Perangkap Patih Mahodara

Kekalahan memalukan di Tuban sangat menampar Tranggana. Ia geram dan menumpahkan kemarahannya, terutama kepada alim ulama terbawa badai yang selama itu dianggap terlalu banyak membual. Dalam amarahnya, Tranggana membandingkan mereka dengan para pemuka dukuh Lemah Abang yang berani menyongsong Kematian. “Aku mengira kalian setabah orang-orang Lemah Abang dalam menyongsong Maut. Ternyata, kalian lari tunggang langgang menghadapi orang-orang yang kalian anggap kafir, najis, dan hina. Memalukan. Sungguh memalukan,” kata Tranggana dengan nada sangat kecewa.

Kabar kemarahan Tranggana terhadap para alim terbawa badai ternyata sampai kepada Susuhunan Udung yang bertahan di perbatasan Lasem. Dia mengirim utusan kepada Tranggana meminta perkenan untuk memimpin kembali pasukan gabungan Demak menyerbu Majapahit. Tranggana yang sudah tertampar oleh rasa malu memperkenankan keinginan pahlawannya yang pemberani itu dengan mengirim pasukan tambahan dari Pati 1.000 orang yang dipimpin oleh Raden Iman Sumantri dan dari Sesela 1.000 orang yang dipimpin Ki Ageng Sesela. Ketika pasukan dari Pati dan Sesela berangkat ke perbatasan Lasem untuk bergabung, tidak satu pun di antara alim ulama terbawa badai yang ikut dalam serangan kedua itu. Mereka bersembunyi ketakutan dan hanya mengirim wakil-wakil keluarga mereka dari kalangan muda.

Menghadapi serangan gelombang kedua dari Demak, Patih Mahodara telah menyiapkan sebuah perangkap mematikan. Pertama-tama, ia membiarkan pasukan alim ulama memasuki Tuban tanpa perlawanan. Ketika mereka meneruskan serangan ke arah Daha, satuan-satuan kecil pasukan Majapahit akan menyerang dan lari sehingga mereka mengira mendapat kemenangan. Saat mereka sampai di Wirasabha, barulah dilakukan serangan balik secara besar-besaran sebab di Wirasabha telah berkumpul pasukan gabungan yang datang dari Kadipaten Dengkol, Garuda (Pasuruan), Kedhawung, Japan (Japanan), Pengging, Daha, Blambangan, Puger, Srengat, Panjer, Rawa, Jipang, dan Wirasabha. Menurut kabar, pasukan gabungan yang akan menghadang pasukan Demak di Wirasabha itu dipimpin sendiri oleh pemuka-pemuka mereka seperti Andayaningrat dan puteranya Kebo Kanigara dari Pengging, Menak Supethak dan saudaranya Raden Pramana dari Garuda, Menak Pentor dari Blambangan, Menak Pangseng dari Puger, Arya Simping dari Kedhawung, Arya Puspa dari Dengkol, Nila Suwarna dai Panjer, Arya Tiron dari Pamenang, Arya Matahun dari Rajegwesi, Arya Gugur putera mahkota Majapahit. Bahkan, yang ditunjuk menjadi senapati pasukan gabungan Majapahit adalah Raden Kusen Adipati Terung, paman Tranggana.

Siasat Patih Mahodara menjebak pasukan alim ulama Demak di Wirasabha sesungguhnya sudah diketahui Susuhunan Udung. Sebab, pada saat pasukan Demak akan menyeberang Bengawan Sori, Raden Kusen, yang tidak lain dan tidak bukan adalah besannya, telah mengirim peringatan lewat Raden Sulaiman, Leba Wirasabha, yang meminta agar pasukan Demak mengurungkan penyerangan ke Majapahit, karena pihak Majapahit sudah memasang jebakan. Namun, Susuhunan Udung yang sudah terlanjur malu dengan kekalahan pasukannya di Tuban tidak mengindahkan peringatan itu. Tampaknya, dia yang sejak kecil hanya mengenal masalah-masalah agama dan tidak mengetahui kemiliteran, kurang memahami isyarat-isyarat bahaya yang diberikan oleh besannya. Di samping itu, dia sudah tercekam oleh dalil-dalil agama yang menjanjikan kemenangan bagi kaum beriman dalam bertempur menghadapi kaum kafir. Dia semakin yakin bakal meraih kemenangan karena sudah mengenakan pusaka jubah antakusuma.

Dengan keyakinan kuat bakal menang itulah Susuhunan Udung memerintahkan pasukannya untuk bergerak cepat ke Wirasabha. Tanpa peduli gelap dan kabut, dia memimpin pasukan ke selatan pada malam hari dengan mengikuti jalan utama Wirasabha – Tuban. Saat pagi menjelang, ribuan kaki pasukannya sudah mengaduk-aduk dangkalan sungai Brantas yang mereka seberangi dari tepi utara ke tepi selatan. Meski jumlah pasukannya kurang dari 10.000 orang, Susuhunan Udung sangat bangga dengan mereka yang menunjukkan semangat tinggi. Seperti tak kenal lelah, setelah menyantap jatah makanan di tepi selatan sungai Brantas, mereka bergerak lagi. Seperti berlari mereka bergerak terus dengan cepat ke arah selatan. Beberapa orang penunggang kuda yang memimpin barisan terlihat berseru sambil menggeletarkan cemetinya ke udara, “Kita harus cepat sampai ke Wirasabha! Kita serang Wirasabha! Musuh-musuh kita ada di Wirasabha! Musuh Allah di sana! Cepat! Cepat!”

Dengan semangat yang terus dipacu, pasukan Demak yang berpakaian serba putih itu memang menakjubkan gerakannya. Ketika matahari baru naik sepenggalah, mereka sudah sampai di sungai Tambak Beras, sungai bersejarah yang diingat penduduk sebagai tempat hancurnya balatentara Tuban yang dipimpin Ranggalawe barang dua abad silam. Setelah berhenti beberapa jenak untuk minum usai menyeberangi sungai Tambak Beras, mereka bergerak lagi dengan langkah lebih cepat. Seperti berpacu, mereka melesat dengan cepat ke arah kuta Wirasabha.

Ketika dari kejauhan dinding kuta Wirasabha yang terbuat dari batu bata terlihat kukuh di bawah langit, mereka berhenti dan membagi pasukan dalam tiga sayap. Sayap kiri dipimpin oleh Ki Ageng Sesela. Sayap kanan dipimpin Raden Iman Sumantri. Induk pasukan tengah dipimpin Susuhunan Udung. Lalu diiringi teriakan takbir gegap-gempita laksana bukit runtuh, ketiga pasukan yang memiliki panji-panji berbeda itu bergerak cepat ke arah gerbang kuta. Mereka berlomba saling mendahului untuk bisa secepat mungkin sebagai yang pertama sampai.

Sementara, sejak pagi gerbang barat kuta Wirasabha sudah dibuka sebagian. Anehnya, di balik pintu gerbang yang ditutup sebelah itu terdapat tumpukan batu-batu besar seolah gerbang itu sengaja ditutup separo. Lebih aneh lagi, ketika gegap-gempita iring-iringan pasuka Demak mendekati kuta dan berpacu mener0b0s gerbang barat, prajurit penjaga gerbang justru lari meninggalkan pos penjagaan sambil tersenyum-senyum. Mereka seperti sengaja membiarkan gerbang yang dijaganya itu tetap terbuka separo. Mereka seperti sengaja membiarkan musuh masuk ke kuta.

Ketika pasukan Demak menerjang ke arah gerbang bagaikan air yang membanjir, terjadi sesuatu yang tidak diperhitungkan sebelumnya. Pasukan Demak yang berlomba saling mendahului itu berdesak-desak, terhalang oleh pintu gerbang yang terbuka separo. Lantaran tidak ada satu pun di antara prajurit Demak yang mau mengalah dan mereka terus berdesak-desak ingin mendahului yang lain masuk ke dalam kuta, makin sesaklah gerbang itu dipadati manusia. Semangat prajurit-prajurit Demak yang berkobar-kobar ingin secepatnya masuk ke kuta Wirasabha makin menyesaki gerbang. Sementara para prajurit berkuda yang melambai-lambaikan pedang memberi perintah agar semua prajurit tidak saling berdesakan, tidak lagi digubris. Ujung dari keadaan itu adalah terjadinya kerusakan formasi pasukan Demak. Prajurit-prajurit yang dengan susah payah berhasil masuk ke dalam gerbang, terlihat celingukan mencari barisannya yang berantakan.

Di tengah rusaknya formasi pasukan yang berantakan itu, terjadi peristiwa yang sangat mengejutkan. Pasukan gabungan Majapahit yang sejak pagi menunggu di dalam kuta, tiba-tiba bergerak serentak menyongsong kedatangan pasukan Demak. Lalu, seibarat beruang ganas mengangakan mulut mendekati sekawanan lebah yang berkerumun di sarangnya, demikianlah pasukan gabungan Majapahit yang berjumlah sekitar 30.000 orang dengan gelar perang Bajrapanjara-byuha (Jawa Kuno: formasi tempur sangkar intan) mendekati pasukan Demak yang berdesak-desak di pintu gerbang. Semua menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi ketika pasukan Majapahit semakin lama semakin dekat jaraknya.

Ketika jarak kedua pasukan semakin dekat, tampak sekali pasukan Demak tidak saja masih berantakan formasinya, melainkan terputus pula tali komandonya. Tanpa ada yang memerintah, tiba-tiba saja barisan pertama dari sayap kanan pasukan Suranata yang berada di bawah pimpinan Raden Iman Sumantri bergerak cepat ke depan menyerbu sayap kiri pasukan Majapahit. Dengan pekikan takbir sambung-menyambung, mereka menyambut musuh yang menghadang dengan tombak terhunus. Namun, saat jarak mereka dengan musuh tinggal tiga empat tombak, tanpa terduga-duga pasukan berkuda Majapahit dari barisan tengah mendadak bergerak cepat ke depan. Lalu, dengan kecepatan menakjubkan mereka melakukan gerakan memutar.

Pasukan Demak yang berhadapan dengan pasukan sayap kiri Majapahit tersentak kaget ketika mendengar suara gemuruh dari arah belakang mereka. Secara refleks mereka menoleh serentak. Terbelalaklah mata mereka ketika menyaksikan betapa di belakang mereka sudah mengepung pasukan berkuda musuh. Mereka gugup. Mereka baru sadar jika telah terperangkap di tengah-tengah kepungan musuh. Laksana sekumpulan rusa dikepung kawanan anjing pemburu, mereka hanya tercengang-cengang kebingungan ketika pasukan sayap kiri dan pasukan berkuda Majapahit mengerumuni dan menghujani mereka dengan tikaman-tikaman tombak dan aneka jenis senjata. Mereka tidak dapat berbuat lain kecuali melawan sekuat daya serangan bertubi-tubi itu. Terdengar suara gaduh dari senjata yang beradu disusul jerit kematian dan pekik kesakitan yang sambung-menyambung. Tak lama kemudian, ketika prajurit-prajurit Majapahit kembali ke barisannya masing-masing, orang melihat barisan depan pasukan sayap kanan Demak itu menjadi tumpukan mayat bersimbah darah.

Kebinasaan yang dialami barisan pertama pasukan Demak segera menyulut kemarahan kawan-kawan mereka. Bau anyir darah yang menebar di tengah medan tempur membangkitkan nafsu membunuh prajurit-prajurit Demak laksana kobaran api. Mereka merasakan tubuh mereka panas dan kaki mereka seolah tidak menginjak tanah. Saat teriakan menyerang terdengar bersahutan dari para pemimpin, mereka serentak berlari ke depan dengan berteriak sekeras-kerasnya. Mereka berteriak dengan tombak terhunus menerjang siapa saja yang berada di hadapan mereka. Mereka menerjang terus ke depan dengan membabi-buta. Namun, yang mereka saksikan hanyalah hutan tombak dan panji-panji musuh yang bergerak maju mundur dan ke kanan kiri membingungkan. Ibarat sarang lebah dicabik-cabik kuku dan mulut beruang kelaparan, serangan demi serangan membabi-buta yang mereka lakukan semburat diluluh-lantakkan pasukan Majapahit yang bertempur dengan disiplin dan semangat tinggi.

Menyaksikan barisan pasukannya selalu berantakan setiap kali menyerang musuh, Susuhunan Udung memerintahkan Ki Ageng Sesela menyemangati pasukan yang dipimpinnya dan secepatnya memimpin mereka menerjang sayap kanan musuh. Ia juga memerintahkan Raden Iman Sumantri untuk bergegas ke depan menyemangati para prajurit dan menyerang ke barisan tengah musuh. Sementara ia sendiri dengan teriakan-teriakan takbir menggetarkan, seolah-olah digetari kekuatan gaib, membangkitkan semangat tempur prajurit-prajuritnya. Setiap prajurit Demak yang mendengar pekikan takbir senapati mereka merasakan terbakar semangatnya. Mereka seperti tidak peduli dengan tebasan pedang dan tikaman tombak pasukan Majapahit. Mereka mengamuk, menerjang, menerobos, dan melangkahi mayat kawan-kawan dan musuh-musuhnya. Akibatnya, pasukan Majapahit yang selalu berhasil menahan serangan mereka terheran-heran menghadapi perubahan mendadak tersebut. Secara berangsur-angsur daya tempur mereka menurun dan formasi tempur mereka pun mulai berantakan.

Melihat formasi tempur pasukannya mulai berantakan, para pemuka pasukan gabungan Majapahit meminta Yang Dipertuan Pengging dan Yang Dipertuan Terung untuk tampil ke depan menghadapi amukan pasukan musuh. Mereka, yang sebagian besar adalah putera dan kemenakan dan cucu Patih Mahodara, ingin menguji kesungguhan janji dua orang tetunggul Majapahit yang sudah bersumpah setia akan mempertahankan kerajaan tersebut, meski keduanya telah menjadi pemeluk agama Islam. Alih-alih ingin menguji kesetiaan kedua orang tersebut, sesungguhnya Patih Mahodara ingin memecah belah kekuatan Tranggana dengan kedua orang pamannya itu. Kedua tetunggul itu tampaknya tidak memiliki pilihan lain kecuali menunaikan janji mereka untuk membela Majapahit sebagai pelaksanaan dharma ksatria mereka.

Andayaningrat, Raja Pengging yang sudah tua itu, terlihat maju ke garis depan medan tempur. Puteranya, Kebo Kanigara, dan sejumlah ksatria berkerumun di sekitarnya. Dengan tatapan mata yang sudah agak kabur, dia menyaksikan medan tempur di depannya dipenuhi gelimpangan mayat prajurit kedua pihak. Dia menarik napas berat ketika mengetahui betapa sejauh itu pasukan Majapahit belum berhasil mematahkan serangan pasukan Demak yang lebih sedikit jumlahnya. Amarahnya meledak ketika di kejauhan ia melihat senapati Demak, Susuhunan Udung, berdiri gagah sambil mengacung-acungkan keris pusaka menyemangati prajurit-prajuritnya yang memaki musuh-musuhnya sebagai kafir penghuni neraka. Dengan keris terhunus, dia berlari ke arah Susuhunan Udung. Sementara, Susuhunan Udung yang mengetahui akan diserang Raja Pengging hanya tegak berdiri sambil menggenggam erat-erat keris pusakanya. Ia menunggu.

Ketika jarak keduanya sudah sekitar tiga empat depa, Andayaningrat berteriak keras sambil menyerang dengan tikaman keris ke arah dada Susuhunan Udung. Susuhunan Udung yang sudah menunggu serangan musuh hanya berdiri tegak tidak berusaha menghindar. Ketika keris Andayaningrat terlihat berkelebat ke arah dadanya, Susuhunan Udung membarenginya dengan tikaman keris ke dada Andayaningrat.

Terdengar suara gemeretak dan jeritan terpekik ketika dua keris pusaka itu secara bersamaan mengenai sasaran. Tubuh Andayaningrat tampak limbung dan sejenak kemudian tumbang ke atas bumi. Rupanya tikaman keris Susuhunan Udung dengan telak mengenai dada kirinya hingga mematahkan tulang-tulang iganya. Sementara, dada Susuhunan Udung yang ditutupi jubah antakusuma tidak sedikit pun menunjukkan luka.

Melihat tetunggul musuhnya terbunuh, semangat pasukan Demak seketika meningkat. Sambil meneriakkan takbir mereka meningkatkan serangan yang menewaskan puluhan prajurit lawan. Namun tak lama sesudah itu, serangan mereka berantakan ketika Kebo Kanigara, putera Andayaningrat, mengamuk dan menimbulkan korban besar di antara pasukan Demak. Bahkan, beberapa jenak kemudian semua mata tertuju ke tengah medan tempur, menyaksikan Senapati Majapahit Raden Kusen berdiri berhadap-hadapan dengan Senapati Demak Susuhunan Udung. Semua seolah ingin mengetahui, apakah yang akan terjadi dengan dua orang besan yang sama-sama menjadi panglima dari dua pasukan yang saling bermusuhan itu.

Susuhunan Udung sendiri merasakan adanya getaran-getaran aneh yang membuatnya gugup saat berhadap-hadapan dengan Raden Kusen. Ia merasakan jiwa seperti digelayuti lintasan bayangan bahwa laki-laki tua yang berdiri di depannya itu adalah sahabat ayahandanya, mertua puteranya, pelindung umat Islam di pedalaman, dan tentu saja paman dari sultan Demak. Ia sadar sedang berhadapan dengan manusia tangguh dalam pengalaman tempur. Ia sadar, dalam hal pertempuran ia tidak bisa dibandingkan dengan laki-laki yang sudah malang-melintang selama hampir setengah abad di medan tempur itu. Dengan suara merendah ia berusaha menyadarkan panglima yang dijadikan andalan pihak musuh itu. Ia meminta agar sebagai sesama muslim apalagi berbesan, mereka tidak perlu bertempur sebagai musuh. “Sungguh kami sulit menerima kenyataan, seorang pahlawan muslim seperti Tuan bertempur melawan saudara seiman demi membela kerajaan kaum kafir,” kata Susuhunan Udung.

“Andaikata guruku terkasih, Raden Ali Rahmatullah Susuhunan Ampel Denta, tidak memerintahkan aku untuk mengabdi kepada Majapahit, niscaya aku tidak berada di hadapanmu sebagai musuh, o Saudaraku. Aku tidak peduli apakah aku akan dituduh murtad atau kafir dengan kedudukanku sebagai panglima Majapahit ini. Aku hanya tahu bahwa dharmaku sebagai murid adalah menjalankan amanat guruku apa pun akibatnya,” Raden Kusen berkali-kali menarik napas berat dengan tubuh dibasahi keringat dingin.

Sebagai seorang guru suci, Susuhunan Udung dapat memahami pandangan Raden Kusen yang begitu teguh memegang amanat guru ruhaninya. Ia sadar, pertarungan antara dia dan besannya tidak bisa dihindari. Ia sadar, mereka berdua tidak ada yang bisa disalahkan karena masing-masing menjalankan dharma sesuai keyakinan. Dalam pertempuran satu lawan satu yang seru itu, Susuhunan Udung gugur akibat tikaman keris Raden Kusen. Prajurit Demak yang menyaksikan sendiri bagaimana pusaka jubah antakusuma itu ternyata tidak bertuah lagi karena tertembus tikaman keris Raden Kusen Adipati Terung, tidak dapat menahan diri untuk tidak mengambil langkah seribu. Mereka berhamburan ke berbagai arah untuk menyelamatkan diri. Hanya pasukan yang dipimpin Ki Ageng Sesela yang tidak melarikan diri. Dengan sisa-sisa pasukannya, Ki Ageng Sesela membawa jenasah Susuhunan Udung ke Demak.

Kabar terbunuhnya secara gagah Susuhunan Udung dalam pertempuran melawan Raden Kusen menggemparkan semua orang yang mendengar. Simpati dan sesal ganti-berganti diungkapkan dengan berbagai gejolak perasaan. Ujung dari kabar menggemparkan itu, semua kegeraman diarahkan kepada Tranggana yang dianggap kurang cerdas dalam memperkuat kuasa dan wibawa melalui penyerangan ke Majapahit dengan menggunakan barisan alim ulama. Tak kurang penyesalan diungkapkan diam-diam oleh anggota-anggota Majelis Wali Songo yang tidak paham dengan jalan pikiran Tranggana yang padat dijejali ambisi berkuasa. Mereka merasa tertampar karena dengan gugurnya salah satu anggota Wali Songo di medan perang, telah menimbulkan kesan bahwa anggota-anggota Wali Songo tidak lagi dilindungi Allah. Mereka mafhum bahwa bagi kebanyakan penduduk Nusa Jawa, gambaran seorang wali identik dengan manusia setengah dewa yang diliputi anugerah-anugerah ruhani, barokah dan karomah. Lantaran itu, saat salah seorang anggota Wali Songo dikalahkan oleh seorang panglima perang, kegemparan pun tak dapat lagi dihindarkan. Penduduk dari kalangan kebanyakan nyaris tidak percaya bahwa seorang anggota Wali Songo dapat kalah menghadapi seorang panglima perang.

Kekalahan pasukan Demak dan gugurnya panglima mereka di Wirasabha ternyata membawa akibat lain yang tidak diperhitungkan Tranggana, yaitu terampasnya Kadipaten Sengguruh dan Balitar. Pada saat seluruh kadipaten di pedalaman bergabung dengan pasukan Majapahit, dua orang putera Raden Kusen, Pangeran Arya Terung Adipati Sengguruh dan Pangeran Arya Balitar Adipati Balitar, tidak muncul dan tidak pula mengirimkan bala bantuan. Ha itu dijadikan alasan oleh Raden Pramana, putera Patih Mahodara, untuk merebut kembali Kadipaten Sengguruh dari tangan Arya Terung. Tindakan merebut kembali Kadipaten Sengguruh dilakukan bersamaan dengan perebutan Kadipaten Balitar. Raden Kusen sendiri tidak dapat berbuat sesuatu menghadapi tindakan sepihak putera-putera Patih Mahodara tersebut. Jatuhnya Sengguruh dan Balitar ke tangan putera-putera Patih Mahodara telah menjadikan Tranggana tidak lagi memiliki pijakan kekuasaan di pedalaman.

Bagi Tranggana sendiri, peristiwa kekalahannya yang kedua adalah pelajaran terbaik. Ia mulai membenarkan pandangan-pandangan Raden Sahid Susuhunan Kalijaga, mertuanya, terutama yang terkait dengan pasukan alim ulama. Apa pun alasannya, ia sadar bahwa selama ini ia telah keliru menjadikan pasukan Suranata sebagai inti kekuatan militer Demak. Kekeliruan itu sebenarnya berpangkal pada kebakilannya sendiri. Ia sadar, salah satu alasannya menyandarkan kekuatan militer pada pasukan Suranata lebih disebabkan karena pasukan yang terbentuk dari kalangan petani, tukang, perajin, penyadap enau, pedagang kecil, dan buruh itu tidak digaji. Mereka adalah para pengikut alim ulama yang fanatik dan bersedia melakukan apa saja untuk mematuhi titah tokoh panutannya, termasuk menjadi prajurit pembela agama tanpa imbalan gaji kecuali mendapat bagian pampasan perang. Tranggana sadar, kebakilan yang selama ini dipeliharanya ternyata membawa akibat mengerikan bagi tewasnya beribu-ribu kaum beriman yang sudah tersihir hasutan dan bualan alim ulama kaki tangannya.

Sadar akan kekeliruannya, Tranggana menendang jauh-jauh kebakilannya. Ia sadar bahwa tanpa pesaing, ia tidak perlu risau pada aliran pajak yang selama itu mengalir ke Japara. Kini semua jenis pajak akan mengalir ke Demak. Itu berarti, sudah waktunya ia wajib membentuk satuan-satuan tempur baru yang anggota-anggotanya diseleksi sedemikian rupa ketat agar yang terjaring adalah prajurit-prajurit yang benar-benar berdarah prajurit. Untuk beroleh prajurit unggul, dilakukan seleksi dengan cara memilih juara-juara dalam lomba-lomba adu keunggulan kaum muda. Melalui lomba-lomba itulah masing-masing peserta diuji ketabahan, keberanian, ketrampilan, ketangguhan, dan kepantang-menyerahan mereka. Bahkan, untuk memilih perwira-perwira, Tranggana tidak segan menguji sendiri. Lantaran ketatnya pemilihan, Ki Ageng Sesela yang telah menunjukkan keberanian di medan tempur Wirasabha dinyatakan gagal dalam ujian, gara-gara memalingkan muka saat memecahkan kepala seekor kerbau. Ia dinilai Tranggana berdarah petani, karena tidak tahan melihat darah. Walhasil, dengan ketatnya seleksi tersebut, kebanyakan di antara mereka yang lulus ujian adalah putera-putera para prajurit Demak lama yang umumnya berasal dari Wanasalam di tenggara Wirasabha.

Galangan-galangan kapal Demak yang nyaris tak berfungsi dikembangkan lagi untuk menghasilkan kapal-kapal perang besar yang dilapisi besi dan dilengkapi meriam-meriam ukuran besar. Khusus untuk membangun armada laut, Tranggana mempercayakan kepada Khwaja Zainal Abidin, ahli meriam asal Algarvia daerah di selatan Portugal. Dari Khwaja Zainal Abidin inilah Tranggana memiliki pengetahuan tentang raja-raja di Eropa yang bermusuhan dengan Salim, sultan Turki. Tranggana tahu bahwa raja-raja Eropa adalah raja-raja miskin yang kekayaannya tidak lebih besar dibanding seorang adipati gurem di Nusa Jawa. Itu sebabnya, mereka tidak pernah menang melawan Salim, yang kekayaannya berlimpah ruah. Dengan pengetahuan barunya itu, hasrat Tranggana menjadi sultan sebesar Salim semakin menguat. Hasratnya untuk membangkitkan kembali kebesaran Majapahit makin berkobar-kobar. Ia membayangkan dirinya sebagai sultan yang memiliki kekuasaan luas, seluas Majapahit awal. Untuk itu, ia membutuhkan dukungan militer yang kuat dan tentu saja jauh lebih kuat dibanding pasukan Suranata.

Sekalipun satuan-satuan tempur baru telah dibentuk, Tranggana belum berani merombak struktur pasukannya. Ia tetap menyebut satuan-satuan tempur barunya itu dengan nama Suranata karena kedudukannya masih sebagai sultan yang memiliki kewenangan di bidang kekuasaan agama. Di samping itu, keberadaan pasukan Suranata yang dikaitkan dengan alim ulama itu dinilainya masih dapat menyulut simpati penduduk yang mulai banyak memeluk agama Islam. Ia ingin memanfaatkan ghirah Keislaman penduduk untuk memperkuat kuasa dan wibawanya. Untuk alasan itu, beberapa bulan setelah kekalahan di Wirasabha berlalu, ia mengangkat Ja’far Shadiq, putera Susuhunan Udung, sebagai adipati Udung dan sekaigus menetapkannya sebagai senapati Suranata. Demi menghindari terulangnya kekalahan – menjadikan seorang alim ulama sebagai panglima perang – Tranggana menempatkan seorang manggalayuddha yang bertugas mendampingi Ja’far Shadiq dalam penyusunan siasat dan taktik perang. Manggalayuddha dimaksud adalah seorang bangsawan Majapahit yang beragama Islam, yang dikenal orang dengan nama Pangeran Pancawati.

Dengan diangkatnya Ja’far Shadiq sebagai senapati Suranata dan sekaligus adipati Udung, jabatannya sebagai imam Masjid Agung Demak harus ditinggalkannya. Tranggana ternyata sudah menyiapkan pengganti untuk jabatan imam Masjid Agung Demak, yaitu Susuhunan Kalijaga, mertuanya. Tranggana sadar bahwa kehadiran sang mertua di sampingnya sangat dibutuhkannya. Sebab, selama itu sang mertua nyaris tidak pernah berada di kediaman. Dengan mengangkatnya menjadi imam Masjid Agung Demak, sang mertua tentu akan lebih sering berada di kediaman.