KUMPULAN BUKU
Fatwa Al-Qardhawi
Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Penerbit Risalah Gusti - Cetakan Kedua, 1996 - Jln. Ikan Mungsing XIII/1 - Telp./Fax. (031) 339440 - Surabaya 60177


MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM
 
Pertanyaan:
 
Paham yang  menamakan  dirinya  "Jamaah  Attakfir,"  "Jamaah Alhijrah,"  "fundamentalis  Islam"  dan  sebagainya,  mereka beranggapan bahwa orang yang melakukan dosa besar dan  tidak mau  berhenti  dicap  kafir. Sebagian lagi beranggapan bahwa orang-orang Islam pada umumnnya tidak Muslim,  salat  mereka dan  ibadat  lainnya  tidak  sah,  karena  murtad. Bagaimana pendirian dan pandangan Islam terhadap mereka?

Jawab: 

Hal tersebut amat  berbahaya  dan  telah  menjadi  perhatian besar bagi kaum Muslimin khususnya, karena timbulnya pikiran yang terlampau ekstrim. Dalam hal ini, saya sudah menyiapkan sebuah  buku  khusus  mengenai masalah tersebut diatas. Saya kemukakan perlunya  pengkajian  akan  sebab-sebab  timbulnya pikiran  yang  ekstrim dan cara-cara menghadapinya, sehingga dapat diatasi dengan seksama.
 
Pertama,  tiap-tiap  pikiran  atau  pendapat  harus  dilawan dengan  pikiran,  pandangan  dan  diobati  dengan keterangan serta dalil-dalil yang kuat,  sehingga  dapat  menghilangkan keragu-raguan  dan  pandangan  yang keliru  itu.  Jika kita menggunakan kekerasan sebagai alat satu-satunya, maka  tentu tidak akan membawa faedah.
 
Kedua,  mereka  itu  (orang-orang  yang  berpandangan salah) umumnya adalah orang-orang baik,  kuat  agamanya  dan  tekun ibadatnya,  tetapi  mereka dapat digoncang oleh hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan yang  timbul  pada  masyarakat Islam.  Misalnya  akhlak  buruk, kerusakan di segala bidang, kehancuran  dan  sebagainya.  Mereka  selalu  menuntut   dan mengajak  pada  kebaikan,  dan  mereka  ingin  masyarakatnya berjalan di garis yang telah ditentukan oleh Allah, walaupun jalan  atau  pikirannya menyimpang pada jalan yang salah dan sesat karena mereka tidak mengerti.
 
Maka, sebaiknya kita hormati niat mereka yang baik itu, lalu kita  beri  penerangan yang cukup, jangan mereka digambarkan atau dikatakan sebagai binatang yang buas atau penjahat bagi masyarakat. Tetapi hendaknya diberi pengarahan dan bimbingan ke jalan yang benar, karena tujuan mereka adalah baik,  akan tetapi salah jalan.
 
Mengenai   sebab-sebab  timbulnya  pikiran-pikiran  tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tersebarnya kebatilan, kemaksiatan dan kekufuran, yang secara terang-terangan dan terbuka di tengah masyarakat Islam tanpa ada usaha penccgahannya. Bahkan sebaliknya, untuk meningkatkan kemungkaran dan kemaksiatan dia menggunakan agama sebagai alat propaganda untuk menambah kerusakan-kerusakan akhlak dan sebagainya.
 
2. Sikap para ulama yang amat lunak terhadap mereka yang secara terang-terangan menjalankan praktek orang-orang kafir dan memusuhi orang-orang Islam.
 
3. Ditindaknya gerakan-gerakan Islam yang sehat dan segala dakwah yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka, tiap-tiap perlawanan bagi suatu pikiran yang bebas, tentu akan melahirkan suatu tindakan kearah yang menyimpang, yang nantinya akan melahirkan adanya gerakan bawah tanah (ilegal).
 
4. Kurangnya pengetahuan mereka tentang agama dan tidak adanya pendalaman ilmu-ilmu dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, mereka hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, dengan paham yang keliru dan menyesatkan.

Keikhlasan dan semangat saja tidak cukup sebagai bekal  diri sendiri,  jika  tidak disertai dasar yang kuat dan pemahaman yang mendalam mengenai hukum-hukum Islam. Terutama  mengenai hukum syariat dan ilmu fiqih, maka mereka ini akan mengalami nasib yang sama dengan  para  Al-Khawarij  di  masa  lampau, sebagaimana keterangan Al-Imam Ahmad.
 
Oleh  karena itu, orang-orang saleh yang selalu menganjurkan untuk menuntut ilmu dan memperkuat diri  dengan  pengetahuan Islam  sebelum  melakukan  ibadat dan perjuangan, agar teguh pendiriannya dan tidak kehilangan arah.
 
Al-Hasan Al-Bashri berkata:
 
"Segala amalan tanpa dasar ilmu, seperti orang yang berjalan tetapi tidak pada tempatnya berpijak (tidak pada jalannya).
Tiap-tiap  amal  tanpa ilmu akan menimbulkan kerusakan lebih banyak daripada kebaikannya. Tuntutlah ilmu  sehingga  tidak membawa madharat pada ibadat dan tuntutlah ibadat yang tidak membawa madharat pada ilmu. Maka, ada segolongan  kaum  yang melakukan  ibadat  dan  meninggalkan  ilmu,  sehingga mereka mengangkat pedangnya untuk melawan ummat Muhammad saw.  yang termasuk  saudaranya  sesama  Muslim (saling berperang tanpa adanya alasan). Jika mereka memiliki ilmu,  tentu  ilmu  itu tidak akan membawa ke arah perbuatan itu."

  

IMAJINASI MANUSIA TENTANG AL-KHIDIR AS.
 
Pertanyaan:
 
Siapakah  Al-Khidir  itu? Apakah  ia   seorang   Nabi   atau wali? Apakah  ia hidup sampai saat ini sebagaimana dikatakan oleh banyak orang? Sebagian  orang-orang  yang  saleh  telah melihat  dan berjumpa dengannya. Apabila masih hidup, dimana ia  tinggal?  Mengapa  beliau   tidak   muncul   dan   tidak mengajarkan  ilmunya  kepada orang-orang, khususnya di zaman sekarang? Saya harapkan mendapat penjelasan yang memuaskan.
 
Jawab:
 
Al-Khidir adalah hamba yang saleh dan disebutkan oleh  Allah Ta'ala  dalam  Surat  Al-Kahfi, yaitu sebagai teman sayidina Musa as. Dimana Nabi Musa as. belajar kepadanya.
 
Al-Khidir mensyaratkan kepadanya agar  bersabar.  Maka  Musa menyanggupinya.  Al-Khidir  berkata,  "Bagaimana  kamu dapat bersabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai  pengetahuan yang cukup tentang hal itu?" Al-Khidir tetap menyertai Musa. Ia adalah seorang hamba yang diberi rahmat  oleh  Allah  dan ilmu  dari  sisi-Nya.  Musa  terus  berjalan  bersamanya dan melihat Al-Khidir telah melobangi perahu. Maka Musa berkata, "Apakah engkau melubanginya supaya penumpangnya tenggelam?"
 
Cerita selanjutnya telah disebutkan dalam Surat Al-Kahfi.
 
Musa   merasa  heran  atas  perbuatannya,  hingga  Al-Khidir menerangkan  kepadanya  sebab-musabab  dari  perbuatan  yang dilakukan itu. Pada akhir pembicaraannya, Al-Khidir berkata, "Bukanlah  aku  melakukan  itu  menurut  kemauanku  sendiri. Demikian itu adalah penjelasan dari perbuatan-perbuatan yang kamu  tidak  dapat  bersabar  atasnya."   Maksudnya,   semua perbuatan itu hanyalah karena kemauan Allah Ta'ala.
 
Sebagian orang berkata tentang Al-Khidir:
 
Ia  hidup sesudah Musa hingga zaman Isa, kemudian zaman Nabi Muhammad saw, ia sekarang masih hidup, dan akan hidup hingga Kiamat.   Ditulis  orang  kisah-kisah,  riwayat-riwayat  dan dongeng-dongeng  bahwa  Al-Khidir  menjumpai  si  Fulan  dan memakaikan  kirqah  (pakaian)  kepada  si  Fulan dan memberi pesan kepada si Fulan.
 
Sama  sekali  tidak  adil  pendapat  yang  mengatakan  bahwa Al-Khidir masih hidup - sebagaimana anggapan sementara orang - tetapi sebaliknya, ada dalil-dalil dari Al-Qur'an, Sunnah, akal  dan  ijma,  diantara  para  ulama dari ummat ini bahwa Al-Khidir sudah tiada.
 
Saya anggap cukup  dengan  mengutip  keterangan  dari  kitab Al-Manaarul     Muniif    fil-Haditsish-Shahih   wadl-Dla'if karangan Ibnul Qayyim.
 
Ibnul  Qayyim  rahimahullah  menyebutkan  dalam  kitab   itu ciri-ciri  dari  hadis  maudlu,  yang  tidak  diterima dalam
agama. Diantara cirinya ialah "hadis-hadis yang menceritakan tentang  Al-Khidir dan kehidupannya." Semuanya adalah dusta. Tidak satu pun hadis yang shahih.
 
Di antara hadis maudlu, itu ialah hadis yang berbunyi:
 
"Bahwa Rasulullah saw. sedang berada di masjid,  ketika  itu beliau mendengar pembicaraan dari arah belakangnya. Kemudian beliau melihat, ternyata ia adalah Al-Khidir."
 
Juga hadis, "Al-Khidir dan Ilyas berjumpa setiap tahun." Dan hadis, "Jibril, Mikail dan Al-Khidir bertemu di Arafah."
 
Ibrahim Al-Harbi ditanya tentang umur Al-Khidir yang panjang dan bahwa ia masih hidup. Maka beliau menjawab "Tidaklah ada yang   memasukkan  paham  ini  kepada  orang-orang,  kecuali setan."
 
Imam Bukhari ditanya tentang  Al-Khidir  dan  Ilyas,  apakah keduanya  masih  hidup? Maka beliau menjawab, "Bagaimana hal itu terjadi?" Nabi saw. telah bersabda,
"Tidaklah akan hidup sampai  seratus  tahun  lagi bagi orang-orang yang berada di muka bumi ini." (H.r. Bukhari-Muslim) .
 
Banyak imam lainnya yang ketika  ditanya  tentang  hal  itu, maka  mereka  menjawab  dengan menggunakan Al-Qur'an sebagai dalil:
 
"Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia  pun sebelum  kamu  (Muhammad), maka jika kamu mati apakah mereka akan kekal?" (Q.s. Al-Anbiyaa': 34).
 
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah  rahimahullah  ditanya  tentang hal itu, maka ia menjawab, "Andaikata Al-Khidir masih hidup, tentulah  ia  wajib  mendatangi  Nabi  saw.   dan   berjihad bersamanya, serta belajar darinya." Nabi saw. telah bersabda ketika perang Badar, "Ya Allah,  jika  pasukan  ini  binasa, niscaya Engkau tidak disembah di bumi."
 
Pada  waktu  itu  mereka  berjumlah 313 orang laki-laki yang dikenal dengan nama-nama mereka, nama-nama dari  bapak-bapak mereka dan suku-suku mereka. Maka, di manakah Al-Khidir pada waktu itu?
 
Al-Qur'an dan Sunnah serta pembicaraan para  peneliti  ummat menyangkal masih adanya kehidupan Al-Khidir seperti anggapan mereka. Sebagaimana firman Allah swt. di atas.
 
Jika Al-Khidir itu manusia, maka ia tidak akan kekal, karena hal  itu  ditolak  Al-Qur'anul  Karim  dan Sunnah yang suci. Seandainya ia masih hidup, tentulah ia  datang  kepada  Nabi saw.  Nabi  saw. telah bersabda, "Demi Allah, andaikata Musa masih hidup, tentu ia akan mengikuti aku." (H.r. Ahmad, dari Jabir bin Abdullah) .
 
Jika  Al-Khidir  seorang  Nabi,  maka  ia  tidak lebih utama daripada Musa as, dan jika seorang wali, tidaklah  ia  lebih utama daripada Abu Bakar r.a.
 
Apakah hikmahnya sehingga ia hidup hingga kini - sebagaimana anggapan  orang-orang  -   di   padang   luas,   gurun   dan gunung-gunung?  Apakah  faedahnya syar'iyah maupun akliah di balik  ini?   Sesungguhnya   orang-orang   selalu   menyukai cerita-ccrita  ajaib  dan  dongeng-dongeng fantastis. Mereka menggambarkannya menurut keinginan mereka,  sedangkan  hasil dari  imajinasinya,  mereka  gunakan sebagai baju keagamaan. Cerita ini  disebarkan  diantara  sebagian  orang  awam  dan mereka menganggapnya berasal dari agama mereka, padahal sama sekali bukan dari agama.  Hikayat-hikayat  yang  diceritakan tentang   Al-Khidir  hanyalah  rekayasa  manusia  dan  tidak diturunkan oleh Allah hujjah untuk itu.
 
Adapun mengenai pertanyaan:  Apakah  ia  seorang  Nabi  atau wali?
 
Para ulama berbeda pendapat mengenai hal itu. Tampaknya yang lebih  tepat  Al-Khidir  adalah  seorang  Nabi,  sebagaimana tercantum pada ayat yang mulia dari Surat Al-Kahfi, "... dan bukanlah aku melakukannya  menurut  kemauanku  sendiri  ..." (Q.s. Al-Kahfi: 82).
 
Perkataan   itu   adalah   dalil   bahwa  ia  melakukan  itu berdasarkan  perintah  Allah  dan  wahyu-Nya,   bukan   dari
dirinya. Lebih tepatnya dia adalah seorang Nabi bukan wali.

 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com