Geliat Sang Naga Hitam

Di tengah gegap peningkatan kekuatan bersenjata Demak, hadirlah di Demak dua orang pejuang asal negeri Pasai yang tidak saja memiliki kemampuan tempur menakjubkan, tetapi juga memiliki pengetahuan agama yang luas dan mendalam. Dia adalah Tughril Muhammad Khan dan adiknya yang bernama Fadhillah Khan. Mereka meninggalkan negeri kelahirannya barang empat tahun silam ketika Portugis menduduki Pasai. Setelah menunaikan ibadah haji dan tinggal beberapa waktu di tanah suci, dua bersaudara itu pergi ke Caruban untuk mencari paman mereka, Syaikh Datuk Abdul Jalil. Ternyata mereka tidak bertemu karena sang paman dinyatakan telah lama pergi meninggalkan Caruban dan belum pernah kembali. Mereka hanya bertemu Syaikh Datuk Bardud, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil, sepupu mereka. Lalu, mereka dipertemukan dengan Syaikh Datuk Bayanullah, sepupu ayahanda mereka yang sudah sangat uzur. Oleh Syaikh Datuk Bayanullah, mereka disarankan pergi ke Demak, menemui Raden Sahid, menantu Syaikh Datuk Abdul Jalil, yang dikenal dengan nama Susuhunan Kalijaga.

Tughril dan Fadhillah yang sudah mengenal Raden Sahid sewaktu di Pasai kemudian pergi ke Demak. Ternyata, menantu paman mereka itu menjadi imam masjid Agung Demak dan sekaligus mertua sultan Demak. Melalui Raden Sahidlah dua bersaudara itu berkenalan dengan Tranggana yang ternyata sangat membutuhkan orang-orang gagah seperti mereka. Untuk mengikat mereka, Tranggana menikahkan saudarinya yang bernama Nyi Mas Galuh dengan Tughril. Sedang Fadhillah dinikahkan dengan janda Adipati Hunus, Nyi Mas Ratu Ayu, puteri Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati.

Keberadaan Tughril, Fadhillah, dan Khwaja Zainal Abidin yang dipercaya Tranggana membangun angkatan perang Demak telah membentuk pola kemiliteran baru yang merupakan perpaduan antara dasar-dasar kemiliteran setempat dengan Portugis dan Pasai. Angkatan bersenjata Demak yang sebelumnya hanya terdiri atas pasukan tombak dan sedikit pasukan berkuda telah dikembangkan sedemikian rupa dengan pembentukan satuan-satuan pemanah, meriam, dan senapan. Formasi gelar perang pun tidak mengikuti cara lama yang mengandalkan jumlah besar pasukan. Keyakinan diri, keberanian, ketangguhan, keuletan, ketabahan, dan kepantang-menyerahan dijadika dasar utama dalam pembinaan mental setiap prajurit.

Ketika hiruk latihan tempur sedang dilakukan satuan-satuan tempur baru di bawah arahan Tughril, Fadhillah, dan Khwaja Zainal, terbetik sebuah laporan singkat dari Malaka yang mengejutkan Tranggana tentang rencana Portugis membangun benteng di pelabuhan Banten dan Kalapa yang merupakan dua pelabuhan utama Kerajaan Sunda. Laporan yang diperoleh Tranggana dari utusan Sultan Malaka di Banten itu melempar kembali ingatannya pada peristiwa empat tahun silam, ketika Syarif Hidayatullah Susuhunan Gunung Jati memberi tahunya tentang perjanjian antara Kerajaan Sunda dan penguasa Portugis di Malaka yang dilakukan di pelabuhan Kalapa.

Selain dari Syarif Hidayatullah, Tranggana beroleh kebenaran adanya perjanjian Kerajaan Sunda dengan Portugis itu dari Khwaja Zainal. Menurut Khwaja Zainal, antara tanggal 18 – 21 Agustus 1522, barang tiga tahun silam, memang telah dilakukan perjanjian antara Kerajaan Sunda dan penguasa Portugis di Malaka melalui wakil-wakil mereka. Ratu Sanghyang Maharaja Sunda menunjuk Adipati Siput Tumenggung Argatala dan syahbandar Kalapa untuk mewakilinya dalam perjanjian tersebut. Jorge d’Albuquerque penguasa Malaka diwakili oleh Amrrique Leme, didampingi saksi-saksi utama: Fernam d’Almeyda, kapten kapal, Framcisquo Annes, saudagar wakil raja, Baltesar Memdez, juru tulis, Nicolao da Sylva, juru tinggi kapal, Jorge d’Oliveira, juru mudi kapal, dan para perwira militer seperti Manuell Mendez, Sebastio Diaz do Rego, Francisco Diaz, Joham Coutinho, Joham Goncalvez, Gil Barbosa, T0mee Pymto, Ruy Goncalvez, Joham Rodriguez, Joham Fernandez, Diogo Fernandez, Diogo Diaz, Alfonso Fernandez. Berdasar perjanjian tersebut, Portugis akan mendirikan benteng di pelabuhan Kalapa untuk melindungi Kerajaan Sunda dengan imbalan akan memperoleh lada berharga murah.

Kabar bakal dibangunnya benteng Portugis di Banten dan Kalapa itu dalam waktu pendek meluas ke sepanjang pesisir utara Nusa Jawa. Rupanya, Tranggana diam-diam sengaja menyebarluaskan kabar tersebut kepada alim ulama asal Maghribi, Socotra, Kozhikode, Cochazi, Goa, dan Malaka yang tinggal di kawasan tersebut. Hasilnya sudah bisa ditebak, betapa para alim yang tercekam sikap antipati terhadap Portugis itu dengan tergopoh-gopoh datang ke Demak menghadap Tranggana. Mereka memohon agar Tranggana selaku pelindung agama Islam di Nusa Jawa mengambil tindakan tegas terhadap rencana Portugis tersebut. Namun, dengan sangat diplomatis Tranggana menyatakan bahwa selaku sultan yang berkedudukan sayidin panatagama, ia tidak memiliki kewenangan untuk menindak Portugis yang akan mendirikan benteng di pelabuhan Banten dan Kalapa. “Orang-orang Peranggi dan orang-orang Sunda mengadakan perjanjian dagang. Tidak ada kaitan dengan agama. Selaku sultan yang hanya berwenang menjadi pelindung agama, aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menindak baik Peranggi maupun Sunda. Urusan Peranggi dan Sunda adalah urusan dagang,” kata Tranggana dingin.

Jawaban Tranggana yang dingin itu menampar keras kesadaran para alim. Mereka baru sadar jika selama itu, sejak mangkatnya Adipati Hunus, di Nusa Jawa sesungguhnya tidak ada pemimpin tertinggi dari persekutuan adipati. Padahal, umat Islam dan khususnya mereka sangat membutuhkan pemerintah yang kuat yang bisa melindungi mereka dari musuh-musuh. Mereka butuh pemerintah yang memiliki pasukan bersenjata dan tidak sekadar mengurusi tata kehidupan beragama. Mereka butuh pemerintah yang mengurusi tata kehidupan bernegara dan bermasyarakat. Akhirnya, tidak ada lagi yang dapat mereka lakukan kecuali mendaulat Majelis Wali Songo untuk menobatkan Tranggana sebagai Sultan Demak yang memegang kekuasaan adipati, senapati, dan sayidin panatagama. Untuk itu, mereka mengawali dengan menyatakan sumpah setia secara terbuka mendukung kepemimpinan Tranggana sebagai satu-satunya raja dan pelindung agama di Nusa Jawa.

Tranggana tentu saja menyambut gembira pernyataan alim ulama yang umumnya memiliki banyak pengikut itu. Ia merasakan sekujur tubuhnya digetari kegembiraan meluap-luap. Di tengah luapan kegembiraan itu, ia dapati naga hitam yang bersemayam di kedalaman relung-relung jiwanya, meraung-raung kelaparan ingin memangsa siapa saja makhluk yang terlihat sebagai musuh-musuhnya. Naga hitam itu terus meraung dan membesar tubuhnya seolah-olah menutupi cakrawala kesadaran Tranggana. Bahkan, karena berkuasanya sang naga hitam di kedalaman jiwa Tranggana, sampai-sampai Yang Dipertuan Demak itu tidak bisa lagi membedakan apakah ia masih seorang manusia atau seekor naga hitam bermahkota. Hari-hari dari hidup Tranggana panas membara akibat semburan-semburan api dari mulut sang naga hitam yang membakar jaringan tubuh dan jiwanya. Anehnya, semakin sering sang naga hitam menyemburkan api dari mulutnya, Tranggana merasakan tubuh dan jiwanya semakin kuat seolah campuran berjenis-jenis logam yang ditempa menjadi senjata pusaka.

Khawatir rencana Portugis membangun benteng di Banten dan Kalapa akan menghadang ambisinya menjadi penguasa Jawa, Tranggana mengirim 1.000 orang prajurit pilihan di bawah pimpinan Fadhillah ke Caruban. Kepada Yang Dipertuan Caruban Sri Mangana, Tranggana meminta bantuan pasukan untuk menyerang Banten dan Kalapa. Sri Mangana menambah pasukan Demak dengan 967 orang prajurit Caruban pilihan dipimpin Pangeran Cirebon, puteranya, selaku manggala yang didampingi adipati Keling, adipati Kuningan, dan adipati Cangkuwang. Pasukan gabungan Demak dan Caruban itu tidak menundukkan Kalapa dulu, melainkan langsung ke Banten yang keadaannya sudah kisruh akibat Pangeran Sabakingking, putera Syarif Hidayatullah dengan Nyi Kawunganten, mengadakan kekacauan bersama pengikut-pengikutnya.

Sejak berangkat dari Caruban, pasukan gabungan yang dipimpin Fadhillah disiagakan untuk menduduki pelabuhan Panjang yang dalam setahun belakangan dijadikan pelabuhan lada oleh Yang Dipertuan Banten. Kapal-kapal milik saudagar Sunda dari pelabuhan Banten, Kalapa, Cibuaya, dan Pamanukan secara diam-diam mengangkut lada dari gudang-gudang penimbunan yang dibangun di pelabuhan Panjang untuk dibawa ke Malaka. Bahkan, beberapa kali orang melihat kapal-kapal Portugis bersandar di pelabuhan Panjang untuk mengangkut lada. Di pelabuhan Panjang inilah Portugis rencananya akan mendirikan benteng untuk melindungi Banten dari penguasa-penguasa muslim di sekitarnya.

Sejak kekisruhan yang dilakukan Pangeran Sabakingking dan pengikut-pengikutnya, Yang Dipertuan Banten Prabu Sedah nyaris kebingungan. Sebab, putera Syarif Hidayatullah itu tidak sekadar didukung oleh penduduk beragama Islam yang kebanyakan adalah pengikut Ki Kawunganten yang tinggal di Waka, Pontang, Kasemen, dan Karanghantu, tetapi didukung pula oleh penduduk di sekitar gunung Pulasari. Bahkan Rsigana Domas, delapan ratus orang resi yang tingga di gunung Pulasari di bawah pimpinan Brahmana Kandali, diketahui memihak kepada Pangeran Sabakingking. Kebingungan Yang Dipertuan Banten makin sempurna manakala tanpa terduga-duga, pasukan gabungan Demak dan Caruban secara tiba-tiba menduduki pelabuhan Panjang dan mendirikan pertahanan kuat di sana. Prabu Sedah tidak memiliki kekuatan lagi sebab dengan dikuasainya pelabuhan Panjang dan kawasan pantai di Waka, Pontang, Kasemen, serta Karanghantu oleh Pangeran Sabakingking, pintu keluar Banten Girang ke daerah-daerah lain telah tertutup.

Kabar keberhasilan pasukan gabungan Demak dan Caruban yang dipimpin Fadhillah menduduki pelabuhan Panjang disambut gembira di Caruban dan terutama di Demak. Namun, di tengah kegembiraan itu, tanpa ada yang menduga tersiar kabar Sang Ratu Caruban Larang Sri Mangana mangkat tak lama setelah berziarah ke makam Syaikh Datuk Kahfi. Seluruh Kehidupan di Caruban seperti terhenti selama beberapa kejap. Angin tidak bertiup. Sungai-sungai seolah tidak mengalir. Burung-burung tidak ada yang terbang. Ikan-ikan berhenti berenang. Hewan ternak berhenti memamah biak. Manusia-manusia hilir mudik di jalanan menghentikan langkah dan kendaraan yang ditumpanginya. Mereka berdiri dengan dada kosong dan air mata membasahi pipi. Semua berhenti seolah ingin menghormati kepergian seorang raja yang alim, arif, bijaksana, zuhud, dan dicintai rakyatnya menghadap ke hadirat Maharajadiraja Penguasa semesta.

Sepeninggal Sri Mangana, para wali nagari dan gedeng se-Caruban Larang sepakat memilih Pangeran Muhammad Arifin putera Syarif Hidayatullah untuk menggantikan kedudukan sebagai khalifah Caruban. Semua sepakat memilih pangeran yang masih muda itu karena dianggap sebagai orang yang memenuhi syarat-syarat khilafah sebagaimana diajarkan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Pangeran Muhammad Arifin sendiri dikenal sebagai sahabat akrab Syaikh Datuk Bardud, putera Syaikh Datuk Abdul Jalil. Bahkan, nama Pasarean (pekuburan) yang diberikan oleh Syaikh Datuk Bardud kepadanya ditafsirkan oleh para wali nagari dan gedeng – yang sebagian besar adalah pengikut Syaikh Datuk Abdul Jalil – sebagai tanda keberhasilan putera Syarif Hidayatullah dalam mengamalkan ajaran ‘mati sebelum Kematian’ (mutu qabla an-tamutu) sebagaimana yang disampaikan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Demikianlah, Pangeran Muhammad Arifin yang dikenal orang dengan nama Pangeran Pasarean itu dinobatkan sebagai pengganti Sri Mangana menjadi pemimpin pemerintahan (amir al-mu’minin) dan penguasa keagamaan (sayidin panatagama). Sementara Pangeran Cirebon, putera Sri Mangana yang telah ditunjuk oleh ayahandanya menjadi manggala dalam penyerbuan ke Banten dan Kalapa, ditetapkan sebagai pengganti kedudukan ayahandanya sebagai manggalayuddha (senapati ing alaga) yang memiliki kewenangan dalam menata dan memerintah kekuatan militer Caruban.

Di tengah pergantian kepemimpinan di Caruban Larang, terdengar kabar dari Malaka yang menyatakan pertahanan Sultan Malaka di Bentam baru saja dihancurkan oleh pasukan Portugis di pimpinan gubernur Malaka Pedro Mascarenhas. Dalam penyerbuan itu, pasukan Portugis diperkuat oleh pasukan pimpinan Francisco de Sa. Yang lebih mengejutkan, sehari setelah itu tersebar kabar susulan yang menyatakan bahwa gubernur Malaka menitahkan de Sa pergi ke negeri Sunda untuk membangun benteng di sana. De Sa membawa armada besar. Ia sendiri naik sebuah kapal perang dengan 300 orang prajurit pilihan. Armada de Sa diperkuat oleh Duarte Coelho yang membawa sebuah kapal jenis galeota dan dua kapal jenis fusta. Sebagai siasat penyerangan, de Sa memerintahkan sebagian kapalnya berangkat lebih dulu ke Jawa. Menurut rencana, pada minggu ketiga bulan Juni 1526 seluruh kapal akan berkumpul di Kalapa untuk melindungi pembuatan benteng di sana.

Mendengar kabar keberangkatan armada Portugis itu, Tranggana yang masih diliputi rasa bangga dengan keberhasilan pasukannya menguasai pelabuhan Panjang, buru-buru mengirim Tughril ke Caruban dengan kekuatan 500 orang prajurit pilihan. Tughril diperintah untuk meminta bantuan pasukan dari Caruban kepada pengganti Sri Mangana. Karena Pangeran Cirebon, manggala Caruban, sedang memimpin pasukan bersama Fadhillah di Banten, Pangeran Pasarean selaku khalifah Caruban mengirim Pangeran Wirakusuma, putera Pangeran Cirebon, untuk memimpin 1.000 orang prajurit Caruban dan bergabung dengan prajurit Demak untuk merebut pelabuhan Kalapa sebelum Portugis datang dan mendirikan benteng di sana.

Sesuai rencana, Kalapa akan diserang dari dua arah, dari arah barat oleh pasukan yang dipimpin Fadhillah dan dari arah timur yang dipimpin Tughril. Sekalipun dengan kekuatan 1.500 orang Tughril yakin dapat merebut Kalapa, sebagai seorang pejuang yang pernah terlibat pertempuran dengan Portugis di Pasai, ia merasa heran dengan keberadaan prajurit-prajurit Caruban yang tidak mau menggunakan meriam dan senapan. Ketika hal itu ditanyakan Tughril kepada Syaikh Datuk Bardud, sepupunya, ia diberi tahu bahwa ayahandanya telah melarang penggunaan senjata-senjata penyembur api seperti meriam, gurnita, dan senapan dengan alasan senjata berpengaruh setani. “Karena kakek kami, Sri Mangana almarhum, menyetujui pandangan ayahanda kami maka ia melarang pasukan Caruban menggunakan meriam, gurnita, dan senapan,” Syaikh Datuk Bardud menjelaskan.

“Tapi yang akan kita hadapi di Kalapa nanti adalah pasukan Portugis yang sudah termasyhur kehebatannya di medan tempur. Meriam-meriam dan senapan-senapan yang mereka gunakan tidak mungkin kita lawan dengan panah, tombak, pedang, keris, dan pentungan,” kata Tughril tidak paham dengan penjelasan Syaikh Datuk Bardud.

“Manakah menurutmu yang lebih unggul, o Saudaraku, senjata meriam dan senapan dibanding senjata iman seorang sahabat Allah?” tanya Syaikh Datuk Bardud.

“Tentu saja senjata iman seorang sahabat Allah lebih dahsyat,” kata Tughril masih belum paham, “Tetapi yang akan menghadapi meriam dan senapan Portugis itu prajurit-prajurit Demak dan Caruban yang aku pimpin. Aku bukan sahabat Allah, begitu pula prajurit-prajuritku.”

“Sebelum engkau berangkat, mohonlah doa restu dari guru suciku, Syaikh Maulana Jati. Ia telah diajari oleh ayahandaku untuk meminta kepada Allah agar menggerakkan tentara-Nya (jundullah) dalam pertempuran melawan para pemuja taghut. Yakinlah bahwa dengan perkenannya, engkau akan meraih kemenangan melawan pasukan Portugis yang bersenjata meriam dan senapan,” kata Syaikh Datuk Bardud.

Di dalam selimut kabut dan gumpalan awan yang mencurahkan hujan lebat, pada suatu siang yang gelap kelabu, perahu-perahu yang memuat prajurit gabungan Demak-Caruban yang datang dari Caruban merapat di pantai Cilincing di timur pelabuhan Kalapa. Pada saat hampir bersamaan, perahu-perahu bermuatan prajurit gabungan Demak-Caruban yang datang dari pelabuhan Panjang merapat di pantai Kamal di barat pelabuhan Kalapa. Lalu, seperti kawanan hantu yang berbaris di tengah keremangan senjakala, kedua pasukan itu bergerak tanpa suara. Rawa-rawa dangkal berlumpur dengan pohon-pohon bakau yang sering dijadikan sarang buaya tidak dianggap sebagai penghalang bagi kedua pasukan yang berlomba menjadi yang pertama sampai di Kalapa.

Setelah berjalan setengah berlari selama beberapa jam, iring-iringan pasukan gabungan Demak-Caruban mulai melihat pelabuhan Kalapa, yang samar-samar tampak seperti kerumunan pohon, pondok, dan tiang-tiang kapal yang kelabu tertutup tirai hujan dan kabut. Dengan tubuh basah kuyup, semua merunduk dan mendekam. Lalu, sambil menggunakan isyarat gerakan tangan, jatah makanan dibagikan. Prajurit-prajurit yang kelaparan dan kedinginan itu melahapnya dengan ganas. Usai menyantap jatah makan, mereka bergerak lagi mendekati Kalapa yang makin tampak remang-remang karena hari telah memasuki senjakala.

Ketika hari benar-benar gelap dan hujan tersisa dalam gerimis tipis, terjadi peristiwa yang sudah ditunggu-tunggu oleh semua prajurit. Sebuah pondok di ujung dermaga terbakar hebat. Pertanda penyerangan atas Kalapa dimulai. Teriakan-teriakan perang terdengar bersahutan dan sambung-menyambung diikuti oleh bergeraknya bayangan-bayangan hitam dari kegelapan, menerjang ke depan dengan panji-panji digoyang-goyang dan tombak diacungkan. Semua bergerak sangat cepat seolah berpacu saling mendahului. Karena jalanan berlumpur dan menjadi licin akibat hujan, beberapa sosok bayangan terbanting dengan keras ke tanah, tetapi secepat itu kawan-kawannya menarik dan menggeretnya untuk bangkit dan berlari. Beberapa orang yang berlari di bagian depan berteriak lantang memberi arahan kepada kawan-kawannya.

“Ke rumah syahbandar!”

Di tengah gelap yang hanya sesekali ditandai kilatan petir, jarak bayangan-bayangan hitam para prajurit yang berlari itu semakin dekat dengan kediaman syahbandar Kalapa. Teriakan-teriakan liar bersahutan di antara suara benturan senjata. Para prajurit Sunda yang menjaga kediaman syahbandar Kalapa hanya sedikit jumlahnya. Mereka terkejut menghadapi serangan mendadak yang tak mereka sangka-sangka. Mereka melawan sekuat-kuatnya, tetapi dengan mudah ditewaskan atau dihalau dari kubu pertahanan. Kepanikan merebak di mana-mana. Syahbandar Kalapa yang melakukan perlawanan bersama pengawal-pengawalnya tanpa kesulitan dibinasakan oleh para penyerang yang bertempur bagaikan kawanan hewan buas mencabik-cabik mangsa. Dalam semalam, pelabuhan Kalapa yang dipertahankan oleh sekitar 1.000 orang prajurit Sunda itu jatuh ke dalam kekuasaan pasukan gabungan Demak-Caruban.

Kemenangan merebut pelabuhan Kalapa tidak dirayakan. Sebaliknya, seluruh pasukan digabungkan menjadi satu di bawah kepemimpinan Tughril untuk menghadapi pasukan Portugis yang sedang dalam perjalanan menuju Kalapa. Menurut perhitungan Tughril, meriam-meriam yang sudah ditempatkan pasukan gabungan Demak-Caruban di pelabuhan Panjang dipastikan akan menghalau armada Portugis yang akan singgah di sana. Portugis yang belum tahu jika Kalapa sudah jatuh pasti akan mengarahkan armadanya ke pelabuhan Kalapa. Untuk menghadang kedatangan armada Portugis, pihaknya akan menunggu di pantai sesuai petunjuk Susuhunan Gunung Jati. Meski agak kurang yakin sepenuhnya dengan penjelasan Datuk Bardud, bahwa Susuhunan Gunung Jati mampu meminta datangnya balatentara Allah, dan lantaran itu ia memerintahkan pembangunan kubu-kubu dari kayu dan bambu di sekitar muara, tak urung Tughril memerintahkan kepada seluruh pasukan untuk tidak menyerang musuh sebelum mendarat di pantai. Tughril terombang-ambing antara desakan nalarnya yang liar dan tali kendali keyakinannya yang kadang kencang tapi kadang mengendor.

Sementara, ketika armada yang dipimpin de Sa baru beberapa saat melintasi Selat Sunda tiga empat legoa (1 legoa = 5,5 mil laut), terjadi peristiwa yang hampir membuat semua pelaut di dalam armada itu ketakutan. Hujan angin turun sangat ganas disusul amukan puting beliung yang menerjang kapal-kapal raksasa itu, laksana tangan-tangan raksasa terjulur dari balik gumpalan awan mempermainkan sabut-sabut kelapa di atas laut. Kapal perang yang ditumpangi de Sa tergulung badai dan dijauhkan dari pantai Sunda, terseret gelombang hingga ke ujung timur Nusa Jawa. Kapal perang yang ditumpangi Duarte Coelho dengan satu kapal galeo dan satu kapal fusta pendampingnya berhasil lolos dari amukan badai. Coelho dan seluruh awaknya belum sadar jika kapal yang ditumpangi pemimpin mereka, de Sa, telah terseret arus dan badai jauh ke arah timur berpuluh-puluh legoa. Coelho memutuskan untuk membawa tiga kapal yang dipimpinnya ke pelabuhan Kalapa mendahului kapal de Sa. Ia berharap raja Sunda sahabat Portugis akan menyambutnya dan membantu perbaikan layar kapal-kapalnya yang rusak akibat badai.

Ketika iring-iringan kapal yang dinakhodai Coelho melintasi pulau-pulau kecil yang tersebar di teluk Kalapa, bergeraklah gumpalan awan hitam dari arah selatan menutupi langit. Pada saat bersamaan terlihat gumpalan kabut memenuhi permukaan laut. Lalu, seperti dua hamparan kegelapan disatukan, gumpalan awan hitam di langit dan gumpalan kabut di permukaan laut itu disatukan oleh gemuruh hujan dan diselingi ledakan halilintar. Semua awak kapal yang beberapa waktu sebelumnya sempat melihat remang-remang pelabuhan Kalapa, tercekam kegentaran ketika menyaksikan gumpalan awan hitam, kabut, hujan, dan halilintar bergerak cepat ke arah kapal-kapal mereka. Semua merasakan jantungnya berdebar-debar saat melihat putting beliung bergerak seperti tangan raksasa mengaduk-aduk laut.

Coelho yang masih tercekam kengerian amukan putting beliung di lepas Selat Sunda hanya membelalakkan mata dan menutup mulutnya rapat-rapat ketika pusaran putting beliung menyambar kapal fusta yang melaju di depannya. Kapal berukuran panjang dengan dua tiang dan 15 bangku pendayung itu seperti sabut dicengkeram tangan yang kuat, meronta tak berdaya ketika tiang-tiangnya satu demi satu patah. Ia menahan napas ketika menyaksikan kapal yang bermuatan 30 orang itu terangkat dari permukaan laut dan kemudian terlempar keras ke daratan. Menyaksikan keanehan demi keanehan peristiwa yang dialami sejak terempas badai di lepas Selat Sunda, ia tidak dapat berbuat lain ketika kapal yang ditumpanginya dan galeo yang berada di dekatnya terseret arus dan badai ke arah daratan, menyusul kapal fusta yang sudah tersungkur lebih dahulu di tengah rawa-rawa berlumpur. Ia hanya bisa memerintahkan kepada awak kapalnya untuk berdoa kepada Tuhan.

Di tengah kepasrahan atas nasib yang bakal mereka alami, terjadi suatu keanehan. Badai tiba-tiba menyingkir. Gumpalan awan hitam dan kabut mendadak bergerak ke timur dan menghilang. Saat itulah Coelho menyaksikan pemandangan yang membuat dadanya sesak dan tenggorokannya kering: sekumpulan orang bersenjata tombak dan kelewang menangkapi para awak kapal fusta yang sebagian melakukan perlawanan. Perlawanan tak berarti dari awak-awak kapal malang itu berakibat terjadinya penyembelihan terhadap kawan-kawan mereka. Tidak peduli tentara atau pendayung, satu demi satu seolah sengaja memamerkan kebuasan – awak kapal fusta dijagal tanpa kenal belas kasihan.

Terkejut oleh peristiwa tak terduga itu, Coelho mengirim sebuah perahu yang mengibarkan bendera putih untuk mengajak orang-orang bersenjata itu berunding. Namun saat perahu itu mendekat, dari balik gundukan-gundukan tanah dan kubu-kubu kayu yang memanjang di pantai, berhamburan ratusan anak panah disusul letusan senapan. Awak perahu yang tak menduga bakal diserang, buru-buru berbalik arah. Kembali ke kapal. Coelho dengan napas sesak menyaksikan bagaimana orang terakhir dari awak kapal fusta itu disembelih dan mayatnya dilempar ke lumpur. Sejak mengalami peristiwa mengerikan, dan berkat pertolongan Tuhan saja yang tersisa bisa selamat, Duarte Coelho tidak mau lagi ke Sunda. Tanpa menunggu lebih lama kedatangan kapal de Sa, ia kembali ke Malaka.

De Sa yang belum mengetahui nasib malang yang dialami awak kapal Duarte Coelho, mengumpulkan kapal-kapal perang yang sudah disebarnya lebih dahulu di sejumlah pelabuhan di Jawa. Ia menunggu mereka di pelabuhan Panarukan. Tak kurang dari tujuh kapal perang besar dengan tiga galeo dan tiga fusta berkumpul. Dari Panarukan, ia dengan penuh yakin diri memimpin armada ke pelabuhan Kalapa. Ketika sampai di teluk Kalapa, ia mendapati permukaan air laut sedang surut. Tanpa mengetahui jika Kalapa sudah jatuh ke tangan pasukan gabungan Demak-Caruban, ia mendarat di Kalapa dengan sekoci-sekoci yang memuat sekitar tujuh puluh orang prajurit bersenapan.

Ketika naik ke daratan, De Sa menangkap gelagat tidak beres karena pelabuhan Kalapa yang selalu ramai itu terasa sekali lengang. Ia bergegas menuju kediaman syahbandar. Sebelum masuk, ia memerintahkan beberapa orang untuk memberi tahu syahbandar yang seharusnya menyambut kedatangannya. Saat orang-orang yang disuruhnya itu kembali, ia terperangah mendengar laporan bahwa yang menguasai kediaman syahbandar adalah pejuang asal Pasai yang sudah mereka kenal, dua bersaudara Tughril dan Fadhillah Khan.

Tercekam oleh tugas yang diemban untuk secepatnya mendirikan benteng di Kalapa, De Sa tidak berpikir panjang. Saat itu pula ia memerintahkan pasukannya untuk merebut kediaman syahbandar Kalapa. Namun, dua orang pejuang asal Pasai yang sudah menyiagakan pasukan dengan keberanian luar biasa menyerang de Sa dan pasukan yang mengawalnya. Terjadi pertempuran jarak pendek. Prajurit Portugis yang tidak memiliki kesempatan mengisi senapan dalam pertempuran jarak pendek itu menjadi sasaran empuk bagi tombak dan keris yang digunakan Tughril dan Fadhillah beserta prajurit-prajuritnya. Tiga empat orang prajurit Portugis tumbang ke atas tanah berlumpur tanpa nyawa. Yang lain berusaha mundur sambil menlindungi pemimpin mereka. Saat de Sa beserta sisa-sisa pasukan kembali ke kapal dengan sekoci, Fadhillah memimpin dua puluh delapan perahu berisi pasukan panah dan tombak untuk mengejar sekoci-sekoci Portugis yang melarikan diri.

Begitu berhasil naik ke kapal, de Sa buru-buru memerintahkan kapal-kapalnya untuk bergegas pergi meninggalkan teluk Kalapa. Ia sadar, perahu-perahu yang sedang memburunya itu akan menjadi ancaman yang membahayakan bagi kapal-kapalnya. Pertempuran jarak pendek! Ia bayangkan kapal-kapalnya dikerubuti perahu-perahu kecil itu tanpa dapat menggunakan meriam. Pertempuran jarak pendek yang baru saja dialaminya di Kalapa harus dihindari. Demikianlah, di tengah sorak-sorai para penumpang perahu yang dipimpin Fadhillah, kapal-kapal Portugis di bawah de Sa terbirit-birit meninggalkan teluk Kalapa.