SILSILAH KYAI NUR IMAN

MLANGI NOGOTIRTO SLEMAN YOGYAKARTA

 

CATATAN SEJARAH

 

     Syahdan, Keraton Surakarta terbentuk dari sebuah desa yang bernama SALA. Dan kemudian hari menjadi kota Sala, kota bengawan atau kota Surakarta Hadiningrat. Sebelum kota Hadiningrat berdiri, Raja-raja Mataram bersemayam di Kraton Kartasura.

     Kraton Kartasura sebelum ditinggalkan, mengenal enam Raja, ialah :

1.      Sunan Amangkurat II, atau terkenal dengan sebutan Sunan Amangkurat Amral-Amral dari kata Admiral, pangkat yang diberikan kompeni Belanda kepada Sunan Amangkurat II.

2.      Sunan Amangkurat III, yaitu putra mahkota dari Sunan Amangkurat II. Sunan Amangkurat II terkenal dengan sebutan Sunan Amangkurat Emas, juga disebut sunan Amangkurat Kencet – istilah Kencet ini artinya pincang, dan memang Raja ini kakinya pincang.

Karena sikap sunan Amangkurat Emas yang bekerja sama dengan VOC, maka Pangeran Puger, paman beliau, memberontak dan terusirlah Sunan Amangkurat Emas dari Kartasura. Kemudian Sunan Emas mengungsi ke Jawa Timur bergabung dengan Surapati atau Bupati Wironagoro di Pasuruan.

Sesungguhnya Pangeran Puger ini di samping beliau kedudukannya sebagai paman- saudara muda Sunan Amangkurat II – juga merupakan ayah mertua dari Sunan Amangkurat Emas, karena Sunan Amngkurat Emas memperistri puteri Pangeran Puger, yang bernama Raden Ajeng Lembah. Tetapi kemudian istri ini dicerai dan adik R.A. Lembah yang bernama R.A. Himpun dikawin oleh Sunan Emas. Namun nasib R.A. Himpun sama dengan saudara tuanya, dicerai pula oleh Sunan Emas. 

3.      Pangeran Puger bertahta di Kartasura bergelar : Sunan Ing Ngalaga atau Sunan Pakubuwana I. beliau memerintah Mataram dari tahun 1705 – 1727.

4.      Sunan Amangkurat Jawi, putera Pangeran Puger menggantikan ayah beliau. Sunan Amangkurat juga terkenal dengan sebutan Sunan prabu. Beliau memerintah Mataram antara thun 1719 – 1727 dan bergelar Sunan Amangkurat IV.

5.      Sunan Mangkubuana II, Putera Sunan Amangkurat Jawi, memrintah Mataram antara tahun  1727 – 1749.

6.      Sunan Kuning atau terkenal juga dengan nama Mas Garendhi. Beliau adalah cucu dari Sunan Amangkurat Emas. Namun Raja ini terusir dari Kartasura oleh pemberontakan Pangeran Puger.

-- ooo –

       Arkian,  untuk memerintah bagi anak cucu, putra wayah keluarga besar Mlangi Kabupaten Sleman, atau putra – wayah dari keluarga besar Kyai Nur Iman, maka selanjutnya silsilah keluarga dapat dicari secara vertikal dan horisontal keturunan dari beliau.

       Untuk itu dengan mudah dapat dicari  misalnya dari Raja Mataram di Kartasura yang keempat, yaitu Sunan Amangkurat Jawi atau Sunan Prabu yang bergelar Sunan Amangkurat IV yang memerintah antara tahun 1719-1727.

       Sedang Kyai Nur Iman adalah putera dari Sunan Amangkurat Jawi ini. Putera nomor lima dari seluruh saudara beliau yang jumlahnya 42 ( empat puluh dua orang ).

       Oleh karena keadaan Mataram pada waktu itu sedang timbul pergolakan perlawanan terhadap kompeni Belanda, pun pula terjadi intrik-intrik suksesi penggantian “Kepemimpinan” sebagai raja Mataram, pun pula tidak lepas dari pengadu dombaan oleh kompeni Belanda terhadap keluarga Kasunan Kartasura, maka tak pelak bahwa banyak pangeran beserta keluarga masuk dalam intrik-intrik tersebut. Oleh karena keadaan Mataram pada waktu itu makin berkobar perlawanan terhadap kompeni Belanda dan keluarga yang pro dengan kompeni. Tak pelak bahwa kedudukan Kyai Nur Iman – pun terusir dan berpindah tempatlah Kyai Nur Iman ke Jawa Timur.

       Beliau waktu muda – timur – bernama Raden Mas Sandeyo dan setelah dewasa bernama Pangeran Hangabei. Sedang waktu beliau di Gedhangan Surabaya, beliau bernama Kyai Ikhsan.

       Perlawanan terhadap kompeni Belanda berkobar terus. Peperangan berpindah-pindah. Begitu pula Pangeran Hangabei berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sewaktu beliau berpindah ke Gegulu, Kulon Progo, beliau berpindah nama pula, beliau bernama Kyai Nur Iman,. Dari Gegulu pindah lagi ke Susukan, dan kemudian menetap di dukuh Mlangi, Nogotirto, Sleman Yogyakarta.

       Untuk mengetahui lebih lanjut perihal keluarga menyamping dan ke bawah, berikut ini kami mulai dengan ke empat puluh dua putera dari Pangeran Amangkurat Jawi atau Sunan Prabu dari Kartosura :

1.      Pengeran Mangunagoro, putera dari Raden Ayu Kilen. Putera sulung ini kemudian hari mempunyai salah seorang putera yang bernama Raden Mas Sahit atau disebut pula Pangeran Samber Nyawa.

2.      Raden Ajeng Dewi Sobrah ( Soburoh ) putera dari Garwa Ampil Surtikanthi dan setelah dewasa dikawini oleh Tumenggung Suralaya dari Brebes.

3.      Raden Ajeng Pembayun, putera dari Kanjeng Ratu Ageng tetapi wafat.

4.      Raden Ajeng Aminah putera dari Garwa Ampil Mas Ayu Tejawati dan setelah menjanda dua kali kawin dengan Tumenggung Wirodigdo.

5.      Raden Mas Sandiyo putera dari Garwa Ampil Erowati dan setelah dewasa bernama Pangeran Hangabei – Kyai Ikhsan dan terakhir bernama Kyai Nur Iman.

6.      Puteri, meninggal, putera dari Raden Ayu Kilen.

7.      Raden Mas Suroyo, putera dari Mas Ayu Condrowati, setelah dewasa bernama Pangeran Haryo Pamot.

8.      Raden Mas Kala, dari putera Mas Ayu Bondhansari dan setelah dewasa bernama Pangeran Diponegoro.

9.      Raden Mas Sudiman, putera dari Raden Retnodi, setelah dewasa bernama Pangeran Danuwoyo.

10.  K.G.P.A.A.Mangkunagoro, putera mahkota, putera dari Kanjeng Ratu Ageng, yang kemudian sebagai raja dengan sebutan Sunan Pakubuana II.

11.  Raden Mas Samdoyo, putera dari Garwa Ampil Erowati, kemudian wafat.

12.  Raden Mas Suroso, putera dari Mas Ayu Condrowati, setelah dewasa bernama Pangeran Harya Mangkubumi.

13.  Raden Mas Utoro, putera dari Mas Ayu Dondoarum, dan setelah dewasa bernama Pangeran Haryo Martosono alias Pangeran Adinegoro.

14.  Raden Ajeng Siti Sundari, dari Kanjeng Ratu Ageng, setelah dewasa kawin dengan Pangeran Cakraningrat dari Madura dan beralih nama dengan Kanjeng Ratu Maduretno. Tetapi kemudian bercerai dan kawin dengan Raden Aryo Endronoto.

15.  Raden Ajeng Kati, putera dari Mas Ayu Tilam, wafat.

16.  Raden Ajeng Branti, putera dari Raden Ayu Pandhansari. Kawin pertama dengan Tumenggung Mangkuyudo dan setelah cerai kawin lagi dengan seorang haji dari Kedu.

17.  Raden Mas Subandi, putera dari Mas Ayu Erowati, wafat.

18.  Raden Mas Subekti, putera dari Raden Ayu Pandhansari, setelah dewasa bernama Pangeran Hadiwijaya.

19.  Raden Mas Subroto, putera dari Raden Ayu Bondansari, wafat.

20.  Raden Mas Sakti, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten dan setelah dewasa bernama Pangeran Haryo Buminoto.

21.  Raden Mas Sujono, putera dari Mas Ayu Tejowati, dan setelah dewasa bernama Pangeran Mangkubumi dan beliaulah yang akhirnya mendirikan kasultanan di Yogyakarta dengan sebutan Sultan Hamengku Buwono  I.

22.  Raden Mas Kedhaton, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, setelah dewasa juga bernama / bergelar Pangeran Haryo Buminoto.

23.  Raden Mas Pemade, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, setelah dewasa bernama / bergelar Pangeran Haryo Mataram.

24.  Raden Ajeng Tadjem, putera dari Raden Ayu  Bondansari, setelah kawin bernama Raden Ayu Megatsari.

25.  Raden Ayu Sutari alias Inten, putera dari Mas Ayu Tejowati, setelah dewasa kawin dengan Pangeran Purboyo, Demang Ngurawan.

26.  Raden Ajeng Semi, putera dari Mas Ayu Rondhonsari, kemudian setelah dewasa kawin deNgan Pangeran Pakuningrat dari Sampang Madura.

27.  Raden Mas Suroto, putera dari Mas Ayu Werdiningsih, setelah dewasa bernama Pangeran Cokronagoro.

28.  Raden Mas Yadi, putera dari Mas Ayu Mundri, setelah dewasa bernama Pangeran Delarong.

29.  Raden Mas Langkir, putera dari Mas Ayu Murdaningrum, setelah dewasa bernama Pangeran Prangwedono.

30.  Raden Ajeng Sugati, putera dari Raden Ayu Rarasati, kemudian kawin dengan Raden Surowinoto.

31.  ………?

32.  Raden Mas Pater, putera dari Mas Ayu Pandansari, setelah dewasa bernama Pangeran Mangkukusumo.

33.  Raden Mas Sunoko, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, setelah dewasa bernama Pangeran Singosari.

34.  Raden Ajeng Manganter, putera dari Raden Ayu Rarasati, kemudian kawin dengan Megatsari.

35.  Puteri, meninggal sebelum diberi nama, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten.

36.  Raden Ajeng Yadah, putera dari Mas Ayu Mundri, setelah dewasa kawin dengan R. Sudjonopuro.

37.  raden mas sardan, putra dari mas ayu rantansari, setelah dewasa bernama paNgeran diposonto.

38.  Raden Ajeng Rembe, putera dari Mas Ayu Rondonsari, setelah dewasa manjanda dua kali lalu diperistri Tumenggung Yudonegoro, kelak kemudian hari lalu menjadi Patih Danuredjo dari Kasultanan Yogyakarta.

39.  Puteri, meninggal sewaktu masih kecil.

40.  Puteri, meninggal sewaktu masih kecil.

41.  Puteri, meninggal sewaktu masih kecil.

42.  Putera, meninggal sewaktu masih kecil.

-- ooo –

     Dari ke empat puluh dua ( 42 ) putera Sunan Amangkurat Jawi tersebut, salah seorang dari putera beliau yang nomor lima ( 5 ) ialah Raden Mas Sandeyo atau disebut Pangeran Harya Hangabei atau juga disebut Kyai Nur Iman. Akan kami susun silsilahnya vertical yang kami mulai dari Mataram, sebagai berikut :

                        KI AGENG PAMANAHAN

            PANEMBAHAN SENAPATI 1575 – 1601

            MAS DJOLANG / PANEMBAHAN SEDO KRAPYAK  1602 – 1613

            SULTAN AGUNG 1613 – 1645

            AMANGKURAT  I  1645 – 1677

            AMANGKURAT II  1677 – 1703

            PANGERAN PUGER  ( PAKU BUANA I ) 1705 – 1727

            AMANGKURAT IV ( AMANGKURAT JAWI ) 1719 – 1727

            RADEN MAS SANDEYO ( PANGERAN HARYO HANGABEI )

SILSILAH KYAI NUR IMAN

MLANGI NOGOTIRTO SLEMAN YOGYAKARTA

 

CATATAN SEJARAH

 

     Syahdan, Keraton Surakarta terbentuk dari sebuah desa yang bernama SALA. Dan kemudian hari menjadi kota Sala, kota bengawan atau kota Surakarta Hadiningrat. Sebelum kota Hadiningrat berdiri, Raja-raja Mataram bersemayam di Kraton Kartasura.

     Kraton Kartasura sebelum ditinggalkan, mengenal enam Raja, ialah :

7.      Sunan Amangkurat II, atau terkenal dengan sebutan Sunan Amangkurat Amral-Amral dari kata Admiral, pangkat yang diberikan kompeni Belanda kepada Sunan Amangkurat II.

8.      Sunan Amangkurat III, yaitu putra mahkota dari Sunan Amangkurat II. Sunan Amangkurat II terkenal dengan sebutan Sunan Amangkurat Emas, juga disebut sunan Amangkurat Kencet – istilah Kencet ini artinya pincang, dan memang Raja ini kakinya pincang.

Karena sikap sunan Amangkurat Emas yang bekerja sama dengan VOC, maka Pangeran Puger, paman beliau, memberontak dan terusirlah Sunan Amangkurat Emas dari Kartasura. Kemudian Sunan Emas mengungsi ke Jawa Timur bergabung dengan Surapati atau Bupati Wironagoro di Pasuruan.

Sesungguhnya Pangeran Puger ini di samping beliau kedudukannya sebagai paman- saudara muda Sunan Amangkurat II – juga merupakan ayah mertua dari Sunan Amangkurat Emas, karena Sunan Amngkurat Emas memperistri puteri Pangeran Puger, yang bernama Raden Ajeng Lembah. Tetapi kemudian istri ini dicerai dan adik R.A. Lembah yang bernama R.A. Himpun dikawin oleh Sunan Emas. Namun nasib R.A. Himpun sama dengan saudara tuanya, dicerai pula oleh Sunan Emas. 

9.      Pangeran Puger bertahta di Kartasura bergelar : Sunan Ing Ngalaga atau Sunan Pakubuwana I. beliau memerintah Mataram dari tahun 1705 – 1727.

10.  Sunan Amangkurat Jawi, putera Pangeran Puger menggantikan ayah beliau. Sunan Amangkurat juga terkenal dengan sebutan Sunan prabu. Beliau memerintah Mataram antara thun 1719 – 1727 dan bergelar Sunan Amangkurat IV.

11.  Sunan Mangkubuana II, Putera Sunan Amangkurat Jawi, memrintah Mataram antara tahun  1727 – 1749.

12.  Sunan Kuning atau terkenal juga dengan nama Mas Garendhi. Beliau adalah cucu dari Sunan Amangkurat Emas. Namun Raja ini terusir dari Kartasura oleh pemberontakan Pangeran Puger.

-- ooo –

       Arkian,  untuk memerintah bagi anak cucu, putra wayah keluarga besar Mlangi Kabupaten Sleman, atau putra – wayah dari keluarga besar Kyai Nur Iman, maka selanjutnya silsilah keluarga dapat dicari secara vertikal dan horisontal keturunan dari beliau.

       Untuk itu dengan mudah dapat dicari  misalnya dari Raja Mataram di Kartasura yang keempat, yaitu Sunan Amangkurat Jawi atau Sunan Prabu yang bergelar Sunan Amangkurat IV yang memerintah antara tahun 1719-1727.

       Sedang Kyai Nur Iman adalah putera dari Sunan Amangkurat Jawi ini. Putera nomor lima dari seluruh saudara beliau yang jumlahnya 42 ( empat puluh dua orang ).

       Oleh karena keadaan Mataram pada waktu itu sedang timbul pergolakan perlawanan terhadap kompeni Belanda, pun pula terjadi intrik-intrik suksesi penggantian “Kepemimpinan” sebagai raja Mataram, pun pula tidak lepas dari pengadu dombaan oleh kompeni Belanda terhadap keluarga Kasunan Kartasura, maka tak pelak bahwa banyak pangeran beserta keluarga masuk dalam intrik-intrik tersebut. Oleh karena keadaan Mataram pada waktu itu makin berkobar perlawanan terhadap kompeni Belanda dan keluarga yang pro dengan kompeni. Tak pelak bahwa kedudukan Kyai Nur Iman – pun terusir dan berpindah tempatlah Kyai Nur Iman ke Jawa Timur.

       Beliau waktu muda – timur – bernama Raden Mas Sandeyo dan setelah dewasa bernama Pangeran Hangabei. Sedang waktu beliau di Gedhangan Surabaya, beliau bernama Kyai Ikhsan.

       Perlawanan terhadap kompeni Belanda berkobar terus. Peperangan berpindah-pindah. Begitu pula Pangeran Hangabei berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sewaktu beliau berpindah ke Gegulu, Kulon Progo, beliau berpindah nama pula, beliau bernama Kyai Nur Iman,. Dari Gegulu pindah lagi ke Susukan, dan kemudian menetap di dukuh Mlangi, Nogotirto, Sleman Yogyakarta.

       Untuk mengetahui lebih lanjut perihal keluarga menyamping dan ke bawah, berikut ini kami mulai dengan ke empat puluh dua putera dari Pangeran Amangkurat Jawi atau Sunan Prabu dari Kartosura :

43.  Pengeran Mangunagoro, putera dari Raden Ayu Kilen. Putera sulung ini kemudian hari mempunyai salah seorang putera yang bernama Raden Mas Sahit atau disebut pula Pangeran Samber Nyawa.

44.  Raden Ajeng Dewi Sobrah ( Soburoh ) putera dari Garwa Ampil Surtikanthi dan setelah dewasa dikawini oleh Tumenggung Suralaya dari Brebes.

45.  Raden Ajeng Pembayun, putera dari Kanjeng Ratu Ageng tetapi wafat.

46.  Raden Ajeng Aminah putera dari Garwa Ampil Mas Ayu Tejawati dan setelah menjanda dua kali kawin dengan Tumenggung Wirodigdo.

47.  Raden Mas Sandiyo putera dari Garwa Ampil Erowati dan setelah dewasa bernama Pangeran Hangabei – Kyai Ikhsan dan terakhir bernama Kyai Nur Iman.

48.  Puteri, meninggal, putera dari Raden Ayu Kilen.

49.  Raden Mas Suroyo, putera dari Mas Ayu Condrowati, setelah dewasa bernama Pangeran Haryo Pamot.

50.  Raden Mas Kala, dari putera Mas Ayu Bondhansari dan setelah dewasa bernama Pangeran Diponegoro.

51.  Raden Mas Sudiman, putera dari Raden Retnodi, setelah dewasa bernama Pangeran Danuwoyo.

52.  K.G.P.A.A.Mangkunagoro, putera mahkota, putera dari Kanjeng Ratu Ageng, yang kemudian sebagai raja dengan sebutan Sunan Pakubuana II.

53.  Raden Mas Samdoyo, putera dari Garwa Ampil Erowati, kemudian wafat.

54.  Raden Mas Suroso, putera dari Mas Ayu Condrowati, setelah dewasa bernama Pangeran Harya Mangkubumi.

55.  Raden Mas Utoro, putera dari Mas Ayu Dondoarum, dan setelah dewasa bernama Pangeran Haryo Martosono alias Pangeran Adinegoro.

56.  Raden Ajeng Siti Sundari, dari Kanjeng Ratu Ageng, setelah dewasa kawin dengan Pangeran Cakraningrat dari Madura dan beralih nama dengan Kanjeng Ratu Maduretno. Tetapi kemudian bercerai dan kawin dengan Raden Aryo Endronoto.

57.  Raden Ajeng Kati, putera dari Mas Ayu Tilam, wafat.

58.  Raden Ajeng Branti, putera dari Raden Ayu Pandhansari. Kawin pertama dengan Tumenggung Mangkuyudo dan setelah cerai kawin lagi dengan seorang haji dari Kedu.

59.  Raden Mas Subandi, putera dari Mas Ayu Erowati, wafat.

60.  Raden Mas Subekti, putera dari Raden Ayu Pandhansari, setelah dewasa bernama Pangeran Hadiwijaya.

61.  Raden Mas Subroto, putera dari Raden Ayu Bondansari, wafat.

62.  Raden Mas Sakti, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten dan setelah dewasa bernama Pangeran Haryo Buminoto.

63.  Raden Mas Sujono, putera dari Mas Ayu Tejowati, dan setelah dewasa bernama Pangeran Mangkubumi dan beliaulah yang akhirnya mendirikan kasultanan di Yogyakarta dengan sebutan Sultan Hamengku Buwono  I.

64.  Raden Mas Kedhaton, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, setelah dewasa juga bernama / bergelar Pangeran Haryo Buminoto.

65.  Raden Mas Pemade, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, setelah dewasa bernama / bergelar Pangeran Haryo Mataram.

66.  Raden Ajeng Tadjem, putera dari Raden Ayu  Bondansari, setelah kawin bernama Raden Ayu Megatsari.

67.  Raden Ayu Sutari alias Inten, putera dari Mas Ayu Tejowati, setelah dewasa kawin dengan Pangeran Purboyo, Demang Ngurawan.

68.  Raden Ajeng Semi, putera dari Mas Ayu Rondhonsari, kemudian setelah dewasa kawin deNgan Pangeran Pakuningrat dari Sampang Madura.

69.  Raden Mas Suroto, putera dari Mas Ayu Werdiningsih, setelah dewasa bernama Pangeran Cokronagoro.

70.  Raden Mas Yadi, putera dari Mas Ayu Mundri, setelah dewasa bernama Pangeran Delarong.

71.  Raden Mas Langkir, putera dari Mas Ayu Murdaningrum, setelah dewasa bernama Pangeran Prangwedono.

72.  Raden Ajeng Sugati, putera dari Raden Ayu Rarasati, kemudian kawin dengan Raden Surowinoto.

73.  ………?

74.  Raden Mas Pater, putera dari Mas Ayu Pandansari, setelah dewasa bernama Pangeran Mangkukusumo.

75.  Raden Mas Sunoko, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten, setelah dewasa bernama Pangeran Singosari.

76.  Raden Ajeng Manganter, putera dari Raden Ayu Rarasati, kemudian kawin dengan Megatsari.

77.  Puteri, meninggal sebelum diberi nama, putera dari Kanjeng Ratu Kadipaten.

78.  Raden Ajeng Yadah, putera dari Mas Ayu Mundri, setelah dewasa kawin dengan R. Sudjonopuro.

79.  raden mas sardan, putra dari mas ayu rantansari, setelah dewasa bernama paNgeran diposonto.

80.  Raden Ajeng Rembe, putera dari Mas Ayu Rondonsari, setelah dewasa manjanda dua kali lalu diperistri Tumenggung Yudonegoro, kelak kemudian hari lalu menjadi Patih Danuredjo dari Kasultanan Yogyakarta.

81.  Puteri, meninggal sewaktu masih kecil.

82.  Puteri, meninggal sewaktu masih kecil.

83.  Puteri, meninggal sewaktu masih kecil.

84.  Putera, meninggal sewaktu masih kecil.

-- ooo –

     Dari ke empat puluh dua ( 42 ) putera Sunan Amangkurat Jawi tersebut, salah seorang dari putera beliau yang nomor lima ( 5 ) ialah Raden Mas Sandeyo atau disebut Pangeran Harya Hangabei atau juga disebut Kyai Nur Iman. Akan kami susun silsilahnya vertical yang kami mulai dari Mataram, sebagai berikut :

                        KI AGENG PAMANAHAN

            PANEMBAHAN SENAPATI 1575 – 1601

            MAS DJOLANG / PANEMBAHAN SEDO KRAPYAK  1602 – 1613

            SULTAN AGUNG 1613 – 1645

            AMANGKURAT  I  1645 – 1677

            AMANGKURAT II  1677 – 1703

            PANGERAN PUGER  ( PAKU BUANA I ) 1705 – 1727

            AMANGKURAT IV ( AMANGKURAT JAWI ) 1719 – 1727

            RADEN MAS SANDEYO ( PANGERAN HARYO HANGABEI )