CERITA UNTUK ANAK CERDAS 2


Aisyah dan Landak

Suatu hari, ketika berpiknik dengan keluarganya, Aisyah mengundurkan diri sejenak untuk berjalan-jalan sendiri. Ia menyukai kawasan hijau tempatnya berjalan-jalan. Ketika tengah berkeliling, dilihatnya sebuah bola tertutup oleh paku-paku besar yang tajam. “Untung saja aku tidak menginjaknya. Kalau sampai terinjak, paku-paku tajam itu bisa melukaiku dengan parah,” katanya pada dirinya sendiri. Kemudian, menakjubkan sekali, bola itu pelahan membuka gulungannya dan berbicara:

“Kamu benar, Aisyah,” kata gulungan itu. “Aku adalah seekor landak, dan aku bisa melukaimu dengan duri-duri tajamku biarpun aku tidak menghendakinya.”

“Ada seekor landak di sini!” kata Aisyah dengan gembira. “Mengapa badanmu tertutup oleh duri-duri tajam seperti itu?”

“Allah memberiku duri-duri ini untuk melindungi diri dari musuh-musuhku,” balas landak. “Ketika berada dalam bahaya, aku bergulung seperti sebuah bola, dan duri-duri ini melindungiku.”

“Aku tahu, beberapa binatang pergi tidur sepanjang musim dingin. Bagaimana denganmu?” tanya Aisyah pada teman barunya.

Sang landak mengangguk. “Aku tidak begitu menyukai udara dingin.. Segera setelah suhu udara musim dingin menurun di bawah 55 derajat Fahrenheit (13 derajat Celsius), aku pergi tidur. Allah Yang Maha Kuasa membuatku tetap tertidur sepanjang musim dingin, dan membangunkan aku ketika musim panas tiba. Tidak mungkin bagiku memikirkan sendiri betapa beratnya keadaan-keadaan musim dingin, sehingga aku bisa memutuskan sendiri bahwa lebih baik buatku untuk tidur sementara waktu, supaya tetap hidup.

Al Quran mengatakan ini:‘Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah tidurmu di waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karuniaNya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan.’ (Surat ar-Rum: 23).”

“Kamu lihat,” landak itu melanjutkan, “seperti semua makhluk hidup lainnya, Allah memberitahu kami kapan waktu paling baik untuk mencari makan.”

Aisyah berpikir sejenak. “Dalam sebuah film dokumenter, aku melihatmu bertarung tanpa kenal takut melawan seekor singa besar. Kok bisa kamu tidak takut pada singa?”

Temannya menjawab, “Karena duri-duri di tubuhku ini, yang telah diberikan Allah sebagai rahmat. Sehingga membuat diriku berani melawan bahkan musuh-musuhku yang paling berbahaya. Ketika seekor singa menyerang, pertama-tama aku melarikan diri dengan cepat. Lalu, aku tiba-tiba berhenti di tempat yang tepat, menaikkan sedikit bagian belakang tubuhku, dan menunjukkan duri-duriku di sana. Jika singa mencoba menangkapku dengan gigi-giginya, duriku akan menusuk mulut dan pipinya, membuat luka yang tidak dapat disembuhkan.”

“Pelahan-lahan, hal itu membuat singa tak bisa makan apa-apa. Akhirnya, ia mati. Tentu saja, ini semua berasal dari kecerdikan dan teknik berkelahi yang telah dianugerahkan Allah pada kami. Ialah yang menciptakan aku, dan memberiku ciri-ciri terbaik untukku agar bisa tetap hidup.”

“Kamu benar, saudara landak,” Aisyah menyetujui, ketika ia memperhatikan duri-duri landak lebih cermat lagi.

“Setiap kali kuperhatikan binatang, dan keragaman ciptaan Allah, itu membantuku melihat kebesaran Allah dan keajaiban penciptaanNya. Terimakasih untuk obrolan yang menyenangkan ini,” kata Aisyah, sambil kembali bergabung dengan keluarganya sebelum mereka bertanya-tanya ke mana ia pergi.

“Selamat jalan, temanku,” seru landak itu.

MANSUR DAN BERUANG KUTUB RAKSASA

Mansur dan ibunya mencoba memutuskan di mana mereka akan menghabiskan libur musim panas. Ibunya menyarankan agar mereka pergi ke sebuah biro perjalanan, dan memutuskan liburan mereka dengan memperhatikan brosur-brosur yang mempromosikan negara-negara yang berbeda. Maka, pergilah mereka ke sebuah biro perjalanan. Begitu memasuki kantor biro itu, Mansur dan Ibunya berhadapan dengan poster-poster dinding bergambar tempat-tempat yang belum pernah mereka lihat. Ketika Ibunya berbincang-bincang dengan pegawai biro tersebut, Mansur mulai memeriksa poster-poster tersebut satu demi satu.

Mansur terkejut oleh suara yang datang dari sebuah poster di dekat tempatnya berdiri:

“Hei, Mansur, salam!” kata sebuah suara yang sangat dalam. “Mengapa kamu dan ibumu tidak berkunjung ke sini saja?”

Mansur mengarahkan kepalanya ke arah suara itu. Suara itu ternyata berasal dari seekor beruang kutub di poster yang tergantung tepat di sebelahnya.

“Halo!” katanya. “Kupikir, kamu adalah manusia salju raksasa.”

Beruang kutub itu tersenyum gembira. “Kamu benar. Dengan tubuh yang begitu besar, ditambah bulu-bulu putih ini, kami menyerupai manusia salju. Namun, dengan tubuh seberat 1.700 pon (800 kilogram), setinggi 8 kaki (2,5 meter), kami yakin jauh lebih besar daripada mereka.”

“Aku ingin datang mengunjungimu, mengenal dirimu dan keluargamu lebih baik lagi. Tapi, tempat tinggalmu benar-benar dingin.”

“Memang betul,” beruang itu menyetujui. “Kami tinggal di kawasan paling dingin di dunia seperti Kutub Utara, Kanada Utara, Siberia Utara, dan Antartika.”

“Terus, mengapa kamu tidak merasa dingin?” pikir Mansur.

“Pertanyaan yang bagus,” komentar teman baru Mansur. “Biar kujelaskan. Setiap bagian tubuh kami dirancang sesuai dengan lingkungan tempat tinggal kami. Menghadapi dingin yang membeku, es, juga badai-badai salju, lapisan lemak tebal yang secara ajaib diciptakan Allah di bawah kulit-kulit kami melindungi kami dari hawa dingin. Bulu-bulu kami, yang juga diciptakan secara khusus, tebal, lebat dan panjang. Allah menciptakan kami sesuai dengan iklim tempat tinggal kami. Pernahkah kamu berpikir mengapa kami tidak tinggal di gurun-gurun Afrika? Pikirkan itu! Jika kami tinggal di gurun pasir, kami akan kepanasan dan mati. Inilah salah satu tanda bahwa Allah telah menciptakan setiap makhluk hidup sesuai dengan lingkungan tempat tinggalnya.”

Mendapat kesempatan luar biasa untuk berbicara dengan seekor beruang kutub, Mansur mulai menanyakan apapun yang ingin diketahuinya:

“Aku ingat, sebagian besar beruang tidur di musim dingin. Apakah kalian, beruang-beruang kutub, juga begitu?”

Beruang itu mengguncang-guncangkan kepalanya yang putih, berbulu kusut. “Tidak, temanku sayang. Kami berbeda dengan beruang-beruang lain karena kami tidak tidur panjang di musim dingin. Hanya beruang-beruang betina, terutama yang sedang mengandung, yang melakukan itu.”

“Bagaimana bayi-bayi yang baru lahir memperoleh makanan?” Mansur ingin tahu.

“Syukur kepada Tuhan kami, Yang menyediakan segala sesuatu. Makanan untuk bayi-bayi yang baru lahir sudah tersedia bagi mereka. Ibu beruang kutub memberi makan bayi-bayinya dengan susunya,” beruang itu menjelaskan.

“Jadi, anak-anak itu hanya diberi susu saja?”

“Itu betul,” jawab beruang kutub. “Susu Ibu beruang mengandung lemak berkadar tinggi. Susu berlemak ini memenuhi kebutuhan anak-anaknya lewat kemungkinan cara terbaik. Dengan susu ini, bayi-bayi beruang kutub tumbuh sangat cepat, dan pada musim semi mereka siap untuk keluar dari liangnya.

“Mansur, kamu akan menyadari bahwa karena kami tinggal di belantara yang dingin, dan jelas-jelas tidak mampu menyelidiki apapun bagi diri kami sendiri, maka tak mungkin kami dapat mengetahui makanan yang diperlukan oleh bayi-bayi kami ketika baru saja dilahirkan. Juga, jelas tak mungkin bagi kami untuk menghasilkan susu di dalam tubuh kami sekehendak kami dengan upaya kami sendiri. Susu kami bahkan tidak diproduksi oleh pabrik paling modern sekalipun. Kebenaran ini jelas memperlihatkan kami keajaiban penciptaan Allah.”

“Kamu benar, temanku,” Mansur setuju. “Sedikit saja orang berpikir, maka ia dapat melihat keajaiban yang terjadi di sekitarnya setiap saat.”

Beruang kutub melanjutkan pembicaraan tentang dirinya. Kemudian ia berkata.

“Sekarang, aku punya pertanyaan untukmu. Tahukah kamu bahwa beruang-beruang kutub adalah perenang dan penyelam yang sangat baik?”

Mansur takjub. “Kamu pasti bercanda. Maksudmu, kamu bisa berenang? Dengan badan yang begitu berat, di air yang membekukan?”

“Aku nggak bercanda,” kata sang beruang. “Kami, beruang kutub, berenang dan menyelam dengan ahli. Ketika berenang, kami manfaatkan kaki-kaki depan. Allah, Sang Maha Pemurah, menciptakan kaki-kaki kami sedemikian rupa hingga dapat digunakan seperti dayung untuk berburu dengan mudah. Ia memberi selaput di antara jari-jari kami, seperti selaput di antara kaki-kaki bebek. Juga, untuk memudahkan berburu, Allah menciptakan kami sedemikian rupa hingga kami dapat menutup lubang hidung kami di dalam air, dan membuat mata kami tetap terbuka.”

“Seperti dapat kamu lihat, Mansur,” beruang kutub melanjutkan. “Allah telah menciptakan kami agar dapat bertahan hidup dalam kondisi-kondisi yang betul-betul sulit. Tidaklah mungkin kami mengembangkan sendiri ciri-ciri ini pelahan-lahan. Juga, tidak mungkin kami memperolehnya secara tiba-tiba. Allahlah yang mengajari kami apa yang kami perlukan untuk bergerak di air.”

“Apa kamu tidak merasa dingin sama sekali di dalam air es?” tanya Mansur, sedikit menggigil memikirkan itu.

“Sama sekali tidak,” kata beruang itu, sedikit bangga. “Kalau kalian, manusia, meletakkan tangan atau kaki kalian di atas gunung es, kalian harus cepat-cepat mengangkatnya. Tapi kami bahkan tidak merasa dingin, karena Allah menciptakan kaki berlapis bulu tebal, hingga tidak terpangaruh oleh hawa dingin. Jika kaki-kaki kami tertutup kulit seperti kamu, kami tidak akan pernah mampu hidup di lingkungan dingin seperti ini.”

Setelah mendengar apa yang diceritakan beruang kutub padanya, Mansur memahami lebih jelas lagi bahwa Allah memiliki kekuatan dan kehendak tak terbatas. Mansur teringat ketika menghabiskan liburan di desa. Ia telah berenang sepanjang musim panas, namun airnya hangat karena iklim yang lembut. Ia berpikir dan membandingkannya dengan air dingin tempat beruang kutub berenang. Maka, jelas baginya bahwa Allah telah menciptakan binatang-binatang ini sedemikian rupa, untuk membuat mereka tahan terhadap air dingin. Memikirkan itu, ia menyadari bahwa Allah menciptakan setiap makhluk dengan tubuh yang ideal untuk lingkungan tempat tinggalnya. Misalnya, unta diciptakan sedemikian rupa hingga mereka dapat bertahan terhadap panas gurun. Teman Mansur, sang beruang kutub, kemudian memotong pemikirannya:

“Mansur, tahukah kamu mengapa kami berwarna putih atau kekuningan?”

“Tidak. Aku tidak pernah memikirkannya. Mengapa?”

Beruang menjelaskan. “Warna putih kami menjamin perlindungan kami dari musuh-musuh kami dalam lingkungan yang dingin, ber-es, tempat kami hidup. Kami nyaris tak terlihat bermil-mil di lapangan es putih, karena warna kami sama dengan es.”

Mansur terkesan. “Betapa masuk akalnya,” katanya. “Jika kamu hitam seperti burung gagak atau berwarna-warni seperti nuri, maka tak mungkin bagimu untuk bersembunyi. Itu berarti, kamu dalam bahaya.”

“Ya, Mansur. Ada banyak hal yang tidak pernah dipikirkan orang, dan hal-hal yang membuat mereka terbiasa menyaksikannya. Kenyataannya, Allah telah menciptakan apapun sesuai dengan kebijakan ilahiahNya.”

Mansur merasa sangat bersyukur pada Allah yang telah memberikannya kemampuan untuk berpikir dan memahami. “Kalau Allah tidak menghendakinya, aku mungkin akan membuang waktuku dalam kehidupan fana di dunia ini, mengabaikan pengetahuan dan kekuasaanNya yang luarbiasa.”

Memikirkan percakapannya dengan beruang kutub, Mansur menyadari betapa pentingnya kehidupan ini. Setiap informasi baru yang dipelajarinya, meningkatkan cinta dan kekaguman pada Allah. Karena ini, ia ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang beruang-beruang kutub.

“Aku yakin hidungmu lebih sensitif untuk membaui dibanding hidung kami, betulkah itu?” ia menduga.

Beruang menganggukkan kepalanya lagi. “Ya. Indera penciuman kami begitu kuat hingga kami dapat dengan mudah mendeteksi anjing laut yang bersembunyi di lapisan salju sedalam satu setengah meter. Seperti kamu ketahui, Allah Yang Maha Kuasa memberikan keunggulan ciri-ciri yang dimiliki tidak hanya pada kami, tapi juga pada makhluk-makhluk lain dengan cara yang sama.”

Mansur melanjutkan: “Aku tahu, terdapat bukti pengetahuan dan kekuasaan Allah yang luarbiasa dalam setiap makhluk hidup di muka bumi. Biarpun begitu, mendapatkan keterangan lengkap mengenai makhluk-makhluk hidup ini lebih banyak lagi, meningkatkan ketakjubanku pada penciptaan Allah yang luarbiasa.”

“Biarkan aku berpikir,” kata beruang itu. “Kami, beruang kutub, memiliki taktik-taktik menarik yang kami gunakan di musim dingin dan musim panas. Sekarang, pikirkan bulu putih yang membuat kami menyerupai manusia salju. Jika kamu hanya memikirkan bulu putih kami, kamu mungkin akan mengatakan, ‘Kamu tidak akan terlihat.’ Tapi jangan lupa bahwa kami punya hidung berwarna hitam. Hidung ini membuat kami tidak dapat sepenuhnya tersamar di antara salju. Jadi, apa yang kami lakukan? Dengan cerdik, kami tutupi hidung kami dengan bagian depan cakar yang berwarna putih. Dengan cara itu, kami menyembunyikan perbedaan warna. Kami menunggu dalam keadaan sepenuhnya tersembunyi di salju untuk menanti mangsa kami mendekat."

Mansur berseru dalam ketakjuban: “Itu benar-benar sangat cerdik!”

“Ya, Mansur. Beruang tahu bahwa mereka dapat menyamarkan diri mereka sendiri, dengan kata lain, menyembunyikan diri, karena bulu putih mereka dan padang salju di sekitar mereka berwarna serupa. Namun, lebih jauh lagi, mereka bahkan berpikir untuk menutupi hidung hitam mereka, yaitu satu-satunya halangan untuk penyamaran mereka di tengah putihnya salju. Tentu saja, seperti dapat kamu tebak, tidaklah mungkin beruang kutub memikirkan sendiri apa yang perlu dilakukan setelah beberapa kali kembali dari perburuan tanpa makanan, setelah itu baru menyadari bahwa mereka perlu menutupi hidungnya! Beruang hanya bertingkahlaku sebagaimana Allah mengilhamkan pada mereka untuk berperilaku. Allah merancang mereka dengan cara ini. Pada akhirnya, mereka, seperti makhluk hidup lainnya, berada di bawah kendali Allah.”

Mansur memutuskan untuk memberitahu Ibunya apa yang telah dipelajarinya tentang beruang kutub dalam perjalanan pulang, dan menjelaskan seni kreatif Allah yang tampak pada beruang-beruang itu. Ia berterimakasih pada temannya atas percakapan yang mengagumkan itu, dan kembali ke Ibunya.

Sesungguhnya telah Kami buatkan setiap macam perumpamaan bagi manusia dalam Al Quran ini supaya mereka mendapat pelajaran (Surat Az Zumar: 27).

Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia mengatakan kepadanya: “Jadilah.” Lalu jadilah ia (Surat Al Baqarah: 117).

[Orang-orang dengan kecerdasan adalah] mereka yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Surah Al 'Imran: 191)

Omar dan sang Ikan

Suatu hari, Umar dan Ayahnya bangun di waktu fajar. Mereka pergi memancing. Umar suka sekali menyaksikan matahari terbit ketika memancing bersama Ayahnya. Di pagi hari, langit tampak fantastis, dan sinar matahari mengisi hatinya dengan kegairahan yang sama setiap kali ia menyaksikannya …

Ketika Ayahnya mengganti umpan pada kail, Umar duduk di sisi perahu kecilnya, memandangi laut. Tiba-tiba, ia mendengar suara di belakangnya:

“Selamat pagi, teman kecil!” katanya dengan suara berbuih-buih.

“Hei, selamat pagi juga, ikan kecil,” kata Umar. “Tampaknya kamu juga bangun pagi, dan berenang. Aku selalu membayangkan, aku baru saja belajar berenang. Tapi, kalian, ikan, dapat berenang segera setelah lahir. Kok bisa?”

“Sebenarnya,” kata ikan, “kami, ikan, tidak perlu bergerak terlalu banyak agar bisa berenang; cukup hanya mengibaskan ekor kami dari sisi ke sisi. Kami hidup dengan nyaman di dalam air karena tulang belakang kami yang fleksibel dan beragam sistem di dalam tubuh kami.”

“Pasti kamu berenang dengan asyik di dalam air,” Umar menggoda.

“Betul sekali,” teman barunya setuju. “Tapi ingat, tubuh kami telah diciptakan secara khusus agar kami bisa melakukan itu. Coba pikirkan, menurutmu, lebih mudah berjalan di air atau di tanah kering? Kami, ikan, telah diciptakan dengan otot-otot dan tulang punggung istimewa agar mampu hidup dan berenang di dalam air. Tulang punggung kami menjaga kami tetap lurus dan juga menghubungkan sirip serta otot-otot kami. Kalau tidak begitu, tak mungkin bagi kami untuk tinggal di air. Kamu lihat, teman kecil, seperti makhluk hidup lainnya, Allah telah menciptakan kami, ikan, tanpa kesalahan sedikitpun. Ia juga telah memberikan kami kemungkinan ciri-ciri terbaik untuk lingkungan tempat kami tinggal.”

“Kamu tidak berhenti berenang ke kanan dan ke kiri. Kadang-kadang kamu berenang ke kedalaman air. Bagaimana kamu melakukannya?” tanya Umar.

“Berkat sistem tubuh yang diberikan Allah pada kami, para ikan, kami bisa melakukan itu,” balas temannya. “Seekor ikan memiliki kantung udara dalam tubuhnya. Dengan mengisi kantung-kantung ini dengan udara, kami dapat berenang ke kedalaman, atau mengarah lurus ke permukaan dengan mengosongkannya. Tentu saja, kami tidak akan pernah memiliki kemampuan sendiri untuk mengembangkan ciri-ciri ini, kecuali Allah menghendakinya.”

Ketika ayah Umar meneruskan pekerjaannya di buritan perahu, Umar melanjutkan percakapannya dengan sang ikan:

“Aku memikirkan tempat-tempat yang sangat ramai. Setiap orang harus bergerak ke kanan dan ke kiri pada waktu yang sama, dan dalam kegelapan, tak mungkin setiap orang bergerak tanpa membentur orang lain. Bagaimana kalian, ikan, mengatasi masalah tersebut?”

Ikan kecil itu mulai menjelaskan: “Untuk mencegah benturan dengan yang lain di sekelilingmu, kamu harus melihat apa yang ada di sana, sementara kami, ikan, tidak membutuhkan sistem penglihatan seperti itu. Kami memiliki organ penciuman sempurna yang disebut “garis lateral.” Kami dapat merasakan perubahan terkecil dalam tekanan yang mungkin terjadi atau riak di air, atau gangguan terkecil dalam arusnya, begitu hal itu terjadi karena sensor istimewa pada garis lateral kami. Dengan merasakan getaran-getaran, kami mengetahui kapan musuh atau halangan itu ada, tanpa benar-benar melihatnya dengan mata-mata kami. Detektor-detektor ini utamanya peka terhadap getaran-getaran berfrekuensi rendah di dekatnya. Misalnya, kami dapat merasakan langkah kaki di pantai, atau apapun yang dilemparkan ke dalam air seketika, dan bertindak sesuai dengan itu.”

Umar mengangguk penuh semangat. “Sekarang, aku paham. Aku bisa menyanyi atau menyalakan radio di atas air. Itu tidak membuatmu tidak nyaman. Namun, getaran paling lemah yang kubuat di atas air, misalnya jika aku menggetarkan dermaga, atau melempar batu di dalam air, kamu semua akan menghilang!”

Teman barunya melanjutkan. “Umar, sistem kami ini, yang disebut para ilmuwan sebagai garis lateral ikan, sesungguhnya merupakan struktur yang sangat rumit. Tidak mungkin sistem semacam itu berkembang karena kebetulan, atau tiba-tiba, atau selangkah demi selangkah sepanjang waktu. Semua unsur dalam sistem-sistem ini mestinya muncul pada waktu yang sama. Kalau tidak, sistem itu tidak akan bekerja.”

Umar memperhatikan ikan itu lebih teliti, mengamati bahwa ikan itu tidak punya kelopak mata. Dengan terkejut, ia bertanya:

“Kamu tidak punya kelopak mata. Bagaimana kamu melindungi matamu?”

“Kamu benar,” jawab temannya. “Kami, ikan, tidak punya kelopak mata seperti orang lain. Kami memandang dunia melalui selaput lembut yang menutupi mata kami. Kamu bisa membandingkan selaput ini dengan kacamata penyelam. Karena kami perlu melihat objek yang sangat dekat dengan kami, mata kami telah diciptakan untuk keperluan ini. Ketika kami perlu melihat ke kejauhan, seluruh sistem lensa bergerak ke belakang berkat mekanisme otot khusus di dalam mata. Bahkan mata kecil kami punya struktur yang rumit. Tidak diragukan lagi, inilah bukti-bukti keutamaan penciptaan Allah lainnya.”

Umar teringat dengan sebuah dokumenter TV yang disaksikannya sehari sebelumnya. Ia melihat kawanan ikan berbeda warna dan bentuk. Ia berpikir bahwa warna ikan yang cantik, dan ciri-ciri unik ikan-ikan tersebut merupakan bukti-bukti yang sangat baik mengenai keutamaan penciptaan Allah. Teman ikan kecilnya yang pandai melanjutkan keterangannya tentang dirinya sendiri.

“Tahukah kamu, teman kecil, kalau tubuh-tubuh sebagian besar ikan tertutup oleh kulit yang sangat kuat?”

Omar berpikir beberapa saat. “Ya, kamu punya kulit bersisik, sudah kulihat itu. Tapi kulit itu tidak terlihat tebal.”

“Kulit ini tersusun dari lapisan atas dan bawah,” ikan itu menjelaskan. “Di dalam lapisan kulit atas, terdapat kelenjar-kelenjar yang menghasilkan unsur yang disebut lendir. Lendir ini mengurangi gesekan ketika kami bergerak di dalam air. Lendir ini juga memungkinkan kami bergerak lebih cepat. Selain itu, kelicinannya membuat musuh sukar menangkap kami. Ciri-ciri lendir lainnya adalah kemampuannya melindungi kami dari penyakit.”

Umar setuju. “Ya, aku pernah mencoba memegang ikan dalam ember Ayah dengan tangan, namun mereka seketika meloloskan diri dari tanganku!”

Ikan tersenyum: “Keistimewaan kulit kami tidak berhenti sampai di sini. Di kulit atas kami, ada lapisan khusus terbuat dari keratin. Keratin adalah bahan yang keras, liat, terbuat dari sel-sel tua yang mati di lapisan bawah kulit yang tidak berhubungan lagi dengan sumber-sumber makanan dan oksigen.”

“Lapisan terbuat dari keratin ini mencegah air memasuki tubuh, dan bermanfaat untuk menyeimbangkan tekanan dalam dan luar. Jika lapisan ini tidak ada, air akan masuk ke dalam tubuh kami, keseimbangan tekanan akan hancur, dan kami akan segera mati.”

Umar lagi-lagi terkesan, “Betapa pentingnya keunikan ciri-ciri kulit yang dimiliki seekor ikan. Sesuatu yang tidak pernah terpikirkan!”

“Kamu benar,” ikan itu setuju. “Umar, seperti dapat kamu lihat, Allah-lah, Pencipta segala sesuatu, yang memberikan ikan semua keistimewaan mereka. Allah menyadari kebutuhan-kebutuhan semua makhluk hidup.”

Umar mendengar suara Ayahnya dari buritan perahu.

“Ayo Umar, waktunya pulang!”

Umar berhenti sejenak untuk mengucapkan selamat berpisah pada teman kecilnya.

“Terima kasih atas keterangan yang sudah kauberikan. Setiap kali kulihat seekor ikan, akan kuingat keutamaan penciptaan Allah sekali lagi, dan bersyukur pada Tuhan atas segala rahmat yang diberikanNya pada kita.”

MAKHLUK BERWARNA-WARNI DI DALAM LAUT:
BAGAIMANA IKAN BERNAPAS DI DALAM AIR?

Sistem pernapasan ikan berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Orang memiliki hidung untuk bernapas, dan ikan memiliki insang. Dengan insang, mereka memanfaatkan oksigen di dalam air. Air yang terus-menerus diambil melewati mulut-mulut insang dan keluar kembali. Pembuluh-pembuluh yang sangat baik di dalam insang memindahkan oksigen di dalam air, dan menggantikannya dengan karbondioksida dari dalam tubuh. Sebagian besar ikan memiliki lubang hidung, namun tidak pernah digunakan untuk bernapas. Lubang hidung itu memiliki kantung-kantung kecil, yang digunakan ikan untuk membaui air yang mengalir di sekeliling mereka. Misalnya, ikan hiu menggunakan bau untuk menemukan mangsanya.

Rasyad dan Taufik

Rasyad dan Taufik berteman. Nenek Rasyad tinggal di distrik yang sama dengan keluarga Taufik. Rasyad tinggal bersama neneknya, menghabiskan sebagian libur musim panas tengah tahunnya setiap tahun. Karena itu, mereka berdua dapat menghabiskan cukup panjang waktu bersama-sama.

Semester pertama di sekolah mereka telah berakhir. Setiap orang mendapatkan rapor. Taufik dan teman-temannya mulai menikmati liburan mereka. Namun karena cuaca begitu dingin, mereka tak bisa sering-sering bermain di luar rumah pada hari-hari pertama liburan. Kendati demikian, mereka masih berupaya untuk keluar sesekali, bertemu teman-teman dan memainkan permainan, biarpun hanya sebentar. Kadang-kadang, mereka bertemu di rumah salah satu teman dan berbincang-bincang sambil menyantap kue-kue dan roti-roti kering yang telah disiapkan Ibu.

Tetapi, biarpun seminggu telah berlalu, Taufik tidak juga melihat Rasyad. Ia bertanya pada teman-teman lain apakah mereka telah melihat Rasyad. Mereka bilang, mereka juga tidak melihat Rasyad sejak liburan dimulai. Taufik berpikir, mungkin Rasyad tidak keluar rumah karena cuaca begitu dingin, biarpun ia tahu biasanya Rasyad akan keluar rumah jika salju turun, karena temannya itu suka sekali bermain dengan salju. Ia memutuskan untuk meneleponnya.

Segera setelah tiba di rumah, Taufik langsung menuju ke telepon dan menghubungi rumah nenek Rasyad. Nenek Rasyad menjawab telepon itu, dan langsung mengenali suara Taufik.

“Aku belum pernah melihat Rasyad sejak sekolah berakhir,” Taufik menjelaskan. “Aku kuatir, karena itu kupikir aku akan datang dan menemuinya besok. Tapi, kuputuskan untuk meneleponnya dulu.”

Nenek Rasyad menjelaskan bahwa Rasyad tidak datang untuk berlibur bersamanya karena sedang sakit. Rasyad terkena flu berat dan harus menghabiskan liburan dengan berbaring di ranjang dan beristirahat. “Kuberikan nomor teleponnya padamu, ya,” kata nenek. “Rasyad akan sangat senang mendengarmu.”

Taufik mencatat nomor telepon rumah Rasyad, dan langsung menghubunginya.

Ibu Rasyad menjawab. Katanya, “Rasyad, temanmu Taufik menelepon.” Ibu lalu memberikan telepon pada Rasyad yang terbaring di kamar tidurnya.

Rasyad meraih telepon itu dan berkata pada Taufik. “Aku gembira kamu meneleponku. Senang sekali mendengar suaramu.”

Taufik mengatakan pada Rasyad bahwa ia merasa kuatir karena tidak melihatnya sepanjang liburan. Karena itu, setelah menanti beberapa hari, ia menelepon nenek Taufik dan menyesal mendengar temannya sedang sakit.

Rasyad menjelaskan bahwa ia terkena flu yang cukup berat di awal liburan, hingga harus tinggal di rumah karena doktor memerintahkannya tetap di dalam rumah, beristirahat, tidak pergi ke manapun, sampai ia betul-betul membaik. Jadi beginilah caranya menghabiskan liburan.

“Cepat sembuh, ya,” kata Taufik. “Aku ikut sedih mendengarnya. Kuharap kamu akan cepat pulih.” Rasyad memberitahu Taufik bahwa seluruh temannya di lingkungan Taufik juga memikirkannya. Kuatir bakal melelahkan Rasyad, Taufik tidak ingin terlalu lama berbicara dengan temannya yang sedang sakit itu.

Rasyad berkata, “Aku senang kamu meneleponku. Sampaikan salam pada teman-teman, dan jangan lupa meneleponku lagi, ya.”

Taufik kembali memberitahu temannya agar segera membaik dan menutup telepon. Ia sangat sedih karena temannya sakit dan harus menghabiskan liburannya dengan cara seperti itu.

Ketika Ibunya melihat bahwa anaknya tampak sedih, ia bertanya apa masalahnya. Taufik memberitahu Ibunya tentang masalah yang dialami temannya. “Siapapun tahu betapa membosankannya menghabiskan liburan dengan cara seperti itu. Aku membayangkan apa yang bisa kulakukan untuknya,” kata Taufik.

Ibunya berpikir sejenak. “Mereka tidak tinggal terlalu jauh. Kamu bisa pergi dan mengunjunginya. Ibu Rasyad adalah teman lama yang sudah lama tidak Ibu temui. Ibu bisa pergi dan sekalian bertemu dengannya.”

“Wah, bakal asyik tuh, Bu. Kapan kita bisa pergi?” Taufik menyatakan kegembiraannya.

“Telepon Rasyad, dan tanyakan kapan kita bisa mengunjunginya,” kata Ibunya.

Esoknya, Taufik menelepon Rasyad pagi-pagi. Ia memberitahu bahwa ia ingin mengunjungi Rasyad dengan Ibunya, hari berikutnya.

Rasyad sangat bahagia dan memberitahu Taufik kalau Ibunya juga sangat gembira. Kata Rasyad, mereka mengharapkan Taufik dan Ibunya datang esok hari.

Taufik dan Ibunya berangkat pagi-pagi. Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mereka tiba di rumah Rasyad. Ibu Rasyad menyambut hangat. “Aku senang sekali ketika kudengar kalian akan datang,” katanya. “Kalian betul-betul baik mengunjungi kami.”

Mereka bersama-sama pergi ke kamar Rasyad. Ia menyambut mereka dengan gembira dari tempat tidurnya. Setelah menanyakan kabarnya, dan berbincang-bincang beberapa saat, Ibu mereka meninggalkan anak-anak itu.

Kemudian, sesuatu menarik perhatian Taufik. Biarpun harus tinggal di tempat tidur, dan menghabiskan liburannya dengan berbaring saja, Rasyad tampak sangat ceria. Tampaknya ia sama sekali tidak sedih dengan keadaannya.

“Kupikir aku bakal bertemu dengan seseorang yang sangat bosan dan tidak bahagia,” katanya. “Kalau aku harus menghabiskan liburanku seperti ini, aku akan betul-betul merasa sedih. Tapi kulihat kamu cukup ceria. Kamu kelihatannya tidak terganggu sama sekali.”

“Kamu benar,” Rasyad setuju. “Pada hari-hari pertama, seperti itulah yang kupikirkan, dan aku merasa sangat tidak bahagia. Aku begitu sedih sampai-sampai tak bisa menghentikan diri menangis dari waktu ke waktu. Sepupuku Ali datang mengunjungiku, dan merasa sangat kecewa ketika melihat keadaanku. Ia mengunjungiku kembali beberapa hari kemudian, ketika aku mulai sedikit membaik. Ia membawa buku. Katanya, ia belum selesai membacanya dan akan memberikannya padaku ketika telah selesai membacanya. Namun, ia ingin membacakan untukku bagian yang telah diselesaikannya.”

“Saat kubilang kalau aku mau mendengarnya, ia membacakan bagian itu. Buku tersebut menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu untuk tujuan-tujuan khusus, dan bahwa ada kebaikan bahkan dalam hal-hal yang semula tampak begitu buruk. Dikatakan buku itu, orang-orang yang mempercayai Allah dan mengimaniNya, seharusnya bertindak sesuai dengan pengetahuan bahwa rahmat Allah pasti ada dalam segala sesuatu.”

“Buku itu memberi banyak contoh seperti ini. Salah satunya, tentang sakit. Apa yang dikatakannya sangat mempengaruhiku. Seperti dikatakan buku ini, bahkan sakit yang paling sederhana, seperti flu, memperlihatkan betapa tak berdayanya sesungguhnya manusia itu. Flu disebabikan oleh sebuah virus kecil yang tak terlihat dengan mata telanjang. Namun virus kecil ini merampas kekuatan orang dan membuatnya harus berbaring di tempat tidur. Orang itu bahkan bisa sampai-sampai tak bisa jalan, atau bahkan berbicara. Orang itu tak bisa melakukan apapun kecuali terbaring dan menunggu pemulihannya.”

“Kamu benar,” Taufik setuju. “Ketika itu terjadi, semua yang bisa kaulakukan adalah minum obat dan menanti agar kesehatan kita membaik.”

Rasyad melanjutkan pembicaraannya.

“Ketika jatuh sakit, sadarlah kita betapa berharganya kesehatan itu. Ketika seseorang berada dalam kesehatan yang baik dan bisa berjalan, berlari, juga bermain tanpa kesulitan, ia mestinya memikirkan tentang kesakitan, dan bersyukur pada Allah. Ketika kamu bangun di pagi hari, bisa berjalan, berlari, dan melakukan apapun yang kamu inginkan, kapanpun kamu mau, tanpa bantuan orang lain, itu merupakan pemberian yang luarbiasa dari Allah. Seperti dikatakan dalam buku ini, dengan menciptakan penyakit, Allah membuat orang berpikir dan mengamati hal ini.”

“Ya, apa yang kamu bilang itu betul,” Taufik mengangguk.

asyad melanjutkan penjelasannya. “Ketika aku mulai berpikir seperti itu, aku tidak lagi merasa sedih. Aku merasa senang karena pelan-pelan aku mulai membaik. Aku akan sepenuhnya sehat ketika sekolah dimulai kembali. Aku bahkan lebih senang lagi karena sehat, bisa berlari dan bermain.”

Saat itulah Ibu Taufik memasuki ruangan dan memberitahu anaknya bahwa sekarang saatnya pulang.

“Aku ingin membaca buku itu juga. Maukah kamu mengirimkannya padaku ketika kamu sudah menyelesaikannya?”

“Tentu saja,” kata Rasyad. “Akan kukirim ke rumahmu segera setelah aku selesai membacanya.”

Dalam perjalanan pulang, Taufik berpikir lagi tentang apa yang telah dikatakan Rasyad. Ia gembira melihat temannya bahagia, dan menyimak apa yang telah dikatakan Rasyad padanya. Ia berkata pada dirinya sendiri, “Kesehatan benar-benar rahmat yang luarbiasa. Saat pulang nanti, akan kuberitahu semua temanku tentang hal itu.”

    

kompilasi file chm oleh: pakdenono juli 2008
www.pakdenono.com
http://ebook-harunyahya.blogspot.com