadat kepantasan atau identitas kaum saja. Tapi, dengan ceritaku ini, engkau jangan terburu menilai semua orang Portugis berjiwa anak-anak. Sebab, yang aku ajak berbicara di Bharatnagari adalah pelaut-pelaut Portugis yang dekil, kasar, kejam, pongah, gemar mengumbar kesyahwatan, pemuja benda-benda, pendamba kelezatan duniawi, dan mengkhayal dalam keyakinan. Aku belum berkenalan dengan pendeta dan ruhaniwan mereka. Aku mengira, pendeta dan ruhaniwan mereka mestinya berbeda dengan pelaut-pelaut dekil itu,” kata Abdul Jalil.

“Jika pelaut-pelaut Portugis yang datang ke Bharatnagari seperti itu gambarannya, berarti kabar langit yang pernah disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan tentang serigala dan musang yang keluar dari bulu burung gagak, sekarang ini sudah menampakkan bayangannya, Paman?”

“Engkau bebas menafsirkan kabar langit itu, o Anakku. Tetapi, ada satu hal yang wajib engkau ingat tentang sesuatu yang terkait denga kabar langit.”

“Apa itu, Paman?”

“Pertama-tama, kabar langit tidak pernah ditujukan kepada satu bangsa tertentu. Perlambang kawanan serigala dan musang bisa menunjuk pada bangsa mana saja yang memenuhi syarat di mana kabar tersebut tergenapi. Singkatnya, kawanan serigala dan musang itu bisa muncul pada bangsa mana pun di dunia.”

“Apakah mungkin kawanan serigala dan musang muncul dari antara bangsa-bangsa di negeri Timur?”

“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, o Anakku,” kata Abdul Jalil menegaskan, “Tetapi ada satu hal yang patut engkau jadikan pedoman dalam memaknai kabar langit yang disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan, yang sasmita gaibnya telah aku tangkap dengan makna yang lebih tegas.”

“Kami akan mempusakakan petunjuk Paman.”

“Sesungguhnya, di balik perlambang munculnya kawanan serigala dan musang dari balik bulu burung gagak, terselip makna hakiki yang mengabarkan tentang bakal munculnya kawanan manusia berekor, manusia-manusia sudra papa pengumpul benda-benda duniawi, pendamba kelezatan dunia, pemuja setia nafsu rendah badani, penyembah ibunda Bhumi, Sang Prthiwi, yang tersamar. Mereka akan bermunculan ke permukaan bumi dengan jumlah tak terhitung, laksana daun-daun di hutan yang berguguran ke atas tanah. Mereka dengan semangat mencintai bumi yang berkobar-kobar akan mendatangi negeri-negeri makmur dan menaklukkan bangsa-bangsa penghuninya untuk dijadikan budak. Mereka, sebagaimana para penguasa Ksetra pemuja Sang Prthiwi, akan menggunakan gelar kebesaran: Wisesa Dharani (Sansekerta: Penguasa Bhumi). Lalu, dengan gelar itu mereka akan menempatkan diri sebagai penguasa yang berwenang menguasai dan mengatur seluruh tatanan kehidupan negeri-negeri yang sudah mereka taklukkan.”

“Waspadalah terhadap mereka. Sebab, sebagai pengumpul benda-benda duniawi, pemuja bumi, pengumbar nafsu rendah badani, pendamba kelezatan duniawi, penyembah Prthiwi, mereka adalah manusia-manusia berekor pemuja bumi sejati. Maknanya, sebagai pemuja bumi sejati, manusia-manusia berekor itu akan menampik semua ajaran agama yang bersifat ukhrawi karena tidak berkaitan dengan bumi. Bagi mereka, kebenaran hanyalah sesuatu yang terkait dengan bumi. Sehingga, segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan bumi apalagi tidak bisa dinikmati di bumi ini akan mereka tampik sebagai kebohongan besar. Namun demikian, hendaknya engkau selalu waspada karena manusia-manusia berekor itu dalam usahanya merampok, menjarah, merampas, dan menguasai negeri-negeri dan bangsa-bangsa di bumi hampir selalu mengibarkan bendera agama-agama untuk mengecoh manusia yang kurang waspada.”

“Waspadalah terhadap mereka. Sebab, sebagai pemuja Sang Bhumi yang tersamar, mereka itu sejatinya masih setia melakukan upacara korban manusia untuk santapan Sang Bhumi beserta para bhuta pengikutnya. Tetapi, berbeda dengan tata cara pengorbanan lama yang mensyaratkan orang-orang sukerta sebagai bebanten untuk bhuta, mereka menetapkan syarat bagi orang-orang yang bakal dikorbankan untuk bebanten itu begini: orang-orang yang berani melawan penguasa bumi, orang-orang yang berani meminta haknya atas tanah, orang-orang yang berusaha beroleh kelimpahan hasil kemakmuran bumi, orang-orang yang berjuang membebaskan diri dari kekuasaan penguasa bumi, orang-orang yang berusaha memegahkan diri menjadi penguasa bumi seperti mereka. Korban persembahan yang dilakukan para pemuja Sang Bhumi yang tersamar itu tidaklah disembelih di ksetra-ksetra, melainkan di jalan-jalan, kerangkeng bawah tanah, tempat-tempat peradilan, dan medan perang, bahkan jumlahnya jauh lebih besar dibanding korban serupa di masa silam.”

“Sungguh mengerikan tanda-tanda kemunculan manusia-manusia berekor pemuja Sang Bhumi yang tersamar itu. Apakah ikhtiar untuk menghindari tengara mengerikan itu, Paman?”

“Ketahuilah, o Anakku, bahwa kabar langit yang disampaikan Syaikh Ibrahim al-Uryan dan telah aku tangkap sasmita di baliknya itu pada hakikatnya adalah ketetapan Sang Penentu (al-Muqtadir) yang sudah ditulis dengan Pena Mulia (al-qalam al-‘ala) pada Lembaran Terjaga (al-Lauh al-Mahfuzh). Itu berarti, tidak ada satu pun makhluk yang bisa mengubah ketentuan-Nya itu. Kita, manusia, hanya bisa pasrah kepada-Nya dan berharap bagaimana kita bisa terhindar dari pengaruh jahat makhluk ciptaan-Nya. Dan khusus untuk menghindari pengaruh jahat kawanan pemuja Sang Bhumi itu, hendaknya kita memohon kepada-Nya dengan do’a yang diajarkan Rasulullah Saw.: Allahumma inni ‘audzubika min ‘adzabi jahannam wa min ‘adzabi qabri wa min fitnah al-mahya wa al mamati wa min fitnah al-masihi ad-dajjal.”

Seperti tidak peduli dengan keadaan genting yang mengintai Caruban, malam itu Abdul Jalil menyampaikan pelajaran khusus tentang intisari Tauhid dan sekaligus memberikan ijasah berupa taj dan khirqah sufi kepada Syarif Hidayatullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Raden Qasim. Dengan suara lain, ia menjelaskan tentang tiga pusaka lambang kemuliaan kaum sufi itu, “Sesungguhnya, aku tidak memiliki apa-apa yang tersisa kecuali tiga benda lambang kemuliaan para sufi. Yang pertama adalah taj, mahkota sufi, yang aku peroleh dari sahabatku Syaikh Jumad al-Kubra. Taj ini adalah pemberian dari mursyid Tarekat Kubrawiyyah Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi yang khusus diberikan kepadaku melalui Syaikh Jumad al-Kubra. Yang kedua adalah taj dan khirqah (jubah sufi bertambal-tambal) yang aku peroleh dari guru ruhaniku, Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati, mursyid Tarekat Syattariyyah di Gujarat. Beberapa waktu sebelum ia wafat, ia menitipkan taj dan khirqah itu kepada mertuaku untuk disampaikan kepadaku jika sewaktu-waktu aku kembali ke Gujarat.”

“Bagi orang awam yang cenderung melihat sesuatu dari bentuk luar, taj dan khirqah sufi tidak lebih dari kain lap yang tidak berharga. Tetapi, bagi yang memahami jalan sufi, taj dan khirqah sufi adalah lambang kemuliaan dan keluhuran. Khirqah biasanya diberikan mursyid kepada salik yang menjalani tarekat atau telah menyelesaikan jalan ruhani (suluk). Sedang taj diberikan kepada salik atau sufi lain sebagai penghormatan khusus. Tetapi, bagiku, taj yang terbaik adalah memahkotai diri dengan Kepasrahan (al-Islam) dan menenggelamkan keakuan diri pada tujuh samudera Kebenaran: al-Islam – Iman – ihsan – ‘ilm – al-yaqin – ‘ain al-yaqin – haqq al-yaqin – al-Islam; lillah – billah – ma’allah; inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un. Bagiku, khirqah terbaik adalah menyelubungi diri ke dalam liputan tujuh petala langit al-Wujud: nasut –mitsal – malakut – jabarut – lahut – hahut; lillah – billah – ma’allah; inna li Allaihi wa inna ilaihi raji’un.”

“Malam ini, taj pemberian mursyid Tarekat Kubrawiyyah Syaikh Sayyid Abdullah Barzisyabadi aku berikan kepada putera saudaraku, Raden Mahdum Ibrahim. Taj pemberian mursyid Tarekat Syattariyyag Syaikh Abdul Ghafur al-Gujarati aku berikan kepada Syarif Hidayatullah, cucu sahabatku, Usman Haji, Syaikh Abdul Malik Israil al-Gharnata. Khirqah aku berikan kepada putera saudaraku, Raden Qasim. Dengan taj dan khirqah ini, kalian bertiga telah beroleh ijasah yang sah dari Tarekat Kubrawiyyah dan Tarekat Syattariyyah. Tetapi, satu hal yang aku inginkan dari kalian dalam menyikapi keberadaan taj dan khirqah itu, yaitu tidak ada kewajiban bagi kalian untuk secara terang-terangan mengungkapkan jati diri sebagai mursyid Tarekat Kubrawiyyah dan Syattariyyah. Kalian boleh mengajarkan jalan ruhani dengan nama apa saja asalkan intisari ajarannya sama: Tauhid.”

“Sungguh, telah aku jelajahi negeri-negeri, telah aku kenal bangsa-bangsa, dan telah aku ketahui madzhab-madzab serta tarekat-tarekat termasyhur yang dianut manusia. Sungguh, telah aku saksikan bahwa runtuhnya keagungan dan keluhuran madzhab dan tarekat selalu diawali dari pemberhalaan nama. Orang-orang bodoh dan picik sering kedapatan memberhalakan madzhabnya dan melakukan upacara korban darah dengan menyembelih saudara seiman yang berbeda madzhab dan tarekat. Sungguh, telah aku saksikan madzhab-madzhab agung dan luhur ‘disucikan’ oleh para penganutnya yang picik dengan darah dan kebencian. Sungguh, telah aku saksikan pula tarekat-tarekat yang suci dan mulia ‘disucikan’ oleh pengikut-pengikut picik dengan darah dan air mata. Orang-orang picik dan bebal, dengan pengetahuannya yang dangkal tentang jalan ruhani, banyak yang tidak mampu menangkap makna hakiki di balik nama sebuah tarekat. Mereka terpaku pada nama yang mereka jelmakan sebagai mahkota kesombongan dan jubah kejahatan. Mereka tanpa sadar telah terjerat ke dalam perangkap angan-angan kosong yang mereka tebar sendiri. Mereka telah menempatkan nama tarekat sebagai citra Kebenaran Hakiki. Dan ujung dari pemberhalaan nama tarekat itu adalah pemberhalaan nama mursyid.”

“Selama perjalananku mendatangi negeri-negeri, telah sering kudapati orang-orang picik dan jahil yang saling bertarung memperebutkan jabatan mursyid sebuah tarekat. Mereka itu picik karena cakrawala kesadaran nalarnya sudah tertutupi kabut khayal yang bergumpal-gumpal. Lalu, mereka menjadi jahil karena dengan kepicikan itu mereka memberhalakan nama tarekat. Mereka menganggap nama tarekat adalah sama dan sebangun dengan Kebenaran. Lantaran itu, menurut mereka, dengan menjadi mursyid suatu tarekat maka sama dengan menjadi satu-satunya ‘penuntun’ menuju Kebenaran. Nah, ujung dari pemberhalaan nama tarekat itu adalah pemberhalaan diri pribadi sang mursyid.”

“Sungguh memuakkan mereka itu bagiku. Dengan lidahnya yang bercabang, mereka tidak segan menghalalkan cara apa saja, termasuk menghalalkan darah saudara yang dianggap pesaing dalam memperebutkan nama. Dan, hasil dari pertarungan itu sering kali seperti ini: mereka yang muncul sebagai pemenang akan menempatkan diri sebagai mursyid, pengejawantahan Yang Maha Menunjuki (ar-Rasyid), pembimbing ruhani sempurna (kamil al-mukamil), satu-satunya penunjuk dan sekaligus penuntun suci menuju Kebenaran. Padahal, kalau dilihat dari sisi batiniah, mereka itu sejatinya hanyalah seorang mushtawif: sufi gadungan! Mursyid palsu!”

“Sungguh aku bersaksi bahwa mereka sejatinya adalah orang-orang yang berbahaya, karena membimbing banyak orang ke arah Kebenaran tanpa pengetahuan ruhani yang benar. Mereka ibarat orang-orang buta membawa obor yang diikuti orang-orang buta lain. Mereka berjalan saling berpegangan karena akan menuju tempat yang sangat jauh, yaitu negeri harapan tempat orang-orang buta dicelikkan matanya. Mereka akan berjalan melintasi tujuh lembah, tujuh hutan, tujuh gunung, tujuh jurang, tujuh gurun, tujuh benteng, tujuh samudera, tetapi sedikit pun mereka tidak mau bertanya kepada orang lain yang mereka jumpai di tengah perjalanan, karena mereka sangat yakin jika jalannyalah yang paling benar. Sungguh, musthawif sesat itu akan menyesatkan diri sendiri dan orang lain, seperti orang buta penunjuk jalan yang menyesatkan orang buta lainnya.”

“Untuk menghindari terjadinya pemberhalaan terhadap nama-nama tarekat yang berujung pada pemberhalaan mursyid, aku mengharap kepada guru-guru ruhani yang mempercayaiku untuk tidak terpaku pada salah satu nama tarekat. Itu sebabnya, guru-guru ruhani yang mengikuti jalanku menamai tarekat yang dipimpinnya dengan beragam nama: Akmaliyyah, Syattariyyah, Haqqmaliyyah, Khaliqiyyah, Kejawen, dan Sunda Wiwitan. Apa pun nama tarekat yang beragam itu, pada intinya semua terlarang memberhalakan nama masing-masing. Semua pengamal tarekat harus menghormati pengamal lain yang menempuh ‘jalan’ berbeda, sebagaimana Rasulullah Saw. Menghormati Uwaisy al-Qarny.”

“Aku beritahukan kepada kalian bertiga bahwa dengan beroleh taj dan khirqah ini, sesungguhnya tugas yang kalian pikul akan lebih berat. Sebab, kalian harus mentauhidkan berbagai adat istiadat dan kepercayaan jahil yang tumbuh semula maupun yang datang bergelombang-gelombang ke Nusa Jawa ini. Kalian harus berpacu dengan waktu untuk mengajarkan Tauhid kepada penduduk Nusa Jawa seluas-luasnya, sebelum kawanan serigala dan musang yang keluar dari bulu burung gagak datang dan menyerbu kediamanmu. Tugas utama kalian adalah meneruskan pembangunan benteng Tauhid yang dasar-dasarnya sudah dirintis oleh pejuang-pejuang Tauhid terdahulu. Kalian harus mengawal benteng itu dengan sebaik-baiknya sehingga saat datang waktunya, ketika kawanan serigala dan musang yang kelaparan menghampiri benteng yang kalian kawal, kalian tidak perlu syak dan ragu lagi menghadapi mereka, karena Yang Mahatunggal (al-Ahad), Penguasa Sejati benteng, akan melindungi benteng-Nya dan sekaligus menghalau makhluk-makhluk rendah yang mendekat dengan cara-Nya yang tak terpikirkan.”

“Aku beritahukan kepada kalian, kebanyakan runtuhnya benteng Tauhid bukanlah akibat serangan kawanan musuh dari luar. Sebaliknya, dinding-dinding benteng Tauhid sering kali dibongkar dan digali dari dalam oleh penghuni-penghuninya yang bodoh dan jahil. Lantaran itu, jagalah kebersihan benteng Tauhid yang kalian kawal. Jangan biarkan tikus-tikus tanah dan tikus-tikus air bersarang dan beranak-pinak di situ. Jangan biarkan retakan atau lubang menandai dinding benteng sehingga memungkinkan bagi hewan-hewan buas dari hutan dengan leluasa masuk ke dalam. Sebab, seekor saja di antara hewan-hewan buas itu masuk benteng maka inilah yang akan terjadi: dia akan menggigit penghuni benteng yang paling lemah. Mereka yang sudah terkena gigitan hatinya menjadi biru dan beku. Lalu mereka menjadi mayat-mayat , tubuh tak bernyawa, kerangka kosong tak berjiwa (ash-shuwar al-qa’imah) yang patuh terhadap semua perintah hewan buas.”

“Jika sebagian penghuni benteng Tauhid sudah menjadi mayat-mayat, tubuh-tubuh tak bernyawa, kerangka kosong tak berjiwa yang berkeliaran menakut-nakuti manusia seperti kawanan hantu, maka kawanan serigala dan musang akan datang menyerbu benteng dengan dipimpin rajanya. Mayat-mayat di dalam benteng akan membukakan gerbang. Atau, meruntuhkan dinding benteng dari dalam. Atau, membuat kekisruhan di dalam benteng hingga para penghuninya lari ke luar. Atau, menjadi penunjuk jalan bagi kawanan serigala melalui terowongan-terowongan yang dibuat tikus-tikus. Jika para serigala dan musang sudah menguasai benteng maka para penghuni benteng yang masih hidup akan mereka mangsa dan sisanya akan mereka jadikan budak. Harta benda dan segala jenis makanan simpanan di dalam benteng akan mereka jarah dan mereka usung ke negeri serigala. Lalu benteng itu akan dirajai oleh raja serigala. Lalu peraturan hukum di dalam benteng pun diganti menjadi peraturan serigala. Lalu, manusia-manusia penghuni benteng akan hidup menderita berkepanjangan.”

“Jika sebuah benteng Tauhid sudah dirajai serigala dan diatur dengan hukum serigala, maka sudah tidak bergunalah benteng itu sebagai tempat berlindung bagi kaum beriman yang bertauhid. Sebab, benteng itu sudah tidak pantas lagi disebut benteng Tauhid, persemayaman Yang Mahabenar (al-Haqq), Yang Tunggal (al-Ahad), Pemilik Kemuliaan dan Kesucian (dzul jalali wa al-ikram) karena penguasa dan penghuninya tidak lagi menebarkan rahmat bagi alam tetapi malah menebarkan kerusakan dan malapetaka dan kesengsaraan bagi makhluk sekitarnya. Lantaran itu, Dia, Yang Mahakuasa (al-Muqtadir), Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Maha Meberi Bahaya (adh-Dharr), Yang Maha Meruntuhkan (al-Khafidh), Yang Maha Menghinakan (al-Mudzill), akan menghancurkan benteng celaka itu dengan cara mengirimkan makhluk-makhluk buas dan mengerikan. Makhluk-makhuk buas dan mengerikan itu akan bertarung dengan serigala-serigala dan musang-musang penguasa benteng. Di tengah pertarungan antarmakhluk buas itu, bertumbanganlah sisa-sisa manusia penghuni benteng seperti buah busuk berguguran dari pohon.”

Sebagaimana lazimnya mendengar wejangan ruhani seorang guru ruhani, Syarif Hidayatullah, Raden Mahdum Ibrahim, dan Raden Qasim tidak sedikit pun bertanya. Mereka hanya mendengar dan merenungkan makna dari ucapan-ucapan yang mereka dengar. Baru setelah Abdul Jalil usai menyampaikan wejangan, Syarif Hidayatullah bertanya tentang latar dianugerahinya mereka bertiga dengan taj dan khirqah sufi. Dengan suara menahan kegetiran dia bertanya, “Apakah Paman menganugerahi kami bertiga dengan taj dan khirqah ini dengan maksud agar kami pergi meninggalkan Caruban dan menjadi guru suci, susuhunan, di tempat yang jauh dari Caruban? Apakah itu berarti kami tidak perlu lagi melakukan perlawanan terhadap pasukan Galuh Pakuwan yang akan menyerbu kuta?”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara lain ia berkata, “Engkau masih belum melepaskan diri dari prasangka (zhan), o Anakku. Engkau masih dicekam oleh keraguan dalam menangkap sasmita Asma’, Af’al, dan Shifat-Nya karena keterlibatan akal pikiranmu yang kuat. Padahal, dengan bersabar menggunakan piranti kalbu, yang menjadi takhta bagi penglihatan batin, engkau akan bisa menangkap sasmita itu. Bukanlah selama ini engkau sudah terbiasa menggunakan penglihatan mata batin? Kenapa sekarang tiba-tiba terpejam kembali?”

“Maafkan kami, Paman. Kami bingung akibat datangnya kabar buruk yang bertubi-tubi dari medan tempur. Kami tercekam dengan akal dan pikiran kami sehingga melalikan kalbu kami,” kata Syarif Hidayatullah mengiba.

“Bukankah aku telah mengajarkan engkau tentang bagaimana dengan al-ism al-‘azham yang paling rahasia, dan pengetahuan rahasia tentang Shifat dan Af’al-Nya, kita, manusia, bisa memohon kepada Dia, Tuhan Yang Mahaperkasa (al-Jabbar), Yang Mahakuat (al-Qawiy), Yang Maha Melindungi, Yang Maha Membinasakan (al-Mumit), Yang Maha Menyiksa (al-Muntaqim), Yang Maha Memberi Bahaya (adh-Dharr), Yang Maha Meruntuhkan (al-Khafidh), untuk mengerahkan bala tentara-Nya (jundullah) yang gaib? Apakah engkau sudah melupakan itu semua?”

“Kami merasa bersalah, Paman. Kami bingung karena secara mendadak diserahi tugas menggantikan kedudukan ramanda khalifah. Dan tanpa kami sangka-sangka, tahu-tahu wilayah kami diserbu musuh dalam jumlah banyak. Sungguh, kami bingung dan sejauh ini kami hanya menggunakan naluri dan akal pikiran saja dalam memecahkan masalah.”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian dengan suara ditekan ia berkata lantang, “Sekarang kalian berdua, Syarif Hidayatullah dan Raden Qasim, berdoalah kepada-Nya dengan al-ism al-‘azham yang paling rahasia. Satukan kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya. Resapi kerahasiaan Shifat dan Af’al-Nya sampai kalian berdua merasakan kehadiran-Nya. Lalu, jika kalian sudah ‘sampai’, mintalah Dia agar mengirimkan bala tentara-Nya untuk memporak-porandakan pasukan Galuh Pakuwan.” Kemudian, dengan isyarah, ia mengajak Raden Mahdum Ibrahim meninggalkan Ndalem Pakungwati, menembus kegelapan malam yang diselimuti kabut tebal.