Syaikh Jabarantas

Selama melakukan perjalanan membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil sengaja tidak memperkenalkan diri sebagai Syaikh Lemah Abang, guru suci termasyhur asal dukuh Lemah Abang di Caruban Larang. Ia memperkenalkan diri dengan nama Pak Bardud, yang bermakna bapaknya Bardud. Namun begitu, karena sejak berangkat dari Caruban ia sudah mengenakan khirqah sufi, dan orang tidak pernah menyebut seorang pendeta atau guru suci yang memiliki kelebihan dengan sebutan pak ini dan pak itu, maka tanpa ada yang menyuruh, para wiku dan penduduk di wilayah pedalaman menyebutnya dengan nama Syaikh Jabarantas (Jawa Kuno: Guru Suci yang berpakaian compang-camping).

Abdul Jalil tidak peduli dengan sebutan itu. Ia malah suka dengan nama baru itu karena dapat menghapus kemasyhuran nama Syaikh Lemah Abang yang sudah diberhalakan manusia. Anehnya, dengan nama baru Syaikh Jabarantas itu, penghormatan terhadap dirinya tidak berkurang, kalau tidak boleh dibilang malah bertambah-tambah. Entah apa yang sesungguhnya terjadi, setiap kali ia hadir di sebuah dukuh atau padepokan, ia justru disambut dengan sangat berlebihan. Ia merasa betapa semua wiku yang ditemuinya, tanpa sedikit pun membantah, mengikuti pandangan-pandangan dan petunjuk-petunjuknya tentang keislaman sebagai tatanan baru penyempurna tatanan Syiwa-Buda yang sudah ada. Bahkan, saat ia meminta agar peraturan hidup para wiku di dukuh-dukuh disebarkan ke desa-desa sekitar, sebagaimana yang sudah diberlakukan di dukuh-dukuh yang dibukanya, mereka dengan patuh menjalankannya. Demikianlah, tanpa kesulitan berarti lahirlah dukuh-dukuh baru bercitra caturbhasa mandala di Galuh Pakuwan yang menjadi pelopor gerakan pembaharuan bagi desa-desa di sekitarnya, seperti dukuh Sirnabhaya, Sukahurip, Kawasen Ratawangi, Karangpawitan, dan Pamwatan.

Sepanjang perjalanan di pedalaman Galuh Pakuwan, Abdul Jalil menyaksikan kenyataan tak terduga tentang keberadaan penduduk keturunan Cina dan Campa yang tinggal di berbagai desa hidup membaur dengan penduduk setempat. Meski banyak di antara mereka tidak menampakkan lagi keberadaan diri sebagai orang muslim sebagaimana citra diri warga Cina dan Campa di pesisir, orang dengan mudah mengenal mereka lewat perbedaan bentuk fisik mereka yang mencolok dengan penduduk asli. Kulit mereka lebih terang. Mata mereka lebih sipit. Hidung mereka lebih pesek. Rambut mereka lebih lurus. Orang-orang keturunan Cina dan Campa masuk ke pedalaman Galuh Pakuwan melalui wilayah Kuningan yang merupakan koloni penduduk keturunan Cina dan Campa, yang dibangun orang barang seabad silam. Keturunan Cina dan Campa banyak dijumpai di hampir seluruh tlatah bumi Pasundan, termasuk di kutaraja Pakuan Pajajaran. Rupanya, pemuka-pemuka masyarakat Sunda suka sekali mengambil mereka sebagai menantu dengan tujuan utama memperbaiki keturunan agar warna kulit keturunan mereka lebih terang.

Keberadaan orang-orang keturunan Cina dan Campa di pedalaman Galuh Pakuwan paling tidak memberikan semacam kemudahan bagi Abdul Jalil dalam berbagi keberlebih-kelimpahan. Sebab, mereka yang masih menyimpan sisa-sisa ‘ingatan purwa’ di alam bawah sadarnya yang berakar dari ajaran Islam tidak sulit menerima apa yang disampaikan Abdul Jalil. Lewat merekalah Abdul Jalil dikenal dan dijadikan guru panutan oleh pemuka-pemuka masyarakat Sunda asli. Lewat mereka, Abdul Jalil beroleh kemudahan jalan untuk berbagi keberlebih-kelimpahan. Lewat jasa mereka pula, Abdul Jalil tanpa kesulitan membangun dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala di pedalaman Galuh Pakuwan.

Seperti hewan penanggung beban yang ingin melepaskan beban di punggungnya, setelah merasa cukup berbagi keberlebih-kelimpahan di tlatah Galuh Pakuwan, Abdul Jalil meneruskan perjalanan ke timur, menyeberangi sungai Tanduy, memasuki wilayah Pasir Luhur yang membentang di antara gunung Gora (nama purba gunung Slamet) dan lembah subur di lereng barat dan selatan pegunungan Dihyang. Pasir Luhur sendiri adalah kerajaan di pedalaman Nusa Jawa yang wilayah intinya terletak di tlatah Kabhumian (wilayah khusus yang milik Sang Bhumi). Wilayah kekuasaan Dewi Bhumi: Bhattari Prthiwi. Lantaran itu, di kawasan tersebut terdapat puluhan ksetra dan sanggar pemujaan Sang Prthiwi yang umumnya dipimpin para pendeta sakti mandraguna.

Berbeda dengan saat berbagi di Galuh Pakuwan yang ditandai kemudahan-kemudahan, saat berada di tlatah Kabhumian Abdul Jalil menghadapi tantangan yang sangat luar biasa berat. Sejak awal kehadirannya di tlatah tersebut ia telah dihadang oleh perlawanan para pendeta penguasa ksetra dan penguasa sanggar pemujaan Sang Prthiwi. Rupanya, sejumlah pendeta penguasa ksetra telah mencium gelagat tidak baik dari kehadirannya di tlatah Kabhumian, yang selain berbagi keberlebih-kelimpahan, ternyata melakukan upacara bhumi-sodhana untuk membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra dan sanggar-sanggar pemujaan Sang Prthiwi. Tindakannya yang terakhir itulah yang menyulut amarah para penguasa ksetra karena dianggap sebagai suatu ancaman berbahaya yang harus dilenyapkan. Lalu, beramai-ramailah para pendeta penguasa ksetra menggalang kekuatan untuk menghadang gerak langkah sekaligus menyingkirkan Abdul Jalil dari muka bumi.

Semula, Abdul Jalil tidak mengetahui jika gerak langkahnya dihadang oleh suatu kekuatan tersembunyi yang ingin menghancurkannya. Ia baru menangkap sasmita kurang baik ketika mendapat laporan dari sejumlah pengikutnya tentang beberapa desa yang baru disinggahinya, tetapi secara tiba-tiba diserang wabah penyakit menular ganas dan menimbulkan kematian banyak orang. Sasmita kurang baik itu semakin kuat manakala ia menerima laporan susulan tentang desa-desa yang baru disinggahinya mendadak terbakar secara beruntun hingga meluluhlantakkan puluhan rumah. Akhirnya, ia menduga ada suatu kesengajaan yang dilakukan orang untuk menghancurkan dirinya ketika ia mendapat laporan tentang puluhan penduduk yang mendadak kerasukan ruh setan secara serentak di dua desa yang baru disinggahinya.

Sadar halangan berat sedang menghadang langkahnya, dengan suara getir Abdul Jalil berkata kepada beberapa orang pengikutnya yang melapor, “Kejadian-kejadian ini bukanlah suatu peristiwa kebetulan atau sebuah musibah. Aku menangkap sasmita, kejadian-kejadian itu adalah suatu gerakan terencana yang memiliki tujuan utama merusak citra diri dan ajaranku. Aku menduga sebentar lagi akan berembus badai fitnah yang menyambar-nyambar ganas ke arahku.”

Dugaan itu tidak meleset. Tak lama setelah kabar peristiwa-peristiwa aneh yang beruntun itu menyebar, berembuslah badai fitnah yang menyambar-nyambar dan susul-menyusul menerjang Abdul Jalil dan istrinya dengan suara gemuruh mengerikan di tengah jeritan-jeritan dan raungan serak yang tak jelas dari mana datangnya. “Jauhi Syaikh Jabarantas! Syaikh Jabarantas adalah dewa yang dikutuk dan diusir dari kahyangan untuk menjalani hidup sebagai manusia hina dan nista. Jauhi dia! Jangan biarkan dia menghampiri manusia! Sebab, dewa yang dikutuk, di mana pun dia berada akan selalu diikuti para Kingkara, prajurit-prajurit Bhattara Yama, penguasa Kematian! Jauhi dia, manusia jelmaan dewa yang terkutuk yang di mana pun dia berada selalu membawa bencana dan kebinasaan. Jauhi makhluk terkutuk itu!” Lalu seiring bergaungnya jeritan dan raungan itu, tiba-tiba semua mata dengan pandang ketakutan diarahkan kepada sosok Abdul Jalil dan istri.

Sebagai seorang guru manusia yang sudah kenyang menelan pahit dan getirnya kehidupan, Abdul Jalil sedikit pun tidak goyah dalam menghadapi terpaan badai fitnah. Kedewasaan ruhani yang sudah dicapainya telah menjadikan jiwanya sekukuh bukit-bukit karang yang tegak perkasa meski dihempas badai dahsyat. Tanpa peduli dengan kerasnya tamparan badai fitnah yang mengepung, ia melangkahkan kaki di tengah tatapan mata penduduk yang menutup pintu rumah rapat-rapat. Setelah berhari-hari tertatih-tatih menelusuri jalanan berbatu tanpa satu pun pintu rumah dibukakan untuk mereka, bahkan di sebuah jalan kecil di sebuah desa beberapa orang secara sembunyi-sembunyi menimpukkan batu-batu, tersungkurlah Shafa, istrinya, dengan kening berdarah, di bawah sebatang pohon yang tumbuh di ujung desa. Tubuhnya menggigil dengan demam tinggi. Rupanya, selama berhari-hari dan bermalam-malam berjalan dengan sedikit istirahat dan hanya memakan ubi mentah, meminum air sungai, dan tidur di udara terbuka, telah membuat tubuhnya sangat lemah, ditambah luka berdarah-darah, telah menumbangkan kekuatan tubuh dan jiwanya.

Dengan wajah kuyu dicekam kepedihan, Abdul Jalil duduk membisu di samping istrinya. Ia merasakan suatu tekanan yang sangat berat sedang menindihnya dengan hebat. Belum pernah ia mengalami saat-saat seberat itu, bahkan saat ia melakukan upacara bhumi-sodhana dan membuka dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala selama bertahun-tahun. Ia rasakan saat ini sebagai saat terberat karena yang mengalami tekanan-tekanan Kehidupan bukan dirinya, melainkan istri yang tingkat ketangguhan ruhaninya masih rapuh. Kepedihan ia rasakan makin mengigit jiwanya manakala ia perhatikan wajah istrinya yang sedang sakit dan masih dinodai bekas darah kering itu seolah semakin tua. Ia tiba-tiba diterkam rasa bersalah karena telah menelantarkan masa muda istrinya selama belasan tahun hanya untuk menunggu kedatangannya dari rantau. Teringat pada kesetiaan istrinya yang ikhlas membuang usia untuk menunggunya dan kemudian saat sudah bersamanya malah mengalami nasib begitu buruk, terlunta-lunta dihalau manusia seperti hewan menjijikkan, tanpa sadar ia menitikkan air mata haru.

Melihat air mata membasahi wajah yang sejak dulu tak pernah menangis itu, Shafa terkejut. Meski tubuhnya masih menggigil diterkam demam, dia dengan suara bergetar bertanya, “Kenapa engkau menangis, o Tuan? Apakah keteguhan jiwamu sudah mulai goyah? Apakah yang menyebabkan air mata itu menetes, o Dewaku?”

Abdul Jalil diam. Ia merasakan dadanya kosong dan tenggorokannya kering. Ia tidak mampu berkata-kata akibat amukan kepedihan yang mengkoyak-koyak jiwanya. Tak ingin mengecewakan istri, ia dengan terbata-bata berkata, “Air mata ini jatuh untuk istri yang aku kasihi. Aku merasa bersalah kepadanya. Telah berbilang tahun aku sia-siakan masa mudanya untuk mengisi hari-hari kosong dari kepergianku yang tak jelas kapan kembalinya. Kini, saat engkau bersamaku, aku justru membagi beban berat yang tidak kuasa engkau tanggungkan. Sungguh, aku merasa bersalah kepadamu, o Istriku setia.”

Shafa tersenyum dan menggelengkan kepala dan mengusap air mata dari pipi Abdul Jalil. Dia berkata lembut, “Tuan jangan menangis lagi. Air mata Tuan yang menetes untuk hamba telah mengobati semua luka jiwa yang pernah hamba derita dan bahkan semakin mengobarkan api kesetiaan hamba kepada Tuan. Hamba mengucapkan terima kasih kepada Tuan yang telah menghargai pengabdian hamba yang tulus.”

Abdul Jalil menarik napas berat dan menggenggam erat tangan istrinya. Dengan suara lirih ia berkata, “Sungguh aku bangga dengan kesetianmu, o Istriku. Andaikan aku bisa, ingin aku menanggung rasa sakit yang engkau derita.”

Shafa tersenyum bangga, “Hamba tersanjung dengan pujian Tuan. Hamba merasa seolah-olah terbang di angkasa khayalan. Tapi bolehkah hamba bertanya sesuatu dan Tuan menjawab pertanyaan hamba dengan jujur?”

“Bertanyalah, o bungaku terharum. Aku akan menjawab dengan jujur.”

“Apakah Tuan melihat wajah hamba sudah semakin tua?”

Abdul Jalil tercekat. Ia diam. Beberapa jenak kemudian ia tersenyum dan berkata, “Jujur aku katakan, wajah istriku sekarang ini memang lebih tua dibanding saat ia aku nikahi. Tetapi ibarat kumbang yang lebih suka memilih bunga yang mekar daripada yang kuncup, begitulah rasa cintaku kepadamu sekarang ini tidak kurang sedikit pun dan bahkan malah bertambah-tambah. Bagi kumbang pengarung angkasa ruhani, makna sekuntum bunga bukanlah terletak kepada keindahan dan keharumannya, melainkan sejauh mana bunga itu dengan tulus memberikan sari madunya demi Kehidupan sang kumbang.”

“Apakah Tuan tidak akan mencari bunga lain jika kuntum bunga yang Tuan hinggapi sudah layu?”

“Bunga yang tulus memberikan madu tidak pernah layu bagi sang kumbang. Sebab, yang dilihat sang kumbang bukanlah bentuk ragawi bunga lagi, melainkan citra indah dari jiwa bunga yang tak pernah layu. Itulah bunga abadi yang keharumannya memabukkan bagi sang kumbang,” kata Abdul Jalil mengelus tulang pipi istrinya yang kurus.

“Hamba benar-benar tersanjung, o Tuan. Tetapi, hamba takut jika keberadaan bunga abadi itu akan membuat murka Raja Kumbang, karena telah membuat mabuk sang kumbang hingga lupa kepada-Nya,” kata Shafa.

“Raja kumbang tidak akan murka,” sahut Abdul Jalil lembut. “Sebab, bunga abadi itu pada hakikatnya adalah cerminan dari Bunga Abadi yang dijadikan mahligai persemayaman Raja Kumbang.”

Ketika Shafa akan berkata-kata, tiba-tiba muncul seorang pengikut Abdul Jalil yang dengan wajah pucat dan terengah-engah memberi tahu jika sekawanan begal yang ganas sedang mencari-carinya. “Kami tidak tahu apa maksud mereka mencari Kangjeng Syaikh. Tapi kami yakin mereka berniat tidak baik,” ujarnya gemetar.

“Pulanglah ke rumah,” kata Abdul Jalil tenang. “Janganlah rasa takut membuatmu kehilangan iman. Sesungguhnya, Yang Memberi Bahaya sedang menguji keteguhan manusia. Berlindunglah kepada Yang Maha Melindungi dan Yang Memberi Keamanan. Janganlah syak dan ragu menggoyahkan jiwamu. Segala sesuatu bersumber dari-Nya. Kembalikanlah semua urusan hanya kepada-Nya!”

Dengan tergopoh-gopoh pengikut itu melesat di balik pepohonan. Abdul Jalil tersenyum dan memandang istrinya sambil menggumam, “Apakah engkau yakin dengan apa yang baru saja aku katakan, o Istriku terkasih?”

“Hamba mempercayai kata-kata Tuan. Tetapi, hamba masih merasa ketakutan jika kawanan begal itu datang.”

“Rasa takut muncul karena kita masih diliputi keraguan. Yang membisikkan keraguan di dalam hati kita tidak lain dan tidak bukan adalah setan yang merupakan ‘citra bayangan’ dari Yang Maha Menyesatkan. Lantaran itu, kita harus menghilangkan rasa ragu dengan menumpukan kiblat hati dan pikiran kita hanya kepada-Nya: Zat Yang Mahamutlak dalam segala.” Abdul Jalil merengkuh tubuh istrinya. Mendekapnya erat-erat sambil membisikkan kata-kata agar sang istri diam. Sesaat kemudian, terlihat sekitar lima belas orang berwajah sangar dengan membawa kelewang dan tombak berjalan beriringan lewat di depan Abdul Jalil, seolah-olah mereka tidak melihat sesuatu pun di depannya.

Ketika melihat kawanan begal yang mencarinya sudah jauh, Abdul Jalil meninggalkan tempat. Ia memutuskan pergi ke ibu kota untuk menemui Yang Dipertuan Pasir Luhur, Prabu Banyak Belanak, yang tidak lain dan tidak bukan adalah saudara tiri ayahanda asuhnya, Sri Mangana. Di tengah perjalanan, ketika ia dan istrinya singga di sebuah desa yang ramah menyambut, terjadi sesuatu yang nyaris merenggut nyawanya dan nyawa istrinya yang sedang sakit. Sewaktu ia dan istri akan menyantap makanan yang disuguhkan kepala desa, muncul anjing peliharaan kepala desa yang mengendus-endus kakinya. Terbiasa dengan berbagi keberlebih-kelimpahan, ia tanpa berpikir mengambil sekerat daging dari atas piring dan memberikannya kepada anjing yang dengan lahap menyantapnya. Saat itulah ia sadar kalau jiwanya dan jiwa istrinya sedang terancam karena anjing yang menyantap daging itu seketika menggelepar-gelepar dan mati.

Sadar rintangan yang dihadapinya semakin mengganas, Abdul Jalil buru-buru pergi ke Kraton Pasir Luhur menemui Prabu Banyak Belanak. Di depan penguasa yang sudah mengikrarkan keislaman kepada Raden Mahdum Ibrahim itu, ia memperkenalkan diri sebagai putera Sri Mangana Ratu Caruban Larang. Prabu Banyak Belanak sangat gembira menyambutnya dan menyatakan kesediaan untuk mendukungnya dalam menyampaikan risalah Kebenaran di wilayah Pasir Luhur yang masih diliputi kabut kejahilan. Namun, Yang Dipertuan Pasir Luhur mengaku tidak memiliki cukup kekuatan untuk mengatasi masalah yang dihadapi Abdul Jalil. “Hendaknya ananda memahami kedudukan paman yang sedang lemah sejak paman mengikrarkan keislaman. Di kraton ini banyak nayaka dan abdi yang lebih patuh kepada penguasa ksetra daripada kepada raja. Raja Pasir telah lemah kuasa dan wibawa dibanding pendeta,” ujar Prabu Banyak Belanak.

Sekalipun Prabu Banyak Belanak lemah kuasa dan wibawa, ia tetaplah seorang raja yang memiliki pengikut-pengikut setia dan sedikit kekuasaan. Ia mengetahui siapa saja di antara penguasa ksetra dan sanggar pamujan Prthiwi dan nayaka Pasir Luhur yang menggalang kekuatan untuk menghadang langkah dan sekaligus ingin menyingkirkan Abdul Jalil dari muka bumi. Beberapa orang di antara mereka itu adalah Ajar Carang Andul, Wiku Ragadana, Rishi Banasari, Ajar Pohkumbang, Wiku Kalibacin, Rishi Wuaya, dan Binatang Karya. Mereka adalah pendeta-pendeta yang hidup dalam kelimpahan, kemuliaan, dan disembah-sujudi penduduk karena mereka diyakini memiliki hubungan khusus dengan dewa-dewa dan termasyhur kesaktiannya.

Abdul Jalil paham kedudukan tinggi dan mulia para penguasa ksetra itu pada dasarnya ditegakkan di atas rasa takut penduduk yang tercekam lingkaran takhayul dan kurafat yang menempatkan mereka sebagai penguasa tempat suci dan sekaligus wakil dewa-dewa di dunia. Lewat cerita dan dongeng yang bersambung turun-temurun dari mulut ke mulut, mereka telah menempatkan diri sebagai pengawal Dewi Durga atau Dewi Prthiwi yang diagungkan dan dimuliakan dan ditakuti penduduk. Hari-hari dari kehidupan mereka penuh diwarnai dengan dongeng-dongeng klenik yang menjerumuskan manusia ke jurang kejahilan mengerikan: memberhalakan sesama titah sebagai sesembahan. Lantaran itu, kehadiran Abdul Jalil yang tidak tersangka-sangka sangat mengusik kemapanan mereka. Sebab, dalam waktu singkat ia telah menjadi buah bibir sebagai guru suci yang memiliki kesaktian luar biasa, mampu menyembuhkan orang sakit, menolak dan mendatangkan hujan, menjinakkan binatang buas, mengusir ruh setan yang merasuki manusia, menaklukkan setan, dan dapat membuat tawar daya sakti ksetra-ksetra serta tempat-tempat pemujaan Sang Prthiwi.

Keterusikan para penguasa ksetra-ksetra dan sanggar-sanggar pemujaan Sang Prthiwi itu pada gilirannya menjelma menjadi kemarahan, ketika ajaran Abdul Jalil mulai menampakkan pengaruh dahsyat pada perilaku pengikut-pengikutnya. Orang-orang yang semula penakut dan penurut, tiba-tiba berani bangkit dan menuntut hak untuk melindungi anak-anak dan keluarga dari kewajiban mempersembahkan mereka sebagai korban sembelihan di ksetra-ksetra. Mereka membentuk kumpulan-kumpulan dan melakukan perlawanan terhadap para pengawal ksetra yang datang mengambil anak-anak calon korban. Bahkan, mereka mulai menampik cerita-cerita dan dongeng-dongeng menakjubkan yang melingkupi ksetra-ksetra. Gerakan mereka telah membuat marah para pendeta yang kemudian menggalang kekuatan untuk menyingkirkan biang pembuat kisruh itu: Syaikh Jabarantas.

Sekalipun sadar akan bahaya yang bakal dihadapi akibat perlawanan para penguasa ksetra, Abdul Jalil bergeming dari jalannya. Ia tidak membenci dan tidak pula meladeni tindakan mereka yang menginginka nyawanya. Ia justru mengasihi mereka, manusia-manusia picik yang cakrawala pemandangannya sangat sempit dan pengetahuannya sangat dangkal. Ia paham, sebagaimana penduduk pedalaman Nusa Jawa lain yang hidup di tengah limpahan kesuburmakmuran tanah yang gemah ripa lohjinawi, mereka adalah orang-orang yang tidak bisa melihat Kehidupan dengan rana lebih luas dan lebih jauh dari sawah, desa, sungai, gunung, dan lembah yang mengitari kediamannya. Cakrawala pandangan mereka sangat sempit. Pendek. Picik.

Abdul Jalil sadar, membentangkan cakrawala pemandangan manusia yang sempit tidaklah mungkin bisa dilakukan tanpa menegakkan landasan nilai-nilai baru yang bisa dijadikan pijakan bagi terbangunnya tatanan Kehidupan baru yang lebih leluasa dan memberi harapan. Dan sebagaimana lazimnya sebuah perubahan, dalam usaha membangunkan manusia dari alam Kehidupan yang sempit dan menyesakkan itu, ia harus membongkar bangunan nilai-nilai lama penduduk yang sarat diliputi takhayul dan kurafat untuk diganti dengan bangunan nilai-nilai baru yang berlandaskan Tauhid. Itu berarti, ia harus merobohkan dinding-dinding penyekat labirin nilai-nilai lama yang sarat dengan takhayul berliku-liku dan menyesatkan. Ia harus membersihkan dan menyehatkan keyakinan orang-orang yang terpenjara di dalam lorong-lorong gua kurafat yang gelap gulita dengan terangnya matahari Pengetahuan yang Hakiki tentang Tauhid. Lalu, ia mengajarkan tentang eling (dzikir), pracaya (al-iman), mituhu (istiqamah), rila (ridho), lapang dada (sabar), berani berkorban (wirya), bijaksana (arif), ngalah (tawakal), nerima (qana’ah), temen (amanah), dan budi luhur (akhlak al-Karim) baik sebagai nilai-nilai hidup dan amaliah ruhani.

Usaha Abdul Jalil untuk membangun nilai-nilai baru berdasar Tauhid itu bukanlah sesuatu yang ringan. Ia dituntut oleh kewajiban asasi untuk memberikan pelajaran ruhani yang dapat menyingkap tirai kesadaran banyak manusia, agar bisa menyaksikan matahari Kebenaran yang tersembunyi di dalam diri masing-masing, yaitu matahari Kebenaran yang benderang cahaya-Nya jauh lebih agung dan mulia dibanding “gumpalan kabut kejahilan” yang terselip di pohon-pohon, batu-batu, gunung-gunung, mata air, sungai-sungai, punden-punden. Ia harus menyadarkan banyak orang bahwa ruh suci Ilahi yang ditiupkan Allah pada manusia saat penciptaan adalah jauh lebih tinggi dan lebih suci dibanding ruh-ruh gentayangan makhluk penghuni dasar bumi, seibarat perbandingan terang matahari dengan kegelapan gumpalan kabut. Usaha itu hanya mungkin terwujud jika dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala ditegakkan sebagai kediaman manusia-manusia yang sudah tercerahkan oleh pancaran matahari Kebenaran; manusia-manusia unggul yang akan membentangkan cakrawala baru bagi Kehidupan umat manusia yang lebih gemilang dan penuh harapan.

Selama usaha menegakkan caturbhasa mandala yang mendapat dukungan dari raja Pasir Luhur, Abdul Jalil terus dihadapkan pada tekanan-tekanan hebat yang nyaris membuat orang-orang di sekitarnya putus asa. Semakin kuat tekadnya untuk mewujudkan tegaknya caturbhasa mandala di wilayah Kabhumian, semakin hebatlah serangan yang datang untuk menggagalkannya. Namun, di tengah suasana yang penuh tekanan itu, tanpa disadari ia acapkali menampakkan kekeramatan-kekeramatan bersifat adikodrati yang secara langsung atau tidak langsung memperkuat keyakinan orang-orang yang mendukungnya. Bahkan, puncak dari kekeramatan itu disaksikan oleh banyak manusia ketika berlangsung upacara pembukaan empat dukuh pertama bercitra caturbhasa mandala di Kabhumian, yaitu dukuh Tanah Sari, Soka, Telaga, Wulung, dan Kali Putih.

Ketika Prabu Banyak Belanak menghadiri upacara pembukaan keempat dukuh di Kabhumian itu, ia lebih dulu telah mengundang para sesepuh dan pemuka desa, para balian, dukun, kumara, pendekar, tuan tanah, saudagar, bangsawan, terutama penguasa ksetra dan sanggar pemujaan Prthiwi di wilayah Kabhumian. Di tengah upacara itu ia mengumumkan akan mencari guru suci kerajaan yang linuwih. Hal itu dilakukan dengan cara menguji kesaktian dan kedigdayaan calon guru suci tersebut. Raja ingin menguji kemampuan semua orang sakti di wilayah Kabhumian dengan cara mengadu kesaktian dan kedigdayaan masing-masing. Siapa yang paling unggul maka dialah yang akan menjadi guru suci kerajaan.

Keiinginan raja untuk menguji kesaktian semua orang sakti di Kabhumian disambut penuh semangat oleh semua undangan yang merasa memiliki keunggulan dalam olah kanuragan maupun olah kebatinan. Lalu, terjadilah unjuk kehebatan di antara orang-orang yang berhasrat kuat menjadi guru suci kerajaan yang sangat terhormat dan mulia itu. Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi ketika Syaikh Jabarantas tiba-tiba muncul dan berhasil lolos dari ujian yang berat itu. Dalam ujian yang diselenggarakan raja Pasir Luhur itu, Syaikh Jabarantas dengan cara sangat menakjubkan yang sebelumnya belum pernah disaksikan orang. Ia dengan mudah membuat tawar tuah dan tulah para penguasa ksetra dan penguasa sanggar pemujaan Sang Prthiwi, melumpuhkan keampuhan mantera-mantera para balian dan dukun-dukun, membuat tidak berdaya kesaktian dan kedigdayaan para pendekar, menggagalkan permainan ruh para kumara, dan melemahkan daya sakti pusaka-pusaka keramat.

Setelah memenangkan ujian dan diangkat menjadi guru suci kerajaan, Abdul Jalil tinggal di dukuh Tanah Sari dan menerima banyak murid. Sebagaimana kebiasaan yang dilakukannya, ia memberikan pelajaran berbagai pengetahuan baru yang memiliki sudut pandang baru kepada para muridnya, yang membuat banyak orang tertegun-tegun dan terheran-heran. Tanpa peduli dengan keyakinan dan pemahaman sebagian besar penduduk yang sarat takhayul dan gegwantuhuan, ia mengajarkan pengetahuan-pengetahuan yang sebelumnya belum pernah diketahui orang. Orang sering melihatnya menyampaikan ajaran-ajaran aneh seperti “belajar mati”, menjadi adimanusia, Sasyahidan, dan “menaklukkan setan”. Dengan suara aneh laksana desis ular di tengah derik ribuan jangkrik, ia mengajarkan cara menaklukkan setan kepada murid-muridnya, yang kalau dipaparkan, kira-kira begini intisarinya:

“Sungguh, telah berbilang tahun dan abad kalian mempercayai bahwa ruh-ruh setan menghuni tempat-tempat angker yang berbahaya bagi manusia. Kalian mempercayai bahwa ruh-ruh setan ada yang baik, ada yang jahat, dan suka mengganggu manusia. Kalian menyakini, orang-orang yang kesurupan adalah orang-orang yang sedang dirasuki ruh setan penghuni batu, pohon, sungai, mata air, punden, dan gunung. Padahal, apa yang kalian yakini itu pada hakikatnya adalah dunia khayali yang kalian bangun dengan prasangka-prasangka kosong. Yang kalian yakini adalah dunia angan-angan yang mengada-ada karena kuatnya daya cipta kalian sendiri.”

“Mulai sekarang, dengarlah apa yang diajarkan oleh Syaikh Jabarantas tentang setan-setan yang menggentarkan jiwamu itu. Ketahuilah, sejak awal zaman ketika manusia diciptakan Allah, di dalam diri manusia sudah terkumpul berbagai anasir mulai Yang Ilahi, malakut, setani, manusiawi, sampai hewani. Itu sebabnya, anasir setani, yang membuat seseorang kesurupan, sejatinya bukanlah anasir yang berasal dari luar diri manusia. Setan-setan yang merasuki diri manusia bukanlah ruh-ruh gentayangan penghuni tempat-tempat angker. Sebab, sejatinya, anasir-anasir setani sudah ada di dalam diri manusia sejak awal zaman. Anasir setani itu mengalir bersama aliran darah manusia. Setan ada di dalam diri manusia. Setan itulah yang membuat was-was hati manusia dan mendorong-dorong manusia untuk menekuk kaki, tubuh, dan kepala manusia, agar manusia bersujud kepada sesembahan selain Allah. Setan di dalam diri manusia itulah yang telah membuat lengah manusia dengan menunjuk bayangan dirinya yang seolah-olah bersemayam di pepohonan, sungai-sungai, batu-batu, mata air, gunung-gunung, dan punden-punden. Setiap orang yang terperdaya oleh bujukannya akan mengikuti bisikannya sehingga mereka tidak mengetahui di mana sejatinya ruh setani itu berada.”

“Camkan oleh kalian semua, o orang-orang yang mengaku pengikut Syaikh Jabarantas, mulai sekarang hendaknya kalian semua tidak lagi mengarahkan kiblat hati dan pikiran kepada sesembahan di luar diri kalian, baik itu pohon, batu, sungai, mata air, gunung, laut, bintang, bulan, matahari dan tempat-tempat angker. Kiblat Kebenaran yang sejati ada di dalam kalbu manusia. Dengan kiblat yang benar, kalian akan menjadi penakluk segala ciptaan karena kalian adalah wakil Allah di muka bumi. Dengan demikian, ulai saat ini jangan lagi kalian takut terhadap bayangan setan yang disebut Naga Shesha yang membagi-bagi waktu untuk menggiring kiblat hati dan pikiran manusia dari jalan Kebenaran. Sebagai wakil Allah di muka bumi, kalian akan bisa menjadi manusia penakluk setan yang selama ini kalian takuti. Apakah kalian ingin menjadi penakluk setan? Jika kalian ingin menjadi manusia penakluk setan maka ikutilah petunjukku.”

“Mula-mula, arahkan kiblat kesadaranmu ke dalam dirimu sendiri. Renungkan, rasakan, resapi, dan hayati keberadaan anasir setani yang bersembunyi di dalam dirimu. Sebab, setan di dalam dirimu itulah setan yang sejati, bukan bayangannya yang menciptakan angan-angan kosong di luar dirimu. Renungkan, rasakan, resapi, dan hayati keberadaan anasir setani di dalam dirimu yang panas membakar laksana api yang darinya setan dicipta. Renungkan, rasakan, resapi, dan hayati anasir api yang mengobarkan sifat takabur, iri, dengki, amarah, cemburu, dan dendam kesumat dalam dirimu yang salah satu gerbangnya terletak pada indera pendengaranmu. Jika kalian telah mengetahui dan menangkap keberadaan setan beserta sifat-sifat dan af’al-nya di dalam diri kalian masing-masing maka mudahlah bagi kalian untuk menaklukkannya. Sebab, bagaimanapun rapi setan menyembunyikan diri, kalian telah mengetahui jati dirinya. Sehingga, kalian setiap saat akan dapat menertawakan segala daya upaya setan yang akan membelokkan kiblat Kebenaran dari kesadaran kalian. Itulah yang aku sebut kemenangan menaklukkan setan karena setan tidak berdaya menghadapi orang-orang yang sudah mengetahui dan mengenal jati dirinya.”