KUMPULAN BUKU
Fatwa Al-Qardhawi
Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Penerbit Risalah Gusti - Cetakan Kedua, 1996 - Jln. Ikan Mungsing XIII/1 - Telp./Fax. (031) 339440 - Surabaya 60177


DALAM PERTEMPURAN (PEPERANGAN) TIDAK ADA SAHABAT YG DIKAFIRKAN
 
Pertanyaan:

Dalam pertempuran sahabat, apakah ada yang dikafirkan?
 

Jawab:

Di dalam peperangan (Shiffin  atau  Al-Jamal)  Ali  bin  Abi Thalib  r.a.  tidak  menganggap  orang-orang yang melawannya telah keluar dari Islam dan kafir,  tetapi  hanya  dikatakan mereka  itu  Bughah  (berbuat  kebatilan). Sebagaimana sabda Nabi saw. kepada seorang sahabat yang bernama  Ammar,  sabda beliau,   "Kamu   akan   dibunuh  oleh  golongan  Al-Bughah, orang-orang  yang  zalim,  atau  orang-orang  yang  berontak (tidak taat kepada penguasa)."
 
Arti  kufur  dalam  hadis  atau  As-Sunnah bukan keluar dari Islam dan bukan menjadi  kafir,  sebagaimana  yang  dipahami oleh sebagian orang-orang pada saat ini yang tidak tepat.
 
Dalam uraiannya, Nabi saw. telah bersabda:
 
"Barangsiapa  melakukan  sumpah  selain  kepada  Allah, maka orang itu kafir atau musyrik."
 
Nabi saw. juga bersabda:
 
"Barangsiapa yang  mendatangi  (berobat)  kepada  dukun  dan percaya  pada  apa  yang  dikatakannya,  maka dia kafir atau mengingkari apa yang dibawa oleh Rasul."
 
Hal-hal yang demikian itu selalu dilakukan oleh  orang-orang Islam,  seakan-akan  menjadi tradisi mengunjungi dukun-dukun dan bersumpah atas nama orang, tidak atas nama Allah, tetapi tidak  ada  satu  pun  di  antara ulama yang memvonis mereka kafir.
 
Jadi, kata "kufur" itu dapat diartikan  mengingkari  nikmat, tidak   bersyukur   kepada   Allah,  tidak  kenal  budi  dan sebagainya. Dengan kata lain, "kufur"  mempunyai  arti  yang luas dan berbeda-beda.

 


SIAPAKAH  DZULQARNAIN  ITU?
 
Pertanyaan:
 
Didalam Al-Qur'an diterangkan masalah Dzulqarnain, yaitu:

"Hingga  apabila  dia  telah  sampai  pada  tempat  terbenam matahari,  dia  pun  melihat  matahari terbenam kedalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati disitu (di laut itu) segolongan ummat. Kami berkata, 'Hai Dzulqarnain! Kamu boleh menyiksa  mereka  dan  boleh   berbuat   kebaikan   terhadap mereka'." (Q.s. Al-Kahfi: 86).

Apakah  yang  dimaksud  dengan  matahari yang terbenam dalam mata air yang hitam?
 
Siapakah orang-orang yang didapati oleh Dzulkarnain?
 
Jawab:
 
Kisah Dzulqarnain telah  diterangkan  dalam  Al-Qur'an  pada Surat  Al-Kahfi, tetapi Al-Qur'an tidak menerangkan siapakah sebenarnya   Dzulqarnain,    siapakah    orang-orang    yang didapatinya,   dan  dimana  tempat  terbenam  dan  terbitnya matahari? Semua itu tidak diterangkan dalam Al-Qur'an secara rinci  dan  jelas,  baik mengenai nama maupun lokasinya, hal ini mengandung hikmah dan hanya Allahlah yang mengetahui.
 
Tujuan dari kisah yang ada dalam Al-Qur'an, baik pada  Surat Al-Kahfi  maupun lainnya, bukan sekadar memberi tahu hal-hal yang berkaitan dengan sejarah dan kejadiannya, tetapi tujuan utamanya  ialah  sebagai  contoh dan pelajaran bagi manusia. Sebagaimana Allah swt. dalam firman-Nya:

"Sesungguhnyapada kisah-kisah mereka itu terdapat  pelajaran bagi orang-orang yang berakal." (Q.s.Yusuf: 111)

Kisah Dzulqarnain, mengandung contoh seorang raja saleh yang diberi oleh Allah kekuasaan di bumi, yang meliputi Timur dan Barat.   Semua  manusia  dan  penguasa  negara  tunduk  atas kekuasaannya, dia tetap pada  pendiriannya  sebagai  seorang yang  saleh,  taat  dan bertakwa. Sebagaimana diterangkan di bawah ini:

"Berkata Dzulqarnain, 'Adapun orang  yang  menganiaya,  maka kelak  Kami  akan  mengazabnya,  kemudian  dia  dikembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan  mengazabnya  dengan  azab  yang tiada taranya'." (Q.s. Al-Kahfi: 87).
 
"Adapun  orang  yang  beriman  dan orang beramal saleh, maka baginya pahala  yang  terbaik  sebagai  balasan  ..."  (Q.s. Al-Kahfi: 88).

Jadi,   apa   yang  diterangkan  dalam  Al-Qur'an,  hanyalah mengenai perginya Dzulqarnain ke arah terbenamnya  matahari, sehingga  berada  pada  tempat  yang  paling  jauh.  Di situ diterangkan bahwa dia  telah  melihat  matahari  seakan-akan terbenam di mata air tersebut, saat terbenamnya. Sebenarnya, matahari itu tidak  terbenam  di  laut,  tetapi  hanya  bagi penglihatan  kita  saja  yang  seakan  tampak  matahari  itu terbenam  (jatuh)  ke  laut.  Padahal  matahari  itu  terbit menerangi wilayah (bangsa) lain.
 
Maksud dari ayat tersebut, bahwa Dzulqarnain telah sampai ke tempat paling jauh, seperti halnya matahari terbenam di mata air  yang kotor (berlumpur) , yang disebutkan diatas. Begitu juga maksud dari ayat tersebut, Dzulqarnain telah sampai  di tempat  terjauh, yaitu terbitnya matahari dan sampai bertemu pula dengan kaum Ya'juj dan Ma'juj.
 
Dalam keadaan demikian, Dzulqarnain tetap pada  pendiriannya semula,  yaitu  sebagai  seorang  raja  yang  adil  dan kuat imannya, yang tidak  dapat  dipengaruhi  oleh  hal-hal  yang dikuasai   dan  kekuasaannya  diperkuatnya  dengan  misalnya membangun  bendungan   yang   besar,   yang   terdiri   dari bahan-bahan  besi dan sebagainya. Di dunia ini beliau selalu berkata dan mengakui, bahwa segala yang diperolehnya sebagai karunia dari Allah dan rahmat-Nya.
 
Firman Allah swt. dalam Al-Qur'an:

"Dzulqarnain  berkata,  'Ini (bendungan atau benteng) adalah suatu rahmat dari Tuhanku, maka  apabila  sudah  tiba  janji Tuhanku,  Dia  pun  menjadikannya  rata  dengan bumi (hancur lebur); dan janji Tuhanku itu adalah benar." (Q.s. Al-Kahfi: 98). 

Tujuan  utama  dari  Al-Qur'an  dalam  uraian  di atas ialah sebagai  contoh,  dimana  seorang  raja  saleh  yang  diberi kekuasaan  yang  besar  pada kesempatan yang luar biasa dan, kekuasaannya mencakup ke seluruh penjuru  dunia  di  sekitar terbit  dan  terbenamnya  matahari.  Dalam keadaan demikian, Dzulqarnain tetap dalam  kesalehan  dan  istiqamahnya  tidak berubah.
 
Firman Allah swt.:

"Sesungguhnya  Kami telah memberi kekuasaan di bumi dan Kami telah  memberikan  kepadanya  (Dzulqarnain)   jalan   (untuk mencapai) segala sesuatu." (Q.s. Al-Kahfi: 84).

Mengenai  rincian  dari  masalah  tersebut tidak diterangkan dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, misalnya  waktu,  tempat  dan kaumnya,  siapa  sebenarnya  mereka  itu.  Karena  tidak ada manfaatnya, maka sebaiknya kami berhenti pada  hal-hal  yang diterangkan   saja.   Jika  bermanfaat,  tentu  hal-hal  itu diterangkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw.

 


APAKAH NABI SAW MAKHLUK ALLAH YANG PERTAMA?

Pertanyaan:

Benarkah bahwa Nabi Muhammad saw. makhluk Allah yang pertama dan bahwa beliau diciptakan dari cahaya? Kami  mengharapkan  pendapat  yang disertai dalil-dalil dari Al-Qur'an dan As-Sunnah.

Jawab:

Telah diketahui  bahwa  hadis-hadis  yang  menyatakan  bahwa makhluk  pertama  adalah  itu  atau  ini ... dan seterusnya, tidak satu pun yang shahih, sebagaimana ditetapkan oleh para ulama Sunnah.

Oleh  karena itu, kami dapatkan sebagian bertentangan dengan sebagian  lainnya.  Sebuah  hadis  mengatakan,  "Bahwa  yang pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena."

Hadis  lainnya  mengatakan,  "Yang  pertama  kali diciptakan Allah adalah akal." Telah tersiar di antara orang awam  dari kisah-kisah   maulid   yang   sering   dibaca   bahwa  Allah menggenggam  cahaya-Nya,  lalu  berfirman,  "Jadilah  engkau Muhammad."   Maka   ia  adalah  makhluk  yang  pertama  kali diciptakan Allah, dan dari situ diciptakan langit, bumi  dan seterusnya.

Dari itu tersiar kalimat:

"Shalawat   dan   salam  bagimu  wahai  makhluk  Allah  yang pertama," hingga kalimat itu  dikaitkan  dengan  adzan  yang disyariatkan, seakan-akan bagian darinya.

Perkataan itu tidak sah riwayatnya dan tidak dibenarkan oleh akal,  tidak  akan   mengangkat  agama,   dan   tidak   pula bermanfaat bagi perkembangan dari peradaban dunia.

Keawalan  Nabi  Muhammad  saw.  sebagai  makhluk Allah tidak terbukti,  seandainya  terbukti  tidaklah  berpengaruh  pada keutamaan  dan  kedudukannya  di  sisi  Allah. Tatkala Allah Ta'ala  memujinya  dalam  Kitab-Nya,  maka  Allah  memujinya dengan alasan keutamaaan yang sebenarnya. Allah berfirman:

"Dan   sesungguhnya  kamu  benar-benar  orang  yang  berbudi pekerti agung" (Q.s. Al-Qalam: 4).

Hal itu yang terbukti dan ditetapkan secara mutawatir.  Nabi kita  Muhammad  saw.  adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muththalib Al-Hasyimi Al-Quraisy  yang  dilahirkan  lantaran kedua orang tuanya, Abdullah bin Abdul Muththalib dan Aminah binti Wahb, di Mekkah, pada tahun Gajah.  Beliau  dilahirkan sebagaimana  halnya manusia biasa dan dibesarkan sebagaimana manusia dibesarkan. Beliau diutus sebagaimana para Nabi  dan Rasul  sebelumnya  diutus,  dan  bukan Rasul yang pertama di antara Rasul-rasul.

Beliau  hidup   dalam   waktu   terbatas,   kemudian   Allah memanggilnya kembali kepada-Nya:

"Sesungguhnya  kamu  akan  mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)." (Q.s. Az-Zumar: 30).

Beliau akan ditanya pada hari Kiamat, sebagaimana para Rasul ditanya:

"(Ingatlah)  hari  di  waktu  Allah mengumpulkan para Rasul, lalu Allah bertanya (kepada  mereka),  'Apa  jawaban  kaummu terhadap   (seruan)mu?'  Para  Rasul  menjawab,  'Tidak  ada pengetahuan kami (tentang itu) sesungguhnya Engkau-lah  yang mengetahui perkara yang gaib'." (Q.s. Al-Maidah: 109).

Al-Qur'an  telah  menegaskan  kemanusiaan  Muhammad  saw. di berbagai tempat dan Allah memerintahkan menyampaikan hal itu kepada orang-orang dalam berbagai surat, antara lain:

"Katakanlah,  'Sesungguhnya  aku  ini  hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukann kepadaku, Bahwa  sesungguhnya Tuhan  kamu itu adalah Tuhan yang Esa ...'." (Q.s. Al-Kahfi: 110).

"Katakanlah, 'Maha Suci  Tuhanku,  bukankah  aku  ini  hanya seorang manusia yang menjadi Rasul?'" (Q.s. Al-Isra': 93).

Ayat di atas menunjukkan bahwa beliau adalah manusia seperti manusia-manusia  lainnya,   tidak   memiliki   keistimewaan, kecuali dengan wahyu dan risalah.

Nabi saw. menegaskan makna kemanusiaannya dan penghambaannya terhadap Allah,  dan  memperingatkan  agar  tidak  mengikuti kebiasaan-kebiasaan  dari  orang-orang  sebelum  kita, yaitu penganut  agama-agama  terdahulu  dalam   hal   memuja   dan menyanjung:

"Janganlah   kamu  sekalian  menyanjungku  sebagaimana  kaum Nasrani menyanjung Isa putra Maryam. sesungguhnya aku adalah hamba Allah dan Rasul-Nya." (H.r. Bukhari).

Nabi  yang  agung ini adalah manusia seperti manusia lainnya dan  tidak  diciptakan  dari  cahaya  maupun  emas,   tetapi diciptakan  dari  air  yang  memancar dan keluar dari tulang sulbi  laki-laki  dan  tulang  rusuk  wanita  sebagai  bahan penciptaan Muhammad saw.

Adapun dari segi risalah dan hidayat-Nya, maka beliau adalah cahaya  Allah  dan  pelita  yang  amat   terang.   Al-Qur'an menyatakan hal itu dan berbicara kepada Nabi saw.:

"Wahai Nabi sesungguhnya Kami mengutusmu untuk menjadi saksi dan pembawa kabar gembira serta  pemberi  peringatan.  Untuk menjadi  penyeru  pada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk menjadi cahaya yang menerangi."(Q.s. Al-Ahzab: 45-6).

Allah swt. berfirman yang ditujukan kepada Ahlulkitab:

"... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya  dari  Allah, dan Kitab yang menerangkan." (Q.s. Al-Maidah: 15).

"Cahaya"  dalam  ayat itu adalah Rasulullah saw, sebagaimana Al-Qur'an yang diturunkan kepada beliau adalah juga cahaya.

 Allah swt. berfirman:

"Maka berimanlah  kamu  kepada  Allah  dan  Rasul-Nya  serta cahanya   (Al-Qur  an)  yang  telah  Kami  turunkan."  (Q.s.At-Taghaabun: 8).

"...  dan  telah  Kami  turunkan  kepada  kamu  cahaya  yang terangbenderang." (Q.s. An-Nisa': 174).

Allah telah menentukan tugasnya dengan firman-Nya:

"...  Supaya kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang-benderang..." (Q.s. Ibrahim: 1).

Doa Nabi saw.:

"Ya Allah, berilah aku cahaya di dalam  hatiku  berilah  aku cahaya  dalam  pendengaranku  dan  berilah  aku cahaya dalam penglihatanku berilah aku cahaya dalam rambutku berilah  aku cahaya   di  sebelah  kanan  dan  kiriku  di  depan  dan  di belakangku." (H.r. Muttafaq Alaih)

Maka, beliau adalah Nabi pembawa cahaya  dan  Rasul  pembawa hidayat.  Semoga  Allah  menjadikan kita sebagai orang-orang yang mengikuti petunjuk cahaya dan Sunnahnya. Amin.
 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com