Syaikh Siti Jenar

Setelah memasuki tahun kelima dari perjalanannya di pedalaman Nusa Jawa, sampailah Abdul Jalil di dukuh Lemah Abang yang terletak di kaki utara gunung Mahendra (Lawu) di lembah selatan Bengawan Sori. Di dukuh yang dibukanya barang enam tahun silam itu ia disambut dengan penuh sukacita oleh murid-murid yang sangat merindukannya. Namun, ia memutuskan tidak tinggal di Lemah Abang. Ia tinggal dan mengajar di Siti Jenar, yang terletak di utara Bengawan Sori. Hari-hari pun diliputi oleh semarak para murid yang dengan setia mengerumuninya. Berbeda dengan tampilan keseharian sewaktu ia menggunakan nama masyhur Syaikh Jabarantas, di dukuh Siti Jenar itu ia melepaskan khirqah sufi dan tidak memperkenalkan diri dengan nama Syaikh Jabarantas. Pelepasan khirqah sufi itu terkait dengan peringatan-peringatan yang disampaikan istrinya menyangkut sikap para wiku yang sangat berlebihan menghormatinya, seolah-olah mereka adalah sekumpulan umat yang menunggu sabda nabi panutannya. Para wiku selalu mengiyakan apa saja yang disampaikan Abdul Jalil tanpa ada yang bertanya apalagi membantah.

Bertolak dari peringatan-peringatan istrinya itu, Abdul Jalil tiba-tiba disadarkan oleh cakrawala pemahaman baru yang tersingkap di balik latar sikap para wiku yang terkesan sangat berlebihan itu. Rupanya, semua hal yang terkait dengan penghormatan berlebihan yang dialamatkan kepadanya itu berhubungan dengan khirqah sufi yang dikenakannya dan nama Syaikh Jabarantas yang disandangnya. Tanpa ia sadari sebelumnya, khirqah sufi yang seperti pakaian compang-camping, telah menumbuhkan kesan mendalam di relung-relung ingatan para wiku tentang sosok pertapa suci dari zaman purwakala yang berpakaian compang-camping. Sosok pertapa suci yang terlihat hina, tetapi sangat dihormati manusia dan disegani dewa-dewa. Dialah Bhagawan Dhruwasa (pertapa yang berpakaian compang-camping). Seperti menguatkan kembali sisa-sisa keyakinan umum tentang penitisan, para wiku diam-diam menganggap Syaikh Jabarantas sebagai titisan Bhagawan Dhruwasa, manusia setengah dewa berpakaian compang-camping yang disucikan manusia dn dimuliakan dewa-dewa.

Sadar anggapan keliru para wiku itu bakal mendatangkan masalah yang tidak kalah pelik dibanding nama masyhur Syaikh Lemah Abang di Caruban, Abdul Jalil pun buru-buru melepas khirqah ketika akan memasuki dukuh Siti Jenar. Itu sebabnya, tidak ada seorang pun yang mengenalnya sebagai guru suci termasyhur bernama Syaikh Jabarantas. Kepada para murid yang semula mengenalnya dengran nama Syaikh Lemah Abang, ia meminta untuk tidak menggunakan nama itu lagi. Para murid dan penduduk desa-desa sekitar menyebutnya dengan nama baru sesuai dukuh tempatnya mengajar, yaitu Syaikh Siti Jenar (Jawa Kuno: guru suci dari dukuh Siti Jenar).

Dengan nama baru itu, Abdul Jalil menduga dirinya tidak bakal dikenal oleh banyak orang karena dukuh Siti Jenar berada di tengah hutan dan jauh dari keramaian. Namun, dugaan itu meleset. Sebab, tidak berbeda dengan kebiasaannya selama itu, di dukuh Siti Jenar yang terpencil itu ia tidak pernah berhenti mengajarkan Sasyahidan, belajar mati, menaklukkan setan, dan menjadi adimanusia kepada siapa saja tanpa memandang derajat dan pangkat, sehingga keberadaannya sebagai guru manusia yang ditandai citra berbagai keberlebih-kelimpahan dalam waktu singkat telah menjadi buah bibir penduduk sekitar. Buah bibir itu makin panjang sambung-menyambung ketika orang mengenal bahwa dia, guru suci, yang disebut orang dengan nama Syaikh Siti Jenar, tidak lain dan tidak bukan adalah Syaikh Jabarantas yang juga disebut orang sebagai Syaikh Lemah Abang. Bahkan, sebagian pengikut menyebutnya dengan nama hormat Susuhunan Binang atau Syaikh Sitibrit, yang maknanya sama: guru suci dari Lemah Abang. Lalu, terjadilah sesuatu di luar dugaannya. Bagaikan kawanan anai-anai melihat cahaya pelita, atau kawanan lalat membaui bangkai, atau seperti iring-iringan semut menyerbu gula, penduduk dari berbagai desa di seputar lereng gunung Mahendra dan tlatah timur Pajang berdatangan ke dukuh Siti Jenar untuk beroleh berkah keselamatan dan limpahan kekeramatan.

Seperti pepatah sepanjang-panjang tali masih panjang mulut orang, begitulah kabar kemunculan Syaikh Jabarantas yang menggunakan nama baru Syaikh Siti Jenar bersambung dari satu mulut ke mulut yang lain. Di dukuh Siti Jenar, beribu-ribu orang datang untuk meminta berkah keselamatan dan limpahan kekeramatan kepada seorang guru manusia yang waskita. Para pemuka penduduk dari berbagai tempat berdatangan untuk berguru dan mengambil berkah darinya. Mereka yang datang itu selain kawula alit, juga bangsawan, pemuka penduduk, ruhaniwan, cerdik cendikiawan, dan para brahmin pencari Kebenaran. Orang pun menyaksikan bagaimana manusia-manusia berdarah biru yang unggul dan termasyhur seperti Pangeran Danaraja, Kyayi Ageng Bhuwana Gumelar, Ki Bhisana, Kyayi Ageng Jumantana, Ki Wanabaya, Tumenggung Karanganom, Ki Pringgabhaya, Ki Buyut Sukadana, Ki Buyut Masahar, Ki Buyut Kedawung, dan Ki Gatak berkerumun mengitari kakinya untuk mengambil baiat jalan Keselamatan sebagai murid-murid terkasih. Tanpa kenal pagi, siang, sore, dan malam, orang-orang kebanyakan dari berbagai penjuru negeri datang berdesak-desak dan berkerumun-kerumun berusaha mendekatinya. Sebagian di antara mereka ada yang menyalami dan mencium tangannya. Sebagian ada yang merangkul mencium lututnya. Sebagian yang lain lagi mengusap dan mencium kakinya. Bahkan, tidak kurang di antara orang-orang yang berdesak-desak itu mengambil tanah bekas telapak kakinya yang dianggap mengandung berkah.

Perubahan demi perubahan yang terkait dengan semakin masyhurnya nama Syaikh Siti Jenar sedikit pun tidak disadari Abdul Jalil. Saat kemasyhuran telah mendorongnya ke puncak kemuliaan yang berlebihan dan mendudukkannya sebagai manusia yang diberhalakan, ia belum juga sadar. Ketidaksadaran Abdul Jalil akan keadaan itu sesungguhnya sangat wajar dalam kehidupan ruhani seorang manusia yang sudah melampaui derajat maqam ruhani yang tinggi. Sejatinya jiwanya sudah tergolong jiwa orang-orang yang sibuk tetapi bebas dari kesibukan (al-masyghul al-farigh). Maknanya, jiwa orang seperti Abdul Jalil telah masuk ke dalam golongan jiwa orang-orang yang sibuk membagi keberlebih-kelimpahannya, tetapi hatinya terbebas dari pamrih dan hanya diliputi oleh kehadiran Allah. Allah. Allah. Tanpa sedikit pun berkesempatan untuk berpaling kepada selain-Nya. Itu sebabnya, ia baru sadar jika dirinya diberhalakan manusia ketika istrinya menegurnya dengan keras karena selama berhari-hari ia membiarkan para pengikutnya memperlakukannya secara tidak semestinya.

Sadar apa yang selama ini dihindarinya, diberhalakan oleh sesama manusia, terulang tanpa disadari, Abdul Jalil buru-buru mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan dukuh Siti Jenar, meski ia tahu istrinya sedang hamil tua. Sebelum pergi, ia menyampaikan khotbah Tauhid kepada para murid dan orang-orang yang mengaku pengikutnya.

“Sebelum aku pergi meninggalkan kalian, sangat baik jika aku tinggalkan wasiat kepada kalian, yang dengan wasiat itu kalian tidak akan tersesat dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat. Ya, dengan wasiat itu kalian akan selalu berada di Jalan Kebenaran sampai ke hadirat-Nya. Sebab itu, jangan sekali-kali kalian melepaskan wasiat yang aku tinggalkan itu. Pegang erat wasiat itu sebagai pusaka!”

“Pertama-tama, inilah wasiatku, setiap orang harus sadar jika segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini adalah nisbi. Tidak ada yang bersifat mutlak. Lantaran itu, masing-masing orang harus hidup madya (tengah-tengah), ora ngoyo (tidak berlebihan), dan ora ngongso (tidak melampaui batas). Prinsip ini hendaknya kalian jadikan pusaka dalam segala hal yang menyangkut kehidupan kalian, baik yang duniawiah maupun ukhrawiah dan Ilahiah. Dalam kehidupan duniawiah, kalian bisa memaknai prinsip ini dengan kehidupa dunia yang sederhana dan tidak berlebih-lebihan sehingga membuat orang tertimbun benda-benda kekayaannya. Kalian juga boleh memaknainya sebagai pengekangan terhadap nafsu perut dan nafsu syahwat yang sesuai dengan nilai-nilai kepantasan manusia. Kalian juga boleh memaknainya sebagai pengekangan terhadap ambisi kekuasaan yang membahayakan. Pendek kata, maknailah prinsip madya itu sesuai kemampuan akal budi dan hati nurani kalian masing-masing dengan ukuran keseimbangan dan penghormatan atas Kehidupan.”

“Di dalam kehidupan ruhaniah pun berlaku prinsip madya. Lantaran itu, aku melarang murid-murid dan pengikutku untuk bertapa di gua-gua dan di hutan-hutan, kurang makan, kurang tidur, tidak kawin, tidak bergaul dengan manusia, tenggelam dalam lautan ruhani. Sebab, hak-hak ruhani harus dipenuhi secara pantas. Hak-hak jasmani pun hendaknya tidak diabaikan. Bayarlah hak ruhani dan jasmani secara seimbang. Bukan aku menganggap tidak baik perilaku orang-orang yang meninggalkan keduniawian dengan menjadi pertapa. Semua manusia bebas memilih yang terbaik bagi dirinya. Tetapi, bagi pengikut Syaikh Siti Jenar, hal seperti itu tidak dibenarkan. Hiduplah dengan prinsip tengah-tengah (wasathan), yaitu madya. Madya. Madya. Seribu kali madya.”

“Di dalam pengetahuan tentang Yang Ilahi pun prinsip madya itu hendaknya tetap kalian pusakakan. Sebab, ada di antara umat Islam yang memiliki pandangan berlebihan dalam memaknai Yang Ilahi. Mereka memandang bahwa Allah adalah Zat Yang Mahasuci, Mahasempurna, Mahabaik, Mahakasih. Lantaran itu, dari Allah selalu memancar Kebaikan, Kesempurnaan, Kesucian, dan Kasih. Mereka menganggap mustahil dari Allah bisa memancar ketidakbaikan, ketidaksempurnaan, ketidaksucian, dan kemurkaan. Pandangan semacam itu sah bagi pengikut paham itu. Pandangan itu benar bagi yang meyakininya.”

“Tetapi, dengarlah, o murid-murid dan pengikutku, bahwa aku, Syaikh Siti Jenar, tidak pernah mengajarkan keyakinan yang berlebihan dan melampaui batas seperti itu. Ajaranku tetap bertolak dari prinsip-prinsip madya, wasathan, tengah-tengah. Sebab, jika orang seorang menganggap bahwa Allah adalah Kebaikan, Kesempurnaan, Kesucian, Mahakasih dan dari-Nya tidak bisa memancar ketidakbaikan, ketidaksempurnaan, ketidaksucian, dan kemurkaan maka sejatinya orang tersebut telah terperangkap ke dalam jaring-jaring masalah rumit yang bakal membawanya ke jurang kemusyrikan. Mereka akan menganggap ketidakbaikan dan ketidaksempurnaan berasal dari Zat selain Allah, yaitu kuasa Kegelapan dan Kejahatan. Itu berarti, mereka menganggap ada dua Zat berbeda, yaitu Zat Allah dan Zat selain Allah. Kalau keyakina itu diikuti maka orang akan menolak keberadaan Asma Ilahi yang saling bertolak belakang (al-asma’ al-mutaqabilah) yang berujung pada Asma Allah sebagai ‘keseluruhan yang bertentangan’ (majmu’ al-asma’ al-mutaqabalah). Mereka akan menolak nama Ilahi Yang Maha Menyesatkaan (al-Mudhill), Yang Memberi Kesempitan (al-Qabidh), Yang Maha Menista (al-Mudzil), Yang Memberi Bahaya (adh-Dharr), Yang Membinasakan (al-Mumit). Mereka juga akan mengingkari bahwa dunia yang tidak sempurna ini berasal dari Allah. Atau mengingkari bahwa iblis, setan, makhluk-makhluk kegelapan, dan manusia-manusia terkutuk tidak berasal dari Allah. Padahal, sesuai prinsip inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un: segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.”

“Dengan memegang teguh prinsip hidup madya ini, sangatlah tidak masuk akal jika kalian sebagai murid-murid dan pengikutku memperlakukan aku secara berlebihan. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kalian menciumi kakiku, merangkuk lututku, mengusap jubahku, mengelus terompahku, bahkan mengambil tanah bekas telapak kakiku. Itu berlebihan. Itu melampaui batas. Itu thaghut. Itu pemberhalaan yang justru aku tentang selama ini. Sebab, Nabi Muhammad Saw., manusia agung yang menjadi panutanku, selalu menolak diperlakukan secara berlebihan. Dia selalu menampakkan kehambaan dan kerendahatian. Dia selalu berada di tengah-tengah (wasathan). Lantaran itu, mulai saat ini, aku katakan bahwa mereka yang memperlakukan aku atau siapa pun di antara manusia secara berlebihan dan bahkan memberhalakan, maka bukanlah dia itu dari antara pengikutku, apalagi murid ruhaniku.”

Setelah memberikan petunjuk secukupnya kepada para sesepuh di antara murid-muridnya, Abdul Jalil bersama istri meninggalkan dukuh Siti Jenar. Kali ini karena sang istri sedang hamil tua, ia berusaha menghindari desa-desa yang memungkinkan ia singgah dan beroleh penghormatan berlebih yang mengakibatkan istrinya terabaikan. Ia memilih melewati jalan setapak berliku di hutan atau lembah yang tak banyak dilewati manusia. Namun, sepanjang perjalanan yang diliputi kesunyian itu, ia justru merasakan kerinduan yang kuat untuk berbagi keberlebih-kelimpahannya kepada manusia. Ia merasa berat untuk menggenggam tangannya erat-erat dan tidak memberi. Ia merasakan jiwanya seperti mata air berbual-bual yang airnya tidak dapat mengalir karena tertahan tumpukan batu-batu berbalut lumpur kotor.

Ketika jiwanya yang ingin memberi sedang menggemuruh laksana kawah gunung berapi, tiba-tiba Abdul Jalil melihat sesosok manusia muncul dari balik pepohonan dan berdiri tegak di depannya. Wajah manusia itu sangat rupawan dengan memancarkan cahaya berpendar-pendar. Lalu tanpa mengucap salam, dengan suara semerdu kicauan burung, manusia rupawan itu berkata, “Wahai engkau yang telah membagi-bagi keberlebih-kelimpahanmu, hendaknya mulai engkau sadari bahwa segala sesuatu yang tergelar di alam semesta ini, sebagaimana pandanganmu, tidaklah abadi. Sebab itu, janganlah engkau menganggap bahwa keberlebih-kelimpahanmu bakal terus langgeng mencitrai dirimu. Ibarat sumur berkelimpahan air yang ditimba oleh banyak orang, suatu saat ia akan kering juga. Bukankah sudah sering engkau saksikan keberadaan sumur-sumur mati tak berair? Lantaran itu, bersiagalah engkau untuk menghadapi akhir-akhir dari masa keberlebih-kelimpahanmu. Engkau harus bersiaga. Siaga. Siaga. Seribu kali siaga.”

Abdul Jalil termangu-mangu menatap manusia rupawan itu. Setelah diam sejenak, ia kemudian berkata, “Jika Allah, Zat Yang Mahakuasa dan Maha Berkehendak mencabut keberlebih-kelimpahan yang dianugerahkan-Nya kepadaku, maka hal itu bukanlah sesuatu yang patut kurisaukan. Sebab telah jelas bagiku: segala sesuatu berasal dari-Nya dan bakal kembali kepada-Nya.”

Manusia rupawan itu tertawa. Lalu, dengan suara sebening tetesan air di malam hari ia berkata, “Sesungguhnya, di tengah kemasyhuran namamu yang mengarah pada pemberhalaan diri itu, engkau sudah menempati kedudukan ruhani orang-orang yang terkucil sendirian (fard), yaitu orang yang mengejawantahkan citra nama Ilahi: Yang Mahasendiri (al-Fard). Dengan demikian, engkau tidak akan bisa lagi membagi-bagi sekehendakmu keberlebih-kelimpahanmu kepada yang lain, kecuali sebatas yang dibutuhkan musafir-musafir yang kehausan. Keberlebih-kelimpahanmu akan menggenang menjadi telaga sunyi rahasia yang hanya diketahui oleh-Nya dan mereka yang dikehendaki-Nya.”

“Jika memang demikian, aku akan membagi-bagikan sisa keberlebih-kelimpahanku sebatas yang aku bisa,” kata Abdul Jalil membalikkan badan, pergi menemui istrinya. Namun, manusia rupawan itu mengejar dan menarik jubahna dari belakang sambil berkata, “Tunggu! Tunggu! Jangan tinggalkan aku! Aku adalah bayanganmu.”

Dengan kesadaran orang-orang yang mencapai derajat kesendirian, Abdul Jalil bersama istri melanjutkan perjalanan. Tanpa kenal malam yang membentangkan selimut hitam dan jalan berliku yang dihiasi batu-batu tajam, ia berjalan tertatih-tatih ke arah barat sambil menuntun istri yang semakin tua usia kandungannya. Setelah berjalan hampir tiga hari, sampailah ia di kediaman Ki Buyut Butuh yang terletak di perbatasan Kerajaan Pajang dan Pengging. Di kediaman Ki Buyut Butuh itulah, saat menjelang subuh, istrinya melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Lantaran saat kelahiran puteranya itu Abdul Jalil berada pada kedudukan orang yang sendiri (fard), maka sebagai penanda kedudukannya itu ia menamai puteranya: Fardun.

Sekalipun sudah sadar akan keberadaan diri sebagai orang yang sendiri (fard) serta sudah berbilang keadaan (hal), kedudukan (maqam), dan derajat ruhani (martabat) ia lampaui dengan tingkat-tingkat ketersingkapan kesadaran (kasyf) yang tak terhitung, dalam banyak hal, terutama yang terkait dengan keberadaan diri sendiri, Abdul Jalil sering heran ketika dihadapkan pada masalah rahasia di balik kehendak (iradah) dan kekuasaan (qudrah) )Allah atas dirinya. Sewaktu ia menyadari keberadaan dirinya sebagai orang yang sendiri, orang yang mengejawantahkan citra al-Fard, Yang Mahasendiri, ia justru tidak tahu haris bersikap bagaimana: apakah ia tetap menjadi orang sibuk yang tidak terikat kesibukan (al-masyghul al-farigh), dengan akibat tak terduga bisa disembah orang sebagai manusia berhala, ataukah ia membagi-bagi sisa keberlebih-kelimpahannya lalu mengasingkan diri dari keramaian hidup manusia sebagai telaga sunyi rahasia milik-Nya.

Di tengah keheranannya sebagai orang yang sendiri dan di tengah ketidaktahuan akan apa yang harus dilakukannya itu, tanpa diduga-duga Ki Buyut Butuh datang menghadap dan meminta untuk membaiatnya sebagai murid ruhaninya. Sebagai seorang guru manusia yang selalu melayani dan berbagi, ia tentu tidak bisa menolak permohonan Ki Buyut Butuh. Namun, seiring menyebarnya kabar berbaiatnya Ki Buyut Butuh, datanglah kerabat dan kawan-kawannya sesama buyut yang memohon agar mereka dibaiat sebagai murid ruhani Syaikh Siti Jenar. Di antara para buyut yang mengikuti jejak Ki Buyut Butuh adalah buyut Ngerang, Banyubiru, Tingkir, Banyudana, Susukan, Susuruh, Wanasegara, Pabelan, dan Banyumanik. Tidak berbeda dengan saat tinggal di dukuh Siti Jenar, di Kabuyutan Butuh pun kehadiran Syaikh Siti Jenar ditandai dengan kerumunan-kerumunan manusia yang mencari limpahan berkah dan keselamatan.

Kerajaan Pengging, yang dijadikan persinggahan Abdul Jalil dalam perjalanan berbagi keberlebih-kelimpahan, adalah daerah subur makmur, gemah ripah lohjinawi, yang membentang sejak lembah selatan dan tenggara gunung Candrageni hingga wilayah timur gunung Candramukha, terus ke utara hingga perbatasan Kadipaten Samarang. Meski Pengging hanya negara kecil sempalan Majapahit yang lebih sempit wilayahnya dibanding Pajang, Mataram, dan Pasir Luhur, di bawah kepemimpinan Prabu Adi Andayaningrat, kemakmuran Pengging tidak kalah dibanding ketiga kerajaan tersebut. Bahkan, dalam hal keamanan boleh dikata Pengging sangat kuat dan mantap kecuali wilayah perbatasan Mataram – Pajang – Pasir – Pengging yang seperti tanpa penguasa.

Sebagai sebuah kerajaan, Pengging baru muncul pada paro terakhir abad ke-15 ketika keagungan Majapahit mengalami kemerosotan. Prabu Adi Andayaningrat sendiri, penguasa pertama Pengging, bukan seorang yang memiliki galur kebangsawanan dari maharaja Majapahit. Ia anak Ki Bajul Sanghara, kepala wisaya Semanggi, suatu daerah kabuyutan yang terletak di pinggiran kutaraja Pajang. Meski hanya berkedudukan sebagai kepala wisaya, di tengah kemerosotan Majapahit, Ki Bajul Sanghara sangat berkuasa di wilayah Pajang karena keluarga-keluarga Bajul yang tersebar di sepanjang Bengawan Semanggi hingga Bengawan Sori tunduk di bawah perintahnya. Ki Bajul Sanghara di daerah kekuasaannya ibarat seorang raja kecil yang disegani dan ditakuti oleh kawan maupun lawan.

Ibunda yang melahirkan Prabu Andayaningrat adalah puteri Raden Juru, ksatria Majapahit, adik kandung Patih Mahodara. Sejak kematian istrinya Raden Juru bersama puteri tunggalnya mengasingkan diri sebagai pertapa di kaki gunung Argapura. Ayah beranak itu ingin meninggalkan kehidupan duniawi. Namun, di tengah gemuruh ambisi Patih Mahodara menggalang kekuatan untuk mempertahankan kekuasaan di Majapahit, kemenakannya itu dinikahkan dengan Ki Bajul Sanghara. Sebuah pernikahan politik yang lazim dilakukan untuk beroleh dukungan dari penguasa Bengawan Semanggi. Pernikahan itu membuahkan hasil seorang anak yang diberi nama Jaka Sanghara. Namun, karena sejak kecil anak itu dilatih olah keprajuritan dan olah kanuragan oleh guru-guru unggul yang sakti mandraguna di Desa Bobodo, yang terletak di kutaraja Pajang, maka ia dikenal pula dengan nama Jaka Bobodo (pemuda dari Bobodo).

Ketika usianya sudah cukup dewasa, Jaka Sanghara pergi ke gunung Argapura untuk berguru kepada kakeknya, Raden Juru, yang mengajarinya ilmu pemerintahan. Setelah dianggap cukup, ia pergi ke kutaraja dan bergabung dengan keluarga ibundanya yang cukup kuat di kutaraja Majapahit. Atas jasa Patih Mahodara, saudara tua kakeknya, ia menjadi salah seorang perwira andalan kerajaan tua yang mulai merosot itu. Selama menjadi perwira Majapahit, ia beberapa kali diikutsertakan dalam tugas menumpas pemberontakan di ujung timur Jawa dan Bali. Dengan dukungan tetunggul-tetunggul keluarga Bajul, Jaka Sanghara berhasil menjalankan tugasnya menumpas kekuatan para pemberontak. Atas jasa-jasanya itu, ia mendapat berbagai anugerah pangkat dan jabatan tinggi, bahkan akhirnya ia diangkat menjadi menantu oleh Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit. Ia dinikahkan dengan puteri bernama Ratu Adhi. Setelah menjadi menantu maharaja, ia dirajakan di Pengging didampingi permaisuri Ratu Adhi yang memberinya dua orang putera: Kebo Kanigara dan Kebo Kenanga.

Sekalipun Andayaningrat dikenal sebagai raja yang cakap dan memiliki kekuatan militer cukup besar, ia bukanlah seorang yang teguh pendirian. Itu yang menyebabkan ia sering dijadikan ajang tarik menarik di antara pihak-pihak yang bersengketa memperebutkan kuasa dan wibawa di Majapahit. Satu saat ia ditarik oleh kelompok-kelompok kepentingan dari trah Prabu Kertawijaya yang sebagian besar adalah para penguasa pesisir beragama Islam. Di saat yang lain, ia ditarik oleh kelompok-kelompok kepentingan dari Patih Mahodara yang sebagian besar adalah penguasa-penguasa di pedalaman yang bukan muslim. Akibat seringnya ditarik oleh kekuatan-kekuatan yang saling berselisih memperebutkan kuasa dan wibawa, Adi Adayaningrat sering mengorbankan nyawa perwira-perwira dan prajurit-prajurit Pengging untuk membela kepentingan pihak-pihak yang berperang. Sementara, letak Pengging yang merupakan perlintasan antara daerah pedalaman dan pesisir utara telah pula menempatkan wilayah itu sebagai daerah yang strategis, tetapi sekaligus rawan konflik. Wilayah Pengging sangat rentan terhadap pecahnya perselisihan antara penguasa muslim di pesisir dan penguasa bukan muslim di pedalaman.

Sejak berembusnya angin perubahan di pesisir utara Nusa Jawa yang melahirkan tatanan baru masyarakat ummah, yang dengan cepat diikuti oleh penduduk dari kalangan kebanyakan, terjadi kegemparan di kalangan pendeta-pendeta fanatik Syiwa-Buda dan bangsawan-bangsawan Pengging, karena mereka melihat bahaya besar sedang mengintai di balik perubahan yang digagas Syaikh Lemah Abang itu. Secara bahu membahu mereka berusaha menangkis pengaruh perubahan itu dengan membangun “benteng pertahanan”, jalinan kekuatan antara pendeta penguasa ksetra, dukuh, padepokan, dan asrama-asrama dengan pendeta-pendeta kraton dan bangsawan-bangsawan darah biru, untuk menahan arus masuknya pengaruh agama Islam yang sangat deras menerobos ke lapisan terbawah penduduk pedalaman. Namun, di tengah usaha bahu membahu para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan Pengging itu, terjadi sesuatu yang mencengangkan semua orang: tanpa disangka-sangka dan tanpa diduga-duga, tersiar kabar di keempat penjuru negeri bahwa sejumlah kepala wisaya yang masih terhitung kerabat raja tiba-tiba memeluk agama Islam di bawah bimbingan Syaikh Siti Jenar, seorang guru suci yang membawa ajaran pembaharuan Syiwa-Buda yang disebut Islam.

Seperti sedang menyaksikan pemandangan menakjubkan, para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan Pengging itu saling pandang, seolah mereka tidak percaya dengan kabar yang didengarnya. Bagaimana mungkin “benteng pertahanan” yang mereka bangun jalin-menjalin di sepanjang perbatasan utara Pengging untuk menahan serbuan pengaruh Islam, tiba-tiba ditembus dari arah selatan? Keadaan itu membuat mereka kebingungan, terutama saat mereka menyadari bahwa orang-orang yang memeluk Islam di tlatah Pengging bukan dari kalangan penduduk kebanyakan, melainkan dari kalangan atas, termasuk kerabat raja, yakni para kepala wisaya yang selama ini dipatuhi dan dijadikan panutan masyarakat seperti raja-raja kecil. Bahkan, mereka menjadi tercengang ketika mengetahui jika Syaikh Siti Jenar sesungguhnya adalah Syaikh Lemah Abang, orang yang menyebarkan gagasan masyarakat umat di pesisir utara.

Ketercengangan para pendeta, terutama pendeta-pendeta kraton, wajar karena mereka sadar bahwa kemunculan tak terduga seorang guru suci bernama Syaikh Siti Jenar, yang belakangan menjadi buah bibir di pedalaman dan bahkan menjadi guru panutan para buyut di Pengging, tidak saja akan mengubah tatanan Kehidupan penduduk di Pengging, melainkan akan mengancam pula kedudukan mereka. Sementara, para bangsawan Pengging pun tidak kurang merasakan ancaman yang berat karena mereka sadar ajaran-ajaran Syaikh Siti Jenar sangat membahayakan kedudukan mereka. Lantaran itu, disatukan oleh kepentingan yang sama, mereka berusaha keras menolak kehadiran Syaikh Siti Jenar di wilayah Pengging. Mula-mula mereka berusaha mempengaruhi raja agar menggunakan kekuasaannya untuk mengusir Syaikh Siti Jenar dari wilayah Pengging. Namun, raja Pengging tidak percaya begitu saja dengan alasan-alasan mereka, terutama setelah mendapat laporan dari nayaka kepercayaannya bahwa guru suci yang dikenal dengan nama Syaikh Siti Jenar itu sebenarnya bernama Syaikh Abdul Jalil, berasal dari dukuh Lemah Abang di Caruban. Raja Pengging tahu pasti siapa guru suci yang belakangan termasyhur dengan nama Syaikh Siti Jenar itu. Lantaran itu, ia justru membuat keputusan yang mengecewakan para pendeta fanatik dan bangsawan-bangsawan yang ketakutan.

“Jika guru suci yang disebut Syaikh Siti Jenar itu adalah Abdul Jalil, orang asal Lemah Abang Caruban, maka dia tidak lain dan tidak bukan adalah kerabatku sendiri. Karena ayahandanya, Ki Danusela, adalah saudara tua istriku. Biarlah dia tinggal di Pengging dan menyebarkan ajarannya di tlatah ini.”

Kecewa karena tidak berhasil mempengaruhi raja, para pendeta dan bangsawan yang bersekutu itu berusaha menghadang kehadiran Abdul Jalil melalui putera mahkota Pengging, Pangeran Kebo Kanigara. Pangeran muda yang dikenal angkuh dan pemarah itu dengan gampang terhasut. Dengan sedikit memuji-muji kehebatan ilmu kesaktian dan kedigdayaan Syaikh Siti Jenar, mereka berhasil membakar api kebesaran diri putera mahkota. Tanpa berpamitan kepada ayahandanya, Pangeran Kebo Kanigara dengan diiringi sepuluh orang pendeta kraton mengajak adiknya, Kebo Kenanga, untuk mencegat Abdul Jalil yang sedang berjalan bersama istri dan anaknya menuju kutaraja Pengging.

Di depan gerbang selatan kutaraja Pengging, Pangeran Kebo Kanigara mendapati Abdul Jalil sedang menggendong puteranya yang berusia kurang dari dua bulan dengan diikuti sang istri. Tanpa basa-basi, dengan dada dikobari kepongahan ia menghadang dan langsung menantang Abdul Jalil untuk mengadu kesaktian.

Abdul Jalil yang tanggap cepat mengetahui jika pangeran muda di depannya itu adalah orang yang angkuh dan pemarah. Ia tidak mau meladeni tantangannya. Sebaliknya dengan suara lembut ia berkata, “Jika ada orang yang menyampaikan berita kepada Pangeran Kebo Kanigara bahwa kami, Syaikh Siti Jenar, adalah orang yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan luar biasa, maka itu adalah bohong. Itu fitnah. Perlu Pangeran ketahui, selama kami hidup di dunia, belum pernah kami berkelahi dengan orang seorang. Kami juga tidak memiliki ilmu kanuragan, apalagi kasantikan jayakawijayan. Lantaran itu, kalau Pangeran mau, dengan hanya menjentikkan telunjuk ke tubuh kami, dapat dipastikan tubuh kami akan terpental dan hangus terbakar.”

“Tetapi, nama Tuan Syaikh sangat termasyhur sebagai orang yang tak terkalahkan. Lalu apa yang menjadi kebiasaan Tuan Syaikh sampai para buyut di tlatah Pengging beramai-ramai menjadi pengikut Tuan Syaikh?”

“Terlalu sombong jika dikatakan tak terkalahkan. Soal buyut-buyut yang menjadi pengikut kami, itu lebih terletak pada penghargaan mereka terhadap kelebihan akal pikiran dan pengetahuan ruhani yang dilimpahkan Allah kepada kami,” kata Abdul Jalil merendah.

“Bagaimana kalau kita mengadu keunggulan akal pikiran dan pengetahuan ruhani kita?” tantang Pangeran Kebo Kanigara.

“Pangeran tidak bakal menang melawan kami,” kata Abdul Jalil memancing amarah sang pangeran.

“Tuan Syaikh meremehkan aku,” tukas Pangeran Kebo Kanigara dengan suara ditekan tinggi, “Apa yang membuat Tuan Syaikh yakin bisa mengalahkan aku?”

“Usia kami jauh lebih tua dari Pangeran. Pengalaman hidup kami pun lebih banyak dibanding Pangeran. Tempat-tempat di dunia yang pernah kami datangi lebih banyak daripada Pangeran. Bahkan, dalam hal menyelam di dunia ruhani pun kami merasa lebih dalam.”

“Tapi itu bukan ukuran untuk menduga kemampuan orang seorang. Itu bukan ukuran untuk menilai Pangeran Kebo Kanigara sebagai katak di dalam tempurung,” kata Pangeran Kebo Kanigara berapi-api.

“Tidak perlu menilai berlebihan tentang ucapan kami itu, o Pangeran.”

“Untuk membuktikan itu, kita harus mengadu akal pikiran dan pengetahuan ruhani. Harus. Harus.”

“Apa yang akan Pangeran pertaruhkan dalam adu akal pikiran dan pengetahuan ruhani ini?”

“Apa pun yang Tuan Syaikh inginkan akan aku pertaruhkain: emas, permata, uang, tanah, atau apa? Sebaliknya, apa yang akan Tuan Syaikh pertaruhkan?” tantang Pangeran Kebo Kanigara jumawa.

“Taruhan kami adalah jiwa dan raga kami. Maksudnya, jika kami kalah, kami akan menjadi hamba Pangeran. Hidup dan mati kami akan kami pasrahkan kepada Pangeran sebagai budak, karena kami adalah hamba dan pangeran adalah tuan kami.”

“Lalu taruhan apa yang akan Tuan Syaikh minta dari aku?”

“Mahkota.”

“Mahkota?” sergah Pangeran Kebo Kanigara terkejut, “Apakah Tuan Syaikh ingin menjadi raja?”

“Sama sekali keliru penilaian Pangeran. Kami sedikit pun tidak ingin menjadi raja. Kami hanya menginginkan Pangeran tidak menjadi raja kelak. Sebab, seorang raja yang angkuh dan pemarah akan membahayakan negeri dan kawulanya. Sebaliknya, kami ingin Pangeran kelak menjadi seorang ruhaniwan. Sebab, dengan menempa ruhani, Pangeran akan beroleh keselamatan di dunia dan di akhirat serta negeri pun akan sentosa,” kata Abdul Jalil sambil memandang ke arah Pangeran Kebo Kenanga yang termangu-mangu heran melihat keangkuhan kakaknya.

“Baik, jika itu keinginan Tuan Syaikh. Mulai sekarang ini aku tetapkan bahwa andaikata nanti aku kalah dalam mengadu akal pikiran dan pengetahuan ruhani dengan Tuan Syaikh Siti Jenar, maka mahkota Pengging kelak akan jatuh ke tangan adik kandungku, Pangeran Kebo Kenanga,” kata Pangeran Kebo Kanigara sambil menepuk-nepuk bahu adiknya yang terheran-heran.

Abdul Jalil tertawa. Ia menyerahkan bayi Fardun kepada istrinya dan memintanya untuk menjauh. Setelah itu, ia menghampiri Pangeran Kebo Kanigara dan berkata, “Kami siap menjawab teka-teki yang akan Pangeran ajukan.”

Pangeran Kebo Kanigara terkejut karena Abdul Jalil ternyata seperti sudah mengetahui jika dalam adu kemampuan akal pikiran dan pengetahuan ruhani itu, ia akan mengajukan sebuah teka-teki. Dengan pikiran kacau dan keyakinan diri yang goyah, ia melontarkan juga teka-teki yang sudah disiapkannya.

“Tahukah Tuan Syaikh jawaban dari pertanyaan ini: apakah itu yang luhur melebihi gunung, luas melebihi samudera, terang laksana cahaya matahari siang hari, dan rata laksana padang rumput?”

“Pertanyaan Pangeran, menurut kami, jawabnya terkait dengan keberadaan seorang raja yang arif bijaksana,” kata Abdul Jalil menebak. “Pertama, luhur melebihi gunung adalah gambaran raja yang suka berderma membagi-bagikan harta kekayaan kepada siapa saja yang membutuhkan. Kedua, luas melebihi samudera adalah gambaran raja yang suka memberi ampunan kepada orang-orang yang bersalah dan meminta pengampunan. Ia juga menerima segala kritik dan kecaman, laksana lautan menerima air dari sungai-sungai. Ketiga, terang laksana cahaya matahari di siang hari adaah gambaran raja yang memiliki kesadaran tinggi sehingga dapat menjadi penerang pengetahuan bagi negerinya. Keempat, rata laksana padang rumput adalah gambaran raja adil bijaksana yang memberikan keamanan dan perlindungan kepada seluruh penghuni negeri dan menjadi limpahan keguna-manfaatan bagi siapa saja.”

“Benarlah apa yang Tuan jawabkan pada pertanyaanku,” kata Pangeran Kebo Kanigara dengan tubuh gemetar dan dada naik turun. “Sekarang ganti Tuan Syaikh yang harus memberi pertanyaan kepada aku.”

Abdul Jalil tersenyum dan berkata, “Pertanyaan yang akan kami ajukan sangat sederhana, tetapi tak gampang dijawab. Lantaran itu, kami memberi kesempatan kepada para pendeta yang mendampingi Pangeran untuk ikut serta menjawab pertanyaan kami nanti.”

“Tuan Syaikh meremehkan kemampuan kami?” tukas Pangeran Kebo Kanigara tersinggung.

“Sekali-kali tidak, Pangeran.”

“Baiklah, apa pertanyaan Tuan Syaikh untuk kami?”

“Ada beberapa cara yang saling berbeda dari kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini. Tolong jelaskan kepada kami, cara apa saja itu dan disebut apa proses kemunculan makhluk-makhluk di dunia ini.”

Pangeran Kebo Kanigara tercekat kaget. Ia sungguh tidak menduga akan mendapat pertanyaan yang benar-benar belum pernah ia pelajari. Ia merasa sudah kalah sebelum berusaha memikirkan jawaban. Tanpa sadar, ia menoleh ke arah para pendeta yang mengawalnya. Ia berharap mereka dapat membantunya. Namun, para pendeta itu kelihatannya tidak memiliki jawaban pula. Akhirnya, setelah cukup lama terdiam, ia berkata, “Kami tidak bisa menjawab pertanyaan Tuan Syaikh. Kami mohon penjelasan.”

“Ketahuilah, o Pangeran, bahwa kemunculan makhluk hidup di dunia ini melalui tiga cara berbeda yang disebut wetu telu (keluar tiga). Pertama, adalah yang disebut manganak (melahirkan anak). Kedua, adalah yang disebut mangendog (melalui telur). Ketiga, adalah yang disebut masemi (tumbuh). Seluruh makhluk hidup yang memiliki daun telinga, umumnya muncul ke dunia melalui cara manganak. Sedang makhluk-makhluk yang tidak memiliki daun telinga umumnya muncul ke dunia melalui cara mangendog. Dan semua makhluk hidup yang muncul tidak melalui cara manganak dan mangendog, umumnya muncul ke dunia melalui cara masemi,” kata Abdul Jalil menjelaskan.

“Baik, kami kalah satu. Tetapi kami belum menyerah,” kata Pangeran Kebo Kanigara. Lalu, dengan emosi meningkat tetapi keyakinan diri goyah, ia bertanya, “Tahukah Tuan Syaikh akan makna rahasia di balik kata Uninang, Unining, Uninong?”

Abdul Jalil tersenyum dan berkata, “Sungguh tinggi nilai pertanyaan Pangeran. Sebab jawaban dari pertanyaan itu tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Tetapi hanya bisa dibuktikan dengan kenyataan.”

“Aku tidak paham dengan ucapan Tuan Syaikh.”

“Jika kata Uninang dimaknai dengan kata-kata maka jawabannya bisa bermacam-macam tergantung yang menafsirkan. Bisa saja Uninang dimaknai ‘suara nang-nang’ yaitu bunyi kepala botak saat diketuk. Bisa juga Uninang dimaknai ‘suara inang’ yaitu panggilan ibu. Bisa juga Uninang dimaknai ‘suara kanang’ yaitu tangisan. Jadi ada seribu jawaban yang tidak pasti. Padahal, pertanyaan itu harus dijawab dengan satu Kebenaran.”

“Itulah yang aku harapkan, Tuan Syaikh. Satu jawaban!”

“Kami akan menjawab dengan satu Kebenaran. Tapi tidak dengan kata-kata dan bahasa manusia.”

“Bagaimana Tuan bisa menjelaskan kepada aku bahwa itu benar jika tanpa kata dan bahasa manusia?”

Abdul Jalil mendekati Pangeran Kebo Kenanga. Kemudian dengan memegang kedua bahunya, ia berkata, “Maukah Pangeran membantu aku memberi jawaban kepada kakakmu tanpa kata dan bahasa manusia?”

“Kami akan melakukan apa yang kami mampu lakukan, Tuan Syaikh,” kata Pangeran Kebo Kenanga.

“Pejamkan matamu, o Pangeran,” kata Abdul Jalil sambil menutupi telinga Pangeran Kebo Kenangan dengan kedua telapak tangannya.

Semua mata memandang ke arah Pangeran Kebo Kenanga. Semua menunggu apa yang akan terjadi padanya. Dan, semua terperangah seperti mimpi saat menyaksikan Pangeran Kebo Kenanga terhenyak dengan wajah tegang dan keringat dingin bercucuran. Namun sebelum mereka melakukan sesuatu, Pangeran Kebo Kenanga dengan mata tetap terpejam berteriak, “Aku mendengar suara genta berdentang-dentang memenuhi seluruh pendengaranku.”

Abdul Jalil menepuk bahu Pangeran Kebo Kenanga dan memintanya membuka mata. Pangeran Kebo Kenanga dengan sikap seperti meminta perlindungan merangkul erat-erat tubuh Abdul Jalil. Melihat adiknya ketakutan, Pangeran Kebo Kanigara menghardik, “Tuan Syaikh, apakah Tuan menggunakan sihir hingga membuat adikku ketakutan?”

“Pangeran tidak perlu berlebihan curiga. Sesungguhnya, adik Pangeran tadi mendengar suara Uninang, Unining, dan Uninong yang Pangeran tanyakan kepada kami. Di dalam istilah agama kami, itulah yang disebut jaras. Kami tidak bisa menjelaskan apa itu sebab memang tidak bisa dijelaskan. Tapi, sudah menjadi kehendak Hyang Tunggal jika adik Pangeran akan menjadi seorang muslim sejati karena ia telah beroleh risalah Ilahi.”

Pangeran Kebo Kanigara sangat marah dengan penjelasan Abdul Jalil. Ia berusaha menahan sambil terus menghujani Abdul Jalil dengan berbagai pertanyaan dan teka-teki berat, tetapi semuanya bisa dijawab dengan baik oleh Abdul Jalil. Sebaliknya, ketika hari menjelang sore dan pertanyaan-pertanyaan Abdul Jalil tidak ada satu pun yang bisa dijawabnya, maka meledaklah amarahnya. Dengan mata menyala dan dada naik turun, ia memandang para pendeta yang mendampinginya. Kemudian, dengan suara meledak bagai halilintar ia menghardik, “Kalian semua adalah pendeta-pendeta bodoh. Pemalas. Kerja kalian cuma menghasut dan memanas-manasi orang. Kalian jahat. Penuh dengki dan iri hati. Kalian sesungguhnya takut dengan kehadiran Tuan Syaikh Siti Jenar yang ternyata jauh lebih cerdas dan lebih bijaksana daripada kalian. Sungguh malu aku hari ini karena mengikuti hasutan orang-orang bodoh!” Dengan langkah lebar ia mendekati Abdul Jalil dan berkata, “Tuan Syaikh, aku mengakui kekalahanku. Ucapan Tuan Syaikh benar, aku terlalu angkuh dan pemarah. Sesuai petunjuk Tuan Syaikh, aku akan menjadi ruhaniwan. Tetapi, aku tidak akan berguru kepada pendeta-pendeta bodoh seperti mereka. Adakah petuah yang bisa Tuan Syaikh berikan untuk aku?”

“Pangeran,” kata Abdul Jalil lembut, “Pangeran adalah ksatria sejati. Lantaran itu, jika Pangeran akan mendalami kehidupan ruhani, Pangeran pasti akan melebihi orang biasa. Dan perlu Pangeran ketahui, mendalami pengetahuan ruhani tidak harus melalui guru tertentu. Sebab, guru sejati ada di dalam kalbu. Carilah dia. Tanyalah segala sesuatu kepada kalbu Pangeran sendiri.”