CERITA UNTUK ANAK CERDAS 2


Zaki dan Laba-Laba

Zaki sedang berbaring di taman membaca sebuah buku. Matanya beralih dari buku yang tengah dibacanya, dan ketika ia memperhatikan sekelilingnya, ia melihat sebuah jaring laba-laba di cabang sebuah pohon. Zaki bangkit dan mendekati jaring laba-laba itu, yang mulai diperiksanya dengan penuh minat. Laba-laba yang ada di dekat jaring kemudian berbicara padanya.

“Salam, teman!” kata laba-laba dengan suara kecil.

“Salam,” balas Zaki, yang selalu sangat sopan. “Jaring yang kamu bikin ini betul-betul sangat menarik. Bagaimana kamu membuatnya?”

Laba-laba itu menarik napas dalam-dalam dan mulai menjelaskan. “Aku mulai dengan menemukan tempat yang tepat untuk itu. Tempatnya harus di sebuah sudut, atau di antara dua objek terdekat. Biar kujelaskan bagaimana aku membuat sebuah jaring di antara dua cabang pohon. Pertama, aku memasang benang dengan kencang pada salah satu cabang. Kemudian, aku pergi ke sisi lain sambil terus mengeluarkan benang. Ketika sudah mencapai jarak yang tepat, aku berhenti menghasilkan benang. Kemudian, aku mulai menarik benang kembali mengarah pada diriku, sampai benang itu merentang kencang. Aku memasangnya di tempatku berada. Kemudian, aku mulai memintal jaring di dalam bagian lengkung yang sudah kubuat.”

Zaki berpikir sejenak. “Aku tidak pernah mampu melakukan hal-hal seperti itu. Misalnya, mengikat seutas benang dengan kencang di antara dua tembok. Sulit ‘kan mengikat benang dengan kencang?”

Laba-laba itu tersenyum padanya. “Biar kujelaskan bagaimana kau memecahkan masalah itu. Terkadang, aku membuat sebuah jaring di antara dua cabang yang jaraknya cukup panjang satu sama lain. Karena jaring-jaring semacam itu sangat besar, mereka juga betul-betul bagus untuk menjebak serangga-serangga. Namun karena jaring itu besar, berulangkali ia kehilangan tegangannya. Hal itu juga mengurangi keberhasilanku menangkap serangga. Aku pergi ke tengah jaring dan memasang seutas benang yang merentang ke bawah. Kusambungkan sebuah batu kecil ke benang ini. Kemudian aku kembali ke jaring dan mencoba menggulung benang ke atas dari tempat batu itu. Sementara batu tergantung di udara, aku memasang benang kembali dengan erat di tengah jaring. Hasilnya, karena batu di bawah pusat jaring terdorong ke bawah, jaring akan merentang tegang kembali. Begitulah caranya!”

“Wah, metode yang luarbiasa!” kata Zaki, yang sangat terkesan. “Bagaimana kalian mempelajari teknik semacam itu, dan bagaimana kalian memanfaatkannya dengan baik? Laba-laba mestinya sudah melakukan hal ini berjuta tahun lamanya ...”

“Kamu benar, temanku,” laba-laba itu menyetujui. “Bodoh sekali jika berpikir bahwa kami punya kecerdasan yang memadai untuk mengatur semua ini. Adalah Allah, yang memiliki dan menciptakan segala sesuatu. Ialah yang memberiku keahlian untuk menggunakan teknik ini.”

“Jangan lupa, Zaki,” laba-laba itu lantas mengingatkannya. “Bagi Allah, semua sangat mudah. Allah memiliki kekuasaan untuk menciptakan keragaman makhluk hidup dan tempat yang tak terbatas.”

“Terimakasih atas apa yang telah kaukatakan padaku,” kata Zaki, anak laki-laki yang sangat sopan itu. “Sekarang aku memahami lebih baik lagi betapa berkuasanya Allah, dan betapa luarbiasanya pengetahuan yang dimilikiNya, setiap kali kulihat makhluk hidup yang diciptakanNya, juga rancanganNya nan sempurna.”

Faruk dan Bebek

Suatu hari, paman Faruk membawa keponakannyanya ke tempat yang sudah lama ingin dikunjunginya. Tempat ini adalah kebun binatang, di mana Faruk dapat secara langsung menyaksikan binatang-binatang yang selalu dibacanya di buku-buku dan majalah dan di televisi, dalam kehidupan nyata. Perjalanan itu panjang, namun menyenangkan. Di jalan, pamannya menjelaskan pada Faruk tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta, dan memberikan contoh-contoh dari Al Quran.

Akhirnya mereka tiba di kebun binatang. Mata Faruk melebar saking takjubnya. Tak pernah ia melihat begitu banyak binatang yang berbeda, bersama-sama di sebuah tempat. Ketika mereka sampai di kawasan unggas, Faruk meninggalkan pamannya dan pergi ke kandang bebek. “Unggas yang indah sekali,” katanya tentang salah satu di antara mereka. “Terima kasih,” sebuah suara menjawab. Faruk memperhatikan sekelilingnya, namun tak seorangpun ada di sana. Kemudian, ia baru menyadari bahwa bebek yang tengah diamatinya itulah yang berbicara padanya.

“Halo,” kata bebek. “Terimakasih atas pujianmu. Selain punya penampilan yang tampan, aku juga memiliki ciri-ciri lain yang menarik. Tahukah kamu hal itu?”

Faruk menjawab dalam kegairahan yang menyala. “Tidak, tapi aku betul-betul ingin kamu memberitahukan itu padaku.”

Bebek itu bertengger di sebuah cabang yang nyaman dan memulainya. “Tahukah kamu kalau kami bisa terbang sangat cepat? Ketika terbang, bebek dapat bepergian dengan kecepatan lebih dari 30 mil (50 kilometer) per jam. Lebih dari itu, kami secara berkesinambungan mengganti arah untuk mencegah tertangkap oleh hewan pemangsa. Ketika kami perlu menyelam di bawah permukaan air, kami melakukannya sangat cepat hingga sulit menjadi sasaran para pemburu.”

Mata Faruk terbuka lebar. “Untuk seekor burung, itu betul-betul terbang yang cepat. Maksudmu, musuh-musuhmu memaksamu terbang begitu cepat?”

“Ya, Faruk,” balas sang bebek. “Biar kuberikan sebuah contoh untukmu. Teman kami, bebek es, biasa dijadikan sasaran cara berburu burung-burung camar yang menarik. Camar menyerang mereka terus-menerus dari udara, dan membuat bebek-bebek menyelam ke dalam air. Camar-camar itu terus melakukannya hingga bebek-bebek terpaksa muncul kembali ke permukaan, kelelahan dan tak berdaya. Kemudian, camar memburu bebek dengan menukik ke tengah-tengah kelompok bebek, dan mematuk-matuk kepala bebek. Namun, camar tak selalu dapat memenangkan pertarungan. Bebek-bebek es juga memiliki cara yang istimewa untuk melindungi diri mereka sendiri. Jika mereka melihat seekor camar di langit, dengan segera, bebek-bebek akan berkumpul bersama dalam kelompok besar. Ini berarti, burung camar tak dapat menangkap seekor bebekpun dari sekumpulan besar bebek yang menyelam, sampai akhirnya camar itu sendiri yang kelelahan dan menyerah.”

“Alangkah cerdasnya bebek-bebek itu!” Faruk mengagumi. “Bagaimana mereka mampu melakukannya?”

“Jawabannya jelas, Faruk,” seru si bebek. “Allahlah yang menciptakan bebek dan seluruh makhluk hidup lainnya, dan Ialah yang mengajari mereka cara melindungi diri sendiri.”

“Terima kasih, bebek yang baik,” kata Faruk. “Kamu telah memberikan aku beberapa pengetahuan yang bermanfaat hari ini, dan mengingatkan aku pada tanda-tanda Tuhan kami. Sampai berjumpa lagi,” katanya, sambil melangkah kembali untuk menemukan pamannya.

Maka, apakah Allah yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan apa-apa? Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Surat An-Nahl: 17).

Ali dan Burung Unta

Ali sedang makan, sambil menonton film kartun di televisi. Dalam kartun itu, seekor burung unta berlari dikejar anjing. Burung unta lari begitu cepat hingga ia dapat melarikan diri dari sang anjing, dan kembali berkumpul dengan teman-temannya di sarang. Sebelumnya, Ali selalu mengira burung unta adalah sejenis unggas yang kerjanya membenamkan kepala di dalam pasir. Ali tak tahu kalau burung unta juga pelari yang hebat.

“Maksudmu, kamu tidak tahu kalau kami bisa berlari cepat?” tanya sebuah suara.

Ali memperhatikan sekelilingnya, terkejut, sebelum menyadari bahwa suara itu berasal dari televisi. Ia mendekatinya dan mulai berbicara dengan si burung unta di layar televisi.

“Kamu benar,” kata burung unta terengah-engah, kehabisan napas. “Kami adalah burung-burung terbesar di dunia. Kami lebih tinggi dibanding manusia! Contohnya, aku. Tinggiku dua setengah meter, dan beratku 265 pon (120 kilogram). Kami tidak bisa terbang, namun Allah memberi kami kemampuan yang berbeda sehingga kami dapat melarikan diri dari musuh-musuh kami. Kami berlari sangat cepat dengan kaki-kaki panjang kami, begitu cepat hingga tak seorang pun dapat menangkap kami kalau berlari dengan kakinya sendiri. Di dunia makhluk hidup, kami adalah pelari cepat yang memiliki dua kaki. Kami bisa mencapai kecepatan hingga sekitar 45 mil (70 kilometer) per jam jika kami betul-betul berlari.”

Ali memperhatikan teman barunya lebih seksama. “Bisa saja aku salah. Tapi, kakimu Cuma punya dua jari ya? Betul, nggak?”

Burung unta mengangkat salah satu kakinya agar Ali bisa memperhatikan lebih baik. “Ya. Kami hanya punya dua jari di setiap kaki. Dan salah satu dari jari ini lebih besar dibanding yang lain. Kami hanya berlari menggunakan jari besar kami. Seperti kaulihat, Allah menciptakan kami persis seperti Ia menciptakan makhluk hidup lainnya. Semua berawal dari ketiadaan dalam cara yang unik. Ia memberi kami sejumlah besar ciri-ciri untuk membantu kami bertahan hidup. Kami punya banyak ciri yang berbeda dibanding burung lain yang mungkin kamu kenal …”

“Itu benar sekali,” Ali merenung. “Aku memikirkan bagaimana caramu menetaskan anak ke dunia ini?”

“Well, Ali,” jawab si burung unta. “Karena badan kami sangat besar, maka telur kami pun juga sangat besar. Kami menggali sebuah lubang besar di pasir, dan kami kuburkan telur-telur raksasa kami di dalamnya. Kami letakkan 10 sampai 12 telur sekaligus, karena itu, kami harus membuat sebuah lubang besar yang cukup untuk semua telur. Dengan kata lain, kami betul-betul menggali sebuah lubang yang sangat besar.” Ali menimbang selama satu dua detik. “Mengapa kamu membuat lubang-lubang itu di pasir?” ia bertanya pada teman barunya.

Burung unta tersenyum, dan menjilat-jilat bulu-bulunya. “Kalau kami membuat lubang itu di dalam tanah, bukannya di pasir, maka pengeraman telur akan berlangsung lama sekali. Itu membuat kami sangat lelah. Memindahkan pasir jauh lebih mudah dibanding memindahkan tanah. Kamu bahkan bisa menggali pasir dengan jarimu, sementara untuk menggali tanah, kamu memerlukan sekop. Itulah mengapa kami lebih suka memanfaatkan pasir. Dengan pasir, kami dapat melakukan pekerjaan kami lebih cepat, tanpa perlu terlalu melelahkan diri.”

“Setelah telur-telur kami letakkan di dalam lubang, juga lebih mudah untuk menutupinya dengan pasir.Tahukah kamu, di dunia saat ini, terdapat jutaan makhluk hidup yang berbeda-beda jenisnya. Semua makhluk memiliki ciri-ciri luarbiasa. Allah menciptakan kami semua. Allahlah yang mengajari apapun yang kami lakukan.”

Ali bangkit saat program itu hampir berakhir. “Bertemu denganmu semakin menambah cinta dan kedekatanku pada Allah. Terima kasih untuk semua yang telah kauceritakan padaku. Sampai jumpa.”

APAKAH IKAN BISA TERBANG?

Ikan terbang tidak terbang menggunakan sayap seperti burung. Mereka hanya melayang dengan sirip-sirip yang menyerupai sayap. Ikan terbang bisa mencapai kecepatan di atas 35 mil (56 kilometer) per jam. Ikan-ikan kecil ini juga dapat bergerak lebih cepat di air dengan mengembangkan sirip-sirip mereka, dan mengangkat ekor-ekornya keluar dari air. Ini memungkinkan mereka untuk melayang di permukaan.

TAHUKAH KALIAN?

BOOBY, BURUNG PERENANG

BOOBY, spesies burung laut yang mampu menyelam dalam-dalam, punya kaki besar berselaput. Kaki-kaki ini dianugerahkan Allah bagi mereka, sehingga burung-burung ini dapat berenang di atas permukaan air, atau di dalam air. Burung-burung BOOBY menyelam dengan baik. Mereka menyelam ke dalam laut untuk menangkap ikan dengan paruhnya. Sebagian besar berada di bawah air cukup lama tanpa perlu naik-naik ke permukaan. Mereka juga berenang menempuh jarak yang jauh.

KASIF DAN BERUANG MADU

Seperti biasa, pagi-pagi sebelum ke sekolah, Kasif duduk di meja untuk sarapan. Ketika ibunya membuat teh, mata Kasif terpaku pada gambar seekor beruang di stoples madu. Ibunya sedang sibuk, saat beruang di gambar itu mengedipkan mata pada Kasif, dan berbicara padanya.

“Salam, Kasif! Menurutku kamu pasti menyukai madu seperti kami, para beruang …”

“Ya,” Kasif setuju. “Ibuku tak pernah melupakan madu setiap sarapan. Tetapi madu-madu kami berasal dari stoples-stoples pasar swalayan. Dari mana madumu kautemukan?”

Beruang mengerutkan hidungnya sebelum menjawab. “Tuhan kami, Yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan semua makhluk hidup dengan kemungkinan cara terbaik, memberi kami, para beruang, hidung-hidung panjang yang sangat peka untuk membaui. Berkat hidung ini kami dapat menemukan makanan dengan mudah.”

Kasif, yang pernah disengat olehl seekor lebah, kebingungan. “Ketika kamu menemukan sarang lebah dengan madu di dalamnya, bagaimana kamu mengeluarkan madu itu?” Ia berpikir.

Kali ini beruang tersebut menyodorkan cakarnya pada Kasif, agar anak itu bisa melihatnya. “Ketika kami temukan sarang lebah, kami ketuk-ketuk sarang itu keras-keras dengan cakar untuk menyingkirkan semua lebah di dalamnya. Lalu, kami menikmati santapan madu di dalamnya. Namun, apapun yang kamu lakukan, jangan coba-coba melakukan hal yang sama. Nanti, lebah bisa menyengatmu di mana-mana, dan membuatmu sangat-sangat sakit. Syukur kepada Allah, kami, para beruang, dilindungi dari sengatan-sengatan lebah berkat bulu tebal kami.”

Kasif berjanji tidak akan meniru perbuatan sang beruang. “Ada hal lain yang kupikirkan. Tidakkah kalian, beruang, merasa lapar sepanjang tidur musim dinginmu?” tanyanya.

Beruang itu menganggukkan kepalanya yang berbulu tebal. “Sebelum tidur sepanjang musim dingin, kami makan banyak sekali. Untuk membuat lapisan lemak di bawah kulit kami, kami makan banyak biji-biji pohon beech dan kastanye. Dengan begitu, kami bisa menyimpan lemak di dalam tubuh. Namun berat badan kami hilang ketika tiba saatnya keluar dari sarang di musim semi. Kendati demikian, kami bisa bertahan walaupun kehilangan sebagian besar bobot tubuh. Tentu saja, kami tidak memikirkan sendiri masalah penyimpanan lemak di tubuh kami, sebelum memulai tidur musim dingin yang panjang. Kebiasaan makan banyak-banyak sebelum tidur panjang ini diilhamkan pada kami oleh Allah Yang Mahakuasa.”

“Bisa kulihat sekarang,” kata Kasif, “bahwa setiap makhluk hidup di muka bumi adalah bukti tertinggi dari penciptaan Allah. Terimakasih karena sudah mengingatkan hal itu padaku, temanku …” Beruang itu mengangguk setuju.

Kasif lalu dikejutkan oleh suara Ibu yang memberitahunya bahwa sarapan telah siap. Sambil menikmati madunya, Kasif memikirkan beruang itu dan berterimakasih pada Allah, yang Maha Mengasihi, Yang telah menciptakan beruang begitu sempurna.

Tujuh langit, bumi dan siapapun yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak satupun melainkan yang bertasbih dengan memujinya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya, Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun (Surat Al Israa’: 44).

    

kompilasi file chm oleh: pakdenono juli 2008
www.pakdenono.com
http://ebook-harunyahya.blogspot.com