KUMPULAN BUKU
Fiqh Prioritas
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Sebuah Kajian Baru Berdasarkan Al-Qur'an dan As-SunnahRobbani Press, Jakarta, Rajab 1416H/Desember 1996M

BACK

DAFTAR ISI

NEXT


 

PENDAHULUAN



DI ANTARA konsep terpenting dalam fiqh kita sekarang ini ialah apa  yang  sering saya utarakan dalam berbagai buku saya, yang saya namakan dengan  "fiqh  prioritas"  (fiqh  al-awlawiyyat). Sebelum  ini  saya mempergunakan istilah lain dalam buku saya, al-Shahwah al-Islamiyyah bayn al-Juhud wa al-Tatharruf,  yaitu fiqh urutan pekerjaan (fiqh maratib al-a'mal).

Yang  saya  maksud  dengan  istilah  tersebut ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari'ah yang shahih, yang  diberi  petunjuk  oleh  cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal.

"... Cahaya di atas cahaya..." (an-Nuur: 35)

Sehingga sesuatu yang tidak penting,  tidak  didahulukan  atas sesuatu  yang  penting. Sesuatu yang penting tidak didahulukan atas sesuatu yang  lebih  penting.  Sesuatu  yang  tidak  kuat (marjuh) tidak didahulukan atas sesuatu yang kuat (rajih). Dan sesuatu "yang biasa-biasa" saja tidak didahulukan atas sesuatu yang utama, atau yang paling utama.

Sesuatu  yang  semestinya  didahulukan  harus didahulukan, dan yang semestinya  diakhirkan  harus  diakhirkan.  Sesuatu  yang kecil  tidak  perlu dibesarkan, dan sesuatu yang penting tidak boleh diabaikan. Setiap perkara mesti diletakkan di  tempatnya dengan  seimbang  dan  lurus,  tidak  lebih  dan tidak kurang. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

"Dan Allah SWT telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu." (ar-Rahman:7-9)

Dasarnya ialah bahwa sesungguhnya nilai,  hukum,  pelaksanaan, dan  pemberian  beban  kewajiban menurut pandangan agama ialah berbeda-beda satu dengan lainnya. Semuanya tidak  berada  pada satu tingkat. Ada yang besar dan ada pula yang kecil; ada yang pokok dan ada pula yang cabang; ada yang berbentuk  rukun  dan ada  pula  yang  hanya  sekadar  pelengkap; ada persoalan yang menduduki tempat utama (esensi) tetapi  ada  pula  yang  hanya merupakan  persoalan  pinggiran;  ada yang tinggi dan ada yang rendah; serta ada yang utama dan ada pula yang tidak utama.

Persoalan seperti itu telah dijelaskan di dalam nas al-Qur'an, sebagaimana difirmankan Allah SWT:

"Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan." (at-Taubah, 19-20)

Di samping itu Rasulullah saw juga bersabda,

"Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih; yang paling tinggi di antaranya ialah 'la ilaha illa Allah,' dan yang paling rendah ialah 'menyingkirkan gangguan dari jalan.'"1

Para sahabat Nabi saw  memiliki  antusiasme  untuk  mengetahui amalan  yang  paling  utama  (atau yang diprioritaskan), untuk mendekatkan diri kepada Allah  SWT.  Oleh  karena  itu  banyak sekali  pertanyaan  yang mereka ajukan kepada baginda Nabi saw mengenai amalan yang paling mulia, amalan yang paling dicintai Allah SWT; sebagaimana pertanyaan yang pernah dikemukakan oleh Ibn Mas'ud, Abu Dzarr, dan lain-lain. Jawaban  yang  diberikan Nabi  saw atas pertanyaan itupun banyak sekali, sehingga tidak sedikit hadits  yang  dimulai  dengan  ungkapan  'Amalan  yang paling  mulia...";  dan  ungkapan 'Amalan yang paling dicintai Allah ialah."2

Saya merasa cukup untuk menyebutkan sebuah hadits seperti  itu pada baris berikut ini:

"Diriwayatkan dari 'Amr bin Abasah r. a. berkata bahwaada seorang lelaki, yang berkata kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah apakah Islam itu? " Beliau menjawab, "Islam itu ialah penyerahan hatimu kepada Allah, dan selamatnya kaum Muslim dari lidah dan tanganmu." Lelaki itu bertanya lagi: "Manakah Islam yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Iman." Lelaki itu bertanya lagi: "Apa pula iman itu?" Beliau menjawab, "Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kebangkitan setelah mati." Lelaki itu bertanya lagi: "Manakah iman yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Berhijrah." Lelaki itu bertanya lagi. "Apakah yang dimaksud dengan berhijrah itu?" Rasulullah saw menjawab, "Engkau meninggalkan kejelekan." Lelaki itu bertanya kembali: "Manakah hijrah yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Jihad." Dia bertanya lagi: "Apakah yang dimaksud dengan jihad itu?" Beliau menjawab, "Hendaklah engkau memerangi orang-orang kafir apabila engkau berjumpa dengan mereka." Dia bertanya lagi: "Jihad mana yang paling utama?" Rasulullah saw menjawab, "Jihad orang yang mempersembahkan kuda dan darahnya."3

Barangsiapa yang mau meneliti apa  yang  dinyatakan  di  dalam al-Qur'an  dan as-Sunnah yang suci dalam masalah ini, maka dia akan  menemukan  jawaban  atas   pertanyaan   tersebut,   atau penjelasan   mengenai   hakikatnya.  Dia  akan  melihat  bahwa sejumlah parameter yang berkaitan  dengan  penjelasan  amalan, nilai,  dan  kewajiban  yang  paling  utama,  paling baik, dan paling dicintai Allah SWT  telah  diletakkan  di  depan  kita.
Misalnya:

"Shalat berjamaah itu lebih utama daripada shalat sendirian; dengan kelebihan sebanyak dua puluh tujuh tingkatan."4
  
"Satu dirham dapat menandingi seratus dirham."5
  
"Berjaga dalam jihad selama sehari semalam adalah lebih baik daripada berpuasa dan qiyamul-lail selama sebulan."6
  
"Sesungguhnya keikutsertaan salah seorang dari kamu dalam jihad di jalan Allah adalah lebih baik daripada shalat yang dilakukan olehnya di rumahnya selama tujuh puluh tahun."7

Sebaliknya,  ada  juga   parameter   yang   berkaitan   dengan penjelasan  mengenai pelbagai perbuatan buruk, dengan berbagai tingkat perbedaannya di sisi Allah SWT; berupa dosa-dosa besar dan  dosa-dosa kecil; perkara yang syubhat dan perkara makruh.Kadang-kadang sebagian perbuatan  ini  dikaitkan  satu  dengan lainya; seperti:

"Satu dirham barang riba yang dimakan oleh seseorang,dan dia mengetabui bahwa itu adalah riba, maka dosa itulebih berat di sisi Allah SWT daripada tiga puluh enamkali zina."8

Kita juga diperingatkan untuk tidak melakukan  perbuatan  yangdikategorikan  sebagai  perbuatan jahat daripada yang lainnya,atau yang lebih  buruk  daripada  perbuatan  lainnya.  Sepertihadits:

"Sesuatu yang paling jelek yang ada di dalam diriseseorang ialah sifat kikir yang amat berat, dan sifatpengecut."9
  
"Sejelek- jelek orang ialah orang yang meminta dengan sumpah atas nama Allah, kemudian dia tidak diberi."10
  
"Sejelek-jelek umatku ialah mereka yang paling banyakomongnya, bermulut besar, dan berlagak pandai; dansebaik-baik umatku ialah mereka yang paling baikakhlaknya."11
  
"Manusia yang dianggap sebagai pencuri paling ulungialah orang yang mencuri shalatnya, tidakmenyempurnakan rukuk dan sujudnya; sedangkan manusiayang paling kikir ialah orang yang paling enggan untak mengucapkan salam."12

Al-Qur'an juga telah menjelaskan  bahwa  derajat  manusia  itutidak  sama  meskipun  kemanusiaan  mereka sama, karena merekasama-sama   diciptakan   sebagai   manusia.    Akan    tetapi,sesungguhnya  ilmu  dan  amal  perbuatan  mereka  sama  sekaliberbeda satu dengan lainnya. Al-Qur'an mengatakan,

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dariseorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikankamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamusaling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang palingmulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yangpaling bertaqwa di antara kamu..." (al-Hujurat: 13)
  
"... Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yangmengetahui dengan orang-orang yang tidakmengetahui?..." (az-Zumar: 9)
  
"Tidaklah sama antara Mu'min yang duduk (yang tidakturut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orangyang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka danjiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihaddengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduksatu derajat. Kepada masing-masing mereka Allahmenjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allahmelebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yangduduk dengan pahala yang besar. (Yaitu) beberapaderajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalahAllah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(an-Nisa: 95-96)
  
"Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yangmelihat. Dan tidak (pula) sama gelap gulita dengancahaya. Dan tidak (pula) sama yang teduh dengan yangpanas. Dan tidak (pula) sama antara orang-orang yanghidup dan orang-orang yang mati ..." (Fathir: 19-22)
  
"Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orangyang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu diantara mereka ada yang menganinya diri mereka sendiridan di antara mereka ada yang pertengahan, dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuatkebaikan dengan izin Allah..." (Fathir: 32)

Begitulah kita menemukan bahwa  manusia  berbeda  satu  denganlainnya,  dan  mereka  memiliki  kelebihan yang tidak dimilikioleh orang lainnya. Amal perbuatan mereka  berbeda;  dan  yangmembedakan  kedudukan  mereka  satu  sama  lainnya ialah ilmu,amal, ketaqwaan, dan perjuangannya.


 

Catatan kaki:

1 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Jama'ah dari Abu Hurairah; Bukhari meriwayatkannya dengan lafal "enam puluh macam lebih"; Muslim meriwayatkannya dengan lafal "tujuh puluh macam lebih" dan juga dengan lafal "enam puluh macam lebih" Tirmidzi meriwayatkannya dengan "tujuh puluh macam lebih" dan begitu pula dengan an-Nasa'i. semuanya terdapat dalam kitab al-Iman; sedangkan Abu Dawud meriwayatkannya dalam as-Sunnah; dan Ibn Majah dalam al-Muqaddimah.^
2 Contoh-contoh hadits seperti ini ialah: "Shadaqah yang paling utama ialah shadaqah yang engkau berikan ketika engkau dalam keadaan sehat dan sangat memerlukannya; ketika engkau khawatir menjadi miskin dan berangan-angan untuk menjadi orang kaya."; "Perjuangan yang paling utama ialah menyampaikan ucapan yang benar di hadapan penguasa yang zalim."; "Amalan yang paling dicinta oleh Allah ialah amalan yang terus-menerus dilakukan walaupun amalan itu sedikit."; "Sebaik-baik amalan agamamu ialah yang paling mudah diamalkan."^
3 al-Mundziri berkata dalam at-Targhib wat-Tarhib, "Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad dengan isnad yang shahih, yang para rawinya bisa dianggap shahih; dan juga diriwayatkan oleh al-Thabrani dan lain-lain. Sedangkan al-Haitsami (2:207) mengatakan, "Hadits ini diriwayarkan oleh Ahmad dan at-Thabrani, dengan rijal al-hadits yang shahih.^
4 Diriwayatkan oleh Muttafaq 'Alaih dari Ibn Umar; sebagaimana disebutkan dalam al-Lu'lu' wa al-Marjan (381)  ^
5 Haditsnya secara lengkiap adalah sebagai berikut: "Ada seorang lelaki yang memiliki dua dirham, kemudian dia mengambil satu dirham untuk dishadaqahkan (dengan arti bahwa orang ini bershadaqah dengan separuh harta yang dia miliki dan sangat dia perlukan); kemudian ada lelaki lain sangat kaya raya. Dia mengambil sebagian kekayaannya sejumlah seratus ribu dirham untuk dishadaqahkan. Diriwayatkan oleh an-Nasa'i (5:95); Ibn Huzaimah (3443); Ibn Hibban (3347); dan al-Hakim dari Abu Hurairah yang dianggap shahih menurut syarat yang ditetapkan oleh Muslim, kemudian disepakati oleh adz-Dzahabi (1:416)^
6 Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Turmudzi, dari Salman, dan Ahmad bin Abdullah bin 'Amr; seperti yang dijelaskan di dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir (3480); (3481); dan (3483).^
7 Diriwayatkan oleh Turmidzi dari Abu Hurairah, yang dianggap sebagai hadits hasan (1350); dan diriwayatkan oleh al-Hakim dan di-shahih-kan olehnya menurut syarat yang telah ditetapkan oleh Muslim, yang sekaligus disepakati oleh adz-Dzahabi (2:68). Ada pula yang mengatakan bahwa lafal hadiits ini ialah "enam puluh tahun" seperti yang diriwayatkan oleh Ahmad dari Abu Umamah.^
8 Diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani dari Abdullah bin Hanzhalah, sebagaimana dimuat dalam Shahih al-Jami' as-Shaghir(3375).^
9 Diriwayatkan okh al-Bukhari dalam at-Tarikh, den Abu Dawud dari Abu Hurairah r.a. (Ibid., 3709)^
10 Diriwayatkan oleh Ahmad. as-Syaikhani. Tirmidzi, Ibn Hibban dari Ibn 'Abbas (Ibid., 3708). ^
11 Diriwayatkan oleh Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dari Abu Hurairah r.a. (ibid., 2740).^
12 Diriwayatkan oleh Thabrani dalam al-Ausath, dari Abdullah bin Maghfal, (ibid., 966). ^

 

:: bookmark: pakdenono ::
 

BACK

DAFTAR ISI

NEXT

Berasal dari Pustaka Online Media ISNET
dirubah ke dalam bentuk seperti ini oleh Pakdenono 2006

Download:
http://www.geocities.com/pakdenono/
www.pakdenono.com

pakdenono@yahoo.com