Citra Bayangan Sang Maut

Ketika hari menjelang sore, Abdul Jalil mengantar Ahmad at-Tawallud ke pelabuhan Demak. Guru ruhani terkasihnya itu ingin sampai di sana sebelum senja sebab kapal yang ditumpanginya akan berlayar sebelum hari gelap. Saat mereka berjalan sambil berbincang-bincang di tepi pantai, tiba-tiba Abdul Jalil menyaksikan kilasan penglihatan batin yang membuat darahnya tersirap dan langkahnya terhenti. Saat itu, tanpa terduga-duga di bentangan langit barat yang mulai memerah terpampang citra wajah Sang Maut yang memanjangkan bayang-bayang-Nya hingga garis cakrawala. Bayangan yang terus memanjang itu diselimuti semacam kabut tipis yang membentuk gambaran aneka rupa perwujudan yang menampakkan seringai wajah Kematian yang mengerikan. Sekejap kemudian, wajah Kematian itu semburat dan mewujud dalam bentuk makhluk-makhluk setengah manusia berdarah dingin yang mengerikan wujudnya; matanya semenyala mata serigala, gigi-geliginya setajam pedang, cakar-cakarnya seruncing tombak, raungannya sedahsyat seribu singa, dan embusan napasnya sepanas tungku. Kemudian, makhluk-makhluk mengerikan itu dengan keganasan tak terlukiskan memburu beribu-ribu dan bahkan beratus-ratus ribu makhluk hidup.

Abdul Jalil menahan napas dan merasakan dadanya sesak menyaksikan penglihatan batin yang mengerikan. Dengan suara tergetar ia bertanya kepada Ahmad at-Tawallud, “Apakah Tuan menyaksikan bayangan Sang Maut di cakrawala sebagaimana yang kami saksikan? Apakah itu memiliki keterkaitan dengan jalan yang harus kami lampaui untuk menjadi ‘yang sendiri’?”

Ahmad at-Tawallud berdiri di samping Abdul Jalil dengan mata menatap ke garis cakrawala yang mulai kabur. Setelah diam sejurus, ia berkata dengan suara lain, “Aku menyaksikan apa yang Tuan saksikan. Apa yang Tuan saksikan barusan dapat Tuan tafsirkan memiliki kaitan dengan jalan yang akan Tuan lampaui untuk menjadi ‘yang sendiri’. Sebab, tatkala bayangan Sang Maut menebar Kebinasaan atas orang-orang di sekitar Tuan, tidak sedikit pun Tuan diperbolehkan untuk berbuat sesuatu guna menolong mereka. Tuan yang dikenal orang sebagai manusia luhur budi yang selalu berbagi keberlebih-kelimpahan dan rela berkorban untuk yang lain, saat itu harus melepas citra diri Tuan. Tuan harus menjadi sesuatu yang tidak berguna manfaat apa pun di saat Tuan dengan mudah dapat memberi guna dan manfaat. Tuan harus ikhlas melepas semua desakan hati nurani, meski pahit. Tuan harus membiarkan manusia-manusia yang Tuan kasihi melolong-lolong ketakutan, berlarian menghindari kejaran makhluk-makhluk ganas berdarah dingin jelmaat bayangan Kematian. Tuan harus dapat menahan rasa sakit tak terkatakan ketika menyaksikan beratus-ratus bahkan beribu-ribu tangan manusia tak berdaya menggapai-gapai ke arah Tuan untuk meminta tolong, tanpa sedikit pun Tuan memberikan pertolongan.”

“Seberat itukah jaan yang harus aku lampaui untuk menjadi ‘yang sendiri’?” Abdul Jalil merasakan dadanya semakin sesak.

“Tuan akan terus menyaksikan bagaimana ganas dan brutalnya makhluk-makhluk mengerikan bayangan Sang Maut meraung, mencabik-cabik, mengoyak-koyak, dan merobek-robek semua mangsa dengan gigi geligi dan cakar-cakarnya yang tajam serta runcing. Tuan akan menyaksikan bagaimana mereka pamer keganasan,a mengunyah-kunyah, memamah, dan menelan mangsa-mangsanya di depan Tuan. Tuan harus diam menyaksikan itu semua. Tuan harus diam. Diam. Sebab, Tuan bukan siapa-siapa lagi,” kata Ahmad at-Tawallud menepuk bahu Abdul Jalil.

“Tapi beri tahukan kepada kami, kenapa bayangan Sang Maut terpampang di langit barat?”

“Sebab, bayangan Kematian yang Tuan saksikan itu adalah citra bayangan Sang Maut yang sudah menebar Kebinasaan di barat dan kemudian terbawa angin ke negeri Tuan.”

“Dapatkah Tuan menceritakan kepada kami tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di barat negeri kami?”

Ahmad at-Tawallud diam dengan mata menerawang ke garis cakrawala. Beberapa bentar kemudian ia duduk di atas hamparan pasir dan memberi isyarat agar Abdul Jalil duduk di sampingnya. Setelah itu, dengan suara lain dia mulai bercerita tentang badai Kebinasaan yang telah melanda negeri-negeri di sebelah barat.

Di negeri Persia, bayangan Sang Maut kembali muncul dalam wujud Syah Ismail yang mengamuk tidak lama setelah ia berhasil menguasai Herat. Sebagaimana saat kemenangan yang pernah diraih di Tabriz dan Shiraz, usai menaklukkan Herat, sang mahdi, reinkarnasi tuhan itu, segera menudingkan telunjuk ke tempat-tempat ‘kedurhakaan yang penuh kenajisan’: makam-makam para sufi, dan zawiyyah-zawiyyah tarekat yang bertebaran di Herat. Lalu seiring tudingan tangan sang tuhan, terdengarlah suara gemuruh amukan badai yang menggiriskan yang membuat makam-makam para sufi terbongkar, khanaqah-khanaqah berantakan, zawiyyah-zawiyyah porak-poranda, para penempuh jalan Kebenaran berpentalan terempas ke tepi jurang Kematian. Seringai wajah Kematian yang mengerikan tampak melayang-layang di atas ubun-ubun siapa saja di antara manusia yang menolak kemahdian dan keilahian Syah Ismail.

Tangisan pilu terdengar di sudut-sudut rumah ketika makam sufi besar Jami terbongkar porak-poranda dan rata dengan tanah dilanda amukan badai Kebinasaan yang diembuskan Syah Ismail. Para pengikut Tarekat Khalwatiyyah kocar-kacir dan ari tunggang langgang, berjalan terhuyung-huyung meninggalkan khanaqah-khanaqah dan zawiyyah-zawiyyah. Mereka tidak mampu menahan terjangan badai Kebinasaan yang susul-menyusul dan sambung-menyambung menebar Kematian. Dengan langkah gontai dan terseok-seok, mereka, dengan sisa-sisa terakhir tenaganya, berjuang menyelamatkan Kehidupan mereka ke wilayah Turki Usmani dan meminta perlindungan kepada Sultan Turki Usmani: Bayazid. Sementara, para pengikut Tarekat Kubrawiyyah Nurbakhsyi bersembunyi di lubang-lubang gua dan ruang-ruang bawah tanah karena pemimpin mereka, Qawamuddin bin Muhammad Nurbakhsyi, diintai bayangan Sang Maut yang berkeliaran bersama gumpalan awan Kematian dan badai Kebinasaan yang tak kenal ampun.

Bayangan Sang Maut yang mengembuskan badai Kebinasaan di Herat ternyata berembus pula dengan dahsyat di Khanat Bukhara. Seringai keganasan wujudnya membayang dalam wajah dingin penguasa dinasti Shaybanid, yang menghempaskan Kehidupan para pemimpin suku-suku Uzbek yang mengangkat senjata bagi kemerdekaan negerinya. Sebagaimana di Persia, di Khanat Bukhara, seiring gemuruh badai Kebinasaan yang melanda, terdengar jeritan panjang sahut-menyahut di tengah hingar ringkik kuda, gemerincing senjata, derap kaki, caci maki, dan sumpah serapah. Pada saat semua pandangan diarahkan ke garis cakrawala, terbelalaklah semua mata menyaksikan pemandangan yang meremangkan bulu kuduk: genangan darah mengalir bagaikan sungai, mayat-mayat bertumpuk membentuk bukit-bukit, bangkai-bangkai kuda berkaparan, pedang-pedang patah, anak-anak panah menghutan di palagan, dan jiwa-jiwa beterbangan ke angkasa. Ke mana pun pandangan diarahkan, baik di wilayah Tashkent di utara, baik di lembah Ferghana di timur, baik di lembah Afghan di selatan, baik di oasis Khwarazm di mulut Amu Darya di barat, hanya bayangan wajah Sang Maut yang terpampang ganas, mengintai dan mengepung Kehidupan makhluk.

Ketika badai Kebinasaan masih bergulung-gulung melumat Kehidupan makhluk di Khanat Bukhara, di negeri Ferghana yang terletak di sebelah timurnya berembus badai Kebinasaan yang menggemuruh bersama debu dan hutan panji-panji yang dikibarkan Zahiruddin Muhammad Babur, Yang Dipertuan Ferghana dan Samarkand. Badai Kebinasaan itu dengan ganas menerobos ke selatan, melintasi lembah, pegunungan, ngarai dan jurang, melanda negeri Afghan. Laksana Indra, Sang Puramdara, penakluk benteng, Babur memamerkan kekejaman luar biasa saat menaklukkan Samarkand dan menghancurkan gerakan oposisi yang menentangnya itu berteriak lebih garang di lembah Afghan. Lalu, dengan keganasan hewan buas kelaparan, Babur menggiring badai Kebinasaan melanda lembah subur Punjab di Bharatnagari. Ke arah mana pun orang berpaling, yang terlihat hanyalah bayangan Babur sebagai citra bayangan Sang Maut. Di mana pun Babur berada, orang akan menyaksikan pengejawantahan Sang Maut yang mewujud dalam bentuk hutan panji, bendera, dan tombak yang bergerak serempak di antara meriam-meriam, pedang-pedang, perisai-perisai, panah-panah, senapan-senapan, dan dentam-dentam ladam kuda yang menggemuruh di tengah bahana nyanyian perang membelah angkasa. Perang! Perang! Perang!

Sementara bayangan Sang Maut berkeliaran memangsa bangsa-bangsa muslim di Persia, Khanat Bukhara, Samarkand, Ferghana, Afghan, dan Punjab, di anak benua India bertiup badai Kebinasaan yang tidak kalah dahsyat.

Alfonso d’Albuquerque, gubernur Portugis di India, menyeringai dan mengembuskan napas Kematian di tengah debur ombak, kibaran layar, dentum meriam, letusan senapan, gemerincing pedang, dan pekik kemenangan pasukannya. Alfonso d’Albuquerque adalah ksatria tuhan yang datang ke Bharatnagari setelah Vasco da Gama. Ia lahir di Alandra, dekat Lisbon hambir delapan windu silam, anak kedua Gonzalio d’Albuquerque, Senhor de Villa Verde. Sejak muda, di bawah Raja Alfonso V, ia sudah terlibat pertempuran dengan orang-orang Islam di Afrika Utara. Lantaran pengalaman masa mudanya itu, sebagaimana Vasco da Gama, ia beranggapan bahwa di dunia ini hanya ada dua agama yang saling bermusuhan, yaitu Kristen dan Islam.

Alfonso d’Albuquerque datang ke India bersama sepupunya, Dom Francisco d’Alameda. Sebagai ksatria tuhan yang termasyhur kegagahannya di medan tempur, ketika tiba di India ia langsung terlibat dalam pembangunan benteng yang disiapkan sebagai ‘ladang pembantaian’ bagi musuh-musuh tuhan. Dom Francisco d’Alameda diangkat menjadi gubernur Portugis pertama di India dan berjaya menghancurkan armada Samutiru Yang Dipertuan Kozhikode. Tidak lama kemudian, d’Almadea digantikan d’Albuquerque, yang sebelumnya telah menaklukkan bandar Socotra dan Ormuz, di mulut Laut Merah. Tidak mau kalah dengan prestasi Vasco da Gama, sang ksatria tuhan d’Albuquerque melengkapi kemenangan armada laut d’Alameda dengan menggempur Kozhikode.

Dengan semangat ksatria tuhan yang membawa panji-panji kebesaran agama, d’Albuquerque memimpin pasukannya, prajurit-prajurit tuhan yang gagah berani. Bagaikan malaikat Kematian memburu mangsa, mereka bergerak cepat laksana awan hitam bersama gemuruh badai Kebinasaan, melanda pasukan Kozhikode yang dipanglimai Laksamana Kunjali Marakkar. Dalam waktu sangat singkat, sang ksatria tuhan dan pasukannya telah menjadikan Kozhikode sebagai rumah jagal raksasa yang penuh dengan bukit mayat dan bangkai hewan, genangan darah, senapan berserak, tombak patah, baju zirah terbelah, dan bau Kematian yang menusuk ke relung-relung jiwa.

Kemenangan yang dicapai d’Albuquerque di Kozhikode adalah bagian dari kemenangan-kemenangan yang telah diraihnya sebagai ksatria tuhan tak terkalahkan. Sanjungan dan pujian nyaris tak pernah jauh darinya. Nama d’Albuquerque selalu disebut dengan penuh kekaguman sepanjang jalur pelayaran antara India hingga Portugal. Sebagai pemenang, ia tidak sadar jika dirinya telah mabuk sanjungan dan pujian. Antara mabuk dan sadar, ia secara tiba-tiba mengumbar kebanggaan akan kehebatan diri sebagai ksatria tuhan yang tidak kalah hebat dibanding Vasco da Gama. Kemudian, dengan kepongahan ksatria tuhan tak terkalahkan, ia menggiring armadanya ke Goa, bandar niaga kedua terpenting di wilayah Kesultanan Bijapur, yang terletak di sebuah pulau di muara sungai Mandovi. Dengan kegagahan ksatria tuhan, ia dengan gampang merebut benteng Pangim. Penduduk Goa yang sudah mendengar kehebatan pasukan Portugis semenjak Vasco da Gama beramai-ramai mendatangi ksatria tuhan baru, d’Albuquerque. Mereka menyatakan kesediaan kotanya dijadikana bagian dari wilayah Kerajaan Portugal.

Sementara, kemenangan d’Albuquerque atas Goa untuk kali kesekian mengejutkan para panglima perang Bharatnagari, yang selama berabad-abad cenderung menilai secara berlebihan kehebatan diri di medan tempur berdasar ukuran darah kebangsawanan, keberanian, kesaktian, siasat gelar perang, maupun besarnya jumlah pasukan. Para panglima yang bangga dengan nilai-nilai ksatria dan kepahlawanan dalam bertempur tiba-tiba dihadapkan pada kenyataan-kenyataan aneh terkait dengan kekuatan-kekuatan baru kemiliteran Portugis yang memiliki sudut pandang berbeda dengan apa yang selama ini mereka pahami. Senapan yang selama itu lebih banyak digunakan untuk memeriahkan pesta pada upacara perkawinan dan penyambutanaaaa tamu terhormat atau perayaan-perayaan keagamaan, terbukti di tangan Portugis menjadi alat pembunuh yang ampuh. Mereka dengan terpaksa harus menggeleng-gelengkan kepala ketika menyaksikan keuletan, ketangguhan, kekompakan, dan keberanian satuan-satuan kecil pasukan Portugis yang mampu menahan musuh berjumlah puluhan kali lipat dengan hanya bersenjatakan senapan-senapan. Mereka tidak tahu rahasia apa di balik kekuatan orang-orang kulit putih itu hingga mereka menjadi orang-orang yang ulet, tangguh, kompak dan pantang menyerah selama menghadapi musuh.

Keuletan dan ketangguhan pasukan Portugis di bawah Francisco d’Albuquerque selama menghadapi serangan besar-besaran Panglima Kunjali Marakkar di Cochizha barang sewindu silam memang telah menjadi buah bibir yang tak ada habisnya di anak benua India. Orang dengan berdecak kagum berkata terheran-heran, bagaimana mungkin Portugis yang hanya berkekuatan tiga kapal dengan 100 orang serdadu ditambah 300 orang tentara bayaran Malabar dan 5000 orang pengawal Raja Cochizha, mampu menahan gempuran pasukan Kozhikode yang berkekuatan 280 buah kapal dan 50.000 orang tentara selama lima bulan? Bagaimana mungkin kekuatan kecil Portugis itu dengan sangat gemilang akhirnya berhasil memukul baik kekuatan Laksamana Kunjali Marakkar yang lebih besar itu sampai terlempar keluar Cochizha?

Keuletan dan ketangguhan itu kini teruji lagi ketika pasukan Portugis di bawah Alfonso d’Albuquerque berhasil menahan serbuan Adil Shah, Sultan Bijapur, yang membawa 50.000 orang prajurit mengepung Goa. D’Albuquerque dean pasukannya tidak menyerah setelah dikepung tiga bulan oleh pasukan Bijapur, meski kekurangan bahan pangan dan amunisi. Baru setelah empat bulan terkepung, d’Albuquerque dan pasukannya mundur meninggalkan Goa, dengan kapal-kapal rusak berat karena menerobos kepungan pasukan Bijapur. Namun, saat datang bantuan dari Portugis berupa 23 kapal perang dan 2000 orang serdadu pilihan, pada 25 November 1510 d’Albuquerque menyerang kembali Goa. Dalam tempo hanya sehari, ia telah mengubah Goa menjadi rumah jagal raksasa yang mengerikan: mayat-mayat dengan tubuh hangus berserpihan dan ceceran darah berserakan di bawah intaian ratusan gagak yang berteriak-teriak serak di angkasa.

Usai menaklukkan Goa, d’Albuquerque yang sudah mabuk kemenangan mengarahkan pandangan ke Malaka, bandar perniagaan penting di timur, sebuah batu loncatan bagi Portugis untuk mencapai negeri rempah-rempah. Sudah sejak awal d’Albuquerque meneterkan liur hendak mencaplok bandar terkenal kaya raya itu. Saat itu ia memiliki alasan kuat untuk menggempur dan menguasai bandar kaya tersebut, karena penguasa Malaka barang setahun silam telah menolak tawarannya untuk berniaga dan malah menawan pelaut-pelaut yang dikirimnya di bawah Diego Lopez d’Sequeira. Hasrat d’Albuquerque makin berkobar ketika saudagar-saudagar Cina muslim Cochizha memberikan dukungan, baik menyangkut keterangan-keterangan tentang kelemahan bandar Malaka maupun tawaran jung-jung mereka untuk mengangkut pasukan Portugis ke Malaka, tentunya, dengan imbalan yang memadai.

Menurut kabar, Malaka saat itu sedang diguncang kemelut akibat persekongkolan Tun Mutahir yang merencanakan suatu pembunuhan terhadap sultan. Meski persekongkolan itu terbongkar dan Tun Mutahir beserta keluarganya dihukum bunuh, keruwetan yang ditimbulkan bendahara jahat itu masih membelit Malaka. Kebobrokan akhlak pejabat-pejabat tinggi kerajaan yang menular ke pegawai-pegawai rendahan masih kuat bercokol di tubuh aparat kesultanan Malaka. Melalui liku-liku kebobrokan akhlak para pejabat dan pegawai kesultanan itulah setumpuk laporan Ruy de Araujo tentang peta pertahanan bandar Malaka dapat diselundupkan keluar tahanan hingga jatuh ke tangan d’Albuquerque. Setelah memahami kelemahan pertahanan Malaka, pada 25 Juli 1511 d’Albuquerque menggempur Malaka. Pecah pertempuran sengit. Sultan dengan didukung tentara bayarannya melawan. Meriam berdentuman dari kedua belah pihak. Sekalipun d’Albuquerque sempat mendaratkan pasukannya, sultan berhasil menghalau mereka kembali ke kapalnya.

Seiring kembalinya pasukan Portugis ke kapal, terlihatlah pemandangan mengerikan dari bekas jejak-jejak bayangan Sang Maut: mayat-mayat bergelimpangan dan bertumpuk di hampir setiap jengkal bandar Malaka. Bangunan-bangunan hangus mengepulkan asap dengan kobaran api menjilat-jilat ke angkasa. Meriam-meriam berserakan. Senapan-senapan berceceran. Anak panah bertumpang tindih dengan tombak-tombak patah. Meriam-meriam yang berdentuman dari kapal-kapal Portugis telah mengejawantahkan citra bayangan Sang Maut. Alfonso d’Albuquerque, sang ksatria tuhan, membuktikan bahwa dirinya tidak kalah ganas dibanding Vasco da Gama.

Selama berada di kapalnya, setelah mundur dari bandar Malaka, d’Albuquerque memperoleh laporan-laporan lebih lengkap tentang keadaan musuhnya. Di antara laporan-laporan itu, yang terpenting bagi d’Albuquerque adalah laporan tentang kecilnya nyali prajurit-prajurit Malaka yang berakibat pada rendahnya semangat tempur mereka. Dengan laporan itu, jelas sudah bagi d’Albuquerque bahwa kekuatan inti yang diandalkan sultan Malaka adalah tentara bayaran asal Jawa, Persia, dan Kerala. Sebagai ksatria tuhan yang berpengalaman, d’Albuquerque mengirim orang-orangnya untuk melumpuhkan tentara-tentara bayaran itu dengan tawaran harga yang lebih tinggi. Kemudian, setelah yakin kekuatan musuh terbelah, pada 10 Agustus 1511 d’Albuquerque melakukan serbuan besar-besaran ke Malaka. Tanpa kesulitan berarti pasukannya berhasil mendarat kembali di bandar Malaka. Meski perlawanan sengit dilakukan sultan dan pasukannya, akibat sebagian di antara tentara bayaran asal Jawa sudah berpindah tuan karena tergiur tawaran gaji yang lebih tinggi, maka porak-porandalah pertahanan sultan. D’Albuquerque bersama pasukannya meraih kejayaan gemilang. Prajurit-prajurit Portugis yang berkemenangan itu kemudian menjarah kekayaan Malaka. Mereka menjarah apa saja barang perniagaan yang terdapat di Malaka; kain sutra, gading, emas lantakan, perhiasan, batu mulia, keramik, aneka jenis senjata. Di antara barang-barang hasil jarahan itu terdapat 3000 buah meriam yang terbuat dari kuningan dan 2000 buah meriam yang terbuat dari besi, yang semua senjata berat itu didatangkan dari Jawa.

Setelah Malaka jatuh, Sultan Mahmud Syah, dengan dikawal sisa-sisa pasukannya meninggalkan ibu kota. Ia membangun kubu pertahanan di Pagoh yang terletak di tepi sungai Muar. Namun, d’Albuquerque yang khawatir kalau Sultan Mahmud Syah akan merebut kembali Malaka segera memburunya. Dengan dukungan 400 orang prajurit Portugis, 600 orang tentara bayaran Jawa, dan 300 orang tentara bayaran Pegu (Burma), d’Albuquerque menggempur kubu Sultan Mahmud Syah di Pagoh. Sultan tua yang sudah lelah itu tak kuasa menahan serbuan d’Albuquerque. Ia mundur ke hulu sungai Muar sampai ke wilayah Pahang. Setahun setelah di Pahang, sultan menggempur Pagoh, tapi ia kalah dan lari hingga ke Bentam. Usaha sultan merebut kembali bandar-bandarnya dari tangan Portugis mengakibatkan terjadinya perang berlarut-larut. Perang! Perang! Perang!