Wejangan Terakhir

Di tengah gemuruh suara Sang Maut mengisap napas-Nya di permukaan bumi Demak, bertiup angin dari barat yang membawa kabar sangat mengejutkan: gabungan armada Jawa yanga menyerang Malaka mengalami kekalahan telak. Dari 90 kapal yang berangkat, hanya sepuluh kapal perang jenis jung yang berlapis besi dan sepuluh kapal perbekalan yang kembali. Beribu-ribu prajurit asal Samarang, Tetegal, Tedunan, Rembang, Tuban, Siddhayu, Demak, Japara, Kendal, dan Pati tenggelam bersama kapal yang mereka tumpangi ke dasar laut.

Ketika semua dada terasa sesak dan semua mata meneteskan air mata kepedihan akibat peristiwa memalukan itu, terjadi peristiwa yang membuat semua mata terpejam dan semua hati tergetar. Satuan-satuan bersenjata yang dipimpin alim ulama Demak, yang dengan ganas telah menertibkan Kehidupan beragama di setiap sudut Kadipaten Demak, tiba-tiba mengarahkan pandangan ke kadipaten lain: Samarang, Japara, Tetegal, Kendal, Rembang, Siddhayu, dan Tedunan. Lalu, dengan gerakan sangat menakjubkan laksana kawanan hewan buas keluar sarang, mereka beriringan dengan suara gemuruh menerjang desa-desa yang terletak di sekitar Lemah Abang sambil meneriakkan takbir. Para alim dan pasukan tombaknya itu rupanya mendapat perintah untuk menyerang desa-desa di sekitar dukuh-dukuh Lemah Abang dengan tuduhan-tuduhan tanpa dasar. Sebagaimana peristiwa mengerikan yang telah terjadi di Demak, dengan alasan menertibkan agama Islam yang telah disimpangkan penduduk, satuan-satuan bersenjata tombak pimpinan alim ulama itu melakukan perburuan dan penjagalan terhadap siapa saja di antara manusia yang dituduh mengajarkan agama tanpa izin, menyelewengkan agama, menyebarkan ajaran sesat, atau murtad dari agama Islam.

Warga di kadipaten-kadipaten yang kebanyakan hanya mendengar kabar burung tentang kekejaman satuan-satuan bersenjata itu, dengan terheran-heran menyaksikan sendiri bagaimana tindakan ganas dan brutal manusia-manusia tak berjiwa yang menyebut diri barisan alim ulama pengawal agama Islam itu. Mereka saling pandang dan saling bertanya dengan keheranan.

Bagaimana mungkin alim ulama yang merupakan tokoh agama bisa memiliki pasukan bersenjata dan menggunakannya untuk menekan, menakuti, mengancam, dan bahkan membunuh orang-orang yang tidak sepaham? Bukankah sejak zaman purwakala belum pernah ada agamawan yang memiliki pasukan? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku pengawal agama Islam yang suci memiliki kebiasaan meminum dan menjilati darah orang-orang yang dibunuhnya? Bagaimana mungkin orang-orang yang mengaku beriman gemar merusak mayat, memotongi telinga dan alat kemaluan orang-orang yang dibunuh sebagai kesenangan? Bagaimana mungkin sebuah agama ditertibkan lewat tekanan, ancaman, teror, dan pembunuhan? Bagaimana mungkin citra sebuah agama yang damai yang menjanjikan keselamatan justru menimbulkan ketakutan dan kepanikan, karena orang-orang yang mengaku pengawal agama tersebut dengan keberingasan dan kebengisan tak terbayangkan menciptakan ladang mayat dan sungai darah?

Bagi sebagian besar penduduk yang keluarga, kerabat, tetangga, kawan, atau kenalannya menjadi korban keganasan satuan-satuan bersenjata pimpinan alim ulama Demak itu, mereka tidak bisa memahami peristiwa biadab itu sebagai sesuatu yang bisa dibenarkan oleh nurani. Mereka seumumnya menganggap peristiwa itu sebagai sesuatu yang sangat membingungkan. Sebab, citra Islam yang selama itu mereka pahami sebagai penyempurnaan ajaran Syiwa-Buda ternyata sangat berbeda dengan citra Islam yang dipahami alim ulama yang memiliki satuan-satuan bersenjata, baik dalam amaliah ibadah maupun istilah-istilah keagamaan sehari-hari. Mereka yang sehari-hari biasa menggunakan istilah-istilah sembahyang, puasa, swarga, neraka, langgar, tajug, Hyang Manon, Kangjeng, Nabi, pandhita, susuhunan, wiku, kiai, ki, dukuh, destar, aksamala, bebet, dan dodot cukup kebingungan dengan istilah-istilah yang digunakan anggota-anggota satuan bersenjata dan alim ulamanya seperti shalat, shaum, firdaus, jahannam, mushala, masjid, Allah Subhanahu wa Ta’ala, Muhammad Saw, alim ulama, syaikh, habaib, khwajah, tasbih, ghamis, surban, sarung, kopiah.

Istilah-istilah itu makin membingungkan ketika orang menyaksikan keganasan anggota satuan-satuan bersenjata tombak yang memaklumkan diri sebagai pengawal Islam agama Keselamatan. Mereka heran dengan kepongahan orang-orang bersenjata yang mengaku-aku bahwa Tuhan yang paling Benar adalah Tuhannya, sedang tuhan orang lain adalah tuhan-tuhanan alias tuan palsu. Mereka heran dan menganggap pengakuan sepihak itu sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Bagaimana mungkin agama Islam yang menjanjikan keselamatan, di tangan para pengaku-aku itu justru menjadikan banyak manusia tidak selamat? Bagaimana mungkin agama Islam yang digembar-gemborkan sebagai agama kedamaian justru menimbulkan kekisruhan? Bagaimana mungkin Kebenaran Ilahi dan keimanan orang seorang dalam mengenal Tuhan diukur dengan bilah tombak? Betapa mengherankan, tanpa alasan yang jelas sejumlah pemuka agama Islam di berbagai desa disembelih begitu saja karena dituduh murtad.

Tindak kekerasan yang dilakukan alim ulama asing dengan satuan-satuan bersenjatanya itu memunculkan kesan miring bagi penduduk pedalaman Jawa dalam memaknai Islam. Bagian terbesar penduduk yang semula memahami Islam sebagai ajaran penyempurna Syiwa-Buda, yaitu ajaran yang damai penuh toleransi dan pembawa keselamatan sebagaimana telah disampaikan para guru suci terdahulu, terutama ajaran Syaikh Siti Jenar dan pengikut-pengikutnya, ternyata mendapati wajah dan jiwa yang berbeda dengan agama Islam yang dianut alim ulama bersenjata asal Demak. Islam yang mereka saksikan datang bersama para alim itu adalah citra sebuah agama yang ganas tak kenal ampun dan berlumur darah. Islam yang mereka saksikan datang dari Demak sama menjijikkannya dengan ajaran Bhairawa-Tantra yang dianut bhairawa-bhairawi peminum darah. Muara dan ketidakpahaman penduduk atas citra Islam yang dibawa alim ulama Demak dan satuan-satuan bersenjatanya itu adalah tumbuh suburnya sikap antipati terhadap sesuatu yang bersifat asing yang dibayangkan akan menjajah dan membahayakan keberadaan penduduk bumiputera. Dan entah bagaimana awalnya, tiba-tiba istilah-istilah agama Jawa dan agama Arab mulai digunakan orang untuk membedakan wajah agama yang dianut penduduk asli dan agama yang dianut warga asing.

Abdul Jalil yang menyaksikan adegan demi adegan kekerasan aitu dengan perasaan malu tak terlukiskan tidak dapat berbuat sesuatu kecuali diam, laksana sebongkah batu di sungai dangkal berair jernih. Ia benar-benar sebongkah batu yang menyaksikan semua tindakan alim ulama yang bertopeng agama, tapi melumuri tangannya dengan darah manusia. Ia menyaksikan semua gerak-gerik alim ulama yang melakukan kejahatan atas titah seorang penguasa duniawi. Ia menyaksikan semua tindaka alim ulama yang melakukan pembunuhan demi imbalan sepetak tanah perdikan dan hadiah-hadiah dari sultan. Ia tidak bisa berbuat apa-apa selain diam. Diam. Seribu kali diam. Namun, di tengah kecamuk perasaannya yang teraduk-aduk dalam diam itu, ia sadar betapa citra dirinya sebagai salah seorang pendakwah ajaran Kebenaran Islam sesungguhnya telah hilang bersama terbangnya nyawa-nyawa kaum muslimin yang menjalankan Islam menurut ajaran yang didakwahkannya. Ia yang dulu telah mendakwahkan bahwa Islam adalah penyempurna ajaran Syiwa-Buda, ternyata tidak berbuat sesuatu ketika apa yang didakwahkannya itu dihancurbinasakan oleh orang-orang terbawa badai yang terbuang dari negerinya dan mencari kemapanan hidup di negeri orang. Ia tidak melakukan apa pun – bahkan sekedar mengingatkan lewat lisan – untuk mencegah kekeliruan tindakan yang dilakukan para alim beserta pasukan tombaknya. Ia merasa semua yang telah dirintisnya telah sirna tersapu prahara bersama lenyapnya citra dirinya sebagai juru dakwah. Ia merasa benar-benar telah menjadi sebongkah batu.

Ketika ia meresapi keterkaitan makna antara peristiwa memalukan itu dan keterlepasan-keterlepasan citra diri yang dialaminya, hingga membuat keberadaan dirinya tak lebih dari sebongkah batu, terjadilah sesuatu yang selama ini sudah ditunggu-tunggunya sebagai bagian dari keterlepasan yang sangat berat.

Badai Kebinasaan yang diembuskan Sang Maut telah berpusar-pusar melanda permukaan bumi dan perlahan-lahan mulai mendekati caturbhasa mandala dan lemah larangan yang telah ditegakkannya selama berpuluh tahun dengan taruhan nyawa. Seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan sandiwara, ia menyaksikan bagaimana para pemuka agama di desa-desa yang berhasil meloloskan diri dari serangan satuan-satuan bersenjata asal Demak beriringan mencari perlindungan ke dukuh Lemah Abang, Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar. Lantaran dukuh Lemah Abang jumlahnya lebih banyak dibanding Lemah Ireng, Lemah Putih, dan Kajenar, maka mereka hampir semuanya bersembunyi dan meminta perlindungan ke Lemah Abang.

Abdul Jalil sadar, cepat atau lambat ia bakal menyaksikan kehancuran dukuh-dukuh yang mengabadikan karya besarnya itu. Untuk itu, ia berusaha melepaskan segala keterkaitan dirinya dengan tempat-tempat bersejarah itu. Ia ingin melupakan semua kenangan yang menghubungkan dirinya dengan dukuh-dukuh yang ditinggali murid-muridnya itu. Namun, hal itu tentu saja tidak mudah. Sebab, rangkaian kenangan yang menandai jejak langkahnya di dukuh-dukuh itu telah menjadi taman indah Tauhid yang menebarkan wangi bunga-bunga Kebenaran. Menghapus rangkaian kenangan yang telah mewujud menjadi keindahan akan menimbulkan rasa kehilangan yang menyesakkan dada. Itu sebabnya, pada saat ia menyaksikan para alim dengan satuan-satuan bersenjatanya yang memburu orang-orang yang mereka tuduh ahli bid’ah dan penyeleweng agama mendekat ke dukuh-dukuh Lemah Abang, tanpa ia sadari tiba-tiba ia sudah bergerak dan tahu-tahu sudah berada di dukuh Lemah Abang yang terletak di Kadipaten Samarang. Hiruk pun pecah ketika Ki Wujil Kunting, pemimpin dukuh dan pengikut-pengikutnya mengetahui kedatangan Abdul Jalil. Beramai-ramai mereka mengerumuninya. Menyaksikan wajah pengikut-pengikutnya yang diliputi ketegangan itu, ia merasa trenyuh. Lalu, dengan penuh kasih ia berkata kepada mereka dengan suara lain yang terdengar aneh.

“Sebagaimana perilaku alam yang terus berulang bersama putaran waktu, begitulah waktu senja dari hidupku telah datang menjemput. Dia akan mengajakku terbang ke langit hampa yang luas tanpa batas. Melayang-layang sendiri memaknai kesendirian di tengah liputan Yang Mahasendiri. Aku akan kembali bersama waktu senjaku menikmati ketenag-damaian di mahligai keabadian-Nya yana azali. Bersama waktu senjaku, hendaknya diketahui oleh semua manusia yang memiliki keterkaitan denganku, bahwa aku yang disebut manusia dengan berbagai nama; San Ali, Syaikh Datuk Abdul Jalil, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Siti Jenar, Syaikh Sitibrit, dan Susuhunan Binang adalah manusia biasa yang lahir ke dunia dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Lantaran itu, aku kembali pun dalam keadaan telanjang tidak membawa apa-apa. Aku datang dari Allah dan akan kebali kepada-Nya. Inna li Alahi wa inna ilaihi raji’un.”

“Buka telinga indriawimu dan buka pula telinga batinmu untuk mengingat-ingat pesanku yang terakhir. Aku yang lahir telanjang dan bakal kembali kepada Sang Pencipta dalam keadaan telanjang tidak akan pernah meninggalkan sesuatu yang bersifat kebendaan yang bisa engkau kaitkan denganku. Aku tidak meninggalkan warisan apa-apa dalam bentuk benda-benda duniawi; rumah, harta benda, kitab, pusaka, murid, keluarga, dukuh, atau apa pun. Yang aku wariskan kepada manusia hanyalah ajaran rahasia berupa awrad yang tidak boleh ditulis atau disimpan di dalam sesuatu yang bisa dibendakan. Lantaran itu, jika di suatu masa ada manusia mengaku-aku pengikutku dengan menunjukkan bukti ini dan itu berupa benda atau bukti-bukti pengakuan nasab, sesungguhnya dia itu pendusta yang bakal menyesatkan banyak orang.”

“Jika ada yang bertanya tentang makna apa di balik awrad yang aku wariskan. Aku katakan, ia ibarat sebutir biji nangka, yang aku tinggalkan sebagai satu-satunya warisan. Seperti biji nangka yang memuat hakikat batang, dahan, ranting, daun, bunga, akar, dan buah yang akan tumbuh dengan baik di tanah subur yang terawat, begitulah awrad rahasia itu jika kalian tanam di jiwa yang baik dan dirawat dengan baik akan tumbuh menjadi pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna. Buah dari pohon ruhani Kemanusiaan Sempurna itu bisa kalian bagi-bagi kepada siapa pun yang membutuhkan. Tetapi, biji dari buah nangka itu akan tumbuh lagi jika ditanam di tanah yang sesuai. Dengan demikian, selama kalian setia memelihara dan mewariskan awrad yang aku tinggalkan maka saat itu pula kalian telah mewarisi warisanku. Inilah pesan-pesanku terakhir yang hendaknya kalian pusakakan: jadikan awrad rahasia dariku itu sebagai satu-satunya warisan dariku untuk wahana kembali menuju Sang Pencipta. Jadikanlah ia wahana menuju inna li Allahi wa inna ilaihi raji’un !”

“Pesanku yang hendaknya kalian ingat-ingat adalah yang terkait dengan keberadaan jasad dan tubuhku. Maksudnya, jika satu saat nanti kalian mendapati tubuh jasadku terbujur tanpa nyawa karena ruhku telah kembali kepada-Nya, hendaknya kalian kuburkan jenasahku tanpa tanda apa pun yang bersifat bendawi. Jangan biarkan siapa pun di antara manusia yang mengetahui jika itu kuburanku. Jangan buat manusia datang menziarahiku. Sebab, aku tidak ingin menjadi hijab setitik noktah pun bagi manusia dalam berhubungan dengan Penciptanya. Biarkan aku terkubur sebagai tanah yang diinjak-injak manusia. Biarkan jasad tubuh anak Adam a.s. ini kembali menjadi tanah.”

Para pengikut yang tak kuasa menahan haru mendengar wejangan guru ruhani yang mereka cintai serentak menjatuhkan diri dan merangkul kaki Abdul Jalil sambil mencucurkan air mata. Ki Wujil Kunting yang terlihat tegar pun tak kuasa menahan haru. Dengan napas tersengal menahan tangis, dia bersimpuh dan bertanya. “Jika Kangjeng Syaikh kembali kepada-Nya tanpa meninggalkan bekas bendawi, bagaimana kami dapat mengingat paduka yang telah menyalakan api kesadaran di jiwa kami tentang Tauhid? Bagaimana kami dapat melepaskan kerinduan kami kepada Kangjeng Syaikh?”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian, dengan suara digetari kepahitan ia berkata, “Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak ingin menjadi hijab bagi manusia dalam memuja Penciptanya? Bukankah sudah aku katakan bahwa aku hanya meninggalkan awrad rahasia yang tak boleh ditulis? Apakah itu kurang cukup? Apakah kalian masih belum paham juga dengan maksudku?”

“Kami paham maksud paduka Syaikh. Tapi, kami hanya manusia biasa yang memiliki kerinduan pada rupa dan rasa. Sedang kami paham bahwa Sang Wujud tidak bisa dirupakan dan dirasakan kecuali melalui wahana ciptaan-Nya yang maujud. Jadi, bagaimana cara kami melampiaskan kerinduan jiwa kami kepada-Nya tanpa melalui ciptaan-Nya yang kami kenal seperti Kangjeng Syaikh?”

Abdul Jalil diam. Ia tidak memberikan jawaban. Ia paham, terlalu banyak hal yang tidak dapat dijelaskan kepada pengikut-pengikutnya. Namun, ia sadar bahwa semua itu adalah kehendak Allah semata. Lantaran itu, ia memasrahkan semua urusan yang terkait dengan pengikut-pengikunya itu kepada-Nya. Beberapa jenak kemudian, ia pun berkata dengan suara tegar diliputi getar-getar keanehan.

“Jika kalian membaca Kitab Suci Al-Qur’an dan memahami Sabda Suci Ilahi di kitab tersebut sebagai rangkaian huruf Arab dengan makna-makna yang terkandung di dalamnya, maka ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Suci Ilahi yang dilafazkan mulut manusia. Ia hanya akan menjadi rangkaian huruf-huruf bermakna. Ia akan menjadi Kalam al-Lafzhiyyah. Tetapi, jika kalian memahami Sabda Suci Ilahi itu sebagai Firman Ilahi yang pernah terucap lewat lisan Muhammad Saw. Maka Ia akan menjadi seperti pemahaman kalian. Ia akan menjadi Sabda Ilahi yang terucap lewat lisan Yang Terpuji Saw.. Ia akan menjadi Kalam an-Nafsiyyah. Dan, jika kalian memahami bahwa Yang Terpuji Saw. adalah pancaran dari Cahaya Yang Terpuji (Nur Muhammad), maka Sabda Suci Ilahi pun akan kalian pahami sebagai sabda-Nya. Ia akan menjadi Kalam Ilahiyyah.”

“Demikian pula dengan awrad rahasia yang telah aku tinggalkan kepada kalian sebagai warisan satu-satunya itu. Jika kalian mengamalkan awrad rahasia dengan pemahaman bahwa aku pun telah mengamalkannya maka kalian akan merasakan kehadiranku di situ. Sebab, seibarat biji nangka yang tumbuh di “tanah” bernama Abdul Jalil, demikianlah biji nangka itu akan tumbuh di jiwa mereka yang mengamalkannya. Jika kalian lewat awrad itu dapat merasakan kehadiranku maka satu saat kelak kalian akan merasakan kehadiran hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq, yang mewariskan awrad rahasia itu kepadaku. Dan ujungnya, kalian akan merasakan kehadiran Dia yang mewariskan awrad rahasia itu kepada hadrath Abu Bakar ash-Shiddiq. Itu berarti, muara dari kerinduan kalian kepada aku adalah Yang Terpuji (Ahmad) yang merupakan pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid).”

“Dengan penjelasanku ini, hendaknya kalian sadar bahwa muara dari segala sesuatu yang terkait denganku adalah Dia, Yang Mahamutlak. Jika kalian menemukan manusia mengaku-aku sebagai pelanjut ajaranku tetapi muara daari pengakuannya itu terarah kepada dirinya pribadi, maka aku katakan bahwa dia adalah pendusta yang bakal menyesatkan manusia. Mulai sekarang ini hendaknya kalian ketahui bahwa siapa pun di antara manusia yang mengaku sebagai pengikut Syaikh Siti Jenar, Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Sitibrit, atau Susuhunan Binang, sesungguhnya gelar-gelar masyhur dari manusia bernama Abdul Jalil itu adalah tempelan sesaat yang menyelebungi makna terdalam dari jati diriku. Maksudnya, hendaknya kalian ketahui bahwa aku yang kalian ikuti sejatinya adalah pengikut Muhammad Saw., citra Kemuliaan dari Yang Maha Terpuji. Itu berarti, pengamal ajaranku yang paham dengan apa yang telah aku ajarkan tidak akan pernah membawa-bawa namaku. Mereka akan menisbatkan jalan ruhani (tarekat) yang diamalkannya kepada Allah semata. Demikianlah, kalian akan mendapati ajaranku dalam nama-nama yang dinisbatkan kepada-Nya, seperti Akmaliyyah (al-Kamal), Haqqmaliyyah (al-Haqq), Khaliqiyyah (al-Khaliq), Sattariyyah (as-Sattar), Kubrawiyyah (al-Kabir), Wahidiyyah (al-Wahid), dan sebagainya.”

“Kami memahami wejangan Kangjeng Syaikh. Tapi, apakah Kangjeng Syaikh akan benar-benar meninggalkan kami semua?” tanya Ki Wujil Kunting mengiba.

“Adakah Kehidupan di dunia ini yang tidak saling tinggal meninggalkan? Kenapakah engkau ini bertanya sesuatu yang menggelikan sepertinya engkau ini seorang anak kecil?”

“Kami tidak ingin berpisah dengan Kangjeng Syaikh. Kami rela berkorban nyawa asalkan kami tetap bersama-sama dengan Kangjeng Syaikh. Jika Kangjeng Syaikh kelak kembali kepada-Nya, kami ingin merawat dan menguburkan junjungan kami dengan tangan kami sendiri.”

Abdul Jalil tertawa. Kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Wujil Wujil, bagaimana engkau bisa merawat dan mengubur jenasahku jika waktu kematianku saja engkau belum tahu? Apakah engkau yakin kalau aku mati lebih dulu daripada engkau? Sungguh aku minta, janganlah kepedihan membuat engkau melakukan hal-hal yang tidak benar. Jangan berandai-andai dengan masa depan. Sebab, apa yang aku ajarkan adalah kekinian. Kini. Masa depan adalah angan-angan. Masa lampau adalah kenang-kenangan. Semua akan bermakna jika ditarik ke masa kini.”

“Kami paham akan Kebenaran wejangan Kangjeng Syaikh. Kami mohon, sudilah Kangjeng Syaikh memberi kami wejangan terakhir sebelum kita saling berpisah. Sebab, kami menangkap sasmita yang sudah padukan sampaikan bahwa tidak lama lagi kita akan saling berpisah. Apakah yang sebaiknya kami lakukan, o Kangjeng Syaikh?” kata Ki Wujil Kunting sambil memegangi jubah Abdul Jalil.

“Ingat-ingatlah selalu bahwa dunia yang kita diami ini adalah kehinaan (danayah), rendah (daniyyun), bendawi (dunyawiyyun), dekat (adna). Kita semua di dunia ini hanya tinggal untuk sementara. Singkat. Kita semua tinggal di dunia ini sekadar menjalani “hukuman” yang diwariskan leluhur kita: Adam a.s. yang terperosok ke jurang kefanaan insani karena nafsu (hawa). Kita semua sejatinya berada di dalam kerangkeng nafsu. Tetapi, jika saatnya untuk pembebasan datang, kita semua bakal kembali kepada-Nya. Lantaran itu, tugas utama kita sebagai anak keturunan Adam adalah mencari jalan pembebasan untuk melepaskan diri dari kerangkeng nafsu. Agar kita dapat bebas dan kembali kepada-Nya sebagai manusia merdeka yang ridho dan diridhoi.”

“Hendaknya kalian camkan bahwa dengan berjuang membebaskan diri dari kerangkeng nafsu, dan jika kalian berhasil, maka kalian akan menjadi manusia baru. Laksana kupu-kupu yang terbebas dari kepompongnya, begitulah kalian akan lahir sebagai manusia baru yang disebut adimanusia: insan kamil, yakni citra wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-Ardh) sebagaimana dikehendaki-Nya. Hendaknya kalian ingat-ingat dan kalian pusakakan wejangan terakhirku ini: bahwa mereka yang disebut adimanusia bukanlah manusia raksasa yang memiliki kekuatan tubuh dan akal luar biasa, bukan pula manusia yang memiliki kemampuan menaklukkan dunia dengan kekuasaan tubuh dan akalnya itu. Sebaliknya, adimanusia adalah manusia-manusia yang sudah merdeka dari kerangkeng nafsunya dan mencapai tahap Tauhid tertinggi dalam mengenal Sang Pencipta dan mengejawantahkan citra kekhalifahan-Nya.”

“Aku pesankan dan aku wanti-wanti kepada kalian bahwa akan datang Dajjal dan bala tentaranya yang akan membalikkan kiblat penilaian umat manusia tentang adimanusia sebagaimana yang aku ajarkan. Dajjal dan balatentaranya akan menyatakan bahwa adimanusia adalah manusia yang memiliki kekuatan tubuh luar biasa akal cerdas tak tertandingi, harta benda berlimpah, pengetahuan ilmu duniawi mengagumkan, senjata-senjata pemusnah dahsyat, dan penakluk bangsa-bangsa lemah di dunia. Sungguh, aku katakan bahwa penilaian Dajjal tentang adimanusia itu adalah sesat. Sesat. Seribu kali sesat. Jika kalian mengikutinya maka kalian pun akan sesat pula.”

“Aku beri tahukan kepada kalian tentang makna adimanusia dalam pandangan Sang Pencipta melalui Sabda Suci-Nya yang termaktub dalam Kitab Suci al-Qur’an, yang jika ditafsirkan kira-kira begini maknanya:

“Ketahuilah, o manusia, di antara puak bangsa-bangsa manusia, yang paling mulia adalah manusia yang paling takwa (QS.al-Hujurat: 13). Siapakah manusia takwa itu? Dia adalah manusia yang selalu mengingat Aku, meski keteguhan jiwanya digoyahkan setan dan diperosokkan kawan-kawan dekatnya agar tersesat (QS.al-A’raf: 201 – 202). Dia hanya takut kepada Aku (QS.al-Baqarah: 41). Dia mentauhidkan Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-Nahl: 2). Dia hanya menyembah Aku dan takut hanya kepada-Ku (QS.al-A’raf: 65). Itulah adimanusia. Insan kamil. Itulah manusia-manusia unggul yang di mana pun berada selalu bersama Aku (QS.al-Baqarah: 194; at-Taubah: 123). Dia selalu berada di dalam lindungan-Ku (QS.al-Jatsiyah: 19). Dia tidak akan dihisab atas dosa-dosanya (QS.al-An’am: 69). Dia kelak akan menemui Aku (QS.al-Baqarah: 223).”

“Sekarang, jelaslah bagi kalian bahwa adimanusia yang aku maksudkan adalah manusia-manusia merdeka yang sudah berhasil membebaskan diri dari kerangkeng nafsunya. Itulah manusia-manusia yang sudah mentauhidkan Allah dalam makna yang sebenarnya. Itulah manusia-manusia unggul. Insan kamil. Manusia sempurna. Ingatkah kalian akan kisah Fir’aun, maharajadiraja Mesir yang memiliki kekuatan tubuh dan akal yang luar biasa, kekayaan tak terhitung, istana-istana megah dan mewah, bala tentara perkasa yang menakutkan, senjata-senjata pembunuh yang mematikan, kehormatan, dan kemuliaan atas bangsa-bangsa manusia? Ingatkah kalian akan Fir’aun yang disembah manusia? Meski ada yang mengatakan bahwa Fir’aun adalah adimanusia yang berkuasa di zamannya, aku katakan sebaliknya bahwa Fir’aun bukan adimanusia. Dia bukan adimanusia. Sebab, dia adalah seorang manusia yang terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa Fir’aun adalah jiwa cacing yang menggeliat di dalam lumpur duniawi yang menjijikkan.”

“Sebaliknya, aku katakan kepada kalian, bahwa yang disebut adimanusia di zaman itu bukanlah Fir’aun dan bukan pula dukun-dukun sakti yang mengitarinya. Adimanusia pada zaman itu adalah Musa a.s.: laki-laki yang tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan, tidak punya tentara, tidak punya apa-apa. Manusia hanya mengenal dia sebagai salah seorang pemuka budak Bani Israil. Musa itulah adimanusia pada zamannya. Sebab, dia adalah pemuka di antara manusia-manusia merdeka yang dipilih-Nya. Musa adalah manusia yang takwa dan bertauhid kepada-Nya.”

“Ingatkah kalian akan detik-detik ketika Islam disampaikan Muhammad Saw. di jazirah Arabia? Ingatkah kalian tentang kekuasaan-kekuasaan duniawi yang mengitari jazirah Arabia saat itu? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal keagungan an-Najasi Maharajadiraja Habasyah? Siapakah manusia yang tidak mengenal kebesaran Heraklius Maharajadiraja Rum? Siapakah manusia yang tidak mengenal kehebatan Chosroes II Maharajadiraja Persia? Siapakah manusia yang saat itu tidak mengenal para maharajadiraja yang kuat, cerdas, berlimpah harta benda, berkekuatan luar biasa, berpasukan mengerikan yang membawa senjata penghancur? Siapa manusia zaman itu yang tidak mengenal kehebatan mereka?”

“Tapi, aku katakan kepada kalian bahwa mereka para maharajadiraja itu bukanlah adimanusia yang aku maksudkan. Mereka hanyalah penguasa-penguasa duniawi yang terbelenggu dan terpenjara di dalam kerangkeng nafsunya. Jiwa mereka adalah jiwa hewan melata yang tak mampu melepaskan diri dari lumpur duniawi. Sedang adimanusia pada zaman itu yang aku maksudkan, tidak lain dan tidak bukan adalah Muhammad Saw.: laki-laki buta huruf dari padang pasir, tidak punya rumah, tidak punya harta benda, tidak punya pangkat dan kedudukan duniawi, tidak punya apa-apa yang bersifat duniawiyah, yang tinggal di masjid dan ketika wafat tidak meninggalkan secuil pun warisan harta. Dialah adimanusia. Insan kamil. Manusia sempurna. Manusia Yang Terpuji (Muhammad) citra pengejawantahan Yang Maha Terpuji (al-Hamid). Dialah, sang guru pengajar Tauhid, yang paling tinggi ketakwaannya di hadapan Allah. Dialah adimanusia terbesar sepanjang zaman. Dialah manusia Tauhid yang dipilih-Nya.”

“Dengan uraianku ini, jelaslah sudah bahwa sebagai manusia-manusia yang bakal menjadi adimanusia, hendaknya kalian tidak menimbun kesadaran Tauhid kalian dengan benda-benda duniawi yang menjijikkan. Kalian adalah para pejuang pembebasan yang akan menjadi orang-orang merdeka. Lantaran itu, jika ada di antara manusia ingin membangun kerajaan surga di dunia, hendaknya kalian jauhi mereka. Sebab, mereka itu sejatinya sedang membangun neraka bagi manusia dirinya dan manusia lain. Mereka sedang membangun kerangkeng-kerangkeng nafsu yang membahayakan manusia. Jika kalian dapati para pemuja duniawi sudah berkuasa dan merajalela dengan kejahatannya, hendaknya kalian hijrah! Hijrah! Hijrahlah kalian sebagaimana diteladankan Muhammad Saw.! Tinggalkan kediamanmu. Bumi Allah sangat luas. Di mana pun kalian berada dan kapan pun kalian hidup, selama kalian bertauhid kepada-Nya dan berjuang keras membebaskan diri dari kerangkeng nafsu-nafsu, maka kalian akan menjadi selamat sentosa menjadi adimanusia. Kalian akan selalu bersama-Nya.”