Keterlepasan Nafs-Nafs

Setelah singgah di Pekalifahan untuk berpamitan, Abdul Jalil dengan istri dan anak berjalan menuju sebuah hutan bambu yang terletak di selatan dukuh Lemah Abang. Di situ, seorang diri ia mendirikan gubuk berdinding bambu beratap daun kawung. Ia tinggal di gubuk itu bersama istri dan anak sebagai orang kebanyakan, bukan guru suci, bukan sesepuh dukuh, bukan pelopor pembaharuan, dan bukan pula seseorang yang pernah dianggap berjasa kepada masyarakat. Sebagaimana layaknya orang kebanyakan, dalam memenuhi kebutuhan diri sendiri dengan istri dan anaknya, Abdul Jalil membuka sepetak lahan untuk berladang. Pagi-pagi sekali, usai sembahyang subgih, ia sudah terlihat di ladang mengayunkan cangkul atau membuat alat-alat dapur dari bahan bambu dan tempurung kelapa, membuat kopiah rajutan, atau menganyam tikar pandan yang akan dijual ke pasar. Hari-hari hidupnya benar-benar dilaluinya sebagai orang kebanyakan tanpa atribut dan tanpa gelar apa pun. Ia bukan orang berkelebihan yang pantas disebut hormat dengan julukan Kangjeng Syaikh, Susuhunan, Syaikh Datuk, Dang Guru Suci, Pangeran, atau Sang Pandita Suci. Ia adalah Abdul Jalil. Ia adalah Pak Bardud. Ia adalah orang kebanyakan tak dikenal yang sedang menghabiskan hari-hari hidupnya untuk menunggu datangnya ajal. Ia adalah orang tua yang sedang mempersiapkan pelepasan segala sesuatu yang melekat pada dirinya untuk dipasrahkan utuh kepada Sang Pemilik Sejati.

Sekalipun sejak awal ia menyadari bahwa dengan menempatkan dirinya sebagai orang kebanyakan maka akan memudahkannya melampaui tahap-tahap keterlepasan-keterlepasan ruhani, Abdul Jalil tetap merasakan tekanan-tekanan berat menghantam jiwanya manakala ia dihadapkan pada kuatnya desakan-desakan keinginan yang mendorong-dorong dan menarik-narik hasrat jiwanya untuk berbagi keberlebih-kelimpahan kepada sesama. Sebagai orang yang sudah terbiasa berbagi keberlebih-kelimpahan, ia benar-benar merasakan suatu siksaan ketika berusaha keras menutup dan membalikkan genggaman tangan agar keberlebih-kelimpahannya terbendung dan tidak mengalir a keluar. Di tengah tekanan-tekanan jiwanya yang sangat menyiksa itu, ia merasakan sesuatu membakar hatinya, ketika tanpa terduga-duga muncul seorang laki-laki yang terluka parah, mengharap uluran tangannya.

Kemunculan laki-laki terluka itu sangat aneh. Tanpa diketahui darimana asalnya, tiba-tiba dia muncul dengan langkah terseok-seok dengan wajah menyeringai kesakitan. Tanpa terduga-duga, dia tersungkur di depan pintu gubuk sambi mengerang kesakitan. Dia meminta pertolongan dengan ratapan mengharu biru. Abdul Jalil yang saat itu berada di dalam gubuk bersama istri dan anaknya tersentak menyaksikan pemandangan menyedihkan itu. Ia merasakan jiwanya ditarik-tarik oleh keinginan kuat untuk memberikan pertolongan kepada laki-laki malang tersebut. Namun, secepat itu ia sadar bahwa tindakannya menolong orang malang itu akan mendatangkan sesuatu yang selama ini dihindarinya: membagi-bagi keberlebih-kelimpahannya, terutama kebiasaan dalam mengobati orang. Dengan menolong, ia akan memberi peluang untuk menjadikan dirinya sebagai berhala bagi manusia. Ia sadar bahwa dirinya sudah memutuskan untuk benar-benar menghindari orang-orang agar tidak ada lagi yang mengenalnya, baik sebagai Syaikh Lemah Abang, Syaikh Jabarantas, Syaikh Siti Jenar, Susuhunan Binang, Syaikh Sitibrit, atau Pangeran Kajenar, nama-nama yang dikenal orang memiliki daya linuwih dan kekeramatan-kekeramatan. Namun, hasrat kuat dari kedalaman dirinya untuk menolong mereka yang membutuhkan terus menggelegak dahsyat di relung-relung jiwanya, sehingga ia merasakan jiwanya sangat tersiksa. Semakin kuat ia berusaha menahan-nahan dan membendung hasrat menolongnya, semakin ia rasakan jiwanya terkoyak-koyak oleh rasa sakit tak tertahankan.

Ketika Abdul Jalil masih dibingungkan oleh hasrat menolong dan hasrat menahan diri untuk tidak menolong, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara ratapan laki-laki terluka itu, yang terdengar memilukan tetapi penuh getar kemarahan, “Kenapa engkau tiba-tiba menjelma menjadi makhluk yang begitu kejam dan tidak memiliki belas kasih, o hamba Allah? Apakah hatimu sudah berubah menjadi batu sehingga tidak sedikit pun tergerak untuk menolong sesamamu? Kenapa engkau ini, o engkau yang terkasih dan selalu berbagi keberlebih-kelimpahan?”

Mendengar ratapan laki-laki malang itu, Abdul Jalil bergegas keluar dari gubuknya. Di luar, ia melihat laki-laki itu meliuk-liuk kesakitan sambil terus mengerang-erang. Namun, Abdul Jalil tidak sedikit pun merasa kasihan. Sebaliknya, dengan bentakan keras ia menghardik, “Rupanya engkau setan. Engkau akan memperdaya aku dengan siasat licikmu memanfaatkan kelemahanku. Engkau datang meratap meminta tolong. Jika aku menolongmu, engkau akan sebarkan kepada manusia jika aku adalah titisan Tuhan. Lalu, manusia datang beramai-ramai menyembahku sebagai berhala. Sungguh keji siasatmu. Sekarang pergilah engkau dari pedalamanku sebelum kutimpuk dengan batu.”

Laki-laki malang yang terluka dan tersungkur di depan gubuk itu tiba-tiba bangkit. Dengan bersungut-sungut ia berkata, “Bagaimana engkau tahu jika aku adalah aku, o Abdul Jalil?”

“Aku tahu engkau adalah engkau, karena engkau adalah setan di pedalamanku,” kata Abdul Jalil tertawa, “Aku lebih mengenalmu daripada engkau mengenalku. Ketika citra bayanganmu engkau sungkurkan di depan gubukku dalam wujud laki-laki terluka yang minta dikasihani, aku segera tahu bahwa engkau sedang berusaha memperdayaku. Engkau mau memelesetakan aku dari jalanku. Sekarang, pergilah engkau dari pedalamanku! Pergi!”

Seberkas cahaya merah tiba-tiba melesat dari mulut Abdul Jalil dan dengan kecepatan kilat menyambar tubuh laki-laki yang berdiri terperangah di depan gubuk. Terdengar jeritan panjang di tengah suara dentuman. Secara ajaib tubuh laki-laki itu menggelepar-gelepar dalam kobaran api yang menjilat-jilat ke angkasa. Dalam beberapa saat, tubuh itu sudah terpanggang menjadi setumpuk arang. Namun, secara ajaib tumpukan arang itu berubah menjadi seekor ular belang warna kuning, hitam, putih dan merah. Kemudian, dengan gerakan cepat laksana sambaran kilat, ular itu sekonyong-konyong melesat dan membelit leher Abdul Jalil erat-erat. Abdul Jalil terpekik kaget. Tanggannya menggapai-gapai berusaha menarik ular dari lehernya dan melemparkannya jauh-jauh. Saat tangan kanannya berhasil memegang ekor sang ular, tiba-tiba pendengaran batinnya disentuh oleh al-ima’ yang menggema dari cakrawala kesadarannya, yang berasal dari Ruh al-Haqq.

“Kenapa engkau ingin melempar ular belang itu dari lehermu? Masakan engkau tidak mengenal ular belang yang membelit lehermu itu, o Abdul Jalil, padahal dia adalah nafs al-hayawaniyyah, anasir tanah bersifat zhulmun, yang tersembunyi di dalam diri (nafs) yang bersemayam di dalam keakuanmu. Sekarang ini engkau tidak perlu takut lagi terhadap keganasan racunnya. Sebab, ibarat seekor naga yang tidak bakal mati karena racun seekor ular kecil, begitulah engkau tidak akan binasa oleh racun nafs al-hayawaniyyah itu.”

Abdul Jalil tertawa dan membiarkan ular belang itu melilit lehernya. Ia tiba-tiba sadar sesungguhnya ia telah sering melihat ular itu berkeliaran di sekitarnya. Ia bahkan baru menyadari jika ular itu telah dikenalnya untuk kali pertama berpuluh tahun silam, saat ia berguru kepada Ario Abdillah di Palembang. Saat itu, seingatnya, ular belang kuning, hitam, putih, dan merah itu dilihatnya sekilas merayap di sampingnya saat ia mengambil air wudhu untuk bersembahyang malam. Sejak waktu itu, kelebatan ular itu sesekali ia saksikan melintas di sekitarnya. Baru setelah ia mengalami peristiwa ruhani di gunung Uhud bersama Misykat al-Marhum dan Ahmad Mubasyarah at-Tawallud, kelebatan bayangan ular itu tidak pernah lagi muncul.

Kini, setelah ia melupakan citra ular belang itu, tiba-tiba sang ular muncul dengan cara menakjubkan. Ia baru sadar jika ular itu tidak lain dan tidak bukan adalah citra perwujudan nafs al-hayawaniyyah yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri. Kini ia tidak lagi merasa khawatir terhadap keberadaan ular yang racunnya terkenal ganas tersebut. Bahkan, ia membiarkan ular itu mengikuti ke mana pun ia pergi. Ia menyebut ular belang itu dengan nama Manik Maya, yang bermakna “permata khayalan” yang menyesatkan. Dengan nama Manik Maya itu, ia berharap setiap kali melihatnya, ia akan selalu teringat bahwa leluhurnya dahulu, Adam a.s., terperosok ke dalam lingkaran dosa – melanggar titah Sang Pencipta – karena tersihir pesona keindahan kata-kata “permata khayalan” yang dipancarkan oleh Sang Iblis, sehingga Adam jatuh dari martabat “Adam Ma’rifat” yang bisa berwawansabda dengan Allah dan disujudi malaikat menjadi “Adam Mahjubin” yang terhijab dan direndahkan sebagai asfala safilin (QS. At-Tin: 4-5), yaitu dihukum di planet dunia yang ditumbuhi Pohon Kegelapan (syajarah azh-zhulmah) yang penuh ditebari jalan berliku-liku yang menyesatkan untuk bisa kembali kepada-Nya.

Hari kesembilan sejak Abdul Jalil tinggal di gubuk bersama ular sahabatnya ditandai oleh sebuah peristiwa aneh yang mengubah seluruh kisah perjalanan hidupnya sebagai adimanusia menjadi yang sendiri (fard).

Sejak pertama kali mengalami perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati (as-safar min al-khaliq ila al-Haqq), telah berulang-ulang Abdul Jalil mengalami hal serupa: tenggelam ke dalam Kebenaran Sejati (fana’ fi al-Haqq) dan kembali dari Kebenaran Sejati menuju ciptaan bersama Kebenaran Sejati (as-safar min al-Haqq ila al-khaliq bi al-Haqq), lalu melakukan perjalanan di dalam ciptaan bersama Kebenaran Sejati (as-safar fi al-khaliq bi al-Haqq). Ia tidak ingat lagi untuk kali keberapa ia mengalami peristiwa ruhani yang tak tergambarkan kata-kata dan tak terucap bahasa manusia itu. Namun, sejak ia bersahabat dengan ular belang yang sangat jinak itu, ia justru mengalami pengalaman ruhani mencengangkan yang sebelumnya tidak pernah ia sangka-sangka dan sedikit pun tak pernah ia bayangkan dalam pikiran. Perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati (al-Haqq) yang selama ini telah dialaminya berulang-ulang itu ternyata bukan merupakan yang terpuncak. Sebab, di balik kefanaan di dalam Kebenaran sejati (fana’ fi al-Haqq) yang tersembunyi di dalam kerahasiaan dirinya itu, ia mendapati Kenyataan yang lebih menakjubkan, yaitu kesadaran diri baru yang mengungkapkan rahasia bahwa selama ini yang ia alami adalah tenggelam ke dalam Rabb: Wujud al-Haqq.

Ia sendiri tidak mengetahui kenapa tiba-tiba ia mendapat kesadaran baru setelah fana di dalam Rabb (fana’ fi al-Haqq) yang ia anggap sebagai puncak dari perjalanan ruhani menuju Kebenaran Sejati, karena berjalan di dalam Kebenaran Sejati (as-safar fi al-Haqq). Lantaran itu, dengan tercengang-cengang kebingungan ia melampaui pengalaman ruhani lanjutan yang menakjubkan yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan dan ia bayangkan itu: melakukan perjalanan ruhani di dalam al-Haqq menuju Allah (as-safar fi al-Haqq ila Allah) menuju Wujud al-Muhaqaq atau melakukan perjalanan di dalam Rabb menuju Rabb al-Arbab. Inilah perjalanan naik ke Hadirat Allah (mi’raj al-kubra) setelah terlebih dulu berkali-kali naik ke Hadirat al-Haqq (mi’raj al-shughra). Inilah perjalanan ruhani naik ke Hadirat Allah sebagaimana telah dialami Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Di dalam perjalanan naik ke Hadirat Allah, yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya itu, ia merasakan seperti terisap oleh suatu kegaiban yang membuat seluruh kesadarannya berubah. Ia merasakan seperti bayi yang lahir dari kandungan ibu ke dunia yang lebih luas dengan kesadaran yang lebih tinggi. Ia tiba-tiba menjadi sadar sesadar-sadarnya akan makna sejati dari Sabda Ilahi: Sungguh telah datang seorang rasul dari nafs-mu sendiri (QS. At-Taubah: 128); Aku ciptakan engkau (Muhammad) dari nur-Ku dan aku cipta seluruh ciptaan dari Nur-mu (hadits Qudsy); jika engkau tidak Aku cipta maka cakrawala tidak Aku cipta (hadits Qudsy).” Ia benar-benar menyaksikan bahwa di balik hakikat Asma’, Shifat, Af’al, dan Dzat yang terpancar pada ciptaan-Nya, tersembunyi hakikat Ahmad (Asma’), Muhammad (Shifat), Mahmud (Af’al), dan al-Hamid (Dzat). Ia merasakan dengan senyata-nyatanya keterhubungan dirinya sebagai bagian Nur Muhammad dan Haqiqat Muhammadiyyah.

Selama tenggelam di dalam al-Haqq menuju Allah – di dalam Rabb menuju Rabb al-Arbab – tidak ada satu pun pengalaman ruhani yang bisa diungkapkan dengan kata-kata dan bahasa manusia. Ia tidak dapat mengungkapkan segala sesuatu yang dapat diungkapkan dan digambarkan. Ia hanya tercengang-cengang menyaksikan kesadarannya terisap ke dalam kesadaran demi kesadaran baru yang tak terlukiskan, di mana dengan kesadaran-kesadaran barunya itu ia menyaksikan akhirat sebagai citra dari Yang Mahaakhir (al-Akhir). Ia mendapati pemahaman baru bahwa akhirat adalah “ruang tak beruang dan waktu tak berwaktu”; akhirat adalah “pertemuan” ruang dan waktu dan Zat; akhirat adalah wahdat adz-dzatiyyah. Di situ ia menyaksikan dengan terheran-heran pancaran al-Hadi dalam wujud sabil sebagai cermin thariq, dan sebaliknya thariq sebagai cermin sabil. Lalu, keduanya menyatu di dalam shirath. Ia menyaksikan pula dengan terheran-heran pancaran al-Hakam dalam wujud mizan al-ashli sebagai cermin mizan asy-syar’i, dan sebaliknya mizan asy-syar’i sebagaiaHakH cermin mizan al-ashli. Lalu keduanya menyatu di dalam Mizan al-Ilahi. Ia menyaksikan al-jannah sebagai kedekatan Allah dalam wujud adna sebagai cermin qurb, atau sebaliknya qurb sebagai cermin adna. Lalu, keduanya menyatu di dalam Maqam al-Mahmud. Ia juga menyaksikan an-nur sebagai kejauhan Allah dalam wujud bu’d sebagai cermin al-idhlal, atau sebaliknya al-idhlal sebagai cermin bu’d. Lalu, keduanya menyatu di dalam al-ghayr.

Dengan ketidakpahaman dengan apa yang disaksikannya, ia merasakan kesadarannya terisap oleh suatu kekuatan tak terbatas ke dalam al-Kursi. Dari dalam al-Kursi, kesadarannya tercengang-cengang menyaksikan pemandangan yang sangat menakjubkan dan tak pernah terlintas dalam angan-angan: alam semesta tampak tergelar di bawahnya laksana hamparan pasir cahaya berserak tak terhitung jumlahnya. Bumi, bulan, planet, matahari, bintang, dan galaksi terhampar laksana butiran pasir dengan bentuk-bentuk berbeda-beda dan berubah-ubah kumpulan serta kelompok-kelompoknya. Ada yang berkerumun dalam bentuk lingkaran pipih seperti telinga gajah. Ada yang berkerumun membenuk bulatan seperti gentong. Ada yang berbentuk lingkaran hitam tetapi sangat ganas memangsa benda-benda di sekitar. Ada yang terus berubah-ubah warna dan cahayanya. Seluruhnya mengagungkan Rabb mereka tanpa kecuali. Di dalam al-Kursi itu ia menyaksikan Buraq, kendaraan ruhani berwujud keledai (bighal) dengan kecepatan tak terukur dan khusus dikendarai Nabi Muhammad Saw. dalam peristiwa Isra Mi’raj.

Setelah tercengang-cengang di al-Kursi, ia terisap lagi oleh kekuatan dahsyat ke dalam al-Arsy. Di situ ia tidak menyaksikan sesuatu yang lain kecuali Nama-Nama Allah Yang Indah dan tak terbatas jumlah-Nya. Semua terjalin dalam suatu ikatan (muqadiyyah) dan dari situlah sejatinya Sabda Suci Ilahi (al-kalimah al-ilahiyyah) memancar menjadi hukum dan kabar Kebenaran. Di al-‘Arsy inilah ia menjumpai kegandaan dirinya – ‘Ali al-Fatta Karamallahu Wajha sebagai pancaran citra al-‘Aly, al-Fattah, ar-Rasyid, al-Karim, al-Hadi – di depan dua cermin yang disebut haqiqat al-faydh dan haqiqat al-irsyad. Anehnya, di balik ‘Ali al-Fatta Karamallahu Wajha bukanlah punggung, melainkan Abu Bakar ash-Shiddiq. Bahkan, yang tak terungkap dengan akal, kata-kata dan bahasa manusia, keduanya ternyata tidak saling berbeda dalam menghadapkan wajah, melainkan berhadap-hadapan wajah. Yang membedakan keduanya: ‘Ali al-Fattah Karamallahu Wajha memancarkan citra -al-mursyid (pembimbing ruhani) sedang Abu Bakar ash-Shiddiq memancarkan citra as-suhbah (persahabatan ruhani).

Kesadaran demi kesadaran baru yang dialami Abdul Jalil berangsur melenyap ketika ia terserap ke dalam hakikat Alif pada citra Asma’ Allah. Lalu, terisap lagi ke dalam hakikat Lam pada citra Af’al Allah. Lalu, terisap lagi ke dalam hakikat Lam pada citra Shifat Allah. Dan terakhir, ia hilang kesadaran diri ketika terserap ke dalam hakikat Hu. Di situ, ia tidak sadar lagi akan siapa dirinya. Ia tidak tahu apakah berada di luar atau di dalam hakikat Hu. Ia telah hilang kesadaran karena terserap oleh Sesuatu Yang Tak Terlukiskan (laisa kamitslihi syai’un); Kunhi Dzat; Dzat al-Bahat yang bersabda: “Kun-Tu (kanzan mahfiyyun),” yang dari Sabda-Nya itu bersabda: “Ku Fayakun!.”

Sejak turun kembali (‘uruj at-tarkib) dari perjalanan naik (mi’raj at-tahlil) ke Hadirat Allah Rabb al-Arbab, Abdul Jalil mengalami peristiwa-peristiwa aneh yang sebelumnya tidak pernah ia alami, yaitu keterlepasan nafs-nafs dari keakuannya. Ceritanya, tanpa disangka-sangka, pada hari ketiga setelah turun kembali dari perjalanan naik, di hadapannya tiba-tiba muncul seekor anjing berbulu hitam kemerahan yang berjalan terseok-seok karena kaki kanan depannya terluka. Dengan merintih kesakitan, anjing itu menggeser-geserkan punggungnya ke kakinya. Mendengar anjing yang merintih kesakitan itu, rasa kasihnya mengalir berkelimpahan. Ia rengkuh anjing ke dalam pelukannya dan ia belai kepalanya. Dengan penuh kasih ia mengobati lukan anjing itu sambil berkata, “Aku menolong engkau, o anjing, bukan karena aku kasihan atau iba melihatmu. Aku menolongmu semata-mata karena rasa kasihku kepada sesama makhluk yang maujud di dunia. Aku mengobati lukamu karena aku sadar bahwa antara engkau dan aku sejatinya sama-sama menyembunyikan hakikat jejak rasul (qadam rasul).”

Seperti mengerti kata-kata Abdul Jalil, anjing hitam kemerahan itu mengiuk-ngiuk dan mendesak-desakkan kepalanya ke dada Abdul Jalil. Abdul Jalil tersenyum sambil membebat kaki kanan depan anjing malang itu dengan destarnya. Namun, saat bebatannya selesai, tiba-tiba terdengar suara al-ima’ menggema di relung-relung kedalaman jiwanya.

“Kenalilah citra bayangan dirimu, o Abdul Jalil! Kenalilah citra nafs yang menyelubungi keakuanmu! Bagaimana mungkin engkau tidak mengenali anjing luka yang datang kepadamu itu? Padahal, dia sejatinya adalah diri (nafs) yang tersembunyi di dalam keakuanmu. Dia adalah anjingmu yang selalu menjulurkan lidah, baik ketika engkau halau atau ketika engkau diamkan (QS. Al-A’raf: 176). Itulah diri (nafs al-ammarrah) yang tersembunyi di pedalamanmu. Nafs yang cenderung kepada perbuatan jahat (QS.Yusuf: 53). Sekarang ini, sebagaimanna ularmu, dia telah keluar dari keakuanmu. Lantaran itu, sekarang ini bukan engkau yang mengikuti dia, tetapi dia yang akan mengikuti ke mana pun engkau pergi.”

Abdul Jalil tertawa dan mengelus-elus kepala anjing hitam kemerahan itu dengan penuh kasih. Ia sadar, seburuk dan sejelek dan bahkan senajis apa pun, anjing itu adalah bagian dari diri (nafs) yang membentuk citra keakuannya sebagai wakil Allah di muka bumi (khalifah Allah fi al-ardh). Ia justru mensyukuri kemunculan anjing yang selama ini bersemayam di pedalaman jiwanya yang tersembunyi. Dengan suara lembut ia berkata kepada anjing itu: “Karena engkau adalah citra diri yang pernah kuikuti tetapi sekarang berbalik mengikutiku, maka engkau aku sebut dengan nama Sang Lemah Abang. Sebab, itulah kemasyhuran nama yang engkau damba-dambakan, o anjingku. Berbangga-dirilah engkau dengan nama besarmu itu.” Sejak waktu itu, ke mana pun Abdul Jalil berada, ia selalu terlihat bersama ular belang dan anjing hitam kemerahannya, bahkan saat sembahyang pun ular dan anjing itu dengan setia terlihat berdiri menunggu di belakangnya.

Ketika memasuki hari ketujuh sejak turun kembali dari kenaikan ruhani, saat Abdul Jalil sedang bermain-main dengan ular dan anjingnya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kemunculan mendadak seekor anjing berbulu putih kekuningan dengan belang hitam kemerahan yang menggelepar-gelepar di depan pintu gubuknya. Rupanya, anjing itu kesakitan karena kepalanya luka mengucurkan darah. Dengan pandangan penuh kasih, Abdul Jalil menolong anjing malang itu. Namun, saat ia membersihkan luka di kepala anjing itu dengan destarnya, ia tiba-tiba mendengar suara al-ima’ menggema dari cakrawala kesadarannya yang menegaskan bahwa anjing putih kekuningan yang belang itu pun sejatinya adalah bagian diri (nafs al-lawwamah) yang tersembunyi di dalam keakuannya, yaitu jiwa pencela (QS. Al-Qiyamah: 2). Lalu, ia menamai anjing belang itu Sang Siti Jenar. Sambil mengelus-elus anjing itu, ia berkata, “Sebagaimana anjing hitam yang bangga dengan kemasyhuran nama, maka engkau yang bangga dengan amaliah perbuatanmu aku gelari nama masyhur Sang Siti Jenar. Semoga engkau bangga dengan nama terkenal itu.” Lalu, ke mana pun Abdul Jalil pergi, ia selalu diikuti oleh ular dan dua ekor anjingnya.

Suatu pagi, pada hari keempat puluh, ketika Abdul Jalil sedang mengambil air wudhu di sungai kecil yang mengalir tak jauh dari gubuknya ditemani ular belang dan dua ekor anjingnya, tiba-tiba pangkuannya dijatuhi seekor kera coklat kemerahan dari atas pohon yang tumbuh di pinggir sungai. Kera itu menjerit-jerit kesakitan karena punggungnya terdapat luka mengaga seperti kena tebasan pedang. Melihat keadaan kera itu, dengan penuh kasih Abdul Jalil membersihkan darah dan membebat kera itu dengan destarnya. Sebagaimana saat ia menolong dua ekor anjingnya, tiba-tiba ia mendengar al-ima’ menggema di cakrawala kesadarannya yang menegaskan bahwa kera itu sejatinya adalah diri (nafs al-mulhammah) yang tersembunyi di kedalaman keakuannya, yaitu jiwa yang terilhami kejahatan dan ketakwaan (QS. Asy-Syams: 7-8). Lalu, ia menamai kera coklat kemerahan itu Sang Jnanawesa, yang bermakna masuknya ilham ketakwaan dan ilham kejahatan ke dalam jiwa.

Tidak lama kemunculan kera kemerahan yang dinamai Jnanawesa itu, muncul kera berbulu putih dengan wajah bergaris-garis biru dan putih. Begitu muncul, kera itu menjerit-jerit kesakitan karena dadanya terluka. Abdul Jalil disadarkan oleh al-ima’ yang mengungkapkan bahwa kera itu tidak lain dan tidak bukan adalah diri (nafs al-muthma’innah) yang tersembunyi di dalam keakuannya, yaitu jiwa yang tenang (QS.al-Muthma’innah: 27). Kera itu pun di namai Jnanaprasada, yang bermakna ketenangan jiwa. Lalu, secara berututan muncul seekor singa putih yang merupakan dirri (nafs ar-radhiyyah) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya. Singa putih itu dinamai Jnanekatwa, yang bermakna ketunggalan jiwa. Disusul kemunculan seekor rajawali putih yang terbang menyambar-nyambar ganas dan kemudian bertengger di atas bahunya. Rajawali putih itu adalah diri (nafs al-mardhiyyah) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya. Rajawali putih itu ia namai Sang Jnanasunya, yang bermakna bebas dari kemenduaan. Dan, yang terakhir muncul adalah bayangan burung anqa putih laksana kabut tipis yang diliputi cahaya terang kebiru-biruan. Anqa putih itu bertengger di atas kepalanya. Anqa putih itu adalah diri (nafs al kamilah) dan ia menamainya Sang Jiwanmukta, yang bermakna “bebas” saat masih hidup di dunia.

Setelah kemunculan tujuh ekor binatang aneka warna dan seekor anqa putih laksana kabut tipis lambang citra diri (nafs) yang tersembunyi di relung-relung keakuannya, Abdul Jalil merasakan suatu perubahan dahsyat terjadi atas dirinya. Ia merasakan kegembiraan luar biasa meliputi jiwanya laksana kupu-kupu terbang di antara bunga-bunga. Atau, seperti seseorang yang terseok-seok memikul beban berat tapi kemudian terlepas dari bebannya. Atau, seperti seekor burung lepas dari sangkarnya dan terbang bebas ke angkasa. Atau, seperti seekor ikan yang menggelepar-gelepar di selokan berair keruh kemudian dipindahkan ke kolam luas berair jernih. Demikianlah, hari-hari hidupnya di gubuk yang sepi dilewati Abdul Jalil dengan kegembiraan raya bersama hewan-hewan yang begitu jinak dan bersahabat dengannya. Ke mana pun ia pergi, hewan-hewan itu selalu mengikutinya dengan setia.