Bermula dari Kemenangan Tak Terduga

Awan putih berarak rendah di langit biru. Matahari bersinar terang di atas bukit-bukit yang membentang di kaki gunung Ciremai. Cahayanya yang kuning keperakan menyinari tanah basah berlumpur yang diguyur hujan semalaman. Di lereng gunung Gundul di sebuah hamparan tanah berumput alang-alang yang sudah diaduk-aduk dengan gumpalan tanah dan genangan air keruh, terbaring ribuan tubuh tak bernyawa terbalut lumpur dan dibasahi darah segar. Dilihat dari pakaian yang dikenakan dan panji-panji yang berserak di sekitarnya, tubuh-tubuh bergelimpangan tanpa nyawa itu adalah prajurit Galuh Pakuwan.

Suasana pagi itu, meski terang, terasa sangat mencekam. Sejauh mata memandang yang terlihat hanya tubuh-tubuh manusia tak bernyawa yang bergelimpangan di antara bangkai-bangkai kuda dan gajah, tombak-tombak patah, perisai-perisai belah, pedang-pedang bertindihan, anak-anak panah bertancapan, dan panji-panji yang berserakan penuh lumpur. Sejauh telinga menguping tidak terdengar kicau burung atau suara margasatwa di sekitar tempat itu. Satu-satunya suara yang terdengar adalah dengung beribu-ribu kawanan lalat yang beterbangan mengerumuni mayat-mayat dan bangkai-bangkai hewan yang berserak.

Di tengah suasana mencekam, di antara hamparan tanah lumpur yang teraduk-aduk, di sela-sela tubuh-tubuh manusia tak bernyawa dan bangkai-bangkai yang berserakan, Abdul Jalil dan Raden Mahdum Ibrahim berdiri termangu-mangu sambil sesekali memuji kebesaran Ilahi karena mereka menangkap ‘bekas jejak’ Sang Maut melingkupi tempat itu. Tapi belum lama mereka meresapi ‘bekas jejak’ Sang Maut yang mengerikan itu, tiba-tiba dari arah puncak gunung terlihat iring-iringan orang menuruni jalanan berlumpur yang terjal. Iring-iringan itu tidak lain dan tidak bukan adalah prajurit dan pejuang Caruban yang terluka. Jumlah mereka sekitar tiga puluh orang. Sebagian di antara mereka adalah penduduk Kalisapu, Jatimerta, Babadan, dan Muara. Di antara mereka terlihat Syaikh Duyuskhani, Abdul Karim Wang Tao, dan Ki Anggasura yang terluka agak parah.

Ketika para prajurit dan pejuang Caruban itu melihat Abdul Jalil, mereka tampak terkejut dan terperangah kebingungan. Mereka saling pandang. Lalu, seperti tidak peduli dengan luka yang diderita dan rasa sakit yang dirasakan, mereka berhamburan menghapiri Abdul Jalil sambil berteriak-teriak kegirangan seperti anak kecil. Mereka berebut menyalami dan mencium tangannya. Sebagian lagi merangkul kaki Abdul Jalil dengan isak tangis dan yang lain menarik-narik jubahnya atau mengusap kakinya. Abdul Jalil yang heran melihat tindakan mereka, dengan suara ditekan tinggi bertanya, “Ada apa ini? Apa sesungguhnya yang telah terjadi sampai kalian bertindak berlebihan seperti ini?”

Para prajurit dan pejuang Caruban yang mengerumuni Abdul Jalil diam. Satu pun tidak ada yang menjawab pertanyaannya. Sebaliknya, mereka malah bersujud beramai-ramai dan menangis terisak. Abdul Jalil yang terheran-heran melangkah ke depan mendekati Syaikh Duyuskhani sambil bertanya, “Apakah sesungguhnya yang telah terjadi, Tuan Syaikh? Kenapa mereka berlebihan seperti itu menyambut aku? Bukankah yang seharusnya dielu-elukan sebagai pahlawan adalah mereka?”

Syaikh Duyuskhani yang dipapah dua orang muridnya diam tak menjawab. Sejurus kemudian dia berkata, “Semalaman kami baru saja mengalami sebuah peristiwa yang sangat menggetarkan. Sebuah peristiwa ajaib yang tidak bakal kami lupakan seumur hidup.”

“Peristiwa ajaib apakah itu, o Tuan Syaikh?” tanya Abdul Jalil ingin tahu.

“Malam tadi, andaikata tidak terjadi keajaiban, kami semua tidak akan bertemu dengan Tuan Syaikh di sini,” papar Syaikh Duyuskhani menjelaskan peristiwa menggetarkan itu. Kemarin, sepanjang hari, langit terlihat redup dan suram, diliputi gumpalan awan hitam yang berdesak-desak dengan awan kelabu. Sejak pagi matahari tidak terlihat. Seperti redup dan suramnya langit itulah hati para prajurit dan pejuang Caruban. Sejak subuh, dengan perasaan tertekan, mereka menunggu datangnya badai pertempuran yang bakal melanda mereka. Perasaan mereka makin tertekan manakala di pagi yang suram itu terlihat lautan panji, bendera, umbul-umbul, dan tombak beriap-riap di lembah yang membentang di kaki selatan gunung Gundul, timbul tenggelam di tengah hamparan rumput alang-alang dan semak-belukar.

Sesungguhnya, perasaan tertekan itu bukan hanya dirasakan para prajurit dan pejuang Caruban. Para tetunggul Caruban pun diam-diam merasa tertekan luar biasa karena mereka harus bertempur tanpa didampingi pemimpin tertinggi yang mereka jadikan kiblat panutan: Sri Mangana. Jiwa mereka tertekan, keyakinan mereka goyah, dan semangat tempur mereka padam. Bahkan, tanpa sadar, tiba-tiba mereka semua merasakan semacam ketidakpedulian menjerat jiwa mereka, terutama akibat santernya kabar yang menyatakan bahwa Sri Mangana sebenarnya sudah tewas dibunuh menantunya. Mereka semua merasa tidak perlu lagi bertempur menghadapi musuh karena tidak ada lagi junjungan yang perlu mereka bela. Di tengah ketidakpedulian itu, mereka merasa seperti anak ayam kehilangan induk; anak ayam yang berciap-ciap dan berlari tak tentu arah mencari perlindungan saat diserang kawanan musang dan burung elang.

Di tengah suasana yang menekan itu, Angga, wali nagari Kuningan, manggalayudha Caruban, mengambil keputusan mengejutkan, yaitu menawarkan pertarungan antartetunggul. Pertempuran dua belah pihak yang hanya dilakukan oleh para tetunggul masing-masing tanpa melibatkan prajurit. Wali nagari Kuningan yakin, dalam pertarungan antartetunggul itu pihaknya akan meraih kemenangan karena memiliki pendekar-pendekar yang termasyhur kehebatannya di medan tempur. Tanpa syak sedikit pun ia percaya para tetunggul Caruban akan mudah mematahkan kehebatan tetunggul-tetunggung Galuh Pakuwan yang kebanyakan sangat mengandalkan ilmu kawedukan, ilmu karosan, pangerutan, dan pangabaran.

Dalam pertarungan itu, wali nagari Kuningan berhadapan dengan musuh lamanya, Adipati Kiban. Keduanya, adalah seteru lama yang saling berhasrat menghancurkan. Mereka bertarung sengit seperti harimau kelaparan dan banteng luka. Dalam sekejap, di tengah sorak-sorai prajuri kedua pihak, arena pertarungan berubah menjadi palagan menggetarkan. Serpihan tanah dan batu barhamburan di tengah kepulan debu yang bergumpal-gumpal. Kelebatan tubuh dan senjata beradu teraduk-aduk di tengah suara menggiriskan, seperti cangkul ditancapkan berulang-ulang pada tumpukan kerikil. Akibat sengitnya pertarungan, tanpa sadar keduanya telah berlaga keluar jauh dari arena. Beberapa puluh prajurit dari kedua pihak diperintah untuk mengikuti dan sekaligus mengawal dua orang manggalayuddha itu.

Selama menunggu akhir pertarungan wali nagari Kuningan dengan Adipati Kiban, Ki Anggasura maju ke tengah arena berhadapan dengan Ki Dipasara. Namun, jauh dari perhitungan wali nagari Kuningan, Ki Anggasura yang sejak awal sudah tertekan, semakin kehilangan semangat tempur dan ketrampilan bertarung sebelum tampil di palagan. Dalam dua tiga kali gebrakan, ia tumbang dengan luka tikaman di punggungnya. Ki Dipasara yang berada di atas angin tidak membunuhnya. Sebaliknya, dengan sikap jumawa dan merendahkan ia meminta para prajurit Caruban untuk membawa tetunggulnya itu ke belakang arena. “Obati lukanya. Kalau sudah sembuh suruh dia berguru lagi. Aku tunggu lima belas tahun lagi di sini untuk menjajal ilmunya.” Sekumpulan prajurit Caruban dengan muka merah karena menahan malu menggotong Ki Anggasura yang berlumuran darah.

Tampaknya, hari itu adalah hari keberuntungan bagi pihak Galuh Pakuwan. Dalam waktu hanya satu hari, mereka sudah memperlihatkan kehebatannya di arena pertarungan. Satu demi satu tetunggul Caruban yang maju ke tengah arena, tanpa kesulitan berarti dapat mereka kalahkan. Para tetunggul seperti Syaikh Magelung, Pangeran Karang Kendal, Pangeran Kapethakan, Pangeran Kandhayaksan, Ki Anggarunting, Li Han Siang, Haji Shang Su, Abdul Karim Wang Tao, Abdul Razak Wu Lien, Abdul Halim Tan Eng Hoat, Demang Singagati, Tumenggung Jaya Orean, Abdul Qadir, dan Abdul Qahar al-Baghdady, bahkan Adipati Suranenggala yang diunggulkan, bertumbangan tak berdaya dikalahkan tetunggul-tetunggul Galuh Pakuwan. Tragisnya, sebagaimana sikap Ki Dipasara, para tetunggul Galuh Pakuwan yang lain sengaja tidak membunuh lawan, tetapi menghinakan mereka sebagai pecundang nista. Rupanya para tetunggul Galuh Pakuwan telah sepakat: tidak memberi kesempatan kepada pihak lawan untuk gugur sebagai ksatria di arena pertarungan, sebaliknya membiarkan mereka menjadi pecundang nista yang akan menanggung malu seumur hidup karena setelah kalah dihina dengan ejekan-ejekan merendahkan.

Ketika sangkakala dibunyikan pertanda pertarungan usai, terjadi kericuhan kecil saat sebagian prajurit Caruban terlibat tantang-menantang dengan prajurit Galuh Pakuwan. Lalu terjadi perkelahian kecil yang merembet menjadi besar, terutama ketika Sanghyang Gempol memerintahkan pasukan Galuh Pakuwan untuk menyerang perkemahan pasukan Caruban di puncak gunung Gundul. Beribu-ribu prajurit Galuh Pakuwan yang membawa obor mengepung puncak. Perlahan-lahan tetapi pasti, lautan obor yang memenuhi delapan penjuru lereng itu terus bergerak mengerucut ke atas laksana lautan api sabut yang belum terbakar.

Menyaksikan gelombang lautan api yang terus mengerucut, semua orang yang berada di puncak gunung dicekam rasa ketakutan, bahkan sebagian sudah putus asa. Semua sadar bahwa Sang Maut saat itu sudah terbang di angkasa merentangkan sayap-sayap-Nya yang setajam pedang. Semua sadar Kematian bakal datang secepat hitungan jari. Semua sadar, mereka hanya bisa menunggu. Menunggu. Menunggu. Bahkan, prajurit dan pejuang yang tak dapat menahan rasa takut dan putus asa berteriak-teriak meminta tolong kepada Sri Mangana dan Syaikh Lemah Abang. Di tengah hiruk pikuk teriakan para prajurit dan pejuang yang memanggil-manggil, disusul ledakan halilintar, disambung turunnya hujan deras, dan berembusnya badai. Obor-obor yang dibawa musuh padam, tersiram hujan. Lalu, terdengar teriakan dan jeritan dan caci maki musuh yang saling bunuh karena kegelapan malam dan hujan badai telah membutakan mereka.

Ketika semua orang Caruban terheran-heran menyaksikan musuh yang saling berperang sendiri itu, terjadi peristiwa ajaib yang tak kalah mengherankan. Tiba-tiba, terdengar seruan sambung-menyambung di tengah kegelapan yang menyatakan bahwa Sri Mangana telah muncul beserta bala bantuan dan menyerbu gunung Gundul dari lembah utara. Orang-orang Caruban yang memalingkan pandangan ke lembah utara melihat beribu-ribu titik api memenuhi lembah dan bergerak cepat ke selatan. Semangat pihak Caruban yang sudah surut mendadak berkobar kembali. Takbir dikumandangkan sahut-menyahut.

Di tengah hiruk suara takbir, tiba-tiba terdengar seruan-seruan lantang bersahutan yang memerintahkan pasukan Galuh Pakuwan untuk mundur. Seperti digerakkan oleh kekuatan gaib, beribu-ribu prajurit Galuh Pakuwan yang saling bertarung itu berhenti serentak. Dan seperti dikomando, mereka berebut turun secara berbarengan. Lalu terjadilah malapetaka tak terduga: tanah polos yang memagari tebing-tebing di seputar gunung Gundul yang sudah basah oleh air hujan ternyata tidak kuat menahan beban. Di tengah berdesak-desaknya pasukan Galuh Pakuwan menuruni tebing-tebing tanah itu, tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang menggiriskan. Rupanya, satu demi satu tebing tanah itu longsor menimpa apa saja yang berada di bawahnya dan mengubur apa saja yang tersambar oleh runtuhannya yang dahsyat. “Demikianlah, Tuan Syaikh, kami yang sudah terjepit antara hidup dan mati bisa lolos dari maut dan bahkan merebut kemenangan,” kata Syaikh Duyuskhani.

“Bukankah semua itu Af’al Allah dan tidak terkait dengan keterlibatan makhluk-Nya?”

“Bagi mereka yang sudah tinggi Tauhidnya, peristiwa itu memang merupakan perbuatan Allah mutlak. Tetapi bagi kebanyakan orang awam, terutama yang berada pada keadaan antara hidup dan mati, peristiwa semalam itu tidak bisa dimaknai lain kecuali sebagai keajaiban yang tidak bisa tidak mesti terkait dengan keterlibatan orang suci kekasih Allah. Sejak semalam, sebagian prajurit dan pejuang kita menganggap peristiwa ajaib itu terjadi berkat kekeramatan Tuan Syaikh. Sebab sambaran petir, curahan hujan, dan embusan badai itu terjadi saat mereka berteriak-teriak meminta pertolongan Tuan Syaikh. Sehingga, saat mereka turun dan kemudian mendapati Tuan Syaikh di tempat ini, mereka makin yakin bahwa kekeramatan Tuanlah yang telah menyebabkan keajaiban itu,” kata Syaikh Duyuskhani.

“Sesungguhnya, mereka telah terjebak ke dalam lingkaran prasangka-prasangka.”

“Tapi Tuan Syaikh, kami berharap Tuan tidak menafikan pandangan mereka itu dengan sikap yang keras. Kami berharap Tuan Syaikh berkenan memahami keadaan mereka yang belum sepenuhnya mampu mewadahi ajaran Sasyahidan yang Tuan ajarkan,” kata Syaikh Duyuskhani merendah.

Abdul Jalil menatap puncak gunung Gundul dan kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan dengan bertanya, “Berapakah jumlah pasukan Caruban yang semalam terkepung di puncak, Tuan Syaikh?”

“Kurang dari dua belas ribu orang, Tuan Syaikh.”

“Lalu pihak Galuh Pakuwan yang mengepung berapa jumlahnya?”

“Kami tidak bisa menghitung dengan pasti, Tuan Syaikh. Yang jelas, seputar gunung ini semalam sudah menjadi lautan api karena obor-obor yang dibawa prajurit Galuh tak terhitung jumlahnya.”

“Apakah pasukan Caruban masih di atas? Aku tidak melihat mereka.”

“Sejak subuh tadi Sri Mangana memimpin mereka ke Galuh Pakuwan.”

Sri Mangana, khalifah Caruban, selain dikenal sebagai negarawan ulung yang adil dan bijaksana, juga dikenal sebagai manggalayuddha gagah perkasa dan tak tertandingi dalam mengatur siasat perang. Hal itu paling tidak telah ia buktikan untuk kali ke sekian ketika pasukan Caruban yang sudah terkepung di puncak gunung Gundul, tetapi kemudian beroleh kemenangan tak terduga-duga.

Ketika pasukan Galuh Pakuwan masih sibuk menyelamatkan diri dari amukan alam yang mengerikan itu, diam-diam Sri Mangana memerintahkan beberapa prajuritnya untuk mengenakan pakaian prajurit Galuh Pakuwan yang tewas. Lalu, di tengah hiruk orang-orang yang berebut turun ke lembah di selatan gunung, prajurit-prajurit penyamar itu menyebarkan berita yang intinya: pasukan Galuh Pakuwan diperintahkan untuk menyusul Prabu Surawisesa ke Pakuwan Pajajaran, sebab ibu kota Galuh Pakuwan telah jatuh ke tangan Prabu Banyak Belanak, Yang Dipertuan Pasir Luhur, yang menyerbu kutaraja Galuh secara mendadak. Di tengah suasana hiruk yang membingungkan itu, baik prajurit maupun tetunggul Galuh Pakuwan ternyata percaya begitu saja dengan kabar itu. Dengan kalang-kabut dan tak teratur, masing-masing pasukan Galuh Pakuwan membentuk barisan-barisan dari prajurit-prajurit yang tersisa. Dengan buru-buru, satuan-satuan kecil itu bergerak ke arah barat, ke Pakuwan Pajajaran. Sementara, sebagian sisanya masih terlihat berkeliaran di kaki gunung Gundul, sibuk menolong kawan-kawannya yang terluka.

Selain memerintah prajurit untuk menyebar kabar palsu, Sri Mangana malam itu juga memerintahkan prajuritnya untuk membangunkan penduduk yang tinggal di sekitar gunung Gundul. Penduduk diminta keluar rumah dan mengibarkan kain apa saja yang mereka punyai sebagai bendera atau umbul-umbul di sepanjang jalan-jalan desa. Saat matahari terbit, pasukan Galuh Pakuwan yang masih berkeliaran di lembah selatan gunung Gundul terkejut menyaksikan bendera dan umbul-umbul aneka warna menghiasi segenap penjuru gunung. Mereka makin terkejut manakala menyaksikan hiruk pikuk pasukan Caruban yang turun dari puncak gunung sambil menggoyang-goyang panji-panji, bendera, dan tombak.

Siasat cemerlang Sri Mangana ternyata membuahkan hasil mengejutkan. Dalam waktu singkat, tanpa menumpahkan darah setetes pun, pasukan Galuh Pakuwan terusir tanpa sisa. Hanya tubuh-tubuh tak bernyawa dan bangkai-bangkai hewan yang menebarkan bau anyir yang menampakkan sisa keberadaan pasukan Galuh Pakuwan di situ. Saat pasukan Galuh Pakuwan tersuruk-suruk menyusuri jalan yang melintasi lembah-lembah, bukit-bukit, dan hutan-hutan menuju Pakuwan Pajajaran, orang melihat Sri Mangana beserta sebelas ribu pasukannya beriringan melintasi lembah dan bukit-bukit yang membentang di selatan gunung Gundul. Bagaikan ular raksasa menerobos rimbunan hutan dan belukar, iring-iringan pasukan Caruban bergerak cepat ke arah timur dan kemudian berbelok ke selatan. Setelah bergerak tanpa henti selama sehari dan semalam, pada hari ketiga iring-iringan terlihat menyeberangi sungai Sanggarung.

Selama perjalanan ke selatan tanpa kenal istirahat itu, iring-iringan pasukan Caruban terlihat bertambah panjang. Setiap kali melewati desa-desa di kawasan perbatasan selatan, pasukan selalu mendapat tambahan warga desa yang dipimpin kuwu masing-masing. Saat iring-iringan pasukan itu berhenti di sisi utara sungai Julang, jumlahnya sudah membengkak dari sekitar sebelas ribu menjadi dua puluh ribu orang. Meski jumlahnya semakin besar, iring-iringan itu bergerak tanpa suara. Para prajurit dan pejuang sepanjang perjalanan tidak berbicara. Derap langkah kaki pun terdengar ringan. Bahkan, keempat kaki kuda-kuda tunggangan para tetunggul dibebat kain supaya tidak menimbulkan suara.

Memasuki hari keempat, setelah melintasi bukit-bukit terjal di gunung Manik, iring-iringan pasukan Caruban berhenti di Padahurip, di utara sungai Julang. Sri Mangana memerintahkan pasukan untuk beristirahat di situ. Namun, saat malam menjelang ia memerintahkan Abdul Halim Tan Eng Hoat, Pangeran Karang Kendal, dan Syaikh Magelung untuk pergi ke Tangkolo dengan membawa tiga ribu pasukan yang sebagian besar berasal dari Kendal. Mereka ditugaskan merebut kubu pertahanan Galuh Pakuwan di Situmandala, yang letaknya di sisi selatan sungai Julang. Selama penyerangan itu semua diperintahkan untuk berbicara dan memberi aba-aba dalam bahasa Jawa.

Gerakan senyap pasukan Caruban ke Tangkolo tidak diketahui pasukan Galuh Pakuwan yang mempertahankan kubu Situmandala. Saat dinihari ketika permukaan bumi diselimuti kabut tebal, sewaktu iring-iringan tiga ribu orang pasukan Caruban bergerak menyeberangi sungai Julang, tidak sedikit pun menimbulkan kecurigaan pihak Galuh Pakuwan bahwa musuh bakal datang. Itu sebabnya, ketika pasukan Caruban menyerang kubu saat subuh, pasukan Galuh Pakuwan yang sedang mendengkur sangat terkejut. Tanpa perlawanan berarti, kubu Situmandala jatuh. Sekitar tujuh ratus orang prajurit ditawan. Yang lain sengaja dibiarkan meloloskan diri.

Setelah merebut Situmandala, pasukan Caruban pada pagi hari hingga siang merebut Patakarajya, Rancah, dan Kawunglarang tanpa perlawanan. Serangan mendadak pasukan Caruban ini ternyata menimbulkan kegemparan di kutaraja Galuh Pakuwan. Laporan-laporan yang disampaikan prajurit-prajurit dari kubu Situmandala yang lolos menyebutkan para penyerbu menggunakan bahasa Jawa dengan logat aneh. Prajurit dari Patakarajya serta penduduk Rancah dan Kawunglarang pun menyampaikan laporan yang sama. Tidak syak lagi, Prabu Surawisesa dan para menterinya menganggap penyerangan itu dilakukan Prabu Banyak Belanak dari Pasir Luhur.

Di tengah kegemparan kabar serbuan orang-orang Pasir Luhur, terjadi sesuatu yang lebih menggemparkan. Ketika matahari naik sepenggalah, sewaktu prajurit-prajurit Galuh Pakuwan sedang memperkuat pertahanan di sekitar Kraton Surawisesa, tersiar kabar bahwa Sri Mangana dengan pasuka Caruban yang berjumlah sekitar lima puluh ribu orang menyeberangi sungai Julang dan langsung merebut pertahanan Galuh Pakuwan di kubu Karangpaningal. Prajurit-prajurit dari kubu Karangpaningal yang berhasil lolos melaporkan jika pasukan Caruban saat itu sedang bergerak ke Kraton Surawisesa.

Prabu Surawisesa terperangah kaget mendengar kabar serangan bertubi-tubi itu. Ia tidak pernah menduga jika penguasa Pasir Luhur dan penguasa Caruban bakal berkomplot untuk menyerang kratonnya dalam waktu bersamaan. Padahal, seluruh kekuatan Galuh Pakuwan saat itu sedang dipusatkan di Caruban. Itu sebabnya, dengan terburu-buru ia mengumpulkan para menteri dan penasihat untuk membicarakan masalah pelik itu. “Apa yang bisa kita lakukan sekarang ini? Seluruh pasukan kita berada di Caruban dan kabarnya sudah dikalahkan. Apa yang harus kita lakukan?” tanya Prabu Surawisesa kebingungan.

Para menteri dan nayaka Galuh Pakuwan tidak dapat menjawab pertanyaan junjungan mereka. Mereka pun saat itu sedang dicekam ketakutan dengan datangnya kabar bertubi-tubi serangan dari Caruban dan Pasir Luhur. Akhirnya, dalam pertemuan singkat itu, semua yang hadir termasuk Prabu Surawisesa tidak memiliki pilihan lain kecuali dengan tegas mengambil satu keputusan: menyingkir dari kutaraja Galuh Pakuwan secepat-cepatnya sebelum musuh datang menyerang. Demikianlah, dengan dikawal sekitar dua ribu pasukan, Prabu Surawisesa dan keluarga serta pejabat Galuh Pakuwan meninggalkan kutaraja. Dengan menyusuri jalan berliku di lereng selatan gunung Sawal, iring-iringan penguasa Galuh Pakuwan itu bergerak ke barat menuju Pakuwan Pajajaran.

Ketika Sri Mangana dan pasukan Caruban memasuki kutaraja dan menduduki Kraton Surawisesa, mereka mendapati kraton itu dalam keadaan kosong dan semrawut. Peti-peti perhiasan, cerana dan piring berlapis emas, bertumpuk-tumpuk kain, ikatan-ikatan naskah rontal, dan karas tanah terlihat berserakan di halaman beserta busur, perisai, pedang, tombak, dan tahi kuda. Sementara kayu-kayu dan tali-temali yang bakal dijadikan alat pertahanan berserakan di berbagai sudut kraton menambah kesemrawutan. Rupanya, Prabu Surawisesa lari dari kratonnya dengan terburu-buru sehingga banyak barang bawaannya yang tertinggal. Sekitar lima-enam orang dayang-dayang masih membawa cerana, cermin, dan alat-alat rias.

Setelah seluruh tempat di kutaraja Galuh Pakuwan terkuasai, siang itu juga Sri Mangana memaklumkan wilayah Galuh Pakuwan sebagai bagian dari kekuasaan Caruban dengan batas-batas sesuai yang berlaku atas wilayah Galuh Pakuwan sebelumnya, yaitu batas timur dari gunung Gunatiga di utara sampai ke muara sungai Tanduy di selatan. Batas selatan samudera. Batas barat gunung Cakrabuwana di utara dan muara sungai Panerang di selatan. Dengan demikian, seluruh wilayah kekuasaan Caruban sudah terpisah sedemikian rupa dengan wilayah kerajaan Sunda, laksana buah semangka dibagi dua. Batas wilayah Caruban di utara sepanjang sungai Cimanuk dan berakhir di sungai Panerang yang bermuara di samudera raya. Sebagaimana yang berlaku di Rajagaluh dan Talaga, penaklukkan Galuh Pakuwan itu ditandai dengan pembagian tanah kepada seluruh penduduk yang bersedia menaungkan diri di bawah lindungan khalifah Caruban Sri Mangana.

Bermula dari kemenangan beruntun pasukan Caruban, yang ditandai dengan awal kemenangan tak terduga di puncak gunung Gundul, terjadilah sesuatu yang membingungkan dan sekaligus merisaukan Abdul Jalil. Di tengah semarak kabar kemenangan tak terduga pasuka Caruban di gunung Gundul, tersebar di bawah permukaan tentang kabar burung yang menyatakan bahwa kemenangan ajaib itu adalah berkat kekeramatan Syaikh Lemah Abang. Lalu, seperti hempasan air bah tak terbendung, kabar burung itu dengan deras melanda seluruh negeri. Tanpa ada yang menduga sebelumnya, tiba-tiba kediaman Abdul Jalil di Lemah Abang diserbu beratus-ratus bahkan beribu-ribu orang dari berbagai tempat yang memiliki tujuan utama: mencari berkah keselamatan dan bermacam-macam keperluan lain.

Ketika Abdul Jalil melihat orang-orang yang bergerombol mengerumuni kediamannya makin lama makin beriap-riap, ia menangkap sasmita tidak baik tentang bakal terjadinya sesuatu yang tidak diharapkannya. Sambil mengelus-elus janggutnya, ia menyapukan pandangan ke kerumunan orang di sekitarnya. Lalu dengan suara lain ia berbisik kepada Ki Luwung Seta, yang duduk di sampingnya, “Betapa aneh orang-orang yang kusaksikan hari ini. Wajah mereka sedungu keledai. Punggung mereka sebongkok unta. Kaki mereka sependek kura-kura. Tangan mereka sepanjang lutung. Suara mereka separau bebek. Apa yang membuat mereka beriap-riap datang ke gubukku?”

“Mereka menginginkan berkah keselamatan dari Kangjeng Syaikh,” sahut Ki Luwung Seta lirih.

“Sungguh celaka jika keinginan mereka itu dikabulkan,” gumam Abdul Jalil tiba-tiba menyaksikan seluruh pemandangan di sekitarnya berubah dalam beberapa kejap. Ia menyaksikan rumah-rumah berubah menjadi gundukan tanah kering dan batu-batu sungai. Pohon-pohon berubah menjadi tanah kering berwarna merah dan hitam. Sementara mendung kelabu yang menggantung di langit berubah menjadi gumpalan hitam seolah gunung batu digantung di awang-awang.

Ketika pemandangan mengerikan yang melintas sesaat itu telah berganti semula, Abdul Jalil berdiri dengan perasaan berat. Dengan langkah goyah ia melangkah ke arah masjid. Namun, baru berjalan beberapa langkah, orang-orang yang berkerumun di gubuknya tiba-tiba menyerbu. Mereka berebut mendekati Abdul Jalil. Ada yang menyalami dan menciumi tangannya. Ada yang merangkul dan mencium lututnya. Ada yang mengelus dan mencium kakinya. Ada yang menarik jubahnya. Bahkan, ada yang mencium bekas tapak kakinya.

Abdul Jalil terhenyak kaget. Ia tiba-tiba merasakan malu menerkam jiwanya. Ia malu melihat perilaku orang-orang yang menurutnya jauh dari kepantasan orang-orang beriman. Ia memalingkan pandangan dan berusaha lari cepat-cepat meninggalkan tempat laknat itu. Namun, gerakan tubuhnya terhalang kerumunan orang-orang. Malah dari kerumunan orang-orang itu terdengar suara aneh yang gaduh, seperti beribu-ribu suara bebek di tengah ringkikan kuda dan suara burung hantu. Dan lamat-lamat, suara aneh yang gaduh itu terdengar berbunyi:

“Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Limpahi kami berkah keselamatan! Limpahilah kami berkah rezeki! Limpahilah kami berkah kesehatan! Limpahilah kami berkah kekayaan! Limpahilah kami berkah kemuliaan! Limpahilah kami berkah keagungan!”

Abdul Jalil merasakan bulu kuduknya meremang mendengar suara-suara aneh itu. Ia merasakan dadanya tiba-tiba menggelegak seperti air direbus di ketel. Ia merasakan darahnya memuai. Namun, ia berusaha menahan gejolak jiwanya yang membakar itu. Ia menahan. Menahan. Dan hasilnya, ia merasa betapa kebingungan dan kerisauan tiba-tiba melingkar-lingkar bagaikan benang kusut menjerat kesadarannya. Kemudian, dengan hentakan kuat ia mendorong orang-orang yang mengerumuninya sambil berteriak lantang, “Tahukah engkau siapakah aku ini?”

“Kangjeng Syaikh Lemah Abang!” terdengar sahutan serempak.

“Syaikh Lemah Abang hanyalah nama,” Abdul Jalil terhenyak dan kemudian berkata dengan suara ditekan rendah, “Sewaktu-waktu aku bisa mengganti nama itu dengan nama lain. Engkau pun bisa menunjuk orang ini dan itu dengan nama Syaikh Lemah Abang. Semua orang di antara kalian boleh memakai nama Syaikh Lemah Abang. Tetapi, hendaknya kalian tahu bahwa Syaikh Lemah Abang juga memiliki nama lain pemberian guru agungnya, Syaikh Datuk Kahfi, yaitu Sang Pajuningrat, baji pembelah dunia.”

“Kenapa Syaikh Lemah Abang dinamai Sang Pajuningrat? Sebab, dengan baji ia diharapkan dapat membelah kerasnya hati manusia yang melebihi keras biji kemiri. Dengan baji, ia diharapkan dapat menumbangkan pohon-pohon kemusyrikan di dalam jiwa manusia. Dengan baji, ia diharapkan menghancurkan berhala-berhala sesembahan baik dari kayu pahatan, batu pahatan, maupun manusia pahatan. Dengan baji, ia diharapkan dapat memisahkan benalu kemusyrikan dari pohon Tauhid. Dan apa yang diharapkan dengan nama Pajuningrat itu telah aku genapi. Telah kubersihkan dan kusucikan Pohon Tauhid dari benalu kemusyrikan dan pemberhalaan.”

“Kini, engkau semua telah mengaku-aku sebagai murid-murid Syaikh Lemah Abang, Sang Pajuningrat. Engkau datang berduyun-duyun ke gubukku untuk meminta berkah keselamatan dariku. Aku tidak keberatan engkau semua mengaku-aku muridku. Tetapi, hendaknya engkau semua memahami dan mengamalkan ajaran inti yang kusampaikan. Tahukan engkau semua apakah ajaran inti Sang Pajuningrat? Pertama-tama, Sang Pajuningrat berkewajiban menjaga dan memelihara pertumbuhan Pohon Tauhid. Lalu, membersihkan Pohon Tauhid dari benalu-benalu dan hama kemusyrikan. Lalu, membagi-bagikan buah Tauhid sebagai rahmat kepada seluruh makhluk. Lalu, menanam benih-benih Tauhid di tempat-tempat lain agar tumbuh Pohon Tauhid yang lain.”

“Aku tegaskan kepada engkau semua dengan setegas-tegasnya, berkah yang akan aku berikan kepada murid-murid dan pengikutku bukanlah berkah khayal seperti yang dibayangkan orang kebanyakan. Berkah yang akan aku wariskan adalah berkah dalam bentuk nama Pajuningrat. Siapa saja di antara manusia yang mengaku sebagai murid atau pengikutku, hendaknya bersedia menjadi paju. Baji. Alat pembelah yang digunakan untuk mengawal kesucian Pohon Tauhid. Dengan demikian, jika satu saat nanti engkau semua mendapati siapa saja di antara manusia, termasuk orang yang menggunakan nama Syaikh Lemah Abang, disucikan dan dijadikan berhala sesembahan manusia, maka kewajiban kalianlah sebagai pemegang baji untuk menumbangkan dan meratakannya dengan tanah.”

Orang-orang yang berkerumun menyibak seolah memberi jalan untuk Abdul Jalil. Namun, saat Abdul Jalil melangkah, terdengar mereka berceloteh gaduh. Lalu, dengan berdesak-desak mereka berebut kembali mendekati Abdul Jalil. Sambil berteriak-teriak gaduh mereka mendesak-desak, mendorong-dorong, menindih-nindih, menarik-narik tubuh kawannya agar mereka dapat mendekati Abdul Jalil.

Celoteh-celoteh gaduh itu lamat-lamat terdengar berbunyi, “Syaikh Lemah Abang! Syaikh Lemah Abang! Kami memohon limpahan berkahmu! Kami tidak paham fatwamu! Kami tidak mampu menangkap butir-butir mutiara yang berhamburan dari mulutmu!”

Abdul Jalil termangu-mangu memandang orang-orang yang berebut mendekati dirinya. Ia memandang mereka seperti seekor elang memandang kerumunan anak ayam yang menciap-ciap ditinggal induknya. Ingin sekali rasanya ia menyantap anak-anak ayam itu, mengunyah, dan memamahnya sampai lembut lalu mengalir ke dalam darahnya. Ia ingin mengajak anak-anak ayam itu terbang ke angkasa menikmati kebebasan jiwa. Namun, anak-anak ayam itu terlalu lama menjadi anak ayam yang kecil, lembut, tak berdaya, dan butuh perlindungan. Mereka tidak mampu menangkap makna di balik suara jeritan elang, kecuali mendengarnya dengan rasa takut berlebih. Mereka hanya bisa menangkap makna suara ayam. Di tengah kerumunan anak-anak ayam itu, Abdul Jalil bersikukuh meyakinkan diri bahwa ia adalah elang perkasa yang sekali-kali tidak akan menjadi induk ayam meski untuk alasan luhur: melindungi anak-anak ayam tak berdaya.

Kedatangan beribu-ribu orang kegubuk Abdul Jalil ternyata tidak cukup meminta berkah keselamatan. Beberapa di antara mereka, yang umumnya datang dari tempat jauh, diam-diam berusaha memanfaatkan keadaan dengan menempatkan diri sebagai bujang Abdul Jalil. Tanpa malu sedikit pun mereka mengaku sebagai pembantu dan bahkan murid terkasih Syaikh Lemah Abang. Lalu dengan kesempitan wawasan yang menyedihkan, mereka menirukan semua kata, wejangan, dan fatwa Syaikh Lemah Abang. Untuk meyakinkan orang, dengan bekal pikiran picik dan diliputi khayalan-khayalan naif, mereka mengarang-ngarang cerita berlebihan tentang kekeramatan Syaikh Lemah Abang.

Sadar sesuatu sedang terjadi pada dirinya, sepekan setelah kediamannya yang terletak di samping masjid Lemah Abang itu diserbu ribuan orang yang meminta berkah keselamatan, Abdul Jalil diam-diam mengajak istri dan anaknya pergi ke kuta Caruban untuk menghadap Sri Mangana dan Nyi Indang Geulis di Pekalifahan. Di hadapan ayahanda dan ibunda asuh yang sangat dihormati dan dimuliakannya itu, ia menyembah dan berpamitan akan pergi meninggalkan Caruban dalam waktu yang tak terbatas. Sri Mangana dan permaisuri terkejut mendengar permintaan pamit Abdul Jalil yang tak terduga-duga itu.

Nyi Indang Geulis termangu-mangu dengan dada turun naik seperti menahan sesuatu yang berat. Sri Mangana, yang masih terlihat lelah setelah perjalanan kembali dari Galuh Pakuwan, dengan suara tersekat di leher bertanya lirih, “Kenapa engkau begitu terburu-buru meninggalkan negerimu, o Puteraku? Kenapa engkau tiba-tiba meninggalkan bangunan masyarakat yang sudah tegak dengan megah di negerimu ini? Kenapa engkau meninggalkan apa yang telah engkau rintis dengan susah payah, o Puteraku?”

“Mohon ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” Abdul Jalil menyembah. “Sesungguhnya, ananda merasa berat hati meninggalkan Caruban, tanah tumpah darah ananda. Ananda merasa sedih harus berpisah dengan orang-orang yang ananda cintai. Ananda merasa berduka karena meninggalkan tatanan masyarakat ummah yang sudah terbentuk dengan baik ini. Tetapi, demi menghindari kesesatan umat akibat munculnya berhala baru, ananda dengan perasaan berat terpaksa harus meninggalkan Caruban. Sungguh, semua ini ananda lakukan semata-mata demi tetap terpeliharanya kemurnian ajaran Tauhid yang telah tumbuh subur di negeri ini.”

“Apakah yang engkau maksud dengan berhala baru itu, o Puteraku?” Sri Mangana heran, “Dan kenapa engkau malah menghindar darinya?”

“Sesungguhnya, yang ananda maksud berhala baru itu tidak lain dan tidak bukan adalah ananda sendiri. Lantaran itu, tidak ada pilihan lain bagi ananda untuk menghancurkan berhala itu kecuali pergi meninggalkan tanah kelahiran ananda. Ananda akan pergi karena orang-orang berdatangan ke kediaman ananda dengan tujuan utama menjadikan ananda berhala sesembahan,” kata Abdul Jalil tegas.

“Kenapa engkau merasa dirimu diberhalakan?” tanya Sri Mangana ingin penjelasan.

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu. Telah hampir sepekan ini kediaman ananda di Lemah Abang didatangi beribu-ribu orang dari berbagai tempat yang jauh. Mereka meminta berkah dan keselamatan dari ananda. Mereka menganggap ananda adalah wali Allah yang keramat yang bisa memberikan macam-macam manfaat bagi manusia. Bahkan, sebagian di antara mereka mengaku-aku sebagai murid, bujang, dan pengikut ananda. Mereka kemudian membesar-besarkan cerita bahwa kemenangan Caruban atas Galuh sejatinya disebabkan keramat ananda. Mereka bahkan mengarang-ngarang cerita takhayul murahan tentang kekeramatan ananda. Mereka sejatinya adalah pembohong-pembohong celaka karena telah menebarkan racun kejahilan ke tengah umat manusia.”

“Racun kejahilan yang ditebar oleh para pembohong itu, ternyata begitu dahsyat akibatnya. Seperti kawanan lalat mengerumuni bangkai, beribu-ribu orang berdatangan dan mengerumuni ananda. Seolah-olah ananda ini dewa. Mereka berdesakan mengerumuni ananda. Mereka berlomba mencium tangan, lutut, kaki, dan jubah ananda, seolah-olah pada diri ananda ini terdapat pancaran berkah gaib. Tindakan orang-orang itu sungguh berlebihan. Mereka sudah memberhalakan makhluk. Ananda telah berusaha mengusir mereka baik dengan cara halus maupun kasar, tetapi mereka terus berkerumun mengitari ananda seolah-olah ananda ini benar-benar bangkai busuk yang pantas dikerumuni lalat. Sungguh, Ramanda Ratu, paduka telah memahami bagaimana isi kepala dan isi hati ananda. Perbuatan orang-orang itu sungguh telah melukai jiwa ananda.”

Sri Mangana menarik napas berat dan menunduk. Setelah itu, dengan suara berat ia berkata, “Aku memang sudah mendengar kabar tentang kedatangan orang-orang dari penjuru negeri ke kediamanmu di Lemah Abang. Aku berpikir bahwa apa yang engkau alami itu adalah kehendak Allah semata. Aku tidak berprasangka lain kecuali menganggap bahwa semua itu adalah anugerah dari Allah.”

“Ananda justru merasa berkewajiban untuk secepatnya mengambil langkah tegas. Sebab, terlambat sedikit saja ananda bertindak tentu akan terjadi kekisruhan yang bakal merusak tatanan masyarakat ummah yang sudah terbangun dengan baik selama ini.”

“Bagaimana engkau bisa berpikir bahwa hal itu bisa menimbulkan masalah seserius itu?”

“Ampun seribu ampun, Ramanda Ratu,” kata Abdul Jalil dengan suara lain, “Jika ananda membiarkan orang-orang dari berbagai penjuru negeri berdatangan mengeramatkan ananda, bukan saja hal itu akan melahirkan berhala baru yang disebut Syaikh Lemah Abang. Sebaliknya, yang tak kalah membahayakan, hal itu bakal menjadi penyebab lahirnya matahari kembar di atas langit Caruban. Matahari yang satu memancar di Lemah Abang. Matahari yang lain memancar di Pekalifahan Caruban. Dan, kalau sudah seperti itu maka rusak binasalah tatanan masyarakat ummat yang dengan susah payah sudah ananda tegakkan, warga masyarakat yang sudah menerima ajaran Sasyahidan pun pada gilirannya akan ikut terpengaruh memberhalakan ananda sehingga Tauhid mereka yang sudah bersih itu akan rusak kembali.”

Sri Mangana diam. Ia memejamkan mata dan menarik napas berat berulang-ulang. Nyi Indang Geulis yang sejak tadi diam, dengan mata berkaca-kaca bertanya, “Akan pergi ke manakah engkau, o Puteraku?”

“Ampun seribu ampun, Ibunda Ratu,” Abdul Jalil menyembah dan berkata, “Ananda akan pergi ke mana pun aliran sungai nasib membawa ananda. Ananda hanya memohon doa dan restu Ibunda Ratu.”

“Doaku selalu menyertai ke mana pun engkau pergi, o Puteraku. Tetapi, apakah istri dan puteramu akan engkau bawa serta?”

“Ananda hanya pergi didampingi istri, Ibunda Ratu. Putera ananda, Bardud, akan ananda serahkan pengasuhan dan pengajarannya kepada menantu paduka, Syarif Hidayatullah.”

“Bagaimana dengan Zainab, puterimu?”

“Ananda telah menyerahkan semua urusan tentang dia kepada menantu paduka, Syarif Hidayatullah. Perlu ananda beri tahukan kepada Ibunda Ratu bahwa Zainab akan ananda nikahkan dengan Raden Sahid putera adipati Tuban. Soal pernikahannya, telah ananda serahkan sepenuhnya kepada menantu paduka pula,” kata Abdul Jalil.

“Sampai kapankah engkau meninggalkan Caruban, o Puteraku?”

“Ananda tidak tahu pasti, Ibunda Ratu. Ananda sudah bertekad tidak akan kembali ke Caruban jika citra ananda sebagai berhala belum pudar. Bahkan andaikata ananda kembali pun, ananda tidak akan lagi disebut orang dengan nama Syaikh Lemah Abang. Nama itu bagi ananda sudah mati dan harus dikubur dalam-dalam di dasar bumi.”