Bayangan – Bayangan Kusam

Rentang waktu semenjak ditariknya alim ulama dan pasukan bertombaknya ke Demak adalah rentang waktu yang sarat dipenuhi ketegangan. Saat itu, ibarat menunggu badai susulan yang mengamuk, semua mata diarahkan ke sosok Tranggana dan menunggu-nunggu tindakan apa yang bakal dilakukannya bersama kaki tangannya. Tindakan-tindakan Tranggana menertibkan Kehidupan beragama yang berlanjut dengan pembunuhan terhadap para pemuka dukuh Lemah Abang telah menimbulkan berbagai reaksi yang umumnya mengarah pada lahirnya kebencian baik terhadap Tranggana, alim ulama, maupun agama Islam.

Di tengah ketegangan menunggu-nunggu itulah tersebar kabar burung yang makin lama makin berkembang meningkatkan ketegangan bahwa Tranggana sedang menyiapkan sebuah pembasmian terhadap siapa saja di antara manusia yang menjadi pengikut Syaikh Lemah Abang. Lalu, orang melihat sekumpulan demi sekumpulan orang bergerak meninggalkan dukuh Lemah Abang menuju berbagai penjuru negeri untuk menyelamatkan ajaran dan keyakinan mereka dari pemusnahan yang dilakukan penguasa. Mereka adalah penduduk dukuh Lemah Abang yang menangkap perlambang makna dari guru suci panutannya sebagai titah untuk meninggalkan dukuh dan membukan dukuh di tempat lain. Mereka yang meninggalkan dukuh Lemah Abang itu ada yang tinggal di negeri Palembang, Malaka, Pasai, Banjar, Lawe, Gowa, Butan, Haru, Hitu, Ternate, Tidore, dan Bima. Di sana mereka mendirikan dukuh-dukuh Lemah Abang, Tanah Merah, Batu Merah, Lemah Putih, Batu Putih, dan meneruskan ajaran-ajaran Syaikh Lemah Abang yang mereka yakini kebenarannya.

Sementara, di tengah hiruk kabar burung dan pengungsian penduduk dukuh Lemah Abang, tidak sedikit pun bukti menunjuk bahwa Tranggana telah menggerakkan alim ulama dan pasukannya untuk membumi hangus dukuh-dukuh Lemah Abang, meski orang-orang di Demak melihat persiapan-persiapan penyerangan sudah dilakukan. Rupanya, pada detik-detik akhir menjelang dilakukannya penyerangan, Syarif Hidayatullah datang menghadap Tranggana untuk melaporkan kematian puteranya, Pangeran Bratakelana. Saat itu pula Syarif Hidayatullah memberi saran agar penumpasan terhadap semua pengikut Syaikh Lemah Abang tidak dilakukan. Sebab, kalau yang dianggap bersalah adalah sang guru, hendaknya hukuman dijatuhkan kepada sang guru yang bersangkutan. Lalu, dengan mengambil ibarat membasmi tikus tidak perlu membakar rumah yang dijadikan sarang, tetapi cukup mengusir dan membunuh tikus-tikus, sadarlah Tranggana bahwa sebuah pembasmian tidak akan membawa hasil yang lebih baik kecuali dendam dan kebencian. Syarif Hidayatullah memberi tahu Tranggana bahwa di Caruban para pengikut Syaikh Lemah Abang dapat ditundukkan dan menjadi pengikut Syaikh Malaya Susuhunan di Kalijaga. “Jika pemuka-pemuka dukuh Lemah Abang mengetahui hal itu, tentu mereka akan beramai-ramai mengalihkan kiblat keyakinan mereka kepada saudara kami yang tinggal di Kalijaga,” ujar Syarif Hidayatullah.

Tranggana sangat yakin dengan kebenaran nasihat yang disampaikan Syarif Hidayatullah. Usai membincang nasib saudarinya, Nyi Mas Ratu Nyawa, yang sudah menjanda dan akan dinikahkan dengan putera Syarif Hidayatullah yang lain, Pangeran Muhammad Arifin, cucu Menak Lampor Adipati Tepasana, Tranggana meminta kepada Syarif Hidayatullah agar berkenan membujuk Syaikh Malaya Susuhunan Kalijaga untuk tinggal di Demak. “Kami sudah mendengar kemasyhurannya di Caruban. Kami pasti akan mengangkatnya sebagai imam masjid agung dan sekaligus guru ruhani bagi keluarga kami,” kata Tranggana berharap.

Kesanggupan Syarif Hidayatullah untuk mengusahakan agar Syaikh Malaya Susuhunan Kalijaga berkenan tinggal di Demak, meski waktunya tidak ditentukan, telah melegakan Tranggana. Ia memutuskan untuk menunda penyerangan terhadap dukuh-dukuh Lemah Abang sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Namun demikian, pasukan tombak yang sudah bersiaga untuk menyerang itu tidak bisa dihentikan begitu saja. Lalu, orang melihat iring-iringan pasukan tombak yang dipimpin para alim Demak itu bergerak ke wilayah Pati, menertibkan kehidupan beragama di sana yang diikuti tumpahnya darah dan bergelimpangannya mayat-mayat manusia yang dituduh murtad dan bid’ah. Bahkan, saat terdengar kabar Adipati Hunus jatuh sakit, pasukan tombak yang dipimpin alim ulama itu bergabung di bawah pimpinan Raden Darmakusuma, putera mendiang Adipati Pati Kayu Bralit. Adipati Pati Kayu Bralit II, adik Raden Darmakusuma, yang sejak penyerbuan ke Malaka tidak didukung lagi oleh pasukan dari Japara, tidak dapat menahan serangan pasukan tombak. Adipati Kayu Bralit II yang dengan gagah berani bersama sisa-sisa pasukannya melakukan perlawanan, gugur dalam pertempuran secara ksatria. Jenasah Adipati Kayu Bralit II dibuang ke tengah hutan supaya dimakan binatang buas, karena ia dianggap murtad.

Keberhasilan Raden Darmakusuma menghancurkan kekuatan adiknya ternyata tidak mematahkan pandangan penduduk yang tidak membenarkan lagi kepemimpinan berdasar pembunuhan. Saat Raden Darmakusuma dan para alim Demak beserta pasukannya merayakan kemenangan, penduduk kuta dan desa-desa di kadipaten Pati diam-diam menyingkir ke Wirasari, Sesela, Bulu, Balora, Tuban, Jipang, Rajegwesi, dan terutama di dukuh-dukuh Lemah Abang. Sebagaimana penduduk pedalaman Nusa Jawa yang lain, mereka memendam sikap antipati terhadap orang-orang berpakaian serba putih yang memaklumatkan diri sebagai alim ulama penegak kesucian agama Islam. Mereka menganggap semua ulama yang mengenakan jubah, surban, dan biji tasbih sebagai jelmaan Bhattara Yama, Sang Maut, dan para pengikut bertombaknya dianggap sebagai para Kingkara, prajurit-prajurit Yamani (Jawa Kuno: neraka).

Tindakan penduduk Pati menyingkir ke pedalaman diterima Tranggana sebagai sebuah bukti bahwa ajaran Syaikh Lemah Abang sudah begitu kuat diikuti penduduk. Sebab, sebelum gagasan masyarakat ummah yang disampaikan Syaikh Lemah Abang dijalankan di kadipaten-kadipaten pesisir, penduduk sebagai kumpulan manusia yang berkedudukan kawula (Jawa Kuno: budak) hanyalah penghuni wilayah yang paling pasif. Mereka tidak pernah peduli dengan urusan pemerintahan negerinya. Mereka tidak peduli bagaimana pemimpin-pemimpin mereka berebut kuasa dan wibawa. Bahkan, mereka tidak peduli siapa yang memimpin mereka dan bagaimana para pemimpin itu memperlakukan mereka. Mereka hanya sadar bahwa mereka adalah kawula. Budak. Tidak lebih dari itu. Bahkan untuk menandai kebudakan mereka, pribadi-pribadi manusia itu membentuk satuan-satuan terkecil anggota penduduk sebuah negeri dan menyebut keberadaannya dengan istilah kawulawarga (Jawa Kuno: kumpulan budak) yang seluruh hajat hidupnya dikuasai oleh kalangan penguasa yang menyebut diri golongan gusti (Jawa Kuno: tuan, yang berkuasa). Kini, setelah gagasan masyarakat ummah yang dikemukakan Syaikh Lemah Abang diterima sebagai tatanan baru kehidupan penduduk di pesisir Nusa Jawa, para anggota kawulawarga itu mendadak menjadi liar dan susah dikendalikan. Ibarat kawanan harimau keluar dari hutan, penduduk yang menyebut diri sebagai masyarakat ummah itu telah menjelma menjadi binatang liar yang buas dan berbahaya dan tidak gampang dijinakkan.

Sesaat setelah diberi tahu oleh Syarif Hidayatullah tentang perkembangan keadaan di Demak, Raden Sahid meninggalkan Kalijaga untuk mengunjungi dukuh-dukuh Lemah Abang. Ia ingin mengetahui apa sejatinya yang terjadi dengan dukuh-dukuh tersebut setelah kemelut panjang yang meliputi perebutan kuasa dan wibawa antara Yang Dipertuan Demak dengan Yang Dipertuan Japara.

Ketika sampai di Japara, ia menemui Ki Saridin, seorang murid Syaikh Siti Jenar yang menjadi kepala dukuh Lemah Abang di Japara. Sejak peristiwa terbunuhnya kawan-kawannya oleh satuan-satuan bersenjata, Ki Saridin didaulat menjadi guru suci wakil Syaikh Lemah Abang oleh para pengikut kepala dukuh yang terbunuh. Karena kedudukan barunya itu, Ki Saridin disebut orang dengan nama terhormat Syaikh Jangkung. Dia sangat dihormati penduduk karena merupakan salah seorang murid Syaikh Lemah Abang dari kalangan orang kebanyakan yang berhasil menjadi adimanusia. Lantaran keberhasilannya itulah Raden Sahid menempatkannya sebagai salah seorang murid Syaikh Lemah Abang terkemuka.

Menurut Ki Saridin sendiri, sejak kematian para pemuka dukuh Lemah Abang, yang disusul pengungsian sejumlah pemuka dukuh ke berbagai negeri, ditambah raibnya sang guru suci bagai ditelan bumi, terjadi perubahan besar di antara para pengikut Syaikh Lemah Abang yang tersisa. “Ibarat anak-anak ayam ditinggal induknya, para murid dan pengikut Kangjeng Syaikh terpecah menjadi tiga kelompok besar. Pertama-tama, kalangan alim ulama yang memimpin Tarekat Akmaliyyah, Haqqmaliyyah, Khaliqiyyah, Sattariyyah, Kubrawiyyah, dan Wahidiyyah memutuskan untuk menjadikan tarekat yang mereka pimpin sebagai ajaran rahasia yang khusus diajarkan kepada keluarga. Kedua, kalangan bangsawan juga memutuskan hal serupa, mengajarkan tarekat hanya kepada keluarga. Yang justru membingungkan adalah pengikut yang berasal dari kalangan orang kebanyakan, baik yang tinggal di dukuh-dukuh Lemah Abang maupun di desa-desa sekitarnya.”

“Kenapa dengan mereka?” Raden Sahid minta penjelasan.

“Mereka terpecah menjadi tiga kelompok yang saling bersaing. Kelompok pertama memilih pemimpin sendiri untuk melanjutkan ajaran tarekat yang diwariskan kangjeng syaikh. Kelompok kedua, dua tiga orang warga di sejumlah dukuh secara sepihak mengajarkan ajaran batiniah yang dinisbatkan kepada kangjeng syaikh dengan alasan mereka mendapat wangsit langsung dari Allah untuk meneruskan tugas sang guru, membimbing manusia menuju Kebenaran Sejati. Yang terakhir, beberapa orang warga desa di sekitar dukuh mengajarkan ajaran batiniah yang juga dinisbatkan kepada kangjeng syaikh dengan alasan ditemui sendiri oleh arwah Syaikh Lemah Abang. Mereka mengaku ditugasi kangjeng syaikh untuk meneruskan ajarannya. Sungguh, tiga kelompok orang ini sangat membahayakan ajaran kangjeng syaikh, karena setahu kami mereka itu kurang memahami ajaran kangjeng syaikh secara benar dan sangat sedikit memahami ilmu-ilmu Keislaman,” ujar Ki Saridin.

“Mereka menggunakan nama apa untuk tarekatnya?”

“Ada macam-macam nama yang mereka gunakan. Ada yang menyebut tarekatnya dengan nama Agama Jawa, Islam Sejati, Wahyu Utama, Murti Tunggal, Sapta Warah, Lelana Brata, dan banyak lagi yang lain.”

Raden Sahid termangu-mangu mendengar paparan Ki Saridin. Dengan bekal penjelasan singkat itu, ia mendatangi dukuh-dukuh Lemah Abang dan desa-desa sekitarnya baik dengan menyamar sebagai penjual rumput, dalang wayang, maupun Syaikh Malaya. Ketika ia berkeliling ke dukuh-dukuh dan desa-desa sekitar Lemah Abang, dan mengenali para guru batiniah tersebut melalui penglihatan mata batin dan pendengaran jiwa, ia mendapati kenyataan yang memprihatinkan sekaligus mengharukan. Dengan penglihatan mata batin, ia menyaksikan sebagian di antara guru batiniah itu berdiri tegak menepuk dada penuh kepongahan, memamerkan kehebatan dan kemegahan diri. “Lihatlah kami! Lihatlah anak-anak yang lahir dari pikiran dan mimpi-mimpi Syaikh Lemah Abang! Kami adalah anak-anak bangsa yang lahir dari kehinaan dan nistaan bangsa lain. Kami adalah anak-anak yang disusui dan disuapi Syaikh Lemah Abang dengan kesadaran dan keyakinan diri! Kami adalah anak-anak yang sudah memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah sesembahan segala bangsa dan bukan milik bangsa tertentu! Kami adalah penerus ajaran Bapak kami mulia, Syaikh Lemah Abang!”

Raden Sahid menarik napas panjang mendengar suara-suara itu. Dengan suara lembut penuh kasih, ia berkata, “Aku tahu siapa kalian sejatinya. Kalian adalah orang-orang yang sangat ceroboh di dalam mengajarkan pengetahuan ruhani. Seibarat satu ember air diambil dari sumber mata air yang jernih untuk dipindahkan ke dalam kendi-kendi dengan cara disiramkan, demikianlah kalian menumpahkan air yang jernih ke atas tanah dan hanya beberapa tetes saja yang masuk ke dalam kendi-kendi. Kalian telah berbuat zalim karena memberikan kalung mutiara kepada kawanan kera yang butuh pisang.”

“Wahai Syaikh Malaya! Janganlah engkau memandang kami dari kedudukanmu yang tinggi. Lihatlah kami sebagai kami! Kami adalah anak-anak bangsa yang diasuh, disusui, disuapi, dituntun, dan bahkan dicambuk oleh Syaikh Lemah Abang untuk memiliki keyakinan diri tinggi sebagai adimanusia. Kami dididik untuk yakin akan keberadaan diri. Kami dididik untuk berani tampil sebagai guru suci tanpa perlu membawa-bawa nama bangsa asing. Kami dididik untuk meyakini bahwa Allah adalah Tuhan semua bangsa dan bukan milik bangsa tertentu. Kami dididik agar yakin diri bahwa segala sesuatu adalah semata-mata kehendak Allah, sehingga kami tidak perlu berdusta mengatakan apa yang tidak kami punyai. Inilah kami!”

“Benarlah apa yang kalian katakan, o bayangan-bayangan kusam Syaikh Lemah Abang,” kata Raden Sahid penuh kasih, “Tetapi, hendaknya kalian sadar bahwa sebagian besar di antaramu menyampaikan pengetahuan yang tak jelas dari mana sumbernya. Kalian mengumpulkan air tumpahan dari ember dan memasukkannya ke kendi lain sehingga kemurnian dan kejernihan air tidak lagi tersisa. Air yang sudah keruh itu tidak lagi dapat memuaskan kehausan para musafir pencari Kebenaran, bahkan bisa mengundang penyakit.”

Terdengar suara hiruk dari orang-orang berceloteh. Sejenak kemudian, terdengar suara berisik sahut-menyahut seperti ratusan orang mengomel di dalam gua, “Tidakkah engkau mengetahui, 0 Syaikh Malaya, bahwa kecenderungan kalangan orang kebanyakan yang berpengetahuan dangkal dan berwawasan sempit dan bernalar picik adalah mencari guru yang sederajat dengan mereka? Ketahuilah olehmu, o Syaikh Malaya, kamilah guru yang sesuai dengan keinginan mereka. Sesungguhnya, Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan kepada kami bahwa Allah selalu memahami prasangka hamba-Nya sesuai batas-batas kemampuan sang hamba mengenal-Nya. Lantaran itu, biarlah kami dengan kesempitan wawasan, kepicikan nalar, kedangkalan pengetahuan, dan kepercayaan diri kami yang berlebihan, menjadi apa yang kami kehendaki. Jangan kami dinilai dengan penilaian yang tinggi. Sebab, Allah lebih tahu keterbatasan kami daripada manusia-manusia takabur yang merasa paling benar sendiri.”

Raden Sahid memahami para petani, tukang, perajin, juru tambang, penyadap getah enau, atau buruh tani yang tiba-tiba menjadi guru suci dan membaiat pengikut-pengikutnya itu telah menangkap dan memahami ajaran Syaikh Lemah Abang sebatas cakrawala pandangan mereka yang tidak pernah lebih jauh dari sawah, sungai, bukit, hutan, dan gunung yang melingkungi mereka. Wawasan mereka yang tidak pernah lebih luas dari kadipaten tempat mereka hidup telah menjadi ‘penghalang’ untuk memahami ajaran sang syaikh yang telah melanglang buana dan mereguk segarnya mata air ilmu dari berbagai bangsa. Kurangnya mereka bergaul dengan bangsa lain, dengan pemikiran-pemikiran yang beragam, telah pula menjadikan mereka sulit untuk menangkap secara baik dan sempurna tarekat yang diajarkan Syaikh Lemah Abang yang mensyaratkan kecerdasan dan perjuangan keras untuk mewujudkannya.

Sepengetahuan Raden Sahid, ajaran tarekat yang disampaikan oleh Syaikh Datuk Abdul Jalil, mertuanya, selalu disampaikan secara sistematik berupa pengetahuan ruhani dalam bentuk analogi meteforik (qiyas bayani), pembabaran ungkapan (futuh al-ibarah) pengetahuan gnostik (irfani), dan pembuktian-pembuktian (burhani), sehingga dibutuhkan kecerdasan lebih untuk menangkap dan memahaminya. Sebab itu, ia sangat memahami tiga kelompok – kalangan alim ulama, bangsawan, dan orang kebanyakan – karena masing-masing kelompok memiliki pemahaman yang berbeda dalam menangkap intisari ajaran yang disampaikan mertuanya. Bahkan, ia memahami ketika mendapati ajaran agung mertuanya itu telah menjelma menjadi seperangkat ajaran batiniah yang sangat dangkal dan membingungkan. Itu sebabnya, bertolak dari pengetahuan otak-atik mathuk yang merupakan dasar pengetahuan orang kebanyakan, para guru batiniah yang menyatakan diri pelanjut ajaran Syaikh Lemah Abang itu tanpa sadar telah membangun sistem epistemologi pengetahuan batiniah dengan prinsip-prinsip analogi metaforik (qiyas bayani) yang didasarkan atas kesamaan-kesamaan dan penyerupaan-penyerupaan yang tidak terikat aturan tertentu atau sekehendak sendiri dalam menafsirkan sesuatu. Dengan keyakinan diri yang berlebih-lebihan, mereka memaklumkan bahwa apa yang mereka sampaikan itu adalah Kebenaran mutlak tak tersanggah sebagaimana diajarkan Syaikh Lemah Abang.

Raden Sahid sendiri melihat pendangkalan atas ajaran mertuanya berawal dari kekurangpahaman para guru batiniah itu di dalam memaknai pokok-pokok bahasan pengetahuan ruhani yang disampaikan Syaikh Lemah Abang. Pokok-pokok bahasan yang seharusnya dipahami sebagai sistem pengetahuan ruhani yang akan digunakan membimbing salik ke jalan Kebenaran, ternyata diajarkan sebagai rangkaian doa-doa panjang untuk mencapai Kebenaran. Entah bagaimana awalnya, ungkapan-ungkapan metaforik dan kupasan-kupasan filosofis tentang jalan Kebenaran yang diajarkan Syaikh Lemah Abang, tiba-tiba menjelma menjadi rangkaian doa yang dihafal sedemikian rupa tanpa diketahui maknanya. Ajaran Syaikh Lemah Abang yang didasarkan pada keseimbangan pengetahuan bashrah yang memancar dari qalb dengan pengetahuan akal (‘aql) yang diterangi burhan itu telah berubah menjadi ajaran batiniah dangkal yang penuh mantera dan diselimuti takhayul.

Raden Sahid merasa iba kepada para guru batiniah yang memaknai ajaran Syaikh Lemah Abang sesuai pemahaman mereka yang kelewat sederhana itu. Mereka hampir selalu menyederhanakan masalah-masalah serius sesederhana penalaran mereka. Sering terjadi, ajaran Syaikh Lemah Abang yang bersifat rahasia dalam mengungkap Ruh al-Idhafi, dengan sangat naif disederhanakan sebagai sekadar kilasan-kilasan cahaya yang terlihat saat mata orang dikucek-kucek. Dengan keyakinan diri berlebihan, para guru suci menyatakan kepada pengikut-pengikutnya bahwa kilasan cahaya saat mata dikucek-kucek itu adalah cahaya Ilahi yang disebut Ruh al-Idhafi. Itulah mursyid pembimbing. Itulah guru sejati. Bahkan, dengan pongah tetapi naif dan konyol mereka menyatakan bahwa untuk melihat cahaya Ilahi tidak sulit dan hanya butuh waktu beberapa kedipan mata saja, yaitu saat mata orang dikucek-kucek. Demikianlah, murid-murid yang sama sederhananya dengan mereka dalam segala hal itu mengaminkan semua yang mereka ajarkan, sehingga sering kali terjadi peristiwa-peristiwa konyol yang memalukan di mana murid-murid yang senaif dan sekonyol gurunya itu berteriak-teriak “aku sudah ketemu tuhan,” ketika mereka menyaksikan kilasan cahaya di matanya yang sengaja mereka kucek-kucek.

Yang memprihatinkan Raden Sahid, di antara ajaran ruhani yang disampaikan guru-guru batiniah itu adalah pemberian makna kata-kata di dalam bahasa Arab dengan makna bahasa Jawa. Mereka, yang memang tidak paham dengan bahasa Arab yang menjadi dasar ilmu-ilmu Keislaman, dengan kesederhanaannya memaknai semua kata dan kalimat dalam bahasa Arab dengan bahasa Jawa. Kata “padang Arafah” mereka maknai sebagai “terangnya penglihatan”. Sebab, “padang” bermakna terang dalam bahasa Jawa. Arafah bermakna penglihatan dalam bahasa Arab. Dengan demikian, yang dimaksud “padang Arafah bukan tempat di Arab, melainkan terang-benderangnya penglihatan atas kilasan-kilasan cahaya saat mata dikucek-kucek.

Kata “Rasul Allah” mereka maknai sebagai “rasanya Allah”, karena kata “rasul” disama-artikan dengan kata “rasa”. Bunyi “ras” dalam bahasa Arab mereka pikir sama dengan “rasa” dalam bahasa Jawa. Akibatnya, mereka menafsirkan bahwa yang disebut Muhammad Rasul Allah itu bukanlah orang Arab bernama Muhammad yang menjadi Nabi umat Islam, melainkan Nur Muhammad yang ada di dalam alam ruhani. Nur Muhammad itulah “rasanya Allah”. Nur Muhammad itulah “rasul Allah”. Lantaran Syaikh Lemah Abang telah mengajarkan bahwa masing-masing manusia adalah pancaran dan percikan Nur Muhammad, maka yang terpenting bagi manusia adalah bagaimana mereka mengetahui dan mengenal Nur Muhammad tersebut.

Muara dari penafsiran berdasar prinsip otak-atik mathuk – bahasa Arab dimaknai dengan bahasa Jawa dan sebaliknya – itu adalah munculnya pandangan yang menyatakan bahwa manusia yang melakukan sembahyang mengikuti ajaran agama Islam dari Arab yang disampaikan Nabi Muhammad adalah keliru, apalagi dengan berkiblat pada batu yang disebut Ka’bah. Bersembahyang menghadap Ka’bah itu musyrik karena menyembah batu. Mereka memaknai sembahyang yang dilakukan umat Islam sebagai kegiatan mobah molah muna muni (bergerak-gerak dan berkata-kata tanpa mengerti makna ucapannya). Bahkan, ajaran tentang Nur Muhammad pun akhirnya dimaknai sebagai matahari yang bersinar di tata surya.

Yang paling memprihatinkan Raden Sahid atas para guru batiniah itu adalah kecenderungan mereka untuk memperbanyak pengikut dengan membaiat semua orang secara serampangan dan borongan. Dengan alasan diperintah langsung oleh Allah atau arwa Syaikh Lemah Abang, mereka membaiat siapa pun yang datang. Tanpa kenal siang dan malam, setiap orang yang datang bertamu diiming-iming dengan cerita-cerita isapan jempol tentang tarekat, hakikat, makrifat, berkat, dan keramat yang jauh dari keagungan ilmu tasawaf. Tidak peduli apakah orang paham atau tidak dengan uraian dan penjelasannya, mereka langsung dibaiat. Sebab, dengan membaiat banyak orang, kedudukan mereka sebagai guru suci akan semakin kukuh dan melambung tinggi ke langit karena masyarakat sangat memuliakan para guru suci laksana dewa.

Sungguh berbeda apa yang dilakukan kebanyakan guru suci tersebut dengan Syaikh Lemah Abang. Jika Syaikh Lemah Abang mengajarkan tarekat secara rahasia, yakni kepada pencari Kebenaran Sejati dan para salik terpilih, maka kebanyakan guru suci baru itu mengajarkan tarekat secara terbuka selayaknya barang dagangan murah yang dijajakan kepada siapa saja yang mau menerima. Tidak hanya pencari Kebenaran Sejati, mereka yang berkeinginan mencari pangkat, derajat, jabatan, rezeki, bahkan pencari pesugihan pun diajari laku tarekat. Mereka mengajarkan semau-maunya semua ajaran rahasia dengan pamrih utama agar mereka menjadi guru suci yang memiliki banyak pengikut dan disegani manusia. Bahkan, bagian terbesar dari guru-guru batiniah baru yang semula adalah petani, pedagang kecil, tukang, perajin, penyadap getah enau, dan buruh kecil secara menakjubkan tiba-tiba menjelma menjadi “orang kaya baru”, karena selain menjadi guru batiniah mereka juga mengambil alih peran para janggan (dukun) di desanya. Dengan demikian, jika Syaikh Lemah Abang mengajarkan tarekat semata-mata untuk membimbing manusia menuju jalan Kebenaran, maka banyak di antara guru suci baru itu telah melumuri ajarannya dengan pamrih pribadi berlebihan. Pamrih. Pamrih. Beribu-ribu kali pamrih.