Al-Fard

Setelah tinggal selama empat puluh hari di lingkungan Kraton Pengging dan menjadi salah satu penyebab bagi masuk Islamnya Pangeran Kebo Kenanga, dengan diiringi tangis pedih para pemuka penduduk yang menjadi muridnya, Abdul Jalil meneruskan perjalanan ke arah timur untuk berbagi keberlebih-kelimpahan. Memang, empat puluh hari adalah sebuah rentang waktu yang terlalu pendek bagi seseorang untuk melakukan perubahan. Namun, dalam keterbatasan waktu yang menghimpit itulah Abdul Jalil menunjukkan kelebihan yang sulit dicari tolok bandingan pada zamannya: menjadi penggerak utama sebuah perubahan.

Jejak yang ditinggalkan Abdul Jalil, yang mengarah pada terjadinya perubahan tatanan kehidupan masyarakat, dari tatanan yang berdasarkan gagasan catur-warna dan kasta menjadi masyarakat ummah, terlihat pada kebijaksanaan raja Pengging yang memberlakukan peraturan baru menyangkut status kependudukan warga kerajaan yang beragama Islam. Di dalam peraturan itu ditetapkan bahwa penduduk kerajaan yang berasal dari kalangan rendah seperti Dhapur, Kewel, Domba, Sasak, Potet, dan Mambang yang kedudukannya sangat hina dan nista di tengah masyarakat, seketika akan disetarakan dengan penduduk yang lain. Ketetapan raja itu sangat mengejutkan para bangsawan dan warga kerajaan. Bagaimana mungkin kalangan rendah dan hina papa itu bisa diberi status sederajat dengan warga kerajaan? Bagaimana mungkin manusia berkasta rendah dapat disejajarkan dengan manusia luhur berkasta tinggi? Bukankah perubahan itu akan merusak tatanan yang sudah berlaku beribu tahun? Bagaimana mungkin Prabu Andayaningrat bisa menista peraturan agamanya sendiri?

Keterkejutan para bangsawan dan warga Pengging adalah keterkejutan yang ke sekian kali. Sebelum itu, mereka sudah dikejutkan oleh kabar yang nyaris tidak masuk akal: mahkota Pangeran Kebo Kanigara telah diserahkan kepada adiknya, Pangeran Kebo Kenanga, setelah putera mahkota tersebut kalah bertaruh dengan Syaikh Siti Jenar. Di saat orang masih ramai membincang peristiwa aneh itu, telah tersiar lagi kabar yang sangat tak terduga-duga: raja dan putera mahkota Pengging yang baru, Pangeran Kebo Kenanga, menyatakan memeluk agama Islam.

Perubahan bertubi-tubi yang terjadi di Pengging tak pelak lagi telah membuat semua mata diarahkan kepada sosok Abdul Jalil. Sebagian memandang dengan penuh kekaguman, tapi tidak sedikit yang memandangnya dengan mata menyembunyikan api kemarahan. Sejumlah pendeta kerajaan yang benci, menjulukinya dengan gelar hebat: si lidah menyala, si pengacau, si pembuat kisruh, dan si perusak tatanan. Abdul Jalil sendiri tidak peduli dengan pandangan dan penilaian yang dibidikkan orang ke arah dirinya. Dengan tegar, seolah tidak terjadi sesuatu, ia terus melakukan apa yang seharusnya ia lakukan. Tanpa peduli dengan hantu-hantu fitnah yang berkeliaran mengerumuninya, ia dengan penuh sukacita menyemburkan api menyala dari lidahnya untuk menghangatkan manusia yang kedinginan atau mencurahkan air segar dari mulutnya yang berkelebih-kelimpahan kepada manusia yang kehausan. Laksana bongkahan batu karang di tengah telaga yang bergeming diterpa hujan, badai, dan panas, di tengah gemuruh kecaman, caci maki, umpatan, fitnah, dan ancaman, ia dengan ramah memberikan keberlebih-kelimpahannya kepada makhluk yang menghampirinya.

Tanpa kenal lelah, ia ajarkan kepada manusia tentang cara bercermin yang benar. Bercermin untuk mengenal diri sendiri sebagai citra ar-Rahman. Ia sulut dan kobarkan semangat perlawanan manusia terhadap keterbatasan diri sendiri. Ia ajarkan kepada manusia-manusia yang mengikuti jalannya tentang kewajiban dasar manusia untuk berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia (insan kamil). Ia ajarkan kepada mereka cara-cara sederhana bagi manusia untuk melampaui liku-liku jalan menanjak dan menurun yang terentang antara martabat hewan dan adimanusia. Ia ajarkan semua yang ia punyai sampai tuntas tanpa sisa. Ia buka tangannya lebar-lebar sampai tak ada lagi sisa di genggamannya. Lalu, dengan pengetahuannya yang mendalam tentang jiwa manusia dan pengalaman ruhaninya yang matang, ia meneguhkan kepercayaan diri para pengikutnya terhadap keberadaan diri mereka sebagai makhluk paling agung dan mulia di jagad raya. Ia untkapkan kepada mereka rahasia Ilahiyyah yanmeng tersembunyi di daam diri setiap manusia, yang dengan rahasia tersebut orang seorang akan memiliki senjata untuk berjuang mewujudkan diri menjadi adimanusia. Ya, adimanusia, insan kamil, wakil Allah di muka bumi, makhluk yang menduduki derajat paling tinggi dan paling mulia di antara segala makhluk di jagad raya, yaitu wakil Allah yang menjadikan para malaikat bersujud kepadanya.

Setelah merasa cukup berbagi selama empat puluh hari di Pengging, dengan meninggalkan panji-panji persamaan derajat di antara warga kerajaan, Abdul Jalil melanjutkan perjalanan ke arah timur. Tanpa kenal lelah ia telusuri hutan jati, bukit padas, jurang, lembah, dan jalanan berbatu. Ia hanya singgah di beberapa desa untuk sekadar beristirahat, ketika melihat istrinya sangat kelelahan. Setelah sepekan berjalan, ia sampai di Pamantingan, daerah keramat tempat orang memuja Dewi Manting (dewi kesuburan). Di tempat itu ia memutuskan untuk tinggal dan mengajar penduduk sekitar. Ia berharap, dengan tinggal di tempat terkucil yang terletak di tengah hutan jati ituta orang tidak akan banyak yang mengenalnya. Namun, ibarat ratu lebah yang ke mana pun pergi selalu diikuti lebah-lebah, begitulah kehadiran Abdul Jalil di Pamantingan secepat embusan angin sudah menjadi buah bibir penduduk sekitar. Kemunculan Abdul Jalil di tempat itu pun dalam hitungan hari diikuti munculnya beratus-ratus dan bahkan beribu-ribu manusia dari berbagai kalangan yang datang berduyun-duyun mengerumuninya untuk beroleh berkah keselamatan. Di antara mereka yang datang dan mengambil baiat kepadanya adalah para bangsawan, pemuka penduduk, ruhaniwan, dan cerdik cendikia pencari Kebenaran. Mereka itu adalah Ki Ageng Tarub, Ki Buyut Brati, Ki Ageng Gabus, Kyayi Ageng Bulu, Pngerban Pandanarum, Pangeran Sukalila, Pangeran Matahun, Pangeran Rajegwesi.

Diserbu berarus-ratus dan bahkan beribu-ribu orang yagn meminta berkah, Abdul Jalil untuk kali ke sekian merasa dihadapkan pada persoalan yang membingungkan. Dikatakan membingungkan karena setelah melampaui keadaan (hal), tingkatan (makanah), derajat (martabat), dan kedudukan (maqam) ruhani yang tak terhitung, ia tetap merasa sebagai orang bodoh yang belum banyak mengetahui rahasia di balik kehendak Allah atas dirinya. Ia sering terheran-heran dan kebingungan menghadapi hal-hal tak terduga: ia diberhalakan manusia di saat ia meyakini jika kedudukannya sebagai ‘yang terendah’ dalam perubahan tatanan itu makin mendekati kenyataan. Bagaimana mungkin ia yang sejak awal perubahan tatanan kehidupan baru sudah menempatkan diri pada kedudukan di bawah seibarat tanah tempat berpijak, tiba-tiba diserbu beribu-ribu orang dan disanjung-sanjung manusia setinggi langit?

Bingung dan terheran-heran dengan kenyataan yang dialaminya, Abdul Jalil dalam suatu sembahyang malam mengungkapkan keterbatasan dirinya itu kepada Allah, Rabb al-Arbab, yang belakangan ia rasakan seperti menutup Diri di balik selimut al-Haqq. Ia mengungkapkan ketidakpahamannya terhadap kehendak Rabb al-Arbab atas dirinya yang mendadak diberhalakan manusia. Ia mengungkapkan rasa khawatirnya, betapa keadaan itu akan mengancam ajaran Tauhid yang selama itu diajarkannya. Ia mengungkapkan semua keheranan dan ketidakmengertiannya. Ia mengungkapkan semua. Semua. Namun, sampai jauh malam ia tidak mendapat secuil pun jawaban dari-Nya. Barulah pada detik-detik menjelang subuh ia beroleh jawaban sangat singkat dari Allah melalui al-Haqq yang menerobos relung-relung pedalaman ruhnya lewat al-ima’, yang jika diungkapkan denga bahasa manusia, kira-kira intinya:

“Siapa yang memberimu hak untuk memilih? Siapa yang memberimu hak untuk mengetahui sesuatu melebihi apa yang Ku-kehendaki?”

Abdul Jalil tersentak kaget. Ia seketika sadar, jawaban itu sejatinya merupakan sebuah perubahan dahsyat yang sedang berlangsung atas jalan hidupnya. Sehingga, ia wajib memasrahkan utuh semua urusan dirinya kepada-Nya. Ia pun segera sadar, inilah rentang waktu di mana keberlebih-kelimpahannya akan berakhir. Ia sadar, segala sesuatu harus terjadi sesuai waktu yang ditetapkan-Nya. Tidak bisa diundur dan tidak bisa pula diajukan. Demikianlah, setelah kesadaran demi kesadaran terdalamnya terkuak, ia menutup diri di dalam kamar dan tidak bicara selama berhari-hari

Ketika rentang waktu seratus hari berlalu dan Abdul Jalil meninggalkan Pamantingan, ia memutuskan untuk tidak memilih tempat lain lagi untuk tinggal dan mengajar. Sebaliknya, ia melanjutkan perjalanan ke arah timur sepanjang pedalaman, mengunjugi dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala daan lemah larangan yang telah dibukanya, lalu berputar dan berbalik arah ke arah barat sepanjang pantai utara, dengan tujuan akhir tanah kelahiran, Caruban. Sesuai rencana, sepanjang perjalanan itu ia akan singgah di dukuh-dukuh yang tersebar di berbagai tempat tersebut, untuk mengetahui apakah tanaman yang telah ditebarnya telah tumbuh dengan baik atau merana tak berkembang. Ia gembira sekaligus takjub ketika melihat ladang persemaian yang dibukanya telah tumbuh subur menjadi tempat penyebaran benih-benih unggul yang memberikan manfaat bagi Kehidupan di sekitarnya.

Di tengah kegembiraan menyaksikan kesuburan pengajaran Tauhid di dukuh-dukuh yang dibukanya itu, Abdul Jalil tiba-tiba melihat setan muncul dalam wujud bayangan palsu dirinya, dengan tujuan utama menodai dan meyimpangkan kemurnian ajaran Tauhid yang disampaikannya. Hal itu ia ketahui ketika beberapa murid terkemukanya melaporkan munculnya dukuh-dukuh baru bernama Lemah Abang dan Kajenar, yang letaknya tidak jauh dari dukuh-dukuh Lemah Abang dan Kajenar yang dibukanya. “Di negeri Daha sekarang ini saja sudah ada dua dukuh Kajenar. Yang satu di barat kutaraja, yaitu dukuh Kajenar yang paduka buka. Yang satu lagi, dukuh Kajenar di dekat Tirwan, yang dibuka seorang guru suci bernama San Ali Anshar. Kami tidak tahu berapa dukuh lagi nanti yang muncul,” kata Kyayi Pocanan.

Menerima laporan kemunculan dukuh-dukuh baru bercitra Lemah Abang dan Lemah Kuning, Abdul Jalil tiahdak merasa terkejut dan khawatir. Tengara bakal munculnya setan yang akan menyimpangkan ajarannya ke arah kesesatan yang sesesat-sesatnya telah ia tangkap bertahun-tahun silam, saat ia bertemu Pangeran Arya Pinatih di Bangsal Sri Manganti di Giri Kedhaton. Munculnya orang bernama Hasan Ali alias Bango Samparan, yang mengaku murid Syaikh Lemah Abang yang bernama asli San Ali Anshar, telah ia tangkap sebagai tengara tentang bakal munculnyaq setan yang menyaru dalam wujud bayangan palsu dirinya. Lalu, setan itu akan melakukan penyelewengan besar-besaran terhadap ajaran yang sudah disampaikannya kepada manusia. Ia merasa betapa kemunculan setan itu akan menjadi salah satu penyebab yang menggenapi perjanjiannya dengan Sang Prthiwi, yaitu mengobarkan keakuannya sebagai Putera Sang Bhumi (Ksitiputera) yang akan disembelih sebagai santapan Mahaksitiputra, Putera Teragung Sang Bhumi, Sang Bhoma Narakasura.

Sadar munculnya setan yang menyaru dirinya itu adalah tengara keniscayaan baginya untuk mengakhiri jalan dharmanya membagi-bagi sisa keberlebih-kelimpahannya, Abdul Jalil tidak berkomentar apa-apa menanggapi kemunculan dukuh-dukuh baru di sekitar caturbhasa mandala yang dibukanya. Ia hanya meminta kepada murid-murid terkemukanya untuk berdiam diri. Kepada murid-murid terkemukanya itu, ia memberikan wejangan singkat:

“Ketahuilah, o engkau yang memiliki mata indriawi dan penglihatan batin! Bahwa telah menjadi kodrat Kehidupan, di mana kehadiran sesuatu yang haqq selalu diikuti oleh sesuatu yang batil, laksana siang yang terang benderang diikuti malam yang gelap gulita. Itu sebabnya, jika suatu ketika engkau sekalian berada di suatu masa yang tak jelas batas-batas terang dan gelapnya, karena bumi diliputi gumpalan awan, atau diselimuti gerhana, atau di ambang fajar dan senjakala, di mana antara yang haqq dan yang batil tidak jelas, maka saat itu diamlah! Diam! Seribu kali diam!”

“Ketahuilah, o engkau yang memiliki penglihatan batin! Bahwa dengan diam, mata hatimu (‘ain al-bashirah) yang tersembunyi di relung-relung jiwamu akan menangkap tengara Kebenaran yang muncul laksana matahari kembar, yaitu matahari yang sebenarnya dan bayangan palsunya. Dengan demikian, o engkau yang melihat dengan mata batin, engkau akan menemukan aku dan bayangan palsuku berdiri di ujung jalan Kebenaran. Saat itu, engkau akan sulit membedakan antanra aku dan bayangan palsuku. Sebab, ibarat matahari di pagi dan sore hari yang sama-sama merah cahayanya, demikianlah citra diriku dan citra diri bayangan palsuku itu sama-sama menebarkan cahaya merah keraguan di hati sanubarimu. Lantaran itu, aku beri tahukan kepada engkau sekalian tentang tanda-tanda yang bisa engkau jadikan pedoman untuk membedakan keberadaanku dan keberadaan bayangan palsuku.”

“Pertama-tama, jika engkau sekalian bertemu dan berjabat tangan dengan aku maka engkau akan mendapati tanganmu bersih tanpa bekas apa pun. Sebaliknya, jika engkau sekalian menjabat tangan bayangan palsuku maka engkau akan mendapati bekas tanda pamrih berwarna hitam di telapak tanganmu. Segera lari menjauhlah kalian dari bayangan palsuku jika melihat tanda hitam itu, karena tanda itu akan melebar dan membesar, hingga menutupi seluruh tubuh dan jiwamu. Bekas tanda hitam pamrih itu akan membuatmu terhijab dari jalan Kebenaran dan bahkan akan mementalkanmu jauh-jauh dari jalan-Nya sampai engkau terperosok ke jurang Kesesatan.”

“Aku beri tahukan kepadamu bahwa jalan Kebenaran adalah jalan berliku-liku dan berkelok-kelok, terjal, curam, dan carut-marut membingungkan jika tidak diterangi cahaya matahari Kebenaran. Jalan Kebenaran yang terhampar pada Kitab Suci hanya mungkin dilewati hingga ke mahligai Kebenaran Sejati jika ia diterangi cahaya matahari Kebenaran yang tersembunyi di langit batin. Jika suatu saat nanti engkau sekalian mendapati bayangan palsuku mengaku-aku sebagai diriku, maka bentangkanah jalan Kebenaran Kitab Suci dan berjalanlah di bawah pancaran cahaya matahari Kebenaran yang menerangi penglihatan mata batinmu. Dengan piranti Kitab Suci sebagai jalan Kebenaran dan penglihatan mata batin sebagai cahaya matahari Kebenaran, engkau sekalian dengan mudah akan bisa membedakan mana Syaikh Siti Jenar yang sesungguhnya dan mana pula yang bayangan palsunya. Ujilah kemunculan setan pengaku-aku itu dengan Kitab Suci dan penglihatan mata batin, niscaya engkau sekalian akan menemukan Kebenaran bahwa dia, bayangan palsuku, itu hanyalah bayangan maya fatamorgana yang menyesatkan.”

“Ketahuilah oleh engkau sekalian, o para penempuh jalan ruhani yang berjalan di bentangan jalan Kebenaran, bahwa aku akan meninggalkan hiruk Kehidupan yang melingkupi bumi manusia ini. Aku akan pergi ke duniaku sendiri. Aku tidak bisa mendampingi kalian terus-menerus. Aku tidak bisa berkata ini dan itu ketika bermunculan setan-setan penyesat yang menyaru diriku. Lantaran itu, diamlah dan pasrahkan semua urusan kepada-Nya!”

Sewaktu perjalanan yang dilakukannya sampai di Giri Kedhaton, Abdul Jalil mendapati orang sedang sibuk mempersiapkan peringatan khaul kesembilan wafatnya Prabu Satmata Sri Naranatha Giri Kedhaton Susuhunan Ratu Tunggul Khalifatullah. Ia buru-buru menemui Pangeran Zainal Abidin Dalem Timur, putera Prabu Satmata yang menggantikan kedudukan ayahandanya baik sebagai raja Giri Kedhaton maupun guru suci Tarekat Ni’matullah. Saat bertemu dengan Pangeran Zainal Abidin yang disebut orang dengan gelar Susuhunan Dalem Timur, ia beroleh kabar yang mengejutkan, terkait dengan Majelis Wali Songo. Setelah Prabu Satmata Susuhuna Giri Kedhaton mangkat, anggota majelis lain yang meninggal adalah Pangeran Arya Pinatih Susuhunan Giri Gajah, Khalifah Husein Imam Madura, dan Syaikh Jumad al-Kubra. “Kakek kami, Susuhunan Giri Gajah digantikan oleh putera Eyang Susuhunan Ampel Denta, Raden Qasim. Yang Mulia Khalifah Husein digantikan oleh putera sulungnya, Usman Haji. Yang Mulia Syaikh Jumad al-Kubra digantikan oleh adiknya, Syaikh Dara Pethak. Sementara Paman, yang tak pernah terdengar kabarnya, digantikan oleh Raden Sahid Susuhunan Kalijaga. Yang menunjuk Raden Sahid sebagai pengganti Paman adalah Syaikh Dara Putih,” kata Pangeran Zainal Abidin menjelaskan.

“Kenapa Syaikh Manganti Susuhunan Giri Gajah diganti Raden Qasim? Apakah ia meninggalkan wasiat agar digantikan Raden Qasim?” tanya Abdul Jalil.

“Kakek kami memang berwasiat seperti itu.”

“Bagaimana dengan putera-puteranya?”

“Pangeran Pringgabhaya menjadi kepala wisaya di Pamwatan dan mengepalai keluarga Bajul di sepanjang Bengawan Sori hingga muara. Sementara, Pangeran Kedhanyang menggantikan kakek kami sebagai guru suci di Sri Manganti,” Pangeran Zainal Abidin menerangkan.

Abdul Jalil mengangguk-angguk. Setelah itu ia berkata, “Tapi, tadi sewaktu aku sembahyang di masjid, aku dengar kabar jika di Demak sekarang ini ada ratu kembar: Yang Dipertuan Demak dan Yang Dipertuan Japara. Bagaimana itu? Apakah yang sudah terjadi sepeninggal Sultan Abdurahman Surya Alam Senapati Jimbun Panembahan Palembang Sayidin Panatagama? Kenapa bisa ada dua penguasa?”

“Semula yang mengganti sultan adalah Pangeran Sabrang Lor, putera sulung sultan. Tapi, belum genap tiga tahun dia mangkat. Sekarang ini Tranggana, yang menjadi Sultan Demak.”

“Tranggana?” gumam Abdul Jalil heran, “Putera sultan yang suka mengumbar nafsu kesenangan itu?”

“Benar Paman. Kami juga tidak mengira kalau dia bakal naik takhta.”

“Bagaimana para adipati dapat memilih dia sebagai sultan?”

“Maaf Paman. Tranggana belum utuh menggantikan kedudukan ayahandanya. Sebab, para adipati yang tergabung dalam persekutuan telah sepakat menunjuk saudara iparnya, Pangeran Hunus Adipati Japara, sebagai adipati dan senapati. Jadi sekarang ini penguasa Demak yang berwenang memimpin persekutuan adipati se-Nusa Jawa adalah Pangeran Hunus,” kata Pangeran Zainal Abidin.

“Mungkin itu yang disebut penduduk dengan istilah ratu kembar. Apakah itu tidak menimbulkan masalah?” tanya Abdul Jalil ingin penjelasan.

“Kami berusaha memecahkan masalah itu dengan membagi kekuasaan menjadi dua, yaitu kekuasaan duniawi yang dipegang Pangeran Hunus dan kekuasaan ruhani yang dipegang Tranggana. Pangeran Hunus menduduki jabatan adipati dan senapati, sedang Tranggana menduduki jabatan sayidin panatagama yang hanya mengurusi masalah keagamaan. Jadi, meski ia bergelar sultan tetapi kekuasaannya hanya di bidang agama.”

Abdul Jalil diam. Ia tidak ingin terlibat dengan masalah-masalah rumit seputar pemerintahan, karena ia sudah menangkap sasmita bakal mengalami perubahan jalan hidup yang sangat dahsyat. Itu sebabnya, usai mengikuti upacara peringatan khaul Prabu Satmata, ia beserta istri dan anaknya bergegas meninggalkan Giri Kedhaton ke barat. Sepanjang perjalanan mengunjungi dukuh-dukuh bercitra caturbhasa mandala dan lemah larangan, Abdul Jalil justru mendapati kenyataan yang sangat menggembirakan hatinya. Sebab, tatanan kehidupan masyarakat ummah di kawasan pesisir terlihat jauh lebih baik dibanding kehidupan di pedalaman. Bukan saja bandar-bandar di pesisir dimakmurkan oleh perdagangan dari pedalaman ke pesisir, melainkan perniagaan antara bangsa pun membawa kelimpahan yang menakjubkan. Kemakmuran benar-benar melimpah di pesisir seolah sulit ditemukan orang fakir. Tajug dan masjid tegak di mana-mana. Pesantren dan khanaqah pun tumbuh seperti jamur. Di tengah berlimpahnya kemakmuran itu, tatanan kehidupan masyarakat pesisir jauh terasa lebih aman dan tertib dibanding pedalaman karena diterapkannya undang-undang hukum yang disebut Angger-Angger Suryangalam, yakni hukum yang diberlakukan di Kadipaten Demak dan seluruh kadipaten sekutunya. Keadaan itu sangat berbeda dengan di pedalaman, di mana hukum Majapahit Kutaramanawa sudah compang-camping dan menjadi barang dagangan yang sangat murah sehingga tak mampu membawa ketertiban apalagi keadilan.

Ketika perjalanan yang dilakukannya mencapai Demak, Abdul Jalil melakukan sembahyang di Masjid Agung Demak yang telah diperluas dan diperindah dengan segala kemegahan. Para arsitek dan tukang yang diserahi tugas memperluas masjid adalah orang-orang Mappila asal Kerala. Lantaran itu, rancang bangun masjid baru itu mirip dengan masjid Kerala, yaitu beratap limas tingkat tiga. Masjid baru itu merupakan masjid terbesar di Nusa Jawa dan dijadikan salah satu tempat bertemunya Majelis Wali Songo. Sebenarnya, setelah bersembahyang Abdul Jalil berniat akan singgah ke kraton menemui Tranggana untuk mengingatkan bahaya dari takhta kekuasaan sebagai amanah Ilahi. Namun, baru saja ia berjalan dari masjid ke alun-alun, tiba-tiba ia tersentak kaget karena menjumpai sesuatu yang sedikit pun tidak pernah diduganya: bertemu muka dengan sahabat penunjuk jalan Kebenaran yang sangat dihormatinya, guru ruhani yang dimuliakan dan pembimbing jalan lurus yang membawanya ke lingkaran Jama’ah Karamah al-Auliya’, yaitu Ahmad Mubasyarah at-Tawallud.

Seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Abdul Jalil terperangah kebingungan menatap wajah Ahmad at-Tawallud yang seperti tidak termakan usia. Dengan wajah berbinar-binar penuh kegembiraan, ia menyalami, merangkul, mencium pipi, dan kemudian berlutut sambil memegangi kaki guru tercintanya itu. Lama ia terdiam seolah ingin menumpahkan kerinduannya sebagai anak lewat kaki guru yang dihormatinya. Setelah diam beberapa jurus, ia bertanya dengan suara bergetar, “Apakah yang membuat Tuan, guru suci kami, datang ke negeri yang jauh tersembunyi di balik kabut ini?”

Ahmad at-Tawallud tidak buru-buru menjawab. Sebaliknya, dia mengusap kepala si kecil Fardun yang dipangku Shafa sambil bertanya, “Berapa usianya?”

“Satu tahun delapan bulan,” jawab Shafa.

“Siapa namanya?”

“Fardun.”

Ahmad at-Tawallud tertawa. Lalu dengan suara lain dia berkata, “Nama anak ini Fardun, terkait dengan tugasku. Maksudku, aku sekarang ini sedang mengemban tugas dari Misykat al-Marhum untuk mencari engkau, o Tuan Abdul Jalil, untuk memberikan jubah kehormatan (an-nawalah), sebagai tanda bahwa engkau telah menjadi ‘orang yang sendiri’ (fard). Sebab, telah beberapa waktu ini Misykat al-Marhum mengaku tidak lagi dapat memantau dan mengawasi keberadaan Tuan. Ternyata, barang setahun delapan bulan silam Tuan sudah mengetahui kedudukan Tuan itu.”

“Maaf Tuan, apakah dengan itu berarti kami sudah tidak menjadi anggota Jama’ah Karamah al-Auliya’?”

“Tidak hanya itu.”

“Maksudnya?”

“Keberadaan Tuan sebagai apa pun sudah selesai,” kata Ahmad at-Tawallud lepas. “Artinya, Tuan tidak boleh lagi menjadi guru manusia atau menjadi apa pun yang berkaitan dengan urusan duniawiah. Tuan harus meninggalkan segala-galanya. Tuan telah dipilih-Nya untuk menjadi kekasih-Nya yang setia. Kekasih yang tidak memalingkan kiblat kepada yang lain kecuali kepada-Nya. Dia menginginkan Tuan utuh sebagai pribadi tanpa predikat dan atribut apa pun. Tuan akan dijadikan-Nya sebagai Abdul Jalil (hamba Yang Mahaagung) dalam makna yang sebenar-benarnya. Tuan akan dijadikan sebagai ‘yang sendiri’, kekasih ‘Yang Tunggal’ (al-Fard).”

Abdul Jalil tersungkur mencium tanah. Bersujud syukur atas anugerah yang tak pernah dibayangkan dan diimpikannya itu. Dengan air mata bercucuran ia menangis terisak-isak sampai tubuhnya terguncang-guncang. Ia merasakan seluruh aliran darahnya mengalir deras laksana air sungai. Ia merasakan napasnya bertiup laksana angin pegunungan bertiup di musim kemarau. Ia benar-benar merasa hilang diri. Hanya rasa rindu yang tak kesampaian ia rasakan naik perlahan-lahan dari dada hingga ke ubun-ubun.

Berbeda dengan Abdul Jalil yang menerima anugerah dari al-Fard dengan penuh kesyukuran, Shafa justru terheran-heran dan kebingungan menyaksikan kenyataan terkait nasib suaminya. Dengan benak dipenuhi tanda tanya, dia bertanya kepada Ahmad at-Tawallud, “Apakah dengan menjadi ‘yang sendiri’ dan menjadi kekasih Yang Tunggal, suami kami sudah kehilangan segala-galanya? Apakah dia akan kehilangan juga istri dan anak-anak yang dikasihinya?”

“Ananda,” kata Ahmad at-Tawallud lembut, “Secara manusiawi, Tuan Abdul Jalil tetaplah suami ananda dan ayahanda dari putera-puteranya. Tetapi, secara ruhaniah dia adalah mutlak milik-Nya. Sebab itu, jika ananda melihat ke dalam relung-relung jiwa suami ananda maka yang akan ananda dapati adalah Kehampaan. Kosong. Kepenuhan. Pepat. Yang ada hanyala Yang Tunggal dan Tak Terbandingkan. Tidak ada yang lain lagi.”

“Apakah tidak ada sedikit ruang yang tersisa bagi kami, istri dan anak-anaknya?”

“Dia Mahasuci. Maha Pencemburu. Tidak mau disekutukan. Tidak mau diduakan. Jika di dalam relung-relung jiwa orang-orang seperti suami ananda masih terdapat ruang untuk yang lain, maka yang lain itu akan dihapus dan dihancurkan tanpa sisa.”

“Lalu bagaimana dengan nasib kami, o Tuan?” tanya Shafa minta penegasan dengan air mata bercucuran.

“Ananda janganlah berpikir dangkal sebagaimana pemikiran orang kebanyakan pada umumnya, yang selalu bertanya begini: Bagaimana nasibku dan nasib anak-anakku? Apa yang diberikan Tuhan untukku? Apa yang diberikan suamiku untuk aku? Bagaimana hak-hakku sebagai istri dan bagaimana pula hak anak-anakku sebagai anak? Sungguh, aku katakan kepada ananda bahwa sebagai istri seorang penempuh jalan ruhani, hendaknya ananda berpikir yang sebaliknya dari pandangan umum orang kebanyakan. Ananda harus berpikir begini: bagaimana seharusnya saya mengabdi secara benar kepada Allah, Sang Pencipta! Bagaimana aku dapat melayani Allah dengan sebaik-baiknya. Sebesar apakah pengorbanan yang harus aku lakukan untuk berbakti kepada-Nya? Bukankah dengan melayani dan mengabdi kepada kekasih Allah, sejatinya aku sudah melayani dan mengabdi kepada-Nya? Bukankah semua yang ada di dalam dan di luar diriku pada hakikatnya adalah milik-Nya? Pantaskah aku menentang Dia Yang mengambil milik-Nya?”