Sang Suwung

Ketika Raden Ketib sampai di Caruban, ia tidak langsung kembali ke kediamannya di Tegal Gubuk, tetapi bergegas ke dukuh Lemah Abang, mencari pemukiman baru yang terletak di selatan dukuh tersebut. Namun, yang ditemuinya di selatan dukuh Lemah Abang hanya hutan bambu yang cukup lebat. Tidak satu pun hunian ia temukan di hutan tersebut. Yakin bahwa apa yang diungkapkan Susuhunan Kalijaga tentang kediaman Syaikh Datuk Abdul Jalil adalah Kebenaran, ia berjalan terus menelusuri hutan bambu sampai di perbatasan dukuh Lemah Abang yang baru yang didirikan Hasan Ali. Semakin yakin dengan Kebenaran cerita Susuhunan Kalijaga, ia mengitari lagi hutan bambu yang cukup luas itu. Setelah berputar-putar di tengah rimbunan bambu-bambu, ia mendapati sebuah keanehan pada salah satu celah yang terdapat pada sekumpulan rumpun yang lebat. Aneh, sebab celah itu dijaga oleh tak kurang lima orang prajurit bersenjata tombak.

Penasaran dengan keanehan itu, Raden Ketib mendekati kelima prajurit tersebut. Kepada mereka ia menanyakan ini dan itu, terutama tentang keberadaan mereka di situ. Seolah tidak pedulu berhadapan dengan seorang gedeng, salah seorang prajurit itu menegaskan bahwa ia dititahkan oleh Syaikh Maulana Jati Susuhunan Caruban Larang untuk menjaga celah itu. “Kami tidak tahu apa yang kami jaga. Tetapi kami diperintahkan untuk menolak siapa pun di antara manusia yang akan melewati jalan ini,” kata prajurit itu menunjuk celah itu.

Raden Ketib diam. Ia sadar bahwa jalan setapak di celah rumpun bambu itu pastilah jalan menuju tempat Syaikh Datuk Abdul Jalil tinggal. Namun, ia juga sadar bahwa para prajurit itu pasti akan menolaknya masuk ke celah itu. Lantaran itu, ia hanya meminta izin kepada para prajurit untuk sekedar beristirahat beberapa bentar di situ. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk bisa melewati penjagaan itu. Untuk meminta ijin Syaikh Maulana Jati pun tidak mungkin dilakukan karena yang bersangkutan berada di Banten. Akhirnya, ia hanya duduk sambil menenangkan diri dan berharap beroleh cara untuk bisa masuk.

Setelah cukup lama berdiam diri, tiba-tiba Raden Ketib mendengar detak-detak ladam kuda mendekat dari arah utara. Saat ia menoleh, ia terkejut. Tak jauh di belakangnya, di antara rimbunan rumpun bambu, ia melihat Pangeran Pasai Fadhillah Khan melompat turun dari atas kuda tunggangannya. Lalu dengan tersenyum dia mendekat dan berkata, “Engkau akan menemui dia yang sudah ditarik Allah (majdzub) dalam kemabukan (sukr) tak bertepi?”

“Kami menunggu perkenan untuk menghadap,” kata Raden Ketib.

“Masuklah! Engkau sudah diperkenankan meluhatnya,” kata Fadhillah memberi isyarat tangan kepada para prajurit penjaga, “Tetapi ingat, engkau hanya menyaksikan. Menyaksikan. Bersaksi. Tidak lebih. Jangan melakukan sesuatu yang tidak disukainya.”

“Terima kasih,” sahut Raden Ketib, “Tapi bolehkah kami mengetahui nama tempat itu?”

“Kami menyebutnya Suwung! Hampa!”

“Apakah hanya ada satu tempat bernama Suwung?”

“Ada tiga. Yang satu di tanah Bali. Yang satu di Banten. Yang satu di sini.”

Setelah mengucapkan terima kasih, Raden Ketib melesat ke celah rumpun bambu. Ternyata, celah itu merupakan jalan setapak yang berliku. Beberapa lama berjalan melewati jalan berliku itu, ia merasakan suasana aneh menyelimuti keadaan sekitarnya. Ia tidak tahu keanehan apa yang dirasakannya. Ia hanya merasa betapa ungkapan Syaikh Datuk Bardud tentang Kehampaan dan Kesunyian sebagai kediaman sang rajawali ia rasakan mulai menerkam jiwanya. Saat sampai di sebuah tanah lapang, ia melihat beberapa ekor anjing berlarian di depan seekor singa yang tidur di bawah sebatang pohon. Anehnya, anjing-anjing itu tidak menyalak dan singa itu tidak mengaum. Merekaa bersahabat sangat akrab. Ketika ia mengongak ke langit terlihat dua-tiga ekor rajawali terbang berputar-putar. Anehnya, burung perkasa itu tidak memperdengarkan pekikannya. Semua diam. Sunyi. Hening. Bahkan rumpun bambu yang biasanya berderit, tidak sedikit pun terdengar bunyinya.

Di tengah keheranannya merasakan keanehan suasana sekitar, Raden Ketib melihat tanah lapang di depannya itu ditumbuhi lima enam gubuk bambu beratap daun kawung. Melihat gubuk-gubuk kecil yang sangat sederhana itu, ia menarik napas berat. Ia merasakan keharuan mencakari hatinya. Sungguh, ia tak pernah membayangkan bahwa manusia raksasa yang membawa perubahan besar itu harus hidup terkucil di tempat seperti itu dalam keadaan hilang ingatan karena terpengaruh tarikan Ilahi. Betapa sepi dan sunyinya hidup di tengah hutan bambu berkawan hewan-hewan bisu. Namun, secepat itu ia sadar bahwa apa yang disaksikan oleh mata indriawi tidaklah mewakili kenyataan yang sebenarnya. Ia sadar, apa yang ia bayangkan tentang sosok Syaikh Datuk Abdul Jalil tidaklah sama persis dengan kenyataan yang sebenarnya tentang yang bersangkutan.

Ketika Raden Ketib baru saja melangkah mendekati gubuk-gubuk itu, ia melihat seorang perempuan setengah umur bertubuh tinggi semampai berjalan sangat cepat dari satu gubuk ke gubuk yang lain diikuti dua ekor anjing hitam kemerahan dan putih belang. Sekalipun sudah berumur, garis-garis kecantikan masih terlihat jelas di wajahnya. Anehnya, beberapa kejap menyaksikan perempuan itu, ia merasakan benderang terangnya mata batin (‘ain al-bashirah) menyingkap kesadarannya. Tanpa ada yang memberi tahu, ia tiba-tiba sadar bahwa perempuan setengah umur yang diikuti dua ekor anjing itu adalah Nyi Mas Gandasari, kakak perempuan Syaikh Datuk Abdul Jalil. Rupanya, panglima perempuan Caruban yang menghilang sejak jatuhnya Rajagaluh itu mengalami peristiwa yang sama dengan yang dialami adiknya, yaitu terpengaruh tarikan Allah (majdzub) dan hilang kesadaran manusiawinya.

Tak lama setelah Nyi Mas Gandasari masuk ke dalam gubuk, Raden Ketib melihat seorang laki-laki tua membawa tongkat berjalan cepat keluar dari gubuknya. Melihat sosoknya, usia laki-laki itu tak kurang dari delapan puluh tahun. Namun, dia masih sangat teguh dan tidak sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan tumbang. Rambutnya yang putih tampak terurai hingga sebatas lutut. Alisnya yang putih tebal seperti segumpal kapas menempel di atas matanya. Kumis dan janggutnya yang putih menggantung sebatas dada. Di lehernya melilit seekor ular belang besar. Meski tua dan tidak terurus, sorot matanya yang berkilat laksana harimau menggetarkan yang melihatnya. Ia mendadak sadar, lelaki tua yang ia lihat itu tidak lain dan tidak bukan adalah Ki Waruanggang, seorang bekas pendeta Bhairawa bernama Wiku Suta Lokeswara. Dia adalah adik Pandita Asmaranatha, Mantri Herhaji Majapahit yang bergelar Dang Acarya Candralekha alias Rishi Punarjanma. Ia adalah pendeta Bhairawa yang mengasuh Danghyang Nirartha. Sungguh, tak ada yang menduga jika bekas pendeta pemakan manusia dan peminum darah itu bisa mendapat derajat ruhani begitu tinggi hingga tinggal di Suwung bersama Syaikh Datuk Abdul Jalil.

Tak lama setelah Ki Waruanggang berjalan, muncul pula dari gubuknya seorang laki-laki tegap berusia kurang dari empat puluh tahun. Tubuhnya masih kukuh dengan kulit terang dan wajah tampan. Sekalipun rambutnya dibiarkan terurai sepunggung awut-awutan, gerak-geriknya yang mencerminkan kebangsawanan tidak hilang. Ada keagungan dan kewibawaan darah biru yang terpancar dari sosok tak terurus itu. Lewat pandangan batin, Raden Ketib mengetahui jika lelaki gagah itu adalah Pangeran Kebo Kenanga yang masyhur disebut dengan nama Ki Ageng Pengging, menantu Susuhunan Kalijaga. Rupanya, kabar yang menyatakan ia dibunuh Raden Ja’far Shadiq hanya isapan jempol. Yang Dipertuan Pengging, yang terpengaruh tarikan Allah itu, tinggal bersama guru suci dan sekaligus kakek istrinya. Para pengawalnya dari Pengging yang berjumlah sekitar tiga ratus orang tinggal di kuta Caruban, tepatnya di utara kraton yang disebut Kasunean.

Setelah melihat Nyi Mas Gandasari, Ki Waruanggang, dan Ki Ageng Pengging, Raden Ketib mendekat ke arah gubuk-gubuk. Di ujung gubuk paling barat ia mendapati seorang laki-laki tua duduk bersila di bawah sebatang pohon. Rambutnya yang kemerahan terurai sebatas punggung. Wajahnya hampir tertutup kumis dan cambang yang berwarna kemerahan juga. Hidungnya mancung. Alisnya tebal. Matanya yang terpejam menyembunyikan keagungan. Bentuk tubuhnya tinggi dan tegap. Anehnya, meski keadaan tubuhnya tidak terawat dan mirip orang tidak waras, pancaran kewibawaan yang berpendar dari sosoknya sangat menggetarkan. Raden Ketib merasakan sendi lututnya lemas dan jantungnya berdebar-debar ketika memandangnya. Tidak syak lagi, laki-laki berambut kemerahan itu pastilah Syaikh Datuk Abdul Jalil, katanya dalam hati.

Didorong oleh rasa cinta dan hormat, Raden Ketib mendekat ke arah laki-laki berambut kemerahan itu dengan berjalan merunduk. Ketika jaraknya tinggal empat lima langkah, ia berhenti dan duduk bersimpuh. Tak tahan menghadap pancaran wibawanya, ia membungkuk hendak bersujud. Namun, baru saja ia menekuk punggung, tiba-tiba lelaki itu mengangkat tangan kanannya dan berkata-kata kepadanya dengan isyarah.

“Janganlah kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna menarik kesadaranmu dan menjadi beban yang menindih punggungmu hingga engkau menunduk dan bersujud pada sesuatu perwujudan. Sesungguhnya, segala yang maujud adalah citra bayangan dari Yang Wujud. Jika engkau tunduk dan bersujud pada sesuatu yang maujud maka engkau telah membanting kesadaran jiwamu sebagai citra bayangan Yang Wujud. Sejatinya, nilai tiap-tiap yang maujud tergantung pada seberapa kuat ia memancarkan citra Yang Wujud. Itu sebabnya, seekor kucing bagi mereka yang telah mengenal Kebenaran, jauh lebih berharga daripada sebongkah emas.”

Raden Ketib tercengang takjub. Ia merasakan tubuhnya meriang, bibirnya bergetar, tenggorokkannya kering, dan dadanya penuh. Ia takjub karena kemampuannya menangkap bahasa perlambang mendadak sangat tajam dan cemerlang. Bahkan, seperti didorong suatu kekuatan tak kasatmata, ia tiba-tiba dapat lancar berkata-kata dengan bahasa perlambang. “Kami adalah penempuh jalan ruhani (salik) yang tak kenal lelah mencari Kebenaran Sejati. Kami memohon paduka berkenan membagi Pengetahuan kepada kami yang masih terus mencari.”

Laki-laki tua berambut kemerahan itu membuka matanya yang berkilat-kilat seperti memancarkan cahaya. Raden Ketib menunduk tak kuat menahan pandangannya. Sejenak setelah itu, dia berkata lagi dalam bahasa perlambang, “Engkau terlalu sibuk mencari sampai tidak engkau temukan apa yang engkau cari. Sebab, Kebenaran Sejati yang engkau cari telah engkau selubungi sendiri dengan kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna yang jauh dari Kebenaran itu sendiri. Ketahuilah, o Salik, bahwa Wujud Kebenaran (Wujud al-Haqq) adalah Zat Yang Mahatampak (azh-Zhuhur al-Haqq). Dia tampak pada segala sesuatu (azh-Zhahir bi kulli syai’). Dia menampakkan segala sesuatu (azh-Zhahara kulla syai’). Dia nyata atas tiap-tiap sesuatu (azh-Zhahir li kulli syai’). Dia adalah Yang Nyata sebelum segala sesuatu ada (Hawa Zhahir qabla wujudi kulli syai’). Dia meliputi segala sesuatu (Hawa ‘ala kulli syai’).”

“Ibarat seekor ikan kecil di dalam laut mencari air, demikianlah engkau sesungguhnya sedang berenang di Samudera Wujud (Bahr al-Wujud), mencari Wujud Kebenaran (Wujud al-Haqq). Lalu ibarat ikan yang tidak dapat melihat air dan tidak sadar hidup di dalam air, demikianlah engkau tidak dapat melihat Wujud al-Haqq yang meliputi dan bahkan engkau tidak sadar berada di dalam liputan-Nya. Sungguh, Dia meliputi segala sesuatu laksana air meliputi seluruh samudera raya beserta segala isinya.”

“Adakah suatu cara untuk menjadikan ikan sadar akan airnya?” tanya Raden Ketib.

“Diam! Rasakan! Resapi! Hayati! Sadari keberadaan air,” kata laki-laki berambut kemerahan itu dalam bahasa perlambang, “Sebab, selama sang ikan masih menggerakkan sirip dan melihat perwujudan di sekitarnya dengan indera penglihatan, penciuman, pendengaran, pengecapan, dan perabaannya; tidaklah mungkin ia mengetahui hakikat sejati air. Selama ia menggunakan pengetahuan indriawinya, ia masih terbelenggu oleh kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna menyesatkan dari yang maujud. Ia masih terjepit pada kewaktuan yang dibentuk oleh kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna. Padahal, Dia mutlak tidak terikat ruang dan waktu. Lantaran itu, diam adalah kunci utama. Di dalam diam, waktu akan dapat menyingsing. Di dalam diam, sang ikan akan menemukan-Nya. Diam! Diam!”

Raden Ketib terperanjat dengan peringatan lelaki itu tentang diam. Ia mendadak sadar bahwa selama ini ia sangat disibukkan oleh keakuan hingga belum paham dengan apa yang disebut diam. Ia menduga diam adalah suatu keadaan yang sudah jadi. Ternyata, diam adalah keadaan. “akan menjadi”. Keadaan yang harus diperjuangkan keras. Untuk diam, ternyata butuh perjuangan keras karena nalar dan keakuannya tidak pernah bisa diam. Akal dan keakuan. Dua anasir inilah yang selalu mengganggu usahanya untuk diam.

Didorong oleh rasa cinta dan ketundukan yang memenuhi jiwanya, Raden Ketib duduk bersila dan menegakkan badan di hadapan laki-laki berambut kemerahan itu. Kemudian, dengan mengarahkan pandangan ke sosok tersebut ia tutup kedua matanya. Ia berusaha memutuskan belenggu kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna dari ingatannya. Ia merasakan, meresapi, dan menghayati bahwa sosok di hadapannya itu bukanlah sosok Syaikh Datuk Abdul Jalil, bukan sosok seorang guru suci, bukan sosok seorang laki-laki, bukan sosok seorang lelaki tua berambut kemerahan, bukan sosok seseorang yang terpengaruh tarikan Ilahi, bukan pula sosok seorang manusia. Ia menghadapi sosok di depannya tanpa memberi makna apa-apa kecuali sesuatu yang maujud yang diliputi Yang Wujud. Ia berusaha diam. Diam. Diam.

Beberapa jenak diam membuat Raden Ketib terkejut. Ia mendapati semacam pancaran sesuatu yang tak tergambarkan mengalir secara bergelombang-gelombang ke dalam relung-relung jiwanya. Ia merasakan pancaran semacam cahaya berpendar-pendar memenuhi cakrawala kesadarannya. Namun setelah itu, cahaya itu menyingsing dan ia merasakan sesuatu yang lebih aneh di mana tidak ada cahaya dan tidak ada kegelapan. Ia merasakan keberadaannya seperti larut ke dalam keberadaan sosok di depannya.

Ketika Raden Ketib membuka matanya, ia terperanjat bukan alang-kepalang. Sebab, sosok laki-laki berambut kemerahan itu lenyap. Ia hanya menangkap citra kekosongan dari bekas kedudukannya. Sebaliknya, ia saksikan keadaan kosong yang meliputi sekitar kedudukan sosok berambut kemerahan itu penuh dengan aneka perwujudan yang tak tergambarkan yang merangkum makna Kehidupan dan Kematian, Kebenaran dan Kebatilan, Terang dan Gelap, Pahala dan Hukuman, Kebaikan dan Kejahatan, Masa lampau dan Masa mendatang, semua berlangsung sangat aneh dan menakjubkan.

Ketika Raden Ketib memalingkan pandangan melihat keadaan kosong yang meliputi sekitar kedudukan lelaki berambut kemerahan itu, ia justru menyaksikan sosoknya berada pada kedudukan seperti sediakala. Dengan tercengang-cengang, ia terus memandang sosok lelaki berambut kemerahan dan kekosongan yang meliputinya itu ganti-berganti, sehingga ia menjadi kebingungan. Ia kebingungan karena saat itu ia seperti menyaksikan keberadaan sesuatu di depan bentangan cermin yang berhadap-hadapan dengan luas tanpa batas, sehingga ia tidak dapat membedakan mana bayangan dan mana perwujudan yang sebenarnya dari sesuatu itu. Dan, saat itulah ia tiba-tiba disadarkan oleh Ruh al-Haqq yang tersembunyi di kedalaman jiwanya bahwa Syaikh Datuk Abdul Jalil yang dicarinya selama itu telah ia temukan sebagai sesuatu yang tak dapat ia jabarkan dengan kata-kata; dia bukan bapak, bukan saudara, bukan suami, bukan laki-laki, bukan guru suci, bukan ulama, bukan orang beriman, bukan orang beragama, bukan manusia, bukan sesuatu yang bisa dikaitkan dengan kata-kata, angan-angan, gambaran-gambaran, gagasan-gagasan, dan makna-makna. Lalu antara sadar dan tidak sadar, antara samar-samar dan terang, antara hening dan hiruk pikuk, antara jauh dan dekat, antara tidur dan jaga, ia menangkap getaran suara di pedalamannya yang menggunakan bahasa aneh antara isyarah dan al-ima’.

“Dialah sang suwung! Hampa! Tak bermakna apa-apa!”

Raden Ketib terperanjat. Ia merasakan kehampaan tiba-tiba memenuhi dadanya. Ia merasakan kekosongan bersimaharajalela memenuhi benaknya. Ia merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Lalu tanpa dikehendaki, ia membungkuk dan mencium tanah yang terhampar di depan sang suwung tak bermakna apa-apa itu. Butiran-butiran air bening ia rasakan mengalir hangat dari matanya membasahi wajah dan tanah yang diciumnya. Ia tidak tahu untuk alasan apa air matanya itu bergulir dari kelopak matanya. Ia juga tidak tahu untuk alasan apa ia mencium tanah di depan sang suwung tak bermakna apa-apa itu. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia melakukan semua itu. Ia hanya merasakan Kehampaan yang membebaskan memenuhi jiwanya. Satu-satunya hal yang diingatnya adalah kenyataan tak tersanggah bahwa lantaran sang suwung tak bermakna apa-apa itulah ia telah memiliki kesadaran burung yang sangat menghormati dan memuliakan kemerdekaan, cinta kasih, ketulusan, kehidupan, kesucian, dan pengorbanan yang justru telah menghilang dari jiwa banyak manusia di zamannya.

Malang, Rabiul Awwal 1426 H.

Re-Type by EHL, Pacific Ocean (MV. Taho), April 30th 2007 (13 Rabiul Akhir 1428 H)