Serpihan-Serpihan Manusia

Setelah merasa cukup berbagi keberlebih-kelimpahan di Kabhumian, Abdul Jalil dengan didampingi istri melakukan perjalanan ke arah timur melintasi gunung, bukit, lembah, ngarai, sungai, hutan, dan padang hijau dengan istirahat sekadarnya di desa-desa, dukuh-dukuh, padepokan-padepokan dan asrama-asrama yang berkenan menerima kehadirannya. Laksana seekor sapi membagi-bagi susunya kepada siapa saja yang membutuhkan, ia membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya tanpa sedikit pun meminta imbalan jasa. Dengan ketulusan dalam berbagi, tanpa dikehendaki ia telah menimbulkan perubahan-perubahan pada manusia-manusia di berbagai tempat yang di kunjunginya: perampok, begal, penggarong, maling, pembunuh, dan pelacur yang selama itu dianggap sebagai hama masyarakat, tiba-tiba banyak yang bertobat dan kembali ke jalan yang benar; wiku-wiku yang mengikuti upacara mediksha dengan sukarela mengikrarkan dua kalimah syahadat diikuti upacara memotong kulup kemaluan; beralih fungsinya ksetra-ksetra menjadi kuburan-kuburan penduduk; dan munculnya dukuh-dukuh baru bercitra caturbhasa mandala.

Setelah bulan-bulan dan tahun-tahun berlalu, dalam perjalanan panjang membagi keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil yang dikenal orang dengan nama Syaikh Jabarantas telah menjadi buah bibir masyarakat. Sejak kawasan barat Pasir Luhur hingga perbatasan Mataram, Pengging, dan Pajang, tidak ada orang yang tidak kenal nama Syaikh Jabarantas yang mengajarkanajaran-ajaran aneh: belajar mati, menaklukkan setan, Sasyahidan, dan menjadi adimanusia. Suatu ajaran aneh yang telah mengobrak-abrik kejumudan dan kemandekan Kehidupan ruhani di pedalaman Nusa Jawa. Bahkan bukan sekadar ajaran anehnya, tapi penampilan, perilaku, dan kekeramatannya yang luar biasa telah menjadikannya dikenal dan dihormati orang dengan sangat berlebihan. Di mana pun ia berada, ia selalu dijadikan pergunjingan yang tak ada habis-habisnya. Hanya saja, keberadaannya yang selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain telah menghindarkannya dari pemberhalaan sebagaimana telah terjadi di Caruban. Penduduk di pedalaman Nusa Jawa kebanyakan hanya satu dua kali melihat sosok Syaikh Jabarantas atau bahkan hanya mendengar nama itu dari cerita mulut ke mulut.

Sebagaimana saat berada di wilayah Pasir Luhur, ketika memasuki wilayah perbatasan Pasir Luhur, Mataram, Pengging, dan Pajang yang membentang sejak lembah selatan pegunungan Dihyang hingga lembah gunung Sindara – Sumbing, di kaki gunung Candrageni (Merapi), dan Candramuka (Merbabu), Abdul Jalil disambut dengan penghormatan berlebih setiap kali datang ke dukuh-dukuh, padepokan-padepokan, asrama-asrama. Namun, di tengah sanjungan dan pujian yang ditujukan kepada dirinya itu, Abdul Jalil menangkap sasmita mengerikan tentang bakal terjadinya azab Allah dalam bentuk bencana dahsyat yang akan melanda wilayah tersebut.

Sepanjang perjalanan memasuki wilayah yang bakal diterjang bencana itu, Abdul Jalil menyaksikan jungkir baliknya tatanan nilai-nilai yang dianut penduduk di kawasan tersebut. Ia menduga, kemerosotan Majapahit yang diikuti tumbuh suburnya kerajaan-kerajaan kecil dan kadipaten-kadipaten gurem yang saling berselisih telah menjadi penyebab utama bagi lahirnya sebuah tatanan baru masyarakat yang kabur dan tidak jelas kekuatan tiang-tiang penyangganya. Kehidupan masyarakat telah teraduk-aduk dan berantakan karena pilar-pilar kekuasaan, hukum, keamanan, dan ketertiban telah runtuh serta hilang tersapu badai keserakahan dan keganasan para penguasa yang berselisih memperebutkan kuasa dan wibawa. Kekuasaan sudah berbaur dengan ketidakteraturan. Hukum sudah bercampur dengan perdagangan. Keadilan sudah sama dan sebangun dengan keberpihakan. Kejujuran telah menyatu dengan dusta. Kebaikan telah bercampur aduk dengan kejahatan. Kebenaran telah tumpang tindih dengan kebatilan. Semua nilai telah kabur. Buram. Gelap. Menyesakkan.

Di tengah perselisihan para penguasa serpihan-serpihan wilayah Majapahit yang sebagian besar telah menjadi kekuasaan-kekuasaan gurem itu, memang terjadi kesepakatan para penguasa untuk membagi wilayah kekuasaan masing-masing dengan batas-batas wilayah yang tegas. Namun, akibat tidak adanya kekuasaan tertinggi yang memiliki kuasa dan wibawa, maka kesepakatan-kesepakatan itu sering kali dilanggar. Lalu, terjadi tumpang tindih dalam pengaturan daerah kekuasaan baik menyangkut batas tanah, pajak, cacah jiwa, administrasi, hingga status warga dan jumlah nayakapraja. Di tengah ketumpangtindihan itu, rakyat sengaja dibiarkan hidup dengan pilihan-pilihannya sendiri, termasuk dalam hal melindungi diri sendiri dari berbagai masalah berat yang seharusnya menjadi kewajiban penguasa. Akibatnya, kerusuhan-kerusuhan kerap kali terjadi, baik dalam bentuk perampokan, penyerobotan tanah, tawuran antardesa, pembunuhan-pembunuhan, dan penjarahan-penjarahan. Para penguasa biasanya pura-pura menutup mata seolah tidak mengetahui keadaan carut marut yang terjadi di wilayah kekuasaannya.

Sebagaimana perilaku alam, seiring perjalanan waktu, tatanan Kehidupan di wilayah yang sarat perselisihan itu telah melahirkan kenyataan hidup manusia yang sesuai dengan dasar-dasar hukum alam: siapa yang kuat akan muncul sebagai pemenang. Di tengah kehidupan yang mirip rimba raya itu, bermunculan makhluk-makhluk mengerikan yang ganas, buas, rakus, dan keji, laksana mayat-mayat hidup bangkit dari kubur bergentayangan menakuti manusia. Atau, makhluk-makhluk buas yang curang, licik, kejam, tamak, dan serakah, laksana kawanan lintah berkeriap dari rawa-rawa mencari manusia untuk diisap darahnya. Atau, makhluk-makhluk pemakan bangkai, laksana kawanan biawak merayap-rayap dengan lidah bercabang terjulur meneteskan liur keserakahan. Atau makhluk-makhluk dekil pemakan sampah, laksana lalat beterbangan menebarkan bau busuk dan penyakit. Makhluk-makhluk ganas itulah yang dikenal orang dengan nama: tuan tanah, lintah darat, pemungut pajak, tukang tagih, centeng, maling, penggarong, pemeras, orang-orang bayaran, dan penjarah. Semua makhluk menjijikkan itu hidup saling membahu, tolong-menolong, manfaat-memanfaatkan, dukung-mengukung, pendek kata saling bekerja sama dengan sesama maupun dengan para penguasa. Mereka membangun kuasa dan wibawa yang menakutkan bagi Kehidupan manusia karena kekuatan mereka saling berjalin berkelindan, laksana dinding-dinding labirin yang berliku-liku membingungkan dan menyesatkan.

Kemunculan makhluk-makhluk mengerikan itu ternyata akibat keadaan tidak pasti yang membuat semua orang saling berlomba memenuhi kepentingan pribadinya masing-masing di luar batas kewajaran. Seperti sedang berpacu mengadu kecepatan, orang-orang berlomba saling mendahului untuk meraih keuntungan pribadi sebesar-besarnya. Siapa yang tercepat akan berada pada urutan terdepan. Dalam perlombaan mengedepankan kepentingan pribadi itu, muncul makhluk-makhluk mengerikan yang membahayakan Kehidupan manusia. Sementara penduduk desa yang selama berbilang abad merupakan orang-orang tangguh yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri, ternyata ikut berubah menjadi kawanan makhluk pemalas rakus dan ganas akibat tanah-tanah yang mereka garap secara turun-temurun bergantian dirampas oleh penguasa yang berbeda dari satu waktu ke waktu yang lain. Bagaikan kawanan lalat berkerumun mengitari bangkai yang dimangsa serigala, begitulah penduduk desa-desa yang sebelumnya dikenal sebagai komunitas yang mandiri tiba-tiba menjelma menjadi kawanan pencoleng yang suka menangguk keuntungan di tengah kekacauan. Selama kurun perselisihan yang panjang itu, banyak desa yang semula penduduknya terkenal ramah dan suka menolong tiba-tiba berubah menjadi desa para pelucut mayat. Perangai ramah dan suka menolong serta merta lenyap digantikan wajah seram dari serpihan-serpihan manusia yang suka melucuti barang-barang prajurit yang tewas dalam pertempuran, seperti keris, sarung keris, pedang, sarung pedang, busur, mata tombak, cincin, gelang, dan kantung jimat. Bahkan, yang lebih banyak tumbuh lagi di samping desa-desa pelucut mayat adalah desa-desa penggarong dan penjarah, yakni desa dari serpihan-serpihan manusia ganas pembawa binatang buas yang menjarah dan membiadab di tengah kekacauan.

Melucuti mayat dan menjarah. Kebiasaan yang dilakukan terus-menerus di tengah perselisihan kuasa dan wibawa yang berlangsung berpuluh-puluh tahun akhirnya mewujud menjadi sebuah mentalitas kaum. Sebab, dengan melucuti mayat dan menjarah, segala hal yang sulit menjadi mudah. Segala hal yang rumit menjadi sederhana. Segala hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bukankah di dalam melakukan perlucutan mayat dan penjarahan, orang hanya butuh sedikit kekuatan dan sekeping keberanian untuk melakukan aksinya? Bukankah seorang pemalas dekil pun tidak perlu mengeluarkan tenaga banyak untuk melakukan tindakan perlucutan mayat atau aksi penjarahan? Melucuti mayat. Menjarah. Melucuti mayat. Menjarah. Itulah mentalitas kaum yang terus tumbuh subur baik di kalangan kawula maupun di tingkat penguasa yang hidup di tengah konflik. Semakin porak-porandan dan jungkir balik tatanan nilai-nilai kehidupan yang sudah dirobek-robek perselisihan itu, semakin suburlah mentalitas rendah itu dengan pertanda seringnya pecah kekacauan yang bermuara ke perlucutan dan penjarahan besar-besaran. Demikianlah, di wilayah persilangan Pasir Luhur, Mataram, Pengging, dan Pajang yang ditebari kadipaten-kadipaten gurem seperti Bocor, Taji, Surabhuwana, Pakem, Semanggi, Wanabhaya, Wirasabha, Bhagahalin, Jatinom, Kajoran, dan Tembayat itu nyaris tidak pernah sepi dari kekacauan yang tampaknya sengaja dicipta oleh para penjarah.

Di lembah selatan gunung Candrageni yang selalu mengeluarkan asap, yang menurut penduduk di sekitar gunung tersebut terdapat kerajaan gaib bangsa lelembut, yang dirajai Sang Kala Rudra, yang pada waktu-waktu tertentu menyemburkan lahar panas dari kepundan, terdapat pemukiman penduduk yang tersebar begitu dekat jaraknya satu sama lain. Sejak berbilang abad, kawasan tersebut dikenal sebagai daerah sangat subur karena muntahan lahar dari gunung Candrageni telah menjadi pupuk bagi tanah yang ditebarinya. Lantaran berlimpah kesuburan yang laksana berkah tercurah dari langit, penduduk di kawasan tersebut hidup dalam kemakmuran berlebihan. Namun, sejak ketidakpastian hidup mulai mengambang seiring merosotnya kekuasaan Majapahit, seluruh kemakmuran yang dinikmati penduduk tiba-tiba terampas oleh tangan-tangan kekar bersenjata. Petani-petani penggarap sawah diusir dan tanahnya dirampas oleh orang-orang kuat yang kelak mendudukkan diri sebagai penguasa wilayah. Lalu, seiring menguatnya penguasa wilayah, bermunculan para tuan tanah, pemungut pajak, penagih sewa tanah, tukang kepruk, dan lintah darat. Kemiskinan pun merebak menjadi keniscayaan yang melahirkan manusia-manusia pemalas yang mengedepankan kepentingan pribadi, yang dengan cara sangat ajaib menjelma menjadi serpihan-serpihan manusia dekil berjiwa perampok, penggarong, pencuri, pelucut mayat, pengutil, dan penjarah.

Ketika Abdul Jalil dan istri dalam perjalanan membagi keberlebih-kelimpahan tiba di kawasan lembah selatan gunung Candrageni, ia menyaksikan kejahatan demi kejahatan dilakukan oleh manusia-manusia yang sudah menjadi serpihan-serpihan berjiwa kawanan binatang buas. Yang paling menderita dari keadaan itu tentu saja orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang tak berdaya. Mereka meringkuk ketakutan di sudut-sudut rumah dengan tubuh lemah diterkam rasa lapar dan putus asa. Dengan tatap mata kosong, beberapa ibu yang kurus mendekap mayat bayinya yang sudah kaku. Sementara orang-orang yang masih kuat acapkali terlihat berlari tak tentu arah ketika rumah-rumah mereka dibakar para perusuh yang laksana kawanan serigala haus darah menjarah dan memburu siapa saja di antara manusia yang bisa dijadikan mangsa. Demikianlah, di tengah jerit kematian, pekik kesakitan, dan rintih keputusasaan orang-orang lemah tak berdaya itu, terdengar gelak tawa para tuan tanah, lintah darat, tukang tagih, pemungut pajak, tukang kepruk, para penjarah, dan tentu saja para penguasa bermental penjarah.

Bagi kebanyakan orang yang tinggal di daerah lembah gunung Candrageni dan Candramukha, compang-camping dan porak-porandanya kehidupan penduduk dengan nilai-nilai yang jungkir balik itu dianggap sebagai suatu hal biasa dan bahkan sangat menyenangkan. Namun, bagi Abdul Jalil yang terbiasa berbagi keberlebih-kelimpahan, keadaan itu sangat melukai jiwanya. Ia merasa seolah-olah berdiri di tengah bentangan cermin yang mengelilingi seperti lingkaran. Lalu, di dalam cermin itu ia melihat bayangan mengerikan dari manusia-manusia berkurang-kesusutan yang meraung-raung, melolong-lolong, dan melenguh-lenguh dengan mata menyala dan liur menetes, ingin melahap mangsa. Betapa mengerikan bayangan makhluk-makhluk buas berwujud manusia itu karena mereka lebih ganas dan lebih liar dibanding binatang paling buas. Mereka tidak takut kepada sesuatu karena di dalam diri mereka bersembunyi sesuatu yang sangat menakutkan manusia.

Sesungguhnya, sebagai makhluk hidup, serpihan-serpihan manusia itu memiliki naluri rasa takut. Sebab sebuas dan seliar apa pun makhluk hidup, entah itu manusia atau binatang, tidak akan pernah dapat membebaskan diri dari naluri rasa takut. Demikianlah, serpihan-serpihan manusia dekil berkurang-kesusutan yang dari waktu ke waktu mengumbar kejahatan demi kejahatan itu ternyata lehernya dililit oleh rantai-rantai rasa takut, yang diikat pada tiang api raksasa di puncak gunung Candrageni, yang merupakan singgasana Sang Kala Rudra. Rasa takut kepada Sang Kala Rudra itulah yang membuat mereka dapat berubah menjadi kumpulan dari serpihan manusia yang dengan takzim mempersembahkan sesaji kepada penguasa gunung serta mematuhi pantangan-pantangan, terutama di saat mereka menangkap tanda-tanda kemarahan Sang Penguasa Gunung.

Sementara, tercekam oleh penderitaan manusia akibat kejahatan manusia lain, Abdul Jalil berusaha memberi peringatan kepada semua orang agar mereka sadar bahwa tindak kejahatan yang mereka lakukan dengan semena-mena itu telah membuat Yang Mahakuasa murka. Dengan cara yang aneh, muncul mendadak seperti orang terbawa tiupan angin, ia datang ke tengah para pendeta dan pemuka penduduk yang sibuk mengadakan upacara persembahan bagi Sang Kala Rudra, penguasa gaib gunung Candrageni, yang belakangan terlihat murka dengan pertanda terbatuk-batuk dan menggeram-geramnya sang gunung. Ketika semua terheran-heran dengan kemunculannya yang aneh itu, Abdul Jaliln dengan cara yang aneh pula menyatakan bahwa ia adalah punggawa kraton gaib gunung Candrageni, yang diutus Sang Kala Rudra untuk memperingatkan manusia.

Di tengah rasa takut yang sedang menerkam, dengan menunjukkan sedikit kekeramatan yang menakjubkan, Abdul Jalil berhasil meyakinkana para pendeta dan pemuka penduduk. Mereka yang meyakini bahwa dewa-dewa sering muncul di dunia dalam wujud manusia, benar-benar yakin jika manusia yang berpakaian compang-camping yang datang dengan cara aneh dan mampu menunjukkan kesaktian itu adalah punggawa kepercayaan Sang Kala Rudra. Dengan penuh ketundukan dan kepatuhan, mereka menyembah dan kemudian duduk takzim bagaikan nayaka sedang menunggu sabda rajanya.

Sadar orang-orang sudah meyakini dirinya adalah punggawa kepercayaan Sang Kala Rudra, Abdul Jalil kemudian memberikan wejangan-wejangan yang intinya adalah peringatan dan ancaman kepada para pelaku kejahatan yang telah membuat murka Penguasa gunung, sungai, hutan, lautan, dan langit. Dengan suara nyaring laksana jeritan camar di tengah deburan ombak lautan, ia berkata dengan suara lantang diliputi wibawa yang aneh.

“Dengar! Dengarlah sabdaku, o pemimpin-pemimpin manusia yang tinggal di wilayah kekuasaanku! Bukalah telingamu lebar-lebar sebelum aku tusuk dengan batang bambu! Camkan peringatan yang aku sampaikan ini! Pertama-tama, untuk apa engkau sekalian melakukan upacara persembahan kepada Tuanku, Sang Kala Rudra, dengan cara berlebihan? Untuk apa tumpeng, ayam panggang, domba sembelihan, arak wangi, dan dupa harum engkau suguhkan untuk Tuanku, jika apa yang kalian persembahkan itu adalah hasil rampokan dan jarahan? Apakah kalian menganggap Tuanku pemimpin perampok yang memerintahkan kalian untuk merampas dan menjarah? Sungguh, persembahan kalian adalah penistaan dan kejijikan bagi Tuanku. Sungguh, perayaan upacara yang kalian adakan ini adalah suatu kejahatan yang memalukan bagi Tuanku.”

“Dengar! Dengar sabdaku, o manusia-manusia memuakkan. Telah bertahun-tahun Tuanku menahan murkanya atas penghinaan yang kalian lakukan. Tuanku muak melihat kalian. Muak. Muak. Seribu kali muak. Sehingga, kalau Tuanku mendapati kalian menengadahkan tangan untuk berdoa kepadanya maka dia akan memalingkan muka dan menutup telinganya. Dia tidak akan mendengar doa kalian. Sebaliknya, dia murka dan akan menebarkan kemurkaannya atas kalian semua. Tanpa kenal orang tua, perempuan, anak-anak, dan bahkan bayi sekali pun, dia akan mencurahkan amarahnya ke atas kepala tiap-tiap makhluk hidup di sekitarnya. Dia, Sang Kala Rudra, Penguasa Waktu, akan turun kepada kalian dalam wujud Yama, Sang Maut, Yang Maha Membinasakan. Dia akan menyaksikan Kebinasaan manusia akibat kejahatan-kejahatan yang mereka lakukan.”

“Sekarang dengarkan! Dengarkan, o manusia-manusia jahat. Jika kalian ingin selamat dari murka Tuanku maka ikutilah apa yang aku tunjukkan ini: pertama-tama, sucikanlah dirimu dari semua perbuatan jahat. Lalu, dermakan semua harta benda yang telah kalian kumpulkan dengan cara tidak hak itu kepada mereka yang membutuhkanu. Berbuat baiklah dengan menolong siapa saja di antara manusia yang membutuhkan pertolongan. Lalu, tegakkan keadilan dan cegah orang-orang dari perbuatan jahat. Lindungi orang-orang tua tak berdaya. Bela hak anak-anak yatim dan terlantar. Perjuangkan hak janda-janda tua dan orang-orang tertindas. Berikan keberlebih-kelimpahan yang kalian miliki kepada siapa saja di antara makhluk yang membutuhkan. Lalu, jangan sekali-kali kalian melakukan upacara persembahan untuk Tuanku lagi. Sebab, Tuanku telah berkata kepadaku bahwa Dia jijik dengan persembahanmu. Sebaliknya, Dia menginginkan kalian untuk menyembah-Nya dalam perwujudan Sanghyang Taya, Hyang Tunggal, Tuhan sesembahan leluhurmu sejak awal zaman. Kembalilah kalian kepada jalan Kebenaran yang pernah diajarkan Danghyang Semar beribu tahun silam.

Kembalilah kalian kepada ajaran Kapitayan. Tinggalkan upacara-upacara tak berguna yang menista Tuanku. Upacaramu itu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi malah menurunkan bencana dahsyat bagi kalian.”

“Jika kalian ikuti petunjukku maka kalian akan selamat dari murka Tuanku. Sekalipun kesalahan kalian sudah sehitam jelaga, jika mengikuti petunjukku dengan benar maka kesalahan kalian akan dibersihkan dan disucikan seputih kapas. Jika kalian mau mendengar dan menuruti petunjukku maka kelimpahan yang Tuanku berikan akan semakin bertambah-tambah. Tetapi sebaliknya, jika kalian menentang dan melawan petunjukku maka kalian akan dimangsa oleh naga api raksasa yang bakal keluar dari kraton Tuanku. Sekarang dengarkan dan ikuti seruanku: seibarat kecepatan awan yang berarak ditiup angin kencang, begitulah engkau dengan keluargamu hendaknya pergi jauh-jauh dari wilayah kekuasaan Tuanku! Pergilah kalian menjauh dari tempat ini karena murka Tuanku sudah tidak tertahankan lagi. Dia akan menumpahkan murka-Nya ke empat penjuru negeri.”

Tiap-tiap umat memiliki ajal. Jika ajal suatu umat sudah datang menghampiri, waktunya tidak dapat diundur atau dimajukan. Sebagaimana keniscayaan hukum kehidupan, suatu umat yang sedang menunggu ajal selalu menampakkan tanda-tanda yang nyaris sama: mata nuraninya buta, telinga jiwanya tuli, lidah kebenaran-hatinya bisu, cakrawala kesadaran ruh manusiawinya tertutup gumpalan kabut pekat kejahilan. Sehingga, tidak seberkas pun keindahan wejangan yang dapat mereka lihat, tidak secuil pun kemerduan nasihat dapat mereka dengar, tidak sekerat pun kelezatan petunjuk dapat mereka nikmati, dan tidak sebersit pun bentangan cahaya Kebenaran dapat mereka ketahui. Mereka seperti orang buta, tuli dan bisu yang berada di dalam sel penjara yang gelap sehingga seberkas apa pun orang berusaha mengingatkan mereka tentang terangnya Kebenaran pastilah tidak akan mereka hiraukan.

Sebagai seorang manusia yang memiliki kepekaan dalam membaca tanda-tanda Kehidupan, Abdul Jalil sebenarnya menangkap sasmita bakal terjadinya bencana sejak kali pertama ia menginjakkan kaki di tanah yang dikerudungi kabut kejahatan. Keluh kesah penduduk tentang serbuan hama tikus dan belalang di sawah-sawah, disusul serangan penyakit ganas yang menewaskan ternak, dan disambung terjangan angin puyuh yang merusakkan tanah pertanian dan pemukiman, adalah tengara awal yang ditangkapnya tentang bakal terjadinya bencana dahsyat di daerah itu akibat kejahatan manusia. Ia tidak terkejut ketika kemudian mendapati kejahatan demi kejahatan yang dilakukan manusia-manusia dekil dan yang sudah buta nurani, tuli jiwa, dan bisu batinnya itu tergelar di depan matanya. Ia hanya merasakan dadanya sesak ketika dari waktu ke waktu menyaksikan ruh kejahatan terus datang membadai dan sambung-menyambung, menyelimuti jiwa manusia laksana embusan angin menggiring gumpalan awan yang bakal menghamburkan prahara; badai Kematian ganas yang ditunggangi Sang Maut, Penguasa Kematian, Pembinasa Yang mengangkat cakar-cakar Kehancuran dan akan menyantap nyawa semua makhluk yang ditemui-Nya.

Di tengah kebutaan mata hati, ketulian telinga batin, kebisuan lidah ruhani manusia yang sudah menghitam, di antara kejahatan yang tercurah laksana hujan deras dari langit, Abdul Jalil dengan diikuti tiga puluh sembilan orang yang meyakini ucapannya, yang kesemuanya adalah orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang lemah, berjalan beriringan tersuruk-suruk melewati pematang sawah, jalan setapak, semak belukar, hutan, bukit-bukit terjal dan menyeberangi sungai-sungai berair deras. Tanpa mempedulikan rasa lelah yang melumpuhkan jaringan otot tubuh dan rasa lapar yang menerkam perutnya, ia dan istri terus berjalan cepat dan secara bergantian menggendong anak-anak yang menangis ketakutan mendengar raungan gunung Candrageni yang menggemuruh. Ia berjalan sambil sesekali berteriak, menyemangati orang-orang yang mengikutinya agar tidak putus asa, meski kelelahan dan kelaparan telah menguras habis tenaga mereka. “Jangan putus asa! Teruslah bergerak! Bergerak! Ingat, di belakang kita Sang Maut sedang menggeliat dan akan memangsa siapa saja yang berada di dekat-Nya. Sedikit saja terjadi keterlambatan dari gerakan kita, tidak syak lagi, kita akan menjadi santapan-Nya. Ayo percepat langkahmu!” seru Abdul Jalil memapah seorang orang tua yang lemah kehabisan tenaga.

Setelah berjalan beberapa lama, Abdul Jalil beserta orang-orang lemah yang mengikutinya mencapai lembah Martani, yang membentang antara sungai Kuning dan sungai Gendol di kaki selatan gunung Candrageni, terjadilah peristiwa mengerikan yang sudah mereka tunggu dengan cemas: sebuah gempa dahsyat tiba-tiba mengguncang bumi sekeras-kerasnya diikuti runtuhnya bangunan-bangunan dan hiruk pikuk manusia yang bergelimpangan di atas tanah. Lalu, jerit kepanikan sambung-menyambung di tengah suara gemuruh runtuhnya segala sesuatu. Suasana mendadak berubah sangat mencekam dan menegangkan. Bayangan Kematian berkeliaran mengejar setiap jiwa. Wajah Sang Maut yang mengerikan menyeringai sangat menyeramkan, seolah kelaparan dan ingin melahap jiwa-jiwa yang ketakutan melarikan diri dari amukan alam. Ke mana pun manusia menghadapkan wajah, di situ mereka menyaksikan wajah Kematian yang tak tergambarkan dahsyatnya.

Ketika guncangan gempa yang dahsyat mulai mereda, semua orang yang selamat dari runtuhan bangunan-bangunan ambruk dengan kepala pening dan tatap mata kabur berhamburan keluar, berjalan hilir-mudik tak tentu arah, berlari kebingungan memanggili anak-anak, istri, suami, saudara, orang tua, dan handai taulannya. Arus manusia tiba-tiba berpusar dengan cepat di bawah seringai wajah Kematian. Kepanikan tersebar di mana-mana laksana air lautan di aduk-aduk gelombang. Manusia-manusia yang jiwanya sudah menjadi serpihan-serpihan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali berlari. Berlari. Berlari tanpa tahu ke mana arah hendak dituju karena ke mana pun mereka berlari, bayangan Kematian terlihat menunggu mereka di ujung jalan.

Sementara, Abdul Jalil dan orang-orang yang mengikutinya yang sudah mengetahui bakal terjadi bencana, terlihat jauh lebih tenang. Mereka tidak sebingung dan sepanik orang-0rang yang tak mengetahui bakal terjadinya bencana tersebut. Saat orang-orang berlarian tak tentu arah menyelamatkan diri atau mencari sanak-keluarganya, mereka dengan tenang berjalan beriringan ke arah timur menuju perbatasan Pajang yang jauh dari jangkauan gunung Candrageni. Belum lagi mereka cukup jauh berjalan, tiba-tiba terjadi sesuatu yang membuat semua mata terbelalak dan semua mulut bungkam: sebuah ledakan dahsyat terdengar dari puncak gunung diikuti suara gemuruh dari semburan lahar berapi yang menjulang tinggi laksana tiang raksasa menggapai langit. Sekejap kemudian, tiang api raksasa itu tumbang ke bawah menjadi cairan lahar berapi yang turun ke lereng dengan suara mengerikan, berpacu mengadu kecepatan bagaikan kawanan raksasa api berkejaran dan berlompatan saling mendahului, membentuk aliran merah membara, dan menjelma dalam wujud naga api raksasa yang merayap ganas, menyantap segala sesuatu yang dilewatinya. Dalam beberapa jenak, pada bekas jejak naga api raksasa itu terlihat beribu-ribu batang pohon tumbang yang hangus, kayu-kayu hitam menyala berserakan, mayat-mayat sehitam arang yang tak karuan lagi bentuknya, desa-desa yang rata dengan tanah dan mengepulkan asap, dan sayap-sayap Kematian yang terentang gagah menaungi kabut Kebinasaan yang bergumpal-gumpal memenuhi cakrawala.

Tanpa peduli Kebinasaan yang memporak-porandakan Kehidupan makhluk, Abdul Jalil dan orang-orang yang mengikutinya terus bergerak menerobos kegelapan debu yang menyelimuti permukaan bumi sambil terus mengagungkan kebesaran Ilahi. Dengan keyakinan bahwa Kebinasaan yang menghambur dari gunung Candrageni itu senapas dengan Kebinasaan yang pernah melanda kaum ‘Ad dan kaum T’samut di zaman Nabi Luth a.s., ia mewanti-wanti semua orang untuk tidak menoleh ke arah bencana. “Arahkan kiblat hati dan pikiran kalian hanya kepada-Nya! Jangan menoleh-noleh ke samping atau ke belakang! Barangsiapa yang melanggar akan binasa dimangsa Sang Maut.”

Sekalipun sejak awal sudah mengetahui bakal datangnya bencana, dalam perjuangan keras membawa orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak untuk menghindar dari amukan gunung yang marah, Abdul Jalil merasakan jiwanya dicekam ketegangan yang membuat tubuhnya basah kuyup diguyur keringat dingin. Sebab, secepat apa pun usaha yang dilakukannya untuk membawa orang-orang yang kelelahan dan kelaparan itu menjauh dari bencana, tak urung ia harus berhadapan dengan hambatan-hambatan yang sangat berat dan menekan terutama menyangkut kelambanan gerak. Sampai saat lahar berapi yang membludak dari puncak gunung laksana naga api raksasa itu meluncur ke bawah, melahap segala sesuatu yang menghadang jalannya, Abdul Jalil dan mereka yang mengikutinya masih berada di daerah aliran lahar. Ibarat sekumpulan anak-anak yang kelelahan dikejar naga api raksasa, begitulah mereka berlari terseok-seok, jatuh bangun diikuti aliran lahar berapi yang melaju cepat dengan suara gemuruh.

Kejar-mengejar antara aliran lahar berapi dengan Abdul Jalil dan mereka yang mengikutinya berlangsung sangat seru. Tanpa mempedulikan rasa sakit akibat terjatuh atau rasa lelah dan kehabisan napas, mereka berlari untuk menjauhi kejaran lahar berapi yang membinasakan. Namun, apalah daya orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak yang sudah lapar dan kelelahan. Jarak mereka dengan lahar berapi makin lama makin dekat sehingga gemuruh amukan sang naga api raksasa itu dapat mereka dengar, seolah-olah berada di belakang punggung. Kekuatan mereka nyaris habis manakala tebaran panas dari naga api raksasa itu mereka rasakan mulai menyengati tubuh. Sewaktu jarak mereka dengan aliran lahar berapi itu sudah sangat dekat, kira-kira sekitar tiga puluh tombak, Abdul Jalil tidak melihat kemungkinan lain untuk menghindar. Ia sudah membayangkan terjangan lahar berapi itu akan melahap dan melumat para pengikut dan bahkan dirinya.

Manusia boleh berusaha, tetapi Tuhanlah penentu segala. Saat bayangan Kematian sudah mengambang di permukaan bumi dan wajah-Nya menyeringai sangat menyeramkan di depan mata, tiba-tiba Abdul Jalil melihat secercah cahaya Kehidupan bersinar di atas sebuah bukit kecil yang tegak di sisi sebalah kirinya. Seperti digerakkan oleh kekuatan tak kasatmata, ia tiba-tiba saja berhenti dan memerintahkan orang-orang untuk berbelok arah, bergerak menyilang ke sisi kiri bukit yang memiliki jalan setapak menanjak ke tebing. Orang-orang yang panik dan hanya melihat Abdul Jalil sebagai satu-satunya penyelamat yang harus mereka ikuti tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti perintah panutannya. Mereka berlari sekuat kuasa dengan sisa-sisa tenaga terakhir. Lalu, terjadi suatu keajaiban: pada saat semua sudah mencapai puncak bukit yang terletak di sisi timur sungai Gendol di dekat tempuran sungai Opak, sampailah ujung lahar berapi itu ke sisi-sisi bukit dan menerjang segala sesuatu di aliran sungai dengan suara gemuruh. Aliran lahar berapi yang membinasakan itu meluncur ganas dan hanya berjarak sekitar sepuluh tombak dari atas bukit tempat Abdul Jalil dan pengikutnya berada.

Abdul Jalil yang tengah termangu-mangu menyaksikan hasil amukan alam yang menyisakan Kebinasaan mengerikan di sekitarnya, tiba-tiba dikejutkan oleh penglihatan batin yang membuat jantungnya berdentam-dentam dan aliran darahnya tersirap. Nun jauh di gugusan pantai selatan yang membentang di selatan kutaraja Mataram, terjadi Kebinasaan lain yang tidak kalah dahsyat ketika sebuah gempa mengguncang samudera dan memunculkan barisan gelombang besar yang bergerak hiruk-pikuk sangat mengerikan menerjang pantai, menjelma dalam wujud naga air raksasa yang menjulur ke tengah daratan dengan mulut ternganga, menyapu segala sesuatu yang dilewatinya, dan sewaktu kembali ke tengah lautan telah menyisakan bekas jejak menggiriskan: rumah-rumah berantakan dan rata dengan tanah, pohon-pohon tumbang bergulingan, pedati dan kereta bergelimpangan, sampah-sampah membukit, air berlumpur yang menggenang, mayat-mayat manusia berserakan, dan jiwa-jiwa yang beterbangan ke langit.

“Ya Allah, hamba berlindung dari murka-murka-Mu. Hamba percaya bahwa kasih-Mu lebih besar dari murka-Mu. Lindungilah kami, o Sang Pelindung!” seru Abdul Jalil di tengah gemuruh amukan Sang Maut. Namun, belum lagi bayangan Kematian terhapus dari penglihatan batinnya, ia menyaksikan bayangan Sang Maut berkeliaran ganas di antara garis langit dan permukaan bumi. Seperti belum puas dengan amukan naga api dan naga air raksasa yang menghamburkan Kebinasaan, murka Tuhan muncul lagi dalam wujud amukan naga tanah raksasa yang menyeruak di tengah kegelapan. Seiring tumpahnya air hujan dari langit yang meluapkan sungai-sungai dan meggenangi puluhan bukit dan lereng gunung, menjelmalah butir-butir air hujan yang lembut itu menjadi kawanan raksasa tambun yang tidak dapat bergerak karena tertahan bongkahan lahar berapi yang sudah padat. Tidak kuat menahan beban yang makin berat seiring makin tambunnya raksasa-raksasa air yang bergelantungan di punggungnya, runtuhlah tebing-tebing puluhan bukit itu ke bawah dengan suara gemuruh, menjelma menjadi naga tanah raksasa yang bergerak cepat menerjang pohon-pohon, hutan-hutan, lembah-lembah, padang hijau, sawah-sawah, desa-desa, rumah-rumah, dan semua makhluk yang berada di jalur lintasannya. Dalam sekejap, beribu-ribu manusia hilang tertelan di dalam perut naga tanah raksasa yang mengganas tak kenal ampun.

Ketika hari menjelang sore dan Abdul Jalil berdiri di atas bukit dikerumuni orang-orang yang mengikutinya, orang-orang meyakini bahwa dirinya adalah dewa yang turun ke dunia untuk menyelamatkan mereka. Dengan tatap nanar ia memandang Kebinasaan yang terhampar di sekitarnya. Setelah diam beberapa lama, ia dengan suara lain yang aneh berkata, menasihati orang-orang yang begitu mencintai dan memujanya.

“Wahai sahabat-sahabatku! Sesungguhnya, kita baru saja terhindar dari sergapan Sang Maut dan sekarang ini kita saksikan bersama padang Kebinasaan yang dipenuhi potongan dan serpihan tubuh manusia yang hangus menghitam. Aku tidak tahu apakah serpihan-serpihan itu tubuh manusia atau bangkai hewan karena semua tidak karuan lagi bentuknya. Semua sudah menjadi sekadar gumpalan atau serpihan daging hangus. Semua kecantikan, kemolekan, ketampanan, kegagahan, keperkasaan, dan kesempurnaan jasad ragawi manusia telah hilang, digantikan gumpalan-gumpalan daging hangus tak berharga. Tak berharga. Tak berharga. Seribu kali tak berharga.”

“Inilah pemandangan mengerikan bagi manusia yang memiliki penglihatan batin. Sebab, jauh sebelum pemandangan mengerikan ini terjadi sebagai kenyataan, mata batin mereka telah menyaksikan terlebih dahulu pemandangan ini. Mereka sudah menyaksikan keberadaan serpihan-serpihan jiwa manusia yang terkoyak-koyak dan hangus terbakar sehitam jelaga. Mereka sudah menangkap sasmita tentang bakal terjadinya Kebinasaan mengerikan karena Penguasa dunia tidak sudi lagi melihat citra-Nya berantakan menjadi serpihan-serpihan ragawi yang kehilangan jiwa insani. Lantaran itu, hendaknya kalian mengingat bahwa kemuliaan ragawi yang selama ini diagungkan oleh kaum sebangsamu, pada dasarnya tidak lebih dari kemuliaan palsu, ibarat cerminan azab neraka yang memantul ke dunia. Semakin kuat seorang manusia ingin mewujudkan Kehidupan surga di dunia dengan diri dan keluarganya menjadi penghunianya, sesungguhnya dia sedang membangun neraka yang mengerikan.”

“Kalian yang melihat apa yang terjadi saat ini hendaknya menjadikannya sebagai pelajaran, bahwa yang terbaik dari Kehidupan manusia adalah berada di tengah-tengah. Madya. Wasathan. Jangan terperangkap pada pesona benda-benda, tetapi juga jangan meninggalkannya. Janganlah mencintai dunia berlebih, tetapi jangan pula membencinya. Madya. Madya. Seribu kali madya. Ituah jalan hidup yang harus kalian lalui.”

“Tahukah kalian tentang hakikat dari benda-benda, o Sahabat-Sahabatku? Tahukah kalian tentang nisbinya hukum keberadaan benda-benda? Aku beri tahukan kepada kalian, wahai Sahabat-Sahabat, bahwa hakikat dari benda-benda adalah pantulan gambar maya dari Yang Wujud. Benda-benda adalah ‘wujud tergantung’ yang akan lenyap jika Wujud sejati-Nya terbenam di balik cermin pengetahuan-Nya. Lantaran itu, jangan sekali-kali kaian menggantungkan kiblat jiwa dan pikiran pada benda-benda yang hanya bayangan maya dari Yang Wujud. Barangsiapa yang mengarahkan atau bahkan menggantungkan kiblat hati dan pikirannya pada benda-benda bayangan maya Yang Wujud maka dia sudah musyrik. Musyrik. Musyrik. Seribu kali musyrik.”

“Lihatah ke sekelilingmu, o Sahabat-Sahabatku! Lihatlah semua benda-benda rongsokan yang hangus di sekitar kalian! Lihatlah bangkai benda-benda yang berserak tak berharga setelah dilahap naga api raksasa! Lihatlah semua! Itukah benda-benda yang telah memesona jiwa manusia? Itukah benda-benda yang ingin dimiliki manusia? Itukah benda-benda yang dengan segala cara dikumpulkan manusia tanpa kenal hak dan batil atau halal dan haram? Itukah benda-benda yang dicintai dan digandrungi manusia? Adakah sekarang sisa keindahan dan kelangkaan dari benda-benda hangus yang selama ini mempesona kesadaran manusia?”

“Sunggu, aku katakan kepada kalian semua, benda-benda memesona yang dikumpulkan manusia dengan menghalalkan segala cara itu pada hakikatnya tak lebih dari potongan, serpihan, kepingan, dan gumpalan benda hangus tak berharga. Semua tidak lebih dari tumpukan arang hitam, sehitam Kegelapan malam tergelap yang menjadi persemayaman Sang Maut. Dan, saat Sang Maut membentangkan sayap-sayap Kematian yang mengerikan, lalu membalikkan Wajah dari cermin pengetahuan-Nya, maka tertelanlah semua benda karena pantulan bayangan pada cermin akan terhapus saat Kegelapan meliputi seluruh permukaan cermin. Seiring lenyapnya benda-benda para pecinta benda-benda pun akan kehilangan miliknya yang paling berharga: ruh dan jiwa.”

“Wahai serpihan-serpihan manusia! Wahai pemburu benda-benda! Wahai pengumpul benda-benda! Apakah yang akan engkau banggakan jika benda-benda kecintaanmu berubah menjadi kepingan dan gumpalan arang tak berharga? Apakah yang akan engkau katakan jika Yang Wujud membalikkan Wajah dari cermin hingga lenyap bayangan maya-Nya? Sungguh celaka engkau sekalian, o pecinta benda-benda yang dengan segala kebodohan mengumpulkan benda-benda dengan menghalalkan segala cara. Sungguh bodoh. Bodoh. Seribu kali bodoh. Sebab, seiring hancurnya benda-benda yang engkau kumpulkan ke pusaran Kebinasaan, hancur pula benda-benda milikmu yang berharga: anak-anak, istri-istri, saudara-saudara, orang tua, dan handai taulan kembali ke haribaan-Nya, meninggalkan dirimu yang terkucil di dalam terali penjara kebodohanmu yang gelap. Engkau telah kehilangan segala-galanya, o makhluk bodoh pecinta bayangan maya.”

Abdul Jalil menghentikan kata-kata sambil memandang ke arah gumpalan lahar berapi yang sudah membeku dan padat yang mgengitari bukitnya. Dengan mata penuh kasih ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah orang-orang kelaparan dan kelelahan yang mengerumuninya. Ia menarik napas panjang ketika melihat anak-anak tertidur dengan senyuman, seolah bermimpi menyantap sekerat makanan di tengah kelaparan yang menerkam perutnya. Lalu, dengan senyum lebar ia berkata-kata, memberi hiburan dan penguatan jiwa kepada mereka yang memujanya.

“Wahai sahabat-sahabatku yang baik! Sungguh beruntung engkau yang telah menyaksikan Keagungan, Kemuliaan, dan Kemahakuasaan Tuhan, Zat Pencipta, Yang telah menyelamatkan kita dari Kematian. Beruntunglah engkau yang telah menyaksikan manusia-manusia cerdik tetapi tumbang kecerdikannya karena ditebang kecurangan dan kelicikan nafsunya. Semoga, semua hal yang telah engkau saksikan itu akan membawamu ke masa depan yang penuh harapan, masa depan adimanusia. Jadikanlah peristiwa Kebinasaan ini sebagai pedoman bahwa engkau yang telah diselamatkan dari Kematian hendaknya makin sadar untuk berjalan pada jalan Kebenaran. Sebab, tidak kurang di antara manusia yang diselamatkan dari Kematian justru menjauh dari jalan Kebenaran dan bahkan lupa bagaimana berjalan yang Benar.”